Anda di halaman 1dari 21

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Bulan Timbang Dinas

Kesehatan Kabupaten Lumajang.


Keberhasilanpembangunansuatubangsaditentukanolehketersediaansumberdayamanusia (SDM)
yang berkualitas, yaitu SDM yang memilikifisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan
yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa ha ini sangat ditentukan oleh status
gizi yang baik .Status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi.
Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam
pembangunan nasional (BadanPerencanaan Pembangunan Nasional, 2007 ).

Gizi buruk dan giz ikurang, merupakan sebuah masalah kesehatan masyarakat yang utama di
Indonesia (UNICEF,2012). Gizi buruk adalah bentuk terparah dari keadaan Kurang Energid an
Protein (KEP).Faktor risiko terjadinya gizi buruk adalah pada usia 1-5 tahun atau pada bayi dan
balita (Alamsyah, 2013). Pada kelompok tersebut mengalami siklus pertumbuhan dan
perkembangan yang membutuhkan zat-zat gizi yang lebih besar dari kelompok umur yang lain
sehingga balita paling mudah menderita kelainan gizi. Kejadian gizib uruk seperti fenomena
gunung es dimana kejadian gizi buruk dapat menyebabkan kematian (Notoatmodjo, 2003). Pada
tahun 2004, World Health Organization (WHO) mengelompokkan Indonesia sebagai negara
yang memiliki kurang gizi pada penduduknya. Padasaat itu, angka gizi kurang dan buruk di
Indonesia berjumlah 5.119.935 dari total kelompok balita sejumlah 17.984.224 balita (Alamsyah,
2013).

Masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangannya tidak dapat
dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi disamping
merupakan sindroma kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan pangan di
tingkat rumah tangga, juga aspek menyangkut aspek pengetahuan dan perilaku yang kurang
mendukung pola hidup sehat.

Keadaan gizi masyarakat akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan umur harapan hidup yang
merupakan salah satu unsure utama dalam penentuan keberhasilan pembangunan negara yang
dikenal dengan istilah Human Development Indeks. Kurang gizi menyebabkan gangguan
pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental, mengurangi tingkat kecerdasan,
kreatifitas dan produktifitas penduduk.

Kekurangan gizi terutama pada usia balita akan menyebabkan meningkatnya resiko kematian
dan kematian, terganggunya pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan kecerdasan. Dalam
beberapa hali dampak kekurangan gizi dapat bersifat permanen, artinya tidak dapat disembuhkan
meskipun pada usia selanjutnya kebutuhan gizinya terpenuhi.

Faktor penyebab timbulnya kurang gizi pada anak antara lain karena makanan anak yang tidak
seimbang dan adanya penyakit infeksi. Faktor penyebab ini merupakan faktor penyebab
langsung. Sedangkan faktor penyebab tak langsung timbulnya kurang gizi antara lain tidak
cukupnya ketahanan pangan di keluarga, tidak memadainya pola pengasuh anak dan tidak
memadainya sanitasi, air bersih, serta pelayanan kesehatan dasar.
Kader Pelaksana Bulan Timbang di Posyandu Anggrek Desa YosowilangunKabupaten
Lumajang

Salah satu inovasi dan upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Lumajangkhususnya Seksi
Gizi adalah Intensifikas Bulan Penimbangan. Program ini dilakukan pada Bulan Februari dan
Bulan Agustus yang harus diikuti oleh seluruh Posyandu di Kabupaten Lumajang. Intensifikasi
penimbangan merupakan kegiatan dimana semua balita yang ada di Kabupaten Lumajang harus
ikut keposyandu untuk melakukan penimbangan, pengukuran tinggi badan, dan pemberian
kapsul vitamin. Adalam satu bulan penuh. Balita yang tidak bias hadir ke posyandu harus di
dilakukan sweeping yaitu dengan dilakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan di
rumahnya. Kegiatan ini merupakan salah satu langkah deteksi dini dalam hal upaya penemuan
kasus-kasus gizi buruk di kabupaten Lumajang. Dalam hal ini Dinas Kesehatan tidak begitu
lepas tangan untuk menyerahkan semua kegiatan ke masing-masing posyandu. Petugas dinas
kesehatan juga melakukan pemantauan pada saat pelaksanaan dan melakukan monitoring
evaluasi serta melakukan validasi tentang hasil pengukuran dan penimbangan yang dilakukan
kader posyandu ataupun petugas Pembina desa. Berikut beberapa dokumentasi yang dilakukan
pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang saat melakukan monitoring evaluasi serta validasi
alat pengukuran penimbangan pada saat pelaksanaan bulan timbang :
Pelaksanaan Monev kegiatanbulantimbang di Posyandu Tritura KelurahanJogoyudan
KecamatanLumajang Kabupaten Lumajang

Monitoring dan Evaluasi Bulan Timbang dilakukan di beberapa kecamatan yang diwakili oleh
satu posyandu. Monitoring dan evaluasi dilakukan antara lain di Kecamatan Senduro bertempat
di Posyandu Sekar WangidesaBedayuTalang, Tekung di desakarangbendo di posyandu Srikandi,
Lumajang bertempat di Posyandu Tritura kelurahan Jogotrunan, Randuagung bertempat di
Posyandu Puspa Indahdesa Buwek, Padang bertempat di Posyandu Tunas Harapan desa
Babakan, Yosowilangun bertempat di Posyandu Anggrek desa Karanganyar, dan Kunir
bertempat di Posyandu Gelombang Cintadesa Dorogowok. Pelaksanakan ini sudah dilakukan
oleh seluruh posyandu Kabupaten Lumajang dan tepat dilaksanakan Bulan Februari.
Pelaksanaan Validasi data pada kader di Posyandu Tunas Harapan Desa Padang Kabupaten
Lumajang

Secara Umum pelaksanaan dan pencatatan kegiatan yang dilakukan kader disetiap posyandu
sudah cukup baik, namun masih terdapat beberapa kekurangan, diantaranya banyak kader
posyandu yang mengalami kesulitan dalam mengisi dan memasukkan data di buku register. Hal
ini disebabkan karena ukuran buku register yang terlalu kecil, sehingga para kader banyak
menggunakan buku bantuan terlebih dahulu. Pemahaman kader yang masih kurang mengenai
pengisian buku register menyebabkan kurang lengkapnya data di buku register. Ada
beberapaposyandu yang belum mempunyai tempat/bangunan sendiri dimana posyandu masih
berada di rumah salah satu kader. Dan juga masih dijumpai salah satu posyandu yang belum
memiliki buku registerpenimbangan, padahal Dinas kesehatan sudah memberikan semua buku
register penimbangan untuk posyandu melalui puskesmas masing-masing.
Kegiatan Pencatatan Hasil Kegiatn Bulan Timbang di Desa Buwek, Randuagung

Secara keseluruhan semua kader telah mengetahui tata cara atau langkah-langkah penimbangan,
walaupun ada beberapa posyandu yang kurang tepat dalam proses penimbangan dan pengukuran
dikarenakan alat ukur/mikrotoa yang digunakan belum di nol kan terlebih dahulu, juga adanya
beberapa posyandu yang belum memiliki alat ukur bayi / infantometer.

Padapencatatan dan pelaporan posyandu sebagian belum melakukan pencatatan secara lengkap,
kebanyakan mencatat di buku bantu yaitu berat badan dan umur saja, tanpa dilakukan analisa
atau rekap, berapa jumlah balita yang naik, turun/tetap berat badannya, balita yang baru (O),
sehingga untuk partisipasi (D/S) dan tingkat keberhasilan (N/D) pada umumnya belum bias
diketahui karena tidak dicatat oleh para kader. Hal yang mendasar untuk kegiatan posyandu
adalah alur/system posyandu. Posyandu pada umumnya telah menggunakan system 5 meja,
namun masih ada miss system yang terjadi dalam system 5 meja tersebut terutama pada meja
nomer 4, penyuluhan. Kegiatan penyuluhan di posyandu jarang dilakukan, tetapi sudah terdapat
beberapa posyandu yang melakukannya. Keterampilan kader sudah cukup baik tapi perlu
ditingkatkan agar data hasil pengukuran lebih valid dan akurat.
Semangat Petugas Kesehatan beserta kader saat melakukan monitoring dan eavaluasi

Hal yang sangat dibanggakan adalah semangat para kader yang selalu melakukan posyandu
dengan senang hati dan sabar.Kader posyandu jug amelakukan sweeping bagibayibalita yang
tidak berkunjung ke posyandu pada kegiatan intensifikasi bulan timbang. Tidak hanya para kader
yang semangat dalam acara Bulan Timbang, semangat dari petugas kesehatan lain juga
merupakan salah satu faktor para kader dengan semangat melakukan kegiatan Posyandu

Kegiatan penyuluhan dari Dinas Kesehatan akan pentingnya penyuluhan di Posyandu

Kegiatan monev ini juga merupakan salah satu bahan evaluasi bagi kami dinas kesehatan
kabupaten Lumajang sejauh mana materi gizi baik ketrampilan penimbangan, pengukuran tinggi
badan dan pencatatan serta pelaporan diterima oleh kader atau punpetugas di lapangan/wilayah.

Banyakhal yang menjadi masukan dan pembelajaran bagi semua baik dari petugas gizi
puskesmas, petugas Pembina desa, puskesmas, kader ataupun bagi seksi gizi dinas kesehatan
kabupaten Lumajang, bahwa perlu adanya peningkatan pemahaman kader tentang ketrampilan
penimbangan dan pengukuran serta pencatatan pada register penimbangan, dan setelah itu perlu
dilakukan langkah pelaksanaan posyandu secara benar mulai penyiapan sumber daya manusia,
validitas sarana penimbangan dan pengukuran dan pelaksanaan penimbangan dan pengukuran.
Perlu dilakukan pemantauan secara berkala oleh pihak puskesmas ataupun dinas kesehatan
sehingga pelaksanaan bulan timbang berlangsung dengan baik dan benar dan didapatkan hasil
status gizi balita secara valid (LDL)
Nama Posyandu :

Desa :

Nama Petugas :

Tanggal Pelaksanaan :

no Kegiatan Ya tidak ket


Apakah posyandu
dibuka setiap bulan
Apakah ada siaran
saat H-1 buka
posyandu
Apakah tempat
pelaksanaan posyandu
tetap/ selalu berubah
Apakah pelaksanaan
posyandu sesuai
dengan jadwal yang
telahditentukan

Apakah posyandu
bisa berjalan
sendiri kalau
petugas kesehatan
tidak bisa hadir
Apakah kader
posyandu selalu hadir
lengkap dan aktif saat
pelaksanaan posyandu

Apakah kader selalu


mengisi absensi dan
buku kegiatan
posyandu
Apakah posyandu
dilaksanakan dengan 5
meja
Apakah kader
melakukan
penyuluhan
kepada
masyarakat setiap
kali buka posyandu
Apakah ada
kegiatan
kunjungan rumah
di posyandu
yang
d i l a k u k a n oleh
kader
Apakah kader
melakukan rujukan
bila ditemukan
kasus baik pada
ibumaupun
bayi/balita
Jumlah

Pesan Untuk Perbaikkan:

Pelaksana

(,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,)
MONITORING DAN PEMBINAAN POSYANDU

Pencerah Nusantara Lindu meyakini bahwa Posyandu sebagai ujung


tombak untuk mengidentifikasi kasus kesehatan masyarakat perlu
dioptimalkan. Dan sejak dari awal kami datang di Lindu kami dan
staf puskesmas Lindu sedikit demi sedikit mencoba melakukan
revitalisasi posyandu. karena sebelumnya hanya 3 dari 11
posyandu, yang aktif beroperasi setiap bulannya. Dan dari 11
posyandu, 7 diantaranya berada di dusun sulit di seberang
danau. Oleh karena itu kami merasa perlu melakukan revitalisasi
posyandu dengan melakukan pembinaan kepada kader-kader posyandu,
seperti melakukan pelatihan kader posyandu bulan desember lalu,
dan melakukan refreshing kader diawal mei ini.

Sejak kami melakukan pelatihan kader posyandu Desember lalu, 11


posyandu di Lindu aktif kembali. Kader-kader posyandu lindu
rajin mengumumkan kepada warga door to door ke rumah, maupun
mengumumkannya di tempat-tempat ibadah, baik di mesjid maupun
gereja. Bahkan bila ada yang belum datang mereka dengan sigapnya
menjemput balita dan ibu hamil. Kader-kader posyandu ini dengan
sukarela bekerja sepenuh hati tanpa di bayar. Kami sangat
berharap mereka mendapat perhatian khusus dari pemerintah
desa,kecamatan,bahkan kabupaten.

Mengingat Kader-kader posyandu Lindu ini berlatar belakang


tamat SD,SMP,dan SMA, namun memiliki semangat yang tinggi untuk
mengemban tugas sebagai kader posyandu. Pembinaan kader rutin
kami lakukan Setiap hari buka posyandu, mulai dari cara
mengkalibrasi alat timbang, cara menimbang yang benar, cara
mengukur tinggi badan yang benar, cara pengisian buku KMS, dan
membuat sistem informasi Posyandu (SIP).
pembinaaan Kader anca
Begitu juga dengan hari itu di posyandu anca, setelah jam buka posyandu selesai kami
memberikan pembinaan kepada kader. Fitri mengajarkan cara pengisian SIP dan checklist
monitoring dan evaluasi posyandu, sedangkan saya mengajarkan cara mengisi KMS yang benar,
karena mereka masih belum mengerti arti naik dan tidak naik berdasarkan kenaikan Berat
minimum (KBM). Mereka pikir asal ada kenaikan berat badan, berarti sudah terjadi kenaikan
Berat badan. Di anca ini, kami juga melakukan pengecekan garam
beryodium dari semua jenis garam yang dipakai oleh warga anca.
Sebelumnya kegiatan ini sudah dilakukan di Posyandu Langko.

belajar mengisi KMS yang benar

fitri mengajarkan format SIP


pengecekan garam beryodium di posyandu

jenis garam yang dikonsumsi warga lindu merupakan garam beryodium

Di Posyandu tomado hal tersebut juga kami lakukan hal yang sama
dengan yang dianca. Dari 2 posyandu ini didapatkan bahwa semua
kader memang belum mengerti tentang kenaikan berat minimum,
walau sudah pernah diajarkan di pelatihan kader, dan mereka
beberapa sulit menghitung pengurangan angka, kami sangat
memaklumi hal ini,dan menghargai semangat mereka untuk belajar
di usia yang tidak muda lagi. Ibu lina sudah cukup tua bahkan
tetap penasaran minta diajarkan cara mengisi KMS dengan benar
hingga 2x. Dan hari itu kamipun menyarankan untuk membagi tugas
untuk mengisi Sistem informasi Posyandu yang terdiri dari 6
format, dan membagi tugas saat jam buka posyandu. Ibu lina dan
ibu margaret dibagian penimbangan, sedangkan bu martina yang
cakap mengisi KMS dan pandai berhitung di bagian KMS bersama bu
diana, Ibu swarna di bagian registrasi dan pencatatan.
Bu lina sedang menimbang balita

ibu martina dan ibu margareta sedang mengisi KMS dan melakukan pendaftaran
pembinaan kader posyandu setelah jam buka posyandu selesai mengenai cara mengisi sistem
informasi posyandu

bu Lina sedang serius belajar mengisi KMS

Karena pengadaan KMS Terbatas tidak semua balita di Lindu


mempunyai KMS, Hari itu saya mendapat ide untuk memanfaatkan KMS
yang tidak terpakai di Buku KIA. Sebagaimana di Ketahui setiap
buku KIA memiliki 2 KMS, Jika balitanya perempuan tentu KMS
laki-laki tidak terpakai, begitu juga sebaliknya. Hari itu pula
Kader sibuk menyobek-nyobek KMS buku KIA supaya bisa dipakai
oleh balita lain yang tidak memiliki KMS. Dan saat acara
refreshing kader yang diadakan seminggu setelah posyandu di
tomado, ibu martina telah mengisi semua KMS hasil sobekan dan
memperbaiki semua KMS yang lainnya. Two thumbs up buat kader-
kader ini!
ibu suarna sedang menyobek KMS untuk dipakai balita
lain,sementara bu martina sedang mengkoreksi KMS
Posyandu (pos pelayanan terpadu) adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh, dari, dan untuk
masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada umumnya
serta kesehatan ibu dan anak pada khususnya. Posyandu merupakan bagian dari pembangunan
untuk mencapai keluarga kecil bahagia dan sejahtera, dilaksanakan oleh keluarga bersama
dengan masyarakat di bawah bimbingan petugas kesehatan dari puskesmas setempat.

Sasaran utama kegiatan posyandu ini adalah balita dan orangtuanya, ibu hamil, ibu menyusui dan
bayinya, serta wanita usia subur. Sedangkan yang bertindak sebagai pelaksana posyandu adalah
kader.

Kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang
bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan. Keberadaan kader sering dikaitkan dengan
pelayanan rutin di posyandu. Sehingga seorang kader posyandu harus mau bekerja secara
sukarela dan ikhlas, mau dan sanggup melaksanakan kegiatan posyandu, serta mau dan sanggup
menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan dan mengikuti kegiatan posyandu (Ismawati
dkk, 2010).

Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Depkes RI memberikan batasan kader : “Kader adalah
warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara
sukarela” (Zulkifli, 2003).

Kader kesehatan adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk
menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat, serta bekerja di
tempat yang dekat dengan pemberian pelayanan kesehatan (Syafrudin, dan Hamidah, 2006).

Kader kesehatan adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh masyarakat dan bertugas
mengembangkan masyarakat. Dalam hal ini kader disebut juga sebagai penggerak atau promotor
kesehatan (Yulifah R, dan Yuswanto, 2006).

Kader aktif adalah kader yang selalu melaksanakan kegiatan posyandu dan selalu menjalankan
tugas dan perannya sebagai kader (Dinas Kesehatan Tuban, 2005).

Kader tidak aktif adalah kader yang tidak melaksanakan tugas dan perannya sebagai kader
posyandu serta tidak rutin mengikuti kegiatan posyandu (Republika, 2005).

2.1.2 Syarat Menjadi Kader Posyandu

1. Dapat membaca dan menulis

2. Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan

3. Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan masyarakat

4. Mempunyai waktu yang cukup


5. Bertempat tinggal di wilayah posyandu

6. Berpenampilan ramah dan simpatik

7. Mengikuti pelatihan-pelatihan sebelum menjadi kader posyandu.

2.1.3 Tugas dan Peran Kader Posyandu

2.1.3.1 Melakukan kegiatan bulanan posyandu :

a. Mempersiapkan pelaksanaan posyandu

i. Tugas-tugas kader posyandu pada H- atau saat persiapan hari buka Posyandu, meliputi :

a. Menyiapkan alat dan bahan, yaitu alat penimbangan bayi, KMS, alat peraga, LILA, alat
pengukur, obat-obat yang dibutuhkan (pil besi, vitamin A, oralit), bahan atau materi penyuluhan.

b. Mengundang dan menggerakkan masyarakat, yaitu memberitahu ibu-ibu untuk datang ke


Posyandu.

c. Menghubungi Pokja Posyandu, yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor desa dan
meminta mereka untuk memastikan apakah petugas sektor bisa hadir pada hari buka Posyandu.

d. Melaksanakan pembagian tugas, yaitu menentukan pembagian tugas di antara kader Posyandu
baik untuk persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.

ii. Tugas kader pada kegiatan bulanan Posyandu

a. Tugas kader pada hari buka Posyandu disebut juga dengan tugas pelayanan 5 meja, meliputi :

1. Meja 1, yaitu bertugas mendaftar bayi atau ballita, yaitu menuliskan nama balita pada KMS
dan secarik kertas yang diselipkan pada KMS dan mendaftar ibu hamil, yaitu menuliskan nama
ibu hamil pada Formulir atau Register ibu hamil.

2. Meja 2, yaitu bertugas menimbang bayi atau balita dan mencatat hasil penimbangan pada
secarik kertas yang akan dipindahkan pada KMS.

3. Meja 3, yaitu bertugas untuk mengisi KMS atau memindahkan catatan hasil penimbangan
balita dari secarik kertas ke dalam KMS anak tersebut.

4. Meja 4, yaitu bertugas menjelaskan data KMS atau keadaan anak berdasarkan data kenaikan
berat badan yang digambarkan dalam grafik KMS kepada ibu dari anak yang bersangkutan dan
memberikan penyuluhan kepada setiap ibu dengan mengacu pada data KMS anaknya atau dari
hasil pengamatan mengenai masalah yang dialami sasaran.
5. Meja 5, merupakan kegiatan pelayanan sektor yang biasanya dilakukan oleh petugas
kesehatan, PLKB, PPL, dan lain-lain. Pelayanan yang diberikan antara lain : Pelayanan
Imunisasi, Pelayanan Keluarga Berencana, Pengobatan Pemberian pil penambah darah (zat besi),
vitamin A, dan obat-obatan lainnya.

b. Kegiatan setelah pelayanan bulanan Posyandu

Tugas-tugas kader setelah hari buka Posyandu, meliputi :

1. Memindahkan catatan-catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) ke dalam buku register atau
buku bantu kader.

2. Menilai (mengevaluasi) hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan hari Posyandu pada bulan
berikutnya. Kegiatan diskusi kelompok (penyuluhan kelompok) bersama ibu-ibu yang rumahnya
berdekatan (kelompok dasawisma).

3. Kegiatan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan) merupakan tindak lanjut dan mengajak
ibu-ibu datang ke Posyandu pada kegiatan bulan berikutnya.

2.1.3.2 Melaksanakan kegiatan di luar posyandu :

a. Melaksanakan kunjungan rumah

i. Setelah kegiatan di dalam Posyandu selesai, rumah ibu-ibu yang akan dikunjungi ditentukan
bersama.

ii. Tentukan keluarga yang akan dikunjungi oleh masing-masing kader. Sebaiknya diajak pula
beberapa ibu untuk ikut kunjungan rumah.

iii. Mereka yang perlu dikunjungi adalah :

a. Ibu yang anak balitanya tidak hadir 2 (dua) bulan berturut-turut di Posyandu

b. Ibu yang anak balitanya belum mendapat kapsul vitamin

c. Berat badanny tidak naik 2 (dua) bulan berturut-turut

d. Berat badannya di bawah garis merah KMS

e. Sasaran Posyandu yang sakit

f. Ibu hamil yang tidak menghadiri kegiatan Posyandu 2 (dua) bulan berturut-turut

g. Ibu hamil yang bulan lalu dikirim atau dirujuk ke puskesmas

h. Ibu yang mengalami kesulitan menyusui anaknya


i. Ibu hamil dan ibu menyusui yang belum mendapat kapsul iodium

j. Balita yang terlalu gemuk

b. Menggerakkan masyarakat untuk menghadiri dan ikut serta dalam kegiatan Posyandu

i. Langsung ke tengah masyarakat

ii. Melalui tokoh masyarakat atau pemuka agama atau adat

c. Membantu petugas kesehatandalam pendaftaran, penyuluhan, dan berbagai usaha kesehatan


masyarakat.
Kabar PD: Pelaksanaan Pos Gizi di Kabupaten Tangerang

Sejak tahun 2002, pendekatan Positive


Deviance (PD) telah diadopsi oleh berbagai instansi baik pemerintah maupun non pemerintah
untuk mengatasi masalah gizi pada anak balita di 41 Kabupaten di 15 Provinsi di Indonesia.
Salah satu anggota PD yang aktif hingga sekarang menjalankan pos gizi, salah satunya adalah
daerah Kabupaten Tangerang.

Terdapat beberapa Pos Gizi di wilayah Kabupaten Tangerang, yaitu Pos Gizi Kecamatan Sepatan
(2008-2014), Pos Gizi Kelurahan Paku Haji (2008-sekarang), Pos Gizi Kecamatan Cisauk (2010-
sekarang), dan Pos Gizi Pelangi Desa Gempol Sari (2012-sekarang).

Pos Gizi Kecamatan Sepatan

Berawal dari ditemukannya kasus balita gizi buruk dan gizi kurang di wilayah kecamatan
Sepatan, di bawah supervisi dari Dinas Kabupaten Tangerang, dibentuklah Pos Gizi di
Kecamatan Sepatan pada tahun 2008. Di tahun pertama menjalankan kegiatan pos gizi, data dari
Dinkes Kabupaten Tangerang menunjukan bahwa dari total kasus gizi buruk pada anak, sekitar
37.1% nya berubah ke status gizi kurang. Anak yang tadinya mengalami gizi kurang, sebanyak
29.1% mengalami peningkatan menjadi gizi baik. Secara keseluruhan, sebanyak 32% anak balita
meningkat status gizinya ke arah baik (normal).

Pos Gizi Sepatan juga menjadi tempat studi banding dari Kalimantan, Sulawesi Tengah, Banten,
dan Serang, serta menjadi motivator dalam upaya pembentukan Pos Gizi di Kalimantan Timur
(Sangata) pada tahun 2008 lalu. Pos gizi di wilayah Kecamatan Sepatan telah dievaluasi dari
berbagai pihak dan menunjukkan bahwa Pos gizi sangat efektif untuk menanggulangi masalah
malnutrisi di suatu wilayah. Beberapa pihak yang telah mengevaluasi pelaksanaan tersebut
misalnya Tim Pusat Teknologi Intervensi Kesmas Badan Litbang Kementerian Kesehatan (2011)
dan beberapa penelitian oleh mahasiswa mengenai evaluasi program pos gizi, edukasi dan
rehabilitasi gizi (2013, 2014).

Pos Gizi Kecamatan Paku Haji

Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang bersama dengan CARE menginisiasi pembentukan Pos
Gizi di Kecamatan Paku Haji pada tahun 2008 lalu. Setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, pada
tahun 2011 dilakukan revitalisasi kegiatan Pos Gizi Kecamatan Paku Haji yang difasilitasi oleh
Dinkes Kabupaten Tangerang. Melihat dampak terhadap status gizi balita yang dinilai baik oleh
Dinkes Kabupaten Tangerang, pada tahun 2013, pos gizi dibentuk di Desa Gaga dan Buaran
Bambu serta merevitalisasi kembali pos gizi Kecamatan Paku Haji. Pos gizi desa Gaga dan
Buaran bambu masing-masing diikuti oleh 12 peserta sedangkan kelurahan Pakuhaji diikuti oleh
13 peserta.

Tahun 2014, Pos gizi dibuka di dua tampat di Desa Bonisari, yaitu di Posyandu Makmur 1 dan
Posyandu Makmur 5. Di awal tahun 2015 lalu, kegiatan pos gizi dibuka di Desa Pakualam dan
Kiara Payung. Kegiatan pembentukan dan revitalisasi pos gizi ini diusulkan melalui
Musrembang Kecamatan dan dibiayai dari dana f1. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan
beberapa pos gizi di Kecamatan Pakuan Haji ini terletak pada pendanaan. Hingga saat ini,
pendanaan berasal dari kepala desa, petugas kesehatan yang terkait dengan pos gizi dan hasil
kontribusi beberapa ibu balita.

Pos Gizi Kecamatan Cisauk

Berawal dari permasalahan balita gizi kurang di Desa Sampora, Kecamatan Cisauk, Dinas
Kesehatan Kabupaten Tangerang membentuk pos gizi di wilayah tersebut untuk menekan
peningkatan kasus tersebut pada tahun 2010. Selanjutnya, pada tahun 2011 pembentukan Pos
Gizi dilanjutkan di Kelurahan Cisauk dan tahun 2012 di Desa Cibogo. Pendirian pos gizi ini
didanai oleh pemerintah dan sumbangan masyarakat.

Saat ini Pos Gizi di wilayah Desa Cibogo masih berjalan dan sudah tersebar di empat wilayah
sesuai dengan jumlah gizi buruk dan gizi kurang yang menjadi prioritas pembentukan pos gizi.
Hasil pendataan yang dilaksanakan oleh masyarakat dan Puskesmas Cisauk, diketahui jumlah
balita yang mengalami gizi kurang sebanyak 376 balita dari total 2463 balita atau sekitar
15,26% (Feb, 2012). Tiga tahun berselang, data dari Puskesmas Cisauk menunjukan bahwa
kasus gizi kurang pada balita telah berkurang menjadi 9.08% (Feb, 2015).

Pos Gizi Pelangi Desa Gempol Sari

Pos Gizi di Desa Gempol Sari terbentuk dengan dukungan dan peran serta perangkat desa, tokoh
masyarakat dan kader yang di gagas oleh pihak Puskesmas Kedaung Barat. Berawal dari
pertemuan lintas sektor (2012), pihak Puskesmas Kedaung Barat bertemu dengan pak Herman
ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Gempol Sari. Saat itu, tercetus lah ide untuk
menjalankan kegiatan Pos Gizi, mengingat Desa Gempol Sari memiliki sektor pertanian yang
maju dengan pemberdayaan petani yang baik, hasil panen melimpah berupa beras, jagung dan
sayur-sayuran. Namun, ironisnya Desa Gempol Sari juga menjadi salah satu desa dengan jumlah
balita gizi buruk terbanyak saat itu.

Memasuki tahun keempat semenjak dibentuk, Pos Gizi Gempol Sari masih berjalan dengan baik,
walaupun berpindah-pindah lokasi pelaksanaannya. Tahun ini, Pos Gizi Pelangi dilaksanakan di
rumah kader dan dibiayai oleh Bapak Lurah Desa Gempol Sari dan bantuan dari beberapa tokoh
masyarakat dan Puskesmas Kedaung Barat. Banyak kegiatan yang dilaksanakan selama kegiatan
Pos Gizi seperti penyuluhan tentang pola makan, kebersihan diri dan lingkungan, kesehatan,
pemeriksaan kesehatan, peyuluhan gigi dan pemeriksaan gigi, serta pemberian vitamin.
pos Gizi yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang mandiri dalam mengenali dan
menyelesaikan permasalahan gizi di wilayahnya,dengan pemantauan dari Puskesmas