Anda di halaman 1dari 3

Penyebab terjadinya klaim

1. Akibat Keterlambatan Waktu Pelaksanaan (Schedule Overun)


Terjadinya klaim konstruksi sering diakibatkan karena pihak pelaksana/kontraktor
menyelesaikan pelaksanaan konstruksi melebihi waktu yang telah disepakati dalam master
schedule.
2. Akibat Keterlambatan Pembayaran
Proses pembayaran termin dari owner kepada pihak pelaksana konstruksi sering
mengakibatkan terjadinya klaim yang tentunya sangat berhubungan dengan faktor
keterlambatan waktu pelaksanaan proyek, dengan kata lain penyebab keterlambatan proyek
dapat diakibatkan karena adanya keterlambatan pembayaran dari pihak pemberi
tugas/owner.
3. Kualitas /Hasil Pekerjaan Yang Tidak Sesuai
Dalam poin ini memang lebih dititik beratkan kepada pihak pelaksana/kontraktor sebagai
pihak penanggung atau penerima tuntutan dari pemberi tugas.
4. Wanprestasi (Kegagalan Konstruksi)
Kegagalan konstruksi juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap
penyebab klaim dalam usaha jasa konstruksi dan juga merupakan hal yang tidak diinginkan
bagi semua pihak.
5. Akibat Banyaknya Pekerjaan Tambah Kurang (Change Order)
Faktor tersebut dapat menimbulkan klaim dari pihak pelaksana terhadap pihak pemberi
tugas dimana jika banyaknya frekuensi akan permintaan pekerjaan tambah kurang (Change
Order) dan redesign dari pihak owner, maka dapat menyebabkan sistem perencanaan dan
penjadwalan proyek dari pihak pelaksana terganggu yang tentunya dapat memicu terjadinya
perselisihan antara kedua pihak.
6. Akibat Spesifikasi Yang Tidak Jelas
Ketidakjelasan dalam hal penyajian spesifikasi perencanaan oleh pihak pemberi tugas
dan konsultan perencana dapat menyebabkan terjadinya perselisihan pada tahap
pelaksanaan.
7. Akibat Sistem Administrasi Proyek Yang Buruk
Dalam pelaksanaan konstruksi, sistem administrasi merupakan hal yang perluh diperhatikan
mengingat seluruh rekam proses konstruksi tersimpan didalamnya baik dari tahap
perencanaan berupa dokumen kontrak, perencanaan, master schedule, anggaran penawaran
dsb.
8. Akibat Salah Penafsiran Isi Kontrak
Salah satu hal yang terpenting sebelum pelaksanaan konsruksi dilakukan yaitu
kesepakatan kerja antara pemberi dan pelaksana pekerjaan yang dituangkan dalam sebuah
perjanjian berupa kontrak.

tahapan-tahapan penyelesaian sengketa sesuai UU No. 2/2017 adalah:

1. Para pihak yang bersengketa terlebih dahulu melakukan musyawarah untuk mufakat;
2. Apabila musyawarah tersebut tidak tercapai, maka penyelesaian sengketa disesuaikan
berdasarkan kontrak kerja konstruksi;
3. Apabila penyelesaian sengketa tercantum dalam kontrak, maka penyelesaian sengketa
ditempuh melalui tahapan sebagai berikut:
4. Mediasi;
5. Konsiliasi, dan;
6. Arbitrase
7. Jika penyelesain sengketa tidak tercantum dalam kontrak kerja konstruksi, maka para pihak
yang bersengketa membuat tata cara penyelesaian yang dipilih

Mediasi adalah upaya penyelesaian konflik dengan melibatkan pihak ketiga yang netral,
yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan yang membantu pihak-pihak yang
bersengketa mencapai penyelesaian (solusi) yang diterima oleh kedua belah pihak.

Tahapan-tahapan dalam mediasi:

Mendefinisikan permasalahan:

 Memulai proses mediasi


 Mengungkap kepentingan tersembunyi
 Merumuskan masalah dan menyusun agenda

Memecahkan permasalahan:

 Mengembangkan pilihan-pilihan (options)


 Menganalisis pilihan-pilihan
 Proses tawar menawar akhir
 Mencapai kesepakatan

arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang
didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang
bersengketa.

ada dua opsi dalam menyelesaikan sengketa dengan arbitrase. Pihak-pihak yang
bersengekata dalam klausula arbitrasenya juga harus menyertakan, apakah
penyelesaian kasus ini akan dilaksanakan secara lembaga (institusional) atau ad hoc.

 Lembaga Arbitrase
Sesuai namanya, jasa arbitrase ini didirikan dan bersifat melekat pada sebuah lembaga
tertentu. Umumnya, lembaga arbitrase institusional memiliki prosedur dan tata cara dalam
memeriksa kasus tersendiri. Arbiternya pun diangkat dan ditentukan oleh lembaga arbitrase
institusional sendiri. Di Indonesia, ada dua lembaga arbitrase yang dapat menjadi penengah
kasus sengketa, yakni BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia), BAPMI (Badan Arbitrase
Pasar Modal Indonesia), dan BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional Indonesia).
 Ad Hoc
SIfat arbitrase ad hoc hanyalah sementara, artinya dibentuk setelah sebuah sengketa terjadi
dan akan berakhir setelah putusan dikeluarkan. Arbiternya dapat dipilih oleh masing-masing
pihak yang berselisih. Namun jika para pihak tidak menunjuk arbiter sendiri, mereka dapat
meminta bantuan pengadilan untuk mengangkat arbiter sebagai pemeriksa dan pemutus
kasus sengketa. Adapun syarat-syarat seorang arbiter juga telah tertuang dalam pasal 9 ayat 3
Peraturan Prosedur Arbitrase Badan Arbitrase Nasional Indonesia.
prosedur yang harus dilakukan dalam menyelesaikan sengketa.
Pendaftaran dan Permohonan Arbitrase

Penunjukan Arbiter

Tanggapan Termohon

Tuntutan Balik

Sidang Pemeriksaan