Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA PASIEN NY. T DENGAN HIPERTENSI DAN


GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL
DI PSTW WISMA MELATI LANDASAN ULIN

O
L
E
H

MAHASISWA : ANASTHASIA WAHYU C

11 30 63J 115090

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN SUAKA INSAN

BANJARMASIN

2016
HIPERTENSI
A. Konsep teori tentang Hipertensi
1. Definisi
Menurut JNC hipertensi terjadi apabila tekanan darah lebih dari 140/90
mmHg(tagor,2003). Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan
tekanan darah secara abnormal dan terus menerus pada beberapa kali pemeriksaan
tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa faktor resiko yang tidak berjalan
sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan darah secara normal.
Hipertensi berkaitan dengan kenaikan tekanan sistolik atau tekanan diastolik atau
tekanan keduanya. Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi
persistem dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90
mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Brunner &Suddarth, 2005).
2. Klasifikasi
A. Klasifikasi berdasarkan etiologi
a. Hipertensi Esensial (primer)
Merupakan 90 % dari kasus hipertensi. Dimana sampai saat ini belumdiketahui
penyebabnya secara pasti . Beberapa faktor yang berpengaruh dalam
terjadinya hipertensi esensial, seperti : faktor genetik, stress dan psikologis,
serta faktor lingkungan dan diet (peningkatan penggunaan garam dan
berkurangnya asupan kalium atau kalsium).
Peningkatan tekanan darah tidak jarang merupakan satu-satunya tanda
hipertensi primer. Umumnya gejala baru terlihat setelah terjadi komplikasi pada
organ target seperti ginjal, mata, otak dan jantung.
b. Hipertensi sekunder
Pada hipertensi sekunder, penyebab dan patofisiologi dapat diketahui dengan
jelas sehingga lebih mudah untuk dikendalikan dengan obat-obatan. Penyebab
hipertensi sekunder di antaranya berupa kelainan ginjal seperti tumor, diabetes,
kelainan adrenal, kelainan aorta, kelainan endokrin lainya seperti obesitas,
resistensi insulin, hipertiroidisme, dan pemakaian obat-obatan seperti
kontrasepsi oral dan kortikosteroid.
3. Etiologi
Corwin (2000) Menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada kecepatan denyut
jantung, volume sekuncup dan total Peripheral Resistance (TPR). Peningkatan kecepatan
denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau hormon pada
nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering
menyertai keadaan hipertiroidisme. Namun, peningkatan kecepatan denyut jantung
biasanya dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup sehingga tidak menimbulkan
hipertensi.
Peningkatan TPR yang berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan rangsangan
saraf atau hormon pada arteriol, atau responsivitas yang berlebihan dari arteriol
terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan
pembuluh darah. Pada peningkatan TPR , jantung harus memompasecara lebih kuat dan
dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk mendorong darah
melintasi pembuluh darahyang menyempit. Hal ini disebabkan peningkatan dalam
afterload jantung dan biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Apabila
peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin mulai mengalami
hipertrofi (membesar). Dengan hipertrofi, kebutuhan ventrikel akan oksigen semakin
meningkat sehingga ventrikel harus mampu memompa darah secara lebih keras
lagiuntuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada hipertrofi, saraf-saraf oto jantung juga
mulai tegang melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya menyebabkan penurunan
kontraktilitas dan volume sekuncup.
4. Patofisiologi
Kepastian mengenai patofisiologi hipertensi masih dipenuhi ketidak pastian .
Sejumlah kecil pasien (antara 2% dan 5%) memiliki penyakit dasar ginjal atau adrenal
yang menyebabkan peningkatan tekanan darah. Namun, masih belum ada penyebab
tunggal yang dapat diidentifikasi dan kondisi inilahyang disebut sebagai “hipertensi
esensial”. Sejumlah mekanisme fisiologis terlibat dalam pengaturan tekanan darah
normal, yang kemudian dapat turut berperan dalam terjadinya hipertensi esensial.
Beberapa faktor yang saling berhubungan mungkin juga turut serta menyebabkan
peningkatan tekanan darah pada pasien hipertensif , dan peran mereka berbeda pada
setiap individu. Diantara faktor-faktor yang telah dipelajari secara intensif adalah
asupan garam, obesitas dan resistensi insulin, sistem renin-angiotensin, dan sistem saraf
simpatis. Pada beberapa tahun belakangan, faktor lainnya telah dievaluasi, termasuk
genetik, disfungsi endotel (yang nampak pada perubahan endotelin dan nitrat oksida).
Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di
pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasometer ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlangsung kebawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla
spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak kebawah melalui saraf simaptis ke
ganglia simaptis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan
merangsang serabut saraf paska ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai faktor
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sabgat sensitif terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mangakibatkan tambahan
aktivitas vasokontriksi. Medulla adrenal mengsekeresi epinefrin yang menyebabkan
vasokonstriksi. Korteks adrenal mengsekeresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat
memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II,
suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung
pencetus keadaan hipertensi.
Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer
bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia.
Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan
penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya
menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya,
aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah
yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah
jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner & Suddarth, 2005).
5. Manifestasi Klinis
Pada pemeriksaan fisik, tidak dijuampai kelainan apapun selain tekanan darah yang
tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pda retina, seperti perdarahan, eksudat
(kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil
(edema pada diskus optikus).
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai bertahun-
tahun. Gejala bila ada menunjjukkan adanyakerusakan vaskuler, dengan manifestasi
yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan.
Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan
urinasi pada malam hari) dan azetoma (peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan
kreatinin). Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan
iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralysis sementara pada satu sisi
(hemiplegia atau gangguan tajam penglihatan (Brunner & Suddarth, 2005).
Crowin (2000) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul :
a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat
peningkatan tekanan darah intrakranial.
b. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi.
c. Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat.
d. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan flitrasi glomerolus
e. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

6. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Nonfarmakologi :
Penatalaksanaan nonfarmakologis dengan modifikasi gaya hidup sangat penting
dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi (Ridwanamiruddin, 2007).
Penatalaksanaan hipertensi dengan farmakologis terdiri dari berbagai macam cara
modifikasi gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah yaitu :
a. Mempertahankan berat badan ideal
Mempertahankan berat badan ideal sesuai Body Mass index (BMI) dengan
rentang 18,5 – 24,9 kg/m2 (Kaplan, 2006). BMI dapat diketahui dengan membagi
berat badan anda dengan tinggi badan anda yang telah di kuadratkan dalam
satuan meter. Mengatasi obesitas (kegemukan) juga dapat dilakukan dengan
melakukan diet rendah kolesterol namun kaya dengan seratdan protein jika
berhasil menurunkan berat badan 2,5 – 5 kg maka tekana darah diastolik dapat
diturnkan sebanyak 5 mmHg (Radmarssy, 2007).
b. Kurangi asupan natrium (sodium)
Mengurangi asupan natrium dapat dilakukan dengan cara diet rendah garam
yaitu tidak lebih dari 100 mmol/hari (kira-kira 6 gr NaCl atau 2,4 gr garam/hari)
(kaplan, 2006). Jumlah yang lain dengan mengurangi asupan garam sampai
kurang dari 2300 mg (1 sendok teh) setiap hari. Pengurangan konsumsi garam
menjadi ½ sendok teh/hari, dapat menurunkan tekanan sistolik sebanyak 5
mmHg dan tekanan diastolik sekitar 2,5 mmHg (Radmarssy, 2007).
c. Batasi konsumsi alkohol
Radmarssy (2007) mengatakan bahwa konsumsi alkohol harus dibatasi karena
konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatan tekanan darah. Para peminum
berat mempunyai resiko mengalami hipertensi empat kali lebih besar dari pada
mereka yang tidak minum minuman alkohol.
d. Makan K dan Ca yang cukup dari diet
Pertahankan asupan diet potasium (>90 mmol (3500 mg/hari)dengan cara
konsumsi diet tinggi buah dan sayur dan diet rendah lemak dengan cara
mengurangi asupan lemak jenuh dan lemak total (Kaplan, 2006). Kalium dapat
menurunkan tekanan darah dengan meningkatkan jumlah natrium yang
terbuang bersama air kencing. Dengan setidaknya mengonsumsi buah-buahan
sebanyak 3-5 kali dalam sehari, seseorang bisa mencapai asupan potassium yang
cukup (Radmarssy, 2007).
e. Menghindari merokok
Merokok memang tidak berhubungan secara langsung dengan timbulnya
hipertensi, tetpi merokok dapat mengakibatkan risiko komplikasi pada pasien
hipertensi seperti penyakit jantung dan stroke, maka perlu dihindari
mengkonsumsi tembakau(rokok) karena dapat memperberat hipertensi
(Dalimartha, 2008). Nikotin dalam tembakau membuat jantung bekerja lebih
keras karena menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan frekuensi
denyut jantung serta tekanan darah (Sheps, 2005). Maka pada penderita
hipertensi dianjurkan untuk menghentikan kebiasaaan merokok.
f. Penurunan Stress
Stress memang tidak menyebabkan hipertensi yang menetap namun jika
episode stress sering terjadi dapat menyebabkan kenaikan sementara yang
sangat tinggi (Sheps, 2005). Menghindari stress dengan menciptakan suasana
yang menyenangkan bagi penderita hipertensi dan memperkenalkan berbagai
metode relaksasi seperti yoga atau meditasi yan dapat mengontrol sistem saraf
yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah (pfizer peduli.com).
g. Terapi masase (pijat)
Menurut Dalimartha (2008), pada prinsipnya pijat yang dilakukan pada
penderita hipertensi adalah untuk memperlancar aliran energi dalam tubuh
sehingga gangguan hipertensi dan komplikasinya dapat diminimalisir, ketika
semua jalur energi terbuka dan aliran energi tidak lagi terhalang oleh
ketegangan oto dan hambatan lain maka risiko hipertensi dapat ditekan.
2. Pengobatan Farmakologi
1. Diuretik (Hidroklorotiazid)
Mengeluarkan cairan tubuh sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang
mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan.
2. Penghambat simpatetik (Metildopa, Klonidin, dan Reserpin)
Menghambat aktivitas saraf simpatis.
3. Betabloker (Metaprolol, Propanolol dan Atenolo)
a. Menurunkan daya pompa jantung
b. Tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan
pernafasan seperti asma bronkial.
c. Pada penderita diabetes melitus: dapat menutupi gejala hipoglikemia.
4. Vasodilator (Prasosin, Hidralasin)
Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi oto polos pembuluh
darah.
5. ACE inhibitor (Captopril)
a. Menghambat pembentukan zat angiotensin II.
b. Efek samping: batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.
6. Penghambat reseptor Angiotensin II (Valsartan)
Menghalangi penempelan zat angiotensin II pada reseptor sehingga
memperingan daya pompa jantung.
7. Antagonis kalsium (Diltiasem dan Verapamil)
Menghambat kontraksi jantung (Kontraktilitas).
7. Komplikasi
Tekanan darah tinggi apabila tidak diobati dan ditanggulangi, maka dalam jangka
panjang akan menyebabkan kerusakan arteri didalam tubuh sampai organ yang
mendapat suplai darah dari arteri tersebut. Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada
organ-organ sebagai berikut:
1. Jantung
Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung dan penyakit
jantung koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat,
otot jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, yang disebut
dekompensasi. Akibatnya, jantung tidak mampu lagi memompa sehingga banyak
cairan tertahan diparu maupun jaringan tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak
nafas atau oedema. Kondisi ini disebut gagal jantung.
2. Otak
Komplikasi hipertensi pada otak, menimbulkan risiko stroke, apabila tidak diobati
risiko terkena stroke 7 kali lebih besar.
3. Ginjal
Tekanan darah tinggi juga menyebabkan kerusakan ginjal, tekanan darah tinggi
dapat menyebabkan kerusakan system penyaringan di dalam ginjal akibatnya lambat
laun ginjal tidak mampu membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang
masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan di dalam tubuh.
4. Mata
Pada mata hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati hipertensi dan
dapat menimbulak kebutaan (Yahya, 2005).

B.Konsep Asuhan Keperawatan Teoritis

1. Pengkajian
1. Data Biografi: nama, Alamat, Umur, tanggal MRS, diagnose medis, penanggung
jawab, catatan kedatangan.
2. Riwayat kesehatan
 Keluhan Utama: Biasanya pasien datang ke RS dengan keluhan kepala terasa
pusing dan bagian kuduk terasa berat, tidak bisa tidur.
 Riwayat kesehatan sekarang: Biasanya pada saat dilakukan pengkajian
pasien masih mengeluh kepala terasa sakit dan berat, penglihatn
berkunang-kunang, tidak bisa tidur.
 Riwayat kesehatan dahulu: Bisanya penyakit hipertensi ini adalah penyakit
yang menahun yang sudah lama dialami oleh pasien, dan biasanya pasien
mengkonsumsi obt rutin seperti Captopril.
 Riwayat kesehatan keluarga: biasanya penyakit hipertensi ini adalah
penyakit keturunan.
3. Data Dasar Pengkajian
a. Aktivitas /istirahat
Gejala : kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton
Tanda: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
b. Sirkulasi
Gejala: riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, penyakit
serebrovaskuler
Tanda: kenaikan TD, hipotensi postural, takhikardi, perubahan warna kulit, suhu
dingin
c. Integritas Ego
Gejala: Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, factor
stress multipel.
d. Eliminasi
Gejala: gangguan ginjal saat ini atau yang lalu
e. Makanan/cairan
Gejala: makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam,
lemak dan kolesterol
Tanda: BB normal atau obesitas, adanya edema
f. Neurosensori
Gejala: keluhan pusing/pening, sakit kepala, berdenyut sakit kepala, berdenyut,
gangguan penglihatan, episode epistaksis
Tanda: perubahan orientasi, penurunan kekuatan genggaman, perubahan
retinal optic
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat,
nyeri abdomen
h. Pernapasan
Gejala: dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea, dispnea
nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda: distress respirasi/ penggunaan otot aksesories pernapasan, bunyi napas
tambahan, sianosis
i. Keamanan
Gejala: Gangguan koordinasi, cara jalan
Tanda: episode parestesia unilateral transien, hipotensi psotural
j. Pembelajaran /penyuluhan
Gejala: faktor risiko keluarga; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM,
penyakit ginjal, faktor risiko etnik, penggunaan pil KB atau hormone
2. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular
b. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler selebral
c. Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantungberhubungan dengan
gangguan sirkulasi
d. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
penyakit dan perawatan diri.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
1. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokontriksi, iskemia miokard, hipertrofi ventricular
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard.
Hasil yang diharapkan:
 Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD
 Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima
 Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil
Intervensi keperawatan:
1. Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat
2. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
3. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
4. Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler
5. Catat edema umum
6. Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas
7. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi
8. Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
9. Lakukan tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung dan leher
10. Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
11. Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah
12. Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi
13. Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi
2. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tujuan: setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
nyeri berkurang.
Hasil yang diharapkan :
 Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman

Intervensi Keperawatan:

1. Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan


2. Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan
3. Batasi aktivitas
4. Hindari merokok atau menggunakan penggunaan nikotin
5. Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan
6. Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi
nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi
3. Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan
gangguan sirkulasi.
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jamdiharapkan
sirkulasi tubuh tidak terganggu
Hasil yang diharapkan :
 Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti
ditunjukkan dengan: TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan
sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal
 Haluaran urin 30 ml/menit
 Tanda-tanda vital stabil

Intervensi:

1. Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur


2. Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan
pemantau tekanan arteri jika tersedia
3. Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan
4. Amati adanya hipotensi mendadak
5. Ukur masukan dan pengeluaran
6. Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan
7. Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan kurangnya informasi tentang proses penyakit
dan perawatan diri
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi.
Hasil yang diharapkan:
 Pasien mengungkapkan pengetahuan dan ketrampilan penatalaksanaan
perawatan dini
 Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai pesanan

Intervensi:

1. Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur


2. Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang, tidak penuh dengan stress
3. Diskusikan tentang obat-obatan: nama, dosis, waktu pemberian,tujuan dan efek
samping atau efek toksik
4. Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan
dokter
5. Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter:
sakit kepala, pusing, pingsan, mual dan muntah
6. Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil
7. Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat
8. Diskusikan perlunya diet rendah kalori, rendah natrium sesuai pesanan
9. Jelaskan pentingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat, jumlah
yang diperbolehkan, pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein,teh
serta alkohol
10. Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan