Anda di halaman 1dari 21

Subjek Pendidikan I: Ar-Rahman dan Jibril yang Cerdas

dan Memiliki Kekuatan, Orang Tua

Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir


Tarbawi

Dosen Pengampu : Ridholloh Ismat, M. Pd. I

Disusun Oleh :

Aulia Nur Fadillah 11170110000055

Faqihudin 11170110000084

Abdul Rasyid 11170110000106

Haniyah Nurfitri 11170110000114

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2019

i
KATA PENGANTAR

Kami penyusun makalah mengucapkan syukur kepada Allah SWT.


karena berkat rahmat dan karunia-Nya lah penyusun dapat
menyelesaikan tugas ini dengan judul “Subjek Pendidikan I: Ar-Rahman
dan Jibril yang Cerdas dan Memiliki Kekuatan; Orang Tua”. Kami turut
berterimakasih kepada dosen pengampu yang telah membimbing kami
Bpk. Ridholloh Ismat, M. Pd. I. Makalah ini disusun dalam rangka
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir Tarbawiy.

Penulis menyadari makalah ini bukanlah tugas yang sempurna


karena memiliki banyak kekurangan baik dalam hal isi maupun
sistematika dan teknik penulisan. Oleh sebab itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini bisa memberikan manfaat
bagi penulis dan pembaca.

Jakarta, 14 Maret 2019

Pemakalah

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 1

C. Tujuan 1

BAB II 2

A. Pengertian Subjek Pendidikan 2

B. Penjelasan Ayat Al-Qurán beserta Tafsir Mengenai Subjek


Pendidikan 4

1. Q.SA r-Rahman (55): 1-4 4

2. Q.S An-Najm (53): 5-6 6

3. Q.S At-Tahrim (66): 6 9

BAB III 16

Kesimpulan 16

DAFTAR PUSTAKA 17

iii
2

BAB I

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang tidak terlepas dari kehidupan kita


sehari-hari.pendidikan bagi manusia adalah melibatkan semua unsur
dalam kehidupannya, baik unsur dari dalam dirinya sendiri yang sudah
membawa potensi juga melibatkan unsur lain di luar dirinya yaitu
lingkungan keluarga, masyarakat dan alam sekitarnya.agar manusia itu
mengetahui dan mmemiliki pemahaman akan eksistensi dirinya maka
manusia itu perlu dididik sehingga berkembang sesuai dengan fitrahnya.
Subyek pendidikan atau pendidik merupakan faktor penting dalam
kegiatan kependidikan. Di dalam al-qur’an sudah dijelaskan bagaimana
menjadi seorang pendidik yang profesional. Diantara ayat alqur’an yang
menjelaskan subyek pendidikan adalah surat ar-Rahman (55) ayat 1-4,
surat an-Najm (53) ayat 5-6, dan at-Tahrim (66): 6. Di dalam ayat-ayat
tersebut mengandung makna pendidikan terutama yang berhubungan
dengan masalah subyek pendidikan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan subjek pendidikan?


2. Apa saja ayat al-Qurán dan tafsirannya mengenai subjek
pendidikan?

1
2

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian subjek pendidikan.


2. Untuk mengetahui ayat al-Qurán beserta tafsirannya yang
menjelaskan mengenai subjek pendidikan.
BAB II

A. Pengertian Subjek Pendidikan


Kata subjek dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti pokok
pembicaraan; pokok pembahasan; bagian klausa yang menandai apa yang dikatakan
oleh pembicara; pokok kalimat; pelaku.1
Sedangkan kata pendidikan, dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik
yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu
mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa
waktu dilahirkan di dunia.2
Kata pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses sikap dan
tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.3
Menurut Sanusi et al di dalam buku Model-model pembelajaran mengembangkan
profesionalisme guru karya Rusman disebutkan bahwa subyek pendidikan adalah
manusia yang memiliki kemauan, pengetahuan, emosi, dan perasaan dan dapat
dikembangkan sesuai dengan potensinya; sementara itu pendidikan dilandasi oleh
nilai-nilai kemanusiaan yang menghargai martabat manusia.4
Sedangkan di dalam buku Zakiyah Drajat yang berjudul Metodik Khusus
Pengajaran Agama Islam disebutkan bahwa Subyek pendidikan atau yang biasa
disebut dengan guru adalah seorang pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang
bijaksana, pencetak para tokoh dan pemimpin umat.5 Jadi dari kedua pendapat di atas
dapat kita ketahui bahwa yang dimaksud subjek pendidikan adalah seseorang yang
dapat memimpin, membimbing dan mengarahkan orang lain menjadi pribadi baik dan
berguna bagi sekelilingnya.

1
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima
2
Nurkholis, “Pendidikan dalam Upaya Memajukan Teknologi”, Jurnal Kependidikan, Vol. 1
No. 1, 2013, h. 25.
3
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima
4
Ning Mukarommah, “Subjek Pendidikan Menurut Perspektif Al-Qur’an”, Jurnal Studi
Pendidikan Islami, Vol. 4, 2017, h. 3.
5
Ibid.

3
4

Oleh karena itu, seorang guru dituntut harus memiliki berbagai sifat dan sikap
antara lain:
1. Seorang guru harus manusia pilihan
2. Seorang guru hendaklah mampu mempersiapkan dirinya sesempurna mungkin
3. Seorang guru juga hendaknya tidak pernah tamak dan bathil dalam
melaksanakan tugasnya sehari-hari
4. Seorang guru hendaknya dapat menyakini Islam sebagai konsep Ilahi dimana
dia hidup dengan konsep itu
5. Seorang guru harus memiliki sikap yang terpuji
6. Penampilan seorang guru hendaknya selalu sopan dan rapi
7. Serorang guru seyogyanya juga mampu menjadi pemimpin yang shalih
8. Seruan dan ajaran seorang guru hendaknya tercermin pula dalam sikap
keluarganya dan atau para sahabatnya
9. Seorang guru harus menyukai dan mencintai muridnya6
Kita dapat membedakan pendidik itu menjadi dua kategori yaitu:

1. Pendidik menurut kodrat, yaitu orang tua. Orang tua sebagai pendidik
menurut kodrat adalah pendidik pertama dan utama, karena secara kodrat anak
manusia dilahirkan oleh orang tuanya (ibunya) dalam keadaan tidak berdaya hanya
dengan pertolongan dan layanan orang tua (terutama ibu) bayi (anak manusia) itu
dapat hidup dan berkembang semakin dewasa. Hubungan orang tua dengan anaknya
dalam hubungan edukatif, mengandung dua unsur dasar, yaitu: 1) Unsur kasih sayang
pendidik terhadap anak 2) Unsur kesadaran dan tanggung jawab dari pendidik untuk
menuntun perkembangan anak
2. Pendidik menurut jabatan, yaitu guru. Guru adalah pendidik kedua setelah
orang tua. Mereka tidak bisa disebut secara wajar dan alamiah menjadi pendidik,
karena mereka mendapat tugas dari orang tua, sebagai pengganti orang tua. Mereka
menjadi pendidik karena profesinya menjadi pendidik, guru di sekolah misalnya.
Dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah
pendidk profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak
usia dini, jalur pendidikan formanl, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.7

Subjek pendidikan sangat berpengaruh sekali kepada keberhasilan atau gagalnya


pendidikan. Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung
jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan dapat dipahami

6
Ibid.
7
Ibid., h. 4.
5

oleh objek pendidikan. Subjek pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli
pendidikan adalah Orang tua, guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non-
formal dan lingkungan masyarakat. Sedangkan pendidikan pertama ( tarbiyatul
awwal) yang kita pahami selama ini adalah rumah tangga (orang tua). Sebagai
seorang muslim kita harus menyatakan bahwa pendidik pertama manusia adalah
Allah dan yang kedua adalah Rasulullah.8

B. Penjelasan Ayat Al-Qurán Beserta Tafsir Mengenai Subjek Pendidikan


Al-Qur’an memuat segala hal untuk mengatur hidup kita, termasuk masalah
pendidikan. Dalam pendidikan tentunya ada yang namanya subjek pendidikan. Dalam
bahasan di bawah ini akan diuraikan beberapa dalil tentang subjek pendidikan dalam
Al- Qur’an, di antaranya adalah:
1. Q.S Ar-Rahman (55): 1-4
َ‫علَّ َمهُ ۡٱلبَ َيان‬
َ َ‫سن‬ ِ ۡ َ‫علَّ َم ۡٱلقُ ۡر َءانَ َخلَق‬
َ َٰ ‫ٱۡلن‬ َ ‫ٱلر ۡح َٰ َم ُن‬
َّ
Artinya: "(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran.
Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara".

Keyword: ar-Rahman, mengajarkan, menciptakan.

Tafsir Q.S Ar-Rahman 1-4


‫ٱلر ۡح َٰ َم ُن‬
َّ
(Tuhan) Yang Maha Pengasih

Ar-rahman sebagaimana sudah diketahui, adalah yang maha pengasih kepada


seluruh mahluknya. Kasih nya tak pilih kasih jangankan manusia, apa saja hewan
yang melata diatas bumi ini pun Ia jamin rezekinya bila berusaha (11:6). Karena itu Ia
mengasih manusia yang kafir atau jahat sekalipun. Tentu saja kasihnya itu tanpa
sayang nya (al-Rahim), sayang nya itu hanya untuk orang baik dan diberikanya
terutama nanti di akhirat. Sedangkan kasih-Nya hanya didunia.
Penyebutan tuhan dengan nama al-Rahman itu mengejutkan masyarakat
jahiliyah. Sebabnya antara lain, pertama, nama itu menggugah mereka, karena selama
ini mereka memahami bahwa tuhan itu sesuatu zat yang maha dahsyat yang perlu di

8
Ibid.
6

takuti. Kedua, nama itu menarik hati mereka, karena dinyatakan sebagai “Yang
Mahakasih” yang menyejukan hati mereka.9
َ‫علَّ َم ۡٱلقُ ۡر َءان‬
َ
Mengajarkan Al-Qur’an
Allah mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi-Nya Muhammad SAW. Cara
mengajarinya: Allah mula-mula mengajarkanya kepada Jibril a.s. lalu Jibril
menyampaikanya kepada beliau. Kemudian beliau menyampaikanya kepada para
sahabat, dan para sahabat menyampaikanya kepada umat manusia.
Mengapa Al-Qur’an disebut pertama sekali? Hal itu karena dalam surah ini
Allah menyebut-menyebut banyak sekali Nikmat-Nya kepada manusia, sedangkan
Al-Qur’an adalah nikmat-Nya terbesar karena berisi ajaran-ajaran yang perlu sekali di
pedomani untuk keselamatan hidup baik di dunia maupun di akhirat.10

ِ ۡ َ‫َخلَق‬
َ َٰ ‫ٱۡلن‬
َ‫سن‬
Menciptakan manusia
Begitu juga penciptaan manusia khusus disebutkan disini dan juga di awal
karena manusia adalah mahluk-Nya yang paling mulia. Hanya manusia yang
memiliki jasmani yang paling sempurna dengan otak dan panca indera yang
sempurrna pula. Disamping itu hanya manusia yang berdiri tegak dan tangan nya
lepas. Dengan berdiri tegak kepala keatas, maka manusia dapat berfikir yang
melahirkan ilmu pengetahuan. Dan tangan lepas manusia dapat merealisasikan ilmu
pengetahuanya, yang melahirkan teknologi. Terlebih lagi hanya manusia yang
memiliki qalbu dengan qalbu manusia dapat menerima agama lalu bermoral dan
bertuhan. Hanya manusia yang memiliki kecerdasan sehingga mengembangkan ilmu
dan teknologi dan hanya manusia yang beragama lalu bertuhan dan bermoral. 11

َ‫علَّ َمهُ ۡٱلبَيَان‬


َ
Mengajarnya pandai berbicara
Allah juga memberi manusia kemampuan bicara. Tidak hanya berbicara tetapi
juga kemampuan menjelaskan pikiranya. Dan tidak hanya menjelaskan pikiranya
tetapi juga kemampuan logika dan berteori. Al bayan adalah ekspresi, baik dengan
perbuatan, perkataan, ataupun pikiran.12

9
Salman Harun, Tafsir Tarbawi: Nilai-Nilai Pendidikan dalam al-Qurán, (Banten: UIN
Jakarta Press, 2013), Cet. I., h. 53-54.
10
Ibid.
11
Ibid.
12
Ibid., h. 54-55.
7

Nilai Pendidikan:
a. Allah adalah Maha Guru pertama dan utama umat manusia.
b. Setelah al-Qurán maka yang diajarkan Allah pertama kali kepada manusia
adalah kemampuan menjelaskan atau ekspresi (al-bayan).13

2. Q.S An-Najm (53): 5-6


ۡ َ‫شدِيد ُ ۡٱلقُ َو َٰى ذُو ِم َّرةٖ ف‬
‫ٱست َ َو َٰى‬ َ ُ‫علَّ َم ۥه‬
َ
Arti: “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang
mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan
rupa yang asli.”
Keyword: pengajar, menguatkan, wahyu.

Tafsir ayat 5:

Dalam buku Tafsir Ath-Thabari, Abu Ja’far berkata bahwa ayat ini adalah Al-
Qur’an yang disampaikan oleh Nabi SAW diajarkan oleh Malaikat Jibril
(pelafalannya).14 Menurut tafsir Ibnu Katsir, dalam ayat ini Allah SWT berfirman
memberitahukan tentang hamba dan Rasul-Nya, Muhammad SAW, bahwa ‫ش ِديْدُ ُ ْالق ٰوى‬
َ
"Yang sangat kuat". Yakni Jibril AS telah mengajarkan kepadanya apa yang harus
disampaikan kepada manusia, sebagaimana firman Allah:
َ ‫ِي قُ َّوة ِع ْندَ ذِى ْالعَ ْر ِش َم ِكيْن ُّم‬
‫طاع ث َ َّم ا َ ِميْن‬ ُ ‫اِنَّهٖ لَقَ ْو ُل َر‬
ْ ‫س ْول َك ِريْم ذ‬
Artinya: "sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang
dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan,
memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki `Arsy, yang di

13
Ibid., h. 55.
14
Fathurrozi, Tafsir Ath-Thabari, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), h. 93.
8

sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya." (QS. At-Takwir: 19-
21).15

Dalam ayat ini, selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa Muhammad SAW
(kawan mereka itu) diajari oleh Jibril AS. Jibril itu sangatlah kuatnya, baik ilmunya
maupun amalnya. Ayat ini merupakan jawaban dari perkataan mereka yang
mengatakan bahwa Muhammad itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan
dongeng-dongengan (legenda-legenda) orang-orang dahulu. Jelaslah bahwa
Muhammad SAW itu bukan diajari oleh seorang manusia, tetapi ia diajari oleh Jibril
AS yang kuat.16
Tafsir ayat 6:

Di surat ini Allah berfirman ُ‫ُم َّرة‬


ِ ‫" ذ ْو‬Yang mempunyai akal yang cerdas" Yaitu
memiliki kekuatan. Hal ini dikatakan oleh Mujahid, Al Hasan dan Ibnu Zaid. Firman
Allah ‫" فَا ْست َٰوى‬Dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli." Yang
dimaksud adalah Jibril AS. Hal ini dikatakan oleh al-Hasan, Mujahid, Qatadah, dan
ar-Rabi' bin Anas.17

Allah SWT menerangkan lagi dalam ayat ini, bahwa Jibril itu mempunyai
kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa. Seperti dalan riwayat bahwa ia telah pernah
membalikkan perkampungan Nabi Lut kemudian mereka diangkat ke langit lalu
dijatuhkan ke bumi. Juga ia pernah menghembus kaum Samud hingga berterbanglah
mereka. Dan apabila ia turun ke bumi hanya dibutuhkan waktu sekejap mata.
Lagipula ia dapat berubah bentuk dengan berbagai rupa.18

Kata (ُ‫علَّ َم ۥه‬


َ ) allamahu/diajarkan kepadanya bukan berarti bahwa wahyu tersebut
bersumber dari malaikat jibril. Seorang yang mengajar tidak mutlak
mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar. Bukankah kita
mengajar anak kita membaca, padahal sering kali bacaan yang diajrkan itu
bukan karya kita? Menyampaikan atau menjelaskan sesuatu sacara baik dan
benar dalah salah satu bentuk pengajaran. Malaikat menerima wahyu dari Allah
dengan tugas menyampaikannya secara baik dan benar kepada Nabi saw., dan
itulah yang dimaksud dengan pengajaran disini.

15
Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Pustaka Ibnu
Katsir, 2017), jilid 8, h. 589.
16
Sonhadji, Al-Qur'an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: PT Dana Bakti Wakaf, tth), h. 555-556.
17
Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri, op.cit., h. 588-589.
18
Al-Qur'an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: PT Dana Bakti Wakaf, tth), h. 555-556.
9

Kata (ٖ‫ ) ِم َّرة‬mirrah terambil dari kalimat amrartu al-haba yang berati
melilitkan tali guna menguatkan sesuatu. Kata ٖ‫ ذُٖ و ِم َّرة‬digunakan untuk
menggambarkan kekuatan nalar dan tingginya kemampuan seseorang. Al-
biqa’i memahaminya dalam arti ketegasan dan kekuatan yang luar biasa untuk
melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya tanpa sedikitpun mengarah
kepada tugas selainnya disertai dengan keikhlasan penuh. Ada juga yang
memahaminya dalam arti kekuatan fisik, akal dan nalar.
Ada lagi ulama’ yang memahami ayat di atas sebagai berbicara tentang nabi
muhammad saw., yakni nabi agung itu adalah seorang tokoh yang kuat
kepribadiaannya serta matang pikiran dan akalnya lagi sangat tegas dalam
membela agama Allah.19
Menurut pemakalah, ayat 5 dan 6 surat An-Najm ini bebicara mengenai
seorang pendidik yang harus berpenampilan sebaik-baiknya di hadapan muridnya.
Pendidik juga harus memiliki kondisi fisik yang baik, sehat saat mengajar, begitupun
ilmu yang dibawakan harus dipersiapkan dengan matang.

Nilai Pendidikan:
Berdasarkan penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sebagai subjek
pendidikan kita harus:
1. Dapat menjadi model dan teladan bagi murid-murid kelak
2. Menguasai materi yang akan diajarkan.
3. Bersikap sewajarnya seorang guru tanpa ada sesuatu yang menyimpang.20

3. Q. S At-Tahrim (66): 6

َ ‫اس َو ۡٱل ِح َج‬


‫ارة ُ َعلَ ۡي َها‬ ُ َّ‫س ُك ۡم َوأ َ ۡه ِلي ُك ۡم نَارٖا َوقُود ُ َها ٱلن‬ َ ُ‫َٰيََٰٓأَيُّ َها ٱلَّذِينَ َءا َمنُواْ قُ َٰٓواْ أَنف‬
َٰٓ
َ‫ٱَّللَ َما َٰٓ أ َ َم َر ُه ۡم َو َي ۡفعَلُونَ َما يُ ۡؤ َم ُرون‬ ُ ۡ‫َم َٰلَئِ َكة ِغ ََلظٖ ِشدَادٖ َّّل يَع‬
َّ َ‫صون‬
Arti: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia
dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak

19
Ning Mukarommah, Op.cit., h. 10-11.
20
Ibid., h. 11.
10

mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada


mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Keyword: pelihara, keluarga, mengajarkan.

Ad-Dhahhak berkata, “Makna firman Allah itu adalah: Peliharalah (oleh


kalian) diri kalian. Adapun keluarga kalian, hendaklah mereka memelihara diri
mereka dari neraka”. Ali Bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas:
“Peliharalah diri kalian, dan perintahkanlah keluarga kalian berdzikir dan berdoa,
agar Allah memelihara mereka karena kalian (dari api neraka).”21

Ali, Qotadah dan Mujtahid berkata, “Peliharalah diri kalian dengan perbuatan
kalian, dan peliharalah keluarga kalian dengan wasiat kalian.” Ibnu al Arobi berkata,
“Pendapat inilah yang benar.” Pemahaman yang diperoleh dari 'athaf yang
menghendaki adanya perserikatan antara Ma'thuf dan Ma'thuf alaih pada makna fi'il
adalah seperti ucapan penyair:“Aku memberikan jerami kepada binatang itu sebagai
makanan, dan (aku memberinya) air yang dingin sebagai minuman.” Juga seperti
ucapan penyair:“Dan aku melihat suamimu medan tempur, berselendang pedang dan
menenteng tombak.”22

Dengan demikian, seseorang harus memperbaiki dirinya sendiri dengan


melakukan ketaatan, dan juga memperbaiki keluarganya layaknya seorang pemimpin
memperbaiki orang yang dipimpinnya. Dalam sebuah hadis sahih, nabi Muhammad
Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan
masing-masing kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Seorang Imam yang memimpin manusia adalah pemimpin, dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban atas mereka. Seseorang adalah pemimpin bagi keluarganya,
dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Hal inilah yang

21
Syaih Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, (Jakarta: Pustaka AZZAM, 2009), Cetakan
pertama, h. 744
22
Ibid., h. 744-745.
11

diungkapkan oleh Al Hasan tentang ayat ini dengan ucapannya, “Dia harus
memerintahkan dan melarang mereka.”23

Ketika Allah berfirman, َ ُ‫“ قُ َٰٓواْ أَنف‬peliharalah dirimu,” para ulama berkata,
‫س ُك ۡم‬
“anak termasuk ke dalam firman Allah itu, sebab anak adalah bagian darinya,
sebagaimana dia termasuk ke dalam firman Allah ta'ala , “Dan tidak (pula) bagi
dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri,” (Q.s an Nur
24: 61). Tidak disebutkan sebagaimana semua kerabat lainnya disebutkan. Dengan
demikian, seseorang harus mengajari anaknya sesuatu yang halal dan yang haram,
sekaligus menjauhkannya dari kemaksiatan dan dosa, serta hukum-hukum yang
lainnya.”24

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Kewajiban orang tua


terhadap anaknya adalah memberi nama yang bagus, mengajari anak menulis, dan
mengawinkannya jika sudah baligh.” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda: “Tidaklah seorang ayah memberikan kepada anaknya sesuatu yang lebih
baik daripada budi pekerti yang baik.” Amru bin Syu'aib meriwayatkan dari ayahnya,
dari kakeknya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: “Perintahkanlah (oleh kalian)
anak-anak kalian untuk salat pada usia 7 tahun, dan pukullah mereka karena
meninggalkannya pada usia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” Hadis
ini diriwayatkan oleh Jamaah ahlul Hadits. Redaksi hadits ini adalah milik Abu
Daud.25
Dalam ayat ini, setiap ayah wajib mendidik anaknya supaya beriman teguh,
beramal shalih, dan berakhlak mulia. Kalau mereka tidak sanggup mendidiknya
dengan didikan dan ajaran Islam, wajib menyerahkannya kepada guru. Sedang
pendidikan rumah tangga tetap terpikul pada pundak ibu ayah, meskipun anaknya
telah diserahkan kepada guru mereka.26

23
Ibid., h. 745-746.
24
Ibid., h. 746.
25
Ibid., h. 746-747.
26
Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung Jakarta, 2004), Cet.
LXXIII, h. 839.
12

Kalau ibu ayah tidak menyelenggarakan pendidikan anaknya sebagaimana


semestinya lalu anak itu berbuat dosa, maka ibu-ayahnya bertanggungjawab di
hadapan Allah atas kesalahan anaknya itu. Sebaliknya, kalau ibu-ayah telah mendidik
anaknya, sehingga ia menjadi anak yang shalih, maka ibu-ayahnya mendapat pahala
juga dari amalan anaknya, meskipun ia telah hancur dimakan tanah.27

Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Semoga


Allah merahmati seorang suami yang bangun pada tengah malam kemudian salat,
kemudian membangunkan istrinya. Jika istrinya tidak bangun, maka dia
menyemprotkan air ke wajah istrinya itu. Semoga Allah merahmati seorang istri yang
bangun pada tengah malam untuk salat, lalu membangunkan suaminya. Jika
suaminya tidak bangun, maka dia menyemprotkan air ke wajah suaminya itu.”28
Termasuk ke dalam hal itu sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,
“Bangunlah para penghuni kamar”
Hal ini termasuk ke dalam keumuman firman Allah ta'ala

‫علَى ۡٱل ِب ِر َوٱلت َّ ۡق َو َٰى‬


َ ْ‫َوتَ َع َاونُوا‬
“Dan Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
(Q.s al-maidah 5: 2).
Al-Qusyairi menuturkan bahwa Umar berkata (kepada Rasulullah) ketika ayat
(5 Surat At Tahrim) ini turun: “Wahai Rasulullah, kami dapat memelihara diri
kami. Lalu Bagaimana cara kamu memelihara keluarga kami?” beliau
menjawab, kalian harus melarang mereka dari apa yang Allah larang terhadap
kalian, dan memerintahkan mereka kepada apa yang Allah perintahkan.)”.29
Muqatil berkata,” itu (memelihara dari api neraka), merupakan kewajiban
seseorang terhadap dirinya, anaknya, keluarganya, budak laki-lakinya, dan budak
perempuannya”. Al Kiya berkata, “Oleh karena itulah kita harus mengajarkan agama,
kebaikan dan budi pekerti yang harus dimiliki kepada anak dan keluarga kita.30 Itu
adalah firman Allah ta'ala,

27
Ibid.
28
Syaih Imam Al Qurthubi, Op.cit., h. 748.
29
Ibid., h. 749
30
Ibid.
13

ُ‫علَ ۡي َها َّل ن َۡسٖ َٖلُ َك ِر ۡزقٖا نَّ ۡح ُن ن َۡر ُزقُ َك َو ۡٱل َٰ َع ِق َبة‬ َّ ‫َو ۡأ ُم ۡر أ َ ۡهلَ َك ِبٱل‬
َ ۡ‫صلَ َٰو ِة َوٱص‬
َ ‫ط ِب ۡر‬
‫ِللت َّ ۡق َو َٰى‬
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah
kamu dalam mengerjakannya,” (Q.s Thaha 20: 132).

Juga Firman Allah ta'ala yang ditujukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi

Wasallam َ‫ِيرتَ َك ۡٱۡل َ ۡق َر ِبين‬


َ ‫عش‬َ ‫َوأَنذ ِۡر‬ “Dan berilah peringatan kepada kerabat-

kerabatmu yang terdekat.” (Q.s Asy Syuara 26: 214.) Dalam hadits dinyatakan:
“Mereka untuk salat saat mereka berusia 7 tahun.”31

Firman Allah ta'ala:ُ ‫ارة‬ َ ‫اس َو ۡٱل ِح َج‬


ُ َّ‫“ َوقُودُهَا ٱلن‬Yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu”, ini sudah dijelaskan pada surat al-Baqarah. Firman Allah ta'ala
َٰٓ
‫علَ ۡي َها َم َٰ َلئِ َكة ِغ ََلظ ِشدَاد‬
َ “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar.” Maksudnya
adalah malaikat Zabaniyah yang keras hatinya, yang tidak akan merasa kasihan jika
dimintai belas kasih. Mereka diciptakan dari kemarahan. Mereka diciptakan suka
menyiksa makhluk, bagaimana anak cucu Adam diciptakan suka makan dan
minum.32

Firman Allah ‫شدَاد‬


ِ “Yang keras”, maksudnya adalah dasar dalam menghukum
penghuni neraka, dan keras terhadap mereka. Dikatakan Fulaamun syadidun
'ala Fulanin (Fulan keras kepada Si Fulan), yakni keras terhadapnya, dimana
dia menghukumnya dengan berbagai bentuk hukuman.

Menurut pendapat yang lain lagi, yang dimaksud dengan Al Ghilazaah adalah
besarnya tubuh mereka, sedangkan yang dimaksud dengan Asy Syiddah
adalah kekuatan (mereka). Ibnu Abbas berkata, “Jarak diantara kedua bahu
salah seorang dari mereka (maksudnya jarak bahu kanan ke kiri atau
sebaliknya) adalah perjalanan satu tahun. Kekuatan salah seorang dari mereka

31
Ibid. h. 794-750.
32
Ibid. h. 750.
14

adalah, jika dia memukul dengan godam (palu besar) dapat mendorong 70.000
manusia ke dalam neraka jahanam dengan pukulan itu.” 33

Ibnu Wahab menuturkan: Abdurrahman Bin Zaid juga menceritakan pada


kami, dia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang
para penjaga neraka jahanam: “Jarak diantara kedua pundak mereka
(maksudnya jarak dari pundak kanan ke pundak kiri atau sebaliknya) adalah
seperti jarak antara Timur dan Barat.”
Firman Allah ta'ala, “Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-nya kepada mereka.” Maksudnya, mereka tidak menyalahi
perintahnya, baik dengan menambah atau mengurangi. “Dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” Maksudnya, (mengerjakan) pada
waktunya, mana mereka tidak menangguhkannya dan tidak pula
mengerjakannya sebelum waktunya. Menurut satu pendapat, (maksudnya, dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan) kepada mereka dalam
melaksanakan perintah Allah, sebagaimana kebahagiaan penduduk surga
dalam hal keberadaannya adalah berada di dalam surga. Pendapat ini
dituturkan oleh sebagian penganut Muktazilah. Menurut mereka, Sahila
Canada taklif Pada esok hari. Yakini kebenaran tidak akan samar bahwa Allah
berhak untuk memberikan taklif kepada seorang Hamba pada hari ini dan juga
esok hari, dan mereka tidak akan mengingkari tentang taklif terhadap
malaikat. Sebab Allah itu berhak untuk melakukan apapun yang
dikehendakinya.34
Menurut penafsiran Quraish Shihab: dalam suasana peristiwa yang terjadi di
rumah tangga Nabi saw, seperti diuraikan oleh ayat-ayat yang lalu, ayat diatas
memberi tutunan kepada kaum beriman bahwa: “Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah diri kamu”, antara lain dengan meneladani Nabi, “dan” pelihara juga
“keluarga kamu”, yani istri, anak-anak, dan seluruh yang berada dibawah tanggung
jawab kamu, dengan membimbing dan mendidik mereka agar kamu semua terhindar
“dari api” neraka “yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia”yang kafir “dan”
juga “batu-batu” antara lain yang dijadikan berhala-berhala. “Diatasnya” yakni yang
menangani neraka itu dan bertugas menyiksa penghuni-penghuninya, adalah
“malaikat-malaikat yang kasar-kasar” hati dan perlakuannya, “yang keras-keras”
perlakuannya dalam melaksanakan tugas penyiksaan, ÿang tidak mendurhakai Allah
menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka” sehingga siksa yang mereka
jatuhkan, kendati mereka kasar, tidak kurang dan tidak juga lebih dari apa yang
diperintahkan Allah, yakni sesuai dengan dosa dan kesalahan masing-masing

33
Ibid., h. 750
34
Ibid., h. 752.
15

penghuni neraka. “dan mereka” senantiasa dan dari saat kesaat “mengerjakan dengan
mudah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka”.35
Menurut pemakalah, seseorang yang beriman hendaklah memberitahukan
kepada yang lainnya, apa yang dapat menjaga diri dari api neraka dan menjauhkan
kita dari pada-Nya, yaitu dengan mengikuti segala perintahnya dan menjauhi segala
larangannya. Dan hendaklah kita mengajarkan kepada keluarga kita perbuatan baik
yang dapat menjaga diri kita dari api neraka. Dan bawalah mereka kepada yang
demikian ini melalui nasehat dan pengajaran.

Nilai Pendidikan:
Berdasarkan penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sebagai subjek
pendidikan kita harus:
1. Terlepas dari apakah diri sendiri sudah mengenal dan menjalankan nilai-nilai
yang baik dan buruk itu, kepala keluarga harus mengajari dan mendidik
keluarganya agar mengenal dan menjalankan nilai-nilai yang baik dan buruk
tersebut. Kepatuhan anak tidak mesti sama dengan kepatuhan orang tua.
2. Pendidik harus mampu memberikan penghayatan tentang kerasnya azab
neraka, galaknya penjaganya, serta diterapkannya hukum secara konsekuen,
supaya orang terdidik merasa takut lalu terdorong berbuat baik, menjauhi
yang buruk, dan berakhlak mulia.36

35
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta:2003, Lentera Hati), Cet. 1, h. 176.
36
Salman Harun, Op.cit., h. 75.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan:

1. Subyek pendidikan atau yang biasa disebut dengan guru adalah


seorang pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijaksana, pencetak para
tokoh dan pemimpin umat

2. Ayat Al-Quran mengenai subjek pendidikan antara lain:

a. Q.S Ar-Rahman (55): 1-4

َ‫سنَ َعلَّ َمهُ ۡٱلبَيَان‬ ِ ۡ َ‫ٱلر ۡح َٰ َمنُ َعلَّ َم ۡٱلقُ ۡر َءانَ َخلَق‬
َ َٰ ‫ٱۡلن‬ َّ

Artinya: "(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran.


Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara".

b. Q.S An-Najm (53): 5-6

ۡ َ‫شدِيد ُ ۡٱلقُ َو َٰى ذُو ِم َّرة ف‬


‫ٱست ََو َٰى‬ َ ُ ‫َعلَّ َم ۥه‬

Arti: “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang
mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang
asli.

c. Q. S At-Tahrim (66): 6
َٰٓ
ُ ۡ‫ارة ُ َعلَ ۡي َها َم َٰلَئِكَة ِغ ََلظ ِشدَاد َّّل يَع‬
َ‫صون‬ ُ َّ‫َٰ َٰٓيَأَيُّ َها ٱلَّذِينَ َءا َمنُواْ قُ َٰٓواْ أَنفُ َس ُك ۡم َوأ َ ۡه ِلي ُك ۡم نَارا َوقُودُهَا ٱلن‬
َ ‫اس َو ۡٱل ِح َج‬
َ‫ٱَّللَ َما َٰٓ أ َ َم َره ُۡم َويَ ۡفعَلُونَ َما ي ُۡؤ َم ُرون‬ َّ

Arti: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat

16
17

malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur'an dan Tafsirnya, Yogyakarta: PT Dana Bakti Wakaf.

Al Qurthubi, Syaih Imam. 2009. “ Tafsir Al Qurthubi”. Jakarta: Pustaka AZZAM,


2009.

Bashri, Abu Ahsan Sirojuddin Hasan. 2017. Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta:
Pustaka Ibnu Katsir.

Harun, Salman. 2013. Tafsir Tarbawi: Nilai-Nilai Pendidikan dalam al-Qurán.


Banten: UIN Jakarta Press.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima

Mukarommah, Ning. 2017. Subjek Pendidikan Menurut Perspektif Al-Qur’an. Jurnal


Studi Pendidikan Islami, Vol. 4.

Nurkholis. 2013. “Pendidikan dalam Upaya Memajukan Teknologi”, Jurnal


Kependidikan, Vol. 1 No. 1.

Shihab, M. Quraish. 2003. Tafsir Al-Misbah. Jakarta:Lentera Hati.

Sonhadji. Al-Qur'an dan Tafsirnya. Yogyakarta: PT Dana Bakti Wakaf.

Yunus, Mahmud. Tafsir Quran Karim. Jakarta: PT. Hidakarya Agung Jakarta, 2004. Cet.
LXXIII

18

Anda mungkin juga menyukai