Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang

berhubungan dengan komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi.

Gejalanya tampak pada sebelum usia tiga tahun. Bahkan apabila autis infantil

gejalanya sudah ada sejak bayi. Autis juga merupakan suatu konsekuensi

dalam kehidupan mental dari kesulitan perkembangan otak yang kompleks

yang mempengaruhi banyak fungsifungsi: persepsi (perceiving), intending,

imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling). Autis jugs dapat dinyatakan

sebagai suatu kegagalan dalam penalaran sistematis (systematic reasoning).

Akibatnya perilaku dan hubungannya dengan orang lain menjadi terganggu,

sehingga keadaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan anak

selanjutnya.

Autisme dapat mengenai siapa saja tidak tergantung pada etnik, tingkat

pendidikan, sosial dan ekonomi. Autisme bukanlah masalah baru, dari

berbgai bukti yang ada, diketahui kelainan ini sudah ada sejak berabad-abad

yang lampau. Hanya saja istilahnya relatif masih baru. Diperkirakan kira-kira

sampai 15 tahun yang lalu, autisme merupakan suatu gangguan yang masih

jarang ditemukan, diperkirakan hanya 2-4 penyandang autisme. Tetapi

sekarang terjdi peningkatan jumlah penyandang autisme sampai lebih kurang

15-20 per 10.000 anak. Jika angka kelahiran pertahun di Indonesia 4,6 juta
anak, maka jumlah penyandang autisme pertahun akan bertambah dengan

0,15% yaitu 6900 anak.

Dengan perbandingan 4:1 (anak laki-laki : perempuan), ini disebabkan

hormone seks, karena laki-laki lebih banyak memproduksi testosteron

sementara perempuan lebih banyak memproduksi esterogen. Kedua hormone

itu memiliki efek bertolak belakang terhadap suatu gen pengatur fungsi otak

yang disebut retinoic acid-related orphan receptor-alpha atau RORA.

Testosteron menghambat kerja RORA, sementara esterogen justru

meningkatkan kinerjanya. Terhambatnya kinerja RORA menyebabkan

berbagai masalah koordinasi tubuh, antara lain terganggunya jam biologis

atau circadian rythim yang berdampak pada pola tidur. Kerusakan saraf

akibat stress dan imflamasi (radang) jaringan otak juga meningkat ketika

aktivitas RORA terhambat.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas akan dirumuskan masalah tentang : Teori

autisme yang mencakup tentang pengertian Autisme, etiologi, patofisiologi,

karakteristik, manifestasi klinik, dan penatalaksanaan.

C. Tujuan Penulisan
Untuk memperluas pemahaman tentang autisme (pengertian Autisme,

etiologi, patofisiologi, karakteristik, manifestasi klinik, dan penatalaksanaan).


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Autisme

Autisme berasal dari istilah dalam bahasa Yunani; “aut‟ = diri sendiri,

“isme‟ orientation/state = orientasi/keadaan. Maka Autisme dapat diartikan

sebagai kondisi seseorang yang secara tidak wajar terpusat pada dirinya

sendiri, kondisi seseorang yang senantiasa berada didalam dunianya sendiri.

Pengertian Autisme menurut beberapa para ahli:

a. Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan

kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan

gejala (Theo, 2004).

b. Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan

non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang

terjadi sebelum usia 30 bulan (Adnil, 2011).

c. Menurut Isaac, A (2005) autisme merupakan gangguan perkembangan

pervasive dengan masalah awal tiga area perkembangan utama yaitu

perilaku, interaksi sosial dan komunikasi.

B. Etiologi Autisme

Menurut Dewo (2006) gangguan perkembangan pervasive autisme dapat

disebabkan karena beberapa hal antara lain:


a. Genetis, abnormalitas genetik dapat menyebabkan abnormalitas

pertumbuhan sel – sel saraf dan sel otak.

b. Keracunan pada makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang hamil,

misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi. Pada

penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autis terkandung

timah hitam seperti dari makanan yang mengandung pengawet dan

makanan sea food (ikan dari laut yang telah tercemar oleh limbah

pabrik) dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi.

c. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan

dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena

adanya jamur dalam lambungnya, atau nutrisi tidak terpenuhi karena

faktor ekonomi.

d. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan

tubuhnya sendiri karena zat – zat yang bermanfaat justru dihancurkan

oleh tubuhnya sendiri. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap

virus/bakteri pembawa penyakit. Sedangkan autoimun adalah kekebalan

yang dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal

terhadap zat – zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya.

C. Patofisiologi Autisme

Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk

mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls

listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu
(korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak

berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps. Sel saraf

terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga,

pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan

sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun. Setelah anak

lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan

berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi

secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth

factors dan proses belajar anak.

Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson,

dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian

otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit,

dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan

kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps.

Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat

dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses – proses tersebut,

sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf. Pada

pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan

abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan

neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4,

vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang

merupakan zat kimia otak untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi,
diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth

factors ini penting bagi pertumbuhan otak.

Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan

pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi

kondisi growth without guidance sehingga bagian-bagian otak tumbuh dan

mati secara tak beraturan.

Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel

saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel

saraf tempat keluar hasil pemprosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil

pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang

pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat),

dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau

sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye.

Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-

4 menyebabkan kematian sel Purkinye.

Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder.

Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan

gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan. Degenerasi

sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi

gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika

dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat

seperti thalidomide.
Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami

aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motorik, atensi,

proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil

menyebabkan reaksi atensi lebih lambat kesulitan memproses persepsi atau

membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi

lingkungan.

Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian

depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan

berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar

yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian

samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori).

Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala

mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-

agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya.

Namun pada usia enam bulan perilaku berubah, mereka menolak pendekatan

sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan

hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu mereka memperlihatkan

gangguan kognitif.

Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain

kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng,

yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat.


Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara

lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi

yang diderita ibu pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.

D. Karakteristik Autisme

a. Gangguan dalam komunikasi

a) Terlambat bicara pada umur diatas 3 tahun, tidak ada usaha untuk

berkomunikasi dengan gerak dan mimic.

b) Meracau dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain.

c) Sering mengulang apa yang dikatakan orang lain.

d) Meniru kalimat-kalimat iklan atau nyanyian tanpa mengerti.

e) Komunikasi yang digunakan komunikasi nonverbal.

f) Bila kata-kata telah diucapkan, ia tidak mengerti artinya

g) Tidak memahami pembicaraan orang lain.

h) Menarik tangan orang lain bila menginginkan sesuatu.

b. Gangguan dalam interaksi social

a) Menghindari atau menolak kontak mata.

b) Tidak mau menengok bila dipanggil.

c) Menghindari interaksi social.

d) Tidak dapat merasakan empati.

c. Gangguan dalam tingkah laku

a) Asyik main sendiri.

b) Tidak peduli terhadap lingkungan.


c) Tidak mau diatur, semaunya.

d) Menyakiti diri.

e) Melamun, bengong dengan tatapan mata kosong.

f) Kelekatan pada benda tertentu.

g) Tingkah laku tidak terarah, mondar mandir tanpa tujuan, lari-lari,

manjat-manjat, berputar-putar, melompat-lompat, mengepak-ngepak

tangan, berteriak-teriak, berjalan berjinjit-jinjit.

d. Gangguan dalam emosi

a) Rasa takut terhadap objek yang sebenarnya tidak menakutkan.

b) Tertawa, menangis, marah-marah sendiri tanpa sebab.

c) Tidak dapat mengendalikan emosi; ngamuk bila tidak mendapatkan

keinginannya.

e. Gangguan dalam sensoris atau penginderaan

a) Menjilat-jilat benda.

b) Mencium benda-benda atau makanan.

c) Menutup telinga bila mendengar suara keras dengan nada tertentu.

d) Tidak suka memakai baju dengan bahan yang kasar.

E. Manifestasi klinis

Diagnosis harus memenuhi kriteria DSM IV (Diagnostic And Statistical

Of Manual Disorders 1992 Fourth Edition). Diagnosis autisme bisa

ditegakkan apabila terdapat enam atau lebih gejala dari:


a. Gangguan kualitatif interaksi sosial, muncul paling sedikit 2 dari gejala

berikut :

a) Gangguan yang jelas dalam perilaku non – verbal (perilaku yang

dilakukan tanpa bicara) misalnya kontak mata, ekspresi wajah, posisi

tubuh dan mimik untuk mengatur interaksi sosial.

b) Tidak bermain dengan teman seumurnya, dengan cara yang sesuai.

c) Tidak berbagi kesenangan, minat atau kemampuan mencapai sesuatu

hal dengan orang lain.

d) Kurangnya interaksi sosial timbal balik.

b. Gangguan kualitatif komunikasi, paling sedikit satu dari gejala berikut :

a) Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan kata-kata berbicara,

tanpa disertai usaha kompensasi dengan cara lain.

b) Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau

mempertahankan komunikasi dengan orang lain.

c) Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang, atau bahasa yang

tidak dapat dimengerti.

d) Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau

bermain menirukan secara sosial yang sesuai dengan umur

perkembangannya.

c. Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan tidak

berubah (stereotipik), yang ditunjukkan dengan adanya 2 dari gejala

berikut :
a) Minat yang terbatas, stereotipik dan meneetap dan abnormal dalam

intensitas dan fokus.

b) Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara

kaku dan tidak fleksibel.

c) Gerakan motorik yang stereotipik dan berulang, misalnya flapping

tangan dan jari, gerakan tubuh yang kompleks.

d) Preokupasi terhadap bagian dari benda.

F. Penatalaksanaan

Dalam penanganan anak autism ada beberapa cara, misalnya dengan

terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Dalam terapi ini, biasanya hanya

untuk mengurangi kecenderungan anak yang aggressive, hiperaktif dan suka

menyakiti diri sendiri.

a. Terapi farmakologis:

a) Risperidone digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan

serotonin 5-HT untuk mengurangi agresivitas, hiperaktivitas, dan

tingkah laku menyakiti diri sendiri.

b) Olanzapine, digunakan karena mampu menghambat secara luas

berbagai reseptor, olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas,

gangguan bersosialisasi, gangguan reaksi afektual (alam perasaan),

gangguan respons sensori, gangguan penggunaan bahasa, perilaku

menyakiti diri sendiri, agresif, iritabilitas emosi atau kemarahan,

serta keadaan cemas dan depresi.


b. Terapi nonfarmakologis:

a) Terapi Okupasi

Terapi okupasi berguna untuk melatih otot-otot halus anak. Menurut

penelitian, hampir semua kasus anak autistic mempunyai

keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya

sangat kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang benda

dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan

menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dsb. Dengan terapi ini

anak akan dilatih untuk membuat semua otot dalam tubuhnya

berfungsi dengan tepat.

b) Terapi Integrasi Sensoris

Terapi ini berguna meningkatkan kematangan susunan saraf pusat,

sehingga lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya.

Aktivitas ini merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks,

dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.

c) Terapi Bermain

Terapi bermain adalah pemanfaatan pola permainan sebagai media

yang efektif dari terapis, melalui kebebasan eksplorasi dan ekspresi

diri. Pada terapi ini, terapis bermain menggunakan kekuatan

terapeutik permainan untuk membantu klien menyelesaikan

kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan,

perkembangan yang optimal.


d) Terapi Perilaku

Terapi ini memfokuskan penanganan pada pemberian reinforcement

positif setiap kali anak berespons benar sesuai intruksi yang

diberikan. Tidak ada punishment dalam terapi ini, akan tetapi bila

anak menjawab salah akan mendapatkan reinforcement positif yang

ia sukai. Terapi ini digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan

kepatuhan anak pada aturan. Dari terapi ini hasil yang didapatkan

signifikan bila mampu diterapkan secara intensif.

e) Terapi Fisik

Beberapa penyandang autism memiliki gangguan perkembangan

dalam motorik kasarnya. Kadang tonus ototnya lembek sehingga

jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya juga kurang bagus.

Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak

menolong untuk menguatkan otot-otot dan memperbaiki

keseimbangan tubuh anak.

f) Terapi Wicara

Hampir semua anak dengan asutism mempunyai kesulitan dalam

bicara dan berbahasa. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang,

namun mereka tidak mampu untuk memakai kemampuan bicaranya

untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.

g) Terapi Musik

Terapi music menurut Canadian Association for Music Therapy

(2002) adalah penggunaan music untuk membantu integrasi fisik,


psikologis, dan emosi individu, serta untuk treatment penyakit atau

ketidakmampuan. Sedangkan menurut American Music Therapy

Association (2002) terapi music adalah semacam terapi yang

menggunakan music yang bersifat terapiutik guna meningkatkan

fungsi perilaku, social, psikologis, komunikasi, fisik, sensorik

motorik dan kognitif.

h) Terapi Perkembangan

Terapi ini didasari oleh adanya keadaan bahwa anak dengan autis

melewatkan atau kurang sedikit bahkan banyak sekali kemampuan

bersosialisasi. Yang termasuk terapi perkembangan

misalnya Floortime, dilakukan oleh orang tua untuk membantu

melakukan interaksi dan kemampuan bicara.

i) Terapi Visual

Individu autistic lebih mudah belajar dengan melihat. Hal inilah

yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar

berkomunikasi melalui gambar-gambar. Beberapa video games bisa

juga dipakai untuk mengembangkan keterampilan komunikasi.

j) Terapi Akupunktur

Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa menstimulasi sistem saraf

pada otak hingga dapat bekerja kembali.

k) Terapi Balur

Banyak yang menyakini autisme disebabkan oleh tingginya zat

merkuri pada tubuh penderita. Terapi balur ini bertujuan mengurangi


kadar merkuri dalam tubuh penyandang autis. Caranya,

menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan lewat kulit.

Tujuannya melakukan detoksifikasi gas merkuri.

l) Terapi lumba-lumba

Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba

teerkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik

dan sensorik penderita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai

gelombang sonar (gelombang suara dengan frekuensi tertentu) yang

dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada

dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga

dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain

itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat meningkatkan

neurotransmitter.
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Autisme dapat diartikan sebagai kondisi seseorang yang secara tidak

wajar terpusat pada dirinya sendiri kondisi seseorang yang senantiasa berada

di dalam dunianya sendiri.

Etiologi autisme dapat berupa:

a. Genetis

b. Keracunan logam berat seperti mercury yang banyak terdapat dalam

vaksin imunisasi atau pada makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang

hamil

c. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak

d. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan

tubuhnya

Karakteristik autisme itu terjadi gangguan dalam komunikasi, interaksi

social, tingkah laku, emosi dan sensoriatau pengindraan. Penatalaksanaan

pada autisme dapat dilakukan terapi psikofarmakologi, tetapi tidak mengubah

riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik, tetapi efektif mengurangi

perilaku autistik seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik, menyakiti

diri sendiri, agresivitas dan gangguan tidur.Sejumlah observasi menyatakan,

manipulasi terhadap sistem dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi

pasien autis.
B. Saran

Sebaiknya bila ada anak autism dalam keluarga, maka keluarga harus lebih

memperhatikan anak tersebut. Karena biasanya anak autism itu memerlukan

perhatian yang lebih dan apapun yang dikerjakan oleh anak autism itu harus

didukung kecuali hal-hal yang dapat membahayakan anak tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Edwin, Adnil. 2011. Tumbuh Kembang Prilaku Manusia . Jakarta: EGC


Peeters, Theo . 2004. Autisme. Jakarta: Dian Rakyat

Eprianto. 2011. http://eprikenzu.blogspot.com/2011/06/asuhan-keperawatan-pada-


pasien-autisme.html. Diakses: 25 Agustus 2014

Wiiliam, Chris and Barry Wright. 2004. How To Live With Autism and Asperger
Syndrome. Jakarta: Dian Rakyat