Anda di halaman 1dari 11

Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

Volume 1 No. 2 Maret 2018 Halaman 71– 81

PELESTARIAN WARISAN BUDAYA DI LOCAL STUDIES CENTER


DENGAN PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL
Widiatmoko Adi Putranto
Program Studi Kearsipan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada
widiatmokoputranto@ugm.ac.id

Indah Novita Sari


Program Studi Kearsipan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada
indah.novita.s@mail.ugm.ac.id

Abstract

The massive development of information technology today gives essential impact in


various management practices including the approach of preservation in many cultural
institutions. This paper aims to study how local studies center as one of the cultural
institutions may reconsider new challenges and possibilities in using social media
towards the dynamics of users’ behavior and perspective as one of the approaches to
preserve its collections. Local studies center has numerous collections of information
resources in different forms such as book, archive or even object which are rare, historical
and unique. Besides its positions as cultural heritage, those collections can give valuable
contribution for public benefits. As one of the approaches to support preservation efforts,
local studies center can use social media as one of the mediums to promote its collections.
However, instead of viewing social media usage as a technical concept or reformatting
tool only, its management should be considered as a part of developing interactive
communication and relationship with the users, opening wider access and improving
awareness regarding the existence of cultural heritage.

Keywords: social media, preservation, cultural heritage, promotion, local studies


centre

Intisari

Perkembangan besar-besaran dalam teknologi informasi saat ini memberikan dampak


penting dalam berbagai praktik manajemen termasuk pendekatan pelestarian di
banyak lembaga kebudayaan. Makalah ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana
Local Studies Center sebagai salah satu lembaga kebudayaan dapat mempertimbangkan
kembali tantangan dan kemungkinan baru dalam menggunakan media sosial terhadap
dinamika perilaku dan perspektif pengguna sebagai salah satu pendekatan untuk
melestarikan koleksi. Local Studies Center memiliki banyak koleksi sumber informasi
dalam berbagai bentuk seperti buku, arsip atau bahkan objek yang langka secara
historis dan unik. Selain posisinya sebagai warisan budaya, koleksi tersebut dapat
memberikan kontribusi yang berharga untuk keuntungan publik. Sebagai salah satu
pendekatan untuk mendukung upaya pelestarian, Local Studies Center dapat
menggunakan media sosial sebagai salah satu media untuk mempromosikan
koleksinya. Namun, alih-alih melihat penggunaan media sosial sebagai konsep teknis
atau alat pemformat ulang saja, dalam manajemennya harus dianggap sebagai bagian
dari pengembangan komunikasi interaktif dan hubungan dengan pengguna, membuka
akses yang lebih luas dan meningkatkan kesadaran mengenai keberadaan warisan
budaya.

Kata kunci: media sosial, pelestarian, warisan budaya, promosi, Local Studies
Center
Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 71
Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

PENDAHULUAN mengakomodasi perspektif pengguna.


Upaya pelestarian koleksi warisan Sebagai akibatnya, transformasi
budaya dimulai dengan kesadaran akan promosi pada media sosial lebih
keberadaan dan rasa keterhubungan dimaknai sebagai isu teknis dan
dari masyarakat secara umum dan mengesampingkan dimensi sosial yang
pengguna pada khususnya. Dampak ada. Untuk mengikutsertakan serta
dari perubahan esensial dalam cara meraih lebih banyak pengguna,
berkomunikasi sebagai akibat dari pemahaman terhadap selera dan
perkembangan teknologi terhadap kebutuhan pengguna perlu
insitusi kebudayaan seperti mendapatkan porsi yang lebih
perpustakaan, arsip maupun museum signifikan.
telah banyak diperdebatkan. Local Kemunculan media sosial di era
studies centre, yang merupakan konsep Internet memberikan pilihan bagi
pusat informasi yang menggabungkan institusi kebudayaan dalam
perpustakaan, arsip dan museum menyediakan akses, membangun
bertanggung jawab terhadap jejaring maupun mempromosikan
keberadaan sejumlah koleksi warisan koleksi yang dimiliki. Sebagai contoh,
budaya yang penting dalam material Instagram merupakan salah satu media
berbentuk kertas, artefak dan objek sosial dengan jutaan pengguna di
lainnya. Eksistensi local studies center seluruh dunia. Instagram
diharapkan mampu menawarkan mengakomodasi kebutuhan pengguna
pilihan lain pagi pengguna sebagai untuk berbagi dengan fokus pada
wadah dari beragam sumber informasi penyajian visual berupa foto. Pengguna
alternatif. Namun, koleksi yang dimiliki dapat mengambil, menyunting dan
local studies center kurang berbagi sambil memberikan komentar
mendapatkan perhatian, akses dan ataupun like diantara pengguna lain.
pengakuan yang layak dari khalayak Instagram memiliki kekuatan dalam
ramai sehingga kunjungan maupun penyajian gambar yang
kesadaran akan keberadaan koleksi mempertimbangkan elemen estetika
tersebut cenderung masih rendah. yang dalam konteks bisnis dapat
Beragam penelitian telah dihelat menarik perhatian pengguna. Salah satu
dalam satu dekade terakhir karakteristik media social sebagai salah
memperdebatkan bagaimana institusi satu media berbasis Internet adalah
kebudayaan dalam pengelolaan keleluasaan dan kebebasan yang
koleksinya mesti merespon dimilika pengguna untuk sama-sama
kemunculan format elektronik dan menjadi bagian dari platform tersebut,
media sosial secara konstruktif agar dibandingkan dengan halaman situs
memberikan manfaat dan resmi ataupun katalog online yang
meningkatkan kemudahan akses bagi terkesan kaku dan cenderung memiliki
pengguna. Format elektronik satu arah sudut pandang.
menawarkan pilihan digitalisasi-alih Riset tentang media sosial juga
media pada koleksi fisik yang berimbas telah dilakukan dalam berbagai
pada kemudahan akses dan penyebaran perspektif dengan beragam konsep
informasi. Meskipun kebanyakan yang melibatkan sistem, pengguna dan
institusi kebudayaan menganut pemanfaatan media sosial sendiri.
keyakinan yang seragam pada dampak Media sosial secara konseptual merujuk
positif hal ini namun dalam prosesnya, pada sekelompok aplikasi berbasis
institusi kebudayaan cenderung abai internet yang dibangun berdasarkan
terhadap pengelolaan yang

Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 72


Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

web 2.0 (Sriram, V., 2016). Implikasi konteks Indonesia, kuantitas pengguna
beragam konsep yang telah digali dalam media sosial bisa dikatakan cukup besar.
penelitian tentang media sosial adalah Survey yang dilakukan Asosiasi Penyedia
kekayaan kajian dan optimalisasi Jasa Internet Indonesia pada tahun 2016,
pemanfaatan media sosial untuk didapatkan data bahwa pengguna
kebutuhan organisasi. Faktanya, internet di Indonesia sebesar
penggunaan media sosial telah intensif 132.700.000 dengan besaran pengguna
dipakai sejak tahun 2003 (Boyd & Ellison media sosial yaitu 129.200.000 atau
dalam Li, E. Y., Loh, S., Evans, C., & 97,4%. Lebih lanjut, Asosiasi Penyedia
Lorenzi, F., 2013). Aplikasi media sosial Jasa Internet Indonesia (2016)
memungkinkan pengguna untuk berbagi, mengeluarkan data besaran pengguna
mengelola konten dan ikut berpartisipasi media sosial beserta aplikasi yang sering
aktif dalam komunikasi berbasis dikunjungi oleh pengguna pada gambar
elektronik. 1:
Beberapa peneliti mencoba untuk
mengklasifikasikan media sosial
berdasarkan tipe karakteristik. Kaplan
and Haenlein dalam Li, E. Y., Loh, S.,
Evans, C., & Lorenzi, F. (2013)
memasukkan 6 tipe media sosial yaitu
collaborative projects, blogs, content
communities, social networking sites,
virtual game worlds, dan virtual social
worlds. Collaborative project merujuk
pada website yang memungkinkan
berbagai pengguna untuk melakukan
penyuntingan atau berkontribusi Gambar 1
terhadap isi, contohnya wikipedia. Aplikasi media sosial yang sering dikunjungi
dan jumlah penggunanya
Selanjutnya, ada blog yaitu halaman
online yang memungkinkan individu
untuk mengekspresikan pengalaman Data jumlah pengguna dan aplikasi
kepada publik. Ketiga, content yang digunakan pada tahun 2016
communities yang memungkinkan menunjukkan bahwa media sosial
pengguna berbagi konten dengan orang memiliki daya tarik tersendiri dalam
lain, misalnya YouTube. Keempat, social dunia maya. Fenomena ledakan pengguna
networking sites yang memungkinkan di media sosial ini kemudian menjadi
pengguna terhubung dengan orang lain, menarik untuk dikaji peluangnya ketika
contohnya Facebook dan Twitter. Kelima, dikaitkan dengan upaya pelestarian
virtual game worlds yang merujuk pada sumber informasi pada local studies
ruang maya yang berisi komunitas center.
pecinta game. Terakhir adalah virtual Beberapa studi yang berhubungan
social words memungkinkan sekumpulan dengan promosi dengan pemanfaatan
orang untuk berkumpul di ruang maya media sosial yang dilakukan oleh institusi
berdasarkan kegemaran kelompok perpustakaan, arsip dan museum telah
tersebut. dilakukan sebelumnya. Riset yang
Beragam tipe media sosial yang dilakukan Lowe (2014) tentang
telah dipaparkan sebelumnya bagaimana melibatkan pengguna muda di
menunjukkan terdapat segmentasi pasar Museum Norwegia menggunakan media
pengguna media sosial. Berbicara dalam
Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 73
Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

sosial menunjukkan bahwa Instagram memfasilitasi sumberdaya dan akses


dapat digunakan untuk mengeksplorasi sehingga bisa digunakan secara luas.
kebutuhan pengguna dalam lingkungan Studi tentang penggunaan media
urban dengan data warisan budaya. Di sosial memang telah banyak dilakukan
sisi lain, Sriram (2016) yang berusaha dengan berbagai sudut pandang.
mengulas tentang pemasaran KN Raj Mayoritas kajian masih didasarkan pada
Library dengan menggunakan media kebutuhan individu dalam akses
sosial mendemonstrasikan bahwa informasi dan rekreasi, pengembangan
beragam web 2.0 dan media sosial sistem untuk perluasan akses dan
merupakan alat yang tepat dalam identifikasi aplikasi media sosial yang
pemasaran sumber daya dan layanan di banyak digunakan oleh lembaga
perpustakaan. Selain itu, beragam media
informasi. Namun, penggunaan media
sosial yang populer terbukti dapat sosial sebagai upaya pelestarian warisan
menjadi alat pemasaran dan publisitas budaya di Local Studies Center masih
yang efektif dengan sebaran informasi belum banyak dikaji. Local studies center
yang luas untuk perpustakaan. merujuk pada lembaga informasi yang
Implikasi dari hadirnya teknologi memiliki koleksi berupa arsip, artefak
informasi dengan didukung oleh dan buku (Perez, M. J. V. 2012).
perkembangan aplikasi berbasis sosial Pemahaman tentang peluang dan
media adalah peningkatan akses tantangan dalam kegiatan preservasi
terhadap konten informasi dari institusi dengan memanfaatkan media sosial ini,
kebudayaan, termasuk local studies diharapkan dapat menjadi pengetahuan
center. Harris (6414) memperlihatkan baru bagi pengelola informasi. Media
beberapa masalah yang berhubungan sosial memungkinkan peningkatan akses
dengan akses dan preservasi. Lebih lanjut terhadap isi informasi (preservasi isi)
dijelaskan oleh Steward, C. (2012) bahwa dan mengurangi kontak berlebihan dari
pengelola informasi memiliki ketakutan pengguna terhadap fisik informasi
tersendiri ketika terlalu membuka akses (preservasi fisik).
terhadap koleksi mereka. Hal ini Penelitian ini bertujuan untuk
disebabkan oleh rapuhnya beberapa mendiskusikan dan mengkaji berbagai
koleksi langka yang memang telah tantangan dan kemungkinan utama
berusia puluhan tahun. Permasalahan dalam penggunaan media sosial dalam
yang timbul ketika akses fisik terhadap kaitannya dengan promosi dan akses
koleksi kebudayaan dipersulit adalah terhadap koleksi warisan budaya dalam
relevansi dan kekayaan isi koleksi budaya
beragam bentuk dari arsip, buku, peta,
juga terancam menghilang seiring hingga artefak yang dimiliki local studies
berjalannya waktu. centres. Meskipun penggunaan media
Beberapa kajian tentang sosial sebagai sarana promosi
preservasi telah dilakukan di berbagai memberikan kemudahan sarana akses,
negara dengan melibatkan unsur berbagi dan fleksibilitas, melimpah
hadirnya teknologi informasi. Ress ruahnya sumber informasi dalam bentuk
(2011) mencoba mengeksplorasi cara elektronik memberikan tantangan yang
untuk meningkatkan akses dan kegunaan esensial dalam hal kurasi dan presentasi.
dari sumber daya di perpustakaan. Upaya preservasi dapat dimulai dengan
Beberapa aplikasi digunakan seperti meningkatkan visibilitas dan akses
BibilioBoard dan Historypin sebagai kepada pengguna dan dengan melimpah
strategi untuk meningkatkan akses ruahnya pengguna media sosial dan
terhadap koleksi. Selain itu, pustakawan koleksi digital, menjaga warisan budaya
memainkan peran kunci dalam
Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 74
Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

supaya tetap relevan dengan masyarakat agar dapat menjelaskan fakta-fakta


akan memberikan dampak signifikan dan terjadi. Setelah didapat deskripsi yang
kesadaran terhadap keberadaan warisan cukup memadai, barulah fakta-fakta
budaya dan local studies centre sendiri sejarah tersebut dianalisis secara
agar tetap relevan dan lestari diantara komprehensif menurut topik
pengguna. permasalahan utama sehingga pada
akhirnya didapat sebuah kesimpulan
yang dapat menjawab permasalahan.
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Metode penelitian mutlak HASIL DAN PEMBAHASAN
diperlukan untuk membangun penjelasan
terhadap permasalahan yang ada. Sejumlah Local Studies Center diketahui
telah menyadari signifikansi dari
Penelitian ini dilakukan secara kualitatif
keberadaan media sosial serta
dengan menggunakan metode studi
pentingnya memiliki pengelolaan media
pustaka, survei lapangan sekaligus
sosial yang layak dan sesuai. Senada
wawancara kepada pihak-pihak terkait
dengan website, media sosial dianggap
dan partisipasi secara langsung dalam
mampu membuka akses yang lebih besar,
media sosial. Pertama, perlu untuk
lebih cepat dan lebih mudah kepada
mencari data dan buku-buku yang terkait
pengguna. Akan tetapi, media sosial
dengan tema penelitian. Teknik
dianggap memiliki satu karakteristik
pengumpulan data dapat dilakukan
yang lebih memberikan keuntungan
dengan wawancara, observasi ataupun
dibandingkan website atau katalog
survei. Selain itu, penelitian kualitatif
dengan database besar, yaitu posisi
bertujuan untuk mendapatkan
media sosial dimana baik pengelola
pemahaman yang sifatnya umum
maupun pengguna sama-sama dapat
terhadap kenyataan sosial dari perspektif
memiliki maupun mengoperasikannya
partisipan. Menurut Anderson (2016b, p.
(Anderson, 2016a, p. 6; Ahenkorah-Marfo
12), melakukan analisa terhadap
& Akussah, 2016, p. 111). Hal ini
dinamika media sosial memerlukan
dianggap menimbulkan kesan yang lebih
partisipasi sekaligus observasi secara
tidak intimidatif dan kesan kesetaraan di
langsung terhadap sejumlah media sosial
antara institusi dan para penggunanya
yang dimiliki institusi-institusi terkait.
dalam berkomunikasi. Disamping itu,
Ketiga penulis merupakan pengguna
media sosial menjadi platform yang lebih
beberapa media sosial secara aktif.
sederhana dibandingkan website dalam
Dalam proses membangun sebuah hal keberadaan jumlah informasi dan
analisis, penjelasan secara komprehensif bagaimana pengguna dapat
tidak hanya dijelaskan dengan satu faktor menemukannya (Lamont & Nielsen,
tetapi beberapa faktor. Dalam penelitian 2011, p. 107). Di satu sisi, website
ini, pembahasan secara menyeluruh akan menawarkan kuantitas informasi yang
disajikan melalui sebuah argumen ilmiah. sangat komprehensif sedangkan media
Melalui argumen yang tepat diharapkan sosial memiliki jumlah informasi yang
mampu mencapai hasil studi yang lebih terbatas. Akan tetapi, keterbatasan
maksimal. Argumen itu sendiri merujuk ini justru dapat memberikan kesan yang
pada data-data ilmiah. Hal yang perlu lebih memudahkan dibandingkan
diperhatikan ketika berhadapan dengan informasi dalam jumlah besar yang
data ilmiah merujuk pada fakta-fakta terkadang justru membingungkan
yang merupakan bahan dasar penulisan. pengguna. Peta pemanfaatan serta
Data-data yang telah diseleksi kemudian dinamika pengelolaan media sosial di
dirangkai berdasarkan urutan kronologis

Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 75


Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

sejumlah Local Studies Center yang ada di


Yogyakarta dapat dilihat pada tabel 1 dan
tabel 2.

Tabel 1. Jenis dan pengelola media sosial di Local Studies Center

Sumber: Data wawancara dan survei lapangan ke Local Studies Center terkait yang diolah

Tabel 2. Pemanfaatan media sosial di Local Studies Center

Sumber: Data wawancara dan survei lapangan ke Local Studies Center terkait

Selain itu, dari peta pemanfaatan Kesadaran pemanfaatan media sosial


media sosial di Local Studies Center yang Pengguna informasi pada abad 21
ada di atas, dapat ditemukan sejumlah memiliki karakteristik yang berbeda
poin analisa tentang pemanfaatan media dengan abad-abad sebelumnya.
sosial dalam kaitannya dengan Kehadiran teknologi dan internet
pengembangan kebijakan, promosi menjadikan masyarakat pada abad 21
koleksi dan sasaran pengguna guna berinteraksi dan berpartisipasi dalam
terciptanya peningkatan kesadaran akan ruang-ruang yang ada di dunia maya. Hal
pentingnya upaya pelestarian dan
ini senada dengan pendapat yang
keberlangsungan koleksi warisan budaya diungkapkan oleh Sloniowski dalam
di masa depan.

Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 76


Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

(Kwanya, Stilwell, & Underwood, 2011) institusi-institusi tersebut belum


bahwa dalam lingkungan seperti ini, memiliki kebijakan tertulis yang secara
informasi diciptakan, dibagi, diolah dan khusus mengatur tentang pengelolaan
dibagi kembali melalui interaksi sosial media sosial. Di Museum Sonobudoyo,
dan jaringan. Media sosial yang satu orang staff dengan latar belakang
dikembangkan melalui internet menjadi Teknologi Informasi (TI) memiliki
ruang publik baru untuk berbagi tanggung jawab atas pengelolaan media
pengetahuan. sosial sekaligus subjektivitas atas
interpretasi pemilihan konten yang
Pengelola informasi juga
dianggap layak unggah. Hal yang sama
menyadari kebutuhan dalam pelestarian
juga terjadi di Museum Dewantara Kirti
isi koleksi yang memerlukan partisipasi
Griya dan Arsip Universitas, dimana
aktif pengguna. Oleh karena itulah, media
standar konten sangat tergantung pada
sosial menjadi penting untuk
subjektivitas staff pengelola media sosial
dimanfaatkan dan diharapkan
tanpa adanya panduan tertulis yang
memberikan kontribusi lebih dalam
dapat diacu. Di Arsip Universitas Gadjah
pengembangan pengetahuan. Lebih jauh,
Mada, pengelola media sosial memiliki
ternyata pengelola media sosial pada
sejumlah tugas lainnya dan tidak hanya
museum sonobudoyo dan museum
memiliki tugas utama untuk mengelola
Dewantara Kirti Griya juga telah
media sosial. Selain itu, terdapat
menyadari bahwa penggunaan media
persamaan lain di antara semua Local
sosial berpengaruh terhadap minat
Studies Center dimana staff pengelola
berkunjung dan dapat dijadikan alat
media sosial belum mendapatkan
promosi yang baik. Selain itu, media
pelatihan secara khusus dan di museum
sosial juga menunjukkan eksistensi dari
Dewantara Kirti Griya, dikatakan bahwa
suatu institusi budaya (pengelola
staff melakukan pengelolaan secara
informasi arsip UGM). Kepentingan media
‘learning by doing’.
sosial inilah yang mendasari para
pengelola informasi pada Local Studies Selain itu, di museum Dewantara
Center telah memiliki akun media sosial Kirti Griya dan museum Sonobudoyo,
masing-masing dengan frekuensi posting media sosial setidaknya mengunggah
yang berbeda-beda didasarkan pada satu hal baru setiap minggunya.
kebutuhan organisasi. Namun, tidak Meskipun begitu, tidak ada peraturan
dapat dipungkiri, implementasinya tertulis mengenai keharusan melakukan
memiliki kekurangan karena hal tersebut. Di Arsip Universitas Gadjah
keterbatasan SDM. Sebagai contoh, Mada juga berlaku hal yang sama.
museum UGM yang saat ini sudah tidak Pengelola juga akan menunggah
aktif media sosialnya serta website informasi lebih cepat dan lebih banyak
museum Dewantara Kirti Griya yang dalam periode satu minggu apabila
terakhir memiliki posting berita pada memungkinkan. Hal yang menarik untuk
tahun 2016. Hal inilah yang perlahan dicatat adalah bahwa di baik di museum
perlu diperbaiki untuk keberlangsungan Sonobudoyo, museum Dewantara Kirti
Local Studies Center. Griya dan di Arsip Universitas Gadjah
Mada, pengelola mengakui bahwa media
Kebijakan dan pengelolaan media
sosial membuka akses komunikasi yang
sosial
lebih interaktif sekaligus memangkas alur
Meskipun secara umum birokrasi bagi para pengguna yang
kebanyakan Local Studies Center telah tertarik dengan institusi tersebut.
memanfaatkan media sosial untuk Sejumlah saran, kritik maupun apresiasi
mengembangkan jaringan sekaligus
mempermudah akses, akan tetapi
Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 77
Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

sering diterima oleh para pengelola yang dikarenakan minimnya sumber daya
kemudian disampaikan kepada pihak manusia yang dimiliki, yaitu mengunggah
terkait. Di museum Sonobudoyo, konten yang sama untuk semua media
sejumlah pengguna menanyakan sosial yang dimiliki tanpa
prosedur penelitian melalui media sosial mempertimbangkan karakter khas yang
institusi tersebut. Dapat dikatakan bahwa menjadi kekuatan media sosial tersebut.
media sosial memberikan manfaat bagi Padahal, secara umum dapat dikatakan
kedua belah pihak untuk saling berdialog bahwa setiap media sosial membutuhkan
(Ahenkorah-Marfo & Akussah, 2016, p. pendekatan yang berbeda dalam
111) terkait dengan koleksi maupun kaitannya dalam tiap-tiap hal yang
akses di institusi tersebut. diunggah. Instagram misalnya, memiliki
kekuatan yang besar dalam penampilan
Hal yang berbeda terjadi dalam
visual yang lebih menarik bagi Net
penentuan bahasa yang digunakan dalam
Generation (Mi & Nesta, 2006) sehingga
unggahan di media sosial. Pengelola
deskripsi yang diberikan dapat sekedar
media sosial di museum Sonobudoyo
menjadi pendukung gambar yang
beranggapan bahwa sebagai institusi
ditampilkan. Di sisi lain, Twitter misalnya
pemerintah, setiap caption dalam
memiliki kekuatan pada deskripsi yang
unggahan mesti menggunakan bahasa
singkat, informatif dan up to date
resmi dan formal. Di sisi lain, pengelola
sehingga dapat lebih dimanfaatkan untuk
media sosial di museum Dewantara Kirti
informasi-informasi yang deskriptif.
Griya justru menunjuk bahwa
Museum Sonobudoyo dan museum
penggunaan bahasa yang luwes dan tidak
Dewantara Kirti Griya menyadari bahwa
kaku dapat membuka interaksi serta
diperlukan kurasi atas konten unggahan
menarik lebih banyak pengguna untuk
dan pendekatan dalam teknik
tertarik mengakses media sosial yang
penampilannya untuk lebih dapat
dimiliki institusi. Di Hatta Corner yang
menarik perhatian pengguna serta
belum memiliki media sosial sendiri,
mengoptimalkan kekuatan tiap-tiap
pengelolaan akhirnya dilakukan melalui
media sosial yang dimiliki. Di museum
kolaborasi dengan organisasi induk
Dewantara Kirti Griya, beberapa
mereka yaitu Perpustakaan UGM.
informasi secara khusus hanya dibagi
Secara khusus, meskipun pada kelompok tertutup Sahabat Museum
mengunggah koleksi dapat meningkatkan di WhatsApp. Museum yang sama juga
kesadaran pengguna akan keberdaan mencoba menciptakan sejumlah hashtag
koleksi tersebut dan upaya yang dianggap menarik minat pengguna
pelestariannya, pengelola media sosial di di Instagram.
museum Sonobudoyo mengungkapkan
Kebanyakan Local Studies Center
adanya kekhawatiran upaya peniruan
masih memberikan porsi yang lebih besar
dan duplikasi dari adanya foto koleksi
kepada unggahan terkait informasi
warisan budaya yang diunggah ke media
kegiatan dan belum memaksimalkan
sosial. Sehingga, banyak konten potensial
promosi atas koleksi warisan budaya
yang menarik namun hingga saat ini
yang dimiliki. Lebih lanjut, seperti yang
belum dapat diunggah semuanya.
sudah didiskusikan sebelumnya, kurasi
atas apa yang dianggap layak unggah dan
Kesadaran kurasi, promosi dan penilaian estetikanya dibebankan pada
perannya dalam membantu upaya subjektivitas tiap-tiap pengelola.
pelestarian Pengelola Arsip Universitas Gadjah Mada
menganggap bahwa hal yang diunggah
Hampir semua Local Studies Center
menghadapi tantangan yang sama
Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 78
Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

mesti relevan dan memiliki konteks implementasi media sosial adalah anak
dengan situasi dan kondisi yang tengah muda. Seperti riset sebelumnya yang
terjadi di masyarakat. Sedangkan dilakukan oleh (Stuedahl, Education, &
museum Dewantara Kirti Griya Lowe, 2014) yang berusaha menarik
melakukan kurasi dengan minat generasi muda untuk datang pada
menitikberatkan gambar unggahan yang museum dengan menggunakan media
dianggap khas dan representatif untuk sosial. Hasil dari riset menunjukkan
menarik minat pengguna media sosial. peningkatan signifikan dari pengunjung
Selain itu, kedua Local Studies Center muda setelah pengelola menggunakan
sebelumnya dan juga museum media sosial. Lebih lanjut, pengelola
Sonobudoyo sepakat bila unggahan informasi pada museum Dewantara Kirti
sebaiknya dapat mendapatkan likes yang Griya juga berharap besar dengan adanya
signfikan sekaligus mengundang media sosial dapat menarik minat
komentar yang konstruktif agar semakin kunjungan dari berbagai kalangan usia.
meningkatkan visibilitas. Dengan media sosial yang dapat
Meskipun belum memiliki media memancing ketertarikan dari pengguna,
sosial maupun pengelolaannya secara maka secara tidak langsung pengguna
mandiri, pengelola Hatta Corner juga dapat memperhatikan maupun
mengakui dan menyadari pentingnya melihat lebih jauh koleksi yang
media sosial sebagai upaya membuka dipromosikan di dalamnya. Sehingga,
akses yang lebih besar serta pengguna secara tidak langsung dapat
meningkatkan visibilitas (Massis 2014) mencoba untuk belajar maupun
atas koleksi warisan budaya yang dimiliki memahami tentang keberadaan, nilai
dan kebanyakan juga dalam bentuk fisik. maupun informasi dari suatu koleksi
Dengan meningkatnya visibilitas, yang merupakan warisan budaya. Dengan
kesadaran pengguna akan pentingnya meningkatnya pengetahuan atas koleksi
kelestarian dan keberlanjutan warisan budaya tersebut, maka
keberadaan koleksi dapat terus kesadaran pengguna atas pentingnya
ditingkatkan dan dijaga relevansinya. kelestarian koleksi tersebut akan tumbuh
secara bersamaan. Dengan demikian,
media sosial memiliki peran yang
Ketertarikan dan peningkatan bermanfaat dalam menumbukan
kesadaran pengguna pada koleksi kesadaran pentingnya upaya
Dari hasil analisa serta pemetaan melestarikan koleksi warisan budaya dan
atas pemanfaatan Local Studies Center di secara tidak langsung juga dapat
atas, dapat dikatakan bahwa sebagian membuka akses, peluang maupun
besar Local Studies Center pada dasarnya tantangan lainnya. Koleksi warisan
telah memahami pentingnya manfaat budaya maupun upaya pelestariannya
media sosial sebagai bagian dari promosi yang sebelumnya kurang mendapatkan
koleksi yang dapat membuka akses yang perhatian ataupun tidak diketahui,
jauh lebih besar, mudah dan cepat. menjadi relevan dan dapat disadari
Pengelola juga menyadari dengan ‘pasar’ keberadaan maupun pentingnya oleh
pengguna muda di Indonesia yang besar, pengguna.
memanfaatkan media sosial memberikan
kesan yang lebih relevan atas keberadaan
institusi dan koleksi yang dimiliki.
Berdasarkan hasil wawancara
dengan pengelola informasi pada Local
Studies Center, diketahui bahwa target
Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 79
Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

KESIMPULAN Anderson, K. E. (2016b). Getting


Media sosial memiliki peranan acquainted with social networks
penting dalam era dimana perkembangan and apps: Instagram’s instant
teknologi berlangsung dengan cepat, appeal. Library Hi Tech News, 33
masif dan menyeluruh. Local studies (3), 11–15.
center merupakan institusi yang memiliki
tanggung jawab terhadap koleksi sumber Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
informasi. Sebagian besar diantaranya Indonesia. 2017. Infografis:
merupakan warisan budaya yang bernilai Penetrasi & Perilaku Pengguna
historis, langka dan penting. Sejumlah Internet Indonesia yang diakses
upaya pelestarian baik dari sisi fisik pada https://www.apjii.or.id/
maupun informasi telah dihelat oleh local tanggal 27 Februari 2017.
studies center dengan berbagai dinamika
dan keterbatasan yang dimiliki. Kwanya, T., Stilwell, C., & Underwood, P.
Tantangan yang muncul bagi para G. (2011). Library 3.0: Intelligent
pengelola informasi di Local Studies Libraries and Apomediation. UK:
Center adalah pelestarian isi koleksi dan Chandos Publishing.
penyajian konten digital yang menarik
bagi pengguna. Sebagai bagian dari Lamont, L., & Nielsen, J. (2011).
upaya pelestarian, local studies center Calculating value: a digital library’s
dapat memaksimalkan peran media social media campaign. The Bottom
sosial untuk membangun kesadaran Line: Managing Library Finances, 28
pengguna mengenai pentingnya upaya (4), 106–111.
dan peran pelestarian itu sendiri
sekaligus menjadi sarana komunikasi Li, E. Y., Loh, S., Evans, C., & Lorenzi, F.
untuk menjaga relevansi warisan budaya (2013). Organizations and Social
yang menjadi koleksi baik dengan Networking: Utilizing Social Media
pengguna maupun semua pihak terkait. to Engage Consumers (pp. 1-441).
Dengan meningkatnya kesadaran dan Hershey, PA: IGI Global.
kemampuan untuk menjaga relevansi doi:10.4018/978-1-4666-4026-9
dengan kondisi terkini, maka koleksi
warisan budaya memiliki kesempatan Lowe, Sarah. (2014). Social Media as
yang lebih besar untuk tetap lestari. Resources for Involving Young
People in Museum Innovation: A
DAFTAR PUSTAKA Cultural Studies Approach to Co-
Design. International Journal of
Ahenkorah-Marfo, M., & Akussah, H. Sociotechnology and Knowledge
(2016). Being where the users are Development, 6(3), pp. 60-80. DOI:
Readiness of academic librarians to 10.4018/ijskd.2014070104
satisfy information needs of users
through social media. Library Massis, B. E. (2014). Library marketing:
Review, 65(8/9), 549–563. moving between traditional and
digital strategies. New Library
Anderson, K. E. (2016a). Getting World, 115(7/8), 405–408.
acquainted with social networks
and apps: picking up the Slack in Mi, J., & Nesta, F. (2006). Marketing
communication and collaboration. library services to the Net
Library Hi Tech News, 33(9), 6-9. Generation. Library Management,
27(6/7), 411–422.

Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 80


Widiatmoko Adi Putranto, Indah Novita Sari Pelestarian Warisan Budaya di Local Studies Center dengan...

Perez, Martin Julius V. (2012). Local


Studies Centers: Transforming
History, Culture and Heritage in the
Phillippines, World Library and
Information Congress: IFLA,
Helsinki, 31 May 2012.

Ress, S. (2011). Special Collections:


Improving Access and Usability.
The reference Librarian, 16(1). DOI:
10.1080/02763877.2011.968717

Sriram, V. (2016). Social Media and


Library Marketing: Experiences of
KN Raj Library. Journal of Library &
Information Technology, 36(3),
pp.113-117. DOI: 10.14429/
djlit.36.3.9810

Stewart, C. (2012). Preservation and


Access in an Age of E-Science and
Electronic Records: Sharing the
Problem and Discovering Common
Solutions. Journal of Library
Administration, 96:7-4, pp. 261-278.
DOI:
10.1080/01930826.2012.684101

Stuedahl, D., Education, T., & Lowe, S.


(2014). A Cultural Studies
Approach to Co-Design Social
Media as Resource for Involving
Young People in Museum
Innovation :, 6(September), 60–80.
http://doi.org/10.4018/
ijskd.2014070104

Diplomatika, Vol. 1, No. 2 Maret 2018 81