Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

PELUANG PADA DROSOPHILA MELANOGASTER

Disusun oleh :
Nama : Imam Darmawan
NIM : 1301070023
Prodi : Pendidikan Biologi

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2014
 TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah :
 Menjelaskan pengertian, prinsip, dan proses hukum Mendel I dan
II.
 Menjelaskan proses perpaduan gamet (pembuahan) merupakan
suatu kejadian acak.
 Membuat diagram pola pewarisan monohibrid dan dihibrid
Mendel.
 Memahami tentang teori peluang dan uji Khi-Kuadrat
 Menghitung peluang dari suatu percobaan yang kita lakukan.
 Melakukan penghitungan Uji Khi-Kuadrat dalam melakukan
analisis genetika mendel

 WAKTU DAN TEMPAT


Adapun waktu dan tempat praktikum Genetika Umum ini dilaksanakan
pada :
Hari/Tanggal : Rabu, 15 Oktober 2014
Pukul : 13.00 – selesai
Tempat : Laboratorium Botani UMP

 DASAR TEORI
Mendel adalah seorang Bapak Genetika terkenal, yang sampai sekarang
hukum-hukum yang dia temukan tentang genetika masih kita gunakan, yaitu
hukum Mendel I dan II. Hukum ini dia uji cobakan melalui penelitiannya dengan
mengawinkan kacang kapri dengan berbagai sifat. Dalam praktikum ini kita coba
terapkan hukum Mendel I dan II pada persilangan monohibrid (perkawinan
dengan satu sifat beda) dan dihibrid (perkawinan dengan dua sifat beda).
 Persilangan Monohibrid
Dalam hokum mnedel1 yang dikenal dengan hukum pemisahan gen yang
sealel dinyatakan bahwa dalam pembentukan gamet individu yang memiliki
genotif heterozigot , sehingga tiap gamet mengandung salah satu alel tersebut.
Dalam hal ini disebutkan juga hokum segregasi yang berdasarkan percobaan
persilangan dua individu, yang mempunyai satu karakter yang berbeda.
Berdasarkan hal ini, persilangan dengan satu sifat beda akan mengahsilkan
perbandingan fenotif 1 : 2 : 1, yaitu ekspresi gen domoninan resesif = 3 : 1,
namun kadang-kadang individu hasil perkawinan tidak didominasi oleh salah
satu induknya. Dengan kata lain, sifat dominasi tidak muncul secara penuh.
Peristiwa ini menunjukan adanya sifat intermediet.
 Persilangan Dihibrid
Dalam hukum mendel 2 atau dikenal dengan hokum pengelompokan gen
secara bebas, dinyatakan bahwa selama pemebentukan gamet gen – gen sealel
akan memisah secara bebas dan mengelompok dengan gen lain yang bukan
alelnya. Pembuktian hokum ini dipakai pada dihibrid atau polihibrid, yaitu
persilangan dari dua individu yang memiliki satu atau lebih karakter yang
berbeda. Monohybrid adalah hybrid dengan satu sifat beda, dan dihibrid adalah
hybrid dengan dua sifat beda, akan menghasilkan dengan perbandingan 9 : 3 : 3 :
1. Fenotif adalah penampakan atau perbedaan sifat dari satu individu tergantung
pada susunan genetiknya yang dinyatakan dengan kata-kata (misalnya mengenai
ukuran, warna, bentuk, rasa dan sebagainya). Genotif adalah susunan genetic
dari suatu individu yang ada hubungannya dengan fenotif ; biasanya dinyatakan
dengan symbol / tanda huruf.
Untuk pembuktian kedua Hukum Mendel ini agar lebih akurat maka
diperlukan suatu teori kemungkinan (probabilitas) / peluang. Probabilitas adalah
kemungkinan peristiwa yang diharapkan, artinya antara yang diharapkan itu
dengan peristiwa yang mungkin terjadi terhadap suatu objek. Sebagai contoh kita
dapat melemparkan mata uang, maka kemungkinan yang akan terjadi : uang
dengan permukaan huruf (H) atau dengan permukaaan gambar uang (G). bila
mata uang dilempar beberapa kali diharapkan hasil lemparan tersebut ½ nya H
dan ½ G. Aplikasi dari probailitas ini dapat dihubungkan dengan pembastaran
atau sifat tanda beda. Bila XY menghasilkan sel kelamin, ½ nya akan
membentuk gamet yang mengandung X dan Y saja.
Probabilitas atau peluang adalah suatu nilai diantara 0 dan 1 yang
menggambarkan besarnya kesempatan akan muncul suatu hal atau kejadian pada
kondisi tertentu. Bila nilai peluang 0 berarti kejadian tak pernah atau mustahil
terjadi, bila nilai peluang 1 maka kejadian tersebut dapat dikatakan selalu atau
pasti terjadi.
Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menentukan nisbah yang
diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotype yang berbeda. Penggunaan teori
ini memungkinkan kita untuk menduga suatu kemungkinan diperolehnya suatu
hasil tertentu dari persilangan tersebut. Metode chi-Kuadrat adalah cara yang
dapat kita pakai untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari
persilangan – persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesa
secara teoritis. Karena percobaan-percobaan genetis pada umumnya didasarkan
pada analisa data yang diperoleh dari persilangan tumbuhan dan hewan
percobaan, penting bagi para ahli genetika untuk menentukan apakah
penyimpangan-penyimpangan dan rasio yang diharapkan disebabkan oleh
peluang saja, atau oleh beberapa factor yang tak terduga selain peluangan.
Dengan cara ini, ahli genetika dapat menentukan suatu nilai kemungkinan untuk
menguji hipotesa tersebut
Dalam ilmu genetika memisahnya gen-gen dari induk/ orang tua ke
gamet-gamet pun tidak luput dari kemungkinan. Demikian pula bersatunya
gamet-gamet yang membawa gen, menghadapi berbagai kemungkinan.
Kemungkinan peristiwa yang diharapkan ialah perbandingan dari peristiwa yang
diharapkan itu dengan segala peristiwa yang mungkin terjadi terhadap suatu
obyek.
Ada beberapa dasar – dasar teori kemungkinan, yaitu :
 Kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah sama dengan
perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap keseluruhannya.
 Kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih, yang masing – masing
berdiri sendiri ialah sama dengan hasil perkalian dari besarnya
kemungkinan untuk peristiwa – peristiwa itu.
 Kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih, yang saling
mempengaruhi ialah sama dengan jumlah dari besarnya kemungkinan
untuk peristiwa – peristiwa itu.

Dalam ilmu genetika teori kemungkinan ikut berperan penting, misalnya


mengenai pemindahan gen-gen dari induk/orang tua/parental ke gamet-gamet,
pembuahan sel telur oleh spermatozoon,bekumpulnya kembali gen-gen di dalam
zigot sehingga dapat terjadi berbagai macam kombinasi. Untuk mengevaluasi
suatu hipotesis genetik diperlukan suatu uji yang dapat mengubah deviasi-deviasi
dari nilai-nilai yang diharapkan menjadi probabilitas dan ketidaksaman demikian
yang terjadi oleh peluang. Uji ini harus memperhatikan besarnya sampel dan
jumlah peubah (derajat kebebasan). Uji ini dikenal sebagai uji X2 (Chi Square
Test)
Metode chi square adalah cara yang dapat kita pakai untuk
membanf=singkan data percobaan yang diperoleh dari persilangan – persilangan
dengan hasil yang diharpkan berdasarjab hipotesis secara teoritis. Dengan cara
ini seorang ahli genetika dapat menentukan satu nilaikemugkinan untuk menguji
hipotesis itu.

 ALAT DAN BAHAN


 ALAT
1. Koin
2. Kancing genetika
3. Gelas kancing
 BAHAN
1. Kertas (untuk mencatat hipotesis sementara)
 CARA KERJA
 Peluang Koin

a. Menyiapkan uang koin dengan sisi yang bergambar burung di


ibaratkan jantan dan sisi yang terdapat angka diibaratkan betina
b. Melempar uang logam ke atas dan memperhatikan jatuhnya uang
tersebut.
c. Setelah uang logam jatuh ke meja maka mencatat hasil dari
kemungkinan yang terjadi (munculnya gambar atau angka).
d. Membuat tabel kemungkinan yang telah diamati.
e. Menghitung hasil (peluang)dengan chi-kuadrat.
f. Menyimpulkan percobaan tersebut.

 Monohibrid
a. Menyiapkan dua macam warna benik genetika masing-masing
sebanyak 40 tangkup
b. Memisahkan masing-masing tangkupan dan menempatkan pada
wadah yang berbeda. Setiap wadah berisi 2 macam warna benik
genetika yang mempunyai bentuk sama
c. Mengaduk-aduk benik dala setiap wadahsuoaya setiap warna
mempunyai peluang terambil sama
d. Mengambil satu demi satu benik dari kedua wadah secara bersama-
sama (mengusahakan mata tertutup) hingga benik terambil semua.
Setiap kali pengambilan kedua benik disatukan (ditangkupkan)
e. Mengelompokan benik-benik berdasarkan kombinasi warnanya.
Menghitung jumlah masing-masing benik pada masing-masing
kelompok.
f. Menguji data yang saudara peroleh menggunakan uji Chi-kuadrat
(x2) pada tingkat kepercayaan 95 %
 Dihibrid
a. Menyiapkan 4 macam warna benik genetika masing-masing sebanyak
40 tangkup.
b. Setiap tangkup jika dibuka terdapat 2 bentuk benik yang berbeda.
Benik yang berwarna merah sebagai benik M dan warna kuning
sebagai benik K.
c. Membuka semua tangkupan benik. Mengelompokan semua benik
yang sudah dibuka menjadi dua, dan setiap kelompok harus memiliki
4 macam warna benik dengan aturan sebagai berikut:
- 40 benik warna merah “M”
- 40 benik warna putih “m”
- 40 benik warna kuning “K”
- 40 benik warna hijau “k”
d. Warna benik merah dan putih dianggap sealel,sehingga warna benik
merah dominan”M”, dan putih resesif “m”. Demikian juga untuk
warna kuning dominan “K” dan putih resesif “k”.
e. Menangkupkan setiap masing-masing benik satu sama lain.
f. Setiap warna ditempatkan pada wadah yang berbeda-beda
g. Mengambil satu denmi satu tangkupan benik pada kedua wadah
secara bersama dengan mata tertutup, dan langsung menggabungkan
kedua tangkupan benik yang terambil tersebut sehingga diperoleh
pasangan tangkupan benik dengan 4 macam warna.
h. Menentukan tipe genotipe untuk setiap pasangan benik-benik tang
telah terambil dengan urutan yang tetap dan tepat.
i. Menentukan tipe fenotipe dari setiap genotipe yang diperoleh.
j. Mengelompokan pasangan tangkupan benik yang memiliki fenotipe
sama, dan menghitung masing-masing fenotipe tersebut.
k. Menguji data yang diperoleh menggunakan chi-kuadrat
 HASIL PENGAMATAN
 PELUANG KOIN

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada percobaan ini yaitu


menggunakan uang koin, diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut:

Jantan : gambar

Betina : angka

Ho: data yang diperoleh mempunyai ratio, 1 : 1

Ha: data yang diperoleh tidak mempunyai ratio, 1 : 1

TABEL PENGAMATAN

Angka Gambar Jumlah


Jumlah individu 54 46 100
yang diamati
Jumlah individu ½ x 100 = 50 ½ x 100 = 50 100
yang diharapkan

Derajat kebebasan = (k-1)  2-1  1

{(ft −Ft)}2
2
X = ∑
Ft
{(54 −50)}2 {(46 −50)}2
= +
50 50
= 0,32 + 0,32
= 0,64
Nb: jika dibandingkan dengan table chi kuadrat maka hasil tersebut lebih
kecil dibandingkan dengan table, sehingga menerima hipotesis nol pada taraf
kepercayaan 95%

 PELUANG KANCING MONOHIBRID

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada percobaan ini yaitu


peluang pada monohibrid , diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut:

Merah : panjang (M)

hijau : pendek (m)

Ho: data yang diperoleh mempunyai ratio, panjang : pendek = 3 : 1

Ha: data yang diperoleh tidak mempunyai ratio, , panjang : pendek = 3 : 1

TABEL PENGAMATAN

Panjang Pendek Jumlah


Jumlah individu 28 12 40
yang diamati
Jumlah individu ¾ x 40 = 30 ¼ x 40 = 10 40
yang diharapkan

Derajat kebebasan = (k-1)  3-1  2

{(ft −Ft)}2
X2 = ∑
Ft
{(28 −30)}2 {(12−10)}2
= +
30 10
= 0,13 + 0,4
= 0,53
Nb: jika dibandingkan dengan table chi kuadrat maka hasil tersebut lebih
kecil dibandingkan dengan table, sehingga menerima hipotesis nol pada taraf
kepercayaan 95%
BAGAN PERSILANGAN

Parental : panjang x pendek

MM mm
F1 : Mm
F2 : Mm x Mm
: MM, 2 Mm, mm

Jadi perbandingan fenotipnya = panjang x pendek ( 3 : 1 )

 PELUANG KANCING DIHIBRID

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada percobaan ini, yaitu


peluang pada dihibrid diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut:

Merah : Panjang (M)

Putih : Pendek (m)

Kuning : Halus (K)

Hijau : Keriput (k)

Ho: data yang diperoleh mempunyai ratio, 9 : 3 :3 : 1

Ha: data yang diperoleh tidak mempunyai ratio, 9 : 3 :3 : 1


TABEL PENGAMATAN

Panjang Panjang Pendek Pendek jumlah


halus keriput halus keriput
Jumlah individu yang 22 6 8 4 40
diamati
Jumlah individu yang 2,25 7,5 7,5 2,5 40
diharapkan

Derajat kebebasan = (k-1) = (4-1) = 3

{(ft −Ft)}2 {(ft −Ft)}2 {(ft −Ft)}2


X2 = ∑ + + +
Ft Ft Ft
{(ft −Ft)}2
Ft
{(22 −22,5)}2 {(6 −7,5)}2 {(8−7,5)}2 {(4−2,5)}2
= + + +
22,5 7,5 7,5 2,5

= 0,01 + 0,3 + 0,03 + 0,9


= 1,24

Nb: jika dibandingkan dengan table chi kuadrat maka hasil tersebut lebih
kecil dibandingkan dengan table, sehingga menerima hipotesis nol pada taraf
kepercayaan 95%
BAGAN PERSILANGAN

Parental : panjang halus x pendek keriput


MMKK mmkk
F1 : MmKk x MmKk

3 K. = 9 M_K_ = 9 panjang halus


3M
kk = 3 M_kk = 3 panjang keriput
3K = 3 mmK_ = 3 pendek halus
mm
kk = mmkk = 1 pendek keriput

Jadi perbandingan fenotipnya = 9:3:3:1

 PEMBAHASAN
 PELUANG KOIN

Percobaan pertama dilakukan dengan melemparkan sebuah koin


sebanyak 100 kali lemparan. Sebuah koin memiliki 2 kemungkinan yaitu
kemungkinan muncul angka dan kemungkinan muncul gambar. Jadi peluang
untuk masing-masing kemungkinan itu adalah setengah ( ½ ). Berdasarkan
hasil praktikum diperoleh hasil untuk gambar muncul sebanyak 46 kali dan
untuk angka muncul sebanyak 54 kali dari total sebanyak 100 kali
pelemparan. Berdasarkan teori probabilitas dalam genetika maka dapat
dihitung harapan peluang yang akan muncul dari masing-masing kejadian,
yaitu untuk kemungkinan muncul angka dari 100 kali pelemparan
berdasarkan teori seharusnya adalah ½ dikali 100 kali pelemparan. Jadi hasil
kemungkinan / harapan muncul angka berdasarkan teori adalah masing-
masing sebanyak 50 kali.
Hasil pelemparan koin mata uang logam dengan kejadian muncul
angka dan gambar pada percobaan pertama ini adalah sebanyak 54 kali
unruk angka dan 46 kali untuk gambar dengan total pelemparan sebanyak
100 kali. Harapan muncul angka dan gambar berdasarkan teori masing-
masing adalah sebanyak 50 kali, yaitu diperoleh dari ½ ( kemungkinan
muncul angka pada satu koin ) dikali dengan 100 kali pelemparan.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dihitung besarnya penyimpangan (deviasi)
dari hasil pengamatan yaitu dengan cara menghitung selisih antara hasil
pengamatan dan harapan. Besarnya pesimpangan dari masing-masing
lemparan yaitu 4. Dalam melakukan percobaan, seringkali kita memperoleh
hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Disinilah fungsi nilai deviasi tadi.
Supaya kita yakin bahwa hasil yang nampaknya menyimpang atau tidak
sesuai dengan harapan itu masih dapat dianggap sesuai ( artinya masih dapat
kita pakai) maka perlu dilakukan pengujian tes X2 (Chi-Square Test). Dari
uji chi square yang telah dilakukan maka hasil yang diperoleh sebanyak 0,64
artinya hasil tersebut lebih kecil dari tabel pengamatan, sehingga menerima
hipotesis nol pada taraf kepercayaan 95%, artinya persilangan tersebut
sesuai dengan hukum mendel..

 PELUANG KANCING MONOHIBRID

Pada percobaan ini dilakukan dengan 2 buah kancing berwarna sebanyak


40 kancing, yang terdiri dari kancing berwarna merah untuk gamet panjang dan
kancing hijau untuk gamet pendek kemudian dikawinkan/ dipasangkan dengan
melakukan pengambilan secara acak. Hasil yang diperoleh yaitu 28 untuk
gamet panjang dan 12 untuk gamet pendek. Harapan muncul gamet panjang
dan gamet pendek berdasarkan teori masing-masing adalah sebanyak 30 kali,
yaitu diperoleh dari ¾ (kemungkinan muncul gamet panjang) dikali dengan 40
kali pengambilan secara acak dan 10 kali untuk gamet pendek yang diperoleh
dari ½ dikalikan dengan 40 kali pengambilan. Berdasarkan hasil tersebut dapat
dihitung besarnya penyimpangan (deviasi) dari hasil pengamatan yaitu dengan
cara menghitung selisih antara hasil pengamatan dan harapan yaitu sebanyak 2
penyimpangan.
Pembuktian Hukum ini terbukti dalam hasil persilangan dari kancing
yang diambil secara acak yang menghasil gabungan dari dua warna dari
kancing tersebut. Pada percobaan kancing berwarna tersebut menunjukan
individu monohibrid yang dikawinkan secara acak. Ketika memasangkan
kancing-kancing warna diatas maka akan didapatkan hasil perbandingan seperti
pada tabel di atas. Hal ini sesuai dengan Hukum Mendel I karena hasil
perhitungan chi kuadrat yaitu sebesar 0,53, lebih kecil dari tabel artinya hasil
tersebut menerima hipotesis nol pada taraf kepercayaan 95%.

 PELUANG KANCING DIHIBRID

Pada percobaan yang dilakukan dengan persilangan dihibrid dengan


menggunakan 2 sifat beda yaitu kancing genetik warna merah panjang dengan
gamet (MM) bersifat dominan terhadap kancing genetik warna putih, dan yang
bersifat resesif pendek dengan gamet (mm). Serta dengan kancing genetik
warna kuning dengan gamet (KK) yang bersifat dominan terhadap warna hijau
resesif dengan gamet (kk). Pada parentalnya memiliki sifat fenotif panjang
halus (MMKK) yang dominan terhadap parental lainnya yang memiliki fenotif
bentuk pendek keriput berwarna hijau (mmkk).
Pada persilangan pertama secara teoritis akan menghasilkan sifat
dominan yaitu (MmKk) yang heterozigot. Hibrid ini kemudian disilangkan
dengan sesamanya dan menghasilkan empat macam gamet yaitu : MK, MK,
mK, mk dalam perbandingan yang sama. Lalu disilangkan antara keturunan
pertama dalam percobaan menghasilkan sebanyak 9 panjang halus, 3 pandang
keriput, 3 pendek halus, dan 1 pendek keriput. Secara teoritis perbandingan
fenotif adalah 9 : 3 : 3 :1 sehingga sesuai dengan hukum mendel II, bahwa
pasangan gen pada hasil persilangan akan berpisah kedalam gamet-gamet
secara bebas dan tidak bergantung antara satu dengan yang lainnya. Hal ini
sesuai dengan Hukum Mendel II karena hasil perhitungan chi kuadrat yaitu
sebesar 1,24, lebih kecil dari tabel artinya hasil tersebut menerima hipotesis nol
pada taraf kepercayaan 95%.

 KESIMPULAN
 Probabilitas atau peluang adalah suatu nilai diantara 0 dan 1 yang
menggambarkan besarnya kesempatan akan muncul suatu hal atau kejadian
pada kondisi tertentu.
 Monohibrid adalah persilangan dari 2 individu yang memiliki 1 sifat beda,
dan Dihibrid adalah persilangan dari 2 individu yang memiliki 2 sifat beda
 Pada persilangan monohibrid, prinsip segeregasi secara bebas dapat
dibuktikan dengan mengawinkan suatu jenis organisme dengan mengamati
satu tanda beda pada organisme tersebut. Persilangan antara generasi F1
akan menghasilkan generasi F2 yang terdiri daei dua macam fenotip dengan
rasio 3:1 atau tiga macam genotip dengan rasio 1:2:1.
 Pada persilangan dihibrid, gen –gen yang terletak pada kromosom yang
berbeda akan berpasangan secara bebas ketika gametogenesis, sehingga
akan menghasilkan empat macam fenotip dengan perbandingan 9:3:3:1.
 Dalam praktikum ini menggunakan suatu uji yang dikenal dengan uji X2
dan memperhatikan besarnya sampel dan jumlah peubah.
 Teori kemungkinan banyak digunakan dalam ilmu Genetika
 Hasil X2 berdasarkan masing-masing percobaan yang dilakukan
menunjukkan bahwa hipotesis percobaan yang telah dilakukan diterima
dengan taraf kepercayaan 95%
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, et. Al. 2002. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Dwijoseputro, D. 1977. Pengantar Genetika. Jakarta. Bharata

Purwoto dan Wiryosoewarto. 1994. Genetika dan Evolusi Cetakan I. Jakarta :


Depdikbud

Sisunandar. 2014. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto: UMP.

Suryo. 1997. Genetika Strata 1. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press

Syamsuri, Istamar,dkk. 2007. Paket Ipa Biologi Jilid 3, Berdasarkan Standar


Isi 2006. Jakarta: Erlangga.