Anda di halaman 1dari 9

KONSEP MUSIK KONTEMPORER

Musik Kontemporer sebetulnya adalah musik yang con tempo(rary). Keberadaannya


berpaut erat dengan mengalirnya waktu atau tempo. Itulah mengapa Musik Kontemporer sering
juga disebut Musik Garda Depan (avantgarde), karena musik tersebut senantiasa mengedepani
sebuah era. Musik kontemporer lazim juga menyandang sebutan new musik atau Musik
Baru (namun bukan genre musik new age). Dikarenakan sebagai konsekuensi keberadaannya
yang senantiasa mengedepani sebuah era, Musik Kontemporer “dituntut” untuk menghadirkan
sesuatu yang baru.
Beberapa orang sering menganggap bahwa Musik Kontemporer adalah produk dari
modernisasi atau salah satu pengejawantahan era modern. Sebetulnya, nilai kekontemporeran
dalam musik sudah dikenal sejak jaman Johann Sebastian Bach. Pada jamannya, musik Bach
sudah dianggap sebagai Musik Kontemporer. Komposisi musik Bach yang bagai air mengalir
tanpa jeda, ditambah gaya kontrapung (alur bass dan melodi saling kontra membentuk aliran
harmoni, merupakan sebuah komposisi yang jauh melampaui kelaziman saat itu. Untuk Musik
Kontemporer sebagai sebuah genre musik yang mandiri, keberadaannya mulai marak setelah
berakhirnya Perang Dunia II.
Dari segi alat musik sajian kontemporer menggunakan perpaduan antara instrumen
tradisional dan modern sehingga menambah variasi suara yang dihasilkan. dari segi sikap
penyaji bergerak sesuai alur cerita, seperti jalan, berdiri, dan duduk.
Seni musik kontemporer adalah seni yang muncul sekitar abad ke-19an.
Kemunculannya dipicu oleh gerakan aliran seni lukis impresionis. Gerakan ini digagas oleh
sekelompok pelukis asal Prancis yaitu ( Monet, Renoir, Degas dan kawannya ). Mereka
menolak pandangan romantisisme yang saat itu sudah diterima orang banyak dengan aliran
baru yaitu impresionisme yang lebih menekankan pada impresi atau kesan yang diciptakan
oleh karya seni.
Pengertian seni musik kontemporer pada intinya adalah seni musik yang muncul pada
masa kontemporer, tepatnya dari abad ke-19an hingga sekarang. Kemunculan seni musik ini
dipicu oleh gerakan impresionisme dalam seni lukis. Gerakan ini lebih menekankan pada
impresi atau kesan yang ditimbulkan oleh karya seni. Dalam seni musik kontemporer, elemen-
elemen musik baru mulai diperkenalkan untuk menonjolkan impresi. Misalnya ritme dan
melodi baru yang tidak berasal dari Barat mulai digunakan. Selain itu juga muncul variasi dari
12 tangga nada. Musik elektronik serta alat musik yang berbasis elektronik juga mulai
diperkenalkan pada musik kontemporer di era 19an ini.
Musik kontemporer adalah istilah dalam bahasa Indonesia untuk bidang kegiatan
kreatif yang dalam konteks berbahasa Inggris paling sering disebut musik baru, musik
kontemporer, atau, lebih tepatnya, musik seni kontemporer. Ini menjadi istilah yang paling
digemari di tahun1990-an. Tetapi kesepakatan dalam penggunaan istilah ini membangkitkan
pertanyaan tentang apa yang termasuk dan apa yang tidak termasuk dalam musik kontemporer.
Ini menjadi sebuah inti dari perdebatan hangat dikalangan musisi dan pemikir yang biasanya
mempunyai persepsi yang berbeda.
Keanekaragaman Musik kontemporer secara resmi diakui dan dilembagakan dan dalam
hal ini ditetapkan sebagai sebuah gerakan yang lebih besar, yaitu Pekan Komponis, sebuah
pertemuan tahunan untuk para komposer dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan ini
biasanya dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dari pertemuan yang pertama di
tahun 1979, komposer yang terlibat kebanyakan berasal dari yang berbasis tradisional. Bahkan,
komposer berbasis tradisional adalah yang terbaik mewakili delapan iterasi awal, yang
memberikan kontribusi lebih dari tiga kali lebih banyak dari karya-karya itu dibanding rekan
mereka yang berorientasi Barat.
1. Karakteristik
Berikut adalah karakteristik umum dari musik kontemporer:

a. Melodi liriknya lebih sedikit dibanding periode sebelumnya


b. Adanya harmoni yang disonan (tidak selaras)
c. Ritme yang kompleks
d. Banyak suara perkusinya
e. Bunyi dari alat musik tiup wood wind dan brass serta bunyi perkusi lebih banyak
ditemukan dibanding periode sebelumnya
f. Penggunaan suara sintetis dan elektronik.

2. Ciri

JUDUL MUSIK KONTEMPORER


Musik Kontemporer, dapat dikenali dengan beberapa ciri yang hampir senantiasa melekat
dalam kehadirannya. Judul karya Musik Kontemporer lazim menggunakan judul yang aneh
dan bahkan asing, seperti misalnya: Gymnopedie, Liturgi Kristal, dan Telemusik. Dan ada juga
yang menggunakan bahasa yang sudah tidak lazim, seperti judul karya Steve Reich "Tehilin".
TEMA MUSIK KONTEMPORER
Dalam musik yang lazim dikenal, tema yang diangkat umumnya berkisar pada cinta, duka,
gembira. Musik Kontemporer mengusung tema yang seringkali “baru”. Misalnya “Tetabuhan
Sungut” karya Slamet Abdul Syukur, yang mengusung tema eksplorasi kemampuan bunyi
mulut manusia.
INSTRUMENTASI DAN PARTITUR MUSIK KONTEMPORER
Dalam Musik Kontemporer, bukan hanya instrumen musik yang lazim dikenal saja, melainkan
juga digunakan benda-benda yang menghasilkan bunyi. Misalnya generator gelombang bunyi
dalam karya Stockhausen, musik dari tepukan tangan karya Steve Reich, dan piano yang
disumbat dengan sekrup dan benda-benda logam“Prepared Piano” karya John Cage.
Untuk Musik Kontemporer, notasi balok dan/atau angka, tidaklah cukup. Konsep musik
dalam Musik Kontemporer seringkali harus disertai petunjuk yang detail tentang gambaran
bunyi dan cara memproduksi bunyi tersebut. Itulah mengapa dalam ranah Musik Kontemporer
dikenal pula notasi auditif dan notasi tindakan.
TEKNIK GARAPAN/KOMPOSISI MUSIK KONTEMPORER
Seringkali, komponis Musik Kontemporer membuat sendiri tata gramatika dan idiom
musiknya. Juga susunan dan struktur harmoni yangt baru. Ide garapan dapat saja menggunakan
idiom dan tata gtramatik Musik Tradisi. Atau juga perhitungan nilai matematis dan dapat pula
rasio atau perbandingan sebuah struktur rancangan bangunan.

a. Warna bunyi bisa saja sejenis atau terdiri dari berbagai jenis
b. Memiliki notasi musik yang hanya dapat dimengerti oleh pemusik karena notasinya
ditulisan dengan simbol atau tanda
c. Improvisasi dari musik kontemporer sangat bervariasi dan biasanya mengikuti
keinginan dari penciptanya
d. Suara atau bunyi yang tercipta bisa didapat dari sumber yang beragam (Elektronik)
tidak hanya dari instrumen musik
e. Memakai tangga nada yang lebih bervariasi
f. Birama tidak terpaku pada satu birama saja
g. Memiliki dinamik dan tempo yang lebih bervariasi
3. Fungsi
Fungsi seni musik juga dibedakan menjadi beberapa kategori, yaitu kategori
umum dan kategori secara spesifik. Secara umum, fungsi seni musik kontemporer
diantaranya :
a. Fungsi religi atau keagamaan, seperti telah disinggung sebelumnya bahwa musik
kontemporer juga telah masuk ke dunia musik religi. Sehingga karya seni musik
kontemporer juga dapat memiliki fungsi untuk menyebarkan nilai-nilai keagamaan.
b. Fungsi Pendidikan, setiap cabang seni memiliki fungsi pendidikannya sendiri.
Dalam musik group atau sebut saja ansambel, diperlukan kerjasama tim agar musik
yang tercipta harmonis.
c. Fungsi Komunikasi, beberapa seniman atau penyanyi menggunakan musik untuk
mengkomunikasikan gagasannya kepada masyarakat. Baik itu berupa ide, krtitik
sosial, dan lain sebagainya.
d. Fungsi Rekreasi/Hiburan, merupakan fungsi yang tidak lepas dari sebuah karya seni
pertunjukan.
e. Fungsi Artistik, adalah fungsi yang ditujukan sebagai media ekspresi sehiman dalam
menyajikan karyanya.
Sedangkan fungsi seni musik kontemporer secara spesifik adalah :
a. Mengembangkan jenis musik baru baik yang berakar pada tradisi maupun tidak
b. Aktualisasi gata bermusik para komponis
c. sebagai bentuk ditemukan dan berkembangnya gramatika musik

PERKEMBANGAN MUSIK KONTEMPORER DI INDONESIA


Di Indonesia, perkembangan musik kontemporer baru mulai dirasakan sejak
diselenggarakannya acara Pekan Komponis Muda tahun 1979 di Taman Ismail Marzuki
Jakarta. Melalui acara itu komunikasi para seniman antar daerah dengan berbagai macam latar
belakang budaya lebih terjalin. Forum diskusi serta dialog antar seniman dalam acara tersebut
saling memberi kontribusi sehingga membuka paradigma kreatif musik menjadi lebih luas.
Sampai hari ini para komponis yang pernah terlibat dalam acara itu menjadi sosok individual
yang sangat memberi pengaruh kuat untuk para komponis musik kontemporer selanjutnya.
Nama-nama seperti Rahayu Supanggah, Al Suwardi, Komang Astita, Harry Roesli, Nano
Suratno, Sutanto, Ben Pasaribu, Trisutji Kamal, Tony Prabowo, Yusbar Jailani, Dody Satya
Ekagustdiman, Nyoman Windha, Otto Sidharta dan masih banyak yang belum disebutkan,
adalah para komponis kontemporer yang ciri-ciri karyanya sulit sekali dikategorikan secara
konvensional. Karya-karya mereka selain memiliki keunikan tersendiri, juga cukup bervariasi
sehingga dari waktu ke waktu konsep-konsep musik mereka bisa berubah-ubah tergantung
pada semangat serta kapasitas masing-masing dalam mengembangkan kreatifitasnya. Pada
puncaknya, karya-karya musik kontemporer tidak lagi menjelaskan ciri-ciri latar belakang
tradisi budayanya walaupun sumber-sumber tradisi itu masih terasa lekat. Akan tetapi sikap
serta pemikiran individual-lah yang paling penting, sebagai landasan dalam proses kreatifitas
musik kontemporer. Sikap serta pemikiran itu tercermin seperti yang telah dikemukakan
komponis kontemporer I wayan Sadra antara lain:
“Kini tak zamannya lagi membuat generalisasi bahwa aspirasi musikal masyarakat adalah satu,
dengan kata lain ia bukan miliki kebudayaan yang disimpulkan secara umum, melainkan milik
pribadi orang per orang” (Sadra, 2003).
Mengamati perkembangan musik kontemporer di daerah sundatampaknya agak lamban. Selain
apresiasi masyarakat Sunda belum begitu memadai, para komponisnya yang relatif sangat
sedikit, juga dukungan pemerintah setempat atau sponsor-sponsor lain untuk penyelenggaraan
konser-konser musik kontemporer sangat kurang. Di Yogyakarta misalnya, secara konsisten
selama belasan tahun mereka berhasil menyelenggarakan acara Yogyakarta Gamelan Festival
tingkat Internasional yang didalamnya banyak sekali karya-karya musik kontemporer
dipentaskan. Kota Solo pada tahun 2007 dan 2008 telah menyelenggarakan acara SIEM (Solo
International Ethnic Music). Banyak karya-karya musik kontemporer dipentaskan dalam acara
itu dengan jumlah penonton kurang lebih 50.000 orang. Festival “World Music” dengan nama
acara “Hitam Putih” di Riau, Festival Gong Kebyar di Bali dan lain sebagainya. Acara-acara
tersebut secara rutin dilakukan bukan sekedar “ritual” atau memiliki tujuan memecahkan rekor
Muri apalagi mencari keuntungan, karena pementasan musik kontemporer seperti yang pernah
dikatakan Harry Roesli merupakan “seni yang merugi akan tetapi melaba dalam tata nilai”.
Sebenarnya banyak komponis kontemporer di daerah Sunda yang cukup potensial, akan tetapi
sangat sedikit yang konsisten. Salah satu komponis pertama yang perlu disebut adalah Nano S.
Meskipun aktifitasnya lebih cenderung sebagai pencipta lagu, akan tetapi beberapa karyanya
seperti karya “Sangkuriang” atau “Warna” memberi nafas baru dalam pengembangan musik
Sunda. Komponis lain seperti Suhendi Afrianto, Ismet Ruhimat sangat nyata upayanya dalam
pengembangan instrumentasi pada gamelan Sunda. Dodong Kodir yang cukup konsisten dalam
upaya mengembangkan aspek organologi dalam komposisinya, Ade Rudiana yang sukses
dalam pengembangan dibidang komposisi musik perkusi, Lili Suparli yang memegang prinsip
kuat dalam pengolahan idiom-idiom musik tradisi Sunda, serta tak kalah penting komponis-
komponis seperti Dedy Satya Hadianda, Dody Satya Eka Gustdiman, Oya Yukarya, Dedy
Hernawan, Ayo Sutarma yang karya-karyanya cukup variatif dan memiliki orsinalitas dilihat
dari aspek kompositorisnya. (posisi penulis sebagai komponis juga memiliki ideologi yang
kurang lebih sama dengan para komponis yang terakhir disebutkan).
Dari beberapa komponis Sunda seperti yang telah disebutkan di atas, secara kompositoris
karakteristik karyanya dapat dipetakan menjadi tiga kategori. Pertama adalah karya musik yang
bersifat “musik iringan”. Konsep komposisi dalam karya seperti ini berdasar pada penciptaan
suatu melodi (bentuk lagu/intrumental), kemudian elemen-elemen lainnya berfungsi
mengiringi melodi tersebut. Kedua adalah karya musik yang bersifat “illustratif”. Konsep
komposisinya berusaha menggambarkan sesuatu dari naskah cerita, puisi dan lain-lain. Dengan
demikian orientasi musiknya lebih tertuju pada penciptaan suasana-suasana yang berdasar pada
interpretasi komponisnya. Ketiga adalah karya musik yang bersifat otonom. Karya musik
seperti ini biasanya sangat sulit dipahami oleh orang awam. Selain bentuknya yang tidak baku,
aspek gramatika musiknya pun sangat berbeda jika dibandingkan dengan karya-karya tradisi.
Kadang-kadang karya-karya musik seperti ini sering menimbulkan hal yang kontroversial.
Seperti yang “anti tradisi”, padahal secara sadar atau tidak, semua tatanan konsepnya
bersumber dari tradisi. Kategori yang seperti ini lebih dekat atau lebih cocok dengan fenomena
musik kontemporer Barat (Eropa-Amerika).
Di Bali, aktivitas berkesenian dengan ideologi ”kontemporer” sesungguhnya telah berlangsung
sejak awal abad ke-20 dengan lahirnya seni kekebyaran di Bali Utara. Namun wacana tentang
musik kontemporer mulai mengemuka serangkaian adanya Pekan Komponis Muda I yang
diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1979. Komponis muda yang mewakili Bali pada waktu
itu adalah I Nyoman Astita dengan karyanya yang berjudul ”Gema Eka Dasa Rudra”. Pada
tahun-tahun berikutnya Pekan Komponis Muda diikuti oleh komponis-komponis muda Bali
lainnya seperti I Wayan Rai tahun 1982 dengan karyanya ”Trompong Beruk”, I Nyoman
Windha tahun 1983 dengan karyanya berjudul ”Sangkep”, I Ketut Gede Asnawa tahun 1984
dengan karyanya berjudul ”Kosong”, Ni Ketut Suryatini dan I Wayan Suweca tahun 1987
dengan karyanya berjudul ”Irama Hidup”, I Nyoman Windha tahun 1988, dengan dua karyanya
sekaligus yaitu ”Bali Age” dan ”Sumpah Palapa”.
Kehadiran karya musik kontemporer ini mulai terasa mengguncang persepsi masyarakat
akademik di ASTI dan STSI (kini ISI) Denpasar dan juga di KOKAR Bali (kini SMK 3
Sukawati), karena musik ini cendrung mengubah cara pandang, cita rasa, dan kriteria estetik
yang sebelumnya telah dikurung oleh sesuatu yang terpola, ada standarisasi, seragam, global,
dan bersifat sentral. Konsep musik kontemporer menjadi sangat personal (individual), sehingga
perkembangannyapun beragam. Paham inilah yang ditawarkan oleh musik kontemporer,
sehingga dalam karya-karya yang lahir banyak terjadi vokabuler teknik garapan dan aturan
tradisi yang telah mapan ke dalam wujud yang baru, terkesan aneh, nakal, bahkan urakan.
Pada tahun 1987 serangkain dengan tugas kelas mata kuliah Komposisi VI, mahasiswa jurusan
karawitan ASTI Denpasar semester VIII untuk pertama kalinya menggarap sebuah musik
kontemporer dengan judul ”Apang Sing Keto”. Karya yang berbentuk drama musik ini
menggunakan instrumen pokok Gamelan Gong Gede dipadu olahan vokal dan penggunaan
lagu ”Goak Maling Taluh” sebagai lagu pokok. Karya ini kemudian ditampilkan pada Pesta
Kesenian Bali tahun 1987 dan mendapat sambutan meriah dari penonton. Pada tahun 1988
ketika Festival Seni Mahasiswa di Surakarta, saya sendiri selaku komponis mewakili STSI
Denpasar menggarap karya musik kontemporer yang berjudul”Belabar Agung” dengan
menggunakan gamelan Gong Gede. Dua karya terakhir ini sempat mendapat kecaman dari
beberapa sesepuh karawitan, karena dianggap memperkosa dan melecehkan gamelan Gong
Gede yang telah memiliki kaidah-kaidah konvensional yang mapan.
Dua tahun kemudian, satu garapan musik kontemporer dengan media ungkap berbeda digarap
kolaboratif oleh dua seniman I Wayan Dibia dan Keith Terry yaitu ”Body Tjak”. Karya ini
merupakan seni pertunjukan multikultural hasil kerja sama atau kolaborasi internasional yang
memadukan unsur-unsur seni dan budaya Barat (Amerika) dan Timur (Bali-Indonesia). ”Body
Tjak” digarap dengan penggabungan unsur-unsur seni Kecak Bali dengan Body Music, sebuah
jenis musik baru yang menggunakan tubuh manusia sebagai sumber bunyi. Garapan bernuansa
seni budaya global ini, lahir dengan dua produksinya yaitu Body Tjak 1990 (BT90) dan Body
Tjak 1999 (BT99) (Dibia, 2000:10). Kedua karya ini memang murni lahir dari keinginan
seniman untuk mengekspresikan jiwanya yang telah tergugah oleh dinamisme seni kecak
dan body music. Dengan berbekal pengalaman estetis masing-masing, dan diilhami oleh obsesi
aktualitas kekinian, kedua seniman sepakat melakukan eksperimen dalam bentuk workshop-
workshop sehingga lahirlah musik kontemporer Body Tjak.
Kehidupan dan perkembangan musik kontemporer yang diawali event-event gelar seni baik
dalam dan luar negeri akhirnya juga masuk ke ranah akademik. Mahasiswa jurusan karawitan
ISI Denpasar telah banyak menggarap musik kontemporer sebagai materi ujian akhirnya.
Hingga tahun 2009 penggarapan musik kontemporer masih mendominasi pilihan materi ujian
akhir mahasiswa jurusan karawitan, hal ini menyebabkan secara produktivitas penciptaan
musik kontemporer sangat banyak, model dan jenisnyapun sangat beragam. Penggunaan
instrumen tidak hanya terpaku pada alat-alat musik tradisional Bali, juga digunakan instrumen
musik budaya lainnya, bahkan mahasiswa sudah mengeksplorasi bunyi dari benda-benda apa
saja yang dianggap bisa mengeluarkan suara yang mendukung ide garapannya.
Musik kontemporer yang berjudul ”Gerausch” karya Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya adalah
salah satu contoh eksplorasi radikal dalam musik kontemporer Bali. Karya ini sempat
memunculkan polemik kecil di kalangan akademik kampus. Berkembang wacana ”apakah
karya ini tergolong musik atau tidak, termasuk karya karawitan atau bukan?”. Namun dengan
pemahaman yang cukup alot dari masyarakat akademik kampus, akhirnya karya kontroversial
inipun telah mengantarkan sang komposer memperoleh gelar S1 Komposisi Karawitan. Apa
yang dijadikan titik tolak menilai sesuatu sebagai karya seni, pemahaman konsep dan
paradigma berfikir yang sesuai dengan perubahan jaman diharapkan mampu menjelaskan
seluruh fenomena yang ada. Itulah musik kontemporer, ”kontroversial” adalah ciri
keberhasilannya.
Ketiga model tersebut perlu dirancang agar pemanfaatan bunyi sebagai media akan optimal.
Berikut ini beberapa contoh musik kontemporer Indonesia.
1. Tetabuhan Sungut
Karya Tetabuhan Sungut dari Slamet Abdul Syukur merupakan satu karya yang dimainkan
oleh sekelompok paduan suara laki-laki dan perempuan. Ide utama karya ini, yaitu mentransfer
bunyi-bunyi gamelan, vokal, dan alat perkusi tradisi, seperti suara saron, kendang, dan lain-
lain (dung tak gen bern jer, na no ne, e o e, …) melalui vokal manusia. Ibarat bermain gamelan,
namun menggunakan mulut. Bunyi-bunyi tersebut dikemas menjadi satu kesatuan bunyi yang
otonom. Bukan mengimitasi ssatu gending dan dimainkan oleh suara manusia, namun bunyi-
bunyi tersebut disusun kembali hingga menajdi sebuah komposisi mandiri, musiknya terdiri
atas beberapa bagian, yaitu satu bagian yang menekankan pada aspek bunyi-bunyi perkusi,
saron, dan senggakan.
2. Jalinan Kita
Karya Jalinan Kita merupakan salah satu karya dari Dody Satya Ekagustdiman yang
dimainkan secara quatrophoni. Dalam teknik pementasannya, karya ini dimainkan oleh
empat kelompok yang saling berhadapan secara simetris. Setiap kelompok menggunakan
instrument kecapi, gelas plasik, suling, dan digunakan vokal. Cara memainkan kecapinya
sendiri sangat berbeda dengan cara dalam mengiringi kawih tradisi. Cara memainkannya
adalah dengan dipetik, kemudian bagian bawahnya ditekan hingga menghasilkan suara baru,
atau keseluruhan kawat dibunyikan secra bersamaan (dari atas ke bawah atau sebaliknya)
dengan menggunakan klaber, atau kawat-kawat kecapi itu dipukul dengan pemukul karet.
Bunyi gelas plastik yang dipukulkan satu sama lain dengan sesekali menutup bagian mulut
gelasnya bisa menghasilkan perbedaaan bunyi yang diproduksi gelas tersebut. Sementara itu,
suling tidak digunakan sebagai alat melodis, namun komponis memanfaatkan bunyi-bunyinya
sebagai bunyi perkusi atau ritmis dan berbagai aksentuasi. Alat vokal diproduksi menjadi
warna-warna suara yang cenderung aneh, seperti mengaum dan mendesis. Serta teknik
komposisinya sendiri menggunakan berbagai perbedaan birama.
3. Badingkut
Oya Yukarya menciptakan karya Badingkut. Dalam satu bagian tertentu, idenya bertolak dari
eksplorasi warna-warna suara vokal manusia, seperti gaya melodi bicara dengan
menggunakan suatu kalimat yang bunyi huruf vokalnya diganti dengan hanya menggunakan
vokal yang sama a, i, u, e, atau o. kesan lucu dan akrab terasa pada bagian ini sehingga
terkadang penonton mampu larut dalam karyanya. Tentu saja kekayaan karyanya terletak
pada kemampuan menyusun bunyi-bunyi yang satu sama lain tidak selalu sama dengan
menggunakan berbagai teknik komposisi yang khas.
4. OAEO
Komposisi yang dicipta oleh Wayan Sadra yang berjudul O A E O ini terdapat kesan menarik
karena dengan menggunakan vocal ini saja mampu menjadi satu karya baru. Dia memadukan
vocal tersebut dengan beberapa alat perkusi dan menggunakan berbagai rangkaian melodi
sebagai bahan musical tradisi dengan teknik pengulangan dan berbagai variasi di setiap
bagiannya. Warna suara vocal laki-laki dan perempuan menjadi satu kesatuan warna yang
khas apalagi dalam karya ini terdapat solois-solois, namun tidak dominan.

Secara umum, menurut kajian Prof Dieter Mack - komposer, pianis, dan pakar tentang
budaya Musik Indonesia dari Universitas Freiburg Jerman, keberadaan musik kontemporer di
Indonesia dapat dibagi menjadi:
1. Musik Kontemporer dalam idiom tradisi barat
Termasuk dalam kategori ini adalah komponis Amir Pasaribu, Dua Srikandi piano:
Trisutji Kamal dan Marusya Nainggolan Abdullah. Materi garapannya dapat berupa
Musik Tradisional. Namun teknik garapannya memakai prinsip-prinsip yang lazim di kenal
pada Musik Barat. Misalnya: nuansa gendhing gamelan Jawa yang ditranskripsikan ke dalam
piano. Sudah tentu, masalah laras dan alur musiknya bukan lagi pelog,
slendro, ataupun ladrang. Melainkan misalnya mengambil bentuk sonata, prelude, dan
semacamnya.
2. Musik Kontemporer yang bersumber dari unsur etnik
Kategori ini dimotori oleh nama-nama seperti: A.W. Sutrisna, Rahayu Supanggah, Wayan
Sadra, Dody Satya Ekagust Diman – seorang komponis muda yang banyak mendapat
pujian di Jerman. Karya dalam kategori ini dapatlah dikatakan sebuahrevitalisasi Musik
Tradisi. Misalnya Degung Sunda yang diberi “baju” baru. Berupa cara menabuh dengan
teknik baru misalnya dengan sendok makan, cara memetik kecapi dengan menggunakan
gesekan kuku jari. Tata gramatik musikpun mendapat pakem baru. Misalnya perubahan
fungsi tiap instrumen. Juga kemungkinan peran sebagai solis pada tiap instrumen. Degung
klasik yang murni adalah sebuah ensemble permainan musik bersama.
3. Musik baru yang berlatar belakang budaya Indonesia dan budaya Barat
Komponis terkemuka dalam kategori ini adalah: Slamet Abdul Sjukur, Alm. Sapto
Ragardjo, Alm. Ben Pasaribu, Tony Prabowo, dan Otto Sidharta. Ciri garapan kategori
ini adalah mixed culture - percampuran dua macam budaya. Misalnya karya Slamet Abdul
Sjukur yang berjudul “Tetabuhan Sungut” adalah sebuah canon vocal, namun strukturnya
mengambil teknik garapan gendhing.

PERKEMBANGAN MUSIK KONTEMPORER DI DUNIA


Latar Belakang
Dalam proses perjalanan seni musik, sejarah menguak beberapa perkembangan yang dialami
oleh seni musik itu sendiri. Dimulai dari musik Renaissance (1350-1600), musik Barok
(1600-1750) dan kemudian pada 1750-1820 berganti menjadi musik klasik. Setelah itu masih
banyak lagi jenis musik yang berubah mengikuti perkembangan zaman pada waktu itu.
Perkembangan ini, menunjukkan keberadaan musik sebagai satu kesatuan yang ikut
berkembang seiring jaman.
Sekitar zaman Renaissance, abad ke-15 ke atas, muncul satu fenomena, yakni pemahaman
“karya musik otonom” yang kemudian disebut “karya seni”. Sejak itulah pengertian seni
musik Barat sepenuhnya menuju ke karya seni otonom. Dari perkembangan ini, akhirnya
muncullah “musik kontemporer” (Neue Musik). Sejajar dengan perkembangan ini pada abad
ke-20 muncul sesuatu yang sangat baru lagi, yaitu musik populer. Musik populer ini tidak
dapat disamakan dengan musik rakyat, seperti misalnya dalam tradisi etnik-etnik di
Indonesia.
Asal Usul Musik Kontemporer
Tak dapat dipungkiri, saat ini musik telah menjadi salah satu konsumsi utama dari
kebudayaan masyarakat di belahan bumi manapun. Musik rohani sendiri telah banyak
mengembangkan warna-warna baru yang bervariasi dengan pembawaan yang lebih modern
dan atraktif. Yang dulunya bernyanyi hanya diiringi sebuah organ, piano atau gitar, kini
lengkap sebagai sebuah band, ada pemain drum, gitar, bass, piano, keyboard, perkusi serta
alat musik lain yang dianggap perlu untuk menciptakan sebuah musik. Kita sedang berada di
zaman musik baru, yang dinamakan Musik Kristen Kontemporer (Contemporary Christian
music disingkat CCM). Kata ‘Kontemporer” sendiri berasal dari kata ‘co’ (bersama) dan
‘tempo’ (waktu), sehingga dapat diartikan bahwa musik kontemporer adalah karya musik
yang secara thematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui (zaman kini). Dasar
musik yang dipakai adalah pop, rock dan praise & worship. Beberapa penyanyi atau grup
yang mewakili aliran Musik Kristen kontemporer ini antara lain Avalon, Barlow Girl, Jeremy
Camp, Casting Crowns, Steven Curtis Chapman, David Crowder Band, Amy Grant, Natalie
Grand, Jars of Clay, MercyMe, Newsboys, Chris Tomlin, Hillsong, Michael W. Smith,
Rebeca St. James, Thrid Day, TobyMac, dan masih banyak yang lain lagi. Memang tidak
semua musik populer Kristen saat ini serta merta dianggap sebagai musik Kristen
kontemporer misalnya banyak grup funk, hardcore, hip hop walaupun mengusung thema
tentang iman Kristen. Artis seperti Bob Dylan,The Byrds, Lifehouse dan U2 pun
tidak tergolong sebagai artis CCM.
Munculnya Musik Kristen Kontemporer
Musik Kristen Kontemporer muncul pertama kali ketika terjadi kebangkitan Jesus Movement
di akhir tahun 1960, awal tahun 1970. Satu dari sekian banyak album Jesus Music yang
populer adalah Upon This Rock (1969) oleh Larry Norman yang dikeluarkan oleh Capitol
Record. Berbeda dengan Musik Gospel Tradisional di belahan bumi selatan, aliran Jesus
Music yang baru ini, warna musiknya bukan Rock & Roll. Pelopor dari kegerakan ini
termasuk 2nd Chapter of Acts, Andrae Crouch and the Disciples, Love Song, Petra, dan
Barry McGuire. Budaya Jesus Music ini menjadi luas, hingga menjadi sebuah indrustri musik
yang bernilai miliaran dolar di tahun 1980-an. Tahun 1990 an banyak artis-artis CCM seperti
Amy Grant, dc Talk, Michael W. Smith, Stryper dan Jars of Clay, telah mencapai kesuksesan
dalam industri musik.
Sekarang ini penjualan musik Kristen kontemporer bahkan melebihi musik-musik klasik,
jazz, latin, New Age dan soundtrack musik. Dalam http://christianmusic.about.com/od/
trivia/a/ccmhistory.htm tentang topik The Changing Face of Christian Music diketahui bahwa
Larry Norman, pelopor rock alternative Kristen sejak tahun 1960 dikenal sebagai the "Father
of Christian Rock" (Bapak Musik Rock Kristen), Dan Marsha Stevens, pemimpin dari
Children of the Day dikenal sebagai the "Mother of Contemporary Christian Music" (Induk
dari Musik Kristen Kontemporer) menurut versi The Encyclopedia of Contemporary
Christian Music. Chuck Girard dikenal pula sebagai artis pria Musik Kristen Kontemporer,
yang merintis di gereja California.

Kontroversi Musik Kontemporer


Sejak munculnya Musik Kristen Kontemporer tahun 1970an, musik kristen seolah terbagi
menjadi dua: Hymne (tradisional) dan kontemporer. Hymne cenderung terkesan dengan
suasana yang tenang (tidak bersemangat) dan khidmat (terkesan kolot). Hymne juga sangat
didekatkan pada musik yang berat, notasinya cukup sulit dan kadang sulit dimengerti apalagi
dinikmati, sehingga membentuk image bahwa hymne adalah lagu yang ‘jadul’ (kuno).
Sedangkan musik kristen kontemporer cenderung terkesan dinamis, penuh semangat dan
“ringan”. Musiknya mudah dimengerti dan dinikmati. Ini hanyalah beberapa poin kontroversi
seputar merebaknya musik kristen kontemporer, sehingga pro dan kontra sudah menjadi
bagian sejarah musik gereja saat ini.
John Styll, presiden dari Nashville-based CCM Communications dan ketua Gospel Music
Association di Amerika misalnya, menyatakan, trend ke depannya, gereja-gereja akan lebih
terbuka terhadap musik kontemporer. "Bisa dibilang jika gereja memakai lagu-lagu
penyembahan kontemporer, maka gereja itu akan bertumbuh, dan jika melawannya maka
gereja itu jika tidak mati, akan mengalami kemandekan," ujar John Styll. la menyebutkan
total penjualan album rohani kontemporer di Amerika bertumbuh pesat dari USD 83 juta di
tahun 80-an menjadi USD 700 juta di tahun 2004. Yang menarik, setengahnya justru terjual
di outlet gereja Protestan (non Pentakosta/ Karismatik). Memang di sebagian gereja,
sepertinya menuai konsekuensi kalau tidak mengikuti zaman. Yaitu, secara otomatis jumlah
jemaat yang muda akan berkurang. Kenapa? Karena muda-mudi yang hidup saat ini
(khususnya di perkotaan) bisa dipastikan lebih tertarik dengan kebaktian yang lebih variatif
dan lebih tertarik dengan kemajuan zaman, apalagi saat ini dunia band semakin diminati
kawula muda. Hal itu dapat dilihat dari kegiatan musikal yang berbau band dan ramai
ditonton oleh orang-orang muda sedangkan pada musik klasik dan tradisional, kita lihat saja
sendiri.
Sehingga kebanyakan alasan yang dilontarkan adalah satu-satunya cara untuk meraih orang-
orang yang mencintai musik (khususnya kaum muda) adalah melalui bahasa mereka
sendiri. Namun demikian setidaknya ada beberapa hal yang menjadi catatan negatif tentang
musik Kristen kontemporer ini antara lain, pertama, isinya ada banyak kemasukan teologia
kemakmuran, sehingga memanjakan jemaat; kedua, dalam liriknya kebanyakan memakai
kata “aku”, terkesan egois . Ini disebabkan lagu kristen kontemporer banyak dibuat
berdasarkan pengalaman pribadi sang pembuat lagu sifatnya subyektif. Namun ada beberapa
lagu seperti “Besar Dan Ajaiblah KaryaMu” ciptaan Pdt. Ir. Niko Nyotoraharjo dan “Mulia
Sembah Raja Mulia (Majesty)” karya Pdt. Dr. Jack William Hayford diakui sebagai lagu
kontemporer yang berkwalitas Hymne. Ketiga, Musik Kristen Kontemporer kini terlalu
komersiil sehingga kebanyakan mengejar deadline untuk mengeluarkan album, sehingga
terkesan mencari keuntungan uang.
Tidaklah salah untuk terus bertumbuh dan berkembang mengikuti perubahan teknologi,
media, musik, gaya hidup dan sebagainya. Namun, kita jangan meninggalkan nilai-nilai
konservatif (nilai-nilai yang baik) yang kita punyai. Banyak nilai ‘konservatif (yang baik)’
tentang sebuah keluarga (komitmen, keutuhan, dsb), nilai-nilai tentang hubungan cinta yang
sehat, nilai-nilai persahabatan, yang seringkali menyelamatkan kita dari jurang kehancuran.

JENIS-JENIS MUSIK KONTEMPORER


1. Blues. Yaitu musik yang berasal dari AS (Amerika Serikat)
2. Country. Yaitu gabungan dari musik Amerika Serikat bagian selatan dan pegunungan
Appalachia.
3. Emo. Yaitu musik yang berisi pengakuan dengan lirik ekspresif dan ciri musik yang
melodius.
4. Metal. Yaitu musik rock yang ada pada 1970-an dan didominasi oleh gitar.
5. Hip hop. Yaitu aliran musik yang terdiri dari perpaduan antara rapping, Djing,
Breakdance, dan graffiti.
6. Jazz. Yaitu musik yang terdiri dari gabungan musik Afrika dan Eropa
7. Musik klasik. Yaitu musik yang berasal dari tradisi seni barat, musik kristiani dan
orkestra.
8. Pop. Yaitu musik yang sering didengar di pasaran dan bersifat komersial.
9. R&B. yaitu musik yang terdiri dari campuran jazz, gospel dan blues.
10. Reggae. Yaitu musik yang berasal dari Jamaika
11. Rock. Yaitu musik yang terdiri dari rhythm dan blues dan berkembang pada tahun 50-
an
12. Swing. Yaitu musik hasil turunan dari musik pop yang nadanya mendayu-dayu