Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH HADITS TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA

DAN MASYARAKAT

“Ditujukan untuk memenuhi tugas”

Mata Kuliah :
Dosen :

Di susun Oleh:
Syifa Habibah (17181028)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL AULIA


2019
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa


atas ridho dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah ini
dengan penuh keyakinan serta usaha maksimal. Semoga dengan terselesaikannya
tugas ini dapat memberi pelajaran positif bagi kita semua.
Selanjutnya penulis juga ucapkan terima kasih kepada bapak dosen
H.M.Zaini Al-Luthfi.MA mata kuliah Hadis Tarbawi yang telah memberikan tugas
Makalah ini kepada kami sehingga dapat memicu motifasi kami untuk senantiasa
belajar lebih giat dan menggali ilmu lebih dalam khususnya mengenai “Hadist
tentang pendidikan keluarga dan masyarakat” sehingga dengan kami dapat
menemukan hal-hal baru yang belum kami ketahui.
Terima kasih juga kami sampaikan atas petunjuk yang di berikan sehingga
kami dapat menyelasaikan tugas Makalah ini dengan usaha semaksimal mungkin.
Terima kasih pula atas dukungan para pihak yang turut membantu terselesaikannya
laporan ini, ayah bunda, teman-teman serta semua pihak yang penuh kebaikan dan
telah membantu penulis.
Terakhir kali sebagai seorang manusia biasa yang mencoba berusaha sekuat
tenaga dalam penyelesaian Makalah ini, tetapi tetap saja tak luput dari sifat
manusiawi yang penuh khilaf dan salah, oleh karena itu segenap saran penulis
harapkan dari semua pihak guna perbaikan tugas-tugas serupa di masa datang.

Bogor, April 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I ....................................................................................................................... i

PENDAHULUAN ................................................................................................... i

A. Latar belakang ............................................................................................... i

B. Rumusan masalah.......................................................................................... i

C. Tujuan pembahasan ....................................................................................... i

BAB II ......................................................................................................................2

PEMBAHASAN ......................................................................................................2

A. Pendidikan keluarga dan masyarakat ............................................................2

B. Hadits-hadits tarbawi tentang pendidikan keluarga dan masyarakat ............4

C. Konsep pendidikan islam menurut Hadits tarbawi .......................................9

BAB III ..................................................................................................................14

PENUTUP ..............................................................................................................14

A. Kesimpulan .................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pendidikan islam dalam teori dan praktik selalu mengalami
perkembangan, hal ini disebabkan karena pendidikan islam secara teoritik
memiliki dasar dan sumber rujukan yang tidak hanya berasal dari nalar, melainkan
juga wahyu. Kombinasi ini adalah ideal, karena memadukan antara potensi akal
manusia dan tuntunan firman Allah Swt. terkait dengan masalah pendidikan.
Kombinasi ini adalah ciri khas pendidikan islam yang tidak dimiliki oleh konsep-
konsep pendidikan pada umumnya yang hanya mengandalkan kekuatan akal dan
budaya manusia.
Diantara hal-hal yang urgen untuk dibahas adalah kajian tentang
lingkungan pendidikan masyarakat. Usaha itu diantaranya dapat kita lakukan
berangkat dari beberapa hadits tarbawi atau hadits yang bertemakan pendidikan.
Dari hadits-hadits tersebut dapat kita gali kembali apa yang tersirat dan terlipat
dalam sabda nabi yang mengandung mukjizat jawami’ul kalim. Ini merupakan
sebuah kebutuhan bagi kita untuk menuju ke arah pendidikan yang lebih baik dan
ideal.

B. Rumusan masalah
a. Bagaimanakah pengertian dari pendidikan keluarga dan masyarakat?
b. Bagaimanakah hadits yang menjelaskan tentang pendidikan keluarga dan
masyarakat?
c. Bagaimanakah konsep pendidikan keluarga dan masyarakat berdasarkan
hadits-hadits tarbawi tersebut?

C. Tujuan pembahasan
a. Membahas pengertian pendidikan keluarga dan masyarakat?
b. Membahas hadits yanga menjelaskan tentang pendidikan keluarga dan
masyarakat?
c. Membahas konsep pendidikan keluarga dan masyarakat berdasarkan hadits-
hadits tarbawi tersebut?

i
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan keluarga dan masyarakat


Istilah keluarga dalam bahasa arab dikenal dengan sebutan al- ilah jamak
dari awaail, al-usroh jamak dari usarun, dan Ahlun jamak dari Ahluuna.1 Ahlun
mempunyai pengertian orang-orang yang mendapatkan hak sesuai dengan hak
mereka adalah orang yang memilikinya. Keluarga merupakan kelompok sosial
pertama di mana individu berada dan akan mempelajari banyak hal penting dan
mendasar melalui pola asuh dan binaan orang tua atau anggota keluarga lainnya.
Keluarga mempunyai tugas yang fundamental dalam mempersiapkan anak bagi
kehidupannya di masa depan. Dasar-dasar prilaku, sikap hidup, dan berbagai
kebiasaan ditanamkan kepada anak sejak dalam lingkungan keluarga.
Pendidikan keluarga merupakan bagian dari sistem pendidikan secara
keseluruhan. Sebagaimana dikatakan oleh Ki Hajar Dewantoro, bahwa keluarga
merupakan salah satu dari tri pusat pendidikan, yang meliputi: keluarga, sekolah,
dan organisasi pemuda. Pendidikan keluarga adalah usaha sadar yang dilakukan
orang tua, karena mereka pada umumnya merasa terpanggil (secara naluriah) untuk
membimbing, mengarahkan, membekali dan mengembangkan pengetahuan nilai
dan keterampilan bagi putra putri mereka sehingga mampu menghadapi tantangan
hidup di masa yang akan datang.
Secara sederhana, masyarakat ( lingkungan sosial) dapat diartikan sebagai
sekelompok individu pada suatu komunitas yang terikat oleh satu kesatuan visi
kebudayaan yang mereka sepakati bersama. Setidaknya ada dua macam bentuk
masyarakat dalam komunitas yang terikat oleh satu kesatuan visi kebudayaan yang
mereka sepakati bersama. Setidaknya ada dau macam bentuk masyarakat dalam
komunitas kehidupan manusia. Pertama, kelompok primer yaitu kelompok dimana
manusia mula-mula berinteraksi dengan orang lain secara langsung, seperti
keluarga dan masyarakat secara umum. Kedua, kelompok sekunder yaitu kelompok
yang dibentuk secara sengaja atas pertimbangan dan kebutuhan tertentu, seperti
perkumpulan profesi, sekolah, partai politik, dan sebagainya. Kesatuan visi ini

1
Munawwir, 2007, Kamus Bahasa Arab, hlm. 416.

2
secara luas kemudian membentuk hubungan yang komunikatif dan dinamis, sesuai
dengan tuntutan perkembangan zamannya.2
Bila penjelasan di atas ditarik dalam dataran pendidikan, eksistensi
masyarakat sangat besar peranan dan pengaruhnya terhadap perkembangan
intelektual dan kepribadian individu peserta didik, Sebab, keberadaan masyarakat
merupakan laboratorium dan sumber makro yang penuh alternative bagi
memperkaya pelaksanaan proses pendidikan. Untuk itu, setiap anggota masyarakat
memiliki peranan dan tanggung jawab moral terhadap terlaksananya proses
pendidikan. Kesemua unsur yang ada dalam masyarakat harus senantiasa terpadu,
bekerja sama dan sekaligus menjadi alat control bagi pelaksanaan pendidikan. Hal
ini disebabkan adanya hubungan dan kepentingan yang timbale balik antara
masyarakat dan pendidikan. Sebab lewat pendidikanlah nilai-nilai kekebudayaan
suatu komunitas masyarakat dapat dipertahankan dan dilestarikan. Disisi lain,
pendidikan merupakan sarana yang paling tepat dan efektif untuk menyatukan visi
dan tujuan suatu komunitas masyarakat yang demikian heterogen dan kompleks.
Untuk itu, pendidikan harus mampu mengakumulasikan seluruh potensi dan nilai
kebudayaan masyarakat dan sistem pendidikannya. Dengan konsep dan upaya
kondusif ini, baik masyarakat maupun lembaga pendidikan akan merasa saling
memiliki dan bertanggung jawab atas berhasil atau tidaknya proses pendidikan,
dalam mensosialisasikan nilai-nilai

Fungsi lembaga pendidikan masyarakat:3

1. Pelengkap (complement)
2. Pengganti (subtitute)
3. Dan Tambahan (supplement) terhadap pendidikan yang diberikan oleh
lingkungan yang lain.

2
Omar Mohammad Al-Thoumy, Falsafah Pendidikan Islam. (Jakarta.: Penerbit Bulan
Bintang. 1979) hal.54

3
Hasan Basri, Filsafat pendidikan islam. (Bandung:Pustaka setia. 2009.)hal.65

3
B. Hadits-hadits tarbawi tentang pendidikan keluarga dan masyarakat
Firman Allah dalam surah at-Tahrim ayat 6 yang berbunyi:

"Wahai orang-orang yang beriman! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-
malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan."(Q.S. At-Tahrim: 6)4
Pada ayat di atas terdapat kata qu anfusakum yang berarti buatlah sesuatu
yang dapat menjadi penghalang datangnya siksaan api neraka dengan cara
menjauhkan perbuatan maksiat.5 Memperkuat diri agar tidak mengikuti hawa nafsu,
dan senantiasa taat menjalankan perintah Allah. Selanjutnya kata wa ahlikum,
maksudnya adalah keluargamu yang terdiri dari istri, anak, saudara, kerabat,
pembantu dan budak, diperintahkan kepada mereka agar menjaganya, dengan cara
memberikan bimbingan, nasehat, dan pendidikan kepada mereka. Perintahkan
mereka untuk melaksanakannya dan membantu mereka dalam merealisasikannya.
Bila kita melihat ada yang berbuat maksiat kepada Allah maka cegah dan larang
mereka. Ini merupakan kewajiban setiap muslim, yaitu mengajarkan kepada orang
yang berada di bawah tanggung jawabnya segala sesuatu yang telah diwajibkan dan
dilarang oleh Allah.6
Makna ayat di atas sejalan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Ahmad dan Abu Dawud dari Saburah bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
‫سبْعِ ِسنِينَ َواض ِْربُو ُه ْم َعلَ ْي َها َو ُه ْم أ َ ْبنَا ُء َع ْش ٍر َوفَ ِ ِّرقُوا بَ ْينَ ُه ْم‬
َ ‫ص ََلةِ َو ُه ْم أ َ ْبنَا ُء‬
َّ ‫ ُم ُروا أ َ ْو ََلدَ ُك ْم ِبال‬.b
‫اجع‬ ِ ‫ض‬َ ‫فِي ْال َم‬
"Suruhlah anakmu melakukan sholat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah
mereka karena mereka meninggalkan sholat ketika berumur sepuluh tahun.

4
Muhammad Shohib, Syaamil Al Qur'an dan Terjemahnya Special for Woman, (Bandung:
PT Syaamil Cipta Media, 2005), hlm. 560.
5
Lihat Mustofa Almuroghi, Tafsir Al Maroghi, hlm. 161.
6
Muhammad Nasib Ar-Rifa'I, Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir,
(Riyadh: Maktabah Ma'arif, 2000), hlm. 752.

4
Dan pisahlah mereka (anak laki-laki dan perempuan) dari tempat tidur.” (H.R.
Abu Dawud)
Kemudian waqud adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalakan
api, yaitu kayu bakar. Sedangkan al-hijarah adalah batu berhala yang biasa
disembah oleh masyarakat jahiliyah.
Dan malaikatun maksudnya, mereka (para malaikat) yang jumlahnya19 dan
bertugas menjaga neraka, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yaitu yang
tabiatnya kasar. Allah telah mencabut dari hati-hati mereka rasa kasih sayang
terhadap orang-orang kafir. "Yang keras" yaitu susunan tubuh mereka sangat keras,
tebal, dan penampilannya yang mengerikan. Wajah-wajah mereka hitam, dan
taring-taring mereka menakutkan. Tidak tersimpan dalam hati masing-masing
mereka rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir, walaupun sebesar biji
dzarrah. Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Mereka tidak
pernah menangguhkan bila datang perintah dari Allah walaupun sekejap mata,
padahal mereka bisa saja melakukan hal itu dan mereka tidak mengenal lelah.
Mereka itulah para malaikat Zabaniah, kita berlindung kepada Allah dari mereka.
Ghiladzun maksudnya adalah hati yang keras, hati yang tidak memiliki rasa belas
kasihan apabila ada orang yang meminta dikasihani. Sementara syidadun artinya
memiliki kekuatan yang tidak dapat dikalahkan.7
Lebih lanjut al-Maraghi mengemukakan maksud ayat tersebut (yaa ayyuhal
ladzina amanu ... al-hijarah), dengan keterangan: Hai orang-orang yang
membenarkan adanya Allah dan Rasul-Nya hendaknya sebagian yang satu dapat
menjelaskan ke sebagian yang lain tentang keharusan menjaga diri dari api neraka
dan menolaknya, karena yang demikian itu merupakan bentuk ketaatan kepada
Allah dan mengikuti segala perintah-Nya.8 Pengertian pentingnya membina
keluarga agar terhindar dari siksaan api neraka, tidak hanya semata-mata diartikan
api neraka yang ada di akhirat nanti, melainkan termasuk pula berbagai masalah
dan bencana yang menyedihkan, merugikan dan merusak citra pribadi seseorang.
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

7
Ibid., hlm. 752.
8
Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002),
Cet. 1, hlm. 199.

5
‫أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك‬
“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai
pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau
berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu
kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

‫ قال رسول هللا صلى‬:‫ قال‬,‫ مولى عبد هللا بن عامر‬,‫ عن أبي سعيد‬,‫ أخبرنا داود بن قيس‬,‫حدثنا عبد الرزاق‬
‫ وكونوا‬,‫ وَل يبع أحدكم على بيع أخيه‬,‫ وَل تدابروا‬,‫ وَل تباغضوا‬,‫ وَل تناجشوا‬,‫ "َل تحاسدوا‬:‫هللا عليه وسلم‬
‫ (وأشار بيده إلى صدره‬- ‫ التِّقوى ههنا‬,‫ َل يظلمه وَل يخذله وَليحقره‬,‫ المسلم أخو المسلم‬,‫عباد هللا إخوانا‬
,‫ دمه‬:‫ كل المسلم على المسلم حرام‬,‫ حسب امرئ مسلم من الشر أن يحقر أخاه المسلم‬. - ) ‫ثَلث مرات‬
.‫ وعرضه" – أحمد‬,‫وماله‬

Artinya: Janganlah saling menghasud, janganlah saling mencari kessalahan


,janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, janganlah salah
seorang dari kalian menjual atas dagangan saudaranya, jadilah kalian hamba-
hamba allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara muslim yang lain,
janganlah dia mendzhaliminya, janganlah dia merendahkannya, janganlah dia
menghinanya, sesungguhnya taqwa itu ada di sini(seraya nabi memberi isyarat
dengan meletakkan tangannya di dadanya sebanyak tiga kali), telah cukup
keburukan seorang muslim yang menghina saudara muslimnya, setiap muslim
diharamkan atas muslim lainnya, darahnya, hartanya dan harga dirinya. (H.R.
Ahmad)

Penjelasan :9

 Keadaan dalam suatu masyarakat sangat dinamis dan manusia mempunyai


keluwesan sifat dan selalu berubah, sehingga sering sekali terjadi dinamika
sosial yang perlu untuk diperhatikan. Hal ini karena kesadaran adanya
perbedaan perseorangan diantara manusia.

9
Muhammad Imarah, Islam dan Keamanan Sosial. (Jakarta.Gema Insani
Press. 1999.)hal.231

6
 Perlunya menjunjung persatuan dan kesatuan antar individu dan beberapa
kelompok serta lapisan sosial. Serta mengusahakan untuk menghindarkan
terjadinya konflik dan ketidak stabilan.
 Untuk menciptakan lingkungan pendidikan masyarakat yang baik, maka
perlu adanya karakter yang baik dari setiap individu. Hal ini diisyaratkan
dengan redaksi ‫ التِّقوى ههنا‬. hendaknya setiap iindividu menghormati individu
yang lain dengan berusaha menjaga hubungan yang baik. Maka haruslah
menghindari hasud (iri, dengki), saling curiga, saling berpaling,
mengganggu hak orang lain.
 Sebaliknya seharusnya masyarakat islam punya ciri khas terasendiri yang
harus saling menyayangi, saling menghormati, dan menghargai hak orang
lain. Terutama yang menyangkut hak asasi, yaitu harta, nyawa dan nama
baik.

‫ي‬
ِّ ‫حدثنا خالد بن يحيى قال حدثنا سفيان عن أبي بردة بن عبد هللا بن أبي بردة عنجده عن أبي موسى عن النب‬
.‫ي‬
ِّ ‫ البخار‬- )‫صلى هللا عليه وسلم قال إن المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا – (وشبك أصابعه‬

Artinya
Sesungguhnya Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang
saling menguatkan satu sama lain, dan beliau menyilangkan (menyatukan) jari-
jarinya. (H.R. Al bukhari)

Penjelasan :10

 Semua unsur dalam masyarakat harus menciptakan situasi yang kondusif


dan saling mendukung dalam menciptakan suasana berpendidikan. Hal itu
dikarenakan negara yang aman adalah jaminan adanya keamanan sosial.
 Kepercayaan bahwa masyarakat itu sekumpulan individu dan kelompok
nyang diikat oleh kesatuan tanah air, kebudayaan dan agama
 Kepercayaan bahwa manusia mempunyai motivasi dan kebutuhan, maka
sebagai anggota masyarakat kita harus behu-membahu mewujudkan cita-
cita bersama.

10
Ibid.hal.232

7
 Setiap individu dalam m masyarakat harus menmahami hak dan
kewajbannya masing-masing.

‫ كان رسول هللا صلى هللا عليه‬:‫ أنا جعفر يعني بن سليمان عن ثابت عن أنس قال‬:‫أخبرنا قتيبة بن سعيد قال‬
‫وسلم يزور األنصار فيسلم علي صبيانهم ويمسح برؤوسهم ويدعو لهم – النسائي‬

Artinya

Rasulullah saw mengunjungi kaum Anshar, lalu beliau mengucapkan salam kepada
anak-anak mereka, lalu mengusap kepala mereka dan mendo’akan mereka (H.R.
an-Nasai)
Penjelasan:

Dalam masyarakat terjadi asimilasi budaya, yaitu pertemuan antara budaya dalam
masyarakat itu sendiri dan budaya dari luar. Maka yang harus dilakukan adalah
prinsip ‫المحافظة على القديم الصالح واألخذ بالجديد األصلح‬, yaitu memelihara budaya lama
yang baik dan mengambil budaya baru yang tentunya lebih baik.

 Dalam suatu masyarakat ada dua golongan, yaitu golongan dari masyarakat
itu sendiri dan golongan yang sengaja masuk ke dalam masyarakat itu.
 Dalam bermasyarakat, kita harus senantiasa membiasakan untuk menjalin
tali silaturahim, tawadlu’ atau memperlakukan seseorang sesuai dengan
keadaannya, bersikap lemah lembut, dan mengucapkan salam. Karena
mengucapkan salam kepada sesam saudara muslim adalah bagian bentuk
penghormatan untuknya

‫حدثنا سعيد بن الربيع حدثنا األشعث بن سليم قال سمعت معاوية بن سويد سمعت البراء بن عازب رضي هللا‬
‫عنهما قال امرنا النبي صلى هللا عليه وسلم بسبع ونهانا بسبع فذكر عيادة المريض واتباع الجنائز وتشميط‬
‫العاطش ورد السَلم ونصر المظلوم وإجابة الداعي وإبرار المقسم – رواه البخاري‬

Artinya:

Rasulullah saw memerintahkan kita dengan tujuh hal, dan melarang kita dari tujuh
hal yang lain, lalu nabi menuturkan menjenguk orang yang sedang sakit,
mengantarkan jenazah, mendo’akan orang yang bersin, menjawab salam,

8
menolong orang yang didhalimi, mendatangi undangan dan membebaskan
tanggungan orang yang bersumpah. (H.R. Al Bukhari)

Penjelasan: 11

 Kepercayaan bahwa segala sesuatu yang menuju kesejahteraan bersama,


keadilan dan kemaslahatan diantara manusia termasuk diantara tujuan-
tujuan syari’at islam

C. Konsep Pendidikan islam menurut Hadits tarbawi


Dari perluasan dilalah dari hadits-hadits diatas membuktikan bahwa islam
mempunyai keistimewaan dalam dunia pendidikan, tidak terkecuali dalam
perhatiannya terhadap lingkungan pendidikan masyarakat. Perpaduan antara wahyu
dan akal yang diadopsi oleh islam merupakan keistimewaan yang tak dapat disamai
oleh konsep pendidikan lainnya.12
Mungkin dalam beberapa aspek, konsep islam tentang hal ini ada
mempunyai beberapa kemiripan dengan yang ada dalam teori-teori pendidikan pada
umumnya. Akan tetapi sekali lagi keistimewaan islam adalah ruhul Islam itu
sendiri. Yang bermula dari wahyu dan kemudian diajarkan kepada manusia melalui
Nabi Muhammad saw.
Keistimewaan itu bukanlah hanya sekedar klaim-klaim yang tak berdasar.
Sebaliknya, keistimewaan itu terungkap dalam beberapa pandangan pemikir islam.
Mereka bukan membentuk sesuatu yang dibuat-buat, akan tetapi dari hasil
penggalian inspirasi dari warisan peradaban islam yang adiluhur.
Konsep lingkungan pendidikan menurut islam tidak jauh dari pandangan islam
sendiri terhadap masyarakat. Diantaranya:

1. Kepercayaan bahwa masyarakat itu sekumpulan individu dan kelompok yang


diikat oleh kesatuan tanah air, kebudayaan dan agama

11
Ibid.hal.234
12
Toto Suharto, Pendidikan Berbasis Masyarakat. (Yogyakarta: LKiS. Yogyakarta. 2012)
hal.109

9
2. Kepercayaan bahwa masyarakat islam mempunyai identitas khas dan ciri-ciri
tersendiri

Untuk lebih jelasnya, ciri-ciri masyarakat islam sebagai berikut:13

a. Prinsip tauhid yang seperti revolusi yang meleburkan kemusyrikan.


Tauhid berperan memperbaiki kedudukan masyarakat dari segi agama
dan masyarakat.
b. Agama berada dalam proporsi tertinggi.
c. Penilaian tinggi terhadapa akhlak dan tata susila. Segala prilaku manusia
ditundukkan pada prinsip dan metode yang sesuai dengan
perikemanusiaan.
d. Perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan.
e. Menghormati dan menjaga kehormatan manusia dengan tanpa
membedakan warna, bangsa, agama, harta ataupun keturunan. Ia
menyeimbangkan antara hak pribadi dan masyarakat
f. Keluarga dan kehidupan berkeluarga mendapat perhatian yang besar. Ia
berusaha menguatkan ikatan dan binaan institusi keluarga
g. Masyarakat islam adalah masyarakat yang dinamis.
h. Dunia kerja mendapat perhatian yang sungguh-sungguh sebagai sumber
hak dan obligasinya.
i. Nilai dan peranan harta diperuntukkan untuk menjaga kehormatan
manusia dan membangun masyarakat.
j. Kekuatan dan keteguhan dibimbing oleh agama, akhlak, ukuran
kebenaran, keadilan, kasih sayang dan perikemanusiaan.
k. Bersifat terbuka, yang dapat menerima pengaruh yang baik dan ilmu
penghetahuan dari masyarakat yang lain dengan memegang teguh prinsip:
i. ‫المحافظة على القديم الصالح واألخذ بالجديد األصلح‬
l. Masyarakat islam bersifat kemanusiaan.
3. Kepercayaan bahwa dasar pembinaan masyarakat islam adalah akidah
4. epercayaan bahwa agama itu akidah, ibadah dan mu’amalah

13
Yusuf , A. Muri. Pengantar ilmu pendidikan. (Jakarta :Ghalia Ind\Onesia. 1982.)hal.113

10
5. Kepercayaan bahwa ilmu adalah dasar terbaik bagi kemajuan masyarakat,
sesudah agama
6. Kepercayaan bahwa masyarakat selalu berubah (dinamis)
7. Kepercayaan pada pentingnya individu dalam masyarakat
8. Kepercayaan pada pentingnya keluarga dalam masyarakat
9. Kepercayaan bahwa segala sesuatu yang menuju kesejahteraan bersama,
keadilan dan kemaslahatan diantara manusia termasuk diantara tujuan-tujuan
syari’at islam

Segala sesuatu yang diajarkan islam mengarah pada hal itu. Bahkan dalam
ibadah pun, terdapat dua pendapat terkait tujuannya, sebagian ulama’ mengatakan
bahwa ibadah sekedar bertujuan mencari pahala, sedangkan menurut jumhur
ulama’, disamping buntuk mencari pahala, ibadah juga mengandung hikmah
tersendiri yang terkandung didalamnya.
Dalam pandangan al Ghazali, memelihara maslahat manusia termasuk
ibadah, bahkan ia termasuk dalam kategori ibadah yang paling mulia. Sabda
Rasulullah s.a.w.:

‫ وأحبهم إلى هللا أنفعهم لعياله‬،‫الخلق كلهم عيال هللا‬

Makhluk-makhluk ini semuanya adalah “keluarga” Allah, dan yang paling dicintai
Allah adalah yang paling bermanfaat kepada “keluargaNya”

Untuk mengawal segala sesuatunya agar mengarah menuju kemaslahatan,


maka perlu adanya jaminan keamanan sosial. Keamanan sosial adalah ketenangan
yang menghilangkan kegelisahan dan ketakutan dari diri manusia baik individu
maupun kelompok, dalam seluruh kehidupan duniawi, bahkan juga dalam
kehidupan akhirat, setelah kehidupan ini.sebagaimana keamanan sosial secara
umum mengharuskan adanya hal-hal berikut:14

a. Keamanan manusia atas penghidupannya dalam kadar yang dapat


mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

14
Tirtarahardja. Umar & S. L. La sulo.. pengantar pendidikan. Jakarta : (Rineka cipta. 2005)hal.95

11
b. Keamanan atas dirinya, kebebasannya, dan kehormatannya, yang telah
diberikan oleh penciptanya, Allah SWT, dan tuntutan bagi kehormatan dan
kemuliaan itu, seperti keadilan dan persamaan
c. Keamanan atas kehidupan privasi jiwa manusia yang memberikannya
kebahagiaan dan ketentraman dalam lingkup pribadinya, seperti keluarga,
keturunan, dan nama baik.
d. Keamanan atas agamanya yang merupakan rambu-rambu petunjuk jalan
dan tujuan manusia dalam hidup ini.
Sebagaimana keamanan sosial mengharuskan untuk mewujudkan hal-hal
primer ini dan yang sejenis dengannya, manusia juga—yang merupakan
pihak yang dituju—dalam mewujudkan unsur-unsur keamanan sosialnya
harus memiliki “wadah” yang menaungi dan menjega unsur-unsur
keamanan sosial itu.15

“wadah” itu adalah negara, yang tanpa keberadan dan keamanannya, tidak
ada nilainya pembicaraan tentang macam keamanan sosial apapun. Bisa
disimpulkan bahwa negara yang aman adalah wadah bagi keamanan sosial dalam
masyarakat.

Metode yang digunakan dalam pendidikan keluarga diantaranya adalah


dengan menerapkan kedisiplinan. Disiplin adalah Kepatuhan untuk menghormati
dan melaksanakan akan keputusan pemerintah atau peraturan yang berlaku. Dengan
kata lain disiplin merupakan sikap untuk mentaati peraturan dan ketentuan yang
telah ditetapkan. Disiplin dalam Islam sangat dianjurkan, misalnya dalam
menjalankan sholat harus tepat waktu. Disiplin harus disertai adanya rasa kasih
sayang yang tulus dan tidak menaruh rasa benci serta memaksakan.16
1. Fungsi dan Kedudukan Disiplin dalam Pendidikan Islam
Pada prinsipnya disiplin merupakan suatu tindakan yang sifatnya agak
memaksa yang secara sengaja diberikan kepada anak didik supaya mengarah pada
perbaikan. Dalam Islam menerapkan kedisiplinan adalah sebagai alat untuk
mendidik yang bertujuan agar anak didik mau membiasakan diri untuk mengikuti

15
Ibid.hal.96
16
Srifariyati, Pendidikan Keluarga dalam Al-Qur'an…, hlm. 234.

12
pola dan tata cara yang benar. Dan mendidik anak agar berhenti dari aktivitas yang
dapat merugikan diri sendiri.
2. Macam dan Bentuk Kedisiplinan dalam Pendidikan Keluarga
 Disiplin dalam bentuk isyarat. Yakni disiplin yang diberikan dalam bentuk
ekspresi anggota badan
 Disiplin dalam bentuk perkataan. Yakni berupa teguran, peringatan, ancaman,
nasehat dan perkataan agak keras.
 Disiplin dalam bentuk perbuatan. Yakni disiplin dengan memberikan tugas-
tugas terhadap anak yang melanggar tata tertib atau aturan.17
3. Penerapan Kedisiplinan dalam Keluarga
Menurut Islam, anak yang melakukan kesalahan hendaklah didisiplinkan
dengan penuh kasih sayang, bukan memaksakan anak tersebut. Pemberian
kedisiplinan hanyalah salah satu cara di antara berbagai cara yang dapat digunakan
dalam mewujudkan apa yang menjadi harapan pendidikan. Pendidikan yang
dilakukan ayah dan ibu serta bahasa yang digunakan sehari-hari di rumah sangat
mempengaruhi keberhasilan belajar anak. Imam Barnadib sebagaimana dikutip
oleh Chabib Toha menyatakan bahwa kelompok anak-anak yang IQ-nya kurang, di
situlah perhatian orang tua sangat berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.18
Kepemimpinan sebagai cara mendidik anak yang baik adalah dengan
menggunakan cara demokratis, tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai yang
universal dan absolut terutama yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam.
Adakalanya mengasuh anak kadang diperlakukan secara otoriter dan kadang
diperlakukan secara laisses fire (menuruti kehendak anak). Dalam hal ini
kepemimpinan yang tepat adalah kepemimpinan yang demokrasi, namun ketiga-
tiganya dapat diterapkan dalam mengasuh anak, tetapi orang tua harus bisa
menempatkan ketiga pola tersebut pada saat yang tepat.19

17
Ibid., hlm. 235.
18
Chabib Toha, Kapita Selakta Pendidikan Islam , (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996),
hlm. 113.
19
Srifariyati, Pendidikan Keluarga dalam Al-Qur'an…, hlm. 236.

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan keluarga adalah usaha sadar yang dilakukan orang tua, karena
mereka pada umumnya merasa terpanggil (secara naluriah) untuk membimbing,
mengarahkan, membekali dan mengembangkan pengetahuan nilai dan
keterampilan bagi putra putri mereka sehingga mampu menghadapi tantangan
hidup di masa yang akan datang.
Dasar Pendidikan Keluarga sebagaimana dalam QS. At-Tahrim ayat 6 yang
mempunyai pengertian bahwa pentingnya membina keluarga agar terhindar dari
siksaan api neraka, tidak hanya semata-mata diartikan api neraka yang ada di
akhirat nanti, melainkan termasuk pula berbagai masalah dan bencana yang
menyedihkan, merugikan dan merusak citra pribadi seseorang. Tujuan pendidikan
orang tua kepada anaknya adalah: Memberikan dasar pendidikan budi pekerti,
pendidikan sosial, tata cara bergaul yang baik terhadap lingkungan sekitarnya, dasar
pendidikan, pembentukan kebiasaan, dan dasar pendidikan kewarga-negaraan.
Metode yang digunakan dalam pendidikan keluarga adalah dengan
menerapkan kedisiplinan. Disiplin adalah Kepatuhan untuk menghormati dan
melaksanakan akan keputusan pemerintah atau peraturan yang berlaku.
Beberapa aspek dalam pendidikan tersebut adalah: Pendidikan ibadah,
khususnya pendidikan shalat, pokok-pokok agama Islam dan membaca al-Qur'an,
Pendidikan akhlaqul karimah, dan Pendidikan Aqidah Islamiyah.
Lingkungan pendidikan masyarakat adalah suatu lingkungan dimana ada
sekelompok masyarakat yang bnayak yang di dalamnya berlaku suatu kesatuan visi

14
yang telah mereka sepakati bersama. Lingkungan pendidikan masyarakat lebih luas
dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Oleh karena itu pendidikan
dalam lingkungan masyarakat dapat berfungsi sebagai pelengkap (complement),
pengganti(subtitute) dan tambahan (supplement) terhadap pendidikan yang
diberikan oleh lingkungan yang lain.

Konsep lingkungan pendidikan islam sesuai dengan kedudukan masyarakat


dalam perspektif filsafat pendidikan Islam yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Masyarakat islam adalah guru bagi semua manusia yang memiliki kemauan
mengambil pelajaran dar i setiap yang terjadi di dalamnya.
b. Masyarakat adalah subyek yang menilai keberhasilan pendidikan.
c. Masyarakat adalah tujuan bagi semua anak didik yang telah belajar di
berbagai lingkungan.
d. Masyarakat adalah ujian yang paling sulit bagi aplikasi-aplikasi pendidikan
e. Masyarakat adalah cermin keberhasilan atau kegagalan dunia pendidikan
f. Masyarakat adalah etika dan estetika pendidikan, karena norma-norma
individu berproses menjadi norma sosial dan norma sosial yang disepakati
dalam masyarakat merupakan puncak estetika kehidupan. Tanpa ada norma
sosial yang disepakati, sesungguhnya kehidupan tidak indah.

B. Saran
Kami sangat menyadari dalam pembuatan makalah ini masih sangat
banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sehingga makalah yang akan
datang menjadi lebih baik lagi. Kami harap makalah ini bisa bermanfaat bagi
kita semua serta menambah pengetahuan kita.

15
DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1993. Tafsir al- Maraghi, Terj. Bahrun Abu Bakar
dkk. Semarang: CV. Toha Putra.
Ar-Rifa'I, Muhammad Nasib. 2000. Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir
Ibnu Katsir. Riyadh: Maktabah Ma'arif.
Darwis, Djamaluddin. 2006. Dinamika Pendidikan Islam: Sejarah Ragam dan
Kelembagaan. Semarang: Rasail.
Marno & M. Idris. 2009. Strategi & Metode Pengajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media.
Mujib, Abdul. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. ke- 2. Jakarta: Kencana.
Munawwir. 2007. Kamus Bahasa Arab.
Nata, Abuddin. 2002. Tafsir Ayat-ayat Pendidikan. Cet. I. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Nurwadjah, Ahmad. 2007. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan; Hati Yang Selamat
Hingga Kisah Luqman. Bandung: PT Marja.
Shihab, M. Quraisy. 2006. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Shohib, Muhammad. 2005. Syaamil Al Qur'an dan Terjemahnya Special for
Woman. Bandung: PT Syaamil Cipta Media.
Srifariyati. 2016. Pendidikan Keluarga dalam Al-Qur'an (Kajian Tafsir Tematik).
Jurnal Madaniyah, Volume 2 Edisi XI Agustus.
Thoha, Chabib. 1996. Kapita Selakta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

16