Anda di halaman 1dari 2

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian analisis dan pembahasan dan untuk menjawab rumusan
masalah, maka dapat disimpulkan hasil dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil dari analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) kerawanan
bencana tanah longsor menggunakan lima parameter pada lima responden,
diketahui nilai bobot tertinggi adalah parameter kemiringan lereng sebesar 0.34,
selanjutnya panjang lereng sebesar 0.24, penggunaan lahan sebesar 0.20,
intensitas curah hujan sebesar 0.14 dan bobot terkecil yaitu parameter arah
lereng (aspect) sebesar 0.08.
2. Berdasarkan hasil analisis tingkat kerawanan bencana tanah longsor di
Kabupaten Bantaeng yang dibagi kedalam 5 kelas kerawanan, dilihat dari
wilayah sebarannya, tingkat kerawanan longsor “rendah” berada di bagian
Selatan atau wilayah pesisir Kabupaten Bantaeng yakni di Kecamatan
Bissappu, Bantaeng dan Pa’jukukang. Pada tingkat kerawanan “sedang”,
tersebar di setiap kecamatan dengan wilayah terluas terdapat di Kecamatan
Tompobulu dengan luas 74.72 Ha, kemudian Kecamatan Ulu Ere dengan luas
57.18 Ha dan kecamatan dengan wilayah terkecil adalah Kecamatan Bantaeng
sebesar 24.48 Ha. Sedangkan untuk tingkat kerawanan longsor “tinggi” dan
“sangat tinggi” tersebar pada wilayah perbukitan sampai pegunungan.
3. Berdasarkan hasil dari analisis kesesuaian rencana pola ruang dengan potensi
kerawanan bencana tanah longsor menunjukkan bahwa dalam penyusunan
rencana pola ruang yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Bantaeng 2012-
2032 sudah memperhatikan aspek potensi kerawanan terhadap bencana tanah
longsor melalui penempatan daerah yang berpotensi terjadinya longsor tinggi
dan sangat tinggi sebagai pola ruang hutan lindung, sementara untuk
penempatan daerah budidaya dominan berada pada wilayah rawan longsor
rendah dan sedang.

156
6.2 Saran
Berikut saran yang diberikan penulis terkait penelitian sebagai berikut:
1. Pada wilayah dengan tingkat kerawanan sangat tinggi terutama Kecamatan
Sinoa yang memiliki wilayah distribusi paling luas harus dilakukan sosialisasi
mitigasi bencana longsor, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang
mengikuti kaidah pelestarian lingkungan serta larangan pembangunan
permukiman di kawasan dengan tingkat kerawanan bencana sangat tinggi.
2. Diperlukan kebijakan yang jelas dalam pengelolaan wilayah berkaitan dengan
resiko bencana tanah longsor yang tinggi seperti relokasi permukiman yang
berada di wilayah dengan tingkat kerawanan dan resiko sedang serta tinggi.
3. Penelitian analisis kerawanan bencana tanah longsor di Kabupaten Bantaeng
hanya menggunakan pendekatan heuristik dengan parameter penyebab dan
pemicu yang masih terbatas, sehingga disarankan untuk melakukan proses
analisis dengan menggunakan pendekatan yang lebih kompleks dan pada
ruang/wilayah penelitian yang lebih mikro/detail.
4. Dibutuhkan perencanaan terkait tindak mitigasi lanjutan bencana tanah longsor
berdasarkan zonasi daerah tingkat kerawanan yang telah disusunsebelumnya.

157