Anda di halaman 1dari 64

ISSN 2581-1576

Bunga Rampai
Penerapan Teknologi Konstruksi

InBuild KNOWLEDGE
MANAGEMENT

Edisi September-Oktober 2017


ISSN 2581-1576

BALAI PENERAPAN TEKNOLOGI KONSTRUKSI


DIREKTORAT JENDERAL BINA KONSTRUKSI
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

i
Direktur Jenderal
Bina Konstruksi
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BINA KONSTRUKSI

U
ndang–undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi mengamanatkan bahwa
Pemerintah memiliki kewenangan untuk mengelola sistem informasi bidang konstruksi.
Sejalan dengan hal tersebut, Balai Penerapan Teknologi Konstruksi berdasarkan Permen
PUPR nomor 20/PRT/M/2016 memiliki TUSI menyebarluaskan materi penerapan teknologi
konstruksi bagi seluruh masyarakat jasa konstruksi di Indonesia. Salah satu sarana media elektronik
penyebarluasan materi penerapan teknologi konstruksi yang digunakan oleh Balai Penerapan Teknologi
Konstruksi yaitu melalui website www.sibima.pu.go.id atau SIBIMA Konstruksi (Sistem Informasi Belajar
Intensif Mandiri Bidang Konstruksi).

SIBIMA Konstruksi hadir sebagai layanan informasi yang relatif lengkap bagi masyarakat jasa konstruksi
sesuai dengan konsep pembentukannya yaitu “One Stop Window for Construction Information”. Tidak
hanya menyajikan menu pelatihan jarak jauh, menu lain yang menarik dalam SIBIMA Konstruksi yaitu
knowledge management bidang konstruksi, spesifikasi teknis bidang PUPR, seluruh SKKNI bidang
konstruksi PUPR, serta bagaimana memahami Undang-Undang nomor 2 tahun 2017 tentang Jasa
Konstruksi secara komprehensif disertai latihan soal. Pada menu knowledge management berisi tentang:
berbagai artikel penerapan teknologi terkini yang sedang berkembang di Indonesia dan dunia; berbagai
pengalaman praktis dari badan usaha nasional dan pelaksanaan proyek; materi MTU (Mobile Training
Unit) dan materi Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bidang konstruksi dari Direktorat
Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

Buku knowledge management yang dibangun oleh Balai Penerapan Teknologi Konstruksi terdiri dari
dua jenis yaitu Bunga Rampai Knowledge Management Penerapan Teknologi Konstruksi yang merupakan
kumpulan artikel bidang konstruksi yang ditulis secara popular oleh masyarakat jasa konstruksi.
Sedangkan buku kedua yaitu Bunga Rampai Penerapan Teknologi Konstruksi-In Build Knowledge
Management yang merupakan kumpulan best practice metode kerja dari Badan Usaha Jasa Konstruksi.

Pada edisi kali ini, Bunga Rampai Penerapan Teknologi Konstruksi-In Build Knowledge Management akan
mengulas mengenai best practice metode kerja yang digunakan oleh PT. Hutama Karya. Sejak pendiriannya
setengah abad lalu, PT. Hutama Karya (Persero) terkenal sebagai salah satu BUMN Konstruksi terbesar
di Indonesia. Kali ini PT. Hutama Karya (Persero) telah bertransformasi dari perusahaan jasa konstruksi
menjadi perusahaan pengembang infrastruktur dengan lingkup usaha yang jauh lebih luas. Pengalaman
PT. Hutama Karya sebagai badan usaha jasa konstruksi begitu banyak dan menarik untuk diulas. Semua
ini dirangkum dalam knowledge management dengan harapan menjadi lesson learned bagi masyarakat
jasa konstruksi di Indonesia demi infrastruktur yang lebih baik.
Jakarta, 8 September 2017
Direktur Jenderal Bina Konstruksi

Ir. Yusid Toyib, M.Eng.Sc.


Direktur Bina Kompetensi
dan Produktivitas
Konstruksi
SAMBUTAN DIREKTUR BINA KOMPETENSI DAN
PRODUKTIVITAS KONSTRUKSI

D
irektorat Jenderal Bina Konstruksi adalah satu-satunya unit eselon I di Indonesia yang
memiliki tugas untuk melakukan pembinaan konstruksi. Lingkup pembinaan konstruksi
meliputi: pembinaan supply chain industri konstruksi, pembinaan penyelenggaraan
konstruksi, pembinaan kapasitas kelembagaan, pembinaan SDM dan produktivitas
konstruksi serta kerja sama antar lembaga. Pembinaan konstruksi memiliki peran yang sangat penting
dalam menentukan tingkat daya saing sektor konstruksi. Saat ini peringkat daya saing nasional telah
meningkat dari 41 pada tahun 2016 menjadi 36 pada tahun 2017, sedangkan daya saing infrastruktur
meningkat dari 60 pada tahun 2016 menjadi 52 pada tahun 2017. Ada dua hal yang menjadi kunci utama
dari meningkatnya peringkat daya saing ini yaitu pemanfaatan teknologi dan penyebarluasan informasi
penerapan teknologi konstruksi yang menjadi bahan utama dari capacity building bidang konstruksi.

Saat ini Balai Penerapan Teknologi Konstruksi merupakan unit pelaksana teknis sebagai kepanjangan
tangan dari Direktorat Jenderal Bina Konstruksi diberikan mandat untuk dapat melakukan knowledge
management bidang konstruksi. Proses knowledge management ini meliputi: menghimpun pengetahuan,
menyeleksi dan memverifikasi pengetahuan, mengemas pengetahuan dan menyebarluaskan
pengetahuan bidang konstruksi kepada masyarakat luas. Inilah yang menjadi kekuatan dari Balai
Penerapan Teknologi Konstruksi dalam mendukung tugas yang diamanatkan oleh Kementerian PUPR
untuk dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahtaraannya melalui capacity building
pengetahuan bidang konstruksi. Salah satu cara dalam menghimpun pengetahuan tersebut yaitu
dengan mengumpulkan berbagai pengalaman para BUMN besar, salah satunya adalah PT. Hutama
Karya.

Sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 117 Tahun 2015, PT. Hutama Karya mendapat
penugasan Pemerintah untuk mengembangkan Jalan Tol Trans – Sumatera. Selain pembangunan Jalan
Tol, Hutama Karya juga membangun Jembatan Holtekamp di Papua. Baik pembangunan Jalan Tol
Trans Sumatera maupun Jembatan Holtekamp memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda sesuai
dengan kondisi wilayah masing-masing. Pulau Sumatera memiliki karakteristik tanah rawa, sementara
Jembatan Holtekamp Papua harus membelah lautan.

Pada edisi ini dibahas pembangunan yang dilakukan oleh PT. Hutama Karya untuk menyelesaikan
pekerjaan konstruksi dengan metode kerja tertentu. Semoga apa yang diberikan PT. Hutama Karya ini
kepada masyarakat dapat menjadi inspirasi bagi inovasi bidang konstruksi lainnya di Indonesia.

Direktur Bina Kompetensi dan Produktivitas


Konstruksi

Ir. Ober Gultom, MT


Kepala Balai
Penerapan Teknologi
Konstruksi
PENGANTAR KEPALA BALAI PENERAPAN
TEKNOLOGI KONSTRUKSI

P
embangunan infrastruktur tidak terlepas dari peran para BUMN yang turut serta dalam
melakukan berbagai pembangunan konstruksi untuk mendukung pengembangan wilayah
di Indonesia. PT. Hutama Karya adalah salah satu perusahaan swasta Hindia Belanda yang
dinasionalisasi pada tahun 1961. Pengalaman dalam inovasi pembangunan yang dimiliki oleh
PT. Hutama Karya sangat banyak, dua diantaranya adalah pembanguna jalan tol trans Sumatera dan
pembangunan jembatan Holtekamp di Papua. PT. Hutama Karya merupakan perusahaan pertama
yang mengenalkan sistem prategang BBRV dari Swiss. Sesuai dengan slogan Hutama Karya yaitu:
Inovasi untuk solusi, maka Hutama Karya memilki inovasi teknologi konstruksi untuk pembangunan
infrastruktur di Indonesia.

Pembangunan jembatan Holtekamp di Papua merupakan bagian dari rencana pengembangan wilayah
dalam mendukung pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Tahun 2020. Pembangunan jembatan
ini bukan pekerjaan konstruksi yang mudah karena diperlukan penggunaan pondasi bore pile untuk pilar
di laut. Dalam buku knowledge management ini diulas tentang metode pelaksanaan pemancangan bore
pile di laut dan dibahas pula tentang pengelolaan jalur distribusi peralatan dan bahan yang dikirim dari
Surabaya ke Papua.

Pada materi lainnya, dibahas tentang penanganan konstruksi jalan trans Sumatera yang memiliki
kendala tanah dasar rawa pada ruas jalan tol Palembang-Indralaya. Teknologi yang digunakan adalah
soil improvement dengan Vacuum Consolidation Method (VCM) yang merupakan salah satu metode
untuk memperbaiki stabilitas tanah lunak. Metode ini digunakan dengan melakukan pemompaan pada
tanah untuk mengurangi kadar air.

Semua keunggulan metode kerja PT. Hutama Karya dalam pembangunan jembatan Holtekamp dan
jalan tol trans Sumatera ruas Palembang-Indralaya disajikan secara menarik dalam buku ini. Semoga
pengalaman ini menjadi inspirasi bagi para badan usaha lainnya untuk berbagi pengalaman yang
dirangkum dalam knowledge management bidang konstruksi yang tentunya akan bermanfaat untuk kita
semua.

Salam Konstruksi!

Kepala Balai Penerapan Teknologi Konstruksi

Cakra Nagara, ST., MT., ME.


SUSUNAN REDAKSI

Pengarah/ Pelindung : Yusid Toyib, M.Eng. Sc


Direktur Jenderal Bina Konstruksi
Dewan Redaksi : Ir. Panani Kesai, M.Sc
Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
Dr. Ir. H. Masrianto, MT
Direktur Bina Investasi Infrastruktur
Dr. Ir. Darda Daraba, M.Si
Direktur Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi
Ir. Yaya Supriyatna Sumadinata, M.Eng.Sc
Direktur Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi
Ir. Ober Gultom, MT
Direktur Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi
Ir. R.M. Dudi Suryo Bintoro, MM
Direktur Kerjasama dan Pemberdayaan
Penanggung Jawab/ : Cakra Nagara, ST., MT., ME
Pemimpin Umum Kepala Balai Penerapan Teknologi Konstruksi
Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Pemimpin Redaksi : Adityo Budi Utomo, ST., M.Eng
Penyunting : Rezza Munawir, ST., MT., MMG
Martalia Isneini, ST., ME
Budianto Kusumawardono, SIP., MM
Nofa Fatkhur Rakhman, SAP
Veronica Kusumawardhani, ST., M.Si
Yosaphat Bisma Wikantyasa, S.Sos., M.IKom
Sutri Rahayu, SE
Ir. Eduard Pauner, MT
Ir. Avi Prapancha, M.Eng.Sc

Kontributor : Miswanto
Prie Hartono
Editor : Shanti Astri Noviani, S.Pd
Tria Puspita Sari, ST
Dwi Citra Hapsari, S.Pd
Deviana Kusuma Pratiwi, ST
Alvian Ardianyah, ST

Desain : Nuryamah, S.Pd


Email : balaiptk@gmail.com
sibimakonstruksi@gmail.com
sibimakonstruksi@pu.go.id
Alamat : Balai Penerapan Teknologi Konstruksi
Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Jl. Sapta Taruna Raya Komp. PU Ps. Jumat Jakarta Selatan 12310
Telp. 021-766 1556
sibima.pu.go.id
ISSN 2581-1576

DAFTAR ISI

Metode Konstruksi ‘Reverse Circulation Perbaikan Tanah Lunak dengan Metode


Drilling’ (RCD) dan pengecoran di bawah Vacum pada Proyek Jalan Tol Palembang -
air pada pelaksanaan Pembangunan Indralaya
Jembatan Holtekamp Jayapura

01 23
Selayang Pandang PT Hutama Karya (Persero)

Inovasi Untuk Solusi

PT
HUTAMA KARYA (Persero) awalnya merupakan perusahaan
swasta Hindia Belanda ‘Hollandsche Beton Maatshappij’ yang
dinasionalisasi pada tahun 1961 berdasarkan Peraturan Pemerintah
(PP) RI No. 61/1961 Tanggal 29 Maret 1961 dengan nama PN. HUTAMA KARYA.
Sejak fase transformasi, PN. Hutama Karya telah menghasilkan karya konstruksi
yang bernilai sejarah dan monumental seperti Gedung DPR/MPR RI di Senayan
(Jakarta); serta Monumen Patung Dirgantara di Pancoran (Jakarta).

Menandai dimulainya teknologi Beton pra-tekan di Indonesia, dimana PN. Hutama


Karya menjadi yang pertama kali mengenalkan sistem prategang BBRV dari Swiss.
Sebagai wujud eksistensi terhadap teknologi ini PN. Hutama Karya membentuk
Divisi khusus prategang. Pada dekade ini pula Hutama Karya berubah status menjadi
PT. Hutama Karya (Persero).

Mengantisipasi tantangan bisnis konstruksi yang semakin berkembang dan


kompetitif PT. Hutama Karya kembali melakukan inovasi melalui diversifikasi
usaha dengan mendirikan Unit Bisnis HakaPole yaitu Pabrik Tiang Penerangan Jalan
Umum berbagai tipe dari baja bersegi delapan (Oktagonal), sekaligus melakukan
ekspansi usaha di luar negeri yang menjadi awal inovasi teknologi konstruksi dengan
diciptakannya LPBH-80 ‘SOSROBAHU’ (Landasan Putar Bebas Hambatan) oleh
Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati.
Sejalan dengan pengembangan inovasi yang terus seiring dengan pesatnya
perkembangan dan kemajuan teknologi konstruksi, PT. Hutama Karya sukses
memenuhi standar internasional dalam hal kualitas, keselamatan kerja dan
lingkungan dengan didapatkannya sertifikasi ISO 9002:1994, OHSAS 18001:1999.
Seiring dengan perkembangan tersebut, kualitas dan mutu tetap menjadi perhatian
PT. Hutama Karya. Hal ini terbukti dengan diraihnya ISO 9001:2008, ISO
14001:2004 dan OHSAS 18001:2007.

Pada medio 2014, PT. Hutama Karya (Persero) resmi menerima penugasan
Pemerintah untuk mengembangkan Jalan Tol Trans-Sumatera. Melalui Peraturan
Presiden (Perpres) Nomor 100 Tahun 2014 yang kemudian diperbarui menjadi
Perpres Nomor 117 Tahun 2015, PT Hutama Karya (Persero) diberi amanah
mengembangkan 2.770 kilometer jalan tol di Sumatera dengan prioritas 8 ruas
pertama hingga tahun 2019 sepanjang 650 kilometer. Penugasan ini merupakan
salah satu tonggak penting dalam sejarah perusahaan, karena pada masa inilah PT.
Hutama Karya (Persero) mulai menuliskan sejarah barunya sebagai Pengembang
Infrastruktur Terkemuka Indonesia atau Indonesia’s Most Valuable
Infrastructure Developer.
1
Penerapan Metode RCD (Reverse Circulation Drilling) dan
Pengecoran di Baqwah Air pada Pembangunan Jembatan
Holtekamp Jayapura

Gambar 1 Jembatan Holtekamp Jayapura

1. Informasi Proyek
Nama Proyek : Pembangunan Jembatan Holtekamp
Lokasi Proyek : Kota Jayapura (Hamadi - Holtekamp)
Nilai Kontrak : Rp 858.720.461.000,00
Masa kontrak : 27 Juli 2015 – 29 September 2018
Pendanaan : APBN dan APBD Provinsi
Konsultan Sipervisi : PT. Winsolusi Konsultan
Konsultan Perencana : PT. Portal Engineering perkasa dan PT.
Maratama Cipta Mandiri
Kontraktor pelaksana : PT. PP (Persero) Tbk, PT. Hutama Karya, PT.
Nindya Karya

1
Gambar 2. Long Section Jembatan Bentang Utama
ITEM URAIAN

Beton Fc 35 Mpa / K400 (Mutu Tinggi) | Fc 20 Mpa | Fc 10 Mpa

Baja Besi Tulangan U39


Tulangan
Pondasi • Pondasi Setempat / Pondasi Telapak (A1 dan P1)
• Bore Pile dia 1000 mm + Casing Baja dia 1200 mm (P5)
• Bore Pile dia 1200 mm + Casing Baja dia 1400 mm (P2 P3 P4)

Pondasi • P2 = 60 Titik | Kedalaman 20 Meter


Bore Pile • P3 = 70 Titik | Kedalaman 49 Meter
• P4 = 60 Titik | Kedalaman 44 Meter
• P5 = 44 Titik | Kedalaman 46 Meter

ITEM URAIAN
Struktur Atas Baja Struktur Box Pelengkung BJ55
Tipe Jembatan Box Baja Pelengkung (2 Pelengkung)

Lebar Jalan 21 meter (4 Lajur 2 Arah dengan Median)


Tinggi Clearance Jembatan ~20 meter

Tinggi Jembatan ~20 meter

2. Latar Belakang
Proyek pembangunan jembatan holtekamp dilatarbelakangi oleh beberapa hal,
antara lain:
a. Pemerataan Penduduk

2
Penyebaan penduduk yang belum merata sehingga diharapkan dengan adanya
jembatan ini dapat mengurangi kepadatan penduduk terutama di distrik
Jayapura Selatan.
b. Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat
Akibat dari pemerataan penduduk yang tidak merata, maka perkembangan
ekonomi di Muara Tami pun tertinggal dibandingkan dengan 4 distrik lainnya,
yaitu Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Heram, dan Abepura. Hal tersebut
yang mendorong perlu adanya suatu sarana untuk memulai meratakan
perekonomian masyarakat yaitu pembangunan akses jalan menuju Muara
Tami.
c. Sarana Pendukung PON 2020 Papua
PON 2020 rencananya akan dilaksanakan di Papua. Untuk mendukung
kegiatan tersubut maka harus ada akses yang baik untuk menjangkau tempat
tersebut mengingat gedung yang akan digunakan untuk kegiatan PON tersebut
akan dibangun di Muara Tami.
d. Peningkatan Hubungan dengan Papua New Guenia

JAYAPURA
20 MINUTES

30 MINUTES SKOUW
30 MINUTES MUARA TAMI

2 HOUR

ABEPURA

Jarak Jayapura ke Muara Tami saat ini ditempuh waktu 2,5 jam sehingga
perkembangan wilayah Muara Tami tertinggal dibandingkan kondisi Kota
Jayapura. Dengan adanya Jembatan Holtekamp sepanjang 433 m diharapkan
waktu tempuh menjadi 20 menit.

3
e. Menjadikan landmark Papua
Dengan dibangunnya jembatan holtekamp ini diharapkan menjadi ikon/ciri
khas Papua.

3. Permasalahan dan Penyelesaianya


Dalam pelaksanaan proyek jembatan holtekamp ini terdapat beberapa
permasalahan yang dihadapi, antara lain:
a. Hukum adat dan perilaku masyarakat setempat
Hukum adat yang masih kental oleh masyarakat setempat, beberapa kali tejadi
demo, masyarakat melakukan pemalangan menuntut ganti rugi lahan baik itu
darat maupun laut, sehingga berakibat terbuangnya waktu pelaksanaan.
Sebagai solusinya warga sekitar diajak diskusi untuk hal tersebut, dan kami
melakukan ganti rugi kepada warga sekitar, serta menjadikan warga setempat
sebagai pekerja terampil.
b. Ada perbedaan data tanah
Data tanah hasil penyelidikan tanah saat perencanaan awal berbeda dengan
data tanah yang dilakukan pada 2015 saat akan dilaksanaakan proyek. Pada
awalnya pada titik tersebut direncanaan menggunakan pondasi bored pile,
setelah dilakukan penyelidikan tanah ulang hasilnya tanah tersebut batuan
keras semua dari atas sampai bawah, sehingga dilakukan redesign menjadi
pondasi telapak. Contoh data tanah dapat dilihat dalam gambar 3.

4
N-SPT B-01 N-SPT BH-01

0 20 40 60 80 100 0 20 40 60 80 100
0 0
-2 12 -2 60
-4 2 -4 60
-6 37 -6 60
-8 12 -8 60
-10 60 -10 60
-12 35 -12 60
-14 42 -14 60
-16 33 -16 60
-18 44 -18 60
-20 60 -20 60
-22 48 -22 60
-24 60 -24 60
-26 23 -26 60
Depth (m)

Depth (m)
-28 60 -28 60
-30 49 -30 60
-32 -32 60
-34 -34 60
-36 -36 60
-38 -38 60
-40 -40 60
-42 -42 60
-44 -44 60
-46 -46 60
-48 -48 60
-50 -50 60
-52 -52
-54 -54
-56 -56
-58 -58
-60 -60

Gambar 3. Data tanah di A1. Kiri : data tanah saat perencanaan awal.
Kanan : data tanah actual 2015

Selain di titik A1, di titik P4 juga terdapat perbedaan tanah. Hasil penyelidikan
awal diketahui tanah keras berada di kedalaman 28 meter, sehingga dengan
pondasi 30 meter sudah cukup. Akan tetapi, setelah dilakukan penyelidikan
ulang di titik tersebut tidak terdapat tanah keras, melainkan pasir lanau semua.
Melihat kondisi tersebut perlu dilakukan redesign terhadap pondasi Jembatan
Holtekamp dengan melibatkan pakar dari KKJTJ (Komite Keselamatan
Jembatan, Terowongan dan Jalan) dan mendapatkan hasil seperti di bawah ini.

5
N-SPT A-02 N-SPT BH-05

0 20 40 60 80 100 0 20 40 60 80 100
0 0
-2 10 -2 7
-4 12 -4 21
-6 13 -6 60
-8 31 -8 37
-10 30 -10 9
-12 34 -12 17
-14 36 -14 21
-16 46 -16 22
-18 41 -18 25
-20 36 -20 22
-22 34 -22 29
-24 34 -24 23
-26 38 -26 19
-28 60 -28 23
-30 60 -30 19
-32 60 -32 23
-34 60 -34 42
-36 60 -36 42
-38 60 -38 30
-40 60 ) -40 30

hptm (
-42 16
Depth (m)

-42 60
-44 60 -44 22
-46 60 e -46 22
-48 60 D -48 25
-50 -50 17
60
-52 -52 14
-54 -54 26
-56 -56 18
-58 -58 20
-60 -60 20
-62 -62 22
-64 -64 28
-66 -66 30
-68 -68 26
-70 -70 26
-72 -72 28
-74 -74 26
-76 -76 28
-78 29
-78
-80 29
-80
-82 31
-82
-84 34
-84
-86 32
-86
-88 30
-88
-90 31
-90

Gambar 4. Data tanah di P4. Kiri : data tanah saat perencanaan awal.
Kanan : data tanah aktual 2015

Akhirnya direview kembali ke tim perencana dan dan meminta bantuan ke

NO PONDASI DIAMETER KONFIGURASI PANJANG PER


TIANG

1 P2 1200 2 @6X5=30 23 METER


2 P3 1200 2 @6X5 = 30 37 METER
3 P4 1200 2 @ 8X5 = 40 31 METER
4 P5 1000 4X7 = 28 34 METER

6
NO PONDASI DIAMETER KONFIGURASI PANJANG PER
TIANG

1 P2 1200 2 @6X5=30 20 METER


2 P3 1200 2 @7X5 = 35 49 METER
3 P4 1200 2 @ 6X5 = 30 44 METER
4 P5 1000 -X- = 44 46 METER

c. Keterbatasan lahan darurat untuk fasilitas


Untuk mengatasi hal ini kami memutuskan untuk melakukan reklamasi,
mengingat jika membuat tempat kerja di luar lokasi tersebut costnya jauh lebih
mahal. Dari hasil reklamasi, bisa mendirikan direksi kit, barak pekerja, dan
batching plan.

Gambar 5. Foto pencitraan hasil reklamasi jembatan Holtekamp

7
4. Metode Pelaksanaan
Penggunaan pondasi bore pile digunakan untuk pilar di laut. Pengeboran pondasi
bore pile dilaksanakan dengan metode RCD (Reverse Circulation Drilling)
dengan bagan alir sebagai berikut.

a. Pemancangan Pipa Casing Baja

8
Gambar 6. Peralatan pemancangan pipa baja

Teknik penyambungan pipa baja dengan cara pengelasan


Penyambungan antara potongan tiang pipa baja memerlukan pengelasan
standar tinggi dan harus dilakukan oleh tukang las yang bersertifikat.
Pengelasan harus dikerjakan sedemikian rupa hingga kekuatan penampang
baja semula dapat ditingkatkan. Sambungan harus dirancang dan
dilaksanakan dengan cara sedemikian hingga dapat menjaga alinyemen dan
posisi yang benar pada ruas-ruas tiang pancang. Pengelasan harus diuji secara
visual dan dengan cara non destructive. Saat pengelasan biasanya perlu
memotong 300 mm hingga 500 mm dari puncak bagian tiang dipancang untuk
meratakan ujungnya dan untuk membuang bagian baja keras yang sukar
dilas.Sambungan yang dilas harus mampu meneruskan momen penuh dalam
tiang (dan untuk pipa baja) biasanya merupakan las ujung penetrasi penuh di
sekeliling permukaan pipa.

9
\

Gambar 7. Metode pengelasan pipa baja

10
Setting Out Tiang Pancang
 Setting out dilakukan untuk menentukan titik pemancangan berdasarkan
gambar kerja
 Setting out dilaksanakan tepat sebelum pemancangan dan langsung
dilanjutkan dengan pemancangan

Handling Tiang Pancang


Setelah tiang pancang tepat pada titiknya, maka dilakukan handling tiang
pancang untuk pengecekan kelurusan / ketegakkan tiang pancang supaya
sesuai dengan rencana

Gambar 8. Cara mengecek kelurusan tiang pancang

Pemancangan Pipa Baja


• Pemancangan dilakukan menggunakan vibro hammer (getaran)
• Dilakukan diatas ponton, dengan ponton terikat dan jangkar yang cukup
kuat
• Ponton harus menurunkan jangkar – jangkarnya dan penambatan harus
sekuat mungkin

11
• Setiap pemancangan masuk 1 – 2 meter dilakukan pengecekan kelurusan
tiang pancang
• Pemancangan dihentikan ketika sudah mencapai kedalaman rencana
(casing bukan untuk struktural)

Gambar 9. Pemancangan casing pipa baja di laut

Karena nantinya akan dilakukan pengeboran menggunakan system RCD


(Reserve Circullate Drill) maka pada saat pemancangan casing perlu
dinaikkan 2 meter lebih tinggi dari HWL air laut untuk menjaga supaya tanah
pada saat pengeboran tidak longsor (menjaga tekanan dalam lubang bore pile).

12
Gambar 10. Penanaman casing pipa baja dengan ketinggian 2 meter
di atas muka air tertinggi baik di darat dan di laut

Pemasangan Platform
• Pembuatan platform dikerjakan bersamaan dengan pemancangan
• Setelah didapat satu baris pemancangan, maka bisa dilakukan pekerjaan
pemasangan platform

Gambar 11. Pemasangan platform di atas casing pipa baja

13
b. Pelaksanaan Pengeboran dan Pengecoran

Persiapan alat untuk


pengeboran RCD meliputi :
• Mesin RCD
• Mata Bor RCD
• Pipa Bor
• Spul Balk
• Compressor
Gambar 12. Peralatan pengeboran metode RCD

14
15
Gambar 13. Pengeboran metode RCD
Dasar pengeboran RCD (Reverse Circulation Drilling)

RCD (Reverse Circulation Drilling) merupakan teknik pengeboran dengan peralatan khusus. Cara kerja
metode pengeboran ini yaitu dengan cara melakukan pengeboran tanah yangtelah diberi casing baja untuk
menghindari terjadinya kelongsoran tanah. Pada saat RCD Machine melakukan pengeboran, diberikan
tekanan air 0,2 kg/cm2 atu dengan kecepatan aliran 7,5 cm/dtk sehingga air akan keluar bersama material
lumpur melalui pipa di tengah alat bor. Lumpur yang keluar disalurkan ke dalam bak penampungan. Hasil
endapan lumpur (padatan) akan dibuang menggunakan truk sedangkan cairan akan dimasukkan kembali ke
dalam lubang bor. Penggunaan metode ini dinilai lebih cepat dibandingan pengeboran biasa karena alat bor
hanya 1x masuk ke dalam tanah dan baru diangkat ketika mencapai kedalaman rencana. Metode ini sangat
efektif untuk menghindari kelongsoran dinding lubang tanah hasil pengeboran.
Gambar 14. Pelaksanaan pengeboran RCD

Pada saat pelaksanaan pengeboran RCD, lubang bore pile harus dijaga supaya
tetap terisi air hingga ketinggian 2 meter diatas muka air laut (HWL). Hal ini
diperuntukkan menjaga supaya tanah / pasir yang sudah dilubangi tidak
mengalami kelongsoran akibat tekanannya terlalu besar

16
Gambar 15. Penempatan peralatan RCD di atas platform

17
Monitoring pelaksanaan RCD dilakukan dalam 2 tahap yaitu :
 Monitoring kelurusan dan ketegakan dengan menggunakan waterpas
 Monitoring kedalaman dengan memasukan tali pengukur ke dalam lubang

DRILLING DEP TH

Gambar 16. Monitoring RCD

18
c. Pelaksanaan Pembesian Bore Pile
 Pembesian bore pile dilakukan di fabrikasi besi (darat)
 Selanjutnya diangkat ke atas tongkang untuk dibawa ke atas platform
 Tulangan disambung pada saat dimasukkan ke lubang bore pilenya

Langkah-langkah pembesian :
1. Tulangan bore pile sudah tersusun diatas ponton
2. Diangkat satu – satu untuk dimasukkan ke dalam lubang bore pile
3. Untuk dilakukan penyambungan, tulangan pertama dikaitkan kencang /
dilas diujung top casing pancang
4. Selanjutnya dilakukan penyambungan tulangan

Gambar 17. Proses pembesian bore pile

19
d. Pelaksanaan Pengecoran Bore Pile
• Lubang bore pile yang telah dibor dan dimasukkan tulangan tidak boleh
terlalu lama kosong, harus segera dilakukan pengecoran
• Pelaksanaan pengecoran, dilakukan menggunakan bucket cor dengan pipa
tremie
• Pengecoran dilakukan mulai dari ujung paling bawah bore pile, agar supaya
air didalam lubang keluar akibat tekanan beton yang masuk
• Beton yang digunakan harus mengabaikan nilai slump agar beton dapat
masuk ke berbagai celah

Gambar 18. Proses


pengecoran bore pile

20
5. Resiko yang Mungkin Terjadi
a. Penggunaan metode ini membutuhkan peralatan khusus serta memerlukan
areal yang lebih untuk menempatkan bak penampung (spul balk) untuk
menampung lumpur.
b. Diperlukan rencana pemanfaatan tambahan agar pembuangan lumpur hasil
endapan tidak merusa lingkungan sekitar.

6. Manfaat/Keuntungan
Adapun keuntungan yang diperoleh dengan penerapan metode RCD, antara lain:
a. Pelaksanaan pengeboran menjadi lebih cepat karena hanya 1x memasukkan
alat bor dan mengangkat saat sudah mencapai kedalamn rencana
b. Lebih murah biaya pelaksanaan pengeboran serta dapat dilakukan di darat
maupun di air

7. Kesimpulan
Metode RCD dapat diterapkan untuk pelakanaan pondasi bore pile untuk jenis
tanah lanau silt.

8. Referensi dan Biodata


Nama Lengkap : Miswanto
Tempat Lahir : Medan
Tanggal Lahir : 5 September 1974
Email : miswanto_hk@yahoo.com
No. Handphone : 08127630419
Alamat Rumah : Jalan Perhubungan No. 31 Laut Dendang
Kecamatan : Percut Sei Tuan
Kabupaten/Kota : Deli Serdang, Sumatra Utara
Nama Perusahaan : PT. Hutama Karya
Jabatan : Kepala Proyek

21
22
Perbaikan Tanah Lunak Dengan Metode Vacuum
Pada Proyek Jalan Tol Palembang – Indralaya

Gambar 19. Pembangunan Jalan Tol Palindra

1. Informasi Proyek
Nama Proyek : Proyek Jalan Tol Palembang – Indralaya
Lokasi Proyek : Palembang – Indralaya, Sumatera Selatan
Panjang : 22 km + 2,5 km jalan akses KTM & Pemulutan
Konstruksi : Flexible pavement dengan Soil Improvement
Jumlah lajur awal : 2x2
Jumlah lajur akhir : 2x3
Arah pelebaran : Keluar
Lebar jalur lalu lintas : 3,6 m
Lebar bahu dalam : 1,5 m
Lebar bahu luar :3m

23
2. Latar Belakang
Mayoritas kondisi tanah di Propinsi Sumatera Selatan termasuk jenis tanah rawa.
Berdasarkan hasil Soil Investigasi yang telah dilaksanakan pada Proyek Jalan
Tol Palindra didapatkan hasil bahwa kondisi tanah asli dilapangan didominasi
tanah lunak, sehingga dibutuhkan penanganan khusus, cepat, & efisien untuk
memperbaiki stabilitas tanah tersebut (lihat Gambar 2).

Ruas Palindra diharapkan menjadi Jagorawinya Sumatera, karena banyak


aktifitas sosial ekonomi dan pendidikan. Jumlah lajur awal yang dibuat adalah
2x2 dan dapat ditingkatkan sampai ruas 2x3. Sedangkan kondisi eksisting tanah
96% diatas rawa dan tanah keras berada pada kedalaman 18 meter.

Gambar 2. Hasil Boring Hand

Gambar 20. Data SPT kondisi tanah Tol Palindra

24
Dari hasil boring hand terlihat bila nilai SPT >4 dikategorikan tanah keras. Dari
data daya dukung tanah dengan menggunakan sondir terlihat Ruas Palindra
memiliki Qc < 10 MPa sehingga dikategorikan sebagai tanah lunak.

25
3. Permasalahan dan Penyelesaian
Permasalahan pada Proyek Jalan Tol Palembang – Indralaya (Palindra) adalah
bagaimana upaya atau metode yang akan diterapkan untuk meningkatkan
stabilitas tanah atau meningkatkan daya dukung tanah asli.
Kemudian dicarilah berbagai sistem atau metode sebagai alternatif perbaikan
tanah antara lain :

a. Alternatif pertama, teknologi pile slab yaitu dengan menanam tiang pancang
pada area yang dibutuhkan dan itu mahal.
b. Alternatif kedua, teknologi Preloading yang merupakan perbaikan dengan
timbunan tanah selama selama 8-9 bulan namun tanah di sumatera sebagai
bahan timbunan tidak ada yang baik.
c. Alternatif ketiga, memakai sistem Vacum Consolidation Method (VCM).
Pelaksaan VCM sampai 4 bulan dan bisa dilaksanakan bersamaan dengan
perkerasan jalan.

Beberapa pertimbangan yang digunakan antara lain efisien, cepat, dan minim
resiko terhadap dampak lingkungan. Untuk mengatasi permasalahan diatas
dipilih Soil Improvement dengan Vacuum Consolidation Method (VCM) yang
bertujuan untuk mempercepat penurunan dan meningkatkan daya dukung tanah
asli yang lunak dengan melakukan pemompaan (vacuum) pada tanah untuk
mengurangi kadar air & pori pada butiran tanah sehingga dapat mempercepat
penurunan jangka panjang dan perbedaan penurunan (differential settlement).

Tanah lempung lunak memiliki permeabilitas yang rendah, sehingga


membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan konsolidasi. Untuk
mempersingkat waktu konsolidasi tersebut, drainase vertikal (vertical drains)
dikombinasikan dengan teknik preloading. Vertical drain tersebut sebenarnya

26
merupakan jalur drainase buatan yang dimasukkan kedalam lapisan lempung.
Dengan kombinasi preloading, air pori diperas keluar selama konsolidasi dan
mengalir lebih cepat pada arah horizontal daripada arah vertikal. Selanjutnya, air
pori tersebut mengalir sepanjang jalur drainase vertikal yang telah diinstalasi.
Oleh karena itu, vertical drain berfungsi untuk memperpendek jalur drainase dan
sekaligus mempercepat proses konsolidasi.

Gambar 21. Konsep Preloading dengan vertical drain

Karena tujuannya untuk memperpendek panjang lintasan pengaliran, maka jarak


antar drainase merupakan hal yang terpenting. Dengan penggunaan metode VCM
diperkirakan tahun-tahun berikutnya akan terjadi penurunan konsolidasi 10%
sekitar 1-3 cm. Itu salah satu pertimbangan memilih perkerasan fleksibel
dibandingkan perkerasan rigid.

4. Alat dan Material Pekerjaan


Ada beberapa alat dan material perlengkapan yang diperlukan dalam pengerjaan
VCM ini, antara lain :

27
a. Alat Berat

29

28
b. Pressure Gauge

Pada pelaksanaan Vacum Consolidation Method (VCM) mengandung risiko,


salah satunya membran vacum yang akan ditimbun dapat mengalami
kebocoran, jika tidak diberi alat monitor akan sulit untuk mencari titik
kebocorannya, maka dari itu dipasang pressure gauge per jarak 100 meter
untuk memonitor tekanan. Caranya dengan melihat pompa yang paling rendah
penurunannya, dan bisa dilihat penurunan paling rendah di salah satu titik di
sepanjang area membran tersebut.

29
30
c. Extenso meter
Alat ini berfungsi sebagai alat ukur untuk mengetahui pergerakan dan atau
penurunan layer by layer akibat vakum. Extenso meter dipasang pada
centreline dikedalaman 5, 10 & 15 m (sesuai kedalaman PVD).

31
d. Inclino meter
Fungsi alat ini untuk mengetahui perubahan atau pergeseran lapisan tanah
diluar area vakum akibat proses vakum. Inclinometer dipasang diluar area
vakum dengan kedalaman sesuai penanaman PVD & dipasang tiap zona 1
buah untuk luasan per 18.000 m2.

32
e. Geomembran dan Geotekstil non Woven
Geomembran merupakan material pelapis yang memiliki permeabilitas
sangat rendah, digunakan bersamaan dengan material lain yang berkaitan
dengan geoteknik. Kelebihan geomembran antara lain ketahanan kimia sangat
baik, lapisang yang sangat kedap air, ketahanan terhadap sinar UV dan kondisi
cuaca seerta kuat dan fleksibel.
Geo textile (Geotekstil) Non Woven, atau disebut Filter Fabric (Pabrik)
adalah sebuah jenis Geo textile yang tidak teranyam, berbentuk seperti karpet
kain. Dan pada umumnya bahan dasarnya terbuat dari bahan polimer
Polyesther (PET) atau Polypropylene (PP). Cara kerja Geo textile Woven
hanya mengandalkan tensil strength, sehingga tidak mereduksi terjadinya
penurunan setempat (differensial settlement) akibat tanah dasar yang lunak.
Fungsi geo textile non woven antara lain :
1. Untuk Separator / Pemisah
Salah satu fungsi dari geo textile non woven adalah sebagai separator atau
pemisah. Geotextile Non Woven berfungsi untuk mencegah
tercampurnya lapisan material yang satu dengan material yang
lainnya. Misalnya, pada proyek pembangunan jalan yang dilakukan diatas
tanah dasar lunak ( berlumpur ). Disini geo textile non woven berfungsi
untuk mencegah naiknya lumpur ke sistem perkerasan, agar tidak
terjadainya pumping effect yang akan mudah merusak perkerasan jalan.
Geo textile non woven juga berfungsi untuk mempermudah proses
pemadatan sistem perkerasan.
2. Untuk Filter / Penyaring
Geo textile non woven berfungsi untuk mencegah terbawanya partikel-
partikel tanah yang ada pada aliran air. Salah satu kelebihan geo textile
non woven adalah dapat membuat air melewati gotextile tetapi partikel

33
tanah tertahan, hal ini dikarena geotextile non woven memiliki sifat
permeable (tembus air). Aplikasi sebagai filter biasanya digunakan pada
pekerjaan subdrain (drainase bawah tanah).

Gambar 22. Material Geomembran Gambar 23. Material Geotekstil non


woven

f. PVD (Prefabricated Vertikal Drain) dan PHD (Prefabricated Horizontal


Drain)

PREFABRICATED VERTICAL DRAIN (PVD) adalah lembaran plastik


untuk drainase vertikal yang panjang dan berkantung yang merupakan
kombinasi antara bahan inti (core) polypropylene berkekuatan mekanik tinggi
dan lapisan pembungkus dari bahan geotekstil. Bagian inti produk ini tersedia
dalam tiga jenis kontur yang berbeda-beda, sesuai dengan kecepatan aliran
drainase yang diinginkan.

PVD berfungsi untuk mempercepat proses konsolidasi tanah, terutama pada


jenis tanah lempung (clay) atau lanau (silty clay). PVD ditanam secara
vertikal ke dalam tanah untuk mengalirkan air dari lapisan tanah lunak

34
ke permukaan. Kekuatan mekanikal tinggi dan lentur Instalasi mudah dan
cepat Mempercepat waktu konsolidasi. PVD ditanam per 1x1 meter.
Teknologi berikutnya dalam vakum ini adalah teknologi PHD (Prefabricated
Horizontal Drain) yaitu untuk menggabungkan semua vakum PVD dan
bentuk pipa yang dipakai dalam teknologi PHD ini merupakan pipa plastik
yang di lubangi untuk membantu mengalirkan air yang telah di vakum.

Gambar 24. Material PVD

Gambar 25. Material


PHD

35
Gambar 26. Proses Pemasangan PVD

Gambar 27. Hasil akhir aplikasi


pemasangan PVD

36
5. Bagan Alir

Tahapan pekerjaan Vacuum Consolidation Method (VCM) dapat dilihat dalam


bagan berikut

Gambar 28. Bagan alir pelaksanaan proses VCM

37
6. Metode Pelaksanaan
a. Pengukuran Batas Row & Timbunan
Di proyek ini terdapat 80 zona ruas.

Gambar 29. Pengukuran batas ROW dan timbunan


Keterangan:
1. Pengukuran elevasi existing (long section),
2. Pengukuran batas ROW dengan lebar rata-rata 60 m (L / R),
3. Pengukuran Batas timbunan badan jalan 45 m (menyesuaikan elevasi
finish grade), dan Jalan kerja 7,5 m (L / R)

b. Geotekstil Woven

Gambar 30. Penghamparan geotekstil woven

Lebar penghamparan atau instalasi geotekstil woven ini selebar 65 meter.


geotekstil woven sebagai bahan penampung material pengisi, material pengisi
itu sendiri dapat berupa tanah atau pun pasir.

38
c. Material Pengisi dan Drainase Pasir Horizontal
Material pengisi saat awal proyek berjalan memakai pasir, setelah proyek
berjalan pencarian material pasir cukup sulit didapat di daerah tersebut. Maka
material pengisi digantikan dengan tanah merah yang dapat digunakan.
Penghamparan material pengisi pada badan jalan sampai dengan elevasi +3,5
m dari MAL (Muka Air Laut) dan lebar timbunan 45 m (menyesuaikan elevasi
finish grade), dengan kemiringan timbunan 1:2.

Gambar 31. Pengisian material timbunan

d. Pre boring dan PVD


Pre boring ini disiapkan untuk menunjang keperluan PVD dan PHD
dengan kedalaman 1 meter dan jarak antar lubang 1 meter.

e. PVD (Prefabricated Vertikal Drain)


Pemasangan PVD dilaksanakan pada lubang yang telah dibuat oleh
Drilling (1 x 1 m), setiap lubang yang telah dibuat dipasang PVD
dengan menggunakan PVD Rig (Ekscavator Modified) dengan
kedalaman sesuai hasil sondir dan dilebihkan sepanjang 50 cm dari
top pasir, tujuannya agar air yang terhisap bisa lebih cepat terhubung
dengan PHD, kemudian dibuang keluar area vakum.

39
Langkah berikutnya setelah membran vakum sudah menyelimuti area
yang akan di vakum adalah menjaga membran agar tetap menyelimuti tanah
dengan baik dan tidak boleh ada bagaian yang bolong, diterangi lampu 24 jam
selama 4 bulan. Prasarana yang diperlukan lain adalah pompa Sealing ditch,
daerah yang di vacum diberi pompa dengan jarak per 20 meter. 20 – 30 pompa
di dalam 1 area dengan kedalaman 4-5 meter.

Setelah hari ke 14 (setelah vacum) tekanan vakum harus 80 kPa. Metode


penimbunannya adalah layer pertama 60 cm untuk mengamankan membran
dari kebocoran tanah. Pengalaman, kendala saat pelaksanaan setelah membran
menutupi timbunan 2 meter, ada bagian yang bocor oleh babi hutan dan harus
di ganti. Kendala yang kedua adalah awalnya pemakaian material pengisi di
sana memakai pasir, namun material disana sulit didapat dan diganti oleh
tanah merah yang dapat dijadikan media vakum.

40
41
f. PHD (Prefabricated Horizontal Drain)
PHD terdiri dari 2 jenis pipa, yaitu filter pipe & main pipe, Pemasangan PHD
dilaksanakan pada drainase pasir horizontal, jarak maksimum antar PHD
adalah 6 m jika permeabilitas pasir baik, dan 3 meter apabila permeabilitas
pasir kurang baik.

42
f. Sealing Ditch
Geotekstil non woven layer pertama dipasang diatas drainasi pasir horizontal,
kemudian diatasnya dipasang geomembrane, dan ditanam mengelilingi area
vakum dengan kedalaman 4 – 5 meter.

43
g. Sistem Vacuum Installation
Pompa vakum melayani <1000 m2 area vakum, sehingga kebutuhan pompa
dapat dihitung berdasarkan luasan area yang akan divakum, sedangkan
kebutuhan genset dapat dihitung berdasarkan besarnya beban pompa yang
akan dilayani.

44
7. Risiko
a. Proses installasi vakum dilaksanakan selama 3 minggu, & prosesnya sendiri
dilaksanakan 4 selama bulan (hingga derajat konsolidasi mencapai 90 %),
selama itu pekerjaan struktur (box culvert & box tunnel) belum bisa
dikerjakan sehingga pekerjaan struktur idle (menunggu proses vakum
selesai).
b. Antara bangunan struktur jembatan dan batas ujung vakum awalnya berjarak
10 m (untuk menghindari pengaruh vakum terhadap tiang pancang struktur
jembatan) area sepanjang 10 m tidak tervakum sehingga daya dukung tanah
pada area sepanjang 10 m tidak mengalami konsolidasi akibatnya struktur
plat injak pada oprit jembatan turun.
c. Pada saat setelah pressure vakum mencapai 80 kpa diizinkan untuk
melaksanakan timbunan CBM selama proses vakum berjalan, pada saat
melaksankan timbunan CBM pada layer pertama, geomembran (lapis kedap)
rentan mengalami kebocoran yang disebabkan gesekan blade pada dozer,
sehingga harus bongkar timbunan CBM untuk mencari letak kebocoran &
menambal membrane yang bocor.
d. Terdapat lapisan pasir (sand layer) pada area yang akan di vakum sehingga
jika diteruskan proses vakum tidak akan berhasil (tidak kedap akibat lapisan
pasir).

8. Solusi
a. Untuk mempercepat progress pekerjaan struktur box culvert & box tunnel
maka pondasi yang akan di pasang struktur box tidak menunggu proses
vakum selesai, tetapi langsung menggunakan pondasi tiang pancang.
b. Berdasarkan pengalaman dilapangan, pada zona vakum yang diapit
bangunan struktur digunakan jarak antara batas ujung area vakum dengan

45
bangunan struktur sepanjang 5 meter, sehingga space 5 meter yang tidak
tervakum mengalami pengaruh konsolidasi, terbukti pada struktur plat injak
abutment 1 jembatan pipa minyak 2 tidak mengalami penurunan. Untuk
struktur plat injak yang mengalami penurunan diperbaiki dengan
menggunakan konstruksi Pile Slab.
c. Kebocoran geomembrane (lapis kedap) pada saat menghampar CBM layer
pertama diminimalisir dengan cara melaksanakan penimbunan pada layer
pertama setebal 80 cm dan dipadatkan menjadi 60 cm untuk menghindari
gesekan antara blade Dozer dengan membran dan dlanjutkan penghamparan
CBM layer berikutnya.
d. Pada area yang terdapat sand layer dapat dilaksanakan dengan membuat
tembok pemisah menggunakan material good soil, proses ini biasa disebut
dengan Slurry Wall.

Gambar 32. Pembuatan material slurry

46
9. Manfaat

a. Proses vakum (VCM) ini terbukti berhasil memperbaiki stabilitas tanah


lunak, seperti gambar dibawah ini :

BEFORE AFTER

b. Proses vakum (VCM) lebih efisien dibandingkan dengan metode lainnya


(misalkan pile slab & cakar ayam),
c. Proses vakum (VCM) lebih cepat dibandingkan metode konvensional
(vakum 4 bulan, konvensional 8 bulan), & lebih kecil resiko pengaruh akibat
tekanan tanah lateral seperti gambar dibawah ini :

KONVENSIONAL VAKUM

d. Pada proses vakum menggunakan lebih sedikit alat berat dibandingkan


dengan metode lain.

47
e. Lebih sedikit menggunakan surcharge load (Material Timbunan) karena
beban 5 m CBM sudah tercover (setara) dengan pressure vakum 80 kPa

10. Referensi dan Biodata


Nama Lengkap : Prie Hartono
Tempat Lahir : Yogyakarta
Tanggal Lahir : 11 April 1964
Email : prieh1104@gmail.com
No. Handphone : 0811159289
Alamat Rumah : Komplek AD Bulak Rantai K38
Kabupaten/Kota : Jakarta Timur
Provinsi : DKI Jakarta
Nama Perusahaan : PT. Hutama Karya
Jabatan : Kepala Proyek

48
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
Balai Penerapan Teknologi Konstruksi
Jl. Sapta Taruna Raya Komplek PU Pasar Jum’at No. 28, Jakarta Selatan
Tlp/Fax. 021- 7661556
e-mail: balaiptk@gmail.com; sibimakonstruksi@gmail.com; sibimakonstruksi@pu.go.id
website: sibima.pu.go.id