Anda di halaman 1dari 59

PENDIDIKAN DASAR

PECINTA ALAM

HIMALAYA
ADVENTURE

SOLO, 18 APRIL 2015


TIM HIMALAYA
www.himalaya-adventure.org
PENDIDIKAN DASAR PECINTA ALAM

Pendahuluan
KODE ETIK PECINTA ALAM INDONESIA
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Memelihara Alam beserta isinya serta mempergunakan sumber daya alam
sesuai dengan batas kebutuhannya.
3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya, serta
menghargai manusia sesuai dengan martabatnya.
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan sesama pecinta alam sesuai asas tujuan
pecinta alam.
6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam melaksanakan
pengabdian kepada Tuhan, Bangsa, dan Tanah Air.

HAKEKAT PECINTA ALAM


1. Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan
Yang Maha Esa.
2. Pecinta Alam Indonesia adalah sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, sadar
akan tanggung jawab terhadap Tuhan, Bangsa, dan Negara.
3. Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa segenap Pecinta Alam adalah saudara
sesama makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha
Esa.

Take nothing but pictures


jangan ambil sesuatu kecuali gambar…
Kill nothing but times
jangan bunuh sesuatu kecuali waktu…
Leave nothing but foot-print
jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kakI…

1 |www.himal aya-adventure.org|
MATERI

MOUNTAINEERING (PENDAKIAN)
A. JENIS-JENIS PENDAKIAN
B. PERALATAN PENDAKIAN
C. TEKNIK DASAR PENDAKIAN
D. PELAKSANAAN PENDAKIAN
E. BAHAYA DI PEGUNUNGAN

PENGETAHUAN DASAR
A. TEKNIK PACKING
B. TEKNIK SURVIVAL
C. BIVAK
D. MENCARI AIR
E. MEMBUAT PERAPIAN
F. MENGENAL FLORA DAN FAUNA
G. PERTOLONGAN PERTAMA

2 |www.himal aya-adventure.org|
MOUNTAINEERING (PENDAKIAN)
A. JENIS-JENIS PENDAKIAN

Olah raga mendaki gunung mempunyai kualifikasi. Seperti yang sering dikenal
dengan istilah mountaineering atau istilah serupa lainnya. Menurut bentuk dan jenis
medan yang dihadapi, mountaineering dapat dibagi menjadi:

1. Hill Walking/Feel Walking.


Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai. Tidak membutuhkan peralatan teknis
pendakian. tidak memakan waktu lebih dari satu hari, hanya rekreasi ataupun pendakian
yang praktis, seperti mendaki bukit Sikunir dan gunung Andong.

2. Scarmbling.
Perjalan mendaki dengan medan yang agak terjal. Kadang-kadang tangan digunakan
untuk menahan keseimbangan, seperti pendakian di gunung Merapi.

3. Climbing.
Dikenal sebagai suatu perjalanan yang sulit dan butuh keahlian khusus, umumnya
perjalanan ini dapat memakan waktu sampai beberapa hari. Kegiatan pendakian ini
membutuhkan penguasaan teknik mendaki dan penguasaan pemakaian peralatan.
Bentuk climbing ada dua macam:
a. Rock Climbing. Pendakian pada tebing batu atau dinding karang. Jenis
pendakian ini ada di daerah tropis
b. Snow dan Ice Climbing. Pendakian pada es dan salju. Pada pendakian ini,
peralatan-peralatan khusus sangat diperlukan, seperti ice axe, ice screw,
crampon, webing, carbiner, dll.

3 |www.himal aya-adventure.org|
B. PERALATAN PENDAKIAN

Peralatan pendakian dirancang khusus untuk mengatasi masalah di lapangan saat


melakukan petualangan atau penjelajahan untuk memudahkan dan memberikan
perlindungan dari bahaya. Ada beberapa peralatan standar yang perlu dipersiapkan
sebelum perjalanan:

PERLENGKAPAN PRIBADI
1. Sepatu.
Merupakan salah satu peralatan utama. Karena kegiatan utama adalah berjalan, maka
kaki harus mendapatkan perhatian penting supaya perjalanan menjadi nyaman dengan
segala medan yang ditempuh. Beberapa tips yang yang perlu diperhatikan dalam
memilih sepatu lapangan antara lain:
a. Sepatu dengan sol yang baik. Sepatu dengan ceruk yang dalam dan motif
kasar, terbuat dari karet atau bahan sintetik, menggigit substrat, tahan lama,
lentur, kuat dan mengeluarkan panas dalam sepatu. Sepatu dari kulit lebih baik
asal senantiasa dirawat, sepatu kanvas mudah rusak bila terkena kayu atau benda
tajam lainnya.
b. Ukuran yang sesuai. Melindungi kaki dari lecet dan jari tertekuk saat mendaki
dan menuruni gunung, dan memungkinkan untuk penggunaan kaos kaki
rangkap untuk menahan dingin.
c. Sepatu dengan leher lebih tinggi. Menutupi mata kaki dan memperkuat
pergelangan kaki. Sepatu lars (tentara) tidak disarankan karena sirkulasi udara
yang sulit. Bagian leher dilapisi dengan bahan lembut untuk mencegah lecet
akibat gesekan dengan tepian leher sepatu.
d. Pengeringan sepatu. Dilakukan di tempat teduh dan berangin, didalam sepatu
perlu dijejali koran atau tissue supaya cepat kering. Pengeringan dengan sinar
matahari atau api dapat merusak sepatu.

4 |www.himal aya-adventure.org|
2. Kaos Kaki.
Sangat penting digunakan karena membantu menyerap keringat, melindungi dari lecet,
menahan suhu dingin. Beberapa acuan yang digunakan dalam memilih kaos kaki:
a. Berbahan lembut dan menyerap keringat, seperti katun.
b. Tebal, panjang dan tinggi, paling tidak hingga setengah betis.
c. Kaos kaki berjari seperti sarung tangan, memudahkan saat istirahat panjang.

3. Gaiter (geter).
Merupakan peralatan tambahan yang tidak wajib digunakan. Namun karena banyak
manfaat yang didapatkan, direkomendasikan untuk situasi tertentu. Geter berupa
lembaran kain kedap air yang diperkuat oleh pengencang berupa karet atau setelan pada
atas tengah dan bawahnya sehingga bisa melekat pada kaki. Fungsi geter antara lain:
mencegah kerikil atau tanah kedalam sepatu, mencegah ujung celana basah saat
berjalan di daerah basah dan menyebabkan dingin, menahan cuaca dingin yang
memengaruhi persendian dan otot-otot kaki bagian bawah. Beberapa pilihan saat
memilih geter:
a. Tahan gesek dan kedap air.
b. Setelan kokoh.
c. Bahan pengikat ke bawah sol kuat, tidak mudah putus.

4. Celana Panjang (celana lapangan).


Celana panjang atau celana lapangan sebaiknya bahan yang dapat menyerap keringat
tetapi mampu menaha dingin. Selain melindungi dari suhu ekstrim juga mampu
melindungi dari goresan benda-benda tajam. Selain itu, celana lapangan juga memiliki
persyaratan yang perlu dipenuhi:
a. Mudah menyerap keringat dan melepasnya kembali namun mampu menahan
udara dingin.
b. Jahitan yang kuat dan bagus.
c. Kuat terhadap goresan.
d. Ringan dan mudah kering.
e. Mempunyai kantung memadai.
f. Tidak terlalu ketat dan longgar, memudahkan bergerak.
g. Pelapis ganda pada bagian rawan gores seperti pantat, dan lutut.
h. Bisa lepas sambung pada beberapa bagian dari celana.
5 |www.himal aya-adventure.org|
Beberapa hal diatas dapat dijadikan acuan dalam memilih celana lapangan. Hindari
celana jeans karena sulit dikeringkan saat basah, berat dan tidak mampu menahan
dingin.

5. Baju.
Pada dasarnya sama dengan dengan memilih pakaian yang lain. Ini sangat tergantung
pada jenis medan yang dihadapi. Tidak ada pedoman yang baku manun yang perlu
diperhatikan:
a. Berlengan panjang, melindungi dari sengatan panas matahari dan cuaca dingin.
b. Tersedia pakaian ganti yang secukupnya supaya tidak menambah beban.
c. Ringkas dan fungsional.

6. Jaket.
Ada banyak pilihan yang dapat digunakan. Kecermatan dalam memilih jaket diperlukan.
Jangan sampai menyita tempat dalam carrier dan tidak fungsional. Jenis jaket juga
tergantung pada cuaca dan tempat. Ada yang didesain tahan air ada yang tidak, ada
yang tebal dan ada yang tipis. Ada beberapa pilihan jaket dari beberapa tipe dan bahan
jaket yang bisa digunakan sesuai kebutuhan:
a. Jaket bulu angsa. Terdiri dari dua lapis parasut dengan isi bulu angsa
ditengahnya. Digunakan di daerah bersalju. Tidak cocok digunakan di daerah
tropis atau hujan, bulu akan menggumpal dan memberatkan.
b. Jaket parasut. Sulit menyerap keringat, lengket oleh keringat, mudah kering.
c. Jaket polar. Menyerap keringat, sia-sia saat basah.
d. Jaket woll. Menyerap keringat, hangat saat cuaca dingin, harga relativ mahal.
e. Jaket jeans. Cukup kuat, kurang hangat, susah kering serta berat saat basah.
Dari modelnya, ada beberapa macam yang dapat dipilih dengan berbagai macam
pertimbangan antara lain:
a. Anorok. Memanjang sampai paha dengan tutup kepala, pemakaian seperti kaos
karena tidak bisa dibuka dari depan.
b. Parka. Seperti anorok tetapi dapat dibuka dari depan.
c. Superparka. Seperti parka tetapi terbuat dari bulu angsa.

6 |www.himal aya-adventure.org|
7. Jas hujan.
Merupakan pakaian pelindung badan dari guyuran air hujan agar tidak membasahi
badan dan berakibat fatal. Ada beberapa jenis yang dapat digunakan, masing-masing
memiliki kelebihan dan kekurangan:
a. Ponco. Berbentuk lembaran dengan lubang ditengahnya disertai tutup kepala.
Sering digunakan oleh pengendara motor. Terbuat dari plastik dan cordura (kain
dengan lapisan tahan air atau coating), dapat digunakan sebagai bivak/shelter,
kurang baik untuk tempat sempit seperti vegetasi rapat dan celah sempit.
b. Raincoat. Berbentuk baju dan celana yang kedap air, bentuk seperti bentuk
pakaian biasa, baik untuk tempat sempit

8. Sarung tangan.
Sebagai pelindung tangan dari udara dingin, pelindung goresan saat melewati batuan
atau semak belukar beruduri dan saat memegang barang-barang yang panas.

9. Skibo (Kerudung kepala).


Secara umum berfungsi sama dengan sarung tangan, melindungi kepala dari serangan
cuaca dingin terutama telinga. Ada yang hanya menyelimuti setengah kepala, ada yang
menyelimuti seluruh kepala dengan lubang segaris untuk mata tanpa lubang untuk
hidung, dan menutupi seluruh kepala dengan dua lubang untuk mata dan satu lubang
untuk hidung. Untuk dua terakhir dapat dilipat keatas sesuai kebutuhan.

10. Sleeping Bag (SB).


Adalah selimut berbentuk kantung yang dilengkapi ritsleeting dibagian sisinya hingga
bisa di buka-tutup. SB sangat bermanfaat saat istirahat panjang. SB yang baik biasanya
memiliki spesifikasi yang pasti tentang kemampuannya menahan dingin dan mengisolasi
panas tubuh. Jika tertulis max -5º C, maka kemampuannya menahan dingin hingga suhu
-5ºC.

Ada beberapa model yang populer:


a. Mummi. Berbentuk seperti mummi, bagian atas melebar dan bagian bawah
menyempit. Memiliki penutup kepala, ritsleeting memanjang hingga
pertengahan badan dan tidak bisa dibuka penuh.

7 |www.himal aya-adventure.org|
b. Tikar. Seperti tikar dengan kedua sisi dihubungkan dengan ritsleeting, dapat
dibuka penuh menjadi tikar, dari atas ke bawah tidak terjadi penyempitan. Ada
yang dilengkapi penutup kepala ada yang tidak.

11. Matras.
Digunakan sebagai alas tidur dan melindungi perlengkapan lain dari kotoran ketika
dalam carrier, terbuat dari spons dengan ketebalan ideal 3 cm, kedua permukaan
berbeda, satu sisi halus dengan pori besar dan sisi lain halus tanpa pori. Ukuran standar
sebanding dengan ukuran badan.

12. Alat Penerangan pribadi.


Ada yang api dan ada yang alektrik seperti senter. Lampu senter popular digunakan.
Mulai dari voltase 3 volt hingga 9 volt atau lebih. Ukuran besar kecilnya juga dipengaruhi
ukuran baterainya, ada yang besar dan ada yang kecil. Ada dua tipe senter yang sering
digunakan:
a. Handy lamp, dapat dipegang tangan.
b. Head lamp, diikatkan di kepala, lebih nyaman karena tidak mengganggu
pergerakan tangan.
c. Light Emitting Diode (LED). Produk ini dikenal irit menggunakan baterai.
Bohlam (Xenon, Natrium-kabut)

13. Tas lapangan (Ransel/Carrier).


Carrier mencakup kapasitas antara 35-120 liter. Dengan kapasitas maksimal 30 kg.
Ukuran dan kapasitas disesuaikan dengan tubuh yang menggunakannya.

14. Trekking poles


Digunakan untuk membantu memindahkan beban yang ditanggung lutut saat naik dan
turun. Trekking poles ini menggantikan fungsi dari tongkat yang biasa dipakai. Biasanya,
trekking poles ini memiliki shock absorber (peredam kejut) berupa per didalamnya.

8 |www.himal aya-adventure.org|
PERLENGKAPAN KELOMPOK
Dalam melakukan pendakian atau penjelajahan secara berkelompok ada beberapa
peralatan yang bisa digunakan bersama-sama, karena tidak harus setiap orang
membawa dan memiliki peralatan ini. Disamping itu untuk efisiensi dalam membawa
dan pemakaian. Sehingga tidak repot karena berlebihan beban. Pertimbangan dalam
membawa peralatan kelompok antara lain:
 Jumlah anggota tim.
 Kapasitas yang sanggup dipenuhi oleh kepentingan kelompok. Ini menentukan
jumlah peralatan yang dibawa.
 Pembagian dalam membawa. Jangan sampai ada yang bebannya berlebihan
untuk masing-masing orang dan diusahakan pembagian perlengkapan yang adil.

Perlengkapan kelompok antara lain:


1. Tenda
Berfungsi melindungi anggota kelompok dari panas, hujan, dan udara dingin saat di
lapangan. Ada yang seperti digunakan oleh pramuka, tenda komando dan tenda dome.
Tenda ini merupakan perlengkapan pribadi jika melakukan pendakian solo.
a. Ridge. Berbentuk segi tiga seperti atap rumah, ringkas tetapi instalasi susah
(pemasangan dengan bantuan tiang dan tali), kapasitas kecil hingga sangat
besar.
b. Dome silang. Memiliki rangka saling bersilang, Tenda yang sering digunakan,
sangat ringkas, memiliki rangka sendiri, instalasi mudah sehingga mudah
dikemas dan dibawa.
c. Dome. Tenda yang sering digunakan, sangat ringkas, memiliki rangka sendiri,
instalasi mudah sehingga mudah dikemas dan dibawa. Berat rata-rata dari dome
jenis ini antara 1-6 kg.
d. Semi-geodesic dome, memiliki tiga rangka, dua saling bersilangan, dan sisanya
memotong salah satu sisi secara diagonal.
e. Geodesic dome. Memiliki empat rangka, dua saling bersilangan dan sisanya
memotong secara diagonal. Tenda ini termasuk free standing memiliki stabilitas
yang sangat besar terhadap hembusan angin.
f. Tenda tunnel (terowongan). Membentuk bangun menyerupai terowongan,
dengan tiga atau lebih rangka. Tenda ini cocok digunakan untuk camp dalam
waktu lama.
9 |www.himal aya-adventure.org|
g. Bivy. Dahulu tenda ini hanya bisa dipakai untuk satu orang, dan hanya untuk
tidur. Biasanya dibuat dari bahan parasut yang tahan air, namun sekarang, tenda
ini dibuat dengan dua lapisan, lapisan dalam yang dapat mengeluarkan uap
panas dari dalam tenda (bernafas) dan lapisan luar untuk melindungi isi tenda
dari hujan dan sinar UV. Kapasitasnya mulai dari 2 sampai 12 orang.

2. Alat Masak
Yang digunakan adalah alat masak lapangan, ukuran ringkas, dapat dilipat, efisien dalam
menggunakan bahan bakar. Ada beberapa macam alat masak lapangan yang bisa
digunakan antara lain:
Kompor Lapangan, bisa dibedakan dari bahan bakan yang digunakan.
i. Kompor Parafin.
ii. Kompor Spiritus.
iii. Kompor Minyak tanah.
iv. Kompor Gas.
v. Kombinasi (Multi-fuel)

Kompor Gas dan tabung refuel menggunakan LPG (Butana, C2H5) baik
digunakan untuk suhu yang tidak terlalu dingin, suhu dapat mencairkan gas didalam
tabung. Kompor Multi-Fuel Menggunakan bahan bakar White Gas, bensin, minyak tanah
(Kerosen) dan solar, kelemahannya adalah proses menghidupkannya yang lambat.
Kelebihannya adalah satu-satunya jenis kompor yang mampu beroperasi dibawah 0°C.

3. Panci masak lapangan (Nasting)


Tentu tidak mungkin penjelajahan dengan membawa panci besar dari dapur. Ada satu
set panci berbahan aluminium berdiameter kurang lebih 20cm dan terdiri dari tiga panci
dengan ukuran berbeda serta bisa saling dimasukkan sehingga lebih ringkas dan
dilengkapi pemegang. Ada juga yang berbentuk kotak atau bulat. Alat ini biasanya
diperjual-belikan lengkap dengan kompor lapangan.

10 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
4. Alat penerangan
Alat penerangan ini berguna saat istirahat panjang. Alat ini dibagi menjadi beberapa
macam berdasarkan bahan baker dan bentuknya, diantaranya:
a. Lampu Elektrik. Dengan menggunakan tenaga dari baterai dan cahaya dari
bohlam atau LED (Light Emiting Diode) yang relatif boros dan mahal, dan juga
baterai dapat mencemari lingkungan karena banyak yang masih mengandung
merkuri sebagai bahan berat berbahaya (B3).
b. Lampu minyak tanah. Harga termasuk murah dan mudah didapatkan, baik
lampunya maupun bahan bakarnya. Tetapi butuh penempatan yang khusus
supaya minyak tanah tidak tumpah mengenai peralatan yang lain. Lampu ini
dilengkapi kaca pelindung angin hingga perlu perlindungan dari benturan.
Seperti lampu badai.
c. Lilin. Mudah didapatkan dan relatif murah. Perlu sedikit trik untuk melindungi
nyala api dari terpaan angina. Bisa dengan potongan botol minuman mineral
atau yang lain.
d. Lampu gas. Cukup terang dan tidak terlalu mahal. Namun pada suhu rendah
alirah gas menjadi tidak lancar. Disamping itu penggunaan kaus lampu dan kaca
pelindung rawan terhadap goncangan dan susah didapatkan di lapangan.

11 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
C. TEKNIK DASAR PENDAKIAN

Teknik Mendaki
1. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing yang masih terdapat tonjolan atau rongga yang
memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki pemula biasanya
mempunytai kecenderungan untuk menumpukan sebagian berat badannya pada
pegangan tangan, dan menempatkan badannya rapat ke tebing. Ini adalah kebiasaan
yang salah. Tangan manusia tidak bisa digunakan untuk mempertahankan berat badan
dibandingkan kaki, sehingga beban yang diberikan pada tangan akan cepat melelahkan
untuk mempertahankan keseimbangan badan.
Selain itu, kecenderungan merapatkan berat badan ke tebing dapat mengakibatkan
timbulnya momen gaya pada tumpuan kaki. Hal ini memberikan peluang untuk
tergelincir. Konsentrasi berat diatas bidang yang sempit (tumpuan kaki) akan
memberikan gaya gesekan dan kestabilan yang lebih baik.

2. Friction/Slab Climbing
Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini
dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan
cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan
membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik
dan menumpukan beban maksimal diatas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik.

3. Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang digunakan oleh anggota badan yang seolah-olah
berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan, dikenal
teknik-teknik berikut:
a. Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu
besar. Jari-jari tangan, kaki, atau tangan dapat dimasukkan/diselipkan pada celah
sehingga seolah-olah menyerupai pasak.

12 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
b. Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar (chomney). Badan
masuk diantara celah, dan punggung di salah satu sisi tebing. Sebelah kaki
menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke belakang.
Kedua tangan diletakkan menempel juga. Kedua tangan membantu mendororng
keatas bersamaan dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat
badan.

c. Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies).
Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada
kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu
oleh tangan yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.

d. Lay Back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan
kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung
miring sedemikian rupa untuk menempatkan kedua kaki pada tepi celah yang
berlawanan. Tangan menarik kebelakang dan kaki mendorong kedepan dan
kemudian bergerak naik ke atas silih berganti.

Pembagian Pendakian Berdasarkan Pemakaian Alat


1. Free Climbing
Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalah diri
sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilan yang
diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang benar. Pada free climbing,
peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaanya pendaki
bergerak sambil memasang alat, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut pendaki masih
mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang
pendaki diamankan oleh belayer.

2. Free Soloing
Merupakan bagian dari free climbing, tetapi pendaki benar-benar melakukan dengan
segala resiko yang siap dihadapinya sendiri. Dalam pergerakannya tidak menggunakan
peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pendaki harus
benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau pergerakan pada rute yang
dilalui. Bahkan kadang-kadang harus menghapalkan dahulu segala gerakan, baik itu

13 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya pendaki akan melakukan free soloing
climbing bila sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resiko yang dihadapi
pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar
professional yang akan melakukannya.

3. Artificial
Climbing Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti paku tebing,
bor, stirrup, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering sekali
dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang
gerak yang memadai.

Sistem Pendakian
1. Himalaya Sytle
Sistem pendakian yang biasanya dengan rute yang panjang sehingga untuk mencapai
sasaran (puncak) diperlukan waktu yang lama. Sistem ini berkembang pada pendakian-
pendakian ke Pegunungan Himalaya. Pendakian tipe ini biasanya terdiri atas beberapa
kelompok dan tempat-tempat peristirahatan (base camp, fly camp). Sehingga dengan
berhasilnya satu orang dari seluruh team, berarti pendakian itu sudah berhasil untuk
seluruh team.

2. Alpine Style
Sistem ini banyak dikembangkan di pegunungan Eropa. Pendakian ini mempunyai tujuan
bahwa semua pendaki harus sampai di puncak dan baru pendakian dianggap berhasil.
Sistem pendakian ini umumnya lebih cepat karena para pendaki tidak perlu lagi kembali
ke base camp (bila kemalaman bisa membuat fly camp baru, dan esoknya dilanjutkan
kembali).

14 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Teknik Turun/Rappeling
Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dikategorikan sebagai teknik yang
sepenuhnya bergantung dari peralatan. Prinsip rappeling adalah sebagai berikut:

a. Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.


b. Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai
pendorong gerak turun.
c. Menggunakan salah satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk
mengatur kecepatan.

Peralatan
1. Tali Carmantel
Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh. Dianjurkan
jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang
menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian
dianjurkan sekitar 50 meter. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10-11 mm, tapi
sekarang ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.
Ada dua macam tali pendakian yaitu:
a. Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % dari berat
maksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau.
Tali static digunakan untuk rappelling.
b. Dynamic rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat
maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna
mencolok (merah, jingga, ungu).

2. Carabiner Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai
gate yang berfungsi seperti peniti. Ada 2 jenis carabiner:
a. Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).
b. Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman).

15 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
3. Sling Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi
sling antara lain:
a. sebagai penghubung
b. membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.
c. mengurangi gaya gesek/memperpanjang point
d. mengurangi gerakan yang menambah beban pada chock atau piton yang
terpasang.

4. Descender Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu


menahan gesekan, sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk
rappelling.

5. Ascender Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan
membuka bila dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.

6. Harness/Tali pengaman Tubuh Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat
badan. Ada dua jenis harness.
a. Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.
b. Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.
Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah
langsung dirakit oleh pabrik.

7. Sepatu Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan:


a. Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat.
Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah celah.
b. Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot.
Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tanggatangga kecil.
Gaya tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.

16 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
8. Anchor (Jangkar) Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian
dimasukkan pada anchor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada
dua macam anchor, yaitu :
a. Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing, tonjolan-
tonjolan batuan, dan sebagainya.
b. Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada
tebing oleh pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain.

Macam-macam dan Variasi Teknik Rappeling


1. Body Rappel
Menggunakan peralatan tali saja, yang dibelitkan sedemikian rupa pada badan. Pada
teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali sehingga bagian badan yang terkena
gesekan akan terasa panas.

2. Brakebar Rappel
Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, tali, dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar
adalah descender. Pemakaiannya hampir serupa, dimana gaya gesek diberikan pada
descender atau brakebar, untuk menggerem.

3. Sling Rappel
Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, dan tali. Cara ini paling banyak dilakukan
karena tidak memerlukan peralatan lain, dan dirasakan cukup aman. Jenis simpul yang
digunakan adalah jenis Italian hitch.

17 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
4. Arm Rappel/Hesti
Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan.
Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam. Dalam rapelling, usahakan posisi
badan selalu tegak lurus pada tebing, dan jangan terlalu cepat turun. Usahakan
mengurangi sesedikit mungkin benturan badan pada tebing dan gesekan antara tubuh
dengan tali. Sebelum memulai turun, hendaknya:
a. Periksa dahulu anchornya.
b. Pastikan bahwa tidak ada simpul pada tali yang dipergunakan.
c. Sebelum sampai ke tepi tebing hendaknya tali sudah terpasang dan pastikan
bahwa tali sampai ke bawah (ke tanah).
d. Usahakan melakukan pengamatan sewaktu turun, ke atas dan ke bawah,
sehingga apabila ada batu atau tanah jatuh dapat menghindarkannya, selain itu
juga dapat melihat lintasan yang ada.
e. Pastikan bahwa pakaian tidak akan tersangkut carabiner atau peralatan lainnya.

18 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
D. PELAKSANAAN PENDAKIAN

MANAJEMEN PENDAKIAN
Untuk mengadakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan
penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1H, yang
kepanjangannya adalah: Where, Who, Why, When, How.
Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut:

Where (Dimana)
Untuk melakukan suatu kegiatan alam, harus mengetahui lokasi dimana kegiatan akan
diselenggarakan. Contoh: Gunung Rinjani.

Who (Siapa)
Apakah akan melakukan Kegiatan alam tersebut sendiri atau berkelompok. Contoh: Satu
Kelompok 50 Personil; terdiri dari 20 orang panitia dan 30 orang peserta rekrutmen.

Why (Mengapa)
Ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam-macam.
Contoh: Untuk Melakukan Pelantikan Anggota Baru.

When (Kapan)
Waktu pelaksanaan Kegiatan tersebut kapan dan berapa lama. Contoh: 29-31 Agustus
2015.

Dari pertanyaan-pertanyaan 4W, maka didapat suatu gambaran sebagai berikut: Pada
tanggal 29-31 Agustus 2015 akan diadakan Pelantikan Anggota Baru, yang dilaksanakan
oleh 20 panitia dan diikuti 30 orang peserta rekrutmen yang akan dilantik menjadi
anggota. Tempat yang digunakan untuk upacara tersebut adalah Gunung Rinjani.

19 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
How (Mengapa)
Untuk How/Bagaimana merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari
jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi tempat.
2. Bagaimana cuaca disana.
3. Bagaimana perizinannya.
4. Bagaimana mendapatkan air.
5. Bagaimana pengaturan tugas panitia.
6. Bagaimana acara pelantikan berlangsung.
7. dan masih banyak bagaimana lainnya…

Dari Jawaban pertanyaan-pertanyaan yang timbul itu sehingga dapat disusun Rencana
Kegiatan yang didalamnya mencakup rincian:
1. Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp panitia,
pembagian waktu dan sebagainya.
2. Pengurusan perizinan.
3. Pembagian tugas panitia.
4. Persiapan kebutuhan acara.
5. Kebutuhan peralatan dan perlengkapan.
6. dan lain sebagainya…

Sehingga akan mempermudah mendapatkankan point-point kalkulasi biaya yang


dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Pelaksanaan Pendakian
Melakukan pendakian atau penjelajahan merupakan kesenangan tersendiri,
tetapi akan sia-sia jika tidak terencana dengan baik, tidak sedikit kegagalan yang terjadi
jika persiapan tidak dilakukan dengan baik. Dengan melakukan persiapan melalui
perencanaan yang baik akan dapat tercapai apa yang menjadi tujuan dari perjalanan
tersebut. Terkadang dalam melakukan perencanaan dan persiapan dibutuhkan
kesabaran serta keuletan. Saat mendapatkan masalah, saat dihadapkan konflik antar
anggota, atau masalah lainnya, tetapi justru disinilah ajang melatih diri dan juga melatih
kelompok.

20 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Karena sebaik apapun perencanaan yang dibuat tetapi dalam pelaksanan tidak
ada kekompakan antar anggota maka sia-sialah perencanaan yang sempurna itu.
Yakinlah bahwa kesabaran dan keuletan pasti akan berbuah suatu yang baik.
Perencanaan yang baik akan memperkecil risiko yang akan ditemui di lapangan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan perencanaan antara lain:

A. Rencana Perjalanan.
1. Menuju tempat pendakian.
a. Rencanakan dengan matang jalur transportasi yang akan dilalui,
b. Agendakan jika nanti akan singgah di suatu tempat.
c. Tentukan jenis alat transportasi yang akan digunakan, berkait dengan
anggaran transportasi yang direncanakan.
d. Tentukan perkiraan tarif kendaraan dengan matang sehingga tidak terjadi
pergeseran anggaran.
e. Perhitungkan perkiran waktu tempuh perjalanan dan transit.

2. Selama Pendakian.
a. Buat target pendakian, sekedar senang-senang, santai, mengejar target
mencapai puncak, atau ada agenda lain seperti Diksar dan Diktat dengan
materi tertentu. Atau bahkan penelitian lapangan.
b. Rencanakan jalur pendakian dengan baik dan bila mungkin gunakan
referensi jalur yang ada untuk menghindari tersesat.
c. Rencanakan jalur sesuai kondisi tim agar tidak terkambat dalam
perjalanan.
d. Perhitungkan wakti tempuh realistis dari tiap-tiap pos serta tempat
istirahat sementara dari bawah hingga puncak.
e. Perhatikan titik-titik dimana didapatkan air, shelter, atau yang lain.
f. Laksanakan jadwal dengan tertib, disiplin, konsisten, serta penuh
kebijakan.

21 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
3. Perjalanan Pulang
a. Perhatikan jalur-jalur transportasi serta jadwal keberangkatan.
b. Rencanakan antisipasi penggantian alat transportasi atau perubahan
jadwal perjalanan dengan memperhatikan kondisi keuangan yang ada.
c. Perhatikan dalam meletakkan barang bawaan dalam kendaraan. Gunakan
alat pengaman bila perlu.
d. Perhatukan waktu kedatangan. Terlalu pagi atau terlalu malam akan sulit
mendapatkan kendaraan. Usahakan ketika angkutan transportasi aktif.

22 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
B. Rencana Perbekalan.
Perbekalan juga menetukan berhasil tidaknya tujuan perjalanan. Kadang terjadi,
terhentinya suatu perjalanan karena salah seorang peserta didera dehidrasi, atau terjadi
badai yang menyebabkan jadwal mundur sedang perbekalan tidak memenuhi. Gunung-
gunung di pulau jawa rata-rata dapat ditempuh dalam 2 hari hingga 1 minggu
sedangkan gunung-gunung di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua waktu
tempuh pendakian 1 minggu hingga 1 bulan. Sehingga bisa diperhitungkan kebutuhan
perbekalan utama dan tambahan. Dan juga perlu diperhitungkan nilai kalori dari
makanan tersebut. Perhatikan beberapa hal berikut:
1. Perhitungkan dengan cermat kebutuhan makanan dan minuman secara rinci,
jangan lupakan perbekalan tambahan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak
terduga.
2. Buatlah jadwal menu harian, dengan mempertimbangkan kebutuhan tubuh.
3. Patuhi dan jalankan jadwal tersebut dengan tertib.
4. Lebih baik sisa dari pada kekurangan.

C. Rencana Perlengkapan.
Perlengkapan yang akan dibawa disesuaikan dengan jenis perjalanan. Jika
perjalanan biasa tentu cukup dengan peralatan standar, tidak perlu membawa jaring
serangga lengkap dengan killing bottle dan kertas papillot. Tetapi untuk tujuan khusus
mungkin alat seperti itu diperlukan. Seperti pendakian gunung es, penelitian, dll. Dengan
demikian, perlu ada salah satu anggota tim yang bertanggung-jawab untuk mengurus
perlengkapan tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Data kebutuhan peralatan dengan cermat baik jenis maupun jumlah .
2. Packing dengan cermat sesuai kelompok peralatan (misal peralatan navigasi).
3. Periksa kondisi peralatan sebelum berangkat, digunakan, dan selesai kegiatan.
4. Rawat alat-alat dengan baik dan benar.
Hal-hal diatas untuk menaggulangi kejadian kehilangan alat, sehingga bisa dilacak
keberadaannya.

23 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
E. BAHAYA DIPEGUNUNGAN

BAHAYA DI PEGUNUNGAN
Bahaya di pegunungan dibedakan menjadi:
A. Bahaya Eksternal, disebabkan oleh gunung atau alam.
a. Kejatuhan Batu, hembusan angin yang kuat, hujan angin, menyebabkan batu
batu tersebut berjatuhan. Juga orang dan binatang, dapat menyebabkan batu-
batu berjatuhan.
b. Jurang, tanah yang labil, dll.
c. Petir, Perlindungan yang terbaik dari sambaran petir ialah: mengurungkan untuk
berjalan atau lebih awal pulang. Cuaca buruk jarang datang pada siang hari atau
pada pagi hari. Pada waktu ada petir segera jongkok, duduk di atas tanah atau
duduk diatas ransel atau tali yang sedang digulungkan dan menunggu sampai
petir hilang. Tempat yang dihindari ketika petir Tempat-tempat yang menonjol
sperti: puncak, tugu simbol puncak gunung, batu karang yang menonjol, pohon-
pohonan, sungai-sungai. Batu karang pada umumnya lebih berbahaya daripada
salju. Pada cuaca buruk, segera tinggalkan tempat-tempat tersebut.
d. Kabut, menimbulkan persoalan pada saat mencari tempat yang akan dIdatangi.
Harus membawa peta, kompas, meteran untuk mengukur tekanan udara. Pada
waktu ada kabut tebal, harus percaya pada alat-alat yang dibawa.
e. Udara yang mendadak menjadi buruk, Keadaan udara yang mendadak
menjadi buruk di pegunungan, harus mendapat perhatian yang serius. Pada
perjalanan yang berat, jangan mengambil resiko. Untuk perjalanan semacam itu,
sebaiknya, menunggu cuaca yang baik. Menunggu yang sabar, pada waktu
pulang, keberanian, kewaspadaan dan perasaan bertanggung jawab, merupakan
syarat bagi pendaki gunung. Tanpa pertimbangan, begitu saja melakukan
perjalanan, tidak lain hanya merupakan kebodohan saja.

24 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
B. Bahaya Internal, disebabkan oleh pendaki seperti:
a. Keadaan badan lemah atau sakit.
b. Pengetahuan dan pengalaman yang kurang.
c. Dorongan hati untuk memegang peranan penting dan penyakit ingin dihormati
oleh sesama, untuk menggantikan prestasi orang lain, membuat orang menjadi
buta dengan segalanya.
d. Orang yang menderita tekanan jiwa, tidak boleh mendaki gunung. Perjalanan ke
gunung yang sunyi dapat menimbulkan keajaiban.

Jika akan terjadi bahaya, dengan cepat dan cara yang benar segeralah
menghindarkan diri dari bahaya tersebut, karena akan ada harapan untuk hidup lebih
lama di pegunungan.
Biasakan mengadakan evaluasi dan membuat laporan perjalanan dengan detail,
sehingga perjalanan lebih bernilai dan mungkin di kemudian hari bisa digunakan sebagai
bahan evaluasi atau referensi untuk kegiatan selanjutnya.

SELAMAT BERPETUALANG

25 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
PENGETAHUAN DASAR

A. TEKNIK PACKING

Gambar 1.1 Bagan Cara Packing.

Teknik packing ransel (carrier) saat mendaki gunung maupun kegiatan out bond
lainnya sangat diperlukan sehingga barang-barang dapat dibawa dengan ringkas, efisien
dan rapi. Packing biasa disebut juga dengan pengepakan. Packing merupakan cara atau
teknik menyusun perlengkapan dalam carrier. Dengan packing yang baik ransel akan
mampu memuat peralatan dengan efisien namun tetap terasa nyaman dikenakan saat
perjalanan.

o Teknik packing yang benar membuat ransel muat banyak tapi tidak memberatkan.
o Oleh para penggiat kegiatan alam bebas packing telah dianggap sebagai salah satu
‘seni’ tersendiri.
o Sehingga teknik menyusun barang dalam ransel ini sangat tergantung pada keahlian
dan kebiasaan masing-masing.

26 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Prinsip-prinsip packing carrier yang harus diperhatikan antara lain:
1. Pada saat back-pack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa
beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan perjalanan, misal
pendakian, kedua kaki harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah
mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki
tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban backpack
menekan pinggul belakang.
Ingat: Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan
punggung.

2. Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak.
Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan
memudahkan menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang
membutuhkan keseimbangan seperti meniti jembatan dari sebatang pohon,
berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.

Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :


 Kelompokkan barang sesuai kegunaannya, misal: alat mandi ditaruh dalam
satu kantung plastik.
 Maksimalkan tempat yang ada, Nesting jangan dibiarkan kosong bagian
dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya,
seperti beras dan telur atau kompor.
 Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah,
misalnya: rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.
 Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar carrier, karena barang
diluar carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan
berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam carrier.

Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh pendaki, sebenarnya adalah
suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan, tetapi ini
kembali lagi pada kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak
memaksakan diri, lagi pula pendaki dapat menyiasati pemilihan barang yang akan
dibawa dengan selalu memilih alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan
hanya membawa barang yang benar-benar perlu.
27 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Memilih dan Menempatkan Barang
Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas
selalu mencari alat yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk
meringankan berat beban yang harus dibawa, contoh: Alumunium foil, bisa untuk
pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang
penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier.
1. Matras: Sebisa mungkin matras disimpan didalam carrier. Banyak rekan pendaki
yang lebih senang mengikatkan matras diluar, memang kelihatannya bagus tetapi
jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan
matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagi pula pada saat
akan digunakan matrasnya sudah kotor.

2. Kantung Plastik: Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir, karena akan
berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus dibawa turun, baju
basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir
barang barang didalam carrier (dapat dikelompokkan masing-masing, pakaian,
makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu ingin
memilih pakaian, makanan dsb.

3. Menyimpan Pakaian: Jika meragukan carrier yang digunakan kedap air atau tidak,
selalu bungkus pakaian didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian
tidak basah dan lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung
tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih.

4. Menyimpan Makanan: Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan


makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan
kedalam, karena monyet-monyet didekat puncak atau pos terakhir suka
membongkar isi tenda untuk mencari makanan.

5. Menyimpan Korek Api Batangan: Simpan korek api batangan anda didalam bekas
tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.

28 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
6. Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier: Selalu simpan barang yang paling
berat diposisi atas, gunanya agar pada saat carrier digunakan, beban terberat
berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki
melangkah.

Gambar 1.2 Cara menaruh barang diransel.

29 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
B. TEKNIK SURVIVAL

DEFINISI SURVIVAL
Pertahanan hidup atau dalam bahasa Inggris disebut survival merupakan
kemampuan untuk bertahan hidup dalam suatu kondisi atau keadaan. Pertahanan hidup
juga bisa diartikan sebagai teknik dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap
keselamatan diri. Di kalangan penggiat kegiatan alam bebas pertahanan hidup dimaknai
sebagai kemampuan dan teknik bertahan terhadap kondisi yang membahayakan
kelangsungan hidup yang terjadi di alam terbuka dengan menggunakan perlengkapan
seadanya. Seseorang yang melakukan Survival disebut Survivor. Dan yang perlu
ditekankan jika tersesat yaitu istilah "STOP" yang artinya :
S : Stop & Seating/berhenti dan duduklah
T : Thingking/berpikirlah
O : Observe/amati keadaan sekitar
P : Planning/buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan

Sikap mental dalam survival yang harus dimiliki oleh seorang survivor adalah:
 Semangat untuk tetap hidup.
 Percaya diri.
 Akal sehat.
 Disiplin dan rencana matang.
 Kemampuan belajar dari pengalaman.

Sedangkan Pengetahuan dasar untuk bertahan hidup di alam bebas yaitu:


 Pengetahuan Orientasi Medan.
 Cara Membuat Bivak.
 Cara Mendapatkan Makanan.
 Cara Memperoleh Air.
 Cara Membuat Api.
 Cara Mengatasi Gangguan Binatang.
 Pengetahuan Pertolongan Pertama.

30 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
PERALATAN
Peralatan pada Kotak Survival meliputi:
 Tali kecil.
 Cermin suryakanta, cermin kecil.
 Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air.
 Tablet garam, norit.
 Obat-obatan pribadi.
 Jarum + Benang + Peniti.
 Kompas kecil dengan thermometer.
 Peluit, Pisau jungle, dll.

Langkah-langkah yg harus ditempuh tersesat dengan kelompok:


1. Mengkoordinasi anggota.
2. Melakukan pertolongan pertama.
3. Melihat kemampuan anggota.
4. Mengadakan orientasi medan.
5. Mengadakan penjatahan makanan.
6. Membuat rencana dan pembagian tugas.
7. Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia luar.
8. Membuat jejak dan perhatian.
9. Berusaha mendapatkan pertolongan.

Membaca Jejak
Ada beberapa jenis jejak yang dapat diidentifikasi, jejak buatan dan jejak alami,
yaitu jejak yang sengaja dibuat manusia dan tanda alami sebagai keadaan lingkungan.
Untuk membaca jejak binatang dapat diketahui dari telapak, yang akan menyatakan
tentang jenis binatang, arah gerak binatang, ukuran binatang, kecepatan gerak binatang.
Sedangkan jejak alami yang lain adalah kotoran yang tersisa, pohon atau ranting yang
patah, lumpur atau tanah yang tercecer di atas rumput.

31 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Pesan Pecinta Alam

☺ Rencanakan perjalanan dengan peta dan pahami Orientasi Medan ☺


☺ Perhatikan Aklimitasi Tubuh (penyesuaian tubuh dengan suhu sekitar) ☺
☺ Berjalan dengan langkah kecil, tumit menyentuh tanah terlebih dulu ☺
☺ Hendaknya istirahat tidak berlama-lama, akibatnya kaku karena dingin ☺
☺ Duduk istrahat dengan kaki selonjor ☺
☺ Jangan beristirahat di tempat berangin ☺
☺ Bila harus membuka jalan,
gunakan kemampuan Navigasi dengan baik dan benar ☺
☺ Ikuti lintasan yang jelas, terbuka, dll (ada sampah, jejak kaki, ranting patah,
artinya ada pendaki yg pernah lewat) ☺
☺ Jangan berpisah pada rombongan ☺
☺ Jangan ikuti aliran sungai (tempat berkumpul binatang untuk minum) ☺
☺ Jangan mendaki di malam hari tanpa peralatan yang memadai ☺
☺ Perlengkapan Safety Procedure ada Survival kit dan First aid kit ☺
☺ Jangan dirikan Tenda di tempat berangin, pinggir sungai dan lembah ☺
☺ Tinggalkan pesan kemana akan pergi dan kapan kembali ☺
☺ Berjalan Zigzag pada medan yang agak curam ☺
☺ Bawa Logistik lebih dari pada kekurangan ☺
☺ Hindari langkah berat dan menghentak saat turun ☺
☺ Berlari akan menyenangkan saat turun, tapi berbahaya ☺
☺ Jangan mendaki tanpa seorang yang berpengalaman ☺

32 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
C. BIVAK

BIVAK
Bivak atau Shelter digunakan para petualang di alam liar untuk melindungi diri dari
panas, dingin, hujan, angin, dsb. Perlindungan ini bisa dibuat dari bahan-bahan yang
sengaja dibawa atau dari bahan-bahan yang tersedia di alam, seperti kayu, dedaunan
dan lain - lain.

33 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Perlu diperhatikan dalam pembangunan Bivak atau Shelter adalah:
1. Jangan membangun Bivak di tempat yang riskan tergenang air (banjir), seperti
di tepi sungai. Walaupun tempat itu terlihat bersih dan kering, akan sangat
berbahaya apabila datang hujan.
2. Usahakan dalam pembuatan Bivak tidak dibawah pohon yang berdahan rapuh
atau di bawah pohon kelapa. Karena dapat membahayakan jika dahan rapuh atau
buah kelapa itu jatuh menimpa.
3. Tidak di tempat yang dicurigai sebagai sarang binatang buas atau sarang
nyamuk/serangga. Karena dapat mengganggu kenyamanan beristirahat.
4. Bahan pembuat Bivak harus kuat dan pengerjaannya dengan baik, karena akan
mempengaruhi dalam kenyamanan.
5. Contoh barang bawaan yang dapat dijadikan Bivak adalah ponco ataupun
plastik berukuran kurang lebih 2 × 2 meter. Karena shelter yang dibangun dari
ponco atau plastik kurang sempurna, maka dari itu selain memperhatkan empat
hal diatas, perlu memperhatikan arah angin bertiup. Sehingga arah angin bertiup
dapat dihalau oleh shelter yang dibangun.

Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai Shelter yaitu Gua, lekukan
tebing/batu yang cukup dalam, lubang- lubang dalam tanah, dan sebaginya.
Apabila memilih Gua harap diyakini bahwa :
1. Gua tersebut bukan merupakan sarang binatang.
2. Gua tersebut tidak mengeluarkan gas beracun. Cara klasik mengetahuinya yaitu
dengan menggunakan obor. Apabila obor dapat terus menyala di dalam gua,
berarti gua tersebut aman dari gas beracun.
3. Gua tersebut terbebas dari bahaya longsor.

34 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
D. CARA MENCARI AIR

Air yang langsung dapat diminum:


 Tampungan air hujan.
 Air dari dalam tanaman.

Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu:


∞ Air yang tergenang.
∞ Air dari sungai.
∞ Air dari menggali tanah atau pasir.

Beberapa cara untuk mendapatkan air:


 Dari tanaman atau pohon seperti pisang, rotan, bambu muda, kantung semar,
enau, nipah, umbi-umbian, akar-akaran, pakis, kaktus, kelapa.
 Mengumpulkan embun pagi dengan menggunakan saputangan bersih.
Caranya, resapkan pada tumbuhan yang berembun lalu peras ke dalam tempat
minum.
 Tanah kapur lebih banyak mata airnya, sebab kapur mudah dilarutkan sehingga
terbentuk saluran air.
 Daerah berbatu granit, carilah bukit berumput hijau, kemudian galilah.
 Tanah gembur, di tanah gembur air mudah di dapat. Carilah daerah lembah,
karena permukaan air dekat dengan permukaan tanah.
 Kondensasi Tanah/Pohon atau Penyulingan Air. Kondensasi yaitu dengan
adanya perbedaan suhu antara tanah dengan pohon, kita dapat memperoleh air
murni yang merupakan hasil proses kondensasi, diperlukan alat yang sangat
sederhana, yaitu plastic dan tali pengikat.

35 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Penyulingan air dari pohon:
1. Carilah pohon yang sehat dan bersih, lalu carilah dahan ranting yang mudah
dicapai dan masukkan plastik yang tidak bocor kemudian ikat dengan tali atau
benda apa saja. Keadaan tersebut akan menyebabkan terjadinya proses
penguapan air.
2. Carilah pohon yang bersih dan tumbuhnya di atas tanah yang tidak berbau.
Galilah tanah sehingga membentuk cekungan, tapi jangan terlalu dalam dari
tempat pohon tumbuh. Masukkan plastik dan atur sedemikian rupa agar air
terapung dengan baik. Lalu ikat ujungnya (hingga menutupi seluruh tanaman)
dan gantung pada batang kayu yang disangga dengan baik. Cara ini akan
menyebabkan terjadinya penguapan yang menghasilkan air.

36 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Mencari air di Pantai atau tempat terbuka:
a. Buatlah sebuah lubang di pasir atau tanah dengan kedalaman satu meter, dan
pastikan lebarnya pas untuk sebuah mangkuk masuk kedalam lubang tersebut.
b. setelah itu siapkan batu, plastik, dan mangkuk.
c. letakkan mangkok ke dalam lubang pasir yang telah dibuat
d. kemudian, tutupi lubang pasir tersebut dengan plastik yang telah disiapkan
e. jika matahari sedang bersinar terang, maka uap dari lubang pasir yang ditutupi
plastik akan naik dan berubah jadi air yang akan menetes ke dal am mangkok, tunggu
hingga air memenuhi mangkok
f. air di mangkok siap dikonsumsi.

37 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Cara mendapatkan air dihutan:
Cara 1 :
a. carilah sebuah pohon pisang
b. setelah itu siapkan sebuah alat pemotong
c. kemudian potonglah di tengah-tengah pohon pisang tersebut
d. setelah itu, tunggulah sekitar 2 jam, air akan keluar dari pohon pisang yang telah
dipotong tengahnya
e. air 1 sampai 2 yang keluar rasanya masih normal
f. air 3 sampai seterusnya rasanya telah berubah rasa

Cara 2 :
a. carilah sebuah batang bambu
b. setelah itu siapkan sebuah alat untuk mengetuk bamboo
c. kemudian ketuklah pohon bambu tersebut
d. bila ada yang berbeda suara, lubangilah batang bambu yang berbeda suaranya
e. air akan keluar dari batang bambu tersebut

38 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
E. MEMBUAT PERAPIAN

Perlu diperhatikan oleh survivor, jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api
seperlunya saja, hal ini lebih baik, untuk menghindari kebakaran lingkungan sekitar.

Perapian yang baik haruslah diatur sedemikian rupa sehingga kayu dapat terbakar secara
merata. Untuk mendapatkan perapian yang baik, diperlukan kayu/ranting yang kering
dan mudah terbakar. Perapian yang baik biasanya dimulai dari ranting-ranting kecil
untuk dijadikan bahan penyala, selanjutnya dengan kayu-kayu yang lebih besar.

Cara membuat api dalam keadaan darurat:


Dengan lensa/kaca pembesar, Fokuskan sinar pada satu titik diletakkannya bahan yang
mudah terbakar.
Gesekan kayu dengan kayu, dengan menggesekkan dua buah batang kayu sehingga
panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar.
Kayu dan gurdi, Buatlah busur yang kuat dengan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu
keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah
tebakar. Bahan penyala yang baik adalah sabut yang terdapat pada dasar kelapa, atau
daun aren.

PERHATIKAN GAMBAR UNTUK LEBIH JELAS.

peletakan dan model kayu bakar

39 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Darurat:

40 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
F. MENGENAL FLORA DAN FAUNA

MEMILIH TUMBUHAN UNTUK DIMAKAN


1. Pilih tumbuhan yang dimakan monyet/kera
Boleh mengonsumsi makanan yang dimakan monyet atau kera. Karena primata
ini memiliki pencernaan yang mirip dengan manusia. Jadi tumbuhan pilihan
mereka pasti aman untuk dikonsumsi..
2. Jangan memilih tumbuhan berbulu
Banyak tumbuhan yang bisa Anda makan untuk bertahan hidup di hutan. Tapi
ada yang perlu Anda perhatikan, hindari mengonsumsi tumbuhan yang berbulu
di seluruh tubuhnya.
Tumbuhan berbulu, tidak bisa dicerna oleh organ pencernaan manusia. Kalau
tetap nekat memakannya, bisa mengalami iritasi organ pencernaan.
3. Kalau terasa gatal di tangan, hindarilah!
Coba saja gesekkan daun berbulu atau daun lain di telapak tangan. Jika
menimbulkan iritasi jangan dikonsumsi karena bisa berbahaya untuk pencernaan.
Rasa gatal itu akibat zat - zat yang terkandung di dalam daun itu. Artinya zat -
zat tersebut tidak ramah untuk tubuh manusia atau beracun.

Ciri-ciri Tumbuhan yang dapat dimakan:


- Daunnya tidak berbulu
- Tidak bergetah
- Tidak berlendir
- Warnanya hijau
- Dimakan oleh hewan herbifora

Ciri-ciri Tumbuhan yang TIDAK dapat Dimakan:


- Berduri
- Bergetah
- Beracun
- Jika diusap ke tangan terasa gatal

41 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Ciri-ciri Jamur yang dapat dimakan:
 Tubuhnya tidak berwarna mencolok
 Batangnya tidak bergelombang
 Jika disayat dengan pisau, tidak meninggalkan bekas warna biru
 Jika dicampur nasi, tidak berwarna kuning

Jamur yang dapat dimakan seluruhnya:


 Jamur merang, jamur kayu, Jamur tiram, jamur kancing, jamur kuping.

Ciri-ciri Jamur beracun:


 Mempunyai warna mencolok
 Baunya tidak sedap
 Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning
 Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan
 Bila diraba mudah hancur
 Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya
 Tumbuh dari kotoran hewan
 Mengeluarkan getah putih

42 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Contoh beberapa tumbuhan yang dapat dimakan dan mudah dijumpai di alam
bebas:

 DAUN SEMANGGI

Jika pernah melihat ada rumput kecil di bawah tanah, dan memiliki daun yang berbentuk
seperti hati. Inilah daun semanggi atau biasa disebut clover, tidak sulit untuk
menemukan rumput clover. Rumput ini termasuk kosmopolit atau mudah ditemukan di
dataran, termasuk hutan Indonesia. Saat tersesat, tanaman inilah yang paling mudah
dicari untuk bahan makanan. Ambil saja daunnya dan bersihkan kemudian konsumsi.

 NANAS
Buah nanas tidak hanya bisa ditemukan di pekarangan rumah atau ladang saja.
Tumbuhan yang masuk dalam suku bromeliaceae atau nanas-nanasan ini bisa ditemukan
di beberapa hutan yang ada di Indonesia. Jika melihat ada buah nanas yang sudah cukup
matang, maka boleh memakan bagian buahnya. Keluarkan pisau lipat dan potong kecil-
kecil daging buah. Jika membawa garam, nanas sebaiknya direndam dulu dalam air
garam untuk meminimalisir getah.

43 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
 BEGONIA

Biasanya tanaman ini dipajang di depan rumah sebagai hiasan. Ternyata begonia juga
banyak ditemukan di dalam hutan. Ciri-cirinya adalah tumbuhan ini berbulu di bagian
tangkai hingga daun. Meski tanaman berbulu biasanya tidak layak dikonsumsi, begonia
bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan jika sedang tersesat di hutan. Potonglah
daun dan tangkainya kecil-kecil sebelum dimakan. Jika membawa alat masak, sebaiknya
direbus dulu sebelum dikonsumsi.

 PISANG
Buah yang berasal dari famili musaceae ini biasanya bisa ditemukan di dalam hutan yang
banyak dihuni monyet atau kera. Cukup ambil buahnya yang sudah matang. Bagaimana
kalau pohon pisang yang ditemukan, belum berbuah? Jangan khawatir, belahlah batang
pisang tersebut. Ambil batang muda dibagian paling tengah batang pisang. Batang
muda itu bisa dimakan, walaupun rasanya tawar.

44 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
 POHPOHAN

Pohpohan adalah salah satu tumbuhan yang sudah biasa dijadikan lalapan di rumah-
rumah. Tumbuhan berdaun lebar ini ternyata banyak ditemukan di hutan Indonesia.
Biasanya, bagian pohpohan yang sering dikonsumsi adalah bagian daun mudanya.

45 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
 PAKU SAYUR

Salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan di dalam hutan, terutama hutan Indonesia
adalah jenis paku-pakuan. Tanaman paku memiliki ciri daun bergerigi, dan biasanya ada
banyak kantung spora seperti bintik-bintik hitam di bagian bawah daun. Jika bertemu
tanaman seperti ciri-ciri di atas, berarti dihadapkan dengan tanaman paku. Tanaman ini
juga biasa dijadikan lalapan, sehingga disebut paku sayur. Sama seperti pohpohan,
bagian tumbuhan paku yang bisa dinikmati adalah daun mudanya.

 ROTAN
Selain paku tumbuhan lain yang banyak ditemukan di hutan Indonesia adalah rotan.
Biasanya rotan hutan menjadi musuh utama para pendaki karena duri yang menyelimuti
seluruh batangnya. Namun ternyata tumbuhan ini bisa menjadi sahabat ketika tersesat.
Buah dari rotan yang masih muda aman untuk dimakan langsung. Sedangkan batangnya
menyimpan air yang bisa untuk diminum.

46 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
 BUAH LO
Mungkin belum pernah mendengar namanya. Ini adalah buah yang dihasilkan dari
pohon elow. Beberapa daerah menyebutnya dengan nama buah lo atau elow. Sama
seperti tanaman lain, buah lo banyak ditemukan di dalam hutan.
Buah ini berbentuk bulat dengan kulit hijau sedikit mengkilap. Jika dibelah, bisa terlihat
bagian dalam buah yang diisi banyak biji-biji kecil, seperti bagian dalam buah nangka.
Buah lo bisa dimakan mentah atau direbus. Saat mentah buah ini terasa agak asam,
namun setelah direbus buah ini terasa manis.

 BAMBU
Saat tersesat dan kehabisan bahan makanan, tengoklah ke sekitar, kali saja ada pohon
bambu. Jika ada ambil bagian pangkal bambu muda yang biasa disebut rebung. Potong-
potong hingga kecil dan konsumsi bagian yang tidak terasa pahit.

 SELAGINELLA

Satu lagi tumbuhan yang banyak ditemukan di hutan, yaitu selaginella. Ini adalah
tanaman berdaun kecil seperti jenis paku-pakuan lainnya. Umumnya, daun selaginella
berwarna hijau, tapi jangan kuatir jika melihat daun ini berwarna biru atau kemerahan.
Cara mengonsumsinya harus sedikit berhati-hati, cuci daunnya dan potong kecil-ke

47 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
MEMBUAT PERANGKAP
Memakan atau dimakan, seganas itu manusia? Bukan! Karena manusia akan makan untuk
memenuhi tuntutan bertahan hidup, seperti semua makhluk lain.
Jika ingin bertahan hidup perhatikan gambar membuat perangkap berikut, karena ini
akan memudahkan mendapat makanan untuk disantap.

48 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Binatang yang bisa dimakan:
 Belalang, Jangkrik
 Tempayak putih (gendon)
 Cacing
 Jenis burung
 Laron, Lebah , larva, madu
 Siput
 Kadal: bagian belakang dan ekor
 Katak hijau
 Ular: 1/3 bagian tubuh tengahnya
 Kebanyakan mamalia
 Binatang besar lainnya….

49 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
G. PERTOLONGAN PERTAMA

Patah tulang
1. Hentikan perdarahan apabila terjadi patah tulang terbuka. Gunting pakaian
korban sebelum melakukan pertolongan.
2. Bila korban tak sadarkan diri, anggap mengalami luka di bagian kepala, leher atau
tulang belakang.
3. Jangan mencoba untuk mengembalikan tulang yang terlihat keluar.
4. Jangan membersihkan luka atau menyisipkan sesuatu pada tulang yang luka.
5. Tutup luka secara perlahan dengan kain steril atau perban untuk menghentikan
perdarahan.
6. Tutup luka secara keseluruhan, termasuk tulang yang menonjol keluar.
7. Hubungi paramedis atau ambulans.

Pendarahan
Ada 2 tipe perdarahan, yaitu perdarahan yang berasal dari pembuluh darah vena dan
pembuluh darah arteri. Perdarahan pada pembuluh darah vena berwarna agak gelap
dan mengalir secara spontan. Sedangkan dari pembuluh darah arteri warnanya lebih
terang dan alirannya memancar dari tubuh yang terluka.
1. Usahakan luka pada posisi di atas organ jantung.
2. Letakkan kain tebal yang bersih atau steril seperti saputangan, potongan handuk
atau lembaran kain langsung pada area yang terluka. Kemudian tekan perlahan
dengan telapak tangan. Apabila tidak ada kain, gunakan tangan atau jari untuk
menekan.
3. Teruskan menekan dengan tekanan konstan.
4. Jangan melepaskan kain yang digunakan untuk menekan luka.
5. Apabila darah telah memenuhi kain, jangan dilepas, tetapi tambahkan dengan
kain baru dan letakkan di atasnya. Kemudian lanjutkan lagi menahannya dengan
tangan.
6. Apabila perdarahan terhenti atau berkurang, gunakan perban untuk diikatkan
pada kain penutup luka.
7. Tali perban jangan terlalu kencang untuk menghindari aliran darah arteri terhenti.

50 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Memar
1. Sesegera mungkin kompreslah dengan menggunakan air dingin atau es pada
daerah yang memar untuk mengurangi perdarahan dan pembengkakkan.
2. Bila memar terjadi pada lengan atau kaki, angkat bagian tersebut dengan posisi
lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi aliran darah lokal.
3. Setelah 24 jam, gunakan kompres hangat untuk membantu penyembuhan luka.
Kompresan hangat akan membuka pembulu darah sehingga memperlancar
sirkulasi darah pada area tersebut.

Hipoksia
Berada di ketinggian dengan oksigen yang sedikit bisa memicu kondisi hipoksia, yakni
ketika tubuh kekurangan pasokan oksigen. Para pendaki gunung harus mengenali
tanda-tandanya, serta cara mengatasi jika mengalami kondisi tersebut, yaitu
pandangan kabur, pernapasan makin cepat atau tersengal-sengal, serta tubuh
menjadi lemas.

1. Memberikan oksigen. Tabung oksigen berukuran kecil yang bisa dibawa ke


mana-mana sangat mudah diperoleh di apotek dengan harga terjangkau,
sehingga tidak ada salahnya para pendaki melengkapi diri dengan alat ini.
2. Longgarkan pakaian agar pernapasan menjadi lebih lancar. Kerah baju dibuka
dan ikat pinggang dilepas supaya saluran napas tidak sesak.
3. Bawa ke lokasi yang lebih rendah sesegera mungkin supaya mendapat oksigen
lebih banyak dari udara pernapasan. Makin lama berada dalam kondisi hipoksia,
makin besar risiko kerusakan organ karena tidak mendapat suplai oksigen.

51 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Keseleo
1. Pakai kantung berisi air dingin atau es dan tempatkan pada daerah yang terluka.
2. Gunakan splint untuk menyokong daerah luka dengan memakai selimut, kain
tebal atau bantal. Lepaskan jika terjadi pembengkakan.
3. Usahakan daerah luka pada posisi lebih tinggi dari organ jantung.
4. Jangan biarkan korban berjalan sendiri.
5. Jangan merendam luka dengan air hangat pada awal terjadi luka. Boleh
merendamnya setelah 24 jam kemudian.
Keracunan
1. Kurangi kadar racun yang masih ada di dalam lambung dengan memberi korban
minum air putih atau susu sesegera mungkin. Jangan beri jus buah atau asam
cuka untuk menetralkan racun.
2. Usahakan untuk mengeluarkan racun dengan merangsang korban untuk muntah.
3. Jangan berusaha memuntahkan korban bila menelan bahan-bahan seperti
pembersih toilet, cairan antikarat, cairan pemutih, sabun cuci, bensin, minyak
tanah, tiner serta cairan pemantik api.

HIPOTERMIA
Hipotermia adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu
kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai
suhu bagian dalam tubuh di bawah 35 °C. Tubuh manusia mampu mengatur suhu pada
zona termonetral, yaitu antara 36,5-37,5 °C. Di luar suhu tersebut, respon tubuh untuk
mengatur suhu akan aktif menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan panas dalam
tubuh.
Gejala hipotermia ringan adalah penderita berbicara melantur, kulit menjadi sedikit
berwarna abu-abu, detak jantung melemah, tekanan darah menurun, dan terjadi
kontraksi otot sebagai usaha tubuh untuk menghasilkan panas. Pada penderita
hipotermia moderat, detak jantung dan respirasi melemah hingga mencapai hanya 3-4
kali bernapas dalam satu menit. Pada penderita hipotermia parah, pasien tidak sadar
diri, badan menjadi sangat kaku, pupil mengalami dilatasi, terjadi hipotensi akut,
dan pernapasan sangat lambat hingga tidak kentara (kelihatan). Hipotermia terjadi bila
terjadi penurunan suhu inti tubuh dibawah 35°C (95°F). Pada suhu ini, mekanisme
kompensasi fisiologis tubuh gagal untuk menjaga panas tubuh.

52 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Hipotermi juga dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber paparan yaitu:
1. Hipotermi Primer: terjadi akibat paparan langsung individu yang sehat terhadap
dingin.
2. Hipotermi sekunder: mortalitas banyak terjadi pada fase ini dimana terjadi
kelainan secara sistemik.

Hipotermia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan temperatur tubuh, yaitu:


1. Ringan= 34-36°C
Kebanyakan orang bila berada pada suhu ini akan menggigil secara hebat,
terutama di seluruh ekstremitas. Bila suhu tubuh lebih turun lagi, pasien mungkin
akan mengalami amnesia dan disartria. Peningkatan kecepatan nafas juga
mungkin terjadi.
2. Sedang= 30–34°C
Terjadi penurunan konsumsi oksigen oleh sistem saraf secara besar yang
mengakibatkan terjadinya hiporefleks, hipoventilasi, dan penurunan aliran darah
ke ginjal. Bila suhu tubuh semakin menurun, kesadaran pasien bisa menjadi
stupor, tubuh kehilangan kemampuannya untuk menjaga suhu tubuh, dan
adanya resiko timbul aritmia.
3. Berat= <30°C
Pasien rentan mengalami fibrilasi ventrikular, dan penurunan kontraksi
miokardium, pasien juga rentan untuk menjadi koma, denyut sulit ditemukan,
tidak ada reflek.

Cara Mengatasi
1. Pindahkan ke tempat kering yang teduh.
2. Ganti pakaian basah dengan pakaian kering yang hangat, selimuti untuk
mencegah kedinginan

53 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
MENGATASI GANGGUAN BINATANG
a. Lebah
Apabila disengat lebah:
 Oleskan air bawang merah pada luka berkali-kali
 Tempelkan tanah basah/liat di atas luka
 Jangan dipijit-pijit
 Tempelkan pecahan genting panas di atas luka

b. Lintah
Apabila digigit lintah:
 Teteskan air tembakau pada lintahnya
 Taburkan garam di atas lintahnya
 Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya
 Taburkan abu rokok di atas lintahnya

c. Semut
 Gosokkan obat gosok pada luka gigitan
 Letakkan cabe merah pada jalan semut
 Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut

d. Kalajengking dan lipan


 Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar
 Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit
 Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka
 Bobokkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka

54 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
Gigitan Ular
 Bekas gigitan ular terdapat dua titik, berarti sangat berbisa.
 Bekas gigitan ular membentuk huruf U dengan jumlah luka banyak berarti
tidak berbisa.

Jika tidak bisa dikenali jenis ular yang menggigit harus dianggap sebagai ular yang
berbisa.

Pertolongan pertama untuk korban gigitan ular adalah:


1. Jangan panik. Tidak semua gigitan ular mengandung bisa yang berbahaya,
bahkan meski yang menggigit adalah spesies ular berbisa.
2. Kurangi gerak. Setiap gerakan yang tidak perlu hanya akan menyebabkan bisa
ular menyebar lebih luas melalui peredaran darah. Usahakan untuk tetap diam,
sebisa mungkin gunakan alat transportasi dan jangan berjalan kaki untuk
mencapai lokasi yang menyediakan pertolongan pertama.
3. Cuci bekas gigitan. Jika ada, gunakan sabun dan air matang untuk
membersihkan luka sesegera mungkin.
4. Cuci mata jika kena semburan bisa. Beberapa spesies ular kobra yang hidup di
Asia dan Afrika mampu menyemburkan bisa mematikan tanpa harus menggigit
korban. Jika semburan ini mengenai mata atau lapisan mukosa tipis lainnya,
segera cuci dengan air bersih.
5. Ikat kuat-kuat daerah di sekitar luka. Ikatan yang kuat di sekitar bekas gigitan
dapat menghambat penyebaran racun sampai mendapatkan pertolongan lebih
lanjut. Namun untuk gigitan Ular Derik yang racun atau bisanya sangat kuat,
risiko kerusakan jaringan pada lokasi gigitan justru akan meningkat jika diikat.
6. Bawa ke dokter secepat mungkin. Serum anti bisa ular bisa didapatkan di
Puskesmas atau tempat praktik dokter. Jika dalam perjalanan korban muntah-
muntah, tempatkan dalam posisi duduk atau berbaring untuk memastikan
muntahannya tidak menyumbat saluran napas.
7. Jangan suntikkan antiracun sendiri. Injeksi antiracun memang dibutuhkan
dengan segera, namun sebagiknya tetap dilakukan oleh dokter atau tenaga
kesehatan yang terampil. Adanya pengotor pada alat suntik terkadang malah
dapat membahayakan pasien.

55 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
PREPARE THE BEST FOR THE WORST

Bercengkrama dengan penduduk


setempat, menghargainya, akan
menambah ilmu pengetahuan yang
tidak didapat dari Edukasi Sekolah
atau Perguruan tinggi.

PENYUSUN:

TIM HIMALAYA
DIAMBIL DARI BERBAGAI SUMBER

56 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
BONUS

Peta 1 Jalur Pendakian Gunung Lawu

57 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |
BONUS

Peta 2 Jalur Pendakian Gunung Merbabu

58 | w w w . h i m a l a y a - a d v e n t u r e . o r g |