Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan bahwa hampir
separuh penduduk Indonesia mengalami karies gigi. Makanan kariogenik
merupakan faktor penyebab utama terjadinya karies gigi bersamasama dengan
faktor mikroorganisme, gigi (host) dan waktu. Karbohidrat adalah bahan yang
sangat kariogenik. Gula yang terolah seperti glukosa dan terutama sekali
sukrosa sangat efektif menimbulkan karies karena akan menyebabkan turunnya
pH saliva dibawah 5.5 secara drastis dan akan memudahkan terjadinya
demineralisasi. Gula sukrosa mempunyai kemampuan yang lebih efisien
terhadap pertumbuhan mikroorganisme asidogenik dibanding jenis karbohidrat
lain. Selain itu, defisiensi beberapa vitamin dan mineraljuga mendorong
terjadinya karies pada gigi seperti defisiensi vitamin A, B, C, dan D, kalsium,
fosfor fluor dan zinc. Oleh karena itu, tindakan pencegahan diperlukan melalui
tahapan primer, sekunder dan tersier.
Karies gigi dan penyakit periodontal sangat sering dijumpai di Indonesia
dan termasuk masalah gigi dan mulut yang paling banyak di Indonesia. Jika
dibandingkan berdasarkan umur, golongan umur muda terindeksi karies gigi
lebih banyak daripada umur 45 tahun ke atas, umur 10-24 tahun berada di angka
66,8-69,5% untuk karies gigi sedangkan umur 45 tahun ke atas berada di angka
53,3% dan umur 65 tahun ke atas sebanyak 43,8%. Maka dapat disimpulkan
angka kejadian karies gigi lebih banyak terdapat pada golongan usia produktif
(Depkes, 2000).Penduduk Indonesia yang mengalami karies gigi pada survei
Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010 menunjukan prevalensi
sebesar 80%-90% dan diantaranya terdapat golongan anak. Sementara pada
Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukan angka 30% untuk
masyarakat Indonesia yang mengalami karies gigi. Dikarenakan banyaknya
kejadian inilah yang akhirnya menyebabkan masyarakat Indonesia
menganggapnya suatu hal yang biasa dan lebih memilih untuk

1
mengabaikannya. Padahal semakin karies gigi diabaikan, justru akan menjadi
semakin parah kasus penyakitnya dan akan mengakibatkan efek yang lebih
besar seperti nyeri, gigi tanggal, infeksi bahkan kematian.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Karies Gigi


Karies gigi adalah suatu penyakit pada jaringan keras gigi dimulai dari
permukaan gigi meluas ke arah pulpa. Kerusakan terjadi pada struktur gigi
seperti email, dentindan sementum disebabkan oleh aktifitas metabolisme
bakteri dalam plak yang berasal dari makanan. Kerusakan jaringan keras gigi
disebabkan oleh proses demineralisasi bagian organik dan penghancuran
komponen-komponen organik gigi karena adanya sisa makanan (karbohidrat)
yang dapat difermentasikan menjadi masa yang asam.
2.2 Faktor Risiko Karies Gigi
Karies gigi merupakan penyakit periodontal yang dapat menyerang seluruh
lapisan masyarakat. Etiologi karies bersifat multifaktorial, sehingga
memerlukan faktor-faktor penting seperti host, agent, mikroorganisme, substrat
dan waktu, serta defisiensi vitamin.
a. Mikroorganisme
Mikroorganisme sangat berperan menyebabkan karies.
Streptococcus mutans dan Lactobacillus merupakan 2 dari 500 bakteri yang
terdapat pada plak gigi dan merupakan bakteri utama penyebab terjadinya
karies. Plak adalah suatu massa padat yang merupakan kumpulan bakteri
yang tidak terkalsifikasi, melekat erat pada permukaan gigi, tahan terhadap
pelepasan dengan berkumur atau gerakan fisiologis jaringan lunak. Plak
akan terbentuk pada semua permukaangigi dan tambalan,
perkembangannya paling baik pada daerah yang sulit untuk dibersihkan,
seperti daerah tepi gingival, pada permukaan proksimal, dan di dalam fisur.
Bakteri tersebut akan memfermentasi sukrosa menjadi asam laktat yang
sangat kuat sehingga mampu menyebabkan demineralisasi.
b. Gigi(Host)
Morfologi setiap gigi manusia berbeda-beda, permukaan oklusal
gigi memiliki lekuk dan fisur yang bermacam-macam dengan kedalaman

3
yang berbeda pula. Gigi dengan lekukan yang dalam merupakan daerah
yang sulit dibersihkan dari sisasisa makanan yang melekat sehingga plak
akan mudah berkembang dan dapat menyebabkan terjadinya karies gigi.
Karies gigi sering terjadi pada permukaan gigi yang spesifik baik pada gigi
susu maupun gigi permanen. Gigi susu akan mudah mengalami karies pada
permukaan yang halus sedangkan karies pada gigi permanen ditemukan di
permukaan pit dan fisur.
c. Makanan
Peran makanan dalam menyebabkan karies bersifat lokal, derajat
kariogenik makanan tergantung dari komponennya. Sisa-sisa makanan
dalam mulut (karbohidrat) merupakan substrat yang difermentasikan oleh
bakteri untuk mendapatkan energi. Sukrosa dan gluosa di metabolismekan
sedemikian rupa sehingga terbentuk polisakarida intrasel dan ekstrasel
sehingga bakteri melekat pada permukaan gigi. Selain itu sukrosa juga
menyediakan cadangan energi bagi metabolism kariogenik. Sukrosa
olehbakterikariogenik dipecah menjadi glukosa dan fruktosa, lebih lanjut
glukosa ini dimetabolismekan menjadi asam laktat, asam format, asam sitrat
dandekstran.
d. Waktu
Karies merupakan penyakit yang berkembangnya lambat dan
keaktifannya berjalan bertahap serta merupakan proses dinamis yang
ditandai oleh periode demineralisasi dan remineralisasi. Kecepatan karies
anak-anak lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan kerusakan gigi
orang dewasa.
e. Defisiensi Vitamin dan Mineral
Vitamin dan mineral berpengaruh pada proses terjadinya karies gigi,
terutama pada pembentukan gigi, vitamin-vitamin yang beipengaruh adalah
vitamin A, B, C, dan D sedangkan mineral yaitu kalsium,fosfor dan fluor
dan zinc. Kekurangan vitamin A akan merusak pembentukan email dan
dentin, kekurangan vitamin B, menyebabkan karies meninggi, kekurangan
vitamin C menyebabkan degenerasi odontoblast, dan kekurangan vitamin D

4
akan mengakibatkan hipoplasia enamel dan dentin. Kekurangan mineral
kalsium dan fosfor dapat berakibat terjadinya hipoplasia enamel,
kekurangan flour dan zinc meningkatkan resiko karies.
2.3 Kalsifikasi Karies Gigi
Klasifikasi karies gigi berdasarkan kedalaman karies:
a) Karies Superfisialis
Karies hanya mengenai enamel, dentin belum terkena.

Gambar 1: Karies email

b) Karies Media
Karies sudah mengenai dentin, tetapi belum melebihi setengah
dentin.

Gambar 2: Karies Media

5
c) Karies Profunda
Karies sudah mengenai lebih dari setengah dentin dan kadang sudah
mengenai pulpa.

Gambar 3: Karies Profunda

Karies bisa diklasifikasikan berdasarkan stadium:


a) Karies Inspiens, ketika karies baru terjadi pada lapisan terluar yang paling
keras pada gigi yaitu permukaan enamel. Pada fase ini hanya terjadi
perubahan warna kecokelatan pada enamel gigi.
b) Karies Superficialis, ketika karies mencapai bagian dalam enamel gigi
namun belum sampai ke bagian yang lebih dalam. Terkadang terasa sakit.
c) Karies Media, ketika karies sudah mengenai dentin atau pertengahan antara
enamel dan pulpa namun belum melebihi setengah dari dentin. Biasanya
terasa sakit jika terkena rangsangan
d) Karies profunda, ketika karies sudah mencapai lebih dari setengah dentin
dan sudah menyebar hingga pulpa. Biasnaya terasa sakit mendadak tanpa
rangsangan dan juga ketika makan.

2.4 Patogenesis Karies Gigi


Karies gigi dimulai dengan kerusakan pada email yang dapat berlanjut ke
den6tin. Untuk dapat terjadinya suatu proses karies pada gigi dibutuhkan empat
faktor utama yang harus saling berinteraksi yaitu faktor host, aget, substrat dan

6
waktu. Mekanisme terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak beserta
bakteri penyusunnya. Dalam proses terjadinya karies, mikroorganisme
lactobacillus dan streptococcus mempunyai peranan yang sangan besar. Proses
karies dimulai oleh streptococcus dengan membentuk asam sehingga
menghasilkan pH yang lebih rendah. Penurunan pH tersebut mendorong
laktobacillus untuk memproduksi asam dan menyebabkan terjadinya proses
karies.
Streptococcus memiliki sifat-sifat tertentu yang memungkinkannya
memegang peranan utama dalam proses karies gigi, yaitu memfermentasi
karbohidrat menjadi asam sehingga mengakibatkan pH turun, membentuk dan
menyimpan polisakarida intraseluler dari berbagai jenis karbohidrat, simpanan
ini dapat dipecahkan kembali oleh mikroorganisme tersebut bila karbohidrat
eksogen kurang sehingga dengan demikian menghasilkan asam terus menerus.
Proses karies gigi diperkirakan sebagai perubahan dinamik antara tahap
demineralisasi dan remineralisasi. Proses demineralisasi merupakan proses
hilangnya sebagian atau keseluruhan dari kristal enamel. Demineralisasi terjadi
karena penurunan pH oleh bakteri kariogenik selama metabolisme yang
menghasilkan asam organik pada permukaan gigi dan menyebabkan ion
kalsium, fosfat dan mineral yang lain berdifusi keluar enamel membentuk lesi
di bawah permukaan. sedangkan proses demineralisasi adalah proses
pengembalian ion-ion kalsium dan fosfat yang terurai ke luar enamel atau
kebalikan reaksi demineralisasi dengan penumpatan kembali mineral pada lesi
dibawah permukaan enamel. Remineralisasi terjadi jika asam pada plak
dinetralkan oleh saliva, sehingga terjadi pembentukan mineral baru yang
dihasilkan oleh saliva seperti kalsium dan fosfat menggantikan mineral yang
telah hilang dibawah permukaan enamel. Proses remineralisasi dan
demineralisasi terjadi secara bergantian didalam rongga mulut selama
mengkonsumsi makanan dan minuman. Lesi awal karies dapat mengalami
remineralisasi tergantung pada beberapa factor diantaranya diet, penggunaan
fluor dan keseimbanhan pH saliva. Jika lapisan tipis enamel masih utuh, lesi
awal karies akan mengalami remineralisasi sempurna. Sebaliknya, jika lapisan

7
enamel rusak maka proses remineralisasi tidak dapat terjadi secara sempurna
dan gigi harus direstorasi. Jika lesi awal karies mengalami demineralisasi terus-
menerus, maka lesi akan berlanjut ke dentin membentuk kavitas yang tidak
dapat kembali normal (irreversibel), tetapi mungkin juga tidak berkembang
(arrested).
2.5 Diagnosis Karies Gigi
Diagnosis karies diperlukan untuk mengetahui kerentanan seseorang
terhadap karies, aktivitas karies , dan risiko karies dan untuk menentukan jenis
terapi.
a. Karies Dini/karies email tanpa kavitas yaitu karies yang pertama terlihat
secara klinis, berupa bercak putih setempat pada email. Anamnesis pada
karies email tanpa kavitas adanya bintik putih pada gigi. Terapi yang
dilakukan dengan pembersihan gigi, diulas dengan flour, edukasi
pasien.
b. Karies dini/karies email dengan kavitas yaitu karies yang terjadi pada
email sebagai lanjutan dari karies dini. Anamnesa pada pasien
dirasakannya gigi yang terasa ngilu. Terapi dengan penambalan.
c. Karies dengan dentin terbuka/dentin hipersensitif yaitu peningkatan
sensitiftas karena terbukanya dentin. Anamnesa pada pasien kadang-
kadang rasa ngilu waktu kemasukan makanan, saat minum dingin, asam
dan asin dan biasanya rasa ngilu hilang setelah rangsangan dihilangkan,
rasa sakit harus karena adanya rangsangan, tidak sakit secara spontan.
Terapi dengan penambalan.
d. Pulpitis reversibel/hiperemi pulpitis/pulpitis awal yaitu peradangan
pulpa awal sampai sedang akibat rangsangan. Anamnesa biasanya
pasien nyeri bila minum panas, dingin, asam dan asin, nyeri tajam
singkat tidak spontan, tidak terus menerus, rasa nyeri lama hilangnya
setelah rangsangan dihilangkan. Terapi dengan penambalan /pulp cafing
dengan penambalan Ca(OH) ± 1 minggu untuk membentuk sekunder
dentin.
e. Pulpitis irreversibel yaitu radang pulpa ringan yang baru dapat juga yang

8
sudah berlangsung lama.
Pulpitis irreversibel terbagi :
 Pulpitis irreversibel akut yaitu peradangan pulpa lama atau baru
yangditandai dengan rasa nyeri akut yang hebat. Anamnesa
nyeri tajam spontan yang berlangsung terus-menerus menjalar
kebelakang telinga, biasanya penderita tidak dapat menunjukkan
gigi yang sakit. Terapi bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit
dengan perawatan saluran akar.
 Pulpitis irreversibel kronis yaitu Peradangan pulpa yang
berlangsung lama. Anamnesa, gigi sebelumnya pernah sakit,
rasa sakit dapat hilang timbul secara spontan, nyeri tajam
menyengat, bila ada rangsangan seperti panas, dingin, asam,
manis, dan penderita masih bisa menunjukkan gigi yang sakit.
2.6 Pencegahan Karies Gigi
Pencegahan karies gigi dapat dilakukan dalam tiga tahap yaitu tahap
pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer bertujuan untuk
rnencegah terjadinya penyakit dan mempertahankan keseimbangan fisiologis.
Pencegahan sekunder bertujuan untuk mendeteksi karies secara dim dan
intervensi untuk rnencegah berlanjutnya penyakit. Pencegahan tersier ditujukan
untuk rnencegah meiuasnya penyakit yang akan menyebabkan hilangnya fungsi
pengunyahan dan gigi
a. Pencegahan primer (Drummond)
1) Pencegahan primer dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu
modifikasi diet untuk rnencegah terjadinya karies gigi maka perlu
dilakukan modifikasi diet melalui berbagai cara,yaitu :
 Mengganti gula sintetik sepertisa ccharine dan aspartame serta
gula alkohol banyak digunakan pada makanan untuk
mengurangi karies. Gula sintetik dan gula alkohol bersifat
noncariogenic. Contoh dari gula alkohol adalahxylitol,
sorbitoldanmaltitol. Xylitol merupakan bentuk alcohol dari
xylose dan merupakan pengganti gula yang paling baik karena

9
bakteri plak tidak bias memetabolisme xylitol dan dapat
mengurangi Streptococcus mutans pada mulut. Penelitian
menyimpulkan bahwa mengunyah permen karet sorbitol setelah
makan dapat mengurangi terjadinya karies gigi secara
signifikan. Sorbitol secara alami terdapat pada buah-buahan dan
sayur- sayuran. Maltitol merupakan bentuk alkohol dari
mannose. Secara alami terdapat pada nenas, asparagus, kentang
dan wortel.
 Mengurangi mengkonsumsi makananyang manis dan asam.
 Mengurangi konsurnsi snack yang mengandung karbohidrat
sebelurntidur.
 Mengkombinasikan makanan, seperti memakan makanan manis
setelah makanprotein dan lemak atau setelah konsurnsi keju
setelah memakan makanan yang manis.
 Kombinasikanmakanan mentah dan renyah yang dapat
menstimulasi saliva dengan makanan yang dimasak.
 Buah-buahan yang asam dapat menstimulasi produksi saliva.
 Membatasi meminum minuman yang manis.
2) Pemakaian fluor. Fluor berfungsi menghambat enzim pembentukan
asam oleh bakteri, menghambat kerusakan email lebih lanjut, serta
membantu remineralisasi pada lesi awal karies. Fluor dapat
diberikan dalam bentuk fluoridasi air minum, pasta gigi,obat
kumur,dantablet fluor.
3) Pit dan fissure sealant. Pit danfissure sealant yaitu penutupan pit dan
fissure yangdalamyangberesiko terhadap karies.
4) Pengendalian plak dapat dilakukan dengan tindakan secara mekanis
yaitu dengan penyikatan gigi dan penggunaan alat-alat bantu lain
seperti benang gigi, tusuk gigi dan sikat interdental serta tindakan
secara kimiawi yaitu dengan menggunakan antibiotik dan senyawa-
senyawa antibakteri lain selain antibiotik.
b. Tahap pencegahan sekunder

10
Tahap pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan pengobatan
dan perawatan gigi dan mulut sertapenambalanpadagigiberlubang.
c. Tahap pencegahan tersier
Pencegahan tersier dilakukan dengan cara perawatan pulpa (akar gigi)
atau melakukan pencabutan gigi.

11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Makanan kariogenik merupakan makanan bersumber karbohidrat yang
terfermentasi dan berperan sebagai pencetus utama terjadinya karies gigi bersama-
sama dengan faktor mikroorganisme, gigi (host) dan waktu. Berdasarkan hasil
survey menunjukkan angka prevalensi karies gigi di Indonesia masih tinggi.
3.2 Saran
Untuk itu diperlukan upaya pencegahan terjadinya karies, baik pencegahan
primer,sekunder dan tertier.

12
DAFTAR PUSTAKA

Litbangkes Depkes RI. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007. Jakarta :


Depkes RI; 2008.
Brown JP and Dodds MWJ. Dental Caries and Associated Risk Factors. In :
Cappelli DP and Mobley CC. Preventionand Clinical Oral Health Care.
Missuori:Mosby Elsevier; 2008.
Ford PJR. Restorasi Gigi Edisi 2. Alih Bahasa : SumawinataN. Jakarta :EGC; 1993.
HouwinkB, et al. Preventive Tandheelkunde atau IlmuKedokteranGigiPencegahan.
Terjemahan : Suryo S.Yogyakarta :UGM; 1993
Sroda R. Nutrition for a Healthy Mouth 2nd Ed. Baltimore : Lippincots Williams
and Wilkins,;2010.
Rosen S. Dental Caries. Philadelphia : Prentice HallInternationalInc; 1991.
Lindhe J. Textbook of Clinical periodontology 2ndEd.Copenhagen: Munksgaard;
1990.
Suwelo SI. Karies pada Anak dengan Pelbagai FaktorEtiologi.Jakarta :EGC; 1992.
Reich E. Caries Risk Assessment. Int. Den.J ;1999,49: 15-2.
Drummond B,et al. Dental Caries and Restoratif Paediatric Dentistry. In ; Cameron
AC and Widmer RP (Eds). Handbook of Paediatric

13