Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN

TOPIK :

“ANJAK PIUTANG MENINGKATKAN


PEMBIAYAAN DAN EFISIENSI TAGIHAN”

Disusun Oleh :
1. Alfri Maisyardi ( 041401503125163 )
2. Friska Astika ( 0415015031253009 )
3. Muhammad Deden P K ( 041401503125153 )
4. Ulfie Juliana ( 041301503125257 )

Hal i
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
dengan topik “Hard skill dan Soft skill” dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam pelajaran manajemen sumber
daya manusia.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Hal ii
Daftar Isi

Halaman
Judul……………………………………………………………………………………………………………..i

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………………ii

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………………………….iii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………………………iv

A.LATAR BELAKANG………………………………………………………………………………………iv-v

B. RUMUSAN MASALAH……………………………………………………………………………….vi

C. TUJUAN…………………………………………………………………………………………………….vi

BAB II
PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………………………………..vii-viii

2.1. DEFINISI ANJAK PIUTANG.…………………………………………………………………………………..vii-vii

2.2. PIHAK YANG TERLIBAT DAN JENIS ANJAK PIUTANG…………………………………………….ix-xi

2.3. MANFAAT LEMBAGA KEUANGAN ANJAK PIUTANG…………………………………………….xii

2.4. MEKANISME ANJAK PIUTANG……………………………………………….……………………………xiii-xiv

2.5. PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN DALAM ANJAK PIUTANG…………………………xv

2.6. STUDI KASUS 1…………………………………………………………………………………………………..xvi-xx

2.7. STUDI KASUS 2…………………………………………………………………………………………………..xx-xxvi

DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………………………………………………………………xxvii

KESIMPULAN………………………………………………………………………………………………………….xivii-xxviii

Hal iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semakin tinginya tingkat kebutuhan manusia terutama di jaman globalisasi ini

menjadikan setiap orang berlomba – lomba untuk mendapatkan rupiah demi

kelangsungan hidup diri sendiri maupun keluarganya. Seperti halnya dalam dunia

usaha semakin tinggi tingkat persaingan antar perusahaan, Memaksakan keadaan

perusahaan untuk memberikan layanan yang maksimal kepada para pelanggannya.

Salah satu cara adalah dengan mempermudah syarat pembayaran produk atau jasa

yang dihasilkan. Oleh karena itu pembayaran yang ditunda menjadi suatu kebutuhan

bagi perusahaan dalam rangka meningkatkan volume penjualannya. Atas penjualan

secara kredit tersebut maka perusahaan memiliki tagihan (piutang) kepada

pelanggan/customer. Piutang bagi perusahaan akan memperlambat arus kas karena

dana tunai/kas baru akan masuk setelah piutang tersebut jatuh tempo. Padahal disisi

lain perusahaan membutuhkan uang tunai/kas untuk kegiatan operasionalnya. Jika

perusahaan kekurangan kas maka biasanya akan pinjam ke pihak lain misalnya bank.

Sekarang ini, perusahaan mempunyai alternatif lain untuk memperoleh dana tunai

yaitu dengan menjual atau mengalihkan faktur-faktur piutang yang dimilikinya ke

Lembaga Keuangan Anjak Piutang (Factoring).

Secara makna anjak piutang (factoring) adalah suatu badan usaha yang

melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan.

Hal iv
Usaha anjak piutang dimulai di wilayah Amerika Utara khususnya pada sektor

industri tekstil yang sampai saat ini masih merupakan salah satu bidang kegiatan

usaha utama anjak piutang. Di negara- negara lain usaha ini masih merupakan

industri yang sangat baru, dimulai sekitar dekade 1970-an. Perusahaan anjak piutang

di Eropa mengikuti pola perkembangan usaha anjak piutang di Amerika. Kegiatan

anjak piutang pada dasarnya merupakan bidang usaha yang relatif baru di Indonesia.

Eksistensi Kelembagaan Anjak Piutang dimulai sejak ditetapkan Paket Kebijaksanaan

20 Desember 1988 atau Pakdes 20, 1988 yang diatur dengan Keppres No. 61 tahun

1988 dan Keputusan Menteri Keuangan NO.172/KMK.06/2002. Pengenalan usaha

anjak piutang ditujukan untuk memperoleh sumber pembiayaan alternatif diluar

sektor perbankan. Perusahaan Anjak piutang bisa didirikan secara independen (berdiri

sendiri) atau dapat dilakukan oleh Multi Finance Company yaitu lembaga

pembiayaan yang dapat melakukan kegiatan usaha secara sekaligus dibidang anjak

piutang (factoring), sewa guna usaha(leasing), Modal Ventura (joint venture), kartu

kredit (credit card), dan pembiayaan konsumen.

Hal v
B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas terkait anjak piutang dan

permasalahannya, yaitu antara lain :

1. Apakah yang dimaksud dengan anjak piutang ?

2. Siapakah pihak yang terlibat dalam anjak piutang ?

3. Bagaimana kegiatan dalam anjak piutang ?

4. Apakah keuntungan yang di dapatkan dari adanya pembiayaan anjak piutang?

5. Apakah permasalahan terkini dari anjak piutang?

6. Bagaimana solusi dari pemecahan masalah tersebut?

C. Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan paper ini yaitu :

1. Agar mengetahui lebih jelas apa itu anjak piutang (factoring), jasa – jasa yang

ditawarkan , mekanisme pembiayaan,manfaat anjak piutang dan lainnya mengenai

aadnya anjak piutang.

2. Mengetahui peran anjak piutang (factoring) dalam kegiatan ekonomi.

3. Mengetahui perkembangan anjak piutang (factoring) di Indonesia.

4. Mengidentifikasi hambatan – hambatan perkembangan anjak piutang (factoring) di

Indonesia

5. Mengenal dan mengetahui kasus atau permasalahan mengenai anjak piutang dan

mempelajari untuk penyelesainnya.

Hal vi
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Anjak Piutang

Menurut Kasmir, S.E.M.M dalam bukunya Bank dan Lembaga Keuangan

lainnya, menyatakan bahwa “ Perusahaan Anjak Piutang atau Factoring adalah

perusahaan yang kegiatannya adalah melakukan penagihan atau pembelian, atau

pengambilalihan atau pengelolaan utang piutang suatu perusahaan dengan imbalan

atau pembayaran tertentu milik perusahaan “.Kemudian pengertian anjak piutang

menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor NO.172/KMK.06/2002 adalah badan

usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau

pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan

dari transaksi perdagangan dalam dan luar negeri. Sedangkan menurut Budi Rachmat

(2004:2) “ pada prinsipnya merupakan pemberian kredit kepada supplier dengan cara

membeli piutang atau tagihannya kepada nasabahnya atau customernya “.

Berdasarkan dari beberapa definisi tersebut maka, dapat disimpulkan bahwa anjak

piutang adalah suatu transaksi keuangan sewaktu suatu perusahaan menjual

piutangnya (misalnya tagihan) dengan memberikan diskon.

Adapun mengenai dasar hukum anjak piutang yaitu penpres no.9 tahun 2009

(tentnag lembaga pembiayaan). PMK No. 84/PMK.021/2006 tanggal 29 September

2009 (tenaga perusahaan pembiayaan), dan Undang- Undang N0. 2 tahun 2009

Hal vii
(tentang lembaga pembiayaan ekspor Indonesia). Kegiatan utama anjak piutang

adalah mengambil alih pengurusan piutang suatu perusahaan dengan suatu tanggung

jawab tertentu, tergantung kesepakatan dengan pihak kreditor (pihak yang punya

piutang). Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1215/KMK.013/1998 tanggal

20 Desember 1988 mengatur tentang berbagai kegiatan anjak piutang yang meliputi :

1. Pengambilalihan tagihan suatu perusahaan dengan fee tertentu.

2. Pembelian piutang perusahaan dalam suatu transaksi perdaganagn dengan harga

yang sesaui dengan kesepakan

3. Mengelola usaha penjualan kredit suatu perusahaan, artinya perusahaan anjak

piutang dapat mengelola kegiatan administrasi kredit suatu perusahaan sesuai

kesepakatan.

Sekilas, anjak piutang hampir mirip dengan kredit bank atau pinjaman yang

diberikan oleh bank. Namun dalam praktik dan prosesnya anjak piutang mempunyai

perbedaan yang signifikan dengan pinjaman bank, antara lain pertama, penekanan

anjak piutang adalah pada nilai piutang, bukan kelayakan kredit perusahaan. Kedua,

anjak piutang bukanlah suatu pinjaman, melainkan pembelian suatu asset (piutang).

Ketiga, pinjaman bank melibatkan dua belah pihak, sedangkan anjak piutang

melibatkan tiga pihak. Dalam prosesnya, anjak piutang terdiri dari beberapa jenis,

tergantung dari produk yang ditawarkan kepada masyarakat.

Hal viii
B. Pihak yang Terlibat dan Jenis Anjak Piutang

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi anjak piutang adalah:

1. Kreditur atau klien yang menyerahkan tagihannya kepada pihak anjak piutang untuk

ditagih atau dikelola atau diambil alih dengan cara dikelola atau dibeli sesuai

perjanjian dan kesepakatan yang telah dibuat.

2. Perusahaan anjak piutang (factoring), yaitu perusahaan yang akan mengambilalih

atau mengelola piutang atau penjualan kredit debiturnya.

3. Debitur yaitu nasabah yang mempunyai masalah (hutang) kepada kreditur (klien).

Pada pelaksanaannya, jasa anjak piutang dapat dibedakan atas dasar hal-hal berikut :

1. Jasa yang Ditawarkan

a. Full-service factoring

Anjak piutang yang memberikan jasa secara menyeluruh, baik jasa pembiayaan

maupun nonpembiayaan.

b. Bulk factoring

Anjak piutang yang memberikan jasa pembiayaan dan pemberitahuan saat jatuh

tempo pada nasabah.

c. Maturity factoring

Anjak piutang yang memberikan jasa proteksi risiko piutang, administrasi penjualan

secara menyeluruh, dan penagihan.

d. Invoice discounting

Anjak piutang yang hanya memberikan jasa pembiayaan saja.

Hal ix
2. Distribusi Risiko

a. With recourse factoring

Dimana risiko tidak terbayarnya piutang dari nasabah seluruhya ditanggung oleh

klien, danfactor sama sekali tidak menanggung risiko tidak terbayarnya piutang

tersebut.

b. Without recourse factoring

Dimana risiko tidak terbayarnya piutang dari nasabah tidak seluruhya ditanggung

oleh klien, akan tetapi klien hanya menanggung sebesar piutang yang tidak dibiayai

oleh factor,sedangkan factor sendiri menanggung risiko sebesar uang muka atau

pembiayaan yang telah diberikan kepada klien.

3. Keterlibatan Nasabah dalam Perjanjian

a. Disclosed factoring

Penyerahan atau penjualan piutang oleh klien kepada factor dengan sepengetahuan

pihak nasabah. Secara praktis, tipe disclosed factoring memungkinkan pemberian jasa

penagihan piutang kepada klien oleh factor.

b. Undisclosed factoring

Penyerahan atau penjualan piutang oleh klien kepada factor dengan dengan

sepengetahuan pihak nasabah. Secara praktis, tipe undisclosed factoring ini tidak

memungkinkan pemberian jasa penagihan piutang kepada klien oleh factor, kecuali

terjadi pelanggaran atau cidera janji yang dilakukan oleh nasabah.

Hal x
4. Lingkup Pelayanan

a. Domestic factoring: Pihak yang terlibat berada dalam satu wilayah Negara.

b. International factoring: Pihak yang terlibat tidak berada dalam satu wilayah

Negara. Dalam kegiatan anjak piutang skala internasional ini ada empat pihak yang

terkait yaitu eksportir, importer, export factor,dan import factor.

5. Tipe Tagihan atau Piutang

a. Anjak piutang untuk tagihan biasa, hanya melibatkan pihak klien, nasabah, dan

factor. Pihak lain tidak ikut serta secara langsung dalam proses anjak piutang ini.

b. Anjak piutang untuk promes, ikut melibatkan pihak lain. Mekanismenya menjadi

sedikit lebih panjang karena bukti piutang dikonversikan menjadi promes kemudian

didiskontokan ke pihak lain.

Hal xi
C. Manfaat Lembaga Keuangan Anjak Piutang

Manfaat anjak piutang bagi perusahaan (klien) dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Perusahaan yang kesulitan/kekurangan dana akan segera memperoleh

dana tunai sehingga terdapat aliran kas masuk (cash in flow) yang bisa

digunakan untuk modal kerja perusahaan. Aliran kas (cash in flow)akan

lebih lancar karena perusahaan tidak perlu menunggu pencairan piutang

sampai jatuh tempo.

2. Tugas perusahaan (klien) dalam pengelolaan administrasi penjualan

dapat dialihkan ke lembaga anjak piutang karena lembaga ini membantu

mengelola administrasi penjualan dan penagihan (sales ledgering and

collection service).

3. Perusahaan (klien) tidak ragu dalam penjualan produknya terutama

kepada customer baru karena resiko tagihan macet bisa ditanggung

bersama dengan lembaga anjak piutang (credit insurance).

4. Anjak piutang dapat memperbaiki sistem penagihan sehingga piutang

dapat dibayar tepat saat jatuh tempo dan sebisa mungkin penagihan ini

tidak merusak hubungan baik antara perusahaan (klien) dengan

pelanggannya (customer).

Hal xii
D. Mekanisme Anjak Piutang

1. Disclosed Factoring

Yaitu penyerahan piutang kepada perusahaan anjak piutang dengan sepengatahuan

debitur. Adapaun proses mekanisme transaksi ini terjadi , sebagai berikut :

1. Terjadi transaksi penjualan secara kredit kepada pelanggan (klien)

2. Negosiasi dan kontrak anjak piutang antara perusahaan (klien) dengan lembaga anjak

piutang (factoring) dimana perusahaan menyerahkan kopi faktur penagihan piutang

dan dokumen terkait lainnya sedangkan dokumen asli tetap dipegang perusahaan.

3. Lembaga anjak piutang memberikan pembiayaan maksimal 80% dari nilai faktur.

4. Pada saat jatuh tempo perusahaan akan menagih kepada debitur / pelanggan.

5. Perusahaan akan mengembalikan pinjaman dana kepada factoring ditambah dengan

biaya anjak piutang (service charge/discount charge).

2. Undisclosed Factoring

Yaitu penyerahan piutang kepada perusahaan anjak piutang tanpa sepengatahuan

debitur atau notifikasi kepada customer. Proses dari mekanisme ini , antara lain

sebagai berikut :

1. Terjadi penjualan secara kredit kepada pelanggan (klien)

2. Negosiasi dan kontrak factoring antara perusahaan (klien) dengan lembaga anjak

piutang dimana perusahaan menyerahkan faktur penagihan dan dokumen terkait

lainnya (dokumen asli).

Hal xiii
3. Perusahaan memberitahu kepada debitur kalau piutang dan penagihan sudah dialihkan

ke lembaga anjak piutang.

4. Lembaga anjak piutang memberikan pembiayaan maksimum 80% dari nilai faktur.

5. Pada saat jatuh tempo lembaga anjak piutang melakukan penagihan kepada debitur.

6. Pelanggan (debitur) membayar tagihan kepada anjak piutang.

7. Lembaga anjak piutang menyerahkan sisa dan (20% Nilai faktur) kepada perusahaan

(klien) setelah sebelumnya dikurangi biaya administrasi.

Dengan memanfaatkan jasa anjak piutang maka perusahaan (klien) tidak

perlu membentuk bagian kredit tersendiri dalam organisasi. Lembaga anjak piutang

sudah secara otomatis telah melaksanakan fungsi bagian crediet (credit

departement) dimana lembaga anjak piutang akan memberikan laporan hasil kerjanya

secara periodik kepada perusahaan (klien) Atas pemanfaatan jasa anjak piutang

timbul suatu kewajiban bagi perusahaan (klien) yaitu membayar biaya anjak piutang.

Hal xiv
E. Permasalahan dan Pembahasan Dalam Anjak Piutang

Suatu bentuk keputusan maka harus siap untuk menanggung risiko yang

akan dihadapi akan itu berupa risiko yang menguntungkan ataupun merugikan, selain

itu sebuah keputusan harus juga dilatarbelakangi akan perkiraan permasalahan –

permasalahan yang akan ditimbulkan baik seara sengaja maupun tidak sengaja. Sama

halnya seperti perusahaan/instansi/perorangan ketika akan menciptakan sampai

mendistribusikan setiap produk atau jasa yang diproduksi, mereka juga harus jeli

akan risiko bahkan permasalahan yang akan ditimbulkan, baik dari intern atau ekstern

suatu perusahaan/instansi/perorangan. Sebagai calon manajer maka kita dituntut

berfikir kritis agar manajemen perusahaan dapat tertata rapid an tercapai tujuannya.

Khususnya untuk mengahadapi setiap permasalahan yang ditimbulkan dari produk

/jasa yang diproduksi/dikelolanya. Sebagai contoh untuk dapat memahami dan

menangani permasalahan dalam produk berupa jasa khusunya yang akan dibahas

mengenai anjak piutang. Berikut contoh permasalahan yang timbul terkait anjak

piutang :

Hal xv
STUDY KASUS 1

PPA Finance Targetkan Pembiayaan Naik 200%

PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Finance menargetkan pembiayaan

hingga akhir 2013 mencapai Rp 300 miliar. Nilai tersebut meningkat 200%

dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 150 miliar. Direktur

Utama PPA Finance Renny Octavianus Rorong mengatakan, untuk mencapai target

pembiayaan itu, perseroan mengandalkan bisnis anjak piutang atau factoring.Sebagai

gambaran, sekitar 60% bisnis perseroan bersumber dari bisnis anjak piutang.

Sementara sisanya disumbang dari pembiayaan sewa guna usaha sebesar 30%

dan consumer finance sebesar 10%.

Strategi selanjutnya, perseroan akan memperluas pangsa pasar, tidak hanya

menangani perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saja. Melalui kerjasama

dengan ASEI, perseroan ingin mulai menjaring nasabah swasta. Sumber pendanaan

perseroan sejauh ini berasal dari perbankan. Perseroan belum lama ini mendapatkan

pendanaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Namun PPA Finance tidak

menyebutkan besaran angkanya.

PPA Finance sendiri merupakan anak usaha dari PT Perusahaan Pengelola

Aset (Persero). Perusahaan ini dibentuk pada tahun 2010 dengan modal sekitar Rp

100 miliar. Direktur Utama PPA Boyke Mukijat mengatakan, alasan pembentukan

PPA Finance karena selama ini BUMN yang kesulitan dalam pendanaan. PPA

Finance akan menyalurkan pinjaman baik dalam bentuk belanja modal (capital

expenditure/capex) maupun pengadaan barang dan jasa. Salah satu pertimbangan

Hal xvi
kami adalah perusahaan BUMN yang sudah mulai sehat terkadang sulit memperoleh

pendanaan. Mereka di tolak di mana-mana, kemudian datang ke PPA.

PEMBAHASAN

PPA finance merupakan suatu bentuk perusahaan yang bergerak dalam

pembiayaan piutang yang terbentuk pada tahun 2010 dan merupakan anak usaha dari

PT. Perusahaan Pengelola Aset (Persero). Pada awalnya perusahaan ini dibentuk

karena untuk melayani perusahaan BUMN, namun karena kemajuan jaman maka

perusahaan ini memperluas pangsa pasarnya yaitu dengan memprioritaskan sebagian

besar dari bisnisnya berupa anjak piutang atau factoring. Pendanaan dari PPA

finance bersumber dari perbankan yaitu PT. Bank Rakyat Indonesia ( Persero ) Tbk.

Berlatarbelakang pendanaan yang memadai, PPA Finance akan mulai menjaring

pangsa pasar baru selain BUMN yaitu nasabah swasta. PPA Finance akan

menyalurkan pinjaman baik berupa modal (capital Expenditure/capex) maupun

pengadaan barang atau jasa yang sekiranya dibutuhkan oleh para nasabah. Keputusan

PPA Finance untuk memprioritaskan bisnisnya berupa anjak piutang sebesar 60%,

tentunya akan mempunyai kekurangan dan kelebihan bagi perusahaan tersebut.

Adapun kelebihan yang akan didapatkan dari PPA Finance berdasarkan pengambilan

keputusan tersebut, antara lain :

1. Sebagai alternative PPA Finance untuk memperluas pangsa pasarnya, yaitu dengan

menjaring para nasabah dari swasta.

2. Mempermudah PPA Finance mencapai target pembiayaan sebesar 200%.

Hal xvii
3. Memperkuat permodalan dan pendanaan perusahaan swasta.

4. Meningkatkan kepercayaan perusahaan swasta untuk menjaminkan piutangnya.

5. Dengan mengandeng ASEI ( Asuransi Ekspor Indonesia ) maka kemungkinan besar

PPA Finance akan semakin maju dan jaya dalam menjalankan 60 % bisnisnya berupa

anjak piutang yang akan meningkatkan pembiayaannya sebesar 200 %.

Dan adanya beberapa kekurangan yang mungkin akan didapatkan :

1. Kurangnya maksimalisasi untuk membantu pendanaan dan permodalan perusahaan

swasta karena pembiayaan akan dibagi dengan perusahaan swasta yang akan

ditargetkan.

2. Pembiayaan yang ditargetkan sebesar 200% tersebut akan hanya menyisakan bisnis

berupa sewa guna usaha sebesar 30 % , sehingga akan berdampak pada pengurangan

alokasi pendanaan perusahaan yang

3. Terancamnya permodalan dan pendanaan perusahaan BUMN, hal tersebut terlihat

dari tindakan PPA Finance yang hanya akan mendanai sebagian kecil dari 18

proposal yang telah diajukan oleh BUMN ke PP Finance (www.seputar-

indonesia.com).

4. PPA Finance harus bekerja secara maksimal untuk mencari sumber pendanaan

untuk dapat menutup semua tanggungan dana yang akan ditanggung karena PPA

Finance akan memperluas bisnisnya terutama 60 % berupa anjak piutang.

Berdasarkan kekurangan dan kelebihan dari kasus tersebut, dapat dijadikan

sebagai bahan pertimbangan untuk menawaran solusi dari permasalah tersebut, antara

lain :

Hal xviii
1. PPA Finance secara bertahap harus mampu mengembangkan kinerjanya yang

berkualitas , sehingga akan menarik para lembaga keuangan menjadi sebagai salah

satu sumber pendanaan PPA Finance. Hal tersebut harus dilakukan, dikarenakan PPA

Finance selain mempunyai tanggungan pembiayaan (anjak piutang) kepada BUMN

namun mempunyai tanggunngan juga terhadap perusahaan – perusahaan swasta lain

sebagai pangsa pasar barunya.

2. PPA Finance harus mampu bersikap adil terhadap pembiayaannya kepada BUMN

dan perusahaan swasta. Karena pada saat ini BUMN sulit mendapat pendanaan dan

pembiayaan dari perusahaan pembiayaan selain PPA Finance. Berdasarkan kenyataan

memang perusahaan – perusahaan swasta lebih maju dan mudah berkembang

dibandingkan perusahaan BUMN. Hal tersebut menjadi daya tarik yang kuat untuk

para perusahaan pembiayaan mudah untuk menyalurkan modal dan pendanaannya

kepada perusahaan swasta. Sehingga posisi BUMN semakin terpuruk, sedangkan

perusahaan swasta semakin melebarkan sayapnya di dunia bisnis. Menjadi

kebanggaan jika sebagian besar pemilik sahamnya adalah orang Indonesia

namun yang disayangkan adalah mereka para pembisnis asing dari luar negeri. Jadi

walaupun parusahaan swasta pada umumnya mempunyai masa depan yang

menjanjikan, namun BUMN yang seharusnya tetap utamakan untuk mendapatkan

pembiayaan dan permodalan guna meningkat perekonomian dan kesejahteraan

masyarakat seluruh Indonesia.

Hal xix
3. Membentuk badan pengawas untuk perusahaan yang telah direkomendasikan

mendapatkan anjak piutang dan terhadap nasabah (debitur ) agar tetap membayarkan

kewajiban utangnya kepada perusahaan factoring (PPA Finance).

STUDI KASUS II

PT. IFS Capital Indonesia (IFSI)

PT. International Factors Indonesia (“IFI”) adalah perusahaan yangbergerak

dalam usaha anjak piutang (factoring) dan equipment leasing. Berada di Wisma

Standard Chartered Bank 23B Floor, Jl. Jend. Sudirman Kav. 33A Jakarta 10220. PT.

International Factors Indonesia (“IFI”), sebelumnya bernama PT. Niaga International

Factors Indonesia, merupakan perusahan pembiayaan joint ventura yang berdiri sejak

tahun 1990. Akhir Oktober 2005 Bank Niaga yang merupakan sharehorder di Niaga

Factor Indonesia melepas sahamnya di perusahaan tersebut. Yang kemudian dikuasai

oleh Singapura dibawah PT. IFS Capital (International Factors Singapore), karena

ada peraturan pemerintah dimana perusahaan asing tidak boleh memiliki saham lebih

dari 85 % pada saham perusahaan publik maka sebesar 15% saham dijual ke

perorangan. Pada tanggal 14 Juni 2007 nama perusahaan di ganti dari PT.

International Factors Indonesia menjadi PT. IFS Capital Indonesia. Dengan struktur

organisasi dan kebijakan perusahaan yang baru, PT. IFS Capital Indonesia siap

melayani kebutuhan pembiayaan perusahaan Indonesia baik untuk jasa Anjak Piutang

dan Sewa Guna Usaha.

Hal xx
IFSI adalah perusahaan pembiayaan yang mempunyai spesialisasi dalam

pembiayaan Anjak Piutang (‘Factoring’) dan Sewa Guna Usaha (‘Leasing’) untuk

perusahaan kecil dan menengah di Indonesia. Pembiayaan Anjak Piutang yang

diberikan meliputi anjak piutang domestik dan anjak piutang ekspor. IFSI melayani

transaksi anjak piutang ‘with recourse’ dan juga transaksi anjak piutang ‘without

recourse’. IFSI anggota dari IF Group yang berpusat di Brussel, yang merupakan

asosiasi dari 75 perusahaan anjak piutang dari seluruh dunia. Sebagai anggota dari

International Factors Group transaksi ekspor dan impor yang dilakukan oleh

klien IFSI dari Indonesia menjadi lebih mudah dan efisien. Selain itu IFSI juga

menjadi anggota dari Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dan juga

anggota dari Asian Leasing and Finance Association (ALFA). IFSI saat ini siap

mendukung perusahaan di Indonesia untuk meningkatkan investasi-nya di berbagi

sector industri seperti : manufacture, electronic, tekstil, telekomunikasi, printing dsb.

Dan juga siap untuk membiayai pengadaan peralatan berat untuk sector industri :

perkebunan, pertambangan, transportasi dan sumber daya energi .

Persyaratan yang harus dipenuhi UKM untuk menjadi client dari alternatif

pembiayaan pada fasilitas anjak piutang di PT. IFI ialah telah memiliki usaha yang

baik dan menguntungkan. Hal awal yang dilakukan yaitu mengisi formulir

permohonan fasilitas yang terdiri bagian A identitas pemohon client dan bagian B

pernyataan pemohon. Pada bagian B pernyataan pemohonan berisi tentang

pernyataan yang akan menunjang terciptanya transaksi anjak piutang secara lancar.

Mekanisme Transaksi Anjak Piutang pada PT. IFS Capital Indonesia (IFSI) adalah:

Hal xxi
Transaksi Anjak Piutang membantu perusahaan / klien dalam meningkatkan modal

kerja. Klien mengalihkan/menjual tagihan/piutang kepada kami (PT. IFS Capital

Indonesia/ IFSI), dan IFSI akan memberikan dana tunai sampai dengan 90% dari nilai

tagihan/piutang. Selanjutnya kegiatan penagihan dan pencatatan tagihan klien akan

menjadi tanggung jawab IFSI. Secara berkala IFSI akan memberikan laporan atas

tagihan/piutang klien yg telah di-anjak-piutang-kan kepada IFSI. Jenis-jenis transaksi

Anjak Piutang yang dapat dilakukan oleh IFSI :

Anjak Piutang Domestik/: Transaksi Anjak Piutang terhadap tagihan antar perusahaan

Lokal domestik.

Anjak Piutang Ekspor : Transaksi anjak piutang terhadap tagihan antar negara.

Anjak Piutang Non:


Transaksi anjak piutang yang dilindungi dengan asuransi kredit.
Recourse

Anjak Piutang With: Transaksi anjak piutang yang dilakukan tanpa menggunakan

Recourse asuransi kredit.

PEMBAHASAN

 PT. IFS Capital Indonesia (IFSI) merupakan perusahaan anjak piutang yang

merupakan berbentuk multi financial company berfokus pada usaha kecil dan

menengah di Indonesia. Persyaratan yang harus dipenuhi UKM untuk menjadi client

dari alternative pembiayaan pada fasilitas anjak piutang di PT. IFSI ialah telah

memiliki usaha yang baik dan menguntungkan. Hal awal yang dilakukan yaitu

Hal xxii
mengisi formulir permohonan fasilitas yang terdiri bagian A identitas pemohon client

dan bagian B pernyataan pemohon. Pada bagian B pernyataan pemohonan berisi

tentang pernyataan yang akan menunjang terciptanya transaksi anjak piutang secara

lancar, dalam hal ini UKM berperan sebagai klien.

 IFSI melayani transaksi anjak piutang ‘with recourse’ dimana factor tidak

menanggung risiko atau gagalnya pembayaran dari customer, maksudnya adalah

apabila customer gagal membayar, pailit atau bangkrut, maka factor tidak menaggung

risiko tersebut melainkan client yang menanggungnya. Sebagai contoh apabila pada

saat jatuh tempo tagihan terjadi gagal bayar oleh customer, maka tagihan tersebut

wajib dibayar oleh client kepada factor. Transaksi anjak piutang dengan recourse bagi

factor,merupakan transaksi pemberian pinjaman dengan jaminan piutang di mana

factor akan memperoleh jaminan dari client atas piutang yang tidak terbayar oleh

customer. Namun demikian, factor masih tetap mempunyai risiko kolektibilitas atas

pembiayaan piutang yang diberikan kepada client. Sedangkan bagi client, transaksi

anjak piutang dengan recourse mempunyai substansi yang sama dengan factor.

Dengan demikian client akan mengakui anjak piutang sebagai kewajiban dan tetap

mengakui piutang retensi dalam laporan keuangannya. Dan juga transaksi anjak

piutang ‘without recourse’ dimana factor menanggung sepenuhnya risiko pembayaran

oleh customer baik gagal bayar, pailit atau bangkrut, kecuali dalam hal pengurangan

oleh karena rusak/cacatnya dalam dasar penagihan yang dikarenakan barang dan jasa

Hal xxiii
dikembalikan atau adanya dispute, factor tidak menaggung risiko tersebut. Dalam

transaksi anjak piutang tanpa recourse, factor memberlakukan piutang yang telah

dialihkan dari client sebagai pembelian piutang. Factor otomatis memperoleh hak

sekaligus menanggung risiko kolektibilitas piutang yang diterimanya. Adanya

pembelian piutang ini, factor mengakui sejumlah piutang yang diperoleh sebagai

aktiva dengan akun tagihan anjak piutang. Di sisi lain, untuk menutupi risiko

kolektibilitas piutang, maka factor akan membentuk cadangan piutang yang tidak

tertagih. Untuk bagian piutang yang tidak ikut dibiayai oleh factor akan dicatat

sebagai kewajiban kepada client dengan akun retensi, yang akan dibayar setelah

piutang dibayar lunas oleh customer. Sedangkan dari sudut client, substansi dari

transaksi anjak piutang tanpa recourse adalah penjualan piutang sehingga client tidak

lagi memiliki manfaat ekonomi dan resiko kolektibilitas piutang yang dialihkan

kepada factor. Akibat yang ditimbulkan adalah kekuranggannya jumlah piutang

sebesar nilai yang dijual dan menimbulkan keuntungan atau kerugian akibat transaksi

anjak piutang yang dilakukan.

 Alasan PT. IFS Capital Indonesia (IFSI) berfokus pada UKM di Indonesia

adalah karena keinginannya untuk turut serta mengembangkan pertumbuhan ekonomi

karena usaha yang paling banyak terdapat di Indonesia dengan latar belakang unit

Usaha Kecildan Menengah (UKM) sulit mendapatkan permodalan yang berasal dari

bank karenapencairan modal dari bank melalui berbagai persyaratan berbelit-belit dan

Hal xxiv
jaminan angunan serta bunga yang tinggi pula, membuat pengusaha tidak dapat

berkonsentrasi terhadap kemajuan dan perkembangan usahanya. Sehingga sering

terjadi kebangkrutan/pailit yang menyebabkan pengusaha tidak dapat mengembalikan

pinjaman terhadap bank. Pemberian modal terhadap UKM kini tidak hanya monopoli

dunia perbankan saja, tetapi dapat juga melalui lembaga pembiayaan. Banyak hal

yang membuat salah satu perusahaan pembiayaan yang dapat menjadi alternatif

sumber permodalan jangka pendek UKM yaitu anjak piutang. Sekarang yang

dibutuhkan UKM bukan hanya pengucuran dana tetapi yang lebih penting lagi

membimbingan secara intensif bagaimana memanajemen usahanya. Disinilah peran

perusahaan anjak piutang yang menjadikan UKM sebagai rekanan/partner, terutama

dalam memelihara pembukuan penjualan.

 Kelebihan PT. IFS Capital Indonesia (IFSI) bagi UKM:

 Manfaat yang dapat diperoleh dari PT. IFS Capital Indonesia (IFSI) bagi UKM

yang telah memanfaatkan jasanya yaitu dengan menjaminkan atau menjual piutang

usaha (account receivables) untuk memperoleh fasilitas pembiayaan dari anjak

piutang, dimana dana yang diperoleh dapat berguna untuk mengatasi “cashflow

mismatch” karena membesarnya kebutuhan modal kerja.

 Permodalan dengan Anjak piutang dapat meningkatkan efisiensi dalam penagihan

dan administrasi piutang karena anjak piutang juga menangani credit management.

Hal xxv
 Dengan anjak piutang UKM tidak hanya mendapat permodalan dari penjualan

piutangnya, tetapi juga factoring dapat diterapkan untuk transaksi ekspor-impor

(export factoring dan import factoring) tanpa menggunakan L/C. Sehingga UKM

dapat meluaskan pangsa pasar hingga ke keluar negeri.

 Kekurangan PT. IFS Capital Indonesia (IFSI):

 Perusahaan ini kurang berkembang di Indonesia karena resiko Bad Debt, sehingga

benar-benar perusahaan financial yang besar dan berkuasa yang dapat

melakukannya.

 Biaya yang ditanggung cukup tinggi yaitu:

 Service charge yaitu biaya yang dikeluarkan karena klien menggunakan jasa untuk

pengelolaan/ pembukuan penjualan (sales ledger) dari transaksi penjualan yang

dilakukan klien. Besarnya biaya berkisar antara 0,5% – 2,5% tergantung kesepakatan

antara anjak piutang dan klien.

Discount Charge yaitu pembiayaan yang dikeluarkan karena klien memperoleh

pembiayaan (dana tunai) dari lembaga anjak piutang. Besarnya discount charge antara

2 %-3%. Biaya ini juga ditetapkan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Hal xxvi
DAFTAR PUSTAKA

http://smkyaditamaoke.blogspot.com

Kasmir, S.E, M.M. 2009. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta : Rajawali

Pers.

Budisantoso, Totok dan Sigit Triandaru. (2006). BANK DAN LEMBAGA

KEUANGAN LAIN. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Kasmir. (2010). BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN. Jakarta: Rajawali

Pers

KESIMPULAN

Perusahaan anjak piutang (Factoring) adalah perusahaan yang kegiataanya


melakukan penagihan atau pembelian, atau pengambilalihan atau pengelolaan utang
piutang suatu perusahaan dengan imbalan atau pembayaran tertentu dari perusahaan.
Menurut keputusan Menteri Keuangan Nomor 1251/KMK.013/1988 Tanggal 20
Desember 1988, Anjak piutang adalah “badan usaha yang melakukan kegiatan
pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan serta pengurusan piutang
atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan dalam atau
luar negri”.
Kegiatan utama perusahaan anjak piutang adalah mengambil alih pengurusan
piutang suatu perusahaan dengan suatu tanggung jawab tertentu, tergantung
kesepakatan kepada pihak kreditor (pihak yang punya piutang). Usaha – usaha yang
dijalankan oleh perusahaan anjak piutang berkaitan dengan pengambilalihan dan

Hal xxvii
pengelolaan piutang suatu perusahaan, tergantung permintaan pihak kreditor. Bagi
perusahaan kreditor dengan adanya perusahaan anjak piutang sangat membantu
mereka dalam hal mengurangi resiko yang dihadapi terhadap macetnya tagihan
perusahaan.

Hal xxviii