Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan untuk memperoleh ilmu
pengetahuan. Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia dan
mendapatkan pendidikan yang layak adalah hak setiap warga negara. (Rasyid,
2013).
Penekanan dalam pendidikan bukan terletak pada hasilnya melainkan pada
proses belajar mengajar karena pendidikan merupakan proses pertumbuhan dan
perkembangan yang berlangsung dalam diri peserta didik. Tujuan belajar yang
paling utama adalah ilmu yang didapat bisa bermanfaaat dikemudian hari untuk
dapat memahami hal-hal yang lain.
Tugas guru dalam mengajar yang juga sebagai fasilitator tidak dapat
dilakukan sembarangan. Guru harus memahami teori-teori dan prinsip-prinsip
dalam mengajar agar dapat bertindak dengan tepat. Teori belajar yang dimaksud
bukan sebagai penentu langkah-langkah pembelajaran melainkan sebagai pemberi
arah prioritas dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh guru.
Pembelajaran matematika dapat dipandang sebagai usaha guru, dosen, atau
pelatih dalam membantu siswa, mahasiswa, atau peserta latihan dalam
memahami dan terampil matematika. Agar guru dapat membantu siswa belajar
maka seyogyanya guru harus mengetahui bagaimana sebenarnya proses
matematika dapat dipahami dan dikuasai oleh siswa. Jika tidak demikian, maka
akan sulit bagi guru dalam membantu siswanya belajar matematika. Proses
matematika dapat sampai dipikiran seseorang itu merupakan kawasan dari teori
belajar matematika yang sering disebut psikologi matematika. Teori belajar
matematika itu diturunkan dari teori belajar umum.
Banyak ahli psikologi kognitif yang mempelajari bagaimana terjadinya
belajar dan menyarankan bagaimana seharusnya belajar dilakukan. Jerome Bruner
(1966), David Ausubel (1968), dan Robert Gagne (1970) telah mengemukakan
tiga model instruksional kognitif yang paling berpengaruh. Dalam makalah ini
akan dibahas model Jerome Bruner, yaitu model belajar penemuan.

1
Model pembelajaran penemuan yang dipopulerkan oleh Bruner biasa
disebut dengan discovery learning. Metode discovery learning adalah teori belajar
yang didefenisikan sebagai proses belajar yang terjadi bila materi pelajaran tidak
disajikan dalam bentuk finalnya, tetapi pelajar diharapkan dapat
mengorganisasikannya sendiri (Kemdikbud, 2013).
Pembelajaran penemuan menurut Bruner melibatkan tiga tahapan
keterampilan, yaitu tahap enactive, econic, dan simbolis. (Wiryanto, 2014: 594)
Beberapa penelitian yang menggunakan teori Bruner adalah penelitian yang
telah dilakukan oleh Wulansari (2012) yang meneliti tentang peningkatan hasil
belajar dengan penerapan teori Bruner pada siswa kelas IV SD di Kabupaten
Bantul. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa peningkatan hasil
belajar siswa dapat dilihat dari dua hal, yaitu keberhasilan proses dan keberhasilan
produk, serta terjadi perubahan aktivitas belajar siswa dan aktivitas mengajar guru
kearah yang positif. Siswa semakin aktif dalam pembelajaran dan guru semakin
kreatif dalam pembelajaran.
Penelitian yang serupa juga dilakukan oleh Lestari (2013) yang menerapkan
teori Bruner untuk melihat peningkatan hasil belajar di SD Kabupaten Mamuju
Utara. Kesimpulan hasil penelitian diperoleh bahwa penerapan teori Bruner dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas pembelajaran siswa berada pada
kategori sangat baik.

1.2.Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah
bagaimana penerapan pembelajaran menurut teori Bruner dan kaitannya dalam
pembelajaran matematika?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Biografi Jerome Bruner


Jerome Seymour Bruner ini, dilahirkan di New
York City pada tanggal 1 Oktober 1915. Ia
berkebangsaan Amerika. Bruner menyelesaikan
pendidikan sarjana di Duke University di mana ia
menerima gelar sarjananya (B.A) pada tahun 1937.
Selanjutnya, Bruner belajar psikologi di Harvard
University dan mendapat gelar doktornya pada tahun 1939 dan mendapat gelar
Ph.D. Pada tahun 1939 dibawah bimbingan Gordon Allport. Pendekatannya
tentang psikologi adalah eklektik. Penelitiannya meliputi persepsi manusia,
motivasi, belajar, dan berpikir. Dalam mempelajari manusia, Bruner
mengganggap manusia sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi. Bruner
menerbitkan artikel psikologis pertama yang berisi tentang mempelajari pengaruh
ekstrak timus pada perilaku seksual tikus betina. Pada tahun 1941, tesis doktornya
berjudul "A Psychological Analysis of International Radio Broadcasts of
Belligerent Nations".
Setelah menyelesaikan program doktornya, Bruner memasuki Angkatan
Darat Amerika Serikat dan bertugas di Divisi Warfare Psikologis dari Markas
Agung Sekutu Expeditory Angkatan Eropa komite di bawah Eisenhower, meneliti
fenomena psikologi sosial di mana karyanya berfokus pada propaganda (subyek
tesis doktornya) serta opini publik di Amerika Serikat. Dia adalah editor Public
Opinion Quarterly (1943-1944).
Pada tahun 1945, Bruner kembali ke Harvard sebagai profesor psikologi dan
sangat terlibat dalam penelitian yang berkaitan dengan psikologi kognitif dan
psikologi pendidikan. Ia dengan cepat naik pangkat dari dosen menjadi profesor
pada tahun 1952. Dia berperan penting dalam membangun Path Breaking Center
For Cognitive Studies pada tahun 1960 menjabat sebagai direktur pada tahun
1972. Lalu pada tahun 1964-1965 ia terpilih dan menjabat sebagai presiden dari
American Psychological Association. Pada tahun 1970, Bruner meninggalkan

3
Harvard untuk mengajar di Universitas Oxford di Inggris. Dia kembali ke
Amerika Serikat pada tahun 1980 untuk melanjutkan penelitian di bidang
psikologi perkembangan. Pada tahun 1972, Bruner berlayar melintasi Atlantik.
Hal ini dikarenakan untuk mengambil posisi Watts Professor of Experimental
Psychology at Oxford University. Pada tahun 1991, Bruner bergabung dengan
fakultas di New York University Law School. Selain itu, Bruner juga telah
dianugerahi gelar doktor kehormatan dari Yale dan Columbia, serta perguruan
tinggi dan universitas seperti Sorbonne, Berlin, dan Roma, dan merupakan
Fellow dari American Academy of Arts dan Ilmu.
Dari pemaparan di atas, terlihat jelas bahwa Jerome S Bruner merupakan
ahli psikologi perkembangan dan khususnya psikologi kognitif, yang tidak
diragukan lagi. Hal ini terlihat jelas dari riwayat hidupnya, dan kontribusi yang
dilakukan Bruner dalam mengembangkan penelitiannya tentang psikologi
kognitif. Kiprah dan pengalaman yang sangat luas mengenai psikologi telah
membawanya pada banyak penghargaan yang diterimanya. Penelitian-penelitian
yang dilakukan Jerome S Bruner, mampu membuktikan dan memunculkan teori
baru, yang kemudian teori itu memiliki ciri khas sendiri, dan berbeda dengan teori
sebelumnya, inilah yang dinamakan teori kognitif menurut pandangan Jerome S
Bruner. Yaitu menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta
informasi.

2.2 Bruner dan Teorinya


Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan
psikologi kognitif. Penelitiannya yang demikian banyak meliputi persepsi
manusia, motivasi, belajar, dan berpikir. Dalam mempelajari manusia, ia
menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi. Bruner
tidak mengembangkan suatu teori belajar yang sistematis. Hal penting baginya
adalah bagaiamana orang memilih, mempertahankan dan mentransformasi
informasi secara aktif., dan inilah menurut Bruner inti belajar. Bruner
memusatkan perhatiannya pada masalah apa yang dilakukan oleh manusia
terhadap informasi yang diterimanya, dan apa yang dilakukan manusia setelah

4
memperoleh informasi itu untuk mencapai pemahamannya dalam membangun
kemampuannya.
Menurut Bruner (1961) “belajar menemukan (Discovery Learning) mengacu
pada penguasaan pengetahuan untuk diri sendiri.” (Schunk, 2012: 372). Tidak
berbeda halnya, bahwa menurut Bergstrom dan O’Brien (2001) dan Wilcox
(1993) bahwa dalam pembelajaran penemuan siswa didorong untuk dapat belajar
sendiri melalui keterlibatan aktif dengan kosep-konsep dan prinsip-prinsip, dan
guru mendorong siswa agar dapat memiliki pengalaman dan bereksperimen yang
memungkinkan mereka untuk dapat menemukan prinsip-prinsip bagi diri mereka
sendiri. (Slavin, 2009: 10)

Pengertian yang serupa juga disampaikan Kirschner dkk (2006) bahwa:


Penemuan melibatkan perumusan dan pengujian hipotesis-hipotesis, bukan
sekedar membaca dan mendengarkan guru menerangkan. Penemuan adalah
suatu tipe penalaran induktif karena siswa bergerak dari mempelajari contoh-
contoh spesifik ke merumuskan aturan-aturan, konsep-konsep, dan prinsip-
prinsip umumnya. Belajar menemukan juga dikenal sebagai pembelajaran
berbasis masalah, penelitian, eksperiensial, dan konstruktivis. (Schunk, 2012:
372-373)

Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa “belajar matematika akan


lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan
struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping
hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur.” (Suherman,
dkk : 44). Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan
yang sedang dipelajari, anak akan memahami materi yang seharusnya dikuasai.
Dari berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teori belajar
Bruner yang sering disebut sebagai pembelajaran penemuan merupakan
pembelajaran yang mengajak siswa untuk dapat terlibat aktif dalam merumuskan
dan menggunakan konsep yang telah ada dengan konsep dan prinsip-prinsip yang
termuat dalam bahan yang akan dipelajari untuk dapat dipahami dan diuji cobakan
guna membangun pengetahuan yang dimilikinya agar dapat mencapai
kemampuan yang seharusnya.

5
2.2.1 Empat Tema tentang Pendidikan
Bruner mengemukakan empat tema tentang pendidikan (Dahar, 2011: 74)
yaitu:
1) Struktur Pengetahuan
Kurikulum hendaknya mementingkan struktur pengetahuan. Hal ini
diperlukan sebab dengan struktur pengetahuan, kita menolong siswa untuk
dapat melihat bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak memiliki
hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain, dan pada informasi
yang telah mereka miliki.
Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh NCTM (2000:14)
bahwa “a curriculum should be coherent, focused on important
mathematics, and well articulated across the grades.” Suatu kurikulum
yang baik harus koheren, berfokus pada bagian matematika yang penting,
dan sebaran materinya diatur sebaik antar tingkatan kelas.
2) Kesiapan Belajar
Menurut Bruner, kesiapan terdiri atas penguasaan keterampilan yang
lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk dapat mencapai
keterampilan yang lebih tinggi.
3) Intuisi
Intuisi yang dimaksud oleh Bruner adalah teknik-teknik intelektual
untuk dapat sampai pada formula tentatif tanpa melalui langkah-langkah
analisis untuk mengetahui apakah formula tersebut adalah formula yang
sahih atau tidak
4) Motivasi
Pengalaman pendidikan yang dapat meningkatkan motivasi adalah
siswa berpartisipasi secara aktif dalam menghadapai alamnya.

2.2.2 Model dan Kategori


Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi.
Asumsi yang pertama ialah perolehan pengetahuan merupakan suatu
proses interaktif. Berlawanan dengan para penganut teori perilaku, Bruner
yakin bahwa orang belajar beinteraksi dengan lingkungannya secara aktif;

6
perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga dalam diri orang
itu sendiri.
Asumsi kedua adalah orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan
menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang telah
disimpan sebelumnya – suatu model alam menurut dia. Dengan
menghadapi berbagai aspek dalam lingkungan kita, kita akan membentuk
suatu struktur atau model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan
hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan di antara hal-hal yang
telah kita ketahui. Dengan model ini kita dapat menyusun hipotesis dan
memasukkan pengetahuan baru guna memperluas struktur-struktur yang
telah dimiliki.
Bruner beranggapan bahwa belajar merupakan pengembangan
kategori-kategori dan pengembangan dari suatu sistem pengkodean.
Berbagai kategori saling berkaitan, hingga setiap individu memuliki model
yang unik tentang alam. Dalam model ini, belajar baru dapat terjadi
dengan mengubah model itu. Hal ini terjadi melalui pengubahan kategori-
kategori, menghubungkan kategori-kategori dengan suatu cara baru, atau
dengan menambahkan kategori-kategori baru.

2.2.3 Belajar sebagai Proses Kognitif


Belajar melibatkan tiga proses langsung yang saling bersamaan, yaitu:
1) Memperoleh Informasi Baru
Perolehan informasi baru dapat terjadi melalui kegiatan membaca,
mendengarkan penjelasan guru mengenai materi yang diajarkan atau
mendengarkan audiovisual dan lain-lain. Informasi ini mungkin bersifat
penghalusan dari informasi sebelumnya yang telah dimiliki.
2) Transformasi Informasi
Proses transformasi pengetahuan merupakan suatu proses bagaimana kita
memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan
kebutuhan.

7
3) Menguji Relevansi dan Ketepatan Pengetahuan
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana
informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk
memahami gejala atau masalah yang dihadapi.
Bruner berpendapat bahwa belajar merupakan faktor yang
menentukan dalam pembelajaran dibandingkan dengan perolehan khusus,
yaitu metode penemuan (dicovery). Metode discovery learning ini
mendorong siswa untuk belajar sendiri secara mandiri.
Menurut Bruner (Dahar, 2011: 77-78), pendewasaan pertumbuhan
intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang adalah sebagai berikut.
1) Pertumbuhan intelektual ditunjukkan oleh bertambahnya
ketidaktergantungan respon dari sifat stimulus.
2) Pertumbuhan intelektual bergantung pada bagaimana seseorang
menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu sistem simpanan
yang sesuai dengan lingkungan.
3) Pertumbuhan intelektual menyangkut peningkatan kemampuan
seseorang untuk berkata kepada dirinya sendiri atau pada orang-orang
lain dengan pertolongan kata-kata dan simbol-simbol mengenai apa
yang telah dilakukannya atau akan dilakukannya.

Tiga sistem keterampilan yang digunakan oleh hampir semua orang


dewasa untuk menyatakan kemampuan-kemampuannya adalah melalui tiga
cara, yaitu:
1) Enaktif
Dengan cara ini seseorang dapat mengetahui kenyataan tanpa
menggunakan pikiran dan kata-kata melainkan melalui tindakan, jadi
bersifat manipulatif. Penyajian enaktif didasarkan pada belajar tentang
respons dan bentuk-bentuk kebiasaan. Misalnya seorang anak secara
enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda motor.
2) Ikonik
Penyajian cara ini didasarkan pada pikiran internal. Pengetahuan
disajikan oleh sekumpulan gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi
tidak mendefenisikan sepenuhnya konsep itu. Penyajian ikonik tertinggi
biasanya terjadi pada anak-anak umur 5 – 7 tahun, dimana anak-anak
sangat bergantung pada penginderaannya sendiri.

8
Semakin mendekati masa remaja seorang anak, maka bahasa menjadi
semakin penting sebagai media untuk berpikir. Maka orang tersebut
mengalami transisi dari penggunaan penyajian ikonik yang didasarkan
pada penginderaan kepada penyajian simbolis yang didasarkan pada
sistem berfikir abstrak dan lebih fleksibel.
3) Simbolis
Penyajian ini dibuktikan oleh kemampuan seseorang yang lebih
memperhatikan proposisi atau pernyataan dari pada objek

Sebagai contoh, dalam mempelajari penjumlahan dua bilangan cacah,


pembelajaran akan terjadi secara optimal jika mula-mula siswa mempelajari
hal itu dengan menggunakan benda-benda konkret (misalnya
menggabungkan 3 kelereng dengan 2 kelereng, dan kemudian menghitung
banyaknya kelereng semuanya ini merupakan tahap enaktif). Kemudian,
kegiatan belajar dilanjutkan dengan menggunakan gambar atau diagram
yang mewakili 3 kelereng dan 2 kelereng yang digabungkan tersebut (dan
kemudian dihitung banyaknya kelereng semuanya, dengan menggunakan
gambar atau diagram tersebut/ tahap yang kedua ikonik, siswa bisa
melakukan penjumlahan itu dengan menggunakan pembayangan visual dari
kelereng tersebut. Pada tahap berikutnya yaitu tahap simbolis, siswa
melakukan penjumlahan kedua bilangan itu dengan menggunakan lambang-
lambang bialngan, yaitu : 3 + 2 = 5.
Bruner mengadakan pengamatan ke sekolah, dari hasil
pengamatannya tersebut didapat kesimpulan yang melahirkan dalil-dalil,
yaitu sebagai berikut:
1) Dalil Penyusunan (konstruksi)
Yang dimaksud dengan dalil penyusunan adalah anak membangun
konsep dan mencobanya sendiri.
2) Dalil Notasi
Notasi membantu dalam menyajikan konsep. Tahap awal notasi ini
sederhana, diikuti dengan notasi berikutnya yang lebih kompleks yang
dinamakan dengan pendekatan spiral.

9
3) Dalil Kekontrasan atau Keanekaragaman
Dalil ini dibutuhkan untuk mengubah konsep. Salah satu cara
pengontrasan adalah melalui konsep dengan contoh dan konsep non
contoh. Keanekaragaman membantu anak dalam memahami konsep
yang disajikan
4) Dalil Pengaitan
Dalil ini menyatakan koherensi antara satu konsep dengan konsep yang
lainnya. (Suherman, dkk., 46-48)

2.2.4 Belajar Penemuan


Model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh dari Jerome
Bruner dikenal dengan nama belajar penemuan. Menurut Bruner, belajar
penemuan sesuai dengan prinsip pengetahuan secara aktif oleh manusia
sehingga memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri dalam
mencari penyelesaian masalah, menghasilkan pengetahuan yang benar-
benar bermakna.
Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan memiliki
beberapa kebaikan (Dahar, 2011: 80). Pertama, pengetahuan akan
bertahan lama dan akan mudah diingat bila dibandingkan dengan
pengetahuan yang diperoleh dengan cara lain. Kedua, hasil belajar melalui
penemuan memiliki efek transfer yang lebih baik dan dapat dengan mudah
diterapkan pada situasi baru. Ketiga, secara umum belajar penemuan dapat
meningkatkan kemampuan penalara siswa dan kemampuan berfikir bebas
dan berkreatifitas. Sedangkan secara khusus, belajar penemuan dapat
melatih kemampuan pemecahan masalah siswa tanpa bantuan orang lain.

2.3 Teori Instruksi Bruner


Sesuai dengan teori instruksi, menurut Bruner (Dahar, 2011: 80) pengajaran
atau instruksi hendaknya meliputi:

10
1) Pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar
Arah penyelidikan bergantung pada dua hal yang saling berkaitan, yaitu
tujuan tugas yang diberikan sampai batas-batas tertentu harus diketahui dan
sampai sejauh mana tugas tersebut telah tercapai.
2) Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal
Tiga cirri domain pengetahuan yang mempengaruhi kemampuan penguasaan
siswa adalah cara penyajian, ekonomi, dan kuasa.
Tiga cara penyajian yang telah diketahui sebelumnya adalah cara penyajian
enaktif, ikonik, dan simbolik. Ekonomi dalam penyajian adalah dihubungkan
dengan sejumlah informasi yang dapat disimpan dalam pikiran untuk diproses
dan disajikan dengan cara yang efektif agar diperoleh pemahaman.
Sedangkan kuasa dalam penyajian adalah kemampuan penyajian untuk
menghubungkan hal-hal yang sebelumnya dianggap terpisah-pisah.
3) Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajaran secara optimal
Perkembangan intelektual bergerak dari penyajian enaktif, kemudian ke
ikonik ke penyajian simbolis. Maka, urutan optimum meteri pelajaran juga
mengikuti arah yang sama.
4) Bentuk dan pemberian reinforcement.
Teori Bruner mengemukakan bahwa bentuk hadiah atau hukuman dalam
proses pembelajaran perlu dipikirkan. Adakalanya hadiah ataupun hukuman
yang harus diberikan secara langsung, dan ada hadiah atau hukuman yang
harus ditunda atau ditangguhkan.

2.4 Menerapkan Mengajar Penemuan


Menerapkan mengajar penemuan bagi siswa ditinjau dari metode, tujuan,
dan peranan guru.
1) Metode dan Tujuan
Tujuan belajar sebenarnya adalah untuk memperoleh pengetahuan melalui
suatu cara yang dapat merangsang keingintahuan siswa dan memotivasi
kemampuan mereka (Dahar, 2011: 83)
Metode mengajar guru dengan menerapkan pengajaran penemuan sangat
berbeda dengan metode guru dalam mengajar secara ceramah.

11
2) Peranan Guru
Dalam pembelajaran penemuan, peranan guru dapat diuraikan sebagai
berikut:
a. Guru merencanakan pengajaran sedemikian rupa agar pelajaran dapat
terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk dapat diselidiki oleh
siswa
b. Guru menyajikan materi pelajaran sebagai dasar bagi siswa untuk dapat
memecahkan masalah.
c. Guru harus memperhatikan tiga tahapan penyajian melalui cara penyajian
enaktif, ikonik, dan simbolis
d. Guru berperan sebagai pembimbing atau fasilitator bagi siswa
e. Guru menilai dan mengevaluasi hasil belajar siswa. (Dahar, 2011: 83-84)

2.5 Kelebihan dan Kekurangan Teori Bruner


Pembelajaran penemuan mempunyai keunggulan dan kekurangan (Slavin,
2009: 11). Beberapa keunggulannya yaitu:
a. Membangkitkan keingintahuan siswa
b. Memotivasi siswa untuk terus bekerja hingga dapat menemukan jawaban
c. Mempelajari kemampuan penyelesaian soal
d. Kemampuan pemikiran kritis secara mandiri karena mereka harus dapat
menganalisa dan memanipulasi informasi.
Namun, pembelajaran penemuan juga dapat mengalami beberapa kesalahan
yang mungkin terjadi, seperti:
a. Membuang-buang waktu
b. Menurut Pressley, dkk (2003) Pembelajaran penemuan terpimpin (guided
discovery learning) lebih umum ditemukan dari pada pembelajaran
penemuan murni (Slavin, 2009: 11). Dalam penemuan terpimpin, guru
berperan lebih aktif dengan memberikan petunjuk, menata bagian-bagian dari
suatu kegiatan, atau memberikan garis besar.

2.6 Aplikasi Teori Bruner dalam Pembelajaran Matematika


Penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan:
1) Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan.
Misal : untuk contoh mau mengajarkan bentuk bangun datar segiempat,

12
sedangkan bukan contoh adalah berikan bangun datar segitiga, segi lima atau
lingkaran.
2) Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep.
Misalnya berikan pertanyaan kepada si belajar seperti berikut ini ” Apakah
nama bentuk ubin yang sering digunakan untuk menutupi lantai rumah?
Berapa cm ukuran ubin-ubin yang dapat digunakan? “.
3) Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa untuk mencari
jawabannya sendiri. Misalnya, “ Jelaskan ciri-ciri atau sifat-sifat dari bangun
Ubin tersebut! “.
4) Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan
intuisinya. Jangan dikomentari dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunakan
pertanyaan yang dapat memandu si belajar untuk berpikir dan mencari
jawaban yang sebenarnya.

13
BAB III
PENUTUP

Teori belajar Bruner yang sering disebut sebagai pembelajaran penemuan


(discovery learning) yang merupakan pembelajaran yang mengajak siswa untuk
dapat terlibat aktif dalam merumuskan dan menggunakan konsep yang telah ada
dengan konsep dan prinsip-prinsip yang termuat dalam bahan yang akan dipelajari
untuk dapat dipahami dan diuji cobakan guna membangun pengetahuan yang
dimilikinya agar dapat mencapai kemampuan yang seharusnya.
Ada empat tema pendidikan menurut Bruner, yaitu struktur pengetahuan,
kesiapan belajar, intuisi, dan motivasi.
Belajar sebagai proses kognitif melibatkan tiga proses, yaitu:
1) Memperoleh informasi baru,
2) Transformasi informasi, dan
3) Menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Tiga sistem keterampilan untuk menunjukkan kemampuan melalui tiga cara,
yaitu enaktif, ikonik, dan simbolis. Adapun dalil-dalil yang digunakan dalam tahap
pembelajaran adalah dalil penyusunan, dalil notasi, dalil kekontrasan dan
keanekaragaman, dan dalil pengaitan.
Sesuai dengan teori instruksi, menurut Bruner (Dahar, 2011: 80) pengajaran
atau instruksi hendaknya meliputi:
1) Pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar
2) Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal
3) Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajaran secara optimal
4) Bentuk dan pemberian reinforcement.

14
DAFTAR REFERENSI

Dahar, W.R. (2011). Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Erlangga


Lestari, D. (2013). Penerapan Teori Bruner untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa pada Pembelajaran Simetri Lipat di Kelas IV SDN 02 Makmur Jaya
Kabupaten Mamuju Utara. Jurnal Kreatif Tadulako Online, 2(2). ISSN
2354-614X. Diakses pada tanggal 9 Maret 2017 melalui
(http://download.portalgaruda.org/article)
Rasyid, M. (2013). Hubungan antara Peer Attachment dengan Regulasi Emosi
Remaja yang Menjadi Siswa di Boarding School SMA Negeri 10
Samarinda. Surabaya. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan,
2(1). Diakses pada tanggal 18 Oktober 2016 melalui
(http://journal.unair.ac.id/filerPDF/110911006_ringkasan.pdf)
Schunk, H.D. (2012). Learning Theories an Educational Perspective. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Slavin, E.R. (2009). Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta : PT Indeks
Suherman, E.H., Turmudi, Suryadi, D., Herman, T., Suhendra, Prabawanto, S.,
Nurjanah, Rohayati, A. Common Text Book, Strategi Pembelajaran
Matematika Kontemporer. Bandung: JICA
Wiryanto. (2014). Representasi Siswa Sekolah Dasar dalam Pemahaman Konsep
Pecahan. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro, 3(3), 593-603. Diakses pada
tanggal 7 April 2017 melalui (http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/
article/12839/44/article.pdf)
Wulansari, U.T. (2012). Peningkatan Hasil Belajar Matematika dengan Penerapan
Teori Bruner pada Siswa Kelas IV SD N Cepit Pendowoharjo Sewon
Kabupaten Bantul. Jurnal Ilmiah Guru “COPE”. (2). Diakses pada tanggal
9 Maret 2017 melalui (http://journal.uny.ac.id/index.php/cope/article/
view/3958)

15