Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal yang yang penting dan diinginkan oleh semua
orang. Tanpa adanya kesehatan yang baik, maka kualitas hidup manusia akan
menurun dan dapat menumbulkan gangguan dalam melaksanakan aktivitas sehari-
hari.
Adanya gangguan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Adapun
faktor penyebabnya ialah penyakit baik itu bersumber dari kebiasaan buruk yang
dilakukan oleh orang tersebut dalam beraktivitas maupun karena terjangkit virus
yang berasal dari lingkungan sekitarnya.
Lingkungan yang buruk memang selalu mendatangkan penyakit terutama
bagi orang yang tinggal di area kumuh. Maka tak jarang orang yg tinggal diarea
kumuh tubuhnya tdk terinfeksi oleh penyakit. Tempat kotor akan menjadi sarang
berbagai serangga-serangga kecil yang mungkin menjadi vector mikroorganisme
penyebab penyakit. Bukan hanya nyamuk dan lalat seperti yang sering kita jumpai
selama ini namun juga serangga dari bangsa arthropoda.
Salah satunya ialah kalajengking yang tergolong dalam invertebrata
arthropoda. serangga ini dikenal karena alat sengatnya yang mematikan. Jenis
kalajengking beraneka ragam, hal ini juga menentukan zat racun yang dibawanya.
Diketahui bahwa sengatan kalajengking tidak membawa sampai pada titik
kematian namun efeknya dapat menyebabkan kelumpuhan akibat zat racun yang
terdapat pada sengatnya. Namun ada beberapa kalajengking yang sengatannya
sangat mematikan, karena zat racunnya secara langsung mengenai saraf.
Berdasarkan uraian diatas kami membahas kalajengking selain untuk
mengetahui bagaimna siklus hidup dan jenis-jenisnya, namun untuk mengetahui
kandungan racun dalam sengat kalajengking yang dapat memberikan efek luar
biasa ketika terkena tubuh manusia secara langsung serta untuk mengaetahui
pengobatan terkait penyakit yang disebabkan kalajengking dan cara pengendalian
kalajengking tersebut.

1
B. Rumusan masalah
1. Apa itu kelas Arachiniodea (Kalajengking) ?
2. Bagaimana morfologi dari kalajengking ?
3. Apa penyakit yang ditimbulkan dari kalajengking ?
4. Bagaimana cara mengobati penyakit yang ditimbulkan kalajengking ?
5. Apa saja cara pengendalian kalajengking ?

C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu Arachiniodea.
2. Mengetahui morfologi dari kalajengking.
3. Mengetahui gejala dan penyakit yang disebabkan oleh kalajengking.
4. Mengetahui bagaimana cara mengobati penyakit yang disebabkan
kelajengking.
5. Mengetahui cara pengendalian kalajengking.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kalajengking
Kalajengking adalah sebuah arthropoda dengan delapan kaki, termasuk
dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Dalam kelas ini juga termasuk
laba-laba, harvestmen, mites, dan tick. Ada sekitar 2000 spesies kalajengking.
Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali New Zealand dan
Antarctica. Tubuh kalajengking dibagi menjadi dua segmen: cephalothorax dan
abdomen. Abdomen terdiri dari mesosoma dan metasoma.
Satu lagi jenis baru dipublikasi dalam jurnal Acta Arachnologica 59
terbitan bulan 30 September 2010. Jenis baru yang dilaporakn oleh Wilson
Laurenco dan Bernard Duhem ini menjadi jenis yang kedua untuk marga
Chaerilus untuk Pulau Halmahera. Sebelumnya, Laurenco mendeskripsi jenis baru
Chaerilus spinatus dari salah satu gua di Sagea yaitu Batu Lubang yang
merupakan gua terbesar di Halmahera bagian utara. Meskipun ditemukan di dalam
gua, namun jenis ini tidak mempunyai karakteristik morfologi yang khas untuk
hidup di dalam gua atau sebagai jenis troglobit. Jenis baru ini dikoleksi oleh Louis
Deharveng dan Anne Bedos dalam ekspedisi mereka di Batu Lubang pada tahun
1988. Spesimen tipe jenis baru yang dideskripsi dari Halmahera disimpan di
Museum Zoologicum Bogoriense, Cibinong Indonesia. Sedangkan jenis pertama
yang dipublikasi dari Halmahera diberi nama Chaerilus telnovi yang ditemukan di
Gunung Talaga sekitar beberapa kilometer dari Gua Batu Lubang di Sagea. Jenis
ini ditemukan dalam serasah dan merupakan jenis tak bermata kalajengking
serasah yang pertama kali dikenal di Asia” seperti yang diungkapkan Laurenco
dalam laporannya.
Marga Chaerilus saat ini dikenal ada Chaerilus Celebensis dari Sulawesi
dan konon Chaerilus Sabinae yang merupakan salah satu jenis kalajengking gua
tanpa mata yang ditemukan di salah satu gua di Maros, Sulawesi Selatan. Namun,
dalam publikasi asli Chaerilus Sabinae dilaporkan berasal dari Matampa, India.
Meskipun hal ini diyakini sebuah kesalahan. Karena salah satu gua di daerah
Pangakajene di Sulawesi Selatan ada yang bernama Gua Mattampa dan oleh

3
kolektornya dikoleksi dari gua tersebut. Penemuan jenis baru oleh Laurenco ini
semakin menambah wawasan betapa masih besarnya potensi untuk temuan-
temuan jenis baru di Indonesia.

1. Taksonomi kalajengking (Heterometrus spinifer).

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Chelicerata
Kelas : Arachnida
Subkelas : Dromopoda
Ordo : Scorpiones

2. Jenis Kalajengking Paling Mematikan di Dunia


a) Kalajengking Kuning Brazil. Memiliki sengat racun mematikan.
Kalajengking yang banyak terdapat di Brazil ini termasuk dalam hewan
parthenogenesis. Maksudnya pembuahan dilakukan oleh si jantan, embrio
tumbuh tanpa perkawinan. Zat neurotoksin dalam bisa kalajengking ini
banyak mengakibatkan kematian pada anak-anak.
b) Kalajengking Bark Arizona. Kalajengking yang banyak ditemui di gurun
Amerika Serikat dan Meksiko Utara, bertubuh cokelat terang dengan
panjang hingga 8 cm. Sengatannya seperti listrik. Setelah terkena sengat
bisa lumpuh sementara, keluar buih dari mulut, mati rasa.
c) Kalajengking Merah India Hottentotta Tumulus. Banyak dijumpai di Asia
bagian Selatan. Selain India juga hidup di Nepal, Srilanka, Pakistan. Dapat
mencapai panjang sampai 9 cm. Warna tubuhnya merah-cokelat atau
oranye. Sengatan kalajengking ini pun dapat menyebabkan kematian
terutama pada anak-anak. Setelah disengat akan terasa nyeri, mengalami
gangguan napas, serangan jantung, muntah, dan keringat banyak.
d) Kalajengking Deathstalker. Habitatnya di gurun daerah Afrika Utara dan
Timur Tengah. Sengatnya mengandung neurotoksin dan penyebab

4
kematian bagi anak dan lansia. Sengatannya menyebabkan timbunan
cairan pada paru-paru.
e) Kalajengking Ekor Gemuk. Banyak ditemukan di Timur Tengah dan
Afrika. Panjangnya hingga 10 cm. Sengatannya mematikan karena
mengandung zat neurotoksin yang bisa membuat saraf mati.

3. Jenis Kalajengking di Indonesia


a) Lychas Mucronatus
b) Heterometrus Cyaneus
c) Isometrus Maculatus
d) Heterometrus Longimanus
e) Liocheles Waigiensis
f) Liocheles Australasiae
g) Chaerilus Variegatus

B. Morfologi Kalajengking
Sebagaimana Arachnida, kalajengking mempunyai mulut yang disebut
khelisera, sepasang pedipalpi, dan empat pasang tungkai. Pedipalpi seperti capit
terutama digunakan untuk menangkap mangsa dan alat pertahanan, tetapi juga
dilengkapi dengan berbagai tipe rambut sensor. Tubuhnya dibagi menjadi dua
bagian yaitu sefalotoraks dan abdomen. Sefalotoraks ditutup oleh karapas atau
pelindung kepala yang biasanya mempunyai sepasang mata median dan 2-5
pasang mata lateral di depan ujung depan. Sefalotoraks tidak bersegmen.

Beberapa kalajengking yang hidup di gua dan di liter sekitar permukiman


tidak mempunyai mata. Abdomen terdiri atas 12 ruas yang jelas, dengan bagian
lima ruas terakhir membentuk ruas metasoma yang oleh kebanyakan orang
menyebutnya ekor. Ujung abdomen disebut telson, yang bentuknya bulat
mengandung kelenjar racun (venom). Alat penyengat berbentuk lancip tempat
mengalirkan venom. Pada bagian ventral, kalajengking mempunyai sepasang
organ sensoris yang bentuknya seperti sisir unik disebut pektin. Pektin ini

5
biasanya lebih besar dan mempunyai gigi lebih banyak pada yang jantan dan
digunakan sebagai sensor terhadap permukaan tekstur dan vibrasi. Pektin juga
bekerja sebagai kemoreseptor (sensor kimia) untuk mendeteksi feromon
(komunikasi kimia).

Kalajengking mempunyai sepasang umbai-umbai yang kuat dan cakar


bentuk penjepit (pedipalpus) yang terletak tepat didepan 4 pasang kaki. Kaki
disesuaikan untuk berjalan, cephalothorax tidak bersegmen dan tertutup oleh
selembar lempeng kitin tebal yang disebut dengan carapace. Terdapat 2-12 buah
mata ocelli, abdomen bersegmen 12 buah, yang 7 segmen disebut mesosoma besar
dan 5 segmen terminal (metasoma) sangat menyempit. Pada ujung ekor terdapat
telson yang berpangkal pada sepasang sisir pada sisi ventral segmen II abdomen.
Alat nafas berupa 4 pasang paru-paru buku terletak sebelah ventral diantara
segmen III dan XV abdomen. Tidak mempunyai antena.

1. Sistem Reproduksi

Kalajengking berkembang biak secara ovovivipar dan anak-anaknya


dibawa untuk beberapa waktu dipunggung yang betina. Metamorfosis
Kalajengking tidak sempurna yaitu telur – larva – nimpa – dewasa, masa hidupnya
sekitar 2-6 tahun.

2. Lingkaran Hidup
1. Periode kehamilan dari 2-18 bulan,
2. Tiap betina melahirkan 25-35 anak yang memanjat ke punggung induknya,
3. Mereka ada di punggung induknya 1-2 minggu setelah kelahiran,
4. Setelah turun dari punggung, mereka butuh 2-6 tahun untuk mencapai
kematangan,
5. Rata-rata kalajengking hidup 3-5 tahun, tapi sejumlah spesies dapat hidup
hingga 10-15 tahun.

6
3. Perilaku

Kalajengking tergolong serangga yang aktif di malam hari (nokturnal) dan


siang hari (diurnal). Ia juga merupakan hewan predator pemakan serangga, laba-
laba, kelabang, dan kalajengking lain yang lebih kecil. Kalajengking yang lebih
besar kadang-kadang makan vertebrata seperti kadal, ular dan tikus. Mangsa
terdeteksi oleh kalajengking melalui sensor vibrasi organ pektin. Pedipalpi
mempunyai susunan rambut sensor halus yang merasakan vibrasi dari udara.
Ujung-ujung tungkai mempunyai organ kecil yang dapat mendeteksi vibrasi di
tanah. Kebanyakan kalajengking adalah predator penyerang yang mendeteksi
mangsa ketika ia datang mendekat.

Permukaan tungkai, pedipalpi, dan tubuh juga ditutupi dengan rambut seta
yang sensitif terhadap sentuhan langsung. Meskipun kalajengking dilengkapi
dengan venom untuk pertahanan dan mendapat mangsa, kalajengking sendiri jatuh
menjadi mangsa bagi mahluk kalin seperti kelabang, tarantula, kadal pemakan
serangga, ular, unggas (terutama burung hantu), dan mamalia (termasuk
kelelawar, bajing dan tikus pemakan serangga). Seperti halnya predator lainnya,
kalajengking cenderung mencari makan di daerah teritori yang jelas dan terpisah,
dan kembali ke tempat yang sama pada setiap malam. Kalajengking bisa masuk ke
dalam komplek perumahan dan gedung ketika daerah teritorialnya hancur oleh
pembangunan, penebangan hutan atau banir dan sebagainya.

4. Siklus hidup

Kalajengking mempunyai ritual perkawinan yang kompleks, jantan


menggunakan pedipalpinya mencengkeram pedipalpi betina. Jantan kemudian
membimbing betina melakukan tarian percumbuan. Detailnya setiap jenis
berbeda, dengan memperlihatkan alat penyengatnya yang panjang pada jantan.
Sperma dari jantan dimasukkan ke dalam struktur yang disebut spermatofor, yang
diletakkan oleh jantan ke atas permukaan yang kelak akan diambil oleh betina.
Yang jantan menyapukan pektin ke atas permukaan tanah untuk mebantu

7
menentukan lokasi yang sesuai untuk meletakkan spermatofor. Selanjutnya
kalajengkin betina akan menarik sperma ini ke dalam lubang kelamin, yang
letaknya dekat ventral abdomen.

Kalajengking mempunyai masa hamil dari beberapa bulan sampai lebih


satu tahun, tergantung jenis, tempat embrio berkembang di dalam ovariuterus atau
dalam divertikula khusus yang bercabang dari ovariuterus. Anak-anak yang
dilahirkan hidup akan anaik ke punggung ibunya. Ibunya membantu mereka
dengan membuatkan kantong melahirkan dengan kaki terlipat untuk menangkap
mereka ketika lahir dan untuk menyediakan mereka menaiki punggung ibunya.
Beberapa jenis kalajengking tidak membentuk kantong lahir.

Rata-rata, seekor betina bisa melahirkan 25-35 ekor anak. Mereka tetap
pada punggungnya, sampai mereka molting untuk pertama kali. Setelah
kalajengking muda putih turun dari punggung betina, moling, kemudian balik lagi
ke punggung induk selama 4-5 har hari sebelum meninggalkan induk, biasanya
dalam waktu 1-3 minggu setelah lahir.

Sekali mereka turun, mereka sudah mampu bebas, dan secara periodik
molting untuk mencapai dewasa. Biasanya molting terjadi 5 atau 6 kali selama 2-6
tahun untuk mencapai dewasa. Rata-rata kalajengking kemungkinan hidup 3-5
tahun, tetapi beberapa spesies bisa hidup sampai 25 tahun. Beberapa jenis
menunjukkan perilaku sosial, seperti membentuk agregasi selama musim dingin,
menggali koloni dan mencari makan bersama.

5. Habitat dan Kebiasaan

Kalajengking spesies Buthus Tamulus misalnya, aktif pada malam hari,


berdiam dibawah batu, potongan kayu, dan ditempat yang gelap dan lembab.
Binatang ini kadang-kadang masuk ke dalam tempat tinggal manusia terutama
selama musim hujan di negeri tropic. Mereka menangkap mangsanya, biasanya
laba-laba serangga, diplopoda dan rodent, di dalam kukunya dan dengan dorongan

8
kebelakang dan kebawah dari abdomen yang menyerupai ekor memasukkan
sengat dengan racunnya yang dapat membuat lumpuh.

Sebagian besar kalajengking aktif di malam hari. Sebagaimana di tempat


yang panas dan kering, kalajengking juga ditemukan di padang rumput, savana,
gua, dan hutan hujan/hutan berganti daun/hutan pinus. Bisa dari kalajengking
berdampak pada sistem syaraf korban. Setiap spesies memiliki perpaduan yang
unik.

6. Venom atau Racun Kalajengking

Venom kalajengking digunakan untuk menangkap mangsa, proses


pertahanan diri dan untuk proses perkawinan. Semua kalajengking mempunyai
venom dan dapat menyengat, tetapi secara alamiah kalajengking cenderung
bersembunyi atau melarikan diri. Kalajengking dapat mengendalikan aliran
venom, oleh karena itu pada beberapa kasus sengatan tidak mengeluarkan racun
atau hanya menimbulkan keracunan ringan. Racun kalajengking adalah campuran
kompleks dari neurotoksin atau racun syaraf dan bahan lainnya. Setiap jenis
mempunyai campuran unik.

Di Amerika Serikat diketahui hanya jenis yang dianggap berbahaya bagi


manusia, yaitu: Centruroides exilicauda dan sekitar 25 jenis lain diketahui
menghasilkan racun berpotensi merugikan manusia, tersebar di seluruh dunia.
Adapun kalajengking berbahaya di Afrka Utara dan Timur Tengah adalah genus
Androctonus, Buthus, Hottentotta, Leiurus), Amerika Selatan (Tityus), India
(Mesobuthus), and Mexico (Centruroides). Di beberapa daerah ini, sengatan
kalajengking dapat menyebabkan kematian, tetapi data realistis tidak tersedia.

Beberapa studi menduga angka kematian pada kasus-kasus di rumah sakit


sekitar 4% pada anak-anak yang lebih rentan daripada yang lebih tua. Bila terjadi
kematian akibat sengatan ini umunya disebabkan oleh kegagalan jantung dan
pernafasan beberapa jam setelah kematian. Selama tahun 1980 di Meksiko terjadi
kematian rata-rata 800 orang per tahun. Namun demikian, dalam 20 tahun terakhir

9
di Amerika Serikat tidak ada laporan kematian akibat sengatan kalajengking,
demikian pula di Indonesia tidak pernah terdengar.

C. Penyakit

Semua spesies kalajengking memiliki bisa. Pada umumnya, bisa


kalajengking termasuk sebagai neurotoksin (racun saraf). Suatu pengecualian
adalah Hemiscorpius Lepturus yang memiliki bisa sitotoksik (racun sel).
Neurotoksin terdiri dari protein kecil dan juga natrium dan kalium, yang berguna
untuk mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking menggunakan
bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar mudah
dimakan.

Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap hexapoda lainnya dan


kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia; sengatan menghasilkan
efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun beberapa spesies
kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi manusia.
Salah satu yang paling berbahaya adalah Leiurus quinquestriatus, dan anggota dari
genera Parabuthus, Tityus, Centruroides, dan terutama Androctonus. Kalajengking
yang paling banyak menyebabkan kematian manusia adalah Mus muscullus.

Kalajengking merupakan salah satu binatang yang sangat berbahaya.


Hewan yang umumnya kita temui memiliki warna tubuh hitam legam ini, tidak
memiliki gigi. Yang biasanya dilakukan kalajengking untuk melindungi diri
adalah dengan menggunakan sengat. Tidak seperti lebah, sengat kalajengking
agak bengkok dan ada di ujung ekornya. Di Indonesia sengatan yang paling
berbahaya dan berbisa adalah sengatan milik si kalajegking hitam. Efek terkena
sengatan kalajengking:

1. Rasa nyeri seperti terbakar pada bagian bekas sengatan.


2. Rasa mual dan muntah
3. Sakit kepala dan sensasi berputar.
4. Kejang-kejang Lumpuh sementara
5. Denyut nadi yang melemah

10
6. Pembengkakan pada bekas sengatan
7. Nyeri sendi lutut dan sekitarnya
8. Radang pankreas
9. Kesemutan, kram dan terkadang mati rasa
10. Membuat penglihatan kurang jelas

D. Pengobatan
Pengobatan menggunakan obat Tourniquet hendaknya dipergunakan
segera, dan racunnya dikeluarkan dengan menghisap luka yang dibuat oleh sengat
kalajengking yang besar. Sakitnya dapat dihilangkan dengan pemakaian kompres
es setempat, semprotan etilklorida, ammonia, obat yang menghilangkan sakit,
suntikan novokain atau epinefrin disekitar luka ataupun dengan memanfaatkan
tumbuhan disekitar misalnya getah batang pisang dengan cara digosokkan di
bekas sengatan. Pengobatan sistemik bertujuan untuk mengatasi shock dan
sembab paru-paru. Obat kortison berguna sekali pada penderita yang berat. Dan
antivenin, apabila tersedia harus diberikan pula.

E. Pengendalian
Tingginya populasi kalajengking dapat menjadi masalah dalam beberapa
keadaan. Kalajengking sulit dikendalikan dengan hanya dengan menggunakan
insektisida. Oleh karena itu, strategi pengendalian pertama yaitu untuk
memodifikasi daerah sekitar struktur permukiman atau pengendalian fisik yang
dapat dilakukan yaitu:
1. Buanglah semua tempat persembunyian kalajengking seperti sampah,
tumpukan kayu, papan, batu, bata dan berbagai benda di sekitar gedung.
2. Pelihara rumput di sekitar perumahan dengan rutin memotongnya. Pangkas
pohon dan cabang-cabang pohon yang menggantung di sekitar rumah. Cabang
pohon dapat menjadi jalan ke atap bagi kalajengking.
3. Taruhlah kontainer sampah di dalam kerangka yang membuat tempat sampah
tidak langsung berhubungan dengan tanah.

11
4. Jangan sekali-kali membawa masuk kayu bakar ke dalam rumah, kecuali
ditempatkan langsung di api.
5. Tutuplah celah dan retakan yang ada di atap, dinding, pipa dan bagian
bangunan lainnya.
6. Pasanglah kawat kasa pada jendela, pintu, dan tetap dijaga dari kerusakan dan
lain-lain.
7. Gunakan lampu “black light” pada malam hari untuk memeriksa keberadaan
kalajengking. Tangkaplah dengan menggunakan tang yang besar dan panjang,
kemudian lepas kembali di alam atau anda hancurkan.
8. Berbagai jenis insektisida dapat digunanakan, meski kurang begitu efektif.
Aplikasi insektisida residual dapat dilakukan pada bagian dasar rumah yang
dicurigai banyak terdapat kalajengking.
9. Apabila disengat kalajengking, segeralah lakukan pengompresan dingin
dengan ice pack, dan segera pergi ke dokter.

Selain pengendalian secara fisik tersebut, terdapat pula pengendalian


secara biologi yaitu menggunakan hewan pemangsa atau predator kalajengking.
Meski memiliki sengatan yang mematikan, kalajengking tidak lepas juga dari
sasaran predatornya. Predator kalajengking antara lain kelabang, kadal, ular,
burung, dan kera. Kadang-kadang kalajengking juga saling memangsa. Biasanya
kalajengking perempuan yang memangsa kalajengking laki-laki.

Sedangkan pengendalian secara kimia yang dapat dilakukan adalah dengan


usaha mengurangi populasi kalajengking, yaitu melakukan penyemprotan dengan
bahan kimia Dieldrin 0,5% atau DDT 10%, Chlordane 20% dan Piretrum 0,2% di
dalam minyak yang encer dan telah dianjurkan.

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki, yang


termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking masih
berkerabat dengan ketunggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000
jenis kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali Selandia
Baru dan Antarktika.

Kalajengking atau yang disebut juga scorpio, merupakan salah satu


serangga yang paling menyeramkan dan berbahaya sekali apabila menyengat,
terutama bila menggunakan sengatnya yang ada dibelakang. Seringkali akibat
sengatan serangga ini menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri yang hebat di
sekitar luka bekas gigitan.

B. Saran
Pencegahan dari sengatan kalajengking adalah:
1. Buanglah semua tempat persembunyian kalajengking seperti sampah,
tumpukan kayu, papan, batu, bata dan berbagai benda di sekitar rumah,
kampus atau tempat umum.
2. Pelihara rumput di sekitar perumahan dengan rutin memotongnya.
Pangkas pohon dan cabang-cabang pohon yang menggantung di sekitar
rumah. Cabang pohon dapat menjadi jalan ke atap bagi kalajengking.
3. Taruhlah kontainer sampah di dalam kerangka yang membuat tempat
sampah tidak langsung berhubungan dengan tanah.
4. Jangan sekali-kali membawa masuk kayu bakar ke dalam rumah, kecuali
ditempatkan langsung di api.
5. Tutuplah celah dan retakan yang ada di atap, dinding, pipa dan bagian
bangunan lainnya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Arief, Mudianto. 2013.Keanekearagaman ekosistem. Bandung: Cahaya Ilmu.

Barnes, Robert D.2012. Invertebrates Zoology Third Edition.Jakarta: Erlangga

Hidayah, Evy Nur. 2012. Pengendalian Scorpionida Secara Biologi Dan Kimia.

Bandung : alfabeta

Laila, Siti. 2007.Biologi Sains dalam Kehidupan. Surabaya: Yudhistira.

Melyhana. 2011. Klasifikasi Kalajengking.Bandung: Grafindo

14