Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Perkembangan Farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman belanda, sehingga


semisolid sebagai salah satu bagian dari ilmu farmasi yang mengalami dinamika yang begitu
cepat. semisolid adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara mengubah sediaan bahan
menjadi obat yang berbentuk sediaan setengah padat maupun cair.

Dalam praktikum semisolid kita dapat mempelajari tentang obat dalam bentuk sediaan
apapun, seperti suspensi,cream, emulsi, salep dan lain-lain.Dalam semisolid kita akan
mempelajari sedian cair dan sediaan setengah padat.

Di sini kita akan membahas sediaan obat berupa emulsi . emulsi merupakan sediaan yang
tidak asing lagi kita gunakan, biasanya emulsi digunakan untuk sediaan yang mengandung 2
cairan yang tidak bercampur dan untuk menutupi bau dan rasa minyak yang kurang enak pada
pemberian oral

Dalam praktek di sini kita akan mempelajari bagaimana cara pembuatan emulsi yang baik,
selain itu alasan dilakukan praktek yaitu penerapan dari teori yang sudah didapat.

I.2 Tujuan Pratikum

1. Mahasiswa dapat memanfaatkan dan melaksanakan pengkajian praformulasi untuk


sediaan semisolid dan liquid
2. Mahasiawa mampu melaksanakan desian sedian emulsi.
3. Mahasiswa mampu menyusun SOP dan instruksi kerja pembuataan sediaan emulsi
4. Mahasiswan dapat menghasilkan suatu sediaan emulsi yang stabil baik stabil secara fisika
maupun kimia.

1
BAB II

TINJAUN PUSTAKA

II.1. Teori Emulsi

II.1.a Pengertian Emulsi

Emulsi adalah sistem 2 fase yang salah satu cairannya terdeispersi dalam cairan lain
dalam bentuk tetesan-tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan fase terdispers dan larutan air
merupakan fase pembawa, maka sistem ini disebut emulsi tipe minyak dalam air (M/A). Dan jika
air yang merupakan fase terdispers dan minyak atau bahan lain seperti minyak sebagai fase
pembawa maka sistem ini disebut emulsi tipe air dalam minyak (A/M).

Tujuan pembuatan emulsi adalah :

1. Untuk membuat preparat yang stabil dan homogen dari 2 cairan yang tidak saling canpur.

2. Untuk mengurangi rasa yang tidak enak dari minyak pada pengguanaan oral.

3. Untuk meningkatkan ketersediaan hayati obat bentuk minyak sehingga aktivitas


meningkat.

4. Pada penggunaan topikal, pembuatan emulsi memudahkan untuk dicuci, penampilan, dan
meningkatkan viskositas.

II.1.b Komponen Pembentuk Emulsi

1. Emulgator / Emusifying Agent

Emulgator adalah suatu bahan yang dapat menurunkan tegangan antarmuka pada 2 cairan
yang tidak saling bercampur sehingga cairan-cairan tersebut dapat saling bercampur. Ada
teori-teori yang dapat menjelaskan bagaimana kerja suatu emulgator dalam membentuk
suatu emulsi antara lain:

Menurut Lachman, 1994 :

a) Mengurangi Tegangan Antarmuka sehingga disebut stabilisasi termodinamis.

Hal ini karena surfaktan atau zat aktif permukaan mempunyai gugus polar dan non
polar dan terabsorpsi pada batas sehingga berfungsi sebagai jembatan antara 2 cairan
yang tidak saling campur.

2
b) Pembentukkan lapisan antarmuka yang kaku-pembatas mekanik

Jika konsentrasi zat pengemulsi cukup tinggi, pengemulsi akan membentuk suatu
lapisan yang kaku antara fase-fase yang tidak bercampur, yang bertindak sebagai
penghalang mekanik, baik tethadap adhesi maupun bergabungnya tetesan-tetesan
emulsi menjadi satu.

c) Pembentukkan lapisan listrik rangkap-penghalang

Karena sifat polarnya, molekul-molekul surfaktan pada antarmuka juga terarah.


Bagian bawah hidrokarbon dilarutkan dalam tetesan minyak, sedangkan bagian atas
(kepala) ioniknya menghadap ke fase kontinyu (air). Akibatnya permukaan tetesan
tersebut ditabur dengan gugus-gugus bermuatan, edalam hal ini gugus karboksilat
yang bermuatan negatif. Ini menghasilkan suatu muatan listrik pada permukaan
tetesan tersebut. Sedangkan kation yang bertanda berlawanan diarahkan dekat
permukaan tersebut, menghasilkan apa yang disebut lapisan muatan listrik rangkap.

Potensial yang dihasilkan oleh lapisan rangkap tersebut menciptakan suatu pengaruh
tolak-menolak antara tetesan-tetesan minyak sehingga mencegah penggabungan.

Menurut Ansel, 1985 :

a) Teori tegangan permukaan

Penggunaan zat-zat aktif permukaan (surfaktan) sebagai zat pengemulsi dan zat
penstabil menghasilkan penurunan tegangan antarmuka dari kedua cairan yang tidak
saling bercampur, mengurangi gaya

tolak antara cairan-cairan tersebut dan mengurangi gaya tarik-menarik antara


molekul dari masing-masing cairan.

b) Teori Oriented -Wedge

Lapisan monomolekular dari zat pengemulsi melingkari suatu tetesan dari fase dalam
pada emulsi. Teori ini berdasarkan bahwa zat pengemulsi tertentu mengarahkan
dirinya disekitar dan dalam suatu cairan yang merupakan gambaran kelarutannya
pada cairan tetrtentu. Zat pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu fase dan
terikat kuat dan tebenam dalam di fase tersebut dibandingkan dengan fase lainnya.

3
c) Teori Plastik/teori lapisan antarmuka

Teori ini menempatkan zat pengemulsi pada antarmuka antara minyak dan air,
mengelilingi tetesan fase dalam sebagai suatu lapisan tipis atau film yang diabsorpsi
pada permukaan dari tetesan tersebut.

Dalam setiap sediaan-sediaan farmasi harus mempunyai syarat-syarat untuk


menjamin stabilitas. Adapun syarat-syarat pada sediaan emulsi antara lain:

 Dapat dicampurkan dengan bahan formulatif lainnya

 Tidak boleh menggangu stabnilitas atau efikasi dari zat teurapetik

 Larut dalam fase luar

 Tidak toksik pada penggunaan yang dimaksud dan jumlahnya yang dimakan
pasien

 Mempunyai rasa, bau, dan warna yang lemah

 Kemampuan untuk membentuk emulsi dan menjaga stabilitas optimal

Klasifikasi zat pengemulsi/emulgator

1. Zat aktif permukaan sintetik dan semi sintetik

Ada 4 macam yaitu :

a) Surfaktan anionik

Surfaktan ini mengandung gugue hidrofilik dan lipofilik dengan bagian lipofilik dari
molekul menyebabkan aktivitas permukaan dari molekul tersebut. Pada surfaktan
anionik ini, bagian lipofilik bermuatan negatif (-).

Contoh : logam alkali dan sabun amonium, serta sabun bervalensi satu dan banyak.

b) Surfaktan Kationik

Walaupun bahan ini biasanya digunakan untuk bahan-bahan desinfektan dan


pengawet, mereka juga berguna sebagai enulgator (umumnya tipe M/A). seperti
beberapa surfaktan anionik, jika mereka digunakan dalam formula sendiri, mereka

4
hanya akan menghasilkan emulsi yang rendah. Namun jika digunakan dengan
surfaktan non ionik, mereka akan membentuk suatu sediaan yang stabil.

Surfaktan kationik tidak bercampur dengan bahan surfaktan anionik dan anion
polivalen dan tidak stabil pada Ph tinggi.

Contoh : Cetrimide, benzalkonium klorida.

c) Surfaktan Non-ionik

Surfaktan ini menunjukkan tidak adanya kecenderungan untuk mengion. Tergantung


pada sifatnya masing-masing, beberapa dari grup ini membentuk emulsi M/A dan
lainnya membentuk emulsi A/M.

Contoh : Ester sorbitan, alkohol lemak tinggi.

d) Surfaktan Amfoterik

Tipe ini memilki bagian positif dan negatif bergantung pada pH sistem. Surfaktan ini
dapat kationik pada pH rendah dan anionik pada pH tinggi.

Contoh : Lechitin untuk menstabilkan emulsi lemak intravena

2. Bahan Alam dan Derivatnya

Bahan dari alam biasanya mempunyai 2 kerugian utama. Mereka menunjukkan variasi
komposisi dari batch ke batch dan mudah menjadi media pertumbuhan bakteri dan jamur.
Untuk alasan ini, biasanya mereka tidak digunakan dalam pembuatan produk. Bahan
seperti polisakarida (karbohidrat) akan membentuik koloida hidrofilik bila ditambahkan
ke dalam air dan umumnya melarutkan emulsi M/A.

Contoh : metil sellulosa dan CMC Na.

3. Zat padat yang terbagi halus

Zat-zat ini umumnya akan membentuk emulsi M/A bila bahan yang tidak larut
ditambahkan ke fase air jika ada sejumlah volume fase air lebih besar daripada fase
minyaknya. Contohnya Mg(OH)2, Al (OH)2.

Jika serbuk padat yang halus ini ditambahkan ke dalam fase minyak dan volume fase
minyak lebih besar seperti Bentonit sanggup membentuk emulsi tipe A/M.

5
2. Bahan Pengawet

Suatu sediaan emulsi dapat menjadi media pertumbuhan mikroba karena bahan yang
dipakainya banyak mengandung lemak. Selain itu emulsi dapat terkontaminasi pada saat
produksi dan pengembangannya serta penggunaannya. Oleh karena itu diperlukan suatu
bahan yang dapat mencegah hal-hal tersebut yaitu dengan menambahkan suatu bahan
pengawet,Sebenarnya sistem pengawet pada sebagian besar bahan formulasi harus
memenuhi kriteria umum seperti :

 Toksisitas rendah

 Kestabilan pada pemanasan dan penyimpanan

 Dapat bercampur secara kimia

 Rasa, bau serta warnanya harus dapat diterima

 Kemampuan untuk mencegah kontaminasi optimal.

Contoh : asam benzoat, asam sorbat, asam propionat, formaldehid, fenol, kresol, alfa-
tokoferol, dan lain-lain.

3. Bahan Antioksidan

Banyak senyawa organik mudah mengalami autooksidasi bila dipaparkan ke udara, dan
lemak yang teremulsi terutama peka terhadap serangan. Banyak obat yang biasa
digabungkan ke dalam lemak mudah menghasilkan penguraian.

Pada autooksidasi, minyak-minyak tidak jenuh seperti minyak nabati, menimbulkan


ketengikan dengan bau, penampilan, dan rasa yang tidak menyenangkan. Di lain pihak,
minyak mineral dan hidrokarbon-hidrokarbon jenuh yang berhubungan mudah
mengalami degradasi oksidatif pada lingkungan yang langka.

Autooksidasi adalah suatu oksidasi rantai radikal bebas. Oleh karena itu, reaksi tersebut
dapat dihambat dengan tidak adanya oksigen, oleh pemecah radikal bebas atau oleh zat
pereduksi. Antioksidan biasa digunakan pada konsentrasi yang berkisar daro 0.001
sampai 0.1 %.Contoh : Asam galat, propil galat, asam askorbat, askorbil palmitat, L-
tokoferol, sulfit, BHT, BHA.

6
II.1.c Metode Pembuatan Emulsi

Dalam ukuran atau skala kecil, sediaan emulsi yang dibuat baru dapat dibuat dengan 3
metode, yaitu :

a) Metode Gom Kering/Suspensi/Kontinental

Metode ini menggunakan perbandingan minyak: air: gom = 4:2:1. Emulsi dibuat
dengan 4 bagian (volume) minyak ditambahkan 1 bagian air untuk membuat corpus
emuls dalam suatu mortir panas. Sesudah bagian minyak dan air tercampur, 2 bagian air
kemudian ditambahkan sekaligus, dan campuran tersebut digerus dengan segera dan
cepat serta teru-menerus sampai emulsi terbentuk berwarna putih krim dan menghasilkan
suara “krek” pada pergerakan alu (umumnya 3 menit).

Bahan formulatif cair lainnya yang larut dalam fase luar kemudian ditambhakan
ke dalam emulsi utama tersebut dengan pengadukkan. Tiap zat yang dapat mengganngu
stabilitas emulsi atau zat pengemulsi ditambahkan pada saat terakhir.

b) Metode Gom Basah/Larutan/Inggris

Dalam metode ini digunakan proporsi minyak, air dan gom yang sama seperti
pada metode gom kering, tapi urutan pencampurannya berbeda dan perbandingan bahan-
bahannya bisa divariasi selama pembuatan emulsi primer jika diinginkan oleh
pembuatnya.

Umumnya mucilago gom dibuat dengan menghaluskan gom arab granular dengan
air 2 kali lipat beratnya dalam suatu mortir panas. Minyaknya kemudian ditambahkan
sebagian-sebagian dengan perlahan-lahan dan campuran tersebut diaduk sampai
minyaknya teremulsi. Sesudah minyak ditambahkan, campuran diaduk selama beberapa
menit untuk memastikan kerataannya. Kemudian bahan formulatif lainnya ditambahkan
dan emulsi tersebut dipindahkan ke dalam gelas ukur untuk mencukupkan volumenya
dengan air.

c) Metode Baudrimont
Pembuatan Metode Baudrimont sama pada cara pembuatan corpus emulsi metode gom
basah.hanya perbandingannya saja ysng berbeda .menggunakan perbandingan minyak :
gom : air ( 10 : 5 : 7,5 ).

7
d) Metode Botol/Metode Botol Forbes

Untuk pembuatan emulsi yang dibuat baru dari munyak-minyak menguap atau
zat-zat yang bersifat minyak mempunyai viskositas rendah digunakan metode botol.
Dalam metode ini serbuk gom arab diletakkan dalam suatu botol kering, kemudian
ditambahkan 4 bagian minyak dan campuran tersebut dikocok dengan kuat dalam wadah
yang tertutup. Suatu volume air yang sama dengan minyak kemudian ditambahkan
sedikit demi sedikit sambil terus mengocok campuran tersebut setiap klai penambahan
air. Jika semua air sudah ditambahkan, emulsi utama yang terbentuk bisa diencerkan
sampai mencapai volume yang tepat dengan air atau larutan zat formulatif lain dalam air.

Metode ini tidak cocok untuk minyak-minyak kental karena minyak-minyak


tersebut tidak dapat terkocok seluruhnya dalam botol bila dicampurkan dengan zat
pengemulsi. Dalam hal dimana fase terdispers yang dimaksud merupakan campuran
minyak lemak dan sebagian minyak menguap, umumnya digunakan metode gom kering.

II.1.d Langkah Mendesain Sediaan Emulsi

Desain sediaan harus dilakukan dengan sistematis berdasarkan pertimbangan kriteria atau
syarat sediaan, informasi mengenai bahan yang ada, sarana dan prasarana yang tersedia, dan
pertimbangan ekonomi.

Tahapan desain yang umum dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Pengkajian Kelayakan Bisnis

2. Pengkajian Praformulasi Bahan Aktif

3. Pengkajian User/Organ Target

4. Pengkajian bahan, dasar sediaan, sediaan dasar, sediaan jadi.

5. Praformulasi-Formulasi-Pascaformulasi

6. Uji Kaji-Stability Test

7. Uji Kaji-Test Pasar

8
II.2 Data Praformulasi

II.2.a Data Praformulasi Bahan aktif

1.Oleum ricini
 Sinonim : minyak jarak
 Pemerian : cairan kental, kuning pucat atau hamper tidak berwarna, bau
lemah, rasa manis kemudian agak pedas, umumnya memualkan
 Kelarutan : larut dalam 2,5 bagian etanol (90%)P, mudah larut dalam etanol
mutlak P dan dalam asam asetat glacial P
 Bobot per ml : 0,953 sampai 0,964 g
 Indeks bias : 1,477 sampai 1,481
 Bilangan asam :tidak lebih dari 2,0
 Bilangan asetil :tidak lebih dari 140 bilangan iodium 62 sampai 90
 Bilangan penyabunan :177 sampai 187
 Khasiat : laksativum

II.2.a Data Praformulasi Bahan Tambahan

1. Gummi Acaciae ( Gom Arab )


 Nama sinonim : E 414, gum acacia, gum Arabic, talha gum, gom akasia.
 Nama kimia : Acacia
 Kegunaan : Sebagai bahan pengemulsi (bahan karbohidrat)
 BM : ± 240.000 – 580.000
 Pemerian : Merupakan granul / serbuk berwarna putih atau kekuning-
kuningan, tidak berbau, rasa lemah. Tidak berbau, rasa tawar seperti lender.
 Kelarutan : Larut hampir sempurna dalam dua bagian bobot air, tetapi
sangat lambat,meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah yang sangat sedikit,
Praktis tidak larut dalam etanol dan dalam eter. Larut dalam gliserin, propilenglikol.
 OTT : Amydopyrine, kresol, etanol 95%, garam-garam besi,
morfin,fenol, fisostigmin, tannin, timol, vanillin.
 Cara penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

9
2. Perasa jeruk
 Organoleptis
Warna : Orange
Bau : Wangi jeruk
Rasa : Rasa jeruk
 Cara penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

3. -Tokoferol ( FI IV hal 796 )


 Nama sinonim : Tocopherolum, α – tokoferol, vitamin E.
 Rumus molekul : C29H50O2
 Kegunaan : Sebagai bahan antioksidan
 Pemerian : Minyak kental jernih, warna kuning / kuning kehijauan,praktis
tidak berbau dan berasa, tidak stabil terhadap udara dan cahaya terutama dalam
suasana alkalis.
 Kelarutan :
 α – tokoferol asam suksinat tidak larut dalam air, sukar larut dalam larutan
alkali, larut dalam etanol, eter, aseton, dan dalam minyak nabati, mudah larut
dalam kloroform.
 Bentuk vitamin E lain tidak larut dalam air, larut dalam etanol dapat
bercampur dengan eter, aseton, minyak nabati dan kloroform
 Cara penyimpanan: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya. Bentuk
d- atau dl- alfa tokoferol dilindungi dengan gas inert.

4. Natrium benzoate ( FI IV hal 584 )


 Nama sinonim : Natrii benzoas
 Rumus molekul : C7H5NaO2
 BM : 144,111
 Kegunaan : Sebagai bahan pengawet
 Pemerian : Granul / serbuk hablur, putih, tidak berbau/ praktis tidak
berbau, stabil diudara.

10
 Kelarutan :
 Mudah larut dalam air
 Agak sukar larut dalam etanol
 Lebih mudah larut dalam etanol 90%
 Cara penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

5. Saccharin Na ( FI IV hal 750 )


 Nama kimia : natrium 1,2 – benzisotiazolin – 3 – on 1,1 – dioksida dihidrat
 Rumus molekul : C7H4NNaO3S C7H4NNaO3S.2 H2O
 BM : C7H4NNaO3S ( 205,16 )
C7H4NNaO3S.2 H2O ( 241.19 )
 Kegunaan : Sebagai pemanis
 Pemerian : Hablur / serbuk hablur, putih, tidak berbau atau agak aromatic,
rasa sangat ,manis walau dalam larutan encer. Larutan manisnya ± 300x semanis
sukrosa.
 Kelarutan :
 Mudah larut dalam air
 Agak sukar larut dalam etanol
 OTT :-
 Cara penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik

11
BAB III

METODELOGI PRATIKUM

III.1 Perumusan Karakteristik sediaan.

1.Nama Mahasiswa Dinanti Nur Ameliah ( 08334049 ), Rosnelly R ( 08334020 ) ,


Meiry Magdalena ( 08334066 ), Eka Koswara ( 09334081 )
2.kelompok VI ( enam )
3.Nama Produk Rixant emulsi ( Emulsi minyak ricini )
4.Jenis Sediaan Emulsi
No Parameter Satuan Spesifikasi Sediaan Syarat Farmakope Syarat lain
1. Kadar bahan % 1,8 ml / 5 ml Setiap5 ml mengandung 1,8 ml
aktif oleum ricini
2. Pemerian
Warna Kuning pucat Kuning pucat
Bau - Bau lemah Bau lemah ,bebas bau asing dan
tengik
Rasa Manis ,rasa Jeruk Rasa manis kemudian agak
pedas
3. Volume ml 100 ml -
4. Karekteristik
sediaan:
Viskositas Mudah dituang Mudah dituang
homogenitas Homogen homogen

5. Tipe emulsi M/A M/A


6. Kemasan : Nama produk, komposisi, Nama produk, komposisi,
Penandaan Indikasi, Kontraindikasi, Indikasi, Kontraindikasi, aturan
aturan pakai, interaksi obat, pakai, interaksi obat, efek
efek samping, No. Reg, No. samping, No. Reg, No. Bacth,
Bacth, Exp. Date Exp. Date
Wadah Botol Botol
7. Label

Obat bebas Obat bebas

12
III.2 Formulir pemecahan Masalah.
Bahan Aktif : Oleum Ricini

N Aspek/Para Masalah Alternatif Pemecahan Keputusan


o meter Formula Proses Pengawasan
mutu
1 Bahan Aktif Bahan aktif tidak  Air Dengan cara Digunakan pembawa
. larut dalam air,  Kloroform pelarutan minyak- minyak lemak
dan bagaimana  Eter bahan aktif ke seperti : oleum ticini,
cara  Minyak – dengan Vaselin flavum dan
melarutkannya minyak pembawa yang paraffin liquid karena
lemak akan merupakan dasar salep
digunakan. yang akan digunakan
2 Tipe emulsi  Tipe : Digunakan tipe M/A
. M/A tipe emulsi minyak
A/M dalam air dapat
menghilangkan rasa
yang tidak enak
2 Bahan Bahan  Acasia Dengan cara Digunakan acasia
. Pengemulsi pengemulsi yang  Tragakan pencampuran karena baik untuk
cocok untuk zat  Gelatin oleum ricini dan
aktif membuat sediaan stabil
3 Perasa Bahan aktif tidak Pemanis : Dengan cara Untuk pemanis dipilih
. berasa dan  Saccharin pencampuran saccharin-Na karena
berbau,  Dextrose saccharin memiliki
bagaimana Perasa : tingkat kemanisan yang
caranya agar - Perasa lebih besar. Perasa
sediaan menarik ? jeruk yang digunakan perasa
jeruk

13
4 Antioksidant Agar sediaan  BHT Dengan cara Digunakan -tocoferol
. yang dibuat tidak  Vit. C pencampuran karena larut dalam
mudah teroksidasi  -tocoferol minyak.
5 Pengawet Agar sediaan  Natrium Dengan cara Digunakan Natrium
. tidak mudah benzoate mencampurkan benzoate, karena larut
dirusak oleh  Nipagin dalam pembawa air dan
organisme  Nipasol dapat menghambat
pathogen maupun  Vanillin pertumbuhan bakteri
non pathogen dan  Fenol
juga untuk  Kresol
mencegah  Benzalkon
ketengikan ium klorid

Cara Agar dipeoroleh  Gom basah pemcampuran Metode Baudrimont


pembuatan emulsi yang stabil  Gom kering (menggunakan
 Metode perbandingan minyak :
baudrimont gom : air = 10 : 5 : 7,5)

14
II.3 Komponen Umun Sediaan

Pemakaian Bahan

Per unit Per Batch


No. Nama Bahan Fungsi Bahan
% Lazim % Pemakaian (gr/ml) ( 300ml )

( 100ml )

1. Oleum ricini Bahan Aktif 1,8 ml/5 ml 1,8 ml/5 ml 36 gr 108 gr

2. Gom arab Emulgator 1/2 x zat aktif 1/2 x zat aktif 18 gr 54 gr

3. Perasa jeruk Bahan Perasa 0,2 % 0,2 % 0,2 gr 0,6 gr

4. Saccrain Bahan pemanis 0,075 – 0,6 % 0,1 % 0,1 g 0,3 g

5. -Tokoferol Antioksidan 0,001-0,05% 0,05% 0,05 gr 0,15 gr

6. Natrium benzoate Bahan Pengawet 0,02-0,5% 0,2% 0,2 gr 0,6 gr

7. Aquadest Bahan Pembawa Ad 100 ml ad 100 ml ad 100 ml Ad 300 ml

15
III.4 cara pengawasan Mutu Sediaan

A. In Process Control (dari penimbangan sampai pembuatan)


No Parameter yang diuji Satuan Cara Pemeriksaan
1. Pemerian - Uji organoleptik
( warna,rasa dan bau )
2. pH - Kertas lakmus / kertas universal / pH
-

B. End Process Control (selesai dikemas)


No Parameter yang diuji Satuan Cara Pemeriksaan
1. Volume - Menggunakan buret atau beaker glass
2. Pemerian - Uji organoleptik
- ( warna,rasa dan bau )
3. pH Kertas lakmus/kertas universal/pHmeter
4. kestabillisan sedian - Viskositas dan sifat alir
5. tipe emulsi - Pewarnaan dan pengenceran

16
III.5 Prosedur Tetap pembuatan Produk Emulsi.

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disetujui oleh : Hal 1 dari 2 halaman


Kelompok 6 Asisten Lab Kepala Lab No:
Tanggal : Tanggal : Tanggal:
08/09/2012 08/09/2012 08/09/2012
Penanggung Jawab PROSEDUR TETAP KETERANGAN
1. Persiapan
Siapkan peralatan yang telah steril dan pastikan ruangan telah
memenuhi batas sterilitas
2. Kegiatan Produksi
2. a. Masing-masing bahan ditimbang sejumlah yang tertera pada
formula.
2. b. Penghalusan bahan aktif/bahan tambahan jika diperlukan
2. c. Haluskan bahan aktif kedalam lumping lalu haluskan
.tambahkan suspending agent,gerus dan tambahkan aqu dest
sedikit demi sedikit sambil terus diaduk sampai terkadi corpus
emulsi.tambahkan bahan tambahan lainnya.tambahkan sisi
aqua dest aduk sampai homogeny dan larut sempurna.
2. d. Masukkan kedalam wadah
2. e. Beri etiket,brosur dan kemasan

17
III.5 Prosedur Tetap pembuatan Produk Emulsi.

Disusun oleh : Diperiksa oleh : Disetujui oleh : Hal 1 dari 2 halaman


Kelompok 6 Asisten Lab Kepala Lab No:
Tanggal : Tanggal : Tanggal:
08/09/2012 08/09/2012 08/09/2012
Penanggung Jawab PROSEDUR TETAP KETERANGAN

3. Kegiatan evaluasi
3. a. In process control meliputi:
3. a. 1. pH
3. a. 2. Pemerian

3. b. End process control meliputi:


3. b. 1. pH
3. b. 2. Volume
3. b. 3. Tipe emulsi
3. b. 4. Pemerian
3. b. 5. Viskositas dan sifat alir

18
III.6 Instruksi kerja Emulsi Oleum Ricini

INSTRUKSI KERJA Hal. 1 dari 8hal

PENIMBANGAN / PENGUKURAN

Disusun oleh : kelompok IV Diperiksa oleh : asisten lap Disetujui oleh : kepala lab No. / /
Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012

Tujuan Memperoleh bahan baku sesuai jenis dan jumlah yang diinginkan

Bahan Bahan Aktif : Oleum ricini Antioksidan : -Tokoferol


Emulgator : Gom arab Bahan Pengawet : Natrium benzoat
Bahan Perasa : Perasa jeruk Bahan Pembawa : Aquadest

Alat Timbangan analitik Label nama bahan


Wadah bahan Kertas perkamen

No. Cara kerja Operator Paraf


I. PERSIAPAN ALAT DAN PENIMBANGAN BAHAN
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Beri label wadah yang akan digunakan
3. Timbang masing- masing bahan, masukan ke dalam
wadah yang sesuai
Bahan Jmlh Jmlh yg ditimbang
sebenarnya
Oleum ricini
108 g 108,01 g Rosnely
Gom arab
54 g 54,1 g Meiry
Saccrain
0,3 g 0,32 g
Perasa jeruk
0,6 g 0,61 g
-Tokoferol
0,15 g 0,153 g
Natrium benzoat
0,6 g 0,61 g
Aquadest
Ad 300 ml Ad 300 ml

19
INSTRUKSI KERJA Hal. 2 dari 8 hal

PEMBUATAN CORPUS EMULSI

Disusun oleh : kelompok IV Diperiksa oleh : asisten lap Disetujui oleh : kepala lab No. / /
Tgl : 08/09/2012 Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012

Tujuan Memperoleh sediaan yang baik

Bahan Bahan Aktif : Oleum ricini


Emulgator : Gom arab
Bahan Pembawa : Aquadest

Alat Mortir + stamper


Wadah bahan
Label nama bahan

No. Cara kerja Operator Paraf


1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2. Beri label wadah yang akan digunakan

3. Masukkan dalm mortir 5 bag Gom arab, gerus halus.


Rosnely
4. Tambahkan 10 bag Oleum ricini sambil digerus ad homogen.
Meiry
5. Lalu tambahkan 7,5 bag aquadest sekaligus sampai terbentuk

corpus emulsi.

20
INSTRUKSI KERJA Hal. 3 dari 8 hal

PENCAMPURAN BAHAN TAMBAHAN LAIN

Disusun oleh :kelompok IV Diperiksa oleh :asisten lab Disetujui oleh : kepala lab No. / /
Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012

Tujuan Memperoleh sediaan yang baik

Bahan Bahan pemanis : saccrain


Bahan Perasa : Perasa jeruk

Antioksidan : -Tokoferol
Bahan Pengawet : Natrium benzoat
Bahan Pembawa : Aquadest

Alat Mortir + stamper


Wadah bahan
Label nama bahan
Gelas ukur

No. Cara kerja Operator Paraf


1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Beri label wadah yang akan digunakan
3. corpus emulsi yang telah terbentuk Rosnely
4. Tambahkan bahan tambahan, yaitu saccrain ,natrium benzoate
Meiry
yang dilarutkan dengan sebagaian air yang telah dipanaskan,
gerus ad homogen.
5. Tambahkan perasa jeruk yang telah dilarutkan dengan
beberapa bagian air , gerus ad homogen.tambahkan -
Tokoferol gerus ada homogen
6. Tambahkan sisa air ad volum yang diinginkan

21
INSTRUKSI KERJA Hal. 4 dari 6 hal

EVALUASI ORGANOLEPTIK

Disusun oleh : kelompok IV Diperiksa oleh : asisten lab Disetujui oleh :kepala lab No. / /

Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012

Tujuan Memastikan bahwa emulsi yang telah dihasilkan memenuhi kriteriadan syarat yang telah
ditetapkan

Bahan Emulsi oleum ricini

Alat Spatel

Kaca alroji

No. Cara kerja Operator Paraf

Ambil sampel, Lakukan Uji Organoleptik


Masukkan 1ml suspensi yang dibuat pada kaca arloji. uji dengan
panca indra

Keterangan Yg diinginkan Hasil


Rosnely
Bentuk emulsi Emulsi
Meiry
Warna Kuning Kuning

Bau Jeruk Jeruk

Rasa Manis Rasa jeruk Manis Rasa jeruk

* Penafsiran Hasil : hasil yang diperoleh sesuai dengan yang


diinginkan

22
INSTRUKSI KERJA Hal. 5 dari 8 hal

EVALUASI PENGUKURAN pH

Disusun oleh : kelompok IV Diperiksa oleh asisten lab Disetujui oleh :kepala lab No. / /

Tgl : 08/09/2012 Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012

Tujuan Memastikan bahwa emulsi yang telah dihasilkan memenuhi kriteriadan syarat yang telah
ditetapkan

Bahan Emulsi oleum ricini

Alat Kertas Ph

No. Cara kerja Operator Paraf

I. Pengukuran pH

1. Ambil sediaan sebanyak ± 2 ml yang telah di buat


2. Pemeriksaan pH dengan menggunakankertas
Rosnelly
indikator yang dicelupkan ke dalam emulsi obat
3. Bandingkan dengan pH yang diinginkan. Meiry
*Ph yang diperoleh pH : 7

23
INSTRUKSI KERJA Hal. 6 dari 8 hal

EVALUASI VISKOSITAS

Disusun oleh :kelopok IV Diperiksa oleh :Asisten lab Disetujui oleh :Kepala lab No. / /

Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012

Tujuan Memastikan bahwa emulsi yang telah dihasilkan memenuhi kriteriadan syarat yang telah
ditetapkan

Bahan Emulsi Oleum Ricini

Alat Brookfield

No. Cara kerja Operator Paraf


Viskositas
Dilakukan dengan menggunakan Brook Field
Kriteria : viskositas emulsi
Alat dan bahan : Viskometer Brook Field dan emulsi
Rumus : Dr x F Cara :
- Pasang spindel nomor 3 pada gantungan spindel
- Turunkan spindel sedemikian rupa hingga batas spindel
tercelup ke dalam cairan yang akan diukur viskositasnya
- Pasang stop kontak
- Nyalakan motor sambil menekan tombol Rosnelly
- Biarkan spindel berputar dan lihatlah tanda merah pada
Meiry
skala
- Bacalah angka yang ditunjukkan oleh jarum tersebut
untuk menghitung viskositas maka angka pembacaan
dikalikan dengan faktor yang dapat dilihat pada brosur
alat.

24
INSTRUKSI KERJA Hal. 7 dari 8 hal
EVALUASI TIPE EMULSI

Disusun oleh :kelompok IV Diperiksa oleh :asisten lab Disetujui oleh: kepala lab No. / /
Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012
Tujuan Memastikan bahwa emulsi yang telah dihasilkan memenuhi kriteriadan syarat yang telah
ditetapkan
Bahan Emulsi Oleum Ricini
Alat Kertas saring
Gelas ukur
No. Cara kerja Operator Paraf
Tipe Emulsi
 Metode Pengenceran Fase
- Ambil sediaan 20 ml yang telah dibuat
- Lalu ditambah dengan air dapat segera diencerkan maka
tipe emulsi adalah minyak dalam air
- Apabila tidak dapat diencerkan adalah tipe air dalam Rosnelly
minyak
Meiry
 Metode Pemberian Warna
- Ambil sediaan 5 ml yang telah dibuat
- Bila ditambahkan sudan III akan terjadi warna merah,
maka tipe emulsi a/m
- Bila ditambahkan metilen blue akan terjadi warna biru,
maka tipe emulsi m/a
 Metode Pembasahan KertasSaring
- Emulsi yang diuji ditetes pada kertas saring. Apabila
menghasilkan noda akan menghasilkan emulsi tipe a/m
*penafsiran hasil emulsi tipe M/A

25
INSTRUKSI KERJA Hal. 8 dari 8 hal

EVALUASI SIFAT ALIR

Disusun oleh :kelompok IV Diperiksa oleh :Asisten lab Disetujui oleh :kepala lab No. / /
Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012 Tgl :08/09/2012

Tujuan Memastikan bahwa emulsi yang telah dihasilkan memenuhi kriteriadan syarat yang telah
ditetapkan

Bahan Emulsi Oleum Ricini

Alat Brookfield

No. Cara kerja Operator Paraf


Sifat aliran
- Bahan yang dipakai Emulsi oleum ricini
- catat suhu lingkungan dan cairan
- ukur viskositas cairan dengan viskometer brookfield pada
RPM 1 ; 2; 2,5; 4; 5; 4; 2,5; 2; 1
spindel No ( 3 ) Faktor ( 50 )
- hitung viskositas dari cairan yang ada
gaya (F) = viskositas x faktor viskometer
faktor viskometer = 1,182
RPM Faktor Dial Viskositas Gaya Rosnelly
reading viskositas Meiry
0,5 800 0,5 400 472,8
1 400 1,5 600 709,2
2 200 3 600 709,2
2,5 160 4 640 756,48
4 100 5,5 550 650,1
5 80 6,5 520 614,64
10 40 10,5 420 496,44

26
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada pratikum ini, pembuatan emulsi minyak jarak dibuat dengan metode baudrimont .
Dipilih metode ini karena metode baudrimont sangat cocok untuk minyak-minyak yang sangat
kental seperti minyak jarak dan dapat menghasilkan tipe emulsi M/A yang cocok untuk
pemberian emulsi secara oral.Metode pembuatan emulsi dengan cara ini dilakukan dengan 2
tahap yaitu tahap pertama dengan pembuatan mucilago gom, dipakai emulgator gom arab.
Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. Emulsi yang terbentuk sangat
stabil dan tidak terlalu kental. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2
faktor yaitu kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film) dan terbentuknya cairan yang
cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang(tiksotropi).

Pembuatan corpus emulsi dengan cara memcampur 5 bagian gom arab dengan 10 bagian
minyak ricini setelah tercampur ditambahkan 7,5 bagian air sekaligus gerus sampai terbentuk
corpus emulsi. Tahap kedua yaitu pencampuran bahan tambahan lainnya seperti bahan
pengawet,bahan antioksidan bahan perasa dan bahan pemanis.bahan antioksidan -Tokoferol
ditambahn terakhir karena bentuknya berupa minyak,Bahan perasa dan pemanis digunakan
sebagai elegensia farmasi. Bahan perasa dan bahan pemanis terutama ditambahkan pada emulsi
ini agar dapat menutupi rasa yang tidak enak dari minyak jarak. bahan pengawet natrium
benzoate ditambahkan karena emulgator tipe o/w, sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol
kadar tinggi, juga dapat dirusak bakteri. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan
emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet. Bahan-bahan ini ditambahkan dengan
pertimbangan yang serasi.

Berdasarkan hasil pengujian organoleptis sediaan emulsi minyak jarak yang telah jadi
diketahui bahwa sediaan emulsi yang dihasilkan mempunyai warna dan rasa yang sesuai dengan
spesifikasi.warna dan perasa emulsi diberi warna kuning dan rasa jeruk karena disesuiakan
dengan warna minyak jarak yang berwarna kuning.

27
Dari pengujian yang dilakukan dengan menggunakan kertas indikator pH, pH sediaan
emulsi minyak jarak yang dihasilkan menunjukkan pH 7. pH ini merupakan pH netral yang
diinginkan atau tercantum dalam spesifikasi mutu sediaan emulsi. Namun ada kekurangan dalam
pengujian ini, seharusnya pengujian terhadap pH sediaan dilakukan dalam jangka waktu tertentu
secara kontinyu atau berkesinambungan. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah pH sediaan
berubah (turun atau naik) secara drastis selama proses penyimpanan atau tidak sehingga dapat
menggangu stabilitas dan efektivitas dari bahan-bahan yang terkandung dalam emulsi minyak
jarak ini.

Dari pengujian tipe emulsi dengan menggunakan 1 dari 3 metode yang ada, digunakan
metode pemberian warna denga sudan III dan metilen blue.didapatkan suatu hasil dimana
sediaan emulsi minyak jarak ini termasuk tipe minyak-dalam-air (M/A).dimana emulsi berwarna
biru setelah ditambahkan metilen blue yang larut dengan air.Hasil ini juga sesuai dengan
spesifikasi yang diinginkan yang juga menginginkan suatu emulsi tipe minyak-dalam-air karena
cocok untuk pemberian secara oral. Metode penentuan tipe emulsi yang tidak digunakan adalah
metode kertas saring dan pengerceran fase.

Uji viskositas menunjukkan bahwa sediaan emulsi minyak jarak mempunyai viskositas
yang jauh berbeda dari syarat yang ditentukan. Kejadian ini mungkin disebabkan karena syarat
yang tertera pada literatur adalah syarat viskositas untuk pembuatan emulsi skala besar
sedangkan syarat viskositas untuk pembuatan emulsi skala kecil masih belum jelas sehingga
peneliti tidak mengetahui berapa syarat yang seharusnya dimiliki oleh emulsi dalam pembuatan
skala kecil Selain itu karena keterbatasan waktu, alat dan tenaga kerja pengujian terhadap
viskositas hanya dilakukan 1 kali sesaat setelah sediaan emulsi minyak jarak telah jadi.
Seharusnya pengujian viskositas dilakukan selama beberapa minggu (8 minggu misalnya) untuk
mengetahui apakah sediaan emulsi minyak jarak tersebut masih stabil dalam hal viskositasnya
setelah disimpan beberapa lama.

28
BAB V

KESIMPULAN

Dari hasil pratikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa sediaan emulsi
minyak jarak yang dihasilkan memenuhi stabilitas secara fisik maupun kimia dari parameter
yagn dibuat jika diamati dalam waktu yang singkat.

Hasil yang diperoleh dari evaluasi emulsi minyak jarak :

 Organoleptik Emulsi minyak jarak


 Bentuk : emulsi
 Warna : kuning
 Rasa : manis rasa jeruk
 Bau : jeruk
 pH emulsi minyak jarak : 7
 Tipe emulsi minyak jarak : tipe M/A
 Viskositas dan sifat alir yang dipeloleh berbeda dengan syarat yang ditentukan

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga.


Jakarta.
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Empat.
Jakarta.
3. Anief, Prof.Drs. Moh.Apt. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM-Press.
4. Ansel, C Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI-Press.
5. Bagian Farmakologi FKUI. 1994. Farmakologi dan Terapi. Edisi Keempat. Jakarta : UI-
Press.
6. Martin, Alfred. 1993. Farmasi Fisik. Jakarta : UI-Press.
7. Martindale. 1972. The Extra Pharmacopeia. 28th Ed. London : The Pharmaceutical Press.
8. Mutschler, Ernest. 1985. Dinamika Obat. Bandung : Penerbit ITB.
9. Wade, Ainley and Paul J Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipient Second Ed.
London : The Pharmaceutical Press.

30