Anda di halaman 1dari 62

i

HALAMAN SAMPUL
PROPOSAL

HUBUNGAN ALUR PROSES PELAYANAN KESEHATAN DI ADMISI

UNIT RAWAT INAP TERHADAP KEMUDAHAN AKSES PELAYANAN

KESEHATAN DI RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL MAKASSAR

TAHUN 2019

MUHAMMAD JAFRAN FATTA

153145261009

PROGRAM STUDI S1 ADMINISTRASI RUMAH SAKIT

FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA

UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR


ii

PROPOSAL

HUBUNGAN ALUR PROSES PELAYANAN KESEHATAN DI ADMISI

UNIT RAWAT INAP TERHADAP KEMUDAHAN AKSES PELAYANAN

KESEHATAN DI RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL MAKASSAR

TAHUN 2019

MUHAMMAD JAFRAN FATTA

153145261009

PROGRAM STUDI S1 ADMINISTRASI RUMAH SAKIT

FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA

UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR

2019
iii

HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal dengan judul:


HUBUNGAN ALUR PROSES PELAYANAN KESEHATAN DI ADMISI

UNIT RAWAT INAP TERHADAP KEMUDAHAN AKSES PELAYANAN

KESEHATAN DI RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL MAKASSAR 2019

MUHAMMAD JAFRAN FATTA

153145261009

Telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan


Tim Penguji Proposal
Fakultas Farmasi, Teknologi Rumah Sakit dan Informatika
Universitas Megarezky
pada hari jum’at, tanggal 05 Juli 2019

Pembimbing I Pembimbing II

(Dewi Astuti, SKM., MARS) (Era Pratiwi, SKM., MARS)


NIDN. 09 140786 01 NIDN.

Mengetahui,
Ketua Prodi S1 Administrasi Rumah Sakit
Universitas Megarezky Makassar

(Dewi Astuti, SKM., MARS)


NIDN. 09 140786 01
iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga, sehingga penilis dapat

menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini, yang merupakan salah satu

persyaratan untuk mencapai gelar ahli Sarjana pada Program Studi S1 Administarsi

Rumah Sakit Fakultas Farmasi, Teknologi Rumah Sakit dan Informatika

Universitas Megarezky.

Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan,

mungkin masih banyak kekurangan atau kelemahan baik dari segi penyususnan

maupun dari pandangan pengetahuan, oleh karena itu penulis mengharap adanya

saran, pendapat atau kritik yang bersifat koonstruktif, demi kesempurnaan

penulisan Skripsi ini.

Selama proses penyelesaian skripsi ini banyak kesulitan dan hambatan yang

penulis hadapi, namun atas bantuan bimbingan dan kerjasama dari semua pihak

yang terlibat di dalamnya sehingga hambatan dan kesulitan tersebut dapat teratasi

dengan baik. Untuk itu perkenankanlah penulis dengan segala hormat dan

kerendahan hati mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar besarnya

kepada Ibu Dewi Astuti, SKM., MARS selaku Pembimbing I dan Ibu Era Pratiwi,

SKM., MARS selaku Pembimbing II dengan penuh kesabaran, dan keikhlasan

meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memberikan perhatian, bimbingan

dan arahan kepada penulis, dan terima kasih juga kepada Ibu Mega Marindrawati

Rochka, SKM.,M.Kes selaku penguji.

Tak lupa pula penulis ucapkan terimakasi kepada:


v

1. Ibu Hj. Suryani, SH., MH, selaku Ketua YPI Mega Rezky Makassar.

2. Bapak Prof. Dr. dr. H. M. Rusli Ngatimin, MPH, selaku Rektor Universitas

Megaresky.

3. Bapak Dr. Jangga, S.Si.,M. Kes.,Apt, selaku Dekan Fakultas Farmasi, Tekologi

Rumah Sakit dan Informatika.

4. Ibu Dewi Astuti, SKM.,MARS, selaku Ketua Program Studi S1 Administrasi

Rumah Sakit.

5. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Universitas Megarezky yang telah memberikan

kemudahan bagi penulis dalam menyelesaikan pendidikan ini.

6. Bapak Direktur Rumah Sakit Islam Faisal Makassar yang telah memberikan

izin untuk melakukan penelitian.

7. Rekan - rekan mahasiswa Program Studi S1 Administrasi Rumah Sakit Fakultas

Farmasi, Tekologi Rumah Sakit dan Informatika angkatan pertama dan yang

tak dapat penuli sebutkan satu persatu yang secara langsung maupun tidak

langsung telah memberikan dukungan selama perkuliahan sampai

menyelesaikan pendidikan.

8. Terkhusus penulis ucapkan kepada ayahanda Latif Patta dan Ibunda Sajiba Hi.

Yunus serta seluruh keluarga besar penulis atas segala perhatian, pengorbanan,

kasih sayang serta doa restunya yang luar biasa saat ini.

Semoga semua bantuan dari semjua pihak mendapatkan pahala yang sebesar -

besarnya dari Allah SWT, dan hasil penelitian ini dapat menjadi bacaan yang

bermanfaat Aamiin!

Makassar, Juli 2019


Muhammad Jafran Fatta
vi

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................................................ i

HALAMAN JUDUL.............................................. Error! Bookmark not defined.

HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................... iii

KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv

DAFTAR ISI .......................................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ................................................................................................ viii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. ix

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 11

A. Latar Belakang ........................................................................................... 11

B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 14

C. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 14

D. Manfaat Penelitian ..................................................................................... 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 18

A. Teori Tentang Variabel ............................... Error! Bookmark not defined.

B. Kerangka Konsep ....................................................................................... 44

C. Variabel/Focus Penelitian .......................................................................... 51

D. Defenisi Operasional ................................... Error! Bookmark not defined.

E. Kriteria Objektif .......................................... Error! Bookmark not defined.


vii

F. Hipotesis..................................................................................................... 52

BAB III METODE PENELITIAN....................................................................... 53

A. Jenis Penelitian ........................................................................................... 53

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian .................................................................... 53

C. Alat Ukur Penelitian ................................................................................... 53

D. Populasi dan Sample .................................................................................. 54

E. Teknik Pengolahan Data ............................................................................ 55

F. Pengumpulan dan Analisa Data ................................................................. 56

G. Etika Penelitian .......................................................................................... 58

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 59

LAMPIRAN .......................................................................................................... 61
viii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Definisi Operasional ............................................................................. 29

Tabel 3.1 Jumlah Perawatan Rawat Inap RSI Faisal Makassar 2019 ................... 35

Tabel 3.2 Perhitungan Jumlah Sampel ................................................................. 36


ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Integrasi Sistem Informasi Rumah Sakit ......................................... 13

Gambar 2.2 Tampilan Softwere Sistem Informasi Rumah Sakit ......................... 14

Gambar 2.3 Integrasi SIRS Dengan Unit Atau Manajemen Terkait ................... 16
x

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner ........................................................................................... 39
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan diarahkan pada peningkatan kualitas sumber
daya manusia, kualitas kehidupan dan angka harapan hidup manusia,
peningkatan kesehatan keluarga dan masyarakat, dan mempertinggi
kesadaran masyarakat terhadap pentingnya untuk hidup sehat (GBHN
tahun 1993). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan modal, diantaranya
adalah pembangunan di bidang kesehatan yang berupa pembangunan sarana
dan fasilitas pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. (UU No. 23/1992)
Dalam Majalah Hospital News (6, 2005) disebutkan bahwa sarana
kesehatan yang menempati posisi puncak adalah rumah sakit. Rumah sakit
sebagai salah satu organisasi pelayanan kesehatan sudah seharusnya dapat
memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik serta terjangkau oleh
masyarakat dalam mengupayakan penyembuhan dan pemulihan yang serasi
dengan upaya peningkatan dan pencegahan. Definisi rumah sakit itu sendiri
adalah suatu bagian menyeluruh dari organisasi sosial dan medis berfungsi
memberikan pelayanan kesehatan yang lengkap kepada masyarakat, baik
kuratif maupun rehabilitatif, dimana pelayanan kesehatan menjangkau
pelayanan keluarga dan lingkungan, rumah sakit juga merupakan pusat latihan
tenaga kesehatan, serta untuk penelitian biososial. (WHO (1979) dikutip dari
Trisnantoro (2005))
Dengan adanya peningkatan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang
semakin hari semakin meningkat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan,
maka kebutuhan akan peningkatan pelayanan kesehatan juga meningkat.
Namun hingga saat ini, rumah sakit masih belum dapat memberikan pelayanan
kesehatan yang bermutu bagi masyarakat, hal masih ini terlihat dari banyaknya
keluhan pasien terhadap pelayanan kesehatan di rumah sakit terutama
12

pelayanan rawat inap (Wasisto, 1994). Hal ini mudah dipahami karena apabila
pelayanan kesehatan yang bermutu dapat diselenggarakan di rumah sakit,
bukan saja akan meningkatkan efektifitas pelayanan akan tetapi sekaligus
juga dapat meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Di rumah sakit, yang didalamnya menyelenggarakan pelayanan rawat
inap sudah seharusnya memerlukan satu unit yang harus dapat mengelola
secara sistematis segala kebutuhan pasien, mulai dari penerimaan pasien,
penempatan ruang perawatan pasien, sampai saat pasien pulang, unit tersebut
adalah unit admisi. Unit admisi ini merupakan salah satu unit yang dapat
membantu meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan kesehatan di
rumah sakit. Karena unit admisi dianggap unit yang paling mengetahui tentang
informasi pasien. Kesalahan dan kemacetan atau kekurang lengkapan
informasi tentang pasien akan mempengaruhi jalannya proses administrasi
pasien, yang pada akhirnya memberikan dampak yang merugikan kepada pihak
pasien maupun rumah sakit itu sendiri.
Dalam penelitian ini dipilih Rumah Sakit Umum Islam Faisal yang
merupakan Rumah Sakit Umum Swasta dengan model Rumah Sakit tipe B.
Berdasarkan dengan data kunjungan rawat inap tiga tahun terakhir yaitu tahun
2016 - 2018. Dimulai pada tahun 2016 jumlah kunjungan rawat inap sebesar
7096 jiwa. Pada tahun 2017 jumlah kunjungan rawat inap sebanyak 9237 jiwa
sedangkan pada tahun 2018 jumlah kunjugan rawat inap meningkat di
nyatakan dalam BOR yaitu pada tahun 2016 jumlah kunjungan rawat inap di
Rumah Sakit Islam Faisal sebanyak 62,43 jiwa, pada tahun 2017 meningkat
sebanyak 69,03 jiwa, sedangkan pada tahun 2018 jumlah kunjungan pasien
meningkat derastis sebanyak 73,53 jiwa. RS Islam Faisal merupakan salah satu
rumah sakit yang mencoba meningkatkan pelayanannya. Dibagian depan
rumah sakit terdapat bagian admisi yang bertanggung jawab dalam proses
penerimaan pasien rawat inap.
Di RSU Islam Faisal peran unit admisi rawat inap tidak kalah
pentingnya dalam menunjang peningkatan efektifitas dan efisiensi pelayanan
kesehatan, terutama dalam mempercepat pemberian pelayanan bagi pasien
13

yang akan dirawat. Di RSU Islam Faisal, unit admisi rawat inap dianggap
sebagai ujung tombak dari arus pasien di rumah sakit. Hal ini tampak melalui
peran admisi yang tidak hanya sebagai pengendalian penerimaan pasien saja,
tetapi juga sebagi pusat informasi yang dibutuhkan pasien saat di rumah sakit.
Di RS Islam Faisal, mengenai kualitas pelayanan di bagian admisi
rawat inap ini belum pernah diukur, hal ini dikarenakan bagian mutu rumah
sakit belum berjalan optimal. Namun penelitian mengenai pelayananan admisi
rawat inap di RS Islam Faisal pernah dilakukan oleh Dian pada tahun 2016
N=350 orang. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan persentase kualitas
pelayanan di bagian admisi rawat inap pada tahun 2016 :
Tabel 1.1
Persentase Kualitas Pelayanan Di Bagian Admisi Rawat Inap
RSU Islam Faisal
Pelayanan Di Unit Admisi Rawat Inap Frekuensi Persentase
Baik 154 44%
Kurang Baik 196 56%
Total 350 100%
Peneliti: Dian (2016)
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa persentase pasien yang
mengatakan bahwa pelayanan pasien di admisi rawat inap di di RS Islam
Faisal baik sebesar 44%, sedangkan persentase pasien yang mengatakan
bahwa pelayanan pasien di admisi rawat inap di RS Islam Faisal kurang baik
sebesar 56%.
Selain itu dari hasil observasi dapat diketahui bahwa jumlah pasien
masuk yang akan dirawat perhari dari poli dan UGD pada tahun 2017 sebesar
20 – 35 paien sedangkan pada tahun 2018 meningkat mencapai 40 - 60 pasien.
Sedangkan jumlah pasien yang waiting list (tidak mendapatkan kamar)
mencapai 15 - 20 pasien/hari.
Hal ini menunjukan bahwa pelayanan pasien di bagian admisi rawat
inap masih belum berjalan optimal sesuai yang diharapkan oleh rumah sakit
14

sehingga dapat menyebabkan pelayanan kepada pasien menjadi terhambat dan


menyebabkan kualitas pelayanan di admisi rawat inap menjadi menurun.
Berdasarkan informasi diatas, penulis ingin menganalisa mengenai
hubungan alur proses pelayanan kesehatan di admisi unit rawat inap terhadap
kemudahan akses pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar
tahun 2019. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui penyebab
belum optimalnya pelaksanaan pelayanan pasien di admisi rawat inap untuk
selanjutnya kualitas pelayanan pasien di admisi rawat inap dapat ditingkatkan
agar pelayanan pasien di admisi rawat inap menjadi lebih efisien dan efektif.

B. Rumusan Masalah
Dari data yang ditemukan di latar belakang yang telah disebutkan,
bahwa masih belum optimalnya pelayanan pasien di Admisi Rawat Inap
RS Islam Faisal ini, membuat penulis tertarik untuk meneliti mengenai
penyebab belum optimalnya pelaksanaan pelayanan pasien di Unit Admisi
Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal pada bulan Juli – Agustus 2019.
Pertanyaan Penelitian:
1. Bagaimana pelaksanaan pelayanan pasien di Unit Admisi Rawat Inap
Rumah Sakit Islam Faisal?
2. Bagaimana gambaran mengenai sumber daya manusia di Unit Admisi
Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal?
3. Bagaimana gambaran mengenai SOP (Standard Operational Procedure) di
Unit Admisi Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal?
4. Bagaimana gambaran mengenai cara pembayaran pasien di Unit Admisi
Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal?
5. Bagaimana gambaran mengenai tahap pra admisi di Unit Admisi Rawat
Inap Rumah Sakit Islam Faisal?
6. Bagaimana gambaran mengenai tahap admisi di Unit Admisi Rawat Inap
Rumah Sakit Islam Faisal?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
15

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan alur proses


pelayanan kesehatan di admisi unit rawat inap terhadap kemudahan akses
pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar tahun 2019.
2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran sumber daya manusia di Unit Admisi Rawat

Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar tahun 2019.

b. Untuk mengetahui gambaran SOP (Standard Operational Procedure) di Unit

Admisi Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar tahun 2019.

c. Untuk mengetahui gambaran pembayaran pasien di Unit Admisi Rawat Inap

Rumah Sakit Islam Faisal Makassar tahun 2019.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat beranfaat yaitu:

a. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pembaharuan informasi mengenai

hubungan alur proses pelayanan kesehatan di admisi unit rawat inap

terhadap kemudahan akses pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Islam

Faisal Makassar tahun 2019.

b. Memberikan sumbangan ilmiah dalam bidang ilmu Administrasi Rumah

Sakit yaitu dengan membuat analisa terkait hubungan alur proses pelayanan

kesehatan di admisi unit rawat inap terhadap kemudahan akses pelayanan

kesehatan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar tahun 2019.

c. Sebagai pijakan dan referensi pada penelitian - penelitian selanjutnya terkait

hubungan alur proses pelayanan kesehatan di admisi unit rawat inap


16

terhadap kemudahan akses pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Islam

Faisal Makassar tahun 2019.

2. Manfaat Praktisi

a. Bagi Peneliti

Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan

penelitian dalam bidang ilmu Administrasi Rumah Sakit.

b. Bagi Institusi

Diharapkan dapat menambah dan memperkaya ilmu pengetahuan dalam

bidang ilmu Administrasi Rumah Sakit, serta menjadi bahan rujukan

penelitian selanjutnya.

c. Bagi Rumah Sakit

Sebagai bahan informasi dan masukan dalam penyelenggaraan pelayanan

kesehatan khususnya dalam penerapan alur pelayanan kesehatan yang baik

di unit admisi rawat inap.

d. Bagi Masyarakat

Sebagai sumber informasi bagi masyarakat terkait penyelenggaraan

pelayanan kesehatan khususnya dalam penerapan alur pelayanan kesehatan

yang baik di unit admisi rawat inap.

E. Ruang lingkup

Penelitian mengenai ” hubungan alur proses pelayanan kesehatan di

admisi unit rawat inap terhadap kemudahan akses pelayanan kesehatan di

Rumah Sakit Islam Faisal Makassar tahun 2019 ini dilakukan untuk
17

mengetahui penyebab belum optimalnya pelaksanaan pelayanan pasien di

Unit Admisi Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal. Pada bulan Juli - Agustus

2019. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yang

dibantu dengan menggunakan telaah dokumen sebagai data sekunder dan

teknik wawancara mendalam sebagai data primer.


18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Tentangf Variabel

1. Rumah Sakit

a. Pengertian Rumah Sakit

Beberapa pengertian rumah sakit yang dikemukakan oleh para ahli

(Azrul Azwar, 2016), diantaranya :

1) Menurut Assosiation of Hospital Care (1947) Rumah sakit adalah pusat

dimana pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan serta penelitian

kedokteran diselenggarakan.

2) Menurut American Hospital Assosiation (1974) rumah sakit adalah

suatu alat organisasi yang terdiri tenaga medis professional yang

terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan

pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan,

diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien.

3) Menurut Wolper dan Pena (1997) rumah sakit adalah tempat dimana
orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat
dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan
tenaga profesi kesehatan lainya diselenggarakan.
b. Fungsi Rumah Sakit
Permenkes RI No. 159b/ MenKes/Per/ 1998 (Wijono, 2017), fungsi rumah
sakit adalah:
1) Menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan medik,
penunjang medik.rehabilitasi, pencegahan dan peningkatan
kesehatan.
19

2) Menyediakan tempat pendidikan dan atau latihan tenaga medik


dan paramedik.
3) Sebagai tempat penelitian dan pengembangan ilmu dan
teknologi bidang kesehatan.
c. Tugas Rumah Sakit
Tugas rumah sakit melaksanakan pelayanan kesehatan dengan
mengutamakan kegiatan penyembuhan penderita dan pemulihan
keadaan cacat badan dan jiwa yang dilaksanakan secara terpadu
dengan upaya peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif) serta
melaksanakan upaya rujukan.
d. Alur Proses Pelayanan di Rumah Sakit
Menurut (Jan Carlzon (1987), diantaranya: mengadopsi dari ilmu

marketing bahwa alur proses pelayanan di rumah sakit terbagi menjadi tiga (3)

bagian yaitu:

1) Pelayanan Pre - Hospital


Tahap ini merupakan tahap sebelum pelanggan/ pasien memutuskan
untuk datang ke rumah sakit. Sebelum memutuskan untuk datang ke rumah sakit
biasanya pelanggan/ pasien lebih dahulu menentukan rumah sakit mana yang
akan dipilih. Pilihan itu dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti:
a) Apakah pelanggan/ pasien pernah datang ke rumah sakit itu.
b) Mendengar cerita tentang rumah sakit tersebut.
c) Melalui brosur, iklan atau rekomendasi orang terdekat pelanggan/
pasien.
d) Kemudahan dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh
pelanggan/ pasien baik melalui telepon maupun yang datang langsung ke
rumah sakit.
e) Keramahan dari pegawai rumah sakit sehingga pasien mendapatkan
informasi yang sejelas mungkin baik mengenai fasilitas maupun produk
layanan rumah sakit.
20

2) Pelayanan During - Hospital


Tahap ini merupakan tahap cara bagaimana rumah sakit bisa
membuat proses pelayanan di rumah sakit menjadi lebih menyenangkan dan
lebih mudah bagi pelanggan. Tahap ini dimulai pada saat pelanggan/ pasien
datang ke rumah sakit, pelanggan/ pasien melakukan pendaftaran, sampai
pelanggan/ pasien mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan di rumah sakit.
3) Pelayanan Post - Hospital.
Tahap ini merupakan tahap yang sangat sensitif, karena pada saat
pelanggan/ pasien pulang akan berhubungan dengan masalah uang. Pada
saat bagian keuangan mendapatkan informasi bahwa pasien rawat inap akan
keluar/ meninggal, maka pembuatan rekening harus segera dimulai. Lebih
cepat pihak yang bertanggung jawab atas biaya pasien mengetahui jumlah
yang harus dibayar, makin besar kemungkinan pembayaran yang akan
diterima. Jadi penting sekali penataan rekening pasien secara tepat dan akurat.
Selain itu, pegawai rumah sakit dituntut untuk bekerja dengan tenang, sabar,
teliti, dan dapat mengendalikan dirinya sendiri.

2. Pelayanan Rawat Inap

1) Pengertian Pelayanan Rawat Inap


Rawat inap merupakan suatu bentuk perawatan, dimana pasien dirawat
dan tinggal di rumah sakit untuk jangka waktu tertentu. Selama pasien dirawat,
rumah sakit harus memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien (Posma
(2001) yang dikutip dari Anggraini (2018)).
1) Memberikan bantuan kepada orang yang mempunyai kebutuhan
2) Memberikan pelayanan atas semua hal berikut ini:
3) Apa yang mereka kehendaki
4) Kapan mereka menghendaki
5) Siapa yang ingin mereka temui
6) Mengapa mereka menginginkannya
7) Cara apa yang mereka kehendaki dalam melekukan pekerjaan tersebut.
21

Pelayanan rawat inap adalah pelayanan terhadap pasien masuk rumah


sakit yang menempati tempat tidur perawatan untuk keperluan observasi,
diagnosa, terapi, rehabilitasi medik dan atau pelayanan medik lainnya (Depkes
RI (1997) yang dikutip dari Suryanti (2018)).
2) Kegiatan Pelayanan Rawat Inap
1) Penerimaan Pasien (Admission)
2) Pelayanan Medik
3) Pelayanan Penunjang Medik
4) Pelayanan Perawatan
5) Pelayanan Obat
6) Pelayanan Makanan
7) Pelayanan Administrasi Keuangan

Menurut Revans (1986) bahwa pasien yang masuk pada pelayanan


rawat inap akan mengalami tingkat proses transformasi, yaitu:
1) Tahap Admission, yaitu pasien dengan penuh kesabaran dan keyakinan
dirawat tinggal di rumah sakit.
2) Tahap Diagnosis, yaitu pasien diperiksa dan ditegakan diagnosisnya.
3) Tahap Treatment, yaitu berdasarkan diagnosis pasien dimasukan dalam
program perawatan dan therapi.
4) Tahap Inspection, yaitu secara continue diobservasi dan dibandingkan
5) Pengaruh serta respon pasien atas pengobatan.
6) Tahap Control, yaitu setelah dianalisa kondisinya, pasien dipulangkan.
7) Pengobatan diubah atau diteruskan, namun dapat juga kembali ke
proses untuk didiagnosa ulang.
22

3) Posisi Unit Rawat Inap dalam Sistem Pelayanan Rumah Sakit

Gambar 2.1 Posisi Unit Rawat Inap dalam Sistem Pelayanan Rumah Sakit

Rekam Medis

Keuangan Staf Medis


Fungsional

Unit Rawat Inap

Logistik Laboratorium
Farmasi

Pemeliharaan
Radiology Sarana Rumah
Sakit

Menurut (Suprijanto Rijadi (1997) yang dikutip dari Fendy (2017)).

4) Alur Proses Pelayanan Pasien di Unit Rawat Inap


Alur proses pelayanan pasien unit rawat inap akan mengikuti alur
sebagai berikut:
a) Bagian Penerimaan Pasien (Admission Departement)
b) Ruang Perawatan
c) Bagian Administrasi dan Keuangan

5) Klasifikasi Perawatan di Rumah Sakit


Klasifikasi perawatan rumah sakit telah ditetapkan berdasarkan tingkat
fasilitas pelayanan yang disediakan oleh rumah sakit, yaitu seperti berikut:
a) Kelas Utama (termasuk VIP)
b) Kelas I
23

c) Kelas II dan Kelas III


6) Klasifikasi Pasien
Berdasarkan kedatangannya
a) Pasien Baru
b) Pasien Lama
7) Berdasarkan Pengirimnya
a) Dikirim oleh dokter rumah sakit
b) Dikirim oleh dokter luar
c) Rujukan dari puskesmas dan rumah sakit lain
d) Datang atas kemauan sendiri
8) Kualitas Pelayanan Rawat Inap
Menurut (Jacobalis (1990) kualitas pelayanan kesehatan di ruang rawat
inap rumah sakit dapat diuraikan dari beberapa aspek, diantaranya adalah:
a) Penampilan keprofesian atau aspek klinis
Aspek ini menyangkut pengetahuan, sikap dan perilaku dokter dan
perawat dan tenaga profesi lainya.
b) Efisiensi dan efektifitas
Aspek ini menyangkut pemanfaatan semua sumber daya di rumah sakit
agar dapat berdaya guna dan berhasil guna.
c) Keselamatan Pasien
Aspek ini menyangkut keselamatan dan keamanan pasien
d) Kepuasan Pasien.
Aspek ini menyangkut kepuasan fisik, mental, dan sosial pasien terhadap
lingkungan rumah sakit, kebersihan, kenyamanan, kecepatan pelayanan,
keramahan, perhatian, biaya yang diperlukan dan sebagainya.

Menurut (Jacobalis (1993), pelayanan kesehatan di ruang rawat inap


rumah sakit erat kaitanya dengan:
a) Dokter, perawat atau petugas lain di rumah sakit.
b) Aspek hubungan antar manusia.
c) Kemanusiaan.
24

d) Kenyamanan atau kemudahan fasilitas dan lingkungan.


e) Peralatan dan perlengkapan.
f) Biaya pengobatan.
Menurut (Adji Muslihuddin (1996), Mutu asuhan pelayanan rawat inap
dikatakan baik apabila :
a) Memberikan rasa tentram kepada pasiennya yang biasanya orang sakit.
b) Menyediakan pelayanan yang benar - benar profesional dari setiap strata
pengelola rumah sakit. Pelayanan ini bermula sejak masuknya pasien ke
rumah sakit sampai pulangnya pasien.

Dari kedua aspek ini dapat diartikan sebagai berikut:


a) Petugas penerima pasien dalam melakukan pelayanan terhadap pasien
harus mampu melayani dengan cepat karena mungkin pasien
memerlukan penanganan segera.
b) Penanganan pertama dari perawat harus mampu membuat pasien
menaruh kepercayaan bahwa pengobatan yang diterima dimulai secara
benar.
c) Penanganan oleh para dokter yang profesional akan menimbulkan
kepercayaan pasien bahwa mereka tidak salah memilih rumah sakit.
d) Ruangan yang bersih dan nyaman, memberikan nilai tambah kepada
rumah sakit.
e) Peralatan yang memadai dengan operator yang profesional.
f) Lingkungan rumah sakit yang nyaman.
g) Biaya pengobatan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan mayarakat
sehingga pelayanan di rumah sakit tidak hanya dapat dinikmati oleh
mayarakat yang mampu saja, masyarakat tidak mampu pun dapat
menikmatinya.

Menurut (Suryanti (2018) dalam penelitiannya, proses pendaftaran


pasien rawat inap dipengaruhi oleh :
a) Pendaftaran rawat inap.
25

b) Pendaftaran awal pasien.


c) Pembayaran pasien.
d) Kesiapan staf, perawat, ruang rawat dan pasien dalam pengantaran dan
penerimaan pasien ke ruangan.
e) Surat pengantar rawat.
f) Kegiatan layanan admission.
g) Fasilitas Admission.
h) Staf Admision.
i) SOP Admission.
9) Tujuan Pelayanan Rawat Inap
Tujuan Pelayanan Rawat Inap menurut (Dolores dan Doris (1969)
yang dikutip dari Anggraini (2018)) adalah :
a) Membantu penderita memenuhi kebutuhannya sehari-hari sehubungan
dengan penyembuhan penyakitnya.
b) Mengembangkan hubungan kerja sama yang produktif baik antara unit
maupun antara profesi.
c) Menyediakan tempat/ latihan/ praktek bagi siswa perawat.
d) Memberikan kesempatan kepada tenaga perawat untuk meningkatkan
keterampilannya dalam hal keperawatan.
e) Meningkatkan suasana yang memungkinkan timbul dan berkembangnya
gagasan yang kreatif.
f) Mengandalkan evaluasi yang terus menerus mengenai metode
keperawatan yang dipergunakan untuk usaha peningkatan.
g) Memanfaatkan hasil evaluasi tersebut sebagai alat peningkatan atau
perbaikan praktek keperawatan dipergunakan.

3. Admisi Rawat Inap


Admisi atau admission menurut John M. Echols dan Hassan Shadily
adalah hak atau ijin masuk bagi pasien yang berfungsi sebagai koordinator
untuk penerimaan pasien dirawat inap, baik yang berasal dari rawat darurat
(emergency) atau rawat jalan (poliklinik). Admisi merupakan kegiatan yang
26

sangat penting karena sebagai ujung tombak pelayanan rawat inap. Bagian ini
mempunyai tanggung jawab dalam pendaftaran pra penerimaan pasien,
penerimaan pasien dan dalam penentuan ruang perawatan.
a. Fungsi bagian Admisi di Rumah Sakit
Fungsi bagian Admisi di Rumah Sakit (Modul Kuliah Administrasi
Rumah Sakit, 2016) adalah:
1) Sebagai koordinator untuk penerimaan pasien di rawat inap baik yang
berasal dari rawat jalan (Poliklinik) maupun dari gawat darurat
(Emergency).
2) Melaksanakan instruksi rujukan dari rawat jalan dan emergency.
3) Mengatur tujuan pengiriman pasien ke ruang bangsal sesuai dengan
instruksi rujukan dan kondisi yang ada.
4) Menentukan posisi pasien dalam daftar tunggu (Waiting List) untuk
mendapatkan pelayanan lain misalnya Penyinaran, pembedahan, dll.

Tata cara penerimaan pasien yang disebut admitting procedure harus


wajar sesuai dengan keperluannya. Dengan makin meningkatnya jumlah
pasien, pimpinan rumah sakit harus memberikan perhatian yang konstan dalam
membina sistem dan prosedur penerimaan pasien yang sebaik - baiknya.
b. Tujuan kegiatan Admisi di Rumah Sakit
Tujuan kegiatan Admisi di Rumah Sakit (Modul Kuliah
Administrasi Rumah Sakit, 2016) adalah:
1) Menentukan persyaratan pasien bisa masuk ke rumah sakit.
2) Menerima pasien yang akan masuk bangsal rawat inap.
3) Memproses perpindahan pasien antar bangsal perawatan di dalam
rumah sakit tersebut, antar rumah sakit dan tempat pelayanan kesehatan
yang lainnya.
4) Memproses pemulangan pasien dan kematian pasien.
5) Mengelola daftar pasien yang menunggu termasuk pasien dalam
waiting list.
27

6) Mengantar pasien menuju ke bangsal dan menyerahkannya kepada


kepala ruangan.
7) Memberikan konsultasi keuangan kepada pasien sebelum atau pada
awal pendaftaran. Pasien yang memerlukan perawatan, dapat dibagi
menjadi 3 kelompok yaitu: (Posma dalam Anggraini, 2018)
a) Pasien yang tidak urgent, penundaan perawatan pasien tersebut
tidak akan menambah penyakitnya.
b) Pasien yang urgent tetapi tidak gawat darurat, dapat dimasukkan
dalam daftar tunggu.
c) Pasien gawat darurat (emergency), langsung dirawat. Pembinaan
dan pelaksanaan pekerjaan penerima pasien dengan baik
menciptakan tanggapan yang baik dari pasien - pasien yang baru
masuk, menjamin kelancaran dan kelengkapan catatan-catatan
serta menghemat waktu dan tenaga.

Untuk lancarnya proses penerimaan pasien (4) hal berikut ini perlu
diperhatikan yaitu:
1) Petugas yang kompeten
2) Cara penerimaan pasien
3) Ruang kerja yang menyenangkan
4) Lokasi yang tepat dari bagian penerimaan pasien
c. Peran Bagian Admisi
(Menurut Fendy 2018) dahulu peran bagian admisi amat sederhana, yaitu
hanya meminta data faktual tentang pasien agar bisa masuk rumah sakit. Sekarang
sengan perubahan pola pembiayaan (asuransi, perusahaan), cara pembayaran (cash,
credit card, transfer bank), aspek hukum dokumen rekam medis, maka peran
pengumpulan data ini menjadi semakin penting.
Juga karena pasien pertama kali datang langsung berhadapan dengan
bagian admisi, maka bagian ini bertanggung jawab terhadap pembentukan pola
hubungan rumah sakit dengan calon pasien dan keluarganya. Kedalam rumah sakit
bagian ini bertanggung jawab kepada dokter dan staf rumah sakit dalam
28

memasukan pasien tersebut, sehingga komunikasi yang baik dan manajemen


admisi pasien yang efektif menjadi keharusan bagi suatu rumah sakit.
Citra rumah sakit dapat lebih baik dengan adanya brosur atau leaflet yang
menjelaskan apa yang harus dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan, selama
pasien dirawat. Juga apa yang menjadi hak dan kewajiban pasien perlu
diterangkan kepada pasien dan keluarganya.
Bagian admisi sangat berperan dalam meningkatkan citra rumah sakit
karena kunjungan pertama dan terakhir umumnya akan ditangani oleh unit ini.
d. Jenis Bagian Admisi
(Menurut Rijadi (1997) yang dikutip dari Suryanti (2017), jenis bagian
admisi terdiri dari:
1) Admisi terpusat, dimana penerimaan pasien rawat jalan dan rawat inap
dalam satu area.
2) Admisi terpisah, penerimaan rawat jalan dan rawat inap dalam dua area/
tempat terpisah.
e. Ruang Lingkup Admisi
(Menurut Wolper (2001) yang dikutip dari Suryanti (2017), ruang lingkup
admisi mencakup:
1) Pengaturan jadwal pasien
2) Penempatan pasien
3) Pendaftaran pendahuluan, pendaftaran pasien rawat jalan, pendaftaran
praktek dokter, ruang perawatan, ruang darurat.
4) Evaluasi kemampuan keuangan dan konseling
5) Penerimaan uang muka pasien
6) Informasi kepada pasien
7) Pembuatan sertifikat
8) Surat kelahiran dan kematian
9) Memproses formulir ijin perawatan, ijin memberikan informasi, perawatan
dan wasiat.
10) Presertifikasi
11) Pembuatan sensus harian dan laporan khusus lainnya.
29

12) Memelihara sistem identifikasi pasien.


13) Hubungan dengan klien/ pasien
14) Telekomunikasi
15) Transportasi pasien
16) Uji diagnostic
17) Pemasaran/penghubung dengan praktek dokter
18) Bidang lain, seperti manajemen rekening pasien, manajemen sumber daya,
kontrak perawatan terpadu, rencana pemulangan pasien, dan manajemen
resiko.
f. Tugas dan Tanggung Jawab Bagian Admisi
(Menurut Rimmer (1985) yang dikutip dari Hendrayani (2018), tugas dan
tanggung jawab bagian admisi adalah:
1) Pendaftaran pra admisi
2) Pemeriksaan pra admisi
3) Pendaftaran diterima di muka
4) Penjadwalan ruang operasi
5) Wawancara masalah keuangan pasien
6) Pembuatan sertifikat kelahiran
7) Penerimaan pasien
8) Penempatan/ penentuan tempat tidur pasien (kamar rawat)
9) Menghasilkan suatu informasi bagi departemen lain
10) Melaksanakan pendaftaran pasien unit gawat darurat
11) Memproses formulir persetujuan pasien dilakukan perawatan atau tindakan
khusus
12) Membuat sensus harian pasien dan laporan-laporan lainnya.
13) Menganalisa lama hari rawat, jumlah penerimaan pasien
14) Mengatur dan menerima uang muka dari pasien
15) Mengantar pasien ke ruang perawatan
30

g. Proses Pelaksanaan Admisi


(Menurut Rowland (1984) yang dikutip dari Hendrayani (2018), siklus
yang dimulai sejak sebelum pasien masuk rumah sakit sampai pasien keluar dari
rumah sakit adalah sebagai berikut:
1) Tahap Pra Penerimaan (Pre Admission)
a) Proses pra-penerimaan pasien
(Menurut Rijadi (1997) yang dikutip dari Hendrayani (2018), proses pra -
penerimaan pasien adalah pengumpulan data pribadi pasien dan data
kemampuan keuangan/ sumber pembiayaan sebelum pasien masuk rumah sakit.
Data ini biasanya di dapat melalui surat atau telepon sebelum pasien masuk ke
rumah sakit, untuk mendapatkan informasi tersebut dapat dipakai formulir pra -
penerimaan (pre - admision form). Tujuan utama dipakainya formulir tersebut
adalah untuk mendapatkan informasi mengenai:
1) Identitas pasien dan latar belakang keluarganya.
2) Diagnosa saat masuk rumah sakit dan nama dokter yang akan merawatnya.
3) Informasi mengenai sumber pembiayaan pasien yang berhubungan dengan
penataan rekening pasien.

Pra-registrasi (menurut Wolper (2001) yang dikutip Suryanti 2018), secara


tradisional merupakan cara bagaimana pasien dapat dipercepat dalam proses
penerimaan pasien. Akibat sukarnya mewawancarai pasien di dalam proses
pendaftaran atau proses layanan, karena stress dan kecemasan pasien, maka
informasi yang di dapat maupun yang disampaikan bisa tidak lengkap atau tidak
tepat.
b) Tujuan pra - penerimaan:
1) Mempercepat proses penerimaan pasien sehingga pasien tidak
memerlukan waktu tunggu yang lama ketika masuk ke rumah sakit.
2) Efisiensi pengaturan jadwal masuk pasien ke rumah sakit.
3) Permintaaan khusus pasien ketika dirawat dapat disediakan
sebelumnya.
31

4) Pelaksanaan pemeriksaan laboratorium, radiology, yang dapat


dilakukan sebelum pasien masuk rumah sakit pada bagian rawat jalan.

c) Keuntungan pra-penerimaan pasien adalah:


1) Mengurangi pembatalan operasi dengan mengetahui hasil pemeriksaan
laboratorium/ radiology terlebih dahulu.
2) Bagian laboratorium dan radiology dapat menjadwalkan pemeriksaan
sesuai dengan beban kerja mereka.
3) Informasi hasil laboratorium dan radiology bermanfaat bagi dokter
dalam mendiskusikan atau menentukan rencana tindakan sebelum
pasien masuk rumah sakit.
4) Pemeriksaan laboratorium dan radiology akan mengurangi LOS dan
mengurangi beban pasien dalam pembayaran, selain tempat tidur rumah
sakit dapat digunakan untuk mereka yang betul-betul membutuhkannya.
Beberapa kasus tidak mungkin melakukan pre-admission, misalnya:
a) Pasien terlampau lemah.
b) Pasien rumahnya terlampau jauh.
c) Kesulitan ijin pekerjaan.

Secara keseluruhan pra penerimaan pasien adalah balok


pembangunan yang memungkinkan pasien dan rumah sakit mencari pilihan
keuangan sebelum menjalani perawatan guna menjamin pembayaran yang
tuntas dan tepat waktu. (Wolper (2001) yang dikutip Suryanti 2018)
Menurut (Wolper (2018), tahap pre - addmission secara tradisional
merupakan cara bagaimana pasien dapat dipercepat dalam proses
penerimaan pasien. Akibat sukarnya mewawancarai pasien di dalam proses
pendaftaran atau proses layanan, karena stress dan kecemasan pasien, maka
informasi yang di dapat maupun yang disampaikan bisa tidak lengkap atau
tidak tepat.
32

2) Tahap Penerimaan (Admission)


Pada tahap ini dapat dipakai sebagai kesempatan untuk
mendapatkan informasi yang selengkap-lengkapnya mengenai pasien
dalam waktu yang relative singkat.
Wawancara dilakukan oleh petugas yang telah diberikan pelatihan
dan menguasai peraturan rumah sakit dalam hal keuangan, menguasai seluk
beluk peraturan asuransi dan pelayanan secara umum akan sangat berguna
bagi pihak rumah sakit maupun pasien. Informasi yang di dapat harus
dicatat pada tempat yang tepat.
Apabila pasien tidak melalui tahap pra penerimaan misalnya pasien
gawat darurat, seluruh informasi yang di dapat seperti tahap pra
penerimaan harus dicatat dalam formulir penerimaan. Formulir penerimaan
ini garis besarnya berisi informasi mengenai hal sebagai berikut:
a) Nama dan alamat pasien
b) Nama dan alamat penaggung jawab
c) Surat jaminan
d) Bila pembayaran dengan kartu kredit
e) Besar deposit tertulis dengan jelas dalam ketentuan, juga ketentuan
bahwa apabila deposit mencapai sekian persen maka akan
dilakukan penagihan. (Djembarsari (1997) yang dikutip dari
Hendrayani (2016)

Menurut (Ernast dan Young (1991), kontak pertama pasien di


rumah sakit ada pada bagian admisi, maka bila penanganannya kurang baik
akan menimbulkan masalah yang cukup besar, bukan saja akan
menurunkan citra rumah sakit di masyarakat, tetapi akhirnya akan
menurunkan pendapatan rumah sakit.
3) Tahap Penataan Rekening (Billing)
Pada saat bagian keuangan mendapatkan informasi bahwa pasien
rawat inap akan keluar rumah sakit atau meninggal, maka pembuatan
33

rekening pasien segera dimulai. Lebih cepat pihak yang bertanggung jawab
atas biaya pasien mengetahui jumlah yang harus dibayar, lebih besar
kemungkinan pembayaran yang akan diterima. Jadi penting sekali penataan
rekening pasien secara tepat dan akurat (Mehta (1977) yang dikutip dari
Hendrayani 2018).
Selama pasien masih menerima pelayanan, rekeningnya harus
selalu diperbaharui dengan pembebanan biayanya. Apabila pasien tersebut
sudah diijinkan untuk pulang, maka rekening pasien tersebut harus
disiapkan untuk ditagihkan. Hal - hal yang harus diperhatikan dalam
pembuatan tagihan pada saat pasien akan meninggalkan rumah sakit adalah
sebagai berikut:
a) Pengecekan pada saat perawatan dan keluar rumah sakit.
Informasikan mengenai adanya pasien yang akan pulang oleh
petugas pengantar perawatan ke bagian keuangan. Sebelum pasien benar –
benar meninggalkan rumah sakit, petugas pengantar pasien sebaiknya
mengantarkan pasien ke bagian keuangan terlebih dahulu, hal ini
dimaksudkan untuk:
1) Memberikan kesempatan pada bagian kredit untuk mengumpulkan
informasi yang dibutuhkan.
2) Memberikan kesempatan kepada bagian kredit untuk meneliti
rencana pembayaran yang dibuat pada saat penerimaan.
3) Memberikan kesempatan kepada pasien untuk melakukan
pembayaran.
b) Meneliti status perkiraan pasien
Pada saat pasien telah diijinkan untuk pulang rawat, perkiraan
tagihan sering belum siap untuk ditutup. Beberapa pembebanan biaya
mungkin sedang dalam proses, jadi diperlukan suatu tenggang waktu
sebelum perkiraannya ditutup dan rekeningnya selesai dibuat rekening yang
baik harus dapat menampilkan semua tagihan dari semua pelayanan dan
bahan yang dipakai secara terperinci. Selain itu harus dapat pula
menunjukkan lamanya pasien dirawat.
34

4. SDM (Sumber Daya Manusia)


Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu itu tidaklah mudah.
Banyak aspek yang mempengaruhi bermutu atau tidaknya suatu pelayanan
kesehatan. Salah satu aspek terpenting adalah SDM yakni mencakup seluruh
pegawai rumah sakit, karena sumber daya manusia merupakan faktor penentu dari
mutu pelayanan di rumah sakit. Sumber daya manusia merupakan titik sentral
dalam penyelenggaraan rumah sakit, terutama di Unit Admisi Rawat Inap yang
merupakan ujung tombak dari arus pasien di rumah sakit, dituntut harus mampu
memahami keinginan dan kebutuhan pasien dengan upaya memberikan pelayanan
prima, dengan harapan pasien merasa puas atas pelayanan yang diberikan. Banyak
faktor yang mempengaruhi sumber daya manusia di admisi, diantaranya yaitu:
jumlah petugas admisi, kualitas petugas admisi, beban kerja petugas admisi,
pendidikan dan pelatihan petugas admisi, serta lama kerja petugas admisi.
(Menurut Ilyas (2004), salah satu indikator keberhasilan rumah sakit yang
efektif dan efisien adalah tersedianya SDM yang cukup dengan kualitas yang
tinggi, professional sesuai dengan fungsi dan tugas setiap personil.
(Menurut Pandia (2006), bahwa kuantitas para tenaga kerja juga harus
disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan atau institusi agar tujuannya dapat
tercapai secara efektif dan juga efisien.
(Menurut Ilyas (2000) yang di kutip dalam Suryanti 2018), kinerja
organisasi atau admisi rawat inap berhubungan dengan proporsi profesional,
makin besar proporsi kelompok profesional makin tinggi kinerja organisasi. Yang
dimaksud profesional adalah personal dengan tingkat pendidikan minimal diploma
(III)
(Menurut Yoeti (1999) yang di kutip dalam Suryanti 2018) mengadopsi
dari ilmu perhotelan bahwa petugas admisi (Front Office) harus memiliki
kemampuan:
a. Dapat memberikan penjelasan tentang segala yang menyangkut operasi
kegiatan rumah sakit, terutama produk dan jasa - jasa yang dapat
dipakai pasien, seperti tipe bed yang tersedia daan fasilitas - fasilitasnya,
informasi - informasi rumah sakit lainnya, tarif kamar, dll.
35

b. Dapat memberikan motivasi atau mencarikan alternative dari banyak


pilihan pada pasien, sehingga dengan demikian pasien merasa dapat
terbantu. Misalnya ketika bed yang diinginkan pasien tidak ada, staf dapat
mencarikan alternative lainnya.
c. Dapat mengubah pendapat pasien dari “tidak” menjadi “iya”, hal ini sering
terjadi pada pasien yang banyak pilihan dan rewel. Dengan penjelasan yang
baik dan dapat memberikan alasan yang logis, serta sikap berwibawa
diharapkan pasien dapat menerima usul yang ditawarkannya.
d. Dapat meyakinkan pasien bahwa produk atau jasa - jasa yang ada seperti
bed yang dimiliki rumah sakit lebih baik dari pada pesaing rumah sakit.
e. Dapat menilai keinginan dan kebutuhan pasien secara pasti dan dapat
memberikan pelayanan yang sesuai dengan keinginan pasien.

Selain itu petugas di Unit Admisi Rawat Inap harus mempunyai


kemampuan menangani tanggung jawab yang menghendaki keseksamaan dan
ketepatan, dan juga atas ciri - ciri kepribadian tertentu. Petugas Admisi haruslah
sabar, penuh perhatian dan bersemangat, mengajukan pertanyaan seolah mereka
belum penah menanyakan sebelumnya. Dan karena pekanya informasi yang dapat
dijaring selama proses masuknya pasien, sehingga seorang petugas harus tetap
mentaati batas - batas kerahasiaan pasien (Wolper (2001) yang dikutip dari Suryanti
2017).
(Menurut Pandia 2016) bahwa uraian pekerjaan harus ditetapkan secara
jelas untuk setiap jabatan, agar pejabat tersebut dapat mengetahui tugas dan
tanggung-jawab yang harus dilakukannya. Uraian pekerjaan akan memberikan
ketegasan dan standar tugas yang harus dicapai oleh seorang pejabat yang
menjabat jabatan tersebut. Uraian pekerjaan ini menjadi dasar untuk menetapkan
spesifikasi pekerjaan dan evaluasi pekerjaan bagi pejabat yang menjabat jabatan
itu. Uraian pekerjaan yang kurang jelas akan mengakibatkan seorang pejabat
kurang mengetahui tugas dan tanggung - jawabnya pada jabatan tersebut. Hal ini
mengakibatkan pekerjaan menjadi tidak beres.
36

(Menurut Azwar 2016), bahwa suatu organisasi dinilai sebagai organisasi


yang baik apabila memenuhi prinsip pokok organisasi antara lain: mempunyai
pendukung, mempunyai tujuan, mempunyai pembagian tugas, mempunyai
perangkat organisasi, mempunyai pembagian pendelegasian wewenang dan
mempunyai kesinambungan kegiatan, kesatuan perintah dan arah.
(Menurut Ilyas (2000) yang di kutip dalam Suryanti (2018)), kualitas
pelayanan tidak hanya tergantung pada kemampuan atau mutu SDM, tetapi juga
tergantung pada beban kerja yang harus dipikul oleh SDM. Karena dengan beban
kerja yang tinggi, SDM menjadi letih secara fisik dan mental. Sebagai contoh
pelayanan pada Unit Admisi Rawat Inap ini, bila petugas melayani pasien dalam
jumlah banyak secara terus-menerus, dengan masalah yang relative sama, dapat
menimbulkan kejenuhan yang berakibat menurunnya kualitas pelayanan kepada
pasien.
Penyelenggara dan atau pimpinan sarana kesehatan bertanggung jawab atas
pemberian kesempatan kepada tenaga kesehatan yang ditempatkan atau bekerja
pada sarana kesehatan yang bersangkutan untuk meningkatkan keterampilan dan
pengetahuan melalui pelatihan di bidang kesehatan. (PP No. 32 tentang kesehatan
pasal 10 ayat 2)
Pendidikan dan pelatihan bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan
kemampuan kerja yang saat ini dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan
melaksanakan kegiatan on the job training, ceramah-ceramah di rumah sakit,
mengikuti kursus dan seminar-seminar, serta mengikuti pendidikan formal di
kampus pendidikan (Tjandra Yoga, 2016).
Menurut (Mutiah, 2016) pelatihan merupakan suatu keharusan karena
dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan ini manfaatnya selain untuk staf itu
sendiri maupun untuk organisasi/ instansi. Karena dengan meningkatnya
kemampuan atau keterampilan para staf, dapat meningkatkan produktifitas kerja
staf, hal ini berarti organisasi/ instansi yang bersangkutan memperoleh keuntungan.
Tanpa diklat atau pengembangan dan penambahan kemampuan bagi para
tenaga kerjanya, mustahil suatu organisasi dapat berkembang (Adisasmito, 2017).
37

Menurut (Ilyas, 2017) bila personel admission office melayani dalam


jumlah banyak secara terus-menerus dengan masalah yang relative sama dapat
menimbulkan kejenuhan yang berakibat menurunnya kualitas pada pasien. SDM
untuk bagian admisi terdiri dari: (Hickman (1985) yang dikutip dari Hendrayani,
2016)
a) Manajer Admisi
Kunci keberhasilan pada Bagian Admisi adalah adanya kepemimpinan.
Sebagai pimpinan Manajer Admisi harus mempunyai kemampuan untuk
memotivasi bawahannya agar dapat bekerjasama dalam menyelesaikan
pekerjaanya dan bertanggung jawab. Selain itu Manajer Admisi harus
mempunyai pandangan ke depan, karena dengan kemampuannya Maanajer
Admisi harus dapat menghadapi persaingan dengan membentuk suatu strategi
pemasaran. Seperti rumah sakit lainnya, bagian Admisi harus mempunyai team
work, dimana para petugas dan manajer harus bekerjasama dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan.
b) Petugas Admisi
Bagian Admisi adalah tempat yang paling tepat dalam memberikan
informasi dan juga sebagai tempat pemasaran rumah sakit. Sehingga di Bagian
Admisi harus mempunyai team work untuk mempersiapkan dan menjalankan
tugas dan fungsinya. Petugas di Bagian Admisi harus meengerti mengenai
konsep team yaitu bekerjasama dan bertanggung jawab.
c) Pengawas Admisi
Bagian Admisi harus mempunyai pengawas untuk mengkoordinasi para
petugas dalam pembagian jadwal (shift), ini sangat penting karena berhubungan
dengan kemampuan para petugas admisi.

5. SOP (Standard Operational Procedure)


Menurut (Astrini, 2016) standarisasi merupakan sarana penunjang yang
sangat penting sebagai alat yang efektif dan efisien guna menggerakkan kegiatan
organisasi dalam meningkatkan produktivitas dan menjamin mutu layanan.
Standarisasi adalah proses merumuskan, merevisi, menetapkan, dan menerapkan
38

standar dilaksanakan secara tertib dan kerjasama dengan semua pihak ( PP Nomor
15 Tahun 1991). Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan
termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsesus semua pihak
yang terkait dengan memperhatikan syarat - syarat keselamatan, keamanan,
kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk
memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (PP 102 tahun 2000). Salah satu
bentuk standar adalah standard operating procedure (SOP). SOP atau prosedur
penetapan (protap) merupakan tatacara atau tahapan yang harus dilalui dalam suatu
proses kerja tertentu, yang dapat diterima oleh seorang yang berwenang atau yang
bertanggung jawab untuk mempertahankan tingkat penampilan atau kondisi
tertentu sehingga suatu kegiatan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien
(Depkes RI, 1995).
Sasaran dan Manfaat Standarisasi:
Dalam Wijono (1999), standarisasi adalah syarat yang diperintahkan
(diharuskan) dalam konsep Quality Assurance (menjaga mutu), untuk:
a) Mendukung atau menghasilkan penjagaan mutu dan meningkatkan
penampilan, realibility, safety, penggunaan komponen secara minimum,
produk yang seragam, eliminasi proses yang sulit, mencegah gangguan dan
memantapkan standar operating procedures, perubahan peningkatan mutu.
b) Mengurangi pembiayaan, untuk adanya perubahan peningkatan mutu,
dengan meminimalkan penggunaan komponen dan penyederhanaan.
c) Mendukung dan menghasilkan produktifitas, serta peningkatan untuk:
desain proses produksi massal dan peningkatannya, peningkatan dalam
proses, otomatisasi, peningkatan komputerisasi dan teknologi/ teknik
kedokteran yang canggih.
d) Diseminasi informasi, untuk transfer teknologi dan keterampilan,
pemberitahuan kepada pelanggan (public relation, advertensi, catalog dan
sebagainya), pemberitahuan di dalam gedung (peraturan - peraturan
perusahaan, aturan-aturan spesifik, gambar - gambar petunjuk), sertifikat
atau penetapan kualifikasi, pendidikan dan laihan, serta peningkatan moral.
39

e) Memberi kontribusi sosial untuk menjamin keamanan pelanggan,


pencegahan, dan pengendalian polusi, keamanan dan keselamatan pegawai.

Standarisasi pelayanan kesehatan rumah sakit dimaksudkan untuk


memberikan kejelasan arti dan strategi bagi rumah sakit dalam rangka pemerataan
dan peningkatan pelayanan rumah sakit secara keseluruhan sehingga rumah sakit
benar - benar dimanfaatkan secara berdaya guna dan berhasil guna.
Secara khusus tujuan standarisasi rumah sakit adalah:
a) Agar supaya pengembangan rumah sakit dapat terarah dan terkendali
dengan memperhatikan kebutuhan pelanggan atau masyarakat yang
dilayani.
b) Adanya kesamaan standar ketenagaan, peralatan, bangunan fisik, kegiatan
pelayanan dan sebagainya.
c) Sebagai pedoman petugas rumah sakit dalam menjalankan tugasnya.
d) Sebagai dasar penilaian kinerja rumah sakit.
e) Sebagai dasar akreditasi rumah sakit.
f) Untuk memberikan perlindungan hukum bagi para petugas kesehatan
maupun pelanggan internal maupun eksternal.

Dalam memberikan pelayanan yang bermutu, selain petugas rumah sakit


harus memancarkan sikap yang positif terhadap pasien, rumah sakit pun harus
mempunyai prosedur kerja yang jelas dan tegas serta tersusun rapi, data tempat
tidur yang tersedia/kosong, tariff serta peralatan-peralatan sesuai standar, semua itu
harus tersedia dengan benar (Budiyanto (1990) yang dikutip dari Suryanti (2002)).
Menurut (Hapsara, 1977) petunjuk pelaksanaan merupakan faktor
terpenting dalam menentukan arah dan kebijakan serta strategi yang akan
dijalankan pada tahun mendatang.
Menurut (Tambunan, 2008) SOP merupakan pedoman yang berisi prosedur
- prosedur operasional standar yang ada di dalam suatu organisasi yang digunakan
sebagai pedoman agar setiap keputusan, pelaksanaan dan penggunaan fasilitas tidak
menyimpang, berjalan secara efektif, konsisten dan sistematis. Kematangan
40

organisasi dan operasional dapat menghasilkan SOP yang efektif dan mengurangi
penyimpangan keputusan dan kegiatan.
Hal tersebut juga dikatan oleh Notoatmodjo (1992), bahwa melakukan
pekerjaan secara efisien tidak hanya bergantung kepada kemampuan atau
keterampilan pekerja semata, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa hal,
satu diantaranya adalah prosedur kerja yang berisikan uraian tugas yang jelas.
Standard Operational Procedure sifatnya dinamis, sehingga sewaktu - waktu
dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi, oleh karena itu perlu
dilakukan evaluasi proses pelaksanaan SOP secara periodik, dan
menyempurnakannya bila perlu (Suwenda (1997) yang dikutip dari Suryanti
(2018).

6. Cara Pembayaran Jasa Pelayanan Rumah Sakit


Menurut Suryanti (2018), tindakan yang dilakukan di Bagian Admisi,
menempatkan pemberi layanan kesehatan bertanggung jawab terhadap resiko
atas pelayanan yang diberikan dan biaya yang timbul. Menurut Sjaaf (2018)
pembayaran jasa pelayanan rumah sakit biasanya dilakukan dengan cara:
a. Penderita yang membayar sendiri (out of pocket)
b. Penderita yang ditanggung oleh asuransi.
Pola pembiayaan yang ditanggung oleh asuransi terbagi lagi menjadi 3,
yaitu:
1) Penderita yang ditanggung oleh asuransi kesehatan pemerintah
2) Penderita yang ditanggung oleh asuransi kesehatan swasta
3) Penderita yang ditanggung oleh perusahaan tempat dia bekerja

Menurut Suryanti (2018), pada pasien dengan metode pembayaran out


of pocket, harus ada mekanisme yang jelas untuk memastikan bahwa pasien
pasti akan membayar, agar tidak terjadi kehilangan pendapatan. Untuk
pembayaran dengan asuransi dan jaminan perusahaan kita harus mempelajari
lebih dahulu cara pembayaran, lama menunggu tempo pembayaran dan juga
41

analisa laporan keuangan perusahaan. Hal ini mencegah terjadinya bad dept,
dan sebagai bahan pertimbangan dalam negosiasi penetapan tariff.
Dua bidang pokok yang merupakan resiko keuangan adalah penilaian
ketepatan layanan untuk memastikan bahwa pembayar pihak ketiga dapat
ditagih atas biaya yang dikenakan pada pasien, dan selaras dengan program
pihak ketiga yang telah disetujui sebelumnya. Premi yang diterima oleh
tertanggung atau terasuransikan biasanya merupakan kunci dari proses
persetujuan. Umumnya pasien tersebut bertanggung jawab untuk tetap
mematuhi katentuan dan pasien tersebut harus diidentifikasi. Jadi, kemampuan
untuk memonitor atasan dan perusahaan asuransi yang terlibat dalam
persyaratan khusus ini sangatlah perlu Wolper (2001) yang dikutip dari
Suryanti (2018)).
Menurut Suryanti (2018), kemampuan mencermati pihak ketiga yang
memerlukan persyaratan khusus ini sangatlah diperlukan kalau rumah sakit
tidak mau menderita resiko kerugian.
Peran bagian Admisi Rawat Inap dalam mengurangi permasalahan yang
timbul dari pembayaran jasa pelayanan rumah sakit:
a. Pada tahap Pra Penerimaan (Pre-admission)
Tujuannya adalah untuk mengetahui sendini mungkin calon pasien
yang tidak mampu membayar (free service account), cara pembayaran
yang akan digunakan oleh pasien, penanggung jawab atas rekening
calon pasien dan memberikan saran kepada calon pasien dalam
merencanakan pembayaran dikemudian hari.
Prosedur ini dimulai saat RS menerima info dari dokter bahwa
pasien perlu dirawat. Biasanya untuk pasien yang tidak memerlukan
pertolongan gawat darurat, maka dokter akan membuat rencana dengan
pihak RS kapan pasien dapat masuk untuk dirawat. Jika RS mempunyai
waktu sedikitnya 3 hari sebelum pasien dirawat, seluruh info baik medis
maupun keuangan harus sudah diketahui. Hal ini dapat dicapai dengan
menggunakan formulir pra penerimaan (pre-admision form). Form ini harus
dirancang sesederhana mungkin dan sedemikian rupa sehingga dapat
42

mewakili dan dapat digunakan juga oleh bagian lain di rumah sakit bila
diperlukan serta tidak menyinggung perasaan calon pasien karena form ini
adalah kontak pertama dengan calon pasien yang dapat mempengaruhi citra
RS.
b. Penerimaan (Admission)
Tahap ini dapat merupakan tahap ke-2 bagi pasien yang telah
melalui tahap pra - penerimaan. Tetapi dapat juga menjadi tahap atau kontak
pertama bagi pasien gawat atau tidak gawat yang tidak tercakup oleh tahap
pra penerimaan. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan data
keuangan pasien yang selengkap - lengkapnya dan setepat-tepatnya dalam
waktu yang singkat. (Mehta dan Maher, (1977) dalam modul kuliah seminar
manajemen rumah sakit (2018))

7. Efektifitas dan Efisiensi


a. Efektifitas
Dewi (2019) efektifitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau
memilih tujuan - tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan
cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa
juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan -
tujuan yang telah ditentukan.
Menurut Abulraihan (2019), efektifitas organisasi merupakan
kemampuan organisasi untuk merealisasikan berbagai tujuan dan
kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mampu bertahan
agar tetap eksis/ hidup. Sehingga organisasi dikatakan efektif jika organisasi
tersebut mampu menciptakan suasana kerja dimana para pekerja tidak hanya
melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepadanya, tetapi juga membuat
suasana supaya pekerja lebih bertanggung jawab, bertindak secara kreatif
demi peningkatan efisiensi dalam mencapai tujuan. Efektifitas organisasi
sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur sistem yang meliputi:
1) Indikator input
2) Indikator proses
43

3) Indikator output
4) Indikator out come
Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa efektifitas merupakan satu
dimensi tujuan manajemen yang berfokus pada hasil, sasaran, dan target
yang diharapkan. Organisasi yang efektif adalah organisasi yang
menetapkan keberhasilan pada input, proses, output, dan outcome yang
ditandai dengan berkualitasnya indicator - indikator tersebut. Sehingga
dengan demikian, efektifitas organisasi bukan sekedar pencapaian sasaran
dan terpenuhinya berbagai kebutuhan untuk mencapai sasaran, tetapi
berkaitan erat dengan syaratnya indikator tersebut dengan mutu.
b. Efisiensi
Dewi (2019), efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara
minimum guna pencapaian hasil yang optimum. Efisiensi juga ditekankan
pada perbandingan antara input/ sumber daya dengan output. Sehingga
suatu kegiatan dikatakan efisien bila tujuan dapat dicapai secara optimal
dengan penggunaan atau pemakaian sumber daya yang minimal.
44

B. Kerangka Konsep
1. Kerangka Teori
Pelayanan penerimaan pasien rawat inap dinamakan Admission Office
atau sering dinamakan sentral opname. Admission merupakan hak atau ijin
masuk, atau dapat juga diartikan sebagai penerimaan pasien. Admisi
merupakan kegiatan yang sangat penting karena sebagai ujung tombak
pelayanan rawat inap. Bagian ini mempunyai tanggung jawab dalam
pendaftaran pra penerimaan pasien, penerimaan pasien dan dalam penentuan
ruang perawatan. Unit admisi rawat inap merupakan salah satu pintu gerbang
utama rumah sakit dan merupakan ujung tombak dari arus pasien di rumah sakit
tersebut. Unit admisi ini dianggap unit yang paling mengetahui tentang
informasi pasien. Kesalahan dan kemacetan atau kekurang lengkapan
informasi tentang pasien akan mempengaruhi jalannya proses administrasi
pasien, yang pada akhirnya akan berdampak kepada menurunnya mutu
pelayanan yang diterima pasien di rumah sakit.
Pelayanan rawat inap adalah pelayanan terhadap pasien masuk rumah
sakit yang menempati tempat tidur perawatan untuk keperluan observasi,
diagnosa, terapi, rehabilitasi medik dan atau pelayanan medik lainnya (Depkes
RI (1997) yang dikutip dari Suryanti (2019)).
Menurut (Azwar (2016), sistem adalah gabungan dari elemen - elemen
yang saling dihubungkan oleh suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai
satu kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah
ditetapkan. Adapun elemen - elemen atau unsur-unsur sistem terdiri dari input
(yang meliputi 5 M yaitu man, money, methode, material, dan machine),
proses, dan output.
Menurut (Jacobalis (2016), pelayanan kesehatan di ruang rawat inap
rumah sakit:
a. Dokter, perawat atau petugas lain di rumah sakit.
b. Aspek hubungan antar manusia.
c. Kemanusiaan.
d. Kenyamanan atau kemudahan fasilitas dan lingkungan.
45

e. Peralatan dan perlengkapan.


f. Biaya pengobatan.
Menurut (Suryanti, 2019) dalam penelitiannya, pendaftaran pasien
rawat inap di departemen penerimaan pasien dipengaruhi oleh :
a. Pendaftaran rawat inap.
b. Pendaftaran awal pasien.
c. Pembayaran pasien.
d. Kesiapan staf, perawat, ruang rawat dan pasien dalam pengantaran dan
penerimaan pasien ke ruangan.
e. Surat pengantar rawat.
f. Kegiatan layanan admission.
g. Fasilitas Admission.
h. Staf Admision.
i. SOP Admission.
Menurut (Hendrayani, 2018) dalam penelitiannya, setiap pasien yang
mendapatkan pelayanan admisi di rumah sakit, khususnya pasien rawat inap
akan menjalani beberapa tahap yaitu:
a. Tahap pra admisi,
b. Tahap admisi
c. Tahap pembayaran
46

Ringkasan Kerangka Teori

Menurut Jacobalis (1993):


a. Dokter, perawat atau
petugas lain di rumah
sakit.
b. Aspek hubungan antar
manusia.
c. Kemanusiaan.
d. Kenyamanan atau
kemudahan fasilitas dan
lingkungan.
e. Peralatan dan
perlengkapan.
f. Biaya pengobatan.
Menurut Hendrayani
Pelayanan Pasien
(2000):
a. Tahap pra admisi, di Unit Admisi
Menurut Suryanti (2002): b. Tahap admisi Rawat inap
a. Pendaftaran rawa inap. c. Tahap pembayaran
b. Pendaftaran awal pasien.
c. Pembayaran pasien
d. Kesiapan staf, perawat,
ruang rawat dan pasien
dalam pengantaran dan
penerimaan pasien ke
ruangan.
e. Surat pengantar rawat.
47

2. Kerangka Konsep
Dalam hal pembuatan kerangka konsep, peneliti telah
menyederhanakan teori yang ada dan menyesuaikan dengan tujuan dari
penelitian dan lokasi penelitian. Dalam hal ini peneliti menyimpulkan
bahwa pelayanan pasien di admisi rawat inap berpengaruh terhadap Sumber
Daya Manusia, SOP, Cara Pembayaran, Tahap Pra Admisi, dan Tahap
Admisi. Berikut ini adalah bagan kerangka konsep :

Gambar 2.1 Kerangka Konsep


Analisis Pelayanan Pasien Rawat Inap di Unit Admisi RSU Islam
Faisal

a. Sumber Daya
Manusia
b. SOP Pelayanan Pasien
c. Cara Pembayaran di Unit Admisi
d. Tahap Pra admisi Rawat inap
e. Tahap Admisi

Berdasarkan kerangka konsep diatas dapat dilihat dan diketahui bahwa


pelayanan pasien di admisi rawat inap berpengaruh terhadap sumber daya
manusia, SOP, cara pembayaran, tahap pra admisi, dan tahap admisi, sehingga
hasil akhirnya yang ingin dicapai oleh peneliti adalah untuk mengetahui
penyebab belum optimalnya pelaksanaan pelayanan pasien di Unit Admisi
Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih. Dengan dilakukannya
penelitian ini maka diharapkan agar pelayanan pasien di admisi rawat inap
dapat dilakukan dengan efisien dan efektif sehingga untuk selanjutnya kualitas
pelayanan pasien di admisi rawat inap dapat ditingkatkan.
48

3. Definisi Operasioanl

No. Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur


1. Sumber Daya Petugas yang terlibat secara Observasi, Pedoman Informasi mengenai
Manusia langsung dalam pelaksanaan wawancara observasi, sumber daya
kegiatan pelayanan admisi dan telaah pedoman manusia yang
rawat inap yang dilihat dari dokumen dan terlibat secara
aspek: pedoman langsung dalam
 Jumlah  Kecukupan Jumlah telaah pelaksanaan
Petugas pegawai admisi rawat inap dokumen kegiatan pelayanan
Admisi dalam melayani pasien admisi rawat inap
 Kualitas setiap shiftnya. yang di lihat dari
Petugas  Kualitas petugas admisi aspek:
Admisi mencakup latar  Kualitas
 Beban kerja pendidikan dan Petugas
petugas admisi ketrampilan yang dimilki Admisi
 Diklat petugas petugas admisi dalam  Beban kerja
admisi melaksanakan pelayanan petugas
 Lama kerja di admisi rawat inap. admisi
petugas admisi  Penilaian terhadap beban  Diklat
kerja petugas. petugas
 Pendidikan lanjutan/ admisi
latihan yang di berikan  Lama kerja
untuk petugas adimisi. petugas
 Pengaruh lama kerja admisi
petugas admisi terhadap
pelaksanaan pelayanan
pasien rawat inap di
admisi.
49

2. SOP Prosedur tertulis yang digunkan Observasi, Pedoman Informasi mengenai


(STANDARD sebagai pedoman yang harus wawancara observasi, SOP yang
OPERATIONAL menjadi acuan pokok bagi dan telaah pedoman digunakan sebagai
PROCEDURE) semua petugas admisi rawat dokumen dan pedoman bagi
inap dalam menyelesaiakan pedoman semua petugas
semua kegiatan yang telaah admisi rawat inap
berhubungan dengan dokumen dalam
pelaksanaan pelayanan pasien menyelesaikan
rawat inap semua kegiatan
yang berhubungan
dengan pelaksanaan
pelayanan pasien
rawat inap.
3. Cara Pembayaran Pengaruh cara pembayaran Observasi, Pedoman Informasi mengenai
Pasien yang dilakukan pasien terhadap wawancara observasi, pengaruh cara
pelaksanaan untuk pelayanan dan telaah pedoman pembayaran yang
pasien rawat inap di admisi. dokumen dan dilakukan pasien
pedoman terhadap
telaah pelaksanaan
dokumen pelayanan rawat
inap di admisi
4. Tahap Pra - Tahap awal pengumpulan data Observasi, Pedoman Informasi mengenai
Admisi pribadi pasien dan data wawancara observasi, tahap awal
kemampuan keuangan/ sumber dan telaah pedoman pengumpulan data
pembiayaan sebelum pasien dokumen dan pribadi pasien dan
masuk ke rumah sakit. pedoman data kemampuan
telaah keuangan/ sumber
dokumen pembiayaan
sebelum pasien
50

masuk ke rumah
sakit.
5. Tahap Admisi Tahap penerimaan pasien yang Observasi, Pedoman Informasi mengenai
akan masuk rawat inap (pasien wawancara observasi, tahap penerimaan
yang akan di rawat) baik dari dan telaah pedoman pasien yang akan
poliklinik, UGD, maupun dokumen dan masuk rawat inap
rujukan dari luar rumah sakit. pedoman (pasien yang akan di
telaah rawat) baik dari
dokumen poliklinik, UGD,
maupun rujukan
dari luar rumah
sakit.
6. Pelayanan Pasien Adalah semua hal – hal yang Informasi mengenai
di Admisi berkaitan dengan pelayanan semua hal – hal
pasien di unit- unit admisi dapat yang berkaitan
menjadi lebih efisien dan dengan pelayanan
efektif sesuai dengan harapan pasien di unit- unit
ataupun sasaran unit admisi admisi dapat
rawat inap. menjadi lebih
efisien dan efektif
sesuai dengan
harapan ataupun
sasaran unit admisi
rawat inap.
51

C. Variabel/Focus Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat 3 Variabel inependen yakni; Variabel Volume

pekerjaan, Akurasi, dan Waktu terhadap variabel dependen efektivitas pelayanan

Ruamah Sakit Islam Faisal 2019

D. Kriteria Objektif

Dalam penelitian digunakan skala Guttman yang dimana terdapat 2 pilihan jawaban

dalam skala ini, yanhg diaman akan di bahas berikut dibawah ini:

1. Panduan penilaian

Berdasarkan kuesioner di atas, panduan penilaian dan pemberian skoring

dengan menggunakan pendekatan skala Gutman. Adapun panduan penentuan

penilaian dan skoringnya adalah sebagai berikut:

a. Jumlah pilihan = 2

b. Jumlah pertanyaan = 13

c. Skoring terendah = 0 (pilihan jawaban yang salah)

d. Skoring tertinggi = 1 (pilihan jawaban yang benar)

e. Jumlah skor terendah = skoring terendah x jumlah pertanyaan = 0 x 13 = 0

(0%)

f. Jumlah skor tertinggi = skoring tertinggi x jumlah pertanyaan = 1 x 13 = 13

(100%).

2. Penentuan skoring pada kriteria objektif :

Rumus umum:

Interval (I) = Range (R) / Kategori (K)

Range (R) = skor tertinggi - skor terendah = 100 - 0 = 100%


52

Kategori (K) = 2 adalah banyaknya kriteria yang disusun pada kriteria

objektif suatu variabel.

Kategori yaitu Cukup dan Kurang

Interval (I) = 100 / 2 = 50%

Kriteria penilian = skor tertinggi - interval = 100 - 50 = 50%, sehingga

Efektif = jika skor >= 50%

Tidak efektif = jika skor < 50%

E. Hipotesis

1. Volume pekerjaan

Ho: Tidak terdapat pengaruh variabel Volume Pekerjaan terhadap Efektivitas

kerja tenaga kesehatan rawat inap.

Ha: Terdapat pengaruh variabel Volume Pekerjaan terhadap Efektivitas kerja

tenaga kesehatan rawat inap.

2. Akurasi

Ho: Tidak terdapat pengaruh variabel Akurasi terhadap Efektivitas kerja tenaga

kesehatan rawat inap.

Ha: Terdapat pengaruh variabel Akurasi terhadap Efektivitas kerja tenaga

kesehatan rawat inap.

3. Waktu

Ho: Tidak terdapat pengaruh variabel Waktu terhadap Efektivitas kerja tenaga

kesehatan rawat inap.

Ha: Terdapat hubungan variabel Waktu terhadap Efektivitas kerja tenaga

kesehatan rawat inap.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bertujuan untuk melihat

gambaran variabel penelitian yang berpengaruh terhadap Penerapan Sistem

Informasi Rumah Sakit Terhadap Efektivitas Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit

Islam Faisal Makassar 2019

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian

Lokasi pada penelitian ini berada di provinsi Sulawesi selatan, kota Makassar,

tepatnya yaitu, Rumah Sakit Islam Faisal Makassar, yang beralamat di jalan A.P.

Pettarani Makassar. Dengan rencana waktu pada penelitian ini berlangsung selama

kurang lebih 1 bulan, mulai bulan Mei sampai dengan bulan Juni 2019.

C. Alat Ukur Penelitian

Alat ukur penelitian ini menggunakan kuesioner (angket), yang dimana dalam

item jawaban dalam kuesioner menggunakan skala pengukuran guttman yang di

mana di setiap jawaban menyangkut Variabel penelitian di berikan kategori

penilaian yakni terdapat dua pilihan diantaranya yaitu; Ya atau Tidak, yang mampu

menggambarkan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan yang di tujukan ke

responden penelitian ini.


54

D. Populasi dan Sample

Populasi dalam penelitian ini berjumah 152 orang perawat yang bertugas di

ruang perawatan rawat inap yang dimana terbagi di 9 ruangan perawatan. Yakni

sebagai berikut;

Table 3.1
Jumlah Perawatan Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar 2019

Jenis kelamin Jumlah


No Ruangan
Laki-laki Perempuan perawat
1 Perawatan 1 5 11 16 Orang
2 Perawatan 2 4 11 15 Orang
3 Perawatan 3 4 11 15 Orang
4 Perawatan 4 1 13 14 Orang
5 Perawatan 5 4 12 16 Orang
6 Perawatan 6 6 16 22 Orang
7 Perawatan 7 6 16 22 Orang
8 Perawatan 8 5 17 22 Orang
9 As- Syifa 4 6 10 Orang
Total 39 113 152
Sumber: Data Primer 2019

Dengan cara pengambilan sampel menggunakan Stratifed random sampling,

dengan cara membagi populasi kedalam kelompok-kelompok yang homogeny

(disebut strata), dan dari tiap stratum tersebut diambil sampel secara acak.

Besaran sampel penelitian ini digunakan dengan rumus Slovin sebagai berkut:

Dimana :

n : jumlah elemen/ anggota sampel

N : jumlah elemen/ anggota pupulasi

e : error level (tingkat kesalahan), 0,05 (5%)


55

populasi dalam penelitian ini berjumlah 152 orang perawat dengan tingkan

signifikansi 0,05, maka besaran sampel pada penelitian ini adalah:

dibulatkan menjadi 110

Tabel 3.2
Perhitungan Jumlah Sampel

No Ruangan Perhitungan Jumlah perawat (Sampel)


1 Perawatan 1 11,5 12 Orang
2 Perawatan 2 10,8 11 Orang
3 Perawatan 3 10,8 11 Orang
4 Perawatan 4 10,1 10 Orang
5 Perawatan 5 11,5 12 Orang
6 Perawatan 6 15,9 15 Orang
7 Perawatan 7 15,9 16 Orang
8 Perawatan 8 15,9 16 Orang
9 As- Syifa 7,2 7 Orang
Jumlah 110
Sumber : Hasil Olahan Penulis 2019.

E. Teknik Pengolahan Data

Pengelolaan data dalam penelitian ini menggunakan bantuan komputer serta

aplikasi analisis uji statistik SPSS. Yang di mana pengolahan data penelitian

terdapat beberapa langkah yaitu:

1. Editing

Melakukan pemeriksaan hasil pengambilan data yang telah dilakukan

yakni menyangkut kebenaran serta kelengkapan pengisian kuesioner. Dengan


56

cara memeriksa seluruh lembaran kuesioner responden yang telah di

kembalikan ke peneliti mulai dari data umum responden serta memastikan

keseluruhan pernyataan/pertanyaan di lembar kuesioner terisi semua untuk

menghindari missing data.

2. Coding

Memberikan kode pada setiap jawaban dalam kuesioner yang telah dilengkapi

untuk mempermudah dan mempercepat entry data.

3. Entry

Kegiatan memindahkan data yang telah diubah menjadi kode (data coding)

ke dalam mesin pengolah data. Data-data yang telah terkumpul dari hasil

kuesioner dimasukkan (di-entry) ke dalam komputer berdasarkan program entry

data yang telah dibuat sebelumnya. Setelah pengkodean dan penilaian di setiap

jawaban keseluruhan kuesioner responden selesai hasilnya kemudian di imput

kedalam aplikasi pengolah data SPSS.

4. Cleaning

Kegiatan untuk memastikan bahwa seluruh data yang telah dimasukkan

kedalam mesin pengolah data sudah sesuai dengan keadaan sebenarnya. Tahapan

ini seluruh data yang telah terimput di periksa kembali kebenaranya sebelum di

olah dan menghasilkan data informasi, sehingga informasi yang di hasilkan

akurat.

F. Pengumpulan dan Analisa Data

1. Pengumpuan Data

a. Primer
57

Data primer dalam penelitian ini merupakan hasil pegumpulkan data

kuantitatif menggunakan instrumen alat ukur kuesioner (angket) dan di

lengkapi dengan Observasi (pengamatan) agar mendapatkan hasil data

akurat dan jelas yang dapat mempermudah dalam pengolahan data serta

pengambilan keputusan.

b. Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini berasal dari data umum Rumah

Sakit, yang dimana data yang di butuhkan dalam penelitian ini meupakan

data deskrit Rumah Sakit, jumlah kunjungan rawat inap, data jumlah

perawat yang bertugas diperawatan rawat inap, serta informasi tenaga

kesehatan atau perawat yang bertugas diruang perawatan rawat inap yang

telah mengikuti pelatihan SIRS, dan informasi tambahan lainnya

menyangkut penelitian ini.

2. Analisa Data

Analisa data pada penelitian ini adalah Analisis Deskriptif dengan

menggunakan analisis regresi linear dengan menggunakan uji T statistic dalam

aplikasi pengolah data SPSS.


58

G. Etika Penelitian

INFORMED CONSENT

Kepada bapak/ibu pegawai Makassar, Mei 2018

RSI Faisal Makassar

di Tempat

Dengan hormat,

Dengan segala kerendahan hati saya sampaikan kuesioner ini kehadapan

Bapak/Ibu di sertai dengan permohonan maaf karena kehadiran kuesioner ini

akan menggangu waktu kerja dan istirahat Bapak/Ibu. Adapun tujuan

penyebaran kuesioner ini hanya di perlukan untuk mengumpulkan data dan

informasi dalam penulisan proposal skripsi yang berjudul “Pengaruh

Penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Terhadap

Efektivitas Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar

Tahun 2019” Jawaban dari para responden di setiap pertanyaan hanya di

pergunakan untuk kepentingan akademis semata, yang sifatnya rahasia,

terbatas dan tidak di publikasikan.

Peran serta dan sumbangan saran Bapak/Ibu sekalian sangat berarti dalam

penyusunan penelitian ini, atas perhatian dan bantuan yang di berikan saya

ucapkan terim akasih. Semoga Allah SWT dapat membalas kebaikan

Bapak/Ibu sekalian dengan berlipat ganda Amin.

Hormat saya

Andi Surya Abdi


59

DAFTAR PUSTAKA

Adam, A., Pejuang, U., & Indonesia, R. (2018). Sistem Informasi Manajemen
Rumah Sakit Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan di Rumah Sakit Umum
Daerah Pangkep (Studi Kualitatif di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep).
(September 2016).

Amsyah, Zulkifli. 2001. Manajemen Sistem Informasi. Gramedia Pustaka Utama.


Jakarta.

Bayu, A., & Izzati, S. (2013). Evaluasi Faktor-Faktor Kesuksesan Implementasi


Sistem Informasi manajemen Rumah Sakit di PKU Muhammadiyah Sruweng
dengan Menggunakan Metode. (November), 78–86.

Damayanti, D. ., Rusmin, M., & Arranury, Z. (2015). Gambaran penerapan sistem


informasi manajemen kesehatan berbasis WEB di Puskesmas kota Makassar
tahun 2015. Al-Sihah : Public Health Science Journal, 7(2), 6.

Dewantara, S. (2018). PENGARUH SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI


KEPENDUDUKAN ( SIAK ) TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI
PADA KANTOR DINAS. 1(April), 107–117.

Dwi, T., Setiawan, D., Putra, H., & Choirur, M. (2017). Penerapan Analisis Jalur
Kepuasan Pengguna Terhadap Intensitas Pengguna SIMRS. 02, 131–138.

file http://repository.uma.ac.id/bitstream/123456789/1669/5/128600347_file5.pdf.
(Diakses 2 Mei 2019).

Gunawan, I. (2013). Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit ( Simrs )


Rsud Brebes Dalam Kesiapan Penerapan Sistem Informasi Rumah Sakit ( Sirs
) Online Kemenkes Ri Tahun 2013.

https://idtesis.com/teori-lengkap-tentang-sistem-informasi-rumah-sakit-menurut-
para-ahli-dan-contoh-tesis-sistem-informasi-rumah-sakit/ (Diakses 13 juni
2019).

http://economic-manage.blogspot.com/2014/10/sistem-informasi-manajemen-
rumah-sakit.html (Diakses 13 juni 2019).

Layaman, & Hartati, S. (2009). Studi Efektivitas Pelayanan Publik di Kecamatan


Kejaksan Kota Cirebon. Benefit Jurnal Manajemen Dan Bisnis, 13–33.
Retrieved from
http://journals.ums.ac.id/index.php/benefit/article/view/1280/843

Notoadmojo. S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka


Cipta.
60

Publik, M., & Odelia, E. M. (2018). SurabayaManajemen Rumah Sakit ( SIMRS )


Untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan di RSUD dr . Mohamad
Soewandhie. 6(April), 1–8.

Raden, R., & Jambi, M. (2012). ANALISIS KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP
BANGSAL JANTUNG DI RSUD RADEN MATTAHER JAMBI. 1(1), 11–30.

Ranu, M. E., Pendidikan, S., Perkantoran, A., Ekonomi, F., & Surabaya, U. N.
(n.d.). KEMBALI ARSIP DI KANTOR PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN
KABUPATEN SIDOARJO Husnia Pertiwi. 1–17.

Santoso,S. (2015). Menguasai Statistik Non Parametrik. Jakarta: Kompas


Gramedia.

Setyawan, D. (2016). ANALISIS IMPLEMENTASI PEMANFAATAN SISTEM


INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT ( SIMRS ) PADA RSUD
KARDINAH TEGAL. 1(2), 54–61.

Siagian, S.P. 2002. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta : Rineka Cipta.

Siranap, T., Siranap, M., Update, M., & Siranap, D. (n.d.). JUKNIS SIRANAP (
Sistem Informasi Rawat Inap ).

Sugiharto, O. (2008). Sistem Informasi Rumah Sakit. 1–13.

www.jdih.kemenkeu.go.id/fullText/2009/36TAHUN2009UU.htm (Diakses 2 Mei


2019).
61

LAMPIRAN
Nomor Kuesioner :

FORMULIR KUESIONER

Pengaruh Penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit

Terhadap Efektivitas Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal

Makassar Tahun 2019

PROFIL RESPONDEN

Nama responden :

Alamat responden :

Jenis kelamin : Pria

Wanita

Usia Anda : _________ Tahun

Nomor Handpone :

Profesi :

Lama bekerja :

1 – 2 tahun 3 – 4 tahun 5 – 6 tahun > 6 tahun

PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER

Kuesioner di bawah ini memuat sejumlah pertanyaan. Silahkan Anda

memberikan tanda checklist (√) pada kotak jawaban yang Anda pilih yang

menunjukkan persetujuan atau ketidak setujuan Anda terhadap pertanyaan

tersebut.
62

1. VOLUME PEKERJAAN (VP)


No. Pernyataan Ya Tidak
1 Apakah setelah menggunakan Sistem Informasi Manajemen
Rumah Sakit (SIMRS) mampu memudahkan pekerjaan anda
dalam melakukan pencatatan dan pelaporan?
2 Apakah anda masih membutuhkan bantuan orang lain dalam
menyelesaikan pengolahan data, setelah menggunakan SIMRS?
3 Apakah dengan penerapan SIMRS di Rumah Sakit ini mampu
meningkatkan mutu pelayanannya?
4 Dengan SIMRS penyampaian informasi ke tiap unit yang
berkaitan dengan pelayanan rawat inap lebih mudah?
5 Apakah anda pernah mengikuti pelatihan terkait SIMRS?
2. AKURASI (AK)
No. Pernyataan Ya Tidak
1 Apakah komputer yang anda gunakan pernah mengalami
gangguan?
2 Apakah komputer yang di gunakan sering di lakukan
pemeriksaan dan pemeliharaan secara berkala oleh petugas
Informasi Teknologi (IT)?
3 Apakah pengolaha data menggunakan komputer lebih akurat
dibanding pengolahan secara manual?
3. WAKTU (WT)
No. Pernyataan Ya Tidak
1 Apakah dengan menggunakan SIMRS informasi yang akan di
sampaikan tepat waktu saat di perlukan?
2 Apakah SIMRS mempercepat pelayanan yang di berikan?
3 Apakah SIMRS mempercepat penyelesaian pekerjaan anda?

EFEKTIVITAS (EFK)
No. Pernyataan Ya Tidak
1 Apakah anda merasa puas dengan penerapan SIMRS di ruang
kerja anda ?
2 Apakah pekerjaan anda tercapai sesuai target dengan bantuan
SIMRS?
Terima kasih telah mengisi kuesioner penelitian ini, kami harap data yang anda
isikan murni dari penilaian pribadi anda tanpa ada tekanan dari pihak manapun,
sehingga data yang di hasilkan akurat.
Tanggal pengisisan kuesioner …./…./ 2019

Tanda Tangan Responden