Anda di halaman 1dari 77

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi yang terdiri dari pegawai
negeri dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kontrak kerja yang
bekerja di instansi pemerintah. ASN memiliki peranan penting dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Sejumlah
keputusan-keputusan strategis mulai dari perumusan hingga
pelaksaanannya berpotensi memiliki dampak bagi masyarakat luas. ASN
diharapkan mampu memperbaiki manajemen pemerintahan yang
beorientasi pada pelayanan publik karena ASN tidak lagi berorientasi
melayani atasannya melainkan melayani masyarakat. Aturan ini
menempatkan ASN sebagai sebuah profesi yang bebas dari intervensi
politik dan akan menerapkan sistem karier terbuka yang mengutamakan
prinsip profesionalisme yang memiliki kompetensi, kualifikasi, kinerja,
transparansi, objektivitas serta bebas dari KKN yang berbasis pada
manajemen sumber daya manusia dan mengedepankan sistem merit
menuju terwujudnya birokrasi pemerintahan yang profesional.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur
Sipil Negara menimbang bahwa diperlukan pembangunan Aparatur Sipil
Negara yang memiliki integritas, professional, netral dan bebas dari
intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, serta
mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu
menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945. Pembangunan tersebut diharapkan dapat
berkontribusi positif bagi pencapaian cita-cita dan tujuan bangsa seperti
yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia tahun 1945.

1
2

ASN dalam menjalankan fungsinya secara professional sebagai


pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, serta perekat dan pemersatu
bangsa, penerapan nilai-nilai dasar ASN yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi (ANEKA) menjadi hal yang
sangat penting. Pemahaman serta internalisasi nilai-nilai ANEKA harus
ditanamkan sejak ASN menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Salah
satunya dengan cara mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ANEKA, yang
akan dilaksanakan di tempat kerja. Dalam proses membentuk ASN yang
professional dan mewujudkan visi dan misi organisasi melalui kegiatan
aktualisasi, penulis bermaksud untuk mengidentifikasi, hambatan, masalah
dan literasi dalam pelaksanaan tugas, fungsi dan tanggungjawab sebagai
profesi ASN khususnya sebagai perawat di Balai Kesehatan Masyarakat Ibu
dan Anak Kartini, Kabupaten Banyumas.
Balai kesehatan merupakan unit kesehatan yang menyelenggarakan
dengan penuh segala upaya yang mengatasi masalah-masalah kesehatan
yang ada pada masyarakat. Balai Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak
(BKMIA) Kartini mempunyai tugas melaksanakan sebagian kegiatan teknis
operasional Dinas Kesehatan dalam menyelenggarakan upaya kesehatan
strata kedua di dalam dan di luar gedung untuk mengatasi masalah
kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Banyumas. BKMIA sebagai balai
kesehatan masyarakat juga mempunyai peran dalam memberikan
pelayanan medis dasar.
Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan, BKMIA Kartini juga diwajibkan
menyelenggarakan Keselamatan Pasien sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Kesehatan No 11 tahun 2017 tentang Keselamatan
Pasien. Pengaturan Keselamatan Pasien bertujuan untuk meningkatkan
mutu pelayanan fasilitas pelayanan kesehatan melalui penerapan
manajemen risiko dalam seluruh aspek pelayanan yang disediakan oleh
fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu sasaran keselamatan pasien
berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 11 tahun 2017 tersebut
adalah mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan.
3

Pedoman mengenai Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI)


tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No 27 tahun 2017
tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian infeksi di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan. Tujuan pengorganisasian program PPI adalah
mengidentifikasi dan menurunkan risiko infeksi yang didapat serta ditularkan
di antara pasien, staf, tenaga professional kesehatan, tenaga kontrak,
tenaga sukarela, mahasiswa, dan pengunjung. Berdasarkan PMK No. 27
tahun 2017 tersebut BKMIA Kartini sebagai salah satu fasilitas kesehatan
juga diharuskan melaksanakan PPI.
Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) adalah upaya untuk
mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas,
pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan.
Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan bertujuan untuk melindungi pasien, petugas kesehatan,
pengunjung yang menerima pelayanan kesehatan serta masyarakat dalam
lingkungannya dengan cara memutus siklus penularan penyakit infeksi
melalui kewaspadaan standar dan berdasarkan transmisi. Kewaspadaan
standar yaitu kewaspadaan yang utama. Salah satu komponen utama yang
harus dilaksanakan dan dipatuhi dalam kewaspadaan standar yaitu
kebersihan tangan.
Hand hygiene atau praktik cuci tangan saat ini dipertimbangkan
sebagai salah satu elemen kunci terpenting dalam upaya pencegahan
infeksi. Praktik hand hygiene telah memiliki bukti ilmiah yang cukup bahwa
apabila dilakukan dengan benar dapat secara signifikan mengurangi risiko
perpindahan infeksi di fasilitas kesehatan. Kebersihan tangan (hand
hygiene) merupakan tolok ukur dalam upaya pencegahan penyebaran
resistensi antimikroba dan mengurangi infeksi. Namun demikian kepatuhan
tenaga kesehatan di BKMIA Kartini dalam penerapan praktik kebersihan
tangan (hand hygiene) pada saat pelayanan kesehatan masih belum optimal
karena banyak petugas kesehatan sebelum dan sesudah kontak dengan
pasien tidak selalu melakukan cuci tangan atau melakukan cuci tangan akan
4

tetapi tidak sesuai dengan standar. Kebersihan tangan petugas kesehatan


sangat penting karena dapat menjadi media perpindahan bakteri patogen
ke pasien, namun praktik cuci tangan ini terindikasi berisiko tinggi tidak
dipatuhi oleh tenaga kesehatan, seperti pada saat sebelum kontak dengan
pasien atau prosedur antiseptik.
Kewaspadaan standar yang juga dirasa mendesak untuk diterapkan di
BKMIA Kartini yaitu pemakaian alat pelindung diri (APD), penerapan etika
batuk dan bersin, serta praktik menyuntik dan aman. Hal ini didasari oleh
fenomena yang ditemui di BKMIA Kartini antara lain: 1) sering ditemui
petugas kesehatan tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) yang
memadai saat melakukan tindakan ke pasien; 2) pemberian obat injeksi
kadangkala tidak langsung habis dan sisanya untuk pemberian berikutnya;
3) dalam pemberian injeksi menggunakan cairan pelarut yang digunakan
untuk lebih dari satu pasien; 3) etika batuk petugas kesehatan belum sesuai
dengan standar; 4) sering ditemui pengunjung dan pasien yang batuk
dengan tidak mempraktikkan etika batuk.

B. Identifikasi Isu dan Perumusan Masalah


Kedudukan serta peran PNS dalam NKRI yaitu Manajemen ASN,
Whole of Government dan Pelayanan Publik merupakan prinsip kegiatan
aktualisasi dan habituasi yang akan dilaksanakan di BKMIA Kartini dengan
menerapkan nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu,
dan Anti Korupsi (ANEKA). Berdasarkan uraian latar belakang di atas,
beberapa isu yang ditemukan oleh penulis terkait dengan manajemen ASN,
Whole of Government, dan pelayanan publik dapat di identifikasi sebagai
berikut:

1. Identifikasi Isu
Isu atau masalah ditemukan dari adanya gap atau kesenjangan
antara kondisi yang terjadi di BKMIA Kartini dengan kondisi yang
5

diharapkan. Beberapa isu yang ditemukan oleh penulis terkait dengan


manajemen ASN, Whole of Government, dan pelayanan publik adalah:

Tabel 1.1 Identifikasi Isu


Identifikasi Sumber Kondisi yang
No Kondisi Saat Ini
Isu Isu Diharapkan
1. Belum Manajemen  Perawat belum Perawat
optimalnya ASN, optimal dalam melaksanakan
pelaksanaan Pelayanan melaksanakan discharge
discharge Publik discharge planning planning pada
planning pada pasien rawat pasien rawat inap
(perencanaan inap secara optimal
pulang) pada  Belum tersedianya
pasien rawat media pendidikan
inap di BKMIA kesehatan penunjang
Kartini discharge planning
 Belum tersedianya
form discharge
planning
2. Rendahnya Pelayanan Masih banyak petugas Petugas tertib 5
praktik cuci Publik yang belum moment cuci
tangan menerapkan 5 moment tangan dan patuh
petugas di cuci tangan dan belum APD
BKMIA Kartini mementingkan APD
sesuai standar
WHO
3. Kurang Pelayanan  Belum adanya SOP  Ada SOP
optimalnya Publik pertukaran jaga antar pertukaran jaga
sistem perawat yang disepakati
pertukaran  Buku bantu sesuai
jaga perawat pertukaran jaga komitmen
di BKMIA kurang komunikatif bersama
Kartini  Buku bantu
pertukaran jaga
yang lebih
komunikatif
4. Pelaksanaan Pelayanan  Perawat lebih banyak  Perawat lebih
asuhan Publik menjalankan tugas tanggap dalam
keperawatan yang bersifat menjalankan
mandiri belum kolaboratif perannya
berjalan  Perawat menjalankan sebagai
optimal asuhan keperawatan pemberi
mandiri hanya asuhan
sebatas rutinitas keperawatan
baik yang
bersifat mandiri
maupun
kolaboratif
5. Pelayanan Manajemen  Ruang pelayanan  Ruang
gawat darurat ASN, gawat darurat masih pelayanan
belum representative gawat darurat
6

Identifikasi Sumber Kondisi yang


No Kondisi Saat Ini
Isu Isu Diharapkan
masih belum Pelayanan  Beberapa perawat di BMIA Kartini
optimal Publik dan dokter di BKMIA lebih
Kartini memiliki representative
sertifikat BTCLS dengan
(basic trauma and ditunjang
cardiac life support) fasilitas yang
yang sudah memadai
kadaluwarsa dan  Semua dokter
harus di update. dan perawat di
BKMIA Kartini
minimal
memiliki
sertifikat
BTCLS
6. Belum Pelayanan Saat menerima pasien Perawat lebih
optimalnya Publik baru rawat inap, menyadari dan
pendokumenta perawat lebih fokus melaksanakan
sian asuhan mendokumentasikan tugasnya sebagai
keperawatan kegiatan yang bersifat perawat untuk
pasien rawat administratif, sementara mendokumentasik
inap di BKMIA asuhan keperawatan an asuhan
Kartini yang menjadi ruhnya keperawatan
perawat justru
terabaikan. Padahal
pendokumentasian
asuhan keperawatan
juga merupakan tugas
pokok jabatan perawat
dan merupakan salah
satu butir sasaran
kinerja perawat.
7. Belum Manajemen  Banyak pegawai yang  Pegawai
optimalnya ASN, belum mengetahui khususnya
upaya Pelayanan dan melaksanakan dokter,
pencegahan Publik pengendalian infeksi. perawat, dan
dan  Banyak ditemui bidan
pengendalian petugas kesehatan mengetahui
infeksi (PPI) di yang tidak melakukan serta
BKMIA Kartini cuci tangan sesuai melaksanakan
standar setelah cegahan dan
kontak dengan pengendalian
pasien. infeksi di BKMI
 Petugas kesehatan Kartini
sebelum dan sesudah  Pegawai
kontak dengan pasien khususnya
tidak selalu dokter,
melakukan cuci perawat, dan
tangan. bidan
 Sering ditemui menerapkan
petugas kesehatan kebersihan
tidak menggunakan tangan,
alat pelindung diri menggunakan
7

Identifikasi Sumber Kondisi yang


No Kondisi Saat Ini
Isu Isu Diharapkan
(APD) yang memadai alat
saat melakukan perlindungan
tindakan ke pasien. diri (APD) saat
 Pemberian obat melakukan
injeksi kadangkala tindakan
tidak langsung habis kepada pasien,
dan sisanya untuk menerapkan
pemberian berikutnya. etika batuk dan
 Dalam pemberian bersin dan
injeksi menggunakan praktik
cairan pelarut yang menyuntik yang
digunakan untuk lebih aman
dari satu pasien.
 Etika batuk petugas
kesehatan belum
sesuai dengan
standar.
 Sering ditemui
pengunjung dan
pasien yang batuk
dengan tidak
mempraktikkan etika
batuk.

2. Penetapan Isu
Penetapan Isu dilakukan melalui analisis isu dengan
menggunakan alat bantu penetapan kriteria kualitas isu. Analisis isu ini
bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan menentukan prioritas isu
yang perlu diangkat untuk diselesaikan melalui gagasan kegiatan-
kegiatan yang akan dilakukan. Analisis isu dilakukan dengan
menggunakan alat bantu APLK (Aktual, Problematik, Kelayakan,
Kekhalayakan) dan USG (Urgency, Seriousness, dan Growth).
a. Analisis Kriteria Isu Menggunakan APKL (Aktual, Problematik,
Kekhalayakan, Kelayakan)
Analisis APKL merupakan alat bantu untuk menganalisis
ketepatan dan kualitas isu dengan memperhatikan tingkat aktual,
problematik, kekhalayan, dan kelayakan dari isu-isu yang
ditemukan di lingkungan BKMIA Kartini. Aktual artinya benar- benar
terjadi dan sedang hangat dibicarakan masyarakat. Problematik
8

artinya isu yang memiliki masalah yang kompleks sehingga perlu


segera dicarikan solusinya. Kekhalayakan artinya isu menyangkut
hajat hidup orang banyak. Kelayakan artinya isu yang masuk akal
dan realistis serta relevan untuk dimunculkan inisiatif pemecahan
masalahnya.
Analisis APKL dilakukan dengan memberikan nilai positif atau
negatif pada masing-masing kriteria aktual, problematik, kelayakan,
dan kekhalayan. Jika isu yang ditemukan memenuhi kriteria maka
diberi nilai positif, sebaliknya jika tidak memenuhi kriteria diberi nilai
negatif. Jika semua kriteria memiliki nilai positif, maka isu
dinyatakan memenuhi persyaratan dan berkualitas. Jika tidak, maka
isu dinyatakan tidak memenuhi persyaratan dan kurang berkualitas.
Hasil analisis APKL terkait isu-isu di BKMIA Kartini disajikan dalam
tabel 1.2 di bawah ini:

Tabel 1.2 Identifikasi Isu dengan APKL


KRITERIA
NO Identifikasi Isu Keterangan
A P K L
1. Belum optimalnya pelaksanaan
discharge planning (perencanaan Tidak
pulang) pada pasien rawat inap - + + + Memenuhi
di BKMIA Kartini Syarat
2. Rendahnya praktik cuci tangan Tidak
petugas di BKMIA Kartini sesuai + - + + Memenuhi
standar WHO Syarat
3. Kurang optimalnya sisstem Tidak
pertukaran jaga perawat di - + - + memenuhi
BKMIA Kartini Syarat
4. Pelaksanaan asuhan
Memenuhi
keperawatan mandiri belum + + + +
Syarat
berjalan optimal
5. Pelayanan gawat darurat masih Tidak
belum optimal + + + - Memenuhi
Syarat
6. Belum optimalnya
pendokumentasian asuhan Memenuhi
+ + + +
keperawatan pasien rawat inap di Syarat
BKMIA Kartini
7. Belum optimalnya upaya
Memenuhi
pencegahan dan pengendalian + + + +
Syarat
infeksi (PPI) di BKMIA Kartini
Keterangan: + (memenuhi kriteria), – (tidak memenuhi kriteria)
9

b. Analisis Prioritas Isu Menggunakan USG (Urgency,


Seriousness, dan Growth)
Dari hasil analisis APKL didapatkan isu yang dinyatakan
memenuhi kriteria, yang kemudian isu-isu tersebut dianalisis lebih
lanjut dengan menggunakan analisis USG. Analisis USG
merupakan alat analisis yang dilakukan untuk menentukan prioritas
isu melalui tingkat kegawatan, keseriusan, dan tingkat pertumbuhan
suatu isu atau masalah. Urgency artinya seberapa mendesak suatu
isu harus dibahas, dianalisis dan ditindaklanjuti. Seriousness artinya
seberapa serius suatu isu harus dibahas dikaitkan dengan akibat
yang ditimbulkan. Growth artinya seberapa besar kemungkinan
memburuknya isu tersebut jika tidak ditangani segera.
Analisis USG dilakukan dengan memberikan nilai dengan
rentang antara 1 sampai 5 dengan ketentuan nilai 1 berarti sangat
kecil, nilai 2 berarti kecil, nilai 3 berarti sedang, nilai 4 berarti besar,
dan nilai 5 berarti sangat besar. Isu dengan total skor tertinggi
merupakan isu prioritas yang akan ditetapkan untuk diselesaikan
dengan kegiatan-kegiatan yang diusulkan. Hasil analisis USG
terkait isu-isu di BKMIA Kartini disajikan dalam tabel 1.3 berikut ini:

Tabe1.3 Pemilihan isu melalui kriteria USG


Parameter
No Isu Jumlah Peringkat
U S G
1. Pelaksanaan asuhan
keperawatan mandiri belum 4 4 4 12 3
berjalan optimal
2. Belum optimalnya
pendokumentasian asuhan
4 5 5 14 2
keperawatan pasien rawat inap
di BKMIA Kartini
3. Belum optimalnya upaya
pencegahan dan pengendalian 5 5 5 15 1
infeksi (PPI) di BKMIA Kartini
10

3. Penetapan Isu yang Terpilih


Dari hasil analisis APLK dan USG, ditetapkan isu yang dipilih dan
ditindaklanjuti dengan gagasan rencana kegiatan yang akan dilakukan
untuk mengatasi isu tersebut. Langkah yang dilakukan dalam tahap ini
merumuskan isu yang memuat focus dan locus, menentukan gagasan
kegiatan yang akan dilakukan, mengidentifikasi sumber isu, aktor yang
terlibat dan peran dari setiap aktor, dan mendeskripsikan keterkaitannya
dengan mata pelatihan yang relevan (secara langsung maupun tidak
langsung) dengan konteks isu.
Dari hasil analisis APKL dan USG, ditetapkan isu yang dipilih dan
ditindaklanjuti dengan gagasan rencana kegiatan yang akan dilakukan
untuk mengatasi isu tersebut. Hasil perumusan isu yang terpilih adalah
“Belum optimalnya upaya pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI)
di BKMIA Kartini”.

4. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjabaran identifikasi isu dan penetapan isu di atas,
rumusan masalah dalam rancangan aktualisasi ini adalah bagaimana
cara mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS yang tekandung dalam
akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti
korupsi (ANEKA) dalam mengoptimalkan upaya pencegahan dan
pengendalian infeksi di BKMIA Kartini?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan rancangan
aktualisasi nilai-nilai dasar PNS ini adalah sebagai berikut:
1. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS yang terkandung dalam
akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti
korupsi (ANEKA) dalam mengoptimalkan upaya pencegahan dan
pengendalian infeksi di BKMIA Kartini
11

2. Menganalisis dampak apabila nilai-nilai dasar PNS yang tekandung


dalam akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti
korupsi (ANEKA) tidak diimplementasikan dalam mengoptimalkan
upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di BKMIA Kartini

D. Manfaat Penulisan
Manfaat rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar PNS ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagi Peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III
a. Mampu menginternalisasi dan mengaktualisasikan serta
menghabituasikan nilai-nilai ANEKA di lingkungan BKMIA Kartini
b. Menjadi perawat yang mampu menjalankan fungsi sebagai
pelaksana kebijakan, pelayan publik dan perekat dan pemersatu
bangsa yang memiliki integritas dan profesional di lingkungan BKMIA
Kartini.
c. Memahami cara mengoptimalkan pencegahan dan pengendalian
infeksi di BKMIA Kartini.
2. Bagi Instansi Balai Kesehatan Ibu dan Anak Kartini
a. Rancangan aktualisasi ini dapat meningkatkan efektivitas, efisiensi,
dan pengembangan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak di
BKMIA Kartini.
b. Membantu terwujudnya visi dan misi, tujuan organisasi serta
menguatkan nilai-nilai instansi BKMIA Kartini.
3. Bagi Stakeholder
Mendapatkan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan
dan harapannya dalam bidang kesehatan ibu dan anak.
12

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Sikap Perilaku Bela Negara


Sikap perilaku dan kedisiplinan yang harus dilimiliki oleh ASN
untuk menunjang fungsinya adalah nilai-nilai sikap perilaku, kesehatan
jasmani dan kesehatan mental, kesamaptaan jasmani dan
kesamaptaan mental, dan tata upacara sipil dan keprotokolan.
1. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-nilai Bela Negara
Pemahaman dan pemaknaan wawasan kebangsaan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi aparatur,
pada hakikatnya terkait dengan pembangunan kesadaran berbangsa
dan bernegara yang berarti sikap dan tingkah laku ASN harus sesuai
dengan kepribadian bangsa dan selalu mengkaitkan dirinya dengan
cita-cita dan tujuan hidup bangsa Indonesia (sesuai amanah yang ada
dalam Pembukaan UUD 1945) melalui:
a. Menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan bangsa dan negara
Indonesia yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang mendiami
banyak pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke,
dengan beragam bahasa dan adat istiadat kebudayaan yang
berbeda-beda. Kemajemukan itu diikat dalam konsep wawasan
nusantara yang merupakan cara pandang bangsa Indonesia
tentang diri dan lingkungannya yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945.
b. Menumbuhkan rasa memiliki jiwa besar dan patriotisme untuk
menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sikap dan
perilaku yang patriotik dimulai dari hal-hal yang sederhana yaitu
dengan saling tolong menolong, menciptakan kerukunan beragama
dan toleransi dalam menjalankan ibadah sesuai agama masing-
masing, saling menghormati dengan sesame dan menjaga
keamanan lingkungan.

12
13

c. Memiliki kesadaran atas tanggungjawab sebagai warga negara


Indonesia yang menghormati lambang-lambang negara dan
mentaati peraturan perundang-undangan.
Berbagai masalah yang berkaitan dengan kesadaran berbangsa
dan bernegara perlu mendapat perhatian dan tanggung jawab
bersama. Sehingga amanat pada UUD 1945 untuk menjaga dan
memelihara Negara Kesatuan wilayah Republik Indonesia serta
kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan. Hal yang dapat mengganggu
kesadaran berbangsa dan bernegara bagi ASN yang perlu di cermati
secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran dan kepekaan
sosial, padahal banyak persoalan-persoalan masyarakat yang
membutuhkan peranan ASN dalam setiap pelaksanaan tugas
jabatannya untuk membantu memediasi masyarakat agar keluar dari
himpitan masalah, baik itu masalah sosial, ekonomi dan politik, karena
dengan terbantunya masyarakat dari semua lapisan keluar dari
himpitan persoalan, maka bangsa ini tentunya menjadi bangsa yang
kuat dan tidak dapat di intervensi oleh negara apapun, karena
masyarakat itu sendiri yang harus disejahterakan dan jangan sampai
mengalami penderitaan. Di situ ASN telah melakukan langkah konkrit
dalam melakukan bela negara.
Kesadaran bela negara adalah dimana kita berupaya untuk
mempertahankan negara kita dari ancaman yang dapat mengganggu
kelangsungan hidup bermasyarakat yang berdasarkan atas cinta
tanah air. Kesadaran bela negara juga dapat menumbuhkan rasa
patriotisme dan nasionalisme di dalam diri masyarakat. Upaya bela
negara selain sebagai kewajiban dasar juga merupakan kehormatan
bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh
kesadaran, penuh tanggung jawab dan rela berkorban dalam
pengabdian kepada negara dan bangsa. Keikutsertaan kita dalam
bela negara merupakan bentuk cinta terhadap tanah air kita.
Nilai-nilai bela negara yang harus lebih dipahami penerapannya
14

dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain:


1) Cinta Tanah Air.
Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu kita
cintai. Kesadaran bela negara yang ada pada setiap masyarakat
didasarkan pada kecintaan kita kepada tanah air kita. Kita dapat
mewujudkan itu semua dengan cara kita mengetahui sejarah
negara kita sendiri, melestarikan budaya-budaya yang ada,
menjaga lingkungan kita dan pastinya menjaga nama baik negara
kita.
2) Kesadaran Berbangsa dan Bernegara.
Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita
yang harus sesuai dengan kepribadian bangsa yang selalu
dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsanya. Kita dapat
mewujudkannya dengan cara mencegah perkelahian antar
perorangan atau antar kelompok dan menjadi anak bangsa yang
berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
3) Pancasila.
Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para pahlawan
sungguh luar biasa, pancasila bukan hanya sekedar teoritis dan
normatif saja tapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita tahu bahwa Pancasila adalah alat pemersatu keberagaman
yang ada di Indonesia yang memiliki beragam budaya, agama,
etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah yang dapat
mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan hambatan.
4) Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara.
Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela
berkorban untuk bangsa dan negara. Contoh nyatanya seperti
sekarang ini yaitu perhelatan seagames. Para atlet bekerja keras
untuk bisa mengharumkan nama negaranya walaupun mereka
harus merelakan untuk mengorbankan waktunya untuk bekerja
sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan hanya menjadi
15

seorang atlet saja, mereka juga memiliki pekerjaan lain. Begitupun


supporter yang rela berlama-lama menghabiskan waktunya antri
hanya untuk mendapatkan tiket demi mendukung langsung para
atlet yang berlaga demi mengharumkan nama bangsa.
5) Memiliki Kemampuan Bela Negara.
Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan
dengan tetap menjaga kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam
menjalani profesi masing-masing. Kesadaran bela negara dapat
diwujudkan dengan cara ikut dalam mengamankan lingkungan
sekitar seperti menjadi bagian dari Siskamling, membantu korban
bencana sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia sering sekali
mengalami bencana alam, menjaga kebersihan minimal
kebersihan tempat tinggal kita sendiri, mencegah bahaya narkoba
yang merupakan musuh besar bagi generasi penerus bangsa,
mencegah perkelahian antar perorangan atau antar kelompok
karena di Indonesia sering sekali terjadi perkelahian yang justru
dilakukan oleh para pemuda, cinta produksi dalam negeri agar
Indonesia tidak terus menerus mengimpor barang dari luar negeri,
melestarikan budaya Indonesia dan tampil sebagai anak bangsa
yang berprestasi baik pada tingkat nasional maupun internasional.

2. Analisis Isu Kontemporer


Ditinjau dari pandangan Urie Brofenbrenner (Perron, N.C., 2017)
ada empat level lingkungan strategis yang dapat mempengaruhi
kesiapan ASN dalam melakukan pekerjaannya sesuai bidang tugas
masing-masing, yakni: individu, keluarga (family), Masyarakat pada
level lokal dan regional (Community/ Culture), Nasional (Society),
dan Dunia (Global). Sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan
global (globalisasi) yang terjadi dewasa ini, memaksa semua bangsa
(Negara) untuk berperan serta, jika tidak maka arus perubahan
16

tersebut akan menghilang dan akan meninggalkan semua yang tidak


mau berubah.
Perubahan global ditandai dengan hancurnya batas (border)
suatu bangsa, dengan membangun pemahaman dunia ini satu tidak
dipisahkan oleh batas Negara. Hal yang menjadi pemicunya adalah
berkembang pesatnya teknologi informasi global, dimana setiap
informasi dari satu penjuru dunia dapat diketahui dalam waktu yang
tidak lama berselang oleh orang di penjuru dunia lainnya. Perubahan
cara pandang tersebut, telah mengubah tatanan kehidupan
berbangsa dan bernegara. Hal ini ditandai dengan masuknya
kepentingan global (Negara-negara lain) ke dalam negeri dalam
aspek hukum, politik, ekonomi, pembangunan, dan lain sebagainya.
Perubahan cara pandang individu tentang tatanan berbangsa
dan bernegara (wawasan kebangsaan), telah mempengaruhi cara
pandang masyarakat dalam memahami pola kehidupan dan budaya
yang selama ini dipertahankan/diwariskan secara turun temurun.
Perubahan lingkungan masyarakat juga mempengaruhi cara
pandang keluarga sebagai miniature dari kehidupan sosial
(masyarakat). Tingkat persaingan yang keblabasan akan
menghilangkan keharmonisan hidup di dalam anggota keluarga,
sebaga akibat dari ketidakharmonisan hidup di lingkungan keluarga
maka secara tidak langsung membentuk sikap ego dan apatis
terhadap tuntutan lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, pemahaman perubahan dan perkembangan
lingkungan stratejik pada tataran makro merupakan factor utama
yang akan menambah wawasan ASN. Wawasan tersebut melingkupi
pemahaman terhadap Globalisasi, Demokrasi, Desentralisasi, dan
Daya Saing Nasional, Dalam konteks globalisasi ASN perlu
memahami berbagai dampak positif maupun negatifnya;
perkembangan demokrasi yang akan memberikan pengaruh dalam
kehidupan sosial, ekonomi dan politik Bangsa Indonesia;
17

desentralisasi dan otonomi daerah perlu dipahami sebagai upaya


memperkokoh kesatuan nasional, kedaulatan negara, keadilan dan
kemakmuran yang lebih merata di seluruh pelosok Tanah Air,
sehingga pada akhirnya akan membentuk wawasan strategis
bagaimana semua hal tersebut bermuara pada tantangan
penciptaan dan pembangunan daya saing nasional demi
kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
dalam lingkungan pergaulan dunia yang semakin terbuka,
terhubung, serta tak berbatas.
ASN dihadapkan pada pengaruh yang datang dari eksternal juga
internal yang kian lama kian menggerus kehidupan berbangsa dan
bernegara (pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika)
sebagai konsensus dasar berbangsa dan bernegara. Fenomena-
fenomena tersebut menjadikan pentingnya setiap ASN mengenal
dan memahami secara kritis terkait dengan isu-isu kritikal yang
terjadi saat ini atau bahkan berpotensi terjadi, isu-isu tersebut
diantaranya; bahaya paham radikalisme/ terorisme, bahaya narkoba,
cyber crime, money laundry, korupsi, proxy war. Isu-isu di atas,
selanjutnya disebut sebagai isu-isu strategis kontemporer.

3. Kesiapsiagaan Bela Negara


Untuk melatih kesiapsiagaan bela negara bagi CPNS ada
beberapa hal yang dapat dilakukan, salah satunya adalah tanggap dan
mau tahu terkait dengan kejadian-kejadian permasalahan yang
dihadapi bangsa negara Indonesia, tidak mudah terprovokasi, tidak
mudah percaya dengan berita gossip yang belum jelas asal usulnya,
tidak terpengaruh dengan penyalahgunaan obat-obat terlarang dan
permasalahan bangsa lainnya, dan yang lebih penting lagi ada
mempersiapkan jasmani dan mental untuk turut bela negara.
Pasal 27 dan Pasal 30 UUD Negara RI 1945 mengamanatkan
kepada semua komponen bangsa berhak dan wajib ikut serta dalam
18

upaya pembelaan negara dan syarat-syarat tentang pembelaan


negara. Dalam hal ini setiap CPNS sebagai bagian dari warga
masyarakat tentu memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk
melakukan bela Negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD
Negara RI 1945 tersebut.
Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada
negara dan kesediaan berkorban membela negara. Cakupan bela
negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling
keras. Mulai dari hubungan baik sesame warga negara sampai
bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata.
Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi
bangsa dan negara.
Unsur Bela Negara antara lain :
a. Cinta Tanah Air.
b. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara.
c. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara.
d. Rela berkorban untuk bangsa dan negara.
e. Memiliki kemampuan awal bela negara.
Apabila kegiatan kesiapsagaan bela negara dilakukan dengan
baik, maka dapat diambil manfaatnya antara lain :
1) Membentuk sikap disiplin waktu, aktivitas, dan pengaturan kegiatan
lain.
2) Memberntuk jiwa kebersamaan dan solidaritas antar sesame rekan
seperjuangan.
3) Membentuk mental dan fisik yang tangguh.
4) Menanamkan rasa kecintaan pada Bangsa dan Patriotisme sesuai
dengan kemampuan diri.
5) Melatih jiwa leadership dalam memimpin diri sendiri maupun
kelompok.
6) Membentuk Iman dan Taqwa pada Agama yang dianut oleh
individu.
19

7) Berbakti pada orang tua, bangsa, agama.


8) Melatih kecepatan, ketangkasan, ketepatan individu dalam
melaksanakan kegiatan.
9) Menghilangkan sikap negative seperti malas, apatis, boros, egois,
tidak displin.
10) Membentuk perilaku jujur, tegas, adil, tepat, dan kepedulian antar
sesama. (LAN, 2017:6)

B. Nilai-Nilai Dasar ASN


Nilai-nilai dasar adalah nilai yang sangat dibutuhkan dalam tugas
jabatan PNS secara profesional sebagai pelayan masyarakat. Nilai-nilai
dasar tersebut meliputi: Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi. Kelima nilai-nilai dasar ini
diakronimkan menjadi “ANEKA” yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan
pertanggung jawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja
dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu
organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan
untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.
Akuntabilitas adalah suatu kewajiban pertanggungjawaban
yang harus dicapai. Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap
individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab
yang menjadi amanahnya. Dengan demikian kepercayaan
masyarakat kepada birokrasi akan semakin menguat karena
aparaturnya mampu berperan sebagai kontrol demokrasi, mencegah
korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta meningkatkan efisiensi
dan efektivitas.
a. Aspek Akuntabilitas
Terdapat beberapa aspek dalam akuntabilitas, antara lain:
20

1) Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (accountability is a


relationship), adalah hubungan antara dua belah pihak antara
individu/kelompok/institusi dengan negara dan masyarakat.
2) Akuntabilitas berorientasi pada hasil (accountability is results
oriented). Hasil yang diharapkan dari akuntabilitas adalah
perilaku aparat pemerintah yang bertanggung jawab, adil dan
inovatif.
3) Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (accountability
requires reporting). Dengan memberikan laporan kinerja
berarti mampu menjelaskan terhadap tindakan dan hasil yang
telah dicapai oleh individu/kelompok/institusi, serta mampu
memberikan bukti nyata dari hasil dan proses yang telah
dilakukan.
4) Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (accountability is
meaningless without consequences). Akuntabilitas adalah
kewajiban, kewajiban menunjukkan tanggung jawab, dan
tanggung jawab menghasilkan konsekuensi. Konsekuensi
tersebut dapat berupa penghargaan atau sanksi.
5) Akuntabilitas memperbaiki kinerja (accountability improves
performance). Tujuan utama dari akuntabilitas adalah
memperbaiki kinerja PNS dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.
b. Jenis-jenis akuntabilitas
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu:
1) Akuntabilitas vertikal (vertical accountability), akuntabilitas yang
pertanggungjawaban atas pengelolaan dananya kepada otoritas
yang lebih tinggi.
2) Akuntabilitas horizontal (horizontal accountability), akuntabilitas
yang pertanggungjawabannya kepada masyarakat luas.
Akuntabilitas ini membutuhkan pejabat pemerintah untuk
21

melapor “kesamping” kepada pejabat lainnya dan lembaga


negara.
c. Tingkatan Akuntabilitas
Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan yang berbeda yaitu akuntabilitas
personal, akuntabilitas individu, akuntabilitas kelompok,
akuntabilitas organisasi, dan akuntabilitas stakeholder.:
1) Akuntabilitas Personal
Akuntabilitas personal mengacu pada nilai-nilai yang ada pada
diri seseorang seperti kejujuran, integritas, moral dan etika.
Pribadi yang akuntabel adalah yang menjadikan dirinya sebagai
bagian dari solusi dan bukan masalah.
2) Akuntabilitas Individu
Akuntabilitas individu mengacu pada hubungan antara individu
dan lingkungan kerjanya, yaitu antara PNS dengan instansinya
sebagai pemberi wewenang.
3) Akuntabilitas Kelompok
Kinerja sebuah institusi biasanya atas kerja sama kelompok,
maka pembagian kewenangan dan semangat kerja sama yang
tinggi antar berbagai kelompok yang ada dalam sebuah institusi
memainkan peranan penting dalam tercapainya kinerja
organisasi yang diharapkan.
4) Akuntabilitas Organisasi
Akuntabilitas organisasi mengacu pada hasil pelaporan kinerja
yang telah dicapai, baik pelaporan yang dilakukan oleh individu
terhadap organisasi/institusi maupun kinerja organisasi kepada
stakeholders lainnya.
5) Akuntabilitas Stakeholder
Stakeholder yang dimaksud adalah masyarakat umum,
pengguna layanan, pembayar pajak yang memberikan
masukan, saran, dan kritik terhadap kinerjanya. Jadi
akuntabilitas stakeholder adalah tanggungjawab organisasi
22

pemerintah untuk mewujudkan pelayanan dan kinerja yang adil,


responsive dan bermartabat.
d. Indikator dari nilai-nilai dasar akuntabilitas yang harus diperhatikan,
yaitu:
1) Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah di mana
pimpinan memainkan peranan yang penting dalam menciptakan
lingkungannya.
2) Transparansi
Keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang dilakukan
oleh individu maupun kelompok/instansi.
3) Integritas
Konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam
menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.
4) Tanggung Jawab
Kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang
disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga
berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban.
5) Keadilan
Kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal,
baik menyangkut benda atau orang.
6) Kepercayaan
Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas.
7) Keseimbangan
Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja, maka
diperlukan keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan,
serta harapan dan kapasitas.
8) Kejelasan
23

Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab harus memiliki


gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil
yang diharapkan.
9) Konsistensi
Adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan sesuatu
sampai pada tercapai tujuan akhir.

2. Nasionalisme
Nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa
dan negara sendiri; sifat nasional; kesadaran keanggotaan dalam suatu
bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai,
mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas,
kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan (Kamus
Besar Bahasa Indonesia).
Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham
kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang
didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Prinsip nasionalisme bangsa
Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa
Indonesia senantiasa menempatkan persatuan kesatuan, kepentingan
dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau
kepentingan golongan.
Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN.
Bahkan tidak sekedar wawasan saja tetapi kemampuan
mengaktualisasikan nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan
tugasnya. Nilai-nilai yang yang senantiasa berorientasi pada
kepentingan publik menjadi dasar yang harus dimiliki oleh setiap
pegawai ASN. Pegawai ASN harus memahami dan mampu
mengaktualisasikan Pancasila dan semangat nasionalisme serta
wawasan kebangsaan dalam setiap pelaksanaan fungsi dan tugasnya,
sesuai bidangnya masing-masing. Pegawai ASN dapat mempelajari
24

bagaimana aktualisasi sila demi sila dalam Pancasila, dan kisah


ketauladanan yang dapat diambil hikmahnya.
Ada lima indikator dari nilai-nilai dasar nasionalisme yang harus
diperhatikan, yaitu:
a. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan
ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-
masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama
antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang
berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama
dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia
dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing.
7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
b. Sila Kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradap
1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat
dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban
asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku,
keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan
sosial, warna kulit dan sebagainya.
3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
25

4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.


5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang
lain.
6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh
umat manusia.
10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama
dengan bangsa lain.
c. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia
1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan
dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan
bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan
bangsa apabila diperlukan.
3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan
bertanah air Indonesia.
5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka
Tunggal Ika.
7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
d. Sila Keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia
Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang
sama.
2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
26

3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan


untuk kepentingan bersama.
4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat
kekeluargaan.
5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai sebagai hasil musyawarah.
6) Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan
melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi dan golongan.
8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan
hati nurani yang luhur.
9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung
tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan
keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi
kepentingan bersama.
10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai
untuk melaksanakan pemusyawaratan.
e. Sila Kelima: Keadilan sosial bagi seluruh Indonesia
1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan
sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4) Menghormati hak orang lain.
5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat
berdiri sendiri.
6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat
pemerasan terhadap orang lain.
7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah.
27

8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau


merugikan kepentingan umum.
9) Suka bekerja keras.
10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi
kemajuan dan kesejahteraan bersama.
11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan
kemajuan yang merata dan berkeadilan social

3. Etika Publik
Etika publik adalah refleksi tentang standard/norma yang
menentukan baik/buruk, perilaku benar/salah, tindakan dan keputusan
untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan
tanggung jawab pelayan publik. Etika merupakan sistem penilaian
perilaku serta keyakinan untuk menentukan perbuatan yang pantas,
guna menjamin adanya perlindungan hak-hak individu, mencakup cara-
cara pengambilan keputusan untuk membantu membedakan hal-hal
yang baik dan buruk serta mengarahkan apa yang seharusnya
dilakukan sesuai nila-nilai yang dianut. Sebagai ASN diharapkan
mampu menanamkan nilai dan membentuk sikap dan perilaku patuh
kepada standard etika publik yang tinggi.
a. Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam
Undang-Undang ASN, yaitu:
1) Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.
2) Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia 1945.
3) Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
4) Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
5) Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.
6) Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
7) Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada
publik.
28

8) Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan


program pemerintah.
9) Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap,
cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
10) Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
11) Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
12) Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja
pegawai.
13) Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.
14) Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir.
b. Ada tiga fokus utama dalam pelayanan publik yakni:
1) Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan.
2) Sisi dimensi reflektif, etika publik berfungsi sebagai bantuan
dalam menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat
evaluasi.
3) Modalitas etika, menjembatani antara norma moral dan
tindakan faktual.
c. Pada prinsipnya ada 3 (tiga) dimensi etika publik yaitu:
1) Dimensi Kualitas Pelayanan Publik
2) Dimensi Modalitas
3) Dimensi Tindakan Integritas Publik
d. Manfaat nilai etika bagi organisasi sebagai berikut:
1) Kebersamaan
2) Empati
3) Kepedulian
4) Kedewasaan
5) Orientasi organisasi
6) Respect
7) Kebajikan
8) Integritas
29

9) Inovatif
10) Keunggulan
11) Keluwesan
12) Kearifan
Pelayanan publik yang professional membutuhkan tidak hanya
kompetensi teknis dan leadership, namun juga kompetensi etika. Oleh
karena itu perlu dipahami etika dan kode etik pejabat publik. Tanpa
memiliki kompetensi etika, pejabat menjadi cenderung tidak peka, tidak
peduli dan bahkan seringkali diskriminatif, terutama pada masyarakat
tingkat bawah yang tidak beruntung. Etika publik merupakan refleksi
kritis yang mengarahkan bagaimana nilai-nilai kejujuran, solidaritas,
keadilan, kesetaraan, dan lain-lain dipraktekkan dalam wujud
keprihatinan dan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat.
Dengan ditetapkannya kode etik ASN, perilaku pejabat publik
harus dirubah. Pertama, berubah dari penguasa menjadi pelayan;
kedua, berubah dari wewenang menjadi peranan; ketiga, menyadari
bahwa pejabat publik adalah amanah yang harus
dipertanggungjawabkan bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.

4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu adalah janji pada diri kita sendiri atau pada orang
lain yang tercermin dalam tindakan kita untuk menjaga mutu kinerja
pegawai. Komitmen mutu merupakan pelaksanaan pelayanan publik
dengan berorientasi pada kualitas hasil, dipersepsikan oleh individu
terhadap produk/ jasa berupa ukuran baik/buruk. Bidang apapun yang
menjadi tanggungjawab pegawai negeri sipil semua mesti dilaksanakan
secara optimal agar dapat memberi kepuasan kepada stakeholder.
a. Nilai-nilai Komitmen Mutu:
1) Efektif
Efektif dapat diartikan dengan berhasil guna, dapat mencapai hasil
sesuai dengan target. Sedangkan efektivitas menunjukkan tingkat
30

ketercapaian target yang telah direncanakan, baik menyangkut


jumlah maupun mutu hasil kerja. Efektivitas organisasi tidak hanya
diukur dari performans untuk mencapai target (rencana) mutu,
kuantitas, ketepatan waktu dan alokasi sumber daya, melainkan
juga diukur dari kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan pelanggan.
2) Efisien
Efisien adalah berdaya guna dapat menjalankan tugas dan
mencapai hasil tanpa menimbulkan keborosan. Sedangkan
efisiensi merupakan tingkat ketepatan realisasi penggunaan
sumberdaya dan bagaimana pekerjaan dilaksanakan sehingga
dapat diketahui ada dan tidaknya pemborosan sumberdaya,
penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur dan mekanisme
keluar alur.
3) Inovasi
Inovasi muncul karena ada dorongan dari dalam (internal) untuk
melakukan perubahan, atau bisa juga karena ada desakan
kebutuhan dari pihak eksternal misalnya permintaan pasar. Inovasi
lahir dari imajinasi pemikiran orang-orang kreatif, dan lahirnya
kreativitas didorong oleh munculnya ide/gagasan baru untuk keluar
dari rutinitas yang membosankan. Munculnya ide/gagasan baru,
kreativitas, dan inovasi dilatarbelakangi oleh semangat belajar yang
tidak pernah pudar, yang dijalani dalam proses pembelajaran
secara berkelanjutan. Gagasan kreatif yang muncul dari hasil
pemikiran individu akan mendorong munculnya berbagai prakarsa,
sehingga dapat memperkaya program kerja dan memunculkan
diferensiasi produk/jasa, seiring dengan berkembangnya tuntutan
kebutuhan pelanggan.
4) Mutu
Mutu merupakan salah satu standar yang menjadi dasar untuk
mengukur capaian hasil kerja. Mutu juga dijadikan alat pembeda
atau pembanding terhadap produk/jasa sejenis lainnya, yang
31

dihasilkan oleh lembaga lain sebagai pesaing. Mutu menjadi salah


satu alat vital untuk mempertahankan keberlanjutan organisasi dan
menjaga kredibilitas institusi. Orientasi mutu berkomitmen untuk
senantiasa melakukan pekerjaan dengan arah dan tujuan untuk
kualitas pelayanan sehingga pelanggan menjadi puas dalam
pelayanan.
b. Ada 5 (lima) dimensi karakteristik yang digunakan dalam mengevaluasi
kualitas pelayanan, yaitu:
1) Tangibles (bukti langsung), yaitu: meliputi fasilitas fisik,
perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi;
2) Reliability (kehandalan), yaitu kemampuan dalam memberikan
pelayanan dengan segera dan memuaskan serta sesuai dengan
yang telah dijanjikan;
3) Responsiveness (daya tangkap), yaitu keinginan untuk memberikan
pelayanan dengan tanggap;
4) Assurance (jaminan), yaitu mencakup kemampuan, kesopanan, dan
sifat dapat dipercaya;
5) Empati, yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi
yang baik, dan perhatian dengan tulus terhadap kebutuhan
pelanggan.
Alangkah baiknya apabila seluruh aparatur penyelenggara
pemerintahan dapat menampilkan kinerja yang merujuk pada nilai dasar
orientasi mutu dalam memberikan layanan kepada publik. Setiap
individu aparatur turut memikirkan bagaimana langkah perbaikan yang
dapat dilakukan dari posisinya masing-masing. Dipihak lain pimpinan
melakukan pemberdayaan aparatnya secara optimal, dan memberi
arah menuju terciptanya layanan prima yang dapat memuaskan
stakeholder.
32

5. Anti Korupsi
Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu “corruptio” yang
artinya kerusakan, kebobrokan, dan kebusukan. Selaras dengan asal
katanya korupsi sering disebut dengan kejahatan luar biasa karena
dampaknya dapat menyebabkan kerusakan yang luar biasa baik dalam
ruang lingkup pribadi, keluarga, masyarakat dan kehidupan yang lebih
luas. Kerusakan tersebut tidak hanya terjadi dalam kurun waktu yang
pendek, namun dapat berdampak secara jangka panjang.
Menurut UU No. 31/1999 jo No. UU 20/2001, terdapat 7
kelompok tindak pidana korupsi yang terdiri dari: (1) kerugian keuangan
negara, (2) suap-menyuap, (3) pemerasan, (4) perbuatan curang, (5)
penggelapan dalam jabatan, (6) benturan kepentingan dalam
pengadaan, dan (7) gratifikasi. Semua jenis tersebut merupakan delik-
delik yang diadopsi dari KUHP (pasal 1 ayat 1 sub C UU No.3/71).
a. Nilai-Nilai Anti Korupsi
Adapun Nilai-nilai dasar anti korupsi adalah meliputi:
1) Kejujuran
Jujur dapat didefinisikan sebagai lurus hati, tidak berbohong, dan
tidak curang. Jujur adalah salah satu sifat yang sangat penting
dalam kehidupan pegawai, tanpa sifat jujur pegawai tidak akan
dipercaya dalam kehidupan sosialnya.
2) Kepedulian
Peduli adalah mengindahkan, memperhatikan dan
menghiraukan. Nilai kepedulian sangat penting bagi seorang
pegawai dalam kehidupan di tempat kerja dan di masyarakat.
3) Kemandirian
Kondisi mandiri dapat diartikan sebagai proses mendewasakan
diri yaitu dengan tidak bergantung pada orang lain untuk
mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya.
4) Kedisiplinan
Disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan
33

5) Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah menerima segala sesuatu perbuatan
yang salah baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung
jawab tersebut berupa perwujudan dan kesadaran akan
kewajiban menerima dan menyelesaikan semua masalah yang
telah dilakukan.
6) Kerja Keras
Bekerja keras didasari dengan adanya kemauan, dimana
kemauan menimbulkan asosiasi dengan ketekadan, ketekunan,
daya tahan, tujuan jelas, daya kerja, pendirian, pengendalian diri,
keberanian, ketabahan, keteguhan, tenaga, kekuatan dan
pantang mundur.
7) Sederhana
Gaya hidup sederhana dibiasakan untuk tidak hidup boros, hidup
sesuai dengan kemampuannya dan dapat memenuhi semua
kebutuhannya. Prinsip hidup sederhara merupakan parameter
penting dalam menjalin hubungan antara sesama karena prinsip
ini akan mengatasi permasalahan kesenjangan sosial, iri,
dengki, tamak, egosi dan juga menghindari dari keinginan yang
berlebihan.
8) Keberanian
Nilai keberanian dapat dikembangkan dan diwujudkan dalam
bentuk berani mengatakan dan membela kebenaran, berani
mengakui kesalahan, berani bertanggungjawab dan lain
sebagainya.
9) Keadilan
Adil berarti adalah sama berat, tidak berat sebelah, tidak
memihak.
Dampak korupsi tidak hanya sekedar menimbulkan kerugian
keuangan negara namun dapat menimbulkan kerusakan kehidupan
yang tidak hanya bersifat jangka pendek tetapi dapat pula bersifat
34

jangka panjang. Fenomena dampak korupsi sampai pada kerusakan


kehidupan dan dikaitkan dengan tanggung jawab manusia sebagai
yang diberi amanah untuk mengelolanya dapat menjadikan sarana
untuk memicu kesadaran diri para PNS untuk anti korupsi.

C. Kedudukan dan Peran ASN dalam NKRI


Berdasarkan UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (UU ASN), dalam rangka mencapai tujuan nasional diperlukan
ASN yang profesional, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik
korupsi, kolusi, dan nepotisme, mampu menyelenggarakan pelayanan
publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai
perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945. Pegawai ASN diserahi tugas untuk melaksanakan tugas
pelayanan publik, tugas pemerintahan, dan tugas pembangunan
tertentu.
Berdasarkan Pasal 11 UU ASN, tugas pegawai ASN adalah
melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh pejabat pembina
kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan, memberikan pelayanan publik yang professional dan
berkualitas, dan mempererat persatuan dan kesatuan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu, ASN harus mengutamakan
kepentingan publik dan masyarakat luas dalam menjalankan fungsi dan
tugasnya tersebut. Peran dan kedudukan ASN dalam NKRI dapat
dilihat dari kemampuan memahami manajemen ASN, Pelayanan
Publik, dan inovasi yang berkaitan dengan Whole of Government
(WoG).
1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan
pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi,
bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi dan
nepotisme. Manajemen ASN lebih menekankan kepada
35

pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu


tersedia sumber daya ASN yang unggul selaras dengan
perkembangan jaman. Kedudukan atau status jabatan PNS dalam
sistem birokrasi selama ini belum sempurna untuk menciptakan
birokrasi yang professional.
Berdasarkan jenisnya, pegawai ASN terdiri atas Pegawai
Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian
Kerja (PPPK). PNS merupakan warga negara Indonesia yang
memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai ASN secara tetap oleh
pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan
pemerintahan, memiliki nomor induk pegawai secara nasional.
PPPK adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat
tertentu, yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian
berdasarkan perjanjian kerja sesusi dengan kebutuhan instansi
pemerintah untuk jangka waktu tertentu dalam rangka menjalankan
tugas pemerintahan.
Manajemen ASN diselenggarakan berdasarkan Sistem Merit.
Manajemen ASN meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan;
pengadaan; pangkat dan jabatan; pengembangan karier; pola
karier; promosi; mutasi; penilaian kinerja; penggajian dan
tunjangan; penghargaan; disiplin; pemberhentian; jaminan pensiun
dan jaminan hari tua; dan perlindungan (LAN, Manajemen Aparatur
Sipil Negara, 2014).

2. Pelayanan Publik
Pelayan publik adalah sebagai segala bentuk kegiatan
pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di
Pusatdan Daerah, dan di lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk
barang atau jasa, baik dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat.
(Lembaga Administrasi Negara: 1998). Sedangkan definisi yang
ada saat ini menjadi rujukan utama dalam penyelenggaraan
36

pelayanan publik sebagaimana termuat dalam Undang-Undang


Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik, dijelaskan
bahwa pelayanan publik kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas
barang, jasa, dan/atau pelayanan administrasi yang disediakan
oleh penyelenggara pelayanan publik.
Terdapat 3 unsur penting dalam pelayanan publik, yaitu unsur
pertama adalah organisasi penyelenggara pelayanan publik, unsur
kedua adalah penerima layanan (pelanggan) yaitu orang,
masyarakat atau organisasi yang berkepentingan, dan unsur ketiga
adalah kepuasan yang diberikan dan atau diterima oleh penerima
layanan (pelanggan).
Sembilan prinsip pelayanan publik yang baik untuk
mewujudkan pelayanan prima adalah: partisipatif, transparan,
responsif, non diskriminatif, mudah dan murah, efektif dan efisien,
aksesibel, akuntabel, dan berkeadilan. Kesadaran seluruh anggota
ASN untuk memberikan kontribusi terhadap upaya perbaikan
kualitas pelayanan publik di Indonesia akan memiliki implikasi
strategis jangka panjang yang penting bagi upaya untuk mengubah
kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan publik.
ASN perlu memahami berbagai hal yang menjadi fundamen
pelayanan publik antara lain:
a. Pelayanan publik merupakan hak warga negara sebagai
amanat konstitusi.
b. Pelayanan publik diselenggarakan dengan pajak warga
negara.
c. Pelayanan publik diselenggarakan dengan tujuan untuk
mencapai hal.
37

3. Whole of Government (WoG)


Whole of Goverment (WoG) dipandang menunjukkan atau
menjelaskan bagaimana instansi pelayanan publik bekerja lintas
sektor guna mencapai tujuan bersama dan sebagai respon terpadu
pemerintah terhadap isu-isu tertentu (Shergold & lain-lain, 2004).
Dari definisi itu diketahui bahwa WoG merupakan pendekatan yang
menekankan aspek kebersamaan dan menghilangkan sekat-sekat
sektoral yang selama ini terbangun dalam model NPM. Bentuk
pendekatannya bias dilakukan dalam pelembagaan formal atau
pendekatan informal.
Beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan baik
dari sisi penataan institusi formal maupun informal antara lain:
a. Penguatan koordinasi antar lembaga, yaitu penguatan
koordinasi yang dapat dilakukan jika jumlah lembaga-lembaga
yang dikoordinasikan masuh terjangkau dan manageable.
b. Membentuk lembaga koordinasi khusus, yaitu pembentukan
lembaga terpisah dan permanen yang bertugas dalam
mengkoordinasikan sektor atau kementrian.
c. Membentuk gugus tugas, yaitu bentuk pelembagaan koordinasi
yang dilakukan diluar struktur formal, yang sifatnya tidak
permanen.
d. Koalisi sosial, yaitu merupakan bentuk informal dari penyatuan
koordinasi antar sektor atau lembaga, tanpa perlu membentuk
pelembagaan khusus dalam koordinasi ini.
Tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan WoG di
tataran praktek antara lain:
a. Kapasitas SDM dan institusi
b. Nilai dan budaya organisasi
c. Kepemimpinan
Jenis pelayanan publik yang dikenal yang dapat didekati oleh
pendekatan WoG adalah:
38

a. Pelayanan yang bersifat administratif, yaitu pelayanan publik


yang menghasilkan berbagai produk dokumen resmi yang
dibutuhkan warga masyarakat.
b. Pelayanan jasa, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai
bentuk jasa yang dibutuhkan warga masyarakat seperti
pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perhubungan, dan
lainnya.
c. Pelayanan barang, yaitu pelayanan yang menghasilkan jenis
barang yang dibutuhkan warga masyarakat seperti jalan,
perumahan, jaringan telepon, listrik, air bersih, dan seterusnya.
d. Pelayanan regulatif, yaitu pelayanan melalui penegakan
hukuman dan peraturan perundang-undangan maupun
kebijakan publik yang mengatur sendi-sendi kehidupan
masyarakat.
Adapun berdasarkan polanya, pelayanan publik dapat
dibedakan dalam lima macam pola pelayanan sebagai berikut:
a. Pola pelayanan teknis fungsional, yaitu suatu pola pelayanan
publik yang diberikan oleh suatu instansi pemerintah sesuai
dengan bidang, tugas, fungsi dan wewenangnya.
b. Pola pelayanan satu atap, yaitu pola pelayanan yang dilakukan
secara terpadu pada suatu instansi pemerintah yang
bersangkutan sesuai kewenangan masing-masing.
c. Pola pelayanan satu pintu, yaitu pola pelayanan masyarakat
yang diberikan secara tunggal oleh satu unit kerja
pemerintahan berdasarkan pelimpahan kewenangan dari unit
kerja pemerintah terkait lainnya yang bersangkutan.
d. Pola pelayanan terpusat, yaitu pelayanan masyarakat yang
dilakukan oleh suatu instansi pemerintah yang bertindak selaku
koordinator terhadap pelayanan instansi pemerintah.
e. Pola pelayanan elektronik, yaitu pola pelayanan dengan
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang
39

merupakan otomasi dan otomatisasi pemberian layanan yang


bersifat elektronik atau on-line sehingga dapat menyesuaikan
diri dengan keinginan dan kapasitas masyarakat pengguna.
f. Hal-hal strategis untuk memajukan bangsa di masa yang akan
datang.

D. Pencegahan dan Pengendalian infeksi


1. Pengertian
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang selanjutnya
disingkat PPI adalah upaya untuk mencegah dan meminimalkan
terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat
sekitar fasilitas pelayanan kesehatan.
2. Ruang lingkup
Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi pelaksanaan PPI
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan berupa rumah sakit, puskesmas,
klinik, dan praktik mandiri tenaga kesehatan.
3. Tujuan
Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan bertujuan untuk melindungi pasien,
petugas kesehatan, pengunjung yang menerima pelayanan
kesehatan serta masyarakat dalam lingkungannya dengan cara
memutus siklus penularan penyakit infeksi melalui kewaspadaan
standar dan berdasarkan transmisi.
4. Konsep dasar penyakit infeksi
Penyakit infeksi yang didapat di rumah sakit beberapa waktu
yang lalu disebut sebagai Infeksi Nosokomial (Hospital Acquired
Infection). Saat ini penyebutan diubah menjadi Infeksi Terkait Layanan
Kesehatan atau “HAIs” (Healthcare-Associated Infections) dengan
pengertian yang lebih luas, yaitu kejadian infeksi tidak hanya berasal
dari rumah sakit, tetapi juga dapat dari fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya. Tidak terbatas infeksi kepada pasien namun dapat juga
40

kepada petugas kesehatan dan pengunjung yang tertular pada saat


berada di dalam lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan.
Infeksi merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh
mikroorganisme patogen, dengan/tanpa disertai gejala klinik. Infeksi
Terkait Pelayanan Kesehatan (Health Care Associated Infections)
yang selanjutnya disingkat HAIs merupakan infeksi yang terjadi pada
pasien selama perawatan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya dimana ketika masuk tidak ada infeksi dan tidak
dalam masa inkubasi, termasuk infeksi dalam rumah sakit tapi muncul
setelah pasien pulang, juga infeksi karena pekerjaan pada petugas
rumah sakit dan tenaga kesehatan terkait proses pelayanan
kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pelaksanaan
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan bertujuan untuk melindungi pasien, petugas kesehatan,
pengunjung yang menerima pelayanan kesehatanserta masyarakat
dalam lingkungannya dengan cara memutus siklus penularan penyakit
infeksi melalui kewaspadaan standar dan berdasarkan transmisi
5. Kewaspadaan standar
Kewaspadaan standar yaitu kewaspadaan yang utama,
dirancang untuk diterapkan secara rutin dalam perawatan seluruh
pasien di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, baik
yang telah didiagnosis, diduga terinfeksi atau kolonisasi. Diterapkan
untuk mencegah transmisi silang sebelum pasien di diagnosis,
sebelum adanya hasil pemeriksaan laboratorium dan setelah pasien
didiagnosis.
Pada tahun 2007, CDC dan HICPAC merekomendasikan 11
(sebelas) komponen utama yang harus dilaksanakan dan dipatuhi
dalam kewaspadaan standar, yaitu kebersihan tangan, Alat Pelindung
Diri (APD), dekontaminasi peralatan perawatan pasien, kesehatan
lingkungan, pengelolaan limbah, penatalaksanaan linen, perlindungan
kesehatan petugas, penempatan pasien, hygiene respirasi/etika batuk
41

dan bersin, praktik menyuntik yang aman dan praktik lumbal pungsi
yang aman. Komponen kewaspadaan standar tersebut diuraikan
sebagai berikut:
a. Kebersihan Tangan
Kebersihan tangan dilakukan dengan mencuci tangan
menggunakan sabun dan air mengalir bila tangan jelas kotor atau
terkena cairan tubuh, atau menggunakan alkohol (alcohol-based
handrubs) bila tangan tidak tampak kotor. Cuci tangan dengan
sabun biasa/antimikroba dan bilas dengan air mengalir, dilakukan
pada saat:
1) Bila tangan tampak kotor, terkena kontak cairan tubuh pasien
yaitu darah, cairan tubuh sekresi, ekskresi, kulit yang tidak
utuh, ganti verband, walaupun telah memakai sarung tangan.
2) Bila tangan beralih dari area tubuh yang terkontaminasi ke
area lainnya yang bersih, walaupun pada pasien yang sama.
Indikasi kebersihan tangan:
1) Sebelum kontak pasien;
2) Sebelum tindakan aseptik;
3) Setelah kontak darah dan cairan tubuh;
4) Setelah kontak pasien;
5) Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien
b. Alat Pelindung Diri (APD)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam APD sebagai berikut:
1) Alat pelindung diri adalah pakaian khusus atau peralatan yang di
pakai petugas untuk memproteksi diri dari bahaya fisik, kimia,
biologi/bahan infeksius.
2) APD terdiri dari sarung tangan, masker/Respirator Partikulat,
pelindung mata (goggle), perisai/pelindung wajah, kap penutup
kepala, gaun pelindung/apron, sandal/sepatu tertutup (Sepatu
Boot).
42

3) Tujuan Pemakaian APD adalah melindungi kulit dan membran


mukosa dari resiko pajanan darah, cairan tubuh, sekret,
ekskreta, kulit yang tidak utuh dan selaput lendir dari pasien ke
petugas dan sebaliknya.
4) Indikasi penggunaan APD adalah jika melakukan tindakan yang
memungkinkan tubuh atau membran mukosa terkena atau
terpercik darah atau cairan tubuh atau kemungkinan pasien
terkontaminasi dari petugas.
5) Melepas APD segera dilakukan jika tindakan sudah selesai di
lakukan.
6) Tidak dibenarkan menggantung masker di leher, memakai
sarung tangan sambil menulis dan menyentuh permukaan
lingkungan.
c. Dekontaminasi Peralatan Perawatan Pasien
Dalam dekontaminasi peralatan perawatan pasien dilakukan
penatalaksanaan peralatan bekas pakai perawatan pasien yang
terkontaminasi darah atau cairan tubuh (pre-cleaning, cleaning,
disinfeksi, dan sterilisasi) sesuai Standar Prosedur Operasional
(SPO) sebagai berikut:
1) Rendam peralatan bekas pakai dalam air dan detergen atau
enzyme lalu dibersihkan dengan menggunakan spons sebelum
dilakukan disinfeksi tingkat tinggi (DTT) atau sterilisasi.
2) Peralatan yang telah dipakai untuk pasien infeksius harus
didekontaminasi terlebih dulu sebelum digunakan untuk pasien
lainnya.
3) Pastikan peralatan sekali pakai dibuang dan dimusnahkan
sesuai prinsip pembuangan sampah dan limbah yang benar. Hal
ini juga berlaku untuk alat yang dipakai berulang, jika akan
dibuang.
43

4) Untuk alat bekas pakai yang akan di pakai ulang, setelah


dibersihkan dengan menggunakan spons, di DTT dengan klorin
0,5% selama 10 menit.
5) Peralatan nonkritikal yang terkontaminasi, dapat didisinfeksi
menggunakan alkohol 70%. Peralatan semikritikal didisinfeksi
atau disterilisasi, sedangkan peralatan kritikal harus didisinfeksi
dan disterilisasi.
6) Untuk peralatan yang besar seperti USG dan X-Ray, dapat
didekontaminasi permukaannya setelah digunakan di ruangan
isolasi.
d. Pengendalian Lingkungan
Pengendalian lingkungan di fasilitas pelayanan kesehatan, antara
lain berupa upaya perbaikan kualitas udara, kualitas air, dan
permukaan lingkungan, serta desain dan konstruksi bangunan,
dilakukan untuk mencegah transmisi mikroorganisme kepada
pasien, petugas dan pengunjung.
e. Pengelolaan Limbah
1) Tujuan Pengelolaan Limbah
a) Melindungi pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan
masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan dari
penyebaran infeksi dan cidera.
b) Membuang bahan-bahan berbahaya (sitotoksik, radioaktif,
gas, limbah infeksius, limbah kimiawi dan farmasi) dengan
aman.
2) Proses Pengelolaan Limbah
Proses pengelolaan limbah dimulai dari identifikasi, pemisahan,
labeling, pengangkutan, penyimpanan hingga
pembuangan/pemusnahan.
44

f. Penatalaksanaan Linen
Linen terbagi menjadi linen kotor dan linen terkontaminasi. Linen
terkontaminasi adalah linen yang terkena darah atau cairan tubuh
lainnya, termasuk juga benda tajam. Penatalaksanaan linen yang
sudah digunakan harus dilakukan dengan hati-hati. Kehatian-hatian
ini mencakup penggunaan perlengkapan APD yang sesuai dan
membersihkan tangan secara teratur sesuai pedoman kewaspadaan
standar.
g. Perlindungan Kesehatan Petugas
Lakukan pemeriksaan kesehatan berkala terhadap semua petugas
baik tenaga kesehatan maupun tenaga nonkesehatan. Fasyankes
harus mempunyai kebijakan untuk penatalaksanaan akibat tusukan
jarum atau benda tajam bekas pakai pasien, yang berisikan antara
lain siapa yang harus dihubungi saat terjadi kecelakaan dan
pemeriksaan serta konsultasi yang dibutuhkan oleh petugas yang
bersangkutan. Apabila terjadi kecelakaan kerja berupa perlukaan
seperti tertusuk jarum suntik bekas pasien atau terpercik bahan
infeksius maka perlu pengelolaan yang cermat dan tepat serta efektif
untuk mencegah semaksimal mungkin terjadinya infeksi yang tidak
diinginkan.
h. Penempatan Pasien
1) Tempatkan pasien infeksius terpisah dengan pasien non
infeksius.
2) Penempatan pasien disesuaikan dengan pola transmisi infeksi
penyakit pasien (kontak, droplet, airborne) sebaiknya ruangan
tersendiri.
3) Bila tidak tersedia ruang tersendiri, dibolehkan dirawat bersama
pasien lain yang jenis infeksinya sama dengan menerapkan
sistem cohorting. Jarak antara tempat tidur minimal 1 meter.
Untuk menentukan pasien yang dapat disatukan dalam satu
45

ruangan, dikonsultasikan terlebih dahulu kepada Komite atau


Tim PPI.
4) Semua ruangan terkait cohorting harus diberi tanda
kewaspadaan berdasarkan jenis transmisinya (kontak,droplet,
airborne).
5) Pasien yang tidak dapat menjaga kebersihan diri atau
lingkungannya seyogyanya dipisahkan tersendiri.
6) Mobilisasi pasien infeksius yang jenis transmisinya melalui udara
(airborne) agar dibatasi di lingkungan fasilitas pelayanan
kesehatan untuk menghindari terjadinya transmisi penyakit yang
tidak perlu kepada yang lain.
7) Pasien HIV tidak diperkenankan dirawat bersama dengan pasien
TB dalam satu ruangan tetapi pasien TB-HIV dapat dirawat
dengan sesama pasien TB.
i. Kebersihan Pernapasan/Etika Batuk Dan Bersin
Diterapkan untuk semua orang terutama pada kasus infeksi dengan
jenis transmisi airborne dan droplet. Fasilitas pelayanan kesehatan
harus menyediakan sarana cuci tangan seperti wastafel dengan air
mengalir, tisu, sabun cair, tempat sampah infeksius dan masker
bedah. Petugas, pasien dan pengunjung dengan gejala infeksi
saluran napas, harus melaksanakan dan mematuhi langkah-langkah
sebagai berikut:
1) Menutup hidung dan mulut dengan tisu atau saputangan atau
lengan atas.
2) Tisu dibuang ke tempat sampah infeksius dan kemudian
mencuci tangan.
j. Praktik Menyuntik Yang Aman
Pakai spuit dan jarum suntik steril sekali pakai untuk setiap suntikan,
berlaku juga pada penggunaan vial multidose untuk mencegah
timbulnya kontaminasi mikroba saat obat dipakai pada pasien lain.
46

Jangan lupa membuang spuit dan jarum suntik bekas pakai ke


tempatnya dengan benar.
Rekomendasi Penyuntikan Yang Aman
1) Menerapkan aseptic technique untuk mecegah kontaminasi alat-
alat injeksi (kategori IA).
2) Tidak menggunakan semprit yang sama untuk penyuntikan lebih
dari satu pasien walaupun jarum suntiknya diganti (kategori IA).
3) Semua alat suntik yang dipergunakan harus satu kali pakai untuk
satu pasien dan satu prosedur (kategori IA).
4) Gunakan cairan pelarut/flushing hanya untuk satu kali (NaCl,
WFI, dll) (kategori IA).
5) Gunakan single dose untuk obat injeksi (bila memungkinkan)
(kategori IB).
6) Tidak memberikan obat-obat single dose kepada lebih dari satu
pasien atau mencampur obat-obat sisa dari vial/ampul untuk
pemberian berikutnya (kategori IA).
7) Bila harus menggunakan obat-obat multi dose, semua alat yang
akan dipergunakan harus steril (kategori IA).
8) Simpan obat-obat multi dose sesuai dengan rekomendasi dari
pabrik yang membuat (kategori IA).
9) Tidak menggunakan cairan pelarut untuk lebih dari 1 pasien
(kategori IB)
k. Praktik Lumbal Pungsi Yang Aman
Semua petugas harus memakai masker bedah, gaun bersih, sarung
tangan steril saat akan melakukan tindakan lumbal pungsi, anestesi
spinal/epidural/pasang kateter vena sentral.
Penggunaan masker bedah pada petugas dibutuhkan agar tidak
terjadi droplet flora orofaring yang dapat menimbulkan meningitis
bakterial.
47

BAB III
TUGAS UNIT KERJA DAN TUGAS PESERTA

A. Profil BKMIA Kartini


1. Sejarah dan Landasan Hukum BLUD-BKMIA Kartini
Dalam upaya peningkatan status kesehatan masyarakat
khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak di Kabupaten
Banyumas, dipandang perlu untuk membentuk Balai Kesehatan
Masyarakat Ibu dan Anak (BKMIA) Kartini.
Balai Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak (BKMIA) Kartini
merupakan peralihan Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas Unit II.
Berdasarkan sejarah, pada awalnya di lokasi Jalan
Ragasemangsang 12 berdiri Hotel Kota milik Pemerintah Daerah
Tingkat II Banyumas. Pada tahun 1973 Hotel Kota tersebut
dialihfungsikan menjadi Rumah Bersalin Kartini dengan pimpinan dr.
Imam Makrifat. Pengelolaan rumah bersalin pada saat itu
dilaksanakan oleh Jawatan Kesehatan Rakyat Daerah Tingkat II
Kabupaten Banyumas yang sistem pelaporannya dikoordinasikan
oleh Puskesmas Tipe A Purwokerto.
Pada tahun 1990 pengelolaan Rumah Bersalin Kartini
diserahkan kepada RSUD Banyumas yang kemudian ditingkatkan
menjadi RSUD Banyumas Unit II. Pelayanan Kesehatan yang
dlakukan antara lain Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Spesialis
Anak, Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Saraf, Spesialis Mata,
Spesialis THT dan Spesialis Jiwa.
Pada tanggal 1 Juni 2011 RSUD Banyumas Unit II diserahkan
kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Berdasarkan
Peraturan Bupati Banyumas Nomor 28 Tahun 2011 tanggal 5
September 2011 tentang Organisasi, Penjabaran Tugas dan Tata
Kerja Balai Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak (BKMIA) Kartini

47
48

pada Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dibentuk Balai


Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak Kartini.
Kepala BKMIA Kartini yang pertama adalah dr. Catur Yuni
Muliatsih, MM yang ditetapkan melalui Keputusan Bupati Banyumas
nomor 821.2/006/2012 yang ditetapkan pada tanggal 11 Januari
2012.
Selanjutnya dr. Widjajani Sri Muljani menjadi Kepala Balai
Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak Kartini yang kedua dengan SK
Bupati Banyumas Nomor 821.2/49/Tahun 2016 dan mulai menjabat
sebagai pimpinan BLUD sejak 22 Januari 2016 hingga sekarang.
Balai Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak (BKMIA) Kartini
mempunyai tugas melaksanakan sebagian kegiatan teknis
operasional Dinas Kesehatan dalam menyelenggarakan upaya
kesehatan strata kedua di dalam dan di luar gedung untuk mengatasi
masalah kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Banyumas. BKMIA
sebagai balai kesehatan masyarakat juga mempunyai peran dalam
memberikan pelayanan medis dasar.
Berdasarkan Keputusan Bupati Banyumas Nomor
445/57/SK/IX/2018 tanggal 28 September 2018 Tentang Izin Tetap
Sarana Kesehatan Balai Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak Kartini
Purwokerto; Balai Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak (BKMIA)
Kartini berkewajiban menyelenggarakan upaya pelayanan
kesehatan perorangan dan upaya pelayanan kesehatan masyarakat
strata kedua. Izin operasional ini berlaku selama 5 ( lima ) tahun.

2. Karakteristik Bisnis BLUD-BKMIA KARTINI


BLUD-BKMIA Kartini mempunyai karakteristik yang spesifik
yaitu pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mencakup kegiatan
dalam dan luar gedung. Jenis Pelayanan yang dilakukan di BLUD-
BKMIA Kartini adalah:
a. Persalinan 24 Jam
49

b. Rawat jalan umum


c. Rawat jalan spesialistik
d. Kegawatdaruratan
e. Pelayanan kesehatan ibu
f. Pelayanan kesehatan anak
g. Pelayanan rawat inap ibu, anak dan umum
h. Pelayanan kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana
i. Tindakan Perawatan Khusus
j. Pelayanan homecare
k. Tindakan medis non operatif
l. Tindakan medis operatif ringan
m. Pelayanan penunjang medik untuk diagnosa laboratorium
n. Pelayanan kefarmasian
o. Pelayanan gizi
p. Pelayanan ambulance

Dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat ibu dan


anak serta bertujuan meningkatkan mutu pelayanan di BLUD-BKMIA
Kartini maka disusun kebijakan program layanan unggulan. Dengan
layanan unggulan ini diharapkan BLUD-BKMIA kartini akan mampu
memberikan layanan yang “lebih” dibandingkan dengan fasilitas
kesehatan yang memberikan layanan sejenis. Adapun pelayanan
unggulan BLUD-BKMIA Kartini meliputi :
a. Pelayanan Persalinan PONED-Plus 24 Jam (Konsultan SpOG
dan SpA)
b. Pelayanan ANC Integrasi-Komprehensif
c. Pelayanan screening IVA Sadanis
d. Klinik VCT-PMTCT
e. MOP
f. Homecare baby and mom
g. Kelas Ibu dan senam hamil
50

3. Visi, Misi, Filosofi dan Strategi BKMIA Kartini


a. Visi:
Menjadi Balai Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak yang utama
melalui upaya kesehatan terpadu dan bermutu.
b. Misi:
1) Meningkatkan derajat kesehatan perempuan dan anak
dengan menyelenggarakan pelayanan kebidanan,
kandungan, kesehatan anak, kesehatan reproduksi dan
keluarga berencana yang bermutu tinggi dan terjangkau oleh
masyarakat.
2) Memberikan pelayanan, pendidikan, pelatihan di bidang
kesehatan ibu dan anak yang seimbang, komprehensif dan
terintegrasi.
3) Membina dan mengembangkan peran serta masyarakat
dalam meningkatkan derajat kesehatan dengan upaya
pelayanan kesehatan ibu dan anak.
4) Mengupayakan pelayanan kesehatan ibu dan anak yang
paripurna dengan peningkatan profesionalisme sumber daya
manusia, dan peningkatan sarana dan prasarana.
5) Menjalin kerjasama/koordinasi lintas program dan lintas
sektoral dalam rangka peningkatan kualitas kesehatan ibu
dan anak dalam upaya menyiapkan generasi penerus yang
sehat jasmani dan rohani.
c. Filosofi
Keselamatan dan Kesehatan Ibu dan Anak Diwujudkan dengan
Profesionalme dan Kebanggaan dalam Pelayanan
d. Strategi :
1) Meningkatkan advokasi dan komunikasi lintas program/lintas
sektoral.
2) Menggalang kemitraan.
3) Penguatan manajemen dan infrastruktur.
51

4) Peningkatan kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia.


5) Mobilisasi sumber daya.

4. Budaya Blud-BKMIA Kartini


a. Eman
b. Gaten
c. Telaten

5. Struktur Organisasi di BKMIA Kartini


Struktur organisasi dan tatakerja BLUD-BKMIA Kartini diatur
dalam Peraturan Bupati tentang Tata Kelola BLUD-BKMIA Kartini
yaitu Peraturan Bupati nomor 90 tahun 2014 tentang Tata Kelola
Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Balai
Kesehatan Masyarakat Ibu dan Anak, dimana pengelola BLUD terdiri
dari:
1. Pimpinan BLUD : dr. Widjajani Sri Muljani
2. Pejabat Keuangan : Siti Asminatun Jariah, SE
Pejabat keuangan dibantu oleh :
 Bendahara Penerimaan : Jauharin Pintam T, Amd.Keb
 Bendahara Pengeluaran : Tri Martini, Amd
 Bendahara Barang : Tujiono, Amd.AK
 Pelaksana Akutansi : Bangkit Nur Cahyati,Amd
3. Pejabat Teknis : dr. Kusumo Budiharti
Pejabat teknis di bantu organ pelaksana yang terdiri dari :
a. Pelaksana Teknis Medis
- Rawat Jalan : dr.Kusumo Budiharti
- Rawat Inap : dr.Alfiany Fadhila
b. Pelaksana Teknis Penunjang Medis
- Farmasi : Nety Nurwati,S.Farm,MSc.Apt
- Laboratorium : Tujiono, Amd.AK
- Gizi : Siti Fasehah, S.Tr.Gz
52

c. Pelaksana Teknis Non Medis


- Pendidikan dan Pelatihan : Tri Karsiti, S.ST
- Kemitraan : Sri Soegijanti, Amd.Keb
Ragil Santoso,AMK
d. Pelaksana Teknis Penunjang Umum
- Operasional dan pemeliharaan : Nani Rohaeni
e. Tim Pemeriksa Barang : Nurohmah, Amd.Keb
Purwandani.S, Amd.Keb

B. Tugas Jabatan Peserta Latsar


Tugas jabatan penulis di BKMIA Kartini adalah sebagai perawat
ahli pertama yang mempunyai tupoksi sesuai dengan standar profesi
yang dijabat sebagaimana tertuang dalam Permenpan Nomor 25 tahun
2014 tentang jabatan fungsional perawat dan angka kreditnya yaitu
melakukan kegiatan pelayanan keperawatan yang meliputi asuhan
keperawatan, pengelolaan keperawatan dan pengabdian pada
masyarakat.
1. Melakukan pengkajian keperawatan
2. Merumuskan diagnosis keperawatan
3. Merumuskan intervensi keperawatan
4. Melaksanakan implementasi tindakan keperawatan
5. Melakukan evaluasi keperawatan
6. Melakukan dokumentasi keperawatan
53

C. Role Model

Gambar 3.1 Role Model


dr. Widjajani Sri Muljani, Kepala BKMIA Kartini

Sosok yang penulis jadikan role model adalah Kepala BKMIA Kartini
yaitu dr. Widjajani Sri Muljani. Beliau adalah sosok pemimpin yang sangat
patut di contoh dari sikap dan perilakunya. Beliau memiliki jiwa
kepemimpinan (Akuntabilitas) yang selalu disiplin (Anti Korupsi), tegas dan
memiliki wibawa yang disegani banyak orang dan selalu mengedepankan
Integritas, Kejujuran, Disiplin serta Tanggung jawab yang tinggi
(Akuntabilitas). Beliau juga selalu memberi contoh kepada karyawannya
untuk selalu melayani sesuai Standar Pelayanan (Etika Publik) dan
memberikan pelayanan yang prima (Komitmen Mutu) terhadap masyarakat
demi tercapainya kepuasan masyarakat dalam pelayanan di BKMIA Kartini.
Penulis berharap dapat mencontoh teladan yang diberikan oleh
Kepala BKMIA Kartini yaitu dr. Widjajani Sri Muljani tersebut dan
menerapkan hal-hal yang beliau lakukan sesuai dengan kapasitas dan
peranan di lingkungan kerja Penulis, yaitu BKMIA Kartini.
54

BAB IV
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

A. Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan Dengan


Nilai ANEKA
Rencana kegiatan aktualisasi akan dilaksanakan di BKMIA
Kartini sesuai dengan pedoman Nilai Dasar Aparatur Sipil Negara yaitu
ANEKA dan berprinsip pada Manajemen ASN, Pelayanan Publik dan
Whole of Government (WoG). Rancangan kegiatan aktualisasi dan
habituasi dibuat berdasarkan identifikasi isu APKL (Aktual, Problematik,
Kekhalayakan, Layak) dan dengan mengukur urgensinya (Urgency),
tingkat keseriusan masalah (Serioussness) dan perkembangan isu
tersebut jika tidak dipecahkan (Growth), atau yang dikenal dengan
analisis USG.
Sumber kegiatan berasal dari Sasaran Kinerja Pegawai (SKP)
dan Tupoksi, surat tugas pimpinan dan inovasi. Dari isu yang telah
terpilih melalui analisa APKL dan USG, maka isu tersebut akan di
breakdown menjadi kegiatan-kegiatan yang bersumber dari Sasaran
Kinerja Pegawai (SKP) dan Tupoksi, Perintah Pimpinan maupun
Inovasi yang diciptakan untuk mendukung pekerjaan yang
dilaksanakan guna mendapat hasil yang maksimal.
Rancangan kegiatan aktualisasi merupakan rencana
operasional pelaksanaan aktualisasi dan habituasi yang akan
diterapkan oleh penulis selama 30 hari kerja mulai tanggal 12 Juli 2019
sampai dengan 10 Agustus 2019 di BKMIA Kartini. Rancangan kegiatan
aktualisasi disajikan secara rinci sebagai berikut:

54
55

Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi

Unit kerja : BKMIA Kartini Dinas Kesehatan Kabupaten


Banyumas
Identifikasi Isu : Isu yang ditemukan di lingkungan BKMIA Kartini:
1. Belum optimalnya pelaksanaan discharge planning
(perencanaan pulang) pada pasien rawat inap di
BKMIA Kartini
2. Rendahnya praktik cuci tangan petugas di BKMIA
Kartini sesuai standar WHO
3. Kurang optimalnya sisstem pertukaran jaga
perawat di BKMIA Kartini
4. Pelaksanaan asuhan keperawatan mandiri belum
berjalan optimal
5. Pelayanan gawat darurat masih belum optimal
6. Belum optimalnya pendokumentasian asuhan
keperawatan pasien rawat inap di BKMIA Kartini
7. Belum optimalnya upaya pencegahan dan
pengendalian infeksi (PPI) di BKMIA Kartini
Isu yang diangkat : Belum optimalnya upaya pencegahan dan
pengendalian infeksi (PPI) di BKMIA Kartini
Gagasan Pemecahan Isu: Optimalisasi upaya pencegahan dan
pengendalian infeksi (PPI) di BKMIA
Kartini
Rencana kegiatan : 1. Mengukur tingkat pengetahuan dan pelaksanaan
pencegahan dan pengendalian infeksi terhadap
seluruh pegawai di BKMIA Kartini.
2. Merestrukturisasi tim pencegahan dan
pengendalian infeksi (PPI)
3. Menyempurnakan pedoman pengendalian dan
pencegahan infeksi (PPI) di BKMIA Kartini
56

4. Menyusun pedoman kewaspadaan standar: 1)


kebersihan tangan (hand hygiene) mengacu pada
standar WHO terkini, 2) penggunaan alat pelindung
diri (APD), 3) etika batuk dan bersin, 4) serta praktik
menyuntik yang aman.
5. Mengadakan sosialisasi tim PPI dan program PPI
6. Mengadakan penyegaran materi mengenai PPI
kepada petugas di BKMIA Kartini.
7. Membuat media informasi: kewaspadaan standar:
75 tangan (hand hygiene) mengacu
1) kebersihan
pada standar WHO terkini, 2) penggunaan alat
pelindung diri (APD), 3) etika batuk dan bersin, 4)
serta praktik menyuntik yang aman.
8. Melakukan evaluasi pengetahuan dan
pelaksanaan pencegahan dan pengendalian
infeksi terhadap seluruh pegawai di BKMIA Kartini.
57

Tabel 4.1 Rancangan Kegiatan Aktualisasi


Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
1. Mengukur Terukurnya tingkat Berkontribusi Kegiatan ini Tidak dapat
tingkat pengetahuan dan dalam memberikan diketahui tingkat
pengetahuan pelaksanaan pencapaian Misi penguatan pengetahuan dan
dan pencegahan dan BKMIA Kartini nilai di BKMIA pelaksanaan PPI
pelaksanaan pengendalian infeksi yang ke 4 yaitu yaitu sebelum
pencegahan pada seluruh “Mengupayakan profesionaldan dilaksanakan
dan pegawai di BKMIA pelayanan perlindungan tindakan
pengendalian Kartini kesehatan ibu diri aktualisasi
infeksi 1. Melakukan studi literatur/ 1. Materi tentang Akuntabilitas: dan anak yang sehingga tidak
terhadap mencari referensi untuk PPI Kejelasan, tanggung paripurna dapat
seluruh memperoleh kejelasan jawab dengan dibandingkat
pegawai di materi tentang PPI dan profesionalisme dengan hasil
BKMIA Kartini. materi dapat sumber daya setelah
dipertanggung jawabkan manusia, aktualisasi
Sumber 2. Berkonsultasi dengan 2. Berita acara Etika Publik: peningkatan
kegiatan: Kepala BKMIA tentang isi konsultasi berkonsultasi sarana dan
inovasi pertanyaan dalam angket sopan dan santun prasarana”
dan daftar pertanyaan
lembar observasi dengan Nasionalisme:
sopan dan santun Berkonsultasi/
bermusyawarah
3. Menyusun angket 3. Daftar Komitmen mutu:
mengenai tingkat pertanyaan inovasi
pengetahuan dan lembar mengenai tingkat
observasi pelaksanaan pengetahuan dan
pencegahan dan lembar observasi
pengendalian infeksi oleh pelaksanaan
pegawai di BKMIA Kartini pencegahan dan
Gagasan didorong oleh pengendalian
adanya keinginan untuk infeksi oleh
perubahan (inovasi) pegawai di
BKMIA Kartini

57
58

Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
4. Menyebarkan angket 4. Angket yang Akuntabilitas:
kepada seluruh pegawai telah diisi oleh Transparan
di BKMIA Kartini sehingga pegawai
informasi yang ingin digali
dapat diketahui oleh
semua pegawai secara
transparan
5. Melakukan observasi 5. Lembar Akuntabilitas:
kepada petugas observasi yang Kejelasan
kesehatan untuk diisi oleh petugas
mengetahui dengan jelas kesehatan
mengenai pelaksanaan
cuci tangan, penggunaan
APD, etika batuk, dan
praktik menyuntik yang
aman
6. Membuat tabulasi data 6. Kesimpulan hasil Anti korupsi:
dan menyimpulkan hasil pelaksanaan Jujur
secara jujur apa adanya upaya
dan penuh pencegahan dan Akuntabilitas:
tangungjawab pengendalian tanggung jawab
infeksi oleh
pegawai di
BKMIA Kartini.
2. Merestrukturis Terbentuknya Berkontribusi Kegiatan ini Tidak ada petugas
asi tim struktur baru tim PPI dalam memberikan yang fokus pada
pencegahan pencapaian Misi penguatan upaya
dan 1. Berkonsultasi dengan 1. Berita acara Etika Publik: BKMIA Kartini kepada filosofi pencegahan dan
pengendalian Kepala BKMIA Kartini konsultasi berkonsultasi yang ke 4 yaitu BKMIA yaitu pengendalian
infeksi (PPI) mengenai calon anggota “Menjalin keselamatan infeksi
tim PPI kerjasama/ dan kesehatan
Sumber 2. Mengusulkan nama- 2. Daftar nama Akuntabilitas: koordinasi ibu ibu dan anak
kegiatan: nama calon angota tim petugas yang akan Usul/mengemukaka dan anak dalam diwujudkan
Penugasan secara adil dengan dijadikan anggota n pendapa/ upaya dengan
pimpinan mempertimbangkan tim PPI Partisipatif menyiapkan profesionalisme
penerus yang dan kebanggan

58
59

Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
kompetensi dan Nasionalisme sehat jasmani dalam
tupoksinya Adil (sila ke 5) dan rohani” pelayanan
3. Mengusulkan untuk 3. Adanya SK tim PPI Akuntabilitas:
pembuatan SK tim PPI BKMIA Kartini. partisipatif
BKMIA Kartini.
4. Berkoordinasi 4. Berita acara dan Nasionalisme:
(musyawarah) dengan notula koordinasi Musyawarah
tim PPI tersebut untuk dengan tim PPI
membahas program kerja
3. Menyempurna Adanya pedoman Berkontribusi Kegiatan ini Tidak adanya
kan pedoman pengendalian dan dalam memberikan pedoman yang
pengendalian pencegahan infeksi pencapaian Misi penguatan dijadikan rujukan
dan (PPI) terkini untuk BKMIA Kartini kepada filosofi dalam
pencegahan digunakan di BKMIA yang ke 2 BKMIA yaitu pelaksanaan PPI
infeksi (PPI) di Kartini “Memberikan keselamatan
BKMIA Kartini 1. Melakukan studi literatur/ 1. Adanya sumber Akuntabilitas pelayanan, dan kesehatan
mencari referensi materi literatur yang Jelas, pendidikan, ibu dan anak
Sumber tentang PPI dengan jelas dijadikan rujukan tangungjawab pelatihan di diwujudkan
kegiatan: dan dapat dipertanggung penyusunan buku bidang dengan
inovasi jawabkan PPI kesehatan ibu profesionalisme
2. Menyusun pedoman 2. Adanya buku EtikaPublik: dan anak yang dan kebanggan
pengendalian dan pedoman PPI penghargaan seimbang, dalam
pencegahan infeksi (PPI) BKMIA Kartini terhadap karya komprehensif pelayanan
yang akan digunakan di orang lain dan dan terintegrasi”
lingkungan BKMIA Kartini. menghindari
Mencantumkan sumber plagiasi.
referensi pada daftar Komitmen Mutu:
pustaka sebagai bentuk inovasi, berorientasi
penghargaan terhadap mutu
karya orang lain dan
menghindari plagiasi.
Pedoman disusun dengan
inovasi dan berorientasi
mutu
3. Berkonsultasi dengan 3. Lembar Etika Publik:
Kepala BKMIA Kartini pengesahan oleh

59
60

Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
dengan sopan dan kepala BKMIA Berkonsultasi,
santun untuk Kartini sopan dan santun
persetujuan/pengesahan
isi buku
4. Menyusun Adanya pedoman Berkontribusi Kegiatan ini Tidak adanya
pedoman kewaspadaan dalam memberikan pedoman untuk
kewaspadaan standar: pencapaian Misi penguatan pelaksanaan
standar: 1) 1) kebersihan tangan BKMIA Kartini kepada filosofi kewaspadaan
kebersihan (hand hygiene) yang ke 2 BKMIA yaitu standar yang bisa
tangan (hand mengacu pada “Memberikan keselamatan dijadikan rujukan
hygiene) standar WHO terkini, pelayanan, dan kesehatan
mengacu pada 2) penggunaan alat pendidikan, ibu dan anak
standar WHO pelindung diri (APD), pelatihan di diwujudkan
terkini, 2) 3) etika batuk dan bidang dengan
penggunaan bersin, kesehatan ibu profesionalisme
alat pelindung 4) serta praktik dan anak yang dan kebanggan
diri (APD), 3) menyuntik yang seimbang, dalam
etika batuk dan aman dengan komprehensif pelayanan
bersin, 4) serta standar terkini untuk dan terintegrasi”
praktik digunakan di BKMIA
menyuntik Kartini
yang aman. 1. Merujuk pada pedoman 1. Adanya buku Akuntabilitas:
PPI BKMIA Kartini dengan pedoman PPI Jelas,
Sumber jelas dan dapat BKMIA Kartini tanggungjawab
kegiatan: dipertangungjawabkan
inovasi 2. Menyusun pedoman 2. Adanya pedoman Komitmen mutu:
untuk kewaspadaan kewaspadaan Inovasi, berorientasi
standar: 1) kebersihan standar: 1) mutu
tangan (hand hygiene) kebersihan tangan
mengacu pada standar (hand hygiene)
WHO terkini, 2) mengacu pada
penggunaan alat standar WHO
pelindung diri (APD), 3) terkini, 2)
etika batuk dan bersin, 4) penggunaan alat
serta praktik menyuntik pelindung diri
yang aman (APD), 3) etika

60
61

Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
Pedoman disusun batuk dan bersin,
dengan inovasi dan 4) serta praktik
berorientasi mutu menyuntik yang
aman
3. Berkonsultasi dengan 3. Lembar Etika Publik:
Kepala BKMIA Kartini pengesahan oleh Berkonsultasi,
secara sopan dan kepala BKMIA sopan dan santun
santun untuk Kartini
persetujuan/ pengesahan
isi pedoman
kewaspadaan standar
5. Mengadakan Tersosialisasikannya Berkontribusi Kegiatan ini Para pegawai
sosialisasi tim tim PPI yang baru dalam memberikan tidak mengetahui
PPI dan dan program PPI ke pencapaian Misi penguatan siapa tim
program PPI seluruh petugas di BKMIA Kartini kepada filosofi penangungjawab
PPI ke seluruh BKMIA Kartini yang ke 1 yaitu BKMIA yaitu PPI dan program
petugas di “Meningkatkande keselamatan kerjanya
BKMIA Kartini 1. Berkoordinasi 1. Berita acara dan Nasionalisme: rajat kesehatan dan kesehatan
(musyawarah) dengan notula koordinasi Musyawarah (sila ke perempuan dan ibu dan anak
Sumber Kepala BKMIA Kartini dan 4) anak dengan diwujudkan
kegiatan: bagian tata usaha untuk menyelenggarak dengan
Penugasan menentukan waktu, an pelayanan profesionalisme
pimpinan tempat dan sumber dana kebidanan, dan kebanggan
untuk sosialisasi kandungan, dalam
2. Membuat undangan untuk 2. Adanya undangan Akuntabilitas: kesehatan anak, pelayanan
pegawai BKMIA Kartini sosialisasi kepada transparan kesehatan
secara transparan pegawai BKMIA reproduksi dan
Kartini keluarga
3. Menyiapkan tempat dan 3. Tersedianya Akuntabilitas: berencana yang
materi sebagai bentuk tempat dan materi tanggungjawab bermutu tinggi
tanggungjawab kepada sosialisasi dan terjangkau
pihak-pihak yang oleh masyarakat”
diundang
4. Memperkenalkan anggota 4. Berita acara, daftar Etika publik:
tim PPI BKMIA Kartini hadir, notula dan Berkomunikasi
(berkomunikasi)dan foto kegiatan

61
62

Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
program kerjanya secara Akuntabilitas:
transparan transparan
5. Membuat dokumentasi 5. Berita acara, daftar Akuntabilitas:
kegiatan sebagai bentuk hadir, notula dan tanggungjawab
pertanggungjawaban foto kegiatan
6. Mengadakan Adanya peningkatan Berkontribusi Kegiatan ini Defisiensi
penyegaran pengetahuan dan dalam memberikan pengetahuan
materi keterampilan pencapaian Misi penguatan petugas tentang
mengenai PPI petugas kesehatan di BKMIA Kartini kepada filosofi PPI
kepada BKMIA Kartini yang ke 2 BKMIA yaitu
petugas di tentang PPI sesuai “Memberikan keselamatan
BKMIA Kartini. dengan standar pelayanan, dan kesehatan
terkini. pendidikan, ibu dan anak
Sumber 1. Berkoordinasi 1. Berita acara dan Nasionalisme: pelatihan di diwujudkan
kegiatan: (musyawarah) dengan notula koordinasi Musyawarah (sila ke bidang dengan
Inovasi & Kepala BKMIA Kartini dan 4) kesehatan ibu profesionalisme
SKP bagian tata usaha untuk dan anak yang dan kebanggan
menentukan waktu, seimbang, dalam
tempat dan sumber dana komprehensif pelayanan
serta dan terintegrasi”
narasumber/pemateri
untuk kegiatan
penyegaran materi
mengenai PPI
2. Menghubungi 2. Kesepakatan Nasionalisme:
narasumber/pemateri dengan Musyawarah (sila ke
untuk berkoordinasi narasumber 4)
(musyawarah) mengenai
kesediaan dan waktu
pelaksanaan
3. Membuat undangan resmi 3. Adanya undangan Nasionalisme:
untuk narasumber dan untuk narasumber kerjasama (sila 4)
melakukan kerjasama
secara sopan Etika publik:
Sopan

62
63

Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
4. Membuat undangan untuk 4. Adanya undangan Nasionalisme:
pegawai BKMIA Kartini untuk pegawai penghormatan (sila
sebagai bentuk BKMIA Kartini 2)
penghormatan
dalammeminta
kehadirannya
5. Pemaparan materi oleh 5. Materi dari Akuntabilitas:
narasumber untuk narasumber Kejelasan
memberikan kejelasan
kepada audience
6. Mengadakan demonstrasi 6. Video kegiatan Komitmen mutu:
tindakan kewaspadaan inovasi
standar: peningkatan mutu
1) kebersihan tangan
(hand hygiene) mengacu
pada standar WHO
terkini,
2) penggunaan alat
pelindung diri (APD),
3) etika batuk dan bersin,
4) serta praktik menyuntik
yang aman.
Kegiatan ini merupakan
inovasi dalam rangka
peningkatan mutu
7. Membuat dokumentasi 7. Berita acara, daftar Akuntabilitas:
kegiatan hadir, notula dan tanggungjawaban
untukpertanggungjawab foto kegiatan
an
7. Membuat Adanya media Berkontribusi Kegiatan ini Informasi yang
media informasi (pamflet dalam memberikan telah didapatkan
informasi: dan leaflet) mengenai pencapaian Misi penguatan nilai dapat dilupakan
kewaspadaan kewaspadaan BKMIA Kartini di BKMIA yaitu jika tidak terpapar
standar: 1) standar; yang ke 2 Eman, Gaten secara terus
kebersihan 1) kebersihan tangan “Memberikan dan Telaten menerus
tangan (hand (hand hygiene) pelayanan,

63
64

Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
hygiene) mengacu pada pendidikan,
mengacu pada standar WHO terkini, pelatihan di
standar WHO 2) penggunaan alat bidang
terkini, 2) pelindung diri (APD), kesehatan ibu
penggunaan 3) etika batuk dan dan anak yang
alat pelindung bersin, 4) serta seimbang,
diri (APD), 3) praktik menyuntik komprehensif
etika batuk yang aman, dan terintegrasi
dan bersin, 4) yang dapat dilihat
serta praktik setiap saat oleh
menyuntik petugas kesehatan
yang aman. maupun oleh pasien
1. Melakukan studi literatur/ 1. Adanya sumber Akuntabilitas:
Sumber mencari referensi materi literatur yang Jelas,
kegiatan: tentang kewaspadaan dijadikan rujukan tanggungjawab
Inovasi & standar yang jelas dan
SKP dapat
dipertanggungjawabkan
2. Membuat media informasi 2. Leaflet dan Komitmen mutu:
inovatif dalam bentuk pamflet: inovasi
leaflet dan pamflet dalam a. Cuci tangan mutu
rangka peningkatan mutu mengacu pada
pelayanan standar WHO
terkini
b. 6 (enam)
momen cuci
tangan
c. Penggunaan
alat pelindung
diri (APD)
d. Etika batuk dan
bersin
e. Praktik
menyuntik yang
aman.

64
65

Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
3. Berkonsultasi dengan 3. Lembar Etika Publik:
Kepala BKMIA Kartini persetujuan oleh Berkonsultasi
untuk kepala BKMIA
persetujuan/pengesahan Kartini Nasionalisme:
media informasi; leaflet Musyawarah (sila ke
dan pamflet 4)

4. Mempublikasikan media 4. Leaflet tersedia di Komitmen Mutu


kewaspadaan standar di ruang tunggu orientasi mutu
lingkungan BKMIA Kartini pasien dan pamflet
untuk memberikan terpasang di titik-
informasi publik yang titik strategis di
berorientasi mutu lingkungan BKMIA
dengan cara Kartini
menempelkan pamflet di
titik-titik strategis di
BKMIA Kartini dan
menempatkan leaflet di
ruang tunggu pasien
8. Melakukan Adanya hasil Berkontribusi Kegiatan ini Tidak dapat
evaluasi pengukuran tingkat dalam memberikan dibandingkan
pengetahuan pengetahuan dan pencapaian Misi penguatan nilai antara hasil
dan pelaksanaan BKMIA Kartini di BKMIA yaitu pengkajian
pelaksanaan pencegahan infeksi yang ke 3 yaitu Eman, Gaten sebelum
pencegahan setelah dilakukan “Membina dan dan Telaten. aktualisasi dan
dan serangkaian kegiatan mengembangkan setelah dilakukan
pengendalian optimalisasi upaya peran serta aktualisasi
infeksi PPI masyarakat
terhadap 1. Menyiapkan angket 1. Daftar pertanyaan Akuntabilitas: dalam
seluruh mengenai tingkat mengenai tingkat Transparansi, meningkatkan
pegawai di pengetahuan dan lembar pengetahuan dan tanggungjawab derajat
BKMIA Kartini. observasi pelaksanaan lembar observasi kesehatan
pencegahan dan pelaksanaan dengan upaya
Sumber pengendalian infeksi oleh pencegahan dan pelayanan
kegiatan: pegawai di BKMIA pengendalian kesehatan ibu
inovasi Kartini. infeksi oleh dan anak”.

65
66

Keterkaitan
Kontribusi Penguatan Dampak jika
Output/ Hasil Substansi Mata
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan terhadap Visi Nilai kegiatan tidak
Kegiatan Pelatihan
Misi Organisasi Organisasi dilaksanakan
(ANEKA)
Menyampaikan hasil pegawai di BKMIA
evaluasi sebagai bentuk Kartini
transparansi dan
pertanggungjawaban
2. Menyebarkan angket 2. Angket yang telah Akuntabilitas:
kepada seluruh pegawai diisi oleh pegawai Transparan
di BKMIA Kartini
sehingga informasi yang
ingin digali dapat
diketahui oleh semua
pegawai secara
transparan
3. Melakukan observasi 3. Lembar observasi Antikorupsi:
kepada petugas yang diisioleh jujur
kesehatan mengenai peserta tidak memihak
pelaksanaan cuci tangan,
penggunaan APD, etika
batuk, dan praktik
menyuntik yang aman.
Pengamatan dilakukan
secara jujur apa adanya
dengan tidak memihak
4. Membuat tabulasi data 4. Kesimpulan hasil Akuntabilitas:
dan menyimpulkan hasil pelaksanaan Transparan
dengan jujur sesuai upaya pencegahan
Etika publik:
kondisi yang sebenarnya, dan pengendalian
Tidak memanipulasi
tidak memanipulasi infeksi oleh
data
data dan data disajikan pegawai di BKMIA
secara transparan Kartini. Anti korupsi:
sehingga kualitas data Jujur
tetap terjaga
Komitmen mutu
Orientasi mutu

66
67

B. Jadwal Rencana Kegiatan Aktualisasi


Rencana kegiatan aktualisasi yang akan dilakukan disajikan dalam
bentuk timeline sebagai mekanise control sebagaimana dalam tabel 4.2.
.
Tabel 4.2. Timeline Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi
Juli-
Agus
Juli Agus
No Kegiatan tus Bukti Kegiatan
tus
III IV V-I II
1. Mengukur tingkat 1. Berita acara konsultasi
pengetahuan dan dengan Kepala BKMIA
pelaksanaan 2. Angket
pencegahan dan
3. Lembar observasi
pengendalian infeksi
terhadap seluruh 4. Kesimpulan hasil
pegawai di BKMIA tabulasi data
Kartini.
2. Merestrukturisasi 1. Berita acara konsultasi
tim pencegahan dan 2. SK tim PPI BKMIA
pengendalian infeksi Kartini.
(PPI) 3. Berita acara dan
notula koordinasi
dengan tim PPI
3. Menyempurnakan 1. Adanya pedoman PPI
pedoman BKMIA Kartini yang
pengendalian dan telah diperbarui
pencegahan infeksi 2. Lembar pengesahan
(PPI) di BKMIA oleh kepala BKMIA
Kartini Kartini
4. Menyusun pedoman 1. Pedoman
kewaspadaan kewaspadaan standar
standar: 1) di BKMIA Kartini
kebersihan tangan 2. Lembar pengesahan
(hand hygiene) oleh kepala BKMIA
mengacu pada Kartini
standar WHO
terkini, 2)
penggunaan alat
pelindung diri (APD),
3) etika batuk dan
bersin, 4) serta
praktik menyuntik
yang aman.
68

Juli-
Agus
Juli Agus
No Kegiatan tus Bukti Kegiatan
tus
III IV V-I II
5. Mengadakan 1. Berita acara dan
sosialisasi tim PPI notula koordinasi
dan program PPI 2. Undangan sosialisasi
3. Berita acara, daftar
hadir, notula dan foto
kegiatan
6. Mengadakan 1. Berita acara dan
penyegaran materi notula koordinasi
mengenai PPI 2. Undangan sosialisasi
kepada petugas di 3. Buku pedoman PPI
BKMIA Kartini. dan pedoman
kewaspadaan standar)
4. Berita acara, daftar
hadir, notula dan foto
kegiatan
7. Membuat media 1. Leaflet dan pamflet:
informasi: a. Cuci tangan
kewaspadaan mengacu pada
standar: 1) standar WHO terkini
kebersihan tangan b. 6 (enam) momen
(hand hygiene) cuci tangan
mengacu pada c. Penggunaan alat
standar WHO pelindung diri (APD)
terkini, 2) d. Etika batuk dan
penggunaan alat bersin
pelindung diri (APD), e. Praktik menyuntik
3) etika batuk dan yang aman.
bersin, 4) serta 2. Lembar persetujuan
praktik menyuntik oleh kepala BKMIA
yang aman. Kartini
8. Melakukan evaluasi 1. Angket
pengetahuan dan 2. Lembar observasi
pelaksanaan 3. Kesimpulan hasil
pencegahan dan tabulasi data
pengendalian infeksi
terhadap seluruh
pegawai di BKMIA
Kartini.

Keterangan:
: Pelaksanaan Kegiatan
69

C. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala


Kegiatan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN akan dilaksanakan pada
tanggal 12 Juli sampai dengan 16 Agustus 2019 pada institusi tempat
kerja. Dalam pelaksanaannya dimungkinkan terjadinya kendala-kendala
yang berisiko menghambat kegiatan yang telah direncanakan menjadi
kurang optimal. Oleh karena itu diperlukan antisipasi untuk menghadapi
kendala-kendala tersebut, sehingga dampak yang menghambat
kegiatan tersebut dapat diminimalisir. Antisipasi dalam menghadapi
kendala-kendala selama aktualisasi dapat dijelaskan lebih lanjut pada
tabel dibawah ini:

Tabel 4.3. Analisis antisipasi dan strategi menghadapi Kendala

No. Kegiatan Kendala Resiko Solusi

1. Mengukur tingkat Responden Hasil Penggunaan


pengetahuan dan tidak pengukuran Bahasa yang
pelaksanaan memahami tidak valid mudah
pencegahan dan pertanyaan dipahami,
pengendalian infeksi dalam angket/ tidak ambigu
terhadap seluruh persepsi dan
pegawai di BKMIA penulis dengan multitafsir.
Kartini. responden
tidak sama
2. Merestrukturisasi tim Nama yang Anggota tim Selalu
pencegahan dan ditunjuk tidak kurang atau menjalin
pengendalian infeksi bersedia tidak koordinasi
(PPI) menjadi terbentuk dengan
anggota tim pimpinan
3. Menyempurnakan Isi pedoman Informasi Memperbany
pedoman belum yang ak literasi dan
pengendalian dan representatif tersampaik lakukan revisi
pencegahan infeksi an menjadi
(PPI) di BKMIA Kartini tidak
optimal
70

No. Kegiatan Kendala Resiko Solusi

4. Menyusun pedoman Isi pedoman Informasi Memperbany


kewaspadaan standar: belum yang ak literasi dan
1) kebersihan tangan representatif tersampaik lakukan revisi
(hand hygiene) an menjadi
mengacu pada standar tidak
WHO terkini, optimal
2) penggunaan alat
pelindung diri (APD),
3) etika batuk dan
bersin, 4) serta praktik
menyuntik yang aman.
5. Mengadakan Tidak semua Informasi Resume hasil
sosialisasi tim PPI dan undangan hadir yang kegiatan
program PPI disosialisasi dibagikan di
kan tidak grup media
tersampaik sosial
an pegawai
keseluruh
pegawai
6. Mengadakan Tidak semua Materi yang Materi
penyegaran materi undangan hadir disampaika dibagikan di
mengenai PPI kepada n tidak setiap ruang
petugas di BKMIA diterima pegawai
Kartini. oleh semua
pegawai
7. Membuat media Media kurang Petugas Bekerjasama
informasi: menarik enggan dengan
kewaspadaan standar: membaca desainer
1) kebersihan tangan informasi grafis untuk
(hand hygiene) yang ada pembuatan
mengacu pada standar pada media medianya
WHO terkini, 2) informasi
penggunaan alat tersebut
pelindung diri (APD), 3)
etika batuk dan bersin,
4) serta praktik
menyuntik yang aman.
71

No. Kegiatan Kendala Resiko Solusi

8. Melakukan evaluasi Responden Hasil Penggunaan


pengetahuan dan tidak pengukuran Bahasa yang
pelaksanaan memahami tidak valid mudah
pencegahan dan pertanyaan dipahami,
pengendalian infeksi dalam angket/ tidak ambigu
terhadap seluruh persepsi dan
pegawai di BKMIA penulis dengan multitafsir.
Kartini. responden
tidak sama
72

BAB V
PENUTUP

A. Pentingnya Rancagan Aktualisasi Dibuat


Perawat sebagai bagian dari tim kesehatan di BKMIA Kartini yang
merupakan garda terdepan yang harus mampu memberikan pelayanan
prima terhadap pasien. Upaya pencegahan dan pengendalian infeksi
merupakan upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya
infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar
fasilitas pelayanan kesehatan. Pelaksanaan Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan bertujuan untuk
melindungi pasien, petugas kesehatan, pengunjung yang menerima
pelayanan kesehatan serta masyarakat dalam lingkungannya dengan
cara memutus siklus penularan penyakit infeksi melalui kewaspadaan
standar dan berdasarkan transmisi. Komponen utama yang penting
untuk dilaksanakan dalam kewaspadaan standar di BKMIA Kartini yaitu
kebersihan tangan, pemakaian alat pelindung diri (APD), penerapan
etika batuk dan bersin, serta praktik menyuntik dan aman. Untuk
mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di BKMIA
Kartini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Mengukur tingkat pengetahuan dan pelaksanaan pencegahan dan
pengendalian infeksi terhadap seluruh pegawai di BKMIA Kartini.
2. Merestrukturisasi tim pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI)
3. Menyempurnakan pedoman pengendalian dan pencegahan infeksi
(PPI) di BKMIA Kartini
4. Menyusun pedoman kewaspadaan standar: 1) kebersihan tangan
(hand hygiene) mengacu pada standar WHO terkini, 2)
penggunaan alat pelindung diri (APD), 3) etika batuk dan bersin, 4)
serta praktik menyuntik yang aman.
5. Mengadakan sosialisasi tim PPI dan program PPI

72
73

6. Mengadakan penyegaran materi mengenai PPI kepada petugas di


BKMIA Kartini.
7. Membuat media informasi: kewaspadaan standar: 1) kebersihan
tangan (hand hygiene) mengacu pada standar WHO terkini, 2)
penggunaan alat pelindung diri (APD), 3) etika batuk dan bersin, 4)
serta praktik menyuntik yang aman.
8. Melakukan evaluasi pengetahuan dan pelaksanaan pencegahan
dan pengendalian infeksi terhadap seluruh pegawai di BKMIA
Kartini.

B. Dampak Apabila Rancangan Aktualisasi Tidak Dilaksanakan


Dampak apabila program pengendalian infeksi di BKMIA Kartini
tidak optimal, maka akan menyebabkan:
1. Tidak terpenuhinya visi BKMIA Kartini untuk menjadi balai
kesehatan ibu dan anak yang perama dan terbaik melalui upaya
kesehatan terpadu dan bermutu.
2. Resiko terjadinya infeki nososomial lebih tinggi.
3. Keselamatan pasien dan pegawai di BKMIA Kartini kurang terjamin
dan terlindungi.
4. Menurunnya mutu pelayanan baik secara langsung maupun tidak
langsung terhadap pasien dan keluarga pasien.
5. Tidak terciptanya budaya mutu dalam aspek keamanan pelayanan
74

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 81 Tahun


1993 tentang Pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum.

LAN & BPKP, 2000, Akuntabilitas dan Good Government, Penerbit LAN

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Akuntabilitas. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2017. Kesiapsiagaan Bela Negara. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga
Administrasi Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Nasionalisme. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga
Administrasi Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Etika Publik. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga
Administrasi Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2017. Komitmen Mutu. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta; Lembaga
Administrasi Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Anti Korupsi. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga
Administrasi Negara

Lembaga Administrasi Negara. 2017. Pelayanan Publik. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2017. Whole of Goverment. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
75

Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga


Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2017. Manajemen ASN. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga
Administrasi Negara.

Mardiasmo, 2002, Akuntansi Sektor Publik, Yogyakarta: Penerbit Andi

Mohamad Mustari, 2011, Nilai Karakter. Yogyakarta: LaksBang


PRESSindo.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang


Aparatur Sipil Negara 2014.

Peraturan Menteri Kesehatan No 11 tahun 2017 tentang Keselamatan


Pasien

Peraturan Menteri Kesehatan RI No 27 tahun 2017 tentang Pedoman


Pencegahan dan Pengendalian infeksi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan

Permenpan Nomor 25 tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Perawat


Dan Angka Kreditnya
76

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

A. Identitas Diri
Nama : Kastuti Endang Trirahayu
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, tanggal lahir : Banyumas, 01 Juli 1986
Kewarganegaraan : Indonesia
Status Perkawinan : Menikah
Tinggi, berat badan : 160 cm, 55 kg
Kesehatan : Baik
Agama : Islam
Alamat Lengkap : Perum. Tiara Permai 1 Blok E No.2
Karangrau Sokaraja Banyumas
53181
Telepon / HP : 0812134919999
E-mail : fiidalova@gmail.com
77

B. Riwayat Pendidikan
1991 – 1997 SD Negeri 3 Karangsembung
1997 – 2000 SLTP Negeri 1 Sumpiuh
2000– 2003 SMU Negeri 2 Purwokerto
Politeknik Kesehatan Semarang, Prodi
2003 – 2006
Keperawatan Semarang
Universitas Diponegoro, Fakultas
2007-2009 Kedokteran, Program Studi Ilmu
Keperawatan
Universitas Diponegoro, Fakultas
2009-2010
Kedokteran, Program Profesi Ners