Anda di halaman 1dari 7

OSTEOARTHRITIS DAN PENGOBATAN HERBAL

NABILA EDWARD
030.14.131

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI, JAKARTA, INDONESIA
BAB I
Pendahuluan

a. Latar belakang masalah

Diperkirakan 1 sampai 2 juta orang usia lanjut di Indonesia menderita cacat karena
Osteoarthritis ( OA ). Prevelensi OA lutut radiologis di Indonesia cukup tinggi, yaitu mencapai
15.5% pada pria dan 12.7% pada wanita. Oleh karena itu tantangan terhadap dampak OA akan
semakin besar karena semakin banyaknya populasi yang berusia tua. Kelainan utama OA adalah
kerusakan rawan sendi yang disertai dengan penebalan tulang subkondral, pertumbuhan
osteofit, kerusakan ligament, dan peradangan pada sinovium, yang dapat menimbulkan efusi
sendi Osteoarthritis (OA) masih merupakan masalah kesehatan utama. WHO menyatakan
bahwa OA merupakan salah satu penyebab utama kegagalan fungsi yang mengurangi kualitas
hidup manusia di dunia. Masalah ini menjadi semakin besar karena peningkatan nilai harapan
kualitas hidup dan peningkatan laju penderita obesitas.
Evaluasi progresivitas penyakit atau hasil pengobatan OA sampai sekarang didasarkan
pada pengamatan klinik dan radiografi k sendi yang terkena. Disadari kedua parameter tersebut
tak dapat memberikan penilaian yang sensitif untuk perkembangan kerusakan rawan sendi OA.
Parameter laboratorik yang banyak dipergunakan adalah pengukuran kadar C-reactive protein
(CRP) dan laju endap darah (LED) yang hasilnya normal atau sedikit meningkat dan rheuma
factor (RF) negatif. Pertanda tersebut juga tidak dapat mencerminkan dengan akurat beratnya
kerusakan sendi dan korelasinya buruk dengan kerusakan rawan sendi
Terapi OA mengatasi gejala, mencegah perkembangan penyakit, meminimalkan
disabilitas/ketidakmampuan, serta meningkatkan kualitas hidup. Terapi tradisional hingga saat
ini belum mampu mengatasi progresi penyakit,sebagian besar masih terpusat pada tata laksana
nyeri saja. Tata laksana OA meliputi berbagai teknik dan prinsip, meliputi terapi
nonfarmakologi, farmakologi dan pembedahan. Intervensi nonfarmakologi seperti penurunan
berat badan dan exercise harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam perencanaan terapi.
Intervensi farmakologi yang tersedia saat ini lebih banyak ditujukan untuk pengatasan gejala.
Terapi OA pada umumnya simptomatik, misalnya dengan pengendalian faktor – faktor resiko,
latihan intervensi fisioterapi dan terapi farmakologis.
Belum ada intervensi secara terprogram oleh pemerintah terhadap faktor-faktor risiko
tersebut. Pemerintah sedang berupaya melakukan intervensi secara terprogram dengan
dibentuknya Direktorat Penyakit Tidak Menular Sub Direktorat Penyakit Kronis Degeneratif,
yang bertugas menangani masalah-masalah penyakit kronis degeneratif termasuk osteoartritis.
Hal tersebut diperkuat dengan adanya Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1277 /
Menkes / SK / XI / 2006 tentang Struktur Organisasi dan Tatalaksana Departemen Kesehatan RI.
Sedangkan intervensi yang dilakukan pihak rumah sakit lebih bersifat kuratif dan rehabilitatif.
Namun penulis ingin mengetahui apakah pengobatan herbal memang jauh lebih baik
dan efisien dibandingkan pengobatan secara medis. Supaya dapat di sosialisasikan kepada
masyarakat bilamana memang pengobatan herbal baik bagi penderita Osteoarthritis.
BAB II
Tinjauan Pustaka

a. Definisi osteoarthritis

Osteoarthritis (OA) merupakan salah satu penyebab ketidakmampuan beraktivitas pada


geriatri. Tujuan terapi OA adalah untuk mengontrol gejala, meminimalkan ketidakmampuan
dan meningkatkan kualitas hidup. OA juga merupakan penyakit radang sendi yang paling
banyak dijumpai di masyarakat, termasuk di Indonesia. Degenerasi sendi yang menyebabkan
sindrom klinis osteoartritis muncul paling sering pada sendi tangan, panggul, kaki, dan tulang
belakang (spine) meskipun bisa terjadi pada sendi sinovial mana pun. Prevalensi kerusakan
sendi sinovial ini meningkat dengan pertambahan usia. Pasien OA biasanya mengeluh nyeri
pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan pada sendi yang terkena. Pada
derajat yang lebih berat, nyeri dapat dirasakan terus menerus sehingga sangat mengganggu
mobilitas pasien.Penyakit ini menyebabkan nyeri dan disabilitas pada pasien sehingga
mengganggu aktifi tas sehari-hari dan menimbulkan dampak social ekonomi yang berat.
Kelainan utama OA adalah kerusakan rawan sendi yang disertai dengan penebalan tulang
subkondral, pertumbuhan osteofit, kerusakan ligament, dan peradangan pada sinovium, yang
dapat menimbulkan efusi sendi

b. Etiologi

Berdasarkan pathogenesis dari osteoarthritis dibedakan menjadi 2 yaitu osteoarthritis


primer dan sekunder. Osteoarthritis primer disebut juga osteoarthritis idiopatik yaitu yang
kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses
perubahan lokal pada sendi. Osteoarthritis sekunder adalah osteoarthritis yang didasari oleh
adanya kelainan endokrin, inflamasi, metabolic, pertumbuhan, herediter, serta imobilisasi yang
terlalu lama.
Hasil penelitian menunjukan 87% adalah kasus OA primer, dan 13% kasus OA sekunder.
Menurut klasifikasi rontgentography, 38% adalah jenis awal, 28,5% jenis
patellofemoral dan 23,2% jenis medio-patellofemoral.
Ada beberapa faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, yaitu:
 Usia lebih dari 40 tahun
 Jenis kelamin
 Suku bangsa
 Genetik
 Kegemukan den penyakit metabolic
 Cedera sendi, pekerjaan, olahraga
 Kelainan pertumbuhan
 Kepadatan tulang, dan lain-lain
c. Patofisiologi

Akibat peningkatan aktifitas enzim-enzim yang merusak makromolekul matriks tulang


rawan sendi (proteoglikan dan kolagen) terjadi kerusakan fokal tulang rawan sendi secara
progresif dan pembentukan tulang baru pada dasar lesi tulang rawan sendi serta tepi sendi
(osteofit). Osteofit terbentuk sebagai suatu proses perbaikan untuk membentuk kembali
persendian, sehingga dipandang sebagai kegagalan sendi yang progresif
Pada penderita OA, dilakukannya pemeriksaan radiografi pada sendi yang terkena sudah
cukup untuk memberikan suatu gambaran diagnostik (Soeroso, 2006). Gambaran Radiografi
sendi yang menyokong diagnosis OA adalah :
 Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada
bagian yang menanggung beban seperti lutut).
 Peningkatan densitas tulang subkondral (sklerosis).
 Kista pada tulang
 Osteofit pada pinggir sendi.
 Perubahan struktur anatomi sendi.
Berdasarkan temuan radiografi, maka OA dapat diberikan suatu derajat. Kriteria OA
berdasarkan temuan radiografi dikenal sebagai kriteria Kellgren dan Lawrence yang membagi
OA dimulai dari tingkat ringan hingga tingkat berat. Perlu diingat bahwa pada awal penyakit,
gambaran radiografi sendi masih terlihat normal.

d. Gambaran Klinis

Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu
bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula-mula rasa kaku, kemudian timbul rasa
nyeri yang berkurang saat istirahat. Terhadap hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi,
krepitasi, pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan.
BAB III
Pembahasan

Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan kekuatan sendi, memelihara atau


meningkatkan gerakan sendi, mengurangi keterbatasan akibat penyakit, mengurangi rasa nyeri.
Pengobatan ini tergantung pada sendi yang terlibat. Perubahan pada gaya hidup dengan latihan
fisik membantu menjaga gerakan sendi dan keseluruhan. Latihan air, seperti berenang sangat
membantu. Rekomendasi gaya hidup lainnya termasuk:
 Menerapkan panas dan dingin
 Makan makanan yang sehat dan seimbang
 Istirahat
 Menurunkan berat badan jika kelebihan berat badan
 Melindungi sendi
Terapi fisik juga dapat membantu meningkatkan kekuatan otot dan gerakan pada sendi kaku.
Terapi non obat terdiri atas:
 menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan (mutlak dilakukan, karena salah
satu penyebab utama Osteoartritis adalah kelebihan berat badan)
 latihan menguatkan otot paha dan pinggul untuk menjaga kebugaran tubuh
 memakai knee brance selama diperlukan
Metode yang dipakai adalah prospektif, dengan rancangan acak terkontrol.Populasi
penelitian terdiri 450 kelebihan berat badan dan obesitas (Body Mass Index = 27-40,5 kg/m2)
lansia (umur ≥55 thn) dengan osteoarthritis tibiofemoral. Peserta diacak untuk satu dari tiga 18
bulan intervensi: intensif diet pembatasan-plus-latihan; latihan-saja, atau intensif diet
pembatasan saja. Tujuan utama adalah untuk membandingkan efek dari Intervensi pada
biomarker inflamasi dan beban sendi lutut. Tujuan sekunder akan memeriksa efek dari
intervensi pada perbaikan fungsi, rasa sakit, dan mobilitas, respon dosis untuk menurunkan
berat badan pada perkembangan penyakit, apakah biomarker inflamasi dan beban sendi lutut
adalah sebagai mediator dari intervensi, dan hubungan antara quadriceps kekuatan dan
perkembanganvpenyakit. Rehabilitasi medik berarti mengembalikan kemampuan fungsi alat
organ atau anggota tubuh yang sakit/cedera/penyakit agar dapat berfungsi lagi semaksimal
mungkin sehingga seseorang dapat mandiri kembali. Dahulu tindakan rehabilitasi medik selalu
dilakukan setelah pengobatan selesai sehingga hasil yang dicapai tidak maksimal. Untuk
mencegah adanya kecacatan sebaiknya perlu upaya rehabilitasi sedini mungkin.
Intervensi rehabilitasi medik mempunyai 3 tujuan :
1. pencegahan
2. restorasi
3. pemeliharaan
Rehabilitasi medik mencakup penilaian gangguan biomekanik karena berkaitan dengan
fungsi sendi serta dampak penyakit dan kecacatan terhadap kemandirian, citra diri, keluarga
dan status kerja seseorang serta fungsi seksual. Modalitas fisik memakai energi fisika seperti
termoterapi (panas atau dingin), hidroterapi, elektroterapi (TENS=transcutaneous electrical
nerve stimulators dan Interferensial). Terapi panas dalam adalah Ultrasound, MWD (Microwave
diathermy) , SWD(Short wave diathermy), ada juga massage. Modalitas fisik dipakai untuk
mengatasi nyeri, mengurangi kekakuan dan otot yang kram (spasme) serta memperkuat
struktur sekitar sendi untuk menunjang sendi. Pemilihan jenis terapi disesuaikan dengan
respons individu dan proses akut/kronik. Yang terpenting adalah LATIHAN, ada berbagai latihan
yang diberikan berguna untuk memperbaiki gerak sendi, memperbaiki kekuatan otot dan
ketahanan otot dan mengurangi spasme otot. Latihan aerobik yang dianjurkan adalah
berenang, jalan kaki dan bersepeda (statik). Ortosis atau alat bantu seperti knee
brace/insole dapat mengurangi pembebanan dan memperbaiki biomekanik sendi lutut. Tongkat
selain mengurangi pembebanan sendi lutut dapat juga memperbaiki keseimbangan.
Edukasi untuk proteksi sendi, konservasi energi dan psikososial serta penurunan berat badan
bagi yang mempunyai kelebihan berat badan. Rehabilitasi medik diberikan sesuai tahapan
penyakit dan spesifik untuk setiap individu lengkap dan terperinci adalah resep untuk
mempertahankan / meningkatkan fungsi sendi dan kebugaran serta kualitas hidup.
BAB IV
Kesimpulan & Saran

1. Kesimpulan

Terapi non farmakologi masih menjadi dasar untuk tata laksana OS. Terapi farmakologi
utamanya masih ditujukan untuk mengatasi gejala. Obat-obat yang mampu memodifikasi
penyakit masih sangat diharapkan, namun dibutuhkan evaluasi secara cermat untuk
memastikan penggunaannya secara klinis. Manajemen terpadu osteoarthritis dilakukan dengan
melibatkan peran serta aktif pasien, termasuk memodifikasi gaya hidup melalui edukasi,
fisioterapi, dan latihan fisik yang terprogram dengan baik. Kombinasi terapi farmakologi dengan
nonfarmakologi memberikan hasil yang cukup baik. Latihan fisik sebagai bagian dari terapi
alami pada osteoarthritis memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup
penderita

2. Saran

Pada penderita penyakit osteoartritis pada yang mengalami obesitas penangannya juga
dengan cara harus dapat menurunkan berat badannya. Obesitas akan menyebabkan beban
yang berlebihan pada sendi terutama sendi panggul dan lutut. Penanganan lain ialah dengan
fisioterapi osteoartritis dimana akan dilatih untuk menguatkan otot di sekitar sendi sehingga
tekanan yang diterima sendi tersebut juga akan berkurang. Latihan fisik sebagai bagian dari
terapi alami pada osteoarthritis memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas
hidup penderita

Untuk mencegah osteoarthritis, lakukan hal-hal berikut:


 Konsumsi makanan sehat seperti buah-buahan, sayur dan kacang-kacangan.
 Minum obat yang direkomendasikan dokter.
 Pertimbangkan untuk menggunakan alat bantu saat beraktivitas untuk mengurangi
bahaya.
 Jaga gerakan yang dapat menyebabkan cidera tulang.
 Jika mengangkat benda, usahakan beban terbagi merata pada seluruh sambungan
tulang.
 Pilih sepatu yang tepat.
 Ketahui batas kemampuan gerakan dan kemampuan mengangkat beban.
 Teknik relaksasi juga dapat membantu, seperti mengambil napas dalam dan hipnosis.