Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PARASITOLOGI

MIKOLOGI PANGAN DAN MIKOLOGI AIR

Dosen Pembimbing:
Dr.Dra. Syarifah Miftahul El Jannah T.M.Biomed
Dr. Tjipto Rini, Mkes
Desembra Lisa, MPd

Disusun Oleh:
Lulu Octavianingsih (P21335118034)
Novi Febriani (P21335118045)
Nurafni Fatimah (P21335118047)
Pasca Tri Hasnowo (P21335118049)
Sinta Nur Azizah (P21335118063)

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
Kata Pengantar

Puja dan puji syukur saya haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah
memberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga saya dapat menyelesaikan tugas
matakuliah parasitologi mengenai “MIKOLOGI PANGAN DAN AIR” dengan baik tanpa
ada halangan yang berarti. Tugas ini telah diselesaikan dengan maksimal berkat kerjasama
dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami sampaikan banyak terima kasih
kepada kedua Orang Tua, Dosen, Teman-teman, dan segenap pihak yang telah berkontribusi
secara maksimal dalam penyelesaian tugas ini.
Di luar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih
banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat
maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati, Kami selaku penulis menerima
segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga makalah ini dapat menambah khazanah
ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk masyarakat luas.

Jakarta, Februari 2019

Penulis,
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................................................ 2
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 3
MIKOLOGI PANGAN ........................................................................................................................... 4
A. Pengertian Mikologi Pangan .......................................................................................................... 4
B. Jenis Mikologi Pangan ................................................................................................................... 4
1. Mikologi pangan yang menguntungkan ...................................................................................... 4
2. Mikologi Pangan yang Merugikan ...................................................................................... 9
C. CARA PENGENDALIAN ........................................................................................................... 12
D. PEMERIKSAAN PADA SEMPEL MAKANAN ....................................................................... 13
MIKOLOGI AIR .................................................................................................................................. 14
1. Saprolegnia ............................................................................................................................... 14
2. Achyla Sp. ................................................................................................................................. 16
3. Aphanomyces astaci.................................................................................................................. 17
4. Ichthyosporidium hoferi............................................................................................................ 17
5. Rhinosporidium Seeberi............................................................................................................ 19
6. Loboa Loboi .............................................................................................................................. 19
7. Trichophyton ............................................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 22
MIKOLOGI PANGAN
A. Pengertian Mikologi Pangan
Mikologi Pangan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang jamur yang
mempunyai peran yang merugikan maupun menguntungkan pada bidang pangan. Mikologi
pangan yang menguntungkan dapat ditemukan dalam berbagai bioteknologi di bidang pangan
seperti jamur yang berada dalam tempe, oncom, dan kecap. Sedangkan ada beberapa
mikologi pangan yang bersifat parasit atau merugikan yang bisa kita lihat pada roti yang
disimpan tidak benar sering berjamur sehingga tidak layak untuk dimakan.

B. Jenis Mikologi Pangan

1. Mikologi pangan yang menguntungkan

1. Aspergillus sp.

1.1.Definisi.
Aspergillus adalah suatu jamur yang termasuk dalam kelas Ascomycetes yang dapat
ditemukan dimana–mana di alam ini. Ia tumbuh sebagai saprofit pada tumbuh-
tumbuhan yang membusuk dan terdapat pula pada tanah, debu organik, makanan dan
merupakan kontaminan yang lazim ditemukan di rumah sakit dan Laboratorium.
Aspergillus adalah jamur yang membentuk filamen-filamen panjang bercabang, dan
dalam media biakan membentuk miselia dan konidiospora. Aspergillus berkembang
biak dengan pembentukan hifa atau tunas dan menghasilkan konidiofora pembentuk
spora. Sporanya tersebar bebas di udara terbuka sehingga inhalasinya tidak dapat
dihindarkan dan masuk melalui saluran pernapasan ke dalam paru.(Tarigan, 1991)
1.2.Ciri-ciri.
Cici–ciri Aspergillus adalah mempunyai hifa berseptat dan miselium bercabang,
sedangkan hifa yang muncul diatas permukaan merupakan hifa fertil, koloninya
berkelompok, konidiofora berseptat atau nonseptat yang muncul dari sel kaki, pada
ujung hifa muncul sebuah gelembung, keluar dari gelembung ini muncul sterigma,
pada sterigma muncul konidium–konidium yang tersusun berurutan mirip bentuk
untaian mutiara, konidium–konidium ini berwarna (hitam, coklat, kuning tua, hijau)
yang memberi warna tertentu pada jamur. (Schlegel, 1994) Secara umum ciri-cirinya
adalah sebagai berikut.
 Koloninya berwarna kuning, abu-abu atau coklat.
 Berbentuk rantai seperti kuas/bergerombol bulat.
 Organisme multiseluler.
 Membentuk konidia.

1.3. Taksonomi
Kingdom : Myceteae
Divisi : Amastigomycota
Kelas : Ascomycetes
Ordo : Eurotiales
Famili : Euroticeae
Genus : Aspergillus
Spesies : Aspergillus fumigatu, Aspergillus flavus, Aspergillus clavatus,
Aspergillus nidulans, Aspergillus niger, Aspergillus oryzae, Aspergillus yermus, dan
Aspergillus wentii

1.4. Habitat
Ia tumbuh sebagai saprofit pada tumbuh-tumbuhan yang membusuk dan terdapat pula
pada tanah, debu organik, makanan dan merupakan kontaminan yang lazim
ditemukan di rumah sakit dan Laboratorium.

1.5. Morfologi
 Memiliki konidia sebagai alat perkembang biakan
 Memiliki konidiofor yaitu hifa yang tumbuh tegak pada permukaan
substrat.
 Stolon adalah hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat

1.6. Anatomi
 Memiliki dinding sel yang kemudian akan membentuk askus spora.
 Memiliki sekat di dalam setiap hifa yang berfungsi untuk menghubungkan
hifa yang satu dengan yang lain.

1.7. Reproduksi
 Vegetatif dengan cara konidia (spora besar) yang membesar dan
membentuk miselia haploid baru.
 Generatif pada miselia

1.8. Peranan
 Digunakan dalm pembuatan kecap dan tauco.
 digunakan dalm pembuatan minuman beralkohol.

1. Mucor

2.1.Definisi
Mucor adalah genus dari sekitar 3000 jenis cetakan umumnya ditemukan di tanah ,
sistem pencernaan, tanaman permukaan, dan busuk materi sayuran. Mucor merupakan
devisi Zygomycota, kelas Zygomycetes, ordo Mucorales, Keluarga Mucoraceae,
Genus Mucor Frasen.
2.2. Ciri – ciri
Ciri-ciri spesifik Mucor
 Hifa nonseptat
 Sporangiospora tumbuh pada seluruh bagian miselium, bentuk sederhana dan
bercabang.
 Kolumela berbentuk bulat, silinder atau seperti buah advokat.
 Spora halus dan teratur.
 Suspensor zigospora sama besar
 Tidak berbentuk stolon, rizoid sporangiola (sporangia kecil yang mengandung
beberapa spora).

2.3. Reproduksi
Zygospores dari Mucorales Struktur ini merupakan reproduksi spora seksual beberapa
genera Mucorales. Mereka biasanya gelap, kasar, 1-bersel, dan terhubung ke filamen
oleh sel pendek yang disebut suspensors. Mereka jarang terjadi selain dari struktur
berbuah aseksual dan tidak biasanya digunakan secara eksklusif untuk tujuan
identifikasi (Zycha dan Siepmann: 1970 ) Selama reproduksi aseksual, tegak
sporangiophores hyphal terbentuk.. Ujung sporangiophore membengkak untuk
membentuk sporangium bulat yang berisi uninukleat, sporangiospores haploid.
Perpanjangan sporangiophore yang disebut columella menjorok ke dalam sporangium
itu. Dinding sporangium mudah pecah untuk melepaskan spora, yang berkecambah
siap untuk membentuk miselium baru pada substrat yang sesuai. sedangkan selama
reproduksi seksual, strain yang kompatibel bentuk pendek, gametangia disebut hifa
khusus. Pada titik di mana dua gametangia sekering komplementer, sebuah
zygosporangium, berdinding tebal bola berkembang. zygosporangium ini biasanya
berisi zygospore tunggal. Nuklir karyogami dan meiosis (rekombinasi seksual) terjadi
dalam zygospores, yang dianggap tahan lama dan tahan terhadap kondisi buruk.
Mereka mungkin berkecambah membentuk hifa atau sporangium termasuk. Mucor
baik homothallic (self-kompatibel) dan heterotolik spesies. (Laurence B.
Molloy:1999).
2.4. Taksonomi

Kingdom : Fungi

Divisio : Zygomycota

Class : Zygomycetes

Order : Mucorals

Familia : Mucoraceae

Genus : Mucor

Species : Mucor sp.

2. Rhizopus sp.

3.1.Definisi
Rhizopus adalah genus fungi saprofit yang umum pada tanaman dan parasit yang
terspesialisasi pada hewan. Mereka ditemukan di berbagai substrat organik, termasuk
buah dan sayuran matang, jeli, sirup, kulit, roti, kacang tanah, dan tembakau.
3.2.Taksonomi
Kingdom : Fungi
Divisio : Zygomycota
Class : Zygomycetes
Ordo : Mucorales
Familia : Mucoraceae
Genus : Rhizopus
Species : Rhizopus oryzae

3.3. Klasifikasi
Berdasarkan struktur tubuh dan reproduksinya rhizopus termasuk fungi pada devisi
Zygomycota. Struktur Tubuh Rhizopus mempunyai tiga tipe hifa, yaitu:
 Stolon, hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat (misalnya roti)
 Rizoid, hifa yang menembus substrat dan berfungsi sebagai jangkar untuk
menyerap makanan
 Sporangiofor, hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat dan memiliki
sporangium globuler di ujungnya

3.4.Ciri-ciri
 Habitat di darat, di tanah yang lembab atau sisa organisme mati
 Hifanya bercabang banyak tidak bersekat saat masih muda dan bersekat setelah
menjadi tua
 Miseliumnya mempunyai tiga tipe hifa yaitu : stolon (hifa yang membentuk
jaringan di permukaan substrat seperti roti), rhizoid (hifa yang mnembus substrat
dan berfungsi untuk menyerap makanan), sporangiofor (tangkai sporangium)
 Berkembangbiak dengan cara vegetatif yaitu membuat sporangium yang
menghasilkan spora. Generatif yaitu dengan konjugasi dua hifa (-) dan hifa (+).

3.5. Cara Reproduksi

Cara Reproduksi Rhizopus bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi


secara aseksual adalah dengan spora nonmotil yang dihasilkan oleh sporangium,
sedangkan reproduksi seksualnya dengan konjugasi. Reproduksi vegetatif dengan cara
membentuk spora tak berflagel (aplanospora) dan generatif dengan cara
gametangiogami dari dua hifa yang kompatibel/konjugasi dengan menghasilkan
zigospora.

2. Mikologi Pangan yang Merugikan


1. Aspergillus flavus
1.1. Definisi
Aspergillus flavus adalah salah satu jenis jamur yang sering mengkontaminasi
makanan. Jamur jenis ini dapat menyebabkan infeksi Aspergillosis dan juga
merupakan jamur yang paling banyak menghasilkan aflatoksin. Aflatoksin adalah
jenis toksin yang bersifat karsinogenik.

1.2.Klasifikasi
Kingdom Fungi

Division Ascomycota

Class Eurotiomycetes

Order Eurotiales

Family Trichocomaceae

Genus Aspergillus

Species Aspergillus flavus

1.3. Ciri-ciri
Aspergillus flavus memiliki konidiofor yang panjang (400-800 μm) dan relatif
kasar, bentuk kepala konidial bervariasi dari bentuk kolom, radial, dan bentuk bola,
hifa berseptum,dan koloni kompak. Koloni dari Aspergillus flavus umumnya tumbuh
dengan cepat dan mencapai diameter 6-7 cm dalam 10-14 hari Kapang ini memiliki
warna permulaan kuning yang akan berubah menjadi kuningkehijauan atau coklat
dengan warna inversi coklat keemasan atau tidak berwarna,sedangkan koloni yang
sudah tua memiliki warna hijau tua. Aspergillus flavus tersebar luas di dunia.

Aspergillus flavus merupakan kapang yang menghasilkan toksin atau racun


berupa aflatoksin. Aflatoksin adalah senyawa racun/toksin yang dihasilkan oleh
metabolit sekunder kapang/jamur Aspergillus flavus dan A.parasiticus. Aflatoksi
merupakan segolongan mikotoksin (racun/toksin yang berasal dari
fungi/kapang/jamur)yang sangat mematikan dan karsinogenik (pemicu kanker) bagi
manusia dan hewan. Kapang ini biasanya ditemukan pada bahan pangan/pakan yang
mengalami proses pelapukan antara biji kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah, dan
bunga matahari), rempah-rempah (seperti ketumbar, lada, jahe, serta kunyit) dan
serealia (seperti padi, gandum, sorgum dan jagung).

1.4. Morfologi
Jamur dalam grup ini sering menyebabkan kerusakan pada makanan. Konidia grup ini
berwarna kuning sampai hijau dan mungkin membentuk skerotia. Konidiofora tidak
berwarna, kasar bagian atas agak bulat sampai kolumner, vesikel agak bulat sampai
berbentuk batang pada kepala yang kecil, sedangkan pada kepala yang besar bentuk
globulosa. Konidia kasar dengan bermacam – macam warna.

1.5. Reproduksi
Secara umum perkembangbiakan dari divisi ascomycotina yaitu terdapat dua cara :
Secara vegetatif, Dengan cara kalmidospora (spora berdinding tebal), fragmentasi
(pemisahan sebagian cabang dari miselium yang selanjutnya tumbuh menjadi individu
baru), tunas/kuncup (budding) yaitu pada Saccharomyces. Secara generatif, Dengan
menghasilkan spora yang dibentuk di dalam askus. Askus-askus itu berkumpul dalam
badan yang disebut askokarp.

1.6. Gangguan Kesehatan


 Keracunan akut (aflatoksikosis), dengan gejala mual, muntah, kerusakan hati
hingga kematian pada kasus serius
 Perkembangan anak dan pertumbuhan janin terganggu
 Metabolisme protein terganggu
 Kekebalan tubuh menurun
 Kanker hati (Hepatocellular carcinoma (HCC)

2. Geotrichum candidum
2.1. Definisi
Geotrichum spesies yang diketahui beberapa cepat melalui proses yang dikenal
sebagai arthrospores dan dalam kebanyakan kasus, hal itu mempengaruhi manusia
jika tertelan melalui produk-produk makanan yang mengandung spesies seperti susu,
produk susu, dan beberapa kelompok tertentu sereal, yang berisi spesies . Ada
beragam versi melaporkan apakah, Geotrichum negatif mempengaruhi manusia
dengan sebagian dari mereka mengelompokkan sebagai bagian dari flora manusia,
dan dengan demikian, tidak ada didokumentasikan fakta yang membuktikan hal itu
mempengaruhi orang-orang negatif.

2.2.Ciri-ciri
 Merupakan fungi yang menyerupai khamir
 Berwarna putih, kuning, orange, atau merah.
 Sering tumbuh pada produk susu membentuk koloni berwarna putih kekuningan.
 Hifanya septat, dani biasanya bercabang.
 Spora aseksualnya adalah artospora (oidia) berbentuk silinder jika berasal dari
hifa di bawah permukaan atau berbentuk oval jika berasal dari hifa aerial (di atas)
permukaan

2.4. Klasifikasi
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Subphylum : Pezizomycotina
Class : Ascomycetes
Order : Sordariales
Family : Sordariaceae

C. CARA PENGENDALIAN

1. Menghambat pertumbuhan dan inaktivasi Usaha ini dapat dilakukan dengan beberapa
cara :
a) menggunakan fungisida pada saat sebelum panen, untuk bijian dan kacangan
dilakukan proses pengeringan yang baik dan menjaga kondisi dalam
penyimpanan tetap kering.
b) Pada buah dilakukan pembungkusan dengan kertas lilin yang mengandung
fungisida seperti biphenyl
c) Penggunaan pengawet asam organic efektif untuk menghambat pertumbuhan
jamur pada beberapa produk jam, roti, dan beberapa produk berbentuk pasta.
d) Perlakuan pasteurisasi cukup untuk inaktivasi sebagian besar jenis jamur, dan
harus segera dikemas yang baik untuk mencegah terjadinya rekontaminasi.
2. Pencegahan Kontaminasi Selama Proses Produksi
Pencegahan kontaminasi jamur pada proses produksi hanya dapat dilakukan dengan
membuat rencana pelaksanaan HACCP yang baik, diantaranya :
a) Pengendalian kondisi gudang penyimpanan bahan mentah sangat penting
untuk menghambat pertumbuhan jamur pencemar
b) pemeriksaan terhadap bahan mentah sangat penting mengingat prevalensi
cemaran yang cukup tinggi
c) Suhu dan lama waktu pemanasan merupakan kriteria kontrol untuk
mengeliminir jamur pada bahan mentah
d) Pengendalian yang ketat terhadap ruangan proses perlu dilakukan karena
udara merupakan media utama terjadinya bahaya rekontaminasi oleh spora
jamur.
e) Sterilisasi udara untuk tujuan aerasi memberikan kontribusi pada
kemungkinan terjadinya cemaran pada proses fermentasi

D. PEMERIKSAAN PADA SEMPEL MAKANAN


1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan seperti roti yang berjamur ,tempe,oncom
.
2. Bersihkan kaca benda dengn alkohol 70% lalu panaskan diatas api lampu spirtus
untuk menghilangkan lemaknya.
3. Letakan 1-2 tetes larutan LPCB ( Lacto Phenol Catton Blue) diatas kaca benda tadi
ratakan.
4. Siapkan Ose berbentuk cangkul ,panaskan dengan api lampu spirtus setelah itu
dinginkan.
5. Ambillah jamur yang ada pada roti, tempe , oncom dengan mencangkulnya pelan-
pelan pakai ose yang sudah dingin tadi ratakan dan tutup dengan cover glass.
6. Periksalah dengan pembesaran 10 Xdan 40 X amati dan gambar bentuk jamurnya.
MIKOLOGI AIR
Mikologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang fungi (jamur) atau
sering disebut juga cendawan. Kajian dalam mikologi antara lain meliputi taksonomi jamur,
fisiologi jamur, bioteknologi jamur, budidaya jamur. Mikologi sangat besar pengaruhnya
terhadap fitopatologi karena banyak penyakit tumbuhan yang disebabkan oleh jamur;
sehingga pernah fitopatologi disebut sebagai mikologi terapan. Pada kali ini kami akan
membahas mengenai jamur-jamur yang terdapat di air.

1. Saprolegnia
Kebanyakan jamur-jamur yang masuk ordo ini adalah penghuni air bersih. Talus
berupa hifa bercabang-cabang sampai merupakan miselium yang cukup lebat. Koloni
mudah dilihat tanpa menggunakan mikroskop. Dinding sel terdiri atas selulosa. Hifa
pada umumnya bersekat-sekat, paling sedikit yang berbatasan dengan alat reproduksi
yang berupa zoosporangium. Zoosporangium ini terdapat pada ujung hifa, dan
diameternya agak lebih besar sedikit daripada hifa biasa, berwarna coklat muda jika
dilihat dari bawah mikroskop. Pada saprolegniaceae terdapat dua macam zoospore.
Zoospore primer berbentuk seperti buah alpukat dengan dua flagel pada ujung yang
runcing. Zoospore sekunder berbentuk seperti ginjal dan pada cekungan lambungnya
terdapat dua flagel yang ujungnya berlawanan arah. Jamur yang mempunyai satu macam
zoospore saja disebut jamur monomorfik sedang yang dua dimorfik.
Saprolegnia merupakan cendawan berfilamen, organisme tidak bersekat (senositik)
yang hidup pada habitat air tawar dan untuk mendapatkan makanan mereka hidup secara
saprofit atau parasit. Saprolegnia atau dikenal juga sebagai “ water molds “ dapat
menyerang ikan maupun telur ikan. Mereka umumnya dijumpai pada air tawar maupun
air payau. Jamur ini dapat tumbuh pada selang suhu 0 0 C- 350 C , dengan selang
pertumbuhan optimal 15-300 C. pada umumnya Saprolegnia akan menyerang bagian
tubuh ikan yang terluka, dan selanjutnya dapat pula menyeabar pada jaringan sehat
lainnya. Serangan Saprolegnia biasanya berkaitan dengan kondisi kualitas air yang
buruk, seperti sirkulasi air rendah, kadar oksigen terlarut rendah atau kadar ammonia
tinggi, dan kadar bahan organik tinggi.
Bangkai ulat air yg ditumbuhi Saprolegnia Ikan koi ditumbuhi Saprolegni

Klasifikasi Saprolegnia

Klasifikasi Saprolegnia menurut Scott (1961) dalam Mulyani (2006) adalah sebagai
berikut : Filum : Phycomycetes

Kelas : Oomycetes

Ordo : Saprolegnialis

Famili : Saprolegniaceae

Genus : Saprolegnia

Spesies : Saprolegnia sp

Ciri lain yang dimiliki oleh Saprolegnia adalah memiliki sporangium yang berdiameter
100 mikron, lebih lebar dari hifanya. Beberapa contoh yang bersifat patogen pada ikan
adalah Saprolegnia parasitica (penyebab ulterative dermal necrosis pada salmon),
Saprolegnia diclina dan Saprolegnia ferax.

Gejala Klinis

 Infeksi saprolegniasis relative mudah dikenali, yaitu terlihat adanya benang benang
halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal
ikan. Gejala tersebut juga dapat digunakan sebagai diagnosa awal.
 Diagnosa juga dapat dilakukan secara laboratories dengan cara mengambil mycelia,
diletakkan pada permukaan slide glas dan ditetesi sedikit air untuk selanjutnya
diamati di bawah mikroskop.
 Mycelia penyebab saprolegniasis memiliki percabangan dengan struktur hypha
aseptate. Reproduksi aseksual dapat diamati dari keberadaan zoosporangium pada
ujung hypha: Saprolegnia sp sp. menghasilkan zoospore primer & sekunder.
 Saprolegnia sp biasanya ditandai dengan munculnya "benda" seperti kapas,
berwarna putih, terkadang dengan kombinasi kelabu dan coklat, pada kulit, sirip,
insang, mata atau telur ikan. Apabila anda sempat melihatnya di bawah mikroskop
maka akan tampak jamur ini seperti sebuah pohon yang bercabang-cabang.

2. Achyla Sp.
Achlya sp juga merupakan jenis jamur yang banyak ditemukan sebagai agen infeksius
pada penyakit ikan. Jamur ini juga penyebab penyakit saproligniasis, selain yang
disebabkan oleh Saprolegnia sp dan Aphanomyces sp. Gejala klinis mirip seperti
serangan Saprolegnia sp, yaitu menyerang organ eksternal ikan seperti kulit, sirip, dan
insang, telur, serta organ yang terserang menujukkan indikasi ditumbuhi benang-benang
halus seperti kapas. Gejala klinis lainnya adalah timbulnya borok akibat serangan
sekunder, kemudian berkembang menembus jaringan kulit, dan meluas hingga ke tulang
belakang ikan yang mengakibatkan ikan kehilangan sebagian komponen tubuh
posteriornya.

Klasifikasi

Filum : Phycomycetes

Kelas : Oomycetes

Ordo : Saprolegnialis

Famili : Saprolegniaceae
Genus : Achlya

Spesies : Achlya sp

3. Aphanomyces astaci
Aphanomycetes merupakan jamur yang merupakan penyebab utama penyakit UES
(Ulceratif Epizootic Syndrome) pada ikan. Gejala klinis dari UES adalah terdapat bercak
putih pada daging di bawah otot dan pada beberapa kasus berwana coklat timbul warna
kecoklatan pada otot (Rukyani, 1994).
Ciri mikroskopis jamur Aphanomyces astaci adalah:
 memiliki miselium berdiameter 5-15 um dan bercabang.
 Zoospora muncul pada ujung sporangium dalam bentuk memanjang, kemudian
menjadi kista disekitar ujung sprorangium.
 Zoospora dibentuk dari hifa vegetatif. Hifa Aphanomyces astaci bercabang, tidak
bersepta dan berpigmen (Alderman, 1982).
 parasitik adalah menghasilkan kantung spora yang keluar dari bagian tengah atau
samping hifa sedangkan Aphanomyces astaci saprofitik hanya menghasilkan satu
cluster spora dan keluar dari bagian terminal atau ujung hifa (Fraser et al, 1992).
Klasifikasi
Phylum : Phycomycetes
Class : Oomycoetes
Order : Saprolegniales
Family : Saprolegniaceae
Genus : Aphanomyces
Spesies: Aphanomyces astaci

4. Ichthyosporidium hoferi
Ichthyoponus merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur Ichthyosporidium hoferi
jamur ini bersifat obligat parasit dengan siklus hidup yang kompeks. Suhu optimumnya
adalah 10C dan dapat tumbuh pada suhu 3-20C, tetapi tidak dapat tumbuh pada suhu
30C (Post, 1987). Sebaran penyakit biasanya berlangsung melalui pencernaan, yaitu
melalui spora yang termakan. Oleh karena itu, ikan yang terserang ringan sampai sedang
biasanya tidak menunjukkan gejala penyakit. Pada kasus serangan berat, kulit ikan
tampak berubah kasar seperti amplas. Hal ini disebabkan terjadinya infeksi dibagian
bawah kulit dan jaringan otot. Ikan dapat pula menunjukkan gejala pembengkokan
tulang. Bagian internal ikan akan tampak pembengkakan disertai dengan adanya luka
berwarna kelabu-putih (Ishak, 2011). Pada organ internal seperti hati, ginjal, jantung dan
limpa yang terinfeksi ditemukan nodul granumalomatosis (Sugianti, 2005). Terdapat satu
sampai tiga luka pada hati dan ginjal dengan lebar 0,5-2,3 cm. Luka tersebut menonjol di
sekitar jaringan dan terasa kasar bila disentuh. Secara makroskopis terdapat nodul yang
berwana putih sampai krem yang terdapat pada hati dan berdiameter antara 0,5-10 mm
(Rahimian, 1998).Secara mikroskopis Ichthyosporidium hoferi memiliki hifa yang tidak
bersepta. Pada jaringan yang terinfeksi cabang dari hifa tersebut terikan dengan dinding
jaringan serta terdapat granula (Rand, 1994). Mortalitas akibat infeksi akut terjadi dalam
waktu 2–4 minggu dengan adanya infasi di jantung, degenerasi dan nekrosis otot
(Sugianti, 2005)

Klasifikasi
Kingdom : Fungi
Phylum : Microspora
Kelas : Microsporea
Ordo : Microsporida
Family : Nosematidae
Genus : Ichthyosporidium
Spesies :Ichthyosporidium hoferi
5. Rhinosporidium Seeberi
Penyebab penyakit Rhinosporidiosis. Infeksi pada jaringan mukokutan (kulit dan
mukosa) menyebabkan penyakit granulomatosis kronik ditandai dengan pembentukan
masa polip, tumon papiloma, wart-like bertangkai/tidak bertangkai. Jaringan menjadi
hyperplasia dengan vaskularisasi bertambah, rapuh mudah berdarah. Predileksinya di
hidung, mata, mukosa, kulit (agak jarang). Di Asia habitat jamur ini berhubungan dengan
air, ikan atau serangga air. Jamur ini biasanya menyerang pria dewasa muda yang sering
kontak dengan air dan pasir, kebanyakan penderita adalah penyelam.

Pengobatan
Tidak dapat diobati dengan antibiotik. Satu-satunya pengobatan yang diketahui secara
klinis berhasil melawan Rhinosporidiosis adalah eksesi bedah dari polip.

6. Loboa Loboi
Penyebab penyakit Lobomycosis. Infeksi subkutan kronik pada manusia dan lumba-
lumba (Lobo tahun 1931). Jamur ini ditemukan di daerah sungai Amazon, menyerang
pria dewasa. Infeksi jamur akibat trauma terjadi nodula kecil mirip keloid. Jamur ini
tidak dapat tumbuh di dalam media sintesis (in vitro). Penyakit lobomycosis juga dapat
disebabkan oleh jamur Lacazia loboi. Lacazia loboi adalah jamur ragi seperti yang
menyebabkan infeksi pada manusia dan botol berhidung lumba-lumba (Tursiops
truncatus). berair lingkungan tampaknya wajib untuk siklus hidup dari L. loboi. Hal ini
saprophytic dalam air dan ditularkan ke host rentan melalui kontak. Infeksi akibat L.
loboi sebagian besar dilaporkan dari tropis zona. L. loboi adalah agen penyebab dari
mikosis tropis, lobomycosis, yang d itandai dengan lesi mukokutan, yang biasan ya
nodular, berdiam, verrucose, kembang kol dan hiper atau hipopigmentasi. Ekstremitas
bawah dan telinga yang paling sering terlibat. Hidung dan lesi labial jarang dilaporkan.
Karyawan akuarium dan petani merupakan sebagian besar kasus dengan lobomycosis.
Pekerjaan seperti goldmining, memancing, dan berburu juga predisposisi L. Infeksi
loboi.Sebuah trauma kulit sebelumnya, gigitan serangga, atau luka potong meningkatkan
masuknya jamur melalui kulit melalui kontak dengan terinfeksi sekitarnya, seperti
lumba-lumba. Tidak ada bukti yang menunjukkan penularan dari orang-ke-orang dari
lobomycosis.
Di dalam jaringan, Loboa loboi berbentuk bulat, lonjong atau seperti buah lemon.
Uniform dengan diameter 9-10 μm. Reproduksi dengan tunas pada satu atau beberapa
titik, tunas sering tidak lepas dari induknya, ukuran induk dan anak biasanya sama
sehingga tampak rangkaian seperti manik-manik. Sel berdinding tebal (1 μm) terdiri atas
tiga lapis dan multinuclear. Jamur ini tidak bisa dibiakkan dan diagnosa hanya bisa
dengan cara biopsi dan pemeriksaan histopatologi.

Klasifikasi Loboa Loboi


Kingdom : Jamur
Divisi : Ascomycota
Kelas : Eurotiomycetes
Order : Onygenales
Keluarga : Incertae sedis
Genus : Lacazia

Pengobatan
Eksisi bedah atau cryosurgery adalah pengobatan pilihan. Pengobatan dengan anti jamur
telah dianggap tidak efektif, tetapi penggunaan clofazimine dan dapson pada pasien
dengan kusta dan lobomycosis telah ditemukan untuk meningkatkan kedua. Rejimen
pengobatan ini, dengan bersamaan itraconazole , telah digunakan untuk mencegah
kekambuhan setelah operasi.
7. Trichophyton

Trichophyton menyebabkan penyakit tinea pedis, Penyakit terdapat di daerah tropik


maupun daerah lainnya. Banyak terdapat di Indonesia. Kelainan mengenai kulit di antara
jari-jari kaki, terutama antara jari ke 3-4 dan 4-5, telapak kaki dan bagian lateral kaki.
Karena tekanan dan kelembaban maka gambaran klinis khas dermatofitosis tidak terlihat.
Bila terjadi infeksi sekunder oleh kuman dapat timbul pustula dan rasa nyeri. Faktor
predisposisi berupa kaki yang selalu basah, baik oleh air (tukang cuci), maupun oleh
keringat (sepatu tertutup dan memakai kaos k aki). Sering terjadi maserasi kulit yang
terkena.

Klasifikasi Trichophyton
Kingdom :Fungi
Phylum :Ascomycota
Class :Euascomycetes
Order :Onygenales
Family :Arthrodermataceae
Genus :Trichophyton
Spesies :Trichophyton mentagrophytes

Pengobatan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengobatan peyakit tinea pedis:
 Oleskan krim / bedak anti jamur yang tepat untuk membasmi jamur dermatofita
yaitu yang mengandung miconazole nitrate 2 % setiap hari 1-2 kali selama 2-3
minggu agar pengobatan tuntas .
 Bila gatal , jangan digaruk karena garukan dapat menyebabkan infeksi .
 Jaga kebersihan kulit dan kaki. Bila berkeringat keringkan dengan handuk. Ganti
pakaian dan juga kaos kaki yang lembab .
 Gunakan pakaian dan kaos kaki yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap
keringat seperti katun dan ganti setiap hari .
 Untuk menghindari penularan penyakit jamur maka pakaian, kaos kaki, handuk,
saputangan, dan sandal yang digunakan penderita harus segera dicuci dan direndam
air panas.

DAFTAR PUSTAKA
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Lobomyc
osis&prev=search

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Lacazia&
prev=search