Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah merupakan aspek penting dalam perencanaan konstruksi.
Karena pada tanahlah berdiri satu bangunan. Oleh karena itu, sangat
penting untuk memperhatikan faktor kestabilan tanah. Salah satu cara yang
digunakan untuk melakukan pengendalian kestabilan tanah agar tak
mengalami kelongsoran adalah dengan membangun dinding penahan
tanah. Dinding penahan tanah adalah suatu struktur konstruksi yang
dibangun untuk menahan tanah yang mempunyai kemiringan/lereng
dimana kekuatan tanah tersebut tidak dapat dijamin oleh tanah itu sendiri.
Bangunan dinding penahan tanah digunakan untuk menahan tekanan
tanah lateral yang ditimbulkan oleh tanah urugan atau tanah asli yang labil
akibat kondisi topografinya.
Dinding penahan dalam praktik konstruksi sipil memiliki banyak
jenis tergantung dari aplikasi dan kasus yang akan digunakan baik untuk
menahan tekanan tanah pada tebing/slope, timbunan/embankment,
konstruksi sub structure /basement, kolam tampungan retensi/pond,
konstruksi pembendung air, penahan transpor sedimen pada sungai roraya.
Dinding penahan memiliki beberapa fungsi antara lain:
 Menahan tekanan lateral tanah aktif (Active Lateral Force Soil) yang
dapat berpotensi menyebabkan terjadinya keruntuhan lateral tanah
misalnya longsor/landslide.
 Menahan tekanan lateral air (Lateral Force Water) yang dapat
berpotensi menyebabkan terjadinya keruntuhan lateral akibat tekanan
air yang besar.
 Mencegah terjadinya proses perembesan air/seepage secara lateral
yang diakibatkan oleh kondisi elevasi muka air tanah yang cukup
tinggi. Dalam hal ini juga berfungsi dalam proses dewatering yaitu
dengan memotong aliran air (Flow net) pada tanah (Cut Off).
Perencanaan bangunan dinding penahan tanah untuk mencegah
erosi, menahan dan meninggikan tanah timbunan jalan maka di
rencanakan bangunan dinding penahan tanah pada pembangunan jembatan
sungai roraya di ruas Anese-Kapuwila kecamatan Andoolo Barat
Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara. Adapun Tipe yang dipilih
adalah kantilever. Konstruksi hasil data lapangan struktur dinding penahan
tanah tipe kanilever dengan pasangan batu gunung,beton bertulang untuk
sloof dan kolom yang berfungsi untuk menahan beban dari tanah timbunan
jalan dan memotong aliran air sungai agar tidak terjadi erosi oleh air
sungai.
Dinding Penahan Tanah (Retaining wall) Retaining wall
merupakan istilah di bidang teknik sipil yang artinya dinding penahan.
Berdasarkan buku Sudarmanto, Ir., Msc., (1996), Konstruksi Beton 2
dinyatakan bahwa, Dinding penahan tanah adalah suatu konstruksi yang
berfungsi untuk menahan tanah lepas atau alami dan mencegah keruntuhan
tanah yang miring atau lereng yang kemampatannya tidak dapat dijamin
oleh lereng tanah itu sendiri.
Pada dasarnya pembangunan konstruksi dinding penahan tanah
berfungsi untuk mencegah agar tidak terjadi kelongsoran menurut
kemiringan alaminya. Sebagian besar bentuk dinding penahan tanah
adalah tegak (vertikal) atau hampir tegak kecuali pada keadaan tertentu
dan dinding penahan tanah dibuat condong ke arah urugan.

1.3 Batasan Masalah


Adapun batasan masalah pada Pembangunan Jembatan Sungai Roraya
sebagai berikur :
1. Merencanakan konstruksi dinding penahan tanah (retaining wall)
yang baik.
2. Analisa stabilitas tanah ditinjau dari segi pergeseran, penggulingan,
penurunan daya dukung tanah, dan patahan.
3. Biaya konstruksi dinding penahan tanah pada pembangunan
jembatan sungai roraya.

1.4 Manfaat dan Tujuan


1.4.1 Manfaat
Adapun tujuan dalam pembangunan dinding penahan tanah ini
adalah:
1. Mencegah terjadinya erosi oleh air sungai pada tanah timbunan .
2. Meminimalisir terjadinya longsoran pada tanah timbunan di
punggung dinding penahan.
3. Mengetahui Rencana Anggaran Biaya dinding penahan tanah yang
diperlukan.

1.4.2 Tujuan
1. Dapat dijadikan literatur dalam menambah wawasan di dunia
teknik sipil,
2. Perencanaan ini dapat direalisasikan oleh pemerintah daerah
Kabupaten Konawe selatan.
3. Dapat menambah pengetahuan bagaimana merencanakan sebuah
konstruksi yang lebih baik dan efesien.

1.5 Sistematika Penulisan


Adapun kerangka berfikir atau sistematika laporan adalah sebagai
berikut;
BAB I Pendahuluan
Menerangkan tentang latar belakang,rumusan masalah,batasan
masalah,manfaat dan tujuan, dan sistematika laporan Pelaksanaan Praktek
Kerja Lapangan (PKL).
BAB II Gambaran Umum
Menguraikan gambaran umum proyek, lokasi proyek, data proyek,
manajemen proyek, menguraikan tentang struktur organisasi proyek, serta
hubungan kerja antara pihak-pihak organisasi penyelenggara proyek.
BAB III Ruang Lingkup Pekerjaan
Menguraikan tentang langkah kerja setiap pekerjaan dari awal hingga
akhir pekerjaan.
BAB IV Tinjauan Khusus
Menguraikan tentang pelaksanaan “Struktur (Dinding Penahan
Tanah)” pada Pekerjaan Pembangunan Jembatan Sungai roraya di Ruas
Anese-kapuwila Kecamatan Andoolo Barat Kabupaten Konawe
Selatan/Kota Kendari.
BAB V Penutup
Berisikan mengenai kesimpulan akhir yang didapat selama proses
pelaksanaan praktek kerja (PKL) sampai selesainnya penyusunan laporan
ini, disertai dengan saran-saran untuk memperbaiki kekurangan -
kekurangan yang ada.
BAB II
TINJAUAN UMUM PROYEK

2.1 Gambaran Umum Proyek


Adapun gambaran umum proyek Pembangunan Jembatan Sungai Roraya
Ruas Anese-Kapuwila di Kecamatan Andoolo Barat, Kabupaten Konawe
Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Papan Pengumuman Proyek


( Eri Sarianto 2019 )
2.1.1 Data Umum Proyek
Adapun data umum proyek Pembangunan Jembatan Sungai Roraya
Ruas Anese-Kapuwila ( Lain–Lain ) Tahun Jamak Adalah sebagai
berikut :
 Nama Proyek : Pembangunan Jembatan Sungai Roraya
Ruas Anese-Kapuwila
 Lokasi : Andoolo Barat, Kabupaten Konawe Selatan
 Nomor Kontrak : 600/01/kontrak/BM-PUTR/IX/2017
 Tanggal Kontrak : Andoolo 31 juli 2018
 Waktu : 1,110 Hari Kalender
 Nilai Kontrak : Rp. 19.806.700.000
 Sumber Dana : APBD
 Tahun Anggaran : 2017 s/d 2020
 Mulai Tanggal : 14 September 2017
 Selesai Tanggal : 1 Maret 2020
 Kontraktor : Pt. Tripolar Utama Sultra
 Konsultan : Cv.Rayan Teknik Konsultan

Pihak penyedia jasa dengan menempatkan mahasiswa yang


melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada pelaksanaan
pekerjaan dinding penahan tanah Type Cantilever, di Pembangunan
Jembatan Sungai Roraya Ruas Anese-Kapuwila sehingga pembahasan
selanjutnya akan diarahkan hanya pada pekerjaan tersebut.
2.1.2 Data Teknis Proyek
Adapun data teknis pada Pekerjaan Pembangunan Jembatan
Sungai Roraya Ruas Anise-Kapuwila yang dilakukan di Kecamatan
Andoolo Barat Konawe Selatan adalah sebagai berikut :
 Panjang Jembatan : 60 meter
 Lebar Jembatan : 10 meter
 Tinggi Jembaatan :11.25 meter
 Panjang Tiang Pancang :1.2 meter
 Tinggi abutmen :10.30 meter

2.2 Lokasi Proyek


Lokasi proyek pada Pekerjaan Pembangunan Jembatan Sungai Roraya
Ruas Anise-Kapuwila, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.2
berikut :

Gambar 2.2 Site Plan Lokasi Proyek ( Eri Sarianto 2019 )


2.3 Manajemen Proyek
Manajemen proyek yaitu penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan
keterampilan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas untuk
mencapai sasaran yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal
dalam hal kinerja, waktu, mutu dan keselamatan kerja. Dalam manajemen
proyek, perlunya pengelolaan yang baik dan terarah karena suatu proyek
memiliki keterbatasan sehingga tujuan akhir dari suatu proyek bisa tercapai
(Alfian 2013).
Manajemen proyek erat kaitannya dengan pengelolaan atau pengendalian
proyek dengan sebaik mungkin untuk mencapai hasil yang telah ditargetkan.
Menurut Hidayat (2011) Beberapa hal yang dapat ditinjau dalam
pengendalian proyek adalah :
2.3.1 Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu dilakukan terhadap bahan atau material
struktur, peralatan kerja, pelaksanaan pekerjaan dan hasil pekerjaan
dengan cara melakukan pengawasan dan pengukuran langsung di
lapangan, perhitungan sebagai fungsi kontrol serta melakukan
pengujian bahan baik di laboratorium maupun di lapangan.
2.3.2 Pengendalian Tenaga Kerja
Penempatan tenaga kerja harus sesuai dengan jumlah dan
kemampuannya yang dapat menunjang tercapainya efisiensi suatu
pekerjaan agar target pekerjaan dapat terpenuhi.
Pada pekerjaan pembangunan jembatan, seluruh pengadaan tenaga
kerja diserahkan pada penyedia jasa yaitu PT.TRIPOLAR UTAMA
SULTRA. Dengan mempekerjakan orang-orang yang pernah bekerja
pada proyek sebelumnya dan dengan menjalin mitra baru di lokasi
sekitar proyek dengan para pekerja yang sudah memiliki pengalaman
dan keahlian.
2.3.3 Pengendalian Waktu
Pengendalian Waktu berdasarkan time schedule pekerjaan. Dengan
memperhatikan pekerjaan apa yang harus dikerjakan lebih dahulu
sesuai dengan tahap pekrjaan yang dapat dikerjakan bersamaan dan
kapan harus dimulai. Sehingga dapat disesuaikan sebelum waktu
pelaksanaan pekerjaan berakhir.
2.3.4 Pengendalian Biaya
Pengendalian biaya adalah usaha sistematik untuk menentukan
standar yang sesuai dengan sasaran perencanaan, merancang system
informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standar dan tindakan
yang diperlukan agar sumber daya utamanya biaya yang digunakan
secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.
Pengendalian biaya dilakukan dengan membuat rekapitulasi biaya
yang telah dikeluarkan, baik dalam hal pembelian material maupun
pembayaran gaji pekerja. Besarnya biaya yang telah dikeluarkan akan
dibandingkan dengan pekerjaan yang telah dicapai sebagai kontrol dan
evaluasi pengendalian biaya.
2.3.5 Pengendalian Teknis
Pengendalian teknis merupakan usaha yang bersifat fisik yang
berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan. Pengendalian
teknis dilakukan dengan cara mengetahui perkembangan dan
permasalahan di proyek melalui laporan kemajuan dan koordinasi
proyek. Laporan tersebut dibuat dalam bentuk laporan harian, mingguan
dan bulanan.
2.3.6 Pengendalian K3
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah
satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat,
bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan
atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja
Menerapkan K3 dalam proses pelaksanaan pekerjaan sebagai salah
satu cara pengendalian K3. Hal tersebut dilakukan agar tenaga kerja
secara aman melakukan pekerjaannya, sehingga meningkatkan
produktivitas kerja dan kualitas pekerjaan. K3 yang berhubungan
dengan pekerja Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada pekerjaan dinding
penahan tanah berupa alat pelindung diri seperti Helm,Rompi,Sepatu
Safety dan Masker untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja peserta
PKL.

2.4 Organisasi Penyelenggara Proyek


Untuk menjamin pelaksanaan kegiatan agar sesuai dengan segala
ketentuan yang ditetapkan dan tepat pada waktunya, maka dibentuklah badan-
badan hukum dan susunan struktur organisasi Pekerjaan Pembangunan
jembatan, paket Pekerjaan Pembangunan Jembatan Sungai Roraya Ruas
Anese-Kapuwila, Kecamatan Andoolo Barat, Kabupaten Konawe Selatan,
Sulawesi Tenggara.
Unsur-unsur yang terlibat langsung dalam menangani kegiatan tersebut
adalah :
 Pemilik Proyek (owner);
 Konsultan perencana (consultant/designer);
 Konsultan pengawas (direksi/supervisor);
 Pelaksana (contractor).
Semua unsur organisasi tersebut memiliki fungsi dan tanggung jawab
yang berbeda-beda. Dalam pelaksanaannya diharapkan saling terkait satu
sama lainnya, sehingga dalam pelaksanaan pekerjaan akan memperoleh
hasil yang sebaik-baiknya.
2.4.1 Pemilik Proyek/Owner
Pemilik proyek (Owner) adalah pihak yang memiliki gagasan untuk
membangun, baik secara perorangan (Individu) atau badan hukum
seperti wakil dari suatu perusahaan atau organisasi swasta maupun
wakil suatu dinas atau jabatan.
Owner pada proyek Pekerjaan Pembangunan Jembatan Sungai
Roraya Ruas Anese-Kapuwila, Kecamatan Andoolo Barat, Kabupaten
Konawe Selatan adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Direktorat Jenderal Bina Marga. Adapun tugas dari pemilik
proyek menurut Ahadi (2010) antara lain :
a) Menyediakan biaya perencanaan dan pelaksanaan proyek
b) Mengadakan kegiatan administrasi proyek
c) Memberikan tugas kepada kontraktor untuk melaksanakan
pekerjaan proyek
d) Meminta pertanggung jawaban kepada konsultan pengawas
e) Menerima proyek yang sudah selesai dikerjakan oleh kontraktor
f) Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah
direncanakan.
Sedangkan tanggung jawab owner adalah sebagai berikut:
a) Membuat surat perintah kerja (SPK).
b) Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah
direncanakan.
c) Meminta pertanggungjawaban kepada para pelaksana proyek atas
hasil pekerjaan konstruksi.
d) Memutuskan hubungan kerja dengan pihak pelaksana proyek yang
tidak dapat melaksanakan pekerjaanya sesuai dengan isi surat
perjanjian kontrak.
2.4.2 Konsultan
CV.Rayan Teknik Konsultan bertindak sebagai Konsultan
perencana sekaligus Konsultan Pengawas. Keduanya ditunjuk untuk
melaksanakan pekerjaan perencanaan sekaligus pengawasan
berdasarkan keahlian pada Pekerjaan Pembangunan Jembatan Sungai
Roraya Ruas Anese-Kapuwila, Kecamatan Andoolo Barat, Kabupaten
Konawe Selatan. Tugas Konsultan Perencana antara lain :
a) Mengadakan penyesuaian keadaan lapangan dengan keinginan
pemilik bangunan.
b) Membuat gambar kerja pelaksanaan.
c) Membuat rencana kerja dan syarat-syarat pelaksanaan bangunan
(RKS) sebagai pedoman pelaksanaan.
d) Membuat RAB.
e) Memproyeksikan keinginan atau ide owner ke dalam desain.
f) Melakukan perubahan desain bila terjadi penyimpangan
pelaksanaan pekerjaan di lapangan yang tidak memungkinkan
desain terwujud.
g) Mempertanggungjawabkan desain dan perhitungan struktur jika
terjadi kegagalan konstruksi.

Tanggung jawab konsultan perencana adalah sebagai berikut:


a) Mempertahankan desain dalam hal adanya pihak – pihak pelaksana
bangunan yang melaksanakan pekerjaan tidak sesuai dengan
rencana.
b) Menentukan warna dan jenis material yang akan digunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

Sedangkan tugas konsultan pengawas adalah sebagai berikut :


a) Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan
kontrak kerja.
b) Melaksanakan pengawasan secara rutin pada pelaksanaan proyek.
c) Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek untuk dilihat
pemilik proyek.
d) Memberikan saran atau pertimbangan kepada pemilik proyek
maupun kontraktor dalam proyek pelaksanaan pekerjaan.
e) Mengoreksi dan menyetujui gambar shop drawing yang diajukan
kontraktor sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan proyek.
f) Memilih dan memberikan persetujuan mengenai tipe dan merek
yang diusulkan oleh kontraktor dengan tetap berpedoman dengan
kontrak kerja konstruksi yang dibuat.
Tanggung jawab konsultan pengawas adalah sebagai berikut :
a) Memperingatkan dan memberikan sanksi pada pihak pelaksanaan
pekerjaan jika terjadi penyimpangan terhadap kontrak kerja.
b) Menghentikan pelaksanaan pihak pekerjaan jika pelaksana proyek
tidak memperhatikan peringatan yang diberikan.
c) Memberikan tanggapan atas usul pihak pelaksana proyek.
d) Konsultan pengawas berhak memeriksa gambar shopdrawing
pelaksana proyek.
e) Melakukan perubahan dengan menerbitkan berita acara perubahan
(site instruction).
f) Mengoreksi pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontaktor agar sesuai
dengan kontrak kerja yang telah disepakati sebelumnya.
2.4.3 Kontraktor
PT.Tripolar Utama Sultra adalah pihak yang ditunjuk untuk
melaksanakan pekerjaan dalam Pekerjaan Pembangunan Jembatan
Sungai Roraya Ruas Anese-Kapuwila, Kecamatan Andoolo Barat,
Kabupaten Konawe Selatan.

Tugas dan Tanggung jawab kontraktor pelaksana yaitu :


a) Proses pengerjaan dan pelaksanaan konstruksi harus sesuai dengan
rencana spesifikasi dan peraturan yang telah disebutkan dalam
surat perjanjian. Dengan cara ini maka pihak klien atau owner
dapat terlindungi jika terjadi kesalahan atau ketidaksesuaian dari
pihak kontraktor.
b) Membuat laporan kemajuan dari proyek yang sedang dikerjakan.
Laporan ini dibuat dalam bentuk laporan harian, laporan mingguan,
dan laporan bulanan serta ditujukan kepada pemilik proyek. Dalam
isi laporan tersebut mengenai pelaksanaan pekerjaan, jumlah
tenaga kerja, kemajuan proyek, dan adanya pengaruh lain saat
proses pengerjaan sebagai penyebab keterlambatan pelaksanaan.
c) Keterlaksanaan jadwal kerja sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan sebelumnya sehingga proses pengerjaan bangunan dapat
berjalan lancar dan selesai tepat waktu.
d) Melakukan penyediaan bahan atau material, tenaga kerja yang
profesional dan terampil serta tempat yang diperlukan untuk
mendukung kelancaran proses pembangunan.
e) Dalam proses pengerjaan proyek maka pihak kontraktor harus
selalu menjaga semua peralatan yang digunakan agar tetap dalam
kondisi yang layak sehingga dapat memperlancar proses
pengerjaan proyek pembangunan.

2.5 Hubungan Kerja


Dalam pelaksanaan sebuah proyek, tiap pihak mempunyai wewenang dan
tanggung jawab sesuai dengan fungsinya. Hubungan kerja antara pihak-pihak
dari organisasi yang terlibat dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu :
2.5.1 Hubungan Kerja Secara Teknis

Pemilik
Proyek/Owner

Kontraktor Konsultan

Gambar 2.5.1 Hubungan Kerja Antara Organisasi Proyek


Keterangan :
Garis Perintah
Garis Koordinasi
Pada gambar 2.3 dapat dilihat bahwa garis perintah menunjukkan
alur perintah yang mengalir dari pempinan organisasi ke unit di
bawahnya, sedangkan untuk garis koordinasi menunjukkan hubungan
kerja atau koordinasi antar unit organisasi yang ada.
2.5.2 Hubungan Kerja Secara Hukum
Kedudukan masing-masing pihak secara hukum adalah sama dan
terikat dalam kontrak. Oleh karena itu seluruh pihak harus
menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan perjanjian yang telah
disepakati yang tertuang dalam kontrak.Dalam kontrak tersebut hak
dan kewajiban owner,kontraktor dan konsultan.
Tugas dan tanggung jawab PT.Tripolar Utama Sultra adalah:
1. Melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai dengan peraturan dan
spesifikasi yang telah direncanakan dan ditetapkan didalam
kontrak perjanjian pemborongan.
2. Memberikan laporan kemajuan proyek (progress) yang meliputi
laporan harian, mingguan, serta bulanan kepada pemilik proyek
yang memuat antara lain:
 Pelaksanaan pekerjaan.
 Prestasi kerja yang dicapai.
 Jumlah tenaga kerja yang digunakan.
 Jumlah bahan yang masuk.
 Keadaan cuaca dan lain-lain.
Tugas dan tanggung jawab CV.Rayan Teknik Konsultan adalah:
 Mengadakan penyesuaian keadaan lapangan dengan keinginan
pemilik proyek (bisa pihak swasta maupun pemerintah).

 Membuat gambar kerja pelaksanaan. Membuat Rencana kerja dan


syarat – sayarat pelaksanaan bangunan ( RKS ) sebagai pedoman
pelaksanaan.
 Membuat rencana anggaran biaya (RAB).
 Memproyeksikan keinginan – keinginan atau ide – ide pemilik
proyek ke dalam desain bangunan. Melakukan perubahan desain
bila terjadi penyimpangan pelaksanaan pekerjaan dilapangan yang
tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.
 Mempertanggungjawabkan desain dan perhitungan struktur jika
terjadi kegagalan konstruksi. kemudian proses pelaksanaanya
diserahkan kepada konsultan pengawas. Konsultan pengawas ini
sendiri adalah orang/instansi yang menjadi wakil pemilik proyek
di lapangan.

Pelelangan adalah suatu sistem penawaran yang memberikan


kesempatan kepada rekanan yang diundang untuk mengajukan
penawaran biaya pekerjaan yang ditawarkan.
BAB III
RUANG LINGKUP PEKERJAAN

3.1 Tahapan Pekerjaan


Tahap awal suatu pekerjaan diwajibkan suatu perencanaan. Dalam
perencanaan ini meliputi perncanaan gambar, perencanaan jadwal hingga
estimasi biaya sehingga dalam proses pelaksanaan maka perencanaan
teresebut acuan untuk pengendalian proyek. Pada saat tahap pelaksanaan
pekerjaan bisa saja terjadi pergantian gambar dari perencanan sebelumnya
sehingga butuh adanya komunikasi antar pengelola proyek supaya
pelaksanaan bisa sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Proyek
pekerjaan pembangunan jembatan sungai Roraya di ruas Anese-Kapuwila
Kecamatan Andolo Barat Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi
Tenggara. Tahapan dan Ketentuan-ketentuan yang berlaku pada pekerjaan
berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Revisi 3 yang telah
disesuaikan dengan perencanaan jalan dan jembatan. Adapun tahapan
pekerjaan tersebut sebagai berikut :
3.1.1 Pekerjaan Umum
a) Mobilisasi dan Demobilisasi
Mobilisasi menyangkut Penyewaan atau pembelian sebidang
lahan yang diperlukan untuk base camp penyedia jasa dan
kegiatan pelaksanaan, Pemasangan peralatan dan pengadaan
tenaga kerja sesuai dengan ketentuan. Sedangkan Demobilisasi
menyangkut pembongkaran tempat kerja oleh penyedia jasa
pada saat akhir kontrak, termasuk pemindahan semua instalasi,
peralatan dan perlengkapan menjadi kondisi sperti semula.
b) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas
Penyedia jasa harus memasang dan memelihara perlengkapan
jalan sementara, tenaga keselamatan lalu lintas serta
menyediakan petugas bendera dan/atau alat pemberi isyarat
lalu lintas lainnya sepanjang zona kerja saat diperlukan.
c) Manajemen Mutu
Proses pemeriksaan untuk memastikan atau mengetahui
bahwa produk atau jasa pelayanan yang penyedia jasa
memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan dalam kontrak.
3.1.2 Pekerjaan Tanah
1) Galian Biasa
Galian biasa adalah seluruh galian yang tidak
diklasifikasikan sebagai galian batu lunak, galian batu, galian
struktur, galian sumber bahan, galian perkerasan beraspal,
galian perkerasan berbutir dan galian perkerasan beton.
2) Galian Struktur
mencakup galian pada segala jenis tanah dalam batas
pekerjaan yang disebut atau ditunjukkan dalam gambar untuk
struktur dengan kedalaman 0 – 2 m. Setiap galian yang
didefinisikan sebagai galian biasa atau galian batu tidak dapat
dimasukkan dalam galian struktur. Galian struktur meliputi
untuk galian lantai pondasi jembatan, tembok penahan tanah
beton dan struktur pemikul beban lainnya.Pekerjaan galian
struktur meliputi :
a. penimbunan kembali dengan bahan pembuangan bahan
galian yang tidak terpakai, penimbunan dan keperluan
drainase, pemompaan, penimbaan, penurapan, penyokong,
pembuatan dan pembongkaran tempat kerja atau cofferdam.
3) Timbunan biasa
Timbunan biasa adalah timbunan atau urugan yang
digunakan untuk pencapaian elevasi akhir subgrade yang
disyaratkan dalam gambar perencanaan tanpa maksud khusus
lainnya. Timbunan biasa ini juga digunakan untuk penggantian
material existing subgrade yang tidak memenuhi syarat.
Bahan timbunan biasa harus memenuhi persyaratan-
persyaratan sebagai berikut :
a. Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa
harus terdiri dari tanah yang disetujui oleh Pengawas yang
memenuhi syarat untuk digunakan dalam pekerjaan
permanen.
b. Bahan yang dipilih tidak termasuk tanah yang plastisitasnya
tinggi, yang diklasifikasi sebagai A-7-6 dari persyaratan
AASHTO M 145 atau sebagai CH dalam sistim klasifikasi
(Unified atau Casagrande). Sebagai tambahan, urugan ini
harus memiliki CBR yang tak kurang dari 6 %, bila diuji
dengan AASHTO T 193.
c. Tanah yang pengembangannya tinggi yang memiliki nilai
aktif lebih besar dari 1,25 bila diuji dengan AASHTO T
258, tidak boleh digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai
aktif diukur sebagai perbandingan antara Indeks Plastisitas
(PI) – (AASHTO T 90) dan presentase ukuran lempung
(AASHTO T 88).
4) Timbunan Pilihan
Timbunan Pilihan digunakan untuk meningkatkan
kapasitas daya dukung tanah dasar pada lapisan penopang
(CBR lapangan kurang 2%) dan jika diperlukan pada daerah
galian.
3.1.3 Pekerjaan Dinding Penahan Tanah
Pekerjaan dinding penahan tanah pada proyek ini meliputi
pekerjaan pembesian slof dan kolom dinding penahan tanah,
pemasangan batu belah, pemasangan bekisting dan penegcoran slof
dan kolom.
Pekerjaan dinding penahan tanah dibagi menjadi beberapa titik
yang meliputi bagian selatan dan bagian utara jembatan. Dalam
pelaksanaan dinding penahan tanah menggunakan mutu beton
K225 dengan panjang dinding penahan tanah bagian selatan 90 m,
lebar bawah 1,75 m, lebar atas 0,3 m dan tinggi 2 m -5,2 m.

Gambar 3.1.3 Dinding Penahan Tanah Bagian Selatan


(Eri Sarianto 2019)
Panjang dinding penahan tanah bagian utara 116 m, lebar bawah 2
m, lebar atas 0,6 m dan tinggi 1,3 m -5,5 m.

Gambar 3.1.3 Dinding Penahan Tanah Bagian Utara


(Eri Sarianto 2019)
3.1.4. Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang
a. Persiapan Lokasi Pemancangan
Mempersiapkan lokasi dimana alat pemancang akan
diletakan, tanah haruslah dapat menopang berat alat.
b. Persiapan Alat Pemancang
Alat pancang yang digunakan dapat dari jenis drop
hammer, diesel atau hidrolik.
c. Penyimpanan Tiang Pancang
Tiang pancang disimpan di sekitar lokasi yang akan
dilakukan pemancangan. Tiang pancang disusus seperti
piramida, dan dialasi dengan kayu 5/10. Penyimpanan
dikelompokan sesuai dengan type, diameter, dimensi yang
sama.
d. Pemacangan
Kepala tiang pancang harus dilindungi dengan bantalan
topi atau mandrel. Tiang pancang diikatkan pada sling yang
terdapat pada alat, lalu ditarik sehingga tiang pancang masuk
pada bagian alat.

Gambar 3.1.4 Pondasi Tiang Pancang (Eri Sarianto 2019)


3.1.5. Pekerjaan Abutment
1. Pekerjaan Pour (abutment bagian bawah)
Pour ini adalah struktur bagian bawah pada pekerjaan
abutment, pelaksanaan pekerjaan ini dilaksanakan setelah
pekerjaan struktur bawah pondasi dan lantai kerja selesai.
Proses pengerjaannya yaitu:
a. pemasangan bekisting,
b. pemasangan tulangan
c. pengerjaan pengecoran.
2. Pekerjaan Badan dan Dinding Sayap Abutment
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah pekerjaan pour selesai,
dengan menggunakan mutu beton K 350.
Proses pekerjaannya yaitu:
a. Pemasangan tulangan
b. Pemasangan bekisting

Pada saat pemasangan tulangan untuk badan abutment


digunakan besi U 24 polos untuk tulangan pokok dan
digunakan besi D 32 uril untuk tulangan sengkang sedangkan
untuk dinding sayap digunakan besi U 16 polos. Fungsi dari
abutment ini adalah sebagai dinding penahan tanah.

Gambar 3.1.5 Pekerjaan Abutment (Eri Sarianto 2019)


3.1.6. Pekerjaan Pier
a. Pekerjaan Pier Kolom
Pelaksanaan pembuatan pier head/ pile cap dilakukan dalam
tiga tahap, yaitu :
 Pembuatan bekisting
 Pembesian
 Pengecoran.

Pengecoran dilakukan dalam dua tahap, yaitu bagian bawah


pier dan bagian atas pier. Pekerjaan ini dilaksanakan dengan
menggunakan mutu beton K 350 dan K 450. Pada saat
pemasangan tulangan untuk pier kolom menggunakan besi D
32 uril untuk tulangan pokok dan sengkang menggunakan besi
U 24 polos.

Gambar 3.1.6 Pekerjaan Pier (Eri Sarianto 2019)

3.1.7. Pelaksanaan Pemasangan Gelagar


Pekerjaan pemasangan gelagar dilaksanakan setelah pekerjaan
pondasi jembatan selesai. Pelaksanaan pekerjaan pemasangan gelagar
terdiri dari:
a. Menurunkan gelagar dan plat dari kendaraan truk trailer
menggunakan crane. Metode stressing dilakukan apabila kekuatan
beton sudah memenuhi persyaratan sesuai dengan initial jacking force
yang telah disapproval. Langkah-langkah stressing adalah
sebagai berikut:
1. Masukan strand
2. Setting angkur balok
3. Stressing
4. Potong strand
5. Grouting dan patcinz

Gambar 3.1.7 Pemasangan Gelagar (Eri Sarianto 2019)

3.1.8. Pelaksanaan Pemasangan Diafragma


Diafragma adalah elemen struktur yang berfungsi untuk
memberikan ikatan antara gelagar sehingga akan memberikan
kestabilan pada masing-masing gelagar dalam arah horisontal.
Pengikat tersebut dilakukan dalam bentuk pemberian stressing
pada diafragma dan gelagar sehingga dapat bekerja sebagai satu
kesatuan.

Gambar 3.1.8 Pekerjaan Pemasangan Diafragma (Eri Sarianto 2019)


3.1.9. Pekerjaan Bronjong
Adapun pekerjaan bronjong yang meliputi:
a. Bronjong kawat berlapis galvanis berbentuk persegi atau kubus
dengan ukuran panjang =2,0 m x lebar = 1,0 m x Tinggi =0,5
m, dengan kawat sisi uk 4 mm dan kawat pengikat 3 mm.
b. Kawat bronjong adalah kawat baja berlapis seng tebal.
c. Batu belah dipilih yang berukuran ᴓ 15 cm x 15 cm.
Pekerjaan struktur yang dilaksanakan di Proyek Pekerjaan
Pembangunan Jembatan, paket Pekerjaan Pembangunan Jembatan
Sungai Roraya Ruas Anese-Kapuwila Kecamatan Andoolo Barat
Kabupaten Konawe Selatan, adalah Pekerjaan Jembatan, Pekerjaan
Pemasangan Bronjong dan Pekerjaan Talud. Jembatan merupakan
struktur yang dibuat untuk menyeberangi jurang atau rintangan
seperti sungai, rel kereta api ataupun jalan raya. Bronjong atau
Gabions digunakan untuk mencegah erosi yang dipasang pada
tebing-tebing dan tepi-tepi sungai. Konstruksi Dinding Penahan
Tanah (Talud), digunakan untuk menahan gaya tekanan tanah pada
timbunan di badan jalan agar tidak terjadi penurunan.

Gambar 3.1.9 Pesangan Batu Bronjong (Eri Sarianto 2019)

3.1.10. Pengadaan Alat Berat


a. Excavator
Pada pekerjaan galian dibawah permukaan menggunakan
Excavator 80-140 hp dengan kapasitas 0.9 m3 dengan koefisien
2.000.0 per jam.
Gambar 3.1.10 Excavator ( Eri Sarianto 2019 )

b. Concrete Vibrator
Vibrator hp 5.5 digunakan pada pekerjaan pengecoran
dimana fungsinya untuk pemadatan beton yang dituangkan ke
dalam bekisting dengan kapasitas 25.0.

Gambar 3.1.10 Concrete Vibrator (Eri Sarianto 2019)

c. Concrete Mixer Truck


concrete mixer truck adalah merupakan kendaraan yang
digunakan untuk mengangkut adukan beton ready mix dari
tempat pencampuran beton kelokasi proyek dimana selama
dalam pengangkutan mixer terus berputar dengan kapasitas
350.0 liter dan kecepatan 8-12 putaran per menit agar beton
tetap homogen serta tidak mengeras.

Gambar 3.1.10 Concrete Mixer Truck ( Eri Sarianto 2019 )

d. Concrete Mixer
Concrete Mixer adalah alat bantu kerja untuk mencampur
adonan mortar dengan alat ini mortar lebih bagus dan
merata.Dalam pekerjaan dinding penahan tanah pada
pembangunan jembatan sungai roraya terdapat 4 buah dengan
kapasitas 5000.0 liter.

Gambar 3.1.10 Concrete Mixer ( Eri Sarianto 2019 )

e. Vibrator Roller
Vibration Roller adalah Merupakan alat berat yang
digunakan untuk menggilas, memadatkan hasil timbunan,
dengan kpasitas 7.1 ton sehingga kepadatan tanah yang
dihasilkan lebih sempurna.

Gambar 3.1.10 Vibrator Roller( Eri Sarianto 2019 )


f. Laoder
Loader adalah mesin alat berat yang digunakan dalam
konstruksi untuk memindahkan atau memuat bahan seperti
aspal, puing-puing pembongkaran, kerikil, log, mineral mentah,
bahan daur ulang, batu, pasir dan woodchip.

Gambar 3.1.10 Laoder ( Eri Sarianto 2019 )


g. Truk
Alat ini digunakan untuk mengangkut serta memindahkan
material dari suatu tempat ke tempat lainnya.Pada pekerjaan
dinding penahan tanah truk dipakai mengangkut matrial
batu,pasir dan semen.
Gambar 3.1.10 Truk ( Eri Sarianto 2019 )

h. Alat Pengolah Lahan(Dozer)


Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan
lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut
mulai dilakukan pekerjaan kostruksi. Jika pada lahan masih
terdapat semak atau pepohonan maka pembukaan lahan dapat
dilakukan dengan menggunakan dozer. Untuk pengangkatan
lapisan tanah paling atas dapat digunakan scraper. Sedangkan
untuk pembentukan permukaan supaya rata selain dozer dapat
digunakan juga motor grader.

Gambar 3.1.10 Dozer ( Eri Sarianto 2019 )

i. Drap hammer
Drop hammer merupakan palu berat yang diletakan pada
ketinggian tertentu di atas tiang palu tersebut kemudian
dilepaskan dan jatuh mengenai bagian atas tiang.
Gambar 3.1.10 Drap Hammer ( Eri Sarianto 2019 )
BAB IV
TINJAUAN KHUSUS

4.1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan


Jadwal Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dimulai pada
tanggal 9 mei 2019 dan berahir pada tanggal 24 juni 2019. Ketentuan waktu
kerja yang telah disepekati dengan pihak penyedia jasa adalah sebagai
berikut:
 Hari kerja : Senin/Jumat (Lima hari seminggu)
 Jam kerja : 07.30 – 11.30 WITA dan 13.30 – 16.30 WITA
Selama kurun waktu 45 hari, secara rinci kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dapat dilihat pada laporan harian (terlampir), beserta daftar hadir
dan jadwal pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
Pada laporan ini dikhususkan pada pembahasan mengenai pekerjaan
Dinding Penahan Tanah :

4.2 Gambaran Umum Pekerjaan Struktur (Dinding Penahan Tanah)


Bangunan dinding penahan tanah berguna untuk menahan tekanan
tanah lateral yang ditimbulkan oleh tanah urug atau tanah asli yang labil.
Dinding penahan tanah adalah sebuah struktur yang didesain dan dibangun
untuk menahan tekanan lateral (horisontal) tanah ketika terdapat
perubahan dalam elevasi tanah.Dinding penahan tanah berfungsi untuk
menyokong tanah serta mencegahnya dari bahaya kelongsoran. Baik
akibat beban air hujan, berat tanah itu sendiri maupun akibat beban yang
bekerja di atasnya.
Pekerjaan dinding penahan tanah dilakukan pada dua arah yaitu arah
selatan jembatan dan arah utara jembatan sungai roraya yang mempunyai
ukuran dan elevasi yang berbeda.
4.3 Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan
Untuk prosedur peleksanaan pekerjaan dinding penahan tanah Pada
proyek pembangunan Jembatan Sungai Roraya Ruas Anise-Kapuwila
Kecamatan Andoolo Kabupaten Konawe Selatan, yaitu sebagai berikut :
4.3.1 Pekerjaan Galian
Pada pekerjaan dinding penahan tanah dilakukan menggali tanah
untuk capping beam dengan excavator kapasitas 0.9 m3 sehingga
pekerjaan penggalian tanah lebih mudah dan cepat.

Gambar 4.3.1 Pekerjaan Galian tanah ( Eri Sarianto 2019 )

4.3.2 Pemasangan Bouwplank


Bouwplank adalah semacam pembatas yang dipakai untuk
menentukan titik bidang kerja pada sebuah proyek. Bouwplank juga
berfungsi sebagai tempat penentuan titik membuat dan meletakkan
ukuran pekerjaan galian dan pasangan batu dinding penahan tanah
yang akan dibangun dan sebagai media bantu. Pemasangan
bouwplank pada pekerjaan dinding penahan ini menggunakan tali dan
perancah kayu sebagai patok ukur.
Gambar 4.3.2 Pemasangan Bouwplank ( Eri Sarianto 2019 )

4.3.3 Pasangan Batu Kosong


Pasangan batu kosong adalah bangunan bawah dinding penahan
tanah batu gunung yang disusun di atas galian tanah sesuai ukuran
gambar kontrak dengan pasir urug di bawahnya.
Pasangan batu kososng berfungsi sebagai pemikul beban dari
kinstruksi dinding penahan dan beban horizontal yang kemudian di
teruskan ke lapiasan tanah dasar.

Gambar 4.3.3 Pasangan Batu Kosong ( Eri Sarianto 2019 )

4.3.4 Pasangan Batu dan Sloof bawah


Pekerjaan pasangan batu dan slof adalah konstruksi bagian bawah
sebagai pondasi dinding penahan tanah yang berfungsi untuk
menahan beban konstruksi di atasanya.Sloof bawah dibuat
berdiameter 0.2m x 0,2m.
Gambar 4.3.4 Pasangan Batu dan slof bawah ( Eri Sarianto 2019 )

4.3.5 Pasangan Batu Dengan Beton


Pasangan batu dengan beton adalah konstruksi badan dindig
penahan tanah pasangan batu dan dipasang pipa penyalur PVC yang
berfungsi menstabilkan kondisi tanah dan menahan bahaya longsor
dan berat air tanah maupun berat sendiri.

Gambar 4.3.5 Pasangan Batu Dengan Beton ( Eri Sarianto 2019 )

4.3.6 Kolom dan Sloof


Bangunan dinding penahan tanah dengan pasangan batu gunung pada
pembangunan jembatan sungai roraya menggunakan sloof dan
kolom.Adapun fungsi dari konstruksi tersebut yaitu:
Pekerjaan konstruksi kolom dipilih diameter 0.2 m x 0.2 m dan
sloof 0.6 m x 0.2 m dengan menggunakan besi ukuran U 10 polos,besi
begel ukuran U 8 polos, jarak antar begel 0.2 m – 0.25 m.Kolom
berfungsi untuk menjaga stabilitas gaya guling dan geser akibat tekanan
tanah lateral yang terjadi pada bangunan dinding penahan tanah.
Gambar 4.3.6 Kolom ( Eri Sarianto 2019 )

Gambar 4.3.6 Sloof ( Eri Sarianto 2019 )

4.4 Alat dan Bahan


4.4.1 Alat yang di gunakan
a. Concrete Mixer
Concrete mixer berfungsi sebagai alat bantu mengaduk
campuran mortar dengan alat ini pekerjaan pencampuran mortar
lebih bagus dan merata.Dalam pekerjaan dinding penahan tanah
di pembanguan Jembatan Sungai Roraya terdapat 3 buah dengan
kapasitas yang sama 5000.0 liter.
b. Bar cutter
Bar cutter adalah alat yang digunakan untuk memotong besi
tulangan,dengan alat ini maka pekerjaan pemotongan besi
pekerja lebih mudah dan cepat dalam pengerjanya.

c. Gerobak dorong
Grobak dorong digunakan untuk ukuran dan memindahkan
campuran mortar dari alat mixer ke lokasi pekerjaan dinding
penahan tanah.

d. Sekopang dan sendok campur


Dalam pekerjaan dinding penahan pekreja menggunakan alat
bantu sekop dan sendok untuk menyendok matrial pasir dan
mortar.
4.4.2 Rencana Dinding Penahan Tanah

Besi U 10 Polos
Besi U 8 Polos
Besi U 8 Polos
Pipa Penyalur PVC

Pas.Batu Gunung
Besi U 10 Polos
Pas.Batu Kosong
20

Sloof 60 cm x 20 cm

Pipa PVC

Pas.Batu Gunung

Kolom 20 cm x 20 cm

Sloof 20 cm x 20 cm

Pas.Batu Kuku

Pas.Batu Kosong

4.5 Analisa Volume Galian Tanah

4.6 Analisa Pasangan Batu Kosong


60
20

20

250
60

20
50

20
20

140

300
20

20
80
20

200

Rumus :
V= P x L x T
=1600 x 2 x 0.2
=

4.7

Anda mungkin juga menyukai