Anda di halaman 1dari 74

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada umumnya, pemandangan dalam kelas menunjukkan gambaran yang
sangat kompleks, yang terdiri dari berbagai jenis kepribadian, potensi, latar
belakang kehidupan, serta masalah belajar. Gambaran tersebut akan terasa lebih
kompleks karena seorang pengajar juga membawa aneka ragam kepribadian,
selera, serta berbagai resep yang diperoleh dari pengalaman mereka mengajar
sebelumnya. Sebagai seorang pengajar harus dapat memotivasi belajar siswa
dalam segala situasi. Seorang pengajar harus mempunyai metode tersendiri
untuk memberikan dorongan pada pemelajar agar mereka mau berubah dan
mampu mencapai hasil yang memuaskan.
Metode yang dilakukan dengan menggunakan prinsip dasar motivasi,
yaitu bahwa setiap orang hanya mau mempelajari hal-hal yang menarik
perhatiannya saja dan apa manfaatnya bagi dirinya. Agar belajar menjadi
menarik dan bermanfaat ialah dengan mengikutsertakan pemelajar secara dalam
memilih, menyusun rencana, dan ikut terjun pada situasi belajar.
Konsekuensinya adalah pemelajar dapat merasakan suatu tingkat pencapaian
kekuatan dan penguasaan dalam belajar dan kemudian bertanggung jawab untuk
melakukan rencana yang telah mereka susun itu.
Pentingnya motivasi kepada siswa merupakan hal yang perlu diketahui
oleh para pengajar. Hal ini dimaksudkan agar dalam proses belajar mengajar
dapat berjalan secara efektif dan efisien. Sebagai seorang pengajar sangatlah
penting untuk dapat memotivasi siswa siswinya.
SMK Amerta Wonogiri memiliki dua program keahlian yaitu Program
Keahlian Akomodasi Perhotelan dan Program Keahlian Tata Boga. Dalam
Program Keahlian Akomodasi Perhotelan didalamnya terdapat pelaksanaan yang
berkenaan dengan program nomatif, adaptif dan produktif.

1
Salah satu standar kompetensi pada Program Keahlian Akomodasi
Perhotelan adalah standar kompetensi membersihkan lokasi area dan peralatan,
materi yang tertuang dalam standar kompetensi ini ialah tentang aplikasi
pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang dibutuhkan untuk menjaga
kebersihan, kerapihan, kenyamanan dan keindahan area umum di hotel yang
berkaitan erat dengan bagaimana cara membersihkan lokasi/area dan peralatan
yang digunakan pada saat membersihkan area umum yang ada di hotel, baik pada
area umum bagian dalam maupun bagian luar hotel.
Secara khusus kompetensi ini mencakup tiga hal pokok yaitu : memilih
dan menata peralatan, membersihkan area kering dan basah, dan
menjaga/menyimpan peralatan pembersih dan bahan kimia.
Kompetensi Membersihkan lokasi / area dan peralatan adalah salah satu
kompetensi yang diajarkan dan harus di kuasai oleh peserta didik SMK Amerta
Wonogiri kelas XI. Kompetensi membersihkan lokasi/ area dan peralatan
dilaksanakan untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik dalam
menguasai bidang keahlian housekeeping. Membersihkan lokasi/ area dan
peralatan terdiri dari teori 30 % dan praktikum 70 %. Kompetensi
menggambarkan unjuk kerja terkait dengan peserta didik yang didemonstrasikan
agar mudah diamati baik oleh guru sebagai assesor internal di sekolah maupun
eksternal siswa didunia usaha ataupun industri. Kegiatan yang dilakukan siswa
harus sesuai dengan standar kerja dan bersikap individual maka dapat dikatakan
kompeten.
Kesiapan merupakan salah satu faktor yang harus ada pada setiap individu
dalam melaksanakan semua kegiatan termasuk menghadapi suatu pekerjaan .
Menurut Yusnawati (2007:11), ”kesiapan merupakan suatu kondisi dimana
seseorang telah mencapai pada tahapan tertentu atau dikonotasikan dengan
kematangan fisik, psikologis, spiritual dan skill”. Menurut Suharsimi Arikunto
(2001:54), ”kesiapan adalah suatu kompetensi berarti sehingga seseorang yang
mempunyai kompetensi berarti seseorang tersebut memiliki kesiapan yang
cukup untuk berbuat sesuatu”. Menurut Slameto (2010:13), ”kesiapan adalah
keseluruhan kondisi yang membuatnya siap untuk memberi respon atau jawaban

2
di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi. Penyesuaian kondisi pada suatu
saat akan berpengaruh pada kecenderungan untuk memberi respon”.
Dari beberapa teori itu dapat disimpulkan bahwa kesiapan adalah suatu
kondisi yang dimiliki baik oleh perorangan maupun suatu badan dalam
mempersiapkan diri baik secara mental, maupun fisik untuk mencapai tujuan
yang dikehendaki. Namun dalam kenyataannya, hasil belajar siswa untuk
kompetensi ini masih jauh dibawah KKM yang telah ditetapkan. Dalam proses
pembelajaran siswa sulit sekali memahami konsep materi pelajaran, siswa hanya
duduk diam, dan kelihatannya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi pada
kenyataannya ketika ditanya tentang materi yang telah diberikan, siswa hanya
diam tidak dapat menjawab. Hanya beberapa siswa yang mampu memberikan
jawaban. Hal ini dikarenakan siswa belum atau bahkan tidak memiliki gambaran
sama sekali tentang materi kompetensi yang diberikan, karena materi hanya
diberikan secara teori saja. Padahal pada dasarnya mata pelajaran membersihkan
lokasi area dan peralatan memberikan penekanan pengalaman dan keterampilan
langsung untuk mengembangkan kompetensi agar memahami prosedur
pelayanan yang baik di dunia penjualan jasa (perhotelan). Hasil pengamatan
yang dilakukan penulis pada saat observasi, pelaksanaan kompetensi
membersihkan area dan peralatan menunjukkan bahwa siswa secara keseluruhan
belum mencapai nilai unjuk kerja yang memuaskan. Kesiapan siswa sebagai
tenaga kerja Public Area Attendant berhubungan dengan hasil praktek
kompetensi membersihkan area dan peralatan. Oleh karena itu siswa harus
berupaya dalam meningkatkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),
dan sikap (attitude) yang berhubungan dengan kompetensi membersihkan area
dan peralatan sehingga diharapkan siswa akan siap menjadi tenaga kerja public
area attendant.
Dalam setiap kegiatan pembelajaran, guru merupakan unsur utama
tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu guru harus peka terhadap
kondisi siswanya, karena setiap siswa memiliki daya serap yang berbeda - beda,
kondisi dan minat yang berbeda. Untuk itu dalam pembelajaran kita harus
melihat kondisi siswa, dimana kondisi siswa sangat penting untuk diperhatikan.

3
Kondisi siswa yang penting adalah bagaimana dan seberapa minat terhadap
suatu kompetensi keahlian. Siswa yang berminat akan lebih memiliki perhatian
tinggi, lebih ingin tahu terhadap kompetensi keahlian yang dipelajarinya.
Demikian juga dengan mata mata pelajaran Membersihkan lokasi area dan
peralatan pada kelas XI H 1 semester 2 (dua), minat siswa dapat ditimbulkan
dengan penerapan strategi penyampaian materi yang tidak membosankan, serta
dapat menarik perhatian bagi siswa.
Oleh karenanya, guru dengan kemampuannyanya diharapkan mampu
merencanakan proses belajar mengajar yang efektif. Hal ini bertujuan agar siswa
dapat mencapai tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebagai
salah satu komponen dalam pembelajaran, guru memiliki posisi yang
menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah
merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran.
Strategis karena guru akan menentukan kedalaman dan keluasan materi
pelajaran. Menentukan karena gurulah yang memilah dan memilih bahan
pelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Salah satu faktor yang
mempengaruhi guru dalam upaya memperluas dan memperdalam materi ialah
rancangan pembelajaran yang efektif, efisien, menarik, dan hasil pembelajaran
yang bermutu tinggi dapat dilakukan dan dicapai oleh setiap guru (Hidayanto,
2001, diambil dari www.depdiknas.com).
Dari kenyataan di atas, masalah yang dihadapi selama proses
pembelajaran adalah setiap mengikuti mata pelajaran Membersihkan lokasi area
dan peralatan, siswa merasa bosan, sulit dan kurang bergairah. Untuk itu perlu
kiranya dilakukan upaya-upaya dalam rangka meningkatkan motivasi dan hasil
belajar membersihkan lokasi/ area dan peralatan.
Di kalangan sekolah maupun lembaga pendidikan kejuruan dewasa ini
banyak dibicarakan mengenai media mengajar dan belajar. Yang dimaksud
dengan media adalah sarana penyampaian informasi yang harus diserap pihak
yang belajar. Sarana penyampaian tradisional dalam proses belajar adalah kata-
kata, baik dalam bentuk tertulis dalam buku pelajaran atau bentuk lisan yang
diucapkan pengajar.

4
Menurut Suharsimi Arikunto (1988:21), media pengajaran atau media
pendidikan adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara di dalam
proses belajar mengajar.
Dengan demikian yang dimaksud dengan media untuk adalah segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk membantu penyampaian proses belajar
mengajar agar efektivitas dan efisiensi pembelajaran dapat dicapai secara
maksimal. Media tersebut memiliki bermacam-macam bentuk dan fungsi
tergantung pada tujuan penggunaan media tersebut. Suatu media tidak selalu
berbentuk rumit karena suatu tulisan ataupun kata-kata sudah termasuk sebagai
media.
Menurut Mohammad Uzer Usman (2002:31), alat peraga pengajaran,
teaching aids, atau audiovisual aids (AVA) adalah alat-alat yang digunakan guru
ketika mengajar untuk membantu menperjelas materi pelajaran yang
disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa.
Pengajaran yang menggunakan banyak verbalisme tentu akan segera
membosankan; sebaliknya pengajaran akan terasa lebih menarik bila siswa
gembira atau senang karena mereka merasa tertarik.
Menurut Encyclopedia of Educational Research yang dikutip oleh
Usman (2002:31) manfaat media pembelajaran adalah :
1) Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan
berusaha sendiri di kalangan siswa,
2) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu, hal ini terutama dalam
gambar hidup,
3) Membantu tumbuhnya pengertian, dengan demikian membantu
perkembangan kemampuan berbahasa,
4) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh
karena itu pembelajaran menjadi lebih mantap,
5) Sangat menarik perhatian siswa dalam belajar,
6) Memperbesar perhatian siswa,

5
7) Mendorong anak untuk bertanya dan berdiskusi karena ia ingin dengan
banyak perkataan, tetapi dengan memperlihatkan suatu gambar, benda yang
sebenarnya, atau alat lain.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan memompa
semangat guru untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas XI H
1, maka untuk menyelesaikan permasalahan tersebut guru merasa sangat perlu
untuk mencari solusi dengan mengadakan penelitian dalam hal ini guru
memfokuskan pada penelitian tindakan kelas sebagai upaya perbaikan
pelaksanaan proses pembelajaran mata pelajaran membersihkan lokasi area dan
peralatan siswa kelas XI H 1 semester 2 (dua) di SMK Amerta Wonogiri
dengan mengambil judul “Upaya Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar
Dalam Teori dan Praktek Menggunakan Metode ARCS dengan Memanfaatkan
Kompetensi Membersihkan Area dan Peralatan Pada Siswa Kelas XI H 1 SMK
Amerta Wonogiri Semester Dua Tahun Pelajaran 2014/2015”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka berikut
dapat ajukan beberapa hal yang menjadi permasalahan utama dalam penelitian
ini yaitu :
1. Rendahnya motivasi belajar siswa kelas XI H 1 pada mata pelajaran
membersihkan lokasi area dan peralatan di SMK Amerta Wonogiri
2. Rendahnya prestasi belajar siswa kelas XI H 1 pada mata pelajaran
membersihkan lokasi area dan peralatan di SMK Amerta Wonogiri
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi dan prestasi belajar siswa kelas
XI H 1 pada mata pelajaran membersihkan lokasi area dan peralatan di
SMK Amerta Wonogiri

C. Pembatasan Masalah
Dengan pertimbangan aspek-aspek metodologis, keterbatasan
kemampuan, pengetahuan, waktu dan biaya maka dalam penelitian ini hanya
dibatasi pada masalah memanfaatkan kompetensi membersihkan area dan

6
peralatan dalam teori dan praktek menggunakan metode ARCS dalam upaya
meningkatkan motivasi dan prestasi belajar mata pelajaran Membersihkan lokasi
area dan peralatan kelas XI semester 2 di SMK Amerta Wonogiri

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut
di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah dengan memanfaatkan kompetensi membersihkan area dan
peralatan dalam teori dan praktek menggunakan metode ARCS dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI H 1 pada semester 2 mata
pelajaran membersihkan lokasi area dan peralatan di SMK Amerta
Wonogiri?
2. Apakah dengan mengunakan memanfaatkan kompetensi membersihkan area
dan peralatan dalam teori dan praktek menggunakan metode ARCS dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI H 1 pada semester 2 mata
pelajaran membersihkan lokasi area dan peralatan di SMK Amerta
Wonogiri?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diambil, maka penelitian ini
memiliki tujuan untuk mengetahui manfaat kompetensi membersihkan area dan
peralatan dalam teori dan praktek menggunakan metode ARCS dalam upaya
meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa perhotelan kelas XI H 1
semester 2 (dua) mata pelajaran Membersihkan Lokasi/ Area dan Peralatan di
SMK Amerta Wonogiri yang meliputi :
1. Untuk mengetahui manfaat kompetensi membersihkan area dan peralatan
yang berkaitan dengan pengetahuan yang meliputi : pengetahuan mengenai
area kering dan basah yang harus dibersihkan, pengetahuan mengenai bahan-
bahan kimia yang ada di hotel, pengetahuan mengenai tatacara
membersihkan lokasi area kering dan basah serta pengetahuan mengenai cara
menggunakan bahan kimia sesuai fungsinya.

7
2. Untuk mengetahui manfaat kompetensi membersihkan area dan peralatan
yang berkaitan dengan keterampilan meliputi : terampil dalam
membersihkan area kering yaitu area kerja front office dan area kerja basah
yaitu area toilet, terampil dalam memilih dan menggunakan bahan-bahan
kimia yang ada di hotel sesuai dengan fungsinya.
3. Untuk mengetahui manfaat kompetensi membersihkan area dan peralatan
yang berkaitan dengan sikap meliputi : kebersihan diri, etika sopan santun,
disiplin, teliti, jujur, tertib, dan tanggung jawab sikap siswadalam
kompetensi membersihkan area dan peralatan.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada :
1. Guru mata pelajaran kompetensi keahlian sebagai bahan masukan yang
diharapakan dapat memanfaatkan kompetensi membersihkan area dan
peralatan dalam teori dan praktek menggunakan metode ARCS dalam upaya
meningkatkan motivasi dan prestasi belajar mata pelajaran membersihkan
lokasi area dan peralatan kelas XI H 1 semester 2 di SMK Amerta Wonogiri
2. Siswa ; Menjadi salah satu proses belajar mengajar yang menyenangkan
sehingga memberikan hasil pembelajaran secara optimal pada mata pelajaran
membersihkan lokasi area dan peralatan kelas XI H 1 semester 2 di SMK
Amerta Wonogiri.
3. Sekolah ; Bahan masukan dan perlunya memanfaatkan kompetensi
membersihkan area dan peralatan dalam teori dan praktek menggunakan
metode ARCS dalam upaya meningkatkan motivasi dan prestasi belajar mata
pelajaran membersihkan lokasi area dan peralatan kelas XI H 1 semester 2 di
SMK Amerta Wonogiri

8
BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori
1. Deskripsi Teori Belajar dan Pembelajaran
Pengertian tentang belajar yang dikemukakan Thorndike dengan
teori Koneksionisme atau teori Psikologi Asosiasi yang berangkat dari
salah satu hukum belajarnya “Law of exercise”, bahwa belajar ialah
pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan
terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya
respons benar.
Belajar menurut Sumadi Suryabrata adalah perubahan tingkah laku
pada diri seseorang dapat diamati dan berlaku dalam waktu relative lama
yang disertai usaha orang tersebut. Shingga orang itu tidak mampu
mengerjakan sesuatu menjadi mampu mengerjakan. Menurut Sumadi
Suryabrata, bahwa belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan
pada diri individu yang belajar, bai actual maupun potensial, perubahan itu
pada pokoknya baru berlaku dalam waktu yang relatip lama, perubahan itu
terjadi kerena usaha yang terus menerus. Belajar merupakan kegiatan yang
lebih cenderung diarahkan kepada anak didik, sedangkan pembelajaran
merupakan serangkaian kegiatan atau proses belajar mengajar yang
dilaksanakan guru dalam kelas selaku pendidik.
Belajar merupakan suatu proses perubahan yang relatif tetap dalam
prilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Adanya perubahan
perilaku sebagai hasil dari kegiatan, sesuatu yang dilihat, diketahui atau
didengar yang merupakan pengalaman baru bagi individu yang mengendap
pada ingatan diri individu tersebut. Belajar juga merupakan suatu hal yang
dilakukan seseorang untuk menambah pengetahuan dan wawasan serta
terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku kearah yang lebih baik.
Belajar dalam hal ini dimaksudkan cenderung kepada siswa.

9
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu
proses yang berlangsung terus menerus pada setiap individu yang dapat
merubah tingkah laku pada situasi tertentu dan perubahanya relative
menetap karena latihan dan pengalaman dan tentunya kearah yang lebih
baik.
Menurut Syaiful Sagala (61: 2009) pembelajaran adalah
“membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar
yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”. Pembelajaran
merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan pihak guru
sebagai pendidik., sedangkan belajar oleh peserta didik.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru baik
dari persiapan bahan ajar, metode mengajar yang digunakan dan hal-hal
lainnya yang perlu dilakukan dalam pembelajaran di kelas. dan siswa
yang saling bertukar informasi.
Keterkaitan antara teori belajar dan pembelajaran yang diuraikan di
atas dengan permasalahan yang sedang dikaji adalah adanya suatu upaya
penciptaan proses belajar mengajar yang berimbang antara guru dengan
siswa yang ditunjukkan oleh proses belajar dengan model kerja kelompok,
sedang guru dalam hal ini bertindak selaku pembimbing, pengarah atau
lainnya, sebagaimana telah di uraikan pada poin peranan guru di atas.
Dalam pembelajaran, guru mempunyai peranan sebagaimana
dijelaskan Haling (2006:21) yaitu : ”(1) Guru sebagai Komunikator. Guru
sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam
pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, agar pebelajar
menguasai materi pelajaran yang diajarkan, (2) Guru sebagai Informator.
Guru sebagai pelaksana dengan beberapa cara mengajar, yaitu ; informatif,
praktis dan studi lapangan secara akademik, maupun umum, (3) Guru
sebagai Organisator. Guru sebagai pengelola kegiatan akademik seperti;
workshop, jadwal pelajaran dan sebagainya, (4) Guru sebagai Motivator.
Peranan ini sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan

10
dan pengembangan kegiatan belajar mengajar, (5) Guru sebagai
Pengarah/Direktor. Guru harus dapat membimbing dan mengarahkan
kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, (6) Guru
sebagai Inisiator. Guru harus mampu memberikan ide-ide yang dapat
dicontoh oleh anak didik, (7) Guru sebagai Transmitter. Guru bertindak
selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan, (8) Guru
sebagai Facilitator. Memberikan kemudahan pembelajaran dengan
mencipatakan suasana belajar sedemikian rupa yang sesuai dengan
perkembangan siswa, (9) Guru sebagai Mediator. Bertindak sebagai
penengah dalam kegiatan pembelajaran, dan (10) Guru sebagai Evaluator.
Guru mempunyai hak dan otoritas dalam melakukan evaluasi kepada siswa
terkait dengan keberhasilan pembelajaran”.
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran metode media belajar
adalah suatu upaya yang dilakukan guru untuk meningkatkan,
mengembangkan serta memotivasi siswa untuk dapat meraih hasil belajar
dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.

2. Prinsip dan Perilaku Belajar


Prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan
dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran teori dan prinsip-prinsip belajar
dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Selain itu juga
berguna untuk mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang
peningkatan belajar siswa. Prinsip-prinsip pembelajaran adalah bagian
terpenting yang wajib diketahui para pengajar sehingga mereka bisa
memahami lebih dalam prinsip tersebut dan seorang pengajar bisa
membuat acuan yang tepat dalam pembelajarannya. Dengan begitu
pembelajaran yang dilakukan akan jauh lebih efektif serta bisa mencapai
target tujuan.
Prinsip-prinsip dalam belajar baik bagi siswa yang perlu
meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya
meningkatkan kualitas mengajarnya. Prinsip-prinip itu berkaitan dengan

11
perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman,
pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan
individual. Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan
belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa
tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner,
1984: 335). Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila
bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu
dirasakan sebagai sesuatu yang di butuhkan, di perlukan untuk belajar
lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan
membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Di samping perhatian,
motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi
adalah tenaga yang menggerakan dan mengarahkan aktivitas seseorang.
Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran.
Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar.
Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik
sampai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah
satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang
dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan,
nilai-nilai, keterampilan. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan
minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu
cenderung tertarik perhatiannya. Motivasi juga di pengaruhi oleh nilai-
nilai yang di anut akan mengubah tingkat laku manusia dan motivasinya.
Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat
juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain.
Mata pelajaran membersihkan lokasi/ area dan peralatan yang
diajarkan kepada siswa dengan metode ARCS pada prinsipnya meliputi
penguasaan terhadap tiga aspek pengetahuan yaitu aspek kognitif,
psikomotorik, dan afektif.
Untuk mengetahui secara jelas terhadap tiga aspek tersebut, maka
Latuheru (2002:35) menjelaskan sebagai berikut :

12
1) Kognitif yaitu penyesuaian intelektual dari informasi dan
pengetahuan, mulai dari ingatan yang sederhana sampai pada
pembentukan hubungan yang baru,
2) Psikomotorik yaitu kecakapan motorik, dan dimulai dengan meniru
gerakan-gerakan yang sederhana sampai pada kemampuan fisik yang
membutuhkan koordinasi susunan syaraf otot yang kompleks,
3) Afektif yaitu sikap, perasaan dan emosi. Kecakapan kemampuan
belajar afektif dimulai dari kesadaran tentang suatu nilai khusus
sampai pada pendalaman/mendalami suatu kelompok perasaan serta
nilai/norma untuk membentuk karakter yang baik.
Dengan adanya sasaran pengembangan terhadap ketiga aspek di atas,
maka jelas bahwa pembelajaran dengan metode ARCS sangat membantu
siswa dalam memahami pelajaran mata pelajaran Membersihkan Lokasi/
Area dan Peralatan kelas XI (sebelas) semester 2 perhotelan sebagaimana
tujuan yang telah ditetapkan dalam pembelajaran tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip dalam pembelajaran
dengan metode pembelajaran adalah ada perubahan pada diri siswa
terhadap tiga aspek utama dalam belajar yaitu aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik. Pada mata pelajaran membersihkan Lokasi/ Area dan
peralatan yang diajarkan pada siswa, ketiga aspek tersebut tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Sehingga tercapai tujuan pembelajaran
khususnya pada mata pelajaran keterampilan.

3. Motivasi Belajar
Motivasi belajar siswa merupakan hal yang amat penting bagi
pencapaian kinerja atau prestasi belajar siswa. Dalam hal ini, tentu saja
menjadi tugas dan kewajiban guru untuk senantiasa dapat memelihara dan
meningkatkan motivasi belajar siswanya.
Motivasi berasal dari kata “motif” yang diartikan sebagai “ daya
penggerak yang telah menjadi aktif” (Sardiman,2001: 71). Pendapat lain
juga mengatakan bahwa motivasi adalah “ keadaan dalam diri seseorang

13
yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan”
(Soeharto dkk, 2003 : 110) . Dalam buku psikologi pendidikan Drs. M.
Dalyono memaparkan bahwa “motivasi adalah daya penggerak/pendorong
untuk melakukan sesuatu pekerjaan, yang bisa berasal dari dalam diri dan
juga dari luar” (Dalyono, 2005: 55). Dalam bukunya Ngalim Purwanto,
Sartain mengatakan bahwa motivasi adalah suatu pernyataan yang
kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku
terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive). Tujuan adalah
yang membatasi/menentukan tingkah laku organisme itu (Ngalim
Purwanto, 2007 : 61).
Motivasi belajar pada hakikatnya merupakan kekuatan mental yang
mendorong terjadinya proses belajar dari diri siswa.Apbila motivasi
belajar siswa kuat,maka kegiatan belajarnya akan meningkat.Sebaliknya
apabila motivasinya lemah,maka akan melemahkan kegiatan
belajarnya,dan berakibat mutu hasil belajarnya akan rendah. Artinya tujuan
belajar tidak akan tercapai sebagaimana mestinya .
Kuat lemahnya motivasi belajar siswa banyak dipengruhi oleh
banyaknya factor baik yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri
(intrnsik ) maupun yang berasal dari luar dirisiswa (ekstrinsik ).Motivasi
belajar sangat diharapkan terjadi yaitu motivasi yang timbul dari diri siswa
sendiri,sebab motivasi ini memiliki kekuatan yang lebih lama,lebih
baik,dibandingkan motivasi lainnya. Motivasi yang diupayakan oleh guru
juga sebenarnya harus diarahkan kepada terjadinya motivasi dari dalam
(intrinsic ).
Dengan demikian motivasi dalam proses pembelajaran sangat
dibutuhkan untuk terjadinya percepatan dalam mencapai tujuan pendidikan
dan pembelajaran secara khusus.

4. Metode ARCS
Model ARCS (Atenttion, Relevance, Confidence, Satisfaction)
dikembangkan oleh Keller, sebagai jawaban bagaimana merancang

14
pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa sehingga
apabila siswa sudah termotivasi maka siswa akan semakin giat belajar dan
efeknya terjadi peningkatan nilai yang merupakan tolak ukur peningkatan
hasil belajar siswa. ARCS adalah singkatan dari bentuk sikap siswa yakni
attention (perhatian), relevance (relevansi), confidence (percaya diri), dan
satisfaction (kepuasan). Jadi, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran ARCS adalah suatu bentuk pembelajaran yang
mengutamakan perhatian siswa, menyesuaikan materi pembelajaran
dengan pengalaman belajar siswa, menciptakan rasa percaya diri dalam
diri siswa, dan menimbulkan rasa puas dalam diri siswa tersebut. Model
pembelajaran ARCS terdiri dari empat komponen. Keempat komponen
model pembelajaran ARCS tersebut yaitu:
a. Attention (Perhatian)
Secara garis besar ada tiga jenis strategi untuk membangkitkan
perhatian dan mempertahankan perhatian siswa dalam pembelajaran,
yaitu:
1) Membangkitkan daya persepsi siswa
Dalam membangkitkan daya persepsi siswa dalam
pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan sesuatu hal
yang baru, mengherankan, tidak pantas atau peristiwa-peristiwa
pembelajaran yang tidak menentu.
2) Menumbuhkan hasrat ingin meneliti
Menumbuhkan hasrat ingin meneliti pada siswa dapat
dilakukan dengan merangsang perilaku yang selalu ingin mencari
informasi dengan mengajukan pertanyaan atau masalah yang
memerlukan pemecahan oleh siswa sendiri.
3) Menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi
Dalam usaha mempertahankan perhatian siswa terhadap
pembelajaran, dapat dilakukan dengan jalan menggunakan elemen
atau unsur-unsur pembelajaran yang beraneka ragam. Variasi dalam
pembelajaran dapat dilakukan dengan memvariasikan format tulisan

15
dalam teks, menyajikan gambar-gambar yang bervariasi, dan warna
yang beraneka ragam.
b. Relevance (Relevansi)
Pada dasarnya ada tiga jenis strategi guna meningkatkan relevansi
isi pembelajaran dengan kebutuhan siswa, yaitu:
1) Menumbuhkan keakraban dan kebiasaan yang baik
Dalam usaha menumbuhkan keakraban pada diri siswa
terhadap pembelajaran dapat dilakukan dengan cara menggunakan
atau pemakaian bahasa yang konkret, contoh, dan konsep yang
berkaitan atau berhubungan dengan pengalaman dan nilai
kehidupan siswa.
2) Menyajikan isi pembelajaran yang berorientasi pada tujuan
Cara lain untuk meningkatkan relevansi pembelajaran adalah
dengan menyajikan pernyataan atau contoh-contoh yang sesuai
dengan tujuan dan kegunaan pembelajaran.
3) Menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai
Dalam hal ini untuk menciptakan relevansi terhadap
pembelajaran dilakukan dengan menggunakan strategi
pembelajaran yang sesuai dengan profil atau karakteristik siswa
serta sesuai karakteristik isi pembelajaran agar siswa lebih cepat
memahami isi pembelajaran yang disampaikan.

c. Confidence (Percaya diri)


Berkenaan dengan aspek ini, guru dituntut untuk membantu
siswa mengembangkan harapan keberhasilan dalam pembelajaran. Ada
tiga jenis strategi yang dapat dilakukan:
1) Menyajikan prasyarat belajar
Guna menumbuhkan keyakinan pada diri siswa dapat
dilakukan dengan menjelaskan kepada siswa persyaratan atau
kriteria hasil belajar. Guru dapat menyampaikan kepada siswa

16
kriteria penilaian untuk tugas-tugas, dan memberi contoh hasil
pekerjaan yang dianggap bagus (Suciati, 2003).
2) Memberi kesempatan untuk sukses
Hal ini dapat dilakukan dengan menyajikan tantangan yang
memungkinkan siswa mendapat pengalaman sukses yang bermakna
di bawah kondisi belajar dan unjuk kerja tertentu. Agar siswa merasa
yakin tentang apa yang dikerjakanya, katakan padanya ia pasti akan
sukses melakukannya.
3) Memberi kesempatan untuk melakukan kontrol pribadi
Dalam menumbuhkan keyakinan diri pada siswa dapat
dilakukan dengan menyajikan umpan balik dan kesempatan untuk
mengendalikan atau mengatur kemampuan atribusi internal akan
kesuksesannya.

d. Satisfaction (Kepuasan)
Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan mengasilkan
kepuasan, siswa aqkan termotivasi untuk terus berusaha mencapai
tujuan yang serupa, siswa akan termotivasi untuk terus berusaha
mencapai tujuan yang serupa.
Ada sejumlah strategi untuk mecapai kepuasan, yakni:
(1) Gunakan pujian secara verbal, umpan balik yang informatif,bukan
ancaman atau sejenisnya.
(2) Berikan kesempatan kepada siswa untuk segera
menggunakan/mempraktekan pengetahuan yang baru dipelajari.
(3) Minta kepada siswa yang telah menguasai untuk membantu
teman-temanya yang belum berhasil.
(4) Bandingkan prestasi siswa dengan prestasinya sendiri dimasa lalu
dengan suatu standar tertentu, bukan dengan siswa lain.

Terdapat tiga jenis strategi untuk membangkitkan kepuasan


dalam pembelajaran, yaitu:

17
1) Menyajikan latar belajar yang alami
Pelaksanaan strategi ini dilakukan dengan menyajikan
kesempatan menggunakan pengetahuan atau keterampilan yang
baru dikuasai dalam situasi nyata dan menantang.
2) Memberikan penguatan yang positif
Dalam hal ini untuk menumbuhkan kepuasaan dilakukan
dengan memberi umpan balik dan penguatan yang akan
mempertahankan perilaku yang diinginkan. Pemberian pujian verbal,
memberi komentar pada lembar hasil tes, penukaran kelas, dan
sejenisnya dapat menumbuhkan rasa puas pada diri siswa
3) Mempertahankan standar pembelajaran secara wajar
Hal ini dilakukan dengan jalan mempertahankan standar dan
konsekuensi secara konsisten pada setiap penyelesaian tugas
pembelajaran. (Wena, 2009)

Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan


perhatian, melihat tingkat relevansi, mempengaruhi sikap percaya diri dan
memberikan rasa puas siswa terhadap pembelajaran yaitu:
a. Perhatian
1) Menggunakan cerita, analogi, sesuatu yang baru, aneh dan berbeda
dari yang biasanya dalam pembelajaran
2) Memberikan kesempatan pada siswa untuk berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran.
3) Mengadakan variasi situasi pembelajaran misalnya, dari serius ke
humor, dari cepat ke lambat, dan mengubah gaya mengajar
4) Mengadakan komunikasi nonverbal seperti dengan demonstrasi dan
simulasi.
b. Relevansi
1) Mengemukakan tujuan atau sasaran yang akan dicapai
2) Mengemukakan manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa.

18
3) Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada
hubungannya dengan pengalaman atau nilai-nilai yang dimiliki
siswa
c. Percaya diri
1) Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta
menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri.
2) Menggunakan suatu patokan, standar yang memungkinkan siswa
dapat mencapai keberhasilan.
4) Memberikan tugas yang bervariasi misalnya, dari mudah ke sukar
tetapi cukup realistis untuk diselesaikan.
5) Memberi kesempatan pada siswa secara bertahap mandiri dalam
belajar dan melatih suatu keterampilan.
d. Kepuasan siswa
Memberikan penguatan eksternal melalui pemberian
penghargaan baik bersifat verbal maupun nonverbal (Hermana dalam
Hadi, 2010)

5. Membersihkan Lokasi/ Area dan peralatan


Membersihkan Area Kering Dan Basah

a. Area Umum di Hotel

Area umum di hotel adalah ruang yang berada dalam kawasan hotel yang

diperuntukkan bagi tamu atau para pengunjung hotel dalam melakukan

aktivitas selama berada di hotel dan bagi para karyawan hotel dalam

melaksanakan aktivitas pelayanan di hotel.

b. Klasifikasi Area Umum di Hotel

Kelompok Area Umum Nama Area Umum


Area bagian dalam hotel Ruang masuk
(Area internal) - Pintu masuk utama
- Ruang masuk
- Kantor depan
Ruang untuk duduk (lobby)
Koridor

19
Kelompok Area Umum Nama Area Umum
Lift
Tangga
Kantor pimpinan (office manager)
Ruang karyawan (staff room)
Area pertemuan (meeting area)
Ruang untuk pesta (convention hall)
Ruang rapat (meeting room)
Kantor untuk aktivitas bisnis
Ruang tunggu tiap lantai
Area bagian luar hotel Kolam renang (swiming pool)
(Area eksternal) Pusat kebugaran
Ruang ganti
Tempat bermain anak-anak
Area tambahan Ruang istirahat
Tempat berjualan
c. Waktu Pembersihan Area Umum di Hotel

Untuk memudahkan pelaksanaan pembersihan area umum di hotel, pada

umumnya hotel menerapkan sistem penjadwalan pembersihan area umum

d. Persiapan Kerja Pelaksanaan Pembersihan Umum di Hotel

Dalam pembersihan area umum, perlu diperhatikan beberapa hal penting dan

teknik pembersihan yang tepat untuk menghindari kesalahan pemakaian alat

dan bahan pembersih.

Identifikasi Persiapan Pelaksanaan Persiapan


Area yang akan dibersihkan Hal ini dimaksudkan agar saat kegiatan pembersihan
dilakukan tetap menjaga keamanan dan kenyamanan
tamu serta mempertimbangkan waktu pembersihan,
misalnya lobby, restaurant, kolam renang, koridor.
Objek yang akan dibersihkan Objek yang akan dibersihkan, misalnya lantai,
dinding, karpet, kayu, keramik, agar dapat ditentukan
bahan dan peralatan yang tepat.
Alat pembersih utama yang Siapkan dan kumpulkan semua peralatan pembersih
diperlukan utama yang akan digunakan sesuai dengan objek yang
akan dibersihkan.
Alat pendukung kerja yang Bila diperlukan alat pendukung kerja, misalnya
digunakan tangga, sarung tangan, masker dll, maka perlu
disiapkan untuk memudahkan kegiatan selama
pembersihan.
Bahan pembersih yang digunakan Siapkan bahan-bahan pembersih yang akan digunakan
sesuai dengan objek yang akan dibersihkan dengan
tetap menjaga keamanan dan keselamatan kerja.
Contoh : bahan pembersih yang mengandung zat

20
Identifikasi Persiapan Pelaksanaan Persiapan
kimia berbahaya, maka perlu alat pelindung.
Komunikasi Informasikan pada bagian yang bertanggung jawab
bila pembersihan akan segera dilakukan.
Keamanan dan keselamatan kerja Pasang tanda peringatan jika sedang membersihkan
area umum untuk menjamin agar tamu terhindar dari
bahaya.
e. Prosedur Pembersihan Area Umum di Hotel

Area Alat Pembersih Bahan Pembersih Prosedur


Pintu masuk Broom MPC Menggosok kerak-
utama (main Dust pan Floor cleaner kerak air dari lantai
entrance) Moping stick Glass cleaner menggunakan kain pel
Pail yang kering atau
Cotton cloth sponge.
Sponge Lantai di sweeping.
Moping lantai
Membersihkan kaca-
kaca pintu luar dan
dalam.
Membersihkan bagian
pintu yang bukan
kaca.
Poles pegangan dan
kunci pintu.
Yakinkan bahwa
semua sudah
dibersihkan.
Meja penerima Cotton cloth yang MPC Bersihkan ashtray yang
tamu (front desk) bersih. kotor.
Sponge Kosongkan sampah.
Alat-alat Bersihkan
pembersih debu. perlengkapan dan
Broom dekorasi pada dinding
Dust pan dari debu.
Rubbish Meja depan
dibersihkan dari debu.
Bersihkan flek-flek
pada dinding.
Bersihkan debu-debu
dengan vacuum
cleaner di bagian
dalam meja.
Ruang santai Broom Glass cleaner Bersihkan ashtray yang
(lobby lounge) Dust pan MPC kotor.
Moping stick dan Floor cleaner Ambil kertas-kertas
pail. dan sampah.
Cotton cloth dan Kosongkan tempat
sponge. sampah.
Alat-alat Bersihkan kaca dan

21
Area Alat Pembersih Bahan Pembersih Prosedur
pembersih debu. jendela, termasuk kaca
Vacuum cleaner meja.
Rubbish Bersihkan debu pada
pesawat telepon.
Bersihkan flek-flek
pada dinding dan
perabot yang ada di
dinding.
Bersihkan debu pada
pegangan tangga.
Bersihkan lantai kayu
dan lantai ubin.
Bersihkan debu pada
carpet dengan vacuum
cleaner.
Rapihkan
perlengkapan mebel
dan bantal sofa kursi.
Koridor (corridor) Vacuum cleaner MPC Bersihkan debu pada
Cotton cloth Glass cleaner kipas angin dan bagian
Sponge pojok peralatan.
Bersihkan dan poles
dudukan lampu.
Ganti bola lampu yang
mati.
Bersihkan flek-flek
pada dinding.
Bersihkan bagian luar
dalam pintu darurat,
bingkai pintu dan rel
pintu.
Sedot debu dengan
vacuum cleaner.
Lift Cotton cloth MPC Keringkan bagian luar
Sponge Glass cleaner dari pintu lift dan
Vacuum cleaner bersihkan dari flek-
flek sidik jari.
Kosongkan dan
bersihkan ashtray
dekat pintu lift.
Bersihkan ruangan lift.
Kantor (office) Dust cloth MPC Kosongkan tempat
Broom Glass cleaner sampah dan bersihkan.
Dust pan Floor cleaner Bersihkan debu-debu
Vacuum cleaner pada meja dan kursi.
Moping stick Bersihkan noda-noda
pada dinding.
Bersihkan lantai dan
kumpulkan sampah.

22
Area Alat Pembersih Bahan Pembersih Prosedur
Bersihkan debu carpet
dengan vacuum
cleaner.
Bersihkan debu pada
jam dinding.
Moping lantai dan
keringkan.
Lakukan pembersihan
secara periodik.
Area karyawan Dust cloth MPC Kosongkan sampah
Broom Glass cleaner dan bersihkan.
Dust pan Floor cleaner Bersihkan debu pada
Vacuum cleaner meja dan kursi.
Moping stick Bersihkan noda-noda
pada dinding.
Bersihkan lantai.
Bersihkan debu pada
carpet dengan vacuum
cleaner.
Moping lantai dan
keringkan.
Ruang pertemuan Dust cloth MPC Kosongkan sampah
(meeting room) Broom Glass cleaner dan bersihkan.
Dust pan Floor cleaner Bersihkan debu pada
Vacuum cleaner meja dan kursi.
Moping stick Bersihkan lantai dan
kumpulkan sampah.
Bersihkan debu pada
carpet dengan vacuum
cleaner.
Moping lantai dan
keringkan.

B. Kerangka Berpikir
Proses belajar mengajar yang terlaksana di dalam kelas pada umumnya
dapat menimbulkan rasa bosan siswa ketika pembelajaran yang dilaksanakan
berkesan terlalu prosedural. Artinya, guru melaksanakan pembelajaran secara
sistematis sementara keadaan seperti ini umumnya tidak diinginkan siswa.
Disamping itu, perangkat pembelajaran dalam hal ini buku-buku paket yang
diberikan sebagai materi pembelajaran kepada siswa mengandung materi yang
terlalu padat dan meluas pula, sehingga dapat menyebabkan ketidaktertarikan
siswa untuk membaca materi pelajaran. Jika kondisi pembelajaran dalam kelas
sebagaimana uraian di atas, maka guru ada baiknya melakukan inovasi

23
pembelajaran. Salah satu inovasi yang dapat ditempuh guru ada dengan cara
mengembangkan bahan ajar yang diharapkan dengan langkah tersebut siswa
termotivasi sehingga siswa dapat merasakan ketertarikan terhadap mata
pelajaran membersihkan lokasi/area dan peralatan. Dengan termotivasinya
siswa, maka minat belajar siswapun akan meningkat sehingga prestasi belajar
siswa meningkat pula.
Adapun inovasi pembelajaran sebagaimana yang dimaksudkan di atas
adalah menerapkan pembelajaran dengan metode ARCS, dimana dalam
pembelajaran ini meningkatkan motivasi siswa dan juga penggunaan media yang
berhubungan langsung dengan kompetensi yang diadakan menjadi perangkat
pembelajaran utama dalam menyajikan materi pelajaran. Seluruh materi
pelajaran ditampilkan dalam bentuk langkah-langkah kerja.
Dengan demikian, diharapkan motivasi belajar siswa menjadi tinggi yang
pada akhirnya berpengaruh pula pada tingginya prestasi siswa itu sendiri. Guna
memberikan pemahaman secara menyeluruh kepada pembaca, maka
permasalahan yang sedang dikaji dapat disajikan secara singkat dalam skema
kerangka pikir berikut :

Metode pembelajaran Peningkatan motivasi Meningkatkan hasil


ARCS belajar siswa belajar siswa

C. Hipotesis Tindakan
”Apakah dengan metode pembelajaran ARCS bisa meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI H 1 semester 2 (dua) Jurusan
Akomodasi Perhotelan di SMK Amerta Wonogiri pada mata
pelajaran membersihkan lokasi area dan peralatan ?”

24
25
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian di laksanakan di SMK Amerta Wonogiri. Subyek penelitian
adalah siswa kelas XI H 1 yang berjumlah 16 siswa yang terdiri dari laki-laki 7
siswa dan perempuan 9 siswa. Subyek penelitian yang terpilih didasarkan
pertimbangan bahwa di kelas ini siswa memiliki kemampuan dasar yang hampir
sama.
Penelitian tindakan ini berlangsung sekitar 1,5 bulan mulai dari
perencanaan penelitian sampai pada penulisan laporan hasil penelitian, yaitu
mulai tanggal 10 Januari 2015 sampai dengan tanggal 16 Pebruari 2015.
Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan selama empat pekan, yang mana setiap
pekannya satu kali pertemuan. Penyajian materi dan praktek siklus pertama
dilaksanakan pada bulan Januari 2015, penyajian materi dan praktek siklus
kedua pada bulan Januari dan Pebruari 2015.

B. Prosedur Penelitian
Metode penelitian yang digunakan menggunakan penelitian tindakan
kelas (Classroom Action Research), bertujuan untuk memecahkan masalah-
masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja (Isaac, 1994:27).
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Prosedur
penelitian yang dilakukan berbentuk siklus. Setiap siklus terdiri empat kegiatan
pokok, yaitu: perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing),
dan refleksi (reflection). Sejalan dengan pendapat tersebut di atas maka alur
penelitian dilaksanakan sesuai dengan yang dikemukakan oleh Arikunto (2007:16)
dengan tahapan yang lazim dilalui, meliputi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)
pengamatan, dan (4) refleksi.

26
Alur penelitian seperti gambar berikut :

Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan

Gambar 3.1. Alur Penelitian

Pelaksanaan penelitian tindakan adalah sebagai berikut :


1. Siklus I
a. Perencanaan Tindakan
1) Identifikasi masalah dan menetapkan alternatif pemecahan masalah.
Dari observasi awal dapat diketahui dari 16 siswa, sebanyak 15
siswa belum memiliki kemampuan melakukan praktek
membersihkan lokasi area dan peralatan.
2) Menetapkan kompetensi dasar dan indikator.
3) Merencanakan pembelajaran
4) Memilih bahan pelajaran yang sesuai
5) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
6) Menyiapkan lembar observasi
7) Menyiapkan tes hasil belajar yang sudah divalidasi
8) Menetapkan indikator kerja yaitu 75 persen siswa menunjukkan
sikap positif yang baik.

27
b. Tindakan
Pertemuan I
Sub kompetensi atau materi pelajaran yang diajarkan pada
pertemuan I ini adalah membersihkan area kering dan basah. Kegiatan
pembelajaran terfokus pada guru dan siswa dimana guru memberikan
materi mengenai area kering dan siswa memperhatikan penjelasan
guru, bahan- bahan kimia yang ada dihotel dan cara menggunakannya
serta prosedur pembersihan area kering. Adapun persiapan sebagai
berikut :
 Menyiapkan peralatan dan perlengkapan penyajian materi
 Menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
 Menjelaskan tentang area kering yang meliputi :
 Jenis-jenis area kering yang meliputi area bagian dalam hotel,
area bagian luar hotel dan area tambahan
 Memahami prosedure pembersihan area kering
 Mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis bahan, alat
pembersih yang dipergunakan untuk pembersihan area kering
 Menjelaskan prosedur kerja pembersihan area kering.
 Menjelaskan cara menyimpan dan mengembalikan alat dan
bahan yang telah digunakan untuk pembersihan area kering.
 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan
pertanyaan.
 Memberikan pertanyaan kepada siswa dalam bentuk tes lisan
untuk meliaht sejauh mana motivasi siswa terhadap proses
pembelajaran dan tes tertulis diambil nilainya sebagai
pertimbangan sejauh mana pemahaman siswa terhadap
pembelajaran yang sudah dilaksanakan.

Pertemuan II

28
i. Menyiapkan peralatan dan perlengkapan penyajian materi
ii. Menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
iii. Mengulas kembali secara singkat tentang area kering yang meliputi
:
 Jenis-jenis area kering yang meliputi area bagian dalam hotel,
area bagian luar hotel dan area tambahan
 Memahami prosedure pembersihan area kering
 Mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis bahan, alat
pembersih yang dipergunakan untuk pembersihan area kering
 Menjelaskan prosedur kerja pembersihan area kering.
 Menjelaskan cara menyimpan dan mengembalikan alat dan
bahan yang telah digunakan untuk pembersihan area kering.
 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan
pertanyaan.
 Melakukan evaluasi pembelajaran dimana siswa melakukan
praktek untuk diambil nilainya.
 Mencatat hasil kerja siswa

c. Observasi dan Evaluasi


Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar
terlaksana, komponen atau aspek afektif yang diobservasi meliputi ;
(1) kehadiran siswa, (2) antusias siswa, (3) siswa yang mengajukan
pertanyaan, (4) siswa yang menjawab saat diajukan pertanyaan.
Sedangkan Evaluasi dilakukan setelah pelaksanaan siklus I
Evaluasi dimaksudkan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa
terhadap materi pelajaran yang diberikan dan untuk melihat hasil
belajar siswa selama digunakan model pembelajaran

d. Refleksi

29
Refleksi dilakukan selama atau setelah penyajian materi pelajaran
melalui media video praktek siswa, dengan melihat perubahan-
perubahan serta tanggapan siswa terhadap materi pembelajaran dan juga
melalui nilai praktek siswa.
Hasil analisis menjadi dasar untuk melaksanakan perencanaan
tindak lanjut, apabila tujuan pembelajaran dengan menggunakan media
video belum tercapai.

2. Siklus II
a. Perencanaan Tindakan
1) Identifikasi masalah dan menetapkan alternatif pemecahan
masalah.
2) Dari observasi awal dapat diketahui dari 16 siswa, sebanyak 13
siswa belum memiliki kemampuan melakukan praktek
membersihkan lokasi area dan peralatan.
3) Menetapkan kompetensi dasar dan indikator.
4) Merencanakan pembelajaran
5) Memilih bahan pelajaran yang sesuai
6) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
7) Menyiapkan lembar observasi
8) Menyiapkan tes hasil belajar yang sudah divalidasi
9) Menetapkan indikator kerja yaitu 75 persen siswa menunjukkan
sikap positif yang baik.

b. Tindakan
Pertemuan 1
1) Menyiapkan peralatan dan perlengkapan penyajian materi
2) Menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
3) Menjelaskan tentang area basah yang meliputi :
 Jenis-jenis area basah

30
 Memahami prosedure pembersihan area basah
 Mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis bahan, alat
pembersih yang dipergunakan untuk pembersihan area
basah
 Menjelaskan prosedur kerja pembersihan area basah.
 Menjelaskan cara menyimpan dan mengembalikan alat dan
bahan yang telah digunakan untuk pembersihan area basah.
 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan
pertanyaan.
 Memberikan pertanyaan kepada siswa dalam bentuk tes
lisan untuk melihat motivasi siswa dan tertulis untuk
diambil nilainya sebagai pertimbangan sejauh mana
pemahaman siswa terhadap pembelajaran yang sudah
dilaksanakan.

Pertemuan II
1) Menyiapkan peralatan dan perlengkapan penyajian materi
2) Menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
3) Mengulas kembali secara singkat tentang area basah yang
meliputi :
 Jenis-jenis area basah
 Memahami prosedure pembersihan area basah
 Mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis bahan, alat
pembersih yang dipergunakan untuk pembersihan area
basah
 Menjelaskan prosedur kerja pembersihan area basah.
 Menjelaskan cara menyimpan dan mengembalikan alat dan
bahan yang telah digunakan untuk pembersihan area basah.
 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan
pertanyaan.

31
 Penjelasan disertai dengan menayangkan video
pembelajaran hasil siswa siklus 1.
 Melakukan evaluasi pembelajaran dimana siswa melakukan
praktek untuk diambil nilainya.
 Mencatat hasil kerja siswa
 Menutup pelajaran

c. Observasi dan Evaluasi


Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar
terlaksana, komponen atau aspek yang diobservasi meliputi ; (1)
kehadiran siswa, (2) antusias siswa, (3) siswa yang mengajukan
pertanyaan, (4) siswa yang menjawab saat diajukan pertanyaan.
Sedangkan Evaluasi dilakukan setelah pelaksanaan siklus II
pada pertemuan ke 2 . Evaluasi dimaksudkan untuk mengukur
tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang
diberikan dan untuk melihat hasil belajar siswa selama diberikan
model pembelajaran ARCS.

d. Refleksi
Refleksi dilakukan selama atau setelah penyajian materi
pelajaran melalui media video siswa sedang melakukan praktek,
dengan melihat perubahan-perubahan serta tanggapan siswa
terhadap media video pembelajaran yang digunakan, juga melalui
hasil praktek dan teori siswa. Hasil analisis menjadi dasar untuk
melaksanakan perencanaan tindak lanjut apabila belum memenuhi
criteria ketuntasan.

C. Instrumen Pengumpulan Data


1. Instrumen Pembelajaran
Instrumen pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini terdiri
atas :

32
1) Silabus
Merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan
pembelajaran pengelolaan kelas yang digunakan sebagai landasan dalam
menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Menurut Dr. E. Mulyasa (2009:205) Silabus adalah rencana
pembelajaran pada satu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu,
yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi
pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar
yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.
2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP adalah perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai
pedoman guru dalam mengajar dan disusun tiap putaran. Dalam RPP,
memuat kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan
pembelajaran, skenario pembelajaran, alat peraga, penilaian, dan belajar
mengajar. Dalam pengembangan RPP Guru diberi kebebasan untuk
mengubah, memodifikasi, dan menyesuaikan silabus dengan kondisi
sekolah atau daerah, serta karakteristik peserta didik.(Dr. E. Mulyasa,
2009:205).
3) Lembar Observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana
peningkatan hasil belajar siswa.

2. Instrumen Evaluasi
1) Aspek Kognitif
Dalam penilaian kognitif siswa diberikan soal tertulis sejumlah 5
soal yang berkaitan dengan materi membersihkan area dan peralatan.
Adapun rubrik penilaiannya adalah sebagai berikut:

Tabel. 3.1. Instrumen penilaian aspek kognitif


No Soal Skor Penilaian

33
10 15 20 0
Cara menata perlengkapan dan trolley
1 Apa pengertian dari public area section !
2 Tulislah bagian-bagian public Area Section !
3 Apa yang dimaksud dengan public area supervisor ?
4 Apa yang dimaksud Public Area Attendant ?
Hal-hal apa yang perlu diperhatikan dalam penampilan room attendant
5 adalah…..
SKOR PEROLEHAN
SKOR MAKSIMAL 100

Keterangan :
1. Siswa menjawab benar skor 20
2. Siswa menjawab agak benar skor 15
3. Siswa menjawab kurang benar skor 10
4. Siswa yang menjawab salah/ tidak menjawab skor 0

skor perolehan
Perolehan Nilai Kognitif = x 100
skor maksimal

2) Aspek Afektif
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah check list.
Check list adalah satu daftar yang berisi nama-nama subyek dan faktor-
faktor yang hendak di selidiki.
Berikut adalah check list yang dipakai untuk penilaian aspek
afektif dalam mata pelajaran membersihkan lokasi/ area dan peralatan:

Tabel .3.2. Instrumen penilaian aspek afektif.


Tidak
No Indikator Dilakukan
Dilakukan
1 Kehadiran Siswa
2 Antusias Siswa
3 Siswa yang mengajukan pertanyaan
4 Siswa yang menjawab pertanyaan saat

34
diajukan pertanyaan
SKOR PEROLEHAN
SKOR MAKSIMAL 4
Keterangan:
1. Dilakukan skor 1
2. Tidak dilakukan skor 0

skor perolehan
Perolehan Nilai Afektif = x 100
skor maksimal

3) Aspek Psikomotorik
Pada aspek psikomotorik peneliti menggunakan instrumen
yang bertujuan untuk mengetahui keterampilan siswa dalam
melakukan praktek membersihkan lokasi/ area dan peralatan.
Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik penilaian sama seperti
penilaian aspek afektif yaitu menggunakan check list.
Berikut ini adalah check list yang dipakai untuk penilaian
aspek psikomotorik dalam menyiapkan kamar tamu:

Tabel 3.3.Instrumen penilaian aspek psikomotorik.


Skor Penilaian
No Aspek Penilaian Praktek
2 4 6 8 10

Kompetensi membersihkan area kering dan basah


Grooming
1
Pemilihan alat dan bahan pembersih
2
Prosedur kerja
3
Keamanan dan keselamatan kerja
4
Pengembalian alat dan bahan
5
SKOR PEROLEHAN
SKOR MAKSIMAL 50

35
skor perolehan
Perolehan Nilai Psikomotorik = x 100
skor maksimal

D. Analisis Data
Untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan
pembelajaran perlu diadakan analisis data. Pada penelitian ini menggunakan
teknik analisa deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat
menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh
dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa juga untuk
memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa
selama proses pembelajaran membersihkan lokasi/ area dan peralatan..
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini
adalah:
1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif berupa hasil belajar kognitif, dianalisis dengan
menggunakan teknik analisis deskriptif persentase dengan menentukan
presentasi ketuntasan belajar dan mean (rerata) kelas. Adapun penyajian
data kuantitatif dipaparkan dalam bentuk resentasi dan angka.
Rumus untuk menghitung persentase ketuntasan belajar adalah
sebagai berikut:

jumlah siswa yang tuntas belajar


P= x 100 %
jumlah siswa

Setelah diperoleh hasil maka dapat dibandingkan ada atau


tidaknya peningkatan dari hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II
dan seberapa besar peningkatan keberhasilannya.
Perhitungan presentase dengan menggunakan rumus diatas
harus sesuai dan memperhatikan kriteria ketuntasan belajar siswa SMK

36
Amerta Wonogiri yang dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu
tuntas dan tidak tuntas dengan kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.4. Kriteria Ketuntasan Belajar Membersihkan Lokasi/ Area dan Peralatan

Kriteria Ketuntasan Kualifikasi


>75 Tuntas
< 75 Tidak Tuntas

1) Aspek Kognitif
Rumus yang digunakan untuk memperoleh nilai pada aspek
kognitif adalah sebagai berikut :

𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
Perolehan Nilai Kognitif = x 100
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙

Keterangan :
1. Siswa menjawab benar skor 20
2. Siswa menjawab agak benar skor 15
3. Siswa menjawab kurang benar skor 10
4. Siswa yang menjawab salah/ tidak menjawab skor 0

2) Aspek Afektif
Rumus yang digunakan untuk memperoleh nilai pada aspek
kognitif adalah sebagai berikut :

skor perolehan
Perolehan Nilai Afektif = x 100
skor maksimal

Keterangan :

37
 Siswa yang melakukan aktifitas sesuai dengan indikator
instrumen afektif mendapat skor 1,
 Siswa yang tidak melakukan mendapat skor 0.
 Skor maksimal dalam aspek afektif ini adalah 4.

3) Aspek Psikomotorik
Rumus yang digunakan untuk memperoleh nilai pada aspek
psikomotor adalah sebagai berikut :
skor perolehan
Perolehan Nilai Psikomotor = = x 100
skor maksimal

Keterangan :
 Skor maksimal dalam aspek psikomotorik ini adalah 50.

4) Nilai Akhir
Aspek afektif sebanyak digunakan untuk mengukur motivasi
siswa terhadap pembelajaran.
Nilai akhir diperoleh dengan cara memberikan bobot penilaian
pada aspek kognitif (tertulis) sebesar 30%, dan aspek psikomotor
(praktek) sebanyak 70 %. Hal ini dikarenakan dalam mata pelajaran
membersihkan lokasi /area dan peralatan memang lebih ditekankan
pada psikomotornya. Sehingga didapatkan rumus untuk nilai akhir
adalah sebagai berikut:

N akhir = (N Kognitif x 30 % )+ (N Psikomotor x 70 %)

2. Data Kualitatif

38
Data kualitatif berupa data hasil belajar siswa dan hasil observasi
keterampilan siswa dalam pembelajaran membersihkan lokasi/ area dan
peralatan.
Data kualitatif dipaparkan dalam kalimat yang dipisahkan menurut
kategori untuk memperoleh kesimpulan.

Tabel 3.4. Kriteria Keberhasilan Belajar Siswa


Tingkat Keberhasilan Arti
<85 Sangat Tinggi
76-85 Tinggi
60-75 Sedang
56-65 Rendah
40-55 Sangat Rendah

Tabel 3.5. Rambu-Rambu Analisis Hasil Belajar


Pencapaian Tujuan Tingkatan Keberhasilan
Kualifikasi
Pembelajaran (%) Pembelajaran
85-100% Sangat baik (A) Berhasil
76 – 85 % Baik (B) Berhasil
55 – 75 % Cukup (C) Tidak berhasil
0 – 54 % Kurang (D) Tidak berhasil

39
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus I


Berdasarkan hasil observasi awal, kemampuan tehnik membersihkan
lokasi/ area dan peralatan pada siswa kelas XI H 1 SMK Amerta Wonogiri
Wonogiri memiliki nilai rata-rata sebesar 69,00 dengan perincian 3 siswa tuntas
(18,75 %) dan sisanya sebanyak 13 siswa (81,25 %) belum tuntas dalam
pembelajaran.

1. Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus I terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan
(planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi, dan refleksi.
Analisis data dilakukan pada akhir siklus setelah data itu
dikelompokkan secara cermat. Analisis kualitatif dan persentase dilakukan
terhadap sikap positif siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Sedangkan tingkat penguasaan konsep atau prestasi belajar siswa
dianalisis dengan teknik analisis deskriptif. Hal ini dimaksudkan untuk dapat
mendeskripsikan karakteristik distribusi skor perolehan siswa secara
keseluruhan.
Siklus I dilaksanakan dua pertemuan yaitu pada hari Kamis tanggal
15 Januari 2015 dan tanggal 22 Januari 2015 bertempat di ruang praktek
SMK Amerta Wonogiri . Pertemuan dilaksanakan selama 2 x 45 menit.
Tahap pelaksanaan dilakukan dengan melaksanakan skenario pembelajaran
yang telah direncanakan dalam RPP. Materi pada pelaksanaan tindakan
siklus I pertemuan 1 pada hari Kamis , 15 Januari 2015 implementasinya
sebagai berikut:
a) Kegiatan Awal
 Guru menyiapkan peralatan / media pembelajaran, setting letak dan
alat.

40
 Guru menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengelaborasi
respon siswa.
 Peneliti dan guru menyiapkan siswa dengan memulai proses
pembelajaran dengan berdoa kemudian mempresensi.
 Guru memberikan apersepsi, motivasi, penjelasan tujuan
pembelajaran dan indikator yang harus dicapai.
b) Kegiatan Inti.
Teknik membersihkan lokasi/ area dan peralatan
 Menjelaskan tentang area kering yang meliputi :
 Jenis-jenis area kering yang meliputi area bagian dalam hotel,
area bagian luar hotel dan area tambahan
 Memahami prosedure pembersihan area kering
 Mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis bahan, alat
pembersih yang dipergunakan untuk pembersihan area kering
 Menjelaskan prosedur kerja pembersihan area kering.
 Menjelaskan cara menyimpan dan mengembalikan alat dan
bahan yang telah digunakan untuk pembersihan area kering.
 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan
pertanyaan.
 Memberikan pertanyaan kepada siswa dalam bentuk tes lisan
untuk melihat sejauh mana motivasi siswa terhadap proses
pembelajaran dan tes tertulis diambil nilainya sebagai
pertimbangan sejauh mana pemahaman siswa terhadap
pembelajaran yang sudah dilaksanakan.
 Guru mengamati siswa dan memberi pengarahan kepada siswa
yang sedang praktek.
c) Penutup
 Melaksanakan pendinginan.
 Evaluasi dan tanya-jawab mengenai pembelajaran yang telah
dilakukan.

41
 Siswa berdoa kemudian masuk kelas untuk mengikuti pelajaran
selanjutnya.

2. Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti bersama kolaborator saat proses
pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan menggunakan lembar
observasi keterampilan siswa dalam melakukan kegiatan membersihkan
lokasi area dan peralatan dengan memperhatikan ranah penilaian afektif dan
kognitif untuk melihat sejauh mana motivasi
Hasil observasi tersebut adalah :
a) Proses tindakan
Pertemuan Pertama pembelajaran membersihkan lokasi area dan
peralatan berjalan cukup baik. Guru sudah menyampaikan materi dan
memberikan contoh langsung kepada siswa.

Gambar 4.1. Guru mengamati siswa yang melakukan praktek


membersihkan area kering .

42
Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktek. Apabila ada
kesalahan , guru segera memberi tahu dan memberi contoh tindakan yang
seharusnya dilakukan sesuai prosedur standart hotel.

Gambar 4.2. Guru mengamati siswa yang melakukan pembelajaran.

Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktek. Apabila ada
kesalahan , guru segera memberi tahu dan memberi contoh tindakan yang
seharusnya dilakukan sesuai prosedur standar hotel.

43
Gambar 4.3. Guru mengamati siswa yang melakukan pembelajaran.

Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktek. Apabila ada
kesalahan , guru segera memberi tahu dan memberi contoh tindakan yang
seharusnya dilakukan sesuai prosedur standar hotel.

b) Pengaruh tindakan
Peningkatan motivasi menggunakan metode ARCS ternyata dapat
mempermudah dan mengurangi rasa takut siswa terhadap kegiatan
membersihkan lokasi/ area dan peralatan. Motivasi siswa meningkat dan
diharapkan dengan adanya peningakatan motivasi akan meningkatkan
hasil belajar siswa
Perbaikan-perbaikan gerakan mulai bisa diamati menjadi lebih
baik meskipun belum semuanya mengalami peningkatan.

44
c) Kendala dalam implementasi tindakan
Ada beberapa kendala yang dihadapi ketika pelaksanaan tindakan.
Pada pertemuan pertama, siswa masih sulit diatur di awal kegiatan.
Konsentrasi siswa terkadang tidak fokus, masih terdapat siswa yang tidak
memperhatikan perintah atau petunjuk-petunjuk dalam melakukan
praktek membersihkan lokasi/ area dan peralatan. Selain itu masih ada
siswa yang malu bahkan takut menjawab pertanyaan dari guru ataupun
bertanya pada guru disaat mereka belum sepenuhnya memahami materi
yang diberikan.
Ada beberapa siswa yang melakukan pembelajaran sesukanya
sendiri, tidak sesuai dengan contoh yang diberikan oleh peneliti.
Pembelajaran membersihkan lokasi area dan peralatan masih belum
terlaksana seperti yang diharapkan.

d) Identifikasi penyebab terkendalanya tindakan


Kendala yang dihadapi dapat diidentifikasi penyebabnya, masih
terlalu banyak siswa yang kurang memperhatikan. Kendala dalam
pelaksanaan pembelajaran karena belum sepenuhnya perhatian siswa
tertuju pada pembelajaran dan kurang serius dalam mengikuti
pembelajaran.

3. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi pada tindakan pertama tersebut, peneliti
melakukan analisis dan refleksi sebagai berikut:

45
a) Nilai Afektif

Tabel 4.1. Aktivitas Siswa (Afektif)


Membersihkan lokasi area dan peralatan Siklus I
Aspek Siklus I Kriteria
Persentase Jumlah Anak
81 % 13 T
Perilaku afektif
19 % 3 BT

Berdasarkan tabel diatas, aktivitas afektif siswa dalam pembelajaran


membersihkan lokasi area dan peralatansiswa kelas XI H 1 SMK Amerta
Wonogiri menunjukkan hasil yaitu terdapat 13 siswa atau 81 % yang
berada di atas batas nilai ketercapaian dan 3 siswa atau 19 % masih berada
di bawah batas nilai ketercapaian.
Untuk lebih memperjelas prosentase afektif siswa, dapat dilihat
pada diagram dibawah ini :

Diagram Penilaian Afektif Siswa


90
80
70
60 dalam %
50
40
tuntas
30
20 belum tuntas
10
0
prosentase
jumlah
ketuntasan
siswa

Gambar 4.4. Diagram Ketuntasan Aspek Afektif Siklus I

46
b) Nilai Kognitif.
Tabel 4.2. Pemahaman Konsep (Kognitif)
Membersihkan lokasi/ area dan peralatan
Aspek Siklus I Kriteria
Persentase Jumlah Anak
25 % 4 T
Pemahaman Materi
75 % 12 BT

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pemahaman


konsep tentang materi membersihkan lokasi area dan peralatansiswa kelas
XI H 1 SMK Amerta Wonogiri Tahun Pelajaran 2014/2015 menunjukkan
hasil sebagai berikut yaitu terdapat 10 siswa atau 63 % yang berada di atas
batas nilai ketercapaian dan 6 siswa atau 38 % masih berada di bawah batas
nilai ketercapaian. Angka ini menunjukkan target keberhasilan 75 % belum
tercapai.
Untuk lebih memperjelas prosentase kognitif siswa, dapat dilihat
pada diagram dibawah ini :

80
70
70
60
60
50
50 dalam %
40
40 tuntas
30 Tuntas
30 Belum tuntas
20

10 20

0 10
prosentase jumlah siswa
0
ketuntasan
prosentase jumlah siswa
ketuntasan

Gambar 4.5. Diagram Ketuntasan Aspek Kognitif Siklus I

47
c) Hasil Belajar.
Tabel 4.3.Deskripsi peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar
Membersihkan lokasi/ area dan peralatan Siklus I Pertemuan 1
Siklus I
Aspek Persentase Jumlah Kriteria
Anak
1. Peningkatan motivasi siswa pada mata pelajaran 81 13 T
membersihkan lokasi / area dan peralatan 19 4 BT

2. Pemahaman konsep mata pelajaran 63 10 T


membersihkan lokasi/ area dan peralatan
38 6 BT

80

70

60

50
Belum Tuntas

40 Rata-Rata
Tuntas
30
Belum Tuntas
20

10

0
afektif kognitif

Gambar 4.6. Hasil Belajar Siklus I Pertemuan 1

Berdasarkan data hasil belajar tindakan siklus I yang diperoleh, dapat


diketahui bahwa nilai yang menunjukkan peningkatan motivasi sejumlah 13
siswa. Ini berarti 3siswa atau 19 % belum mengalami peningkatan motivasi

48
dalam pembelajaran. Jumlah siswa yang mendapat nilai 75 keatas dalam
pemahaman materi yaitu sejumalh 10 siswa dengan prosentase sebesar 63 %
menjadi bukti peningkatan hasil belajar membersihkan lokasi/ area dan
peralatan. Adapun nilai rata-rata pemahaman materi hasil belajar siklus I
sebesar 74,69 dan nilai rata-rata peningkatan motivasi sebesar 71,88.

1. Pelaksanaan pembelajaran siklus 1 Pertemuan 2


Materi pada pelaksanaan tindakan siklus I pertemuan 2 pada hari Kamis
, 22 Januari 2015 implementasinya sebagai berikut:
a) Kegiatan Awal
 Guru menyiapkan peralatan / media pembelajaran, setting letak dan
alat.
 Guru menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengelaborasi
respon siswa.
 Peneliti menyiapkan siswa dengan memulai proses pembelajaran
dengan berdoa kemudian mempresensi.
 Guru memberikan apersepsi, motivasi, penjelasan tujuan
pembelajaran dan indikator yang harus dicapai.
b) Kegiatan Inti.
 Mengulas secara singkat mengenai teknik membersihkan lokasi/ area
dan peralatan dimana yang diulas meliputi :
 Jenis-jenis area kering yang meliputi area bagian dalam hotel,
area bagian luar hotel dan area tambahan
 Identifikasi dan mengelompokkan jenis bahan, alat pembersih
yang dipergunakan untuk pembersihan area kering
 Prosedur kerja pembersihan area kering.
 Cara menyimpan dan mengembalikan alat dan bahan yang telah
digunakan untuk pembersihan area kering.
 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan
pertanyaan.

49
 Praktek melakukan kegiatan membersihkan lokasi/ area kering untuk
diambil nilainya sebagai bahan pertimbangan apakah penggunaan
metode ARCS dalam meningkatkan motivasi siswa berpengaruh
terhadap kenaikan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan
kenaikan nilai praktek dan teori.
 Guru mengamati siswa yang praktek untuk diambil nilainya.

c) Penutup
 Melaksanakan pendinginan.
 Evaluasi dan tanya-jawab mengenai pembelajaran yang telah
dilakukan.
 Siswa berdoa kemudian masuk kelas untuk mengikuti pelajaran
selanjutnya.

2. Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti bersama kolaborator saat proses
pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan menggunakan lembar
observasi keterampilan siswa dalam melakukan kegiatan membersihkan
lokasi area dan peralatan dengan memperhatikan ranah penilaian afektif dan
kognitif untuk melihat sejauh mana motivasi
Hasil observasi tersebut adalah :
a) Proses tindakan
Pertemuan kedua pembelajaran membersihkan lokasi area dan
peralatan berjalan cukup baik. Guru sudah menyampaikan materi dan
memberikan contoh langsung kepada siswa.

50
Gambar 4.7. Guru mengamati siswa yang melakukan praktek
membersihkan area kering .

Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktek dan mengambil
nilai siswa yang sedang praktek

Gambar 4.8. Guru mengamati siswa yang melakukan pembelajaran


dan mengambil nilai siswa.

Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktek. Apabila ada
kesalahan , guru segera memberi tahu tetapi tidak memberi contoh untuk
melihat sejauh mana siswa memahami praktek pembersihan area kering
yang seharusnya dilakukan sesuai prosedur standar hotel.

51
Gambar 4.9. Guru mengamati siswa yang melakukan pembelajaran.

Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktek. Apabila ada
kesalahan , guru segera memberi tahu tetapi tidak memberi contoh untuk
melihat sejauh mana siswa memahami praktek pembersihan area kering
yang seharusnya dilakukan sesuai prosedur standar hotel.

b) Pengaruh tindakan
Peningkatan motivasi menggunakan metode ARCS ternyata dapat
mempermudah dan mengurangi rasa takut siswa terhadap kegiatan
membersihkan lokasi/ area dan peralatan. Motivasi siswa meningkat dan
dengan adanya peningkatan motivasi berpengaruh terhadap peningkatan
hasil belajar siswa.
Perbaikan-perbaikan gerakan mulai bisa diamati menjadi lebih
baik meskipun belum semuanya mengalami peningkatan.

c) Kendala dalam implementasi tindakan


Ada beberapa kendala yang dihadapi ketika pelaksanaan tindakan.
Pada pertemuan pertama, siswa masih sulit diatur di awal kegiatan.

52
Konsentrasi siswa terkadang tidak fokus, masih terdapat siswa yang tidak
memperhatikan perintah atau petunjuk-petunjuk dalam melakukan
praktek membersihkan lokasi/ area dan peralatan. Selain itu masih ada
siswa yang malu bahkan takut menjawab pertanyaan dari guru ataupun
bertanya pada guru disaat mereka belum sepenuhnya memahami materi
yang diberikan.
Ada beberapa siswa yang melakukan pembelajaran sesukanya
sendiri, tidak sesuai dengan contoh yang diberikan oleh peneliti.
Pembelajaran membersihkan lokasi area dan peralatan masih belum
terlaksana seperti yang diharapkan.

d) Identifikasi penyebab terkendalanya tindakan


Kendala yang dihadapi dapat diidentifikasi penyebabnya, masih
terlalu banyak siswa yang kurang memperhatikan. Kendala dalam
pelaksanaan pembelajaran karena belum sepenuhnya perhatian siswa
tertuju pada pembelajaran dan kurang serius dalam mengikuti
pembelajaran.

3. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi pada tindakan pertama tersebut, peneliti
melakukan analisis dan refleksi sebagai berikut:
Berdasarkan hasil observasi pada tindakan pertama tersebut, peneliti
melakukan analisis dan refleksi sebagai berikut:
a. Nilai Psikomotor.

53
Tabel 4.4. Kemampuan Siswa (Psikomotor)
Menyiapkan kamar untuk tamu Siklus I

Aspek Siklus I Kriteria


Persentase Jumlah Anak
Penguasaan 68,8 % 11 T
Materi Praktek 31,2 % 5 BT

Berdasarkan tabel diatas, siswa kelas XI H 1 SMK Amerta


Wonogiri tahun pelajaran 2014/2015 menunjukkan peningkatan hasil
belajar membersihkan lokasi/ area dan peralatan. Siswa yang tuntas
sebanyak 11 siswa atau 68,8 %, sedangkan siswa yang tidak tuntas
sebanyak 5 siswa atau 31,3 %.
Untuk lebih memperjelas prosentase ketuntasan siswa, dapat
dilihat pada diagram dibawah ini :

80
70
60
50
dalam %
40 tuntas
30
20
10
0
prosentase jumlah siswa
ketuntasan

Gambar 4.10. Diagram Ketuntasan Aspek Psikomotor Siklus I

54
b. Hasil Belajar.
Tabel 4.5.Deskripsi Hasil Belajar membersihkan lokasi/ area dan
peralatan Siklus I
Siklus I
Aspek Kriteria
Persentase Jumlah Anak
Penguasaan materi dan 43.75 % 7 T
praktek Menyiapkan 56.25 % 9 BT
kamar untuk tamu

80

70

60

50
Belum Tuntas

40 Rata-Rata
Tuntas
30
Belum Tuntas
20

10

0
afektif psikomotorik kognitif rekapitulasi

Gambar 4.11. Hasil Belajar Siklus I

Berdasarkan rekapitulasi data hasil belajar tindakan siklus I yang


diperoleh, dapat diketahui 7 siswa atau 43.75 % sudah mencapai batas KKM
yaitu nilai 75. Adapun 9 siswa dengan prosentase 56,25 % siswa belum
mencapai batas KKM. Jumlah siswa yang mendapat nilai diatas 75 menjadi
bukti peningkatan hasil belajar menyiapkan kamar untuk tamu. Adapun nilai
rata-rata hasil belajar siklus I sebesar 74.21.

55
B. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus II
Siklus II merupakan tindak lanjut dari hasil analisis dan refleksi siklus I,
dimana dalam pelaksanaan tindakan siklus I rata-rata siswa menunjukan hasil
yang kurang maksimal dan belum sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Adapun pelaksanaan siklus 2 tetap dilaksanakan 2 kali pertemuan yaitu pada hari
kamis tanggal 29 Januari 2015 dan hari Jum’at, tanggal 6 Februari 2015.
Pelaksanaan siklus II mengacu pada pelaksanaan siklus I, karena merupakan
perbaikan dari siklus I. Adapun tahap yang dilakukan pada siklus II ini yaitu:
1. Perencanaan
Perencanaan tindakan, sebagai berikut:
a) Peneliti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan
mengacu pada tindakan yang diterapkan dalam PTK dan berdasarkan apa
yang telah terjadi pada siklus I.
b) Menyiapkan modifikasi permainan yang lebih menarik dan mudah
dilaksanakan untuk membantu pembelajaran membersihkan lokasi/ area
dan peralatan
c) Menyusun instrument tes membersihkan lokasi area dan peralatan dan
lembar observasi atau pengamatan pembelajaran yang dicantumkan
dalam rubrik penilaian dalam RPP.

2. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan siklus II dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 29
Januari 2015 dan Hari Jum’at, tanggal 6 Februari 2015, di ruang praktek.
Pertemuan dilaksanakan selama 2 x 45 menit. Tahap pelaksanaan dilakukan
dengan melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan dalam
RPP. Materi pada pelaksanaan tindakan siklus II, implementasinya sebagai
berikut:
a) Kegiatan Awal
 Guru Menyiapkan peralatan / media pembelajaran, setting letak dan alat
yang dibantu oleh para peserta didik.

56
 Guru menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengelaborasi respon
siswa.
 Peneliti menyiapkan siswa dengan memulai proses pembelajaran
dengan berdoa kemudian presensi.
 Guru memberikan apersepsi, motivasi, penjelasan tujuan pembelajaran
dan indikator yang harus dicapai.
 Guru menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengelaborasi respon
siswa
 Siswa menjawab pertanyaan dari guru. Terlihat beberapa siswa berfikir
untuk memberikan jawaban yang mereka anggap benar. Ada juga siswa
yang tanpa sadar mempraktekkan gerakan membersihkan lokasi area
dan peralatanuntuk menyiapkan diri bila sampai gilirannya menjawab
pertanyaan dari guru .
 Siswa yang menjawab tepat akan diberi nilai . Jadi semua jawaban
siswa akan tetap diberi apresiasi nilai oleh guru untuk meningkatkan
minat siswa.

b) Kegiatan Inti.
Siklus 2 pertemuan 1 :
Teknik membersihkan lokasi/ area dan peralatan
 Menjelaskan tentang area basah yang meliputi :
 Jenis-jenis area basah
 Memahami prosedure pembersihan area basah
 Mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis bahan, alat pembersih
yang dipergunakan untuk pembersihan area basah
 Menjelaskan prosedur kerja pembersihan area basah
 Menjelaskan cara menyimpan dan mengembalikan alat dan bahan
yang telah digunakan untuk pembersihan area basah
 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan
pertanyaan.

57
 Memberikan pertanyaan kepada siswa dalam bentuk tes lisan untuk
melihat sejauh mana motivasi siswa terhadap proses pembelajaran
dan tes tertulis diambil nilainya sebagai pertimbangan sejauh mana
pemahaman siswa terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan.
 Guru mengamati siswa dan memberi pengarahan kepada siswa
yang sedang praktek.

c) Penutup
 Melaksanakan pendinginan.
 Evaluasi dan tanya-jawab mengenai pembelajaran yang telah
dilakukan.
 Siswa berdoa kemudian masuk kelas untuk mengikuti pelajaran
selanjutnya.

3. Observasi
Pengamatan dilakukan oleh peneliti bersama kolaborator saat proses
pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan menggunakan lembar
observasi keterampilan siswa dalam melakukan kegiatan membersihkan
lokasi area dan peralatan dengan memperhatikan ranah penilaian afektif
dan kognitif untuk melihat sejauh mana motivasi
Hasil observasi tersebut adalah :
1) Proses tindakan
Pertemuan 1 siklus ke 2pembelajaran membersihkan lokasi
area dan peralatan berjalan cukup baik. Guru sudah menyampaikan
materi dan memberikan contoh langsung kepada siswa.

58
Gambar 4.12. Guru memberikan contoh cara penggunaan
alat praktek untuk membersihkan area.

Keterangan : Guru Guru memberikan contoh cara penggunaan alat praktek


untuk membersihkan area.

Gambar 4.13. Siswa memilih bahan untuk melakukan pembersihan area hotel.

59
Keterangan :
Siswa memilih bahan untuk melakukan pembersihan area hotel. Hal ini
dimaksudkan agar siswa tidak keliru dalam memilih alat dan bahan pembersih
karena akibatnya bisa fatal.

Gambar 4.14. Siswa melakukan pembelajaran membersihkan area basah


yaitu bathtub.

Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktekmembersihkan
area basah.. Apabila ada kesalahan , guru segera memberi tahu dan
memberi contoh tindakan yang seharusnya dilakukan sesuai prosedur
standar hotel.

2) Pengaruh tindakan
Peningkatan motivasi menggunakan metode ARCS ternyata
dapat mempermudah dan mengurangi rasa takut siswa terhadap
kegiatan membersihkan lokasi/ area dan peralatan. Motivasi siswa

60
meningkat dan diharapkan dengan adanya peningakatan motivasi akan
meningkatkan hasil belajar siswa
Perbaikan-perbaikan gerakan mulai bisa diamati menjadi lebih
baik meskipun belum semuanya mengalami peningkatan.

3) Kendala dalam implementasi tindakan


Ada beberapa kendala yang dihadapi ketika pelaksanaan
tindakan. Pada pertemuan pertama, siswa masih sulit diatur di awal
kegiatan. Konsentrasi siswa terkadang tidak fokus, masih terdapat
siswa yang tidak memperhatikan perintah atau petunjuk-petunjuk
dalam melakukan praktek membersihkan lokasi/ area dan peralatan.
Selain itu masih ada siswa yang malu bahkan takut menjawab
pertanyaan dari guru ataupun bertanya pada guru disaat mereka belum
sepenuhnya memahami materi yang diberikan.
Ada beberapa siswa yang melakukan pembelajaran sesukanya
sendiri, tidak sesuai dengan contoh yang diberikan oleh peneliti.
Pembelajaran membersihkan lokasi area dan peralatan masih belum
terlaksana seperti yang diharapkan.

4) Identifikasi penyebab terkendalanya tindakan


Kendala yang dihadapi dapat diidentifikasi penyebabnya, masih
terlalu banyak siswa yang kurang memperhatikan. Kendala dalam
pelaksanaan pembelajaran karena belum sepenuhnya perhatian siswa
tertuju pada pembelajaran dan kurang serius dalam mengikuti
pembelajaran.

4. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi pada tindakan pertama tersebut, peneliti
melakukan analisis dan refleksi sebagai berikut:

61
1) Nilai Afektif

Tabel 4.6. Aktivitas Siswa (Afektif)


Membersihkan lokasi area dan peralatan Siklus 2
Aspek Siklus 2 Kriteria
Persentase Jumlah Anak
100 % 16 T
Perilaku afektif
0% 0 BT

Berdasarkan tabel diatas, aktivitas afektif siswa dalam pembelajaran


membersihkan lokasi area dan peralatansiswa kelas XI H 1 SMK Amerta
Wonogiri menunjukkan hasil yaitu terdapat 16 siswa atau 100 % yang
berada di atas batas nilai ketercapaian dan tidak ada siswa yang berada di
bawah batas nilai ketercapaian.
Untuk lebih memperjelas prosentase afektif siswa, dapat dilihat
pada diagram dibawah ini :

Diagram Penilaian Afektif Siswa


100
90
80
70
dalam %
60
50
40 tuntas
30
belum tuntas
20
10
0
prosentase
jumlah
ketuntasan
siswa

Gambar 4.15. Diagram Ketuntasan Aspek Afektif Siklus 2

62
2) Nilai Kognitif.
Tabel 4.6. Pemahaman Konsep (Kognitif)
Membersihkan lokasi/ area dan peralatan
Aspek Siklus I Kriteria
Persentase Jumlah Anak
25 % 4 T
Pemahaman Materi
75 % 12 BT

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pemahaman


konsep tentang materi membersihkan lokasi /area dan peralatan siswa kelas
XI H 1 SMK Amerta Wonogiri Tahun Pelajaran 2014/2015 menunjukkan
hasil sebagai berikut yaitu terdapat 16 siswa atau 100 % yang berada di atas
batas nilai ketercapaian dan tidak ada siswa yang berada di bawah batas
nilai ketercapaian. Angka ini menunjukkan target keberhasilan 75 % sudah
tercapai.
Untuk lebih memperjelas prosentase kognitif siswa, dapat dilihat
pada diagram dibawah ini :

80
120
70
100
60
80
50 dalam %
60 tuntas
40 Tuntas
4030 Belum tuntas

2020

010
prosentase jumlah siswa
0
ketuntasan
prosentase jumlah siswa
ketuntasan

Gambar 4.16. Diagram Ketuntasan Aspek Kognitif Siklus I

63
3) Hasil Belajar.
Tabel 4.7.Deskripsi peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar
Membersihkan lokasi/ area dan peralatan Siklus 2 Pertemuan 1
Siklus I
Aspek Persentase Jumlah Kriteria
Anak
a. Peningkatan motivasi siswa pada mata pelajaran 100 % 16 T
membersihkan lokasi / area dan peralatan 0% 0 BT

b. Pemahaman konsep mata pelajaran 100 % 16 T


membersihkan lokasi/ area dan peralatan
0% 0 BT

90

80

70

60

50 Belum Tuntas
Rata-Rata
40
Tuntas
30
Belum Tuntas
20

10

0
afektif kognitif

Gambar 4.17. Hasil Belajar Siklus 2 Pertemuan 1

Berdasarkan data hasil belajar tindakan siklus 2 yang diperoleh, dapat


diketahui bahwa nilai yang menunjukkan peningkatan motivasi sejumlah 16
siswa. Ini berarti tidak ada siswa yang tidak mengalami peningkatan motivasi

64
dalam pembelajaran. Jumlah siswa yang mendapat nilai 75 keatas dalam
pemahaman materi yaitu sejumlah 16 siswa dengan prosentase sebesar 100
% menjadi bukti peningkatan hasil belajar membersihkan lokasi/ area dan
peralatan. Adapun nilai rata-rata pemahaman materi hasil belajar siklus 2
sebesar 82.44 dan nilai rata-rata peningkatan motivasi sebesar 81.25.

Siklus 2 Pertemuan 2
Materi pada pelaksanaan tindakan siklus 2 pertemuan 2 pada hari
Jum’at , 6 Februari 2015 implementasinya sebagai berikut:
a) Kegiatan Awal
 Guru menyiapkan peralatan / media pembelajaran, setting letak dan
alat.
 Guru menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengelaborasi
respon siswa.
 Peneliti menyiapkan siswa dengan memulai proses pembelajaran
dengan berdoa kemudian mempresensi.
 Guru memberikan apersepsi, motivasi, penjelasan tujuan
pembelajaran dan indikator yang harus dicapai.

b) Kegiatan Inti.
 Mengulas secara singkat mengenai teknik membersihkan lokasi/ area
dan peralatan dimana yang diulas meliputi :
 Jenis-jenis area basah yang meliputi area bagian dalam hotel,
area bagian luar hotel dan area tambahan
 Identifikasi dan mengelompokkan jenis bahan, alat pembersih
yang dipergunakan untuk pembersihan area basah
 Prosedur kerja pembersihan area basah.
 Cara menyimpan dan mengembalikan alat dan bahan yang telah
digunakan untuk pembersihan area basah.

65
 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan
pertanyaan.
 Praktek melakukan kegiatan membersihkan lokasi/ area basah untuk
diambil nilainya sebagai bahan pertimbangan apakah penggunaan
metode ARCS dalam meningkatkan motivasi siswa berpengaruh
terhadap kenaikan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan
kenaikan nilai praktek dan teori.
 Guru mengamati siswa yang praktek untuk diambil nilainya.

c) Penutup
 Melaksanakan pendinginan.
 Evaluasi dan tanya-jawab mengenai pembelajaran yang telah
dilakukan.
 Siswa berdoa kemudian masuk kelas untuk mengikuti pelajaran
selanjutnya.

Observasi siklus 2 Pertemuan 2


Pengamatan dilakukan oleh peneliti bersama kolaborator saat proses
pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan menggunakan lembar
observasi keterampilan siswa dalam melakukan kegiatan membersihkan
lokasi area dan peralatan dengan memperhatikan ranah penilaian afektif dan
kognitif untuk melihat sejauh mana motivasi
Hasil observasi tersebut adalah :
a) Proses tindakan
Pertemuan kedua pembelajaran membersihkan lokasi area dan
peralatan berjalan cukup baik. Guru sudah menyampaikan materi dan
memberikan contoh langsung kepada siswa.

66
Gambar 4.18. Guru mengamati siswa yang melakukan praktek
membersihkan area basah .

Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktek dan mengambil
nilai siswa yang sedang praktek

Gambar 4.19. Guru mengamati siswa yang melakukan pembelajaran


dan mengambil nilai siswa.

Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktek untuk diambil
nilainya.

67
Gambar 4.20. Guru mengamati siswa yang melakukan praktek

Keterangan :
Guru mengamati siswa yang sedang melakukan praktek guna diambil
nilainya

b) Pengaruh tindakan
Peningkatan motivasi menggunakan metode ARCS ternyata
dapat mempermudah dan mengurangi rasa takut siswa terhadap
kegiatan membersihkan lokasi/ area dan peralatan. Motivasi siswa
meningkat dan dengan adanya peningkatan motivasi berpengaruh
terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
Perbaikan-perbaikan gerakan mulai bisa diamati menjadi lebih
baik meskipun belum semuanya mengalami peningkatan.

c) Kendala dalam implementasi tindakan


Ada beberapa kendala yang dihadapi ketika pelaksanaan tindakan.
Pada pertemuan pertama, siswa masih sulit diatur di awal kegiatan.
Konsentrasi siswa terkadang tidak fokus, masih terdapat siswa yang tidak

68
memperhatikan perintah atau petunjuk-petunjuk dalam melakukan
praktek membersihkan lokasi/ area dan peralatan. Selain itu masih ada
siswa yang malu bahkan takut menjawab pertanyaan dari guru ataupun
bertanya pada guru disaat mereka belum sepenuhnya memahami materi
yang diberikan.
Ada beberapa siswa yang melakukan pembelajaran sesukanya
sendiri, tidak sesuai dengan contoh yang diberikan oleh peneliti.
Pembelajaran membersihkan lokasi area dan peralatan masih belum
terlaksana seperti yang diharapkan.

d) Identifikasi penyebab terkendalanya tindakan


Kendala yang dihadapi dapat diidentifikasi penyebabnya, masih
terlalu banyak siswa yang kurang memperhatikan. Kendala dalam
pelaksanaan pembelajaran karena belum sepenuhnya perhatian siswa
tertuju pada pembelajaran dan kurang serius dalam mengikuti
pembelajaran.

Refleksi
Berdasarkan hasil observasi pada tindakan pertama tersebut, peneliti
melakukan analisis dan refleksi sebagai berikut:
Berdasarkan hasil observasi pada tindakan pertama tersebut, peneliti
melakukan analisis dan refleksi sebagai berikut:
b. Nilai Psikomotor.
Tabel 4.8. Kemampuan Siswa (Psikomotor)
Menyiapkan kamar untuk tamu Siklus 2

Aspek Siklus I Kriteria


Persentase Jumlah Anak
Penguasaan 100 % 16 T
Materi Praktek 0% 0 BT

69
Berdasarkan tabel diatas, siswa kelas XI H 1 SMK Amerta
Wonogiri tahun pelajaran 2014/2015 menunjukkan peningkatan hasil
belajar membersihkan lokasi/ area dan peralatan. Siswa yang tuntas
sebanyak 16 siswa atau 100 %, sedangkan siswa yang tidak tuntas
sebanyak 0 siswa atau 0 %.
Untuk lebih memperjelas prosentase ketuntasan siswa, dapat
dilihat pada diagram dibawah ini :

120

100

80
dalam %
60 tuntas
40

20

0
prosentase jumlah siswa
ketuntasan

Gambar 4.21. Diagram Ketuntasan Aspek Psikomotor Siklus I

c. Hasil Belajar.
Tabel 4.9.Deskripsi Hasil Belajar membersihkan lokasi/ area dan
peralatan Siklus I
Siklus I
Aspek Kriteria
Persentase Jumlah Anak
Penguasaan materi dan 100 % 16 T
praktek Menyiapkan 0% 0 BT
kamar untuk tamu

70
90
80
70
60
50
Belum Tuntas
40
Rata-Rata
30
Tuntas
20
Belum Tuntas
10
0
afektif psikomotorik kognitif rekapitulasi

Gambar 4.22. Hasil Belajar Siklus I

Berdasarkan rekapitulasi data hasil belajar tindakan siklus 2 yang


diperoleh, dapat diketahui 16 siswa atau 100 % sudah mencapai batas KKM
yaitu nilai 75. Jumlah siswa yang mendapat nilai diatas 75 menjadi bukti
peningkatan hasil belajar menyiapkan kamar untuk tamu. Adapun nilai rata-
rata hasil belajar siklus 2 sebesar 81.96.

C. Pembahasan
1. Perbandingan Hasil Tindakan Siklus I sampai Siklus II
Berdasarkan hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas pada siswa
kelas XI H 1 SMK Amerta Wonogiri tahun pelajaran 2014 / 2015 dari siklus I
ke siklus II disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

71
Tabel 4.10. Perbandingan Hasil Belajar Membersihkan lokasi/ area dan
peralatan Siklus I sampai Siklus III
SISWA TUNTAS SISWA TIDAK TUNTAS
TINDAKAN
JUMLAH PROSENTASE JUMLAH PROSENTASE
Siklus I 7 43,75 % 16 100 %
Siklus II 9 56,25 % 0 0%

Prosentase Siklus I dan Siklus II dapat dilihat sebagai berikut :


120.00%
100.00%
80.00%
60.00% tuntas
40.00% belum tuntas
20.00%
0.00%
SIKLUS I SIKLUS II

Gambar 4.23. Diagram batang perbandingan prosentase siklus I, siklus II

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pada siklus I siswa


yang tuntas ada 7 siswa atau 43.75 %, yang tidak tuntas 9 siswa atau 56.25 %.
Sedangkan pada siklus II siswa yang tuntas 16 siswa atau 100 %, dan tidak ada
siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran.

D. Analisis Pembelajaran
Pada siklus I hasil belajar siswa dalam melakukan pembelajaran
membersihkan lokasi/ area dan peralatan adalah sebagai berikut: pada siklus I
siswa yang tuntas ada 7 siswa atau 43.75 %, yang tidak tuntas 9 siswa atau
56.25 %. Sedangkan pada siklus II siswa yang tuntas 16 siswa atau 100 %, dan
tidak ada siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran dengan kata lain 16
siswa dinyatakan telah berhasil dan telah memenuhi kriteria ketuntasan karena
rata-rata nilai melebihi KKM 75. Dari siklus I yang prosentase ketuntasannya
hanya 43.75 % menjadi 100 % pada siklus II berarti ketuntasan hasil belajar

72
siswa mengalami kenaikan sebesar 56.25 % pada siklus II. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa pembelajaran telah berhasil karena siswa yang tuntas
telah melebihi 75 % dari jumlah siswa.

E. Simpulan Siklus Berdasarkan Hasil Belajar


Berdasarkan nilai-nilai dari siklus I, dan siklus II dapat disimpulkan
untuk siklus I pembelajaran belum berhasil karena belum memenuhi standar
ketuntasan belajar 75 % dari jumlah siswa keseluruhan baik dalam aspek
kognitif, afektif maupun psikomotor. Pada siklus I pembelajaran sudah berjalan
dengan baik, anak sudah antusias dalam pembelajaran akan tetapi siswa masih
serius dalam mengikuti pembelajaran dan masih ada yang takut atau kurang
percaya diri. Sedang pada siklus II nilai pembelajaran lebih meningkat karena
adanya perbaikan dalam pembelajaran dan pemberian materi sehingga siswa
mampu mencapai KKM lebih dari 75.

F. Ketuntasan Belajar
Dari gambar perbandingan ketuntasan diatas dapat dilihat bahwa pada
siklus I prosentase ketuntasan pembelajaran hanya 43.75 % sedangkan pada
siklus II mengalami peningkatan sebesar 100 %. Dengan demikian
pembelajaran dinyatakan tuntas dengan hasil lebih dari 75 % siswa sudah
mencapai KKM dan tidak perlu lagi diadakan tindakan selanjutnya.

73
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Keberhasilan dalam membersihkan lokasi area dan peralatan akan membawa
dampak positif terhadap hotel. Merupakan suatu kesempatan baik dalam
memperkenalkan dan menjual produk dan fasilitas hotel yang lainnya.
2. Besarnya peningkatan yakni 81.96 bila ditinjau dari Indikator kinerja adalah
75. Berdasarkan hasil pengamatan dari observasi awal yakni rata-rata nilai
siswa 6.9, siklus I yakni 74.21 sampai siklus II 81.96 sehingga dapat diambil
kesimpulan penelitian ini mengalami peningkatan bahkan melebihi indikator
kinerja yaitu 75.

B. Saran
1. Guru sebagai tenaga pengajar, hendaknya harus lebih teliti dalam memilih
metode pembelajaran yang akan diterapkan kedalam proses pembelajaran,
agar mudah dalam membelajarkannya kepada siswa.
2. Guru hendaknya dapat menggunakan metode ARCS guna meningkatkan
motivasi sehingga peningkatan motivasi dapat mempemgaruhi peningkatan
nilai siswa
3. Penerapan PTK (penelitian tindakan kelas) ini agar kiranya mendapat
perhatian dan dukungan penuh dari semua unsur yang terlibat dalam
penelitian tindakan kelas karena penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar membersihkan lokasi area dan
peralatan pada siswa kelas XI H 1 di SMK Amerta Wonogiri Tahun Ajaran
2014/2015”

74