Anda di halaman 1dari 12

KONSEP EKOLOGIS DAN BUDAYA PADA PERANCANGAN

HUNIAN PASKA BENCANA DI YOGYAKARTA

Lucky Prasetyo, Rumiati R. Tobing, Hartanto Budiyuwono


Magister Arsitektur, Program Pascasarjana, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung
Jl. Merdeka, No. 30, Bandung - Indonesia
Email: prasetyolucky88@gmail.com

Abstrak
Hunian bantuan pasca bencana biasanya didesain dengan desain yang hanya mempertimbangkan
kecepatan konstruksi dan efisiensi biaya pembangunan dengan kurang mempertimbangkan kekhasan
budaya lokal serta kondisi lingkungan suatu kawasan. Bila hal ini terjadi secara terus menerus, maka
arsitektur lokal yang merupakan wadah dari budaya lokal dan bentuk respon masyarakat terhadap
kondisi lingkungan sekitar secara perlahan akan terancam hilang bersamaan dengan adanya bencana,
yang kemudian akan tergantikan dengan bentuk-bentuk hunian yang hampir seragam disemua tempat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsep ekologis dan budaya pada perancangan hunian
paska bencana di desa Ngibikan yang berhasil menjawab kebutuhan penghuninya dan menyatu dengan
kehidupan masyarakatnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif untuk menggali
konsep ekologi dan budaya pada perancangan di desa Ngibikan.Berdasar hasil penelitian didapatkan
bahwa penerapan konsep ekologis dan budaya pada perencanaan desain hunian paska bencana di desa
Ngibikan turut mempengaruhi keberhasilan desain dalam menjawab kebutuhan penghuni dan
merespon kondisi alamnya. Diharapkan proses rekonstruksi pemukiman paska bencana di desa
Ngibikan ini dapat menjadi contoh bagi proses rekonstruksi dimasa mendatang agar proses
rekonstruksi tidak hanya berupa upaya memenuhi kebutuhan hunian bagi korban bencana namun juga
suatu upaya melestarikan arsitektur lokal yang merupakan wadah dari budaya lokal dan bentuk respon
masyarakat terhadap kondisi lingkungan di suatu kawasan.

Kata kunci: hunian, paska bencana, rekonstruksi, ekologis, budaya lokal

Abstract

Title: Ecologicals and Culture Concepts in Post-Disasters Housing Design

Post-disaster housing is usually designed with a design that considers only the rapidity of development
and cost efficiency without thinking of local cultural and environmental conditions of an area. If this
happens continuously, then the local architecture which is a container of local culture and the form of
community response to the surrounding environment will slowly be threatened to disappear along with
the disaster, which will then be replaced by almost uniform shelter in all places. This study aims to
identify ecological and cultural concepts on post-disaster residential design in Ngibikan village that
successfully responds to the needs of its inhabitants and blends with the lives of its people. The method
used is descriptive qualitative method to explore the concept of ecology and culture on the design in
Ngibikan village. Based on the results of the research, it is found that the application of ecological and
cultural concepts in the design of post-disaster residential design in Ngibikan village also influenced
the success of the design in responding to the needs of the residents and responding to the natural
conditions. It is expected that the post-disaster reconstruction process in Ngibikan village can serve as
an example for the reconstruction process in the future so that the reconstruction process will not only
be an effort to fulfill residential needs for disaster victims but also an effort to preserve local

125
Jurnal Teknik Arsitektur ARTEKS, Volume. 2, Nomor 2, Juni 2018
ISSN 2541-0598

architecture which is a container of local culture and form of community response to the condition
environment in an area.

Keywords: housing, post-disaster, reconstruction, ecological, local cultural

Pendahuluan setempat dan respon penghuni terhadap


iklim dan sumber daya lokal (ekologi)
Sebagian besar kawasan Indonesia yang ada pada lingkungan sekitarnya
merupakan kawasan rawan bencana, yang sudah terbukti bertahun-tahun
dimana dalam setiap bencana alam secara turun temurun (Schultz,1980).
banyak menimbulkan banyak korban Oleh karena itu, membangun hunian
jiwa dan kerugian material & non paska bencana yang memiliki
material(https://www.bnpb.go.id/home/p pendekatan desain pada budaya lokal
otensi diakses pada November 2017). dan ekologi merupakan suatu upaya
Dalam setiap bencana alam, terdapat melestarikan arsitektur lokal yang ada di
pemberian bantuan hunian yang Indonesia dari ancaman bencana dan
diberikan pemerintah, donatur swasta pemberian bantuan yang kurang
ataupun LSM kepada masyarakat korban memperhatikan unsur budaya
bencana yang kehilangan hunian. masayarakat calon penghuninya, selain
Hunian bantuan paska bencana yang memenuhi kebutuhan korban bencana
dibangun dengan sistem tender (top- alam akan hunian yang layak.
down) biasanya didesain hanya Salah satu contoh kasus proses
mempertimbangkan kecepatan rekonstruksi hunian paska bencana yang
konstruksi dan efisiensi biaya menggunakan pendekatan budaya dan
pembangunan serta kurang ekologi adalah proses rekonstruksi di
mempertimbangkan kekhasan budaya desa Ngibikan, Kabupaten Bantul,
lokal penghuni, kondisi lingkungan di Yogyakarta yang diinisiasi oleh arsitek
suatu kawasan, serta bentuk arsitektur Eko Prawoto pada 2006. Proses
lokal pada suatu daerah untuk rekonstruksi di desa Ngibikan yang
menunjang keberhasilan proses terdiri dari 65 rumah ini di desain untuk
rehabilitasi masyarakat korban bencana menggunakan bentuk arsitektur lokal
(https://berkota.wordpress.com/2012/07/ dan memanfaatkan potensi yang ada
18/komunikasi-arsitektural-pasca- seperti penggunaan material ulang dan
bencana/ diakses pada November 2017). daur ulang serta penggunaan proses
Bila hal ini terjadi secara terus menerus, partisipatif masyarakat untuk menjawab
maka arsitektur lokal secara perlahan kebutuhan masyarakat serta agar desain
akan terancam hilang bersamaan dengan dapat menyatu dengan kehidupan
adanya bencana, yang kemudian akan masyarakatnya (Shim ,2010). Proses
tergantikan dengan bentuk-bentuk rekonstruksi pemukiman ini dinilai
hunian paska bencana yang sama dan berhasil karena selain dapat menjawab
hampir seragam disemua tempat dan kebutuhan penghuninya juga, responsif
tidak mencerminkan budaya, iklim dan terhadap lingkungan sekitarnya serta
arsitektur lokal yang merupakan wadah dapat mempertahankan nilai-nilai
bagi budaya/kebiasaan masyarakat budaya masyarakatnya. Keberhasilan

126
Lucky Prasetyo, Rumiati R. Tobing, Hartanto Budiyuwono,
Konsep Ekologis dan Budaya Pada Perancangan Hunian Paska Bencana Di Yogyakarta

proses rekonstruksi ini dapat dilihat dari 2. Substitusi, minimalisasi dan optimasi
kondisi setelah pemukiman ini dihuni sumber energi yang tidak dapat
selama 10 tahun dengan transformasi diperbaharui
bentuk yang minimal dan selaras dengan 3. Penggunaan bahan bangunan yang
bangunan aslinya. dapat dibudidayakan dan menghemat
Tujuan dari dibuatnya jurnal ini adalah energi
untuk mempelajari sejauh mana konsep 4. Pembentukan siklus yang utuh antara
ekologis dan budaya yang diterapkan penyediaan dan pembuangan bahan
dalam perancangan hunian paska bangunan, energi, atau limbah
bencana di desa Ngibikan Yogyakarta. dihindari sejauh mungkin
Dengan mengetahui penerapan konsep 5. Penggunaan teknologi tepat guna
ekologis dan budaya pada perancangan yang manusiawi
hunian paska bencana, diharapkan jurnal Pendekatan ekologi dalam arsitektur
ini dapat digunakan sebagai bahan yang lain yaitu menurut Frick (1998)
pertimbangan dalam perancangan hunian adalah bahwa eko-arsitektur mencakup
paska bencana dikemudian hari yang keselarasan antara manusia dan alam.
tidak hanya mengedepankan kecepatan Eko-arsitektur mengandung juga
pembangunan dan efisiensi biaya saja, dimensi waktu, alam, sosio kultural,
namun lebih dapat mewadahi ruang dan teknik bangunan. Eko-
budaya/kebiasaan penghuninya, arsitektur bersifat kompleks, oleh sebab
memelihara keberlangsungan arsitektur itu eko-arsitektur bersifat holistik dan
lokal serta responsif terhadap lingkungan berkaitan dengan semua bidang.
dimana bangunan tersebut berdiri. Pada cakupan yang lebih luas, Cowan
dan Ryn (1996) mengemukakan prinsip-
Konsep Ekologi dalam Desain prinsip desain yang ekologis sebagai
Arsitektur berikut:
Konsep Ekologi merupakan konsep 1. Solution Grows from Place: solusi
penataan lingkungan dengan atas seluruh permasalahan desain harus
memanfaatkan sumberdaya alam yang berasal dari lingkungan di mana
ada dan penggunaan teknologi secara arsitektur itu akan dibangun. Prinsipnya
etis untuk mendapatkan desain adalah memanfaatkan potensi dan
Arsitektur yang ramah Lingkungan. Pola sumber daya lingkungan untuk
perencanaan Arsitektur Ekologis/Eko- mengatasi setiap persoalan desain.
Arsitektur pada daerah tropis adalah Pemahaman atas masyarakat lokal,
sebagai berikut: terutama aspek sosial-budayanya juga
Elemen-elemen arsitektur mampu memberikan andil dalam pengambilan
seoptimal mungkin memberikan keputusan desain. Prinsip ini
perlindungan terhadap sinar panas, angin menekankan pentingnya pemahaman
dan hujan. terhadap alam dan masyarakat lokal.
Intensitas energi yang terkandung dalam Dengan memahami hal tersebut maka
material yang digunakan saat kita dapat mendesain lingkungan binaan
pembangunan harus seminimal tanpa menimbulkan kerusakan alam
mungkin, dengan cara-cara: maupun ‘kerusakan’ manusia.
1. Perhatian pada iklim setempat

127
Jurnal Teknik Arsitektur ARTEKS, Volume. 2, Nomor 2, Juni 2018
ISSN 2541-0598

2. Ecological Acounting Informs Design: Processes, Understanding


perhitungan-perhitungan ekologis Environmental Impact, serta Embracing
merupakan upaya untuk memperkecil Co-creative Design Processes.
dampak negatif terhadap lingkungan. Dalam penerapannya di Indonesia, teori-
Keputusan desain yang diambil harus teori desain ekologis di atas harus
sekecil mungkin memberikan dampak dipahami dalam kenyataan bahwa
negatif terhadap lingkungan. arsitektur nusantara merupakan
3. Design with Nature: arsitektur arsitektur yang hidup menyatu dengan
merupakan bagian dari alam. Untuk itu lingkungan alam dan lingkungan
setiap desain arsitektur harus mampu sosialnya, bukan arsitektur yang bersifat
menjaga kelangsungan hidup setiap individual.
unsur ekosistem yang ada di dalamnya
sehingga tidak merusak lingkungan. Konsep Budaya pada Hunian
Prinsip ini menekankan pada pemhaman Tradisional
mengenai living process di lingkungan Menurut Rapoport (1969) dalam buku
yang hendak diubah atau dibangun. House Form and Culture yang
4. Everyone is a Designer: melibatkan menjelaskan tentang alternatif bentuk,
setiap pihak yang terlibat dalam proses menjelaskan bahwa ada beberapa hal
desain. Tidak ada yang bertindak sebagai yang berpengaruh dalam suatu bentuk
user atau participant saja atau designer/ arsitektur,khususnya hunian tradisional.
arsitek saja. Setiap orang adalah Ia menjelaskan bahwa ada beberapa
participant-designer. Setiap faktor yang mempengaruhi terciptanya
pengetahuan yang dimiliki oleh siapapun suatu bentuk yang terbagi menjadi 2
dan sekecil apapun harus dihargai. Jika faktor besar antara faktor primer dan
semua orang bekerjasama untuk faktor sekunder.
memperbaiki lingkungannya, maka
sebenarnya mereka memperbaiki diri
mereka sendiri.
5. Make Nature Visible: proses-proses
alamiah merupakan proses yang siklis.
Arsitektur sebaiknya juga mampu untuk
melakukan proses tersebut sehingga
limbah yang dihasilkan dapat ditekan
seminimal mungkin.
Sejalan dengan Cowan dan Ryn, Hui
(2001) melengkapi prinsip tersebut di
atas dengan mengemukakan prinsip
understanding people yang intinya pada Gambar 1. Faktor yang mempengaruhi
bentuk arsitektur
upaya memahami konteks budaya, Digambar ulang menurut Rapoport, 1969
agama, ras, perilaku, dan kebiasaan
(adat) masyarakat yang akan diwadahi Yang termasuk dalam faktor primer
oleh arsitektur. Prinsip lain yang adalah faktor sosial budaya. Faktor
dikemukakan Hui antara lain adalah sosial budaya meliputi agama,
:Understanding Place, Connecting with kepercayaan, cara hidup, pandangan
Nature, Understanding Natural

128
Lucky Prasetyo, Rumiati R. Tobing, Hartanto Budiyuwono,
Konsep Ekologis dan Budaya Pada Perancangan Hunian Paska Bencana Di Yogyakarta

hidup, struktur masyarakat dan keluarga, ataupun topografi. Rumah Bolon di


organisasi masyarakat, serta hubungan batak Toba berbeda bentuk dengan
kekerabatan antar individu dalam Rumah Batak Karo. Dan bila dilihat
masyarakat. Pandangan hidup setiap pada cakupan area yang lebih luas maka
orang akan berbeda tergantung dengan akan ditemukan lebih banyak beragam
hubungan antar individunya. Oleh bentuk hunian walaupun berada pada
karena itu, dapat dikatakan faktor sosial kawasan tropis yang sama. Hal ini
budaya merupakan salah satu hal yang membuktikan bahwa faktor sosial
khas yang membedakan antara budaya merupakan faktor utama yang
kebudayaan satu dengan kebudayaan mempengaruhi bentuk arsitektur hunian
lain. Budaya menentukan cara hidup, masyarakat tradisional.
kebiasaan dan tingkah laku tiap individu
dan cara hidup setiap kelompok Konsep Bentuk Hunian Tradisional
masyarakat menentukan bentukan Nusantara
arsitektur maupun pola penataan ruang Menurut Prijotomo (2010), esensi dari
arsitektur dalam suatu daerah atau arsitektur nusantara adalah arsitektur
kelompok masyarakat. Faktor sosial pernaungan bukan arsitektur
budaya merupakan salah satu hal yang perlindungan yang tertutup dan
paling penting dalam proses lahirnya terlindungi dengan dinding masif atau
bentuk arsitektur. Hal ini dipertegas oleh berbentuk panggung. Bentuk hunian
Rapoport (1969) dalam pernyataannya panggung merupakan salah satu variasi
sebagai berikut:“My basic hypothesis, yang diterapkan pada satu jenis hunian
then, is that house form is not simply the tradisional, namun pada intinya
result of physicalforces or any single arsitektur Nusantara adalah arsitektur
causal factor, but is the consequence of pernauangan, yang melindungi
a whole range of sosio-cultural factors penghuninya dari kondisi iklim panas
seen in their broadest terms. Form is in dan hujan yang ekstrim. Sehingga dapat
turn modified by climaticconditions (the dikatakan bahwa arsitektur nusantara
physical environment which makes some adalah arsitektur atap, dimana atap
things impossible and encourages bukan hanya sekedar mahkota atau
others) and by methods of construction, kepala namun juga elemen terpenting
material available, and the technology dalam arsitektur nusantara.
(the tools for achieving the desired Beberapa alasan yang menguatkan
environmenO. I will call the sosio- bahwa elemen atap merupakan elemen
cultural forces primaiy, and the others pernaungan yang paling penting pada
secondary or modifying“. Senada arsitektur nusantara antara lain adalah :
dengan Rapoport, Knapp dan Lo (2005) 1. Faktor kelembaban udara dan angin
menyatakan sebagai berikut: “Houses yang harus diatasi dengan desain
are more than just physical structures bangunan yang terbuka / berpori-pori
and in all societies relate closely to sehingga angin dapat leluasa masuk
social groups and cultural identities “. ke dalam bangunan untuk
Hal ini dapat dilihat dari ditemukannya mengurangi kelembaban udara di
berbagai macam bentuk arsitektur dalam bangunan
tradisional walaupun dalam kawasan 2. Faktor musim panas dan penghujan
yang memiliki kemiripan kondisi iklim dimana bentuk atap dengan ruang

129
Jurnal Teknik Arsitektur ARTEKS, Volume. 2, Nomor 2, Juni 2018
ISSN 2541-0598

dibawah atap yang besar untuk kenyamanan hunian serta kemudahan


menghindari radiasi panas turun ke dalam perbaikan dan pengembangan
ruang dalam serta teritis yang lebar bangunan, terhadap desain hunian yang
sangat baik untuk menghindari mereka tinggali. Disamping itu
tampias air hujan. diperlukan beberapa data sekunder yang
3. Arsitektur dengan konstruksi yang berupa literatur untuk menggali
tahan gempa mengingat indonesia informasi dan data selama proses
merupakan kawasan rawan gempa. rekonstruksi di desa Ngibikan ini
berlangsung.

Hasil dan Pembahasan


Konsep Ekologis pada desain Hunian
paska bencana di desa Ngibikan
Konsep ekologis yang dapat ditemukan
dalam desain hunian paska bencana di
desa Ngibikan, sesuai dengan yang
Gambar 2. Faktor yang mempengaruhi
bentuk arsitektur nusantara dikemukakan oleh Cowan dan Ryn
(1996) antara lain:

Metode Penelitian 1. Solutions Grows from Place


Untuk mendapatkan desain yang sesuai
Pembahasan studi kasus dilakukan dengan kebutuhan penghuninya, arsitek
dengan metoda kualitatif dengan berusaha menggali kebiasaan hidup
pendekatan deskriptif Penelitian masyarakat dengan proses diskusi dan
kualitatif ini dipilih karena dapat mempelajari aristektur lokal setempat
mengamati obyek studi lebih mendalam. yang diyakini merupakan wadah yang
Penelitian deskriptif digunakan untuk paling cocok bagi kehidupan masyarakat
mendapatkan gambaran mengenai setempat.
kondisi pemukiman di desa Ngibikan
dalam mewadahi kebutuhan dan budaya
masyarakatnya.
Dalam penelitian dibutuhkan data yang
menunjang hasil penelitian yang didapat
dari hasil observasi langsung dilapangan Gambar 3. Pemanfaatan potensi lokal seperti
untuk mendapatkan data berupa foto dan penggunaan arsitektur lokal, material lokal
gambar lapangan. Selain itu untuk serta gotong royong dalam pembangunan
mendapatkan informasi yang lebih Sumber: www.slideshare.net pada November
2016
mendalam terkait penelitian, dilakukan
wawancara terhadap beberapa penghuni
Pola tatanan masa yang sudah terbentuk
di desa Ngibikan untuk mengetahui
secara alami dipertahankan agar sesuai
pengalaman penghuni dan tingkat
dengan pergerakan masyarakat.
kepuasan penghuni, terkait pemenuhan
Penggunaan material lokal dan daur
kebutuhan, kemudahan proses adaptasi,

130
Lucky Prasetyo, Rumiati R. Tobing, Hartanto Budiyuwono,
Konsep Ekologis dan Budaya Pada Perancangan Hunian Paska Bencana Di Yogyakarta

ulang serta pembangunan dengan sistem pepohonan yang ada di kawasan.


gotong royong merupakan beberapa Selain itu, hunian di desa Ngibikan
upaya untuk memaksimalkan potensi didesain dengan bentuk bangunan
lokal yang ada. lokal setempat yang sangat responsif
terhadap kondisi iklim setempat tanpa
2. Ecological Acounting Informs Design harus mengandalkan pencahayaan
Desain hunian paska bencana di desa dan sistem pengudaraan buatan untuk
Ngibikan tidak menggunakan mendapatkan kenyamanan di dalam
perhitungan-perhitungan kuantitatif ruang. Selain itu, hunian hasil
tentang penggunaan energi dan ekologi, rekonstruksi di desa Ngibikan ini
namun dalam beberapa keputusan desain didesain menggunakan material lokal
tetap memperhitungkan tentang dampak yang ada disekitar dengan tujuan untuk
lingkungan dan penghematan energi memudahkan masyarakat dalam
secara tidak langsung. Pembangunan melakukan perbaikan atau penggantian
menggunakan material daur ulang material di kemudian hari. Penggunaan
merupakan salah satu upaya untuk material lokal juga mendorong
mengurangi sampah dari reruntuhan masyarakat untuk menjaga kelestarian
bangunan lama. Dengan berkurangnya sumber material seperti pohon-pohon
sampah dari reuntuhan akibat gempa, lokal penghasil kayu ataupun bambu.
maka efek negatif menumpuknya
sampah bagi lingkungan dapat
dikurangi. Selain itu, bangunan di desa
Ngibikan ini didesain dengan
memanfaatkan cahaya dan udara alami
semaksimal mungkin sehingga
penggunaan listrik dan bahan bakar fosil
untuk listrik dapat dikurangi.

Gambar 5. Ruang-ruang luar, pepohonan dan


kondisi lingkungan yang dipertahankan
Sumber: www.akdn.org pada November 2016

4. Everyone is a Designer
Gambar 4. Pemanfaatan material daur ulang Proses rekonstruksi pemukiman di desa
yang membuat tiap rumah memiliki tampilan Ngibikan ini dilakukan dengan
berbeda melibatkan masyarakat penghuninya
Sumber: www.slideshare.net pada November secara aktif dari proses perencanaan
2016
sampai proses pembangunan.
Proses pembangunan partisipatif ini
3. Design with Nature
bertujuan untuk mengetahui kebutuhan
Hunian di desa Ngibikan ini dibangun penghuni sehingga desain yang
di atas reruntuhan rumah lama. Selain dihasilkan dapat tepat guna bagi
untuk mempermudah kepemilikan penghuninya.
lahan, juga bertujuan untuk Arsitek pada proses rekonstruksi ini
mempertahankan ruang hijau dan tidak diposisikan sebagai seorang

131
Jurnal Teknik Arsitektur ARTEKS, Volume. 2, Nomor 2, Juni 2018
ISSN 2541-0598

penentu kebijakan proyek, namun lebih seperti bambu dan kayu merupakan
pada fasilitator pendamping bagi material yang mudah terurai bila
masyarakat. Dengan metode ini, menjadi limbah. Banyaknya ketersediaan
didapatkan hasil rekonstruksi yang material lokal yang ada disekitar juga
sesuai dengan kebutuhan masyarakat. bertujuan agar masyarakat mudah dalam
Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan melakukan penggantian / pengembangan
bangunan setelah 10 tahun dihuni, bangunan, serta mau menjaga
dimana perkembangan bangunan lingkungan demi menjaga ketersediaan
berjalan selaras dengan desain hunian material bangunan tetap tersedia di
inti. lingkungan sekitar.

Bentuk Arsitektural dan Aspek


Budaya pada Proses Pembangunan
Hunian di Desa Ngibikan
Desain Hunian bantuan paska bencana
yang diajukan dan kemudian disepakati
oleh masyarakat desa Ngibikan adalah
desain hunian dengan atap tipe
Kampung atau yang biasa disebut
‘Srotongan’ oleh masyarakat setempat.
Bentuk ini merupakan bentuk asli hunian
di kawasan tersebut.

Gambar 6. Proses diskusi arsitek dengan


warga, proses gotong royong, serta variasi
denah tiap hunian
Sumber: www.akdn.org pada November 2016

Gambar 7. Atap hunian tradisional tipe


5. Make Nature Visible kampung
Cara arsitek dan masyarakat untuk Sumber: www.akdn.org pada November 2016
merespon kondisi iklim dan geografis
desa Ngibikan adalah dengan Desain bangunan baru hasil rekonstruksi
mengunakan bentuk arsitektur lokal sengaja mengambil bentuk lokal
setempat. Bentuk arsitektur lokal setempat dengan alasan agar masyarakat
dipercaya merupakan cara masyarakat tidak perlu terlalu lama beradaptasi
merespon iklim setempat yang telah dengan bangunan baru tersebut. Selain
dilakukan secara turun temurun. itu, bangunan dengan arsitektur lokal
Selain itu, penggunaan material lokal oleh arsitek pendamping, Ir. Eko
sebagai material utama bangunan Prawoto, merupakan wadah bagi budaya
merupakan keputusan desain untuk dan kebiasaan masyarakat secara turun-
menunjang keberlanjutan. Material lokal

132
Lucky Prasetyo, Rumiati R. Tobing, Hartanto Budiyuwono,
Konsep Ekologis dan Budaya Pada Perancangan Hunian Paska Bencana Di Yogyakarta

temurun dalam menghadapi kondisi sewaktu sebelum terjadi gempa, selain


iklim dan lingkungan setempat. untuk mempermudah pembagian hak
kepemilikan juga bertujuan untuk
mempertahankan ruang-ruang sosial
antar bangunan yang sudah terbentuk
secara alami secara turun temurun.
Rumah didesain menggunakan rangka
kayu kelapa yang banyak ditemui pada
daerah ini dan sisa-sisa kayu bekas
rumah lama yang masih dapat
digunakan.

Gambar 9. Pola tata massa asli desa yang


dipertahankan dalam proses rekonstruksi
Gambar 8. Struktur rangka modular dengan Sumber: www.slideshare.net pada November
material lokal dan daur ulang 2016
Sumber: www.akdn.org pada November 2016
Pengerjaan pembangunan dilakukan
Bangunan didesain dengan sistem dengan cara bergotong-royong dengan
modul. Sistem modul digunakan untuk metode ketukangan lokal yang
mempermudah proses pembangunan dan dipadukan dengan teknik modern. Hal
juga untuk memperoleh fleksibilitas ini dapat dilihat dari bentuk struktur
pengaturan ruang di dalamnya. yang tradisional seperti rumah kampung
Bangunan dibuat menggunakan modul pada umumnya, namun bila dilihat lebih
1.2 meter dan kelipatannya. Dengan detail sambungan antar struktur
adanya modul ini, konfigurasi ruang menggunakan mur dan baut yang
dalam bangunan dapat diatur secara membuat proses pembangunan menjadi
lebih fleksibel dan dapat disesuaikan lebih cepat.
dengan kebutuhan warga yang berbeda-
beda.
Bangunan baru hasil rekonstruksi
dibangun di atas posisi rumah lama

133
Jurnal Teknik Arsitektur ARTEKS, Volume. 2, Nomor 2, Juni 2018
ISSN 2541-0598

Tabel 1. Pengaruh budaya/arsitektur lokal pada elemen arsitektural dari desain hunian di
Ngibikan

Kesimpulan baik, juga bangunan tidak menimbulkan


efek negatif bagi lingkungan sekitarnya.
Dari pembahasan tentang aspek budaya (3) Dari sisi budaya, bentuk hunian yang
dan ekologis dalam perancangan hunian didesain sesuai dengan bentuk dan
paska bencana di desa Ngibikan, prinsip-prinsip arsitektur lokal setempat,
Yogyakarta, didapat beberapa temuan serta dilibatkannya masyarakat secara
(1) Desain hunian rekonstruksi di desa aktif dari tahap perencanaan sampai
Ngibikan merupakan salah satu contoh pembangunan turut membantu
proses rekonstruksi yang berhasil karena menghasilkan desain yang dapat sesuai
dapat menjawab kebutuhan dan menjawab kebutuhan dan
penghuninya, mewadahi kebiasaan kebiasaan/budaya penghuninya.
warga, serta responsif terhadap Melalui telaah kasus studi dapat
lingkungannya. (2) Dari sisi disimpulkan bahwa aspek budaya dan
lingkungan/ekologis, penggunaan ekologis merupakan dua hal yang saling
material lokal serta pemberdayaan berkaitan dimana keduanya terdapat
sumber daya yang ada di lingkungan dalam prinsip perancangan arsitektur
sekitar pemukiman membuat desain tradisional yang merupakan wadah bagi
hunian ini dapat melekat dengan kondisi budaya/ kebiasaan masyarakat lokal dan
lingkungan dan alamnya. Selain juga sebagai suatu bentuk respon
bangunan dapat dengan nyaman dihuni masyarakat terhadap kondisi dan potensi
karena merespon iklim lokal dengan alam yang ada disekitarnya. Oleh karena

134
Lucky Prasetyo, Rumiati R. Tobing, Hartanto Budiyuwono,
Konsep Ekologis dan Budaya Pada Perancangan Hunian Paska Bencana Di Yogyakarta

itu dapat dikatakan bahwa aspek budaya membantu dalam usaha menjaga
dan ekologis merupakan aspek penting kelestarian arsitektur dan budaya lokal
dalam perancangan hunian paska dari ancaman bencana dan pemberian
bencana agar dapat menjawab seluruh bantuan hunian yang kurang sesuai
kebutuhan dan kebiasaan penghuninya, dengan budaya lokal masyarakatnya.
menyatu dengan lingkungannya serta

Daftar Pustaka
Cowan, Stuart and van de Ryn, Sims.
1996. Ecological Design. USA:
Island Press.
Frick, H., dan Suskiyanto, F.X.
Bambang. 1998. Dasar-dasar Eko-
Arsitektur. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Hui, Sam C. M. 1996 (updated 2002).
Sustainable Architecture.
http://www.arch.hku.hk/research/be
er/sustain.htm. Diakses pada
November 2016.
Knapp, Ronald G & Kai Yin Lo., (2005)
,House Home Family: Living and
Being Chinese, University of
Hawaii Press, Honolulu.
Prijotomo, Josef, 2010. Arsitektur
Nusantara Arsitektur Naungan
bukan Lindungan Sebuah
Reorientasi Pengetahuan Arsitektur
Tradisional. ITS Digital Library.
Rapoport, Amos.,1969 House Form and
Culture,Englewood Cliffs NJ,
University of Wiscosin, Milwaukee.
Schultz, C. N, (1980). Genius Loci:
Towards A Phenomenology of
Architecture. Rizzoli, New York.
Shim, Brigitte,(2010), On Site review
Report, Reconstruction of Ngibikan
Village,Yogyakarta, Indonesia.
(online) dalam
(https://archnet.org/sites/6453/publi
cations/ diakses November 2017).

135
Jurnal Teknik Arsitektur ARTEKS, Volume. 2, Nomor 2, Juni 2018
ISSN 2541-0598

136