Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ibu Hamil Risiko Tinggi


2.2.1 Definisi
Ibu hamil dengan kehamilan risiko tinggi adalah ibu hamil yang
mempunyai resiko atau bahaya dan komplikasi yang lebih besar pada
kehamilan atau persalinan baik terhadap ibu maupun terdadap janin yang
dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan, atau nifas
dibandingkan dengan ibu hamil dengan kehamilan atau persalinan normal
(Wiknjosastro H, 1999).
2.2.2 Faktor Resiko
Secara garis besar, kelangsungan suatu kehamilan sangat bergantung
pada keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin. Jika ibu sehat
dan didalam darahnya terdapat zat-zat makanan dan bahan-bahan organis
dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhan dan perkembangan bayi
dalam kandungan akan berjalan baik. Dalam kehamilan, plasenta akan
befungsi sebagai alat respiratorik, metabolik, nutrisi, endokrin,
penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari tubuh ibu ke tubuh janin
atau sebaliknya. Jika salah satu atau beberapa fungsi di atas terganggu,
maka pertumbuhan janin akan terganggu. Demikian juga bila ditemukan
kelainan pertumbuhan janin baik berupa kelainan bawaan ataupun
kelainan karena pengaruh lingkungan, maka pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam kandungan dapat mengalami
gangguan(Wiknjosastro H, 1999).
Sebelum hamil, seorang wanita bisa memiliki suatu keadaan yang
menyebabkan meningkatnya resiko selama kehamilan. Selain itu, jika
seorang wanita mengalami masalah pada kehamilan yang lalu, maka
resikonya untuk mengalami hal yang sama pada kehamilan yang akan
datang adalah lebih besar. Untuk menentukan suatu kehamilan resiko
tinggi, dilakukan penilaian terhadap wanita hamil untuk menentukan
apakah dia memiliki keadaan yang menyebabkan dia ataupun janinnya
lebih rentan terhadap penyakit atau kematian yakni:

1) Umur ibu
Usia wanita mempengaruhi resiko kehamilan. Anak perempuan
berusia 15 tahun atau kurang lebih rentan terhadap terjadinya pre-eklamsi
(suatu keadaan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, protein dalam
air kemih dan penimbunan cairan selama kehamilan) dan eklamsi (kejang
akibat pre-eklamsi). Mereka juga lebih mungkin melahirkan bayi dengan
berat badan rendah.Pada umur ini belum cukup dicapai kematangan fisik,
mental dan fungsi dari calon ibu. Wanita yang berusia 35 tahun atau lebih,
lebih rentan terhadap tekanan darah tinggi, diabetes atau fibroid di dalam
rahim serta lebih rentan terhadap gangguan persalinan. Diatas usia 35
tahun, resiko memiliki bayi dengan kelainan kromosom (misalnya
sindroma Down) semakin meningkat. Pada wanita hamil yang berusia
diatas 35 tahun bisa dilakukan pemeriksaan cairan ketuban (amniosentesis)
untuk menilai kromosom janin(Wiknjosastro H, 1999).
1) Jarak antara kehamilan
Jarak kehamilan yang terlalu dekat yakni kurang dari dua tahun
dapat meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas ibu-bayi. Jarak
persalinan sebaiknya 2-3 tahun(Wiknjosastro H, 1999)..
2) Tingkat pendidikan dan sosial ekonomi

Tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah merupakan


hambatan bagi upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Tingkat pendidikan dan status ekonomi hampir selalu sejalan dengan
pengetahuan ibu tentang kehamilan. Pengetahuan ibu yang rendah
menyebabkan seorang ibu sering tidak sadar akan keadaan dan juga
tanda-tanda bahaya yang timbul selama kehamilannya. Pada
kelompok ini sering ditemui ibu hamil yang kekurangan zat gizi. Hal
ini juga berpengaruh terhadap persiapan hidup bagi anak yang akan
dilahirkan kelak(Wiknjosastro H, 1999).
3) Status perkawinan
Mencakup kasus dengan perkawinan luar nikah, atau POW
(Pregnacy Out of Wedlock), perceraian, kasus perkawinan dari istri
simpanan dan sebagainya. Pada kasus-kasus ini perlu diajukan
pertanyaan-pertanyaan yang terarah untuk mendapat petunjuk tentang
usaha-usaha yang telah dilakukan untuk kehamilannya tersebut. Jenis
kasus seperti ini perlu kerjasama dengan bagian psikiatri, terlebih bila
sudah ada pernyataan penolakan terhadap kehamilan
tersebut(Wiknjosastro H, 1999).
4) Primigravida.
Pada primigravida kekakuan jaringan dan organ-organ dalam
panggul akan banyak menentukan kelancaran proses kehamilannya
dan persalinan. Harus dilakukan penilaian yang cermat akan
keseimbangan ukuran panggul dan kepala janin. Penilaian perlu
dikerjakan oleh dokter pada minggu ke 34 usia
kehamilan(Wiknjosastro H, 1999)..
5) Grandemultipara.
Pada keadaan ini sering kali ditemukan perdarahan sesudah
persalinan akibat dari kemunduran kemampuan kontraksi uterus.
Kontraksi uterus diperlukan untuk menghentikan perdarahan sesudah
persalinan. Sering pula ditemukan inersia uteri (tidak cukupnya
tenaga/HIS untuk mengeluarkan janin). Penyulit lainnya yang juga
sering ditemukan yaitu kecenderungan untuk terjadinya kelainan letak
janin, kelainan plasenta, serta kelainanan pada perlekatan plasenta
pada dinding uterus(Wiknjosastro H, 1999)..
6) Riwayat obstetri
a. Jejas atau bekas luka dalam pada alat-alat kandungan, ataupun
jalan lahir yang ditimbulkan oleh persalinan terdahulu akan
memberikan akibat buruk pada pada kehamilan sekarang.
b. Pernah mengalami abortus (sengaja atau tidak, dengan atau tanpa
tindakan kerokan/kuretase), terlebih lagi bila mengalami abortus
ulangan, makin besar kemungkinan terjadi pada kehamilan berikut
dan kemungkinan perdarahan.
c. Pernah mengalami gangguan organik daerah panggul seperti
adanya peradangan, tumor ataupun kista.
d. Pernah mengalami penyulit kehamilan seperti hiperemesis
gravidarum, kematian janin, preeklampsia-eklampsia, hidramnion,
kelainan letak janin, kelainan janin bawaan, janin kembar
(gemelli).
e. Pernah mengalami penyakit seperti gangguan endokrin (diabetes
melitus, hyperthyroid), penyakit jantung, penyakit paru (asthma,
TBC), penyakit ginjal, penyakit hati, sendi dan penyakit kelamin
seperti siphilis serta infeksi lainnya baik oleh virus, bakteri maupun
parasit.
f. Pernah mengalami persalinan dengan tindakan seperti ekstraksi
forcep ataupun vakum, seksio sesar, pengeluaran plasenta dengan
tangan (manual plasenta)(Wiknjosastro H, 1999)..
Tanda-tanda dan gejala lain yang mendapat perhatian khusus dan
diperlakukan sebagai KRT antara lain :
a) Tinggi badan kurang dari 145(150) cm.
b) Kurang gizi atau BB kurang dari 40 kg.
c) Kelainan tulang belakang dan panggul, termasuk untuk diperhatikan
khusus adanya asimetri tungkai.
d) Gangguan penglihatan atau keluhan subyektif lain.
e) Ketidak sesuaian antara besar dan umur kehamilan
f) Pada keadaan molahidatidosa, hamil ganda, hidramnion.
g) Ketidak sesuaian besar panggul dan janin (CPD).
h) Ketidakserasian golongan darah (rhesus) suami dan istri.
i) Riwayat penggunaan obat-obatan dalam kehamilan. Bahkan perlu
diusut jenis obat, jumlah serta lamanya pemakaian , oleh karena
dewasa ini banyak ditemukan jenis obat-obatan yang berpengaruh
buruk bagi ibu dan anak dalam kehamilan(Wiknjosastro H, 1999).
Faktor lain yang tidak kalah penting yang mempengaruhi kehamilan
adalah masalah gizi. Masalah gizi merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang perlu dilakukan penanganan dengan pendekatan medis
dan pelayanan kesehatan. Untuk mengatasi masalah gizi diperlukan
pengetahuan dan keterampilan yang cukup bagi ahli gizi dalam pelayanan
gizi untuk masyarakat. Peningkatan gizi dimasyarakat memerlukan
kebijakan dari setiap anggota masyarakat untuk memperoleh makanan
dalam jumlah yang cukup dan terjamin mutunya (Atika
Proverawati,2009).
Masalah gizi pada ibu hamil yang paling umum yaitu Kurang Energi
Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), dan anemia gizi. Di Indonesia
tahun 2001 prevalensi anemia pada ibu hamil yaitu 40% dan prevalensi
Kurang Energi Kronik (KEK) yaitu 41% (Depkes, 2003).
Ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang rawan akan masalah-
masalah gizi. Menurut depkes (1996) masih banyak ibu hamil mengalami
masalah gizi khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronis (KEK),
dan anemia. Ibu hamil yang menderita Kurang Energi Kronis (KEK) dan
anemia mempunyai resiko kesakitan yang lebih besar terutama pada
trimester ketiga kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil normal.
Akibatnya mereka mempunyai resiko yang lebih besar untuk melahirkan
bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), kematian saat persalinan,
pendarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah
mengalami gangguan kesehatan (UNPAD, 1984).
Status gizi ibu hamil merupakan salah satu indikator dalam mengukur
status gizi masyarakat. Jika status gizi ibu hamil kurang maka akan terjadi
ketidak seimbangan zat gizi yang dapat menyebabkan masalah gizi pada
ibu hamil seperti Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia (Moehji,2003).
Ibu hamil yang memiliki status gizi normal kemungkinan besar akan
melahirkan bayi sehat, cukup bulan, dan berat badan normal sedangkan
ibu hamil yang mempunyai status gizi kurang dapat menyebabkan resiko
dan komplikasi pada ibu hamil antara lain anemia, pendarahan, berat
badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi
(Prasetyono,2009).
Dalam peningkatan status gizi pada ibu hamil dapat dilakukan dengan
cara ibu hamil banyak mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.
Setidaknya tiga bulan sebelum berencana hamil, harus mempersiapkan diri
melalui makanan bergizi, kesehatan badan, dan mulai mengubah kebiasaan
makan yang kurang sehat demi kesehatan bayi nantinya. Sehingga pada
saat hamil, badan sudah terkondisikan dengan sangat baik untuk
pertumbuhan janin. Kekurangan gizi pada saat ini dapat menimbulkan
kelainan pada bayi atau bahkan kelainan prematur. Karena itu, gizi
seimbang penting untuk pertumbuhan janin (Atika Proverawati,2009).
2.2.3 Ante Natal Care
Pemeriksaan kehamilan dengan rutin merupakan suatu hal yang
penting dilakukan oleh ibu yang sedang hamil agar merka dapat
mejalankan kehamilannya dengan normal dan janin yang dikandungnya
dalam keadaan baik. Dengan memberikan asuhan antenatal care (ANC)
yang baik akan menjadi salah satu tiang penyangga dalam safe
motherhood dalam usaha menurunkan angka kesakitan dan kematian
ibu.Resiko yang timbul dalam kehamilan bersifat dinamis, karena ibu
hamil yang pada mulanya normal secara tiba-tiba dapat menjadi berisiko
tinggi(Wiknjosastro H, 1999).
A. Definisi
ANC atau yang sering disebut pemeriksaan kehamilan adalah
serangkaian pemeriksaan yang dilakukan secara berkala dari awal
kehamilan hingga proses persalinan untuk memonitor kesehatan ibu dan
janin agar tercapai kehamilan yang optimal(Wiknjosastro H, 1999).
B. Tujuan dan Manfaat
ANC ditujukan untuk menyiapkan baik fisik maupun mental ibu di
dalam masa kehamilan dan kelahiran serta menemukan kelainan dalam
kehamilan dalam waktu dini sehingga dapat diobati secepatnya.
Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan
angka kecacatan dan kematian baik ibu maupun janin(Wiknjosastro H,
1999).
Tujuan umum ANC adalah sebagai berikut:
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang janin.
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal
dan sosial ibu dan bayi.
3. Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi
selama hamil, termasuk riwayat penyakti secara umum,
kebidanan dan pembedahanmisalnya :
a. Hipertensi dalam kehamilan
b. Diabetes dalam kehamilan
c. Anemia
d. Janin dengan berat badan rendah
e. Kehamilan anggur
f. Plasenta previa (ari-ari menutup jalan lahir)
g. Infeksi dalam kehamilan misalnya keputihan atau infeksi
saluran kemih dll
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan
selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempesiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan
pemberian ASI Eksklusif.
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima
kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
7. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Menurut Depkes RI(1994) tujuan ANC adalah untuk menjaga
agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan
nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang
sehat(Wiknjosastro H, 1999).
Tujuan khusus ANC adalah sebagai berikut:
1. Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin
dijumpai dalam kehamilan,persalinan,dan nifas.
2. Mengenali dan mengobati penyulit-penyulit yang mungkin
diderita sedini mungkin.
3. Menurunkan angka morbilitas ibu dan anak.
4. Memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan
keluarga berencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.
Menurut Hanifa Wiknjosastro (1999) tujuan ANC adalah
menyiapkan wanita hamil sebaik-baiknya fisik dan mental serta
menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan, dan
masa nifas, sehingga keadaan mereka pada post partum sehat dan
normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental(Wiknjosastro H,
1999).
C. Jadwal Pemeriksaan ANC
Pemeriksaan kehamilan minimal dilakukan sebanyak 4 kali yaitu :
1) Pemeriksaan kehamilan pertama
Pemeriksaan kehamilan saat usia kehamilan antara 0-3 bulan.
Memang biasanya ibu tidak menyadari kehamilan saat awal masa
kehamilan, tetapi sangat diharapkan agar kunjungan pertama
kehamilan dilakukan sebelum usia kehamilan < 12 minggu.
Pemeriksaan kehamilan ini cukup dilakukan sekali dan mungkin
berlangsung 30-40 menit(Wiknjosastro H, 1999).
Selama masa kehamilan, anda akan mendapatkan perawatan
secara teratur, baik melalui bagian kebidanan di rumah sakit, dokter
umum, atau bidan. Semua ini untuk memastikan bahwa anda dan
bayi anda dalam keadaan sehat dan untuk mengetahui sedini
mungkin jika terdapat masalah berkenaan dengan kandungan
anda.Inilah waktunya mendapatkan jawaban bagi segala macam
pertanyaan atau kekhawatiran dan mendiskusikan rencana bagi
kelahiran bayi anda(Wiknjosastro H, 1999).
Pada pemeriksaan kehamilan trimester pertama kalinya anda
akan diperiksa :
a. Riwayat kesehatan, seperti : penyakit yang sedang atau pernah
di derita, penyakit keturunan, riwayat operasi;
b. Periode menstruasi, seperti: tanggal, lama serta banyaknya
haid terakhir dan juga siklus haid, hari pertama haid terakhir;
c. Pemeriksaan fisik secara umum : tanda vital, berat-badan, dan
pemeriksaan fisik lainnya.
d. Bagaimana kehamilan yang lalu, seperti: komplikasi dalam
kehamilan sebelumnya, kelahiran prematur, atau pre-eklampsia
dan riwayat melahirkan bayi abnormal;
e. Pemeriksaan dalam yaitu pemeriksaan vagina dan leher rahim
anda;
f. Pemeriksaan laboratorium, seperti Hb
Bila terdapat kelainan atau komplikasi dalam pemeriksaan fisik
dan laboratorium maka sebaiknya dirujuk ke dokter spesialis
kandungan. Bila tidak terdapat kelainan maka pemeriksaan
kehamilan tetap dapat dilakukan di bidan atau puskesmas.
2) Pemeriksaan kehamilan kedua
Pemeriksaan kehamilan saat usia kehamilan antara 4-6 bulan.
Biasanya kunjungan kehamilan dilakukan sebelum usia kehamilan
mencapai 26 minggu.
Pemeriksaan yang akan dilakukan adalah :
a. Anamnesa : kondisi selama kehamilan, keluhan-keluhan
yang muncul dan tanda-tanda pergerakan janin.
b. Pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan tekanan darah, berat
badan, tinggi fundus uteri (TFU), detak jantung janin (DJJ)
dan pemeriksaan fisik menyeluruh serta pemeriksaan dalam
bila pada kunjungan pertama tidak dilakukan.
c. Pemeriksaan laboratorium.
3) Pemeriksaan kehamilan ketiga
Pemeriksaan yang dilakukan saat usia kehamilan mencapai 32
minggu. dengan komposisi pemeriksaan hampir sama dengan
pemeriksaan kedua yaitu :
a. Anamnesa
b. Pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan tekanan darah, berat
badan, TFU, DJJ , pemeriksaan Leopold (pemeriksaan
kandungan melalui perut) dan pemeriksaan fisik menyeluruh.
c. Pemeriksaan laboratorium.
4) Pemeriksaan kehamilan keempat.
Ini merupakan pemeriksaan kehamilan terakhir dan dilakukan
pada usia kehamilan antara 32-36 minggu. Pada pemeriksaan ini
akan dilakukan pemeriksaan :
a. Anamnesa
d. Pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan pemeriksaan tekanan
darah, berat badan, TFU, DJJ , pemeriksaan Leopold
(pemeriksaan kandungan melalui perut) dan pemeriksaan fisik
menyeluruh.
b. Pemeriksaan laboratorium. Urinalisis, cek protein dalam urin
bila tekanan darah tinggi, gula darah dan hemoglobin terutama
bila kunjungan pertama anda dinyatakan anemia.
c. Saat pemeriksaan kehamilan keempat inilah anda akan mulai
mendiskusikan pilihan persalinan yang aman sesuai dengan
kondisi kehamilan(Wiknjosastro H, 1999).
D. Pemeriksaan yang Dilakukan dalam Kunjungan
Selama kunjungan, akan ada pemeriksaan sebagai berikut:
a. Berat Badan: mayoritas wanita bertambah berat badannya sebesar
10-12,5 kg selama kehamilan, kebanyakan terjadi setelah minggu
ke-20. Normalnya 10-16,5 kg slama kehamilan.
b. Tinggi Badan: gambaran kasar mengenai ukuran luas panggul
anda.
c. Pemeriksaan fisik
1. Air seni
- Gula: untuk mengetahui apakah ada risiko diabetes
gestasional
- Protein, atau ‘albumin’ dalam air seni anda dapat
menunjukkan apakah ada infeksi yang memerlukan
perawatan. Kadar protein juga dapat menjadi pertanda
hipertensi (tekanan darah tinggi) akibat kehamilan.
d. Tekanan darah : tekanan darah anda akan diukur setiap kali
kunjungan. Kenaikan tekanan darah pada akhir-akhir masa
kehamilan dapat menjadi pertanda pre-eklampsia.
e. Tes darah
- Golongan darah
- Rhesus negatif atau positif
- Hemoglobin
f. Tes Khusus
- Daya tahan tubuh anda terhadap rubela (campak Jerman)
Sifilis
- Hepatitis B
- HIV
- Penyakit anemia sel sabit dan talasemia
- Apusan mulut rahim mendeteksi perubahan awal pada bagian
mulut rahim yang bisa menjadi kanker di kemudian hari jika
tidak dirawat.
- Herpes (Wiknjosastro H, 1999).
E. 10Standar ANC
1) Timbang Berat Badan
Tujuan pemeriksaan berat badanadalah untuk mengetahui
peningkatan berat badan ibu hamil dalam setiap bulannya.Berat
badan kurang dari 45 kg pada trimester ketiga menyatakan ibu
kurus memiliki kemungkinan melahirkan bayi dengan berat badan
lahir rendah. Kenaikan berat badan normal pada waktu hamil 0,5
kg per minggu mulai trimester kedua. Normalnya pertambahan
berat badan selama kehamilan yaitu 5-15 kg.
2) Ukur Lila (tentukan status gizi)
Untuk mengetahui status gizi ibu hamil, haruslah dilakukan
pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA).Pengukuran LILA
dilakukan pada wanita usia subur (15-45 tahun) dan ibu
hamiluntuk memprediksi adanya kekurangan energi dan protein
yang bersifat kronis atau sudah terjadi dalam waktu lama.
Pengukuran LILA dilakukan dengan melingkarkan pita LILA
sepanjang 33 cm, atau meteran kain dengan ketelitian 1 desimal
(0,1 cm). Saat dilakukan pengukuran, ibuhamil pada posisi
berdiri dan dilakukan pada titik tengah antara pangkal bahu dan
ujung siku lengan kiri, jika ibu hamil yang bersangkutan tidak
kidal.
Sebaliknya jika dia kidal, pengukuran dilakukan pada lengan
kanan. Hal ini dilakukan untuk memperkecil bias yang terjadi,
karena adanya pembesaran otot akibat aktivitas, bukan karena
penimbunan lemak. Demikian juga jika lengan kiri lumpuh,
pengukuran dilakukan pada lengan kanan.
Dengan pengukuran LILA dapat digunakan untuk deteksi dini
dan menapis risiko bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
Setelah melalui penelitian khusus untuk perempuan Indonesia,
diperoleh standar LILA sebagai berikut :
 Jika LILA kurang dari 23,5 cm, berarti status
gizi ibuhamil kurang, misalnya kemungkinan mengalami
KEK (Kurang Energi Kronis) atau anemia kronis, dan
berisiko lebih tinggi melahirkan bayi BBLR.
 Jika LILA sama atau lebih dari 23,5 cm, berarti status
gizi ibuhamil baik, dan risiko melahirkan bayi BBLR lebih
rendah.
3) Ukur Tekanan Darah
Pengukuran tekanan darah/tensi dilakukan secara rutin setiap
ANC, diharapkan tenakan darah selama kehamilan tetap dalam
keadaan normal (120 / 80 mmHg).Hal yang harus diwaspadai
adalah apabila selama kehamilan terjadi peningkatan tekanan
darah (hipertensi) yang tidak terkontrol, karena dikhawatirkan
dapat terjadinya preeklamsia atau eklamsia (keracunan dalam
masa kehamilan) dan dapat menyebabkan ancaman kematian bagi
ibu dan janin / bayinya.Hal yang juga harus menjadi perhatian
adalah tekanan darah rendah (hipotensi), seringkali disertai
dengan keluhan pusing dan kurang istirahat.
4) Ukur TFU
Untuk menentukan usia kehamilan dilakukan pemeriksaan
TFU. Pemeriksaan dilakukan dengan cara melakukan palpasi
(sentuhan tangan secara langsung di perut ibu hamil) dan
dilakukan pengukuran secara langsung untuk memperkirakan usia
kehamilan, serta bila umur kehamilan bertambah.
Pemeriksaan ini dilakukan pula untuk menentukan posisi,
bagian terendah janin dan masuknya kepala janin ke dalam
rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan
tepat waktu.Pemantauan ini bertujuan untuk melihat indikator
kesejahteraan ibu dan janin selama masa kehamilan.
5) Hitung DJJ
Sebagai acuan untuk mengetahui kesehatan dan perkembangan
janin. Denyut jantung janin normal permenit adalah sebanyak
120-160 kali. Denyut jantung janin baru dapat didengar pada usia
kehamilan 16 minggu / 4 bulan.
6) Tentukan Presentasi Janin
Pemeriksaan untuk menentukan posisi, bagian terendah janin
dan masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk
mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.
7) Beri Imunisasi Tetanus Toxoid
Manfaat dari imunisasi TT ibu hamil diantaranya:
 Melindungi bayi yang baru lahir dari penyakit tetanus
neonatorum.

 Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka.

Pemberian imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali,


dengan dosis 0,5 cc di injeksikan intramuskuler/subkutan (dalam
otot atau dibawah kulit). Imunisasi TT sebaiknya diberikan
sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT
lengkap.TT1 dapat diberikan sejak di ketahui postif hamil dimana
biasanya di berikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana
kesehatan.Jarak pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2
adalah minimal 4 minggu.
8) Pemeriksaan Laboratorium
Tes laboratorium sederhana yang dilakukan saat pemeriksaan
kehamilan adalah pemeriksaan Hb untuk menilai status anemia
pada ibu hamil. Apabila didapatkan resiko penyakit lainnya saat
kehamilan seperti darah tinggi/hipertensi dan kencing
manis/diabetes melitus, maka dapat dilakukan tes laboratorium
lainnya seperti tes fungsi ginjal, kadar protein (albumin dan
globulin), kadar gula darah dan urin lengkap.
9) Beri Tablet Tambah Darah (tablet besi)
Wanita hamil cenderung terkena anemia (kadar Hb darah
rendah) pada 3 bulan terakhir masa kehamilannya, karena pada
masa itu janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri
sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir. Anemia pada
kehamilan dapat disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan zat
besi untuk pertumbuhan janin, kurangnya asupan zat besi pada
makanan yang dikonsumsi ibu hamil, pola makan ibu terganggu
akibat mual selama kehamilan, dan adanya kecenderungan
rendahnya cadangan zat besi (Fe) pada wanita akibat persalinan
sebelumnya dan menstruasi.
Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan hambatan pada
pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak, kematian
janin, abortus, cacat bawaan, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah),
anemia pada bayi yang dilahirkan, lahir prematur, pendarahan,
rentan infeksi. Defisiensi besi bukan satu-satunya penyebab
anemia, tetapi apabila prevalensi anemia tinggi, defisiensi besi
biasanya dianggap sebagai penyebab yang paling dominan.
Pertimbangan itu membuat suplementasi tablet besi folat selama
ini dianggap sebagai salah satu cara yang sangat bermanfaat
dalam mengatasi masalah anemia. Anemia dapat diatasi dengan
meminum tablet besi atau Tablet Tambah Darah (TTD). Kepada
ibu hamil umumnya diberikan sebanyak satu tablet setiap hari
berturut-turut selama 90 hari selama masa kehamilan. TTD
mengandung 200 mg ferrosulfat, setara dengan 60 miligram besi
elemental dan 0.25 mg asam folat.
10) Temu Wicara
Memberikan konsultasi atau melakukan kerjasama penanganan
tindakan yang harus dilakukan oleh bidan atau dokter dalam temu
wicara, antara lain :
 Merujuk ke dokter untuk konsultasi, menolong ibu
menentukan pilihan yang tepat.
 Melampirkan kartu kesehatan ibu beserta surat rujukan
 Meminta ibu untuk kembali setelah konsultasi dan membawa
surat hasil rujukan
 Meneruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi selama
kehamilan
 Memberikan asuhan Antenatal (selama masa kehamilan)
 Perencanaan dini jika tidak aman melahirkan dirumah
 Menyepakati diantara pengambil keputusan dalam keluarga
tentang rencanaproses kelahiran
 Persiapan dan biaya persalinan(Wiknjosastro H, 1999).
2.2 Kerangka Teori

Program Pendampingan
SEHATI

Baik

Ibu Hamil
Risiko Tinggi Status Gizi
Komplikasi
Kurang pada Ibu dan
Bayi

Keterangan:
Diteliti

Tidak Diteliti

2.3 Kerangka Konsep


Kerangka konsep penelitian ini adalahsebagai berikut:

Status Gizi
Program Pendampingan Ibu Hamil
SEHATI Risiko Tinggi

2.4 Hipotesis
H0 : tidak ada pengaruh pendampingan SEHATI terhadap status gizi
ibu hamil risiko tinggi di Puskesmas Tanjung Karang
H1 : ada pengaruh pendampingan SEHATI terhadap status gizi ibu
hamil risiko tinggi di Puskesmas Tanjung Karang