Anda di halaman 1dari 15

SINDIKAT

SEJARAH PERJUANGAN HMI


Sebagai ikhtiar untuk mengikuti
Senior Course (SC)
HMI CABANG SELONG

oleh :
SUDIRMAN

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

CABANG MATARAM

2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tiada untaian kata yang patut hamba ucapkan selain puji syukur kepada
Allah swt. Tuhan yang telah menciptakan keseimbangan di dunia ini dengan
dialektika, sehingga dengan rahmatNya manusia dapat beraktifitas dalam
keberlangsungan hidup.

Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad saw yang merupakan sang Revolusioner besar yang mambalikkan
piramida struktur sosial, serta mengentaskan kaum marginal dari struktur sosial
yang menindasnya. Sejarah yang senantiasa menjadi motivator dalam
memperbaiki masa lalu dan menghadapi masa sekarang serta menata masa depan
dalam dinamika pergerakan HMI biasa disebut dengan Sejarah Perjuangan HMI.
Sejarah merupakan perumusan cermin masa lalu Dan memiliki peran vital dalam
menunjang serta memberikan stimulus pada diri personal atau kolektif dalam
suatu organisasi agar senantiasa maju. Kepada setiap anggota HMI, terutama para
aktivis diharapkan memahami dan menghayati Sejarah Perjuangan HMI.
Pemahaman terhadap sejarah tersebut diharapkan dapat menafasi perjuangan di
masa dewasa ini dan seterusnya. Akhirnya, kepada Allah jualah kita memohon.
Semoga rancangan materi SINDIKAT NDP ini bermanfaat bagi kita sebagai
penambah wawasan dalam membuka cakrawala pengetahuan. Dan dengan
memanjatkan do’a dan harapan semoga apa yang kita lakukan ini menjadi amal
ibadah dari Allah swt. Yang Maha meliputi apa yang ada dilangit dan dibumi serta
apa yang ada diantara keduanya. Aamiin.

Billahittaufiq Wal Hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Mataram, 23 Juni 2019

Penulis,
SINDIKAT SEJARAH PERJUANGAN HMI

1. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta dapat memehami sejarah dan dinamika


perjuangan HMI
2. Tujuan Pembelajaran Khusus :
a. Peserta dapat menjelaskan latar belakang berdirinya HMI
b. Peserta dapat menjelaskan gagasan dan visi pendiri HMI
c. Peserta dapat mengklasifikasi fase-fase perjuangan HMI
3. Metode :
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Dialog/tanya jawab
4. Bahan :
a. Spidol
b. Papan Tulis, Dll.
5. Waktu : 14 Jam
6. Proses Penjelasan :
A. PENGANTAR ILMU SEJARAH
Pengertian Sejarah adalah suatu kebetulan terjadi di masa yang telah lalu
dan benarbenar terjadi, dan kebetulan pula dicatat, biasanya kebenaran sejarah
didukung bukti-bukti yang membenarkan peristiwa itu benar-benar terjadi.
Sedangkan ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari kejadian atau peristiwa
tersebut.1
Manfaat dan Kegunaan Mempelajari Ilmu Sejarah Pada peristiwa yang
terjadi dapat dianalisis kelebihan dan kekurangan yang ada dari peristiwa itu.
pengetahuan tersebut dapat meningkatkan kehati-hatian dalam mengambil
keputusan pada masa saat ini dengan mempertimbangkan prinsip nilai yang
terjadi dimasa lalu, karena pada dasarnya peristiwa masa lalu linear dengan
masa saat ini dan yang akan datang.
B. LATAR BELAKANG BERDIRINYA HMI
 Situasi Umat Islam Internasional Kondisi Umat Islam
Pada saat menjelang kelahiran HMI dapat dibilang ketinggalan
dibandingkan masyarakat Eropa dengan Reinasance-nya. Ini dapat dilihat dari
penguasaan tekhnologi maupun pengetahuan, bahkan sebagaian besar umat
Islam berada dibawah ketiak penindasan nekolim barat yang notabene dimotori
oleh umat Kristen.2 Berangkat dari pemahaman ajaran Islam yang kurang, umat
berada dalam keterbelakangan dan fenomena ini terjadi dapat dikatakan
diseluruh dunia. maka munculah gerakan untuk menentang keterbatasan
seseorang melaksanakan ajaran Islam secarah benar dan utuh. Gerakan ini
disebut gerakan pembaharuan Seperti di Turki (1720), Mesir (1807). Begitu
juga penganjurnya seperti Rifaah Badawi Ath-Tahtawi (18011873),
Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad Ibnu Abdul Wahab
3
(Wahabisme) di Saudi Arabia (1703-1787), dan lain-lain. Situasi NKRI
Dimana dengan kedatangan Inggris, Portugis, Spanyol, dan belanda ke
Indonesia, di samping sebagai penjajah sekaligus membawa Misi dan Zending
serta peradaban Barat. Karena peradaban Barat bercorak sekularis, turut
mempengaruhi perkembangan masyarakat Indonesia. Lewat penjajahannya

1
Hand Out LK-1, Jakarta, 2004, hlm. 13
2
Ibid, hlm. 15
3
Taufik Rahmat,Sindikat Sejarah Perjuangan HMI, Serang, 2015, hlm. 2
selama 350 Tahun.4 Akibatnya menurut J.C. Van Leur, dalam Indonesia Trade
and Society, Nusantara Indonesia dijadikan arena Perang agama segitiga,
Perang antar katolik lawan protestan serta keduanya sebagai penjajah melawan
pribumi Islam di Nusantara Indonesia yang tidak mau dijajah.5 Akhirnya, pada
17 Agustus 1945, kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan dari Jalan
Pegangsaan Timur Jakarta ke seluruh dunia oleh Soekarno-Hatta.6
 Kondisi Umat Islam Indonesia
Sikap dan mental bangsa indonesia, merasa lebih rendah dari bangsa
Belanda dan bangsa Barat lainnya. Hal ini disebabkan karena akibat
penindasan dan pendidikan Barat yang sulit dihilangkan.7 Menggabarkan
kondisi makro sosiologis umat Islam Indonesia, dimana tingkat pemahaman,
pengamalan dan penghayatan agama Islam, disamping bagian terbesar, yaitu
yang melakukan agama Islam itu sebagai kewaajiban yang diadatkan
umpamanya upacara, kawin, mati dan selamatan, masih ada 3 golongan lagi:
(1) golongan alim ulama, dan pengikut-pengikutnya yang mengenal dan
mempraktekkan agama Islam sesuai dengan yang dilakukan oleh nabi
Muhammad SAW seperti tersebut dalam hadist-hadist dan riwayat.8 (2)
golongan alim ulama dan pengikutnya yang terpengaruh oleh mistik, yang
menyebabkan mereka menganggap bahwa hidup ini hanyalah untuk kehidupan
akhirat semata.9 (3) golongan kecil, yang mencoba menyesuaikan diri dengan
kemauan zaman selaras-larasnya dengan ujud dan hakikat agama Islam.
 Kondisi Perguruan Tinggi
Suasana kehidupan mahasiswa waktu itu diidentikan dengan kelompok
pemuda yang paling maju, dengan kehidupan yang lebih diwarnai budaya
Barat ketimbang budaya Islam atau Timur.10 Ahmad Dahlan Ranuwihardjo
Mengenai Latar belakang berdirinya HMI, meliputi empat hal: pertama, karena

4
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah Perjuangan
Bangsa Indonesia, 2008, hlm. 16
5
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, 2009, hlm.177
6
Hariqo Wibawa Satria, Lafran Pane Jejak Hayat Dan Pemikiran, 2010 hlm. 68
7
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah Perjuangan
Bangsa Indonesia, 2008, hlm. 20
8
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah Perjuangan
Bangsa Indonesia, 2008, hlm. 25-26
9
Ibid, hlm. 26
10
Achmad Dahlan Ranuwihardjo, Dkk, Lafran Pane Penggagas Besar, 2015, hlm. 5-6
PMY tidak memperhatikan kepentingan Mahasiswa beragama Islam. Kedua,
karena adanya dominasi partai sosialis terhadap PMY sebagai satu-satunya
wadah mahasiswa pada waktu itu, sebagai strategi menguasai mahasiswa untuk
kepentingan-kepentingan politik Partai sosialis. Ketiga, karena adanya
polarisasi politik di tanah air, PS di satu pihak dan Masyumi, PNI, PP lain
pihak. Keempat, perlunya persatuan dikalangan Mahasiswa menghadapi agresi
militer Belanda, mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.11
C. GAGASAN VISI PENDIRI HMI DAN PROSES KELAHIRAN HMI
 Sosok Lafran Pane
Kongres HMI XI di Bogor tanggal 23 s.d. 30 Mei 1974, berdasarkan
hasil penelitian sejarah HMI, telah menetapkan Lafran Pane sebagai
pemrakarsa lahir/berdirinya organisasi HMI.12 Lafran Pane adalah anak
keenam dari Sutan Pangurabaan Pane, lahir di Padang Sidempuan, 5 Februari
1922, pendidikan Lafran Pane tidak berjalan “normal” dan “lurus”. Lafran
Pane mengalami perubahan kejiwaan yang radikal sehingga mendorong dirinya
untuk mencari hakikat hidup sebenarnya.13 Ketika STI yang didirikan di jakarta
8 juli 1945 pindah ke Yogyakarta, Lafran Pane mendaftar sebagai Mahasiswa
STI, yang kelak menjadi UII. Di Universitas, pelajaran dan pendidikan agama
Islam kini diperolehnya lebih Intensif dari Dosen STI seperti Abdul Kahar
Muzakir, Husein Yahya, H.M. Rasyidi. Selain menerima pelajaran agama
Islam di bangkuk kuliah, juga diperolehnya secara otodidak.14 Semasa di STI
Lafran Pane menjadi ketua III Senat Mahasiswa STI. di PMY, Lafran Pane
juga ikut sebagai pengurus mewakili mahasiswa STI.15
 Gagasan, Pembaharuan Pemikiran Keislaman
Agama islam tidak mungkin dikembangkan dan disiarkan dengan baik,
jika rakyat dan bangsa, baik secara fisik maupun rohani belum bebas dari
perlakuan kaum kolonial.16 kaum muslim cukup beribadah, berdoa, berpuasa,

11
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia, 2008, hlm.15-16
12
Achmad Dahlan Ranuwihardjo, Dkk, Lafran Pane Penggagas Besar,2015, hlm. 38-39
13
Hand Out, Jakarta, 2004, hlm. 17
14
Achmad Dahlan Ranuwihardjo, Dkk, Lafran Pane Penggagas Besar, 2015, hlm. 44-45
15
Hariqo Wibawa Satria, Lafran Pane Jejak Hayat Dan Pemikiran, 2010, hlm. 45
16
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia, 2008, hlm. 1
mengurus mesjid. Pikiran jahat seperti ini harus dilabrak dan di tentang karena
tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, yang menganut doktrin
keseimbangan.17 Agama Islam tidak dapat berkembang dengan sempurna
karena kebodohan yang melandah penganutnya (tidak ada agama bagi yang
tidak berakal).18 lebih lanjut Harun Nasution menguraikan Islam itu memiliki
aspek ibadah, latihan spiritual dan ajaran moral, aspek sejarah dan kebudayaan,
aspek politik, aspek hukum, aspek teologi, aspek filsafat, aspek mistisisme,
aspek pembaharuan dalam Islam, menegenali Islam hanya dari tiga aspek saja
yaitu aspek ibadah, fikih dan tauhid, yang demikian akan menimbulkan
pengertian yang tidak lengkap tentang Islam. Hal ini dapat membawa kepada
faham dan sikap yang sempit.19
 Gagasan, Visi Dan Komitmen Keislaman Serta Kebangsaan
Sesuai dengan yang diungkapkan Jendral Soedirman yang hadir saat Dies
HMI yang pertama tanggal 6 Februaru 1948 yang menyatakan bahwa HMI
bukan saja harapan umat Islam saja tapi harapan bangsa ini, saat itu HMI
bukan hanya diterjemahkan sebagai Himpunan Mahasiswa Islam tapi juga
diterjemahkan (Harapan Masyarakat Indonesia).20 Bersumber dari rumusan
tujuan HMI yang pertama, terdiri dari 5 aspek pokok pikiran.
“Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat
Rakyat Indonesia” Mengandung empat aspek pemikiran, politik, pendidikan
dan ekonomi, dan kebudayaan. “Menegakkan dan mengembangkan ajaran
Islam” Mengandung aspek agama.21 Tujuan HMI mempunyai nilai
developmental, karena dalam rumusan tujuan HMI yang pertama dapat
berfungsi sebagai tolok ukur seberapa jauh HMI dapat memberikan partisipasi
dalam membela, mempertahankan, membina, membangun Negara Republik
Indonesia.22 Komitmen keislaman dan kebangsaan sebagai dasar perjuangan
masih melekat dalam gerakan HMI. Kedua komitmen ini tersurat dalam
rumusan tujuan HMI (hasil Kongres IX HMI di Malang tahun 1969) sampai
17
Ibid, hlm. 21
18
Ibid, hlm. 23
19
Ibid, hlm. 24
20
Achmad Dahlan Ranuwihardjo, Dkk, Lafran Pane Penggagas Besar, 2015, hlm. 7-8
21
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia, 2008, Hlm. 57
22
Ibid, hlm. 58
sekarang, Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan
Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang
diridhoi Allah SWT”.23
 Saat-Saat Menjelang Kelahiran HMI
Suasana zaman yang memberi warna pemikiran mahasiswa Islam saat itu
antara lain adalah cita-cita memiliki organisasi mahasiswa Islam yang kuat
agar dapat menumbuhkan kekuatan Islam di tanah air dengan baik.24 Rencana
pendirian HMI oleh Lafran Pane diawali dengan mengumpulkan pemuda di
daerah kauman yogyakarta. Lafran kemudian mendiskusikan hajatnya tersebut,
pada november 1946, dengan mengundang beberapa mahasiswa Islam di
yogyakarta, baik yang ada di STI, Sekolah Tinggi Tehnik (STT) maupun yang
di Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada untuk rapat.25 Seiring makin matangnya
situasi yang mengiringi kelahiran HMI, kemudian pendukungnya terus
bertambah serta makin solid di awal tahun 1974, lafran bertekad tidak
menyianyiakan momentum. Namun niat lafran, dkk ini belum dimengerti
banyak pihak, khususnya PMY dan GPII. Lafran Pane bertahan, ia meyakini
kebutuhan sangat mendesak, mengingat belum ada organisasi sejenis, maka
kelahiran harus segera dilangsungkan.26 Saat itu jam kuliah tafsir, dosennya
Hussein Yahya, Lafran Pane meminta ijin beliau.27 Akhirnya, dengan segala
persiapan, saat itu hari Rabu Pon 1878, 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan
tanggal 5 Februari 1947, Jam 16.00 sore, bertempat disalah satu ruang kuliah
STI, Jalan Setyodiningratan, masuklah mahasiswa Lafran Pane langsung
berdiri di depan kelas memimpin rapat. Mengawali prakatanya,lafran
mengatakan “Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Islam, karena
semua persiapan dan perlengkapan sudah beres, siapa yang mau menerima
berdirinya organisasi mahasiswa Islam ini, itu sajalah yang diajak, dan yang
tidak setuju biarkanlah mereka terus menentang”. Pemrakarsa pendiri HMI

23
Hand Out LK-1, Jakarta, 2004, hlm. 18
24
Achmad Dahlan Ranuwihardjo, Dkk, Lafran Pane Penggagas Besar, 2015, hlm. 21
25
Hariqo Wibawa Satria, Lafran Pane Jejak Hayat Dan Pemikiran, 2010, hlm. 55
26
Ibid, hlm. 56-57
27
Ibid, hlm. 57
adalah Lafran Pane.28 para pendiri HMI terdiri dari: (1) Lafran Pane
(Yogyakarta), (2) Kartono Zarkasyi (Desa Jambu, Ambarawa), (3) Dahlan
Husein (Palembang), (4) Maisaroh Hilal (cucu pendiri Muhammadiyah KH.
Ahmad Dahlan, Singapura), (5) Suwali (Jember), (6) Yusdi Ghozali
(Semarang), (7) Mansur (Palembang), (8) Siti Zainah (Palembang, istri Dahlan
Husain), (9) M. Anwar (Malang), (10) Hasan Basri (Surakarta), (11)
Zulkarnaen (Bengkulu), (12) Tayeb Razak (Jakarta), (13) Toha Mashudi
(Malang), (14) Bidron Hadi (Kauman Yogyakarta).29
D. FASE-FASE PERJUANGAN HMI
 Fase Konsolidasi Spritual (November 1946-5 Februari 1947)
Bermula dari latar belakang sejarah berdirinya HMI serta kondisi objektif
yang mendorong berdirinya HMI. Setelah mengalami berbagai proses akhirnya
dijawab secara konkrit, keputusan dan kesepakatan para mahasiswa yang hadir
dalam rapat untuk mendirikan HMI 5 Februari 1945.30
 Fase Pengokohan (5 Februari 1947-30 November 1947)
Roda organisasi berjalan disertai aktivitas memperkenalkan HMI secara
populer dikalangan mahasiswa maupun masyarakat luas. Di forum Kongres
mahasiswa seluruh Indonesia yang berlangsung di Malang tanggal 8 Maret
1947 HMI mengutus Lafran Pane dan Asmin Nasution.31 Kongres mahasiswa
seluruh Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai forum perkenalan HMI dengan
mahasiswa dari kota-kota lain. Beberapa bulan setelah Kongres tersebut
berdirilah cabang-cabang HMI di Klaten, Solo dan Malang. Untuk tambah
kokohnya kedudukan HMI yang baru berumur 9 bulan, dilangsungkannya
Kongres I HMI di Yogyakarta tanggal 30 November 1947. Terpilih sebagai
Ketua Umum PB HMI MS Mintaredja.32
 Fase Perjuangan Fisik (30 November 1947-27 Desember 1949)
HMI yang lahir dalam suasana debu dan kabut revolusi yang masih
menghitam pekat terjun ke gelanggang medan pertempuran memangkul senjata
28
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia, 2008, Hlm. 31
29
Ibid, hlm. 31-32
30
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia, 2008, Hlm. 33-34
31
Ibid, hlm. 34-35
32
Ibid, hlm. 36
membantu pemerintah mengusir tentara penjajah, membela kehormatan
bangsa, negara dan agama dari jajahan Belanda sampai bangsa Indonesia
memperoleh kedaulatannya 27 Desember 1949. Sewaktu terjadi penghianatan
dan pemberontakan PKI I di Madiun 18 September 1948, HMI ikut serta dalam
penumpasan pemberontakan tersebut.33 Sejak Affair Madiun itulah dendam
kesumat PKI tertanam kepada HMI.34
 Fase Pembinaan dan Konsolidasi Organisasi (1950-1963)
Tindakan memindahkan kedudukan PB HMI pada bulan Juli 1951 dari
Yogyakarta ke Jakarta, merupakan sikap arif bijaksana.35 Lukman E. Hakim
ditunjuk sebagai Ketua PB HMI dan Mutiar sebagai Sekjen, menggantikan
Lafran dan Dahlan. Ternyata Lukman Hakim tidak mampu memulihkan citra
HMI, seraya menyerahkan kepada A. Dahlan Ranuwihardjo untuk memimpin
dan membentuk PB HMI.43 sebagai tindak lanjut, setelah 5 bulan memimpin,
adalah mengadakan Kongres darurat HMI, yang kemudian disahkan sebgai
Kongres II di Yogyakarta 15 Desember 1951. Untuk priode 1951-1953 A.
Dahlan Ranuwihardja duduk sebagai Ketum PB HMI, Sekum I di pegang oleh
M. Rajab Lubis.44 Pembinaan anggota, dengan membentuk basis-basis, sejak
dari komisariat, cabang, badko, lembaga-lembaga otonom.36
 Fase Tantangan Dan Penghianatan PKI II (1964-1965)
Dalam rencana kerja 4 tahun PKI 1964-1967, dimana menurut dokumen
itu, HMI termasuk salah satu musuh PKI yang harus dibubarkan.37 Tugas untuk
membubarkan HMI diserahkan kepada CGMI, organisasi mahasiswa yang
bernaung dibawah PKI.47 Puncak aksi tuntutan pembubaran HMI terjadi di
bulan September 1965, jika tanggal 13 September 1965, DN. Aidit sebagai
Ketua CCPKI dianugerahi Bintang Mahaputra, pada saat yang sama pula
Generasi Muda Islam Jakarta Raya, menunjukan solidaritas pembelaan
terhadap HMI, empat hari berikutnya tanggal 17 September 1965, dengan
keputusan komando tertinggi Retoling Aparatur Revolusi atau Kotrar (Bung
Karno), HMI dinyatakan jalan terus tidak dibubarkan.48 Besoknya 30

33
Ibid, hlm. 39
34
Ibid, hlm. 40
35
Ibid, hlm. 42
36
Ibid, hlm. 43
37
Ibid, hlm. 45
September 1965, PKI mengambil jalan pintas, sudah siap main kekerasan, dari
pada didahului lebih baik mendahului, dengan makar, mengambil kekuasaan
dari pemerintah yang sah dengan pemberontakan G30S. Berkat kesiap-siagaan
ABRI dan rakyat yang anti PKI, dalam waktu relatif singkat Gestapu/PKI dapat
digulung.49
 Fase HMI Penggerak Angkatan 66, Pelopor Orde Baru (1966-1968)
Atas inisiatif Wakil Ketua PB HMI Mar’ie Muhammad, Memprakarsai
mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam (KAMI) 25 oktober 1965,
kemudian disyahkan Manteri PTIP Prof. Dr. Syarif Thayeb, dengan tugas (1)
Mengamankan Pancasila, (2) memperkuat bantuan kepada ABRI dalam
penumpasan Gestapu/PKI sampai ke akar-akarnya. Massa aksi KAMI yang
pertama, berupa rapat umum, dilaksanakan tangga 3 november 1965 dihalaman
Fakultas Kedokteran UI Salemba Jakarta. Tanggal 10 Januari 1966 KAMI
mengumandangkan suara hati nurani rakyat dalam bentuk Tritura, yang berisi:
(1) bubarkan PKI, (2) Retooling Kabinet, (3) Turunkan Harga.38 Mengikuti
kelahiran KAMI, tanggal 9 Februari 1966 berdirilah Kesatuan Aksi Pemuda
Pelajar Indonesia (KAPPI) dengan Ketum M. Thamrin dari PII.39 Tuntutan
Retol Kabinet malah dijawab dengan pembentukan Kabinet Dwikora.52
Kemarahan rakyat kemudian bergejala beralamat pada Soekarno, yang dimata
rakyat terkesan memandang ringan Tritura. Demonstrasi-demonstrasi rakyat
dalam bentuk Kesatuan Aksi sejak 1 Maret 1966, sudah 111 hari non stop,
mencapai puncaknya tanggal 11 Maret 1966. Dari Aksi Massa mahasiswa dan
rakyat itulah lahirnya surat Perintah 11 Maret atau Supersemar.40 Dengan
menggunakan Supersemar, besoknya 12 Maret 1966, PKI dibubarkan dan
dinyatakan dilarang diseluruh Indonesia, beserta segala organisasi mantel
PKI.54 Setelah turunya Soekarno dan naiknya Soeharto sebagai Presiden
Republik Indonesia HMI ikut mendukung pemerintahan yang baru.41
 Fase Partisipasi HMI dalam Pembangunan dan Modernisasi (1969-
1970)

38
Ibid, hlm. 49-50
39
Ibid, hlm. 50
40
Ibid, hlm. 51
41
Hand Out LK-1, Jakarta, 2004, hlm. 20
Setelah tatanan orde baru mantap, maka sejak 1 April 1969 dimulailah
Rencana Pembangunan Lima Tahun atau Repelita.42 Bentuk-bentuk partisapasi
HMI, anggota dan alumninya dalam era pembagunan yang dimulai tahun 1969
hingga sekarang meliputi: (a) partisapasi dalam pembentukan suasana, situasi
dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan, (b) partisapasi
dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran, (c)
partisapasi dalam bentuk pelaksanaan langsung dari pembagunan.57
Sesungguhnya mantan pemimpin HMI 1950-an dan angkatan 66 adalah
generasi pertama HMI yang berpartisipasi kepada pemerintah dibawah
patronase “kelompok teknokrat”. Hanya saja menurut M. Dawam Rahardjo,
mereka masuk ke birokrasi dan secara tegas mendukung modernisasi, tidak
melalui diskusi yang sifatnya intelektual, tetapi berpartisipasi langsung dalam
kegiatan pembangunan.43
 Fase Pergolakan Pemikiran (1970-Sekarang)
Fase pergolakan pemikiran ini muncul tahun 1970, tetapi gejala-
gejalanya sudah nampak sekiar tahun 1968.44 Generasi baru pemikir dan
aktivis Islam sejak 1970-an berusaha mengembangkan dimana substansi,
bukan bentuk merupakan titik-tekannya utamanya. Paham Keislaman-
Keindonesiaan memberikan legitimasi kultural dan struktural terhadap
pembentukan “Negara Kesatuan Nasional” Indonesia disintesakan dan
diintegrasikan secara harmonis. Tema dan agenda yang menarik perhatian
mereka adalah (1) peninjauan kembali landasan teologis atau filosofis politik
Islam; (2) pendefinisian kembali cita-cita politik Islam; dan (3) peninjauan
kembali tentang cara dan cita-cita politik dapat dicapai secara efektif. Adapun
idealisme dan aktivisme mereka dapat dipetakan dalam tiga wilayah penting:
(1) pembaharuan teologis atau keagamaan; (2) reformasi politik atau birokrasi;
(3) tarnsformasi sosial.45

42
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia, 2008, hlm. 53
43
Syafi’i Anwar, Pemikiran Dan Aksi Islam Di Indonesia: Sebuah Kajian Politik Mengenai
Cendikiawan Muslim Orde,1995, hlm. 26
44
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia, 2008, Hlm. 53
45
Bahtiar Efendy, Islam dan Negara; Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di
Indonesia, 1998, hlm. 126
 Fase Reformasi (Mei 1998)
Terlepas dari faktor dukungan politik ABRI terhadap Soeharto mulai
melemah pada tahun 1990-an, yang pasti, upaya yang telah dirintis generasi
intelektualisme baru ini membuahkan hasil. Pada era ini mulai tumbuh sikap
akomodatif negara terhadap Islam dengan diterapkannya kebijakan-kebijakan
yang sejalan dengan kepentingan sosial-ekonomi dan politik umat Islam.46
Setelah itu tidak ada lagi demonstrasi mahasiswa secara besar-besaran sampai
muncul gerakan reformasi pada tahun 1998. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa
turun kejalan itu buruk. Buktinya ketika rezim orde baru melemah mahasiswa
kembali turun kejalan dan krisis moneter yang membuat Dolar Amerika ketika
waktu normal hanya Rp 2.200 per dolar lalu tiba-tiba naik sampai Rp 17.000
per dolar, akibatnya harga barang melambung tinggi, sementara pemerintah
Soeharto tidak dapat mengendalikan keadaan, maka dia pun jatuh.47

46
Ibid, hlm. 273-310
47
Rusydy Zakaria, Dkk, Membingkai Perkaderan Intelektual Setengah Abad HMI Cabang Ciputat,
2012, hlm. 172-173
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI Dan Relevansinya Dengan


Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, Jakarta: CV Misaka Galiza, 2008.
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Bandung: Salamadani PT Grafindo
Media Pratama, 2009.
Hariqo Wibawa Satria, Lafran Pane Jejak Hayat Dan Pemikiran, Jakarta Selatan:
Lingkar, 2010.
Achmad Dahlan Ranuwihardjo, Dkk, Lafran Pane Penggagas Besar, Jakarta
Selatan: KAHMI Centre, 2015.
Syafi’i Anwar, Pemikiran Dan Aksi Islam Di Indonesia: Sebuah Kajian Politik
Mengenai Cendikiawan Muslim Orde Baru, Jakarta: Paramadina: 1995.
Rusydy Zakaria, Dkk, Membingkai Perkaderan Intelektual Setengah Abad HMI
Cabang Ciputat, Ciputat: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012.
Hand Out. Panduan Pelaksanaan Latihan Kader 1 Himpunan Mahasiswa Islam,
Jakarta: Badkornas LPL PB HMI Periode 2003-2005, 2004.
Taufik Rahmat, Sindikat Sejarah Perjuangan HMI, HMI Komisariat IAIN Banten
Cabang Serang sebagai persyaratan Senior Course HMI Cabang Bandung: Batam,
2015. di unduh Selasa, 20 Juni 2017, pukul 16.29.