Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PENDAHULUAN DERMATITIS PADA OMA A DI

PANTI WERDHA BINA MULIA 3 RUANG KENANGA

OLEH

APRILIA WAHYUNI

21218138

STIKES PERTAMINA BINA MEDIKA

2019
A. Konsep Lansia

1. Pengertian lansia

Lansia merupakan kelompok yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupan
(WHO). Menurut (WHO) kategori lanjut usia berkisar antara 60-74 tahun. Di Indonesia
menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang
dimaksud dengan lanjut usia adalah penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
Seiring dengan tahap kehidupan, lansia memiliki tugas perkembangan khusus. Terdapat
tujuh kategori utama tugas perkembangan lansia, yaitu menyesuaikan terhadap penurunan
kekuatan fisik dan kesehatan, menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan atau
penetapan pendapatan, menyesuaikan terhadap kematian pasangan, menerima diri sebagai
individu lansia, mempertahankan kepuasaan pengaturan hidup, mendefinisikan ulang
hubungan dengan anak yang dewasa, dan menemukan cara untuk mempertahankan kualitas
hidup (Nugroho, 2008). Tugas perkembangan ini umum ditemui pada lansia. Akan tetapi,
cara lansia menyesuaikan terhadap perubahan penuaan bergantung pada individu sendiri.
Untuk beberapa lansia adaptasi dan penyesuaian terhadap penuaan relatif mudah, namun
beberapa lansia lainnya memerlukan intervensi keperawatan.

2. Teori teori proses penuaan

Penuaan merupakan suatu keadaan normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang
terjadi pada waktu tertentu atau ketika setiap orang mencapai usia tahap perkembangan
tertentu (Miller, 2006). Teori-teori yang menjelaskan tentang penuaan terbagi menjadi 2
yaitu dari teori biologis dan teori psikososial. Teori biologis berfokus kepada proses
penuaan, sedangkan teori psikososial berfokus kepada kepribadian dan perilaku (Miller,
2006).

a. Teori Biologis

Teori biologi ini menjelaskan mengenai proses penuaan, termasuk perubahan fungsi dan
struktur, perkembangan, panjang usia dan kematian. Perubahan dalam tubuh termasuk
perubahan molekular dan selular dalam sistem organ utama dan kemampuan tubuh untuk
melawan penyakit. Dalam teori ini, terdapat lima karakteristik biologis penuaan
diantaranya peningkatan usia harapan hidup, penuaan dapat ditemukan didalam sel,
molekul, jaringan dan massa tulang, perusakan bersifat progresif, diperlukan waktu yang
panjang untuk kembali dari periode serangan, dan peningkatan kerentanan terhadap
infeksi.

b. Teori Cross Link

Teori ini menjelaskan bahwa molekul-molekul yang normal terpisah akibat adanya reaksi
kimia. Saat serat kolagen yang awalnya berada di dalam jaringan otot polos, kemudian
menjadi renggang dan jaringan menjadi fleksibel. Kulit yang menua merupakan contoh
cross linkage elastin (Stanley, 2006)

c. Teori lingkungan

Teori ini menjelaskan bahwa faktor-faktor di dalam lingkungan seperti karsinogen,


cahaya matahari, trauma dan infeksi merupakan penyebab terjadinya perubahan dalam
proses penuaan. Walaupun faktor-faktor ini diketahui dapat mempercepat penuaan,
namun faktor lingkungan merupakan dampak sekunder dan bukan merupakan faktor
utama penyebab perubahan dalam proses penuaan (Stanley, 2006).

d. Teori Imunitas

Teori ini menjelaskan mengenai suatu kemunduran atau penurunan dalam sistem imun
yang berhubungan dengan proses penuaan. Ketika seseorang bertambah tua, maka
kemampuan pertahanan mereka terhadap penyakit dan infeksi juga mengalami
penurunan. Teori ini berfokus kepada peran dari kelenjar timus. Berat dan ukuran kelenjar
timus menurun seiring dengan bertambahnya umur, sehingga tubuh kehilangan
kemampuan untuk meningkatkan pertahanan tubuh pada saat terjadi infeksi (Stanley,
2006)
3. Mitos-mitos Lasia

Menurut lilik Ma’rifat (2011), pada saat lanjut lansia terjadi suatu mitos sebagai berikut:

a. Kedamaiaan dan ketenangan

Lanjut usia dapat santai menikmati hasil kerja dan jerih payahnya di masa muda dan
dewasanya, badai dan berbagai goncangan kehidupan seakan-akan sudah berhasil
dilewati.

Kenyataan :

Sering ditemui stres karena kemiskinan dan berbagai keluhan saaat penderitaan karena
penyakit.

1) Depresi
2) Kekhawatiran
3) Paranoid
4) Masalah Psikotik
b. Mitos konservatisme dan Kemunduran

Pandangan pada lanjut usia umumnya :

1) Konservatif
2) Tidak kreatif
3) Menolak inovasi
4) Berorientasi
5) Merindukan masa lalu
6) Kembali ke masa kanak-kanak
7) Susah berubah
8) Keras kepala
9) cerewet
c. Mitos Berpenyakit

Lanjut usia dipandang sebagai mata degenerasi biologis, yang disertai oleh berbagai
penderitaan akibat bermacam penyakit yang menyertai proses menua ( lanjut usia
merupakan masa berpenyakit dan kemunduran).
d. Mitos Senilitis

Lanjut usia dipandang sebagai masa pikun yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak (
banyak yang tetap sehat dan segar) untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan daya
ingat.

e. Mitos tidak jatuh cinta

Lanjut usia tidak lagi jatuh cinta dan gairah pada lawan jenis tidak ada.

Kenyataan :

Perasaan cemas dan emosi setiap orang berubah sepanjang masa. Perasaan cinta tidak
berhenti hanya karena menjadi lanjut usia.

4. Tipe-tipe Lanjut Usia

Menurut lilik ma’rifatul (2011), tipe lanjut usia digolongkan seperti berikut:

a. Tipe arif bijaksana

Kaya dengan hikmah pengalaman diri denan perubahan jaman, mempunyai kesibukan,
bersikap ramah, rendah hati, dermawan, memenuhi undangan, dan mengambil perubahan

b. Tipe mandiri

Mengganti kegiatan-kegiatan yang hilang dengan kegiatan kegiatan baru, selektif dalam
mencari pekerjaan, teman bergaul, serta memenuhi undangan

c. Tipe tidak pas

Konflik lahir batin menentang proses ketuaan, yang menyebabkan kehilangan kecantikan,
kehilangan daya tarik jasmaniah, kehilangan kekuasaaan situs, tesinggung, menuntut,
sulit dilayani

d. Tipe pasrah

Menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai konsep habis gelap datang terang,
mengikuti kegiatan beribadah, ringan kaki, pekerjaan apa saja dilakukan.
e. Tipe bingung

kaget, kehilangan keperibadian, mengasingkan diri, merasa minder, menyesal, pasif,


mental, sosial dan ekonominya.

5. Perubahan Akibat Proses Menua


a. Perubahan fisik dan fungsi Sel :
1) Jumlah sel menurun / lebih sedikit
2) Ukuran sel lebih besar
3) Jumlah cairan tubuh dan cairan inttraselular berkurang
4) Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati menurun
5) Jumlah sel otak menurun
6) Mekanisme perbaika sel terganggu
7) Otak menjadi atrofi, berat berkurang 5 – 10%
8) Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar (Nugroho, 2008)

b. Perubahan Sistem Persyarafan pada Lansia

Pada sistem persyarafan terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara lain :

1) Menurun hubungan persyarafan


2) Respons dan waktu untuk bereaksi lambat, khususnya terhadap stress
3) Mengecilnya syaraf panca indera
4) Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium &
perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap
dingin (Nugroho, 2008)
c. Perubahan Sistem Pendengaran pada Lansia

Pada sistem pendengaran terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara lain :

1) Gangguan pendengaran : Hilangnya (daya) pendengaran pada telinga dalam,


terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak
jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun
2) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis
3) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya keratin
4) Fungsi pendengaran semakin menurun pada lanjut usia yang mengalami keteganggan
/ stres
5) Tinitus (bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau rendah, bisa terus
menerus atau intermiten) (Nugroho, 2008)
d. Perubahan Sistem Penglihatan pada Lansia

Pada sistem penglihatan terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara lain :

1) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respons terhadap sinar


2) Kornea lebih berbentuk sferis
3) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa)
4) Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih
lambat, susah melihat dalam cahaya gelap
5) Penururnan / hilangnya daya akomodasi
6) Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang
7) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala (Nugroho,
2008)
e. Perubahan Sistem Kardiovaskular pada Lansia

Pada sistem kardiovaskular terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara lain:

1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku


2) Menurunnya elastisitas dinding aorta
3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20
tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya
4) Menurunnya curah jantung
5) Kehilangan elastisitas pembuluh darah, efektifitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenasi berkurang, perubahan posisi dari tidur keduduk (duduk ke berdiri) bisa
menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing
mendadak)
6) Kinerja jantung lebih rentan terhadap kondisi dehidrasi dan perdarahan
7) Dan tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
(normal ± 170/95 mmHg) (Nugroho, 2008)
f. Perubahan Sistem Pengaturan Suhu Tubuh pada Lansia

Pada pengaturan suhu tubuh, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu termostat, yaitu
menetapkan suatu suhu tertentu. Kemunduran terjadi bebagai faktor yang
mempengaruhinya. Yang sering ditemui antara lain :

1) Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologis ±35ºC akibat metabolisme


yang menurun
2) Pada kondisi ini, lanjut usia akan merasa kedinginan dan dapat pula menggigil, pucat,
dan gelisah
3) Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak
sehingga terjadi penurunan aktivitas otot (Nugroho, 2008)
g. Perubahan Sistem Pernafasan pada Lansia

Pada sistem pernafasan terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara lain :

1) Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan, dan


menjadi kaku
2) Aktivitas silia menurun
3) Paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat,
kapasitas pernafasan maksimum menurun dengan kedalaman bernafas menurun
4) Ukuran alveoli melebar (membesar secara progresif) dan jumlah berkurang
5) Berkurangnya elastisitas bronkus
6) Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg
7) Karbon dioksida pada arteri tidak berganti, pertukaran gas terganggu
8) Refleks dan kemampuan untuk batuk berkurang
9) Kemampuan pegas dinding dada dan kekuatan otot pernafasan menurun seiring
bertambahnya usia (Nugroho, 2008)
h. Perubahan Sistem Pencernaan pada Lansia

Pada sistem pencernaan terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara lain :

1) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi
setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi
yang buruk
2) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi
indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah
terutama rasa manis, asin, asam & pahit
3) Esofagus melebar
4) Rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu
pengosongkan lambung menurun
5) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi
6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu )
7) Hati semakin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran
darah (Nugroho, 2008)
i. Perubahan Sistem Reproduksi dan Kegiatan Seksual pada Lansia
1) Perubahan sistem reprduksi

Vagina mengalami kontraktur dan mengecil, ovari menciut karena uterus mengalami
atrofi, atrofi payudara dan atrofi vulva, selaput lendir vagina menurun, permukaan
menjadi halus, sekresi berkurang, sifatnya menjadi alkali dan terjadi perubahan warna
(Nugroho, 2008)

2) Kegiatan seksual

Ada pandangan bahwa pada usia lanjut, minat, dorongan, gairah, kebutuhan, dan daya
seks dalam hubungan seks menurun. Fakta : kehidupan seks pada lanjut usia
berlangsung normal dan frekuensi hubungan seksual menurun sejalan meningkatnya
usia, tetapi masih tetap tinggi (Nugroho, 2008)

j. Perubahan Sistem Genitourinaria pada Lansia

Pada sistem genitourinaria terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara lain :

1) Ginjal, Mengecilnya nephron akibat atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai
50 % sehingga fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan
mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun, proteinuria (biasanya + 1), BUN
(Blood Urea Nitrogen) meningkat sampai 21 mg %, nilai ambang ginjal terhadap
glukosa meningkat
2) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun
sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi BAK meningkat, vesika urinaria sulit
dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.
3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun
4) Atropi vulva
5) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisitas jaringan menurun juga permukaan
menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap
perubahan warna (Nugroho, 2008)
k. Perubahan Sistem Endokrin pada Lansia

Kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu dalam tubuh manusia yang memproduksi
hormon. Hormon pertumbuhan berperan sangat penting dalam pertumbuhan,
pematangan, pemeliharaan, dan metabolisme organ tubuh. Sistem endokrin pada lansia
terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara lain :

1) Produksi hampir semua hormon menurun


2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah
3) Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan
berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH
4) Menurunnya aktivitas tiriod dan menurunnya daya pertukaran zat
5) Menurunnya produksi aldosteron
6) Menurunnya sekresi hormon kelamin : progesteron, estrogen, testosterone menurun
(Nugroho, 2008)
l. Perubahan Sistem Integumen pada Lansia

Pada sistem integumen terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara lain :

1) Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak


2) Permukaan kulit cenderung kusam & bersisik karena kehilangan proses keratinasi
serta perubahan ukuran dan bentuk sel epidermis
3) Timbulnya bercak pigmentasi akibat proses melanogenesis yang tidak merata pada
permukaan kulit sehingga tampak bintik-bintik atau noda coklat.
4) Terjadinya perubahan pada daerah sekitar mata, tumbuhnya kerut - kerut halus di
ujung mata akibat lapisan kulit menipis
5) Respon terhadap trauma menurun
6) Mekanisme proteksi kulit menurun karena produksi serum menurun; produksi
vitamin D menurun, pigmentasi kulit terganggu
7) Kulit kepala dan rambut menipis dan berwarna kelabu
8) Rambut dalam hidung dan telinga menebal
9) Berkurangnya elatisitas akibat menurunnya cairan vaskularisasi
10) Pertumbuhan kuku lebih lambat
11) Kuku jari menjadi keras dan rapuh
12) Kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya
13) Kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk
14) Jumlah dan fungsi kelenjar keringat berkurang (Nugroho, 2008)
m. Perubahan Sistem Muskuloskeletal pada Lansia

Pada sistem muskuloskeletal terjadi beberapa gangguan dan perubahan fungsi, antara
lain:

1) Tulang kehilangan densitas (cairan) dan semakin rapuh


2) Gangguan tulang, yakni mudah mengalami demineralisasi
3) Kekuatan dan stabilitas menurun, terutama vertebra, pergelangan, dan paha. Insiden
osteoporosis dan fraktur meningkat pada area tulang tersebut
4) Kifosis
5) Gerakan pinggang, lutut, dan jari – jari pergelangam terbatas
6) Gangguan gaya berjalan
7) Kekakuan jaringan penghubung
8) Persendian membesar dan menjadi kaku
9) Atrofi serabut otot, serabut otot mengecil sehingga gerakan menjadi lamban, otot
kram, dan menjadi tremor (Nugroho, 2008).
B. KONSEP DERMATITIS
1. Pengertian

Dermatitis adalah peradangan kulit epidermis dan dermis sebagai respons terhadap pengaruh
faktor eksogen dan atau faktor endogen menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi
polimorfik eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi dan keluhan gatal.
Dermatitis cenderung residif dan cenderung kronis. (juanda Adhi, 2010). Dermatitis atau
lebih dikenal sebagai eksim merupakan penyakit kulit yangmengalami peradangan kerena
bermacam sebab dan timbul dalam berbagai jenis terutama kulit yang kering, umumnya
berupa pembengkakan, memerah dan gatal pada kulit (Widya, 2011).

2. Etiologi

Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar eksogen misalnya bahan kimia (contoh: detergen
asam, basa, oli, semen) fisik (contoh: sinar, suhu) mikroorganisme (bakteri, jamur); dapat
pula dari dalam (endogen) misalnya dermatitis atopik.

Klasifikasi dermatitis (Djuanda adhi,2010) yaitu :

a. Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak ialah dermatitis karena kontaktan eksternal, yang menimbulkan


fenomen sensitisasi alergik atau toksik iritan.

b. Neurodermatitis
Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumstrip, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit
tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu, akibat garukan atau
gosokan yang berulang-ulang karena berbagai ransangan pruritogenik. (Adhi Djuanda,
2005)
Timbul karena goresan pada kulit secara berulang, bisa berwujud kecil, datar dan dapat
berdiameter sekitar 2,5 sampai 25 cm. Penyakit ini muncul saat sejumlah pakaian ketat
yang kita kenakan menggores kulit sehingga iritasi. Iritasi ini memicu kita untuk
menggaruk bagian yang terasa gatal. Biasanya muncul pada pergelangan kaki,
pergelangan tangan, lengan dan bagian belakang dari leher.
c. Seborrheich Dermatitis
Kulit terasa berminyak dan licin; melepuhnya sisi-sisi dari hidung, antara kedua alis,
belakang telinga serta dada bagian atas. Dermatitis ini seringkali diakibatkan faktor
keturunan, muncul saat kondisi mental dalam keadaan stres atau orang yang menderita
penyakit saraf seperti Parkinson.
d. Statis Dermatitis
Merupakan dermatitis sekunder akibat insufisiensi kronik vena(atau hipertensi vena)
tungkai bawah. (Adhi Djuanda,2005)
Yang muncul dengan adanya varises, menyebabkan pergelangan kaki dan tulang kering
berubah warna menjadi memerah atau coklat, menebal dan gatal. Dermatitis muncul
ketika adanya akumulasi cairan di bawah jaringan kulit. Varises dan kondisi kronis lain
pada kaki juga menjadi penyebab
e. Atopic Dermatitis
Merupakan keadaan peradangan kulit kronis dan resitif, disertai gatal yang umumnya
sering terjadi selama masa bayi dan anak-anaka, sering berhubungan dengan peningkatan
kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita(D.A, rinitis
alergik, atau asma bronkial).kelainan kulit berupa papul gatal yang kemudian mengalami
ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya dilipatan(fleksural). (Adhi Djuanda,2005)
Dengan indikasi dan gejala antara lain gatal-gatal, kulit menebal, dan pecah-pecah.
Seringkali muncul di lipatan siku atau belakang lutut. Dermatitis biasanya muncul saat
alergi dan seringkali muncul pada keluarga, yang salah satu anggota keluarga memiliki
asma. Biasanya dimulai sejak bayi dan mungkin bisa bertambah atau berkurang tingkat
keparahannya selama masa kecil dan dewasa.

3. Etiologi
Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar(eksogen), misalnya bahan kimia (contoh :
detergen,asam, basa, oli, semen), fisik (sinar dan suhu), mikroorganisme (contohnya :
bakteri, jamur) dapat pula dari dalam(endogen), misalnya dermatitis atopik.(Adhi
Djuanda,2005)
Sejumlah kondisi kesehatan, alergi, faktor genetik, fisik, stres, dan iritasi dapat menjadi
penyebab eksim. Masing-masing jenis eksim, biasanya memiliki penyebab berbeda
pula. Seringkali, kulit yang pecah-pecah dan meradang yang disebabkan eksim menjadi
infeksi. Jika kulit tangan ada strip merah seperti goresan, kita mungkin mengalami selulit
infeksi bakteri yang terjadi di bawah jaringan kulit. Selulit muncul karena peradangan pada
kulit yang terlihat bentol-bentol, memerah, berisi cairan dan terasa panas saat disentuh dan
.Selulit muncul pada seseorang yang sistem kekebalan tubuhnya tidak bagus. Segera periksa
ke dokter jika kita mengalami selulit dan eksim.

4. Patofisiologi
Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan
oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak lapisan tanduk,
dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut akan berdifusi melalui
membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Dengan
rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan
asam arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan
dilatasi pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan system
kinin. Juga akan menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan
membebaskan histamin, prostaglandin dan leukotrin. PAF akan mengaktivasi platelets yang
akan menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan merangsang ekspresi gen dan
sintesis protein. Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratisonit dan keluarnya
mediator- mediator. Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak alergik
sangat tipis yaitu dermatitis kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi.Ada dua jenis bahan
iritan yaitu : iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada
pajanan pertama pada hampir semua orang, sedang iritan lemah hanya pada mereka yang
paling rawan atau mengalami kontak berulang-ulang. Faktor kontribusi, misalnya
kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklusi, mempunyai andil pada terjadinya kerusakan
tersebut.
Pada dermatitis kontak alergi, ada dua fase terjadinya respon imun tipe IV yang
menyebabkan timbulnya lesi dermatitis ini yaitu :
a. Fase Sensitisasi
Fase sensitisasi disebut juga fase induksi atau fase aferen. Pada fase ini terjadi sensitisasi
terhadap individu yang semula belum peka, oleh bahan kontaktan yang disebut alergen
kontak atau pemeka. Terjadi bila hapten menempel pada kulit selama 18-24 jam
kemudian hapten diproses dengan jalan pinositosis atau endositosis oleh sel LE
(Langerhans Epidermal), untuk mengadakan ikatan kovalen dengan protein karier yang
berada di epidermis, menjadi komplek hapten protein. Protein ini terletak pada membran
sel Langerhans dan berhubungan dengan produk gen HLA-DR (Human Leukocyte
Antigen-DR). Pada sel penyaji antigen (antigen presenting cell). Kemudian sel LE
menuju duktus Limfatikus dan ke parakorteks Limfonodus regional dan terjadilah proses
penyajian antigen kepada molekul CD4+ (Cluster of Diferantiation 4+) dan molekul CD3.
CD4+berfungsi sebagai pengenal komplek HLADR dari sel Langerhans, sedangkan
molekul CD3 yang berkaitan dengan protein heterodimerik Ti (CD3-Ti), merupakan
pengenal antigen yang lebih spesifik, misalnya untuk ion nikel saja atau ion kromium
saja. Kedua reseptor antigen tersebut terdapat pada permukaan sel T. Pada saat ini telah
terjadi pengenalan antigen (antigen recognition). Selanjutnya sel Langerhans dirangsang
untuk mengeluarkan IL-1 (interleukin-1) yang akan merangsang sel T untuk
mengeluarkan IL-2. Kemudian IL-2 akan mengakibatkan proliferasi sel T sehingga
terbentuk primed me mory T cells, yang akan bersirkulasi ke seluruh tubuh meninggalkan
limfonodi dan akan memasuki fase elisitasi bila kontak berikut dengan alergen yang sama.
Proses ini pada manusia berlangsung selama 14-21 hari, dan belum terdapat ruam pada
kulit. Pada saat ini individu tersebut telah tersensitisasi yang berarti mempunyai resiko
untuk mengalami dermatitis kontak alergik.
b. Fase elisitasi
Fase elisitasi atau fase eferen terjadi apabila timbul pajanan kedua dari antigen yang sama
dan sel yang telah tersensitisasi telah tersedia di dalam kompartemen dermis. Sel
Langerhans akan mensekresi IL-1 yang akan merangsang sel T untuk mensekresi Il-2.
Selanjutnya IL-2 akan merangsang INF (interferon) gamma. IL-1 dan INF gamma akan
merangsang keratinosit memproduksi ICAM-1 (intercellular adhesion molecule-1) yang
langsung beraksi dengan limfosit T dan lekosit, serta sekresi eikosanoid. Eikosanoid akan
mengaktifkan sel mast dan makrofag untuk melepaskan histamin sehingga terjadi
vasodilatasi dan permeabilitas yang meningkat. Akibatnya timbul berbagai macam
kelainan kulit seperti eritema, edema dan vesikula yang akan tampak sebagai dermatitis.
Proses peredaan atau penyusutan peradangan terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu
proses skuamasi, degradasi antigen oleh enzim dan sel, kerusakan sel Langerhans dan sel
keratinosit serta pelepasan Prostaglandin E-1dan 2 (PGE-1,2) oleh sel makrofag akibat
stimulasi INF gamma. PGE-1,2 berfungsi menekan produksi IL-2R sel T serta mencegah
kontak sel T dengan keratisonit. Selain itu sel mast dan basofil juga ikut berperan dengan
memperlambat puncak degranulasi setelah 48 jam paparan antigen, diduga histamin
berefek merangsang molekul CD8 (+) yang bersifat sitotoksik. Dengan beberapa
mekanisme lain, seperti sel B dan sel T terhadap antigen spesifik, dan akhirnya menekan
atau meredakan peradangan.

PATHWAY

5. Manifestasi klinik
Subyektif ada tanda–tanda radang akut terutama priritus ( sebagai pengganti dolor). Selain
itu terdapat pula kenaikan suhu (kalor), kemerahan (rubor), edema atau pembengkakan dan
gangguan fungsi kulit (function laisa).Obyektif, biasanya batas kelainan tidak tgas an terdapt
lesi polimorfi yang dapat timbul scara serentak atau beturut-turut. Pada permulaan eritema
dan edema.Edema sangat jelas pada klit yang longgar misalya muka (terutama palpebra dan
bibir) dan genetelia eksterna .Infiltrasi biasanya terdiri atas papul.
Dermatitis madidans (basah) bearti terdapat eksudasi.Disana-sini terdapat sumber
dermatitis, artinya terdapat Vesikel-veikel fungtiformis yang berkelompok yang kemudian
membesar. Kelainan tersebut dapat disertai bula atau pustule, jika disertai infeksi.Dermatitis
sika (kering) berarti tiak madidans bila gelembung-gelumbung mongering maka akan
terlihat erosi atau ekskoriasi dengan krusta. Hal ini berarti dermatitis menjadi kering disebut
ematiti sika.Pada stadium tersebut terjadi deskuamasi, artinya timbul sisik. Bila proses
menjadi kronis tapak likenifikasi dan sebagai sekuele telihat hiperpigmentai tau
hipopigmentasi.

6. pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
1) Darah : Hb, leukosit, hitung jenis, trombosit, elektrolit, protein total, albumin,
globulin
2) Urin : pemerikasaan histopatologi
b. Penunjang (pemeriksaan Histopatologi)
Pemeriksaan ini tidak memberi gambaran khas untuk diagnostik karena gambaran
histopatologiknya dapat juga terlihat pada dermatitis oleh sebab lain. Pada dermatitis akut
perubahan pada dermatitis berupa edema interseluler (spongiosis), terbentuknya vesikel
atau bula, dan pada dermis terdapat dilatasi vaskuler disertai edema dan infiltrasi
perivaskuler sel-sel mononuclear. Dermatitis sub akut menyerupai bentuk akut dengan
terdapatnya akantosis dan kadangkadang parakeratosis. Pada dermatitis kronik akan
terlihat akantosis, hiperkeratosis, parakeratosis, spongiosis ringan, tidak tampak adanya
vesikel dan pada dermis dijumpai infiltrasi perivaskuler, pertambahan kapiler dan
fibrosis. Gambaran tersebut merupakan dermatitis secara umum dan sangat sukar untuk
membedakan gambaran histopatologik antara dermatitis kontak alergik dan dermatitis
kontak iritan.
Pemeriksaan ultrastruktur menunjukkan 2-3 jam setelah paparan antigen, seperti
dinitroklorbenzen (DNCB) topikal dan injeksi ferritin intrakutan, tampak sejumlah besar
sel langerhans di epidermis. Saat itu antigen terlihat di membran sel dan di organella sel
Langerhans. Limfosit mendekatinya dan sel Langerhans menunjukkan aktivitas
metabolik. Berikutnya sel langerhans yang membawa antigen akan tampak didermis dan
setelah 4-6 jam tampak rusak dan jumlahnya di epidermis berkurang. Pada saat yang sama
migrasinya ke kelenjar getah bening setempat meningkat. Namun demikian penelitian
terakhir mengenai gambaran histologi, imunositokimia dan mikroskop elektron dari tahap
seluler awal pada pasien yang diinduksi alergen dan bahan iritan belum berhasil
menunjukkan perbedaan dalam pola peradangannya.

7. komplikasi
a. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
b. Infeksi sekunder khususnya oleh Stafilokokus aureus
c. hiperpigmentasi atau hipopigmentasi post inflamasi
d. jaringan parut muncul pada paparan bahan korosif atau ekskoriasi

8. penatalaksanaan
Pada prinsipnya penatalaksanaan yang baik adalah mengidentifikasi penyebab dan
menyarankan pasien untuk menghindarinya, terapi individual yang sesuai dengan tahap
penyakitnya dan perlindungan pada kulit.
a. Pencegahan
Merupakan hal yang sangat penting pada penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan
kontak alergik. Di lingkungan rumah, beberapa hal dapat dilaksanakan misalnya
penggunaan sarung tangan karet di ganti dengan sarung tangan plastik, menggunakan
mesin cuci, sikat bergagang panjang, penggunaan deterjen.
b. Pengobatan
1) Pengobatan topical
Obat-obat topikal yang diberikan sesuai dengan prinsip-prinsip umum pengobatan
dermatitis yaitu bila basah diberi terapi basah (kompres terbuka), bila kering berikan
terapi kering. Makin akut penyakit, makin rendah prosentase bahan aktif. Bila akut
berikan kompres, bila subakut diberi losio, pasta, krim atau linimentum (pasta
pendingin), bila kronik berikan salep. Bila basah berikan kompres, bila kering
superfisial diberi bedak, bedak kocok, krim atau pasta, bila kering di dalam, diberi
salep. Medikamentosa topikal saja dapat diberikan pada kasus-kasus ringan. Jenis-
jenisnya adalah
2) Kortikosteroid
Kortikosteroid mempunyai peranan penting dalam sistem imun. Pemberian topikal
akan menghambat reaksi aferen dan eferen dari dermatitis kontak alergik. Steroid
menghambat aktivasi dan proliferasi spesifik antigen. Ini mungkin disebabkan karena
efek langsung pada sel penyaji antigen dan sel T. Pemberian steroid topikal pada kulit
menyebabkan hilangnya molekul CD1 dan HLA-DR sel Langerhans, sehingga sel
Langerhans kehilangan fungsi penyaji antigennya. Juga menghalangi pelepasan IL-2
oleh sel T, dengan demikian profilerasi sel T dihambat. Efek imunomodulator ini
meniadakan respon imun yang terjadi dalam proses dermatitis kontak dengan demikian
efek terapetik. Jenis yang dapat diberikan adalah hidrokortison 2,5 %, halcinonid dan
triamsinolon asetonid. Cara pemakaian topikal dengan menggosok secara lembut.
Untuk meningkatan penetrasi obat dan mempercepat penyembuhan, dapat dilakukan
secara tertutup dengan film plastik selama 6-10 jam setiap hari. Perlu diperhatikan
timbulnya efek samping berupa potensiasi, atrofi kulit dan erupsi akneiformis.
3) Radiasi ultraviolet
Sinar ultraviolet juga mempunyai efek terapetik dalam dermatitis kontak melalui
sistem imun. Paparan ultraviolet di kulit mengakibatkan hilangnya fungsi sel
Langerhans dan menginduksi timbulnya sel panyaji antigen yang berasal dari sumsum
tulang yang dapat mengaktivasi sel T supresor. Paparan ultraviolet di kulit
mengakibatkan hilangnya molekul permukaan sel langehans (CDI dan HLA-DR),
sehingga menghilangkan fungsi penyaji antigennya. Kombinasi 8-methoxy-psoralen
dan UVA (PUVA) dapat menekan reaksi peradangan dan imunitis. Secara imunologis
dan histologis PUVA akan mengurangi ketebalan epidermis, menurunkan jumlah sel
Langerhans di epidermis, sel mast di dermis dan infiltrasi mononuklear. Fase induksi
dan elisitasi dapat diblok oleh UVB. Melalui mekanisme yang diperantarai TNF maka
jumlah HLA- DR + dari sel Langerhans akan sangat berkurang jumlahnya dan sel
Langerhans menjadi tolerogenik. UVB juga merangsang ekspresi ICAM-1 pada
keratinosit dan sel Langerhans.
4) Siklosporin A
Pemberian siklosporin A topikal menghambat elisitasi dari hipersensitivitas kontak
pada marmut percobaan, tapi pada manusia hanya memberikan efek minimal, mungkin
disebabkan oleh kurangnya absorbsi atau inaktivasi dari obat di epidermis atau dermis.
5) Antibiotika dan antimikotika
Superinfeksi dapat ditimbulkan oleh S. aureus, S. beta dan alfa hemolitikus, E. koli,
Proteus dan Kandida spp. Pada keadaan superinfeksi tersebut dapat diberikan
antibiotika (misalnya gentamisin) dan antimikotika (misalnya clotrimazole) dalam
bentuk topikal.
6) Imunosupresif
Obat-obatan baru yang bersifat imunosupresif adalah FK 506 (Tacrolimus) dan SDZ
ASM 981. Tacrolimus bekerja dengan menghambat proliferasi sel T melalui
penurunan sekresi sitokin seperti IL-2 dan IL-4 tanpa merubah responnya terhadap
sitokin eksogen lain. Hal ini akan mengurangi peradangan kulit dengan tidak
menimbulkan atrofi kulit dan efek samping sistemik. SDZ ASM 981 merupakan
derivat askomisin makrolatum yang berefek anti inflamasi yang tinggi. Pada
konsentrasi 0,1% potensinya sebanding dengan kortikosteroid klobetasol-17-propionat
0,05% dan pada konsentrasi 1% sebanding dengan betametason 17-valerat 0,1%,
namun tidak menimbulkan atrofi kulit. Konsentrasi yang diajurkan adalah 1%. Efek
anti peradangan tidak mengganggu respon imun sistemik dan penggunaan secara
topikal sama efektifnya dengan pemakaian secara oral.
c. Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan untuk mengontrol rasa gatal dan atau edema, juga pada
kasus-kasus sedang dan berat pada keadaan akut atau kronik. Jenis-jenisnya adalah :
1. Antihistamin
Maksud pemberian antihistamin adalah untuk memperoleh efek sedatifnya. Ada yang
berpendapat pada stadium permulaan tidak terdapat pelepasan histamin. Tapi ada juga
yang berpendapat dengan adanya reaksi antigen-antobodi terdapat pembebasan
histamin, serotonin, SRS-A, bradikinin dan asetilkolin.
2. Kortikosteroid
Diberikan pada kasus yang sedang atau berat, secara peroral, intramuskular atau
intravena. Pilihan terbaik adalah prednison dan prednisolon. Steroid lain lebih mahal
dan memiliki kekurangan karena berdaya kerja lama. Bila diberikan dalam waktu
singkat maka efek sampingnya akan minimal. Perlu perhatian khusus pada penderita
ulkus peptikum, diabetes dan hipertensi. Efek sampingnya terutama pertambahan berat
badan, gangguan gastrointestinal dan perubahan dari insomnia hingga depresi.
Kortikosteroid bekerja dengan menghambat proliferasi limfosit, mengurangi molekul
CD1 dan HLA- DR pada sel Langerhans, menghambat pelepasan IL-2 dari limfosit T
dan menghambat sekresi IL-1, TNF-a dan MCAF.
3. Siklosporin
Mekanisme kerja siklosporin adalah menghambat fungsi sel T penolong dan
menghambat produksi sitokin terutama IL-2, INF-r, IL-1 dan IL-8. Mengurangi
aktivitas sel T, monosit, makrofag dan keratinosit serta menghambat ekspresi ICAM-
1.
4. Pentoksifilin
Bekerja dengan menghambat pembentukan TNF-a, IL-2R dan ekspresi ICAM-1 pada
keratinosit dan sel Langerhans. Merupakan derivat teobromin yang memiliki efek
menghambat peradangan.
5. FK 506 (Trakolimus)
Bekerja dengan menghambat respon imunitas humoral dan selular. Menghambat
sekresi IL-2R, INF-r, TNF-a, GM-CSF . Mengurangi sintesis leukotrin pada sel mast
serta pelepasan histamin dan serotonin. Dapat juga diberikan secara topikal.
6. Ca++ antagonis
Menghambat fungsi sel penyaji dari sel Langerhans. Jenisnya seperti nifedipin dan
amilorid.
7. Derivat vitamin D3
Menghambat proliferasi sel T dan produksi sitokin IL-1, IL-2, IL-6 dan INF-r yang
merupakan mediator-mediator poten dari peradangan. Contohnya adalah kalsitriol.
8. SDZ ASM 981
Merupakan derivay askomisin dengan aktifitas anti inflamasi yang tinggi. Dapat juga
diberikan secara topical, pemberian secara oral lebih baik daripada siklosporin
9. ASUHAN KEPERAWATAN

a. pengkajian keperawatan
1) Identitas Pasien
2) Keluhan Utama.
Biasanya pasien mengeluh gatal, rambut rontok.
3) Riwayat Kesehatan.
a) Riwayat penyakit sekarang
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan
utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
b) Riwayat penyakit dahulu
Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit
lainnya.
c) Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit
kulit lainnya
d) Riwayat psikososial
Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang
mengalami stress yang berkepanjangan.
e) Riwayat pemakaian obat
Apakah pasien pernah menggunakan obat-obatan yang dipakai pada kulit, atau
pernahkah pasien tidak tahan (alergi) terhadap sesuatu obat

b. pola fungsional gordon


1) Pola persepsi dan penanganan kesehatan
Tanyakan kepada klien pendapatnya mengenai kesehatan dan penyakit. Apakah
pasien langsung mencari pengobatan atau menunggu sampai penyakit tersebut
mengganggu aktivitas pasien.
2) Pola nutrisi dan metabolisme
a) Tanyakan bagaimana pola dan porsi makan sehari-hari klien (pagi, siang dan
malam)
b) Tanyakan bagaimana nafsu makan klien, apakah ada mual muntah, pantangan atau
alergi
c) Tanyakan apakah klien mengalami gangguan dalam menelan
d) Tanyakan apakah klien sering mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran
yang mengandung vitamin antioksidant
3) Pola eliminasi
a) Tanyakan bagaimana pola BAK dan BAB, warna dan karakteristiknya
b) Berapa kali miksi dalam sehari, karakteristik urin dan defekasi
c) Adakah masalah dalam proses miksi dan defekasi, adakah penggunaan alat bantu
untuk miksi dan defekasi.
4) Pola aktivitas/olahraga
a) Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan pada kulit.
b) Kekuatan Otot :Biasanya klien tidak ada masalah dengan kekuatan ototnya karena
yang terganggu adalah kulitnya
c) Keluhan Beraktivitas : kaji keluhan klien saat beraktivitas.
5) Pola istirahat/tidur
a) Kebiasaan : tanyakan lama, kebiasaan dan kualitas tidur pasien
b) Masalah Pola Tidur : Tanyakan apakah terjadi masalah istirahat/tidur yang
berhubungan dengan gangguan pada kulit
c) Bagaimana perasaan klien setelah bangun tidur? Apakah merasa segar atau tidak?
6) Pola kognitif/persepsi
a) Kaji status mental klien
b) Kaji kemampuan berkomunikasi dan kemampuan klien dalam memahami sesuatu
c) Kaji tingkat anxietas klien berdasarkan ekspresi wajah, nada bicara klien.
Identifikasi penyebab kecemasan klien
d) Kaji penglihatan dan pendengaran klien.
e) Kaji apakah klien mengalami vertigo
f) Kaji nyeri : Gejalanya yaitu timbul gatal-gatal atau bercak merah pada kulit.
7) Pola persepsi dan konsep diri
a) Tanyakan pada klien bagaimana klien menggambarkan dirinya sendiri, apakah
kejadian yang menimpa klien mengubah gambaran dirinya
b) Tanyakan apa yang menjadi pikiran bagi klien, apakah merasa cemas, depresi atau
takut
c) Apakah ada hal yang menjadi pikirannya
8) Pola peran hubungan
a) Tanyakan apa pekerjaan pasien
b) Tanyakan tentang system pendukung dalam kehidupan klien seperti: pasangan,
teman, dll.
c) Tanyakan apakah ada masalah keluarga berkenaan dengan perawatan penyakit
klien
9) Pola seksualitas/reproduksi
a) Tanyakan masalah seksual klien yang berhubungan dengan penyakitnya
b) Tanyakan kapan klien mulai menopause dan masalah kesehatan terkait dengan
menopause
c) Tanyakan apakah klien mengalami kesulitan/perubahan dalam pemenuhan
kebutuhan seks

10) Pola koping-toleransi stress


a) Tanyakan dan kaji perhatian utama selama dirawat di RS ( financial atau
perawatan diri )
b) Kaji keadan emosi klien sehari-hari dan bagaimana klien mengatasi
kecemasannya (mekanisme koping klien ). Apakah ada penggunaan obat untuk
penghilang stress atau klien sering berbagi masalahnya dengan orang-orang
terdekat.
11) Pola keyakinan nilai
a) Tanyakan agama klien dan apakah ada pantangan-pantangan dalam beragama
serta seberapa taat klien menjalankan ajaran agamanya. Orang yang dekat kepada
Tuhannya lebih berfikiran positif.
10. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kekeringan pada kulit
2. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan imunitas
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus.
5. Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan kurangnya informasi

11. RENCANA KEPERAWATAN

DIAGNOSA
No NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Kerusakan integritas kulit Setelah dilakukan asuhan a. Lakukan inspeksi lesi
berhubungan dengan keperawatan, kulit klien dapat setiap hari
kekeringan pada kulit kembali normal dengan kriteria b. Pantau adanya tanda-
hasil: tanda infeksi
a. Kenyamanan pada kulit c. Ubah posisi pasien tiap 2-
meningkat 4 jam
b. Derajat pengelupasan kulit d. Bantu mobilitas pasien
berkurang sesuai kebutuhan
c. Kemerahan berkurang e. Pergunakan sarung
d. Lecet karena garukan tangan jika merawat lesi
berkurang f. Jaga agar alat tenun selau
e. Penyembuhan area kulit yang dalam keadaan bersih dan
telah rusak kering
g. Libatkan keluarga dalam
memberikan bantuan
pada pasien
h. Gunakan sabun yang
mengandung pelembab
atau sabun untuk kulit
sensitive
i. Oleskan/berikan salep
atau krim yang telah
diresepkan 2 atau tiga
kali per hari.
2. Resiko infeksi berhubungan Setelah dilakukan asuhan a. Lakukan tekni aseptic
dengan penurunan imunitas keperawatan diharapkan tidak dan antiseptic dalam
terjadi infeksi dengan kriteria hasil: melakukan tindakan pada
a. Hasil pengukuran tanda vital pasien
dalam batas normal. b. Ukur tanda vital tiap 4-6
 RR :16-20 x/menit jam
 N : 70-82 x/menit c. Observasi adanya tanda-
 T : 37,5 C tanda infeksi
 TD : 120/85 mmHg d. Batasi jumlah
b. Tidak ditemukan tanda-tanda pengunjung
infeksi (kalor,dolor, rubor, e. Kolaborasi dengan ahli
tumor, infusiolesa) gizi untuk pemberian diet
c. Hasil pemeriksaan laborat TKTP
dalam batas normal Leuksosit f. Libatkan peran serta
darah : 5000-10.000/mm3 keluarga dalam
memberikan bantuan
pada klien
g. Kolaborasi dengan
dokter dalam terapi obat
3. Gangguan pola tidur Setelah dilakukan asuhan a. Menjaga kulit agar selalu
berhungan dengan pruritus keperawatan diharapkan klien bisa lembab
istirahat tanpa danya pruritus b. Determinasi efek-efek
dengan kriteria hasil: medikasi terhadap pola
a. Mencapai tidur yang nyenyak tidur
b. Melaporkan gatal mereda
c. Mengenali tindakan untuk c. Jelaskan pentingnya tidur
meningkatkan tidur yang adekuat
d. Mempertahankan kondisi d. Fasilitasi untuk
lingkungan yang tepat mempertahankan aktifitas
sebelum tidur
e. Ciptakan lingkungan
yang nyaman
f. Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat
tidur.
4. Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan asuhan
1. Kaji adanya gangguan citra
berhubungan dengan keperawatan diharapkan diri (menghindari kontak
penampakan kulit yang tidak Pengembangan peningkatan mata,ucapan merendahkan diri
bagus. penerimaan diri pada klien tercapai sendiri).
dengan kriteria hasil: a. Identifikasi stadium
a. Mengembangkan peningkatan psikososial terhadap
kemauan untuk menerima perkembangan.
keadaan diri. b. Berikan kesempatan
b. Mengikuti dan turut pengungkapan perasaan.
berpartisipasi dalam tindakan c. Nilai rasa keprihatinan dan
perawatan diri. ketakutan klien, bantu
c. Melaporkan perasaan dalam klien yang cemas
pengendalian situasi. mengembangkan
d. Menguatkan kembali dukungan kemampuan untuk menilai
positif dari diri sendiri. diri dan mengenali
masalahnya.
d. Dukung upaya klien untuk
memperbaiki citra diri , spt
merias, merapikan.
e. Mendorong sosialisasi
dengan orang lain.
5. Kurang pengetahuan tentang Setelah dilakukan asuhan a. Kaji apakah klien
program terapi berhubungan keperawatan diharapkan terapi memahami dan mengerti
dengan kurangnya informasi dapat dipahami dan dijalankan tentang penyakitnya.
dengan kriteria hasil: b. Jaga agar klien
a. Memiliki pemahaman terhadap mendapatkan informasi
perawatan kulit. yang benar, memperbaiki
b. Mengikuti terapi dan dapat kesalahan
menjelaskan alasan terapi. konsepsi/informasi.
c. Melaksanakan mandi, c. Peragakan penerapan
pembersihan dan balutan basah terapi seperti, mandi dan
sesuai program penggunaan obat-obatan
d. Menggunakan obat topikal lainnya.
dengan tepat. d. Nasihati klien agar selalu
e. Memahami pentingnya nutrisi menjaga hygiene pribadi
untuk kesehatan kulit. juga lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Djuanda S, Sularsito. 2005. Dermatitis In: Djuanda A, ed Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi III.
Jakarta: FK UI: 126-31.
Johnson, M., et all. 2002. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper
Saddle River
Mc Closkey, C.J., et all. 2002. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
NANDA. 2012. Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.Jakarta : EGC
Nugroho, 2008. Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC
Price, A. Sylvia.2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 4. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C.2002. Buku ajar medikal bedah Brunner Suddarth/Brunner Suddarth’s Texbook of
Medical-surgical. Jakarta: EGC.
Widhya. 2011. Askep Dermatitis. Diaskes pada tanggal 28 April 2012
pada http:///D:/LAPORAN%20POROFESI%20NERS%202012/MEDICAL%20BEDAH/SUMB
ER%20DERMATITIS/askep-dermatitis.html
Tindakan keperawatan

No. Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


keperawatan kriteria hasil
1. Nyeri b.d adanya Tujuan : 1. kaji jenis dan tingkat1. Dapat mengetahui
lesi kulit Setelah dilakukan nyeri pasien. tentukan kriteria nyeri pasien
tidakan apakah nyerinya
keperawatan kronis atau akut.
selama 1x24 jam, Selain itu, kaji factor
diharapkan nyeri yang dapat
berkurang atau mengurangi atau
teradaptasi memperberat; lokasi,
durasi, intensitas dan
Kriteria hasil : karakteristik nyeri;
1. Pasien melaporkan dan tanda-tanda dan
nyeri berkurang gejala psikologis.
2. Nyeri dapat Pengkajian
diadaptasi berkelanjutan
3. Dapat membantu
mengidentifikasi meyakinkan bahwa
aktifitas yang penanganan dapat
meningkatkan atau memenuhi kebutuhan
menurunkan nyeri pasien dalam
4. Pasien tidak mengurangi nyeri.2. Untuk memfasilitasi
gelisah dan skala Dokumentasikan pengkajian yang
nyeri 0-1 atau respons pasien akurat tentang tingkat
teradaptasi terhadap pertanyaan nyeri pasien
anda dengan
bahasanya sendiri
untuk menghindari
interprestasi subjektif 3. Untuk menentukan
2. Minta pasien untuk keefektifan obat
menggunakan sebuah
skala 1 sampai 10
untuk menjelaskan
tingkat nyerinya
(dengan nilai 10
menandakan tingkat
nyeri paling berat)
3. Berikan obat yang
dianjurkan untuk
mengurangi nyeri,4. Tindakan ini
bergantung pada meningkatkan
gambaran nyerikesehatan,
pasien. pantau adanya kesejahteraan, dan
reaksi yang tidak peningkatan tingkat
diinginkan terhadap energy, yang penting
obat. Sekitar 30 untuk pengurangan
sampai 40 menit nyeri
setelah pemberian5. Untuk menurunkan
obat, minta pasien ketegangan atau
untuk menilai kembali spasme otot dan untuk
nyerinya dengan skala mendistribusikan
1 sampai 10 kembali tekanan pada
4. Atur periode istirahat bagian tubuh
tanpa terganggu 6. Tehnik
nonfarmakologis
pengurangan nyeri
akan efektif bila nyeri
5. Bantu pasien untuk pasien berada pada
mendapat posisi yang tingkat yang dapat
nyaman, dan gunakan ditoleransi
bantal untuk
membebat atau
menyokong daerah
yang sakit bila perlu
6. Pada saat tingkat nyeri
pasien tidak terlalu
kentara,
implementasikan
tehnik mengendalikan
nyeri alternatif
2. Kerusakan Tujuan : 1. Inspeksi kulit pasien1. Untuk menentukan
integritas kulit Setelah dilakukan setiap pergantian keefektifan regimen
b.d inflamasi tindakan tugas jaga, jelaskan perawatan kulit
dermatitis, keperawatan dan dokumentasikan
respon selama 3x24 jam kondisi kulit dan2.
menggaruk diharapkan laporkan perubahan
kerusakan 2. Lakukan tindakana. Untuk meningkatkan
integritas kulit pendukung, sesuai kenyamanan dan
dapat membaik indikasi kesejahteraan
Kriteria hasil : a. Bantu pasien dalamb. Pengurangan nyeri
1. Pasien melakukan tindakan diperlukan untuk
menunjukkan tidak hygiene dan mempertahankan
adanya kerusakan kenyamanan kesehatan
kulit b. Berikan obat nyeric. Untuk meningkatkan
2. Pasien sesuai program dan rasa sejahtera pasien
menunjukkan pantau keefektifannyad. Untuk mencegah
turgor kulit yang kerusakan kulit
normal c. Pertahankan
lingkungan yange. Untuk mencegah
nyaman kemungkinan infeksi
d. Gunakan kasur busa,
penyangga, atau
peralatan lain
e. Peringatkan agar tidak3. Tindakan tersebut
menyentuh luka atau mengurangi tekanan,
balutan meningkatkan
3. Atur posisi pasien sirkulasi dan
supaya nyaman dan mencegah kerusakan
meminimalkan kulit
tekanan pada
penonjolan tulang.
Ubah posisi pasien
minimal setiap 2 jam.4. Tindakan ini
Pantau frekuensi membantu
pengubahan posisi mengurangi ansietas
pasien dan kondisi dan meningkatkan
kulitnya ketrampilan koping
4. Berikan kesempatan5. Untuk mendorong
pasien untuk kepatuhan
mengungkapkan
perasaan tentang
masalah kulitnya
5. Berikan pengarahan
pada pasien dan
anggota keluarga atau
pasangan dalam
program perawatan
kulit
3. Gangguan pola Tujuan : 1. Berikan kesempatan1. Mendengar aktif dapat
tidur b.d pruritus Dalam waktu 1x24 pasien untuk membantu
jam pasien mendiskusikan menentukan penyebab
mencapai pola keluhan yang kesulitan tidur
tidur/istirahat yang mungkin menghalangi
memuaskan tidur 2. Tindakan ini
Kriteria hasil : 2. Rencanakan asuhan memungkinkan
1. Pasien keperawatan rutin asuhan keperawatan
mengungkapkan yang memungkinkan yang konsisten dan
perasaan cukup pasien tidur tanpa memberikan waktu
beristirahat terganggu untuk tidur tanpa
2. Pasien tidak terganggu
menunjukkan 3.Berikan bantuan tidur3. Hygiene pribadi
tanda-tanda fisik kepada pasien, seperti secara rutin dapat
deprivasi tidur bantal, mandi sebelum mempermudah tidur
3. Menghindari tidur, makanan atau bagi sejumlah pasien
konsumsi kafein minuman dan bahan
4. Mengenali bacaan. 4. Tindakan ini dapat
tindakan untuk4.Ciptakan lingkungan mendorong istirahat
meningkatkan tidur tenang yang kondusif dan tidur
untuk tidur 5. Agens hipnotik
5. Berikan pengobatan memicu tidur, obat
yang diprogramkan penenang menurunkan
untuk meningkatkan ansietas
pola tidur normal
pasien. pantau dan
catat reaksi yang tidak
diharapkan 6. Tindakan ini
6. Minta pasien untuk membantu mendeteksi
setiap pagi adanya gejala perilaku
menjelaskan kualitas yang berhubungan
tidur malam dengan tidur
sebelumnya 7. Upaya relaksasi yang
bertujuan biasanya
7. Berikan pendidikan dapat membantu
kesehatan kepada meningkatkan tidur
pasien tentang teknik
relaksasi seperti
imajinasi terbimbing,
relaksasi otot
progresif dan meditasi
4. Gangguan citra Tujuan : 1. Terima persepsi diri1. Untuk memvalidasi
tubuh b.d Dalam waktu 1x24 pasien dan berikan perasaannya
penampakan jam pasien jaminan bahwa ia
kulit yang tidak menerima dapat mengatasi krisis2. Untuk mendapat nilai
baik perubahan citra ini dasar pada pengukuran
tubuh 2. Ketika membantu kemajuan
Kriteria hasil : pasien yang sedang psikologisnya
1. Pasien melakukan perawatan
berpartisipasi diri, kaji pola koping
dalam berbagai dan tingkat harga
aspek perawatan dirinya 3. Untuk meningkatkan
dan dalam3. Dorong pasien rasa kemandirian dan
pemgambilan melakukan perawatan control
keputusan tentang diri 4. Agar pasien dapat
perawatan 4. Berikan kesempatan mengungkapkan
2. Pasien menyatakan kepada pasien untuk keluhannya dan
perasaan positif menyatakan perasaan memperbaiki
terhadap dirinya tentang citra tubuhnya kesalahpahaman
sendiri dan hospitalisasi 5. Untuk mendukung
3. Pasien5. Bimbing dan kuatkan adaptasi dan kemajuan
berpartisipasi focus pasien pada yang berkelanjutan
dalam program aspek-aspek positif
rehabilitasi dan dari penampilannya
konseling dan upayanya dlam
menyesuaikan diri
dengan perubahan
citra tubuhnya
5. Resiko infeksi Tujuan : 1. Minimalkan resiko1.
b.d kerusakan Setelah melakukan infeksi pasien dengan :
perlindungan tindakan a. Mencuci tangana. Mencuci tangan
kulit keperawatan sebelum dan setelah adalah satu-satunya
selama 1x24 jam, memberikan cara terbaik untuk
infeksi dapat perawatan mencegah penularan
dihindari pathogen
Kriteria hasil : b. Mengunakan sarungb. Sarung tangan dapat
1. Tanda-tanda vital tangan untuk melindungi tangan
dalam batas normal mempertahankan pada saat memegang
2. Tidak adanya asepsis pada saat luka yang dibalut atau
tanda-tanda infeksi memberikan melakukan berbagai
perawatan langsung tindakan
2. Pantau suhu minimal2. Suhu yang terus
setiap 4 jam dan catat meningkat setelah
pada kertas grafik. pembedahan dapat
Laporkan evaluasi merupakan tanda
segera awitan komplikasi
pulmonal, infeksi luka
atau dehisens, infeksi
saluran kemih atau
tromboflebitis
3. Bantu pasien mencuci3. Mencuci tangan
tangan sebelum dan mencegah penyebaran
sesudah makan dan pathogen terhadap
setelah dari kamar objek dan makanan
mandi lain
4. Beri pendidikan4. Tindakan tersebut
kepada pasien memungkinkan pasien
mengenai : untuk berpartisipasi
a. Teknik mencuci dalam perawatan dan
tangan yang baik membantu pasien
b. Factor-faktor yang memodifikasi gaya
meningkatkan resiko hidup untuk
infeksi mempertahankan
c. Tanda-tanda dan tingkat kesehatan ang
gejala infeksi optimum
DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin. 2008.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Muskuloskeletal.
Jakarta:EGC

Arif Muttaqin.2011.Buku Saku Gangguan Mulskuloskeletal Aplikasi pada Praktik Klinik


Keperawatan.Jakarta:EGC.

Brunner,Suddarth.2009.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol 3. Jakarta: EGC.

NANDA International. 2012.Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.Jakarta:


EGC.

Syaifuddin. 2010.Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan.Jakarta:EGC.