Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dahulu ada sebuah penyakit yang menyebabkan angka kematian yang tinggi.
Penyakit ini dijulukan The Black Death. Penyakit ini menyebabkan wabah yang besar di
kalangan masyarakat. Wabah plague diyakini telah bermula di Mesir dan Etiopia pada
tahun 540 bergerak ke Sungai Nil dan menumpang kapal-kapal menuju ke Konstantinopel
sepanjang rute perdagangan. Wabah ini diperkirakan telah membunuh 300.000 orang di
Konstantinopel dalam waktu setahun pada tahun 544 (Sucipto, 2011).

Kemudian pada tahun 1347 penyakit ini kembali melanda populasi Eropa
(Konstantinopel Turki, kepulauan Italia, Prancis, Yunani, Spanyol, Yugoslavia, Albania,
Austria, Jerman, Inggris, Irlandia, Norwegia, Swedia, Polandia, Bosnia-Herzegovina dan
Kroasia) selama kira-kira 300 tahun, dari tahun 1348 sampai akhir abad ke-17. Selama
kurun waktu itu, wabah ini membunuh 75 juta orang, kira-kira 1/3 populasi pada waktu
itu. Seluruh komunitas tersapu bersih, di tahun 1386 di kota Smolensk, Rusia, hanya lima
orang yang tidak terserang penyakit ini dan di London, peluang bertahan hidup hanya satu
dalam sepuluh (Svensons, 2015).

Wabah pes masih dapat ditemui di beberapa belahan dunia hingga kini. Tetapi
bakteri wabah pes belum terbasmi tuntas. Di Bolivia dan Brazil, misalnya, terdapat lebih
dari 100 laporan kasus pes per sejuta penduduk. Wabah pes dikenal dengan black
death karena menyebabkan tiga jenis wabah, yaitu bubonik, pneumonik dan septikemik.
Ketiganya menyerang system limfe tubuh, menyebabkan pembesaran kelenjar, panas
tinggi, sakit kepala, muntah dan nyeri pada persendian (Svensons, 2015)..

Dalam semua kasus, kematian datang dengan cepat dan tingkat kematian
bervariasi dari 30-75% bagi bubonik, 90-95% bagi pneumonik dan 100% bagi
septikemik. Akan tetapi, dengan pengobatan yang tepat, penyakit pes dapat disembuhkan,
karena berhasil diobati dengan sukses menggunakan antibiotika.Penyakit pes pertama kali
masuk Indonesia pada tahun 1910 melalui Tanjung Perak, Surabaya, kemudian tahun
1916 melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, tahun 1923 melalui pelabuhan Cirebon
dan pada tahun 1927 melalui pelabuhan Tegal. Korban manusia meninggal karena pes

1
dari 1910-1960 tercatat 245.375 orang, kematian tertinggi terjadi pada tahun 1934, yaitu
23.275 orang (Rahmawati, 2012).

Penyakit pes merupakan salah satu penyakit menular yang termasuk dalam UU
nomor 4 tahun 1984 tentang penyakit menular/ wabah, Peraturan Menteri Kesehatan RI
nomor 560/Menkes/Per/VIII/1989 tentang jenis penyakit tertentu yang dapat
menimbulkan wabah, tata cara penyampaian laporannya dan tata cara seperlunya tentang
pedoman penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa
serta International Classification of Disease ( ICD ).Di Indonesia telah diupayakan
penanggulangan penyakit per melalui beberapa kegiatan yang mendukung, seperti
surveilans trapping, surveilans human, pengamnilan dan pengiriman spesies, pengadaan
obat-obatan dan Disponsible syringe, dan pengadaan metal life trap (Rahmawati, 2012).

Penyakit pes merupakan penyakit yang menular dan dapat mengakibatkan


kematian. Tikus merupakan reservoir dan pinjal merupakan vector penularnya, sehingga
penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal atau kontak langsung dengan
tikus yang terinfeksi bakteri Yersinia pestis (Jawetz dkk, 2005:409).

Pemerintah Indonesia maupun dunia sudah menetapkan penyakit pes menjadi


salah satu penyakit karatina dan tercatat dalam Internasional Health Regulation.
Penyakit ini juga termasuk dalam Public Health Emergency of International Concern
(PHEIC) atau Kedaruratan Kesehatan yang Meresahkan Dunia. Public Health
Emergency of International Concern (PHEIC) adalah KLB yang dapat merupakan
ancaman kesehatan bagi negara lain dan kemungkinan membutuhkan koordinasi
internasional dalam penanggulangannya (Sub Direktorat Zoonosis, 2008).
Indikator Kejadian Luar Biasa (KLB) pes yaitu apabila terjadi peningkatan empat
kali lipat pemerikasaan spesimen secara serokonversi, Flea Indek (FI) umum lebih besar
atau sama dengan 2 dan Flea Indek (FI) khusus lebih besar atau sama dengan 1,
ditemukan bakteri Yersenia pestis dari pinjal, tikus, tanah, sarang tikus, bahan organik
lain, dan manusia hidup maupun mati. Untuk mengendalikan KLB pes ini, maka perlu
dilakukan survailens pada daerah epizootic pes (Sub Direktorat Zoonosis, 2008).
Kegiatan survailens merupakan salah satu program pemberantasan penyakit pes
yang dapat dilakukan yaitu surveilans terhadap tikus dan pinjal. Kegiatan surveilans
terhadap tikus dan pinjal meliputi :
1. Daerah fokus, merupakan daerah yang diamati sepanjang tahun yaitu satu bulan
sekali selama lima hari berturut-turut.

2
2. Daerah terancam, merupakan daerah yang diamati secara periodik, yaitu empat
kali dalam satu tahun dengan kurun waktu tiga bulan sekali selama lima hari
berturut-turut
3. Daerah bekas fokus, merupakan daerah yang diamati selama satu tahun sekali
atau dua tahun sekali selama lima hari berturut-turut (Sub Direktorat Zoonosis,
2008:8)

Kegiatan surveilans pada daerah epizootic pes bertujuan untuk mengendalikan


penyakit pes, yaitu untuk mempertahankan kasusnya agar selalu nol, mencegah
penularan dari daerah fokus ke daerah sekitar, memantau agar tidak terjadi relaps, dan
mencegah masuknya pes dari luar negeri (Sub Direktorat Zoonosis, 2008:9).

Di Indonesia sendiri terdapat empat propinsi yang menjadi daerah pengawasan


pes, yaitu di Ciwidey Kabupaten Bandung (Jawa Barat), Cangkringan Kabupaten Sleman
(Yogyakarta), di Kecamatan Tutur, Tosari, Puspo, dan Pasrepan Kabupaten Pasuruan
(Jawa Timur), dan di Kabupaten Boyolali di Kecamatan Selo dan Cepogo, (Jawa Tengah)
(Sub Direktorat Zoonosis, 2008). Kecamatan Cepogo adalah salah satu daerah
pengamatan pes yang jumlah tangkapan tikusnya masih sedikit. Jumlah tikus dan pinjal
yang didapat pada tahun 2012 di Kecamatan Cepogo pada bulan maret sebanyak 17 tikus
dengan 51 pinjal, pada bulan april sebanyak 40 tikus dengan 79 pinjal, dan pada bulan
juni tertangkap 20 tikus dengan 57 pinjal (Dinkes Boyolali, 2009).

Sedikitnya jumlah tikus yang didapat dengan jumlah pinjal yang banyak
menjadikan kewaspadaan terulangnya Kejadian Luar Biasa (KLB), maka perlu dilakukan
pengendalian agar angka kejadian pes selalu nol dan tidak terjadi Kejadian Luar Biasa
(KLB) pes. Pencegahan KLB pes dilakukan dengan memasang live trap setiap lima hari
berturut-turut dalam satu bulan sesuai ketentuan pedoman penanggulangan pes pada
daerah fokus. Dalam survailens ini partisipasi warga sangat dibutuhkan, dengan
partisipasi ini masyarakat diharapkan mampu berperan aktif dalam kegiatan survailens.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang makalah ini, maka penulis menyimpulkan beberapa


rumusan masalah sebagai berikut:
3
1. Apa itu penyakit pes (Black Death) ?
2. Bagaimana epidemiologi dan persebaran penyakit pes ?
3. Apa saja etiologi penyakit pes ?
4. Bagaimana gejala-gejala dan riwayat alamiah penyakit pes ?
5. Bagaimana pencegahan, pemberantasan dan pengendalian tikus di pelabuhan serta
pengobatan penyakit pes ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain:

1. Mendeskripsikan tentang penyakit pes (Black Death)


2. Mendeskripsikan epidemiologi dan persebaran penyakit pes
3. Mendeskripsikan etiologi terjadinya penyakit pes.
4. Mendeskripsikan tentang gejala-gejala dan riwayat alamiah penyakit pes
5. Mendeskripsikan tentang pencegahan, pemberantasan dan pengendalian tikus di
pelabuhan serta pengobatan penyakit pes.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Penyakit Pes atau disebut juga Plague atau Black Death adalah suatu infeksi berat
yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis. Bakteri ini menginfeksi hewan pengerat

4
seperti tikus. Bakteri ini disebarkan oleh kutu tikus atau pinjal yang disebut Xenopsilla
Cheopis. Penyakit pes ditularkan ke manusia oleh gigitan kutu tikus yang terinfeksi.
Tingkat kematian penyakit pes sebanyak 50-60 % jika tidak diobati(Africa, 2014). Gejala
awal penyakit pes yaitu demam, menggigil, nyeri otot, mual, sakit tenggorokan, sakit
kepala serta limfadenitis (Sucipto, 2011).

Tikus merupakan binatang yang termasuk jenis rodent. Rodent adalah


sekelompok hewan mengerat yang mempunyai peranan penting sebagai sumber,
reservoir dan penular dalam penyebaran penyakit menular pada manusia maupun hewan-
hewan domestik. Pengendalian rodent diperkirakan dapat menurunkan kejadian penyakit
infeksi yang ditularkan oleh rodent (Santoso, 2009). Tikus merupakan reservoir dan
pinjal merupakan vector penularnya, sehingga penularan ke manusia dapat terjadi
melalui gigitan pinjal atau kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi bakteri Yersinia
pestis (Jawetz, 2005)

Gambar 1. Bakteri Yersinia pestis


Yersinia pestis penyebab pes berbentuk batang pendek, gemuk dengan ujung membulat
dengan badan mencembung, berukuran 1,5 µ × 5,7 µ dan bersifat Gram positif. Kuman ini
serirtutung menunjukkan pleomorfisme. Pada pewarnaan tampak bipolar, mirip peniti tertutup.
Kuman tidak bergerak, tidak membentuk dari spora dan diselubu Selain jenis kutu tersebut,
penyakit ini juga ditularkan oleh kutu jenis lain (Sub Direktorat Zoonosis, 2008).

Wabah penyakit ini banyak terjadi dalam sejarah, dan telah menimbulkan korban jiwa
yang besar. Selama abad ke-14, pedagang dari kota-kota pelabuhan Laut Tengah dan Laut Hitam
mengadakan perjalanan ke Cina, dan sepulangnya, membawa kembali sutera serta kulit binatang
yang berharga. Ketika kembali dari perjalanan seperti ini pada tahun 1343, sekelompok pedagang
dari Genoa menurut laporang lari ketakutan karena adanya pasukan orang Tartar, dan berlindung
di balik tembok kota perdagangan Caffa di Semenanjung Krim (Sub Direktorat Zoonosis,
2008).

2.2 Epidemiologi

5
Di Bolivia dan Brazil, misalnya, terdapat lebih dari 100 laporan kasus pes per sejuta
penduduk. Wabah pes dikenal dengan black death karena menyebabkan tiga jenis wabah, yaitu
bubonik, pneumonik dan septikemik. Ketiganya menyerang system limfe tubuh, menyebabkan
pembesaran kelenjar, panas tinggi, sakit kepala, muntah dan nyeri pada persendian. Wabah
pneumonik juga menyebabkan batuk lendir berdarah, wabah septikemik menyebabkan warna
kulit berubah menjadi merah lembayung (Svensons, 2015).
Penyakit pes terjadi antara tahun 2010 dan 2015, terdapat 39 kasus pes pada
manusia dilaporkan terjadi di Amerika Serikat serta mengakibatkan 5 kematian. Setengah
dari kasus pes pada manusia melibatkan individu berusia 12-45 tahun, meskipun pes
dapat mempengaruhi seseorang dari segala umur. Pria memiliki resiko yang lebih tinggi
terkena pes dibanding perempuan. Keadaan ini di sebabkan karena aktivitas pria lebih
banyak diluar dan beresiko terpapar vektor penyakit pes. (Rahmawati, 2012)

Akibatnya seluruh kota Caffa terinfeksi. Orang Genoa yang masih hidup segera
kembali ke kapal dan berlayar lagi. Banyak di antara mereka meninggal di kapal, tetapi
sisanya mendarat di Konstatinopel, Genoa, Venesia, dan kota-kota pelabuhan, dan disana
menulari keluarga dan kawannya. Dengan demikian wabah pes tiba di Eropa. Penyakit
ini menyebar dari kota- kota pelabuhan Laut Tengah ke pedalaman utara dan barat, dari
Italia dan Yunani ke Perancis, Spanyol, dan Inggris (Rahmawati, 2012).

Pada tahun 1348 dua pertiga penduduk Eropa telah terkena. Selama delapan
tahun wabah raya berkecamuk dan sekurang-kurangnya separuh dari jumlah penderita
meninggal. Jumlah korbannya 25 juta orang. Pada waktu itu tak ada tempat untuk
bersembunyi. Mereka yang melarikan diri ke laut pun menemukan penyakit pes sebagai
penumpang gelap di atas kapal (Rahmawati, 2012)

Gambar 2. Wilayah persebaran wabah pes


6
Sejak dahulu kala sampai kini, infeksi mikroba merupakan ancaman utama
terhadap kesehatan manusia beradab. Penyakit pes – lebih dari pada penyakit-penyakit
seperti misalnya kolera, cacar, demam kuning dan influenza-tetap merupakan contoh
utama mengenai siatu penyakit infeksi yang datang dari luar negeri dan menyerang orang
Filistin melalui pelabuhan laut mereka (Rahmawati, 2012).

Wabah raya penyakit pes yang pertama, yakni pes Justinius pada Abad ke-6,
berkecamuk waktu perdagangan internasional meningkat. Setelah menyapu Eropa pada
Abada ke-14, penyakit pes tetap membara selam 300 tahun, sekali-kali meledak bila
orang rentan tinggal berdesak-desakan di suatu tempat. Lama-kelamaan penyakit ini
menjadi penyakit kota, terutama pelabuhan dan pusat perdagangan yang kerap terserang.
(Rahmawati, 2012)

Wabah-wabah ini mencapai puncaknya di London dalam wabah raya tahun 1665.
Pada bulan September tahun itu, daftar kematian mingguan kota London menunjukkan
bahwa lebih dari 30.000 orang meninggal dunia. Di London, semua perdagangan dan
lalu lintas sempat terhenti. Orang takut dekat-mendekati anatar satu sama lain. Dokter-
dokter terkemuka pada zaman itu pun tak dapat menghentikan penyakit pes itu. Bubo
atau pembengkakan kelenjar, yang memberikan nama pada penyakit ini (pes bubonic),
umumnya timbul di ketiak atau di selangkangan. Dokter menggunakan tapal panas,
bahan tajam yang dapat membakar kulit, dan pisau dalam usaha mereka memecahkan
pembengkakan serta mengeluarkan cairannya, dengan keyakinan bahwa bila ini terjadi,
orang sakit akan tertolong. Akhirnya pada musim gugur tahun 1666, penyakit pes mulai
menghilang dari London. Setelah tahun 1720 penyakit pes lenyap pula dari Eropa Barat
(Sub Direktorat Zoonosis, 2008).

Di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara kutu carrier plague adalah


Xenophylla astia. Penyakit ini menular lewat gigitan kutu tikus, gigitan/cakaran binatang
yang terinfeksi plague, dan kontak dengan tubuh binatang yang terinfeksi. Kutu yang
terinfeksi dapat membawa bakteri ini sampai berbulan2 lamanya. Selain itu pada kasus
pneumonic plague, penularan terjadi dari percikan air liur penderita yang terbawa oleh
udara.Kutu menyebarkan penyakit ketika mengisap darah tikus atau manusia. Tetapi
bakteri wabah pes belum terbasmi tuntas (Sub Direktorat Zoonosis, 2008).

7
Dari awal mula penyebaran penyakit PES tersebut bisa disimpulkan bahwa sudah
sejak dahulu kala sampai kini, infeksi mikroba merupakan ancaman utama terhadap
kesehatan manusia. Di masa kini, penyakit ini Pes (sampar) merupakan penyakit yang
terdaftar dalam Karantina International dan juga disebut remerging disease dan masih
merupakan masalah kesehatan yang dapat menimbulkan kejadian luar biasa ataupun
wabah. Pes masuk pertama kali di Indonesia pada tahun 1910 melalui pelabuhan Tanjung
Perak, Surabaya, kemudian tahun 1916 melalui pelabuhan Tanjung Mas, semarang, tahun
1923 melalui pelabuhan cirebon dan tahun 1927 melalui pelabuhan Tegal. Korban yang
diakibatkan karena penyakit pes dari tahun 1910 sampai deng tahun 1960 tercatat
245.375 orang dengan angka kematian tertinggi yaitu 23.275 orang yang terjadi pada
tahun 1934 (Sub Direktorat Zoonosis, 2008).

2.3 Etiologi
Pes disebabkan oleh bakteri genus Yersinia serta mencakup 15 spesies dengan
tiga patogen pada manusia yaitu yersinia pestis, Yersinia enterocolitica, dan yersinia
pseudotuberculosis. Bakteri tersebut umumnya diisolasi dari hewan pengerat dan kutu
parasit. Bakteri pes adalah mikroorganisme gram-negatif, berbentuk batang atau
coccobaccilus, non spora dan immobile, fermentasi non laktosa, urease dan indol negatif,
dan termasuk dalam kelas Gammaproteobacteria dan famili Enteroacteriaceae. Suhu
optimum untuk pertumbuhan bakteri pes lebih dari 48 jam di MacConkey atau agar darah
adalah 28 °C (Santana et al., 2016). Toksonomi spesies yersinia yaitu :

Kingdom : Eubacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gammaproteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Yersinia
Spesies : pestis, enterocolitica, pseudotuberculosis, frederiksenii, kristensenii,
ruckeri, mollaretii, bercovieri, rohdei, aldovae, intermedia(Wildlife,
n.d, 2012)

8
Gambar 3. Bakteri yersinia enterocolitica (CDC, 2016)

Penyakit ini disebabkan den bakteri Yersinia pestis atau Patereurella pestis Oleh karena
itu, penyakit ini juga dikenal sebagai Yersiniosis atau Pasteurellosis. Pasteurellosis pada
sapi, domba, dan kelinci, yang menuniukkan gejala penyakit pneumonia kadang-kadang
jugs disebut pneumotic pateureliosis.
Pada dasarnya penyakit pes pada ternak baik unggas, maupun hewan-hewan lain
disebabkan oleh bakteri yang berbeda-beda. Akan tetapi, hewan-hewan tersebut
menunjukkan gejala yang hampir sama. Penyakit pes memang dapat menjangkiii hampir
semua hewan, namun hewan utama pembawa penyakit ini yaitu hewan-hewan pengerat
seperti kelinci, tupai, dan hamster terutama sekali tikus. Anjing maupun kucing yang
biasanya dijadikan hewan peliharaan maupun hewan kesayangan dapat Pula menutarkan
pes ke manusia.

Gambar 4. Pinjal salah satu penyebab pes

Penularan dan penyebaran pes dari tikus ke manusia yang utama melalui gigitan pinjal
(flea) pada rambut-rambut tikus. Oleh karena itu pinjal disebut sebagai vektor penyakit
pes.

2.4 Penularan
Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent.Kuman-
kuman pes yang terdapat di dalam darah tikus sakit,dapat ditularkan ke hewan lain atau
manusia, apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes
tadi,dan kuman-kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan tikus lain atau manusia
dengan cara yang sama yaitu melalui gigitan. Penularan pes secara eksidental dapat
terjadi pada orang – orang yang bila digigit oleh pinjal tikus hutan yang infektif.Ini dapat
terjadi pada pekerja-pekerja di hutan,ataupun pada orang-orang yang mengadakan
rekreasi/camping di hutan (Josh Peterson., 2013)

9
Gambar 5. tikus yang merupakan faktor utama penyebaran pes
Penularan pes ini dapat terjadi pada para yang berhubungan erat dengan tikus hutan,
misalnya para Biologi yang sedang mengadakan penelitian di hutan, dimana ianya
terkena darah atau organ tikus yang mengandung kuman pes. Kasus yang umum
terjadi dimana penularan pes pada orang karena digigit oleh pinjal infeksi setelah
menggigit tikus domestik/komersial yang mengandung kuman pes. Penularan pes dari
tikus hutan komersial melalui pinjal; pinjalyang efektif kemudian menggigit manusia.
Penularan pes dari orang ke orang dapat pula terjadi melalui gigitan pinjal manusia
Culex Irritans (Human flea). Penularan pes dari orang yang menderita pes paru-paru
kepada orang lain melalui percikan ludah atau pernapasan. (Josh Peterson., 2013)

2.5 Riwayat Alamiah


Yersinia pestis ditransmisikan melalui pinjal yang terinfeksi. Manusia yang terkena
pes mampu menularkan secara langsung ke manusia yang lain. Bila di suatu daerah akan
terjadi wabah pes, biasanya didahului oleh wabah pada binatang (epizootie) yaitu pada
tikus. Yersinia pestis menggunakan tubuh pinjal sebagai hospes. Tikus terinfeksi oleh Y.
pestis melalui gigitan pinjal (Xenopsylla cheopis). Sebelum kondisi tubuh tikus menjadi
parah, tikus masih dapat berinteraksi dengan tikus-tikus lain, sehingga memungkinkan
terjadi penularan antar tikus. Akibat kejadian penularan antar tikus, maka pada waktu yang
bersamaan akan muncul banyak sekali tikus yang menderita pes (epizootie). Kondisi tikus
yang terinfeksi Y. Pestis menjadi lebih parah maka tikus-tikus ini akan mencari tempat
sunyi dan biasanya mendekati lingkungan manusia dengan masuk ke rumah-rumah. Bila
tikus mati, pinjal akan kelaparan dan keluar dari tubuh tikus. Pinjal yang lapar akan
menjadi sangat agresif untuk mendapatkan pakan berupa darah, sehingga akan menyerang
apa saja yang ditemui terutama darah manusia (Affin, 2011).

Gambar 6.Xenopsylla cheopis


10
Manusia setelah kontak langsung dan terinfeksi tikus pembawa penyakit pes,
maka akan nampak gejala sakit setelah 2-6 hari sesuai masa inkubasi bakteri untuk
berkembangbiak dalam tubuh manusia. Penyakit pes jenis baru mempunyai masa inkubasi
yang lebih cepat sekitar 2-4 hari saja (Affin, 2011)..

Ada 3 jenis penyakit plague yaitu:


1. Bubonic plague: Masa inkubasi 2-7 hari. Gejalanya kelenjar getah bening yang dekat
dengan tempat gigitan binatang/kutu yang terinfeksi akan membengkak berisi cairan
(disebut Bubo). Terasa sakit apabila ditekan. Pembengkakan akan terjadi. Gejalanya
mirip flu, demam, pusing, menggigil, lemah, benjolan lunak berisi cairan di
tonsil/adenoid (amandel), limpa dan thymus. Bubonic plague jarang menular pada
orang lain.

Gambar 7. Gejala bubonic plague


2. Septicemic plague: Gejalanya demam, menggigil, pusing, lemah, sakit pada perut,
shock, pendarahan di bawah kulit atau organ2 tubuh lainnya, pembekuan darah pada
saluran darah, tekanan darah rendah, mual, muntah, organ tubuh tidak bekerja dg baik.
Tidak terdapat benjolan pada penderita. Septicemic plague jarang menular pada orang
lain. Septicemic plague dapat juga disebabkan Bubonic plague dan Pneumonic plague
yang tidak diobati dengan benar.

Gambar 8. Gejala septicemic plague


3. Pneumonic plague: Masa inkubasi 1-3 hari. Gejalanya pneumonia (radang paru2),
napas pendek, sesak napas, batuk, sakit pada dada. Ini adalah penyakit plague yang
paling berbahaya dibandingkan jenis lainnya. Pneumonic plague menular lewat udara,
bisa juga merupakan infeksi sekunder akibat Bubonic plague dan Septicemic plague
yang tidak diobati dengan benar. (Santana et al., 2016)

11
Gambar 9. Gejala pneumonic plague
1. MASA PRA –KESAKITAN Sebelum Manusia Sakit ( pre patogenesis )
Pada tahap ini agen penyakitnya yersinia pestis, sedangkan inang atau penjamu
(host) adalah manusia. Tahap ini telah terjadi interaksi antara penjamu (manusia) dengan
agen atau bibit penyakit (bakteri yersinia pestis), tetapi interaksi ini terjadi di luar tubuh
manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia dan belum masuk ke
dalam tubuh setelah berinteraksi dengan hewan yang terjangkit (interaksi penyebab,
penjamu dan lingkungan terhadap stimulus) (Affin, 2011).

2. MASA KESAKITAN ( patogenesis )


1) Masa Inkubasi
Pada penyakit pes berkisar 1-3 sampai 6 hari dimulai dari kontak dengan bibit
penyakit sehingga dapat terjadi proses penularan dalam masa ini.
2) Kesakitan Dini
Timbul papula (benjolan kecil pada kulit, Pustula (benjolan permukaan kulit
bernanah), Karbunkel (bisul, bisul besar, radan pd folikel rambut & sekitarnya
menjadi satu/ tidak menunjukkan reaksi jaringan setempat), Penyebaran daerah
kulit menjadi petekie (bintik merak akibat perdarahan intra dermel/ submukosa,
vaskulitis (radang pembuluh darah) & perdarahan krn trombositopenia (jumlah
trombosit < normal)
a. Kesakitan Dini Yang Mulai Nampak
Berdasar Aspek klinis, dibedakan beberapa type :
a) Type Bubonik
- Panas (> 41oC)
- Bubo (pembesaran, radang supuratif kelenjar limfe) daerah inguinal
(lipat paha)/ femoral (kaitan femur)/ aksila (ketiak)/servical (leher)
- Takikardi (denyut jantung cepat > 100/mnt
b) Type Pneumonik (Radang Paru)
- Lemah Badan
- Sakit Kepala
- Vomitus
c) Type Septikemik
12
- Pucat
- Lemah
3) Kesakitan Lanjut
a) Type 1. Bubonik
- Konvulsi ( kejang) sampai koma
- Konstipasi/ diare
- Koagulasi intra vascular
b) Type 2. Pneumonik
- Febris (demam) & frustasi
- Batuk, Sesak nafas
- Muntah desertai sputum produktif & cair
- Ganguan Kesadaran
c) Type 3. Septikemik
- Delirium (keadaan eksitasi mental & motoris pada kesadaran menurun)
atau stupor (kesadaran menurun) sampai koma.
- Gejala febris (demam)
- Kenaikan suhu badan terjadi ringan
3. Tahap Akhir Penyakit Pes Pada Manusia
1) Type 1. Bubonik
- Kegagalan faal jantung
- Kematian
2) Type 2. peneumonik
- Meninggal pada hari ke 4 dan 5
3) Type 3. Septikemik
- meninggal hari pertama
Jika kita melihat secara umum dari penyakit pes ini jika telah terinfeksi namun
tidak secepatnya dilakukan pengobatan maka akibatnya akan fatal / berakhir dengan
kematian. Kematian ini dapat terjadi pada saat gejala klinik tidak jelas, klinik berat +
komplikasi. Penyakit ini dapat sembuh jika ditangani sejak dini baik mulai dari gejala
klinik tampak atau tidak tampak, dengan pemakaian obat yang teratur seperti pemberian
Streptomycyn dosis tinggi terbukti lebih efektif mengobati plague. Penicilin tidak efektif
untuk penyakit plague. Diazepam diberikan untuk mengurangi rasa lelah. Heparin
biasanya diberikan apabila terdapat gejala pembekuan darah.Walaupun didiagnosa sembuh
namun, tidak menutup kemungkinam orang tadi menjadi carier yang dapat menularkan
kepada orang lain. (Affin, 2011).

2.6 Penatalaksanaan
2.6.1 Pada Pejamu
Pengobatan pes diberikan streptomisin dosis 15 mg / kg (dosis maksimum satu
gram), pada interval 12 jam, dengan rute intramuskular (IM) selama 10 hari. Alternatif
lain - bila streptomisin tidak tersedia menggunakan gentamisin, dengan dosis 5 mg / kg
/ hari, atau 2 mg / kg sebagai dosis awal yang diikuti 1,7 mg / kg setiap 8 jam, dengan
13
rute IM atau intravena (IV) , selama 10 hari. Analisis retrospektif terhadap 50 kasus
wabah yang didiagnosis di New Mexico (AS), antara tahun 1985 dan 1999,
menunjukkan bahwa gentamisin yang diberikan sendiri atau dikombinasikan dengan
doksisiklin setidaknya sama efektifnya dengan streptomisin. Ke 36 pasien yang diobati
dengan gentamisin bertahan tanpa komplikasi . Uji coba klinis acak terhadap 65 pasien
dengan wabah, yang dilakukan di Tanzania, menunjukkan bahwa 94% subyek yang
diobati dengan gentamisin memiliki tingkat tanggapan klinis yang tinggi dan tingkat
efek samping yang rendah yang rendah. Gentamycin umumnya dianggap lebih aman
untuk diberikan pada wanita hamil dan anak-anak, dibandingkan dengan
streptomisin(Santana et al., 2016)

2.6.2 Tatalaksana Pada Tikus


Tatalaksana pemberantasan tikus
Pemberantasan Tikus di Wilayah Pelabuhan
Dilaksanakan di daerah perimeter pelabuhan dengan teknik pemasangan
perangkap, baik perangkap hidup ( cage trap), maupun perangkap mati (back break
trap), dengan memelihara predator, memberikan poisoning (rodentisida), dan lokal
fumigasi (dengan Posphine) (Hanang Soejoedi, 2005).
Pemberantasan Tikus di Kapal dan di Pesawat
Di kapal, dilakukan dengan fumigasi menggunakan fumigant yang
direkomendasikan yaitu SO2 dan HCN (WHO, 1972), namun di Indonesia sesuai
dengan SK DirJen PPM & PLP No. 716-I/PD.03.04.EI tanggal 19 Nopember 1990,
tentang fumigan yang digunakan untuk fumigasi kapal dalam rangka penerbitan SKHT
bagi kapal, adalah HCN, CH3 Br, dan SO2. Pada tahun 1998/1999 telah diterbitkan 42
sertifikat DC/SKHT dan 1.217 DEC/SKBHT ( Anonimus, 1999). Di pesawat bahan
fumigan yang direkomendasikan oleh WHO, hanyalah HCN. (Hanang Soejoedi, 2005).

Pemberantasan Tikus Dan Upaya Rat Proofing


Penyakit pes disebabkan oleh basil Yersinia (Pasteurella) pestis pada awalnya
merupakan penyakit infeksi menular antar tikus, dan dari tikus ke manusia melalui
pinjal tikus (Xenopsylla spp.) (Brooks dan Rowe, 1979). Dalam upaya pencegahan
masuknya penyakit pes ke Indonesia, diupayakan dengan meniadakan atau
mengeliminir pinjal tikus. Tikus merupakan host disamping manusia serta reservoir
dalam mata rantai penularan pes ke manusia. Sedangkan agent-nya adalah basil
Yersinia (Pasteurella) Pestis.
Dalam pelaksanaan di lapangan sesuai IHR (1969), dan Convention on
Facilitation of International Maritime Traffic (1965) setiap kedatangan kapal
14
diharuskan untuk mengisi Maritime Declaration of Health, yang salah satu
pertanyaannya adalah tentang adanya indikasi penyakit pes baik yang timbul diantara
ABK maupun diantara tikus. Dalam Rodent Control, perlu diperhatikan 3 hal yang
memegang peranan utama bagi kehidupan Rodent di suatu daerah, yaitu adanya
makanan, minuman, dan tempat bersarang. Upaya mencegah penyebaran penyakit
pes, dituangkan pada beberapa artikel dari IHR diantaranya pada artikel 16 (Hanang
Soejoedi, 2005).
Pemberantasan tikus di pelabuhan bertujuan untuk menurun - kan populasi
tikus dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ke - mungkinan adanya penyakit pes
pada tikus setempat melalui peng - amatan indeks pinjal dan pemeriksaan serologis
darah tikus. Pada dasarnya membebaskan suatu daerah dari infestasi tikus dilakukan
dengan cara :
a) Menciptakan suatu lingkungan yang tidak memungkinkan pemukiman tikus,
dengan jalan memperbaiki sanitasi lingkungan dan melaksanakan rat-proofing
terhadap semua bangunan.
b) Memberantas tikus-tikus yang ada dengan cara :
1) pemasangan perangkap
2) penggunaan racun tikus (rodentisida)
3) penggasan atau fumigasi
4) biological control, misalnya dengan melepaskan musuh -musuh tikus,
tetapi hasilnya kurang memuaskan

Pemberantasan Tikus Di Pelabuhan


Mengenali Tanda Kehidupan Tikus
Keberadaan tikus dapat dideteksi dengan beberapa cara, yang paling umum
adalah adanya kerusakan barang atau alat. Tandatanda berikut merupakan penilaian
adanya kehidupan tikus yaitu (Hanang Soejoedi, 2005) :
a) Gnawing (bekas gigitan)
b) Burrows (galian /lubang tanah)
c) Dropping (kotoran tikus)
d) Runways (jalan tikus)
e) Foot print (bekas telapak kaki)
f) Tanda lain : Adanya bau tikus, bekas urine dan kotoran tikus, suara, bangkai tikus
Perbaikan Sanitasi Lingkungan
Tujuan dari perbaikan sanitasi lingkungan adalah menciptakan lingkungan yang
tidak favourable untuk kehidupan tikus. Dalam pelaksanaannya dapat ditempuh dengan :
a) Menyimpan semua makanan atau bahan makanan dengan rapi di tempat yang kedap
tikus.
b) Menampung sampah dan sisa makanan ditempat sampah yang terbuat dari bahan yang
kuat, kedap air, mudah dibersihkan, bertutup rapi dan terpelihara dengan baik.

15
c) Tempat sampah tersebut hendaknya diletakkan di atas fondasi beton atau semen, rak
atau tonggak.
d) Sampah harus selalu diangkut secara rutin minimal sekali sehari.
e) Meningkatkan sanitasi tempat penyimpanan barang/alat se hingga tidak dapat
dipergunakan tikus untuk berlindung atau bersarang.
Rat Proofing
Upaya rat proofing bertujuan untuk mencegah masuk dan keluarnya tikus dalam
ruangan serta mencegah tikus bersarang di bangunan tersebut. Upaya rat proofing dapat
ditempuh dengan jalan (Hanang Soejoedi, 2005) :
a). Membuat fondasi, lantai dan dinding bangunan terbu at dari bahan yang kuat, dan
tidak ditembus oleh tikus.
b) Lantai hendaknya terbuat dari bahan beton minimal 10 cm.
c) Dinding dari batu bata atau beton dengan tidak ada keretakan atau celah yang dapat
dilalui oleh tikus.
d) Semua pintu dan dinding yang dapat ditem bus oleh tikus (dengan gigitannya), dilapisi
plat logam hingga sekurang -kurangnya 30 cm dari lantai. Celah antara pintu dan lantai
maksimal 6 mm.
e) Semua lubang atau celah yang ukurannya lebih dari 6 mm, harus ditutup dengan
adukan semen.
f) Lubang ventilasi hendaknya ditutup dengan kawat kasa yang kuat dengan ukuran
lubang maksimal 6 mm.

Pemasangan perangkap (trapping)


Macam perangkap tikus yang beredar di pasaran adalah jenis snap/guillotine dan cage
trap. Jenis cage trap digunakan untuk mendapatkan tikus hidup, guna diteliti pinjalnya.
Biasanya perangkap diletakkan di tempat jalan tikus atau di tepi bangunan. Pemasangan
perangkap lebih efektif digunakan setelah dilakukan poisoning, dimana tikus yang tidak mati
karena poisoning, dapat ditangkap dengan perangkap (Hanang Soejoedi, 2005).
Peracunan (Poisoning)
Pada umumnya peracunan dapat dilakukan apabila tidak mem - bahayakan manusia
ataupun binatang peliharaan. Racun tikus terbagi menjadi dua golongan, yaitu single dose
poison dan multiple dose poison. Racun tikus yang biasa digunakan adalah arsen, strychnine,
phospor, zinkphosphide, redsquill, barium karbonat, atau senyawa yang mengandung salah
satu atau lebih dari yang tersebut di atas. Termasuk didalamnya rodentisida yang relatif lebih
baru yaitu 1080 (ten eighty), Antu, Warfarin, dan Pival (Hanang Soejoedi, 2005).
a) Warfarin dan Pival.
Merupakan umpan padat dengan warficida dan/atau pivalin yang berupa cairan,
mempunyai pengaruh keracunan yang khas pada tikus. Sifat racun ini adalah anti
coagulants, apabila ditelan dengan interval waktu beberapa hari, menyebabkan

16
perdarahan dalam dan mengakibatkan kematian. Biasanya tikus mati dalam 4 sampai
7 hari setelah makan racun dengan dosis yang adekuat. Efek toksik lebih lambat
dibandingkan 1080, Antu, Redsquill , dan racun tikus lainnya. Dengan cara kerja yang
lambat ini, tidak terjadi penolakan terhadap bahan oleh tikus, sehingga tikus akan
memakan bahan ini hingga habis sampai mereka mati. Walaupun cara kerja anti
koagulan dari Warfarin dan Pival juga berlaku untuk binatang berdarah panas
termasuk manusia, tetapi racun ini dianggap tidak berbahaya seperti racun lainnya
karena tersedi a antidotenya, yaitu vitamin D yang mudah didapat. Dosis yang dipakai
biasanya 0,5% dengan umpan tepung jagung, havermout, tepung roti, tepung kacang,
gula, jagung, dan minyak kacang.
b) Red Squill
Racun ini relatif aman terhadap manusia, kucing dan anjing. Bahan red squill adalah
"a natural emetic" yang bila termakan oleh sebagian besar binatang berdarah panas
atau manusia, mengakibatkan muntah yang segera dan pengosongan bahan racun.
Kerja emetic dari red squill ini menjadikan racun khusus bagi tikus jenis Norway
(Ratus Norvegicus) berhubung jenis tikus ini tidak bisa muntah. Umpan red squill
terasa pahit, dan kelemahannya adalah menimbulkan penolakan diantara tikus dan
beberapa jenis tikus selalu menghindari umpan yang berisi red squill, terutama
apabila mereka tahu pengaruh racun red squill terhadap tikus lainnya.
c) 1080 (Ten Eighty)
1080 adalah nama umum untuk Natrium Fluoro Acetat, merupakan racun tikus yang
sangat efektif. Kelemahannya adalah terlalu beracun terhadap manusia dan binatang
peliharaan serta tidak adanya antidotenya. Oleh karenanya hanya direkomendasikan
khusus bagi pekerja yang terlatih dan bertanggung jawab. Racun ini dilarang
dipergunakan di daerah perumahan/pemukiman karena efek racunnya yang sangat
toksik.
d) Antu (Alpha Naphthyl Thio Urea)
Nama kimia dari Antu adalah Alpha Naphthyl Thio Urea merupakan racun yang
efektif untuk Norway rats, tetapi tidak dianjurkan untuk jenis tikus lainnya.
Kelemahan dari Antu adalah cepatnya terjadi toleransi oleh tikus yang makan kurang
dari dosis yang adekuat. Oleh karenanya Antu tidak dapat digunakan untuk interval
kurang dari 4 sampai 6 bulan di tempat yang sama.
Pengamatan Tikus dan Pinjal
Dalam rangka kewaspadaan terhadap kemungkinan suatu epizootic plague, maka
semua tikus yang tertangkap hidup dengan cage traps atau yang kedapatan mati tanpa
suatu sebab kematian yang nyata, maka tikus tersebut perlu diperiksa secara visual

17
apakah ada tanda tersangka penyakit pes dan bila perlu diperiksa secara pathologis
organ-organ tertentu antara lain, paru, getah bening , dan lympha dan kemudian dihitung
pinjalnya (Xenopsylla spp.) (Hanang Soejoedi, 2005).
Dokumen Kesehatan Kapal
Dokumen Deratting Exemption Certificate (DEC) atau Surat Keterangan Bebas
Hapus Tikus (SKBHT) atau Deratting Certificate (DC) atau Surat Keterangan Hapus
Tikus (SKHT) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dokumen kapal, dan
menyatakan bahwa kapal bebas dari infestasi tikus, dapat dipakai sebagai sa rana
pengamatan ada tidaknya tikus di kapal. Apabila kapal tidak memiliki DEC/SKBHT atau
DC/SKHT yang masih berlaku, dan kapal dalam keadaan kosong, maka kapal harus
dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya kehidupan tikus, dan apabila kapal masih ada
muata n lanjutan, dan tidak memungkinkan untuk dilakukan pemeriksaan, kapal dapat
diberikan 30-days extention untuk pelayaran internasional, atau sailling permit untuk
pelayaran domestik, istilah populernya adalah kapal diijinkan berlayar tanpa surat tikus.
Dengan catatan setelah pelabuhan tujuan akhir, kapal harus diperiksa ada/tidaknya
kehidupan tikus, dan apabila hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya kehidupan tikus,
kapal diberikan DEC/SKBHT yang baru dan berlaku selama enam bulan. Apabila setelah
dilakukan rat inspection didapatkan hasill bahwa di kapal telah terjadi infestasi tikus,
maka kapal harus di fumigasi terlebih dulu sebelum diterbitkan DC/SKHT yang baru.
Program pengawasan/pemberantasan tikus di pelabuhan Tanjung Perak
dilaksanakan dengan menggunakan perangkap hidup dilaksanakan selama enam hari
berturut-turut setiap bulan kemudian tikus yang didapat dimatikan dengan chloroform lalu
dilakukan penyisiran pinjalnya dan dihitung indeks pinjalnya. Indeks pinjal harus di
bawah angka 1 (Hanang Soejoedi, 2005)..
Sesuai hasil penelitian Ristiyanto dan Hadi (1992) dinamika populasi tikus dan
pinjal di pelabuhan - pelabuhan sekitar daerah enzootik pes di Jatim, jenis tikus yang
terdapat dipelabuhan Tanjung Perak adalah R. Norvegicus, R.ratus diardii, R. exulans, Mu
s musculus dan Suncus murinus, sedangkan pinjal didapat X. cheopis.
Pemberantasan tikus dengan poisoning kurang efektif, karena sesuai hasil
penelitian KKP Surabaya tahun 1983 -1984, ternyata tidak ada perbedaan bermakna
antara populasi tikus sebelum dan sesudah pemberantasan dengan poison (Laporan
Pelabuhan Tanjung Perak, KKP Surabaya, 1984). Sedangkan pemberantasan dengan
menggunakan predator, misal kucing dan anjing, hanya dilakukan secara individu oleh
beberapa kepala gudang di Pelabuhan.

Pemberantasan Tikus Di Kapal


18
Pemeriksaan Sanitasi Kapal Upaya pemeriksaan sanitasi kapal dilakukan untuk
mengetahui tingkat sanitasi kapal dan pemeriksaan adanya kehidupan tikus di kapal.
Apabila dijumpai tanda-tanda kehidupan tikus kapal mutlak harus dilakukan pem
berantasan tikus. Pemeriksaan dilakukan terhadap semua ruangan meliputi (Hanang
Soejoedi, 2005):
a) Haluan, biasanya digunakan sebagai tempat tali kapal, gudang cat dan peralatan deck
kapal, dan rantai jangkar.
b) Palka yaitu ruangan cargo, bagi kapal type General Cargo dan kapal tipe curah (Bulk
Ship), atau ruang penyimpan kontainer bagi kapal tipe Container Ship atau tanki bagi
kapal tipe Tanker Ship, tetapi untuk kapal tipe Bulk Ship, Tanker Ship, dan Container
Ship bagian ini bisa diabaikan karena biasanya tidak didapati kehidupan tikus.
c) Ruang hunian awak kapal dan penumpang apabila kapal penumpang, ruangan
meliputi anjungan, kamar peta (chart room), kamar radio, kamar ABK dan kamar
penumpang, dapur, pantry, gudang perbekalan, toilet dsb.
d) Kamar mesin.
Fumigasi
Fumigasi kapal dalam rangka penerbitan Deratting Certificate dilakukan oleh
Badan Usaha/Rekanan Fumigator, dan dibawah pengawasan KKP yang berwenang guna
menghindari kemungkinan penyebaran pes bubo oleh tikus atau pinjal tikus.
Pelaksanaan pemberantasan tikus di kapal dilakukan dengan poisoning, trapping
ataupun fumigasi baik memakai fumigant HCN maupun CH3 Br. Untuk HCN digunakan
dosis 2 gr per m 3 ruang yang digas, dengan waktu kontak 2 jam, sedangkan untuk CH
3Br dosis adalah 4 gr per m 3 ruang yang digas, dengan waktu kontak 4 jam (HAU,
1974). Sedangkan dalam pelaksanaan di lapangan dipakai dosis 10 gr per m 3 ruangan
dengan waktu kontak 10 jam. Prinsip pelaksanaan fumigasi adalah membuat semua ruang
yang di gas kedap udara, selanjutnya gas dilepaskan di ruang ka pal tersebut dengan
waktu kontak sesuai jenis fumigan yang digunakan. Selanjutnya kapal dibebaskan dari
gas dengan aerasi selama kurang lebih 1-2 jam, baru kapal dinyatakan aman dengan
menggunakan gas detektor (Hanang Soejoedi, 2005).
Tabel 1. Perbedaan antara gas HCN dan CH3Br

19
Untuk fumigasi di pesawat, fumigan yang direkomendasikan oleh WHO adalah
HCN dengan dosis 2 gr per m 3 ruang yang digas, waktu kontak 2 jam (Bailey,1977;
WHO, 1984). Sampai saat ini KKP Surabaya belum melaksanakan hapus tikus di
pesawat. Tetapi kalau disinsection pesawat telah dilaksanakan dengan bahan aktif
permethrin aerosol sesuai dengan standard WHO dan International Civil Aviation
Organization (ICAO, 1990).
a) Fumigasi dengan HCN.
1) Kemasan
“Aero HCN Discoids” berisi asam hydrocyanide murni, berkisar rata-rata 96%
sampai 98%, terserap dalam bahan porous dan bersifat menyerap seperti bubur
kayu atau karton dalam bentuk lempengan tipis. Lempengan ini mudah disebar di
lantai ruangan dan di tempat-tempat terpencil yang biasanya terdapat banyak
serangga. Kemasan produk disesuaikan unt uk penggasan ruangan yang kecil.
Lempengan ini tidak pecah ataupun berantakan walaupun dilemparkan atau
ditangani secara kasar, sehingga lempengan tetap bersih, tidak meninggalkan
kotoran atau debu di tempat yang digas. Aero HCN Discoids berisi asam
hydrocyanide murni dipasarkan dalam kaleng khusus kemasan 0,5 kgs, 1 kg, 1,5
kgs., 2 kgs (WHO, 1972).
Bahaya dari HCN adalah gas yang sangat beracun. Lempengan harus disebar
secara langsung dari kalengnya dan diusahakan agar tidak memegang nya dengan
tangan telanjang. HCN dapat diserap melalui kulit ataupun melalui paru-paru.
Penyimpanan kaleng HCN harus di tempat yang dingin, kering dan berventilasi
baik. Tidak semua orang diperkenankan membuka kaleng lempengan HCN
kecuali bagi yang telah berpengalaman menggunakan asam hydrocyanide, dan
diwajibkan untuk menggunakan gas masker, dilengkapi dengan saringan khusus.
Berat jenis HCN lebih ringan dari udara, sehingga dalam operasionalnya,
penyebaran gas dimulai dari dek paling atas selanjutnya turun ke dek dibawahnya

20
dan diakhiri pada dek dimana pintu keluar disiapkan. Untuk penyebaran
lempengan HCN, tidak dibenarkan memegang satu per satu, karena cara ini
banyak makan waktu dan membiarkan seseorang terkena gas yang berbahaya
walaupun telah dileng - kapi dengan masker dan canister khusus HCN.
Permukaaan kulit yang terkena asam hydrocyanide, harus dicuci dengan air
sesegera mungkin guna mencegah keracunan .
2) Dosis
Dosis HCN yang digunakan untuk penggasan tikus, adalah 2 ounces/cubicfeet
ruangan dengan exposure 2 sampai 3 jam. Jika terdapat tempat-tempat yang dapat
menjadi sarang tikus, disebabkan karena konstruksi atau muatan dari kapal, maka
dipakai konsentrasi lebih tinggi, umpamanya 3 sampai 4 ounces setiap 1000
cubicfeet ruangan. (1 oz = 28,31 g; 1000 c.f. = 28,3 m3) (WHO, 1972; WHO,
1971; WHO, 1999).
b) Fumigasi dengan CH3Br.
CH3Br merupakan gas cair, yang disimpan dalam tabung bertekanan. Untuk
mengeluarkan gas dari tabung tinggal membuka kran tabung tersebut. Di pasaran
dijual CH3Br dalam kemasan 25 kgs., 50 kgs., dan 100 kgs. Berat jenis gas ini lebih
besar dari udara, sehingga dalam pelaksanaannya ruang yang digas adalah mulai dari
dek terbawah berturut - turut kemudian ke dek diatasnya dan berakhir di dek paling
atas. Mengingat gas ini tidak mempunyai antidote, maka cara pelaksanaan harus
sangat hati-hati. Biasanya gas ini karena tidak berbau, sengaja ditambahkan 2%
chloropicrine sebagai warning agent. Chloropycrine bersifat sangat korosif terhadap
metal (FAO, 1974). Dosis yang dianjurkan oleh DepKes cq DirJen PPM& PLP, adalah
sebesar 4 gr per-m 3 ruangan, dengan waktu kontak 4 jam (Hanang Soejoedi, 2005).
Pemberian racun tikus dan pemasangan perangkap di kapal. Racun diletakkan
di dalam dan di luar kapal yang diperkirakan menjadi jalan tikus, terutama di tempat
yang dicurigai sebagai sarang tikus. Setiap racun yang diletakkan, harus diberi tanda,
sebagai alas meletakkan racun tersebut. Pemasangan perangkap di kapal pada
prinsipnya sama dengan pemasangan rodentisida, yaitu ditempatkan di daerah
“runways”, dan dipasang pada sore hari, kemudian dilakukan pemeriksaan di pagi hari
berikutnya.

Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) Penyakit Pes


1. Dokumen Kesehatan Kapal dan Weekly Epidemiological Record (WHO)
a. Maritime Declaration of Health (MDH)
Setiap kedatangan kapal diwajibkan untuk melampirkan dokumen dokumen
kedatangan, antara lain MDH. Untuk kapal ocean going, dan berasal dari daerah
21
terjangkit penyakit k arantina ataupun kapal yang datang dari luar negeri,
diwajibkan mengisi MDH sebagai ketentuan internasional, ditandatangani oleh
Nakhoda dan diperkuat oleh Dokter Kapal kalau di kapal terdapat dokter kapal.
b. Deratting Exemption Certificate, Deratting Certificate dan Extention of
DEC/DC (SKBHT/SKHT)
Setiap kapal diwajibkan oleh WHO, untuk bebas dari infestasi tikus, yang
ditandai dengan diterbitkannya DEC/DC, yang diterbitkan oleh KKP (Port Health
Office) diseluruh pelabuhan di dunia, dan masa berlakunya selama enam bulan. Di
Indonesia, kapal-kapal yang tidak pernah keluar dari suatu wilayah pelabuhan
tertentu dikecualikan dari kewajiban memiliki DEC/DC , misalkan : kapal tunda,
kapal pandu, tongkang air bersih dan tongkang minyak untuk bunkering kapal di
pelabuhan (Hanang Soejoedi, 2005).
c. Buku Kesehatan Kapal (Health Book)
Khusus di Indonesia, sesuai dengan UU No. 1 tahun 1962 tentang Karantina
Laut, maka semua kapal yang berlayar di perairan Indonesia, diwajibkan untuk
memiliki Buku Kesehatan Kapal yang dimaksudkan sebagai alat komunikasi
antar pelabuhan yang satu dengan pelabuhan lainnya, dan sebagai sarana
informasi dalam rangka surveilans penyakit karantina.
d. Weekly Epidemiological Record
Mingguan ini diterbitkan oleh WHO di Geneva, yang berisi informasi terbaru
tentang penyakit karantina dan atau penyakit menular lain yang mungkin dapat
menimbulkan wabah disuatu daerah/negara. Disamping itu secara periodik
mingguan ini memuat informasi yang up to date mengenai daerah atau negara
serta pelabuhannya yang sedang terjangkit penyakit karantina.
Dengan mengikuti perkembangan di mingguan tersebut, pejabat kesehatan
pelabuhan akan mengetahui apakah suatu kapal datang dari daerah sehat atau
terjangkit penyakit karantina, sehingga penanganan saat kedatangannya sudah
dapat diantisipasi tindakan apa yang perlu dilakukan terhadap kapal beserta
isinya (Hanang Soejoedi, 2005).
2. Pengamatan Indeks Pinjal
Untuk mengamati terjadinya kasus pes diantara tikus, dapat dilihat dari
besarnya indeks pinjal. Apabila suatu saat indeks pinjal melonjak diatas rata-rata,
maka perlu diwaspadai apakah kenaikan indeks pinjal tersebut disebabkan
berpindahnya pinjal antar tikus, karena tikus sebagai hostnya telah mati. Seperti
diketahui, pinjal sangat memerlukan darah segar tikus guna makanannya. Apabila
tikus sebagai hostnya mati, maka pinjal akan berpindah ke tikus hidup yang lain
sehingga indeks pinjal akan meningkat. Pengamatan ini bisa dikombinasikan
22
dengan pola maksimum dan minimum indeks pinjal selama 5 tahun terakhir.
Apabila indeks pinjal bulan berjalan masih dibawah pola maksimum lima
tahunan, maka dapat diprediksikan penularan pes masih relatip aman, namun
apabila indeks pinjal bulan berjalan melewati pola maksimum indeks pinjal lima
tahunan, maka perlu ditingkatkan kewaspadaaan terhadap penularan penyakit pes
baik epizootic plague maupun human plague (Hanang Soejoedi, 2005).
2.7 Prognosis
Pes bubo akut menjelek menjadi delirium, syok, dan meninggal dalam 3-5 hari
jika tidak diobati. Angka mortalitas untuk keseluruhan pes bubo yang tidak diobati adalah
60-90%. Penjelekan pes pneomonia cepat dan hampir selalu mematikan 24-28 jam jika
tidak diobati. Jika pes bubo diobati lebih awal, maka angka mortalitas akan berkurang
10%. Prognosis pada pes pneumonia tetap jelek jika pengobatan spesifik tidak diberikan
dalam 18 hari dimulainya (Hamsafir Evan, 2010).

2.8 Upaya Pencegahan


Mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian ada, langkah‐langkah
didasarkan pada data/ keterangan bersumber hasil analisis/ pengamatan/ penelitian
epidemiologi.
 (Five Level Of Prevention) :

1. Health promotion (Upaya promosi Kesehatan)


1) Menghindari kemunculan dari/ adanya faktor resiko masa pra kesakitan.
UPAYA PROMOSI KESEHATAN :
a. Penyuluan penduduk untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan
lingkungan
b. Perbaikn rumah penduduk supaya tidak mudah menjadi sarang tikus
c. Pengendlian terhadap tikus dan pinjal
2) Pengendalian terhadap tikus
a. mengatur waktu tanam
b. perbaikan sanitasi lingkungan
c. menggunakan rodentisida
d. alat perekat
e. Insektisida
3) Pengendalian terhadap pejamu
a. Meningkatkan kekebalan.
b. Hygene individu
c. Gizi
4) Pengendalian terhadap lingkungan
a. Perbaikan sanitasi lingkungan
b. bersihkan semak semak
c. perbaiki bangunan rumah sehingga tidak menjadi sarang tikus

23
2. Specific protection (Upaya proteksi Kesehatan )
Upaya Proteksi Kesehatan Bertujuan untuk mengurangi / menurunkan
pengaruh penyebab serendah mungkin misalnya : Vaksinasi penduduk daerah
endemik, petugas laboratorium dan perawat kesehatan dan Pengendalian sumber-
sumber pencemaran, Sanitasi Lingkungandan hygene perorangan, diberikan
pengobatan pada petugas kesehatan untuk mencegah adanya penularan.

3. Early diagnosis and promt treatment (Upaya diagnosis dini & tindakan segera)
a. Ditujukan pada penderita/ dianggap menderia (suspect)/ terancam akan
menderita
b. Penemuan Kasus segera lapor kepada Dinas Kesehatan setempat dalam waktu
24 jam sejak diketahui
c. Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit
menular (contact person) untuk diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat
segera diberikan pengobatan.
d. Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita.
e. Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus

4. Disability limitation (Upaya pemberantasan akibat buruk)


Mencegah meluasnya penyakit/ timbulnya wabah & proses penyakit lebih
lanjut.
a. Isolasi bagi yang diduga terbukti menderita sampai yang bersangkutan
dinyatakan sembuh/ Isolasi setelah 2 –4 hari mendapat antibiotika
b. Pengobatan dengan antibiotik
a) Streptomisin 30 mg/ kg BB/ hari secara intramuscular 2 –4 x sehari.Untuk
anak‐anak 20 –30 mg/ kg BB / hari
b) Tetrasiklin diberikan pada hari ke 4 selama 10 –14 hari, Dosis loading 15 mg/
kg BB/ hari dlm 4 x pemberian sampai hari pengobatan 10 –14
c) Kloramfenikol dosis 50 ‐75 mg/ kg BB/hari intravena 4 x pemberian selama 10
hari
d) Trimetoprim –sulfametoksazol
e) Sulfadiazin 12 g/ hari selama 4 ‐7 hari dosis awal 4 gdilanjutkan 2 g tiap jam
sampai tercapai suhu badan normal, diteruskan 500 mg tiap 4 jam sampaihari 7–
10.
f) Penggunaan Sulfadiazuin disertai pemberian Sodium Bikarbonat

5. Rehabilitation (Upaya pemulihan Kesehatan) / (rehabilitasi)


Usaha untuk mencegah terjadinya akibat samping daripenyembuhan penyakit
& pengembalian fungsi fisik, psikologik dan sosial.
a. Pemberian makanan yang cukup gizi
b. Sesuai dengan Type
Contoh :
24
1. Type Pneumonik untukl latihan pernafasan, Type Meningeal dengan therapi
pekerjaan.
2. Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi dengan mengikutsertakan
masyarakat.
3. Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan
memberikan dukungan moral setidaknya bagi yang bersangkutan untuk
bertahan.
4. Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap penderita
yang telah cacat mampu mempertahankan diri.
5. Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan
seseorang setelah ia sembuh dari suatu penyakit.

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas :
Nama : Mr. X
Usia : 30 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Sleman, Yogyakarta
Pekerjaan : ABK
Agama : Kristen
Kebangsaan : Indonesia
3.2 Anamnesa
Keluhan utama : Demam
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keadaan sadar, diantar oleh keluarga
dengan keluhan demam, demam dikatakan pasien sejak 6 hari
yang lalu. Demam dirasakan setelah pasien bangun tidur. Satu
hari sebelumnya pasien juga merasa pusing dan kadang
menggigil. Riwayat pasien sebelumnya membersihkan dapur
di kapal, saat itu pasien sempat kontak dengan tikus, kemudian
pasien merasakan ada benjolan di bagian pangkal paha kanan.
Nafsu makan menurun , keluhan lain seperti mual, muntah dan
gangguan pencernaan disangkal. Di sekitar pasien tidak ada
yang mengalami hal serupa.

25
Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini
sebelumnya
Riwayat Penyakit Keluarga : Keluarga pasien tidak pernah mengalami keluhan
seperti pasien sebelumnya
Riwayat Sosial : Pasien mengaku tidak mengkonsumsi rokok dan alkohol
 Deskripsi Umum
 Penilaian Nyeri
Nyeri : ()tidak, (√) ya : lokasi : __pangkal paha kanan__Intensitas (0-10) :
Jenis : akut (√), kronis ()
3.3 Pemeriksaan Fisik
Tanda-Tanda Vital
Keadaan umum : baik
GCS : E4V5M6
Tensi : 100/70 mmHg
RR : 26x/menit
Suhu axila : 39,20C

Kepala : normochepali

Mata : anemis -/- ikterus -/- Reflex pupil +/+ oedema palpebra -/-

THT : Tonsil T2T2 tenang, hiperemis (+), lidah kotor (-)

Leher : JVP : 2 cm H2O, Pembesaran KGB (-)


Thoraks : nafas tertinggal (-), simetris (+)

 Pulmo :
- Inspeksi : tidak ada gerakan nafas yang tertinggal, tidak nampak adanya
masa, tidak ada tampak adanya tanda-tanda peradangan.
- Palpasi : tidak ada nyeri tekan, vocal vremitus dada kanan dan kiri sama.
- Perkusi : sonor di seluruh lapang thoraks
- Auskultasi :
Vesikuler +/+, Rhonki -/-, whezzing -/-

 Cor :
- Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat, melebar (-)
- Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
- Perkusi : Batas atas : ICS 2 PSL Sinistra
Batas kanan : ICS 4 PSL dextra

Batas kiri : ICS 5 MCL sinistra

26
- Auskultasi : S1 tunggal, S2 tunggal, regular, Murmur (-)
Abdomen :

- Inspeksi : distensi (-)


- Auskultasi : BU (+) N
- Palpasi : nyeri tekan (-)
Hepar teraba (-), lien teraba (-), ginjal teraba (-)

- Perkusi : timpani diseluruh regio abdomen


Ektermitas : akral hangat, sianosis (-), jari tabuh (-),edema(-).\

Pemeriksaan lokalis : pada regio inguinal dextra sisi medial terdapat bula berisi
cairan, konsistensi lunak, warna bening, dasar eritema berukuran 2 x 3 cm.

3.4 Diagnosis:

 Diagnosis Banding :

- Leptospirosis

- Pes

 Diagnosis Kerja : Pes

3.5 Terapi

 Non farmakologi

- Bed rest

- Menjaga higienitas.

- Makan makanan yang bergizi

 Farmakologi

- Paracetamol 3 x 500 mg p.o


- gentamisin, dengan dosis 1 x 150mg IM/IV dosis awal
- Dosis lanjutan 3x100 mg IM /IV selama 10 hari.

27
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pes merupakan golongan zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Yersinia


pestis (Y. pestis) dan ditularkan oleh kutu tikus (flea), Xenopsylla cheopis. Bakteri
yersinia pestis berbentuk batang pendek, gemuk dengan ujung membulat dengan
badan mencembung, berukuran 1,5 µ × 5,7 µ dan bersifat Gram positif. Pes dapat
menginfeksi tikus maupun manusia. Pes di golongkan menjadi 3 yaitu bubonic
plague, septisemic plague dan peneumonic plague. Perjalanan penyakit pes
diawali masa prepatogenesis yaitu saat host dan agen berinteraksi namun agen
masih diluar host, kemudian masuk ke masa patogenesis yaitu masa inkubasi
selama 1-3 hari dilanjutkan masa kesakitan dini, kemudian masa kesakitan lanjut
dan tahap akhir patogenesis pes. Penyakit pes dapat diobati menggunakan
antibiotik streptomisin. Pencegahan penyakit pes dapat dilakukan dengan
melakukan promosi kesehatan terhadap masyarakat untuk meningkatkan
kebersihan lingkungan, melakukan upaya promosi kesehatan dengan melakukan
vaksinasi, melakukan diagnosis dini dan upaya pemberantasan akibat buruk serta
rehabilitasi kesehatan dengan meningkatan imunitas tubuh host.

4.2 Saran

Untuk membantu para kru kapal dalam mengatasi masalah kesehatan, terutama
masalah Pes dapat dilakukan beberapa hal, antara lain:

1. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, ditambah dengan pemeriksaan


kapal secara berkala setiap satu bulan sekali, 6 bulan sekali dan secara khusus.
2. Bekerjasama dengan dokter di pelabuhan dan petugas KKP dalam melakukan
deteksi dini penyakit dan vektornya.
3. Melakukan penanganan yang lebih intensif bila menemukan kasus pes.
4. Memberikan edukasi kepada para pekerja tentang pes dan vektornya, sehingga kru
kapal lebih tanggap dalam mengatasinya.

28
DAFTAR PUSTAKA
Abbott, R.C., and Rocke, T.E., 2012, Plague: U.S. Geological Survey Circular 1372, 79 p.,
plus appendix. (tersedia juga pada https://pubs.usgs.gov/circ/1372.) (diakses 8 Januari
2019)
Affin. 2011.Riwayat Alamiah Penyakit PES.Di Unduh http://affin-
affin.blogspot.co.id/2011/04/riwayat-alamiah-penyakit-pes.html. (diakses 8 Januari
2019)
Africa, D. of H. of S. (2014) National plague control guidelines for South Africa. 1–32.
Corwin, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta: Penerbit Kedokteran EGC.
Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali,. (2012).Laporan Kasus Pencegahan Penyakit
Bersumber Dari Binatang, Boyolali: DKK
Endah.2013.Penyakit PES (BLACK DEATH) belum terbasmi tuntas.Di Unduh
http://bidanendah.blogspot.co.id/2013/05/penyakit-pes-black-death-belum-
terbasmi.html. (diakses 8 Januari 2019)
Febby Waode. 2015. Epidemiologi Penyakit PES. Di Unduh
http://www.slideshare.net/febbywadoe/epidemiologi-penyakitpes. (diakses 8 Januari
2019)
Hamsafir, Evan.2010. Diagnosis dan Panatalaksaan pada Penyakit
Pes.http://www.infokedokteran.com/info-obat/diagnosis-dan-penatalaksanaan-pada-
penyakit-pes.html. Diakses pada tanggal 19 November 2011Jawetz, Melnick, dan
Adelberg`s. (2005). Mikrobiologi Kedokteran, Jakarta: Salemba Medika
Hanang Soejoedi.2005. Pengendalian Rodent, Suatu Tindakan Karantina.Balai Besar Teknik
Kesehatan Lingkungan dan P2M Surabaya.Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 2, No.1,
Juli 2005 : 53 – 66 (tersedia dalam journal.unair.ac.id/download-fullpapers-KESLING-
2-1-06.pdf) (diakses 9 Januari 2019)
Josh Peterson. 2013. Penyakit Sampar (Pes), di dalam Ilmu Kesehatan/ Pestilence disease
(Pes), in the Health Sciences. Di Unduh
http://contohmakalah4.blogspot.co.id/2013/06/penyakit-sampar-pes-di-dalam-
ilmu.html. (diakses 8 Januari 2019)
Mitcell, dkk. 2008. Buku Saku Patologis Penyakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Natadisastra, Djaenuddin.2009. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Rahmawati, E. . (2012) Jurnal Kesehatan Masyarakat. 8 (1), 94–98.
Santana, L.A., Santos, S.S., Luiz, J., Gazineo, D., et al. (2016) Sci Forschen Plague : A New
Old Disease. 1–7.
Soedarto. 2007. Kedokteran Tropis. Surabaya: Airlangga Uniersity Press.
Sub Direktorat Zoonosis. (2008). Pedoman Penanggulangan Pes Di Indonesia, Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Svensons. 2015. Makalah Epidemiologi PES. Di Unduh
http://dokumen.tips/documents/makalah-pes.html. (diakses 8 Januari 2019)

29