Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem pelayanan kesehatan merupakan suatu yang sangat penting di dalam
dunia kesehatan melalui sistem ini diharapkan kualitas kesehatan khususnya di
Indonesia. Melalui sistem ini tujuan pembangunan kesehatan dapat tercapai dengan
cara efektif dan tepat sasaran. Keberhasilan sistem pelayanan kesehatan tergantung
dari berbagai komponen yang masuk dalam pelayanan kesehatan diantaranya perawat,
dokter, atau tim kesehatan lain yang saling menunjang.
Definisi pelayanan kesehatan menurut Prof. Dr. Soekitjo Notoatmojo
pelayanan kesehatan adalah sebuah subsistem pelayanan kesehatan yang tujuan
utamanya adalah pelayanan prefentif (pencegahan) dan promotif (peningkatan
kesehatan) dengan sasaran masyarakat.
Dalam era otonomi daerah sekarang ini tantangan yang dihadapi oleh birokrasi
pemerintah Indonesia cukup berat. Masa transisi sistem pemerintahan daerah yang
ditandai dengan keluarnya UU No. 22 Th. 1999 sebagaimana diubah dengan UU No.
32 Th. 2004 telah membawa beberapa perubahan yang mendasar. Pertama, daerah
yang tadinya sebelum berlakunya UU No. 22 Th. 1999, otonomi yang dimiliki
pemerintah daerah hanyalah otonomi nyata dan bertanggung jawab saja, tetapi dengan
berlakunya UU No. 22 Th. 1999 menjadi otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab.
B. Rumusan Masalah
1 Bagaimana teori dari sistem pelayanan kesehatan?
2 Bagaimana tingkat pelayanan kesehatan dari sistem pelayanan kesehatan?
3 Bagaimana ruang lingkup sistem pelayanan kesehatan?
4 Apakah faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan?
5 Bagaimana kebijakan otonomi daerah?
6 Bagaimana paradigma kebijakan pelayanan publik di era otonomi daerah?
C.Tujuan
1 Mengetahui sistem-sistem dari pelayanan kesehatan
2 Mengetahui tingkatan pelayanan kesehatan dari sistem pelayanan kesehatan
3 Mengetahui beberapa lembaga yang terkait dengan pelayanan kesehatan
4 Mengetahui ruang lingkup dari sistem pelayanan kesehatan
5 Mengetahui faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan
6 Mendefinisikan arti dari kebijakan kesehatan

1
7 Mendefinisikan arti dari otonomi daerah
8 Mendefinisikan arti dari pelayanan publik
9 Mengetahui pandangan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah tentang
program obat murah

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi pelayanan kesehatan dan kebijakan otonomi daerah


Defini dari sistem, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan. pelayanan kesehatan adalah sebuah konsep dimana konsep ini memberikan
layanan kesehatan kepada masyarakat. Definisi pelayanan kesehatan menurut Prof. Dr.
Soekitjo Notoatmojo pelayanan kesehatan adalah sebuah subsistem pelayanan kesehatan
yang tujuan utamanya adalah pelayanan prefentif (pencegahan) dan promotif
(peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Dan menurut Level dan Loomba
pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-
sama dalam waktu organisasi dalam memelihara dan menigkatkan kesehatan.
Dalam pengamatan penulis waktu itu, dua argmumentasi ini memiliki alasan yang
obyektif. Pendapat pertama bisa berlindung dibalik alasan bahwa pemerintahan daerah
yang berlaku saat itu memang belum sepenuhnya mencerminkan konsep Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1974. Titik berat otonomi pada daerah tingat II (kabupaten dan
kotamadya), yang merupakan amanah pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1974 belum terwujud. Namun argument inipun bias dikoreksi. Bukankah ini sekaligus
menunjukkan betapa rendahnya komitmen pemerintah dalam menjalankan undang-
undang itu? Kenyataan bahwa pemerintah tidak melaksanakan perintah undang-undang
walaupun setelah undang-undang itu berlaku selama lebih dari 20 tahun memang
menyulitkan lahirnya consensus baru untuk pelaksanaannya. Keengganan pemerintah
pusat untuk mendelegasikan wewenang ke daerah memang berlebihan. Pada masa itu
sangat sulit bagi siapapun untuk mengubah persepsi para pejabat pusat agar menerima
asumsi tentang kemanfaatan dari kebijakan desentralisasi. Ini antara lain disebabkan
karena visi tentang keterkaitan antara sistem negara kesatuan dengan keperluan akan
pendekatan yang sentralistik masih cukup dalam tertanam di benak para pemimpin
pemerintahan di pusat. Keadaan ini memperkuat argumen dari pendapat yang kedua
untuk sama sekali meninggalkan konsep otonomi yang sedang berlaku dan menggantinya
dengan sesuatu yang baru.
Konsep Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang bernuansa sentralistik itu
memang harus dituduh sebagai penyebab dari berbagai kekurangan yang menyertai
perjalanan pemerintahan di daerah selama lebih dari dua dekade terakhir. Kenyataan
belum diperolehnya pemimpin dan kepemimpinan pemerintahan yang terbaik sesuai

3
dengan aspirasi masyarakat pada masa itu adalah akibat dari pola rekrutmen yang
tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 itu. Pola itu telah memberi
pembenaran terhadap berlakunya rekayasa pemilihan pemimpin pemerintahan yang tidak
transparan dan tidak memiliki "sense of public accountability." Kurangnya kewenangan
yang diletakkan di daerah juga telah menjadi penyebab dari lemahnya kemampuan
prakarsa dan kreatitivitas pemerintah daerah dalam menyelesaikan berbagai masalah dan
menjawab berbagai tantangan. Keleluasaan untuk menetapkan prioritas kebijakan, yang
merupakan syarat penting untuk lahirnya prakarsa dan kreativitas, memang tidak
tersedia. Semua keputusan penting hanya bisa diambil oleh pemerintah pusat. Akibatnya,
selalu terjadi kelambanan dalam merespons dinamika dan permasalahan yang terjadi di
daerah. Dalam keadaan seperti ini, partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan
kebijakan publik menjadi sangat lemah.

B. Teori Sistem Pelayanan kesehatan


1. Input
Merupakan subsistem yang akan memberikan segala masukan untuk berfungsinya
sebuah sistem, seperti system pelayanan kesehatan, maka masukan dapat berupa
potensi masyarakat, tenaga kesehatan, sarana kesehatan dan lain-lain.
2. Proses
Suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah sebuah masukan untuk menjadikan
sebuah hasil yang diharapkan dari system tersebut, sebahaimana contoh dalam
system pelayanan kesehatan, maka yang dimaksud proses adalah berbagai kegiatan
dalam pelayanan kasehatan.
3. Output
Hasil berupa layanan kesehatan yang berkualitas, efektif dan efisien serta dapat di
jangkau oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga pasien sembuh dan sehat optimal.
4. Dampak
Merupakan akibat yang dihasilkan sebuah hasil bari system, yang terjadi relative
lama waktunya. Setelah hasil dicapai, sebagaimana dalam system pelayanan
kesehatan , maka dampaknya akan menjadikan masyarakat sehat dan mengurangi
angka kesakitan dan kematian karena pelayanan terjangkau oleh masyarakat.
5. Umpan Balik
Merupakan suatu hasil yang sekaligus menjadikan masukan dan ini terjadi dari
sebuah system yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Umpan balik

4
dalam system pelayanan kesehatan dapat berupa kualitas tenaga kesehatanyang juga
dapat menjadikan input yang selalu meningkat.
6. Lingkungan
Lingkungan disini adalah semus keadaan diluar system tetati dapat mempengaruhi
pelayanan kesehatan sebagaimana dalam system pelayanan kesehatan, lingkungan
yang dimaksud dapat berupa lingkungan strategis, atau situasi kondisi social yang
ada di masyarakat seperti institusi di luar pelayanan masyarakat.

a. Tingkatan Pelayanan Kesehatan


Tingkat pelayanan kesehatan dalam sistem pelayanan kesehatan adalah :
1) Health promotion ( promosi kesehatan )
Tingkat pelayanan kesehatan ini merupakan tingkat pertama dalam memberikan
pelayanan melalui peningkatan kesehatan dan bertujuan untuk meningkatkan
status kesehatan agar masyarakat tidak terjadi gangguan kesehatan.
2) Spesific protection ( perlindungan khusus )
Dilakukan untuk melindungi masyarakat dari bahaya yg akan menyebabkan
penurunan status kesehatan. Contohnya pemberian imunisasi.
3) Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini dan pengobatan segera)
Dilaksanakan dalam mencegah meluasnya penyakit yang lebih lanjut serta
dampak dari tibulnya penyakit sehingga tidak terjadi penyebaran.
4) Disability Limitation (Pembatasan Cacat) Dilakukan untuk mencegah agar pasien
atau masyarakat tidak mengalami dampak kecacatan akibat penyakit yang
ditimbulkan
5) Rehabilitation
Dilaksanakan setelah pasien didiagnosis sembuh. Tahap ini dijumpai pada fase
pemulihan terhadap kecacatan sebagaimana program latihan ini diberikan pada
pasien.

b. Lembaga Pelayanan Kesehatan


Lembaga Pelayanan Kesehatan merupakan tempat pemberian pelayanan
kesehatan pada masyarakat dalam rangka meningkatkan status kesehatan. Tempat
pelayanan kesehatan sangat bervariasi berdasarkan tujuan pelayanan kesehatan dapat
berupa rawat jalan, institusi kesehatan, comunity based agency dan hospice.

5
1. rawatjalan
Lembaga ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan pada tingkat
pelaksanaan diagnosis dan pengobatan pada penyakit yang akut atau mendadak dan
kronis yang memungkinkan tidak terjadi rawat inap.
2. Institusi
Lembaga ini merupakan pelayanan kesehatan yang fasilitasnya cukup dalam
memberikan berbagai tingkat kesehatan seperti rumah sakit, pusat rehabilitasi, dan
lain lain.
3. komunity basic agency
Bagian dari lembaga pelayanan kesehatan yang dilakukan pada klien
sebagaimana pelaksanaan perawatan keluarga seperti praktek rawat keluarga dan
lain lain.
4. Hospice
Lembaga ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang di
fokuskan pada klien yang sakit terminal agar lebih tenang dan biasanya digunakan
dalam home care.

C. Ruang Lingkup Sistem Pelayanan Kesehatan


1. Primary Health Care (Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama)
Pelayanan Kesehatan ini dibutuhkan atau dilaksanakan pada masyarakat yang
memiliki masalah kesehatan yang ringan.
2. Secondary Health Care (Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua)
Diperlukan bagi masyarakat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit atau rawat
inap dan dilaksanakan di pelayanan kesehatan utama.
3. tertiary Health Service (Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga)
Pelayanan kesehatan merupakan tingkat pelayanan yang tertinggi. Biasanya
pelayanan ini membutuhkan tenaga-tenaga yang ahli

a. Pelayan Perawatan Dalam Pelayanan Kesehatan


Pelayanan keperawatan merupakan bagian dari pelayanan kesehatan semuanya
dapat dilaksanakan oleh tenaga keperawatan dalam menigkatkan derajat kesehatan.
contoh pelayanan kesehatan dalam tingkat dasar yang dilakukan di lingkup puskesmas
dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga diantaranya mengenal masalah

6
kesehatan secara dini, mengambil keputusan, menanggulangi keadaan secara darurat
bila terjadi kecelakaan, memberikan pelayanan keperawatan dasar.

D. Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan


1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Baru
Perkembangan Iptek akan diikuti dengan pelayanan kesehatan, seperti dalam
pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah penyakit-penyakit yang sulit. Dapat
menggunakan alat seperti laser, terapi perubahan gen, dan lain lain.
2. Pergeseran Nilai Masyarakat
Masyarakat yang sudah maju dalam pengetahuan yang tinggi maka akan memiliki
kesadaran yang lebih dalam pemanfaatan kesehatan sebaliknya masyarakay yang
memiliki pengetahuan yang murang akan memiliki kesadaran yang rendah terhadap
layanan kesehatan sehingga kondisi demikian akan sangat mempengaruhi sistem
pelayanan kesehatan.
3. Aspek Legal Dan Etik
Tingginya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan pelayanan kesehatan, maka
diimbangi pula tingginya tuntutan hukum dan etik sehingga pelayanan kesehatan
dituntut untuk profesional dengan memperhatikan nilai-nilai hukum dan etika yang
ada di masyarakat
4. Ekonomi
Pelaksanaan pelayanan kesehatan akan dipengaruhi oleh tingkat ekonomi masyarakat.
Semakin tinggi ekonomi seseorang, pelayanan kesehatan akan lebih di perhatikan
begitu juga sebaliknya maka sangat sulit menjangkau pelayanan kesehatan mengingat
biaya dalam jasa pelayanan kesehatan membutuhkan biaya yang cukup mahal.
5. Politik
Kebijakan pemerintah akan sangat berpengaruh dalam sisitem pemberian pelayanan
kesehatan. Kebijakan-kebijakan yang ada dapat memberikan pola dalam sistem
pelayanan.

E. Visi

F. Paradigma kebijakan otonomi daerah

7
Konsepsi kebijakan otonomi daerah Kebijakan desentralisasi memiliki tujuan utama,
yaitu tujuan politik dan tujuan administratif. Tujuan politik, diarahkan untuk memberi
ruang gerak masyarakat dalam tataran pengembangan partisipasi, akuntabilitas,
transparansi dan demokrasi. Disisi lain dari pendekatan aspek pendemokrasian daerah,
memposisikan Pemerintahan Daerah sebagai medium pendidikan politik bagi masyarakat
di tingkat lokal. Diharapkan pada saatnya, secara agregat daerah memberikan kontribusi
signifikan tehadap perkembangan pendidikan politik secara nasional, dan terwujudnya
civil society. Sedangkan tujuan administratif, memposisikan Pemerintah Daerah sebagai
unit pelayanan yang dekat dengan masyarakat yang diharapkan dapat berfungsi
maksimal dalam menyediakan pelayanan publik secara efektif, efisien dan ekonomis
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Berdasarkan tujuan politik dan administratif tersebut diatas, memberikan kejelasan
bahwa misi utama dari keberadaan Pemerintahan Daerah, adalah bagaimana
mensejahterakan warga dan masyarakatnya melalui penyediaan pelayanan publik secara
efektif, efisien dan ekonomis, dengan cara-cara yang demokratis. Konsep kebijakan
pemberian otonomi luas,nyata dan bertanggung jawab pada dasarnya diarahkan untuk
mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Melalui peningkatan pelayanan
publik dan pemberdayaan peran serta masyarakat, daerah diharapkan mampu
mengembangkan kreativitas, inovasi, dan dengankomitmennya berupaya untuk
meningkatkan kualitas pelayanan publik. Pada pada saatnyadiharapkan mampu
mengembangkan potensi unggulannya dan mendorong peningkatan dayasaing daerah,
serta meningkatkan perekonomian daerah.9 Prinsip otonomi yang nyata, adalah
memberikan diskresi atau keleluasaan kepadadaerah untuk menyelenggarakan urusan
atau kewenangan bidang pemerintahan tertentu yangsecara nyata ada dan diperlukan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan urusan yang secaranyata hidup dan
berkembang, di masyarakat daerah yang bersangkutan. Sedangkan prinsip otonomi yang
bertanggung jawab, berkaitan dengan tugas, fungsi, tanggungjawab dan kewajiban
daerah di dalam pelaksanaan penyelenggaraan otonomi daerah. Artinya Daerah harus
mempertanggung-jawabkan hak dan kewajibannya kepada masyarakat atas
pencapaiantujuan otonomi daerah.Wujud tanggung jawab tersebut harus tercermin dan
dibuktikan dengan peningkatanpelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik
berdasarkan prinsip-prinsippelayanan publik, pengembangan demokrasi, keadilan dan
pemerataan bagi masyarakatdaerahnya. Disamping itu, wujud pelaksanaan tanggung
jawab daerah di dalampenyelenggaraan otonomi daerah juga harus didasarkan pada

8
hubungan yang serasi antarsusunan pemerintahan dan kebijaksanaan pemerintahan
nasional.
Otonomi daerah yang luas, tidak bermakna atau tidak berarti daerah dapat
semenamena atau sebebas-bebasnya melakukan tindakan dan perbuatan hukum
berdasarkan seleradan keinginan yang mengedepankan ego daerah. Penyelenggaraan
otonomi yang luas, harus sejalan, selaras dan dilaksanakan bersama-sama dengan prinsip
otonomi yang nyata dan bertanggung jawab, dan memperhatikan keserasian hubungan
antar pemerintahan daerah danpemerintah nasional.Konsep Kebijakan Pelayanan Publik
pada Era Otonomi Daerah Paradigma kebijakan pelayanan publik di era otonomi daerah
yang diatur melaluiberbagai macam Peraturan Perundang-undangan, hakekatnya untuk
mewujudkan kepemerintahan yang baik. Konsep pemberian otonomi kepada daerah dan
konsep desentralisasi yang telah diuraikan diatas, mengandung pemahaman bahwa
kebijakan pelayanan publik di era otonomi daerah, adalah dalam kerangka
terselenggaranya kepemerintahan yang baik, yang diwujudkan melalui tanggung jawab
dan kewajiban daerah untuk meningkatkan pelayanan publik untuk mensejahterakan
masyarakat di daerahnya.Otonomi daerah adalah “hak, wewenang, dan kewajiban daerah
otonom untukmengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakatsetempat…”. Daerah otonom selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan
masyarakat hukumyang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan
mengurus-urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, menurut prakarsa
sendiri berdasarkanaspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Definisi tersebut dapat diartikan, bahwa otonomi daerah adalah
hak,wewenang dan kewajiban yang diberikan kepada kesatuan masyarakat hukum untuk
mengatur dan mengurusurusan pemerintahan untuk kepentingan mensejahterakan
masyarakat.
Pengertian kesatuan masyarakat hukum dapat diartikan, sekelompok masyarakat
yang melembaga yang memiliki tatanan hubungan, aturan, adat istiadat, kebiasaan dan
tata cara untuk mengatur dan mengurus kehidupannya dalam batas wilayah tertentu.
Dalam kontek Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang
diberi hak,wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan
dan kepentingan masyarakatnya adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki
batas-batas wilayah dan selanjutnya disebut Daerah.Dengan demikian, penyelenggara
otonomi daerah sebenarnya adalah perwujudan dari kesatuan masyarakat hukum, dan
selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 32/2004 disebutPemerintahan Daerah.

9
Pemerintahan Daerah disini, mengandung dua pengertian; yaitu dalam arti institusi
adalah Pemerintah Daerah dan DPRD, dan dalam arti proses adalah kegiatan
penyelenggaran pemerintahan daerah. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan
daerah,Pemerintah Daerah dan DPRD seharusnya berorientasi pada kepentingan
masyarakat, dan mengutamakan tanggungjawab dan kewajibannya untuk
mensejahterakan masyarakat, dengan memberikan dan/atau menyediakan pelayanan
publik sesuai dengan kebutuhan masyarakatsetempat. 10 Konsep otonomi daerah telah
membuka sekat komunikasi, transparansi danakuntabilitas di dalam penyelenggaraan
pemerintahan daerah. Otonomi daerah memberikan kesempatan luas kepada masyarakat
untuk semakin memahami hak-haknya mendapatkan pelayanan dari pemerintah daerah,
termasuk peran dan hak-hak perempuan di dalam mendapatkan akses pelayanan,
kesetaraan perlakuan dan kesempatan luas untuk beraktivitas diranah birokrasi
publik.Masyarakat semakin kritis dan berani untuk menyampaikan aspirasi dan
melakukan control terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah daerahnya. Harus
diakui, pelaksanaan otonomi daerah dewasa ini, dengan kekurangan dan kelebihannya
belum berpengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakat, terutama dalam proses
memberdayakan masyarakat (empowering) dan memberikan pendidikan politik
(demokrasi). Dilihat dari tujuan pemberian otonomi, kondisi dan perkembangan
masyarakat yang dinamis tersebut,memberikan sinyal peringatan bagi pemerintah daerah
untuk bersikap arif. Dinamika masyarakat tersebut, harus ditempatkan sebagai tantangan
konstukrif yang harus disikapipositif oleh para pemimpin/pengambil kebijakan dan
jajaran aparatnya,di dalam memberikan pelayanan publik yang sesuai harapan dan
kebutuhan masyarakat.Konsep kebijakan pelayanan publik yang dikemas melalui produk
hukum dan/atau kebijakan daerah, umumnya masih didasarkan pada pendekatan
kekuasaan kewenangan yang lebih mengedepankan kepentingan pemerintah daerah
dan/atau birokrasi,dan belum berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan
masyarakat.Konsep kebijakan pelayanan publik di era otonomi daerah, pada hakekatnya
ditujukan dan berorientasi untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (citizen).
Disisi lain, kebijakan pelayanan publik diarahkan guna memberdayakan (empowerment)
staf danmasyarakat, yang secara bersama-sama saling berinteraksi dalam mendukung
meningkatnya kualitas pelayanan. Bobot kebijakan pelayanan yang berorientasi
pelayanan umum,seharusnya untuk kepentingan dan kebutuhan masyarakat yang kurang
mampu atau miskin(marjinal), bukan mengutamakan hak-hak atau kepentingan kalangan
yang berkemampuanatau pengusaha. Diperlukan keseimbangan mind set dari para

10
penyelenggara pelayanan, didalam menyikapi kepentingan masyarakat yang beragam
kepentingan dan kebutuhannya.“Keberhasilan pelaksanaan kebijakan pelayanan publik,
dalam praktek sangat ditentukandan/atau tergantung pada kemauan dan komitmen dari
pimpinan/top manager dan jajaranpimpinan menengah dan bawah, serta aparat
penyelenggara operasional pelayanan umum “.Pembagian Urusan dan Kewenangan
Pelayanan DasarEsensi dasar dari keberadaan pemerintah, adalah untuk menciptakan
ketentraman dan ketertiban (maintain law and order) serta sebagai instrument untuk
mensejahterakan rakyat. (Hardiyansyah Ahmad ).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
sistem pelayanan kesehatan adalah sebuah konsep dimana konsep ini memberikan
layanan kesehatan kepada masyarakat.Sistem pelayanan kesehatan juga memiliki
beberapa teori seperti input, proses, output, dampak, umpan balik dan lingkungan.Selain
itu sistem pelayanan kesehatan memiliki beberapa tingkatan seperti promosi kesehatan,
perlindungan khusus, diagnosa dini dan pengobatan segera, pembatasan cacat, dan
rehabilitas
Analisis kebijakan kesehatan adalah apapun pilihan pemerintah untuk melakukan
atau tidak, dalam mengambil kebijakan di bidang kesehatan berlandaskan atas manfaat
yang optimal yang akan diterima oleh masyarakat
2. Otonomi daerah adalah hak,wewenang dan kewajiban yang diberikan kepada kesatuan

11
masyarakat hukum untuk mengatur dan mengurusurusan pemerintahan untuk
kepentingan mensejahterakan masyarakat.
3. Pelayanan Publik Pelayanan Umum menurut Lembaga Administrasi Negara (1998)
diartikan: “Sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh
Instansi Pemerintahan di Pusat dan Daerah, dan di lingkungan BUMN/BUMD dalam
bentuk barang dan/atau jasa, baikdalam pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun
dalam rangka pelaksanaan ketentuan Peraturan Perundang-undangan”.
4. Pandangan masyarakat berbeda – beda terhadap program pemerintah ini. Ketika
peraturan mengenai obat generik pertama kali diberlakukan, reaksi yang timbul di
masyarakat hampir serupa. Kelompok masyarakat yang meragukan obat murah terlanjur
menganggap bahwa obat yang berkualitas adalah obat yang harganya mahal. Sedangkan,
obat yang murah selalu diasosiasikan dengan kualitas rendah dan untuk masyarakat
miskin. Padahal, tak selamanya obat berkualitas itu mahal, dan tidak pula selalu obat
yang harganya murah itu kualitasnya di bawah standar.
5. Implikasi perubahan kelembagaan pda era otonomi daerah, saat lembaga yang selama
ini berperan besar dalam pelayanan kesehatan reproduksi pada tingkat pusat (BKKBN)
akan dihapuskan dan diserahkan kepada pemerintah kabupaten / kota. Posisi BKKBN
sebagai lembaga yang bersifat koordinatif dapat menjadi tidak jelas., dalam merumuskan
arah kebijakan reproduksi karena semuanya akan sangat tergantung pada visi dan
komitmen kabupaten atau kota yang bersangkutan, dengan alasan kerterbatasn dana,
dapat saja kabupaten / kota mengabaikan program pelayanan kesehatan reproduksi,
khususnya dibidang keluarga berencana.Berkaitan dengan hal tersebut, maka alternatif
kebijakan untuk tetap melanjutkan program-program pelayanan kesehatan reproduksi
yang telah dilakukan oleh BKKBN perlu dirumuskan oleh pemerintah kabupaten / kota.
6. Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk meningkatkan dayaguna dan
hasilguna penyelenggaraan pemerintahan di daerah, terutama dalam pelaksanaan
pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat serta untuk meningkatkan pembinaan
kestabilan politik dan kesatuan bangsa (Mamesah, 1995: 56).

12
DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Ilmiah, Admnistrasi Publik, Birokrasi Era Reformasi, Vol. V No 1, September 2004 –
Februari 2005.
Jurnal Ilmu Pemerintahan, Penataan Kelembagaan Pemerintahan, Edisi 7, Tahun 2002,
Penerbit, Masyarakat Ilmu Pemerintahan.
Jurnal Desentralisasi, Lembaga Adminisrasi Negara Republik Indonesia, Volume 5 No.
3,Tahun 2004.
Jurnal Potret Suplai dan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia Ditulis oleh Irwandi,
Rabu 29 Oktober 2009.
Jurnal ALTERNATIFKEBIJAKAN PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI DI ERA
OTONOMI DAERAH ditulis oleh Karningsih.

13
14