Anda di halaman 1dari 2

Fertilisasi adalah proses fusi antara gamet pria dan wanita, proses ini terjadi di region ampula pada

tuba
uterine. Saat sperma diejakulasikan ke dalam vagina, hanya 1% yang masuk ke dalam cervix. Sperma
akan berjalan menuju uterus akibat kontraksi uterus dan tuba uterine dan sedikit dari propulsi sperma
sendiri. Saat ovulasi, sperma menjadi lebih motil, kemungkinan akibat chemoattractants yang diproduksi
oleh sel cumulus yang mengelilingi. Spermatozoa tidak bisa langsung membuahi oosit segera karena
harus menjalani beberapa proses yaitu:

1. Kapasitasi: suatu periode yang terjadi pada organ reproduksi wanita selama 7 jam. Kecepatan
sperma mencapai ampula bukan menjadi keuntungan, karena kapasitasi sering terjadi di tuba
uterina. Selama periode ini, selimut glikoprotein dan seminal plasma protein dibuang dari
membrane plasma. Hanya sperma yang sudah kapasitasi yang dapat masuk ke corona cells dan
masuk ke dalam proses reaksi kromosom.
2. Reaksi akrosom
Reaksi akrosom terjadi setelah perlekatan sperma ke zona pelusida. Reaksi ini juga terjadi
pengeluaran enzim untuk penetrasi zona pelucida yaitu acrosin dan trypsin like substance.

Adapum fase fertilisasi yaitu:


1. Fase 1 : Penetrasi corona radiate.
Dari 200-300 juta spermatozoa yang masuk ke saluran reproduksi wanita, hanya 300-500
yang mencapai tempat fertilisasi. Sperma tersebut telah penetrasi ke barrier protecting
pada sel gamet wanita. Sperma yang sudah kapasitasi masuk ke corona radiate
2. Fase 2: Penetrasi ke zona peluzida
Zona ini adalah glycoprotein shell yang mengelilingi ovum yang memfasilitasi sperma untuk
melekat dan memulai proses reaksi akroson. Pengeluaran enzim acrosin membuat sperma
untuk penetrasi ke zona tersebut. Permeabilitas zona berubah saat kepala sperma masuk ke
permukaan oosit. Kontak ini menyebabkan pengeluaran enzim lisosom dari cortical granules
yang mengelilingi membrane plasma oosit. Enzim ini menyebabkan reaksi zona untuk
mencegah sperma lain masuk ke zona pelusida, hanya satu sperma yang dapat penetrasi
oosit.
3. Fase 3: Fusi membrane sel oosit dan sperma
Sperma dan oosit melakukan adhesi. Setelah adhesi, membrane sel oosit dan sperma akan
bergabung. Setelah sperma masuk ke oosit akan terjadi reaksi yaitu:
- Reaksi kortikal dan zona
- Resumption of the second meiotic division
- Metabolic activation sel telur

The germinal stage:

1. Minggu pertama
Setelah terjadi fertilisasi dan terbentuk zigot, terjadi cleavage yang merupakan pembelahan
mitosis yang meningkatkan jumlah sel menjadi blastomer. Setiap pembelahan, ukuran sel akan
semakin mengecil. Setelah tiga kali pembelahan blastomer padat dan membentuk grouped ball
cells yang berisi inner dan outer layer. Blastomer ini kemudian menjadi 16 sel morula. Morula
akan memasuki uterus pada hari 3-4 setelah fertilisasi. Setelah itu terbentuk cavitas dan
terbentuk blastosit. Inner cell mass akan berkembang menjadi embrio dan outer cell mass akan
menjadi trofoblas. Blastosit kemudian melakukan implantasi ke endometrium.
2. Minggu kedua
Pada awal minggu kedua, blastosit masuk sebagian ke stroma endometrium. Trofoblas
berdiferensiasi menjadi cytotrophoblast (inner layer) dan syncytiotrophoblast (outer layer).
Pada hari ke-9, terbentuk lacuna pada syncytiotrophoblast. Maternal sinusioid tererosi oleh
syncytiotrophoblast, dan darah ibu masuk ke lacunar network dan membentuk primitive
uteroplacental circulation. Sedangkan trofoblast membentuk primary villi. Pada akhir minggu
kedua blastosit masuk seluruhnya pada endometrium.
Embrioblas akan berdiferensiasi menjadi epiblas dan hipoblas dan membentuk bilaminar disc

3. Minggu ketiga
Pada minggu ketiga terjadi proses gastrulation berawal dari pembentukan primitive streak.
Epiblast akan melakukan invaginasi dan membentuk lapisan baru yaitu endoderm dan
mesoderm. Sedangkan, sel yang tidak bisa bermigrasi membentuk ectoderm.

Kelainan ectoderm
1. Neural tube defect. Kelainan ini terjadi akibat kegagalan penutupan neural tube. Apabila
kegagalan terjadi pada bagian kranial maka akan terjadi anensefali, sedangkan bila terjadi
pada bagian kaudal akan terjadi spina bifida. Hal ini menyebabkan terjadinya gangguan
fungsi saraf.

Kelainan mesoderm

1. Hemangioma kapiler: Kelainan pada pembuluh darah kapiler yang menyebabkan


terbentuknya tumor pada bayi. Biasanya terjadi pada craniofacial

Kelainan endoderm

Birth defect. Pada minggu ke-3 sampai ke-8 terjadi pembentukan organ. Pada periode ini terjadi
organogenesis dan embryogenesis. Apabila terjadi kesalahan pada proses ini menyebabkan
kelainan pada bayi. Contoh penyakit yang dapat terjadi yaitu bibir sumbing, heart defect, dan
atresia esofagus.