Anda di halaman 1dari 17

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gastroenteritis atau diare sampai saat ini masih merupakan masalah
kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Menurut
Suharyono (2014) gastroenteritis akut didefinisikan sebagai buang air besar
dengan tinja yang cair atau lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal,
berlangsung kurang dari 14 hari. Sedangkan menurut Priyanto (2015)
gastroenteritis kronik yaitu yang berlangsung lebih dari 14 hari. Gastroenteritis
atau diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab
gastroenteritis yang terbanyak adalah gastroenteritis infeksi. Gastroenteritis atau
diare infeksi dapat disebabkan virus, bakteri, dan parasit. Menurut Word Health
Organization (WHO), di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan
dan ekonomi masyarakat tetapi insiden gastroenteritis atau diare infeksi tetap
tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita
diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek
umum menderita gastroenteritis atau diare infeksi. Tingginya kejadian
gastroenteritis di negara Barat ini oleh karena foodborne infections dan
waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter
jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan
Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC) (Sinaga, 2015). 1 Di Indonesia dari
2.812 pasien gastroenteritis atau diare yang disebabkan bakteri yang datang
kerumah sakit dari beberapa provinsi seperti Jakarta, Jawa, Sumatra yang
dianalisa dari 2004 s/d 2005. Menurut Mary Phillips (2016) penyebab terbanyak
adalah Vibrio cholerae 01, diikuti dengan Shigella spp, Salmonella spp, V.
Parahaemoliticus, Salmonella typhi, Campylobacter Jejuni, V. Cholera non-01,
dan Salmonella paratyphi A. Berdasarkan data profil kesehatan 2011, jumlah
kasus diare di Jawa Tengah berdasarkan laporan puskesmas sebanyak 420.587
sedangkan kasus gastroenteritis dirumah sakit sebanyak 7.648 sehingga jumlah
keseluruhan penderita yang terdeteksi adalah 428.235 dengan jumlah kematian
adalah sebanyak 54 orang. Dari laporan surveilan terpadu tahun 2010 jumlah

1
2

kasus diare didapatkan 15,3 % di Puskesmas, di rumah sakit didapat 0,20% pada
penderita rawat inap dan 0,05 % pasien rawat jalan. ( Haryawan, 2015). Cakupan
penemuan penderita diare selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan,
meskipun masih dibawah yang diharapkan yaitu sebesar 80%. Peningkatan
cakupan pada tahun 2010 cukup tinggi, disebabkan adanya peningkatan
pengiriman laporan dari kab/kota. Peningkatan cakupan penemuan penting karena
mengurangi kematian akibat terlambatnya pertolongan kasus diare. Hal ini kalau
tidak segera ditangani akan mengancam keselamatan klien misalnya, jika terjadi
dehidrasi akan menyebabkan syok hipovolemik, serta dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan hai ini disebabkan oleh kurangnya makanan yang tidak
dapat diserap oleh tubuh dan kurangnya masukan makanan yang masuk dalam
tubuh. Oleh karena itu peran perawat dalam menangani klien dengan gangguan
gastroenteritis adalah dengan memonitor intake dan output klien, monitor tanda-
tanda vital, monitor asupan makanan dan diet klien, menyarankan pada klien
untuk banyak minum, menjaga personal hygiene, dan menjaga lingkungan agar
tetap nyaman dan tenang. Menurut catatan rekam medis RSUD Sukoharjo
dilaporkan selama tahun 2011 diagnosa gastroenteritis menduduki posisi pertama
dalam daftar sepuluh penyakit yang ada di RSUD Sukoharjo, tercatat jumlah
penderita yang dirawat dengan diagnosa gastroenteritis berjumlah 2151 kasus.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dicantumkan di atas maka penulis
dapat merumuskan berbagai masalah sebagai berikut:
1.2.1 Definisi GEA
1.2.2 Etiologi GEA
1.2.3 Klasifikasi GEA
1.2.4 Patofisiologi GEA
1.2.5 Pathway GEA
1.2.6 Manifestasi KlinisGEA
1.2.7 Pemeriksaan Diagnostik GEA
1.2.8 Penatalaksanaan GEA
1.2.9 Komplikasi GEA
3

1.2.10 Konsep Teori Asuhan Keperawatan GEA

1.3. Tujuan Penulisan


Melalui cakupan laporan pendahuluan ini. Penulis menginginkan dapat
mencapai tujuan seperti berikut ini :
1.3.1 Mahasiswa mengerti tentang Definisi GEA
1.3.2 Mahasiswa mengerti tentang Etiologi GEA
1.3.3 Mahasiswa mengerti tentang Klasifikasi GEA
1.3.4 Mahasiswa mengerti tentang Patofisiologi GEA
1.3.5 Mahasiswa mengerti tentang Pathway GEA
1.3.6 Mahasiswa mengerti tentang Manifestasi Klinis GEA
1.3.7 Mahasiswa mengerti tentang Pemeriksaan Diagnostik GEA
1.3.8 Mahasiswa mengerti tentang Penatalaksanaan GEA
1.3.9 Mahasiswa mengerti tentang Komplikasi GEA
1.3.10 Mahasiswa mengerti tentang Konsep Teori Asuhan Keperawatan GEA
4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gastroenteritis atau diare adalah penyakit yang ditandai dengan
bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai
perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah dan/atau lendir
(Sudaryat, 2017).
Gastroenteritis atau diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang
tidak normal atau tidak seperti biasanya, dimulai dengan peningkatan volume,
keenceran serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4
kali sehari dengan atau tanpa lendir dan darah.
Dapat disimpulkan Gastroenterits atau diare akut adalah inflamasi lambung
dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus, dan pathogen,yang di
tandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari)
disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), Diare juga dapat terjadi pada
bayi dan anak yang sebelumnya sehat dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari
dengan atau tanpa lendir dan darah.

2.2 Etiologi
Penyebab Gastrointeritis atau diare dapat dibagi dalam beberapa faktor :
1. Faktor infeksi
a. Infeksi internal adalah infeksi saluran pencernaan makanan yang
merupakan penyebab utama diare pada anak, infeksi internal, meliputi:
b. Infeksi bakteri
Vibrio, E. Coli, salmonella, shigella, campylobacter, yersinia, aeromonas
dan sebagainya.
c. Infeksi virus
entrovirus (virus ECHO), coxsackie, poliomyelitis, adenovirus, rotavirus,
astovirus dan lain-lain.
d. Infeksi parasit
Cacing, protozoa, dan jamur.

4
5

2. Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida, monosakarida pada bayi dan anak,
malabsorbsi lemak, malabsorbsi protein.
3. Faktor makanan
Makanan basi beracun dan alergi makanan.
4. Faktor kebersihan
Penggunaan botol susu, air minum tercemar dengan bakteri tinja, tidak
mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja atau
sebelum mengkonsumsi makanan.
5. Faktor psikologi
Rasa takut dan cemas dapat menyebabkan diare karena dapat merangsang
peningkatan peristaltik usus.

2.3 Klasifikasi
Diare dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Ditinjau dari ada atau tidaknya infeksi, diare dibagi menjadi dua golongan:
a. Diare infeksi spesifik: tifus dan para tifus, staphilococcus disentri basiler,
dan Enterotolitis nektrotikans.
b. Diare non spesifik: diare dietetis.
2. Ditinjau dari organ yang terkena infeksi diare:
a. Diare infeksi enteral atau infeksi di usus, misalnya: diare yang ditimbulkan
oleh bakteri, virus dan parasit.
b. Diare infeksi parenteral atau diare akibat infeksi dari luar usus, misalnya:
diare karena bronkhitis.
3. Ditinjau dari lama infeksi, diare dibagi menjadi dua golongan yaitu:
a. Diare akut : Diare yang terjadi karena infeksi usus yang bersifat
mendadak, berlangsung cepat dan berakhir dalam waktu 3 sampai 5 hari.
Hanya 25% sampai 30% pasien yang berakhir melebihi waktu 1 minggu
dan hanya 5 sampai 15% yang berakhir dalam 14 hari.
b. Diare kronik, ádalah diare yang berlangsung 2 minggu atau lebih
6

2.4 Patofisiologi
Sebagian besar diare akut di sebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang
terjadi karena infeksi saluran cerna antara lain: pengeluaran toksin yang dapat
menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorbsi cairan dan elektrolit dengan akibat
dehidrasi,gangguan keseimbangan elektrolit dan gangguan keseimbangan asam
basa. Invasi dan destruksi pada sel epitel, penetrasi ke lamina propia serta
kerusakan mikrovili yang dapat menimbulkan keadaan maldigesti dan
malabsorbsi,dan apabila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat pada
akhirnya dapat mengalami invasi sistemik.
Penyebab Gastroenteritis Akut adalah masuknya virus (Rotavirus,
Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter,
Salmonella, Escherichia coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia,
Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi
pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau sitotoksin dimana merusak sel-sel,
atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut. Penularan
Gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya.
Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan
minuman yang terkontaminasi. Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare
adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare).
Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus,
sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan
moltilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat
dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang
mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia),
gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dangangguan
sirkulasi darah.
7

2.5 Pathway Gastroenteritis

Sumber: Jhon Smith, (PDF,2014)


8

2.6 Manifestasi Klinis


Gejala akibat kekurangan volume cairan dapat dikatagorikan berdasarkan
derajat dehidrasi antara lain:

1. Derajat Dehidrasi Berdasarkan Kehilangan Berat Badan


 Tidak ada dehidrasi
 Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 3-5%.
 Dehidrasi sedang bila terjadi penurunan berat badan 6-9%
 Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan ≥10%
2. Turgor Kulit
Menentukan elastisitas turgor kulit dapat dilakukan dengan cara kulit perut
dijepit antara ibu jari dan telunjuk (selama 30-60 detik) kemudian dilepaskan,
jika kulit kembali dalam :
 1 detik : elastisitas turgor kulit agak kurang (dehidrasi ringan)
 1-2 detik : elastisitas turgor kulit kurang (dehidrasi sedang)
 2 detik : elastisitas turgor kulit sangat kurang (dehidrasi berat)
Tanda Dan Gejala
1. Diare.
2. Muntah.
3. Demam.
4. Nyeri abdomen
5. Membran mukosa mulut dan bibir kering
6. Fontanel cekung
7. Kehilangan berat badan
8. Tidak nafsu makan
9. Badan terasa lemah

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


 Pemeriksaan laboratorium
 Pemeriksaan tinja.
 Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,bila
memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah
atau astrup,bila memungkinkan.
9

 Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal.


 Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum (EGD) untuk mengetahui jasad
renik atau parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare
kronik.
 Pemeriksaan radiologis seperti sigmoidoskopi, kolonoskopi dan lainnya
biasanya tidak membantu untuk evaluasi diare akut infeksi.

2.8 Penatalaksanaan
2.8.1 Terapi Cairan
Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu diberikan kepada penderita
diare, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Jumlah cairan : jumlah cairan yang harus diberikan sama dengan jumlah
cairan yang telah hilang melalui diare dan/muntah muntah PWL (Previous
Water Losses) ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui
keringat, urin dan pernafasan NWL (Normal Water Losses).
b. Cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung
CWL (Concomitant water losses)
Ada 2 jenis cairan yaitu:
 Cairan Rehidrasi Oral (CRO) : Cairan oralit yang dianjurkan oleh WHO-
ORS, tiap 1 liter mengandung Osmolalitas 333 mOsm/L, Karbohidrat 20 g/L,
Kalori 85 cal/L. Elektrolit yang dikandung meliputi sodium 90 mEq/L,
potassium 20 mEq/L, Chloride 80 mEq/L, bikarbonat 30 mEq/L.
Ada beberapa cairan rehidrasi oral: Cairan rehidrasi oral yang mengandung
NaCl, KCL, NaHCO3 dan glukosa, yang dikenal dengan nama oralit. Cairan
rehidrasi oral yang tidak mengandung komponen-komponen di atas misalnya:
larutan gula, air tajin, cairan-cairan yang tersedia di rumah dan lain-lain,
disebut CRO tidak lengkap.
 Cairan Rehidrasi Parenteral (CRP) Cairan Ringer Laktat sebagai cairan
rehidrasi parenteral tunggal. Selama pemberian cairan parenteral ini, setiap
jam perlu dilakukan evaluasi:
 Jumlah cairan yang keluar bersama tinja dan muntah
 Perubahan tanda-tanda dehidrasi
10

2.8.2 Terapi Obat


 Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut
infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa
pemberian anti biotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada : Pasien
dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah,,
leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan,
persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada
pelancong, dan pasien immunocompromised. Contoh antibiotik untuk
diare Ciprofloksasin 500mg oral (2x sehari, 3 – 5 hari), Tetrasiklin 500
mg (oral 4x sehari, 3 hari), Doksisiklin 300mg (Oral, dosis tunggal),
Ciprofloksacin 500mg, Metronidazole 250-500 mg (4xsehari, 7-14 hari,
7-14 hari oral atau IV).
 Obat Anti Diare
Loperamid HCl serta kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat (lomotil).
Penggunaan kodein adalah 15-60mg 3x sehari, loperamid 2 – 4 mg/ 3 –
4x sehari dan lomotil 5mg 3 – 4 x sehari. Efek kelompok obat tersebut
meliputi penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan sehingga
dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekwensi
diare.Bila diberikan dengan cara yang benar obat ini cukup aman dan
dapat mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Bila diare akut
dengan gejala demam dan sindrom disentri obat ini tidak dianjurkan.

2.9 Komplikasi
Komplikasi GEA diantaranya: Dehidrasi, renjatan hipovolemik, kejang,
bakterimia, malnutrisi, hipoglikemia, intoleransi sekunder akibat kerusakan
mukosa usus.
11

2.10 Konsep Dasar Keperawatan


I. Pengkajian
a. Identitas pasien: Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, umur, asal suku
bangsa dan pekerjaan orang tua.
b. Keluhan utama
Buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan frekunsi sering dan konsistensi
encer.
c. Riwayat penyakit sekarang
 Suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada,
dan diare.
 Feses cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah.
 Anus dan sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi.
 Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah diare.
 Apabila klien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala
dehidrasi mulai tampak.
 Diuresis terjadi oliguria.
d. Riwayat kesehatan meliputi:
 Riwayat imunisasi.
 Riwayat alergi terhadap makanan atau obat obatan
 Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya.
e. Riwayat nutrisi
 Asupan makanan
 Keluhan nyeri abdomen.
 Distensi abdomen, mual, muntah.
 Berat badan biasanya turun.
f. Pola eliminasi
 Frekuensi defekasi sering 5 kali sehari
 Feses cair, mengandung lendir dan darah.
g. Pemeriksaan fisik
 Keadaan umum: baik, sadar (tanpa dehidrasi). Gelisah, (dehidrasi ringan
dan sedang). Lesu, lungkai atau tidak sadar, tidak ada urine (dehidrasi
berat).
12

 Berat badan: klien diare dengan dehidrasi biasanya mengalami penurunan


berat badan: dehidrasi ringan: bila terjadi penurunan berat badan 5%.
 Dehidrasi : sedang bila terjadi penurunan berat badan 5-10%. Dehidrasi
berat bila terjadi penurunan berat badan 10-15%.
 Kulit : Untuk mengetahui elastisitas kulit, dapat dilakukan pemeriksaan
turgor kulit, inspeksi kulit perianal apakah terjadi iritasi.
 Mulut/lidah : Mulut dan lidah biasanya tanpa dehidrasi. Mulut dan lidah
kering (dehidrasi ringan sampai sedang). Mulut dan lidah sangat kering
(dehidrasi berat).
 Abdomen : kemungkinan mengalami distensi, kram, nyeri dan bising usus
yang meningkat.

II. Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan output yang berlebihan
2. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan hiperperistaltik
3. Gangguan eliminasi BAB : diare berhubungan dengan infeksi bakteri
4. Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
banyak cairan (diare berat dan muntah
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengingat informasi atau
tidak mengenal sumber.
13
1

III. Intervensi Keperawatan

No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1 Setelah Dilakukan Tindakan 1. Pantau tanda kekurangan cairan 1. Menentukan intervensi selanjutnya
Keperawatan 2x24 Jam dengan 2. Observasi/catat hasil intake output cairan 2. Mengetahui keseimbangan cairan
Tujuan : volume cairan dan 3. Anjurkan klien untuk banyak minum 3. Mengurangi kehilangan cairan
elektrolit dalam tubuh seimbang 4. Jelaskan pada ibu tanda kekurangan cairan 4. Meningkatkan partisipasi dalam
(kurangnya cairan dan elektrolit 5. Berikan terapi sesuai advis : infus rl 15 perawatan
terpenuhi) tpm 5. mengganti cairan yang keluar dan
Dengan KH : mengatasi diare
1. Turgor kulit cepat kembali.
2. Mata kembali normal
3. Membran mukosa basah
4. Intake output seimbang
2 Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi keluhan nyeri, cacat 1. Identifikasi karakteristik nyeri &
keperawatan 2x24 jam dengan intensitasnya (dengan skala0-10). factor yang berhubungan merupakan
Tujuan : rasa nyaman terpenuhi, 2. Anjurkan klien untuk menghindari allergen suatu hal yang amat penting untuk
klien terbebas dari distensi 3. Lakukan kompres hangat pada daerah memilih intervensi yang cocok &
abdomen dengan KH : perut untuk mengevaluasi ke efektifan dari
1. Klien tidak menyeringai 4. Kolaborasi pemberikan obat sesuai terapi yang diberikan.
kesakitan. indikasi 2. Mengurangi bertambah beratnya
2. Klien mengungkapkan verbal (- Steroid oral, IV, & inhalasi penyakit.
) Analgesik : injeksi novalgin 3x1 amp 3. Dengan kompres hangat, distensi
3. Wajah rileks (500mg/ml) abdomen akan mengalami relaksasi,
4. Skala nyeri 0-3 Antasida dan ulkus : injeksi ulsikur 3x1 pada kasus peradangan
142

amp (200mg/ 2ml) akut/peritonitis akan menyebabkan


penyebaran infeksi.
4. Pemberian terafi obat Kortikosteroid
untuk mencegah reaksi alergi.
Analgesik untuk mengurangi nyeri.

3 Setelah Dilakukan Tindakan 1. Mengobservasi TTV 1. kehilangan cairan yang aktif secar
Keperawatan 2x24 Jam dengan 2. Jelaskan pada pasien tentang penyebab dari terus menerus akan mempengaruhi
Tujuan :Konsistensi BAB lembek, diarenya TTV
frekwensi 1 kali perhari dengan KH 3. Pantau leukosit setiap hari 2. Klien dapat mengetahui penyebab
: 4. Kaji pola eliminasi klien setiap hari dari diarenya.
5. Kolaborasi: 3. Berguna untuk mengetahui
1. Tanda vital dalam batas normal Konsul ahli gizi untuk memberikan diet penyembuhan infeksi
(N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, sesuai kebutuhan klien. 4. Untuk mengetahui konsistensi dan
RR : < 40 x/mnt ) Antibiotik: cefotaxime 3x1 amp frekuensi BAB
2. Leukosit : 4000 – 11.000 (500mg/ml) 5. Metode makan dan kebutuhan kalori
3. Hitung jenis leukosit : 1-3/2- didasarkan pada kebutuhan.
6/50-70/20-80/2-8
153

4 Setelah Dilakukan Tindakan 1. Awasi masukan dan haluan, karakter dan 1. Memberikan informasi tentang
Keperawatan 2x24 Jam dengan jumlah feses Keseimbangan cairan
Tujuan : volume cairan dan 2. Observasi kulit kering berlebihan dan Hipotensi (termasuk postoral),
elektrolit dalam tubuh seimbang membrane mukosa, penurunan turgor takikardia demam dapat
(kurangnya cairan dan elektrolit Kulit, pengisapan kapiler lambat. menunjukkan terhadap Efek /
terpenuhi) 3. Catat kelemahan otot umum atau disritmia kehilangan cairan
jantung 2. Menunjukkan kehilangan cairan
Dengan KH : 4. Berikan cairan parenteral sesuai indikasi berlebih atau dehidrasi.
Mempertahankan volume cairan 5. Berikan obat sesuai indikasi antidiare 3. Kelemahan usus berlebihan dapat
adekuat menimbulkan ketidakseimbangan
- elektrolit
4. Mempertahankan istirahat usus akan
memerlukan penggantian cairan
untuk memeperbaiki kehilanngan
/anemia
5. Menurunkan kehilangan cairan dari
usus
16
1

IV. Implementasi
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan
yang telah disusun pada tahap perencanaan.

V. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah proses keperawatan yang memungkinkan
perawat untuk menentukan apakah intervensi keperawatan telah berhasil
meningkatkan kondisi klien.
2

DAFTAR PUSTAKA

Engel, J. 2015. Pengkajian pediatrik. Jakarta: EGC


Johnson., Mass. 2014. Nursing Outcomes Classification, Availabel on:
www.Minurse.com, 11 Oktober 2009
McCloskey, Joanne C,. Bulecheck, Gloria M. 2016. Nursing Intervention
Classsification (NIC). Mosby, St. Louise.
Noer, S. 2016. Buku ajar: Ilmu penyakit dalam. Jilid I. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI
Perry & Potter. 2017. Buku ajar: Fundamental Keperawatan. Edisi 4. Jakarta:
EGC.