Anda di halaman 1dari 12

TUGAS KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN

DISUSUN OLEH :

AFFIA FANNY HASIBUAN


(1605001)

PRODI DIII KEPERAWATAN


AKPER WIDYA HUSADA SEMARANG
Jawablah Soal-soal di bawah ini dengan tepat dan benar !
1. Jelaskan langkah-langkah BHD (Bantuan Hidup Dasar) dari manajemen airway !
Jawab :
Langkah-langkah BHD menurut Davey (2005) yaitu sebagai berikut :
Minta bantuan sesegera mungkin
Mengecek respon korban
Lakukan penilaian jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi (apabila korban tidak
memberi respon terhadap goyangan/teriakan, balikkan badannya, buka dan
lakukan inspeksi jalan nafas, Singkirkan sumbatan, Tentukan dalam 10 detik
apakah korban bernafas normal atau tidak, meliputi :
Lihat gerakan dada (look)
Dengarkan suara nafas pada mulut pasien (listen)
Rasakan udara pada pipi anda (feel)
Jika pasien bernafas normal, baringkan pasien pada posisi pemulihan dan cari
bantuan. Jika hanya ada upaya bernafas yang lemah, berikan dua kali nafas
buatan, secara perlahan dan efektif ke dalam mulut (masing-masing sebanyak
700-1000 mL), dengan hidung pasien ditutup, cukup untuk membuat dada naik
turun. Setelah dua kali nafas efektif (lakukan sebanyak lima kali atau lebih).
Periksa sirkulasi (denyut karotis atau femoral jika belum terlatih melakukannya).
Jika sirkulasi tidak ada, mulai lakukan kompresi dada, menekan sternum bawah
4-5 cm, dengan kecepatan 100 kali/menit, bergantian 15 kompresi tiap 2 kali
nafas. Kompresi dada mengembalikan 30% perfusi otak normal. Lanjutkan bagian
ini hingga timbul gerakan atau pasien bernafas atau tiba bantuan dari ahlinya.

2. Jelaskan tentang perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule Of Nine dan
jelaskan bagaimana cara penggunaan rumus Baxter dan cara pemberiannya ?
Jawab :
Cara perhitungan luas luka bakar menurut Widyawati, dkk (2013) yaitu
menggunakan Rule Of Nine sebagai berikut :
Keterangan :
Pada Dewasa : Pada Anak :
Kepala :9% Kepala : 18 %
Dada dan Perut : 18 % Dada dan Perut : 18 %
Punggung : 18 % Punggung : 18 %
Tangan Kanan : 9% Tangan Kanan : 9%
Tangan Kiri : 9% Tangan Kiri : 9%
Kelamin :1% Kelamin :1%
Kaki Kanan : 18 % Kaki Kanan : 13,5 %
Kaki Kiri : 18 % Kaki Kiri : 13,5 %
Cairan yang hilang akibat luka bakar harus segera diganti untuk mempertahankan
homeostatis. Ada beberapa rumus untuk menentukan jumlah cairan resusitasi
pada pasien luka bakar, salah satunya adalah Rumus Baxter. Total cairan yang
harus diberikan dalam 24 jam, yaitu sebagai berikut :

Rumus Baxter = 4 ml x BB (dalam Kg) x Luas Luka Bakar (%)

Cara memberikan yaitu :


50 % diberikan dalam 8 jam pertama
50 % diberikan dalam 16 jam berikutnya
Contoh Kasus :
Ny. A berusia 50 tahun, dengan berat badan 55 Kg, tinggi badan 160 cm datang
ke IGD dengan keluhan luka bakar pada kedua tangannya, dada dan perut. Berapa
ml cairan resusitasi yang harus diberikan berdasarkan rumus baxter?
Jawab :
Luas luka bakar pasien berdasarkan Rule Of Nine yaitu :

Tampak Belakang Tampak Depan


Kedua tangan = 9x2 = 18 %
Dada = 9 %
Perut = 9 %
Total luas luka bakar = 36%

Rumus Baxter = 4 ml x BB (dalam Kg) x Luas Luka Bakar (%)

= 4 ml x 55 Kg x 36 %
= 7.920 cc
Total cairan yang dibutuhkan pasien dibagi menjadi 2 yaitu :
Pada tahap I (8 jam pertama)
= 50 % x total cairan 24 jam
= 50 % x 7.920 cc
= 3960 cc
Jumlah tetesan infus permenit = volume yang dibutuhkan x faktor tetesan
Waktu pemberian x 60 menit
= 3960 x 20
8 x 60
= 79.200
480
= 165 tetes/menit
Pada tahap II (16 jam berikutnya)
= 50 % x total cairan 24 jam
= 50 % x 7.920
= 3960 cc
Diketahui 3960 selama 16 jam. Artinya 1 jam pasien harus masuk cairan
resusitasi = 3960/ 16 = 247,5
Jumlah tetesan infus permenit = volume yang dibutuhkan x faktor tetesan
Waktu pemberian x 60 menit
= 3960 x 20
16 x 60
= 79.200
960
= 82,5 tetes/menit
Atau 1 detiknya 1-2 tetes.

3. Bagaimana cara menghitung tetesan infus ?


Jawab :
Cara menghitung tetesan infus menurut Hidayat (2008) yaitu :
Pada Dewasa = (makro dengan 20 tetes/ml)
Tetesan/menit = Jumlah cairan yang masuk
Lamanya infus (jam) x 3

atau,
Tetesan/menit = Kebutuhan cairan x Faktor tetesan
Lamanya infus (jam) x 60 menit

Contoh Soal :
Seorang pasien Ny. M memerlukan rehidrasi dengan 1500 ml (3 flabot) dalam 2
jam. Hitung berapa tetesan permenitnya ?
Jawab :
Tetesan/menit = Jumlah cairan yang masuk
Lamanya infus (jam) x 3
= 1500
12 x 3
= 41 tetes/ menit
Pada Anak =
Tetesan/menit = Jumlah cairan yang masuk
Lamanya infus (jam)

Contoh soal :
Seorang pasien neonatus diperlukan rehidrasi dengan 200 ml dalam 2 jam. Hitung
berapa tetes permenit yang dibutuhkan?
Jawab :
Jumlah tetesan (mikro) = Jumlah cairan yang masuk
Lamanya infus dalam jam
= 200
2
= 100 tetes/menit
4. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan GCS dan intrepetasinya ?
Jawab :
Pemeriksaan GCS (Glasgow Coma Scale) menurut Subroto (2009) didasarkan dari
respon mata, pembicaraan, dan motorik, dimana masing-masing mempunyai scoring
tertentu. Adapun scoring tersebut yaitu sebagai berikut :
No. Skor
1. EYE OPEN
- Spontan membuka mata 4
- Terhadap suara membuka mata 3
- Terhadap nyeri membuka mata 2
- Menutup mata terhadap segala jenis rangsang 1
2. VERBAL RESPONSE
- Berorientasi baik 5
- Bingung (bias membentuk kalimat tapi arti 4
keseluruhan kacau)
- Bisa membentuk kata tetapi tidak mampu 3
mengucapkan suatu kalimat
- Bisa mengeluarkan suara yang tidak punya arti 2
(groaning)
- Suara (tidak ada) 1
3. MOTORIC RESPONSE
- Menurut perintah 6
- Dapat melokalisir rangsangan sensorik di kulit 5
(raba)
- Menolak rangsangan nyeri pada anggota gerak 4
(withdrawal)
- Menjauhi rangsangan nyeri (flexion) 3
- Ekstensi spontan 2
- Tidak ada gerakan 1
Intrepetasi :
Jumlah total scoring paling jelek adalah 3 sedangkan yang paling baik (normal)
adalah 15

5. Jelaskan cara penggunaan dan perbedaan dari macam-macam masker oksigen ?


Jawab :
Pemberian oksigen berdasarkan jenis selangnya menurut Asmadi (2008) yaitu
sebagai berikut :
No. Jenis Masker Cara Penggunaan
Nasal Kanula - Terangkan
Memberikan oksigen dengan aliran 1-6 L prosedur pada klien
dengan konsentrasi oksigen sebesar 24-44 - Atur posisi yang
% nyaman atau semi
fowler
- Atur peralatan
oksigen dan
humidifier
- Hubungkan kanul
dengan selang
1.
oksigen ke
humidifier dengan
aliran oksigen yang
rendah
- Beri pelicin jelly
pada kedua ujung
kanul
- Masukkan ujung
kanul ke lubang
hidung
- Fiksasi selang
oksigen
- Alirkan oksigen
sesuai yang
diinginkan
Sungkup Muka Sederhana - Terangkan
Memberikan oksigen dengan aliran 5-8 prosedur pada klien
L/menit dengan konsentrasi sebesar 40- - Atur posisi yang
60% nyaman atau semi
fowler
- Hubungkan selang
oksigen pada
sungkup muka
sederhana
- Tepatkan sungkup
2.
muka sederhan
sehingga menutupi
hidung dan mulut
klien
- Lingkarkan karet
sungkup pada
kepala
- Alirkan oksigen
sesuai kebutuhan

Sungkup Muka dengan Kantong (re- - Atur peralatan


breathing) oksigen dan
3.
Memberikan oksigen dengan aliran 8-12 humidifier
L/menit dengan konsentrasi sebesar 60- - Hubungkan selang
80% oksigen pada
sungkup muka
sederhana dengan
humidifier
- Tepatkan sungkup
muka sederhana
sehingga menutupi
hidung dan mulut
- Lingkarkan karet
sungkup pada
kepala klien agar
sungkup muka
tidak lepas
- Jika aliranya
rendah dapat
menyebabkan
penumpukan
karbondioksida
- Isi oksigen ke
dalam kantong
dengan cara
menutup lubang
antara kantong
dengan sungkup
- Atur tali pengikat
sungkup sehingga
menutup dengan
rapat dan nyaman
- Sesuaikan aliran
oksigen sehingga
kantong akan terisi
waktu ekspirasi dan
hampir kuncup
waktu inspirasi

Sungkup muka dengan Kantong non- - Cara pemasangan


breathing sama dengan
Memberikan oksigen dengan aliran 8-12 pemsangan pada
L/menit dengan konsentrasi sebesar 99% sungkup muka
dengan kantong re-
breathing

4.
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan


Dasar Klien. Jakarta: EGC

Davey, Patrick. (2005). At A Glance Medicine. Ahli bahasa oleh Rahmalia ,Annisa.
Jakarta: Erlangga

Hidayat, A. Alimul. (2008). Keterampilan Dasar Praktik Klinik Untuk Kebidanan.


Ed. 2. Jakarta: Salemba Medika

Subroto, Gatot. (2009). Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek. Jakarta: EGC

Widyawati, dkk. (2013). Siap UKDI: Dengan Soal-Soal Paling Update. Jakarta:
Grasindo