Anda di halaman 1dari 14

PEREKONOMIAN INDONESIA

Disusun untuk memenuhi tugas Perekonomian Indonesia Studi S1 – Manajemen

Kelompok 8

Disusun Oleh :

Faradilla Annisa D A10180089

Sintya Siti Fauziah A10180272

Lidia Rehulina BR S A10180322

Sagita Putri H BR S A10180323

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI EKUITAS BANDUNG

Jalan PH.H. Mustofa,No.31Neglasari, Neglasari, Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jawa


Barat 40124
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang maha esa karena berkat kehendaknya kami
dapat menyelesaika tugas Mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi Makro. Adapun judul yang
dibahas makalah adalah mengenai Perekomian Indonesia zaman Kolonial Belanda.

Kami juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen dan pihak yang
telah membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini. Makalah ini juga diharapkan
dapat menambah pengetahuan kita tentang perekoniomian Indonesia yang terjadi pada zaman
colonial belanda. Untuk kesempurnaan dari makalah ini, maka kami mengharapkan saran dan
kritik dari para pembaca agar dalam menyusun makalah berikutnya dapat lebih baik lagi.
Akhirnya denga tersusunnya makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan kita semua.
Terima kasih.

Bandung,10 Juli 2019

penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... ii
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 3
2.1 Masa Demokrasi Liberal (1950-1957) ........................................................................................... 3
2.2 Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967) ..................................................................................... 4
2.3 Perekonomian Indonesia Pada Masa Orde Baru .......................................................................... 5
2.2.1 PELITA I................................................................................................................................... 5
2.2.2 PELITA II.................................................................................................................................. 6
2.2.3 PELITA III................................................................................................................................. 7
2.2.4 PELITA IV ................................................................................................................................ 8
2.2.5 PELITA V ................................................................................................................................. 8
2.2.6 PELITA VI ................................................................................................................................ 9
PENUTUP ............................................................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 11

ii
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam masa penjajahan belanda selama 350 tahun Belanda melakukan berbagai
perbubahan kebijkan dalam hal ekonomi , salah satunya dengan dibentuknya Vereenigde
Oost-Indische Compagnie(VOC). Belanda memberikan wewenang untuk mengatur Hindia
Belanda dengan tujuan menghindari persaingan antar sesame pedagang Belanda, sekaligus
untuk menyaingi perusahaan imperialis lain seperti EIC milik Inggris.

Setelah berakhirnya Pemerintahan Belanda dan mengakui secara resmi


kemerdekaan Indonesia, selama dekade 1950-an hingga pertengahan tahun 1965 Indonesia
dilanda gejolak politik di dalam negeri dan beberapa pemberontakan di sejumlah daerah
seperti di Sumatera dan Sulawesi. Akibatnya selama Pemerintahan Orde Lama, keadaan
perekonomian Indonesia sangat buruk, selain laju pertumbuhan ekonomi yang menurun terus
sejak 1958, dari tahun ke tahun defisit saldo neraca pembayaran (BOP) dan defisit Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus membesar selain itu selama orde lama,
kegiatan produksi di sektor pertanian dan industri manufaktur berada pada tingkat yang
sangat rendah karena keterbatasan kapasitas produksi dan infrastruktur pendukung. Baik
nonfisik maupun fisik seperti pendanaan dari bank.

Seperti negara - negara berkembang lain yang baru telepas dari kekuasaan kolonial,
kebijaksanaan - kebijaksanaan ekonomi di Indonesia pada awal tahun 1950-an sebagian besar
dibentuk dengan saling mempengaruhi masalah-masalah sosial dan ekonomi yang objektif
yang menghadapkan negara dan gagasan-gagasan ekonomi dasar dari para perumus
kebijaksanaan ekonomi yang utama. Dihadapkan pada tugas berat mendamaikan kembali
kebutuhan mendesak untuk merehabilitas ekonomi yang mengalami kehancuran secara luas
selama penduduk Jepang dan revolusi, dengan permintaan umum yang kuat untuk mengubah
ekonomi kolonial menuju ekonomi nasional. Ketika Indonesia menganut ekonomi terpimpin
pemerintah menumpuh kebijaksanaan yang berorientasi ke dalam’ ( Inward-loking police).
Kebijaksanaan ini dicirikan oleh kebijaksanaan “ Berdikari “ ( berdiri di atas kaki sendiri ),
dan kebijaksanaan yang sangat membatasi, dan kemudian menolak sama sekali penanaman
modal asing.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana perekonomian Indonesia pada masa Era Reformasi?

2
PEMBAHASAN

2.1 Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)

Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya
menggunakan prinsip-prinsip liberal. Padahal pengusaha pribumi masih lemah dan belum
bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi, terutama pengusaha Cina. Pada akhirnya sistem
ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka.

Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain :

a. Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai uang (sanering) pada tanggal 20 Maret
1950, untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun.
b. Program Benteng (Kabinet Natsir)
c. Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat
UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.
d. Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak
Cokrohadisuryo
e. Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar, termasuk pembubaran Uni
Indonesia-Belanda.

Rencana dan Kebijaksanaan Ekonomi


Memang sebelum pemerintahan Soeharto, Indonesia telah memiliki empat dokumenn
perencanaan pembangunan, yakni :

a. Rencana dari Panitia Siasat Pembangunan Ekonomi yang diketuai Muhammad Hatta
(1947).
b. Rencana Urgensi Perekonomian (1951) – yang diusulkan oleh Soemitro
Djojokusumo.
c. Rencana Juanda (1955) – Rencana Pembangunan Lima Tahun I meliputi kurun waktu
1956-1960.
d. Rencana Delapan tahun “Pembangunan Nasuional Semesta Berencana” pada masa
demokrasi terpimpin ala Soekarno (Didin S. Damanhuri,…..)

3
2.2 Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967)

Sebagai akibat dari Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem
Demokrasi Terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme
(segala-galanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada
kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik, dan ekonomi. Akan tetapi,
kebijakan - kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu
memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia

 Rencana dan Kebijaksanaan Ekonomi


- Rencana : pembangunan nasional semesta berencana (PNSB) 1961-1969. Rencana
pembangunan ini disusun berlandasarkann “Manfesto Politik 1960” untuk
meningkatkan kemakmuran rakyat dengan azas ekonomi terpimpin.
- Faktor yang menghambat/ kelemahannya antara lain :
1) Rencana ini tidak mengikuti kaidah-kaidah ekonomi yang lazim.
2) Defisit anggaran yang terus meningkat yang mengakibatkan hyper inflasi.
3) Kondisi ekonomi dan politik saat itu: dari dunia luar (Barat) Indonesia sudah
terkucilkan karena sikpanya yang konfrontatif. Sementara di dalam negeri
pemerintah selalu mendapat rongrongan dari golongan kekuatan politik “kontra-
revolusi” (Muhammad Sadli, Kompas, 27 Juni 1966, Penyunting Redaksi
Ekonomi Harian Kompas, 1982).
- Beberapa kebijaksanaan ekonomi – keuangan:
1) Dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 1/M/61 tanggal 6 Januari 1961: Bank
Indonesia dilarang menerbitkan laporan keuangan/ statistik keuangan, termasuk
analisis dan perkembangan perekonomian Indonesia.
2) Pada tanggal 28 Maret 1963 Presiden Soekarno memproklamirkan berlakunya
Deklarasi Ekonomi dan pada tanggal 22 Mei 1963 pemerintah menetapkan
berbagai peraturan negara di bidang perdagangan dan kepegawaian.
Pokok perhatian diberikan pada aspek perbankan, namun nampaknya perhatian ini
diberikan dalam rangka penguasaan wewenang mengelola moneter di tangan penguasa. Hal
ini nampak dengan adanya dualisme dalam mengelola moneter. (Suroso, 1994).

4
2.3 Perekonomian Indonesia Pada Masa Orde Baru

Inflasi pada tahun 1966 mencapai 650%,dan defisit APBN lebih besar daripada
seluruh jumlah penerimaannya. Neraca pembayaran dengan luar negeri mengalami defisit
yang besar, nilai tukar rupiah tidak stabil” (Gilarso, 1986:221) merupakan gambaran singkat
betapa hancurnya perekonomian kala itu yang harus dibangun lagi oleh masa orde baru atau
juga bisa dikatakan sebagi titik balik.

Awal masa orde baru menerima beban berat dari buruknya perekonomian orde lama. Tahun
1966 - 1968 merupakan tahun untuk rehabilitasi ekonomi. Pemerintah orde baru berusaha
keras untuk menurunkan inflasi dan menstabilkan harga. Dengan dikendalikannya inflasi,
stabilitas politik tercapai ayng berpengaruh terhadap bantuan luar negeri yang mulai terjamin
dengan adanya IGGI. Maka sejak tahun 1969, Indonesia dapat memulai membentuk
rancangan pembangunan yang disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA).
Repelita dilaksanakan mulai tanggal 1 April 1969. Pembangunan ekonomi pada masa orde
baru diarahkan pada sektor pertanian. Hal itu dikarenakan kurang lebih 55% dari produksi
nasional berasal dari sektor pertanian dan juga 75% pendudukan Indonesia memperoleh
penghidupan dari sektor pertanian. Bidang sasaran pembangunan dalam Repelita, antara lain
bidang pangan, sandang, perbaikan prasarana, rumah rakyat, perluasan lapangan kerja, dan
kesejahteraan rohani. Jangka waktu pembangunan orde baru dapat dibedakan atas dua
macam, yaitu program pembangunan jangka pendek dan program pembangunan jangka
panjang. Program pembangunan jangka pendek sering disebut pelita (pembangunan lima
tahun), adapun program pembangunan jangka panjang terdiri atas pembangunan jangka
pendek yang saling berkesinabungan. Masa pembangunan jangka oanjang direncanakan
selama 25 tahun. Modernitas memerlukan sarana, salah satunya dengan pengadaan sarana
fisik. Pembangunan yang dilaksanakan di realisasikan dalam system pembangunan nasional
yang dilaksanakan dengan bentuk Pembangunan Lima Tahun (PELITA).

2.2.1 PELITA I

Pada 1 April 1969 dimulailah pelaksanaan Pelita 1 yaitu pada periode 1969 - 1974.
Pada pelita 1 ini, orde baru menyelesaikan fase stabilitas dan rehabilitasi sehingga dapat
menciptakan keadaan yang stabil. Selama beberapa tahun, sebelum orde baru keadaan
ekonomi mengalami kemerosotan. Pada 1955 - 1960 laju inflasi rata - rata 25% per tahun,
dalam periode 1960 - 1965 harga - harga meningkat dengan laju rata - rata 226% per tahun,
dan pada 1966 laju inflasi mencapai puncaknya, yaitu 650% setahun.
5
Kemerosotan ekonomi tersebut terjadi di segala bidang akibat kepentingan ekonomi
dikorbankan demi kepentingan politik. Pada masa orde baru, kemerosotan ekonomi dapat
dikendalikan. Pada 1976, laju inflasi dapat ditekan menjadi 120%, atau seperlima dari tahun
sebelumnya. Pada 1968, inflasi dapat ditekan lagi menjadi 85%. Berdasarkan hasil-hasil yang
telah dicapai, kemudian dimulailah pelaksanaan pelita 1 pada tahun 1969.
Adapun titik berat pelita 1 adalah pada sektor pertanian dan industri yang mendukung
sektor pertanian. Adapun sasaran pelita 1, yaitu meningkatkan pangan, sandang, perbaikan
prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani.
Pelaksanaan pelita 1 termasuk pembiayaannya selalu disetujui DPR dengan membuat undang
- undang sesuai ketentuan UUD 1945.

2.2.2 PELITA II

Pelita 1 berakhir pada 31 Maret 1974, yang telah meletakan dasar-dasar yang kuat
bagi pelaksanaan pelita I. MPR hasil pemilu 1971 secara aklamasi memilih dan mengangkat
kembali Jendral Soeharto sebagai Presiden RI. Selain itu, MPR hasil pemilu 1971 berhasil
pula menyusun GBHN melalui Tap MPR RI No IV/MPRS/1973.
Di dalam GBHN 1973 terdapat rumusan pelita II, yaitu :
1. Tersedianya bahan pangan dan sandang yang cukup dan terjangkau oleh daya beli
masyarakat;
2. Tersedianya bahan-bahan bangunan perumahan terutama bagi kepentingan
masyarakat;
3. Perbaikan dan peningkatan prasarana;
4. Peningkatan kesejahteraan rakyat secara merata;
5. Memperluas kesempatan kerja.

Untuk melaksanakan pelita II, Presiden Soeharto kemudian membentuk Kabinet


Pembangunan II. Program kerja Kabinet Pembangunan II, disebut Sapta Krida Kabinet
Pembangunan II, yang meliputi:
1. Meningkatkan stabilitas politik;
2. Meningkatkan stabilitas keamanan;
3. Melanjutkan pelita 1 dan melaksanakan pelita II;
4. Meningkatkan kesejahteraan rakyat;
5. Melaksanakan pemilihan umum.

6
2.2.3 PELITA III

Pada 31 Maret 1979, Pelita III mulai dilaksanakan. Titik berat pembangunan pada
pelita III adalah pembangunan sector pertanian menuju swasembada pangan yang mengolah
bahan baku menjadi bahan jadi. Sasaran pokok pelita III diarahkan pada Trilogi
Pembangunan dan Delapan Jalur Pemerataan.
A. Trilogi pembangunan mencakup:
1. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju terwujudnya keadilan social
bagi seluruh rakyat Indonesia;
2. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi;
3. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.

B. Delapan jalur pemerataan mencakup:


1. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok, yaitu sandang, pangan, dan perumahan
bagi rakyat banyak;
2. Pemerataan kesempatan memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan;
3. Pemerataan pembagian pendapatan;
4. Pemerataan memperoleh kesempatan kerja;
5. Pemerataan mempreoleh kesempatan berusaha;
6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khusunya bagi
generasi muda dan kaum wanita;
7. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah Indonesia;
8. Pemerataan memperoleh keadilan.

Terpilih menjadi presiden RI untuk kedua kalinya MPR hasil pemilu membentuk
cabinet pembangunan III. Kabinet ini dilantik secara resmi pada 31 Maret 1978. Program
Kerja Kabinet Pembangunan III, disebut Sapta Krida Pembangunan III, yang meliputi:
1. Menciptakan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia dnegan memeratakan
hasil pembangunan;
2. Melaksanakan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi;
3. Memelihara stabilitas keamanan yang mantap;
4. Menciptakan aparatur Negara yang bersih dan berwibawa;
5. Membina persatuan dan kesatuan bangsa yang kukuh dan dilandasi oleh
penghayatan dan pengamalan pancasila;

7
6. Melaksanakan pemilihan umum yang langsung, umum, bebas, dan rahasia;
7. Mengembangkan politik luar negri yang bebas aktif untuk diabdikan kepada
kepentingan nasional.

2.2.4 PELITA IV

Pelita III berakhir pada 31 Maret 1989 yang dilanjutkan dengan pelaksanaan Pelita IV
yang dimulai 1 April 1989. Untuk ketiga kalinya Jenderal Soeharto terpilih dan diangkat
kembali oleh MPR hasil pemilu. Untuk melaksanakan Pelita IV, Presiden Soeharto
membentuk Kabinet Pembangunan IV. Titik berat Pelita IV adalah pembangunan sektor
pertanian untuk melanjutkan usaha - usaha menuju swasembada pangan dan meningkatkan
industri yang dapat menghasilkan mesin - mesin sendiri, baik untuk mesin - mesin industri
ringan maupun industri berat. Sasaran pokok Pelita IV yaitu sebagai berikut:
a. Bidang politik, yaitu berusaha memasyarakatkan P4 (Pedoman, Penghayatan, dan
Pengamalan Pancasila).
b. Bidang pendidikan, menekankan pada pemerataan kesempatan belajar dan
meningkatkan mutu pendidikan.
c. Bidang keluarga berencana (KB), menekankan pada pengendalian laju pertumbuhan
penduduk yang dapat menimbulkan masalah nasional.

2.2.5 PELITA V

Pelita IV berakhir pada 31 Maret 1994 yang dilanjutkan oleh pelaksanaan Pelita V
yang dimulai 1 April 1994. Pelita V ini merupakan pelita terakhir dari keseluruhan Program
Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PPJP 1). Pelita V merupakan masa tinggal landas
untuk memasuki Program Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PPJP II), yang akan dimulai
pada pelita VI pada April 1999. Titik berat Pelita V adalah meningkatkan sektor pertanian
untuk memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan prduksi hasil pertanian lainnya
serta sektor industri, khususnya industri yang menghasilkan barang untuk ekspor, industri
yang banyak tenaga kerja, industri pengolahan hasil pertanian, dan industri yang dapat
menghasilkan mesin - mesin industri menuju terwujudnya struktur ekonomi yang seimbang
antara industri dengan pertanian, baik dari segi nilai tambah maupun dari segi penyeraan
tenaga kerja.

8
2.2.6 PELITA VI

Pelita V berakhir pada 31 Maret 1999yang dilanjutkan oleh pelaksanaan Pelita VI


yang dimulai pada 1 April 1999. Pada akhir Pelita V diharapkan akan mampu menciptakan
landasan yang kukuh untuk mengawali pelaksanaan Pelita VI dan memasuki proses tinggal
landas menuju pelaksanaan Program Pembangunan Jangka Panjang Kedua (PPJP II) . Titik
berat Pelita VI diarahkan pada pembangunan sektor - sektor ekonomi dengan keterkaitan
antara industri dan pertanian serta bidang pembangunan lainnya dan peningkatan kualitas
sumber daya manusia. Sasaran pembangunan industri dalam Rencana Pembangunan Lima
Tahun VI sebagai bagian dari sasaran bidang ekonomi sesuai amanat GBHN 1993 adalah
tertata dan mantapnya industri nasional yang mengarah pada penguatan, pendalaman,
peningkatan, perluasan, dan penyebaran industri ke seluruh wilayah Indonesia, dan makin
kukuhnya struktur industri dengan peningkatan keterkaitan antara industri hulu, industri
antara, dan industri hilir serta antara industri besar, industri menengah, industri kecil, dan
industri rakyat. Serta keterkaitan antara sektor industri dengan skctor ekonomi lainnya. Pelita
VI yang diharapkan menjadi proses lepas landas Indonesia kearah yang lebih baik lagi, malah
menjadi gagal landas, Indonesia dilanda krisis ekonomi yang sulit diatasi pada akhir tahun
1997. Namun, pelaksanaan PPJP II tidak berjalan lancar akibat krisis ekonomi dan moneter
melanda Indonesia. Inflasi yang tinggi akibat krisis ekonomi menyebabkan terjadinya gejolak
social yang mengarah pada pertentangan terhadap pemerintah orde baru. Kenaikan tariff
BBM pada 1997 merupakan awal gerakan pengkoreksian rakyat dan mahasiswa terhadap
pemerintahan orde baru. Sejak saat itu terjadilah gelombang demonstrasi, kerusuhan,
penjarahan, dan pembakaran di ibu kota Jakarta yag kemudian menyebar ke seluruh wilayah
di tanah air .

9
PENUTUP

Perekonomian Indonesia sejak pemerintahan masa orde lama hingga masa reformasi
masih mengalami beberapa gejolak. Perekonomian Indonesia masih jatuh bangun. Hal itu
dapat dilihat dari kemiskinan yang masih mengalami peningkata dari tahun ke tahun,
pengangguran berada pada tingkat tinggi dikarenakan jumlah lapangan pekerjaan yang
tersedia tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang ada, maraknya para koruptor
karena hukuman yang berlaku di negeri ini kurang tegas, masih terlihatnya kesenjangan
ekonomi antara penduduk yang miskin dan yang kaya, nilai tukar rupiah sudah menembus
angka sekitar Rp 14.000,- , dan masih memiliki hutang ke luar negeri.

10
DAFTAR PUSTAKA

Putra Windhu,2018. Perekonomian Indonesia.Depok;Kharisma Putra Utama Offset.

https://www.academia.edu/17084543/Makalah_Perekonomian_Indonesia

11