Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA OKSIGENASI

DISUSUN OLEH:
1. ALIEF AGNISYA SAFIRA PUTRI (02)
2. LAILY JUARIAH WIBOWO (11)
3. NADIA FEBBY INDRAWATI (14)
4. SHINTA FATHIKANA (20)
5. YULVIANA PUTRI (24)

KELAS : XI KEPERAWATAN

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


BHAKTI INDONESIA MEDIKA
KOTA MOJOKERTO
2018-2019
LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN DASAR OKSIGENASI


1. pengertian

 Oksigen (O2) adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme.
Oksigen memegang peranan penting dalam semua proses tubuh secara fungsional serta
kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan yang paling utama dan sangat vital bagi tubuh
(Imelda, 2009).

 Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dari proses metabolisme untuk
mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini
diperoleh dengan cara menghirup O2 setiap kali bernapas (Wartonah Tarwanto, 2006).

2. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan

a. Sistem Pernafasan Atas

1. hidung udara yang masuk akan mengalami penyaringan, humidifikasi, dan


penghangatan.

2. Faring merupakan saluran yang terbagi dua untuk udara dan makanan. Faring terdiri
atas nasofaring, orofaring dan laryngopharynk yang kaya akan jaringan limfoid
yang berfungsi menangkap dan dan menghancurkan kuman dan pathogen yang
masuk bersama udara.

3. Laring merupakan struktur yang menyerupai tulang rawan yang bisa disebut jakun.
Selain berperan sebagai penghasil suara, laring juga berfungsi mempertahankan
kepatenan dan melindungi jalan nafas bagian bawah dari air dan makanan yang
masuk.

4. Trakea disebut juga batang tenggorok yang merupakan perpanjangan dari laring pada
ketinggian tulang vertebrate terokal ke 7 yang bercabang menjadi dua bronkus.
Ujung cabang trakea disebut carina. Trakea bersifat sangat fleksibel, berotot, dengan
panjang 12 cm dengan cincin membentuk huruf c.
b. Sistem Pernafasan Bawah

1. Bronkus merupakan cabang dari trakea. Cabang kiri menuju paru-paru kiri dan
cabang kanan menuju paru-paru kanan. Bronkus juga memiliki selaput yang berlendir
dan rambut-rambut getar. Bronkus bercabang tiga menuju paru-paru kanan dan
bercabang dua menuju paru-paru kiri. Setiap cabang akan bercabang lagi membentuk
saluran yang lebih kecil yang disebut bronkiolus. Bagian ujung dari bronkiolus
berakhir pada gelembung paru-paru yang dinamakan alveolus.

2. Bronkiolus terdiri dari epitel (stratified columnar ephitelium), otot polos, sedikit
jaringan ikat dan tidak memiliki tulang rawan (Dellmann & Brown, 1992 dalam
Widodo, 2006).
3. Bronkiolus Terminalis membentuk percabangan yang tidak mempunyai kelenjar
lendir.
4. Bronkiolus Respiratori merupakan saluran transisional antara jalan napas konduksi
dan jalan napas pertukaran gas.
5. Alveolus adalah struktur anatomi yang memiliki bentuk berongga. Terdapat pada
parenkim paru-paru, yang merupakan ujung dari saluran pernapasan, di mana kedua
sisi merupakan tempat pertukaran udara dengan darah .
6. Paru-paru ada dua buah teletak di sebelah kanan dan kiri. masing-masing paru terdiri
atas beberapa lobus (paru kanan 3 lobus dan paru kiri 2 lobus) dan dipasah oleh satu
bronkus. Jaringan-jaringan paru sendiri terdiri atas serangkaian jalan nafas yang
bercabang-cabang, yaitu alveoulus, pembuluh darah paru, dan jaringan ikat elastic.

7. Pleura merupakan permukaan luar paru-paru dilapisi oleh dua lapis pelindung. Pleura
pariental membatasi torakal dan permukaan diafragma, sedangkan pleura visceral
membatasi permukaan luar paru.
Berdasarkan tempatnya proses pernafasan terbagi menjadi dua yaitu:

a. Pernapasan eksternal

Pernapasan eksternal (pernapasan pulmoner) mengacu pada keseluruhan proses


pertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal dan sel tubuhSecara umum proses ini
berlangsung dalam tiga langkah, yakni :

1. Ventilasi pulmoner

Saat bernapas, udara bergantian masuk-keluar paru melalui proses ventilasi


sehingga terjadi pertukaran gas antara lingkungan eksternal dan alveolus. Proses ventilasi ini
dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu jalan napas yang bersih, system saraf pusat dan system
pernapasan yang utuh, rongga toraks yang mampu mengembang dan berkontraksi dengan baik,
serta komplians paru yang adekuat.

2. Difusi
Difusi adalah pergerakan molekul dari area berkonsentrasi atau bertekanan tinggi ke
area berkonsentrasi atau bertekanan rendah. Proses ini berlangsung di Alveolus dan
membran kapiler, dan dipengaruhi oleh ketebalan membran serta perbedaan tekanan gas.
3. Transpor oksigen dan karbon dioksida

Tahap ke tiga pada proses pernapasan adalah tranpor gas-gas pernapasan. Pada proses
ini, oksigen diangkut dari paru menuju jaringan dan karbon dioksida diangkut dari jaringan
kembali menuju paru.

b. Pernapasan internal

Pernapasan internal (pernapasan jaringan) mengaju pada proses metabolisme intra sel
yang berlangsung dalam mitokondria, yang menggunakan oksigen dan menghasilkan CO2
selama proses penyerapan energi molekul nutrien.
3. Etiologi

a. Lingkungan, konsentrasi oksigen pada dataran tinggi cenderung lebih rendah, sehingga tubuh
berespon untuk meningkatkan frekuensi dan kedalaman.
b. Exercise, aktivitas fisik atau olahraga akan meningkatkan HR dan RR untuk memenuhi kebutuhan
oksigenasi.
c. Emosi, emosi akan merangsang syaraf simpatik, sehingga akan meningkatkan HR dan RR.
d. Status Kesehatan, kondisi sehat dan sakit seseorang akan mempengaruhi tingkat asupan oksigen
seperti halnya pada pasien anemia
e. Efek Samping Obat, pemberian obat sedatif baik narkotik dan psikotropik akan menekan pusat
pernapasan.
4. Tujuan Pemberian Oksigen
a. mempertahankan konsentrasi oksigen yang adekuat bagi sel tubuh untuk bermetabolisme
b. menurunkan beban kerja paru- paru
c. menurunkan beban kerja jantung.
5. Gangguan Oksigenasi
a. Cheyne Stokes, yaitu siklus amplitudonya mula – mula naik, turun, berhenti, kemudian
mulai dari siklus awal.
b. Biot, yaitu pernapasan mirip dengan pernapasan “ cheyne stokes”, tetapi amplitudonya
rata disertai apnea (sesak napas).
c. Kussmaul, yaitu pernapasan yang jumlah dan kedalaman meningkat sering melebihi 20
kali/menit.
d. Takipnea, yaitu pernafasan yang memiliki frekuensi lebih dari 24 kali/menit.
e. Bradipnea, yaitu pernafasan yang lambat dan kurang dari 10 kali/menit
4. Pengobatan
1. Terapi oksigen, yaitu pemberian oksigen sesuai keadaan yang dialami oleh pasien.
misalnya jika terdapat pasien dengan keluhan hipoksemia ringan / tekanan dalam darah
70-80 mmHg diberikan terapi oksigen dengan menggunkan nasal kanula mulai 2-3
liter/menit atau nasal kanula masker 6 liter/menit.
2. Memberikan posisi yang nyaman yaitu posisi setengah duduk atau duduk. Bagian kepala
tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Untuk duduk (45˚-90˚), setengah duduk (15˚-
45˚).
3. Pemberian oksigen melalui nasal kanul.
pemberian oksigen oksigen pada klien yang memerlukan oksigen secara continue dengan
kecepatan aliran 1-4 liter/ menit serta berkonsentrasi 20-40˚˚̷˳dengan cara memasukkan
selang yang terbuat dari plastik kedalam hidung dan mengaitkannya dibelakang telinga.
4. Pemberian oksigen melalui masker oksigen.
pemberian oksigen kepadaklien dengan menggunakan masker yang dialiri oksigen
dengan posisi menutupi hidung dan mulut klien.
Macam – macam bentuk masker oksigen:
 Simple face mask, mengalirkan oksigen konsentrasi oksigen 40-60˚/˳ dengankecepatan
aliran 5- 8 liter/ menit
 Masker Rebreating, rebreating mask mengalirkan oksigen. Konsentrasi oksigen 60-80˚˚̷˳
dengan kecepatan aliran 8-12 liter/menit.memiliki kantong yang terus mengembang baik
saat inspirasi maupun ekspirasi.
 Masker Non Rebreating, non rebreating mask mengalirkan oksigen. Konsentrasi oksigen
80-100˚˚̷˳ dengan kecepatan aliran 10-12 liter/ menit.
DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner & Suddarth.2002. Keperawatan Medikal Bedah. Vol:1. Jakarta: EGC

2. Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku ajar kebutuhan dasar manusia : Teori & Aplikasi
dalam praktek. Jakarta: EGC.

3. Willkinson. Judith M. 2007. Diagnosa Keperawatan.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


Kozier. Fundamental of Nursing

4. Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan edisi
3.jakarta Salemba:Medika.

5. Hidayat, alimul, azis. 2008. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta; Salemba Medika