Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

CIDERA KEPALA RINGAN

Disusun oleh :
Brian Brammad Priambodo
P27220018230

POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
2019
I. KONSEP DASAR

A. Definisi

Cedera kepala adalah cedera yang meliputi trauma kulit kepala, tengkorak dan otak.
Cedera kepala paling sering dan penyakit neurologik yang serius diantara
penyakit neurologik dan merupakan proporsi epidemic sebagai hasil kecelakaan jalan raya
(Smeltzer & Bare 2001).

Cedera Kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa
disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak
(Muttaqin, 2008).

Cedera kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak
atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala.
(Suriadi dan Rita Yuliani.2001)

Jadi dapat disimpulkan cidera kepala ringan adalah gangguan traumatic dari fungsi otak
yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstisial dalam substansi otak tanpa diikuti
terputusnya kontinuitas otak.

B. Etiologi

Menurut Tarwoto (2007), penyebab dari Cedera Kepala adalah :


1. Kecelakaan lalu lintas.
2. Terjatuh
3. Pukulan atau trauma tumpul pada kepala.
4. Olah raga
5. Benturan langsung pada kepala.
6. Kecelakaan industri.
C. Manifestasi Klinik

Cidera otak karena terkenanya benda tumpul berat ke kepala, cidera akut dengan cepat
menyebabkan pingsan (coma), yang pada akhirnya tidak selalu dapat disembuhkan. Karena
itu, sebagai penunjang diagnosis, sangat penting diingat arti gangguan vegetatif yang timbul
dengan tiba-tiba dan cepat berupa sakit kepala, mual, muntah, dan puyeng. Gangguan
vegetatif tidak dilihat sebagai tanda-tanda penyakit dan gambaran penyakit, namun
keadaannya reversibilitas.
Pada waktu sadar kembali, pada umumnya kejadian cidera tidak diingat (amnezia
antegrad), tetapi biasanya korban/ pasien tidak diingatnya pula sebelum dan sesudah cidera
(amnezia retrograd dan antegrad). Timbul tanda-tanda lemah ingatan, cepat lelah, amat
sensitif, negatifnya hasil pemeriksaan EEG, tidak akan menutupi diagnosis bila tidak ada
kelainan EEG.

Koma akut tergantung dari beratnya trauma/ cidera. Akibatnya juga beraneka ragam, bisa
terjadi sebentar saja dan bisa hanya sampai 1 menit. Catatan kesimpulan mengenai cidera
kepala akan lebih kalau terjadi koma berjam-jam atau seharian, apalagi kalau tidak
menampakkan gejala penyakit gangguan syaraff. Menurut dokter ahli spesialis penyakit
syaraf dan dokter ahli bedah syaraf, gegar otak akan terjadi jika coma berlangsung tidak lebih
dari 1 jam. Kalau lebih dari 1 jam, dapat diperkirakan lebih berat dan mungkin terjadi
komplikasi kerusakan jaringan otak yang berkepanjangan.

D. Patofisiologi

Cidera kepala terjadi karena beberapa hal diantanya karena terjatuh, dipukul, kecelakaan
dan trauma saat lahir yang bisa mengakibatkan terjadinya gangguan pada seluruh sistem
dalam tubuh. Bila trauma ekstra kranial akan dapat menyebabkan adanya leserasi pada kulit
kepala selanjutnya bisa perdarahan karena mengenai pembuluh darah. Karena perdarahan
yang terjadi terus – menerus dapat menyebabkan hipoksia sehingga tekanan intra kranial akan
meningkat. Namun bila trauma mengenai tulang kepala akan meneyebabkan robekan dan
terjadi perdarahan juga. Cidera kepala intra kranial dapat mengakibatkan laserasi, perdarahan
dan kerusakan jaringan otak bahkan bisa terjadi kerusakan susunan syaraf kranial tertama
motorik yang mengakibatkan terjadinya gangguan dalam mobilitas.

E. Klasifikasi

Cedera Kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme, tingkat keparahan, dan


morfologi cidera.

1. Berdasarkan Mekanisme :
a. Trauma Tumpul : kecepatan tinggi (tabrakan otomobil), kecepatan rendah (terjatuh,
terpukul)
b. Trauma Tembus : luka tembus peluru dan cdera tembus lainnya.
2. Berdasarkan Tingkat Keparahan :
Biasanya Cedera Kepala berdasarkan tingkat keparahannya didasari atas GCS. Dimana GCS
ini terdiri dari tiga komponen yaitu:
a. Reaksi membuka mata (Eye responses)
 Score 4: Membuka mata dengan spontan
 Score 3: Membuka mata bila dipanggil
 Score 2: Membuka mata bila dirangsang nyeri
 Score 1: Tidak ada reaksi dengan rangsangan apapun
b. Reaksi berbicara (Verbal responses)

 Score 5: Komunikasi verbal baik, jawaban tepat


 Score 4 : Bingung disorientasi waktu, tempat dan orang
 Score 3 : Dengan rangsangan, reaksi hanya kata, tidak berbentuk gerakan
 Score 2 : Dengan rangsangan, reaksi hanya suara, tak berbentuk kata
 Score 1 : Tidak ada reaksi dengan rangsangan apapun
c. Reaksi Gerakan lengan / tungkai (Motoric responses)
 Score 6 : Mengikuti perintah
 Score 5 : Dengan rangsangan nyeri, dapat mengetahui rangsangan atau tempat
 Score 4: Dengan rangsangan nyeri, menarik anggota badan
 Score 3: Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi fleksi abnormal
 Score 2: Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi ekstensi abnormal
 Score 1: Dengan rangsangan nyeri tidak ada reaksi
3. Dengan Glasgow Coma Scale (GCS), cedera kepala dapat diklasifikasikan menjadi :
 Cedera Kepala Ringan (CKR) : bila GCS 14-15 (kelompok resiko rendah). Dapat terjadi
kehilangan kesadaran kurang dari 30 menit, tetapi ada yang menyebut kurang dari 2 jam,
jika ada penyerta seperti fraktur tengkorak , kontusio atau temotom (sekitar 55% ).
 Cedera Kepala Sedang (CKS) : bila GCS 9-13 (kelompok resiko sedang), hilang
kesadaran atau amnesia antara 30 menit -24 jam, dapat mengalami fraktur tengkorak,
disorientasi ringan ( bingung ).
 Cedera Kepala Berat (CKB) : bila GCS 3-8 (kelompok resiko berat), hilang kesadaran
lebih dari 24 jam, juga meliputi contusio cerebral, laserasi atau adanya hematoina atau
edema
4. Berdasarkan morfologi
a. Fraktur tengkorak
 Kranium : linear / stelatum ; depresi / non depresi ; terbuka / tertutup.
 Basis : dengan / tanpa kebocoran cairan serebrospinal ; dengan /tanpa kelumpuhan
nervus VII
b. Lesi intracranial
 Fokal diakibatkan dari kerusakan local yang meliputi konsio serebral dan hematom
serebal, serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan masa lesi,
pergeseran otak.
 Difus : konkusi ringan, konkusi klasik, cedera aksonal difus.
F. Pathway
G. Komplikasi

1. Konkusio adalah hilangnya kesadaran (dan kadang ingatan) sekejap, setelah terjadinya
cedera pada otak yang tidak menyebabkan kerusakan fisik yang nyata atau cedera
kepala tertutup yang ditandai oleh hilangnya kesadaran. Konkusio menyebabkan
periode apnu yang singkat.
2. Hematoma Epidural adalah penimbunan darah di atas durameter. Hemotoma epidural
terjadi secara akut dan biasanya terjadi karena pendarahan arteri yang mengancam jiwa
3. Hematoma subdura adalah penimbunan darah dibawah durameter tetapi diatas
membrane abaknoid. Hematoma ini biasanya disebabkan oleh pendarahan vena, tetapi
kadang-kadang dapat terjadi perdarahan arteri subdura.
4. Pendarahan subaraknoid adalah akumulasi darah di bawah membran araknoid tetapi
diatas diameter, ruang ini hanya mengandung cairan serebraspinalis bila dalam keadaan
normal.
5. Hematoma intraserebrum adalah pendarahan di dalam otak itu sendiri, hal ini dapat
timbul pada cedera kepala tertutup yang berat ataupun pada cedera kepala terbuka.
H. Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik

1. CT Scan (tanpa atau dengan kontras) mengidentifikasi adanya hemoragik, menentukan


ukuran ventrikuler, pergeseran jaringan otak.
2. MRI : sama dengan CT Scan
3. Angiografi serebral : menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan
otak akibat edema, pendarahan, trauma
4. EEG : untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang patologis.
5. PET: Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak.
6. Sinar X : untuk mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran
struktur dari garis tengah (karena perdarahan) adanya fragmen tulang.
7. Cerebral Angiography: Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan
jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan trauma.
8. Fungsi Lumbal : CSS, dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan sub arakhnoid.
9. AGD : untuk mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi perdarahan sub
arakhnoid.
10. Kimia elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam peningkatan
TIK atau perubahan mental.
11. Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibatpeningkatan
tekanan intrkranial
I. Penatalaksanaan

Pedoman resusitasi dan penilaian awal


1. Menilai jalan nafas
Bersihkan jalan nafas dari debris dan muntahan, lepaskan gigi palsu, pertahankan tulang
servikal segaris dengan badan dengan memasang kolar servikal, pasang guedel bila dapat
ditolerir. Jika cedera kepala orofasial mengganggu jalan nafas, maka pasien harus
diintubasi.
2. Menilai pernapasan
Tentukan apakah pasien bernapas spontan atau tidak. Jika tidak berikan oksigen melalui
masker oksigen. Jika pasien bernapas spontan, selidiki dan atasi cedera dada berat seperti
pneumotoraks tensif, hemopneumotoraks. Pasang oksimeter nadi, jika tersedia, dengan
tujuan menjaga saturasi oksigen minimum 95%. Jika pasien tidak terlindung bahkan
terancam atau memperoleh oksigen yang adekuat (PaO2 >95 mmHg dan PaCO2 > 95%)
atau muntah maka pasien harus diintubasi serta diventilasi oleh ahli anestesi.
3. Menilai sirkulasi
Otak yang rusak tidak mentolerir hipotensi. Hentikan semua perdarahan dengan menekan
arterinya. Perhatikan secara khusus adanya cedera intrabdomen atau dada. Ukur dan catat
frekuensi denyut jantung dan tekanan darah, pasang alat pemantau dan EKG bila tersedia.
Pasang jalur intravena ynag besar, ambil darah vena untuk pemeriksaan dara perifer
lengkap ureum, elektrolit, glukosa, dan analisis gas darah arteri. Berikan larutan koloid.
Sedangkan laruta kristaloid (dekstrosa dan dekstrosa salan salin) menimbulkan
eksaserbasi edema otak pasca cedera kepala. Keadaan hipotensi, hipoksia dan
hiperkapnia memburuk cedera kepala.
4. Obati kejang
Kejang konvulsif dapat terjadi setelah cedera kepala dan harus diobati. Dengan
memberikan diazepam 10 mg intravena perlahan-lahan dan dapat diulangi sampai tiga
kali masih kejang. Bila tidak berhasil dapat diberikan fenitoin 15 mg/kgBB diberikan
intravena perlahan-lahan dengan kecepatan tidak melebihi 50 mg/menit.
Pedoman penatalaksanaan
1. Pada semua pasien dengan cedera kepala atau leher, lakukan foto tulang belakang
servikal (proyeksi antero-posterior, lateral dan odontoid), kolar servikal baru dilepas
setelah dipastikan bahwa seluruh tulang servikal C1-C7 normal.
2. Elevasi kepala 300

3. Pada semua pasien dengan cedera kepala sedang & berat dilakukan prosedur
berikut :
a. Pasang jalur intravena dengan larutan salin normal (NaCl 0,9%) atau larutan
Ringer laktat : catat isotonis lebih efektif mengganti volume intravaskular
daripada cairan hipotonis dan larutan ini tidak menambah edema serebri.
b. Lakukan pemeriksaan : hematokrit, periksa darah perifer lengkap, trombosis,
kimia darah, glukosa, ureum, kreatinin, masa protrombin, atau masa tromboplastin
parsial, skrining toksikologi dan kadar alkohol bila perlu.
4. Lakukan CT Scan dengan jendela tulang : foto rontgen kepala tidak diperlukan jikaCT
Scan dilakukan, karena CT Scan ini lebih sensitif untuk mendeteksi fraktur. Pasien
dengan cedera kepala ringan, sedang atau berat, harus dievaluasi adanya :
a. Hematoma epidural
b. Darah dalam suaracnoid dan intraventrikel
c. Kontusio dan perdarahan jaringan otak
d. Edema serebri
e. Obliterasi sisterna perimesensefalik
f. Pergeseran garis tengah
g. Fraktur kranium, cairan dalam sinus dan pneumosefalus.
5. Pasien dengan cedera kepala ringan umumnya dapat dipulangkan ke rumah tanpa
perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan bila memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Hasil pemeriksaan neurologis (terutama status mini mental dan gaya berjalan)
dalam batas normal
b. Foto servikal jelas normal
c. Adanya orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasien selama 24 jam
pertama, dengan instruksi untuk segera kembali ke bagian gaeat darurat jika
timbul gejala perburukan.
Kriteria perawatan di rumah sakit :
 Adanya darah intrakranial atau fraktur yang tampak pada CT Scan
 Konfusi, agitasi, atau kesadaran menurun
 Adanya tanda atau gejala neurologis fokal
 Intoksikasi obat atau alcohol
 Adanya penyakit medis komorbid yang nyata
 Tidak adanya orang yang dapat dipercaya untuk mengamati pasien di rumah.
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada… tanggal…. Jam….

1. Identitas pasien
Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status, agama, alamat, no register, dan diagnosa
medis.
Penanggung jawab
Nama,umur, jenis kelamin, pekerjaan, status, agama, alamat, hubungan dengan pasien
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
b. Riwayat penyakit sekarang
c. Riwayat penyakit dahulu
d. Riwayat penyakit keluarga
3. Pengkajian primer
a. Airway
b. Breathing
c. Circulation
d. Disability
e. Exposure
4. Pengkajian sekunder
a. Aktifitas
b. Integritas ego
c. Eliminasi
d. Pola nutrisi
e. Hygiene
5. Pemeriksaan penunjang
B. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan b/ d oedema cerebri, meningkatnya aliran darah ke otak.


2. Gangguan rasa nyaman nyeri b/ d peningkatan tekanan intra kranial.
3. Gangguan mobilitas fisik b/ d spastisitas kontraktur, kerusakan saraf motorik.
4. Resiko tinggi infeksi b/ d jaringan trauma, kerusakan kulit kepala.
C. Intervensi

Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


Gangguan Gangguan perfusi jaringan - Pantau status neurologis Mengkaji adanya
perfusi jaringan tidak dapat diatasi setelah secara teratur. kecenderungan pada
b/ d oedema dilakukan tindakan tingkat kesadaran dan
cerebri, keperawatan selama 2x 24 jam potensial peningkatan TIK
meningkatnya dengan KH : dan bermanfaat dalam
aliran darah ke menentukan lokasi,
- Mampu mempertahankan
otak. perluasan dan
tingkat kesadaran
perkembangan kerusakan
- Fungsi sensori dan motorik
SSP
membaik.
Menentukan tingkat
kesadaran

Mengukur kesadaran
secara keseluruhan dan
kemampuan untuk
- Evaluasi kemampuan
berespon pada rangsangan
membuka mata (spontan,
eksternal.
rangsang nyeri).

Dikatakan sadar bila pasien


mampu meremas atau
melepas tangan pemeriksa.
- Kaji respon motorik
terhadap perintah yang
Peningkatan tekanan darah
sederhana.
sistemik yang diikuti
dengan penurunan tekanan
darah diastolik merupakan
- Pantau TTV dan catat tanda peningkatan TIK .
hasilnya.
Peningkatan ritme dan
disritmia merupakan tanda
adanya depresi atau trauma
batang otak pada pasien
yang tidak mempunyai
kelainan jantung
sebelumnya.

Nafas yang tidak teratur


menunjukan adanya
peningkatan TIK

Ungkapan keluarga yang


menyenangkan klien
tampak mempunyai efek
relaksasi pada beberapa
klien koma yang akan
menurunkan TIK

Pembatasan cairan
- Anjurkan orang terdekat diperlukan untuk
untuk berbicara dengan menurunkan Oedema
klien cerebral: meminimalkan
fluktuasi aliran vaskuler,
tekanan darah (TD) dan
TIK

- Kolaborasi pemberian
cairan sesuai indikasi
melalui IV dengan alat
kontrol

Gangguan rasa Rasa nyeri berkurang setelah - Teliti keluhan nyeri, Mengidentifikasi
nyaman nyeri b/ dilakukan tindakan catat intensitasnya, karakteristik nyeri
d peningkatan keperawatan selama 2 x 24 jam lokasinya dan lamanya. merupakan faktor yang
tekanan intra dengan KH : penting untuk menentukan
kranial. terapi yang cocok serta
- pasien mengatakan nyeri
berkurang. mengevaluasi keefektifan
- Pasien menunjukan skala dari terapi.
nyeri pada angka 3.
Pemahaman terhadap
- Ekspresi wajah klien rileks. - Catat kemungkinan
penyakit yang
patofisiologi yang khas, mendasarinya membantu
misalnya adanya infeksi, dalam memilih intervensi
trauma servikal. yang sesuai.

Meningkatkan rasa
- Berikan kompres dingin nyaman dengan
pada kepala menurunkan vasodilatasi.

Gangguan Pasien dapat melakukan - Periksa kembali Mengidentifikasi


mobilitas fisik mobilitas fisik setelah kemampuan dan keadaan kerusakan secara
b/d spastisitas mendapat perawatan dengan secara fungsional pada fungsional dan
kontraktur, KH : kerusakan yang terjadi. mempengaruhi pilihan
kerusakan saraf intervensi yang akan
- tidak adanya kontraktur,
motorik. dilakukan.
footdrop.
- Ada peningkatan kekuatan
Penggunaan sepatu tenis
dan fungsi bagian tubuh
- Pertahankan kesejajaran hak tinggi dapat membantu
yang sakit.
tubuh secara fungsional, mencegah footdrop,
- Mampu
seperti bokong, kaki, penggunaan bantal,
mendemonstrasikan
tangan. Pantau selama gulungan alas tidur dan
aktivitas yang
penempatan alat atau bantal pasir dapat
memungkinkan
tanda penekanan dari membantu mencegah
dilakukannya
alat tersebut. terjadinya abnormal pada
bokong.

Mempertahankan mobilitas
dan fungsi sendi/ posisi
normal ekstrimitas dan
- Berikan/ bantu untuk menurunkan terjadinya
latihan rentang gerak vena statis.

Proses penyembuhan yang


lambat seringakli
menyertai trauma kepala
dan pemulihan fisik
merupakan bagian yang
- Bantu pasien dalam
sangat penting.
program latihan dan
Keterlibatan pasien dalam
penggunaan alat
program latihan sangat
mobilisasi. Tingkatkan
penting untuk
aktivitas dan partisipasi
meningkatkan kerja sama
dalam merawat diri
atau keberhasilan program.
sendiri sesuai
kemampuan.

Resiko tinggi Tidak terjadi infeksi setelah - Berikan perawatan Cara pertama untuk
infeksi b/ d dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik, menghindari nosokomial
jaringan trauma, keperawatan selama 3x 24 jam pertahankan teknik cuci infeksi.
kerusakan kulit dengan KH : tangan yang baik.
kepala.
- Bebas tanda- tanda infeksi
Deteksi dini perkembangan
- Mencapai penyembuhan - Observasi daerah kulit
infeksi memungkinkan
luka tepat waktu yang mengalami
untuk melakukan tindakan
kerusakan, daerah yang
dengan segera dan
terpasang alat invasi,
pencegahan terhadap
catat karakteristik
komplikasi selanjutnya.
drainase dan adanya
inflamasi.
Menurunkan pemajanan
terhadap pembawa kuman
- Batasi pengunjung yang infeksi.
dapat menularkan infeksi
atau cegah pengunjung
yang mengalami infeksi
saluran nafas atas.
Terapi profilaktik dapat
digunakan pada pasien
- Kolaborasi pemberian
yang mengalami trauma,
atibiotik sesuai indikasi.
kebocoran LCS atau
setelah dilakukan
pembedahan untuk
menurunkan resiko
terjadinya infeksi
nosokomial.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, volume
3. Jakarta : EGC

Carpenito LD.1995.Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik. Jakarta :


EGC

Doenges, Marilynn E. et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perwatan Pasien, Edisi 3. (Alih bahasa
oleh : I Made Kariasa, dkk). Jakarta : EGC.

Iskandar. (2004). Memahami Aspek-aspek Penting Dalam Pengelolaan Penderita


Cedera Kepala. Jakarta : PT. Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia.

NANDA, 2007. Nursing Diagnoses : Definition and Clssification 2007 –


2008, NANDA

International, Philadephia.

Mansjoer, Arif. Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarata : Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran UI

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika

Smeltzer, Suzanna C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan
Suddart. (Alih bahasa Agung Waluyo), Edisi 8. Jakarta: EGC.