Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR FEMUR

Disusun oleh :
Brian Brammad Priambodo
P27220018230

POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
2019
I. KONSEP DASAR

A. Definisi

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total
maupun sebagian (Arif Muttaqin, 2011).

Fraktur Femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha
yang disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi tertentu, seperti
degenerasi tulang atau osteoporosis (Arif Muttaqin, 2011).

Jadi dapat disimpulkan fracture femur adalah hilangnya kuntinuitas tulang, baik yang
bersifat total maupun sebagian, pada bagian pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma
langsung maupun kondisi tertentu.

B. Etiologi

Penyebab fraktur femur antara lain:


a. Fraktur femur terbuka
Disebabkan oleh trauma langsung pad paha
b. Fraktur femur tertutup
Disebabkan oleh trauma langsung atau kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang
(osteoporosis) dan tumor atau keganasan tulang paha yang menyebabkan fraktur
patologis. (Arif Muttaqin, 2011)

C. Patofisiologi

Fraktur subtrochanter femur banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih dari 60
tahun dimna tulang sudah mengalami osteoporosis, trauma yang dialami oleh lansia biasanya
ringan (karena terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada penmderita muda ditemukan
riwayat mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur batang femur, femur supracondyler, fraktur
intercondyler , fraktur condyler femur banyak terjadi pada penderita laki-laki dewasa karena
kecelakaan ataupun jatuh dri ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi
karena jatuh waktu bermain.

D. Anatomi Fisiologi

a. Anatomi Tulang
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan menjadi tempat
untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan tubuh. Tulang dlh jaringan terstruktur
dengan baik dan mempunyai 5 fungsi utama:
1) Membentuk rangka badan
2) Sebagi pengumpil dan tempat melekat otot
3) Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alt dalam
(otot, sumsum tulang belakang, jantung, dan paru-paru)
4) Sebagai tempat mengatur dan deposit kalsium, fosfat, magnesium dan garam.
5) Ruang ditengah tulang tertentu sebagai organ yang mempunyai fungsi tambahan
lain, yaitu sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi sel darah merah, sel
darah putih, dan trombosit.

Secara garis besar, tulang dibagi menjadi 6;

1) Tulang panjang (long bone): femur, tibia, fibula, ulna, humerus.


2) Tulang pendek (short bone): tulang-tulang karpal
3) Tulang pipih (flat bone): tulang parietal, iga, skapula, dan pelvis.
4) Tulanmg tak beraturan (irregular bone): tulang vertebra
5) Tulang Sesmoid: tulang patella
6) Tulang Sutura: atap tengkorak

Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luarnya yang disebut dengan
korteks dan bagian luarnya dilapisi periosteum.

b. Fisiologi tulang
Tulang terdiri dari 3 jenis sel:
1) Osteoblast
Membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai
matriks tulang atau jaringan osteosid melalui suatu proses yangh disebut osifikasi.
2) Osteosit
Adalah sel tulang dewasa yng bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran
kimiawi melalui tulang yang padat.
3) Osteoklas
Adalh sel besar yang berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang
dapat di absorbsi. Sel ini menghasilkan enzim proteolitik, yang memecah matriks dan
beberapa asam yang melarutklan mineral tulang sehingga kalsium dan fosfat terlepas
ke dalam aliran darah. (Arif Muttaqin, 2008)
c. Os Femur
Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar yang terhubung dengan asetabulum
membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris. Disebelah atas dan bawah
kolumna femoris terdapat taju yang disebut trokanter mayor dan trokanter minor. Di
bagian ujung membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut
kondilus medialis dan kondilus lateralis. Di antara kedua kondilus ini terdapat lekukan
tempat letaknya tulang tempurung lutut (patela) yang disebut dengan fosa kondilus.
Os tibialis dan fibularis merupakan tulang pip yng terbesar sesudah tulang paha yang
membentuk persendian dengan os femur. Pda bagian ujungnya terdapat tonjolan yang
disebut maleolus lateralis atau mata kaki luar. Os tibia bentuknya lebih kecil, pada
pangklal melekat os fibula, pada bagian ujung membentuk persendian dengan tulang
pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os maleolus medialis. (Syaifuddin, 2012)

E. Klasifikasi

Dua tipe fraktur femur adalah sebagai berikut;


a. Fraktur interkapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul, dan melalui
kepala femur (fraktur kapital).
b. Fraktur ekstrakapsular
1) Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokanter femur yang lebih besar / lebih
kecil/ pada daerah intertrokanter.
2) Terjadi di bagian distal menuju leher femur, tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah
trokanter minor.

Klasifikasi fraktur femur:

a. Fraktur leher femur


Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada orang tua terutama wanita usia 60
tahun ke atas disertai tulang yang osteoporosis. Fraktur leher femur pada anak anak
jarang ditemukan fraktur ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak
perempuan dengan perbandingan 3:2. Insiden tersering pada usia 11-12 tahun.
b. Fraktur subtrokanter
Dapat terjadi pada semua usia, biasanya disebabkan trauma yang hebat. Pemeriksaan
dpat menunjukkan fraktur yang terjadi dibawah trokanter minor.
c. Fraktur intertrokanter femur
Pada beberapa keadaan, trauma yang mengenai daerah tulang femur. Fraktur daerah
troklear adalah semua fraktur yang terjadi antara trokanter mayor dan minor. Frkatur ini
bersifat ekstraartikular dan sering terjadi pada klien yang jatuh dan mengalami trauma
yang bersifat memuntir. Keretakan tulang terjadi antara trokanter mayor dan minor
tempat fragmen proksimal cenderung bergeser secara varus. Fraktur dapat bersifat
kominutif terutama pada korteks bagian posteomedial.
d. Fraktur diafisis femur
Dapat terjadi pada daerah femur pada setiap usia dan biasanya karena trauma hebat,
misalnya kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian.
e. Fraktur suprakondilar femur
Daerah suprakondilar adalah daerah antar batas proksimal kondilus femur dan batas
metafisis dengan diafisis femur. Trauma yang mengenai femur terjadi karena adanya
tekanan varus dan vagus yang disertai kekatan aksial dan putaran sehingga dapat
menyebabkan fraktur pada daerah ini. Pergeseran terjadi karena tarikan otot. (Arif
Muttaqin, 2011)

F. Pathway
G. Komplikasi

a. Fraktur leher femur


Komplikasi bergantung pada beberapa faktor. Komplikasi yang bersifat umum adalah
trombosis vena, emboli paru, pneumonias, dan dekubitus. Nekrosis avaskular terjadi
pada 30% klien fraktur femur yang disertai pergeseran dan 10% fraktur tanpa
pergeseran. Apabila lokasi fraktur lrbih ke proksimal, kemungklinan terjadi nekrosis
avaskular lebih besar.
b. Fraktur diafisis femur
1) Komplikasi dini
Komplikasi dini harus segera ditangani dengan serius olh perawat yang melaksanakan
asuhan keperawatan pada klien fraktur diafisis femur. Perawat dapat melakukan
pengenalan dini dan pengawasan yang optimal apabila telah mengenal konsep
anatomi, fisiologi, dan patofisioloigi patah tulang.
Komplikasi yang biasanya terjadi pada fraktur diafisis femur adalah sebagai berikut:
a) Syok. Terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walapun fraktur bersift tertutup.
b) Emboli lemak. Sering didapatkan pada penderita muda dengan fraktur femur.
Klien perlu menjalani pemeriksaan gas darah.
c) Trauma pembuluh darah besar. Ujung fragmen tulang menembus jaringan lunak
dan merusak arteri femoralis sehingga menmyebakan kontusi dan oklusi atau
terpotong sama sekali.
d) Trauma saraf. Trauma pada pembuluh darah akibat tusukan fragmen dapat disertai
kerusakan saraf yang berfariasi dari neuropraksia sampai ke aksonotemesis.
Trauma saraf dapat terjadi pada nervus iskiadikus atau pada cabangnya, yaitu
nervus tibialis dan nervus peroneus komunis.
e) Trombo emboli. Klien yag mengalami tirah baring lama, misalnya distraksi di
tempat tidur, dapat mengalami komplikasi trombo-emboli.
f) Infeksi. Infeksi terjadi pada fraktur terbuka akibat luka yang terkontaminasi.
Infeklsi dapat pula terjadi setelah dilakukan operasi.

H. Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik

(1) Sinar X
Melihat gambaran terakhir atau mendekati struktur fraktur
(2) Venogram
Menggambarkan arus vaskularisasi
(3) Konduksi saraf dan elektromiogram
Mendeteksi cidera saraf
(4) Angiografi
Berhubungan dengan pembuluh darah
(5) Antrotropi
Mendeteksi keterlibatan sendi
(6) Radiografi
Menentukan integritas tulang
(7) CT-Scan
Memperlihatkan fraktur atau mendeteksi struktur fraktur
Pemeriksaan laboratorium
LED meningkat bila kerusakan jaringan lemak luas, leukosit sebagai respon stress normal
setelah trauma, Hb dan HCT rendah akibat perdarahan.
I. Penatalaksanaan

a. Fraktur Femur Terbuka


Fraktur femur terbuka harus dinilai dengan cermat untuk mengetahui ada tidaknya
kehilangan kulit, kontaminasi luka, iskemia otot, cedera pada pembuluh darah dan saraf.
Intervensi tersebut meliputi:
1) Profilaksis antibiotik

2) Debridemen
Pembersihan luka dan debridemen harus dilakukan dengan sedikit mungkin
penundaan. Jika terdapat kematian jaringan yang mati dieklsisi dengan hati-hati. Luka
akibat penetrasi fragmen luka yang tajam juga perlu dibersihkan dan dieksisi, terapi
yang cukup dengan debridemen terbatas saja.

3) Stabilisasi
Dilakukan pemasangan fiksasi interna atau eksterna.

4) Penundaan tertutup
5) Penundaan rehabilitasi
b. Fraktur Femur Tertutup
Pengkajian ini diperlukan oleh perawat sebagai peran kolaboratif dalam melakukan
asuhan keperawatan. Denagn mengenal tindakan medis, perawat dapat mengenal
impliksi pada setiap tindakan medis yang dilakukan.
1) Fraktur trokanter dan sub trokanter femr, meliputi:
a) Pemasangan traksi tulang selama 6-7 minggu yang dilanjutkan dengan gips
pinggul selama 7 minggu merupakn alternaltif pelaksanaan pada klien usia
muda.
b) Reduksi terbuka dan fiksasi interna merupakan pengobatan pilihan dengan
memergunakan plate dan screw.
2) Fraktur diafisis femur, meliputi:
a) Terapi konserfativ
b) Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi definitif
untuk mengurangi spasme otot.
c) Traksi tu;lang berimbang denmgan bagian pearson pada sendi lutut. Indikasi
traksi utama adalah faraktur yang bersifat kominutif dan segmental.
d) Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah union fraktur secara klinis
3) Terapi Operasi
a) Pemasangan plate dan screw pada fraktur proksimal diafisis atau distal femur
b) Mempengaruhi k nail, AO nail, atau jenis lain, baik dengan operasi tertutup
maupun terbuka. Indikasi K nail, AO nail terutama adalah farktur diafisis.
c) Fiksassi eksterna terutama pada fraktur segmental, fraktur kominutif, infected
pseudoarthrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang
hebat.
4) Fraktur suprakondilar femur, meliputi:
a) Traklsi berimbang dengan menggunakan bidai Thomas dan penahan lutut
Pearson, cast bracing, dan spika panggul.
b) Terapi operatif dilakukan pada fraktur yang tidak dapat direduksi secara
konservatif. Terapi dilakukan dengan mempergunakan nail-phorc dare screw
dengan berbagai tipe yang tersedia. (Arif Muttaqin, 2011)
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada… tanggal…. Jam….

1. Identitas pasien
1. Pengkajian
a. Anamnesis
1) Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahsa yang digunkan,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, nomor
register, tanggal dan jam masuk rumah sakit, dan diagnosis medis.
Pada umumnya, keluhan utama pada kasus fraktur femur adalah rasa nyeri
yang hebat. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap mengenai rasa nyeri
klien, perawat mengunakan OPQRSTUV.
O (onset)
P (Provoking Incident): hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri adalah
trauma bagian pada
Q (quality of pain): klien merasakan nyeri yang bersifat menusuk.
R (Region, Radiation, Relief): nyeri yang terjadi di bagian paha yang
mengalami patah tulang. Nyeri dapt reda dengan imobilisasi atau istirahat.
S (Scale of pain): Secara subyektif, nyeri yang dirasakan klien antara 2-4
pada skala pengukuran 0-4
T (Treatment)
U (Understanding)
V (Value)
2) Riwayat penyakit sekarang
Kaji kronologi terjadinya trauma yang menyebabkan patah tulang paha,
pertolongan apa yang telah didapatkan, dan apakah sudah berobt ke dukun
patah. Dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaaan, perawat dapat
mengetahui luka kecelakaan yang lain.

3) Riwayat penyakit dahulu


Penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget menybabkan
fraktur patologis sehingga tulang sulit untuk menyambung. Selain itu, klien
diabetes dengan luka di kaki sangat beresiko terjadi osteomielitis akut dan
kronis dan penyaklit diabetes melitus menghambat proses penyembuhan
tulang.
4) Riwayat penyaklit keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan patah tulang paha adalah faktor
predispossisi terjadinya fraktur, seperti osteoporosis yang sering terjadi pada
beberapa keturunan dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara
genetik.
5) Riwayat psikospiritual
Kaji respon emosis klien terhadap penyakit yang dideritanya, peran klien
dalam keluarga, masyarakat, serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-hari, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status
gheneral) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat
(lokal)
1) Keadaan umum
Keadaan baik dan buruknya klien. Tanda-tanda gejala yang perlu dicatat
adalah kesadaran diri pasien (apatis, sopor, koma, gelisah, komposmetis yang
bergantung pada keadaan klien), kesakitan atau keadaaan penyakit (akut,
kronis, berat, ringan, sedang, dan pada kasus fraktur biasanya akut) tanda
vital tidak nmormal karena ada gangguan lokal baik fungsi maupun bentuk.
2) B1 (Breathing)
Pada pemeriksaan sistem pernafasan, didapatkan bahwa klien fraktur femur
tidak mengalami kelainaan pernafasan. Pada palpasi thorak, didapatkan taktil
fremitus seimbang kanan dan kiri. Pada auskultasi tidak terdapat suara
tambahan.
3) B2 (Blood)

Inspeksi tidak ada iktus jantung, palpasi nadi meningkat iktus tidak teraba,
auskultasui suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur.

4) B3 (Brain)
a) Tingkat kesadaran biasanya komposmentis.
 Kepala: Tidak ada gangguan, yaitu normosefalik, simetris., tidak ada
penonjolan, tidak ada sakit kepala.
 Leher: Tidak ada gangguan, simetris, tidak ada penonjolan, reflek
menelan ada.
 Wajah : Wajah terlihat menahan sakit dan bagian wajah yang lain tidak
mengalami perubahan fungsi dan bentuk. Wjah simetris, tidak ada lesi
dan edema.
 Mata: Tidak ada gangguan, konjungtiva tidak anemis (pada klien
dengan patah tulang tertutup tidak terjadi perdarahan). Klien yang
mengalami fraktur femur terbuka biasanya mengfalami perdarahan
sehingga konjungtiva nya anemis.
 Telinga : Tes bisik dan weber msih dalam keadaan normal. Tidak ada
lesi dan nyeri tekan.
 Hidung: Tidak ada deformitas, tidak ada pernafasan cuping hidung.
 Mulut dan Faring: Tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi
perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
b) Pemeriksaan fungsi serebral
Status mental, observasi penampilan, dan tingkah laku klien. Biasanya
status mental tidak mengalami perubahan.
c) Pemeriksaan saraf kranial
 Saraf I: fungsi pendiuman tidak ada gangguan.
 Saraf II: ketajaman penglihatan normal
 Saraf III, IV, VI: tidak ada gangguan mengangkat kelopak mata, pupil
isokor.
 Saraf V: tidak mengal;ami paralisis pada otot wajah dan reflek kornea
tidak ada kelainan.
 Saraf VII: persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah simetris.
 Saraf VIII: tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli persepsi.
 Saraf IX dan X: kemampuan menelan baik
 Saraf XI: tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
 Saraf XII: ;idah simeteris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada
faskulasi. Indra pengecapan normal.
d) Pemeriksaan refleks
Biasnya tidak ditemukan reflek patologis.
d) Pemeriksaan sensori
Daya raba klien fraktur femur berkurang terutama pada bagian distal
fraktur, sedangkan indra yang lain dan kognitifnya tidak menga;lami
gangguan. Selian itu, timbul nyeri akibat fraktur.
5) B4 (Bladder)
Kaji urine yang meliputi wana, jumlah dan karakteristik urine, termasuk berat
jenis urine. Biasanya klien fraktur femur tidak mengalami gangguan ini.
6) B5 (Bowel)
Inspeksi abdomen: bentuk datar, simetris, tidak ada hernia. Palpasi: turgor baik,
tidak ada defans muskular dan hepar tidk teraba. Perkusi: suiara timpani, ada
pantulan gelombang cairan. Auskultasi peristaltik normal. Inguinal,genital:
hernia tidak teraba, tidak ada pembesaran limfe dan tidak ada kesulitan BAB.

7) B6 (Bone)
Adanmya fraktur femur akan mengganggu secara lokal, baik fungsi motorik,
sensorik maupun peredaran darah.
8) LOOK
Pada sistem integumen terdapat eritema, suhu disekitar daerah trauma
meningkat, bengkak, edema dan nyeri tekan. Perhatikan adanya
pembengklakan yang tidak biasa (abnormal) dan deformitas. Perhatikan adanya
sindrom kompartemen pada bagian distal fraktur femur. Apabila terjadi fraktur
terbuka, perawat dapat menemukan adanya tanda-tanda trauma jaringan lunak
sam[pai kerusakann intergritas kulit. Fraktur obli, spiral atau bergeser
mengakibatkan pemendekan batang femur. Ada tanmda cedera dan
kemungkinan keterlibatan berkas neurovaskular (saraf dan pembuluh darah)
paha, sepertoi bengkak atau edema. Ketidakmampuan menggerakkan tungkai.
9) FEEL
Kaji adnya nyeri tekan dan krpitasi pada daerah paha.
10) MOVE
Pemeriksaan dengan menggerakkan eksteremitas apakh terdapat keluhan nyeri
pada pergerakan. Dilakukan pencatatan rentang gerak. Dilakukan pemeriksaan
gerak aktif dan pasif. Berdasar pemeriksaan didapat adanya gangguan /
keterbatasan gerak tungkai, ketidakmampuan menggerakkan tungkai,
penurunan kekuatan otot.

B. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.


2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal,
kerusakan integritas struktur tulang, penurunan kekuatan otot.
3. Defisit perawatan diri (mandi, eliminasi) berhubungan dengan gangguan
muskuloskeletal, hambatan mobilitas.
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tonjolan tulang.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pemasangan fiksasi interna.
6. Ansietas berhubungan dengan stres, krisis situasional.

C. Intervensi
No Diagnosa Rencana Perawatan
Keperawatan Nursing Out Come (NOC) Nursing Intervention Classification
1 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan a. Kaji nyeri pasien dengan
berhubungan keperawatan selama 3x24 pengkajian nyeri OPQRSTUV
b. Kendalikan faktor lingkungan yang
dengan agen jam diharapkan nyeri
dapat mempengaruhi respon pasien
cedera fisik. hilang/ berkurang dengan
terhadap ketidaknyamanan (misal
kriteria hasil:
a. Melaporkan nyeri suhu ruangan, pencahayaan, dan
pada skala 0-1 kegaduhan)
b. TTV dalam batas c. Berikan teknik relaksasi
d. Ajarkan manajemen nyeri (misal
normal
c. Ekspresi wajah nafas dalam)
e. Kolaborasi dengan dokter untuk
tidak menahan
pemberian analgetik.
nyeri
2 Hambatan Setelah dilakukan tindakan a. Kaji mobilitas yang ada dan
mobilitas fisik keperawatan selama 3x24 observasi terhadap peningkatan
berhubungan jam diharapkan pasien kerusakan
b. Pantau kulit bagian distal setiap
dengan gangguan mampu melakukan
hari terhadap adanya iritasi,
muskuloskeletal, aktifitas fisik sesuai
kemerahan.
kerusakan dengan kemampuannya
c. Ubah posisi pasien yang
integritas struktur dengan kriteria hasil:
imobilisasi minimal setiap 2 jam.
tulang, penurunan a. Mampu melakukan d. Ajarkan klien untuk melakukan
kekuatan otot. perpindahan gerak aktif pada ekstremitas yang
b. Meminta bantuan tidak sakit.
e. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi
untuk aktifitas
untuk latihan fisik klien.
mobilisasi.
c. Tidak terjadi
kontraktur
3 Defisit perawatan Setelah dilakukan tindakan a. Kaji kemampuan penggunaa alat
diri (mandi, keperawatan selama 3x24 bantu
b. Kaji kondisi kulit saat mandi
eliminasi) jam diharapkan pasien
c. Berikan bantuan sampai pasien
berhubungan mengalami peningkatan
mampu secara mandiri untuk
dengan gangguan perilaku dalam merawat
melakuakn perawatan diri
muskuloskeletal, diri dengan kriteria hasil: d. Letakkan sabun, handuk, peralatan
a. Klien mampu
hambatan mandi, peralata BAB/BAK, didekat
melakukan aktifitas
mobilitas. klien.
perawatan e. Ajarkan pasien atau keluarga untuk
dirisesuai denmgan menggunakan metode alternaltif
tingkat dalam mandi, hygiene mulut,
kemampuan BAB/BAK.
b. Mengungkapkan f. Kolaborasi dengan dokter untuk
secara verbal pemberian supositoria kalau terjadi
kepuasan tentang konstipasi
kebersihantubuh,
hygiene mulut.
4 Kerusakan Setelah dilakukan tindakan a. Kaji adanya faktor resiko yang
integritas kulit keperawatan selama 3x24 menyebabkan kerusakan integritas
berhubungan jam diharapkan tidak kulit
b. Observasi kulit setiap hari dan catat
dengan tonjolan terjadi kerusakan integritas
sirkulasi dan sensori serta
tulang. kulit secara luas dengan
perubahan yang terjadi
kriteria hasil:
c. Berikan bantalan pada ujung dan
a. Nyeri lokal
sambungan traksi
ekstremitas tidak d. Jika memungkinkan ubah posisi 1-
terjadi 2 jam secara rutin
e. Konsultasikan ka ahli gizi untuk
b. Menunjukkan
maknan tinggi protein untuk
rutinitas perawatan
membantu penmyembuhan luka
kulit yang efektif.

5 Ansietas Setelah dilakukan tindakan a. Kaji dan dokumentasikan tingkat


berhubungan keperawatan selama 3x24 kecemasan klien
b. Kaji cara pasien untuk mengatasi
dengan stres, krisis jam diharapkan tingkat
kecemasan
situasional. kecemasan berkuranmg
c. Sediakan informasi yang aktual
dengan kriteria hasil:
tentang diagnosa medis dan
a. Tidak
prognsis
menunjukkan
d. Ajarkan ke pasien tentang
perilaku agresif
peggunaan teknik relaksasi
b. Melaporkan tidak
ada manifestasi
kecemasan secara
fisik.
DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Muskuloskeletal. Jakarta:EGC

Arif Muttaqin. 2011. Buku Saku Gangguan Mulskuloskeletal Aplikasi pada Praktik Klinik
Keperawatan. Jakarta:EGC.

Brunner, Suddarth. 2011. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol 3. Jakarta:
EGC.

Mansjoer, Arif. Dkk. 2010. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarata : Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran UI

Muttaqin, Arif. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta : Salemba Medika

NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanna C. (2011). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan
Suddart. (Alih bahasa Agung Waluyo), Edisi 8. Jakarta: EGC.

Syaifuddin. 2012. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:EGC.