Anda di halaman 1dari 6

PENGORGANISASIAN

INFORMASI/PENGETAHUAN DALAM INGATAN


MANUSIA

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi Tugas Akhir Modul 3: Teori Belajar dan Pembelajaran

Oleh :
Dina Darojatun, S.Pd
19021102710755

PENDIDIKAN PROFESI GURU


UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses berpikir merupakan proses yang kompleks dan tidak dapat dilihat secara
langsung bagaimana otak bekerja dan informasi di olah. Informasi yang diterima melalui alat
indera akan dipersepsikan oleh bagian-bagian yang berfungsi secara khusus untuk kemudian
dikirim ke otak. Berpikir juga dapat dikatakan sebagai proses pengorganisasian informasi dalam
ingatan. Berpikir mencakup banyak aktivitas mental. Berpikir dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) diartikan sebagai menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan
memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan.
Teori pemrosesan informasi didasari oleh asumsi bahwa pembelajaran merupakan
faktor yang sangat penting. Dalam proses pembelajaran terjadi adanya proses informasi
kemudian diolah sehingga menciptakan suasanya yang terencana, dan suasana pembelajaran
yang mendukung (Ellen, 2016:225). Teori pemrosesan informasi ini merupakan teori kognitif
tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali
pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang
memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena
itu perlu menerapkan model pembelajara tertentu yang dapat memudahkan semua informasi
diproses dalam otak melalui beberapa indera.
Betapapun kuatnya ingatan seseorang pada suatu waktu kemudian ingatan itu akan
mengalami suatu proses kelupaan. Ingatan pada suatu ketika tidak dapat lagi menghadirkan
suatu keterangan yang diperlukan karena lupa. Kelupaan terjadi karena tiada penggunaan. Hal
ini dijelaskan dalam teori memudar pasif (passive decay theory) bahwa ingatan membuat jejak
fisik dalam otak seseorang yang lama-lama terhapus dengan berlalunya waktu. Kelupaan dapat
dikurangi dengan meningkatkan kemampuan mengingat, sehingga informasi yang diterima
maupun yang telah tersimpan dalam ingatan dapat bertahan lebih lama.
Seperti yang kita ketahui bahwa memori/ingatan sangat penting dalam kehidupan
manusia. Dengan adanya memori, kita menggunakan konsep waktu dengan menghubungkan
masa sekarang dengan pengalaman di masa lalu untuk harapan di masa depan. Hal ini
menunjukkan betapa pentingnya kita mengenal memori yang dalam hal mana juga sangat
penting dalam pembelajaran
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa maksud dari organisasi dan pengorganisasian?
2. Apa maksud dari informasi/pengetahuan?
3. Apa maksud dari ingatan manusia?
4. Bagaimana hubungan pengorganisasian informasi/pengetahuan ingatan manusia?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah
1. Mengetahui arti organisasi dan pengorganisasian.
2. Mengetahui arti informasi/pengetahuan.
3. Mengetahui arti ingatan manusia.
4. Mengetahui hubungan pengorganisasian informasi/pengetahuan ingatan manusia.

D. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Memori Manusia
B. Pengorganisasian Informasi dalam Ingatan Manusia
BAB III SIMPULAN
A. Kesimpulan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Memori manusia
Penerapan teori pengolahan informasi dalam belajar berasumsi bahwa meemori manusia itu
suatu sistem yang aktif, yang mampu menyeleksi, mengorganisasi dan mengubah menjadi
suatu sandi-sandi informasi dan keterampilanbagi penyimpananya untuk di pelajari. Dalam hal
ini individu diartikan sebagai suatu objek yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan suatu
penyleksian, pengorganisasian danpengubahan terhadap informasi yang di dapat menjadi
suatu sandi-sandi yang berguna untuk memudahkan individu dalam proses belajar yang akan
dijalani dirinya.
Mengenai hal di atas, para ahli kognitif juga berasumsi bahwa belajar yang berhasil
sangat bergantung pada tindakan belajar daripada hal-hal yang ada di lingkungannya. Ini
menunjukan bahwa dalam proses belajar ini tindakan dari peserta didik adalah hal utama yang
mempengaruhi terhadap hasil belajar yang akan di capai dari peserta didik, dalam hal ini
menyangkut aspek perubahan perilaku seperti: aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Komponen belajar menurut teori pengolahan informasi seperti yang telah dijelaskan
pada pembahasan di atas, bahwakomponen belajar adalah perhatian yang ditujukan pada
stimulus, pengkodean stimulus, dan penyimpanan dan mendapatkan kembali (retrival). Atas
dasar komponen dasar tersebut, selanjutnya hal yang esensial dari pembelajaran yaitu (a)
membimbing untuk menerima stimulus, (b) memperlancar pengkodean, (c) memperlancar
penyimpanan dan retrieval. Ketiganya merupakan kesatuan yang harus dilakukan secara
berurutan dan akan selalu mempengaruhi hasil yang akan oleh peserta didik.
Membimbing peserta didik untuk penerimaan stimulus dapat dilakukan pendidik dengan
(1) memusatkan perhatian ke stimulus-stimulus tertentu yang di pilih. Dalam hal ini pendidik
akan memberikan perhatian khusus terhadap siswa mengenai stimulus-stimulus yang akan
dipilih. Jadi dengan demikian siswa/peserta didik akan lebih terkosentrasi pada stimulus yang
telah ditentukan. (2) Mengenali secara awal stimulus dengan kode-kode tertentu. Dalam
pengenalan awal stimulus melalui pengkodean yaitu bagaimana individu mengubah stimulus
yang ada sehingga dapat di simpan dan pada waktu yang lain dapat dimunculkan kembali
dengan mudah. Dalam pengkodean ini akan terjadi proses pengulangan dan menghubungkan
dengan informasi lama yang sudah tertanam dalam memori manusia.
B. Pengorganisasian Informasi dalam Ingatan Manusia
Pengolahan informasi merupakan perluasan dari bidang kajian ranah psikologi kognitif.
Ranah psikologi kognitif ini sebagai upaya untuk memahami mekanisme dasar yang mengatur
cara berpikirnya orang (Anderson, 1980). Teori pengolahan informasi memiliki suatu perbedaan
dengan teori belajar yaitu pada derajat penekanan pada soal belajar. Berdasarkan temuan riset
linguistik, psikologi, antropologi dan ilmu komputer, maka dikembangkanlah model berpikir.
Pusat kajiannya pada proses belajar dan menggambarkan cara individu memanipulasi simbol
dan memproses informasi.
Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information
processing, karena dalam proses belajar ini tersedia 3 (tiga) taraf struktural sistem informasi,
yaitu:
a) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi
hanya disimpan untuk periode waktu terbatas.
b) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di
sini berlangsung berpikir yang sadar.
c) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu
menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik.
Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau
pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan
informasi ke dalam long-term memory (materi memory atau ingatan) dan strategi umum
pemecahan masalah (materi kreativitas).
Menurut Schermerhorn (1996:218), Pengorganisasian adalah proses mengatur orang-
orang dan sumber daya lainnya untuk bekerja ke arah tujuan bersama. Dalam
pengorganisasian, penyusunan struktur organisasi merupakan hal yang sangat penting agar
setiap orang yang berada dalam organisasi tersebut mengetahui dengan jelas tugas atau
pekerjaan, tanggung jawab, hak dan wewenang mereka.
Pengorganisasian atau Organizing adalah suatu proses untuk penentuan,
pengelompokkan, pengaturan dan pembentukan pola hubungan kerja dari orang-orang untuk
mencapai tujuan organisasinya.
Pengorganisasian atau penataan informasi di dalam memori kita, maka kita akan
terbantu dalam mengingat dan menghadirkannya kembali. Strategi penataan memori yang baik,
yakni dengan mengelompokkan atau “mengepak” informasi menjadi unit-unit “higher
order” yang dapat diingat sebagai satu unit tunggal disebut juga dengan chunking.
Chunking dilakukan dengan membuat sejumlah besar informasi menjadi lebih mudah dikelola
dan lebih bermakna.
BAB III
SIMPULAN

A. Kesimpulan
Pemrosesan informasi di dalam pikiran berlangsung terus-menerus selama adanya
informasi baru yang masuk dalam pikiran. Psikologi pemrosesan informasi memfokuskan pada
struktur pengetahuan dan pada mekanisme dimana pengetahuan dimanipulasi, ditransformasi
dan dihasilkan dari proses beberapa pemecahan masalah. Stimulus yang masuk melalui
pancaindra diterima oleh sensory memory. Sensory memory menyimpan semua informasi
sensorik (visual, pendengaran, penciuman, dan haptic) untuk periode yang sangat singkat
dalam bentuk sensoriknya yang mentah.
Melalui perhatian yang selektif (selective attention) informasi dipindahkan ke dalam
kesadaran dan memori jangka pendek (short term memory), sedangkan informasi yang tidak
lolos attention dilupakan. Hubungan antara memori jangka pendek dan memori kerja (working
memory) masih belum jelas namun diibaratkan jika memori jangka pendek adalah memori
sadar maka maka memori kerja adalah setara dengan catatan post-it. Selanjutnya dengan
rehearsal dan encoding informasi yang telah dipelajari disimpan di memori jangka panjag (long
term memory).
Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang
menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi
untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini lebih
memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik.Faktor-faktor Ingatan (Memori) yaitu faktor
individu, faktor sesuatu yang harus di ingat adalah sesuatu yang memiliki organisasi dan
struktur yang jelas, mempunyai arti, mempunyai keterkaitan dengan individu, mempunyai
intensitas rangsangan yang cukup kuat dan faktor lingkungan.Kemampuan Memori dapat
meningkatkan pengulangan/rekan, hubungan dengan hal-hal lain.