Anda di halaman 1dari 116

LAPORAN KOASISTENSI

DEPARTEMEN PARASITOLOGI VETERINER


PPDH GELOMBANG XXXI

Oleh
BAHANA GATRA 061813143011

DEPARTEMEN PARASITOLOGI VETERINER


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Organisme yang hidup dalam tubuh organisme lain yang lebih besar (induk semang,

inang atau hospes) untuk mendapatkan makanan disebut dengan parasit. Indonesia

merupakan daerah tropis sebagai tempat yang sangat menguntungkan bagi perkembangan

parasit sehingga kasus infeksi parasit pada hewan atau satwa di Indonesia cukup tinggi.

Parasit yang hidup pada hewan dapat dibagi menjadi dua golongan, ektoparasit dan

endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya pada permukaan tubuh bagian luar atau

bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan dunia luar dari hospes seperti kulit, rongga

telinga, bulu, ekor dan mata (golongan arthropoda). Sedangkan Endoparasit adalah parasit

yang hidupnya di dalam jaringan atau organisme bagian dalam hospes seperti berbagai jenis

protozoa dan cacing.

Protozoa adalah suatu organisme seluler yang mempunyai sifat eukariotik, tidak

mempunyai bagian dinding sel, heterotrof dan juga bisa melakukan pergerakan (motil).

Protozoa dapat bergerak dengan memanfaatkan alat geraknya yaitu pseudopodia (kaki semu),

silia (rambut getar), dan flagela (bulu cambuk). Protozoa mempunyai peranan penting bagi

peternakan karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar karena penyakit

protozoa dapat menular. Dalam hal ini penyakit protozoa yang ditemukan adalah penyakit

protozoa darah unggas yang disebabkan oleh Haemoproteus dan Plasmodium, pada saluran

cerna adalah Trichomonas dan golongan cilliata. Pada protozoa darah mamalia yang

ditemukan disebabkan oleh anaplasma serta dalam saluran pencernaan yang disebabkan oleh

Eimeria, Balantidium, dan Blastocystis.

Helmintiasis pada umumnya tidak menyebabkan kematian, tetapi pada hewan muda

mengakibatkan pertumbuhan terhambat, sedangkan pada hewan dewasa mengakibatkan

anemia, nafsu makan dan kemampuan kerja menurun, penurunan berat badan dan
produktivitas hewan. Infeksi cacing dengan intensitas ringan sampai sedang tidak selalu

menampakkan gejala klinis yang nyata, sedangkan infeksi yang berat dapat menyebabkan

gangguan pencernaan seperti kerusakan organ dalam. Dalam hal ini helmint yang ditemukan

dan yang akan dibahas dalam laporan ini terdiri dari beberapa kelas yaitu Nematoda, Cestoda,

dan Trematoda.

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui dan mengaplikasikan cara pengoleksian parasit, pembuatan preparat,

hingga identifikasi parasit.

2. Dapat mengidentifikasi parasit penyebab penyakit pada hewan dengan mengetahui jenis

dan morfologi, siklus hidup, dan kepentingan dari parasit yang didapatkan.

1.3 Manfaat

1. Mahasiswa mampu dan terampil dalam pemeriksaan sampel dari kasus helminthiasis,

protozoa dan arthropoda di lingkungan dan mengidentifikasi parasit yang ditemukan.

2. Menambah pengetahuan dan wawasan terhadap mahasiswa dalam mendiagnosis kasus

yang ada dilapangan.


BAB II MATERI DAN METODE

2.1 Waktu dan Tempat Pemeriksaan


Pemeriksaan sampel dilakukan pada tanggal 6-24 Mei 2019 di Laboratorium Parasit,
Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

2.2 Metode untuk Pemeriksaan Arthropoda


2.2.1 Alat dan Bahan

Alat Bahan

 Kantong plastic  Formalin 10%


 Insect net  KOH 10% 10%
 Pinset  Kloroform
 Kertas label  Alkohol 30%
 Tabung reaksi dan
 Alkohol 50%
penangas air
 Mikroskop cahaya  Alkohol 70%
 Kaca Pembesar  Alkohol 95%
 Forceps  Alkohol 96%
 Cawan Petri  Xylol
 Pin serangga  Canada balsam
 Styroform  Aquadest
 Gelas objek  Acid fuchsin
 Cover glass
2.2.2 Koleksi Sampel Arthropoda
a. Koleksi lalat dan nyamuk
Lalat dikoleksi dengan menggunakan jaring insekta kemudian dimasukkan
kedalam pot spesimen yang berisi formalin. Nyamuk dikolesi dengan mengunakan jaring
insekta atau insektisida, nyamuk dapat dimasukkan kedalam pot berisi kapas alkohol
70% hingga nyamuk tidak dapat bergerak atau mati. Larva lalat dikoleksi menggunakan
pinset secara langsung dan disimpan dalam pot spesimen atau kantong plastik.
b. Koleksi pinjal (SIPHONAPTERA)
Pinjal kucing (Ctenocephalides felis) dewasa dikumpulkan langsung dari inangnya
atau dari lingkungan bangunan tempat pemeliharaan anjing dan kucing. Anjing dan
kucing atau hewan lain dibiarkan lepas dalam bangunan sebagai umpan yang akan
menarik dan diserang pinjal. Pinjal dikumpulkan dari hewan tersebut. Penggambilan
sampel pinjal juga dapat secara langsung diambil pada hewan dengan menggunakan
pinset dan dimasukkan dalam pot spesimen berisi KOH 10% .
c. Koleksi kutu dan caplak
Pengumpulan kutu penghisap tergantung pada keberhasilan pemeriksaan bulu
untuk memperoleh telur, nimpa, dan kutu dewasa. Kutu yang lepas dan siap bertelur
sering ditemukan di daerah yang mudah kontak dengan hewan lain sehingga
memudahkan penularan. Bentuk nimpa dan dewasa sering ditemukan secara aktif sedang
makan dibawah bulu pada permukaan kulit (Bram, 1978). Koleksi kutu dan caplak dapat
dilakukan langsung pada hewan yang memiliki kutu, penggambilan dapat dilakukan
menggunakan bantuan pinset. Kutu disimpan dalam pot spesimen berisi KOH 10%.
d. Koleksi tungau
Koleksi tungau dilakukan dengan cara pengambilan sampel yang diduga menjadi
predileksi dari tungau dan disimpan dalam pot spesimen berisi KOH 10%. Tungau
seperti Sacrcoptes sp. dapat dilakukan scrapping pada kulit hewan penderita sampai
terlihat rembesan darah.
2.2.3. Cara kerja pengawetan serangga
1. Pengawetan Kering
a. Mengembangkan Sayap (Spreading)
Serangga bersayap sebelum di-pin dikembangkan lebih dahulu, kaki-kakinya
dibentangkan, untuk memudahkan mempelajarinya. Serangga yang kecil dapat
diletakkan di atas ujung kertas segi tiga dan ditempel menggunakan lem. Kertas segitiga
kecil itulah yang di pin dan bukan serangganya.
b. Menusuk serangga dengan pin (Pinning)
Serangga dipegang diantara ibu jari dan telunjuk sedangkan tangan yang lain
menusukkan pin pada serangga tersebut. Serangga di pin secara tegak lurus. Lalat di pin
melalui thorak antara pangkal sayap depan, sedikit ke kanan pangkal garis tengah supaya
tidak merusak pangkal kaki.Pin harus menembus metathorax dan metastrernum sehingga
tidak merusak pangkal kaki. Setelah pinning, tusukkan ke styroform yang disediakan.
c. Pemberian Label
Label berguna untuk meberikan informasi mengenai tanggal dan lokasi spesimen
tersebut diperoleh dan tambahan keterangan perlu dituliskan seperti nama kolektor, dan
habitat serangga tersebut. Label disesuaikan dengan keperluan. label yang ditempel pada
gelas sediaan harus ditempel tepinya.
d. Kotak Penyimpanan serangga
Dasar kotak harus lunak sehingga bisa ditancapkan pin. Ukuran kotak disesuaikan
dengan ukuran serangga yang disimpan. Penyimpanan serangga pada kotak harus
dibubuhi kapur barus untuk mencegah serangga dimakan serangga lain.
2. Pengawetan Basah
a. Pengawetan basah dalam cairan
Bahan dasar cairan pengawet adalah ethyl alcohol 70-80% atau larutan campuran
seperti dibawah ini :
AGA Solution (Untuk larva bertubuh lunak) yang terdiri dari :
Ethyl alkohol 70% 8 bagian
Aquades 5 bagian
Gliserin 1 bagian
Asam asetat pekat 1 bagian
Aceto Alkohol (Untuk yang berkutikula tebal) yang terdiri dari:
Ethyl alkohol 70% 1 atau 2 bagian
Asam asetat pekat 1 bagian
b. Pengawetan basah dalam slide preparat
Dilakukan terutama untuk pengawetan serangga yang sangat kecil dan lunak serta
pigmennya tidak terlalu tebal, seperti : larva nyamuk, nyamuk dewasa, kutu, tungau,
caplak dan sebagainya. Adapun teknik yang digunakan adalah teknik pengawetan
“permanen mounting tanpa pewarnaan”, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
 Tahap Clearing : untuk menipiskan pigmen serangga, serangga dibunuh kemudian
dimasukkan dalam KOH 10% selama 1-10 jam.
 Tahap dehidrasi : digunakan alcoholdengan konsentrasi semakin meningkat mulai
dari 30%, 50%, 70%, 95%, 96%, kemudian dipindah ke xylol
 Tahap mounting/pelekatan : untuk melekatkan serangga pada slide dengan
menggunakan permount Canada balsam.
 Labeling : Berisi tentang nama spesies/genus, lokasi dan tanggal pengambilan.
2.2.3 Identifikasi
Identifikasi dilakukan setelah pengamatan pada preparat berupa morfologi, habitat, dan
host dari Arthropoda yang didapatkan. Pegamatan dilakukan dibawah mikroskop cahaya
(tungau, kutu, caplak, dan pinjal) dan mikroskop stereo (lalat dan nyamuk). Labelling dapat
dilakukan untuk memberikan informasi mengenai tanggal pengambilan, lokasi spesimen, nama
kolektor, dan spesies dari serangga setelah dilakukan identifikasi.
2.3 Metode untuk Pemeriksaan Helminth
2.3.1 Alat dan Bahan

Alat Bahan

 Cawan Petri  Larutan NaCl

 Tabung sentrifus  Larutan 10%

 Sentrifus  Larutan Carmin

 AlKOH 10%ol 70%, 85%, 95%,


 Pinset Glycerin 5%

 AlKOH 10%ol asam dan AlKOH


 Gunting bedah 10%ol basa

 Gelas plastic  Xylol

 Pengaduk  Formalin 10%

 Potassium Bicromat/Kalium
 Saringan bikromat
 Saluran pencernaan ayam dan
 Object glass burung

 Cover glass  Saluran pencernaan anjing

 Pipet  Saluran pencernaan ikan

 Tali  Saluran pencernaan sapi

 Plastik/Botol  Saluran pencernaan tikus got

 Pot Salep  Feses

 Mikroskop
2.3.2 Pengumpulan sampel
Sampel dikumpulkan dari tempat yang berbeda yaitu Peternakan Kaliwaron, Pasar
Keputran, Pasar Krangkah, Pasar Pacarkeling, Kebun Binatang Surabaya, Rumah Potong
Hewan Pegirian, Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga, Ranch kuda
Emporium Kenjeran, hewan peliharaan mahasiswa kelompok, peternakan warga sekitar, dan
rumah warga sekitar, peternakan warga di Kabupaten Nganjuk dan Blitar.
a. Bedah saluran pencernaan untuk menemukan cacing
Pada pemeriksaan parasit cacing yang terdapat dalam saluran pencernaan dilakukan
pembedahan terhadap saluran cerna ayam, anjing, sapi, ikan hias dan tikus got.
Cara kerja :
1. pisah dan keluarkan saluran pencernaan mulai dari esofagus sampai anus
2. lakukan pembedahan pada organ-organ dalam.
3. buka usus mulai dari usus halus sampai anus menggunakan gunting
4. lakukan kerokan (scrapping) menggunakan scalpel untuk mencari kemungkinan adanya
scolex cacing pita atau coccidia, terutama bila terdapat peradangan/mukosa hiperemis.
5. indentifikasi masing-masing cacing yang diperoleh kemudian memasukan sebagian ke
dalam botol yang berisi larutan NaCl dan sebagian lagi kedalam larutan formalin 10%.
6. beri label berisi informasi: Nama cacing, Habitat, Hospes, dan Kolektor.
b. Pembuatan preparat permanen pewarnaan Semichen-Acetic carmine
1. Fiksasi cacing diantara 2 gelas objek, kedua ujung gelas objek diikat menggunakan tali
rafia.
2. Masukkan gelas objek yang telah berisi cacing ke dalam alkohlo gliserin 5% selama 24
jam.
3. Masukkan ke dalam alkohol 70% selama 5 menit.
4. Pindahkan gelas objek ke dalam larutan carmine, biarkan selama ± 8 jam, tergantung
ketebalan kutikula cacing.
5. Lepas cacing dari fiksasi dan masukkan ke dalam alkohol asam selama 2 menit.
6. Pindahkan ke dalam larutan alkohol basa, rendam selama 20 menit.
7. Lakukan dehidrasi bertingkat dalam alkohol 70%, 85%, 95% masing-masing selama 5
menit.
8. Mounting dalam larutan Hung’s I selama 20 menit.
9. Ambil cacing dari larutan Hung’s I letakkan pada gelas objek, teteskan larutan Hung’s II
secukupnya di atas cacing tersebut, tutup dengan cover glass.
10. Keringkan preparat permanen dalam inkubator bersuhu 37oC selama 24jam, simpan pada
suhu ruang untuk pendinginan.
c. Pemeriksaan Telur Cacing
1. Pemeriksaan Feses dengan metode natif atau sederhana
Ambil feses sedikit dengan menggunakan ujung gelas pengaduk dan dioleskan pada
object glass selanjutnya tambahkan satu atau dua tetes air lalu ratakan dan tutup dengan cover
glass. Periksa dengan mikroskop pembesaran 100x dan 400x.
2. Pemeriksaan feses dengan metode sedimentasi
Masukkan feses ke dalam gelas plastik lalu tambahkan air dengan perbandingan 1:10.
Feses dan air diaduk sampai rata kemudian disaring, hasil saringan dimasukkan ke dalam
tabung sentrifus selanjutnya disentrifus selama 3 menit dengan kecepatan 1500 rpm. Selesai
disentrifus supernatan dibuang sedangkan endapannya ditambahkan air lagi seperti tahap
sebelumnya kemudian disentrifus selama 3 menit dengan kecepatan 1500 rpm, proses diulang
sebanyak 3 kali atau sampai supernatan jernih, lalu supernatan dibuang hingga sisa sedikit
dan diaduk. Endapan diambil 1 tetes dengan pipet dan diletakkan pada object glass kemudian
ditutup dengan cover glass. Periksa dengan mikroskop pembesaran 100x dan 400x.
3. Pemeriksaan feses dengan metode apung
Masukkan feses ke dalam gelas plastik lalu tambahkan air dengan perbandingan 1:10.
Feses dan air diaduk sampai rata lalu disaring, masukkan hasil saringan ke dalam tabung
sentrifus selama 3 menit dengan kecepatan 1500 rpm. Selesai disentrifus supernatan dibuang
lalu endapannya ditambahkan air lagi seperti tahap sebelumnya, sentrifus lagi selama 3 menit
dengan kecepatan 1500 rpm, proses diulang sampai supernatan jernih, setelah jernih
supernatan dibuang dan endapannya ditambah dengan larutan gula jenuh sampai + 2 cm dari
mulut tabung, aduk dengan gelas pengaduk, kemudian sentrifus dengan kecepatan 1500 rpm
selama 3 menit. Tambahkan larutan gula jenuh sedikit demi sedikit menggunakan pipet
Pasteur sampai permukaan cairan cembung. Letakkan cover glass pada permukaan tabung
tersebut selama 5 menit kemudian cover glass diangkat dan diletakkan di atas object glass,
periksa dengan mikroskop pembesaran 100x dan 400x.

2.4. Metode untuk Pemeriksaan Protozoa


2.4.1. Alat dan Bahan

Alat Bahan

 Cawan petri  Larutan Kalium

 Tabung sentrifuge  Larutan NaCl

 Sentrifuge  Ether
 Pinset  Aquadest

 Gunting bedah  Antikoagulan (EDTA)

 Pipet  Giemsa

 Pengaduk  Methanol

 Saringan  Oil emersi

 Object glass dan cover glass  Feses

 Mikroskop  Darah

 Kertas label

 Pot plastic
2.4.2. Pengumpulan sampel
Sampel dikumpulkan dari tempat yang berbeda yaitu Pasar Bratang, Pasar Kaliwaron,
Pasar Keputran, Kebun Binatang Surabaya, Rumah Potong Hewan Pegirian, Rumah Sakit
Hewan Pendidikan Universitas Airlangga, Emporium Kenjeran, peternakan warga sekitar,
kandang hewan coba, dan rumah warga sekitar.
2.4.3. Pemeriksaan Protozoa pada feses
 Pemeriksaan protozoa pada feses dengan teknik natif
a. Ambil feses sedikit kemudian letakkaan pada gelas objek
b. Tambahkan 1-2 tetes air dan tutup dengan cover glass
c. Amati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x sampai 400x
d. Untuk membuat kontras antara parasit dengan kotoran lain bisa ditambahkan larutan
eosin atau lugol.
 Pemeriksaan protozoa pada feses dengan teknik apung
a. Larutkan feses dengan air dengan perbandingan feses dan air 1:10.
b. Saring larutan feses tersebut dengan saringan.
c. Masukkan filtrat di dalam tabung sentrifus dan melakukan sentrifugasi dengan kecepatan
1500 rpm selama 5-10 menit.
d. Buang supernatan dan tambahkan air sama banyak seperti filtrat tadi.
e. Ulangi lagi proses sentrifugasi sampai supernatan jernih.
f. Buang supernatan dan tambahkan larutan gula jenuh sampai + 2 cm dari mulut tabung
dan campurkan dengan membolak-balikkan tabung.
g. Sentrifugasi lagi dengan kecepatan yang sama dan cara yang sama dengan sebelumnya.
h. Tambahkan larutan gula jenuh sampai permukaan tabung sentrifus cembung kemudian
tutup tabung dengan cover glass, biarkan selama 5 menit.
i. Ambil cover glass, letakkan di atas object glass kemudian periksa dengan mikroskop
perbesaran 400x.
 Pemeriksaan Pengamatan Hasil Sporulasi
a. Sampel feses yang positif mengandung ookista koksidia digerus, ditambahkan air dan
disaring dan filtrat ditambahkan kalium bikromat 2,5 % dengan perbandingan 1:1
b. Suspensi dimasukkan dalam cawan petri, cawan dibiarkan terbuka atau sedikit tertutup
c. Setiap 1-6 jam larutan feses diperiksa untuk menentukan waktu sporulasi
d. Setelah semua ookista sudah mengalami sporulasi, suspensi disimpan dalam keadaan
tertutup rapat.
2.4.4. Teknik pembuatan ulas darah tipis
a. Siapkan object glass A dan B
b. Teteskan satu tetes darah pada object glass A pada salah satu sisi ujungnya kemudian
salah satu ujung menyentuhkan sisi object glass B pada tetesan darah tersebut sampai
sepanjang sisi tersebut terbasahi darah
c. Letakkan object glass A pada meja dan memegang dengan jari telunjuk berada di tengah
dan ibu jari beserta jari manis di sisi object glass
d. Buat salah satu sisi dari object glass B yang terbasahi darah bersudut 30-40º dengan
object glass A kemudian dorong ke depan untuk membuat ulasan darah dengan catatan
ulasan harus cepat dan tidak boleh berhenti
Keringkan hasil ulasan dan kemudian periksa dengan mikroskop perbesaran 1000x
dengan minyak emersi
2.4.5. Teknik pewarnaan ulas darah giemsa
a. Ulas darah tipis yang sudah kering dillakukan fiksasi dengan methanol selama 3-5 menit.
b. Masukkan ulasan darah pada larutan giemsa 20% selama 30 menit.
c. Ambil object glass dan mencuci dengan air mengalir (air kran) dengan perlahan hingga
zat warna yang tersisa hilang.
d. Keringkan object glass dengan cara meletakkan object glass posisi berdiri.
e. Periksa dengan mikroskop perbesaran 400x-1000x
f. Tambahkan oil emersi untuk perbesaran 1000x.
2.4.6. Teknik gerusan organ
a. Ambil sedikit organ yang diperiksa
b. Gerus organ dengan mortar dan tetesi beberapa tetes larutan NaCl fisiologis.
c. Letakkan gerusan yang sudah hancur pada object glass kemudian tutup dengan cover
glass.
d. Periksa dengan mikroskop perbesaran 400x
2.4.7. Swab kerongkongan unggas (Diagnosa Trichomoniasis)
a. Menyiapkan object glass dan cawan petri yang berisi NaCl fisiologis dan cotton bud.
b. Memegang unggas yang didiagnosa terinfeski Trichomoniasis dan buka mulut lebar-
lebar
c. Memasukkan cotton bud yang telah dibasahi NaCl fisiologis sampai ke pangkal
kerongkongan dan usapkan (swab)
d. Memasukkan hasil usapan ke cawan yang berisi NaCl fisiologis dan campur sampai
homogen.
e. Mengambil satu tetes dengan pipet pasteur dan meletakkan pada object glass dan
menutup dengan cover glass kemudian mengamati pada mikroskop dengan perbesaran
100x-400x.
BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Tabel Sampel Positif
A. UNGGAS
HELMINTH

Parasit Hewan Asal Sampel Metode Hasil

Ascaridia galli Ayam Pasar Bratang Natif Telur


Capillaria columbae Kalkun Pasar Bratang Natif Telur
Heterakis gallinarum Love Bird Pasar Bratang Natif Telur
Ascaridia galli Ayam Pacar Keling Natif Telur
Ascaridia galli Bebek Pacar Keling Natif Telur
Raillietina tetragona Ayam Pasar Keputran Sedimen Telur
Ascaridia galli Ayam Pasar Keputran Sedimen Telur
Ascaridia galli Burung Julang Emas KBS Natif Telur
Syngamus trachea Burung Julang Emas KBS Natif Telur
Raillietina tetragona Ayam Pasar Keputran Natif Telur
Ascaridia galli Ayam Pasar Keputran Natif Telur
Capillaria longicollis Ayam Bondowoso Apung Telur
Raillietina echinobothrida Ayam Pasar Keputran Karmin Cacing
PROTOZOA

Trichomonas gallinae Burung Merpati Pasar Bratang Swab Protozoa


Kerongkongan
Haemoproteus Burung Dara Pasar Bratang Ulas darah Protozoa
Leucocytozoon Ayam Pasar Pucang Ulas Darah Protozoa
ARTHROPODA

Columbicola columbae Ayam FKH UNAIR Wet presvention Kutu


Lipeurus caponis Ayam Bondowoso Wet presvention Kutu
Pseudolyncia canariensis Burung Merpati Pasar Bratang Wet presvention Kutu
B. REPTIL
HELMINTH
Parasit Hewan Asal Metode Hasil
Strongyloides sp. Ular Rungkut Natif Telur
Tanqua tiara sp. Biawak Sidoarjo Karmin Cacing
Strongyloides sp. Ular Rungkut Sedimen Telur
Passalurus ambigus Iguana FKH UNAIR Sedimen Telur
Rhabdia sp. Ular Rungkut Sedimen Telur

C. IKAN
ARTHROPODA
Parasit Hewan Asal Metode Hasil
Argulus japanis Ikan mas Gunungsari Wet presvention Kutu

D. RUMINANSIA

HELMINTH

Parasit Hewan Asal Sampel Metode Hasil


Balantidium Sapi Kaliwaron Natif Telur
Haemonchus contortus Watusi KBS Natif Telur
Eimeria sp. Domba KBS Apung Telur
Capillaria sp. Unta KBS Natif Telur
Strongyloides papillosus Domba Nganjuk Sedimen Telur
Strongyloides papillosus Domba Nganjuk Apung Telur
Haemonchus contortus Domba Nganjuk Sedimen Telur
Oesophagostomum radiatum Sapi Blitar Sedimen Telur
Eimeria sp. Sapi Blitar Natif Telur
Balantidium Sapi Blitar Sedimen Telur
Eimeria sp. Sapi Blitar Natif Telur
Balantidium Sapi Blitar Sedimen Telur
Mecistocirrus digitatus Sapi Blitar Sedimen Telur
Eimera sp. Sapi Blitar Sedimen Telur
Balantidium coli Sapi Blitar Natif Telur
Haemonchus contortus Kambing Bondowoso Natif Telur
Strongyloides papillosus Kambing Bondowoso Apung Telur
Gaigeria pachyscelis Kambing Bondowoso Apung Telur
Eimeria sp. Kambing Bondowoso Natif Telur
Bunostomum trigonocephalum Eland KBS Apung Telur
Cotylophoron cotylophorum Eland KBS Sedimen Telur
Capillaria sp. Unta KBS Natif Telur
Haemonchus contortus Watusi KBS Natif Telur
Isospora sp. Domba Bondowoso Sedimen Telur
Eurytrema pancreaticum Sapi RPH Karmin Cacing
Mecistocirrus digitatus Sapi RPH Karmin Cacing
Cotylophoron cotylophorum Sapi RPH Karmin Cacing
Fasciola gigantica Sapi RPH Karmin Cacing
PROTOZOA

Anaplasma Sapi RPH Ulas Darah Protozoa


ARTHROPODA

Damalinia ovis Kambing FKH UNAIR Wet presvention Kutu


Damalinia ovis Kambing Bondowoso Wet presvention Kutu
Columbicola columbae Kambing Bondowoso Wet presvention Kutu
Sarcoptes scabiei Kambing Bondowoso Scraping kulit Tungau

E. NON RUMINANSIA
HELMINTH
Parasit Hewan Asal sampel Metode Hasil
Tricostrongylus retortaeformis Anjing Pasar bratang Natif Telur
Ancylostoma caninum Anjing Pasar bratang Natif Telur
Ascaris Bekantan KBS Natif Telur
Toxocara cati Kucing Kenjeran Natif Telur
Ancylostoma Kucing Pasar Manyar Natif Telur
Isospora Kucing Pasar Manyar Apung Telur
Toxocara cati Kucing Pasar Manyar Apung Telur
Ancylostoma Kucing Pasar Manyar Sedimen Telur
Ancylostoma caninum Anjing KBS Natif Telur
Ancylostoma caninum Anjing KBS Sedimen Telur
Blastocystis Anjing Nganjuk Natif Telur
Isospora sp. Anjing Mulyosari Apung Telur
Isospora sp. Anjing Mulyosari Sedimen Telur
Trichuris trichiura Babi RPH Sedimen Telur
Balantidium Babi RPH Natif Telur
Eimeria sp. Kelinci Bondowoso Natif Telur
Eimeria sp. Kelinci Bondowoso Apung Telur
Strongyloides Kuda Emporium Apung Telur
Triodontophorus tenuicallis Kuda Trotten Sedimen Telur

ARTHROPODA
Ripicephalus sanguienus Anjing RSHP UNAIR Wet presvention Caplak
Ctenocephalides felis Kucing RSHP UNAIR Wet presvention Pinjal
Felicola subrostratus Kucing RSHP UNAIR Wet presvention Kutu
Ctenocephalides felis Kucing Pasar Mojoarum Wet presvention Pinjal
Ctenocephalides felis Kucing Pasar Jambangan Wet presvention Pinjal
Ripicephalus sanguienus Anjing RSHP UNAIR Wet presvention Caplak
Ctenocephalides felis Kucing RSH UNAIR Wet presvention Pinjal
Sitophilus oryzae Kutu beras Kos Mahasiswa Wet presvention Kutu
Orchidophilus aterrimus Gajah KBS Wet presvention Kutu
Ornithonyssusbacoti Tikus FKH UNAIR Wet presvention Tungau
Chorioptes sp. Kucing Sidoarjo Wet presvention Tungau
F. LALAT
ARTHROPODA
Parasit Asal Metode Hasil
Chrysomya megacephala Kandang Sapi FKH UNAIR Pengawetan Lalat
Kering
Tabanus megalops Emporium Pengawetan Lalat
Kering
Musca domestica Kandang Sapi RSH Pengawetan Lalat
Kering
Chrysomya megacephala Sekitar Kandang Sapi Pengawetan Lalat
Kaliwaron Kering
Chrysomya megacephala Pasar Ikan Mojoarum Pengawetan Lalat
Kering
Chrysomya saffranea Pasar Sutorejo Pengawetan Lalat
Kering
Sarcophaga Pasar Menur Pengawetan Lalat
haemorrhoidales Kering
Stomoxys calcitrans Kandang FKH Pengawetan Lalat
Kering

3.2 Helminth
3.2.1 Bunastomum trigonocephalum
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Kordata
Sub Filum :Vertebrata
Kelas : Nematoda
Ordo : Strongylidae
Famili : Ancylostomidae
Sub famili : Ancylostominae
Genus : Bunostomum
Spesies : Bunostomum trighonocephalum
Bunostomum trighonocephalum
(dokumen pribadi)

Siklus hidup
Larva infektif mempunyai bentuk sedikit khas antara lain: diselubungi 1 sheat. Tubuh
larva pendek dengan ekor relatif panjang, dan selubung daerah ekor lebih panjang. Esofagus
berakhir dalam suatu bulbulus yang menonjol. Infeksi pada inang terjadi secara per oral atau
melalui penetrasi kulit. Dengan kedua cara tersebut larva mengadakan lung migration. Di
dalam jaringan paru-paru terjadi moulting/pengelupasan kulit ketiga, kemudian larva menuju
ke bronchi lalu ke trakea. Larva stadium IV yang sudah mempunyai bukal kapsule mencapai
intestine lagi setelah 11 hari dan terus tumbuh menjadi cacing dewasa. Telur pertama
(periode prepaten) dilepaskan 30-56 hari setelah infeksi.

Predileksi : Usus halus (ilium dan jejunum)


Inang : Domba, kambing, sapi
Kepentingan dan Gejala Klinis
Gejala kilinis yang bisa diamati antara lain ternang mengalami anemia, terlihat kurus,
kulit kasar, bulu kusam, nafsu makan turun. Feses lunak dengan warna coklat tua. Pada waktu
menjadi cacing dewasa, cacing Bunostomum sp menempel kuat pada dinding usus. Cacing
memakan jaringan tubuh dan darah, sehingga walaupun jumlah cacing hanya sedikit, namun
ternak akan menunjukan gejala klinis yang nyata.
Pada cacing dewasa akan aktif menghisap darah sehingga inang akan banyak kehilangan
darah dan akan muncul gejala anemia. Gejala sakit akan nampak bila jumlah cacing yang
menginfeksi sekitar >100 ekor cacing dan akan menybabkan kematian pada hewan muda
yang terinfeksi. Larva yang penetrasinya melalui kulit akan menyebabkan iritasi pada kulit
yang terinfeksi.
Pengobatan dan pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan membatasi lingkungan bebas larva, yaitu dengan
menjaga kebersihan kandang secara periodik dan teratur. Sedangkan unruk pengobatan dapat
dengan pemberian obat fenbendazole, albendazole, oxvendazole, benzinidazole, avermektin
dan morentel yang paling efektif untuk bunostomum dewasa adalah itroxynil dan ratoxanide
yang berfungsi untuk menikat protein darah dan makanan tambahan yang mengandung
vitamin dan mineral.
3.2.2 Cotylophoron cotylophorum

Klasifikasi
Filum : Platyhelminthes
Class : Trematoda
Familia : Paramphistomatidae
Ordo : Digenea
Genus : Cotylophoron
Spesies : Cotylophoron cotylophorum

Telur Cotylophoron cotylophorum pada eland


(dokumen pribadi)

cacing Cotylophoron cotylophorum pada sapi


(dokumen pribadi)

Host dan predileksi : rumen dan retikulum kambing, domba, sapi dan ruminansia lainnya.
Inang Antara : siput Indoplanorbis exustus, Fossari sp dan Bulinus sp.
Siklus Hidup :

Telur dikeluarkan bersama feses. Telur berkembang menjadi miracidium. Miracidium


yang dibebaskan di air akan masuk ke siput kemudian penetrasi ke dalam tubuh siput melalui
rongga hawa dan menuju dinding posterior dari rongga mantel. Fase didalam tubuh siput
(snail borne phase) biasanya pendek, 3-4 minggu dan cercaria dikeluarkan akibat rangsangan
dari sinar. Setelah metacercaria termakan oleh inang, kemudian larva keluar dari dinding
kista kedalam usus halus dan migrasi menuju bagian depan (fore stomach), biasanya dalam
waktu 5-7 minggu.

Kepentingan :
Infeksi berat dapat mengakibatkan fibrosis hepatis dan hepar pucat. Terjadi nekrosis
hemoragik pada mukosa duodenum dan ileum pada stadium larva akibat sucker yang
tertancap pada mukosa.

Pencegahan dan pengobatan : Drainage daerah rawa-rawa dan pemberantasan siput air.

3.2.3 Haemoncus contortus


Klasifikasi
 Filum : Nemathelminthes
 Kelas : Nematoda
 Ordo : Strongylida
 Famili : Tricihostrongylidae
 Genus : Haemonchus
 Spesies : Haemochus contortus

Telur Haemochus sp
(dokumen pribadi)

Host : kambing, domba sapi dan ruminansia lain


Predileksi : abomasum
Morfologi
Telur berukuran 70-85 x 41-48 μm, berbentuk lonjong. Haemonchus contortus
dikenal sebagai caring merah di lambung pada ruminansia. Dewasa memiliki panjang 10
hingga 30 mm. Jantan lebih pendek daripada betinanya dan memiliki warna merah segar
dengan dilengkapi suatu bursa yang asimetris. Pada betina dikenal sebagai "barbers pole
worms'' karena uterusnya yang putih diselingi usus yang berwama kemerahan karena berisi
darah.

Siklus hidup
Telur berembrio dikeluarkan bersama dengan feses. Pada lingkungan yang
mendukung telur akan menetas menjadi larva stadium 1 dalam waktu 14-19. Kemudian larva
akan mengalami eksidis sebanyak dua kali dan tumbuh menjadi larva stadium 3 yang infektif
dan memiliki selubung. Penularan peroral dengan termakannya larva infektif bersama dengan
rumput. Larva infektif yang masuk ke dalam tubuh inang akan masuk ke saluran perncernaan
kemudian melepaskan selubung dan migrasi ke abomasum. Perkembangan menjadi larva
stadium 4 terjadi dalam abomasum. Larva stadium 4 akan menetap pada lamina propria
abomasum dan mulai menghisap darah.

Cara penularan : Peroral, larva infektif (L3) termakan bersama dengan rumput.

Patogenesis

Larva infektif (L3) masuk ke saluran cerna kemudian bermigrasi menuju abomasum.
Setelah 4 hari, L4 akan muncul ke permukaan abomasum dan mulai menghisap darah inang
dengan cara menancapkan dorsal lancet pada lumen abomasum sehingga menyebabkan luka.
Parasit ini akan menghasilkan zat anti pembekuan darah pada luka sehingga memudahkan
untuk menghisap darah. Luka pada abomasum menyebabkan penurunan digesti dan absorbsi
protein, kalium dan fosfor. Apabila terdapat infeksi yang berat maka akan nampak
perdarahan pada abomasum.

Gejala klinis
Terjadi anemia secara cepat dan hewan mati dengan menunjukkan gejala hidremia.
Diare akan muncul apabila infeksi terjadi bersamaan dengan banyaknya hijauan muda yang
dikonsumsi.

Pencegahan
Vaksinasi pada ternak doma dan kambing terutama anakan. Ternak dikandangkan
tanpa digembalakan, apabila digembalakan diperlukan rotasi padang rumput.

Pengobatan
Phenothiazin, dosis kambing dan domba 5-40 gram/ekor. Tetramisole hidrochloride,
dosis kambing dan domba 15 mg/kg bb.Levamisole hidroklorid, dosis kambing dan domba
7,5 mg/kg bb per oral dan 2ml/50kg bb.Neguvon, dosis kambing dan domba 55mg/kg
bb.Methyride, dosis semua spesies 200 mg/kg bb per oral/injeksi.Parbendazole, dosis sapi 30
mg/kgbb, kambing dan domba 20-30 mg/kgbb. Tidak diperbolehkan untuk hewan bunting.
Doramectin / avermectin, dosis 1 ml/50 kgbb intamuscular atau intrasubcutan.

3.2.4 Oesophagustomum radiatum

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Secernentea
Ordo : Strongylida
Famili : Strongyloidae
Genus : Oesophagustomum
Spesies : Oesophagustomum radiatum

Telur Oesophagustomum radiatum


(dokumentasi pribadi)
Morfologi
Cacing betina memiliki panjang 6,5-24 mm yang umumnya lebih besar dari cacing
jantan yang memiliki panjang 6-16,6 mm. Pada jantan dapat dibedakan dengan adanya bursa
kopulatif yang terletak di ekor.
Hospes : sapi

Predileksi :Usus besar (sekum dan kolon), larva biasanya ditemukan dalam nodul
diantara usus halus dan rektum.

Kepentingan
Infeksi yang berat dapat terjadi dengan anemia, oedem, hipoalbuminemia, diare,
Oesophagustomum bisa menginfeksi bersama-sama dengan nematoda yang lain.

Siklus hidup
Siklus hidup nematoda ini adalah langsung. Larva masuk kedalam dinding usus,
membentuk nodul diantara usus halus dan rektum. Kepalanya yang besar diantara anterior
cacing dewasa merupakan tanda-tanda khusus untuk identifikasi. Telur dapat ditemukan
dalam pemeriksaan feses sekitar 40 hari setelah infeksi dengan larva stadium 3.

Pengendalian / Pengobatan
Penanganan dan pengendalian helminthiasis dapat dilakukan dengan pemberian
anthelmintika seperti albendazole, ivermectin, levamisol, mebendazole dan piperazine (Astiti
dkk., 2011)

3.2.5 Strongyloides sp.


Klasifikasi :
Kelas : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Famili : Strongyloididae
Genus : Strongyloides
Spesies : Strongyloides sp.
Strongyloides westeri
Strongyloides papillosus
Strongyloides stercoralis

Pada kuda Pada domba


Telur Strongyloides sp.
(dokumen pribadi)
Morfologi :
 Dinding tipis
 Telah berembrio bila keluar bersama feses
 Cacing betina memiliki organ genital yang lebih panjang daripada esophagus
 Esophagus berbentuk silindris
Inang : Domba, kambing, sapi, kelinci dan ruminansia liar
Predileksi : Usus halus
Siklus hidup :
Cacing betina dewasa bertelur didalam usus halus dengan cara langsung, telurnya
dikeluarkan dari tubuh cacing dalam tingkatan yang belum atau sudah mengandung embrio
dan keluar dari tubuh ruminansia bersama feses. Telur yang keluar bersama feses pada
kondisi yang optimal akan menetas dan menghasilkan larva stadium pertama. Larva ini
mengalami 2 kali ekdisis dan akan menjadi larva stadium ketiga (larva infektif). Larva
infektif masuk ke tubuh inang definitif selain lewat pakan dan minuman juga lewat
penembusan kulit.
Larva terbentuk 1-2 hari. Pada perkembangan larva infektif selanjutnya sksn
mengalami migrasi ke paru-paru. Didalam paru-paru terjadi pengelupasan kulit dan terbentuk
L4, kemudian menembus alveoli menuju bronchi, trachea, esophagus dan kembali ke usus
halus dalam bentuk menjadi cacing dewasa.
Kepentingan :
 Nafsu makan dan berat badan menurun
 Lemah, kurus, dan bulu kotor
 Infeksi berat dapat mengakibatkan stress sehingga produksi susu menurun
 Penetrasi pada usus besar dan penyebaran telur dapat menyebabkan colitis, pneumonitis
atau manifestasi gangguan neurologis seperti meningitis
 Cacing dewasa pada sekum jika ditemukan pada jumlah besar dapat menyebabkan
radang disertai edema dan erosi epital pada dinding sekum
Pengendalian dan pengobatan :
Menjaga kebersihan kandang, penggembalaan dipadang rumput yang kering.
Pengobatan yang diberikan yaitu ivermectin 200 mg/kgBB/hari selama 1-2 hari,
thiabendazole 25 mg/kgBB selama 2 hari.
3.2.6 Fasciola sp.

Klasifikasi

Filum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Ordo : Digenea
Famili : Fasciolidae
Genus : Fasciola

Cacing Faciola sp.


(dokumen pribadi)

Habitat : Saluran empedu

Inang : kambing, domba, sapid an ruminansia lainnya, babi, kuda, anjing, kucing,

kelinci, kanguru, gajah dan manusia

Inang antara : Siput Lymnaea javanica

Morfologi
Bentuk cacing seperti daun. Ukuran cacing dewasa 25-75 × 12 mm. Warna tubuhlebih
transparan, bahu tidak menonjol, oral sucker dan ventral sucker besarnya hampir sama.
Faring dan esophagus cacing Fasciola gigantica pendek. Kutikula dilengkapi dengan sisik,
sekum intestinalis umumnya bercabang banyak dan terletak di bagian lateral tubuh. Cacing
bersifat hermaprodit. Alat kelamin jantan (testis) bercabang dan berlobus, sedangkan alat
kelamin betina memenuhi sisi lateral tubuh. Ukuran telur Fasciola gigantica mencapai 156-
197 × 90 104 μm.
Siklus hidup
Fasciola sp. Mengalami beberapa generasi yaitu telur, sporokista, mirasidium,
dancacing dewasa. Penularannya melalui oral dengan termakannya rumput yang ditempeli
metaserkaria. Metaserkaria merupakan stadium infektif pada hewan. Metaserkaria yang
termakan akan pecah akibat peristaltic usus dan mengeluarkan cacing muda. Cacing
mudmelakukan penetrasi pada dinding usus dan bermigrasi ke hepar. Cacing muda dalam
hepar akan memakan jaringan hepar selama 6 minggu kemudian masuk saluran empedu dan
matur dalam 4 minggu. Cacing dewasa akan mengeluarkan telur yang masuk ke duodenum
bersama cairan empedu kemudian keluar bersama feses penderita. Telur akan menetas setelah
10-12 hari pada temperature 26oC dan kelembapan optimum. Kemudian telur menghasilkan
mirasidium (larva stadium I). mirasidium akan berenang mencari siput Lymnaea javanica dan
menembus muskulus siput menggunakan enzim proteolitik. Mirasidium berkembang
menjaadi sporokista yang memiliki silia. Setiap sporokista akanmembentuk 5-8 redia dan
berkembang menjadi serkaria. Serkaria akan keluar dari tubuh siput setelah minggu ke-4
sampai ke-7 dan menempel pada rumput atau tumbuhan di tepi air atau kolam. Kemudian
sekaria melepaskan silia dan membentuk dinding kista serta berkembang menjadi
metaserkaria.
Pathogenesis
Fasciolosis berjalan secara akut, sub akut, dan kronis. Kejadian infeksi initergantung
pada derajat infeksi cacing hati pada hepar. Infeksi akut disebabkan penularan secara tiba-tiba
oleh cacing dalam jumlah besar pada hepar penderita. Kemudian terjadi kerusakan yang
hebat pada parenkim hepar yang menyebabkan timbulnya perdarahan dalam cavum
peritoneal. Cacing hati akan memakan jaringan dan menghancurkan parenkim hati. Hewan
penderita dapat mati setelah beberapa hari terlihat gejala klinis dan terdapat pembesaran
hepar, pucat dan rusak pada bedah bangkai. Terlihat adanya perdarahan peritoneal dan hepar
serta kerusakan pada selubung hepar. Cacing dewasa akan merusak epitel saluran empedu
sehingga tampak foki-foki nekrotik dan pembentukan jaringan fibrosa yang berlebihan.
Terbentuknya jaringan fibrosa tersebut mengakibatkan penebalan pada saluran empedu dan
terlihat pengapuran kemudian terbentuk cirrhosis hepatis. Selain itu, Fasciola sp. dapat
mengakibatkan anemia.
Kepentingan :
Fasciolosis atau Distomatosis merupakan penyakit yang dapat berjalansecara akut
maupun kronis tergantung pada derajat infeksi cacing dalam hepar. Cacing dalam jumlah
yang besar dapat menyebabkan kerusakan parenkim hepar dan perdarahan dalam cavum
peritoneal. Kerusakan secara kronis dapat menyebabkan cirrhosis hepatis.

Gejala klinis
Dungu, lemah, nafsu makan turun, tampak pucat, edema mukosa dan
konjungtiva,tampak nyeri saat ditekan di daerah hepar. Kejadian kronis terlihat edema
submandibular (bottle jaw), anemia, cepat lelah karena ichterus dan diare. Penderita
mengalami kekurusan, penurunan produksi susu serta penurunan kualitas dan kuantitas bulu.
Terlihat pula ascites hidrothoraks dan hidropericardium.

Pencegahan
Mencegah siput air masuk ke wilayah peternakan dan pemeriksaan feses setiap 2-3
bulan sekali.

Pengobatan
Carbon tetrachloride per oral dengan dosis 1-2 ml/50 kgBB untuk cacing umur 8-
10minggu. Mineral oil dengan dosis 1-2 ml/10 kgBB. Hexachorophene per oral 15 mg/kgBB
untuk cacing 4 minggu. Obat lain, Dovenix 7 ml/sapi dewasa/subkutan dan Triclabendazole 5
mg/kgBB/IM.

3.2.7 Mecistocirrus digitatus

Klasifikasi

 Filum : Nemathelminthes
 Kelas : Nematoda
 Ordo : Strongylida
 Famili : Tricihostrongylidae
 Genus : Mecistocirus
 Spesies : Mecistocirrus digitatus
Posterior Anterior
Mecistocirrus digitatus jantan

Habitat dan Inang : abomasum domba, sapi, zebra, kerbau dan lambung babi

Morfologi
Panjang cacing jantan sampai 31 mm. Panjang cacing betina 43 mm. Cervical papila
meninjol. Buccal capsul kecil mengandung lancet seperti Haemoncus. Pada cacing betina,
ovari berbentuk spiral di dekat intestin. Vulva terletak 0,6-0,9 mm dari ujung ekor.
Bursa kecil, lobus dorsalis simetris. Ventro-ventral rays kecil dan nyata lebih panjang
daripada yang lain. Spikula ramping, panjangnya 3,8-7 mm. Ukuran telur 95-120 x 56-60
µm.
Siklus hidup
Telur keluar sama feses, menetas dan berkembang menjadi larva infektif. Infeksi
terjadi pada saat inang merumput yang terkontaminasi larva infektif. Periode prepaten ± 60
hari, menurut Darmono dkk. (1980) pada sapi 56 hari dan pada kerbau 105 hari. Stadium
larva IV berlangsung cukup lama, yaitu dari hari ke 9 sampai hari ke 28 setelah infeksi.
Cacing ini cukup patogen pada kerbau, sapi dan kambing mempunyai efek seperti
H.contortus.

3.2.8 Geigeria sp.


Klasifikasi
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Famili : Ancylostomatidae
Subfamili : Necatorinae
Genus : Gaigeria
Spesies : Gaigeria pachyscelis
Gaigeria sp.
(dokumentasi pribadi)
Morfologi
Panjang cacing jantan 20 mm dan yang betina 30 mm. Mirip sekali dengan
Bunostomum sp., pada bukal kapsul terdapat dorsal cone dan sepasang subventral lancet
tetapi tidak mempunyai gigi dorsal. Bursa kopulatrik mempunyai lobus lateral kecil, pada
bagian ventral bergabung dan memenuhi ruang lobus dorsalis. Anterolateral rays pendek dan
tumpul terpisah sama sekali dengan dengan lateral rays. Spikula langsing panjang, berukuran
1,25-1,33 µm. Telur berukuran 105-129x50-55 µm dan tumpul pada kedua ujungnya.

Host :Kambing dan domba


Predileksi :Usus halus (duodenum)
Siklus hidup
Sama dengan "hook worm" yang lain yakni secara langsung. Larva infektif
berselubung mirip B. trigonocephalum. Penularan terjadi hanya melalui kulit. Selanjutnya
larva mencapai paru-paru melalui sistem pembuluh darah dan mengalami ekdisis yang ketiga,
pada paru-paru larva akan tinggal selama - 13 hari. Larva stadium IV, mempunyai bukal
kapsul dengan dorsal cone dan sepasang lanset subventral, selanjutnya migrasi ke bronki,
trakhea, dan faring kemudian ditelan, mencapai intestin selanjutnya terjadi ekdisis ke-4 dan
berkembang menjadi dewasa ±10 minggu pasca infeksi.
Kepentingan
Cacing gastrointestinal banyak sekali menimbulkan kerugian berupa kekurusan,
lemah, kurus, nafsu makan turun, anemia, bulu suram, diare, dan pertumbuhan terhambat
pada ternak sehingga menyebabkan kerugian yang besar bagi masyarakat petani peternak.
Akibat infeksi cacing Gaegeria sp. Dapat merusak dinding usus halus, selain itu kerusakan
juga dapat disebabkan dari perjalanan daur hidup larva ke organ lain. Gaegeria sp.
menembus kulit sehingga menyebabkan reaksi lokal : radang, papula & gatal-gatal. Infeksi
berat Gaegeria sp. Dapat menyebabkan hipoproteinemia dan bottle jaw.
Pengendalian dan pengobatan
Pencegahan dilakukan untuk menekan jumlah infeksi parasit cacing pada saluran
pencernaan hewan ternak dapat dilakukan dengan beberapa tindakan. Ternak yang
dikandangkan hendaknya diberi pakan dan minum yang bebas dari kontaminasi tinja atau
kotoran yang mengandung larva infektif dari cacing. Kandang harus tetap bersih dan dijaga
agar tetap kering kotoran kandang yang berasal dari sapi hendaknya dibuang sesering
mungkin. Menghindari kepadatan ternak yang berlebihan, ternak muda dan ternak dewasa
hendaknya dipisahkan karena ternak yang lebih tua sering kali merupakan sumber infeksi
bagi ternak muda (Levine, 1990).
Menurut Sasnita, dkk (1991) dan Koescarto, dkk (2007) selain melakukan tindakan
pencegahan, pengobatan juga dilakukan dalam menanggulangi lebih lanjut adanya infeksi
parasit cacing. Dalam menentukan obat yang digunakan harus mempunyai toksisitas terhadap
semua jenis cacing dan semua stadium tetapi tidak membahayakan bagi hewan dan manusia,
cara pemberianya mudah harganya murah serta mudah didapat. Pengendalian penyakit cacing
pada temak umumnya dilakukan dengan menggunakan obat cacing diantaranya adalah
benzimidazol. levamisol. dan ivermectin (Mustika dan Ahmad, 2004).
3.2.9 Trichuris sp.
Klasifikasi :
Kelas :Nematoda
Ordo : Enoplida
Famili : Trichuridae
Genus : Trichuris
Spesies : Trichuris trichiura
Trichuris ovis
Trichuris globulosa
Trichuris vulpis
Trichuris suis

Telur Trichuris sp.


(dokumen pribadi)
Morfologi :
 Bentuknya seperti tong anggur (barrel shape atau lemon shape) pada kedua ujungnya
terdapat dua buah mucoid plug menonjol dan transparan
 Dinding telur berwarna cokelat dari warna empedu
 Ukuran 50-54 x 22- 23 mikron

Inang : Babi, domba, kambing, sapi, jerapah dan anjing.


Predileksi : Sekum

Siklus hidup :
Telur yang keluar bersama tinja mengandung sel telur yang tidak bersegmen dan akan
mengalami embrionisasi dan (mengandung larva) sesudah 10- 14 hari di tanah. Telur tersebut
kemudian dapat tumbuh menjadi bentuk yang infektif. Infeksi Trichuris trichiura
(Trichuriasis) disebabkan oleh makanan terkontaminasi telur infektif masuk mulut. Cacing ini
tidak mempunyai siklus paru. Masa partumbuhan mulai dari telur tertelan sampai cacing
dewasa betina bertelur kurang lebih 30-90 hari.

Kepentingan :
 Infeksi akut dapat menyebabkan diare hemorhagi encer
 Anemia
 Penurunan berat badan, lemah, gangguan pertumbuhan dan akhirnya mati

Pengendalian dan pengobatan :


Obat pilihan untuk Trichuriasis adalah mebendazol 12,5 mg/kg BB melalui injeksi.
Albendazole adalah obat alternatif. Namun, kemanjurannya untuk Trichuriasis sedikit lebih
rendah dari mebendazole. Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang
dengan sanitasi agar tetap kering sehingga menghambat pertumbuhan larva, dan
menghindarkan pakan dan minum dari feses dan larva, dan melakukan pemeriksaan feses
secara teratur

3.2.10 Tricostrongylus sp.


Klasifikasi :
Kelas : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Famili : Trichostrongylidae
Genus : Trichostrongylus
Spesies : Trichostrongylus retortaeformis
Trichostrongylus columbriformis
Trichostrongylus axei

Telur Trichostrongylus sp.


(dokumen pribadi)
Morfologi :
 Berbentuk bulat lonjong dengan salah satu ujung lancip
 Berdinding tipis
 Panjang telur 90 mikron dan lebar 90 mikron

Inang : Kambing, domba, dan sapi


Predileksi : Usus halus

Siklus hidup :
Ruminansia mengeluarkan telur bersama kotoran pada kondisi yang optimal akan
menetas dan keluar larva stadium pertama (L1). Kemudian larva ini mengalami ekdisis dua
kali dan menjadi larva stadium tiga (L3/larva infektif). Larva infektif masuk kedalam tubuh
hewan bersam pakan dan minum. Pembentukan larva terbentuk setelah 4-6 hari. Pada
perkembangan yang selanjutnya larva infektif menembus mukosa usus halus kemudian
berdiam diri selama 7 hari dan mengalami pergantian kulit menjadi larva stadium 4, keluar
dari mukosa usus halus ke lumen usus dan menjadi dewasa.

Kepentingan :
 Nafsu makan berkurang, kurus dan tidak aktif
 Tidak menghisap darah tetapi dapat menimbulkan luka-luka disertai perdarahan akibat
penembusan larva kedalam mukosa usus halus
 Pada ruminansia muda sering bersifat akut dengan gejala yang tidak mau menyusui,
kelemahan, diare berwarna hitam (black scours worm).

Pengendalian dan pengobatan :


Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu membatasi lingkungan bebas larva dengan
menjaga kebersihan kandang secara teratur. Pengobatan dapat menggunakan mebendazole,
albendazole, dan ivermectin.

3.2.11 Toxocara vitulorum


Klasifikasi
Kindom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Secernentea
Ordo : Ascaridida
Famili : Toxocaridae
Genus : Toxocara
Spesies : Toxocara vitulorum

Telur Toxocara vitulorum


(dokumentasi pribadi)

Host dan Predileksi : Usus halus sapi, zebra, dan kerbau. Namun pada tahap larva akan
bermigrasi ke liver, paru-paru, tracea, mulut, esophagus, plasenta dan kelenjar mamae

Kepentingan
Toxocara vitulorum tidak terlalu patogenik pada sapi dewasa namun pada anak sapi
akan sangat tinggi tingkat kematiannya jika tidak tertangani dengan baik. Larva migrasi akan
merusak organ-organ dari sapi dewasa, contohnya paru-paru, dimana akan menyebabkan
terjadinya infeksi sekunder akibat bakteri dan menyebabkan pneumonia. Sedanngkan pada
anak sapi, cacing dewasa di usus halus akan menyebabkan kompetisi nutrisi dengan host, dan
akan menyebabkan diare, colic, enteritis, nafsu makan turun dan perforate. Kadang –kadang
cacing juga bermigrasi ke kantung empedu dan menyumbat saluran empedu dan
menyebabkan cholangitis.

Siklus Hidup
Toxocara vitulorum memiliki siklus hidup langsung (direct life cicle), artinya tidak
memiliki host perantara. Cacing betina dewasa bertelur di usus dari host dan akan terbawa
keluar bersama feses. Cacing ini merupakan salah satu cacing yang sangat produktif. Sapi
terinfeksi cacing ini akan menumpahkan 8 juta telur setiap hari melalui feses. Setelah di
lingkungan, telur akan berkembang menjadi larva dan dalam waktu 7 – 15 hari dengan suhu
27 derajathingga 30 derajat celcius (suhu ideal). Namun pertumbuhan akan berhenti ketika
suhu dibawah 12 C dan akan aktif lagi setelah suhu naik lagi. Telur ini infektif dan akan
mencemari padang rumput. Pada tahap ini mereka akan dapat bertahan hidup selama
berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, namun sensitive terhadap sinar matahari.
Ternak akan terinfeksi setelah menelan embryonated eggs. Larva akan keluar dari
telur di dalam lambung, dan akan penetrasi ke dalam dinding lambung dan migrasi ke dalam
pembuluh darah dan menuju ke liver, paru, tracea, mulut, esophagus, dan kembali ke usus
halus, dimana usus halus adalah tempat berkembang biak dan produksi telur. Ketika larva
bermigrasi ke jaringan lain, berupa kelenjar mamae dan plasenta, cacing ini akan berpindah
ke anak sapi atau ke fetus. Larva akan bertahan di jaringan sampai 5 bulan. Larva yang
sampai di kelenjar mamae akan dormant sampai 3 minggu. Ketika anak sapi minum susu sapi
maka akan terjadi perpindahan dari ibu ke anak (lactogenic transmission).
Larva cacing yang tertelan oleh anak sapi akan masuk terus ke intestine dan berubah menjadi
dewasa setelah 3 minggu. Lama prepatent periode atau pertama infeksi sampai menghasilkan
telur adalah 3 – 4 minggu di tubuh anak sapi. Di sapi dewasa lamanya tergantung pada
migrasi larva dan lama periode dorman di dalam jaringan.
Penanganan dan Pengobatan
Untuk cacing deasa menggunakan antihelmin dengan spectrum luas biasanya efektif,
contohnya benzimidazoles, levamisole, dan lain lain. Namun antihelmin ini tidak terlalu baik
efeknya jika digunakan untuk larvae migrant. Sehingga untuk penanggulangan larva harus
dilakukan pengulangan obat cacing.
3.2.12 Syngamus trachea

Klasifikasi

Filum : Secernentea
Class : Nematoda
Familia : Syngamidae
Ordo : Strongylida
Genus : Syngamus
Spesies : Syngamus trachea

Telur Syngamus sp.


(dokumen pribadi)

Host dan predileksi : Unggas di trachea (tenggorokan).


Inang Antara : siput Planorbarius corneus, Bithynia tentuculata
Siklus Hidup :
Ketika cacing betina bertelur didalam trachea hewan yang terinfeksi, telur-telur itu
batuk, ditelan lalu buang air besar. Burung terinfeksi parasit ketika mereka mengkonsumsi
telur ditemukan dalam feses atau dengan mengkonsumsi inang antara.

Kepentingan :

Infeksi berat dapat mengakibatkan fibrosis hepatis dan hepar pucat. Terjadi nekrosis
hemoragik pada mukosa duodenum dan ileum pada stadium larva akibat sucker yang
tertancap pada mukosa.

Pencegahan dan pengobatan :

Obat ivermectin sering digunakan untuk mengendalikan infeksi cacingan pada burung

3.2.13 Capillaria sp.


Klasifikasi
Kindom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Enoplea
Ordo : Enoplida
Famili : Capillaridae
Genus : Capillaria

Pada kalkun pada unta pada ayam


Telur Capillaria sp.
(dok. Pribadi)

Host dan Predileksi : mamalia , rodensia , serigala , manusia, anjing, kucing , sistem
respirasi, sistem urinari, hepar, lambung .

Kepentingan
Parasit dapat mengiritasi mukosa vesica urinaria , terkadang dengan sulit buang air
yang menyakitkan dan inkontinensia. Cacing dilaporkan menginfeksi usus besar tetapi telah
ditemukan juga di kandung kemih kucing, mengakibatkan penyakit saluran kemih kucing
(FLUTD). Pada kucing dengan infeksi berat, gejalanya dapat berupa sering buang air kecil,
buang air kecil yang menyakitkan, kencing berdarah, merejan .Kucing yang terinfeksi
biasanya berusia di atas 8 bulan. Tanda-tanda atau gejala klinis kucing yang terkena termasuk
sakit perut, demam, kandung kemih yang terasa buncit dan penyumbatan kemih. Diagnosis
didasarkan pada penemuan larva dan fragmen tahapan dewasa dalam sedimen urin.

Siklus Hidup
Pada anjing dan kucing, telur Capillaria plica dilepaskan dalam urin inang definitif
mamalia. Larva tahap pertama (L1) berkembang di dalam kulit telur dalam 30-36 hari. Ketika
dimakan oleh inang perantara - cacing tanah dari genera Lumbricus atau Dendrobaena —
larva L1 menetas di usus cacing tanah. Larva menggali melalui dinding usus dan menjadi
tertanam dalam jaringan ikat di seluruh tubuh cacing. Jika cacing tanah dimakan oleh inang
mamalia yang cocok, larva berganti kulit menjadi larva tahap kedua (L2), menggali melalui
dinding usus, dan berganti kulit lagi menjadi larva tahap ketiga (L3). L3 dibawa melalui
sistem peredaran darah ke glomeruli ginjal. Dari sana, mereka melakukan perjalanan
menuruni ureter ke kandung kemih. Menjelang 33 hari pasca infeksi, larva stadium ketiga
(L3) dan keempat (L4) ditemukan di kandung kemih. Di sini mereka menjadi dewasa dan
bereproduksi secara seksual, menumpahkan telur yang telah dibuahi ke dalam urin inang
dalam waktu sekitar 60 hari infeksi.

Penanganan dan Pengobatan


Sejauh ini tidak ada vaksin yang benar terhadap cacing Capillaria. Parasit ini siap
diobati dengan obat-obatan berpemilik seperti fenbendazole dan ivermectin. Fenbendazole
diberikan dengan dosis 25 mg / kg setiap 12 jam selama 10 hari.

3.2.13 Rhabdia sp.

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Secernata
Ordo : Rhabditida
Famili : Rhabditidae
Genus : Rhabdia
Spesies : Rhabdia sp.

Rhabdia sp.
(dok. Pribadi)

Inang : Ular piton

Morfologi
Telur cacing Rhabdias sp berukuran sebagai berikut : panjang 108 μ dan lebar 52 μ.
Siklus hidup
Rhabdias sp memiliki siklus hidup langsung dan merupakan parasit yang umum pada
ular, katak, kodok dan bunglon.Larva yang menetas dari telur bisa masuk ke hospes melalui
penetrasi perkutan dan melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi stadium
infektif (Klingenberg, 2007). Cacing dewasa Rhabdias sp mempunyai ukurannya sangat
bervariasi tergantung pada stadiumnya. Misalnya, stadium dewasanya cacing Rhabdias
agkistrodonisberukuran 4,1-6,4 mm, sedangkan stadium saprophytic berukuran <1,5 mm.
Variabilitas ukuran panjang dapat terjadi diantara spesies dan genusnya (Frye, 1991;
Klingenberg, 2007; Rataj, et al. 2011). Cacing Rhabdias sp mengeluarkan telur atau larva di
dalam paru-paru, stadium larva pertama (L1) akan bermigrasi keluar dari paru-paru melalui
trakea dan menuju ke dalam rongga mulut, selanjutnya bisa keluar langsung dari rongga
mulut atau tertelan kedalam saluran cerna dan akhirnya keluar bersama feses. Larva terus
berkembang, berkembang mencapai stadium ketiga (L3) yang bersifat infektif. Infeksi per-os
atau dengan menembus kulit (integument) (Klingenberg, 2007).

Pencegahan
Prevalansi infeksi cacing nematoda dari ular piton sangat tonggi sehongga perlu
diberikan pengobatan dan perbaikan lingkungan tempat tinggal ular agar siklus penularaan
dapat terhenti dan onfestasi telur cacing tidak semakin parah yang dapat mengancam inang
yang ditempatinya.

3.2.15 Isospora sp.

Klasifikasi

Kingdom : Protista
Filum : Apicomplexa
Kelas : Conoidasida
Ordo : Eucoccidiorida
Famili : Eimeriidae
Genus : Isospora
Spesies : Isospora felis
Isospora canis

Pada anjing pada domba


Telur Isospora sp.
(dok. Pribadi)
Morfologi
Pada stadium ookista Isospora memiliki dua sporokista, dan masing-masing
sporokista berisi empat sporozoid. Umumnya stadium ookista berbentuk bulat, subsperikal,
atau elipsoid dengan ukuran yang beragam sesuai dengan spesiesnya. Dinding ookista terdiri
dari dua lapis yangberbatas jelas. Spesies isospora yang menginfeksi kucing tidak memiliki
mikrofil (Levine, 1995). Ookista isospora felis merupakan ookista terbesar dari subordo
Isospora sp. yang ditemukan pada kucing. Ookista isospora felis berbentuk ovoid 32-53x26-
43 µm dengan dinding licin, kekuningan hingga coklat pucat, dan tanpa mikropil. Badan
inklusi dapat diamati antara sporokista dan dinding ookista pada ookista yang baru
dikeluarkan bersama feses. Sporokista berukuran 20-26x17-22 µm dan mengandung dua
residu sporokista dan empat sporozoid tetapi tidak memiliki Stieda body. Sporokista residu
merupakan granul dan mungkin memiliki refraksi sporoziod berukuran 10-15 µm panjangnya
yang terletak di dalam sporokista, berisi inti tunggal dan globul refraksi (Taylor, 2007).

Host : Anjing, kucing

Predileksi : Usus halus

Kepentingan

Hewan muda yang terkontaminasi memperhatikan gejala serius sedangkan hewan tua
bertindak sebagai carier. Pada pemeriksaan pascamati usus halus dipenuhimassa
yangbercampur lendir dan darah, dinding usus menebal dan mukosa tampak perdarahan titik
(ptechiae) disertai ulserasi di berbagai permukaan usus halus terutama pada bagian distal.

Siklus hidup
Isospora mempunyai siklus hidup yang langsung dan tidak mempunyai induk semang
antara. Isospora ditularkan ditularkan dari hewan satu ke hewan lainnya dengan ditelannya
ookista, dan ookista bersporulasi di luar tubuh indu semang, merozoid dan ookista dihasilkan
di dalam sel-sel usus.
Siklus hidup dari semua anggota Isospora adalah sama. Ookista berwarna merah
muda, berbentuk ovoid dan memiliki dinding tipis tanpa mikropil. Pada tinja yang baru
dikeluarkan ookista tidak bersporulasi. Dalam waktu 4 hari terjadi sporulasi. Seluruh
perkembangan Isospora terjadi di usus halus.
Pengendalian / Pengobatan

Kebersihan merupakan tindakan paling penting untuk mencegah infeksi parasit, pakan
dan minum harus terhindar dari kontaminasi tinja, serta harus dilakukan pengendalian
terhadap vektor penyakit.

3.2.16 Mecistocirus digitatus

Klasifikasi
Filum : Nemathelminthes
Subclass : Secernentea
Class : Nematoda
Ordo : Strongylida
Famili : Trichostrongylidae
Genus : Mecistocirrus
Spesies : Mecistocirrus digitatus

Telur Mecistocirrus digitatus


(dokumentasi pribadi)

Morfologi
- Panjang cacing jantan sampai 31 mm. Panjang cacing betina 43 mm.
- Cervical papila menonjol.
- Buccal capsul kecil mengandung lancet seperti Haemonchus.
- Pada cacing betina, ovari berbentuk spiral di dekat intestine.
- Vulva terletak 0,6-0,9 mm dari ujung ekor.
- Bursa kecil, lobus dorsalis simetris.
- Ventro-ventral rays kecil dan nyata lebih panjang daripada yang lain.
- Spikula ramping, panjangnya 3,8-7 mm.
- Ukuran telur 95-120 × 56-60 µm.
Host dan Predileksi : Abomasum domba, sapi, zebra, kerbau dan lambung babi.
Kepentingan : penyebab penyakit mecistocirrosis pada abomasum sapi.
Siklus Hidup
Telur keluar bersama feses, menetas dan berkembang menjadi larva infektif. Infeksi
terjadi pada saat inang merumput yang terkontaminasi larva infektif. Periode prepaten ± 60
hari, menurut Darmono dkk. (1980) pada sapi 56 hari dan pada kerbau 105 hari. Stadium
larva IV berlangsung cukup lama, yaitu pada hari ke 9 sampai hari ke 28 setelah infeksi.
Cacing ini cukup patogen pada kerbau, sapi dan kambing.
Penanganan dan Pengobatan
Pencegahan infeksi dilakukan dengan vaksinasi, penggunaan antihelmintika
(Phetonazin 2,5% dari molasses) pada padang rumput untuk menurunkan populasi larva,
pengobatan periodik dan preventif seperti Ivermectin 200 µg/kg single dose.

3.2.17 Moneizia expanza

Klasifikasi
Kindom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Cestoda
Ordo : Anoplochepalidae
Famili : Anoplochepalidae
Genus : Moniezia
Spesies : Moneizia expanza

Telur Moneizia expanza


(dok. Pribadi)

Host dan Predileksi : Usus halus domba, kambing, sapi dan bangsa ruminansia lainnya.
Kepentingan
Gejala klinis tidak akan nampak dalam waktu yang singkat, gejala akan nampak
apabila sudah parah dan cacing menyebar ke seluruh tubuh. Gejala nampak adalah sapi
mengalami gangguan pencernaan seperti diare dan gangguan absorbsi makanan. Namun
gejala yang akut seperti keracunan yang diakibatkan racun yang dihasilkan dari ekskresi
cacing dewasa dapat menyebabkan gangguan metabolisme pada sapi.

Siklus Hidup
Cysticercoid berkembang pada Oribated mites (tungau) dari genus Galumna,
Scheloribates, Oribatula. Telur cacing dikeluarkan bersama feses penderita (host) satu persatu
dalam keadaan berkelompok dalam segmen yang terlihat sebagai butiran-butiran beras. Bila
segmen-segmen dimakan oleh familia Oribatidae maka dindingnya akan sobek dan seluruh
telur termakan oleh tungau tersebut. Didalam tungau Oncosper akan tumbuh membesar dan
akan mencapai jumlah 14 sel. Setelah 8 minggu Oncosper mempunyai 12 kait. Dan pada
minggu ke 15 akan membentuk cysticercoid.
Pengendalian dan pengoabatan
Kontrol terhadap tungau, tungau bersifat fototropisme negatif. Dichlorophene 300-
600 mg per kg BB Yomesan 75 mg per kg BB

3.2.18 Ancylostoma spp.


Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Secernentea
Ordo : Strongylida
Famili : Ancylostomatidae
Genus : Necator / Ancylostoma
Spesies : Ancylostoma duodenale
Necator americanus
Ancylostoma brazilliense
Ancylostoma ceylanicum
Ancylostoma caninum
Telur Ancylostoma sp.
(dok. Pribadi)

Morfologi
Cacing ancylostoma berukuran 10-20 mm. Telur termasuk tipe stongyloid yaitu
berdinding tipis, oval, dan bila dikeluarkan dari tubuh biasanya memiliki 2-8 gelembung
dalam stadium blastomer. Ukuran cacing dan telur cacing tembang pada anjing dan kucing
adalah sebagai berikut :

Spesies Ukuran cacing Ukuran telur (µ) Fecundity


dewasa (mm) (epg
tinja/cacing ♀)

A. caninum ♂ : 10-12 (56-75) x (34-47) 844


♀ : 15-18
A. braziliense ♂ : 6-8 (75-95) x (41-45) -
♀ : 7-10
U. stenophala ♂ : 5-8 (63-76) x (32-38) 468
♀ : 7-12
A. tubaeforme ♂ : 9,5-11 (55-75) x (34,4-44,7) -
♀ : 12-15
Anjing dapat terinfeksi oleh ketiga spesies tersebut, kecuali A. tubaeforme (yang
hanya dapat menginfeksi kucing (subronto, 2006).

Predileksi
Cacing Ancylostoma mempunyai predileksi pada mukosa usus halus anjing, kucing,
rubah, anjing hutan, serigala dan carnivore liar lainnya.

Kepentingan/gejala klinis
Hewan yang terinfeksi Ancylostima akan menunjukkan gejala klinis berupa feses
berdarah yang menyebabkan melena, feses lembek dan berwarna gelap, anorexia, emasiatio,
anemia akut berupa normositik normokroik diikuti oleh anemia hipokromik mikrositik yang
ditandai dengan pucat pada selaput lendir mulut, mata dan vagina serta kulit terutama daerah
perut. Infeksi cacing Ancylostoma dalam usus halus dapat menyebabkan beberapa perubahan
patologi dan fungsi tersebut. Perubahan-perubahan patologi dan fungsi tersebut meliputi
anemia, radang usus ringan sampai berat, hipoproteinemia, terjadinya gangguan penyerapan
makanan dan terjadinya penekanan terhadap respon imunitas.

Siklus hidup

Daur hidup cacing tambang bersifat langsung, tanpa hospes antara. Hospes paratenik,
yaitu hewan bukan spesies utama, misalnya mencit, yang mengandung larva cacing bila
terkonsumsi oleh hospes utama, tidak dianggap sebagai hospes antara (intermediate-host)
(subronto, 2006).
Cacing dewasa hidup dari menghisap darah di usus halus. Cacing selalu berpindah-
pindah dalam menusuk mukosa usus hingga meninggalkan luka-luka yang perdarahannya
berlangsug lama, karena cacing tersebut menghasilkan toksin anti koagulasi darah. Cacing
betina menghasilkan telur dalam jumlah besar, bahkan seekor cacing diperkirakan mampu
bertelur sebanyak 10-30.000 telur perhari (Sousby, 1977). Diperkirakan seekor anak anjing
yang terinfeksi berat dalam tinjanya mengandung 5 juta telur per hari, selama satu bulan.
Jumlah tersebut setara dengan 250 ekor cacing betina yang masing-masing membebaskan
20.000 telur per hari (Levine, 1994).
Satu sampai dua hari setelah dibebaskan di dalam tinja di tempat yang lembab atau
basah, telur akan menetas dan terbebaslah larva stadium pertama. Setelah lebih kurang satu
minggu akan terbentuk larva infektif atau stadium ketiga dan siap menginfeksi hewan yang
rentan. Kondisi sekitar telur yang kering atau sebaliknya membeku seperti yang biasas
terdapat di pegunungan atau di daerah empat musim, akan memperpanjang waktu
perkembangan larva atau malah mematikannya. Biasanya factor-faktor suhu dan kelembaban
di suatu daerah menetukan kelangsungan hidup larva dan cacing di daerah tersebut (Levine,
1994). Beberapa penelitian menunjukkan larva hidup bebas membutuhkan waktu 58-66 jam
untuk mencapai stadium infektif pada suhu 300C dan 9 hari pada suhu 170C. Telur pertama kali
muncul pada feses 15-18 hari setelah infeksi pada anjing muda dan 15-26 hari pada anjing yang lebih
tua.

Proses infeksi ke dalam tubuh hospes dapat berlangsung melalui berbagai cara yaitu :
1. infeksi melalui kulit ( per kutan )
Larva stadium ketiga yang infektif, lngsung menembus kulit yang segera
diikuti proses migrasi larva ke dalam pembuluh darah atau limfe, langsung ke jantung,
paru-paru, dan selanjutnya menuju pangkal tekak, kerongkongan, dan lambung.
Selanjutnya larva akan berubah (moulting)menjadi cacing dewasa muda di dalam usus
halus. Pada anak anjing yang rentan, waktu atau periode prepaten yaitu sejak larva
menembus kulit sampai dewasa di dalam usus halus, adalah 14-17 hari. Infeksi per
kutan lebih banyak terjadi pada cacing A. caninum, A braziliense, dan A. tubaeforme
daripada U. stenocephala, yang lebih banyak mengambil cara per oral.
2. infeksi secara per oral
Larva stadium ketiga yang infektif memasuki tubuh melalui mulut. Bersama
makanan atau cairan (air susu), yang dikonsumsi. Larva tersebut bermigrasi ke dalam
lapisan atas dari mukosa usus halus dalam beberapa hari setelah tertelan kemudian
kembali ke lumen usus halus. Di dalam lumen berkembang menjadi dewasa setelah
mengalami dua kali moulting.
Pada anak anjing dan kucing yang rentan periode prepaten minimum adalah 14-17
hari, sama dengan cara infeksi perkutan setelah larva terkonsumsi. Sebagian kecil
larva yang menembus mukosa usus mungkin menembus dinding usus dan memasuki
pembuluh darah dan mencapai dewasa setela melalui paru-paru, kerongkongan,
lambung dan akhirnya usus seperti larva yang masuk per kutan.
3. infeksi trans mamaria dan intra uterus
Dalam migrasinya larva dapat mencapai uterus, menmbus selaput janin hingga
anak anjing yang baru dilahirkan pun telah mengandung larva di dalam tubuhnya.
Larva tersebut dapat juga mencapai kelenjar susu dan dapat terlarut dalam air susu
hingga anak anjing yang masih menyusu pun dapat terinfeksi melalui air susu yang
diminum. Larva stadium ketiga dapat diisolasi dari kelenjar susu induk pada hari ke-
20 pasca lahir. Larva tersebut tidak hanya dapat diisolasi dari kolostrum tetapi sudah
diekskresikan sejak dua sampai dengan sepuluh hari pasca lahir (sampai periode
laktasi berakhir).
4. infeksi melalui hospes paratenik (paratenic host)
Larva yang bermukim di dalam tubuh hewan yang bertindak sebagai hospes
paratenik misalnya mencit dapat menginfeksi anjing dan kucing atau spesies lain yang
rentan cacing tambang, bila binatang hospes paratenik tersebut dikonsumsi olehnya.
Larva tersebut mungkin telah berbulan-bulan tinggal di dalam jaringan tubuh binatang
hospes dimaksud.
Pengendalian dan pengobatan

Obat cacing dipasaran dalam dua dekade ini terbukti mempunyai efesensi yang cukup
tinggi. Tidak hanya satu spesies cacing yang dapat diobati namun beberapa spesies dapat
diobati dengan satu jenis obat cacing. Biasanya abat cacing berasal dari satu golongan obat
ataupun berasal dari beberapa golongan obat. Pengobatan ancylostoma cacinum dapat
digunakan misal dengan Canex atau Telmin biasanya dilakukan pada umur 6-12 minggu,
pengobatan dilakukan setiap 2-4 bulan. Anjing betina dewasa diobati 2 kali, dengan antara 2
minnggu, pada saat bunting dan menyusui masing-masing dilakukan satu kali.
Berdasarkan periode prepaten cacing yang berlangsung sekitar 3 minggu, pengobatan
cacing sebaiknya dilakukan sebagai berikut. pengobatan pertama baiknya dilakukan umur 2-4
minggu, diulang 2-3 bulan kemudian. Pada umur 3-6 bulan diobati lagi, dan selanjutnya
diobati secara teratur tiap 3-6 bulan sekali.
Pengobatan selanjutnya dilakukan setelah setiap3 -6 bulan dengan obat yang
mempunyai spektrum luas ,misalnya mebendasol. Pencegahan yang dilakukan dengan
penyuntikan disophenol dipandang tidak efektif lagi terutama didaerah yang lembab panas,
dengan suhuudara antara 20-30oC.

3.2.19 Toxocara cati

Klasifikasi
Phylum : Nemathelminthes
Class : Nematoda
Subclass : Secernentea
Ordo : Ascaridida
Famili : Ascarididae
Genus : Toxocara
Species :Toxocara cati

Telur Toxocara cati


Morfologi
Toxocara cati jantan mempunyai ukuran 2,5-7,8 cm, sedangkan yang betina
berukuran 2,5-14 cm. Bentuknya menyerupai Ascaris lumbricoides muda. Pada Toxocara cati
bentuk sayap lebih lebar sehingga kepalanya menyerupai ular kobra. Bentuk ekor jantan
seperti tangan dengan jari yang sedang menunjuk (digitiform), yang betina ekornya bulat
meruncing.

Predileksi
Toxocara dewasa hidup didalam usus halus anjing atau kucing.

Kepentingan/gejala klinis
Berdasarkan pada siklus hidup, gejala klinis yang muncul mencakup gejala yang
muncul karena migrasi larva dan gejala klinis yang muncul karena cacing dewasa. Gejala
klinis yang muncul juga tergantung kepada seberapa berat infestasi parasit, yang bergantung
kepada jumlahnya. Gejala klinis dapat mencakup pembesaran abdomen, kegagalan
pertumbuhan, muntah dan diare. Infeksi dalam jumlah sedikit dapat menghasilkan jumlah
telur yang sedikit pula dalam feses, karena itu diagnosis akurat membutuhkan prosedur uji
pengapungan telur.
Hewan yang mengalami infestasi cacing yang berat dapat menunjukkan gejala
kekurusan, bulu kusam, perbesaran perut (pot-belly), juga gangguan usus yang antara lain
ditandai dengan sakit perut (kolik). Obstruksi usus baik parsial maupun total, dan dalam
keadaan ekstrim terjadi perforasi usus hingga tampak gejala peritonitis. Pada beberapa kasus
bisa menunjukkan anemia, muntah, diare atau konstipasi. Pada kasus yang sangat berat tapi
jarang terjadi, bisa terdapat obstruksi usus. Gejala batuk dapat teramati sebagai akibat adanya
migrasi melalaui sistema respirasi. Pada hewan muda, migrasi larva dapat berakibat
pneumonia. Adanya cacing yang banyak menyebabkan penurunan bahan makanan yang
diserap, hingga terjadi hipoalbuninemia, yang selanjutnya menyebabkan kekurusan dengan
busung perut (asites). Perut memperlihatkan pembesaran dan tampak menggantung.

Siklus Hidup
Toxocara cati memiliki siklus hidup yang kompleks dan sangat efektif.
1. Ingesti telur (infeksi langsung)
Setelah kucing memakan telurnya infektif yang mengandung larva stadium kedua, telur
menetas dan larva stadium ketiga memasuki dinding usus halus. Larva bermigrasi
melalui sistema sirkulasi dan dapat menuju ke sistema respirasi atau organ dan jaringan
lain dalam tubuh. Jika memasuki jaringan tubuh, mereka dapat mengkista (dilapisi
dinding dan inaktif). Larva tersebut dapat tetap mengkista dalam jaringan berbulan-bulan
atau bertahun-tahun. Ini adalah pola migrasi yang lebih umum terlihat pada kucing
dewasa. Pada kucing yang sangat muda, larva bergerak dari sirkulasi ke sistema
respirasi, dibatukkan dan memasuki saluran digesti lagi. Larva kemudian menjadi cacing
dewasa. Cacing betina dewasa bertelur, telur dikeluarkan lewat feses. Telur tetap ada di
lingkungan dalam waktu 10 – 14 hari sampai menjadi infektif.
2. Ingesti hospes paratenik
Jika kucing menelan hospes paratenik seperti tikus, cacing tanah atau kumbang yang
memiliki larva yang mengkista, migrasi mirip dengan ingesti telur berlarva. Larva
dilepaskan dari hospes paratenik saat termakan dan dicerna. Larva memasuki sirkulasi,
mengadakan migrasi ke organ, misalnya sistem respirasi.
3. Larva melalui air susu
Selama periode perinatal, larva dormant (stadium 1) yang ada di tubuh induk dapat
mulai bermigrasi ke glandula mammae, berubah menjadi larva stadium lalu ke dalam air
susu. Anak kucing dapat terinfeksi melalui air susu. Larva yang tertelan menjadi larva
stadium ketiga dan keempat, dan selanjutnya menjadi dewasa dalam usus anak kucing.
Jika larva dikeluarkan melalui feses anak kucing sebelum larva tersebut dewasa, larva
tersebut dapat menginfeksi induk saat menjilati anaknya. Sekitar 4 minggu setelah
kucing memakan telur infektif, cacing telah dewasa dalam usus, dan telur dikeluarkan
lagi.

Pengendalian dan Pengobatan


Pencegahannya dengan cara deworming secara teratur, higienitas pakan dan
lingkungan, dan kontrol terhadap populasi hospes intermedier dan paratenik. Pemeriksaan
feses harus dilakukan segera setelah anak kucing lepas masa sapih; 4 – 8 minggu setelah
treatment berakhir; pemeriksaan reguler setahun sekali, dan sebelum betina dikawinkan.
Pemberian obat cacing hendaknya dilakukan minimal 1 tahun sekali.
Banyak obat cacing membunuh cacing dewasa, tetapi tidak berefek terhadap larva
yang bermigrasi maupun larva dalam kista. Karena itu banyak yang menganjurkan
deworming 2 – 4 minggu setelah treatment terakhir. Pada saat treatment terakhir, kebanyakan
larva masih bermigrasi, dan saat treatment dilakukan kedua kalinya diharapkan larva telah
sampai di usus dan bisa terbunuh oleh obat cacing.
Anak kucing sangat terancam infeksi sampai umur 6 bulan, karena itu sangat penting
untuk memberikan obat cacing secara reguler. Anak kucing ekskresi telur terjadi lebih cepat
daripada anak anjing, deworming mulai dapat dilaksanakan secara efektif mulai umur 2 – 3
minggu, diulangi pada minggu ke 5, 7 dan 9.
Pada induk kucing, treatment dilakukan bersama anaknya. Kucing dewasa ditreatment secara
reguler, dilakukan monitoring agar eliminasi parasit dapat terawasi. Untuk hewan yang
dicurigai baru tertular dilakukan pemberian obat cacing secepatnya, setelah dua minggu
diikuti terapi selanjutnya seperti diatas. Jika pemilik hewan baru mendapatkan anak kucing
baru, hendaknya bertanya soal riwayat pemberian obat cacing pada anak kucing tersebut.

3.2.20 Passalurus ambigus


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Kelas : Nematoda
Ordo : Oxyurida
Super famili : Oxyuroidae
Famili : Oxyuridae
Genus : Passalurus
Spesies : Passalurus ambigus

Telur Passalurus ambigus


(dok. Pribadi)

Siklus hidup
Telur Passalurus ambigus berukuran sekitar 100x43mm. Selama perkembangannya,
resistensi terhadap dehidrasi meningkat. Larva akan muncul dari telur dan berkembang di
lapisan mukosa usus dan sekum, selanjutnya larva akan berkembang menjadi cacing dewasa.
Sebuah penelitian waktu yang diperlukan untuk berkembangnya larva dari cacing dewasa di
mukosa usus membutuhkan waktu sekitar 1-3 hari.
Cacing dewasa memiliki ukuran yang berbeda, jantan lebih kecil (± 5 mm)
dibandingkan betina (± 10 mm). Cacing betina melatakan telur Passalurus ambigus di anus.
Hidup cacing kira kira sekitar 106 hari.
Predileksi :Usus dan sekum

Inang : Kelinci, Iguana

Kepentingan dan gejala klinis


Passalurus ambigus bersifat non-patologis dan keberadaannya tanpa gejala, bahkan
ketika infestasi parah. Inang dapat terinfeksi oleh lebih dari 1000 cacing parasit. Telur dan
kadang-kadang cacing dewasa hidup dan dapat diamati melalui feses yang baru dikeluarkan.
Setelah keluar dari tubuh inang, cacing akan mengering dengan cepat dan tidak dapat terlihat
lagi setelah 5 menit. Sangat menarik untuk dicatat bahwa cacing betina yang muncul dari
anus inang mengandung telur pada stadium gastrula yang mampu berkembang menjadi
stadium infektif di lingkungan.
Pengobatan:
1. Piperazine : 200mg/kg per oral (Hillyer dan Quensenberry, 1997).
2. Benzimidazole :
 Fenbendazole: 20 mg/kg per oral, diulangi setelah hari ke 10-14 hari.
 Thiabendazole: 100-200mg/kg per oral, sekali pengobatan
100mg/kg sekali pemgobatan + 70 mg/kg untuk 8 dosis (Hillyer dan
Quensenberry, 1997).
 Mebendazole: 20-50mg/kg sekali pengobatan
 Oxibendazole: 15 mg/kg, diulangi setelah hari ke 14
3. Macrolide:
 Ivermectin: 0.4mg/kg, setelah selesai fase inefektif. (Tsui dan Patton, 1991).
Pencegahan:
Standar pemeliharaan dan kebersihan yang memadai dan mengurangi resiko parasit
yang terlalu tinggi.

3.2.21 Balantidium coli


Klasifikasi
Filum : Ciliaphora (Ciliata)
Kelas : Kinetofragminophorasida
Ordo : Trichostomatorida
Famili : Balantidiidae
Genus : Balantidium
Spesies : Balantidium coli

Balantidium sp. Stadium kista

Balantidium sp. Stadium tropozoit

Morfologi
Parasit ini mempunyai 2 stadium perkembangan, yaitu: stadium trofozoit dan kista.
Morfologi Anggota dari genus Balantidium bentuk vegetatifnya (trofozoit) membentuk oval
sampai elips. Stadium (bentuk) trofozoit (vegetatif) berukuran panjang 150 um,
makronukleus terletak di subterminal tubuh dan berbentuk halter. Sitoplasma berisi beberapa
vokuola makanan dan 2 vokuola kontraktil. Seluruh permukaan tubuh tertutup oleh silia vang
tersusun seperti deretan longitudinal, silia merupakan alat gerak (lokomosi). Mempunyai 2
inti, yaitu: makronukleus yang berbentuk halter dan 1mikronukleus yang berbentuk bulat,
bertanggungjawab dalam proses reproduksi. Stadium vegetatif mempunyai peristom (mulut)
terletak di dekat ujung anterior dan berlanjut ke sitofaring (cytopharinx). Biasanya
merupakan parasit pada usus besar manusia, babi dan kera serta bersifat patogen. Selain
mempunyai trofozoit, parasit ini juga mampu membentuk kista. Stadium kista berbentuk
ovoid sampai sperikal, berukuran 40-60 um. Di dalam kista masih terlihat makronukleus,
mikronukleus dan vokuola kontraktil. Silia tidak terlihat, tertutup dinding kista, Dinding kista
terdiri atas 2 membran.
Host :Babi, golongan primate tinggi, dan manusia

Predileksi :Lumen colon

Siklus hidup
Infeksi Balantidium coli terjadi dengan memakan bentuk kista melalui makanan atau
minuman yang tercemar. Pada usus halus kista akan mengalami eksistasi yakni proses
keluarnya tropozoit dari kista. Bentuk tropozoit ini akan bermutiplikasi dengan cara
konjugasi di dalam lumen ileum dan sekum. Selanjutnya di dalam kolon bentuk tropozoit
akan mengalami enkistasi yakni proses pembentukan kists dari fase tropozoit. Selanjutnya
kista akan dikeluarkan bersama tinja (Yulfi, 2006).

Kepentingan
Pada kondisi normal pada feses babi ditemukan Balantidium coli. Apabila
Balantidium coli menginfeksi dalam jumlah banyak, maka berinvasi ke mukosa dan
membentuk ulsera-ulsera, keadaan ini sering dihubungkan dengan enteritis. Balantidium coli
juga menyebabkan kerusakan pada inti dari sel epitel.

Pengendalian dan pengobatan


Pencegahan penyakit yaitu dengan cara menjaga kebersihan lingkungan termasuk vector
mekanik pembawa penyakit seperti lalat, kecoa, dan seterusnya. Pengobatan dapat dilakukan
dengan pemberian carbazone 250 mg/hari selama 10 hari, atau metronidazole, tetracycline,
dan iodoquinol.

3.2.22 Ascaris sp

Klasifikasi
Filum : Secernentea
Class : Nematoda
Familia : Ascarididae
Ordo : Ascaridida
Genus : Ascaris
Spesies : Ascaris suum
Telur Ascaris sp.
(dokumen pribadi)

Host dan predileksi : Usus Halus babi tapi bisa ditemukan di ruminansia dan manusia
Siklus Hidup :
Telur keluar bersama feses kemudian berkembang menjadi larva stadium II tanpa
menetas. Larva stadium dua ini merupakan stadium infektif yang dapat dicapai dalam waktu
kurang lebih 10 hari atau lebih teragntung pada temperatur sekitarnya. Telur tersebut diluar
tubuh inang sangat tahan terhadap keadaan sekelilingnya terutama terhadap keadaan yang
lembab.
Infeksi dapat terjadi karena hewan memakan pakan yang mengandung telur infektif
atau telur infektif yang melekat pada puting susu induknya tertelan anaknya. Setelah telur
termakan kemudian menetas didalam usus halus menjadi larva menembus dinding usus.
Larva kemudian menuju liver/ hepar melalui rongga peritoneum, tetapi sebagian besar
melalui aliran darah hepato-portal.
Larva dapat mencapai liver dalam 24 jam setelah infeksi. Dari liver akan terbawa
aliran daeah menuju jantung dan paru-paru, larva dapat tertahan pada kapiler paru-paru dan
sebagian terus mengikuti aliran darah arteri dan mencapai organ limpa dan ginjal. Sebagian
larva mengalami moulting menjadi larva stadium III pada hari ke 4 dan ke 5 setelah infeksi,
pada saat ini larva banyak tinggal didalam liver dan ada yang di paru-paru.
Larva yang di kapiler paru-paru akan keluar dari kapiler paru-paru menuju alveoli dan
melalui ductus alveolar menuju bronchioli kemudian ke bronchus dan trakhea. Kemudian
migrasi ke faring dan dapat tertelan. Larva stadium III akan sampai di usus pada hari ke 7-8
setelah infeksi. Pada usus halus akan mengalami moultinh menadi larva stadium V atau
cacing muda terjadi pada hari ke 21-29 setelah infeksi.

Kepentingan :
Menyebabkan penyakit ascariasis pada babi atau hewan terinfeksi. Pada kejadian
kronis dapat menumbulkan kerusakan sehingga dapat menyebabkan Hepatitis Interstitiel
Focal Chronis, setelah sembuh fibrosis nampak bintik-bintik putih pada hepar yang dikenal
dengan “Milk Spot Liver”. pada infeksi berat oleh larva Ascaris dapat menyebabkan
terjadinya penyumbatan Bronkhioli, sedangkan infeksi berat oleh cacing dewasa
menyebabkan perforasi usus dan dapat menyebabkan peritonitis.

Pencegahan dan pengobatan :


Membersihkan kandang induk yang menyusui, memandikan induk sebelum
dipindahkan kedalam kandang menyusui, vaksinasi dengan larva infektif dilemahkan
keganasannya dengan sinar X, pemanasan dan pembiakan ulanh pada perbenihan jaringan
dan memberikan obat cacing yang efektif. Albendazole, pirantel pamoat atau mebendazole
merupakan drug choice, sementara obat alternatifnya ialah piperazine.

3.2.23 Ascaridia galli


Klasifikasi
Kindom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Secernentea
Ordo : Ascaridida
Famili : Ascaridiidae
Genus : Ascaridia
Spesies : Ascaridia galli

Pada bebek pada ayam pada julang emas


Telur Ascaridia galli
(dok. Pribadi)

Host dan Predileksi : Ayam , Kalkun , merpati , puyuh ,usus halus.


Kepentingan
Cacing dewasa hidup di saluran pencernaan, apabila dalam jumlah besar maka dapat
menyebabkan sumbatan dalam usus. Penjelasan selanjutnya menyebutkan bahwa kerugian
disebabkan oleh karena cacing menghisap sari makanan dalam usus ayam yang ditumpangi
sehingga ayam akan menderita kekurangan gizi

Siklus Hidup
Ascaridi galli mempunyai ciri-ciri berwarna putih, bentuk bulat, tidak bersegmen dan
panjang 6 - 13 cm. Ascaridia galli umumnya yang jantan berukuran lebih besar daripada
betina. Pada cacing jantan diameter berukuran 30 - 80 mm, sedangkan pada betina
berdiameter 0,5 - 1,2 mm. Gambar .2, memperlihatkan cacing Ascaridia galli.Siklus hidup
Ascaridia galli pada ayam berlangsung 35 hari. Telur cacing akan keluar lewat tinja ayam dan
menjadi infektif dalam waktu 5 hari pada suhu optimum, yaitu 32 - 340C. Sewaktu ayam
sedang makan, telur infektif tertelan yang kemudian menetas di lumen usus. Larva cacing
melewati usus pindah ke selaput lendir. Periode perpindahan terjadi antara 10 - 17 hari dalam
masa perkembangan.
Dalam waktu 35 hari cacing menjadi dewasa dan mulai bertelur. Sesudah cacing
menjadi dewasa akan meninggalkan selaput lendir dan tinggal di dalam lumen usus. Ayam
yang masih muda paling peka terhadap kerusakan yang disebabkan oleh cacing ini. Apabila
cacing genus Ascaris yang ditemukan dalam usus halus terlalu banyak, ayam akan menjadi
kurus. Hal ini terjadi karena cacing yang memenuhi usus akan menghambat jalannnya
makanan, bahkan cacing mengeluarkan zat antienzim yang menyulitkan pencernaan
makanan.

Penanganan dan Pengobatan


Piperazine adalah obat pilihan. Obat terus menerus dalam pakan dengan hygromycin
B juga banyak digunakan. Piperazine dapat diberikan pada ayam dalam pakan (0,2-0,4%)
atau air (0,1-0,2%), atau sebagai perlakuan tunggal (50-100 mg / burung). Namun, piperazine
sangat tidak efektif untuk ayam muda, sementara tetramisole 89-100% efektif untuk ayam
dari berbagai umur. Obat yang lebih baru seperti albendazole dan levamisole juga sangat
efektif.Fenbendazole juga sangat efektif, 99,2-100% dan 69,0-89,6% efektif pada dosis
pemberian 60,6 ppm dan 30,3 ppm. Ivermectin juga terbukti 90 dan 95% efektif terhadap
cacing dewasa dan dewasa.

3.2.24 Emeria sp.


Klasifikasi
Filum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoa
Subkelas : Coccidia
Ordo : Eucoccidiidae
Subordo : Eimeriinai
Famili : Eimeriidae
Genus : Eimeria
Spesies : Eimeria ninakholyakimovae
Eimeria arloingi
Eimeria bovis
Eimeria zuernii
Eimeria bigemina
Eimeria tenella
Eimeria Necatrix
Eimeria magna
Eimeria stidae

Telur Eimeria sp.


(dok. Pribadi)
Morfologi
Berikut adalah ciri-ciri morfologis dari stadium ookista

 Ookista mengandung satu zigot. Ookista keluar dari sel epitel usus induk semang dan
dipasasekan ke luar bersama feses induk semang dalam keadaan belum berspora.
 Pada umumnya berbentuk bulat, subsperikal, ovoid atau elipsoid dengan ukuran yang
beragam sesuai dengan spesiesnya.
 Dinding kista terdiri atas 2 lapis yang berbatas jelas. Pada beberapa spesies dinding
luar berwarna kekuningan atau kehijauan dan beberapa ada yang mempunyai jalur-
jalur atau titik-titik. Lapisan luar dari dinding ookista terdiri atas protein dan lapisan
dalamnya tersusun oleh lemak.
 Beberapa spesies mempunyai mikrofil (micropyle). Mikrofil tertutup oleh tutup
mikrofil (micropyle cup), mempunyai bentukan garis lengkung pada dinding kista ke
arah luar yang disebut polar cup.
 Dalam ookista kadang terdapat organel badan residu (residual body) dan juga polar
granules tergantung pada jenis spesiesnya.
 Pada ookista yang berspora terbentuk sporozoit yang terbungkus dalam sporokista.
Sporokista pada umumnya berbentuk oval memanjang yang mempunyai satu atau
lebih titik ujung sporokista yang disebut badan stieda (stieda body). Tiap sporokista
mengandung sporozoit. Pada genus eimeria terdapat empat sporokista berisi dua
sporozoit.
 Sporozoit bentuknya bengkok seperti koma atau pisang. Sporozoit mempunyai
vakuola yang bulat dan granular sitoplasma yang berbeda dengan inti. Inti terletak di
sentral (tengah).

Host
Eimeria ninakholyakimovae : kambing dan domba
Eimeria arloingi : kambing
Eimeria bovis : sapi
Eimeria zuernii : sapi, zebra, kerbau air
Eimeria bigemina : kucing dan anjing
Eimeria tenella : ayam
Eimeria Necatrix : ayam
Eimeria Stidae : kelinci
Eimeria magna : kelinci
Predileksi :Intraseluler sel epitel usus
Siklus hidup
Siklus hidup Eimeria spp. terdiri atas 2 stadium yaitu aseksual dan seksual. Stadium
aseksual terdiri atas sporogoni dan skizogoni, sedangkan stadium seksual yaitu gametogoni.
Ookista yang belum bersporulasi dikeluarkan bersama feses jika kondisi oksigen sesuai,
kelembaban tinggi dan suhu optimal sekitar 27°C nukleus membelah diri berubah menjadi
bulat untuk membentuk sporoblas. Sporoblas akan mensekresikan bahan pembentuk dinding
menjadi sporokista. Ookista matang terdiri dari 4 sporokista dan masing-masing sporokista
berisi 2 sporozoit, selanjutnya menjadi ookista bersporulasi yang merupakan stadium infektif
dari Eimeria spp.
Ookista bersporulasi tertelan oleh sapi dan sporozoit akan keluar dari sporokista.
Sporozoit akan menembus sel epitel saluran pencernaan menjadi tropozoit. Tropozoit matang
menjadi skizon melalui proses skizogoni. Skizon yang telah matang akan pecah dan merozoit
akan terlepas kemudian masuk ke dalam sel-sel epitel usus yang baru untuk membentuk
generasi kedua dari skizon. Tahapan ini dapat berulang dua atau tiga kali. Merozoit yang
dihasillkan akan berkembang menjadi salah satu gamet jantan dan gamet betina. Nukleus dari
mikrogamet (gametosit jantan) membagi diri menjadi banyak dan memproduksi mikrogamet
yang memiliki flagela. Mikrogamet yang memiliki flagela kemudian akan menuju ke
makrogamet (gametosit betina) untuk menghasilkan zigot. Zigot mengelilingi dirinya sendiri
dengan sebuah dinding, kesatuan zigot dan dinding yang mengelilinginya disebut ookista.
Ookista kemudian dikeluarkan bersama feses dalam bentuk belum bersporulasi (Levine 1985;
Cox 1993).
Kepentingan
Eimeria sp. pada ternak dapat menyebabkan penyakit koksidiosis. Koksidiosis
menimbulkan permasalahan yang cukup komplek di bidang kesehatan hewan dan ekonomi.
Gejala klinis yang diperlihatkan berupa kehilangan berat badan dan efisiensi pakan,
kelemahan, diare berdarah, depresi, lesu serta anemia (Pandit, 2009). Keparahan gejala klinis
yang timbul tergantung dari jumlah ookista yang tertelan, jika ookista yang tertelan banyak
maka gejala klinis yang ditimbulkan akan parah (Levine, 1985).Secara ekonomis penyakit ini
mempunyai arti yang penting karena dapat menimbulkan kerugian berupa penurunan berat
badan, pertumbuhan terhambat dan penurunan produksi, serta mortalitas pada ternak

Pengendalian dan pengobatan


Pengendalian dapat dilakukan dengan cara :

 Sanitasi yang baik adalah hal yang pokok dan kepadatan populasi akan mempermudah dan
memperparah penyakit
 Rotasi padang penggembalaan
 Diberikan obat koksidiosis dengan dosis pencegahan dapat menurunkan kejadian penyakit

Biasanya hewan yang terkena koksidiosis akan sembuh sendiri, asal tidak ada reinfeksi
dengan spesies yang sama. Pengobatan untuk stadium yang sudah lanjut tidak efektif.
Pengobatan untuk stadium awal infeksi dapat digunakan:

 Sulfaquinoxaline 6 mg/lb/hari selama 3-5 hari


 Amprolium 10 mg/kg/hari selama 5 hari
 Sulphadimine 1g/5 kg bb
 Zoaquin 1g/50 bb diberikan selama 1-3 hari
3.2.25 Raillietina tetragona
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Cestoda
Ordo : Davaineidea
Family : Davaneidae
Genus : Raillietina
Spesies : Raillietina tetragona

Telur Raillietinatetragona
(dokumen pribadi)

Bag. Posterior bag. Median bag. anterior


Cacing Raillietina ecinobothrida pada unggas
(dokumtasi pribadi)

Morfologi
- Raillietina tetragona merupakan cacing pita ayam yang tersebar dan mempunyai
ukuran panjang 25 cm.
- Lehernya tipis dan skoleks kecil yang dilengkapi dengan 100 kait kecil terdapatdalm
satu deret rostellum.
- Bentuk sucker oval dilengkapi dengan 8-10 deret kait kecil yang mudah terlepas.
- Setiap kantong telur mengandung 6-11 telur dengan diameter 25-50µm. Kantong telur
meluas kebagian lateral sampai saluran pencernaan.

Host dan Predileksi : usus halus ayam, burung merpati, ayam mutiara.
Kepentingan : menyebabkan penyakit cestodosis pada unggas.
Siklus Hidup
Penyebaran cacing Cestoda pada ayam sangat dipengaruhi oleh adanya inang
antara. Telur cacing Cestoda yang termakan oleh inang perantara (semut dan lalat Musca
domestica) akan menetas di dalamsaluran pencernaannya.Telur yang menetas berkembang
menjadi onkosfir yaitu teluryang telah berkembang menjadi embrio banyak sel yang
dilengkapi dengan 6 buah kait.Onkosfir selanjutnya berkembang menjadi sistiserkoid dalam
waktu 3 minggusetelah telur termakan oleh inang antara. Sistiserkoid tetep tinggal di dalam
tubuh inang perantara sampai dengan inang perantara tersebut dimakan oleh inang definitif
yaitu ayam.Setelah ayam memakan inang antara yang mengandung sistiserkoid,
makasistiserkoid terbebaskan oleh adanya aktivitas enzim pencernaan. Segera
setelahsistiserkoid bebas, skoleksnya mengalami evaginasi dan melekatkan diri pada
dindingusus. Segmen muda terbentuk di daerah leher dan akan berkembang menjadi
segmenyang matang dalam waktu 3 minggu. Pada saat segmen atau strobila berproliferasi
didinding leher, dinding sistiserkoid akan mengalami degenerasi dan menghilang.Selanjutnya
sistiserkoid berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus ayam dalamwaktu 20 hari.

Pengendalian dan Pengobatan


- Menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan di sekitar kandang.
- Manajemen pemberian pakan yang baik.
- Pemberian antibiotik dan vaksinasi ayam secara rutin.

3.2.26 Heterakis gallinarum

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Class : Secernentea
Subclass : Rhabditia
Ordo : Ascaridida
Famili : Ascarididae
Genus : Heterakis
Spesies : Heterakis gallinarum

Telur Heterakis gallinarum


(dokumen pribadi)
Morfologi
- Panjang cacing jantan 7-13mm, sedang cacing betina 10-15mm.
- Terdapat lateral alae yang besar disamping tubuhnya yang meluas ke posterior.
- Esofagus bagian posterior membentuk bulbus.
- Ekor cacing jantan dilengkapi alae yang besar, menonjol dan sirkuler, terdapat
precloacal sucker dan 12 pasang papillae.
- Spikula tidak sama, sebelah kanan langsing panjang ± 2mm, sedangkan yang kiri
mempunyai alae yang lebar dengan ukuran 0,65-0,7 mm.
- Vulva terbuka kebelakang terletak di pertengahan tubuhnya.
- Telur : kokoh, berdinding halus berukuran 65-80 × 35-46 µ. Tidak bersegmen ketika
dilepaskan.

Host dan Predileksi : sekum ayam, kalkun, itik, angsa dan sejumlah burung lainnya.
Kepentingan : bertanggung jawab terhadap kejadian blackhead pada ayam, karena ovum
cacing bisa mengandung protozoa yang disebut Histomonas meleagridis yang
menyebabkan blackhead.

Siklus Hidup
Telur berkembang diluar tubuh dan mencapai stadium infektif (telur mengandung
larva stadium II) dalam waktu 14 hari pada temperatur 27˚C, tetapi perkembangan dapat lebih
lama pada temperatur lebih rendah. Telur sangat resisten dan mungkin tetap hidup dalam
tanah selama beberapa bulan. Apabila inang menelan telur infektif, dalam waktu satu atau
dua jam sesudah infeksi akan menetas di intestine. Dalam waktu kurang lebih 4 hari cacing
muda berda dekat dengan sekum dan beberapa luka terjadi di epitel glandula.
Perkembangan larva stadium dua memerlukan waktu 2-5 hari di dalam epitel glandula
sebelum berkembang lebih lanjut di lumen. Moulting menjadi larva stadium III pada hari
keenam sesudah infeksi dan moulting menjadi larva stadium IV 10 hari, moulting menjadi
larva stadium V 15 hari sesudah infeksi. Periode prepaten (telur pertama kali dikeluarkan
feses) 24-30 hari sesudah infeksi. Cacing tanah mungkin/dapat bertindak sebagai vektor larva
stadium II ditemukan didalam tubuh cacing tanah, infeksi terjadi apabila unggas menelan
cacing tanah yang mengandung larva.

Pengendalian dan Pengobatan


- Manajemen kandang yang baik
- Menjaga pakan dan minum ayam tetap bersih agar tidak tertular telur cacing
- Sanitasi dan desinfeksi lingkungan kandang secara rutin

3.2.27 Eurytrema pancreaticum


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Kordata
Sub Filum :Vertebrata
Kelas : Trematoda
Ordo : Strongylidae
Famili : Ancylostomidae
Sub famili : Ancylostominae
Genus : Eurytrema
Spesies : Eurytrema pancreaticum

Cacing Eurytrema pancreaticum


(dok. Pribadi)

Inang : sapi, kambing, domba dan ruminansia lainnya


Predileksi : saluran pankreas
Morfologi :
Ukuran 8-16x8,5mm tubuhnya tebal dan berduri. Suckernya besar, oral sucker lebih
besar dari ventral sucker. Faring kecil dan esofagus pendek. Testis terletak horizontal, genital
pore bermuara sedikit di belakang percabangan intestin.
Siklus hidup
Siklus hidupnya memerlukan 2 inang perantara siput tanah, yaitu : bradybaena
similiaris merupakan inang perantara 1,2 generasi dari sporocyst terjadi didalam tubuh siput,
generasi ke 2 menghasilkan cercaria 5 bulan setelah infeksi. Cercaria menempel pada rumput
kemudian termakan oleh belalang. Metacercaria terjadi didalam tubuh Hemocoele dan
infektif setelah 3 minggu didalam tubuh belalang. Inang definitf terinfeksi karena memakan
belalang yang biasanya bersama-sama rumput dimana belalang tersebut mengandung
metacercaria.cacing muda migrasi melalui saluran pankreas.
Pengendalian
Pengendalian terhadap siput sebagai inang antara

3.2.28 Tanqua tiara


Tanqua tiara (T. tiara) adalah nematoda lambung dari Varanus (V. salvator), cacing
ini pertama kali diidentifikasi sebagai Ascaris tiara dan ditingkatkan menjadi genus Tanqua.
Tanqua memiliki hubungan dekat dengan Gnathostoma yang termasuk T. tiara, keluarga
Gnathostomatidae. Hasil identifikasi oleh Baylis dan Lane (1920) digunakan untuk meninjau
temuan identifikasi menunjukkan cacing menunjukkan memiliki ukuran yang lebih kecil,
perbedaan morfologi memiliki hubungan yang erat antara parasit dan inang, adaptasi inang
terhadap perubahan lingkungan akan berpengaruh terhadap morfologi parasit.

Bag. Anterior bag. Median bag. Posterior

Cacing Tanqua tiara


(dok. Pribadi)
3.2.29 Triodontophorus tenuicollis
Klasifikasi
Filum : Nematoda.
Superfamili : Strongyloidea
Keluarga : Strongylidae
Genus : Triodontophorus
Spesies : Triodontophorus serratus
Triodontophorus brevicauda
Triodontophorus minor
Triodontophorus tenuicollis
Triodontophorus nipponicus

Telur Triodontophorus sp.


(dok. Pribadi)

Hospes : Kuda

Predileksi :Usus besar (sekum dan kolon), larva biasanya ditemukan dalam nodul
diantara usus halus dan rektum.

Kepentingan
Infeksi yang berat dapat terjadi dengan anemia, oedem, hipoalbuminemia, diare,
Triodontophorus sp. bisa menginfeksi bersama-sama dengan nematoda yang lain.

Siklus hidup
Siklus hidup nematoda ini adalah langsung. Larva masuk kedalam dinding usus,
membentuk nodul diantara usus halus dan rektum. Kepalanya yang besar diantara anterior
cacing dewasa merupakan tanda-tanda khusus untuk identifikasi. Telur dapat ditemukan
dalam pemeriksaan feses sekitar 40 hari setelah infeksi dengan larva stadium 3.
Pengendalian / Pengobatan
Penanganan dan pengendalian helminthiasis dapat dilakukan dengan pemberian
anthelmintika seperti albendazole, ivermectin, levamisol, mebendazole dan piperazine (Astiti
dkk., 2011)

3.3 Protozoa
3.3.1 Anaplasma sp

Klasifikasi

Kingdom : Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Alphaproteobacteria
Ordo : Rickettsiales
Famili : Anaplasmataceae
Genus : Anaplasma (Levine, 1995)

Anaplasma
(dokumen pribadi)
Morfologi

Anaplasma berukuran kecil 0,3 – 0,5 µm, berbentuk kokoid sampai elips dan dapat
menyebabkan anaplasmosis (Boone et al. 2001). Anaplasma berwarna ungu dengan
pewarnaan Giemsa, terletak pada tepi maupun tengah sel darah (Quinn et al. 2008).
Anaplasma marginale bersifat patogen dan Anaplasma centrale n0n-patogen. Vektor dari
anaplasma adalah Boophilus, Rhipicephalus, Hyalomma, Demacentor dan Ixodes (Kocan et
al. 2004; Hamou et al. 2012). Anaplasma menyebabkan anemia, pyrexia, kelemahan, dan
ikhterus (Foley dan Biberstein 2004). Anaplasma sp. merupakan parasit darah yang memiliki
mortalitas pada hewan agak tinggi (Merchant dan Barner 1971), terdiri atas masa globular
padat berukuran 0,3 sampai 0,1 µm (Jensen., 1974).
Anaplasma sp. memiliki gambaran morfologi berbentuk bulat yang terletak di tengah
(Anaplasma centrale) dan ditepi (Anaplasma marginale) sel darah merah. Anaplasma sp.
yang diwarnai dengan pewarnaan Giemsa terdiri atas masa globular yang padat dengan
ukuran diameter 0,3 sampai 0,1 µm. Terlihat dibawah mikroskop elektron setiap Anaplasma
sp. terdiri atas suatukoloni yang berisi sampai 8 sub unit atau “initial bodies”, setiap sub unit
berukuran 0,16 – 0,27 µm x 0,24 – 0,52 µm. Anaplasma sp. di dalam eritrosit 65 % terdapat
di tepi dan sisanya pada lokasi sentral.

Host / Predileksi

Agen Penyebab Host Predileksi

Anaplasma bovis Haemaphysalis sp. Monosit, makrofag, eritrosit

Rhipicephalus sp.

Amblyoma sp.

Anaplasma ovis Dermacentor sp. Eritrosit

Ixodes sp.

Boophilus microplus

Anaplasma marginale Tabanus bovis (Hornok et al. Eritrosit


2008)

Ixodes sp.

Anaplasma central Dermacentor sp. Eritrosit

Anaplasma phagotophilum Ixodes sp. Granulosit

Dermacentor sp.

Kepentingan
Menyebabkan gejala klinis yang tidak jelas pada sapi, kurang dari 1 tahun, dan kejadian
fatal, per akut pada sapi lebih dari 3 tahun, gejala klinis yang dapat ditemukan antara lain
pyrexia, anemia, jaundice, anoreksia, nafas cepat, penurunan produksi susu dan abortus.
Anaplasma marginale yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit High fever, anemia,
bilirubinemia, bilirubinuria lebih patogen dari pada Anaplasma centrale, bebrapa hewan yang
dapat menjadi induk semang dari Anaplasma sp. kerbau, antelops, bison, unta, biri-biri dan
kambing (Astyawati, 2005).

Siklus hidup
Anaplasma sp. relatif dalam bentuk yang non-patogen, infeksi anaplasma sp. secara
murni jarang terjadi, biasanya infeksi anaplasma sp. akan bersamaan dengan Babesia sp. dan
atau Theileria sp. Anaplasma sp. mempunyai masa inkubasi yang sama dengan Theileria sp.
Anaplasma sp. ini diperkirakan memperbanyak diri dalam eritrosit dengan cara pembelahan
ganda dengan dengan pembentukan 8 bahan-bahan kecil “initial bodies” yang bulat
(Tampubolon, 2004).
Sel darah merah yang terinfeksi ikut bersama darah yang dihisap caplak yang
mengandung Anaplasma marginale ke sel-sel usus. Setelah Anaplasmamarginale berkembang
di sel-sel usus, banyak jaringan yang ikut terinfeksi, termasuk kelenjar saliva, dimana yang
menyebarkan ke vertebrata saat menghisap darah (Kocan, 1986; Kocan, dkk. 1992, dan Ge,
dkk. 1996). Dua bentuk dari Anaplasma marginale yang bentuk vegetatif (reticulated) dan
bentuk padat (dense) ditemukan di dalam sel caplak yang terinfeksi. Bentuk vegetatif
(retikulated) muncul pertama kali dengan pembelahan biner. Bentuk retikulated berubah
menjadi bentuk padat (dense) yang merupakan bentuk infektif dan dapat bertahan hidup di
luar sel. Sapi terinfeksi anaplasma marginale ketika bentuk padat disebarkan ketika caplak
menghisap darah melalui kelenjar saliva (Kocan dkk., 2004).

Pencegahan
Sistem pemeliharaan ternak merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam
kejadian penyakit parasit darah. Sistem pemeliharaan ternak sapi dibagi menjadi tiga, yaitu
intensif, ekstensif, dan mixed farming system (sistem pertanian campuran). Sistem
pemeliharaan ekstensif yaitu ternak dilepas di padang penggembalaan (Hernowo, 2006).
Usaha pencegahan penyakit yaitu sebelum kandang ditempati terlebih dahulu disiram dengan
air kapus supaya terbebas dari bibit penyakit, memandikan ternak sapi pukul 07.00 dan siang
pukul 13.00, membersihkan kandang dan selokan (Zakariah, 2013).
Beriajaya (2005) mengemukakan vektor yang berperan aktif dalam penyebaran penyakit
dapat terjadi dimana dan kapan saja, seiring dengan perubahan lingkungandia berada. Untuk
mengendalikan vektor yang berperan sebagai penyebar penyakit ini dapat dilakukan dengan
memutus daur hidup dan menggunakan insektisida. Setiap vektor memiliki siklus hidup yang
berbeda-beda, mulai dari telur, larva atau nimfe dan dewasa. Semuanya ini mempunyai
karakteristik sendiri yang spesifik dan sangat dipengaruhi keadaanlingkungan. Oleh karena
itu pengetahuan tentang epidemiologi dari vektor tersebut sangat penting dan diperlukan
untuk membuat program penanggulangannya. Keakuratan data dari sistem di alam yang
menyangkut sistem vector-borne disease dan agen penyakit-vektor-hospes akan
mempengaruhi model program penanggulangan yang akan diajukan (Randolph dan Nuttall,
1994).

Pengobatan
Anaplasmosis dapat diobati dengan tetracyclin tetapi proses penyembuhannya lama.
Pengendalian dari penyakit ini dapat menggunakan banyak faktor. Penting untuk
memperhatikan jarum atau alat-alat yang terkontaminasi. Ketika ingin melakukan
penyuntikan ke kelompok jarum diganti dengan pisau kastrasi, alat pemotong tanduk atau
instrumen tatto disimpan dan diberikan desinfektan (Powell, 2010).
Dosis tetracyclin untuk babi 22 mg/kg bb melalui intravena. Dosis untuk sapi 11 mg/kg
bb oral lima hari. Dosis untuk kuda 5-7,5 mg/kg bb melalui intravena.

3.3.2 Blastocystis sp.


Klasifikasi
Subkingdom : Protozoa
Filum : Sarcomastigophora
Ordo : Amoebida atau Blastocystea
Famili : Blastocystida
Genus : Blastocystis
Species : Hominis

TelurBlastocystis sp.
(dok. Pribadi)

Morfologi
Organisme yang polimorfik ini umumnya dijumpai dalam bentuk kista
bulatyangberdinding tebal, dengan ukuran antara 6-40 mikron. Blastocystis membentuk dua
bentuk yaitubentuk multi vakuoler dan bentuk amuboid yang akan berkembang menjadi
bentuk prakistaberdinding tipis yang dapat menyebabkan autoinfeksi.
Kepentingan/gejala klinis
Manifestasi Blastocystis hominisadalah kembung, diare ringan sampai sedang,
nyeri abdomen, anoreksia, berat badan turun, dan muntah. Karena organisme ini juga
sering tidak menimbulkan gejala, patogenitasnya masih diperdebatkan, sebagian
besar literatur menyatakan bahwa ketika Blastocystis hominis diidentifikasi dalam
tinja dari pasien yang bergejala, penyebab lain, seperti Giardia lambliadan
Cryptosporidium parvum sudah terinvestigasi sebelum menduga bahwa Blastocystis
hominisadalah penyebabnya.

Siklus Hidup
Kista menginfeksi sel epitel usus lalu memperbanyak diri secaraaseksusal dan tumbuh
menjadi bentuk vacuolar. Sebagian dari bentuk vakuolar akanberkembang menjadi bentuk
multi vacuolar yang kemudian akan berkembang menjadi bentukkista berdinding tipis yang
berperan dalam siklus autoinfeksi didalam tubuh hospses.
Bentuk vacuolar lainnya akan memperbanyak diri menjadi amuboid. Yang akan
berkembang menjadi bentuk prakista yang kemduian dengan proses skizogoni akan
tumbuhmenjadi bentuk kista berdinding tebal yang keluar bersama tinja dan merupakan
stadiuminfektif pada cara infeksi selanjutnya.
Pencegahan dan Pengobatan
Infeksi blastocystis dapat diobati dengan metronidazol dan iodokuinolin.
Untukmencegah terjadinya car infeksi secara fekal oral, maka makanan dan minuman yang
akandikonsumsi harus dimasak dengan baik. Selain itu pencemaran sumber air oleh tinja
harusdicegah dan menjaga kebersihan perorangan maupun lingkungan haru selalu dijaga

3.3.3 Haemoproteus sp.


Klasifikasi
 Filum : Protozoa
 Kelas : Sporozoa
 Ordo : Haemosporidia
 Famili : Haemoproteidae
 Genus : Haemoproteus
 Spesies : Haemoproteus columbae
Host : Burung dara dan merpati
Predileksi : Eritrosit

Haemoproteus sp.
(dokumen pribadi)

Morfologi

Dari beberapa stadium dalam siklus hidup Haemoproteus columbae, yang dapat
teramati dalam peredaran darah perifer hanyalah bentuk-bentuk gametosit. Sedangkan bentuk
skizon, sitomere, merezoit, oosit, dan sporozoit tidak terlihat sebab berada pada sel endotel.
Gametosit berukuran 8µm panjang x 1-2 µm lebar, mempunyai macam-macam bentuk.
gametosit dapat berbentuk memanjang, menyerupai sosis atau cincin tipis, atau dapat juga
berbentuk halter. Karena beberapa penulis menyebutnya sebagai bentuk halter, maka
akhirnya gametosit Haemoproteus columbae terkenal dengan nama "halteridium".
Gametosit dapat dibedakan menjadi dua yaitu gametosit jantan (mikrogametosit) dan
gametosit betina (makrogametosit). Makrogametosit mempunyai ukuran panjang 14 µm.
Sitoplasmanya berwarna biru gelap dan berisi sekitar 14 granul-granul pigmen. Nucleusnya
kecil, berwarna rose atau merah adapula yang berwarna ungu gelap kemerahan,
makrogametosit mempunyai karyosome sendiri dan dapat dideteksi. Mikrogametosit
mempunyai ukuran panjang 13 µm. Sitoplasmanya berwarna biru pucat atau hampir tak
berwarna, berisi sekitar 6-8 granul-granul pigmen. Nucleusnya berwarna rose pucat, bersifat
difus, dan berisi chromatin granul. Dari uraian diatas terlihat bahwa kedua bentuk gametosit
mempunyai granul-granul pigmen. Perbedaannya adalah granul pigmen dari makrogametosit
tersebar dalam sitoplasma, sedangkan granul pigmen dari mikrogametosit dikumpulkan
dalam massa sperical atau beragregasi dalam grup. Setelah gametosit masuk ke sel induk
semang, dalam hal ini eritrosit, gametosit ini mengelilingi nucleus sel induk semang
sepanjang sebagian dari keliling nucleus sel induk semang. Gametosit dapat mendesak atau
memindahkan letak nucleus sel induk semang, tapi tidak dapat mendorongnya sampai ke tepi
dari sel induk semang. walaupun sel-sel eritrosit terinfeksi oleh gametosit dari Haemoproteus
columbae, tetapi ukuran eritrosit tetap normal. Gametosit Haemoproteus columbae mula-
mula dianggap tidak membentuk pigmen di dalam sel induk semang yang diinfeksinya.

Siklus hidup
Haemoproteus sp. ditularkan oleh serangga penghisap darah termasuk nyamuk spesies
Culicoides. Penularan tergantung pada kehadiran vektor, infeksi terjadi lebih sering pada
bulan yang lebih hangat sepanjang tahun. Tahap infektif adalah sporozoite yang ada dalam
kelenjar liur vektor serangga Setelah menggigit inang baru, sporozoites memasuki aliran
darah dan menyerang sel-sel endotel pembuluh darah dalam berbagai jaringan termasuk paru-
paru, hati, dan limpa
Dalam sel endotel, sporozoites melewati reproduksi aseksual untuk menjadi skizon
yang kemudian menghasilkan banyak merozoites. Merozoites menembus eritrosit dan dewasa
menjadi makrogametosit atau mikrogametosit.
Gametosit kemudian dapat dicerna oleh serangga lain pengisap darah yaitu sel-sel
darah tersebut menjalani reproduksi seksual di midgut dari serangga untuk menghasilkan
ookista.Ookista pecah dan melepaskan banyak sporozoit yang menyerang kelenjar ludah dan
berfungsi sebagai agen infeksi berikutnya untuk inang yang lain setelah serangga mengambil
makanan darah berikutnya.

Gejala klinik
Infeksi pada merpati dewasa biasanya gejala klinis tidak tampak. Gejala yang tampak
adalah anoreksia dan anemia. Pada infeksi bersifat akut burung cenderung tiduran terus dan
pada infeksi yang berat dapat menimbulkan kematian. Kelainan paska mati yang dapat
diamati yaitu membesarnya hati dan limfa serta berwarna gelap.
Pengendalian
Pengobatan tidak dibutuhkan karena parasit tidak bersifat patogen (atau bersifat
ringan) dan pencegahan dapat dilakukan dengan kontrol terhadap lalat, sanitasi kandang,
karena feses merupakan tempat untuk bertelur lalat.

3.3.4 Trichomonas gallinae


Klasifikasi
 Filum : Animalia
 Phylum : Protozoa
 Kelas : Mastigophora
 Ordo : Trichomonadida
 Famili : Trichomonadidae
 Genus : Trichomonas
 Spesies : Trichomonas gallinae
Trichomonas vaginalis
Trichomonas tenax
Trichomonas termopsidis

Trichomonas gallinae
(dok. Pribadi)

Host : Merpati, kalkun, ayam


Predileksi : Saluran pencernaan atas (esofagus, faring, proventikulus) dan hepar
Morfologi
Trichomonas gallinae memiliki empat hingga enam flagel, satu diantaranya menekuk
kembali ke arah asalnya (recurrent) memiliki axostyle, dan parabasal body ; semua hidup
parasitik.
Badannya memanjang elipsoid atau piriform dan berukuran 5-19 x 2-9 µm, mudah
berubah bentuk. Empat flagela anterior timbul dari blefaroplas dan berukuran 8-13 µm.
Axostyle sempit dan menonjol 2-8 µm dari badannya. Bagian anteriornya gepeng dan
menjadi kapitulum yang berbentuk spatula. Disebelah anteriornya ada pelta berbentuk bulan
sabit. Tidak ada cincin kromatik disekeliling tempat ia muncul keluar. Badan parabasal
berbentuk sosis atau kait yang panjangnya 4 µm dan disertai filamen parabasal.

Siklus hidup
Siklus hidupnya sangat sederhana, reproduksi dengan “longitudinal binari fission”
yaitu membelah diri menjadi dua menurut poros panjang badan, tidak membentuk kista dan
tingkatan seksual tidak di ketahui. Meskipun kista tidak terbentuk tetapi mengalami
degenerasi dan kemudian mati.
Kepentingan
Lesu, bau busuk dan mulut pada ayam yang terinfeksi. Lesi primer dijumpai di
mukosa orofaringea, kemudian diikuti invasi parasit ke kelenjar faring dan pentrasi progresif
ke lapisan epitel. Infeksi pada hepar dengan abses multipel diperkirakan merupakan penyebab
kematian pada unggas-unggas muda.

Pengobatan
Pengobatan pada ayam tidak secara spesifik. Pada burung merpati dapat diberikan
metronidazol 60 mg/kg po dan dimetridazole 50 mg/kg po dalam pakan atau air minum
(0,05% selama 5-6 hari) dapat digunakan untuk menekan pertumbuhan parasit.

Pengendalian
Pada burung dara liar dan burung lainnya sangat berperan dalam menularkan penyakit
ini. Untuk itu air minum sebaiknya selalu diganti.

3.3.5 Leucocytozoon sp
Klasifikasi :
Filum : Apicomplex
Kelas : Sporozoasida
Subkelas : Coccidiasina
Ordo : Eucoccidiorida
Subordo : Haemospororina
Famili : Plasmodiidae
Genus : Leucocytozoon
Spesies : Leucocytozoon sp.

Leucocytozoon sp.
(dok. Pribadi)
Habitat : eritrosit dan lekosit
Inang definitif : unggas
Inang perantara : lalat Simulium dan Culicoides.
Morfologi : Mengubah sitoplasma dan medesak inti.
Siklus hidup
Penularan Leucocytozoonosis memerlukan vektor biologis Simulium sp. Dan C.
arakawae. Kedua arthropoda tersebut akan menginjeksikan sporozoit Leucocytozoonsp. ke
dalam pembuluh darah inang. Sporozoit yang telah masuk ke dalam pembuluh darah
kemudian akan berkembang membentuk dua tipe skizon, yaitu skizon hepatic dan
megaloskizon. Skizon hepatic akan terbawa oleh aliran darah menuju hati dan berkembang di
sel-sel kupffer hati. Skizon tersebut berukuran kecil dan akan berkembang membentuk
merozoit. Kumpulan dari merozoit yang berukuran kecil (20,2x18,5 m sampai 300x248 m
dengan rata-rata 120x100 m) disebut cytomere.
Megaloskizon jumlahnya lebih banyak dari pada hepatic skizon. Megaloskizon
berkembang pada sel-sel darah seperti sel limfoid dan sel makrofag. Megaloskizon yang
terdapat pada sel-sel darah akan beredar ke berbagai organ tubuh seperti otak, hati, paru-paru,
ginjal, saluran pencernaan, dan ginjal setelah 6 hari infeksi. Setelah 7 hari infeksi, Hepatic
skizon dan megaloskizon akan mengalami robek dan mengeluarkan merozoit yang telah
berkemban di dalam skizon. Merozoit tersebut akan beredar bersama darah mengikuti
sirkulasi darah perifer. Merozoit tersebut kemudian berkembang membentuk makrogamet
dan mikrogamet (gametogony). Mikrogamet dan makrogamet akan berkembang menjadi
masak dan melakukan fertilisasi membentuk oocyt di dalam saluran pencernaan vektor
nyamuk. Oocyt kemudian melakukan penetrasi ke dinding saluran pencernaan nyamuk dan
memproduksi sporozoit. Sporozoit tersebut akan menuju kelenjar ludah dan akan diinjeksikan
ke dalam tubuh inang ketika nyamuk menghisap darah inang. Proses sporogony ini
memerlukan waktu kira-kira satu minggu.

Gambaran umum penyakit


Penyakit Leucocytozoonosis lebih sering menyerang unggas muda. Unggas muda yang
terkena Leucocytozoonosis akan bersifat akut sedangkan infeksi pada unggas dewasa akan
bersifat kronis. Penyakit Leucocytozoonosis mengganggu sirkulasi darah perifer unggas
sehingga unggas yang terinfeksi mengalami anemia, kelemahan, dan kematian. Organ lain
yang terganggu akibat infeksi agen ini adalah hepar. Hepar pada unggas yang terserang akan
menunjukkan lesi berupa bintik nekrotik.

Gejala klinis
Leucocytozoonosis akut menyebabkan unggas mengalami anemia, leukocytosis,
tachypnea, anorexia, lesu, diare berwarna hijau, dan gangguan syaraf. Pada ayam layer,
Leucocytozoonosis menyebabkan produksi telur menurun. Gejala klinis muncul setelah satu
minggu infeksi. Jika tidak diobati, kematian dapat terjadi setelah 7 hingga 10 hari setelah
gejala klinis muncul. Hewan yang mampu bertahan hidup akan mengalami gangguan
pertumbuhan, penurunan produksi dan infeksi biasanya bersifat Iaten.

Pengobatan
Pengobatan Leucocytozoonosis dilakukan dengan memberikan pyrimethamine (dosis 1
ppm), sulfadimethoxine (dosis 10 ppm). Pemberian clopidol (dosis 125 ppm) diketahui
efektif untuk pencegahan. Pemberian dosis obat untuk pencegahan dan pengobatan mengikuti
petunjuk pada leaflet atau kemasan obat.

3.4 Arthropoda
3.4.1 Tabanus Megalops
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera
Subordo : Brachycera
Famili : Tabanidae
Genus : Tabanus
Subgenus : Tabanus megalops
(dokumen pribadi)

Siklus Hidup
Telur diletakan pada daun diatas permukaan air yang berlumpur. Telur berkembang
mengeluarkan larva. Larva jatuh kedalam air masuk kedalam lumpur berkembang menjadi
pupa. Pupa berkembang menjadi lalat dewasa.Sifat adaptasi biologi yang mengakibatkan lalat
tersebut menjadi vektor penyakit.
a. An-otogeni : lalat betina membutuhkan darah untuk perkembangan telurnya
b. Telmofagi : lalat menghisap darah dalam waktu lama karena lalat memasukan
antikoagulan pada tempat gigitannya
c. Lalat memiliki ukuran tubuh besar sehingga mampu menghisap darah dalam jumlah
banyak yang berpotensi menghisap darah yang mengadung agen penyakit
d. Lalat menghisap darah dalam waktu lama sehingga memunculkan peluang besar
untuk menularkan penyakit yang dibawanya.
e. Lalat menghisap darah berpindah dan terputus-putus sehingga memungkinkan lalat
menularkan penyakit dari inang yang satu ke lainnya.
Morfologi
Lalat ini dikenal sebagai lalat yang besar dengan panjang 5 - 25 mm, tegap dan
bentangan sayap mencapai 6,5 cm. Mengalami metamorfosa sernpurna dari telur , larva, pupa
sampai dewasa dalarn waktu beberapa bulan sarnpai tahun tergantung spesies dan suhu
sekitar. Masa pradewasa terutama dihabiskan pada tempat-tempat yang bersifat akuatik atau
semiakuatik, seperti persawahan, rawa-rawa, lumpur atau kolam air tawar dan payau. Lalat
dewasa aktif pada siang hari dan hanya yang betina yang menghisap darah dan bersifat
anotogeni.

Host dan Predileksi


Pada hewan ternak, sapi dan kuda. Predileksi kaki belakang dan kaki depan, perut,
kepala-leher, punggung, ekor.
Kepentingan
Infestasi lalat tabanus pada host mengakibatkan gangguan ketenangan, menurunkan
napsu makan, anemia dan ikterus.

Lalat beperan sebagai vektor:


a. Penyakit equine infeksius anemia
b. Hig Cholera
c. Riderpest
d. Surra (Trypanosoma evansi)
e. Anaplasmosis (A. marginale)
f. Anthrax (Bacillus antracis)
g. Francisella tularensis

Pengendalian dan pengobatan


a. Pengeringan kandang dan daerah ber air sekitar kandan
b. Pembersihan tanaman yang ada di permukaan air di daerah sekitar kandang
c. Pembersihan lumpur di tempat penyimpanan aird. Penyemprotan Lindane, Dieldrin
sampai 14 harie. Dipping lalat dewasa. Penyemprotan residu pada dinding kandang
dengan Malathion
3.4.2 Musca Domestica
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera
Subordo : Brachycera
Famili : Muscidae
Genus : Musca
Spesies : Musca domestica

(dokumen pribadi)

Siklus hidup
Lalat ini mempunyai metamorfosis lengkap (completemetamorfosis holometabolous)
mulai dari telur, larva, pupadan dewasa. Perkembangan dari telur sampai dewasamemerlukan
waktu 7-21 hari. Pada temperatur 25-35ºCtelur menetas dalam kurun waktu 8-12 jam. Telur
akanmenetas dan berkembang menjadi larva dalam waktu 3-7hari tergantung suhu
lingkungan.Larva instar 1 mempunyai panjang 2 mm, stadia iniberlangsung selama 24-36
jam tergantung temperatur dantempat yang cocok. Larva instar 2 berlangsung selama 24
jam pada temperatur 25-35ºC, yang kemudian dilanjutkandengan instar 3 yang berlangsung
selama 3-4 hari padatemperatur 35ºC dengan ukuran 12 mm. Segera setelahstadia larva
selesai, larva bermigrasi ke daerah yang lebihkering untuk menjadi pupa dan setelah
mengalami 3 kalipergantian kulit, larva akan berkembang menjadi pupa.Stadia pupa
berlangsung antara 3-26 hari tergantungtemperatur lingkungan dan akhirnya segera
berkembangmenjadi lalat dewasa.

Morfologi
M. domestica berukuran sebesar biji kacang tanah,berwarna hitam kekuningan. M.
domestica jantanberukuran panjang tubuh 5,8 - 6,5 mm dan lalat betinaberukuran panjang
tubuh 6,5 - 7,5 mm. Lalat ini secaraumum mempunyai ciri berwarna kelabu (6).Tubuh terbagi
menjadi tiga bagian yaitu bagiankepala dengan sepasang antena, thoraks dan
abdomen.Kepala M. domestica relatif besar dengan dua matamajemuk yang bertemu di garis
tengah untuk lalat jantan, sedang lalat betina dua mata majemuk terpisahkan oleh
ruang muka. Tipe mulut lalat adalah sponging, disesuaikandengan jenis makanannya yang
berupa cairan. Bagianmulut lalat digunakan sebagai alat penghisap makananyang disebut
dengan labium. Pada ujung labium terdapat labella yang menghubungkan antara labium
dengan rongga tubuh (haemocoele).

Thoraks terbagi atas tiga bagian yaitu prothoraks, mesothoraks dan metathoraks.
Thoraks berwarna abu-abu kekuningan sampai gelap dan mempunyai empat baris garis
hitam longitudinal dengan lebar yang sama dan membentang sampai ke tepi skutum, dengan
tiga pasang kaki dan sepasang sayap. Abdomen ditandai dengan warna dasar kekuningan
serta didapatkan garis hitam di bagian median yang difus sampai di segmen keempat. Pada
lalat betina disamping ciritersebut juga terdapat garis hitam yang difus di kedua sisi abdomen.

Host dan Predileksi


Pada manusia dan hewan ternak. Predileksi di permukaan kulit dan pakan.

Kepentingan
Sebagai vektor penyebaran penyakit diare, tifus,cholera, TBC, Entamoeba coli,
Railleitena sp, dll.

Pengendalian
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menekan populasi lalat rumah (Musca
domestica), antara lain :
a. Pengendalian secara fisik, meliputi sanitasi kandang diantaranya mengatur
kelembaban manur kurang dari 60% dengan mengatur aliran udara kandang sehingga
dapat terjadi pengeringan manur.
b. Pengendalian secara mekanis, dilakukan menggunakan perangkap lalat.
c. Pengendalian secara hayati, dilakukan dengan menggunakan organisme hidup lain
yang mampu menghambat atau menahan salah satu bentuk stadium lalat. Organisme
ini dapat bertindak sebagai parasit, predator, kompetitor atau musuh alami lainnya.
d. Pengendalian secara kimia. Senyawa kimia yang pernah digunakan sebagai
insektisida diantaranya senyawa organofosfor,organoklor, organokarbamat, senyawa
kimia yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan senyawa piretroid sintetik.
3.4.3 Chrysomya megacephala
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Diptera
Famili : Calliphoridae
Genus : Chrysomya
Spesies : Chrysomya megacephala (dokumen pribadi)

Siklus hidup
Chrysomya megacephala juga mengalami metamorfosis sempurna yaitu telur, larva,
pupa, dan dewasa. Lalat dewasa betina menyebabkan miasis fakultatif yang meletakkan
telurnya pada tepi luka yang terbuka sejumlah 95-245 butir dalam satu kelompok. Telur C.
megacephala berwarna putih transparan dengan panjang 1.25 mm dan diameter 0.26 mm,
berbentuk silindris serta tumpul pada kedua ujungnya. Telur akan menetas menjadi larva
dalam waktu sepuluh jam pada suhu 30°C dan masuk ke dalam jaringan serta memakan
jaringan tersebut. Pada fase ini larva banyak makan dengan tujuan mengumpulkan energi
(Spradbery 2002). Stadium larva terdiri atas tiga stadium yaitu stadium larva instar I (L1),
stadium larva instar II (L2), dan stadium larva instar III (L3). Perkembangan L1 sampai
dengan L3 memerlukan waktu enam hingga tujuh hari, selanjutnya L3 akan membentuk pupa
dalam waktu tujuh sampai delapan hari. Pupa kemudian menjadi lalat yang akan bertelur
setelah enam hingga tujuh hari (Spradbery 2002). Ketiga instar dapat dibedakan dari panjang
tubuh dan warnanya. Panjang L1 adalah 1.6 mm dengan diameter 0.25 mm dan berwarna
putih, L2 mempunyai panjang 3.5-5.5 mm dengan diameter 0.5-0.75 mm dan berwarna putih
sampai krem, L3 mempunyai panjang sekitar 6.1-15.7 mm dengan diameter 1.1-3.6 mm dan
berwarna krem atau merah muda. Larva kemudian menjatuhkan diri dari jaringan dan
berkembang menjadi pupa dalam waktu 24 jam pada suhu 28°C (Esser 1990). Pupa akan
menetas menjadi lalat dewasa dalam waktu seminggu pada suhu 25- 30°C, sedangkan pada
suhu yang lebih rendah akan lebih lama (Spradbery 2002).

Morfologi
Lalat hijau yang mempunyai mata merah besar, lalat jantan berukuran 8 mm. Lalat
yang memiliki 4 garis pada preskutum. Muka berwarna kuning orange.
Host/predileksi :Pasar, jaringan luka, ternak yang di pengembalaan

Kepentingan
Menyebabkan myasis obligat pada hewan dan manusia

Pengendalian dan pengobatan


Sebagai sumber myiasis yang tidak disengaja (sekunder) pada manusia, di mana
lalat tidak menembus kulit tetapi menyerang luka terbuka. Catatan pertama miasis manusia
yang disebabkan oleh C. megacephala dan C. rufifacies adalah di Thailand, di mana seorang
pria berusia 53 tahun memiliki lesi tumor di mana larva menumpuk. Namun, sebagian besar
kasus miasis yang tercatat, tidak melibatkan lalat. C. megacephala adalah pembawa patogen,
seperti bakteri, kista protozoa, dan telur cacing, untuk makanan manusia, karena bertelur di
atas kotoran manusia, dan akan mendarat di makanan manusia segera setelah itu.

3.4.4 Chrysomya saffranea

(dokumen pribadi)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Diptera
Family : Calliphoridae
Genus : Chrysomya
Spesies : Chrysomya saffranea
Siklus hidup
Lalat meletakkan telurnya dalam kelompok agak kekuningan pada karkas, luka atau
wol bertanah, yang menarik karena bau dari bahan-bahan yang membusuk. Lalat memilih
lokasi tempat bertelur dan makan pada bahan yang lembab. Lalat betina meletakkan telur
1000-3000 secara keseluruhandan diletakkan dalam kelompok 50-150 telur. Makanan
mengandung protein diperlukan sebelum mencapai dewasa penuh.
Larva menetas dari telur dalam waktu delapan jam sampai tiga hari tergantung suhu
dan mulai makan. Larva tumbuh dengancepat dan mengalami ecdisis dua kali kemudian
menjadi larva maksimum dalam waktu 2-19 hari. Derajat perumbuhan tergantung pada
jumlah dan gizi makanan, suhu dan derajat persaingan sesama larva. Larva panjangnya 10-14
mm, putih abu-abu atau kuning pucat, kadang-kadang dengan tercampuri warna pink. Ujung
anterior larva mempunyai dua kait mulut dan pada ujung posterior yang lebar dan datar
terdapat lempeng stigmata. Bukaan stigmata terdiri atas tiga celah silindris dan panjang yang
kurang lebih sejajar satu dengan lainnyapada spirakel. Segmen kedua mengandung sepasang
spirakel anterior seperti pada Musca.
Dua kelompok larva yang dikenal, yaitu larva berbulu dan larva halus. Larva berbulu
mengandung sejumlah penonjolan, serupa duri berotot dengan sebuah spina pada ujungnya
pada hampir seluruh segmen. Larva yang telah maksimal biasanya meninggalkan inang atau
karkas dan jatuh ke tanah, tetapi sebagian mungkin berada pada bagian kering dari karkas
atau bahkan dalam wol domba hidup. Sebelum menjadi pupa, larva mungkin merayap cukup
jauh atau masuk ke dalam tanah sehingga menjadi pupa di bawah permukaan tanah. Bila
kondisi kurang sesuai, seperti misalnya musim dingin, pembentukan pupa dapat berlangsung
berbulan-bulan dan larva hibernasi.
Pada pembentukan pupa, larva melepaskan kulitnya, yang menjadi coklat dan keras
menjadi puparium. Larva mempunyai kesamaan bentuk dengan larva tingkat akhir. Pupa dari
larva berbulu tetap mempunyai penonjolan ada penutupnya. Selanjutnya pupa lebih sedikit
pendek dari larva maksimum dan ujungnya leih membulat.
Tingkat pupa berakhir 3-7 hari pada musim panas dan lebih lama pada musim dingin.
Hibernasi juga terjadi pada tingkat larva. Lalat dewasa muncul dari pupa dengan mendorong
ujung puparium pada bagian kantung ptilinal yang melipat. Bagian ini digunakan untuk maju
ke permukaan tanah. Waktu yang paling pendek untuk sikus hidup lengkap ialah tujuh hari
sehingga beberapa generasi akan berkembang dalam satu tahun. Lalat dapat hidup stu bulan
atau lebih dan dapat hibernasi.
Morfologi
Secara morfologis Chrysomya saffranea mirip dengan Chrysomya megacephala.
Chrysomya saffranea dibedakan oleh setula supravibrissal oranye dan subvibrissal.
Chrysomya saffranea dan Chrysomya megacephala jantan memiliki mata dengan ommatidia
membesar di dua per tiga atas, bagaimanapun di Chrysomya megacephala dua per tiga bagian
atas berbatas tegas dari yang lebih kecil di sepertiga bagian bawah, sedangkan mereka tidak
berbatas tegas di Chrysomya saffranea.
Predileksi
Spesies ini bertindak sebagai penyerbu utama bangkai, namun di daerah selatan
penyebarannya lebih cenderung berperilaku sebagai lalat sekunder.
Kepentingan :
a. Menyebabkan hewan tidak tenang
b. Menyebabkan myasis pada luka
Pengendalian dan pengobatan :
a. Selektif breeding
b. Pembuangan kulit yang melipat-lipat
c. Pengaturan dari karkas
d. Membunuh lalat dengan insektisida
e. Penangkapan terhadap lalat

3.4.5 Damalinia ovis


Klasifikasi
Filum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Phthiraptera

Famili : Trichodectidae

Genus : Damalinia
Spesies : Damalinia ovis (dokumen pribadi)
Siklus hidup dan Morfologi
Ektoparasit ini memiliki panjang diatas 3 mm, berwarna coklat dan relatif ukuran
kepalanya besar. Kutu mengalami metamorphosis tidak sempurna, mulai dari telur, nimfa
instar pertama sampai ketiga lalu dewasa. Seluruh tahap perkembangannya secara umum
berada pada inangnya. Telurnya berukuran 1-2 mm, berbentuk oval, berwarna putih dan
menempel pada bulu (rambut) domba. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor induk kutu
mencapai 10-300 butir selama hidupnya. Telur menetas menjadi nimfa (kutu muda) setelah 5-
18 hari tergantung jenis kutu. Nimfa akan berganti kulit dua kali dengan interval 5-9 hari
(Hadi dan Soviana 2010). Bagian mulut dari kutu tersebut beradaptasi untuk menggigit dan
mengunyah bagian luar wol, lapisan dermis, dan darah.

Host/predileksi :Kambing dan domba di punggung leher


Kepentingan dan Pengendalian
Ektoparasit seperti Damalinia ovis dapat memberikan efek yang serius pada
produktivitas domba, seperti menurunkan produksi susu dan daging, meurunkan kualitas
wool, dan kulit serta membutuhkan program pengontrolan yang mahal. Selain itu juga dapat
menyebabkan kesejahteraan domba saat bergerombol dan individu. Pada domba yang
terinfeksi kutu, sering kali tubunya terasa gatal-gatal, terlihat domba menggosokkan tubuhnya
pada pohon atau kandang. Gejala klinis yang tampak yaitu adanya iritasi pada kulit domba
dan rambut atau bulu terlihat kusam terlihat terdapat infestasi kutu-kutu yang menempel pada
rambut. Pengendalian terhadap kutu dapat dilakukan dengan sanitasi kandang yang baik. Bila
menggunakan obat-obatan insektisida, dianjurkan yang tidak bersifat racun baik bagi ternak
maupun manusia. Obat-obatan insektisida yang digunakan harus sanggup membunuh
serangga berbagai spesies, tanpa menimbulkan resistensi bagi yang dijadikan sasaran
(Murtidjo 1992). Tindakan pencegahan merupakan salah satu tindakan tepat untuk
meminimalkan adanya infestasi kutu pada kambing dan domba, dengan menjaga kebersihan
kandang, serta pemberian pakan yang sesuai (Glynn T 2009). Pada domba, pemotongan
rambut mampu menghilangkan 30-50% populasi kutu, selain itu bisa juga
melakukan dipping untuk mengurangi keberadaan kutu serta penyemprotan (Williamson dan
Payne 1993).

3.4.6 Columbicola columbae

Klasifikasi :
Kelas : Insecta
Ordo : Phtiraptera
Famili : Philopteridae
Genus : Columbicola
Spesies : Columbicola columbae
Morfologi :
a. Tubuh langsing dan memanjang
b. Berbentuk panjang dan sempit untuk menyesuaikan sirip bulu sayap ayam
c. Terdapat dua seta
d. Kaki belakang paling panjang diantara lainnya
e. Antenna tersusun oleh 5 segmen
Inang : Unggas
Predileksi : Bulu sayap
Siklus hidup :
Telur menempel pada bulu dan nimfa yang terbentuk menyerupai kutu dewasa namun
berukuran kecil. Nimfa menyilih beberapa kali untuk menjadi kutu dewasa.

Kepentingan :

a. Menyebabkan rasa gatal pada unggas


b. Memakan ketombe dan rontokan bulu
c. Iritasi pada kulit

Pengendalian dan pengobatan :


Sanitasi kandang dan hindarkan kontak dengan hewan terinfeksi perlu dilakukan
untuk pengendalian kutu ini. Pengobatan yang diberikan yaitu air rendaman tembakau ataua
Nicotine (di cat pada tenggeran atau predileksi kutu), campuran pasir halus dengan Sodium
Floride (mandi debu), Carbary 15%, Coumaphos 0,06%, Toxaphene, Hexachloro Cyclo
Hexane (HCH), Lindane, dan Malathion 0,01% (dengan cara disemprotkan).

3.4.7 Ctenocephalides felis

Klasifikasi :
Kelas : Insecta
Ordo : Siphonaptera
Famili : Pulicidae
Genus : Ctenocephalides
Spesies : Ctenocephalides felis

Morfologi :
a. Tidak bersayap dan memiliki tungkai panjang
b. Tubuh gepeng disebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke
belakang dan rambut keras

Inang : Kucing
Predileksi : Bulu/kulit
Siklus hidup :
Telur diletakkan sampai munculnya yang dewasa ditempuh dalam 20-24 hari pada suhu
24oC. Larva mengalami pertumbuhan maksimal dalam 11-12 hari dan kepompong dalam
waktu 13-16 hari setelah telur diletakkan. Pinjal dewasa hidup paling lama 4 hari bila
dimasukkan dalam tabung bertutup kapas dalam keadaan lembap.

Kepentingan :

a. Menyebabkan rasa gatal pada kucing, jika rasa gatal berlebihan menjadi radang kulit
(flea bites dermatitis)
b. Investasi pinjal dalam jumlah yang tinggi dapat menyebabkan kucing menderita
anemia, lemah, dan pucat

Pengendalian dan pengobatan :


Pengobatan dapat diberikan Pyrethrum dan bedak derris. Derris dapat digunakan
dalam larutan air sabun sebagai pencuci. Insektisida untuk pengendalian C.felis disemprotkan
pada kandang setiap bulan dilakukan penyemprotan dengan 0,125% Permethrim spray, 1%
Permethrim bubuk, dan 0,05% Lindane.

3.4.8 Ripichepalus sanguineus (Brown Dog Tick)

Klasifikasi :
Kelas : Arachnida
Ordo : Paracitiformes
Famili : Ixodidae
Genus : Ripichepalus
Spesies : Ripichepalus sanguineus

Morfologi :
Caplak betina ukuran lebih besar daripada caplak jantan. Betina 1,24-11 mm x 4-7 mm,
sedangkan jantan 1,7-4,4 mm x 1,24-1,55 mm.

Inang : Anjing, sapi, kambing, dan domba


Predileksi : Kulit
Siklus hidup :
Siklus hidup caplak anjing memerlukan tiga inang (three host tick), masing-masing
pada stadium larva, nimfa dan dewasa. Bila caplak sudah kenyang menghisap darah, maka
caplak akan menjatuhkan diri untuk bertelur dilantai, telur kemudian menetas menjadi larva
setelah 17-30 hari, larva akan menjadi (inang pertama) yang ada disekitarnya untuk
menghisap darahnya sekitar 2-4 hari, setelah kenyang larva menjatuhkan diri dan berganti
kulit menjadi nimfa dalam waktu 5-23 hari. Nimfa akan mencari makan dengan menghisap
darah anjing kembali (inang kedua), selama 4-9 hari selanjutnya akan melepaskan diri dari
inang kemudian berganti kulit menjadi caplak dewasa setelah 11-73 hari. Caplak dewasa
akan mencari anjing kembali untuk menghisap darah (inang ketiga).

Kepentingan :
a. Ripichepalus sanguineus penyebar parasit darah yaitu Ehrlichia canis dan B.canis
pada anjing
b. Akibat infestasi Ripichepalus sanguineus dapat menyebabkan penurunan jumlah sel
darah merah, serum protein dan haemoglobin
c. Menyebabkan dermatosis, peradangan atau kemerahan pada kulit, gatal, kebengkakan
dan ulserasi akibat infeksi sekunder.

Pengendalian dan pengobatan :


Pengendalian dilakukan melalui membersihkan kandang secara rutin dengan
menggunakan desinfektan hingga ke celah-celah. Jika memungkinkan sebaiknya anjing
dikandang masing-masing 1 ekor agar tidak terjadi penularan caplak antar inang. Pengobatan
yang diberikan berupa fipronil (spray dan spot-on), amitraz (tick collar), dan permethrin
(spray dan shampoo).

3.4.9 Argulus Japonicus

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Sub Filum : Crustacea
Kelas :Maxillopoda
Sub Kelas : Branchiura
Ordo : Arguloida
Famili : Argulidae
Genus : Argulus
Spesies : Argulus Japonicus
Siklus hidup
Pada umumnya daur hidup Argulus japonicussecara keseluruhan adalah 30-100 hari,
namun bergantung pada suhu air (Post, 1987).Argulus japonicusmenghasilkan telur dan
diletakkan pada subtrat keras berupa batu, tanaman air, kaca aquarium atau benda lain yang
ada di dalam perairan.
Telur Argulus japonicusmenetas menjadi nimfa yang bersifat infektif dan berenang
bebas mencari inang. Nimfa akan mengalami pergantan kulit (moulting) hingga menjadi
juvenil. Pada stadium juvenil terlihat seperti Argulus japonicusdeasa tidak memiliki sucker.
Juvenil bebas berenang bebas mencari inang kemudian berkembang dan mengalami
pergantian kulit hingga menjadi Argulus japonicusdewasa (Walker et al., 2004). Jumlah
pergantian kulit (moulting) pada Argulus japonicus sebanyak tujuh kali (Walker et al., 2004).
Nimfa dan juvenil Argulus japonicusdapat bertahan tanpa inang selama sembilan hari pada
suhu 22 derajat celsius dan pada Argulus japonicus dewasa dapat bertahan tanpa inang
selama 13 hari pada suhu 15 derajat celsius (Walker et al., 2011).

Morfologi
Argulus Japonicusmemiliki bentuk tubuh pipih, dorsoventral, oval, transparan dan
panjang sekitar 4-10 mm. Tubuh parasit ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu cephalothoreax,
thorax dan abdomen (Walker et al, 2004). Pada bagian dorsal dilindungi carapace yang
menutupu bagian cephalothorax (Philip., 2004). Argulus japonicusmemiliki organ pendeteksi
inang yang terdiri dari antenuelle dan antenna. Antenuelleterdiri dari dua segmen yang
dilengkapi dengan spina posterior serta prosesus pada bagian basal spina, sedangkan antenna
terdiri dari empat segmen dimana segmen baal berukuran paling besar (Seng, 1986). Parasit
ini juga memiliki probocisyang berfungsi untuk menhisap darah dan stylet berfungsi untuk
melukai inang (Watson dan Avanant-Oldwage, 1996).
Thorax terdiri dari empat segmen yang masing-masing dilengkapi dengan sepasang
kaki renang yang disebut troracopods (Walker et al.,2004). Argulus Japonicusmemiliki
resiratori area anterior kecil dan respiratori area posterior besar. Anterior Maxilla terdapat
sucker yang dikelilingi oleh supporting rods terdri dari enam sampai tujuh bagian. Pada
bagian Maxilla II dilengkapi dengan tiga spina (Seng, 1986). Maxilla berfungsi sebagai organ
penempel utama pada Argulus japonicus(Walker et al., 2004).
Pada bagian abdomen terbelah mejadi dua bagian. Belahan abdomen Argulus
Japonicus mencapai pertengahan saja. Pada Argulus japonicusbetina diengkapi dengan
seminal receptacles (spermathechae) dan kantung Ovary. Perbedaan antara Argulus
japonicusjantan dilengkapi dengan socket dan peg yang digunakan untuk proses fertilisasi
(Wadeh dan Yang., 2007).

Predileksi
Sirip, kulit, insang dan seluruh permukaan tubuh ikan air tawar.
Kepentingan atau Gejala Klinis
Terdapat bekas luka akibat alat pebghisap dari Argulus japonicus, pendarahan, ikan merasa
tidak nyaman karena ada infestasi Argulus japonicus.

Pengendalian dan Pengobatan


Pengendalian telur Argulus japonicus menggunanakn bahan kimia misalnya
Malachite Green atau insektida. Pengendalian Argulus japonicus dapat dilakukan dengan cara
memotong daur hidup terutama pada stadium telur. Dapat dengan cara yang efektif dalam
memberantas telur Argulus japonicus dengan melakukan proses pengeringan, proses
pengeringan menyangkut proses perpindahan panas dan perpindahan massa yang terjadi
secara bersamaan. Pengendalian terhadap Argulus japonicus yang dapat dilakukan dengan
cara penferingan diharapkan mampu menurunkan daya tetas telur Argulus japonicus sebagai
awal pemuntusan rantai daur hidupnya. Proses pengeringan mempunyai daya kerja yaitu
menurunkan kadar air dengan cara penguapan. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada
lapisan telur karena suhu udara dan suhu jaringan sel lebih tinggi yang mengakibatkan air
yang terikat pada jaringan sel lebih mudah menguap sehingga cairan dalam telur cendurung
turun. Telur Argulus japonicus akan mengalami dehidrasi sehingga metabolisme
pertumbuhan telur akan tergangu dan tidak dapat berkembang dengan sempurna (Branstrator
et al., 2013).

3.4.10 Ornithonyssus Bacoti


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arhtropoda
Kelas : Arachnida
Subkelas : Acari
Ordo : Megostigma
Famili : Marconyssidae
Genus : Ornithonyssus
Spesies : Ornithonyssus bacoti
Siklus hidup
Ornithonyssus bacoti memiliki fase siklus hid: telur, larva, protonimph,
deutonymph, dan dewasa. Hanya dua tahap yang memberi makan adalah protonim dan
dewasa. Setelah mencari makan, mereka dapat menurunkan inang untuk berganti kulit atau
bertelur hingga 100 butir. Sel telur membutuhkan satu setengah hari untuk menetas menjadi
larva, yang kemudian melekat pada inang dan membutuhkan satu hingga dua hari untuk
berganti kulit menjadi protonim. Protonimph kemudian berganti kulit menjadi dewasa.
Seluruh siklus hidup membutuhkan 7 hingga 16 hari untuk selesai. Minimal 13 hari
diperlukan untuk beralih dari telur ke telur. Larva adalah satu-satunya tahap yang memiliki
tiga pasang kaki dibandingkan dengan empat pasang
Morfologi
Tungau tikus memiliki panjang antara 0,75 dan 1,44 mm dan tidak bersegmen
dengan chelicerae atau mandibula yang cocok untuk menusuk. Mereka memiliki puncak
kaudal yang tajam dari skutum, perisai genital oval, dan anus yang diposisikan secara kranial.
Tungau ini mampu melakukan reproduksi partenogenik. Setelah makan darah, mereka
berubah menjadi berwarna kuning atau merah tua. Namun, sebelum makan darah, mereka
lebih aktif dan berwarna abu-abu
Predileksi :Tikus
Kepentingan dan Gejala Klinis
Terdapat luka vesikle pada didaerah gigitan di leher, kepala, ekstremitas, perut dan dada.
Pengendalian dan Pengobatan
Pengobatan dermatitis tungau tikus berdasarkan gejala. Umumnya, antihistamin
oral, kortikosteroid topikal, gamma benzene hexachloride, benzyl benzoate, atau crotamiton.
Namun beberapa pasien tidak memerlukan perawatan. Untuk secara efektif membersihkan
pasien dari dermatitis, pemberantasan tungau secara menyeluruh dari hewan peliharaan dan
lingkungan mereka sangat penting. Acarides untuk lingkungan mungkin asam hidrokyanat,
klorofenotana (DDT), chlordane, permetrin, pyriproxyfen, atau lindane. Untuk membersihkan
binatang peliharaan dari tungau, selamectin umumnya digunakan dalam bentuk Revolution,
Stronghold atau Pfizer. Pemusnahan tikus dan hewan pengerat liar lainnya yang merupakan
inang umum juga merupakan kunci. Diperlukan beberapa minggu untuk memastikan bahwa
pemberantasan tungau yang tepat selesai karena tungau tidak hanya ditemukan sebagian
besar di lingkungan inang daripada di inang itu sendiri, tetapi juga telah ditemukan bertahan
hidup hingga 63 hari tanpa menghisap darah.

3.4.11 Sarchopaga Haemorrhoidalis


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthrophoda
Kelas : Insekta
Ordo : Diptera
Famili : Sarcophagidae
Genus : Sarchopaga
Species : Sarchopaga haemorrhoidalis
Siklus hidup
Semua anggota keluarga Sarcophagidae adalah larvipar atau ovovivipar.
Sarcophaga haemorrhoidalis (Bercaea cruentata) melahirkan larva dengan betina tetap
menyimpan sel telur di perutnya. Lalat daging sangat tertarik pada bangkai atau daging
kering. Betina memiliki keinginan kuat untuk meletakkan larva di atas daging dan bahkan
telah tercatat sebagai larviposit di lengan pakaian yang sebelumnya telah kotor dengan darah.
Oldroyd menyatakan bahwa larva Sarcophaga spp adalah rakus dan akan mengambil apa pun
yang berasal dari hewan, baik hidup atau mati. Sebuah larva dipaksa keluar dari larvipositor
biasanya kepala terlebih dahulu dan segera menghilang ke dalam bahan makanan. Setelah
larva disimpan sebagai instar tahap 1, perkembangan cepat diikuti dengan instar ke-3 yang
biasanya dicapai tiga sampai empat hari. Larviposition hingga dewasa biasanya
membutuhkan waktu sekitar dua minggu.
Morfologi
a. Ukuran besar sampai sedang dan tebal
b. Warna abu-abu
c. Bagian dorsal torak dan abdomen mempunyai corak seperti papan catur
Predileksi :Terutama pada daging
Kepentingan
Sebagai salah satu vector penularan penyakit-penyakit oleh agen mikroorganisme seperti
bakteri.
Pengendalian dan Pengobatan
a. Menggunakan jaring atau selambu.
b. Menjaga kebersihan
c. Biological control

3.4.12 Felicola subrostrata

Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Phtirapthera
Famili : Trichodectidae
Genus : Felicola
Spesies : Felicola subrostrate
(dokumen pribadi)
Host : Kucing
Predileksi : Kulit
Kepentingan : Penyakit kulit (dermatitis)
Siklus Hidup
Kutu memiliki 3 stadium siklus hidup; telur, nympha dan dewasa. Kutu betinasetelah
proses reproduksi akan mengeluarkan telur yang ditempelkan pada rambut kucing, setelah 1 –
2 minggu telur menetas menjadi nympha, setelah beberapa hari sampai minggu nympha
menjadi kutu dewasa yang siap untuk bereproduksi kembali. Pada pemeriksaan dapat di
temukan stadium telur hingga dewasa pada rambut kucing.

Metode Pemeriksaan : Mounting tanpa pewarnaan


Pengendalian
Menjaga kebersihan kandang dan peralatan yang digunakan, membatasi
kucingbermain di luar rumah atau terlalu lama di tanah atau rumput.

3.4.13 Sitophilus oryzae


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Coleoptera
Family : Curculionidae
Genus : Dryophthorinae
Spesies : Sitophilus oryzae

(dokumen pribadi)
Siklus hidup
Jika akan bertelur Sitophilus oryzae betina akan membuat liang kecil dengan
moncongnya sedalam kurang lebih 1 mm pada butiran beras dan akan meletakkan telurnya
dalam liang tersebut lalu menutupnya dengan sekresi yang berubah mengeras. Telur
berbentuk lonjong dan berwarna putih dengan panjang ± 0,5. Fase telur 5-7 hari, dan pada
saat menetas larvanya tidak berkaki, gemuk berwarna putih dan berukuran ± 3 mm, lalu
berubah menjadi pupa.
Morfologi
Sitophilus oryzae muda berwarna coklat merah dan umur tua berwarna hitam. Pada
sayap depannya terdapat 4 bintik kuning kemerah-merahan(masing-masing sayap terdapat 2
bintik). Kumbang ini mempunyai moncong panjang, warna coklat kehitaman dan kadang-
kadang ada 4 bercak kemerahan pada elytranya, umur dapat mencapai 5 bulan.
Predileksi
Berada pada tanaman inang berupa padi, jagung, sorgum, gandum, dan semua jenis
biji-bijian baik yang masih di lapangan atau yang sudah disimpan di gudang.
Kepentingan
Serangan Sitophilus oryzae menyebabkan temperature beras sesuai bagi
perkembangan cendawan tertentu dan mengakibatkan tidak sesuai untuk dikonsumsi.
Pengendalian dan pengobatan
Menjaga kelembaban agar tidak telalu tinggi

3.4.14 Pseudolyncia canariensis


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Diptera
Family : Hipoboscidae
Genus : Pseudolyncia
Spesies : Pseudolyncia canariensis

(dokumen pribadi)
Siklus hidup
Kopulasi terjadi pada inang dan larva diletakkan pada celah kandang merpati, tempet-
tempat berdebu kering dalam sangkar. Lalat betina melahirkan larva yang berwarna kuning
dengan kutub posterior yang gelap dengan berukuran kira-kira 3 mmdan segera berubah
menjadi pupa yang hitam dalam beberapa jam saja. Larva yang diletakkan pada tubuh inang
lalu menjatuhkan diri pada inang atau celah-celah yang gelap bila akan bergantibentuk
menjadi pupa. Tingkat pupa berlangsung 23-31 hari dalam keadaan cuaca yang hangat. Lalat
betina menghasilkan4-5 larva selama hidupnya kira-kira 43 hari. Lalat jantan dapat hidup
selama satu bulan.
Morfologi
Pseudolyncia canariensis merupakan lalat berwarna coklat tua dengan panjang 6 mm.
Bentuk tubuh seperti angka delapan, abdomen membulat, seluruh tubuh tertutup bulu-bulu
pendek, bulu-bulu keras dan panjang terdapat pada sebagian thoraks dan abdomen, pada kaki
terdapat kait kuat dan dilengkap spur (taji). Mata besar dan menonjol. Sepasang sayap terang
tembus seperti pita dengan venasi yang kurang menggerombol di sisi anterior sayap (Amaral
et al., 2013).
Predileksi
Ditemukan sebagian besar di tempat tropis, menjadi ektoparasit pada merpati yang
biasanya di tempatkan di dalam sangkar/kandang.
Kepentingan
Pseudolyncia canariensis adalah inang definitif untuk protozoa Haemoproteus
columbae. Parasit ini dapat berakibat fatal bagi merpati muda atau burung karena menjadi
ektoparasit. Kerugian yang ditimbulkan oleh sangat besar, mulai dari penurunan berat badan
burung, penurunan produksi, kerontokan bulu, trauma, iritasi, anemia, bahkan kematian
(Kusuma, 2008).
Pengendalian dan pengobatan
a. Menjaga kondisi kandang/sangkar burung agar selalu bersih
b. Menjaga kondisi kandang/sangkar dari kelembaban yang tinggi karena ektoparasit
dapat beradaptasi pada lingkungan dengan kondisi tersebut.
c. Tiga bulan sekali diberikan obat anti parasit.

3.4.15 Sarcoptes scabiei

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnida
Sub Kelas : Acari (Acarina)
Ordo : Astigmata
Family : Sarcoptidae
Genus : Sarcoptes (dokumen pribadi)
Spesies : Sarcoptes scabiei
Siklus hidup
Tungau betina secara aktif membuat liang di dalam kulit epidermis atau lapisan tanduk,
meletakkan 2-3 butir telur setiap hari. Telur menetas dalam 2-4 hari dan keluar larva berkaki
6. Dalam waku 1-2 hari larva berubah menjadi nimfa stadium pertama dan kedua yang
berkaki 8, kemudian menjadi tungau betina muda yang siap kawin, dan menjadi dewasa
dalam 2-4 hari. Waktu yang diperlukan telur menjadi tungau lebih kurang 17 hari. Tungau
dan larva hidup dengan memakan reruntuhan jaringan.

Morfologi
Hanya ada satu spesies di dalam genus Sarcoptidae dan adanya beberapa varian di dalam
spesies akibat terjadinya interbreeding yang terus menerus antara populasi tungau yang
menginfestasi manusia dan hewan. spesies tungau Sarcoptes scabiei pada tiap jenis varian
hanya berbeda dalam hal ukuran sedangkan morfologinya sulit untuk dibedakan (Wardhana
et al, 2006). Menurut Bandi dam Saikumar (2012) terdapat 15 varietas atau strain tungau
yang telah diidentifikasi dan dideskripsikan secara morfologi tidak berbeda tetapi secara
fisiologis dan genetic berbeda.

Sarcoptes scabiei adalah tungau yang termasuk family Sarcoptidae, ordo acarina, kelas
arachnida. Badannya berbentuk oval dan gepeng, yang betina berukuran 300x350 mikron,
sedangkan yang jantan berukuran 150-200 mikron. Stadium dewasa mempunyai 4 pasang
kaki, 2 pasang merupakan pasangan kaki depan dan 2 pasang lainnya kaki belakang. Setelah
melakukan kopulasi S.scabiei jantan mati, tetapi kadang-kadang dapat bertahan hidup
beberapa hari.

a. Badan berupa Kapitulum anterdorsal, mempunyai empat pasang kaki yang


segmennya pendek
b. Jantan : kaki 1 dan ambulakra, kaki 3 bulu cambuk, kaki 4 ambulakra
c. Betina : kaki 1 dan 2 ambulakra, kaki 3 dan bulu cambuk

Larva Sarcoptes scabiei memiliki 6 kaki sedangkan nimfa dan dewasa memiliki delapan kaki.
Perbedaan nimfa dan tungau dewasa adalah ukuran nimfa yang lebih kecil. Ujung sepasang
kaki pertama dan kedua pada jantan dewasa didapatkan alat penghisap (pulvilli) sedangkan
pada betina didapatkan setae yang panjang. Baik jantan maupun betina memiliki bentuk
seperti cakar yang berguna untuk mencengkram kulit inang yang ditinggalinya (Curie,2007)

Predileksi

Scabies dilaporkan lebih banyak terjadi pada kulit tanpa pigmen dibandingkan dengan
yang berpigmen. Bulu yang lebat, panjang dan kotor merupakan tempat yang ideal bagi
tungau Sarcoptes scabiei. Mungkin bulu yang panjang ini ada kaitannya dengan kelembaban
kulit. Diduga bahwa kulit yang lembab akan menyebabkan lapisan tanduk dari kulit menjadi
lebih lunak sehingga memudahkan bagi tungau untuk menembusnya. Di samping itu,
kelembaban yang tinggi dari kulit juga meningkatkan daya hidup Sarcoptes scabiei.

Kepentingan

a. Tungau memilih berkembang di pemukaan tubuh yang jarang rambutnya, seperti


kulit bagian muka dan daun telinga (kambing, domba, kelinci), kaki, moncong,
pangkal ekor (anjing, serigala), kepala dan leher (kuda), daerah pinggul dan leher
(sapi), atau di punggung (babi).
b. Lesi akan meluas ke bagian tubuh lain termasuk yang berambut tebal. Domba
yang memiliki wol tebal jarang terserang.
c. Rasa gatal dan ketidaktenangan dan hewan menggosok-gosokkan badannya.
d. Perubahan patologi berupa eritema, pruritus, kemudian muncul papula yang
pecah sehingga terjadi pengelupasan kulit, terbentuk sisik-sisik dan kudis. Bentuk
kudis mungkin kering, kurang jelas berbatas, dan tepinya tampak tidak
beraturan.Rambut rontok dengan lesi tepi yang tidak rata, tidak begitu menonjol
dari permukaan, bersisik atau berkeropeng, dan bentukan papula.
e. Nafsu makan menjadi berkurang, kurus, dan bau apek. Di sekitar tempat tidur
ditemukan reruntuhan jaringan kulit.
Pengendalian dan pengobatan
Pengendalian
Jaga kebersihan kandang dan lingkungannya, awasi secara cermat ternak yang masuk
ke dalam peternakan, dan populasi ternak (densitas) agar disesuaikan dengan luas
lahan/kandang yang tersedia, sehingga tidak terlalu padat.
Tindakan pengendalian yang terpenting adalah manajemen pengobatan dan
penggunaan obat yang tepat, serta pengawasan yang ketat terhadap lalu lintas hewan
penderitam baik klinis maupun subklinis. Di samping itu, perhatian juga harus ditujukan
terhadap induk dan pejantannya. Pejantan yang menderita scabies dapat menulari induk, dan
selanjutnya induk dapat menulari anaknya.

Pengobatan
Penderita scabies dapat diobati secara langsung mengenai kulit (perendaman/dipping,
disikat/brushing, penyemprotan/spraying), oral dan paranteral. Pengobatan sebaiknya diulang
sampai 2-3 kali dengan interval 1-2 minggu, untuk memutuskan siklus hidup tungau. Obat
yang digunakan secara langsung pada kulit antara lain larutan coumaphos 0,1%, benzena
hexa chloride (1% larutan yang berisi serbuk BHC dengan kadar 0,625%). Emulsi benzyl
benzoate 25%, kombinasi benzyl berzoate dan BHC, phosmet 20%, odylen 20% (dimenthyl-
diphenylene disulphide), lindane 20%, amitraz 0,1%, malathion, phoxim. Mengingat lokasi
tungau Sarcoptes scabiei berada didalam kulit, maka pengobatan agak sulit dan
membutuhkan kesabaran. Pada kasus yang sudah lanjut, keropeng yang tebal dapat
menghambat penetrasi akarisida. Hasil yang baik baru diperoleh bila keropeng tersebut
dibersihkan terlebih dahulu, namun hal ini kurang praktis di lapangan. Obat yang bersifat
sistemik dan cukup ampuh adalah ivermectin, diberikan secara subkutan dengan dosis 200
mg/kg bb. Secara oral, ivermectin tablet diberikan dengan dosis 100-200 mg/kg bb setiap hari
selama 7 hari.

3.4.16 Haematomyzus elephantis

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phyllum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Phthiraptera
Family : Haematomyzidae
Genus : Haematomyzus
Spesies : Haematomyzus elephantis

(dokumen pribadi)
Siklus Hidup
Telur dari kutu gajah yang melekat pada rambut gajah. Induk dari kutu gajah
melubangi atau memahat bulu-bulu seperti proses untuk menanamkan telur ke dalam kulit.
Telur tunggal melekat di tubuh inang dengan setetes cairan seperti lem dari kutu yang tahan
air. Dasar poros telur dan rambut dikelilingi oleh cairan lem ini untuk tetap diam. Zigot
dalam telur menetas dari telur, berkembang menjadi nimfa, dan dalam perkembangan
selanjutnya berubah menjadi kutu dewasa untuk menghisap darah dari tubuh inangnya. Nimfa
menyerupai kutu gajah dewasa dan memiliki kebiasaan yang sama, tetapi terdapat sedikit
perbedaan dari morfologi tubuh nimfa.

Morfologi
Haematomyzus elephantis memiliki tubuh dengan bentuh pipih dorsoventral, dengan
tubuh yang tersegmentasi. Caput terdiri dari antena tersegmentasi rostum dengan rahang
bawah yang dikembangkan sebagai organ menggigit. Tiga pasang kaki, masing-masing
dengan lima segmen, bergabung dari thorax. Abdomen yang memiliki enam pasang spirakel,
adalah bagian terpanjang dari tubuh, betina yang relatif lebih besar dan lebih panjang

Predileksi
Banyak ditemukan disekitar telinga sehingga menimbulkan iritasi lokal.

Kepentingan
Terdapat iritasi lokal dan gatal-gatal

Pengendalian dan pengobatan


Pengendalian

Melalui pengadaan karantina, monitoring kesehatan, sanitasi lingkungan, pengaturan


pakan dan minum, pengaturan/kontrol terhadap vektor beberapa penyakit.

Pengobatan
Penyuntikan invermectin dan disertai insectisida
3.4.17 Stomoxys calcitrans

Klasifikasi :
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Sub ordo : Cyclorrhapha
Famili : Muscidae
Genus : Stomoxys
Spesies ` : Stomoxys calcitrans
Inang : Hewan ternak, Sapi dan kuda
Predileksi : Kulit tubuh ternak dan jerami yang tergenang

Stomoxys calcitrans
(Dokumentasi Pribadi)

Morfologi :
- Venasi sayap terbuka
- Thorax abu-abu dengan 4 garis longitudinal gelap di mana bagian lateral tidak mencapai
skutum.
- Abdomen pendek dan lebar dengan 3 bintik hitam pada segmen kedua dan ketiga.
Siklus Hidup
Telur diletakkan pada kotoran hewan atau bahan pakan ternak yang terkontaminasi
urin. Dalam waktu 1-4 hari telur menetas bergantung pada suhu sekitar menjadi larva.
Pembentukan pupa terjadi pada bagian yang paling kering dari larva dan tingkat ini
berlangsung selama 6-9 hari. Stadium pradewasa akan muncul dari pupa setelah satu minggu
atau lebih. Siklus hidup berkisar 3-5 minggu.
Kepentingan
- Vektor dari genus Trypanosoma.
- Bertindak sebagai intermediete host dari Habronema majus.
- Pemindah penyakit dengan cara transmisi mekanis, yaitu Fowl pox dan Anthrax.
Pengendalian :
- Menghancurkan tempat-tempat berbiaknya atau membakar kotoran dan jerami yang busuk
- Penyemprotan pada kotoran menggunakan : BHC. Methoxy chlor, Diazinon, Chlordane.

3.4.18 Choriptes sp.

Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnida
Ordo : Acariformes
Subordo : Astigmata
Famili : Psoroptidae
Genus : Chorioptes
Spesies : Chorioptes bovis
Chorioptes caprae
Chorioptes equi (Dokumentasi pribadi)
Chorioptes cuniculi
Chorioptes texanus
Morfologi
Bentuk dan ukurannya kecil sekali (0,3 mm). Chorioptes memiliki bentuk badan yang
lebih bulat dan bagian alat mulut yang lebih pendek melebar. Kaki-kakinya tidak sama
panjang, dua pasang menjulur ke depan dua pasang ke belakang dan ujung-ujungnya berakhir
dengan adanya sucker atau berambut panjang. Tungau betina bentuk pasangan kaki ke-3
berambut seperti cambuk, sedang jantan memiliki tonjolan yang mengarah ke belakang dan
sepasang alat penghisap yang bulat bentuknya.

Host : Kambing, domba, kuda, sapi, kerbau, kelinci, dan kucing.

Predileksi : Kaki dekat kuku dan telinga.

Siklus hidup
Siklus hidup kurang lebih 3 minggu. Telur akan menetas dalam 3 hari dan berubah
menjadi larva. Setelah itu dalam waktu 3 hari larva akan berubah menjadi bentuk nimfa.
Nimfa yang berbentuk kecil akan menjadi bentuk jantan dewasa, sedangkan yang besar akan
berubah menjadi betina dewasa. Tungau betina dapat berumur sampai kurang lebih 3 minggu,
sedang yang jantan sampai 7-10 minggu. Telur yang dihasilkan tungau betina dapat
berjumlah 20-40 butir.

Kepentingan
Akibat infestasi tungau yaitu hewan dapat mengalami kegatalan, lecet, luka dan kurus,
umumnya kerusakan kulit pada moncong, telinga, dada bagian bawah, abdomen, pangkal
ekor, leher, sepanjang punggung dan kaki. Terlihat kulit berkerak-kerak, menebal dan
melipat-lipat . Pada tempat-tempat tersebut bulu sudah lepas sehingga kulit kelihatan gundul.
Peradangan dan gigitan akarid tersebut akan menimbulkan kerusakan pada kulit, kehilangan
berat badan, dermatitis dan bisa diakhiri dengan kematian .

Pengendalian dan pengobatan


Upaya pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara sanitasi lingkungan karena
yang paling sering terjadi penyebabnya adalah kondisi lingkungan yang buruk. Pengobatan
dapat dilakukan dengan injeksi invermevtin. Ivermectin mempunyai sifat vermisidal dan
acarisidal karena kesanggupannya berikatan dengan asam gamma aminobutirat (GABA) dan
mengganggu saluran khlor (chlor pathway) hingga terjadi hiperpolarisasi mimbran sel dan
selanjutnya menghambat hantaran syaraf, yang berakibat kelumpuhan syaraf pada otot
perifer. GABA sendiri pada mamalia hanya menghambat hantaran syaraf pada susunan syaraf
pusat, sedangkan pada nematoda dan artropoda pada mengatur hantaran syaraf sampai otot
perifer (Subronto dan Ida Tjahajati 2001).
DAFTAR PUSTAKA

Anargyrou K, Petrikkos GL, Suller MT, Skiada A, SiakantarisMP, Osuntoyinbo RT,


Pangalis G, Vaiopoulos G. 2003. Pulmonary Balantidium coli infection in a
leukemic patient. Am J Hematol 73: 180–183.

Arifin, C., dan Soedarmono 1982. Parasit Ternak dan Cara Penanggulangannya.
Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Astiti, L. G., Panjaitan. T., dan Wirajaswadi. (2011). Uji Efektifitas Preparat
Anthelmintik pada Sapi Bali di Lombok Tengah. Pengkajian dan Pengembangan
Teknologi Pertanian, Volume 14 No. 2,,Hlm 77-83.

Astyawati, T. 2005. Bahan Kuliah Protozoologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Bauri RK, Rajeev R, Deb AR, Ranjan R. 2012. Prevalence and sustainable control of
Balantidium coli infection in pigs of Ranchi, Jahrkahnd, India. Vet. World 5(2):
94-99.
Beck, W. (Juli 2008). "Terjadinya kutu tikus tropis Infestasi rumah (Ornithonyssus
bacoti) pada murides dan manusia".Kedokteran Perjalanan dan Penyakit
Menular . 6 (4): 245–249
Beck, W. (November 2007). "Tungau Tikus Tropis sebagai patogen penyakit yang
baru muncul pada tikus dan manusia".Kedokteran Perjalanan dan Penyakit
Menular . 5 (6): 403
Blood, D.C. and Henderson, J.A., 1974. Veterinary Medicine 4thEdition, The English
Language Book Society and Bailliere Tindall: London, pp. 364, 369-371, 585-
588.
Borror, D.J., C.A, Triplehorn, N.F, Jhonson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga.
Edisi Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Borror, D.J., C.A. Triplehom., and N.F. Jonhson, 1992. An introduction to the insect
terjemahan Partosoedjono, S dan Mukayat, D.B. Gajah Mada Universitas Press.
Yogyakarta: xviii+1009 hlm.
Center for Disease Control and Prevention (CDC). 2013. Schistosomiasis Infection.
DPDx-Laboratory Identification of Parasitic Diseases of Public Health Concern.
Available at:http://www. cdc.gov/dpdx/ schistosomiasis/ index.html. Diakses pada
tanggal 13 Desember 2015.
Chiejina, S.N dan Ekwe, T.O. 1986. Canine toxocariasis and the associated
environmenatl contamination of urban areas in Eastern Nigeria. Vet. Parasitol, 22,
157-161.

Childs, J.E. 1985. The prevalence of Toxocara species ova in backyards and gardens
of Baltimore, Maryland. Am. J. Of Publ. Hlth, 75, 1092-1094.
Collins, G.H. dan Moore, J. 1982. Soil survey for eggs of Toxocara species. Ann.
Trop. Med. Parasitol., 76; 579-580

Cox FEG. 1993. Modern Parasitology: A Textbook of Parasitology. Ed ke-2. London


(GB): Blackwell Scientific Publication.
Donkor K. 2014. Trichuris trichiura [diakses 19 September 2015]. Tersedia dari:
http://emedicine.medscape.com/art icle/788570.
Estuningsih, E. S. 2005. Toxocariasis pada hewan dan bahayanya pada manusia.
Wartazoa 15 (3) : 136—142.

E.V Hillyer, K.E. Quesenberry. 1997. Ferrets, Rabbits and Rodents. Clinical Medicine
and Surgery. W.B. Saundrs Company pp.

Frederick LS, Govinda VS. 2004. Amebae and ciliated protozoa as causal agents of
waterborne zoonotic disease. Veterinary Parasitology 126: 91–120.

Frederick LS, Lynn RA. 2008. Current World Status of Balantidium coli. Clinical
Microbiology Reviews 21(4): 626–638.
Fyre FL. 1991. Reptile Care an Atlas pf Diseases and Treatments. Vol 1. T.F.H
Publications, Inc USA.

Harvey, D., 2000, Modern Analytical Chemistry, McGraw-Hill Companies Inc, New
york
Hastutiek P dan Fitri LE. 2007. Potensi Musca Domestica linn. Sebagai vektor
beberapa penyakit. Jurnal Kedokteran Brawijaya 23(3) : 125-136.
Headley SA, Kummala E, Sukura A. 2008. Balantidium coli-infection in a Finnish
Horse. Veterinary Parasitology 158: 129-132.
Hetherington, George W.; William R. Holder; Edgar B. Smith (1 Maret
1971). "Dermatitis Tungau Tikus". Jurnal Asosiasi Medis Amerika . 215 (9):
1499
Hirst, S. (1913). " Leiognathus bacoti ". Buletin Penelitian Entomologi . 4 : 122
Jim Kelaher; Reena Jogi; Rajani Katta (Mei 2005). "Wabah Dermatitis Tungau Tikus
di Fasilitas Penelitian Hewan" (PDF) . Cutis . 75 (5): 282–6
Junqueira, L.C., 2007. Histologi Dasar: Teks & Atlas. Ed. 10. EGC .Jakarta

Junquera, P. 2004. Mecisticirrus Digitatus: Parasitic Roundworms of Cattle, Sheep,


Goats, and Pigs Biology, Prevention and Control.
http://parasitipedia.net/index.php?option=com_content&view=article&id=2
626&Itemid=2905 (diakses tanggal , 29 Maret 2018)
Klingenberg RJ. 2007. Understanding Reptil Parasites 2nd ec. Advanced Vivarium
System. Singapore,
Kusnoto. 2005. Prevalensi toksokariasis pada kucing liar di Surabaya melalui bedah
saluran pencernaan. Media Kedokteran Hewan. 21(1):7-11.
Kusuma S. 2008. Masalah Infestasi Ektoparasit pada Beberapa Jenis Burung Elang di
Habitat Eks-situ. (Skripsi). Bogor: Institute Pertanian Bogor.

Levine ND. 1985. Protozoologi Veteriner. Soekardono S, penerjemah; Brotowidjojo


MD, editor. Yogyakarta (ID): UGM Pr.

Levine, N.D. 1994. Parasitologi Veteriner. Diterjemahkan oleh Ashadi G. Dari


Textbook of Veterinary Parasitology. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hal 190-223.
Levine, N. D. 1995. Protozoology Veteriner (Terjemahan). Alih bahasa: Soekardono,
S. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Lopulalan. C. 2010. Analisa Ketahanan Beberapa Varietas Padi Terhadap Serangan


Hama Gudang (Sitophilus zeamais Motschulsky). Jurnal Budidaya Pertanian 1.
(6): pp 11-16.

Mohammadi SS, Petri WA Jr. 2004. Review: Zoonotic implications of the swine-
transmitted protozoal infections. Veterinary Parasitology 140: 189-203.
Nealma, S., I.M. Dwinata, dan I.B.M. Oka. 2013. Prevalensi infeksi cacing Toxocara
cati pada kucing lokal di wilayah Denpasar. J. Indo. Med. Vet. 2(4):428-436.
Olsem, C.W. 1960. Animal Parasiter: Their Biology and Life Cycles. 5th Ed. Burgess
Publishing Company, Minnesota.
Overgaauw, P.A. 1997. Aspect of Toxocara epidemiology: Toxocariasis in dogs and
cats. J. Parasitol. 23(3):215-231
Pandit BA. 2009. Prevalence of Coccidiosis in Cattle in Kashmir.Valley. VetScan
4(1):16-20.
Permin A, Hansen JW. 1998. Epidemiology, Diagnosis and Control of Poultry
Parasites. Food And Agricultural Organization Of The United Nation. Rome.
Purnomo, J. Gunawan, L. J. Magdalena, R. Ayda and A. M. Harijani. 2009. Atlas
Helminthologi Kedokteran. Gramedia. Jakarta.
Pusarawati, S., B. Ideham, Kusmartisnawati, I. S. Tantular, dan S. Basuki. 2014. Atlas
Parasitologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Sasmita R, Poeji Hastutik, Agus Sunarso dan Muhammad Yunus. 2013. Buku Ajar;
Arthropoda Veteriner. Airlangga University Press.

Seddon, H.R. 1976. Diseases of Domestic Animals in Australia. Helminth infestation


2th. Ed. Department of Health. Canberra.
Soulsby, E. J. L. 1986. Helminths, Arthropds and Protozoa of Domestocatied Animals
The English language book society and bailiere, Tindall. London
Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba Pada Anjing dan Kucing.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sugiarti, 2006. Identifikasi Nematoda Gastrointestinal pada Banteng (Bos javanicus d’


Alton) di Taman Nasional Alas Purwo Kabupaten Banyuwangi Melalui
Pemeriksaan Feses. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
Surabaya.
Suraini. 2011. Jenis - Jenis Lalat (Diptera) Dan Bakteri Enterobacteriaceae Yang
Terdapat Di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Kota Padang [Tesis].
Padang: Program Pascasarjana Universitas Andalas.
Tampubolon, M. P. 2004. Protozoology. Pusat Stui Ilmu Hayati, Institut Pertanian
Bogor. Bogor.

Taniawati S, Margono SS. 2008. Epdemiologi Soil Transmited Helminths. Dalam:


Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Taylor MA. Coop RL. Wall RL,. 2007. Veterinary Parasitology.Third Edition,
Blackwell Publishing. Oxford.
T.L.H Tsui and N.M Patton. 1991. Comperative Efficiency of Subcutaneous Injection
Doses of Ivermectin against Passalurus ambiguous in rabbits J. Appl. 14: 266-269.

Uga, S., T. Matsumara, K. Fujisawa, K. Okubo, N. Kataoka, and K. Kondo. 1990.


Incidence of seropositivity to human toxocariasis in hyogo prefecture, Japan and
its possible role in ophthalmic disease. J. Parasitol. 39(5):500-5002.
Urquhart GM, Armour J, Duncan JL, Dunn AM, Jennings FW. 1996. Veterinary
Parasitology. UK: Blackwell Science.

Winaya IBO, Berata IK, Apsari IAP. 2011. Kejadian Balantidiosis pada Babi
Landrace. Jurnal Veteriner 12(1): 65-68.
Yulfi, H. 2006. Protozoa Intestinalis. USU Repository. Medan Sumatera Utara.
Logbook Parasit
Pemeriksaan Feses
Tanggal Hewan Asal sampel Hasil Pemeriksaan Keterangan
N S A
Kuda J Emporium + - + Strongyloides, sp
Kuda E Emporium - - - Negatif
Kuda D Emporium - - - Negatif
Kuda Trotter - - - Negatif
Lavesih
Kuda Noel Trotter - - - Negatif
06-05- Sapi S2F Kaliwaron - - - Negatif
2019
Sapi S4F Kaliwaron + + - Balantidium coli
Ular Rungkut + + - Strongyloides rabdias
B. kaka Tua Kenjeran - - - Negatif
Anjing RSH - - - Negatif
Blacky
Ayam Pasar Bratang + - - Capillaria, sp
Kalkun
Lb 3k Pasar Bratang - - - Negatif
Lb 3f Pasar Bratang - - - Negatif
J Pasar Bratang - - - Negatif
M1 Pasar Bratang - - - Negatif
M2 Pasar Bratang - - - Negatif
M3 Pasar Bratang - - - Negatif
07-05-
2019 Anjing Pasar Bratang + + - Tricostrongylus
Unyil retortaeformis,
Ancylostoma caninum
Wa4k Pasar Bratang - - - Negatif
Wa2k Pasar Bratang - - - Negatif
H(A.arab) Pasar Bratang - - - Negatif
Burung Beo Pasar Bratang - - - Negatif
Ayam walik Pasar Bratang - - - Negatif
Ayam arab Pasar Bratang - - - Negatif
S
Ayam kate Pasar Bratang - - - Negatif
Ayam Pasar Bratang - - -
Negatif
bekisar
Ayam Pasar Bratang - - -
Negatif
perkutut
Burung Pasar Bratang - - -
Negatif
cucak
Ayam putar Pasar Bratang - - - Negatif
Kucing 1 Pucang - - - Negatif
Kucing 2 Pucang - - - Negatif
Kucing 3 Pucang - - - Negatif
Kucing 4 Pucang - - - Negatif
Kucing 5 Pucang - - - Negatif
Kucing 6 Pucang - - - Negatif
Kucing 7 Pucang - - - Negatif
S1k (sapi) Pucang - - - Negatif
S2k (sapi) Pucang - - - Negatif
08-05- Ayam Pasar keputran - - - Negatif
2019 keputran
LB A Pasar keputran - - - Negatif
LB B Pasar keputran - - - Negatif
LB C Pasar keputran - - - Negatif
LB D Pasar keputran - - - Negatif
LB E Pasar keputran + - - Hiterakis gallinarum
Ayam 1 Pacar keeling + + - Ascaridia galli
Ayam 2 Pacar keeling - - - Negatif
Bebek Pacar keeling + + - Ascaridia galli
Kucing Boy Milik Arika - - - Negatif
Babi Kbs - - - Negatif
Celeng Kbs - - - Negatif
Bekantan 1 Kbs - + - Ascaridia, sp
Bekantan 2 Kbs - - - Negatif
Sapi 1 RPH - - - Negatif
9-05-2019
Sapi 2 RPH - - - Negatif
Sapi 3 RPH - - - Negatif
Kucing Kenjeran - - - Negatif
bulbul
Kucing Kenjeran + - - Toxocara cati
pasar
Kucing Pasar Manyar + + + Ancylostoma, sp
Fatma
Isospora, sp
Toxocara, sp
Domb 4 Kbs - - + Eimeria, sp
Domba 5 Kbs - - - Negatif
Domba 6 Kbs - - - Negatif
Eland Kbs - + + Bunostomum
trigonocephalum
Cotylophoron
Cotylophorum
10-05-
2019
Kasuari Kbs - - - Negatif
Unta Kbs + - - Capillaria, sp
Wallaby Kbs - - - Negatif
tanah
Singa Kbs - - - Negatif
Harimau Kbs - - - Negatif
Benggala
Rusa Kbs - - - Negatif
Sambar
Kuda Kbs - - - Negatif
Kijang Kbs - - - Negatif
Watusi Kbs + - + Haemonchus Contortus
Anjing Bidu Kenjeran + + - Ancylostoma, sp
Sapi 1 Blitar - - + Eimeria,sp
Sapi 2 Blitar - - - Negatif
Sapi 3 Blitar + - - Balantidium coli
Ayam 1 Bondowoso Negatif
Ayam 2 Bondowoso Negatif
Ayam 3 Bondowoso - + - Capillaria Longicalis
Kambing 1 Bondowoso + + - Haemonchus contortus
Strongyloides papillosus
Geigeria pachycelis
Kambing 2 Bondowoso - - - Negatif
Kambing 3 Bondowoso + - - Moneizia expansa
13-05- Kelinci 1 Bondowoso + + - Eimeria, sp
2019
Kelinci 2 Bondowoso - - - Negatif
Kelinci 3 Bondowoso - - - Negatif
Sapi 4 Blitar - - - Negatif
Sapi 5 Blitar - - - Negatif
A.bangkok Nganjuk - - - Negatif
1
A.bangkok Nganjuk - - - Negatif
2
Kucing 1 Nganjuk - - - Negatif
Kucing 2 Nganjuk - - - Negatif
Kambing 4 Blitar - - - Negatif
Sapi 6 Blitar - - - Negatif
Jalak Nganjuk - - - Negatif
14-05-
Jiblek Nganjuk - - - Negatif
2019
Ayam Nganjuk - - - Negatif
kampong
Anjing 2 Surabaya - - - Negatif
Anjing 3 Surabaya - - - Negatif
Anjing 4 Surabaya - - - Negatif
Anjing 7 Surabaya + + + Blastocytis
Isospora,sp
Domba 1 Surabaya - + - Strongyloides papillosus
Domba 2 Surabaya - - - Negatif
Domba 3 Surabaya - + - Haemonchus Contortus
Babi 1 RPH surabaya - - - Negatif
Babi 2 RPH surabaya - + - Trichuris trichura
Babi 3 RPH surabaya - - - Negatif
Babi 4 RPH surabaya - - - Negatif

15-05- Babi 5 RPH surabaya - - - Negatif


2019 Babi 6 RPH surabaya - - - Negatif
Babi 7 RPH surabaya - - - Negatif
Babi 8 RPH surabaya - - - Negatif
Babi 9 RPH surabaya - - - Negatif
Babi 10 RPH surabaya - - - Negatif
Iguana Kandang + - + Passalurus ambigus
Iguana FKH
Sapi 1 Blitar Negatif
Sapi 2 Blitar Negatif
Sapi 3 Blitar Negatif
16-04- Sapi 4 Blitar Negatif
2019
Sapi 5 Blitar Negatif
Sapi 6 Blitar Negatif
Sapi 7 Blitar Negatif
Sapi 8 Blitar Negatif
Sapi 9 Blitar - + - Oesophagustomum
radiatum
Sapi 10 Blitar Negatif
Sapi 11 Blitar Negatif
Sapi 12 Blitar Negatif
Sapi 13 Blitar Negatif
Sapi 14 Blitar Negatif
Sapi 15 Blitar Negatif
Sapi 16 Blitar Negatif
Sapi 17 Blitar Negatif
Sapi 18 Blitar Negatif
Sapi 19 Blitar Negatif
Sapi 20 Blitar Negatif
Sapi 22 Blitar Negatif
Sapi 23 Blitar + + - Eimeria, sp,
Balantidium coli
Sapi 24 Blitar + + - Eimeria,sp
Sapi 25 Blitar Negatif
Sapi 26 Blitar - + - Balantidium coli
Sapi 1 Bondowoso - - Negatif
Sapi 2 Bondowoso - - - Negatif
Anjing RSH UNAIR - - - Negatif
MERPATI RSH UNAIR SWAB Trichomonas, sp
KERONGKONGAN
09-05-
2019 Iguana RSH UNAIR + - - Pasalurus ambigus
Ular FKH UNAIR + + - Rhabdias, sp
20-05- Sapi 27 Blitar - - - Negatif
2019
Sapi 28 Blitar - - - Negatif
Sapi 29 Blitar - - - Negatif
Sapi 30 Blitar + - - Mecisticirus digitatus
Sapi 31 Blitar - - - Negatif
Sapi 32 Blitar - + - Toxocara vitolorum
Sapi 33 Blitar - - - Negatif
Sapi 34 Blitar - - - Negatif
Babi 1 RPH Surabaya - - - Negatif
Babi 2 RPH Surabaya - - - Negatif
Babi 3 RPH Surabaya - - - Negatif
Babi 4 RPH Surabaya + - - Balantidium coli
21-05- Kuda 1 Emporium - - - Negatif
2019
Kuda 2 Emporium - - - Negatif
Kuda 3 Emporium - - - Negatif
Kuda 4 Emporium - - - Negatif
Kuda A Emporium - - - Negatif
Kuda B Emporium - - - Negatif
Kuda C Emporium - - - Negatif
Kuda D Emporium - + - Tridontophorus
tenuicallis

Pemeriksaan Feses
(SATWA LIAR KBS)
Tanggal Hewan Asal sampel Hasil Keterangan
Pemeriksaan
N S A
Eland KBS - + + Bonustomum
trigonocephalum,
Cotylophoron
cotylophorum
10-05-
2019 Kasuari KBS - - - Negatif
Unta KBS + - - Capillaria, sp
Wallaby KBS - - - Negatif
tanah
Singa KBS - - - Negatif
Harimau KBS - - - Negatif
Benggala
Rusa KBS - - - Negatif
Sambar
Kuda KBS - - - Negatif
Kijang KBS - - - Negatif
Watusi KBS + - - Haemonchus contortus
Bekantan 1 KBS + - - Ascaris, sp
Bekantan 2 KBS - - - Negatif
Julang emas KBS + + - Syngamus trachea,
Ascaridia galli

Pemeriksaan Ulas Darah


Tanggal Hewan Asal sampel Hasil Keterangan
Pemeriksaan
Kuda Tc Emporium - Negatif
Kuda Tb Emporium - Negatif
Ayam 1 Kaliwaron - Negatif
Ayam 2 Kaliwaron - Negatif
06-05- Ayam 3 Kaliwaron - Negatif
2019
Ayam 1 Pasar Jetis - Negatif
Ayam 2 Pasar Jetis - Negatif
Ayam 3 Pasar Jetis - Negatif
Burung Milik Kemal - Negatif
merpati
Sapi 1 RPH surabaya + Anaplasma
10-05-
Sapi 2 RPH surabaya - Negatif
2019
Sapi 3 RPH surabaya - Negatif

13-04- Domba 1 Blitar - Negatif


2019 Domba 2 Blitar - Negatif
Kambing 1 Blitar - Negatif
Kambing 2 Blitar - Negatif
Ayam jago 1 Blitar - Negatif
Ayam jago 2 Blitar - Negatif
Ayam Blitar - Negatif
kampung
Kucing 1 Blitar - Negatif
Kucing 2 Blitar - Negatif
Sk41 Blitar - Negatif
A1 Blitar - Negatif
A2 Blitar - Negatif
A3 Blitar - Negatif
A4 Blitar - Negatif
Sf1 Blitar - Negatif
Sf2 Blitar - Negatif
Sf3 Blitar - Negatif
Sk31 Blitar - Negatif
Sk32 Blitar - Negatif
Anjing 1 Blitar - Negatif
Anjing 2 Blitar - Negatif
Anjing 3 Blitar - Negatif
Anjing 4 Blitar - Negatif
Babi 1 RPH surabaya - Negatif
Babi 2 RPH surabaya - Negatif
Babi 3 RPH surabaya - Negatif

15-05- Babi 4 RPH surabaya - Negatif


2019 Babi 5 RPH surabaya - Negatif
Babi 6 RPH surabaya - Negatif
Babi 7 RPH surabaya - Negatif
Babi 8 RPH surabaya - Negatif
Babi 9 RPH surabaya - Negatif
Babi 10 RPH surabaya - Negatif
Babi 11 RPH surabaya - Negatif
Babi 12 RPH surabaya - Negatif
Ayam 1 Pasar keputran - Negatif
Ayam 2 Pasar keputran - Negatif
Ayam 3 Pasar keputran - Negatif
Ayam 4 Pasar keputran - Negatif
Ayam 5 Pasar keputran - Negatif
Ayam 6 Pasar keputran - Negatif
16-05-
Ayam 7 Pasar keputran - Negatif
2019
Ayam 8 Pasar keputran - Negatif
Ayam 9 Pasar keputran - Negatif
Ayam 10 Pasar keputran - Negatif
Ayam 11 Pasar keputran - Negatif
Ayam 12 Pasar keputran - Negatif
Ayam 13 Pasar keputran - Negatif
17-05- Merpati Pasar bratang + Haemoproteus
2019
Ayam 1 Pasar pucang - Negatif
Ayam 2 Pasar pucang - Negatif
Ayam 3 Pasar pucang + Leucocytozoon
Ayam 4 Pasar pucang - Negatif
21-05-
Ayam 1 Pasar rangkah - Negatif
2019
Ayam 2 Pasar rangkah - Negatif
Ayam 3 Pasar rangkah - Negatif
Tikus Pasar bratang - Negatif
Tikus Pasar bratang - Negatif

KOLEKSI
Tanggal Hewan Asal sampel METODE Keterangan
Kuda Emporium Net dan pinning Tabanus megalops
Sapi Kandang RSH Net dan pinning Musca domestica
06-05-
2019 Ikan Pasar Net dan pinning Chrysomya megacephala
bandeng mojoarum
Sapi Kaliwaron Net dan pinning Chrysomya megacephala
Kambing Kandang FKH Wet prevention Damalinia ovis
Ayam Kandang FKH Wet prevention Columbicola columbae
Anjing RSH UNAIR Wet prevention Rhipicepalus sanguineus
Blacky
07-05- Kucing RSH UNAIR Wet prevention Ctenocephalides felis
2019
Kucing RSH UNAIR Wet prevention Felicola Subrostratus
Kucing RSH UNAIR Wet prevention Ctenocephalides felis
Kucing RSH UNAIR Wet prevention Ctenocephalides felis
Anjing oliv RSH UNAIR Wet prevention Rhipicepalus sanguineus
Nyamuk Kandang FKH Wet prevention Culicoides, sp
Kucing RSH UNAIR Wet prevention Ctenocephalides felis
09-05- Tikus Kandang coba Wet prevention Ornithonyssus bacoti
2019 FKH UNAIR
Pasar Pasar Wet prevention Ctenocephalides felis
kaliwaron
Pasar Pasar bratang Net dan pinning Sarcophaga
haemorrhoidales
10-05-201
Pasar Pasar bratang Net dan pinning Chrysomya saffranea
Beras Kutu beras Wet prevention Sitophilus oryzae
Ayam Bondowoso Wet prevention Lipeurus caponis
Kambing Bondowoso Wet prevention Damalinia ovis
Sapi Blitar Wet prevention Haematopinus
14-05-
eurysternus
2019
Kucing Surabaya Wet prevention Sarcoptes scabiei
miwa
21-04- Kucing Surabaya Wet prevention Choriptes sp
2019
Pasar Kandang FKH Net dan pinning Stomoxys calcitrans
UNAIR