Anda di halaman 1dari 9

ISSN : 2598–3814 (Online), ISSN : 1410–4520 (Cetak)

SMART CITY, KONSEP KOTA CERDAS SEBAGAI ALTERNATIF


PENYELESAIAN MASALAH PERKOTAAN KABUPATEN/KOTA,
DI KOTA-KOTA BESAR PROVINSI SUMATERA UTARA
Abdurrozzaq Hasibuan, Oris Krianto Sulaiman
Universitas Islam Sumatera Utara, Jln. S.M. Raja Teladan Medan
rozzaq@uisu.ac.id , oris.ks@ft.uisu.ac.id

Abstrak
Pada era globalisasi dan digital saat ini, pelayanan informasi yang cepat, tepat dan akurat sangat diperlukan.
Karena masyarakat sekarang adalah masyarakat yang butuh akan informasi, di mana ruang dan waktu bukanlah
penghalang untuk mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan. Smart City adalah penerapan konsep kota
cerdas dengan pemanfaatan teknologi dan komunikasi untuk mewujudkan pelayanan masyarakat yang lebih baik.
Konsep Smart City juga akan meningkatkan partisipasi masyarakat dan pemerintahan dalam memanfaatkan data
aplikasi, memberikan masukan maupun kritikan secara mudah. Konsep Kota Cerdas (Smart City) yang menjadi
isu besar di kota-kota besar di seluruh dunia mendorong peran aktif dan partisipasi masyarakat dalam
pengelolaan kota menggunakan pendekatan citizen centric sehingga terjadi interaksi yang lebih dinamis dan erat
antara warga dengan penyedia layanan, dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah.
Empat pilar pembangunan smart city meliputi; Pilar pertama adalah people (pengguna) temasuk karakter dan
akhlak, ketaatan terhadap kebijakan (compliance), Pilar kedua adalah mekanisme dan standar pelayanan,
termasuk pola hubungan antar stakeholder, mekanisme integrasi layanan publik dan data. Pilar ketiga adalah
infrastructure ICT, untuk mengintegrasikan pelayanan dan data (informasi) untuk men-drive semua akses online,
media automatisasi seperti infrastrukur jaringan, broadband, data center/cloud, data sharing platform/big data,
aplikasi, cctv, dan sebagainya. Pilar keempat adalah struktur kelembagaan smart city untuk melakukan analisator,
integrator, evaluator, serta menyelaraskan IT Governance dengan bisnis proses. Kelembagaan smart city akan
mengawal keberlanjutan program pembangunan yang telah diinisiasi pemerintah daerah.
Kinerja pemerintah dalam melayani masyarakat menjadi semakin meningkat dan memuaskan. Seiring dengan
perkembangan globalisasi, aktor dalam hubungan internasional bukan lagi hanya negara akan tetapi semua
komponen masyarakat dapat menjadi aktor hubungan internasional tidak terkecuali pemerintah daerah/kota.
Peran pemerintah kota sebagai aktor subnasional semakin didorong dan dititikberatkan pada kemampuan dalam
menjalin kerjasama internasional. Kerjasama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah/kota seperti
kerjasama sister city (kota kembar).

Kata-Kata Kunci : : Smart City, Kinerja Pemerintah Kabupaten/Kota, Kebijakan Pemerintah Daerah

I. Pendahuluan dengan tujuan antara lain, menciptakan perencanaan


dan pengembangan kota yang layak huni, maju dan
Peningkatan arus urbanisasi melahirkan masalah modern, meningkatkan produktivitas daerah dan daya
baru bagi daerah urban atau perkotaan. Mulai dari saing ekonomi dan membangun fondasi indonesia
sampah, edukasi, transpotasi, sosial ekonomi, smart nation.
bencana, dan kesehatan. Di sisi lain, masyarakat yang Sedangkan aspek utama pembangun smart city
semakin modern dan mapan, memiliki segudang menurut Frost dan Sullivan pada tahun 2014 yaitu
ekspektasi, seperti lingkungan tempat tinggal dan smart governance, smart technology, smart
pekerjaan yang nyaman, adanya area publik yang infrastructure, smart healthcare, smart mobility,
memadai, serta kemudahan mengurus segala bentuk smart building, smart energy dan smart citizen.
pelayanan publik. Tujuan dari smart city itu sendiri adalah untuk
Smart city memang sedang menjadi trend di membentuk suatu kota yang nyaman, aman, serta
Indonesia. Bukan hanya sebagai bentuk gengsi untuk memperkuat daya saing dalam perekonomian.
disebut sebagai kota cerdas, namun smart city adalah Kota menjadi entitas yang menarik perhatian banyak
sebuah langkah yang hebat dalam memajukan kota peneliti. Tidak hanya karena kota memiliki dinamika
dalam suatu negara dengan basis teknologi informasi perubahan yang begitu cepat, tetapi juga karena
dan komunikasi (TIK). Secara harafiah, smart city dalam banyak prediksi yang didasarkan pada hasil-
memang diartikan sebagai sebuah kota cerdas dengan hasil penelitian bahwa hampir 50% penduduk dunia
konsep yang dirancang sedemikian rupa untuk akan memadati kota (Senate Department for Urban
kepentingan masyarakat, terutama dalam pengelolaan Development and the Environment, 2015; Bakıcı,
sumber daya agar efisien dan efektif. et.al., 2013; Chourabi, et.al., 2012). Akibatnya kota
Kementerian Dalam Negeri dalam sebuah semakin menghadapi tantangan yang luar biasa besar
paparan mendefinisikan Smart City sebagai konsep dan kompleks terkait dengan fasilitas yang diberikan
penataan kota secara terintegrasi dengan cakupan kepada warganya. Kebutuhan-kebutuhan mendasar
pembangunan yang luas dan dipadukan dengan seperti kesehatan, pendidikan, transportasi umum,
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sehingga warga kota merasakan keamanan,
127 Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019
ISSN : 2598–3814 (Online), ISSN : 1410–4520 (Cetak)

kenyamanan, dan kebahagiaan tinggal di kotanya suatu Kota layak untuk dihuni, tercipta hubungan
harus dipenuhi oleh pengelola kota (Neirottia, et.all., yang hormanis bagi setiap orang dan kehidupan lebih
2014; Nam and Pardo, 2011; Washburn and Sindhu, baik lagi dari sebelumnya. Kota yang maju dan
2010). berkembang dicirikan dengan tingkat kesejahteraan
Smart City perkembangan teknologi yang masyarakat yang tinggi, jumlah penduduk yang
semakin pintar membuat konsep smart tak hanya merata, sumber daya manusia yang berkualitas dan
diterapkan pada berbagai perangkat, tetapi pada berdaya saing, penggunaan teknologi diberbagai
berbagai system atau tatanan. Konsep yang disebut sektor, ilmu pengetahuan digunakan sebagai modal
sebagai kota pintar adalah konsep yang utama untuk meningkatkan kualitas kehidupan,
mengetengahkan sebuah tatanan kota cerdas yang banyaknya lapangan pekerjaan bagi semua orang,
bisa berperan dalam memudahkan masyarakat untuk pembangunan infrastruktur yang merata, industry dan
mendapatkan informasi secara cepat dan tepat. dunia usaha berkembang dengan baik, pelayanan
Konsep kota pintar dihadirkan sebagai jawaban untuk public yang berkualitas dari penyelenggara
pengelolaan sumber daya secara efesien. Bisa pemerintah, terciptanya keadilan dan rasa aman bagi
dibilang, konsep kota cerdas ini adalah integrasi setiap orang serta meningkatnya kualitas pendidikan
informasi secara langsung dengan masyarakat dan pelayanan kesehatan.
perkotaan. Smart City dapat diartikan secara sederhana
Untuk mendukung berbagai kegiatan sebagai kota pintar atau kota cerdas yang dapat
pembangunan infrastruktur perkotaan dan pemberian memberikan kualitas hidup yang lebih baik dan
pelayanan yang baik kepada masyarakat, maka kenyamanan bagi masyarakatnya. Smart City
Pemerintah Daerah membutuhkan teknologi yang dianggap sebagai kota yang lebih memanusiakan
memadai untuk bisa melakukan semua kegiatannya. warganya. Smart City merupakan suatu konsep
Dalam menciptakan masyarakat global, berdaya perencanaan, penataan dan pengelolaan kota yang
saing, serta kota cerdas dan layak huni, maka masing- saling terintegrasi dalam semua aspek kehidupan,
masing Pemerintah Daerah harus menetapkan guna mendukung masyarakat yang cerdas,
kebijakan yang tepat dengan menyiapkan konsep berpendidikan, memiliki moral serta peningkatan
pembangunan kota masa depan berkualitas, yang kualitas hidup yang berkelanjutan. Smart City akan
bernama Smart City atau Kota Cerdas. Konsep kota membantu penggunaan teknologi informasi dan
pintar diyakini bisa menjadi solusi atas persoalan komunikasi.
Pembangunan kota di daerah. Kota Pintar di desain Smart City adalah konsep perencanaan kota
untuk mampu meningkatkan produktivitas manusia dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang
yang tinggal di dalamnya, sehingga akibat penataan akan membuat hidup yang lebih mudah dan sehat
dan pengelolaan kota yang dilakukan dengan dengan tingkat efisiensi dan efektifitas yang tinggi.
memanfaatkan teknologi informasi dan digital secara Beberapa para ahli menganggap konsep kota dengan
optimal di semua aspek. Mulai dari sistem smart city dapat memenuhi kebutuhan akan
pengelolaan gedung, pengelolaan kualitas kemudahan hidup dan kesehatan, walaupun pada
lingkungan, serta pelayanan publik. Singkatnya, kota kenyataannya konsep smart city masih dalam
dikembangkan menjadi mesin ekonomi dan perdebatan oleh para ahli dan belum ada defenisi dan
produktivitas yang pada akhirnya menjadikan konsep umum yang bisa diterapkan di semua kota
masyarakatnya sehat, produktf dan sejahtera. didunia. Konsep smart city masih bergantung pada
Program-program pemerintah yang sukses memiliki kota dan pengembang masing-masing. Beberapa para
berbagai macam strategi dan cara untuk mendapatkan ahli mencoba mendifenisikan smart city dengan
pengakuan serta kepercayaan dari masyarakat bahwa defenisi masing-masng berdasarkan bidang keilmuan
Kota memang mempunyai keunggulan dari daerah- masing-masing. Beberapa ahli mendefenisikan smart
daerah yang ada. Untuk menciptakan Kota sebagai city sebagai berikut
Smart City pemerintah terus berupaya merealisasikan 1. Smart City didefinisikan juga sebagai kota yang
infrastruktur yang dibutuhkan oleh masyarakat. mampu menggunakan SDM, modal sosial, dan
infrastruktur telekomunikasi modern untuk
II. Tujuan mewujudkan pertumbuhan ekonomi
berkelanjutan dan kualitas kehidupan yang tinggi,
Untuk menemukan gambaran secara deskriptif dengan manajemen sumber daya yang bijaksana
mengenai proses pembangunan dan pengelolaan kota melalui pemerintahan berbasis partisipasi
atau daerah menuju konsep Smart City, sehingga masyarakat. (Caragliu, A., dkk dalam Schaffers,
dapat menjadi masukkan bagi pemimpin kota atau 2010)
daerah serta masyarakat dalam mendukung proses 2. Smart City merupakan hasil dari pengembangan
pengimplementasiannya. pengetahuan yang intensif dan strategi kreatif
dalam peningkatan kualitas sosial-ekonomi,
III. Pemahaman Dan Pengertian Smart City ekologi, daya kompetitif kota. Kemunculan Smart
City merupakan hasil dari gabungan modal
Smart City didasarkan pada upaya untuk sumberdaya manusia (contohnya angkatan kerja
menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi oleh terdidik), modal infrastruktur (contohnya fasilitas
setiap Kota, sehingga di masa mendatang diharapkan komunikasi yang berteknologi tinggi), modal

Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019 128


ISSN : 2598–3814 (Online), ISSN : 1410–4520 (Cetak)

social (contohnya jaringan komunitas yang pengelolaan gedung. Dengan begitu dapat
terbuka) dan modal entrepreuneurial (contohnya mengoptomalkan sumber daya yang dimilikinya
aktifitas bisnis kreatif). Pemerintahan yang kuat serta merencanakan pencegahannya. Kegiatan
dan dapat dipercaya disertai dengan orang-orang pemeliharaan dan keamanan dipercayakan kepada
yang kreatif dan berpikiran terbuka akan penduduknya.
meningkatkan produktifitas lokal dan 3. Smart city dapat menghubungkan infrastuktur
mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu kota. fisik, infrastruktur IT, infrastruktur social, dan
(Kourtit & Nijkamp – 2012). bisnis infrastruktur untuk meningkatkan
3. Smart City (Kota Pintar) = sebuah pendekatan kecerdasan kota.
yang luas, terintegrasi dalam meningkatkan 4. Smart city membuat kota lebih efisien dan layak
efisiensi pengoperasian sebuah kota, huni
meningkatkan kualitas hidup penduduknya, dan 5. Penggunaan smart computing untuk membuat
menumbuhkan ekonomi daerahnya. Cohen lebih smart city dan fasilitasnya meliputi pendidikan,
jauh mendefinisikan Smart City dengan kesehatan, keselamatan umum, transportasi yang
pembobotan aspek lingkungan menjadi: Smart lebih cerdas, saling berhubungan dan efisien.
City menggunakan ICT secara pintar dan efisien
dalam menggunakan berbagai sumber daya, IV. Konsep Dan Elemen Smart City
menghasilkan penghematan biaya dan energi,
meningkatkan pelayanan dan kualitas hidup, serta Berkembangnya konsep Smart City,
mengurangi jejak lingkungan - semuanya menimbulkan pemahaman terhadap konsep Smart
mendukung ke dalam inovasi dan ekonomi ramah City yang beragam dan belum jelas atau konsisten.
lingkungan. (Cohen Boyd, 2013) Kota-kota yang disebut Smart City pada awalnya
4. Smart City merupakan kota dengan investasi memiliki terobosan baru dalam penyelesaian-
modal manusia dan sosial, dengan transportasi penyelesaian masalah di kotanya, yang kemudian
(tradisonal) dan infrastruktur komunikasi modern sukses meningkatkan performa kotanya.
serta pembangunan ekonomi yang berkelanjutan Pembangunan kota-kota menuju Smart City diawali
dan kualitas hidup yg tinggi, dengan manajemen dengan penggunaan teknologi informasi dan
SDA yang bijaksana melalui tata pemerintahan komunikasi yang biasanya bersifat parsial, pada
yang partisipatif. Giffinger (2010) dalam Jung masalah-masalah prioritas. Sebagai contoh, Kota
Hoon (2014) Amsterdam yang mendasarkan penggunaan TIK
5. Kota Cerdas atau Smart City, pada umumnya untuk mengurangi polusi, atau Kota Tallim, sebagai
didasarkan pada 3 hal, pertama faktor manusia, ibukota Estonia yang memulai pengelolaan kota yang
kota dengan manusia-manusia yang kreatif dalam cerdas dari segi pemerintahannya dengan e-
pekerjaan, jejaring pengetahuan, lingkungan yang government dan menggunakan smart ID card dalam
bebas dari criminal. Kedua faktor teknologi, kota pelayanan bagi penduduknya, maupun Kota Songdo
yang berbasis teknologi komunikasi dan di Korea Selatan yang mendasarkan pengembangan
informasi. Terakhir faktor kelembagaan, kota berbasis TIK untuk mengembangkan Songdo
masyarakat kota (pemerintah, kalangan bisnis dan sebagai pusat bisnis internasional.
penduduk) yang memahami teknologi informasi Adapun contoh di Indonesia beberapa kota besar
dan membuat keputusan berdasarkan pada seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan
teknologi informasi. (Ahmad Nurman dalam Malang memiliki masalah pertambahan penduduk
Manajemen Perkotaan). yang signifikan, kemacetan, penumpukan sampah
dan masalah kependudukan lainnya yang
Smart City adalah sebuah impian dari hampir memerlukan pemecahan masalah yang tepat. Berkat
semua Negara di dunia. Dengan smart city, berbagai sentuhan teknologi beberapa kota besar tersebut
macam data dan informasi yang berada di setiap sudut mulai mengarah kepada penerapan konsep Smart
kota dapat dikumpulkan melalui sensor yang City, yakni dengan lahirnya e-government, e-
terpasang di setiap sudut kota, dianalisis dengan procurement, e-budgeting, e-delivery, e-controlling,
aplikasi cerdas, selanjutnya disajikan sesuai dengan dan e-monitoring
kebutuhan pengguna melalui aplikasi yang dapat Dapat diambil garis besar dari mengartikan
diakses oleh berbagai jenis gadget. Melalui Konsep Smart City sebagai konsep yang telah melalui
gadgetnya, secara interaktif pengguna juga dapat penyempurnaan-penyempurnaan dari konsep yang
menjadi sumber data, mereka mengirim informasi ke telah terlebih dahulu berkembang dengan menambal
pusat data untuk dikonsumsi oleh pengguna yang kekurangan-kekurangan yang ada dan
lain. Berikut adalah beberapa konsep smart city. mempertimbangkan aspek-aspek yang mungkin
1. Sebuah kota berkinerja baik dengan belum ada pada konsep-konsep berbasis Teknologi
berpandangan ke dalam ekonomi, penduduk, Informasi dan Komunikasi (TIK) yang telah muncul
pemerintahan, mobilitas, lingkungan hidup sebelumnya. Konsep ini pada akhirnya tidak hanya
2. Sebuah kota yang mengontrol dan mengintegrasi mendasarkan pembangunan dan pengelolaan kota
semua infrastruktur termasuk jalan, jembatan, dalam dimensi teknologi, namun juga mencakup
terowongan, rel, kereta bawah tanah, bandara, dimensi manusia dan dimensi institusional.
pelabuhan, komunikasi, air, listrik, dan

129 Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019


ISSN : 2598–3814 (Online), ISSN : 1410–4520 (Cetak)

Dibeberapa literatur penelitian lainnya terkait Untuk mendukung suatu kota dalam menuju level
dimensi dalam konsep Smart City juga merujuk pada ke lima diatas, maka diperlukannya stakeholders
ke tiga dimensi tersebut, yaitu : yang perlu dilibatkan dalam pengembangan konsep
1. Dimensi teknologi, diperlukan pembangunan Smart City, antara lain : Government, Academician,
kota yang digital dan terintegrasi dengan Citizen/civil community, Developers, Media dan
dukungan infrastruktur fisik, teknologi pintar, Private sectors. Keseluruhan stakeholders tersebut
perangkat mobilitas tinggi dan jaringan memiliki peranan masing-masing dalam
komputer yang memadai. mengimplementasikan konsep Smart City. Sebagai
2. Dimensi Sumber Daya Manusia, diperlukan ilustrasi, pemerintah perlu membuat kebijakan yang
kreatifitas, pengetahuan, pendidikan dan mendukung terciptanya ekosistem kota pintar yang
pembelajaran sebagai pendorong utama terintegrasi. Akademisi memberikan sumbangan
terbentuknya kota yang cerdas, dimana saran kebijakan berdasarkan riset dan penelitian yang
permasalahan yang bersifat manual mereka lakukan. Developer membuat aplikasi yang
ditransformasi dengan pengetahuan ke model memanfaatkan teknologi. Media mempromosikan
sistem digital melalui kratifitas dan disajikan dan mensosialisasikan semua program. Pihak swasta
dalam bentuk pembelajaran yang sepenuhnya mendukung dengan modal, dan komunitas serta
perlu konsisten untuk dilaksanakan. masyarakat turut berpartisipasi dengan mengubah
3. Dimensi Institusional, diperlukan dukungan dari kebiasaan lama yang buruk dan mempraktikkan yang
pemerintah dan kebijakan untuk pemerintahan baru. Jika salah satu pihak tidak berkontribusi, maka
sebagai dasar dari desain dan implementasi kota konsep ini tidak akan berjalan dengan baik
yang cerdas. Kebijakan tidak hanya mendukung
tetapi juga berperan, dimana terbentuk V. Faktor Pendukung Smart City
hubungan antara lembaga pemerintah dan pihak
non-pemerintah, dan sektor lainnya dalam Smart City adalah sebuah kota yang instrumennya
membangun lingkungan administratif yang saling berhubungan dan berfungsi cerdas. Smart City
terintegrasi. adalah sebuah konsep kota cerdas/pintar yang
membantu masyarakat yang berada di dalamnya
Selain ketiga dimensi tersebut, terdapat juga dengan mengelola sumber daya yang ada dengan
elemen utama dalam Smart City yakni infrastruktur, efisien dan memberikan informasi yang tepat kepada
modal, aset, perilaku, budaya, ekonomi, sosial, masyarakat/lembaga dalam melakukan kegiatannya
teknologi, politik, lingkungan. Dan level dari atau pun mengantisipasi kejadian yang tak terduga
penerapan Smart City terbagi dalam 6 level, sebelumnya. Smart City cenderung mengintegrasikan
diantaranya : informasi di dalam kehidupan masyarakat
1. Level 0, merupakan level awal dari kota.definisi lainnya Smart City didefinisikan juga
pengimplementasian konsep Smart City, level sebagai kota yang mampu menggunakan SDM,
ini ditandai dengan masih kota biasa namun modal sosial, dan infrastruktur telekomunikasi
terdapat potensi menjadi Smart City. modern untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi
2. Level 1, merupakan level memulainya suatu berkelanjutan dan kualitas kehidupan yang tinggi,
kota atau daerah menjadi Smart City, ditandai dengan manajemen sumber daya yang bijaksana
dengan tersedia internet secara menyeluruh di melalui pemerintahan berbasis partisipasi
wilayah kota. masyarakat.
3. Level 2, merupakan tahap kelanjutan dari level Ada beberapa indikator atau faktor-faktor
pertama, dimana ditandai dengan kota mulai pendukung dalam mewujudkan kota cerdas (Smart
terhubung dengan jaringan di kota lainnya atau City), yaitu ;
telah menerapkan konsep Metropolitan Area 1. Smart Economy (Ekonomi Cerdas) ; Kualitas
Network (MAN). yang menghasilkan suatu inovasi dan mampu
4. Level 3, merupakan level open information, menghadapi persaingan. Semakin tinggi inovasi-
dimana kota telah memiliki keterbukaan dengan inovasi baru yang ditingkatkan maka akan
kota lain untuk berbagi data dan informasi menambah peluang usaha baru dan meningkatkan
secara online. persaingan pasar usaha/modal. Smart Economy, juga
5. Level 4, merupakan level yang telah memiliki diartikan sebuah kota cerdas yang memiliki tingkat
proses mengolahan data dan informasi perekonomian yang baik, pemanfaatan sumber daya atau
menggunakan keamanan yang baik, sehingga potensi alam yang dimiliki oleh kota secara efisien dan
setiap data yang terakses tetap terjaga nilai efektif. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu
kepentingan yang ada di dalam data dan indicator untuk mengukur tingkat pembangunan di suatu
informasinya. daerah pada periode waktu tertentu sehingga dapat
6. Level 5, merupakan integrasi yang baik di dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat
maupun antar kota sebagai kombinasi level 2,3 secara umum.
dan 4.

Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019 130


ISSN : 2598–3814 (Online), ISSN : 1410–4520 (Cetak)

2. Smart Mobility (Mobilitas Cerdas) ;


Kemampuan untuk mengembangkan transfortasi
dan pembangunan infrastruktur sebagai bentuk
penguatan sistem perencanaan infrastruktur kota.
Pengelolaan infrastruktur kota yang
dikembangkan di masa depan merupakan sebuah
sistem pengelolaan terpadu dan diorientasikan
untuk menjamin keberpihakan pada kepentingan
publik.
3. Smart Environment (Lingkungan Cerdas) ;
Keberlanjutan dan sumber daya, lingkungan
cerdas itu berarti lingkungan yang bisa
memberikan kenyamanan, keberlanjutan sumber
daya, keindahan fisik maupun non fisik, visual
maupun tidak, bagi masyarakat dan publik
lingkungan yang bersih tertata, RTH yang stabil
merupakan contoh dari penerapan lingkungan
pintar.
4. Smart People (Masyarakat Cerdas) ; Kreativitas
dan modal sosial, pembangunan senantiasa
membutuhkan modal, baik modal ekonomi
(economic capital), modal usaha (human capital),
maupun modal sosial (social capital). Kemudahan
akses modal dan pelatihan-pelatihan bagi UMKM
dapat meningkatkan kemampuan keterampilan
mereka dalam mengembangkan usahanya. Modal
sosial termasuk elemen-elemen seperti
kepercayaan, gotong-royong, toleransi,
penghargaan, saling memberi dan saling
menerima serta kolaborasi sosial memiliki
pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan
ekonomi melalui berbagai mekanisme seperti
meningkatnya rasa tanggungjawab terhadap
kepentingan publik, meluasnya partisipasi dalam
proses demokrasi, menguatnya keserasian Gambar 1. Skema/Dimensi Smart City
masyarakat dan menurunnya tingkat kejahatan.
5. Smart Living (Hidup Cerdas atau Kualitas
Hidup) ; Berbudaya berarti bahwa manusia Landasan Membangun Smart City
memiliki kualitas hidup yang terukur (budaya). Ada beberapa landasan yang dianggap sebagai syarat
Kualitas hidup tersebut bersifat dinamis, dalam untuk membangun Smart City, adalah ;
artian selalu berusaha memperbaiki dirinya a. Peran Pemerintah, artinya Pemerintah berperan
sendiri. Pencapaian budaya pada manusia, secara penting dalam mewujudkan terciptanya Smart
langsung maupun tidak langsung merupakan hasil City melalui penetapan perencanaan, menetapan
dari pendidikan. Maka kualitas pendidikan yang regulasi (peraturan) yang diperlukan,
baik adalah jaminan atas kualitas budaya, dan atau merencanakan pembiayaan, membangun sistem
budaya yang berkualitas merupakan hasil dari dan infrastruktur yang berbasis teknologi, serta
pendidikan yang berkualitas. melakukan pengelolaan. Pemerintah harus
6. Smart Governance (Pemerintahan yang memiliki impian dan keinginan untuk menjadikan
Cerdas) ; Kunci utama keberhasilan sebuah kota cerdas, memberikan kehidupan yang
penyelenggaraan pemerintahan adalah Good berkualitas bagi masyarakatnya, serta
Governance, yang merupakan paradigma, sistem memberikan pelayanan yang baik dan efektif
dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan kepada seluruh masyarakat yang tinggal di kota
pembangunan yang mengindahkan prinsip- tersebut.
prinsip supremasi hukum, kemanusiaan, keadilan, b. Dukungan Masyarakat, artinya masyarakat sangat
demokrasi, partisipasi, transparansi, berperan dalam mewujudkan terciptanya Smart
profesionalitas, dan akuntabilitas ditambah City melalui dukungan masyarakat atas program-
dengan komitmen terhadap tegaknya nilai dan program, kebijakan, peraturan (regulasi) dan
prinsip desentralisasi, daya guna, hasil guna, komitmen Pemerintah guna mewujudkan sebuah
pemerintahan yang bersih, bertanggung jawab kota cerdaps. Dukungan masyarakat tersebut
dan berdaya saing. dapat berbentuk ikut serta langsung menjadi
pelaku dalam membangun kota yang cerdas,
menjaga dengan baik atas sarana dan prasarana

131 Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019


ISSN : 2598–3814 (Online), ISSN : 1410–4520 (Cetak)

yang telah dibangun oleh pemerintah dalam oleh tingginya produktivitas sumber daya manusia,
mendukung mewujudkan kota yang cerdas, berkembangnya industri, perdagangan dan jasa
menyampaikan idea tau saran inovatif untuk keuangan, tersedianya infratruktur sosial ekonomi
memperbaiki lebih baik lagi atas sistem yang yang lengkap, terjaganya stabilitas keamanan, sosial
sudah ada, setiap masyarakat memiliki kepedulian dan politik, terwujudnya tata pemerintahan yang
dan sosial yang tinggi terhadap lingkungnya, professional, serta berkembangnya ilmu pengetahuan
setiap individu mampu menciptakan kenyamanan dan teknologi. Nyaman bermakna bahwa kota
dan keamanan di lingkungan sekitarnya, serta menjadi kota layak huni bagi seluruh warga dalam
memiliki sikap dan perilaku yang baik dengan mengekspresikan dan menjalankan kegiatan sosial,
sesamanya. ekonomi dan budaya yang ditandai oleh suasana
c. Pembiayaan, sebuah teknologi yang canggih aman, tenang, damai, tertib, beradab, bersahaja, serta
dirasakan sangat bermanfaat bagi semua bebas dari rasa takut dan khawatir. Peduli bermakna
kehidupan manusia. Berbagai kehidupan dapat bahwa kota melalui Pemerintah Daerahnya mampu
diperoleh melalui penggunaan teknologi. Namun memberikan pelayanan dan perhatian yang tulus,
untuk membangun teknologi yang canggih empati, adil dan merata bagi seluruh warga kota tanpa
membutuhkan biaya yang sangat besar. membedakan suku, ras, agama, asal-usul dan
Pemerintah daerah yang ingin membangun Smart golongan yang ditandai oleh sikap warga kota yang
City berbasis teknologi informatika dan disiplin, suka bekerja keras, terbuka. Sejahtera
komunikasi harus memikirkan, merencanakan bermakna bahwa kota dapat memenuhi semua hak-
dan menggambarkan biayanya. Biaya tersebut hak dasar masyarakatnya, baik hak atas pendidikan,
harus dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan kesehatan, sandang, pangan, lingkungan, perumahan,
dan Belanja Daerah (APBD), dan jika kehidupan keagamaan, keamanan, mampu
dimungkinkan Pemerintah Daerah dapat meminta mengurangi kemiskinan dan pengangguran serta
bantuan dana dari Pemerintah Pusat untuk semakin meningkatnya pendapatan masyarakat.
membantu pembiayaan pembangunan
infrastruktur berbasus teknologi tersebut. Urgensi Mewujudkan Kota Cerdass
d. Teknologi ; Semakin meningkatnya kebutuhan Pemanfaatan teknologi informasi saat ini tidak
manusia akan pelayanan administrasi lagi digunakan dalam sebuah PC maupun smartphone
pemerintahan, mengakibatkan sector pelayanan pribadi, namun sudah menjangkau ranah
publik dari Pemerintah harus mampu memberikan pemerintahan. Kota cerdas dikenal karena pelayanan
pelayanan yang lebih cepat, mudah dan murah. perkotaan yang dilakukan dengan memanfaatkan
Untuk memberikan pelayanan yang baik, peran teknologi informasi. Kota cerdas juga menjadi
dukungan teknologi dirasakan sangat diperlukan. salah satu penopang utama bagi penciptaan good
Penggunaan teknologi dapat memberikan governance. Konsep kota cerdas kini mulai
kemudahan dalam mengembangkan hasil, diterapkan dan menjadi dambaan semua kota di
menciptakan hasil yang berkualitas, Indonesia.
meningkatkan kecepatan, serta sebagai kekuatan Masalahnya kemudian adanya ketidaksamaan
untuk bersaing. konsep kota cerdas sesungguhnya. Pasalnya, sejauh
ini belum ada pengaturan langsung terkait kota
Strategi Awal Dalam Mendukung Terwujudnya cerdas. Selama ini pemerintah daerah masih
Kota Cerdas menggunakan peraturan yang terkait saja dengan kota
cerdas misalnya UU No 25 Tahun 2004 tentang
Untuk mewujudkan sebuah kota yang cerdas, Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, UU No
maka masing-masing Pemerintah Daerah terlebih 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
dalu harus menetapkan visi, misi, strategi, sasaran Elektronik, UU No 14 Tahun 2008 tentang
dan program pembangunan yang menunjukkan Keterbukaan Informasi Publik, UU No 25 tahun 2009
sebuah kota cerdas yaitu menjadikan kotanya untuk tentang Pelayanan Publik, dan UU No 23 tahun 2014
menjadi Kota Metropolitan yang Berdaya Saing, tentang Pemerintahan Daerah.
Nyaman, Peduli dan sejahtera. Kota Metropolitan Urgensi mewujudkan kota cerdas di kota-kota
bermakna bahwa kota berfungsi sebagai pusat Indonesia sudah sepatutnya menjadi perhatian serius.
penyelenggara pemerintahan, pusat kehidupan politik Mengingat kota-kota besar menjadi magnet
lokal, pusat pertumbuhan kegiatan perdagangan dan urbanisasi. Permasalahan akut masyarakat urban
jasa, pusat kegiatan sosial, seni dan budaya seperti pertumbuhan konsentrasi penduduk yang
masyarakat, pusat permukiman maju yang ditandai tinggi tidak diikuti dengan kecepatan yang sebanding
oleh semakin terpadunya kegiatan sosial ekonomi, dengan perkembangan industrialisasi. Masalah ini
terciptanya ketentraman, ketertiban dan kenyamanan, akhirnya menimbulkan fenomena yaitu urbanisasi
tersedianya prasarana dan sarana yang maju, berlebih (Harahap, 2013). Urbanisasi berlebih tidak
bermutu, dan terpadu, penataan ruang kota dan hanya akan menimbulkan masalah di kota tujuan
lingkungan hidup yang efektif. namun juga di desa yang ditinggalkan. Seperti
Bedaya saing bermakna bahwa kota mempunyai meningkatnya angka kemiskinan dan kawasan
keunggulan kompotitif, komparatif dan koperatif kumuh serta urban crime.
secara regional, nasional dan global yang ditandai

Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019 132


ISSN : 2598–3814 (Online), ISSN : 1410–4520 (Cetak)

Bukan perkara mudah mewujudkan kota cerdas. kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan
Tantangan terjadi di banyak sektor. Kabupaten/Kota pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta
Provinsi Sumatera Utara ada beberapa permasalahan masyarakat. Oleh karena itu kota cerdas harus
terkait infrastruktur, koordinasi, dan sumber daya didukung oleh semua pihak, baik dari kalangan
manusia kerap terjadi. Terkait infrastruktur misalnya, masyarakat maupun dari kalangan pemerintah.
masalah kabel di jalanan perkotaan masih sangat
berantakan, layanan internet bagi masyarakat juga Strategi Mewujudkan Kota Cerdas (Smart City)
belum optimal. Padahal, infrastruktur merupakan hal Untuk mendukung sebuah daerah sebagai Kota
yang paling fundamental karena ketika infrastruktur Cerdas adalah melalui penggunaan teknologi
sudah rapi, pembangunan yang ada di atasnya bisa informasi dan komunikasi, Information and
dilakukan dengan cepat. Communication Technology (ICT), yang akhirnya
Masalah Koordinasi menjadi masalah klasik yang akan mendukung terciptanya Smart Economy, Smart
sering terjadi di banyak sektor, baik itu pemerintah, Mobility, Smart Environment, Smart People, Smart
bisnis, akademik, maupun komunitas. Koordinasi Living dan Smart Governance.
yang baik sangat diperlukan sehingga setiap elemen Critical stage merupakan tahapan penting sebagai
yang berpartisipasi dan berkolaborasi di dalam jembatan antara dunia konsep dan dunia realitas.
pembangunan kota cerdas bisa memberikan Dunia konsep tercermin dalam kondisi ideal, suatu
kontribusi yang maksimal. Penggunaan teknologi yang dicita-citakan untuk diwujudkan sebagaimana
informasi bagi generasi saat ini bisa dibilang terformulasi dalam dokumen kebijakan.
sangatlah mudah dilakukan. Lain halnya dengan Sedangkan dunia nyata adalah realitas di mana
generasi sebelumnya masyarakat sebagai sasaran kebijakan bergelut
Sebagai kementerian yang membidangi urusan dengan berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan
dalam negeri, untuk mewujudkan kota cerdas di politik bahkan hukum.
daerah, Kementerian Dalam Negeri memberikan Critical stage digambarkan sebagai kondisi kritis
payung hukum kota cerdas yang mengacu pada UU pemerintahan daerah dalam mewujudkan pelayanan
No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, publik yang smart, dengan tata kelola teknologi
tepatnya, pada bagian Inovasi Daerah dalam Pasal informasi dan komunikasi. Critical stage yang
386-388. Di dalam penjelasan umum diterangkan diangkat pada opini ini meliputi; pemahaman konsep
bahwa majunya suatu bangsa sangat ditentukan oleh smart city, pilar pembangunan smart city, paradigma
inovasi yang dilakukan bangsa tersebut. pembangunan, dan komponen-komponen smart city.
Perlu diketahui, yang dimaksud dalam Pasal 386 Konsep smart city merupakan pendekatan teknologi
adalah segala bentuk pembaruan pemerintahan informasi dan pelayanan publik yang cerdas, dalam
daerah. Yang dimaksud Inovasi tersebut adalah membangun kota impian, bersifat “integralistik atau
sebuah ide, praktik atau objek yang dianggap baru terintegrasi” untuk mengatasi permasalahan kota
oleh individu. Inovasi dapat berupa produk atau jasa seperti pertumbuhan penduduk, infrastruktur TIK,
baru, teknologi proses produksi yang baru, sistem permasalahan ekonomi, politik, budaya, maupun
struktur dan administrasi baru atau rencana baru bagi perubahan paradigma pemerintahan. Berdasarkan
anggota organisasi. Inovasi di sektor publik adalah konsep tersebut, maka peran pemerintahan sebagai
salah satu jalan atau bahkan breakthrough untuk faktor kunci terwujudnya smart city.
mengatasi kemacetan dan kebuntuan organisasi di Empat pilar pembangunan smart city meliputi;
sektor publik. Karakteristik dari sistem di sektor Pilar pertama adalah people (pengguna) temasuk
publik yang rigid dan cenderung status quo harus bisa karakter dan akhlak, ketaatan terhadap kebijakan
dicairkan melalui penularan budaya inovasi. Inovasi (compliance), Pilar kedua adalah mekanisme dan
yang biasanya hanya akrab di lingkungan dinamis standar pelayanan, termasuk pola hubungan antar
seperti di sektor bisnis, perlahan mulai disuntikkan ke stakeholder, mekanisme integrasi layanan publik dan
sektor publik. data. Pilar ketiga adalah infrastructure ICT, untuk
Untuk itu, diperlukan perlindungan terhadap mengintegrasikan pelayanan dan data (informasi)
kegiatan yang bersifat inovatif oleh masyarakat. untuk men-drive semua akses online, media
Selain itu, perlu adanya upaya memacu kreativitas automatisasi seperti infrastrukur jaringan, broadband,
daerah untuk meningkatkan daya saing daerah, serta data center/cloud, data sharing platform/big data,
perlu kriteria yang obyektif yang dapat dijadikan aplikasi, cctv, dan sebagainya. Pilar keempat adalah
pegangan bagi pejabat daerah untuk melakukan struktur kelembagaan smart city untuk melakukan
kegiatan yang bersifat inovatif. Pengembangan ke analisator, integrator, evaluator, serta menyelaraskan
arah kota cerdas sejalan dengan Agenda IT Governance dengan bisnis proses. Kelembagaan
Pembangunan Nasional (Nawa Cita) 2015- 2019 smart city akan mengawal keberlanjutan program
Presiden Joko Widodo. Di dalamnya telah pembangunan yang telah diinisiasi pemerintah
menetapkan peta jalan pembangunan perkotaan daerah.
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Paradigma pemerintahan dapat menentukan arah
Nasional (RPJMN) 2015-2019. Termasuk, adanya pembangunan pilar smart city. Paradigma
pengembangan 7 sektor publik, 20 kota otonom dan pemerintahan yang berkembang saat ini menganut
39 pusat pertumbuhan baru. Hadirnya penerapan kota sistem terbuka seperti: 1) kelembagaan inklusif yaitu
cerdas ini bertujuan untuk mempercepat terwujudnya sikap terbuka dalam melaksanakan tata kelola

133 Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019


ISSN : 2598–3814 (Online), ISSN : 1410–4520 (Cetak)

pemerintahan yang kuat (sound), 2) Collaborative Managed, management proses secara real time. 5)
Governance yaitu adanya sebuah forum deliberatif, di Integrated, terintegrasinya layanan antar organisasi
mana para stakeholder yang terlibat dapat melakukan (interorganizational) dan antar sistem operasional
proses dialog hingga mencapai sebuah konsensus (interoperasional), dan 6) tingkat smart yaitu semakin
terkait permasalahan publik, 3) Integrated efektif dan efisien pelayanan kepada warganya.
governance menggambarkan struktur hubungan Pilar pembangunan smart city, paradigma
formal dan informal, untuk mengelola urusan melalui pemerintahan, dan meturity IT Governance
pendekatan kolaboratif (join-up) antar instansi dipandangan sebagai critical stage untuk
pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, 3) Open mewujudkan komponen smart city. Oleh karena itu
Governance adalah inisiatif melaksanakan integrasi dibutuhkan strategi alignment untuk meletakkan
layanan, keterbukaan akses informasi ke publik, Konsep kota cerdas ke dalam kerangka misi
keterlibatan warga dalam kebijakan pemerintah. pemerintahan kota dan daerah.
Bridging smart city dapat juga dikonotasikan Ketidakmampuan menyeleraskan konsep kota
melakukan proses kematangan (maturity) IT cerdas, pilar pembangunan smart city, paradigma
gobernance, secara bertahap meliputi 1) ad-hoc, pemerintahan serta visi dan misi pemda menjadi salah
adanya kesadaran yang kuat pada pimpinan dan satu penyebab tidak terarah dan tidak terukurnya
stakeholder, 2) Repeatable, tahapan pemanfaatan pembangunan smart city.
dasar IT dengan proses sederhana, 3) Defined
network process, semua proses dapat didefenisikan
dengan jelas dalam kerangka kerja terintegrasi, 4)

Gambar 2. Kota Masa Depan

VI. Kesimpulan yang signifikan di Kabupaten/Kota Provinsi


Sumatera Utara, melalui studi arahan pengembangan
Untuk menciptakan kota cerdas di Kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten/Kota
Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara diperlukan Provinsi Sumatera Utara dengan konsep smart
kesamaan paradigma mengenai kota cerdas governance dan smart environment mendapatkan
sesungguhnya. Selain dibutuhkannya regulasi hasil dari analisis keruangan yang dilakukan, hasil
langsung terkait kota cerdas, dibutuhkan juga kerja wawancara dan identifikasi potensi dan persoalan
sama yang baik di antara pelbagai pihak yang benar- keruangan bahwa kawasan pusat pemerintahan
benar mau mengedepankan kota cerdas sebagai mampu jika diterapkannya pilot project konsep smart
sebuah bentuk pelayanan publik kepada masyarakat. city.
Secara keseluruhan kajian Arahan Pengembangan
Kawasan Pusat Pemerintahan Dengan Konsep smart Rekomendasi
city ini bertujuan sebagai tambahan konsep dari Pemerintah Daerah dapat mendukung daerahnya
rencana kawasan pusat pemerintahan yang ada. sebagai Kota Cerdas dengan melakukan langkah-
Karena secara konsepsi, smart city masih sangat baru langkah sebagai berikut :
dalam kajian tata ruang di Indonesia baru beberapa 1. Mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis
daerah/kota yang menerapkan konsep smart city kearifan local serta melalui program penelitian
contohnya (Bandung, Surabaya dan kota lainnya). sehingga mendukung peningkatan kualitas
Selama ini permasalahan terkait tata kelola sumber daya manusia yang baik, serta tercipta
pemerintahan dan lingkungan belum mendapat inovasi dan kreativitas dari masyarakat.
perhatian serius sehingga belum adanya perubahan

Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019 134


ISSN : 2598–3814 (Online), ISSN : 1410–4520 (Cetak)

2. Berupaya untuk memperbaiki sistem, sarana [7] Hall, R. E., 2000, The vision of a smart city. In
dan pelayanan berbasis teknologi. Pemerintah Proceedings of the 2nd International Life
Daerah harus banyak membangun infrastruktur Extension Technology Workshop, Paris, France,
kota berbasis teknologi serta menyediakan Sep 28.
berbagai fasilitas teknologi yang memadai [8] Harrison, C. dkk., 2010, Foundations for
dibidang pelayanan publik, bisnis dan ekonomi. Smarter Cities. IBM Journal of Research and
Teknologi tersebut akan memudahkan Development.
masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas http://www.hitachi.com/products/smartcity/
tanpa harus banyak melakukan berbagai [9] Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 3
aktivitas tanpa harus banyak melakukan kontak Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi
fisik (bertatap langsung) dengan pihak tertentu asional Pengembangan E-Government.
dan akhirnya akan terjadi interaktif yang aktif [10] Hitachi, 2013, Hitachi’s Vision for Smart Cities.
dari Pemerintah kepada masyarakatnya. [11] Kementerian Kominfo RI., 2016, Permen
3. Terus berupaya meningkatkan kualitas sumber ominfo RI No. 14 Tahun 2016 tentang Pedoman
daya manusia dan meningkatkan peran serta Nomenklatur Perangkat Daerah Bidang
masyarakat dalam menciptakan daerah sebagai Komunikasi dan Informatika. Jakarta:
Kota Cerdas. Kementerian Kominfo RI.
[12] Nugroho, Eko, 2008, Sistem Informasi
Daftar Pustaka Manajemen, Konsep, Aplikasi dan
Perkembangannya, Yogyakarta, penerbit Andi.
[1] Alawadhi, S., Aldama-Nalda, A., Chourabi, H., [13] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Gil-Garcia, J. R., Leung, S., Mellouli, S., Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan
Walker, S., 2012, Building Understanding of Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai
Smart City Initiatives. International Conference Daerah Otonomi.
on Electronic. Government. Heidelberg : [14] Shah, M. N., et al., 2017, Assessment of
Springer Berlin Ahmedabad (India) and Shanghai (China) on
[2] Airaksinen, Miimu, et.al., 2015, Smart City- Smart City Parameters Applying the Boyd
Research Highlights. Miimu Airaksinen and Cohen Smart City Wheel. Proceedings of the
Matti Kokkala (ed.). Grano: VTT Technical 20th International Symposium on Advancement
Research Centre of Finland Ltd. of Construction Management and Real Estate.
[3] Al-Hader, Mahmoud and Ahmad Rodzi, 2009, Y. Wu, S. Zheng, J. Luo et al. Singapore,
The Smart City Infrastructure Development and Springer Singapore: 111-127.
Monitoring, CCSAP, Number 2 (11). [15] Schaffers, Hans, et.al., 2011, Smart Cities and
[4] Cohen, Boyd. What exactly a smart city?. the Future Internet: Towards Cooperation
http://www.boydcohen.com/smartcities.html Frameworks for Open Innovation”. Future
[5] Griffinger, R., dkk, 2007, Smart cities Ranking Internet Assembly, LNCS 6656.
of European medium-sized cities. Final report [16] Sudaryono, 2014, Konsep Smart City untuk
October. Kota-Kota di Indonesia. MPKD UGM
[6] Government of India, Ministry of Urban [17] Washburn, Doug and Usman Sindhu, 2010,
Development, 2015, Smart Cities Mission Helping CIOs Understand “Smart City”
Statement & Guidelines. Official Report of Initiatives: Defining The Smart City, Its Drivers,
Smart City Mission Transformation on June. And The Role Of The CIO. Research Report for
CIOs. February 11, 2010. Online on
www.forrester.com.

135 Buletin Utama Teknik Vol. 14, No. 2, Januari 2019