Anda di halaman 1dari 20

Seminar tentang Penyembahan

September 2017
SEMINAR TENTANG PENYEMBAHAN

Andrew Hay, Joshua Hay, Howard Sweet, Mark Davies, Luke Pomery, Tim Maurice, David Black, Michael Hall, Michael
Fox, Lachlan Perrin, John Neville

Pedoman Pembelajaran untuk Seminar Alkitab di Indonesia


September 2017

Ayat-ayat Kitab Suci dikutip dari NASB, NKJV, KJV dan LITV. Dimana ada penekanan huruf miring yang digunakan
dalam ayat-ayat referensi Kitab Suci, ini telah ditambahkan dan tidak muncul dalam terjemahan aslinya.

Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh


Yayasan Restorasi Persekutuan Internasional Indonesia
Tahun 2017

Email: yrpii@yahoo.com
Website: www.restoration.asia
Daftar Isi
Kasih yang semula dan perkumpulan perjamuan kudus .................................................................................................................. 1
Pengudusan dan perkumpulan perjamuan kudus............................................................................................................................. 2
Persekutuan dan perkumpulan perjamuan kudus ............................................................................................................................ 3
Persembahan dan perkumpulan perjamuan kudus .......................................................................................................................... 4
Empat administrasi Yesus Kristus ........................................................................................................................................................ 5
Kasih karunia kerasulan dan perkumpulan perjamuan kudus ...................................................................................................... 6
Pelayanan nabi........................................................................................................................................................................................... 7
Administrasi pengajaran dan perkumpulan perjamuan kudus ...................................................................................................... 8
Pemberita injil – wajah rajawali ............................................................................................................................................................ 9
Suara desau air bah ................................................................................................................................................................................. 10
Penyembahan yang benar – dalam roh dan kebenaran ................................................................................................................... 11
Menyembah – dua agenda yang berkompetisi ..................................................................................................................................12
Kebodohan dari menyembah atribut-atribut Elohim ..................................................................................................................... 13
Bernyanyi dan membuat melodi .......................................................................................................................................................... 14
Bernyanyi dalam satu suara ...................................................................................................................................................................15
Bernyanyi di dalam Roh .........................................................................................................................................................................16
Kasih yang semula dan perkumpulan perjamuan kudus
‘Kasih yang semula’ menggambarkan cara di mana Elohim Bapa, Anak dan Roh Kudus mengasihi. Mereka bersama
hidup dan berhubungan secara sempurna dalam persekutuan satu Roh dan satu hidup. Kita juga dapat memikirkan
tentang kasih yang semula dalam hal penyembahan. ‘Menyembah’ artinya kita ‘memberikan nilai/penghargaan’.
Penyembahan yang benar adalah apresiasi dan penghargaan yang kita berikan dan terima dalam persekutuan dengan
Tuhan dan dengan satu sama lain. Perkumpulan perjamuan kudus adalah titik puncak dari persekutuan kita dalam
kasih yang semula.1

Bapa, Anak dan Roh Kudus mengekspresikan kasih menurut identitas dan kapasitas Mereka yang unik. Inilah yang
kita maksudkan dengan ‘pengudusan’. Ketika kita mengenal kasih Elohim, kita aman dalam identitas dan pekerjaan-
pekerjaan kita. Kita dapat bertemu satu dengan yang lain, memberi dan menerima kasih dan penghargaan. Kita tidak
mencari peneguhan atau membandingkan diri kita dengan yang lain agar merasa terhormat. Sebagai contohnya, dalam
pelayanan tubuh, seseorang yang aman dalam identitas mereka akan berfungsi dalam kasih bagi yang lain, memahami
bahwa karunia/pemberian adalah dari Elohim melalui Roh Kudus, bukan sekedar pertunjukan semata.2 Rasul Paulus
menggambarkan alternatif lain untuk hidup dalam pengudusan sebagai hidup oleh pendefinisian diri sendiri dan
penilaian diri sendiri.3

Kasih yang semula diekspresikan melalui persembahan. Rasul Yohanes menulis, ‘Demikianlah kita ketahui kasih
Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk
saudara-saudara kita’.4 Paulus juga menjelaskan bahwa tubuh ‘membangun dirinya di dalam kasih, ketika setiap bagian
tubuh melakukan pekerjaannya’.5

Dalam perkumpulan perjamuan kudus, kita melihat banyak bagian yang bekerja sama untuk menyatakan firman
Kristus dan untuk membangun tubuh Kristus. Sebagai contoh, kita melihat sejumlah besar administrasi diaken (sistem
suara dan penglihatan di ruang pertemuan, pertolongan pertama, kebersihan, dll) yang berfungsi sehingga presbiteri
penilik dapat merencanakan dan mengawasi pelayanan Roh untuk setiap ibadah perjamuan kudus. Dalam hal ini, kita
diingatkan bahwa ‘memang ada banyak anggota (yang berbeda), tetapi satu tubuh’.6 Rasul Paulus menggambarkan
pemberian dalam ibadah bagi Kristus ini sebagai suatu ekspresi penyembahan.7

Paulus menulis dalam Roma pasal lima bahwa ‘kasih Elohim telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus’. 8
Yudas juga mencatat bahwa melalui Roh Kudus kita ‘menjaga/memelihara diri kita dalam kasih Elohim’. 9 Ketika kita
menerima firman yang diproklamirkan pada perkumpulan perjamuan kudus, Roh Kudus membawa iluminasi dan
pengertian bagi kita sehingga ‘iman datang melalui mendengarkan firman’.10 Ketika iman muncul dalam kita, Roh
Kudus mencurahkan kasih Elohim ke dalam hati kita sehingga iman kita mulai ‘bekerja oleh kasih’. 11 Kita diperlengkapi
oleh firman untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasih yang Elohim tentukan untuk kita.12 Hasilnya adalah
persekutuan.

Sebaliknya, kita ingat Yesus berkata bahwa ‘kasih banyak orang akan menjadi dingin’ karena kedurhakaan.13
‘Kedurhakaan’ adalah melakukan apa yang benar menurut diri kita sendiri, daripada menerima dan hidup oleh firman
Elohim.14

Rasul Yohanes menulis bahwa ‘Elohim adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di
dalam Elohim dan Elohim di dalam dia’.15 Tinggal/berada dalam kasih dimulai dengan menerima dan menaati firman-
Nya. Firman menguduskan kita kepada nama dan pekerjaan kita. Dalam pengudusan, kita mempersembahkan diri kita
dalam kasih untuk melayani Elohim di dalam gereja. Ini adalah persekutuan dalam kasih yang semula.

1 1Kor 10:16 6 1Kor 12:20 11 Gal 5:6


2 1Kor 12:11 7 Rm 12:1 12 Ef 2:10
3 2Kor 10:12 8 Rm 5:5 13 Mat 24:11-12
4 1Yoh 3:16 9 Yud 1:21 14 Mat 23:28
5 Ef 4:16 10 Rm 10:17 15 1Yoh 4:16

1 | Seminar tentang Penyembahan


Pengudusan dan perkumpulan perjamuan kudus
‘Pengudusan’ menggambarkan nama dan identitas kita sebagai anak-anak Elohim. Kita menerima nama ini ketika kita
dilahirkan dari atas oleh firman Bapa.16 Mengenal siapa kita artinya kita bisa memberi diri kita untuk bertemu, dan
ditemui, oleh yang lain. Pengudusan adalah pusat bagi partisipasi kita dalam penyembahan karena itu memberikan kita
kapasitas untuk memberi dan menerima ‘penghargaan’. Memberi penghargaan kepada orang lain artinya kita
menghargai nama dan pekerjaan mereka sebagai anak Elohim.

Sehubungan dengan penyembahan, pengudusan artinya partisipasi kita konsisten dengan siapa kita yang Elohim telah
namai. Praktisnya, ini artinya penyembahan kita akan menjadi ekpsresi nyata dari siapa kita, dan bukan proyeksi dari siapa yang
kita ingin jadi. Sebagai contoh, ketika ada panggilan khusus bagi para penyanyi untuk memimpin kita dalam nyanyian
pujian, tidak setiap orang dalam jemaat akan memimpin nyanyian ini. Walaupun kita semua akan menyanyi meresponi
arahan dan tuntunan ini, hanya orang-orang yang merupakan penyanyi-penyanyi pemimpin menurut nama yang akan
berfungsi dalam cara khusus ini. Ini artinya mereka akan berfungsi dengan kasih karunia, dan bukan atas dasar
keterampilan atau aspirasi pribadi. Dalam contoh ini, baik mereka yang memimpin maupun mereka yang dipimpin
dapat dikuduskan jika partisipasi mereka konsisten dengan nama dan identitas yang mereka terima dari Elohim.

Ketika kita hidup dalam pengudusan, kita akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Elohim telah persiapkan bagi
kita.17 Pekerjaan-pekerjaan ini adalah bagian dari nama kita, yang mendefinisikan siapa kita sebagai anak Elohim.
Sehubungan dengan penyembahan, ini artinya masing-masing akan memiliki partisipasi khusus yang unik sesuai
dengan nama yang mereka terima dari Bapa. Praktisnya, ini terlihat jelas dalam ibadah penyembahan kita di mana ada
beberapa orang yang diberikan untuk memainkan alat musik. Partisipasi ini adalah ekspresi pengudusan karena itu
merupakan aspek dari nama dan pekerjaan yang diterima pribadi itu dari Bapa. Yang penting, hanya memiliki
keterampilan untuk memainkan alat musik tertentu tidak secara otomatis menyiratkan bahwa itu adalah bagian dari
pengudusan kita. Kita harus mengetahui, melalui doa dalam Roh dan persekutuan dengan yang lain, apa partisipasi
dari pengudusan kita dalam penyembahan.

Kapasitas kita untuk menghidupi kehidupan yang dikuduskan datang dari Roh Kudus. Rasul Paulus mengidentifikasi
Roh Kudus sebagai ‘Roh pengudusan’, mencatat bahwa Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk
mengekspresikan nama kita yang unik sebagai anak Elohim.18 Inilah artinya bahwa Roh Kudus adalah ‘buah sulung’
dari hidup kita sebagai anak.19 Karena kita telah menerima Roh Kudus, kita dapat mengetahui siapa yang Bapa telah
namai untuk kita jadi. Sehubungan dengan penyembahan, ini artinya bahwa, oleh Roh, kita dapat mengetahui apa
ekspresi unik kita di dalam tubuh Kristus. Secara praktis, kita berkumpul bersama untuk menyembah Tuhan dalam
iman sebagai pribadi yang telah dinamai untuk kita jadi, daripada menginginkan orang lain untuk ‘membuat naskah’
bagi partisipasi kita. Sebagai contoh, kita tidak menunggu untuk secara pribadi diundang untuk berpartisipasi dalam
cara tertentu. Sebaliknya, kita berpartisipasi oleh iman sesuai dengan realitas dari nama kita, yang kita ketahui melalui
Roh Kudus.

Pengudusan mengacu pada nama dan identitas kita sebagai anak Elohim, dan merupakan elemen dasar dari
penyembahan. Ini karena mengenal siapa kita memberikan kita kapasitas untuk bertemu dan memberikan
penghargaan kepada yang lain tanpa proyeksi atau rasa tidak aman. Ketika setiap orang berpartisiapasi dalam
penyembahan menurut pengudusan mereka, semua anggota tubuh dibangun dan didorong sebagai anak-anak Bapa.

16 1Ptr 1:23 18 Rm 1:4


17 Ef 2:10 19 Rm 8:23

2 | Seminar t entang Penyembahan


Persekutuan dan perkumpulan perjamuan kudus
Persekutuan adalah natur dari hubungan yang dibagikan antara Elohim Bapa, Elohim Anak dan Elohim Roh Kudus.
Dalam persekutuan kasih ini, Mereka berketetapan untuk melahirkan banyak anak Elohim yang dapat berbagi dalam
hidup Mereka dan berpartisipasi dalam persekutuan Mereka. Secara praktis, ini artinya persekutuan pada perjamuan
kudus adalah titik pertemuan, di mana hidup Elohim diterima, dan hikmat Elohim dinyatakan, melalui firman-Nya.

Roh Kuduslah yang menyatukan kita kepada tubuh Kristus dan memberikan kita kapasitas untuk bersekutu.20 Kita
menerima kapasitas ini ketika kita dibaptis dengan Roh Kudus. Kita disatukan dalam ‘satu Roh’ dengan Bapa, Anak
dan Roh Kudus, dan dengan satu sama lain dalam tubuh Kristus.21 Setelah dilahirkan dari Roh, kita mampu mengasihi
dan menghargai orang lain. Penyembahan adalah suatu aspek dari persekutuan. Menyembah yang lain adalah
menghargai dan memberi ‘nilai’ kepada siapa mereka dalam persekutuan. Dengan demikian, penyembahan yang benar
adalah penghargaan dan nilai yang kita berikan dan terima dalam persekutuan dengan Tuhan dan satu sama lain.

Pelayanan tubuh adalah contoh dari ekspresi persekutuan satu roh dalam perkumpulan perjamuan kudus. Paulus
menulis bahwa ‘kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama’.22 Ketika masing-
masing pribadi yang berbeda berbicara dengan inspirasi Roh, kita diiluminasi dan diperlengkapi untuk melakukan
kehendak Elohim dan untuk mengasihi satu dengan yang lain. Alternatif dari hidup oleh Roh adalah hidup dengan
hikmat manusia (mengarahkan pikiran kita kepada daging). Perbuatan-perbuatan daging bertentangan dengan
kesatuan Roh. Selain korupsi yang jelas nyata, Kitab Suci mengidentifkasi perilaku-perilaku yang mempromosikan
perpecahan, seperti perselisihan, percideraan, roh pemecah dan iri hati.23

Pekerjaan-pekerjaan kita sebagai anggota tubuh Kristus juga merupakan ekspresi kasih Elohim yang menyatukan kita
dalam persekutuan dengan Dia dan kepada satu sama lain. Pekerjaan-pekerjaan ini menyebabkan ‘seluruh tubuh
menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih’.24 Inilah yang dimaksud rasul Yohanes ketika dia
menulis, ‘Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan
dan dalam kebenaran’.25 Sebagai contoh, dalam jemaat-jemaat gereja kaki dian, kita melihat sejumlah administrasi
diaken melayani dalam kasih untuk melihat Kristus dinyatakan dan saudara-saudara mereka diberkati. Dalam hal ini,
kita bisa memikirkan tentang dedikasi Stefanus, yang benar-benar memberikan diri secara total untuk melayani orang-
orang kudus.26 Sebaliknya, kita ingat akan perkataan Yesus yang menggambarkan budak yang jahat dan malas yang
tidak memberikan dirinya untuk melakukan pekerjaan yang Kristus harapkan darinya.27

Kita bertumbuh dalam pengudusan dan persekutuan kita melalui firman Elohim. Yesus berkata, ‘Jika seorang
mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan
diam bersama-sama dengan dia’.28 Kita menerima firman Elohim pada perkumpulan perjamuan kudus sebagai roti
hidup kita.29 Roh Kudus membawa iluminasi dan pengertian sehingga firman itu hidup dan aktif terhadap kita. 30
Sebagai contoh, kita mungkin berdoa untuk mendapatkan hikmat sehubungan dengan situasi kerja tertentu. Ketika
kita memandang kepada Tuhan pada perkumpulan perjamuan kudus, firman datang dalam pelayanan tubuh yang
dinyalakan bagi kita oleh Roh Kudus sebagai jawaban atas situasi spesifik kita itu. Selanjutnya, ketika kita diajar dari
Kitab Suci, kita bertumbuh dalam kasih karunia untuk lebih memahami bagaimana berbagi hidup Elohim dengan satu
sama lain.

Sungguh merupakan pemikiran yang menakjubkan bahwa kita dapat dengan sempurna mengekspresikan kasih dalam
persekutuan dengan yang lain pada perkumpulan perjamuan kudus meskipun kita mungkin tidak benar-benar
berbicara langsung dengan mereka. Ini karena Roh Kudus telah membuat kita satu dalam persekutuan dengan Elohim
dan satu sama lain.

2020 1Kor 12:13 24 Ef 4:16 28 Yoh 14:23


21 1Kor 6:17 25 1Yoh 3:18 29 Yoh 6:51
22 1Kor 12:7 26 1Kor 16:15 30 Ibr 4:12
23 Gal 5:17-21 27 Mat 25:24-26

3 | Seminar t entang Penyembahan


Persembahan dan perkumpulan perjamuan kudus
Sementara kita berkumpul di sekitar meja perjamuan kudus untuk menyembah Tuhan setiap minggu, kita berkumpul
sebagai satu tubuh dengan banyak anggota. Masing-masing kita adalah anggota dari satu tubuh Kristus. Bapa telah
menjadikan kita masing-masing unik dan menempatkan kita bersama dalam tubuh seperti yang dikehendaki-Nya.31

Sederhananya, persembahan adalah memberi. Ketika kita berkumpul pada perjamuan kudus, kita melakukannya dengan
maksud untuk memberikan diri kita kepada Elohim sebagai korban persembahan, yang kudus dan berkenan melalui
ketaatan kepada firman-Nya. Kita juga berupaya untuk melayani satu dengan yang lain melalui Roh Elohim, yang
bekerja dalam masing-masing kita dan memberikan manifestasi Roh-Nya kepada masing-masing kita. Ini untuk
kepentingan semuanya.32

Salah satu hal pertama yang kita pelajari dari Kitab Suci tentang persembahan adalah bahwa itu haruslah terus-
menerus.33 Raja Daud berkata, ‘Aku senantiasa memandang kepada Tuhan’.34 Persembahan pada pintu tabernakel harus
terus naik di hadapan Tuhan. Menjaga sesuatu untuk terus berjalan, membutuhkan pelaksanaan yang benar dalam hal
prioritas-prioritas. Ketika kita memperhatikan prioritas-prioritas kita, diri kita dapat bersuka di dalam Tuhan.35 Ini
artinya bagi kita tiada hari saat kita di gereja hanya untuk ‘menumpang/tidak berpartisipasi/tidak serius’. Kita datang
ke gereja untuk berpartisipasi, bukan sekedar menonton. Mempersembahkan diri kita kepada Tuhan artinya
kekuatiran akan hidup ini tidak akan menjadi prioritas kita. Prioritas kita adalah rumah Tuhan dan umat-Nya. Hal ini
memungkinkan kita untuk terus-menerus naik dalam persembahan dan penyembahan kepada Tuhan.36

Saat kita berkumpul dan mempersembahkan diri kita dalam penyembahan, kita dimotivasi untuk menyatakan yang
lain. Bagaimana ini kelihatannya secara praktis? Pertama, kita mendengarkan mereka yang menjadi pemimpin acara
dan memimpin kita, dan kita dengan sukarela mengikuti instruksi mereka. Kedua, kita merindukan karunia-karunia
rohani untuk membangun orang lain.37 Kita tidak bergumul untuk terlihat ‘memberikan ucapan syukur dengan sangat
baik’.38 Artinya, kita tidak fokus untuk melakukan hal yang benar. Sebaliknya, kita sedang memperhatikan bagaimana
kita dapat berpartisipasi dan berfungsi agar orang lain diberkati. Ketika kita berpartisipasi dalam penyembahan, kita
mempersembahkan diri kita untuk mendengarkan Roh dan berpartisipasi dalam penafsiran supaya orang lain dapat
dibangun.

Ekspresi lain yang jelas dari persembahan dalam ibadah penyembahan kita adalah ketika kita mempersembahkan diri
kita kepada mereka yang memimpin, untuk ‘diatur’. Imam-imam perjanjian lama mengatur persembahan-persembahan
di mezbah dan pelita-pelita yang menyala pada kaki dian.39 Dalam ibadah penyembahan kita, mereka yang memimpin
akan menilik/mengatur order/aturan partisipasi. Mereka berupaya untuk manisfestasi yang jelas dari Tuhan yang adalah
Roh di tengah-tengah kita pada hari itu. Ini merupakan praktek yang bagus dari persembahan untuk
mempersembahkan diri kita – untuk bersiap-siap – sementara mereka yang menilik memutuskan order/aturan dari
penyembahan kita bersama.

Persembahan memungkinkan setiap anggota untuk berpartisipasi menurut pengudusan, oleh satu Roh Elohim. Kita
semua dibangun dan dikuatkan kepada ketaatan sementara karunia-karunia Roh dilayani bagi kepentingan semua
orang. Kehendak Elohim diteguhkan sebagai jalan yang jelas bagi kaki kita, dari meja perjamuan kudus, keluar kepada
kerajaan dan kembali lagi ke meja perjamuan kudus minggu depannya.

31 1Kor 12:18 35 Mzm 1:2 39 Im 1:8. Bil 8:3


32 1Kor 12:5-7 36 Rm 12:1
3333 Kel 29:42 37 1Kor 14:1
34 Mzm 16:8 38 1Kor 14:17

4 | Seminar t entang Penyembahan


Empat administrasi Yesus Kristus
Ada empat aspek dari administrasi Yesus Kristus di dalam gereja. Hasil dari pekerjaan dan pelayanan dari para rasul,
nabi, pengajar dan pemberita injil akan menjadi pergerakan dari seluruh tubuh Kristus dalam empat administrasi.
Empat administrasi ini akan terlihat, sampai tingkatan tertentu, pada setiap perkumpulan perjamuan kudus.
Administrasi-administrasi ini dapat diringkas sebagai administrasi yang menilik dan mengatur (rasul), administrasi
keimamatan (nabi), administrasi pengajaran (pengajar) dan administrasi kebapaan (pemberita injil).

Ada suatu order/aturan otoritas dan inisiatif sehubungan dengan bagaimana keempat pelayanan kasih karunia dan
administrasi ini beroperasi dan berlanjut dalam perkumpulan perjamuan kudus manapun. Rasul Paulus menyoroti
order/aturan khusus ini ketika dia menulis, ‘Dan Elohim telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama
sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk
mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa
roh’.40 Kami mencatat bahwa Paulus mengidentifikasi berbagai dimensi dari pemberita injil, termasuk mengadakan
mujizat dan karunia kesembuhan. Secara praktis, sehubungan dengan perkumpulan perjamuan kudus, administrasi
yang menilik menetapkan siapa yang memimpin dan berbicara pada perkumpulan perjamuan kudus. Administrasi
keimamatan memanggil semua orang percaya untuk datang dan menyembah. Administrasi pengajaran
menginstruksikan kita bagaimana cara untuk menyembah. Dan administrasi kebapaan mendorong kepengurusan dari
budaya penyembahan di dalam rumah.

Keempat pelayanan kasih karunia ini pertama kali berfungsi di dalam presbiteri; kemudian administrasi mereka
berfungsi dalam perkumpulan perjamuan kudus. Ini tidak berarti bahwa setiap perkumpulan perjamuan kudus akan
melibatkan individu-individu yang beroperasi dalam keempat karunia kenaikan ini. Sebaliknya, karena setiap jemaat
lokal terhubung kepada pelita, yang merupakan presbiteri daerah, maka ada penyediaan penuh dari kasih karunia
Elohim melalui operasi dari keempat administrasi ini. Secara praktis, setiap jemaat menerima inisiatif dari presbiteri
daerah terhadap program dan organisasinya. Ketika setiap administrasi didirikan dan berfungsi dalam gereja, kasih
karunia Elohim dilayani kepada setiap anggota tubuh Kristus. Ini artinya keempat dimensi kasih karunia Elohim – Roh,
hidup dan terang, firman, dan kasih – tersedia bagi setiap orang percaya pada perkumpulan perjamuan kudus.

Kristus adalah Gembala Agung dan Penilik dari gereja.41 Pekerjaan memberi makan dan merawat gereja telah diberikan
oleh Kristus kepada masing-masing dari keempat pelayanan kasih karunia dalam presbiteri. Secara praktis, para rasul
menggembalakan gereja dengan otoritas dari Kristus untuk memimpin seluruh jemaat masuk dan keluar untuk
‘menemukan padang rumput’. Para nabi menggembalakan gereja dengan mengawasi/menilik persembahan-
persembahan, penyembahan dan pelayanan dari kerajaan imam. Para pengajar menggembalakan gereja dengan
mengajar dan menginstruksikan murid-murid. Dan akhirnya, para pemberita injil menggembalakan gereja dengan
mendorong kebapaan, keibuan dan kepengurusan kodrat ilahi dalam setiap rumah. Setiap perkumpulan perjamuan
kudus dipimpin oleh Kristus, Sang Gembala Agung, diekspresikan melalui empat administrasi kasih karunia dan
difasilitasi oleh para penatua, diaken dan saudara-saudara buah sulung.

Ada penyediaan penuh dari keempat dimensi kasih karunia Elohim yang tersedia bagi setiap jemaat lokal pada
perkumpulan perjamuan kudus. Administrasi tertentu dapat mengambil prioritas pada perkumpulan perjamuan kudus
pada hari tertentu. Namun, keempat administrasi akan berfungsi dan mendukung perkumpulan perjamuan kudus
tersebut. Ini artinya tidak ada kekurangan dalam jemaat lokal, atau individu manapun.

40 1Kor 12:28 41 1Ptr 2:25

5 | Semina r tentang Penyembahan


Kasih karunia kerasulan dan perkumpulan perjamuan kudus
Para rasul membawa otoritas Kristus untuk memimpin, menggembalakan, dan menilik gereja. Para rasul menerima
kasih karunia dari Kristus untuk mewahyukan/menyatakan, dari Kitab Suci, apa yang Roh sedang katakan kepada
gereja dalam setiap generasi. Mereka juga menerima otoritas-Nya untuk mendirikan dan menilik administrasi-
administrasi dalam tubuh Kristus.

Para rasul dipanggil oleh Kristus untuk membimbing dan melatih orang-orang dengan pelayanan kasih karunia. Kita
ingat bahwa Paulus memerintahkan Titus, yang adalah juga seorang rasul, untuk ‘mengatur apa yang masih perlu
diatur’ dan ‘menetapkan penatua-penatua di setiap kota’.42 Elemen dari mandat rasul ini terbukti dalam perkumpulan
perjamuan kudus ketika para penatua dan diaken berfungsi dalam kesatuan Roh, menurut nama dan kasih karunia
mereka masing-masing. Ini menegakkan konteks untuk penyembahan yang ‘layak/sopan’ dan ‘terartur’.43 Tanpa arahan
kerasulan, jemaat-jemaat akan kembali kepada kolegialitas (setiap orang menuntut ekspresi yang setara) atau melihat
kepada ‘pelindung’ (satu orang yang bertanggung jawab/berkuasa).44

Kedua, para rasul mengajar prinsip-prinsip penyembahan dan pelayanan tubuh kepada gereja. Sebagai contohnya,
Paulus mengajar orang-orang Korintus bagaimana berfungsi dengan benar dalam karunia-karunia roh.45 Paulus
menjelaskan perbedaan antara berbagai elemen partisipasi, dan mengidentifikasi suatu aturan dan prioritas dalam
berfungsi. Paulus mencatat bahwa melalui pola penyembahan ini, ‘orang yang tidak beriman atau orang baru’ akan
diinsafkan oleh Roh, ‘ia akan sujud’ dan ‘menyembah Elohim’ sebelum mengaku bahwa ‘sungguh, Elohim ada di tengah-
tengah kamu’.46 Paulus memperingatkan bahwa, tanpa pengajaran kerasulan dalam hal ini, jemaat-jemaat akan
menampilkan segala macam perilaku eksentrik rohani.47

Para rasul menilik pelayanan firman pada perkumpulan perjamuan kudus. Yohanes mengidentifikasi aspek pelayanan
kerasulan ini sebagai sarana yang olehnya orang-orang percaya disatukan kepada persekutuan Elohim. ‘Apa yang telah
kami lihat dan yang telah kami dengar itu [tentang Firman hidup], kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun
beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya,
Yesus Kristus.’48 Dalam persekutuan ini, orang-orang percaya menerima iman.49 Mereka teriluminasi, aman, didorong,
dibangun, diperlengkapi dan dikuatkan untuk bertekun. Karena firman, orang-orang percaya dapat menyembah dalam
Roh dan kebenaran. Sebaliknya, Paulus menjelaskan kepada Timotius bahwa rasul-rasul palsu akan mengganggu gereja
dengan doktrin-doktrin aneh yang menimbulkan argumen, perpecahan dan kebingungan.50

Para rasul adalah budak Kristus yang paling utama, karena mereka dicurahkan untuk kepentingan gereja.51 Karena para
rasul mengajar, menggembalakan, membimbing, serta mendirikan administrasi-administrasi dan pelayanan-pelayanan,
kasih karunia mereka sering terlihat dalam perkumpulan perjamuan kudus melalui ekspresi orang lain. Ketika para
rasul berfungsi dalam kasih karunia mereka, tubuh Kristus tidak kekurangan dalam karunia apapun ataupun gagal
karena kekurangan kasih karunia.52

42 Tit 1:5 46 1Kor 14:24-25 50 1Tim 1:3-7


43 1Kor 14:40 47 1Kor 14:23 51 Flp 2:17
44 Luk 22:25 48 1Yoh 1:3 52 1Kor 1:4-7
45 1Kor 12,14 49 Rm 10:17

6 | Seminar t entang Penyembahan


Pelayanan nabi
Kita tahu bahwa ada empat dimensi kasih karunia yang datang dari Kristus, dan kepenuhan kasih karunia-Nya tersedia
bagi kita melalui pelayanan dari keempat dimensi ini – rasul, nabi, pemberita injil, pengajar. Dan anda akan
memperhatikan bahwa salah satu dari keempat dimensi ini akan memiliki prioritas dalam pertemuan di hari Minggu,
tergantung pada bagaimana Roh Kudus memimpin jemaat. Dalam artikel ini, kita akan melihat apa artinya bagi dimensi
kasih karunia kenabian/nubuatan untuk menjadi prioritasnya.

Apa itu seorang nabi? Bergantung pada tradisi atau imajinasi kita, kita mungkin memiliki ide-ide yang berbeda tentang
bagaimana menjawab pertanyaan ini. Paling sering kita cenderung berpikir bahwa nabi adalah seseorang yang
memprediksi tentang masa depan, seperti yang Yeremia lakukan dalam Perjanjian Lama atau seperti yang Agabus
lakukan dalam Perjanjian Baru. Dan, tentu saja, kita tahu bahwa ini adalah aspek penting dari pelayanan
kenabian/nubuatan. Namun, ketika kita merujuk pada pelayanan kenabian/nubuatan pada hari Minggu, kita paling
sering berbicara tentang kasih karunia yang memimpin dalam pelayanan keimamatan. Sehubungan dengan keempat
wajah dari administrasi Kristus, ini adalah wajah lembu.53

Seorang nabi karunia kenaikan memiliki kasih karunia dari Kristus untuk menilik penyajian dari persembahan
seseorang, dan mengatur persembahan tersebut. Suatu persembahan perlu diatur agar ada keyakinan bahwa seseorang
yang mempersembahkan itu sesuai dengan nama mereka. Kedua, persembahan perlu diatur sehubungan dengan
persembahan dari anak-anak Elohim lainnya, yang juga mempersembahkan diri mereka. Segala sesuatu harus
dilakukan secara teratur dan tanpa kebingungan agar arahan nubuatan dimengerti oleh jemaat.54 Itulah sebabnya
seseorang dapat berpartisipasi dalam pelayanan pada hari Minggu, siap sedia dan memberi kesaksian tentang yang
lain.55 Persembahan orang ini, setelah diberikan, diatur menurut pimpinan Roh pada hari itu.

Kasih karunia kenabian/nubuatan bekerja untuk memotivasi dan menguatkan anak-anak Elohim dalam pekerjaan
keimamatan individu mereka yang unik – dalam berdoa, melayani, menyembah, dan sebagainya. Dengan cara ini, orang-
orang akan didorong dan dikuatkan untuk berfungsi sebagai imam-raja dalam bait suci rohani.56 Secara praktis, mereka
akan diiluminasi dan dimampukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan nama mereka. Iluminasi
ini diberikan supaya kasih bisa melimpah dalam setiap rumah tangga dengan segala pengertian.57

Prioritas keimamatan juga artinya akan sering ada penekanan untuk orang-orang diperdamaikan kepada Elohim –
sebagai contoh, melalui pertobatan, mengalahkan, mengambil langkah-langkah khusus untuk disucikan dan
disesuaikan dengan penamaan dari Tuhan. Panggilan untuk diperdamaikan dapat disertai dengan dicurahkan roh
pengasihan (kasih karunia) dan permohonan, supaya orang-orang dapat meratap dengan benar dan diperdamaikan
kepada kehendak dan tujuan Tuhan bagi mereka.58 Keimamatan berkaitan dengan darah Kristus menjadi aktif, agar
hati nurani setiap orang dapat disucikan dari pekerjaan-pekerjaan mati untuk bisa melayani Elohim dan membuat
persembahan dalam kebenaran.59 Interaksi-interaksi dalam hal-hal ini bisa terjadi kapan saja, tidak hanya di hari
Minggu pagi.

Maka kita dapat melihat bahwa kasih karunia kenabian/nubuatan melayani iman dan pengertian, agar setiap individu
anak Elohim dapat membuat persembahan dalam keyakinan iman penuh, di semua area kehidupan.60 Dengan terus-
menerus diperdamaikan kepada nama mereka, setiap anak Elohim dapat berjalan dalam terang pengetahuan yang
datang dari wajah Yesus Kristus kepada mereka. Ini artinya, ketika mereka mempersembahkan diri mereka sesuai
dengan iman yang dibagikan kepada mereka oleh Elohim, mereka dapat menjadi yakin bahwa kehendak Elohim sedang
dibuktikan dalam kehidupan mereka dan melalui tindakan-tindakan mereka.61

53 Yeh 1:10. Yeh 10:14. Why 4:5-8 56 Why 1:6. Ibr 9:11 59 Ibr 9:14. Mal 3:3
54 1Kor 14:8 57 Flp 1:9 60 Ibr 10:22
55 1Kor 14:29 58 Za 12:10 61 Rm 12:1-3

7 | Seminar t entang Penyembahan


Administrasi pengajaran dan perkumpulan perjamuan kudus
Pengajaran karunia kenaikan adalah salah satu unsur dari administrasi Yesus Kristus dalam gereja. Administrasi
pengajaran mampu memuridkan orang-orang melalui artikulasi firman Elohim – baik dalam kebenaran masa kini dan
dalam instruksi ajaran sehat. Pada perkumpulan perjamuan kudus, kita secara terus-menerus diajar dalam budaya
penyembahan Kristen. Melalui penjelasan dari orang-orang yang memimpin acara dari berbagai unsur ibadah
perjamuan kudus, kita diajarkan bagaimana untuk berpartisipasi sebagai imam-imam dan sebagai anggota-anggota
tubuh Kristus. Melalui pengajaran ini, kita dibangun oleh firman Elohim dan diberikan keyakinan untuk
mempersembahkan diri kita dalam persembahan dan penyembahan kepada Elohim.

Ada banyak fitur untuk penyembahan kita pada perkumpulan perjamuan kudus yang sudah kita kenal; namun, kita
mungkin tidak sepenuhnya menyadari mengapa kita melakukan hal-hal yang kita lakukan. Sebagai contoh, mengapa
kita mengangkat tangan kita dalam penyembahan? Apa perbedaan antara nyanyian yang naik dan nyanyian nubuatan?

Unsur-unsur penyembahan ini dapat dengan mudah menjadi kebiasaan bagi kita, tanpa kita mendapatkan pemahaman
yang benar tentang maknanya. Namun, sementara kita terus terhubung kepada administrasi pengajaran dari Kristus,
kita akan bertumbuh dalam pengertian kita sebagai murid, dan menghindari bahaya dari menyembah di dalam
kebodohan.62 Sebagai contoh, orang-orang yang terlibat dalam administrasi pengajaran dapat mengambil waktu untuk
menginstruksikan kita apa artinya mengangkat tangan kita dalam penyembahan.

Mereka yang memimpin ibadah perjamuan kudus akan mengajar kita bagaimana berpartisipasi sebagai jemaat. Cara
yang dengannya kita berpartisipasi dalam penyembahan akan unik dari minggu ke minggu. Sebagai contoh, satu
minggu kita bisa mulai dengan menantikan Tuhan dalam doa, sementara hari Minggu yang lain kita dapat mulai dengan
bernyanyi dan bersukacita. Mereka yang memimpin bukan hanya menjelaskan apa yang akan kita lakukan selanjutnya,
tetapi juga mengajarkan kita bagaimana dan mengapa kita berpartisipasi dengan cara tertentu. Contohnya, sebagai jemaat
kita telah mempelajari bagaimana bernyanyi dan menjadi harmoni bersama, sebagai ekspresi menjadi satu Roh dengan
Tuhan dan satu sama lain.63 Melalui pengajaran yang kita terima dari mereka yang memimpin acara dalam perkumpulan
perjamuan kudus, kita bertumbuh dalam pengertian kita tentang bagaimana dan mengapa kita berpartisipasi bersama
dalam cara ini.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa, bahkan orang yang tidak beriman dan mereka yang tidak terlatih (orang baru) dapat
dikumpulkan ke dalam persekutuan penyembahan pada meja perjamuan kudus.64 Agar hal ini terjadi, aspek
‘pengajaran’ Kristus, terlihat melalui orang-orang yang memimpin acara dan memimpin, merupakan unsur yang
penting. Mereka yang memimpin acara dan mengatur puji-pujian, penyembahan dan karunia-karunia rohani selama
ibadah perjamuan kudus akan mengambil waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi. Setelah diajar bagaimana untuk
berpartisipasi, dan diinsafkan oleh karunia-karunia Roh, seorang pengunjung mampu menyembah Elohim dan bersaksi
bahwa Elohim benar-benar ada di tengah-tengah kita. Sebaliknya, tanpa adanya pengajaran dan pengaturan dalam
perkumpulan perjamuan kudus, orang yang tidak beriman dan orang baru akan tetap tidak diterangi, dan berpikir
bahwa apa yang kita lakukan adalah kegiatan yang aneh dan eksentrik.65

Ketika kita datang pada persekutuan perkumpulan perjamuan kudus dari minggu ke minggu, kita dapat mengenali
administrasi pengajaran Kristus – khususnya, ketika kita diajar di tengah-tengah mereka yang memimpin acara dan
memimpin kita dalam cara kita menyembah bersama. Kita mempelajari budaya penyembahan yang benar. Dan saat kita
memberikan diri untuk belajar dari Kristus, dan untuk belajar dari orang-orang yang berfungsi dalam administrasi
pengajaran-Nya, kita akan terus bertumbuh dalam pengertian kita sebagai murid-murid-Nya. Hasil dari diajarkan
dalam cara ini adalah kita akan menjadi yakin dan aman dalam partisipasi kita dalam persekutuan penyembahan.66

62 Kis 17:23,30 64 1Kor 14:24-25 66 Mat 11:28-29


63 Ef 4:3 65 1Kor 14:23

8 | Seminar tentang Penyembahan


Pemberita injil – wajah rajawali
Orang-orang Kristen pada umumnya membayangkan para pemberita injil sebagai orang-orang yang memproklamirkan
injil dalam perkumpulan umum yang besar. Namun, pekerjaan utama mereka di tengah-tengah presbiteri adalah
memelihara dan menilik administrasi yang bekerja keras untuk menegakkan setiap rumah tangga dalam injil tentang
anak. Wajah rajawali mewakili pelayanan pemberita injil karunia kenaikan. Kita melihat ini diilustrasikan dalam
perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Elohim berkata bahwa Dia ‘mendukung kamu (Israel) di atas sayap rajawali
dan membawa kamu kepada-Ku’.67 Kitab Suci menjelaskan bahwa Tuhan ‘mendukung’ bangsa Israel melalui pelayanan
tujuh puluh tua-tua yang Dia urapi untuk ‘memikul’ ‘beban/tanggung jawab’ umat Israel bersama Musa.68

Rasul Paulus membandingkan pekerjaan ini dengan kerja keras untuk menghasilkan kelahiran fisik seorang anak. Dia
menulis kepada orang-orang Galatia dengan berkata bahwa dia ‘sakit bersalin lagi’ untuk melihat ‘Kristus terbentuk’
di dalam mereka. Asosiasi ini mengingatkan kita pada kasih, komitmen dan usaha yang tak mengenal lelah dari bapa-
bapa dan ibu-ibu rohani untuk melihat anak-anak Elohim bertumbuh kepada kedewasaan.

Para pemberita injil memulai dan menilik administrasi kepenatuaan yang memelihara budaya Kristus dalam setiap
rumah tangga. Dalam berbagai perkumpulan perjamuan kudus kita, kita melihat administrasi kebapaan yang
mempromosikan suatu persekutuan dari rumah ke rumah yang bersemangat dan hidup melalui program gereja. Ini
adalah aktivitas-aktivitas rohani yang membantu semua kelompok usia dalam perkembangan mereka dan dalam
membangun hubungan-hubungan yang bertahan. Ini termasuk pelayanan perjamuan kudus, pembelajaran Alkitab,
baptisan dan pertemuan-pertemuan untuk anak-anak, remaja, pemuda, laki-laki, perempuan dan senior (orang-orang
lanjut usia). Perhatian dan bantuan khusus juga tersedia bagi keluarga-keluarga sehubungan dengan pernikahan dan
persiapan pernikahan, serta untuk menghibur dan mendukung orang-orang yang berduka atau berada dalam krisis.
Rumah tangga-rumah tangga yang menerima kasih karunia dari wajah rajawali juga akan diperlengkapi untuk
memberitakan injil dan untuk melayani kesembuhan dan menolong yang lain.

Para pemberita injil karunia kenaikan juga akan memproklamirkan injil. Sebagai contoh, salah satu dari ketujuh diaken
yang ditunjuk oleh kedua belas rasul disebut ‘Filipus, pemberita injil’.69 Filipus memberitakan injil kepada kumpulan
orang banyak dan pelayanannya disertai dengan mujizat-mujizat dan karunia-karunia kesembuhan.70 Filipus juga
menginjil dari ‘rumah ke rumah’.71

Gereja/jemaat di Korintus adalah contoh dari perkumpulan perjamuan kudus tanpa pelayanan ini. Rasul Paulus
mencatat bahwa, walaupun orang-orang Korintus memiliki ‘pendidik/tutor yang tak terhitung jumlahnya’, mereka
kekurangan sehubungan dengan administrasi kebapaan rohani ini.72 Bukti dari kekurangan ini secara grafis
dimanifestasikan dalam segala macam kejahatan. Secara khusus Paulus mengidentifikasi dan menegur hal-hal seperti
kesombongan, pertengkaran, amoralitas (percabulan), keberpihakan, kurangnya kebijaksanaan, disfungsi rohani pada
perjamuan kudus, masalah pernikahan dan penyebaran injil-injil yang berlawanan.

67 Kel 19:4 69 Kis 21:8 71 Kis 8:26-40


68 Bil 11:14-17 70 Kis 8:5-6 72 1Kor 4:15

9 | Seminar t entang Penyembahan


Suara desau air bah
Pekerjaan keimamatan Kristus yang pertama adalah menyembah Bapa melalui anggota-anggota tubuh-Nya. Anak
Sendiri menyatakan kepada Bapa, ‘Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji
Engkau di tengah-tengah jemaat.’73 Anak Elohim rindu untuk bernyanyi di tengah-tengah jemaat dalam penyembahan
kepada Bapa dan Roh. Kita mendengar suara Anak dalam penyembahan yang diurapi dari anggota-anggota tubuh-Nya.
Rasul Yohanes menggambarkan suara Yesus Kristus seperti suara desau air bah.74 Suara desau air bah menggambarkan
nyanyian dari banyak anggota dari satu tubuh Kristus.75 Mari kita melihat bagaimana ini bekerja.

Yesus menjelaskan bahwa, ketika seseorang dibaptis dalam Roh Kudus, mereka akan memiliki aliran air kehidupan
yang mengalir dalam hati mereka.76 Ketika kita terus-menerus dipenuhi oleh Roh, kita dimampukan untuk bernyanyi
dan membuat melodi di dalam hati kita kepada Tuhan.77 Dari hati kita keluar nada penyembahan kepada Bapa. Ini
adalah ekspresi dari aliran-aliran air hidup yang mengalir dari hati kita.78 Dalam cara ini, Roh Kudus membantu kita
untuk mengekspresikan nyanyian Kristus. Secara praktis, ketika kita berharmoni bersama di dalam Roh sebagai suatu
jemaat, Roh Kudus memberikan kita sebuah melodi untuk dinyanyikan dari hati kita. Kita mungkin belum
mengekspresikan unsur-unsur pujian dan penyembahan tertentu. Kita hanya menyanyikan melodi dalam harmoni
dengan saudara-saudara kita. Nada yang kita nyanyikan atau mainkan merupakan ekspresi dari aliran-aliran air hidup.
Dan orang di samping kita juga mengekspresikan hal yang sama. Nyanyian yang dihasilkan dari orang banyak ini
digambarkan sebagai ‘suara desau air bah’.

Roh Anak berseru di dalam hati setiap orang yang lahir dari Roh.79 Roh Kristus mengaku bahwa Elohim adalah Bapa
dari roh kita.80 Dalam hal ini, Anak menyatakan nama Bapa kepada kita, membuat kita menghargai bahwa Elohim
adalah Bapa kita. Anak bersukacita dalam hidup Anak-Nya sendiri dan juga dalam hidup kita sebagai anak. Anak
berkata, ‘Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Elohim kepada-Ku.’81 Dalam cara ini, Anak
memberikan penghargaan kepada Bapa di dalam dan melalui kita, sementara kita berpartisipasi dalam nyanyian Tuhan.
Secara praktis, Kristus memotivasi setiap anak Elohim untuk menyanyi dalam pujian dan penyembahan kepada Bapa.
Sementara kita bernyanyi sebagai jemaat, Kristus sebenarnya sedang bernyanyi di tengah-tengah kita. Kristus
menyembah Bapa melalui kita.

Kita juga bernyanyi dalam penyembahan kepada Bapa. Kita memiliki roh adopsi, yang olehnya kita berseru, ‘ya Abba!
Ya Bapa!’82 Kita dimotivasi oleh roh iman untuk berbicara/berkata-kata dan menyanyi dalam pujian kepada Bapa.83
Melalui persembahan-Nya, Kristus Yesus telah membuat kita menjadi imam-imam bagi Elohim Bapa.84 Sebagai imam-
imam, kita harus mempersembahkan korban-korban penyembahan yang rohani kepada Elohim Bapa, melalui Yesus.85
Secara praktis, kita memuji dan menyembah Elohim Bapa dalam perkumpulan perjamuan kudus. Ini adalah
persembahan penyembahan kita. Anak dan Roh Kudus memampukan kita untuk ‘menjadi imam yang melayani’ kepada
Bapa dalam cara ini.

‘Suara desau air bah’ menggambarkan nyanyian dari banyak anggota dari satu tubuh Kristus.86 Sebagai imam-imam,
kita mempersembahkan pujian dan penyembahan kepada Bapa, Anak dan Roh Kudus. Itu adalah satu nyanyian, namun
di dalamnya terkandung semua keberagaman dari anggota-anggota individu dari tubuh Kristus.87 Ini mengharuskan
setiap anggota untuk menghargai siapa mereka dan fungsi unik mereka dalam tubuh Kristus. Setiap anggota bernyanyi
dalam pengudusan nama mereka sebagai anak Elohim.

73 Ibr 2:12 78 Bil 21:17 83 2Kor 4:13


74 Why 1:15 79 Gal 4:6. Yoh 3:5,8 84 Why 1:6
75 Why 19:6 80 Ibr 12:9 85 1Ptr 2:5
76 Yoh 7:38 81 Ibr 2:13. Yes 8:18 86 Why 19:6
77 Ef 5:18-19 82 Rm 8:15 87 Rm 15:7. Rm 12:4-5

10 | Seminar tentang Penyembahan


Penyembahan yang benar – dalam roh dan kebenaran
Dalam Yohanes pasal empat, Yesus dengan jelas menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk menyembah Elohim
adalah ‘di dalam roh dan kebenaran’. Ketika Yesus berbicara seperti ini, Dia menjawab pertanyaan dari perempuan
Samaria yang bertanya kepada-Nya tentang di mana orang harus pergi untuk menyembah Elohim. Jawaban Yesus
menandakan bahwa budaya penyembahan telah berubah – Perjanjian Hukum Taurat, dengan semua tradisi dan tata
caranya, tidak lagi menjadi sarana yang melaluinya penyembah-penyembah yang benar mendekat kepada Elohim.
Sebaliknya, setiap orang yang menerima Kristus sebagai Tuhan mereka, akan menerima Roh Kudus sebagai sumber
hidup mereka yang tak ada habis-habisnya (seperti sumur air yang mengalir sampai pada kehidupan kekal).88 Orang-
orang ini kemudian dapat benar-benar menyembah Elohim untuk siapa Dia adanya.

Ketika kita datang bersama pada perjamuan kudus untuk menyembah Elohim, kita tidak perlu mengikuti serangkaian
peraturan untuk mendekat kepada Dia. Kita juga tidak perlu mengikuti liturgi, atau suatu pola pendekatan, yang
membuat kita merasa dekat kepada-Nya (contoh, tiga lagu cepat dan diikuti oleh dua lagu ‘penyembahan’ yang lebih
lambat). Kita dapat menyembah Elohim karena, oleh kasih-Nya yang besar bagi kita, kita telah dilahirkan kembali dan
dipenuhi dengan Roh Kudus. Kita juga tidak diperlengkapi dengan baik untuk menyembah ketika kita berjalan dengan
baik dalam perjalanan Kekristenan kita, juga tidak merasa didiskualifikasi saat kita melakukannya dengan buruk.
Yesus adalah Imam Besar kita, dan Dia telah membuka jalan bagi kita untuk dengan keyakinan datang di hadapan
takhta-Nya untuk menyembah Dia.89

Namun, jika kita mau menyembah ‘di dalam Roh’, kita harus dipimpin oleh Roh. Jadi, bagaimana kita hidup dalam jalan
ini? Karena kita telah dilahirkan dari Roh, kita mampu untuk hidup ‘menurut Roh’, yang artinya kita dapat
mengarahkan pikiran kita pada hal-hal dari Roh, dan bukan pada hal-hal yang dari daging.90 Paulus mendorong kita
untuk ‘carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Elohim.’91 Secara praktis, ini artinya, daripada
dihanguskan oleh keinginan-keinginan kita sendiri, kita akan mempersiapkan diri kita untuk menyembah setiap hari
Minggu dengan meluangkan waktu untuk merenungkan firman Tuhan dan berdoa di dalam Roh. Ketika kita memberi
diri kita dalam jalan/cara ini, Roh Sendiri yang akan memimpin kita saat kita menyembah.

Ketika Yesus berbicara tentang penyembahan ‘dalam roh dan kebenaran’, kebenaran yang Yesus maksudkan adalah
kebenaran dari nama kita. Ini artinya, untuk benar-benar menyembah Elohim, kita tidak perlu untuk menjadi selain
dari siapa yang Dia telah tentukan untuk kita jadi. Kita adalah anak Elohim yang unik yang telah diciptakan untuk
menjadi kesenangan bagi Dia. Kita tidak perlu kuatir dengan apakah suara nyanyian kita sama bagusnya dengan orang
lain, atau apakah kontribusi kita sama rohaninya dengan orang yang di samping kita. Kita dapat menanggalkan semua
perbandingan dan perasaan tidak mampu (atau perasaan superior), sehingga kita menjadi orang-orang yang
menyembah ‘di dalam kebenaran’.

Ketika kita memberi diri kita untuk hidup sebagai anak Elohim yang unik, yang dipimpin oleh Roh, kita tidak akan
ragu untuk mendekati Dia, tetapi kita akan mengalami kebebasan untuk datang di hadapan Tuhan untuk memberi
penghargaan kepada Dia dan kepada umat-Nya. Bapa mengharapkan kita untuk menyembah Dia dalam cara ini, dan
kita semua bersukacita dalam panggilan ini.92

88 Yoh 4:13-14 90 Rm 8:5-6 92 Yoh 4:23


89 Ibr 4:15-16 91 Kol 3:1

11 | Semina r tentang Penyembahan


Menyembah – dua agenda yang berkompetisi
Ketika kita menyembah Tuhan bersama, kita sering memperhatikan adanya dua agenda yang berkompetisi untuk
didengarkan. Agenda rohani adalah pelayanan hidup, satu kepada yang lain, melalui kapasitas yang Elohim berikan.
Sebaliknya, agenda daging mencari hasil yang sama tetapi mencoba untuk mencapainya melalui pelaksanaan kapasitas-
kapasitas alamiah kita. Rasul Paulus mengidentifikasi dua agenda ini sebagai ‘daging’ dan ‘roh’, dan menjelaskan bahwa
dua hal ini bertentangan satu sama lain.93

Konflik antara daging dan roh ini akan memiliki implikasi nyata kepada bagaimana kita berpartisipasi dalam
penyembahan. Sebagai contoh, jika kita datang bersama dengan pandangan untuk mengikuti pola atau bentuk tertentu
dari penyembahan secara umum, daripada berpartisipasi oleh iman, maka penyembahan kita adalah menurut daging.
Paulus menjelaskan bahwa, bukannya melayani hidup, cara ini menghasilkan ‘pelayanan penghukuman’.94 Berlawanan
dengan ini, berpartisipasi oleh iman memampukan kita untuk mengikuti tuntunan Roh. Hasil dari cara ini adalah hidup
dilayani kepada yang lain, membuat mereka dibangun dan didorong dalam iman mereka.

Agenda daging selalu mau melayani Elohim menurut sudut pandang dan ide-ide kita sendiri. Karena kita ingin melayani
Elohim, berfungsi dengan cara ini bisa terlihat serupa dengan hidup oleh Roh. Namun, buah dari cara ‘daging’ ini
menunjukkan bahwa daging dan roh memang saling bertentangan satu sama lain. Paulus menjelaskan bahwa
perbuatan-perbuatan daging menghasilkan iri hati, amarah, perseteruan dan perselisihan.95 Hal-hal ini adalah ‘penilaian
daging’ yang berlawanan dengan buah-buah dari Roh, dan berdampak pada kemampuan kita untuk memberi
penghargaan kepada yang lain dalam tubuh Kristus.96 Sehubungan dengan penyembahan, penting untuk kita datang
dengan kesiapan untuk bersatu dengan inisiatif dan arahan Roh, daripada menjalankan hak untuk menyembah Elohim
menurut jalan kita sendiri. Secara praktis, ini artinya kita dengan sukarela bersatu dengan arahan yang ditegakkan oleh
orang-orang yang diberikan untuk memimpin acara dan mengatur ibadah kita, daripada ‘mengerjakan hal kita sendiri’.
Sebagai contoh, jika pemimpin penyembahan mendorong kita untuk mengangkat suara kita dalam penyembahan, kita
akan meresponi dalam iman dan ketaatan, yang akan menghasilkan pembangunan rohani dari orang-orang yang
menyembah bersama-sama dengan kita.

Untuk berpartisipasi dalam penyembahan menurut Roh, kita harus mengakui bahwa kita ‘bangkrut dalam roh’.97 Ini
penting karena, sebelum kita menyadari hal ini, kita ada dalam ikatan untuk mencoba memenuhi kehendak Elohim
dengan daging kita. Secara praktis, ini artinya, jika kita datang untuk menyembah Tuhan penuh akan pandangan-
pandangan kita tentang bagaimana hal-hal seharusnya dilakukan, kita akan mendapati diri kita tidak bisa disatukan
dalam persekutuan dengan saudara-saudara kita untuk menyembah Elohim dalam roh dan kebenaran. Sebagai
alternatif, ketika kita berkumpul untuk menyembah, menyadari bahwa kita ‘miskin di dalam roh’, kita akan mengalami
kemerdekaan yang sejati untuk berjalan oleh Roh sebagai anak Elohim. Kita akan memiliki kapasitas, sementara kita
berjalan oleh Roh, untuk mendengar dari yang lain sehubungan dengan partisipasi kita, dan akan mendapati bahwa
kita bisa menanggalkan penilaian-penilaian daging kita dan mengenakan kasih.

Tantangan bagi setiap orang Kristen adalah untuk terus berjalan oleh Roh dan tidak kembali berjalan menurut daging.
Untuk menyembah Dia dalam roh dan kebenaran, kita harus memahami bagaimana mengikuti pimpinan Roh dan
berpartisipasi oleh iman. Ini berbeda dengan cara beroperasi daging, yang akan mengejar ‘pengalaman penyembahan
yang baik’ menurut pandangan dan sudut pandang kita sendiri. Ketika Roh memimpin partisipasi kita dalam
penyembahan, kita memiliki kapasitas untuk melayani hidup kepada satu dengan yang lain sementara kita memuliakan
Dia bersama.

93 Gal 5:17 95 Gal 5:20 97 Mat 5:3


94 2Kor 3:9 96 Gal 5:22

12 | Seminar tentang Penyembahan


Kebodohan dari menyembah atribut-atribut Elohim
Alkitab dengan jelas menginstruksikan kita untuk menyembah Tuhan Elohim kita.98 Kita tentu mengasihi dan
menghargai Elohim kita, dan sangat menghargai semua kebaikan-Nya yang diarahkan kepada kita. Namun, akan sangat
bodoh untuk menyembah Elohim secara eksklusif karena atribut-atribut-Nya yang besar dan banyak, dan untuk semua
hasil-hasil yang Dia berikan kepada kita. Penyembahan yang diekspresikan dalam cara ini akan menjadi pelaksanaan
kedagingan agamawi yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan Elohim.

Setiap hari Minggu, kita belajar lebih banyak tentang natur Elohim. Kita memahami bahwa Elohim memiliki banyak
atribut. Atribut-atribut digunakan untuk menggambarkan kualitas-kualitas atau fitur-fitur yang dapat dianggap
sebagai karakteristik utama dari seseorang atau sesuatu. Ketika kita mulai memperhatikan atribut-atribut Elohim,
dengan cepat kita akan menyadari kebaikan, kekudusan, kebenaran, kemahatahuan, kemahakuasaan, kemaha-hadiran-
Nya, dan sebagainya.

Namun, hanya mengevaluasi atribut-atribut dari ke-Elohiman tidak membentuk suatu hubungan dengan Elohim, dan
tentu saja tidak menyatakan bagaimana kita dilahirkan dari hidup-Nya. Kenyataannya, pembelajaran tentang atribut-
atribut Elohim dapat memperkuat perbedaan yang sangat besar antara Elohim sebagai Pencipta yang mahakuasa dan
umat manusia sebagai ciptaan yang inferior. Penyembahan adalah respon relasional (hubungan) kepada Elohim. Kita
tidak dapat mengetahui nilai Elohim, dan tentu saja tidak dapat menyatakan nilai-Nya, tanpa Elohim menyatakan diri-
Nya kepada kita.

Jika kita mengakui dan bahkan memberi nilai kepada atribut-atribut Elohim tanpa hubungan pribadi dengan Dia, kita
berada dalam bahaya akan menggunakan Elohim hanya sebagai sumber bagi kehidupan kita. Ini dapat mempromosikan
suatu harapan bahwa, jika kita melakukan atau mengatakan hal yang benar, kita akan menerima kebaikan dari Elohim.
Namun, ini membatasi Elohim kepada kapasitas kita untuk memahami dan menaati Dia. Pada akhirnya, ini akan
membuat kita menciptakan ilah dari imajinasi kita.

Kita perlu menyingkirkan pola pikir mistik dari penyembahan kita atau kita akan berisiko jatuh ke dalam rasa kagum
dan terpesona kepada Elohim. Sebagai contoh, sepanjang sejarah, kita mengamati usaha umat manusia untuk
menyembah Elohim dan menolong orang lain untuk menghargai atribut-atribut Elohim. Hasil dari usaha semacam itu
dapat diamati di banyak dan berbagai tempat ibadah yang penuh dengan simbol-simbol dan gambar-gambar, bahkan
bangunan-bangunan itu sendiri dirancang untuk menciptakan rasa kagum dan hormat. Dalam masyarakat
kontemporer kita, tempat-tempat ini sering kali digabungkan dengan efek pencahayaan yang spektakuler, dan
tampilan audio/visual yang menakjubkan yang semuanya telah diciptakan untuk memberikan suatu ‘pengalaman’
penyembahan. Hal ini diharapkan untuk menonjolkan kekuatan, keindahan dan misteri Elohim. Lirik-lirik lagu yang
ampuh yang dipoles oleh orang-orang yang sangat profesional bisa membangkitkan perasaan takjub dan kagum akan
atribut-atribut Elohim.

Namun, semua usaha manusia untuk menyembah Elohim ini, tidak membawa seseorang dekat dengan Dia sebagai
Pribadi yang rindu untuk bersekutu. Tidak ada pola pikir mistik dalam hubungan pribadi dengan Elohim. Seperti yang
Yesus Sendiri katakan, ‘Kita menyembah apa yang kita kenal’.99

Kita dapat menjadi yakin bahwa, sebagai anak-anak Elohim, Dia bukan tidak dapat diakses atau terpisah dari kita.
Elohim rindu berhubungan dengan kita. Dia ingin kita dilahirkan dari hidup-Nya dan disatukan dengan Dia dalam satu
Roh.

98 Ul 6:13. Mzm 99. Mat 4:10 99 Yoh 4:22

13 | Seminar tentang Penyembahan


Bernyanyi dan membuat melodi
Kita diinstruksikan dalam Kitab Suci, mengenai penyembahan kita, untuk ‘penuh dengan Roh .... bernyanyi dan
bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (terj. Ing. ‘singing and making melody with your heart to the Lord’ artinya ‘bernyanyi
dan membuat melodi dengan hati kita kepada Tuhan’).100 Inilah cara kita mempersembahkan anggota-anggota tubuh fisik kita
sebagai persembahan kepada Elohim. Ini adalah pelayanan penyembahan rohani kita.101 Bernyanyi dan membuat melodi
terjadi saat kita menyanyi dalam Roh, dan keduanya adalah ekspresi yang datang dari hati kita. Namun, dua hal ini
bukanlah hal yang sama. ‘Bernyanyi dengan hati kita’ artinya mengakui iman kita sesuai dengan firman Elohim.
‘Membuat melodi dengan hati kita’ artinya mengekspresikan nada-nada musik dengan bernyanyi, bersenandung atau
memainkan alat musik. Mari kita lihat bagaimana hal ini bekerja.

Ketika kita berkumpul bersama untuk perjamuan kudus, kita memuji dan menyembah Tuhan dengan menyanyikan
lagu-lagu (paduan suara). Ini adalah bagian dari pengakuan iman yang diekspresikan ketika kita bernyanyi dari hati
kita. Ketika kita memberikan diri kita untuk melafalkan melodi dari lagu-lagu (paduan suara), kita membuat melodi
dengan hati kita kepada Tuhan. Pengakuan iman dan komitmen kita untuk menyuarakan nada musik dengan suara
kita artinya nyanyian Tuhan diekspresikan. Rasa syukur, yang ada dalam hati kita, diartikulasikan/diucapkan oleh
suara kita.102 Selanjutnya, saat kita mengartikulasikan lirik-lirik dari lagu, kita mengakui iman kita sesuai dengan
firman Elohim. Ini karena lirik-lirik itu mengekspresikan firman Elohim yang kita terima, dan kepadanya kita
berkomitmen/memberikan diri. Kita mengakui iman kita untuk menjadi anak Elohim yang Bapa telah namai untuk kita
jadi. Ketika kita menyanyikan lirik dan menyuarakan melodi lagunya, kita bernyanyi dan membuat melodi dengan hati
kita.

Orang-orang yang memainkan lagu-lagu dengan alat musik mereka melakukan hal yang sama. Ketika mereka
menyuarakan melodi dari lagu yang tertulis pada alat musik mereka, mereka mengekspresikan melodi dalam pujian
kepada Tuhan dari hati mereka. Para pemain musik membuat suara yang manis bagi Tuhan; ini adalah realitas rohani.
Dan ini karena mereka membunyikan melodi pada alat musik mereka; ini juga adalah realitas alamiah dari meniup udara
melalui tabung kuningan. Nyanyian Tuhan hanya diartikulasikan jika mereka berkomitmen untuk meniup udara
melalui terompet mereka atau menggesek biola mereka. Dalam tindakan yang sama, mereka juga bernyanyi dengan hati
mereka kepada Tuhan. Ini karena iman yang mereka terima oleh firman Elohim diekspresikan oleh kata-kata dari lagu
tersebut. Ketika setiap orang membuat melodi pada alat musik mereka, mereka mengambil tanggung jawab untuk
memberikan diri mereka dalam persekutuan penyembahan.

Saat kita bernyanyi dalam Roh secara bersama, setiap anggota berpartisipasi dengan bernyanyi dalam bahasa roh,
bernyanyi dalam bahasa Inggris/Indonesia atau hanya dengan bersenandung. Hasilnya adalah ekspresi dari nyanyian
baru, yang Kitab Suci sebut ‘suara desau air bah’.103 Ini bekerja sangat berbeda dengan pemahaman dunia tentang melodi
dan harmoni. Ambil contoh misalnya, lagu pop terbaru yang anda dengarkan. Itu terdiri dari satu melodi dominan yang
dipimpin oleh suara yang kuat, dengan alat-alat musik dan suara-suara yang menyertainya untuk mendukung
melodinya. Nyanyian baru dalam tubuh Kristus tidak bekerja dengan cara semua orang mencoba untuk ‘cocok’ dengan
melodi yang terkuat atau yang paling dominan. Sebaliknya, itu adalah suara dari banyak melodi. Harmonisasi bersama
dicapai oleh setiap anggota yang dengan yakin menyanyikan melodi yang unik yang melimpah dari hati mereka. Oleh
Roh, melodi yang dibuat setiap orang akan dalam harmoni dengan satu nyanyian baru dari seluruh tubuh Kristus.
Setiap melodi yang unik adalah seperti satu aliran air yang kecil yang digabungkan dengan yang lain untuk menjadi
suara desau air bah.

Tidaklah cukup untuk memiliki hati yang penuh dengan iman dan pujian kepada Elohim. Partisipasi kita dalam
penyembahan sangat penting saat kita berkomitmen untuk mengeluarkan suara yang ada di dalam hati kita. Untuk alasan
ini kita mempersembahkan diri kita sebagai persembahan dengan bernyanyi dan membuat melodi dengan hati kita
kepada Tuhan.

100 Ef 5:18-19 102 Mat 12:34-35


101 Rm 12:1 103 Why 19:6

14 | Seminar tentang Penyembahan


Bernyanyi dalam satu suara
Kita membaca dalam kitab Amos, ‘Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji (sepakat)?’104 Rasul
Paulus berkata bahwa ketika orang Kristen berjalan oleh Roh, perjalanan ziarah mereka bersama adalah persekutuan
dalam Roh.105 Dalam artikel ini, kita mengajukan pertanyaan, ‘Dapatkah kita bernyanyi dalam satu suara bersama, kecuali
kita sepakat bersama dalam Roh?’ ‘Satu suara’ mengacu kepada kesatuan Roh yang diekspresikan oleh keberagaman
partisipasi dari setiap anggota tubuh Kristus.106 Suara yang harmonis dari banyak orang yang menyanyikan nyanyian
Tuhan digambarkan dalam Kitab Suci sebagai ‘bersama-sama (terj. Ing. ‘one accord’ artinya ‘satu suara’).107 Ketika kita
berkumpul bersama sebagai suatu jemaat, kita tidak dapat berlanjut untuk menyembah bersama dalam roh tanpa kita
sepakat bersama di dalam Roh.

Yesus menggambarkan ‘penyembah-penyembah yang benar’ ketika Dia berkata, ‘Elohim itu Roh dan barangsiapa
menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran’.108 ‘Menyembah dalam kebenaran’ menggambarkan
partisipasi kita dalam nyanyian Tuhan sebagai ekspresi dari pengudusan nama kita. Seseorang hanya dapat menyembah
Elohim jika mereka menerima pendefinisian Elohim tentang siapa mereka. Kita dapat bersekutu dalam satu roh dengan
Tuhan dan satu dengan yang lainnya ketika setiap orang berfungsi dalam pengudusan mereka. ‘Menyembah dalam roh’
menggambarkan partisipasi kita dalam penyembahan sebagai penundukan kepada pimpinan Roh Kudus, dan bukan
suatu ekspresi dari daging kita. Kitab Suci menggambarkan penyembahan yang dimotivasi oleh daging sebagai ‘gong
yang berkumandang’ atau ‘canang yang gemerincing’.109 ‘Berkumandang (bising)’ atau ‘gemerincing (bunyi dentang)’
dari motivasi daging mengacu kepada segala usaha untuk menyembah Elohim dengan menggunakan liturgi, aturan,
pola, musik yang dirancang untuk membangkitkan respon-respon emosional dan sebagainya. Pengganti-pengganti dari
penyembahan yang benar ini menyebabkan disonansi (ketidakharmonisan/hiruk-pikuk) dalam roh, karena ini semua
menolak pimpinan Roh Kudus.

Ketika kita tunduk kepada inisiatif Roh Kudus, Dia memimpin kita dalam satu suara agar penyembahan kita disatukan
kepada inisiatif Anak, yang bernyanyi di tengah-tengah kita.110 Rasul Paulus berkata bahwa, ketika kelompok orang
percaya bernyanyi dalam satu suara, mereka bernyanyi ‘dengan satu suara memuliakan Elohim’.111 Sebaliknya,
partisipasi yang menciptakan ketidakharmonisan adalah setiap nada yang dibunyikan menurut daging.112 Ketika kita
dimotivasi oleh daging, partisipasi kita adalah ekspresi independen yang bertentangan dengan Roh. Sebagai contoh,
kita mungkin mengacaukan penyembahan dan pelayanan tubuh sebagai kesempatan untuk memohon kepada Tuhan
untuk mendapatkan jawaban atas kebutuhan, motivasi-motivasi dan agenda-agenda pribadi. Sebaliknya, saat kita
berkumpul bersama, pelaksanaan utama kita adalah mengikuti pimpinan Roh Kudus. Ketika kita melakukannya, kita
dapat berlanjut untuk melayani dan menyatakan inisiatif Kristus di tengah-tengah kita.

Suara dari setiap anggota tubuh Kristus yang menyembah dalam satu suara disebut ‘suara desau air bah’ (Bhs. Ing. ‘sound
of many waters’ artinya ‘suara dari banyak air’).113 Suara dari banyak air menggambarkan satu suara Tuhan. Jika kita
memperhatikan anatomi tubuh manusia, kita melihat bahwa beberapa bagian tubuh bekerja bersama untuk
membunyikan satu suara. Seseorang hanya memiliki satu suara, atau ekspresi vokal, pada setiap waktu. Demikian juga,
suara dari banyak air adalah kombinasi partisipasi dari setiap anak Elohim yang dikuduskan, yang bernyanyi menurut
satu inisiatif dari Roh Kudus. Dengan cara ini, suara dari banyak air adalah satu suara yang mengartikulasikan pikiran
Kristus.

Suara harmonis dari banyak air melampaui hukum-hukum fisika dan frekuensi. ‘Suara’ adalah realitas rohani,
menemukan ekspresi temporal (sementara) di dalam ciptaan fisik, seperti kunci-kunci musik dan suara dasar.
Hebatnya, dimensi penyembahan ini tersedia bagi kita dalam setiap perkumpulan perjamuan khusus. Ketika ekspresi
keberagaman dari nyanyian kita disatukan dalam kesatuan oleh Roh, satu suara dan pikiran Tuhan dapat didengar di
tengah-tengah kita.

104 Amo 3:3 108 Yoh 4:24 112 Gal 5:17


105 Gal 5:25 109 1Kor 13:1 113 Why 1:15
106 Ef 3:10 110 Ibr 2:12
107 Kis 4:24 111 Rm 15:6

15 | Seminar t entang Penyembahan


Bernyanyi di dalam Roh
Bernyanyi dalam Roh – ‘nyanyian baru’ – merupakan bagian yang sangat penting dari penyembahan korporat kita. Itu
menyatukan kita kepada persekutuan Yahweh. Anak rindu untuk bernyanyi di tengah-tengah jemaat dalam
penyembahan kepada Bapa dan Roh Kudus.114 Nyanyian baru adalah nyanyian unik yang Anak Sendiri nyanyikan di
tengah-tengah kita. Yohanes menggambarkan nyanyian-Nya sebagai ‘suara desau air bah (suara dari banyak air)’.115 Ini
menggambarkan nyanyian dari banyak anggota tubuh-Nya ketika kita mempersembahkan pujian dan penyembahan.
Itu adalah satu nyanyian, tetapi itu mengandung semua keberagaman dari bagian-bagian individu tubuh Kristus.116
Ketika Kristus menyembah Bapa melalui kita, kita mempersembahkan korban persembahan rohani dari penyembahan
kita kepada Elohim. Ketika kita bernyanyi dalam Roh, kita menerima iluminasi dan pengertian tentang pikiran Roh
dan karunia-karunia rohani yang Dia impartasikan.

Untuk bernyanyi dengan roh, kita harus datang dengan rendah hati di hadapan Tuhan, rindu untuk bersatu dalam
persekutuan penyembahan Mereka. Kita menerima kapasitas untuk menyembah ketika kita dilahirkan dari Roh.
Dengan baptisan Roh Kudus, kita dimampukan untuk berdoa dalam Roh dan juga untuk menyanyi di dalam Roh.117
Ketika kita terus dipenuhi dengan Roh, kita mampu bernyanyi dan membuat melodi dalam hati kita kepada Tuhan. 118
Dia memberikan kita hati yang mengasihi untuk bersekutu bersama di dalam satu Roh. Ketika kita berekspresi dengan
suara kita yang memenuhi hati, kita dapat berpartisipasi bersama dalam harmoni yang sejati. 119

Hal ini diartikulasikan sebagai melodi unik yang meluap dari hati setiap anak Elohim. Masing-masing anggota
bernyanyi dalam pengudusan dari nama dan fungsi unik mereka dalam tubuh Kristus. Saat setiap individu mulai
menyuarakan nada, mengekspresikan nyanyian unik mereka di dalam Roh, nafas dari Roh mulai bergerak atas jemaat.
Yesus berkata tentang orang-orang yang lahir dari Roh, ‘Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar
bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap
orang yang lahir dari Roh.’120 Pengurapan dari Roh ini memampukan kita untuk mengetahui bagaimana bersatu dengan
pimpinan-Nya sementara Dia mulai berbicara kepada setiap individu tentang apa yang dapat mereka kontribusikan
dalam nyanyian atau firman.

Saat kita berkumpul, beberapa anggota memiliki nama dan fungsi tertentu untuk memimpin jemaat dalam nyanyian
rohani. Ketika orang-orang ini mempersembahkan diri mereka oleh pimpinan Roh Kudus, diaken-diaken yang menilik
yang memimpin pelayanan tubuh akan mengatur mereka dalam nyanyian-nyanyian spesifik – nyanyian-nyanyian yang
naik, nyanyian-nyanyian yang turun dan nyanyian-nyanyian nubuatan. Seseorang yang menyanyikan nyanyian yang
naik, memimpin kita ke depan dalam penyembahan rohani. Seseorang yang menyanyikan nyanyian yang turun, menarik
kita ke dalam persekutuan penyembahan sesuai dengan pikiran Roh. Seseorang yang menyanyikan nyanyian nubuatan,
mengekspresikan apa yang Kristus katakan secara langsung untuk mencapai apa yang Dia rindukan.

Nyanyian baru adalah nyanyian unik yang Kristus Sendiri nyanyikan di tengah-tengah kita. Itu adalah ekspresi murni
dari kesatuan Roh dengan keberagaman ekspresi dari setiap Anggota Elohim. Saat kita bernyanyi dengan iluminasi dari
Roh, kita mempersembahkan korban rohani dari penyembahan kita kepada Elohim. Selanjutnya, kita mengetahui
pikiran dari Roh tentang keragaman dari karunia-karunia rohani yang Dia impartasikan.

114 Ibr 2:12 117 1Kor 14:15 120 Yoh 3:8


115 Why 1:15-16 118 Ef 5:18-19
116 Rm 15:7. Rm 12:4-5 119 Luk 6:45

16 | Seminar tentang Penyembahan