Anda di halaman 1dari 4

Nama : Rosmaida

Kelas : CE-1B

Si Abdul

Hai perkenalkan nama ku Zafran asli orang bandung, aku adalah seorang teknisi di
sebuah perusahaan swasta yang cukup besar di Indonesia. Disini aku tidak akan menceritakan
tentang diriku tapi aku akan menceritakan kisah tentang salah seorang sahabatku yg telah
menginspirasi ku. 5 tahun yang lalu saat aku masih menjadi mahasiswa baru di salah satu
Institut teknologi yang sangat terkenal di Bandung, aku berjumpa dengan 2 orang yang sangat
menarik perhatian ku karna logat bahasa mereka, mereka adalah Doli dan Abdul sahabat ku
sampai saat ini. Pada saat orientasi mahasiswa baru, aku berinisiatif mengajak mereka
berkenalan, setelah tau nama mereka aku mulai bertanya tentang bagaimana mereka bisa masuk
kampus ini, dimana mereka tinggal dan dari mana mereka berasal. Ternyata mereka berdua
adalah penerima beasiswa bidikmisi dan tinggal di rumah kos yang sama tapi dikamar yang
berbeda. Si Doli berasal dari Sumatera Utara, Siborong-borong tepatnya, sudah kuduga dari
awal aku mendengarnya berbicara dengan logat batak yang sangat kental aku yakin dia berasal
dari Sumatera Utara. Dan si Abdul berasal dari Madura, ia adalah seorang anak yatim, ayah
nya meninggal pada saat ia baru mau masuk kuliah, ayah nya meninggal karena terbunuh ketika
akan melerai 2 orang mabuk yang sedang berkelahi pada malam hari ketika ayah nya pulang
kerja. Semenjak itu Abdul sangat membenci orang mabuk. Abdul adalah sulung dari 3
bersaudara, 2 adiknya masih bersekolah di Madura, ibunya adalah seorang buruh cuci di
rumah-rumah tetangga. Sedangkan aku sendiri adalah asli orang bandung, aku bungsu dari 2
bersaudara, kakak ku sudah bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Negara(BUMN), ayah ku
bekerja di salah satu Instansi Pemerintahan, dan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang
baik.
Oke kembali ke cerita awal, hariini adalah hari pertama perkuliahan. Aku sekelas
dengan 2 sahabatku itu karena kebetulan kami satu jurusan di kampus ini. Pada saat jam ishoma
(istirahat, sholat, makan), setelah selesai sholat kami pergi ke kantin untuk makan siang.
Setibanya di kantin kami berpencar untuk membeli makanan masing-masing lalu berkumpul
kembali di satu meja untuk makan bersama-sama, betapa tekejutnya aku ketik melihat piring
yang dibawa oleh Abdul, isi piring nya hanya nasi setengah porsi dan sepotong tahu sebagai
lauknya, aku pun bertanya kepadanya tentang hal ini,
“ kenapa makan mu sangat sedikit? Apakah kamu sedang menjalani diet?”
“ hahaha…tidak, aku bukan sedang diet, aku hanya ingin berhemat agar uang yang
diberikan ibuku cukup untuk satu bulan.” Jawab Abdul dengan santai
Hatiku tersayat mendengarnya, aku hanya bisa membalas pernyataannya itu dengan senyuman
tipis. Aku yang selama ini sering menghambur-hambur kan uang yang diberikan orangtua ku
untuk membeli hal-hal yang tidak penting merasa sangat malu mendengar pernyataan nya
barusan. Akhirnya setelah selesai makan kami kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran.
Kira-kira begitulah rutinitas perkuliahan kami, tak terasa sudah setahun kami berkuliah disini.
Tahun pertama semua berjalan dengan lancer, aku dan Doli kadang bergantian meneraktir
Abdul makan siang agar dia tidak makan setengah porsi lagi. Abdul adalah mahasiswa
berprestasi, ia selalu mendapat IP diatas 3.5, ia adalah yang terpintar di kelas kami dan terpintar
ketiga di jurusan, tapi semua itu tiba-tiba berubah, ibu Abdul sering sakit-sakitan jadi jarang
masuk kerja dan otomatis penghasilan ibunya pun berkurang, mau tak mau Abdul harus
mencari kerja part time di Bandung untuk membiayai hidpnya sendiri karna penghasilan
ibunya hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah adik-adiknya saja. Setelah sekian lama
mencari kerja akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di salah satu bar di bandung.
Aku sangat terkejut ketika mengetahui Abdul akan bekerja di bar, setauku Abdul sangat benci
pada orang mabuk tapi sekarang dia malah bekerja melayani orang mabuk.
“kenapa kau mau bekerja disana?!” tanya ku pada Abdul saat makan siang
“Cuma itu pekerjaan yang sesuai dengan jadwal ku, banyak memang pekerjaan yang lain
tapi bentrok dengan jadwal ku. Sesungguhnya aku juga tidak sudi menginjak tempat itu
tapi tak ada cara lain.“ kata Abdul dengan wajah yang tak bisa ku deskripsikan.
“kau bisa memulai bisnis, berjualan misalnya.” Ucapku mencoba memberi saran.
“aku tak punya modal untuk memulai sebuah usaha, lagian aku tidak mahir dalam berjualan,
Dulu waktu masih SMA aku sering mencoba berjualan untuk mencari tambahan uang jajan
tapi hasilnya bukan untung malah bunting” ucapnya sambal memainkan sedotan yang ada
di depan nya. Aku tak tau lagi harus memberi saran apa, pesan ku padanya agar dia tidak iku-
ikutan seperti mereka yang ada di dalam sana dan dia pun berjanji dia tak akan seperti itu.
Tak terasa sudah 3 bulan lebih dia bekerja disana dan alhamdulillah sekarang dia bisa
makan nasi dengan porsi penuh dan dia membeli beberapa buku tentang bagaimana memulai
bisnis agar suatu hari nanti ia bisa memulai sebuah bisnis yg bisa mempekerjakan banyak
orang, disanping itu semua ada yang berubah dari wajahnya, ya kantung mata nya menghitam
tampak sekali ia hanya tidur beberapa jam saja. Sejak saat dia mulai bekerja ia sering
mengantuk dikelas bahkan pernah sekali duakali dia tak masuk karna ketiduran, alhasil nilai
Abdul pun turun. Singkat cerita di tahun berikutnya beasiswa Abdul pun dicabut karna nilainya
terus menurun, ia stress,bingung, bagaimana bisa ia membiayai kuliahnya sendiri, sedangkan
aku dan Doli alhamdulillah sudah bisa wisuda tahun ini dan mendapat gelar cumlaude,
akhirnya aku dan Doli bahu-membahu mengumpulkan uang jajan kami untuk diberikan kepada
Abdul untuk sedikit membantunya.
Di hari wisuda ku dan Doli, Abdul datang membawa dua bucket bunga untukku dan
Doli, ia memeluk kami dengan senyuman , ya dia tetap tersenyum walaupun sebenarnya kami
tau bahwa ada sedikit kesedihan dalam hatinya, ditambah lagi ia masih bingung mencari uang
tambahan untuk keperluan kuliah nya dan ibunya pun tak kunjung sembuh, aku dan Doli sangat
prihatin dengan kondisi Abdul saat ini. Sebelum wisuda aku dan Doli sudah diminta oleh
beberapa perusahaan untuk bekerja di tempat mereka, dan setelah melalui proses yang cukup
rumit akhirnya dua hari setelah wisuda, aku dan Doli sudah bisa bekerja meski di perusahaan
yang berbeda. Kami bertekad akan menyisihkan sebagian gaji kami untuk membantu Abdul
agar ia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Sebulan kemudian aku dan Doli berniat
menjumpai Abdul untuk berbagi sedikit gaji pertama kami, kami pergi ke kos nya kira-kira 9
pagi karna kami kira ia akan ada di kos tapi ternyata ia tak ada di kos, lalu kutanya pada teman
sebelah kamarnya, katanya pagi-pagi tadi sekitar jam 7 Abdul sudah pergi, kupikir ke kampus
tapi ternyata kata teman sebelah kamarnya itu Abdul pergi bekerja bukan ke kampus. Aku dan
Doli saling liat-liatan, bingung, apa mungkin ada bar yang buka pagi-pagi begini?. Ternyata
kata teman sebelah kamarnya itu Abdul sekaranng bekerja di 2 tempat hal ini lah yang membuat
ku salut padanya ia tak pernah berhenti walaupun keadaan telah memaksanya untuk berhenti,
ternyata ia bekerja di salah satu minimarket dekat kos nya, ia sengaja meminta agar
mendapatkan sift pagi agar siang nya dia bisa pulang untuk istirahat sekallian melanjutkan
pengerjaan skripsinya dan malam nya dia bisa bekerja di bar. Luar biasa anak ini pikirku, aku
bangga mempunyai sahabat seperti dia, benar-benar seorang pekerja keras dan pantang
menyerah. Aku yakin ia akan menjadi orang sukses suatu hari nanti berkat kegigihannya.
Singkat cerita 6 bulan kemudian aku diberikan kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan ku di salah satu universitas di Manchaster dan semua biaya nya ditanggung oleh
perusahaan tempat ku bekerja, dan di waktu yang hampir bersamaan Doli dipindah tugas kan
oleh perusahaan nya ke daerah Kalimantan. Entah kebetulan atau tidak Abdul juga akan wisuda
pada bulan itu, alhasil aku dan Doli hanya bisa memberi selamat pada Abdul lewat video call
dari whatsapp. Sedih rasanya dan akupun tau dia pasti merasakan hal yang sama.
Setelah dari videocall itu kurang lebih setahun kami tidak ada saling menghubungi satu sama
lain, kesibukan kami masing-masing adalah penyebab itu terjadi. Pada bulan selanjutnya
bertepatan dengan libur musim panas di Manchaster aku memutuskan untuk pulang ke
Indonesia, kuhubungi Doli dan Abdul untuk mengajak mereka ketemuan karna jujur aku sangat
merindukan mereka. Tapi hanya Doli yang bisa kuhubungi, sudah berulang kali aku mencoba
menghubungi Abdul tapi nomornya tetap tidak aktif, akhirnya aku dan Doli janjian untuk
bertemu esok lusa di kafe yang dulu sering kami datangi waktu masih kuliah.
Dua hari kemudian aku datang ke kafe yang telah kami sepakati kemarin lusa, pada
saat aku memasuki kafe tersebut langsung kudapati Doli sedang menyeruput kopi yang dari
dulu sampai sekarang sangat digemarinya, kulambaikan tanganku padanya, dia pun melihatnya
dan langsung berdiri dan saat aku sampai di mejanya ia langsung memelukku. Cukup lama
kami bercerita mungkin lebih dari 2 jam sampai akhirnya kami memutuskan untuk pergi dari
kafe itu dan ingin mencari dimana keberadaan Abdul sekarang. Dan tempat yang pertama kami
datangi adalah kos-kosan nya dulu dan benar saja ternyata ibu kos nya dulu tau dimana Abdul
sekarang tingal, ibu kosnya memberikan secarik kertas yang berisikan alamat Abdul, ketika
aku dan Doli membaca alamat tersebut kami sama-sama terpelongok karna terkejut, dalam
kertas itu tertulis nama sebuah perumahan elit yang ada di Bandung. Kutanya sekali lagi pada
ibu kosnya apakah alamat ini tidak salah dan ibu kosnya pun menjawab dengan sangat yakin
bahwa alamat itu benar, akhirnya kami datangilah alamat yang tertulis di kertas itu,
sesampainya di alamat tersebut kami langsung memencet bell yang ada di luar pagar dan
keluarlah seorang wanita dengan menggunakan daster, kukira itu istri Abdul ternya ia adalah
PRT yang bekerja di rumah Abdul, ia menanyai kami ada keperluan apa dan ingin mencari
siapa, setelah kujelaskan bahwasannya kami adalah teman kuliah Abdul, wanita itu pun
langsung mempersilahnkan kami masuk dan disuruh menunggu di ruang tamu yang desain nya
sangat cozy menurutku, setelah menunggu tak sampai semenit keluar lah seorang pria dengan
wajah yang sangat aku rindukan ia adalah Abdul. Aku langsung berlari kearahnya dan langsung
memeluknya begitu pula dengan Doli, dan setelah lama kami berpeluk-pelukan kami pun
duduk bercerita-cerita di ruang tamu yang cozy itu dan ditemani oleh secangkir teh hangat dan
setoples biskuit mahal(menurut ku). Sangat lama kami bercerita sampai aku dan Doli pun harus
menginap di rumah Abdul, ternyata sekarang Abdul sudah menjadi seorang pebisnis yang
sangat sukses, aneh memang anak teknik tapi sukses menjadi seorang pebisnis. Aku pun heran
karna dulu ia bilang ia tidak pandai berbisnis tapi sekarang ia malah menjadi seorang
businessman yang hebat. Aku pun bertanya kepadanya bagaimana bisa ia menjadi seorang
businessman, ternyata dulu saat ia bekerja di bar ada seorang pengusaha yang sering datang ke
bar itu, ia pun sering bertanya pada pengusaha itu tentang bisnis, tentang bagaimana agar
mendapat profit yang tinggi, dan dia pun rajin membaca buku-buku biografi businessman dari
seluruh dunia dan membaca buku-buku tentang bagaimana memulai bisnis yang baik. Awalnya
ia juga sempat mengalami kerugian bahkan hampir bangkrut tapi jiwa pekerja keras dan
pantang menyerah nya itulah yang membuatnya bangkit lagi dan terbukti sekarang ia telah
menjadi seorang businessman yang hebat.
Abdul adalah sahabatku yang selalu menginspirasi ku dalam hal semangat dan pantang
menyerah. Ketika aku sedang down, abdul adalah orang yang pertama kali kuhubungi karna
aku tau ia pasti akan memberiku kata-kata motivasi yang dapat mrmbangkit kan semangatku
kembali. Inilah ceritaku tentang sahabatku Abdul yang telah banyak memberiku pelajaran
tentang hidup, tentang bagaimana kau harus survive dalam keadaan apapun. Ada beberapa
kalimat yang pernah diucapkannya padaku dan sangat membekas di otak ku, kalimat itu adalah
“HIDUP ITU MEMANG PENUH PERJUANGAN BAHKAN DI SISA NAFAS
TERAKHIRMU PUN KAU MASIH AKAN TETAP BERJUANG UNTUK MELAWAN
GODAAN IBLIS AGAR BISA MENGUCAP DUA KALIMAT SYAHADAT”
“HIDUP INI MUDAH BILA HARIINI KAU TANAM APEL PERCAYALAH BESOK KAU
AKAN MEMETIK APEL JUGA, DAN JANGAN BERHARAP KAU AKAN MEMETIK
ANGGUR BILA YANG KAU TANAM APEL”
“KAU HARUS MEMPUNYAI BANYAK MIMPI KARNA JIKA MIMPI MU YANG
PERTAMA TIDAK TERWUJUD KAU BISA PINDAH KE MIMPI MU YANG LAIN
YANG MUNGKIN LEBIH BAIK UNTUKMU KETIMBANG MIMPI YANG
SEBELUMNYA”
“BERMIMPILAH SETINGGI LANGIT KARNA JIKA KAU JATUH SEKALIPUN KAU
AKAN JATUH DI AWAN YANG LEMBUT’