Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FEEDING FORMULA

I. Judul Praktikum : Pembuatan Formula ETPT 1,5 kkal dengan


menggunakan modifikasi dari formula SOTIKA.
II. Praktikum ke : 2 (dua)
III. Prinsip : Formula enteral gizi seimbang merupakan
semua makanan cair yang dimasukkan ke dalam
tubuh sebagai pendukung nutrisi lewat saluran
cerna baik secara oral ataupun dengan bantuan
alat (tube) yang diperuntukan bagi pasien
dengan nilai laboratorium normal.
IV. a. Tujuan Umum : Mahasiswa mampu membuat formula enteral
ETPT 1,5 kal/cc

b. Tujuan Khusus : Setelah selesai mengikuti pratikum


mahasiswa mampu
1. Membuat formula enteral ETPT 1,5 kal/cc
dengan menggunakan modifikasi formula
SOTIKA ( Soya Tinggi Kalori )
2. Menyajikan hasil formula enteral ETPT 1,5
kal/cc dengan menggunakan modifikasi dari
formula SOTIKA (Soya Tinggi Kalori).
3. Menyebutkan indikasi formula yang dibuat.
4. Menyebutkan frekuensi dari formula yang anda
buat.
V. Tinjauan Pustaka

Formula enteral/makanan enteral adalah makanan dalam bentuk


cair yang dapat diberikan secara oral maupun melalui pipa selama
saluran pencernaan masih berfungsi dengan baik (Sobariah, 2005
dalam Khasanah, 2009). Formula enteral diberikan pada pasien yang
tidak bisa makan melalui oral seperti dalam kondisi penurunan
kesadaran, gangguan menelan (disfagia), dan kondisi klinis lainnya atau
pada pasien dengan asupan makan via oral tidak adekuat. Pemberian
nutrisi enteral pada pasien dapat meningkatkan berat badan,
menstabilkan fungsi hati/liver, mengurangi kejadian komplikasi infeksi,
jumlah/frekuensi masuk rumah sakit dan lama hari rawat di rumah sakit
(Klek et al, 2014).
Pemilihan formula enteral ditentukan berdasarkan kemampuan
formula dalam mencukupi kebutuhan gizi, yang dipengaruhi oleh faktor
– faktor sebagai berikut yaitu kandungan/densitas energi dan protein
dalam formula (dinyatakan dalam kkal/ml, g/ml, atau ml Fluid/L), fungsi
saluran cerna, kandungan mineral seperti Natrium, Kalium, Magnesium,
dan Posfor dalam formula terutama bagi pasien dengan gangguan
jantung, gangguan ginjal, dan gangguan liver. Bentuk dan jumlah
protein, lemak, karbohidrat, dan serat dalam formula, efektivitas biaya,
cost to benefit ratio(Mahan & Raymond, 2017).
Diet ETPT merupakan singkatan dari Diet Energi Tinggi Protein
Tinggi. Diet ini sering juga disebut Diet TKTP atau Diet Tinggi Kalori
Tinggi Protein. Diet ETPT adalah diet yang mengandung energi dan
protein di atas kebutuhan normal seseorang. Biasanya, Diet ETPT
diberikan seperti makanan biasa akan tetapi disertai dengan bahan
makanan sumber protein tinggi, misalnya susu, telur, dan daging.

Diet ETPT bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi dan


protein yang meningkat untuk mencegah dan mengurangi kerusakan
jaringan tubuh. Selain itu, diet ETPT dapat digunakan untuk menambah
berat badan agar kembali mencapai berat badan normal. Pasien yang
mendapat Diet ETPT adalah pasien dengan indikasi KEP (Kurang
Energi Protein), luka bakar berat, hipertiroid, hamil, post-partum,
sebelum dan setelah operasi tertentu, trauma, pasien yang sedang
menjalani radioterapi atau kemoterapi, ataupun keadaan lainnya
dimana kebutuhan energi dan protein meningkat.

Syarat Diet ETPT diantaranya energi tinggi (40-45 kkal/kg berat


badan), protein tinggi (2.0 – 2.5 g/kg berat badan), lemak cukup (10-
25% dari kebutuhan energi total), karbohidrat cukup, serta vitamin dan
mineral cukup (sesuai kebutuhan). Terdapat dua macam Diet ETPT,
yaitu Diet ETPT I dan II. Perbedaannya adalah kandungan energi dan
proteinnya. Diet ETPT I mengandung energi 2600 kkal dan protein 100
gram (2 g/kg berat badan), sedangkan Diet ETPT II mengandung energi
3000 kkal dan protein 125 gram (2.5 g/kg berat badan).

Diet ETPT memang mengandung kalori yang tinggi, akan tetapi


bukan berarti kalori yang dikonsumsi sembarangan dan hanya
mengedepankan jumlahnya. Terdapat bahan makanan yang tidak
dianjurkan dalam Diet ETPT ini makanan yang diolah dengan banyak
minyak atau kelapa/santan kental serta minuman rendah energi.
Penggunaan bumbu yang tajam seperti cabe dan merica juga tidak
dianjurkan dalam diet ini.

Susu kedelai merupakan salah satu produk olahan kedelai yang


diperoleh dengan cara menggiling kedelai yang dicampur air kemudian
disaring dan dipanaskan. Susu kedelai adalah hasil ekstraksi dari
kedelai. Protein susu kedelai memiliki susunan asam amino yang
hampir sama dengan susu sapi sehingga susu kedelai dapat digunakan
sebagai pengganti susu sapi bagi orang yang alergi terhadap protein
hewani (Astawan, 2004).

Susu kedelai merupakan salah satu minuman suplemen


(tambahan) yang dianjurkan diminum secara berkala atau teratur sesuai
kebutuhan tubuh. Sebagai minuman tambahan, artinya susu kedelai
bukan merupakan obat, tetapi bisa menjaga kondisi tubuh agar tetap fit
sehigga tidak mudah terserang penyakit. Baik dalam bentuk makanan
maupun minuman kedelai sangat berkhasiat bagi pertumbuhan tubuh.
Kedelai mengandung unsur-unsur dan zat-zat makanan yang penting
bagi tubuh (Amrin, 2003).

Susu kedelai sangat baik di konsumsi oleh ibu-ibu yang sedang


hamil dan menyusui karena kandungan protein pada ASI akan semakin
meningkat. Bagi seseorang yang sehat bias mengonsumsi susu kedelai
satu gelas penuh (200 ml) setiap dua hari sekali. Sementara bagi yang
sudah terganggu kesehatannya, susu kedelai dapat dikonsumsi satu
hingga dua kali dalam sehari (Amrin, 2003).

Minyak kacang kedelai mengandung sitosterol yakni suatu


persenyawaan yang juga telah dilaporkan berkhasiat untuk menurunkan
kadar kolesterol dalam darah. Selain itu, penggunaan minyak kacang
kedelai dapat menghindarkan dari penyakit jantung. Sebab utamanya
ialah, oleh karena minyak kacang kedelai adalah sumber lechitin.
Berbagai penelitian yang dibuat menunjukkan bahwa lechitin dari
kacang kedelai dapat menurunkan kadar kolestrol (Kuntaraf, 2009).

Lesithin diketahui memiliki keampuhan menghancurkan


timbunan kolestrol (lemak) dalam darah dan jaringan tubuh lainnya
sehingga peredaran darah akan berjalan lancar dari seluruh tubuh ke
jantung atau sebaliknya. Lesithin juga membantu proses peremajaan
yaitu merontokkan jaringan tubuh yang sudah rusak dan menggantinya
dengan jaringan baru (Amrin, 2003). Susu kedelai juga memiliki
senyawa yang disebut fitoesterogen. Fitoesterogen mampu
menghambat osteoporosis sehingga wanita pada usia menopause tidak
akan mengalami keluhan pasca menopause (Astawan, 2004)
Diet TKTP I dengan energi 2600 kkal dan protein 100 g (2 g/kg
BB). Diet TKTP II dengan energi 3000 kkal dan protein sebesar 125 g
(2,5 g/kg BB). Indikasi pemberian diet TKTP ini adalah pada penderita
Kurang Energi Protein (KEP); sebelum dan setelah operasi tertentu
multitrauma, serta selama radioterapi dan kemoterapi; pada pasien luka
bakar berat dan baru sembuh dari penyakit dengan panas tinggi; pasien
penderita hipertiroid, hamil, dan post-partum dimana kebutuhan energi
dan protein meningkat (Almatsier, 2006).

Nilai Gizi Bahan Makanan untuk Diet TKTP berdasarkan Jenis Dietnya
Kandungan Gizi

TKTP I TKTP II
Energi (kkal) 2690 3040
Protein (g) 103 120
Lemak (g) 73 98
Karbohidrat (g) 420 420
Kalsium (mg) 700 1400
Besi (mg) 30,2 36
Vitamin A (RE) 2746 2965
Tiamin (mg) 1,5 1,7
Vitamin C (mg) 114 116
sumber : Almatsier, 2006
VI. Metodologi Penelitian ( Alat, Bahan, dan Prosedur )

Alat : - Kantong Plastik Putih

- Timbangan digital

- Gelas

- Mangkuk

- Sendok dan garpu

- Centong

Bahan : - Susu soya 250 gr

- Susu skim lactone 225 gr


- Minyak canola 25 gr
- Minyak jagung 25 gr
- Gula halus 90 gr

Prosedur :

1. Timbang semua bahan sesuai takaran


2. Campurkan minyak dan gula terlebih dahulu setelah itu tepung
susu dan aduk sampai rata
3. Setelah itu timbang bahan sesuai takaran untuk sekali minum
dan larutkan dalam air.
VII. Hasil dan Pembahasan
a. Hasil Pembuatan Formula Enteral Gizi Seimbang 1,5 kkal/cc
Formula Enteral Gizi Seimbang 1,5kkal/cc diberikan untuk Diet ETPT
2600 kalori.
 Kebutuhan zat gizi
- Energi : 2600 kkal
- Protein : 97,5 gr
- Lemak : 72,2 gr
- Karbohidrat : 390 gr
 Kebutuhan cairan = 2600 : 1,5 = 1733,33 ml
Nilai Gizi Sehari atau 8 kali minum
No Bahan Berat E P L Kh Na Kalium
Makanan (gr) (kkal) (gr) (gr) (gr) (mg) (mg)
1. Sgm soya 250 1062.5 25 25 181,25 312,5 850
2. Skim 225 824,85 67, 0 127,35 1166, 2250
lactona 5 5
3. Minyak 25 200 0 22,5 0 0 0
jagung
4. Minyak 25 214,2 0 23,5 0 0 0
canola
5. Gula 90 327,6 0 0 84,6 0,27 0,45
Halus
Total : 2629,1 92, 70,7 393,2 1479, 3100,45
5 5 27
Nilai gizi/ 1x 328,64 11, 8,9 49,15 185 387,5
minum 4 56
b. Pembahasan
Bahan yang digunakan dalam pembuatan formula enteral ETPT
diantaranya adalah susu sgm soya, susu skim lactona, minyak
jagung dan canola serta gula halus. Formula enteral ETPT ini
diperuntukkan bagi pasien yang memiliki berat badan kurang atau
gizi buruk. Dalam satu hari, pemberian makanan enteral dilakukan
selama 8 kali. Yakni, pada pukul 07.00, 09.00, 11.00, 13.00, 15.00,
17.00, 19.00, dan pukul 21.00 dengan volume formula satu kali
pemberian 217 ml.

Perkiraan harga jual :


Susu SGM Soya

 1 kotak (200 gr) : Rp 28.000


 1 gr : Rp 140
Susu skim lactona

 1 kotak (300 gr) : Rp 64.000


 1 gr : Rp 213
Minyak Jagung

 1 botol (900 ml) : Rp 90.000


 1 gr : Rp 100
Minyak canola

 1 botol (900 ml) : Rp 63.000


 1 gr : Rp 66
Gula Halus

 1 bungkus (250 gr) : Rp. 5000


 1 gr : Rp 20
Harga jual (8 Sachet) : Rp 96.000

Harga jual (1 Sachet) : Rp 12.000


VIII. Kesimpulan dan Saran :
a. Kesimpulan
Formula enteral ETPT merupakan semua makanan cair yang
dimasukkan ke dalam tubuh sebagai pendukung nutrisi lewat
saluran cerna baik secara oral ataupun dengan bantuan alat (tube)
yang diperuntukan bagi pasien dengan berat badan kurang atau
pada penderita gizi kurang. Formula enteral ETPT diberikan
sebanyak 8 kali perhari.
b. Saran
Perhatikan dalam proses pencampuran formula dengan air
sehingga minya yang terkandung dalam formula tidak mengapung.

IX. Daftar Pustaka

 https://www.google.com/search?q=tinjauan+pustaka+susu+soya&oq=ti
nj&aqs=chrome.0.69i59l3j0l2j69i57.2490j0j7&sourceid=chrome&ie=UT
F-8
 https://www.google.com/search?q=tinjauan+pustaka+formula+enteral&
oq=tinjauan+pustka+formu&aqs=chrome.2.69i57j0l5.12297j0j9&sourc
eid=chrome&ie=UTF-8
 http://repository.unimus.ac.id/1985/3/BAB%20II.pdf

Penanggung Jawab

Dosen Pembimbing Laporan

1. Susyani,S.SiT,M.Kes
2. Muzakar,SST,M.PH
3. Yunita Nazarena,S.Gz,M.Si

Rizki Ananda
Lampiran