Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

TERPAUT SEKS

Disusun oleh :
Nama : Imam Darmawan
NIM : 1301070023
Prodi : Pendidikan Biologi

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2014
 TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mengetahui rangkaian kelamin pada lalat Drosophila melanogaster
2. Membuktikan kebenaran Hukum T.H Morgan Pada lalat Drosophila melanogaster
3. Membuktikan terpaut seks pada kromosom x pada lalat jantan dan lalat betina
4. Menghitung dan menganalisis dengan menggunakan table Chi-kuadrat
5. Mengetahui hasil keturunan F1 dan F2 dari parental yang mempunyai gen terpaut
seks
6. Mengetahui ratio fenotipe yang akan dihasilkan dari penyilangan antar individu yang
memiliki gen terpaut seks

 WAKTU DAN TEMPAT


Adapun waktu dan tempat praktikum Genetika Umum ini dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Rabu, 19 November 2014
Pukul : 13.00 – selesai
Tempat : Laboratorium Botani UMP

 DASAR TEORI

Pada umumnya setiap individu memiliki dua jenis kromosom, yaitu autosom
dan gonosom (seks kromosom). Setiap individu ini tentunya ada yang berjenis
kelamin jantan dan kelamin betina yang mempunyai autosom yang sama , maka
sifat keturunan yang ditentukan oleh gen pada autosom tersebut diwariskan secara
turun temurun dari orang tua kepada anak-anaknya tanpa membedakan jenis
kelaminnya. Selain gen-gen autosomal yang telah dimiliki itu, dikenal pula kelompok
gen yang ada di dalam kromosom kelamin. Peristiwa rangkaian kelamin “ Sek
Linkage” . Sedangkan gen-gen yang ada pada pada tangkai kromosom kelamin
disebut dengan gen terangkai kelamin “Seks-Linked genes “. Tentunya hal ini
berhubungan dengan itu yang dapat dibedakan berdasarkan gen yang terangkai_X ,
“X-linked gane “ yaitu suatu gen yang terangkai pada kromosom_X dan gen yang
terangkai_Y “ Y-linked gane “ yaitu suatu gen yang terangkai pada kromosom_Y.
Terdapatnya suatu rangkaian dari jenis kelamin yang telah ditemukan saaat
tahun 1901 oleh T.H Morgan yang mengawali eksperimen atau penelitian di
Columbia University kemudian dia melanjutkan di Institut Teknologi California. T.H
Morgan dalam serangkaian melakukan penelitian menggunakan Drosophilla
melanogaster lalat buah) dengan mengadakan suatu perkawinan antara lalat jantan
yang mempunyai mata putih (ww) dan lalat betina yang mempunyai mata merah
(WW). Dan hasil dari keturunan F1 disilangkan sesamanya maka diperoleh
keturunan F2 sebesar 75 % lalat bermata merah dan 25 % lalat bermata putih.
Berdasarkan hasil eksperimen yang telah dilakukannya Morgan selanjutnya
menyusun sebuah hipotesis yang diberi judul “Faktor lalat mata merah dominan
terhadap lalat mata putih, Gen yang bertanggung jawab atas warna mata tersebut
semuanya terkandung didalam kromosom X, sedangkan kromosom Y tidak
bertanggung jawab atas warna mata tersebut “.

Sebenarnya sudah sejak dahulu telah diketahui adanya peristiwa yang


menunjukkan hubungan antara sifat yang diwariskan dengan seks yaitu yang
ditemukan pada tahun 600 SM. Bangsa yahudi pada zaman itu meneliti sebagian
anak laki-laki yang darahnya tidak bisa membeku pada saat anak-anak tersebut di
khitan. Karena ada dua orang anak dari induk betina yang sama dan penyakit tersebut
terdapat pada anak laki-laki, maka bangsa yahudi menyimpulkan bahwa penyakit
tersebut merupakan suatu penyakit keturunan yang dipengaruhi oleh sex, kemudian
di tahun 1906 ilmuwan Doncaster dan Raynor mengemukakan bahwa ngengat
Abracas grossulariata juga merupakan suatu sifat keturunan yang dipengaruhi oleh
sex, tetapi Doncaster dan Raynor tidak bisa menjelaskan bagaimana hubungan
peristiwa tersebut dengan kromosom sex yang telah ditelitinya.

Awalnya rangkai kelamin ditemukan oleh seorang ilmuwan yang bernama


Morgan pada tahun 1901 yang memulai penelitian di Columbia dan melanjutkannya
di Institut Teknologi California. Morgan menggunakan Drosoplhila melanogaster
dengan memperhatikan warna mata lalat itu. Lalat yang normal mempunyai mata
merah tetapi Morgan menemukan dari sbagian banyak lalat normal tersebut terdapat
lalat jantan yang bermata putih. Karena berbeda dari kebanyakan lalat yang normal
bermata merah maka lalat jantan yang mempunyai mata putih itu dinamakan olehnya
mutan karena menyimpang dari yang normal.

Oleh sebab itu Morgan kemudian mengadakan suatu perkawinan dari lalat
jantan yang bermata putih dengan lalat betina yang bermata merah (normal). Maka
hasil yang diperoleh berupa keturunan F1 dengan hasil semua lalat bermata normal
(merah). kemudian morgan juga mengawinkan F1 dan dia mendapat hasil keturunan
F2 yang mempunyai rasio ¾ bermata normal (merah) : ¼ bermata white (putih).
Sehingga lalat-lalat yang diperoleh dari F2 yang bermata merah adalah semuanya
merupakan lalat betina sedangkan ½ dari lalat jantan mempunyai mata berwarna
putih serta ½ nya lagi mempunyai mata merah. berdasarkan hasil yang diperoleh
tersebut Morgan akhirnya menyimpulkan bahwa gen yang bersifat resesif merupakan
gen yang menentukan lalat bermata putih yang hanya mempunyai pengaruh pada
lalat yang berjenis kelamin jantan dan gen yang menentukan warna mata dari
Droshopila hanya terdapat pada kromosom X saja sedangkan pada kromosom Y
tidak menentukan.

Dan lalat betina yang bermata putih tersebut juga terdapat apabila lalat
berjenis kelamin betina bermata merah heterozigotik (+ w) dikawinkan dengan lalat
jantan yang bermata putih (w-) maka keturunan yang diperoleh dari persilangan
tersebut adalah ½ lalat betina bermata putih dan ½ bermata merah, hal itu juga
terjadi pada lalat berjenis kelamin jantan yaitu ½ bermata putih dan ½ bermata
merah. Dari penelitian yang telah dilakukan morgan ternyata terdapat 20 macam gen
tersusun pada kromosom X pada Droshopila melanogaster.

Alel- alel dari gen- gen yang berbeda terletak pada satu kromosom yang sama
yang tidak mengikuti hukum Mendel 2 tentang pemisahan secara acak. Sehingga
gen- gen tersebut mengalami tautan terlebih gen- gen yang berbeda, namun tetapi
letaknya yang berdekatan sehingga dapat dipindahkan secara bersama- sama.
1. Tautan

Tautan ini dapat terjadi pada kromosom tubuh atau pun pada kromosom
kelamin. Tautan yang terjadi pada kromosom tubuh dinamakan tautan atau tautan
non kelamin (tautan autosomal). Sedangkan pada tautan kelamin dinamakan tautan
seks.

Tautan autosomal

Tautan autosomal adalah gen- gen yang terdapat pada kromosom yang sama,
sehingga tidak dapat bersegregasi secara bebas dan cenderung diturunkan bersama.
Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan bernama Thomas Hunt Morgan. Penelitian ini
menggunakan lalat sebagai medianya. Kerena lalat mudah berkembang biak dan
disamping itu lalat mempunyai empat pasang kromosom. Tiga pasang kromosom
autosom dan satu pasang kromosom seks. Drosophila betina mempunyai kromosom
X homolog, sedangkan Drosophila jantan mempunyai satu kromosom X dan satu
kromosom Y.

Tautan kelamin

Gen tertaut kelamin merupakan gen yang terdap pada kromosom kelamin dan
sifat yang ditimbulkan gen pada kromosom ini diturunkan bersama- sama dengan
jenis kelamin. Kromosom kelamin terdiri dari kromosom X dan Y. Pada perempuan
kromosomnya XX sedangkan pada laki- laki XY. Terdapat dua jenis gen tertaut
kelamin, yaitu gen tertaut kelamin tidak sempurna dan gen tertaut kelamin sempurna.
Gen tertaut kelamin tidak sempurna adalah gen yang terletak pada bagian homolog.
Sedangkan gen tertaut kelamin sempurna adalah gen- gen yang terletak pada bagian
tidak homolog.

a. Gen tertaut kromosom X

Gen tertaut kromosom X adalah gen yang terdapat pada kromosom X.


Gen ini merupakan gen yang tertaut kelamin tidak sempurna. Perempuan
memiliki susunan kromosom kelamin XX, ada sepasang kromosom seks yang
benar- benar homolog. Hal ini menjadikan hukum dominansi dan resesif bagi
sifat- sifat yang ditentukan oleh gen- gen tertaut kromosom X pada
perempuan sama seperti tautan pada sifat- sifat yang ditentukan oleh gen- gen
autosom. sehingga, tidak heran jika sifat- sifat tersebut lebih sering digunakan
pada laki- laki.

b. Gen terpaut kromosom Y

Gen tertaut kromosom Y merupakan gen tertaut kelamin secara


sempurna. Pada gen tertaut kromosom ini disebut holandrik, yang berarti sifat
yang diturunkan hanya terdapat pada laki- laki saja. Organism yang memiliki
kromosom XY, sebagian besar kromosom Y tidak mempunyai homolog pada
kromosom X. Dan juga pada kromosom Y sangat langka. Walaupun ada gen
pada kromosom Y tersebut akan diwariskan dari induk jantan kepada semua
anak laki- lakinya, namun tidak akan diwariskan pada anak perempuannya.

2. Pindah silang (Crossing Over)

Pindah silang yaitu pertukaran bagian kromosom satu dengan bagian


kromosom lainnya, baik kromosom yang homolog maupun dengan kromosom yang
berbeda. semakin panjang kromosom semakin banyak kemungkinan terjadinya
pindah silang. Seperti yang telah dibahas bahwa kromosom kelamin (gonosom) pada
individu jantan pada umumnya kromosom XY, dan sekitar 1/3 bagian kromosom X
adalah kromosom nonhomolog. Berarti jika pada 1/3 kromosom X, nonhomolog itu
terdapat gen penyakit, maka tidak ada gen pasangannya yang berfungsi sebagai alel
gen tersebut. Kelemahannya tidak dapat ditutupi oleh alel pasangannya.

1) Hemofilia

Hemofilia yaitu suatu penyakit yang mengakibatkan darah sukar


membeku. Sehingga jika terjadi luka kecil maka bisa menyebabkan kematian.
Karena penderita tidak bisa membentuk dan memproduksi faktor yang
menyebabkan darah membeku. Gen pembentuk faktor pembeku darah adalah
yang terdapat kromosom nonhomolog. Gen yang bersifat dominan diberi
simbol “H (mampu memproduksi faktor pembeku darah)” sedangkan resesif
“h (tidak dapat memproduksi faktor pembeku darah)”. Pada wanita memiliki
alel pasangannya dan pada laki-laki tidak mempunyai. Sehingga pengaruh
gen h pada wanita ditutup oleh pasangannya, yaitu gen H yang normal sedang
pada laki-laki tidak. sehingga menjadikan penyakit hemofilia lebih banyak
diderita oleh laki-laki saja,

2) Buta warna

Gen pada penderita buta warna terdapat pada kromosom X


nonhomolog dan bersifat resesif. Pada wanita heterozigot, fenotipenya normal
menikah dengan laki-laki normal, maka hasil yang diperoleh mempunyai
ketutunan ½ dari anak laki- lakinya akan terkena buta warna. Oleh karena itu
penyakit ini lebih banyak diderita oleh laki-laki saja.

Persilangan dengan gen resesif

Mutan betina yang disilangkan dengan mutan jantan normal, hasil yang
diperoleh semua generasi F1-nya untuk yang betina memiliki fenotipe normal
sedangkan untuk yang berjenis kelamin jantan memiliki fenotipe mutan. Sedangkan
F2-nya mempunyai genotip 50% nomal dan 50% mutan. Jika mutan jantan
disilangkan dengan betina normal maka fenotipenya akan normal. Keturunan
selanjutnya yang diperoleh adalah semua betina mempunyai fenotipe normal,
sedangkan pada jantan 50% normal dan 50% mutan.

Persilangan dengan gen dominan

Jika mutan betina terlebih dahulu, maka diperoleh semua F1-nya mempunyai
fenotipe induk betina. Generasi selanjutnya semuanya akan bergenotipe mutan, dan
pada jantannya 50% mutan dan 50% normal. Dan jika mutan jantan yang dijadikan
sebagai induk penyilangan, maka akan diperoleh semua keturunan F1 betina akan
berfenotipe mutan, sedangkan pada jantan maka akan dihasilkan mutan yang
berfenotipe normal. Generasi yang dihasilkan selanjutnya akan diperoleh keturunan
betina dan jantan masing-masing 50% berfenotipe mutan dan 50% berfenotipe
normal.
 ALAT DAN BAHAN
 ALAT
1. Botol kultur yang berisi lalat buah
2. Botol eterisari / botol pembiusan
3. Kuas
4. Styrofoam
5. Cawan petri (untuk pembiusan kembali)
6. Cawan pembunuh berisi air larutan detergen
7. Botol berpipet ( untuk eter )
8. Tutup busa steril
9. Pipet tetes
 BAHAN
1. Drosophila melanogaster
2. Media Drosophila melanogaster
3. Larutan Eter
4. Kapas
 CARA KERJA

1. Menyentak botol kultur pada bantalan styroform ( busa plastik atau pada
bantalan karet) sehingga semua lalat buah yang ada dalam ruangan botol akan
jatuh ke bawah. Dalam menyentakan botol tidak boleh dilakukan dengan
keras karena akan menyebabkan lalat buah akan menjadi terbenam dalam
medium.

2. Membuka sumbat busa botol kultur kemudian memautkan botol kultur


dengan botol eterisasi, memegang dengan tangan kiri.

3. Dengan tangan kanan yang masih bebas, memutar bitol kultur perlahan-lahan
sesuai dengan sumbu untuk merangsang lalat buah di dalam botol kultur
berpindah ke botol eterisasi. Untuk memudahkan, mengarahkan botol
eterisasi ke sumber cahaya.

4. Setelah sebagian besar lalat buah masuk ke dalam botol eterisasi, lalu
melepaskan botol kultur perlahan-lahan dan menyumbat kembali. Sementara
itu, mengarahkan botol eterisasi tetap ke arah sumber cahaya, kemudian
menyumbat botol eterisasi dengan sumbat gabus yang sudah disediakan.

5. Meneteskan sedikit eter (dietil eter0, kira-kira 3-4 tetes, kemudian


mendiamkan. Mengusahakan lalar buah dapat bergerak tersebar dengan cara
menjauhkan lalat buah dari cahaya yang kuat.

6. Setelah semua lalat pingsan (tidak berjalan atau bergerak), mendiamkan botol
eterisasi selama 30-45 detik. Lalat yang terbius akan tetap pingsan selama 5
menit atau lebih sehingga cukup waktu bagi kita untuk mengamati dan
menghitung sekitar 30-50 ekor lalat buah. Apaabila pembiusan kurang
sempurna, maka lalat akan segera terbangun kembali. Namun juka pembiusan
dilakukan terlalu lama, maka lalat buah akan mengalami oover etrisasi dan
sebagian besar lalat buah akan mati yang ditandai dengan sayap lalat buah
yang melipat keatas.

7. Dalam melakukan perhitungan, membiasakan menempatkan lalat buah diatas


selembar kertas putih, karena hal ini dapat membantu dalam mengamati
karakter dari satu mutan secar jelas.

8. Lalat buah yang bangun kembali sebelum perhitungan selesai dapat di bius
kembali dengan cara menempatkan pada cawan petri yang sudah diberi kapas
dan dilapisi dengan kain kasa yang telah ditetesi dengan eter.

9. Lalat yang sudah dihitung dan tidak dipergunakan lagi harus dibuang dalam
botol pembunuh yang berisi sabun detergen atau alkohol. Lalat tidak beleh
dilepaskan begitu saja karena sapat mengganggu populasi lalat buah di sektar
lingkungan kita.
 HASIL PENGAMATAN

Berdasarkan pengamatan telah yang dilakukan pada percobaan ini, diperoleh hasil
pengamatan sebagai berikut:

NOMOR BOTOL : T5

PARENTAL : Jantan (sepia), Betina (yellow)

Ho: data yang diperoleh mempunyai ratio, ♂ normal : ♀ normal ♂ sepia : ♀ sepia ♂
yellow: ♀ yellow ♂ sepia yellow : ♀ sepia yellow

Ha: data yang diperoleh tidak mempunyai ratio, ♂ normal : ♀ normal ♂ sepia : ♀ sepia
♂ yellow: ♀ yellow ♂ sepia yellow : ♀ sepia yellow

TABEL PENGAMATAN

♂Normal ♀Normal ♂Sepia ♀Sepia ♂Yellow ♀Yellow ♂Sepia ♀Sepia Jumlah


yellow yellow
Jumlah 30 36 12 13 26 32 12 15 176
individu
yang diamati

Jumlah 3/16 x 3/16 x 1/16 x 1/16 x 3/16 x 3/16 x 1/16 x 1/16 x


individu 176 = 33 176 = 33 176 = 176 = 176 = 33 176 = 33 176 = 176 =
yang 11 11 11 11
diharapkan

Derajat kebebasan = (k-1) k = 8-1  7


{(ft −Ft)}2
2
X = ∑
Ft
{(30−33)}2 {(36 −33)}2 {(12−11)}2 {(13−11)}2
= + + + +
33 33 11 11
{(26−33)}2 {(32−33)}2 {(12−11)}2 {(15−11)}2
+ + +
33 33 11 11
= 0,27 + 0,27 + 0,09 + 0,36 + 1,48 + 0,03 + 0,09 + 1,45
= 4,04

Nb: jika dibandingkan dengan table chi kuadrat maka hasil tersebut lebih kecil
dibandingkan dengan table, sehingga menerima hipotesis nol pada taraf kepercayaan
95%, sehingga persilangan tersebut menerima/sesuai dengan hukum mendel dan
percobaan morgan.
BAGAN PERSILANGAN

Parental : Sepia x Yellow

+ se/se y y

Gamet : Betina + y +/se

Jantan y +/se

F1 : + y +/se x y +/se

3+ y +/. ( 3 normal betina)


3 +/.
+ y
se/se + y se/se ( 1 sepia betina)

3+/. 3y +/. ( 3 yellow betina)


y y
se/se y se/se ( 1 yellow sepia betina)

3+/. 3+ +/. ( 3 normal jantan)


+
se/se + se/se ( 1 sepia jantan)

3+/. 3y +/. ( 3 yellow jantan)


y
se/se y se/se ( 3 yellow sepia jantan)
Jadi perbandingan dari ♂ normal : ♀ normal ♂ sepia : ♀ sepia ♂ yellow: ♀ yellow ♂
sepia yellow : ♀ sepia yellow adalah 3:3:1:1:3:3:1:1

 PEMBAHASAN
Dari percobaan yang telah dilakukan pada botol nomor T5 dapat diketahui bahwa
parental dari lalat yang berada di dalam botol T5 yaitu ♂ sepia x ♀ yellow. Kemudian
menghitung chi kuadrat (X2) menghasilkan data yang lebih kecil dari tabel chi Kuadrat.
Artinya pada taraf kepercayaan 95 % hasil tersebut masih memenuhi perbandingan yang
di harapkan atau sesuai dengan percobaan Morgan.

Dari hasil ini dapat membuktikan bahwa pada persilangan tersebut sudah sesuai
dengan penelitian Morgan yang ternyata parental sesungguhnya adalah sepia dengan
yellow. Hal yang membedakan dari kedua jenis lalat Drosophila melanogaster tersebut
dari warna mata dan warna pada tubuh. sepia memiliki warna mata yang coklat dan
yellow semua tubuh dan matanya berwarna kuning, sehingga jumlah individu yang
diperoleh tepat dari jumlah individu yang diharapkan.

Diagram persilangan gen terpaut seks yang diperoleh pada lalat Drosophila
melanogaster yang bermutan jantan sepia dengan yang bermutan betina yellow,
menghasilkan perbandingan ♂ normal : ♀ normal ♂ sepia : ♀ sepia ♂ yellow: ♀ yellow
♂ sepia yellow : ♀ sepia yellow adalah 3:3:1:1:3:3:1:1.

Dari persilangan gen terpaut seks pada lalat Drosophila melanogaster diperoleh
hasil perhitungan dengan menggunakan table chi-kuadrat, hasil yang diperoleh tersebut
menunjukkan menerima hipotesis nol pada taraf kepercayaan 95%, karena hasil yang
dapat dari perhitungan tersebut memperoleh X2 kurang dari 14,04 yaitu 4,04 artinya
persilangan gen terpaut seks menerima hukum T.H Morgan.
 KESIMPULAN
1. Dalam setiap organism memiliki dua macam kromosom, yaitu autosom dan gonosom
(seks kromosom).
2. Persilangan gen yang terpaut seks diakibatkan karena adanya 2 kromosom kelamin,
yaitu kromosom X dan kromosom Y. Pada betina memiliki 2 kromosom X
sedangkan jantan hanya memiliki 1 kromosom X saja.
3. Gen yang ada di dalam kromosom kelamin. Peristiwa rangkaian kelamin itu
dinamakan Sek Linkage.
4. Gen-gen yang terdapat pada pada tangkai kromosom kelamin disebut gen terangkai
kelamin Seks-Linked genes .
5. Parental pada botol nomor T5 yaitu ♂ Sepia x ♀ Yellow.
6. Pada percobaan yang telah dilakukan persilangan gen terpaut seks, diperoleh lalat
Drosophila melanogaster yang mutan jantan sepia dan mutan betina Yellow. Jumlah
lalat yang diperoleh dari perhitungan dalam botol bernomor T5 berjumlah 176 lalat.
7. Diagram persilangan gen terpaut seks pada lalat Drosophila melanogaster antara lalat
bermutan jantan sepia dan bermutan betina yellow, menghasilkan suatu perbandingan
jantan : ♂ normal : ♀ normal ♂ sepia : ♀ sepia ♂ yellow: ♀ yellow ♂ sepia yellow
: ♀ sepia yellow adalah 3:3:1:1:3:3:1:1.
8. Apabila dibandingkan dengan table Chi-kuadrat maka hasil yang diperoleh dari hasil
pengamatan pada lalat Drosophila melanogaster yang bermutan jantan sepia dengan
lalat betina bermutan yellow gen terpaut seks maka hasil yang diperoleh menerima
hipotesis nol (0) pada taraf kepercayaan 95% karena hasil X2 kurang dari 14,04 yaitu
4,04) artinya persilangan yang telah dilakukan pada botol bernomor T5 ini menerima
hukum T.H Morgan.
DAFTAR PUSTAKA

Aryulina, Diah, Muslim, Choirul, Manaf, Syalfinaf, Winarni, Endang Widi. 2005.
Biologi. Jakarta : Esis

Bruce, Albert, et. al. 1994 Biologi Molekuler Sel Jilid 1. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

Campbell, et. Al. 2002. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Purwoto dan Wiryosoewarto. 1994. Genetika dan Evolusi Cetakan I. Depdikbud:


Jakarta.

Sisunandar. 2014. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto: UMP.

Suryo. 1997. Genetika Strata 1. Universitas Gadjah Mada Press : Yogyakarta.