Anda di halaman 1dari 10

NATIONAL ESSAY COMPETITION 2018

Subtema: Teknologi
Judul Essay
RANCANG BANGUN PROTOTIPE TERMENATOR (WATER
TREATMENT OZONATOR) DALAM UPAYA PEMANFAATAN AIR
SUNGAI BABON SEBAGAI SUMBER AIR BERSIH DI DAERAH
ROWOSARI KOTA SEMARANG

Oleh :
Waliyuddin Sammadikun 5213415035 Teknik Kimia/2015
M. Febriansyah Bachri 5213417007 Teknik Kimia/2017

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SEMARANG
2018
Pendahuluan
Indonesia Emas 2045 merupakan hari ulang tahun Indonesia yang ke-100
sekaligus menjadi cita-cita bangsa untuk menaikkan kelas Indonesia menjadi
negara maju. Ada 3 aspek penting untuk memenuhi Indonesia emas 2045, yaitu
Indonesia aman dan damai, Indonesia adil dan sejahtera serta Indonesia maju dan
mendunia. Namun banyak tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini, salah satu
diantaranya adalah krisis air bersih.
Krisis air bersih merupakan masalah besar dan mendesak di dunia. Krisis
air mempengaruhi lebih dari 40% populasi global dan lebih dari 1,7 miliar orang
saat ini tinggal di daerah aliran sungai dimana penggunaan air melebihi jumlah
resapan (The United Nation, 2015b). Krisis air bersih terjadi karena musim
kemarau, pencemaran air, pertambahan penduduk dan sebagainya. Indonesia saat
ini, sekitar 3,9 juta jiwa masyarakatnya memerlukan bantuan air bersih (Aziz,
2017). Setidaknya, terdapat sekitar 105 kabupaten/kota, 715 kecamatan, dan 2.726
kelurahan/desa yang mengalami krisis air bersih akibat kekeringan di Jawa dan
Nusa Tenggara (BNPB, 2017). Dalam hal Improved Water Source, Indonesia
menempati posisi 6 dari 10 negara dengan populasi terbesar di dunia. Hanya 20%
penduduk Indonesia yang bisa mengakses air bersih. Dapat dikatakan bahwa 82%
penduduk Indonesia terpaksa menggunakan air yang tidak layak (Hehanusa, 2011).
Padahal fungsi air bersih sangat vital bagi aktivitas masyarakat meliputi, kesehatan
tubuh, kebutuhan kebersihan alat rumah tangga, kesuksesan bercocok tanam dan
lain sebagainya.
Salah satu penyebab krisis air bersih adalah musim kemarau yang
menyebabkan kekeringan di sumur sumur warga. Kota Semarang, tepatnya di Desa
Rowosari tidak luput dari bencana krisis air bersih ini. Masyarakat Rowosari
menggunakan air sungai yang kotor untuk kebutuhan mencuci pakaian, alat
makan,bahkan keperluan mandi (Metro TV, 2017). Padahal air kotor sungai

1
mengandung berbagai logam berat seperti Pb, dan bakteri patogen yang berbahaya
bagi manusia.

Gambar 1. Ilustrasi Keadaan Warga Rowosari pada Musim Kemarau (Metro TV,
2017)

Air sungai di Desa Rowosari memiliki potensi besar sebagai sumber air bersih
apabila dilakukan proses water treatment. Beberapa contoh water treatment, yaitu
koagulasi, reverse osmosis dan ozonator. Koagulasi adalah peristiwa pembentukan
atau penggumpalan partikel-partikel kecil menggunakan zat koagulan (Putra,
2009). Metode koagulasi belum bisa menyaring air lebih higienis lagi dikarenakan
pemisahannya secara fisika. Prinsip reverse osmosis dapat memisahkan air dari
komponen yang tidak diiinginkan. Penggunaan reverse osmosis membutuhkan air
baku yang besar karena 90% air baku akan dibuang dan harganya yang sangat
mahal. Ozonator memanfaatkan sifat ozon seperti oksidator kuat dengan potensial
redoks sebesar +2.07 mV (Dantas et al., 2007). Ozonasi dapat menurunkan kadar
COD dan BOD sebesar 73.1% dan 73.6% (Ratnawati, 2011), dan mengoksidasi
logam timbal sebesar 98.17% dan tembaga sebesar 93.65% (Hikmawan, 2009).
Selain itu ozon dapat menjadi agen disinfektan untuk membunuh bakteri patogen.
Berdasarkan penelitian K. Bancroft (1983), konsentrasi ozon 0,32 mg/L dapat
menyisihkan bakteri E.Choli sebesar 90%. Pada penelitian lainnya penggabungan
penggunaan ozon dan sinar UV dapat menghilangkan bakteri E. coli hingga
mencapai 100% (Wulansarie dan Bismo, 2015). Pada penelitian Greene et al.
(1993) penggunaan ozon untuk mendisinfeksi bakteri Enterobacketr aerogenes
sebesar 99%. Dengan demikian ozonator memiliki keunggulan dibandingkan
proses water treatment yang lain.

2
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis menawarkan solusi Rancang
Bangun Prototipe Termenator (Water Treatment Ozonator) Dalam Upaya
Pemanfaatan Air Sungai Babon Sebagai Sumber Air Bersih Di Daerah
Rowosari Kota Semarang adalah salah satu pengaplikasian proses ozonasi.
Ozonator ini dapat difungsikan sebagai penjernih air kotor sungai di Desa Rowosari
ketika musim kemarau datang. Sistem water treatment ini ditempatkan dekat
dengan sumber air sungai (on-site). Kemudian air hasil pengolahan ozonator
disalurkan ke Reservoir sebagai tempat penampungan air sementara.
Tujuan dari penulisan esai ini adalah : (1) Mengetahui potensi dan kondisi
air Sungai Babon sebagai sumber air bersih di Rowosari, (2) Merancang sistem
Termenator (Water Treatment Ozonator) dalam skala prototipe, (3) Mengetahui
prospek implementasi Termenator berbasis air sungai di wilayah Indonesia

Isi
Air Sungai Babon memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai sumber
air bersih. Kebutuhan air bersih masyarakat Rowosari perlu diketahui untuk
dibandingkan dengan kapasitas debit aliran sungai. Proyeksi kebutuhan air bersih
berbanding lurus dengan kenaikan jumlah penduduk. Adapun jumlah penduduk di
masa mendatang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
(1)
(2)
Keterangan : Pt = Jumlah penduduk pada tahun t; Po = Jumlah penduduk pada tahun
dasar; t = jangka waktu; r = laju pertumbuhan penduduk; e = bilangan eksponensial
Dengan penduduk Rowosari pada tahun 2011 sebesar 9.639 orang dan pada
tahun 2016 sebesar 11.148 orang (BPS Semarang, 2016) diperoleh laju
pertumbuhan penduduk sebesar 0,2. Nilai r ini kemudian dimasukkan ke dalam
rumus (1) sehingga didapatkan penduduk Rowosari pada tahun 2045 sekitar 25.605
jiwa. Langkah selanjutnya adalah menghitung perkiraan kebutuhan air bersih tiap
satuan waktunya. Kebutuhan air bersih penduduk dapat dicari menggunakan rumus
dibawah ini.
Q = Pt x q x f (3)
Keterangan : Q = Kebutuhan air bersih ; Pt = Jumlah penduduk pada tahun t
q = kebutuhan air per orang (liter/hari) ; f = faktor hari maksimum (1,05-1,15)

3
Dengan asumsi kebutuhan air per orangnya adalah 144 liter/hari (Ditjen
Cipta Karya, 2006), maka kebutuhan air bersih penduduk Rowosari adalah 0,0317
m3/s. Berdasarkan hasil perhitungan, maka aliran air Sungai Babon (58,8 m3/s)
mampu memenuhi kebutuhan air bersih penduduk Rowosari (0,0462 m3/s). Surplus
air dari Sungai Babon dapat dimanfaatkan untuk keperluan lainnya seperti irigasi,
kegiatan industri dan lain sebagainya.
Namun kualitas air Sungai Babon tidak berbanding lurus dengan
kuantitasnya. Menurut BLH Kota Semarang (2005), Sungai Babon menerima
limbah dari kegiatan rumah tangga dan limbah yang berasal dari industri pembuatan
motor, industri tekstil, pulp/kertas dan pengalengan udang. Masalah tersebut
menyebabkan kandungan logam berat timbal Sungai Babon melebihi Standar Baku
Mutu PP No.82/2001, yakni 0.055 mg/l (Mustofa, 2009). Nilai fecal coliform juga
tidak memenuhi baku mutu PP No. 82 tahun 2001 yaitu 10000 koloni/100 ml.
Sementara ini upaya yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang
melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) adalah menyalurkan
bantuan air bersih dengan kapasitas 5.000 L perminggu (Metro TV, 2017). Bantuan
air bersih sejumlah tersebut dirasa masih kurang bagi masyarakat Rowosari.
Sehingga perlu dicari sumber air lain dengan ketersediaan yang besar guna
memenuhi kebutuhan air bersih di Rowosari. Alternatif terbaiknya adalah dengan
memanfaatkan air Sungai Babon.
Pada esai ini diajukan sebuah alternatif pengolahan air Sungai Babon, yaitu
Water Treatment Ozonator atau disingkat dengan Termenator. Ozonator digunakan
sebagai alat utama pada sistem ini. Bahan pelengkap lainnya adalah bed filter,
pompa, pipa, kerangka dan resevoir. Bed filter berfungsi memfiltrasi air kotor,
pompa mengalirkan air kotor sungai kedalam bed filter dan ozonator, pipa berfungsi
sebagai jalur air, kerangka berfungsi sebagai penopang utama dan reservoir sebagai
tempat penampungan air sementara. Secara garis besar, sistem ini terdiri dari dua
tahap, yaitu primary treatment dan secondary treatment. Primary Treatment pada
sistem ini adalah filtrasi. Filtrasi bertujuan untuk memisahkan partikel padat dari
cairan. Jenis filtrasi yang digunakan pada Water Treatment ini adalah bed filter
karena suspensi padatan jumlahnya relatif kecil daripada jumlah airnya (Coulson et
al., 1991). Selain itu komponen yang diperlukan mudah ditemui di daerah

4
Rowosari, seperti pasir, agregat, dan batu kerikil. Komponen tersebut disusun
berurutan mulai dari kapas filter, agregat, arang, ijuk, dan pasir. Secondary
Treatment pada sistem ini adalah ozonasi. Air hasil filtrasi diberi perlakuan
menggunakan ozonator. Ozonator ini memiliki dimensi sebesar 69 x 41,5 x 53 cm.
Flow rate yang digunakan sebesar 2 L/min. Secara lengkap alat prototipe ozonator
adalah sebagai berikut.

2
3

4
5
6

Gambar 1. Water Treatment Ozonator (Termenator) (Dokumentasi Pribadi,


2017)
Keterangan : (1) Bed Filter, (2) Ozonator, (3) Kerangka, (4) Reservoir, (5) Pompa,
(6) Mikro Filter, (7) Flow Meter
Adapun proses kerja alat Termenator ini adalah sebagai berikut :
1. Air kotor sungai dialirkan ke dalam bed filter bertingkat 3 sebanyak 3
L. Tujuan dari penambahan jumlah bed filter agar partikel-partikel padat
yang masih terkandung dalam air dapat terjerap di komponen bed filter
seperti ijuk, pasir, dan batu kerikil. Sehingga proses fisis treatment air
menghasilkan air yang bersih secara fisika
2. Air hasil treatment pertama masuk ke dalam reservoir untuk ditampung
sementara.
3. Mengatur laju alir air menggunakan pompa dan flow meter.

5
4. Aliran air kotor disirkulasi pertama melalui mikrofilter berukuran 5µm
untuk memastikan kembali partikel padat berukuran kecil tersaring di
sini.
5. Air hasil filtrasi akan menuju sistem utama yaitu, ozonator untuk
dilakukan proses disinfeksi yakni, proses penghancuran
mikroorganisme di dalam air.
6. Proses ini dilakukan secara kontinyu selama 20 menit.
7. Air hasil treatment ditampung dalam reservoir lagi kemudian digunakan
kebutuhan sehari-hari. Di dalam reservoir terdapat juga karbon aktif
untuk memaksimalkan penjerapan kotoran. Sehingga air benar-benar
layak digunakan oleh warga.

Proses ozonasi memerlukan waktu sekitar 15 menit. Pembentukan ozon


yang terjadi berasal dari sinar UV dan muatan korona. Sinar UV dan muatan korona
menyebabkan molekul oksigen yang terkena sinar UV dan muatan korona menjadi
tidak stabil dan terpecah menjadi ion O- dan akan bergabung menjadi ozon. Sinar
UV yang dapat digunakan untuk menghasilkan ozon mempunyai panjang
gelombang 185 nm. Udara dilewatkan pada lampu UV sehingga sinar UV tersebut
akan memecah molekul O2 dalam gas, menghasilkan atom radikal kemudian
bersenyawa dengan molekul oksigen lain dan akhirnya membentuk molekul ozon
yang lebih stabil. Konfiguras ozon muatan korona ini berdasarkan pada dielektrik.
Lucutan dielektrik, membentuk medan listrik atau yang disebut korona
(Wulansarie, 2015).
Implementasi sistem water treatment ini dapat terlaksana dengan baik
apabila ada kerjasama antara pihak Pemerintah, Perusahaan Daerah Air Minum,
Water Treatment Expert, mahasiswa, serta masyarakat desa Rowosari. Tiap-tiap
pihak memiliki perannya dalam mendukung program ini. Pemerintah melalui
PDAM bekerjasama dalam menyediakan perizinan, modal dan uji kualitas air
bersih. Water Treatment Expert dan mahasiswa berperan dalam pembuatan sistem
Water Treatment Ozonator (Termenator) dalam skala besar. Sedangkan masyarakat
Rowosari berperan sebagai penerima air bersih sekaligus mengawasi sistem ini
apabila ada kerusakan.

6
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari Water Treatment Ozonator ini
adalah (1) Memanfaatkan air kotor sungai di Desa Rowosari sebagai sumber air
bersih pada saat musim kemarau, (2) Sebagai upaya mengurangi krisis air bersih di
Indonesia, (3) Sebagai upaya meningkatkan ketersediaan air bersih di Indonesia,
(4) Membantu pemerintah dalam mencapai tujuan Indonesia Emas 2045. Dari
berbagai manfaat yang diperoleh, harapannya daerah lain di Indonesia yang
mengalami krisis air bersih dapat mengimplementasikan sistem Termenator (Water
Treatment Ozonator) .

Penutup
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa teknologi
ozonator berpotensi menjadi alternatif penyelesaian krisis air bersih di Desa
Rowosari , Semarang. Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya, air Sungai
Babon yang dibawah standar kualitas air bersih dapat diolah hingga menjadi layak
dipergunakan. teknologi ozonator ini dirangkai dalam sebuah prototipe Water
Treatment Ozonator atau Termenator. Termenator ini merupakan gabungan dari
proses bed filter, ozonator dan karbon aktif. Saran untuk kedepannya adalah
terjalinnya kerjasama yang baik antara Pemerintah, Swasta dan warga Rowosari
agar gagasan ini dapat terimplementasikan dengan baik. Juga diperlukan
pengembangan lebih lanjut dari Termenator ini seperti penambahan bahan kimia
yang memiliki kemampuan menjerap kotoran lebih cepat dan banyak.

7
Daftar Pustaka
Aziz, Abdul. 2017. Indonesia Darurat Kekeringan dan Krisis Air Bersih. Diakses
dari https://tirto.id/indonesia-darurat-kekeringan-dan-krisis-air-bersih-cwtr/
[Diakses 20 November 2017]
BNPB. 2017. Lebih dari 2.726 Desa Kekeringan, Jutaan Masyarakat Terdampak di
Jawa dan Nusa Tenggara. Available :
https://www.bnpb.go.id/home/detail/3449/Lebih-dari-2.726-Desa-
Kekeringan,-Jutaan-Masyarakat-Terdampak-di-Jawa-dan-Nusa-Tenggara.
[Diakses 20 November 2017]
Coulson, J. M., Richardson, J. F., Backhurst, J. R. & Harker, J. H. 1991. Chemical
Engineering. Sinnott, Pergamon Press, Oxford, UK.
Dantas, R. F., Canterino, M., Marotta, R., Sans, C., Esplugas, S. & Andreozzi, R.
2007. Bezafibrate Removal by Means of Ozonation : Primary Intermediates,
Kinetics and Toxicity Assesment. Water Res, 41, 2525-2532.
Greene, A. K., Few, b. K., & Serafini, J. C. 1993. Ozonated vs Chlorinated
Sanitization of Stainless Stell Surfaces Soiled with Milk Spoilage Organisms.
Journal of Dairy Science. 76 pp. 3617-3620.
K. Bancroft., Chrostowki, Wright, Suffet. 1984. Ozonation and Oxidation
Competion Values, Realitonship to Disinfection and Microorganisms
Regrowth. Water Research. 18. pp 473-478.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Data dan Informasi Profil
Kesehatan Indonesia 2016. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan
RI 2017.
Mustofa Niti Suparjo. 2009. Kondisi Pencemaran Perarian Sungai Babon
Semarang. Jurnal Saintek Perikanan. Vol 4. No 2 pp 38-45.
Marissa Saraswati. 2011. Hati-Hati, hanya 20% Air Indonesia Layak Minum.
Available : http://kabar24.bisnis.com/read/20110503/79/31472/hati-hati-
hanya-20-percent-air-indonesia-layak-minum. [Diakses 20 November 2017]
PPN/Bappenas, K. 2016. Menteri Sofyan: Indonesia Siap Mengimplementasikan
SDGs. Jakarta: Bappenas.
The United Nation. 2015. 17 Goals to Transform Our World [Online]. The
Uniteed Nation. Available: http://www.un.org/sustainabledevelopment/
[Diakses 20 November 2017]
Putra, M., Suryo. R., Trinnasih A. 2009. Optimasi Tawas dan Kapur untuk
Koagulasi Air Keruh Dengan Penanda O-131. Seminar Nasional SDM
Teknologi Nuklir. ISSN 1978-0176
Ratnawati, E. 2011. Pengaruh Waktu Reaksi dan Suhu pada Proses Ozonasi
Terhadap Penurunan Warna, COD dan BOD Air Limbah Industri Tekstil.
Kimia dan Kemasan, 33, 107-112.
Rice, R. G. & Browning, M. E. 1981. Ozone Treatment of Industrial Wastewater,
Park Ridge, Noyes Data Corp.
Suryadi, G., Thamrin., Murad A. Perilaku Masyarakat dalam Memanfaatkan Air
Sungai Siak sebagai Sumber Kehidupan dan Dampaknya terhadap Esteitika
serta Kesehatan Lingkungan di Wilayah Waterfront City Pekanbaru. Dinamika
LIngkungan Indonesia. Vol 3.(2).pp 100-106
The United Nation. 2015. Goal 6: Ensure access to water and sanitation for all
[Online]. The Uniteed Nation. Available:
http://www.un.org/sustainabledevelopment/water-and-sanitation/ [Diakses 20
November 2017].
Tom Gardner-Outlaw and Robert Engelman. 1997. Sustaining Water, Easing
Scarcity: A Second Update. Population Action International
UNICEF. 2005.World Water Day 2005: 4.000 Childern Die Each Day from a Lack
of Safe Water. Available: https://www.unicef.org/wash/index_25637.html/
[Diakses 20 November 2017]
Vianissa, A., et al. 2014. Studi Penentuan Kualitas Air Sungai Babon Dengan
Metode National Sanitation Foundation – Indeks Kualitas Air (Nsf-Ika).e-
journal Undip.
WHO. 2017. Drinking Water Fact Sheet. Available:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs391/en/ [Diakses 20 November
2017]
Wulansarie, R. & Bismo, S. 2015. Synergy of Ozone Technology and UV Rays in
the Drinking Water Supply as a Breakthrough Prevention of Diarrhea
Diseases in Indonesia. Waste Technology 3, 22-24