Anda di halaman 1dari 6

Laporan Tugas Akhir

Tinjauan Pustaka

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Seakeeping
Seakeeping atau olah gerak kapal adalah kemampuan kapal dalam
merespon gaya-gaya luar yang diakibatkan kondisi air laut. Ada enam
macam gerakan kapal di laut yaitu tiga gerakan translasi (surging, swaying,
heaving) dan tiga gerakan rotasi (rolling, pitching, yawing). Dalam kajian
olah gerak kapal, gerakan yang ditinjau adalah gerakan yang hanya mampu
direspon oleh kapal, yaitu rolling, heaving, pitching. [4]
a. Heaving
Heaving adalah gerakan translasi kapal sejajar dengan sumbu Z atau
gerakan naik turun kapal secara vertikal. Heaving merupakan gerakan
translasi yang memiliki satuan jarak.
b. Pitching
Pitching adalah gerakan kapal memutari sumbu Y, jadi pada saat
terjadi gerakan Pitching kapal mengalami gerakan naik turun secara
bergantian pada haluan dan buritan kapal. Pitching merupakan gerakan
Rotasi sehingga memiliki satuan derajat.
c. Rolling
Rolling adalah gerakan kapal memutari sumbu X, pada saat kapal
mengalami gerakan Rolling bagian sisi kanan dan kiri kapal bergerak secara
bergantian. Rolling merupakan gerakan rotasi yang memiliki satuan derajat.

Gambar 2.1 Olah Gerak Kapal

2.2 Ponton
Ponton adalah struktur berongga dan kedap udara ataupun kedap air,
terisinya rongga ponton dengan udara maka ponton akan memiliki daya

II-1
Laporan Tugas Akhir
Tinjauan Pustaka

apung (buoyancy) di atas permukaan air. Tujuan ruangan rongga dalam


ponton biasanya adalah untuk memberikan gaya apung bukan sebagai
tempat penyimpanan. Struktur ponton sering digunakan dalam industri
perkapalan dan industri maritim sebagai alat apung multiguna dalam
mendukung aktivitas bisnis di atas permukaan air, seperti: floating crane,
dok apung dan sebagainya
Ponton sendiri memiliki banyak keunggulan dibandingkan model
lambung lain, diantaranya memiliki bentuk overhull yang sederhana
sehingga murah dalam pembuatan, memiliki kestabilan yang baik, memiliki
CB yang besar sehingga gaya angkat besar. [1]

Gambar 2.2 Ponton


2.3 Heaving Plate
Heaving plate adalah pelat horizontal yang terpasang di bagian bawah
bangunan apung. Pelat tersebut memberikan tambahan massa yang dapat
meningkatkan periode heaving natural dari bangunan apung dan
menggerakkannya keluar rentang frekuensi gelombang. [5]
Akhir – akhir ini penelitian tentang heaving plate difokuskan pada
aspek geometrinya seperti ketebalan, diameter, bentuk dan jarak antar pelat
yang digunakan.[6] Peningkatan besar diameter dan jarak antar pelat akan
mengurangi respon heaving pada bangunan apung.

II-2
Laporan Tugas Akhir
Tinjauan Pustaka

Gambar 2.3 Heaving Plate


2.4 Computational Fluid Dynamic (CFD)
CFD merupakan sebuah model matematika dalam kasus fisika dan
metode Numerical yang menggunakan Software atau perangkat lunak dalam
menganalisa aliran Fluida. CFD menjadi perangkat yang paling banyak
digunakan dalam menyelesaikan analisa aliran fluida. Model matematika
yang dapat dianalisa menggunakan CFD diantaranya transfer kalor, transfer
massa, perubahan fasa, reaksi kimia, olah gerak dll tetapi keandalan CFD
sangat tergantung pada keseluruhan struktur proses. [7]
Saat ini, CFD telah menjadi perangkat numerik yang sangat efektif
dalam menganalisa aliran fluida. ABS, sebagai salah satu biro klasifikasi
sedang melakukan upaya untuk menerapkan teknologi CFD untuk
menerapkan teknologi CFD untuk penilaian kekuatan kapal komersial
modern dan kapal angkatan laut berkecepatan tinggi. [8]
Tujuan dari CFD adalah untuk memprediksi secara akurat tentang
aliran fluida, perpindahan panas, dan reaksi kimia dalam sistem yang
kompleks, yang melibatkan satu atau semua fenomena di atas
Computational Fluid Dynamic terdiri dari tiga elemen utama yaitu: • Pre
Processor • Solver Manager • Post Processor. [9]

II-3
Laporan Tugas Akhir
Tinjauan Pustaka

2.4.1 Rhinoceros
Software pemodelan kapal atau benda apung lainnya yang dapat
digunakan untuk membuat, mengedit, render dan mengintepretasikan
NURBS, surface, solid, dan titik.

Gambar 2.4.1 Rhinoceros


2.4.2 ANSYS
ANSYS adalah perangkat lunak atau Software yang digunakan untuk
mensimulasikan interaksi dari semua ilmu fisika, structural, getaran,
dinamika fluida, transfer panas, dan elektromagnetik. Ansys memungkinkan
pengujian dalam suatu lingkungan tertentu sebelum diaplikasikan dalam
bentuk yang sesungguhnya. Ansys juga dapat menentukan dan
meningkatkan titik lemah, memprediksi kegagalan prototype dan dapat
mensimulasikan dalam 3D di lingkungan virtual. [10]

II-4
Laporan Tugas Akhir
Tinjauan Pustaka

ANSYS Fluent dapat menyelesaikan model tercanggih untuk aliran


multifasa, reaksi kimia, dan pembakaran. Bahkan aliran rumit kental dan
turbulen, internal dan eksternal, prediksi kebisingan yang diinduksi aliran,
perpindahan panas dengan dan tanpa radiasi dapat dimodelkan dengan
mudah. ANSYS Fluent memberikan solusi simulasi CFD lebih cepat
sehingga insinyur dan desainer dapat membuat keputusan yang lebih baik
lebih cepat dalam siklus desain. [11]

Gambar 2.4.2 Analisa ANSYS


Selain menggunakan Ansys Fluent, dalam penelitian ini juga
menggunakan analisa dari Ansys AQWA dimana analisa Ansys AQWA
ditujukan untuk mendapatkan nilai RAO. Proses perhitungan response
amplitude operator (shear force / bending moment) bertujuan untuk
mengetahui seperti apa respon kapal ketika mendapatkan gaya lintang
maupun momen lengkung pada kapal. RAO (Shear Force) terbesar pada
Heaving terjadi pada sudut Heading 180 ͦ. RAO (Bending Moment) terbesar
pada Pitching terjadi pada sudut Heading 180 ͦ. [12]

Gambar 2.4.3 hasil RAO pada sebuah penelitian

II-5
Laporan Tugas Akhir
Tinjauan Pustaka

2.5 Gelombang Reguler


Ketika suatu objek dijatuhkan ke dalam tangki air, gangguan dibuat
dan membentuk gelombang permukaan. Pergerakan selanjutnya di
permukaan adalah hasil dari gravitasi, cenderung mengembalikan air ke
posisinya tanpa gangguan. Karena gelombang ini adalah hasil dari gravitasi,
mereka disebut gelombang gravitasi. gelombang gravitasi (juga disebut
gelombang permukaan) dipelajari, khususnya gelombang reguler.
Gelombang gravitasi dipahami sebagai gelombang reguler dari perilaku
yang terdefinisi dengan baik dan konstan dalam setiap periode waktu. [3]
Gelombang reguler merupakan gelombang dengan periode tunggal,
sehingga gelombang ini juga mempunyai spektrum tunggal. Gelombang
Reguler terjadi ketika amplitudo gelombang dan panjang gelombang
mengalami nilai yang sama dalam waktu tertentu.

Gambar 2.5 Gelombang Reguler

II-6