Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PROBLEMATIKA FIQIH KONTEMPORER

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1. Akibat arus modrenisasi yang meliputi hampir sebagian besar Negara-negara yang dihuni
mayoritas umat islam. Dengan adanya arus modrenisasi tersebut, mangakibatkan munculnya
berbagai macam perubahan dalam tatanan sosial umat islam, baik yang menyangkut Ideologi
Politik, Sosial, Budaya dan sebagainya. Berbagai perkembangan tersebut seakan-akan cenderung
menjauhkan umat dari nilai-nilai agama. Hal tersebut terjadi karena aneka prubahan tersebut
banyak melahirkan simbol-simbol sosial dan kultural yang secara eksplisit tidak memiliki simbol
keagamaan yang telah mapan, atau disebabkan kemajuan modrenisasi tidak diimbangi dengan
pembaharuan pemikiran keagamaan.

2. Telah mapannya sistem pemikiran barat[1] di mayoritas negeri muslim secara faktual lebih
mudah diterima dan diamalkan apa lagi sangat didukung oleh kekuatan yang bersifat struktural
maupun kultural, namun masyarakat islam dalam penerimaan konsepsi barat tersebut tetap
merasakan adanya semacam “kejanggalan” baik secara psikologis, sosiologis maupun politis.
Tetapi karena belum terwujudnya konsepsi islam yang lebih kotekstual, maka dengan rasa
ketidak berdayaan mereka mengikuti saja konsepsi yang tidak islami. Hal tersebut akhirnya
menggugah naluri pakar hukum islam yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa tujuan Fiqh Kontemporer ?
2. Bagaimana Pemikiran Islam Tentang Fiqh Kontemporer ?
3. Apa saja ruang lingkup kajian Fiqh Kontemporer?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui tujuan fiqh kontemporer.
2. Untuk mengetahui pemikiran Islam Tentang Fiqh Kontemporer.
3. Untuk mengetahui Ruang lingkup kajian Fiqh Kontemporer.
4. Untuk Mengetahui Metode Fiqh Kontemporer.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tujuan Fiqh Kontemporer
Dr. Yusuf Qardlawi dalam salah satu kitabnya secara implisit mengungkapkan betapa
perlunya fiqh kontemporer.
Dengan adanya kemajuan yang cukup mendasar, timbul pertanyaan bagi kita, mampukah
ilmu fiqh menghadapi zaman modern?. Masih relevankah hukum islam -yang lahir 14 abad
silam- diterapkan sekarang?. Tentu saja kita, sebagai muslim, akan menjawabnya. Hukum islam
mampu menghadapi zaman, dan masih relevan untuk diterapkan “tidak asal bicara, memang.
Tapi, untuk menuju kesana, perlu syarat yang harus dijalani secara konsekuen. Untuk merealisir
tujuan penciptaan fiqh kontemporer tersebut Qardlawi menawarkan konsep ijtihad. ijtihad yang
perlu di buka kembali. Manapaak-tilasi apa yang telah dilakukan ulama salaf. Dalam hal yang
berkaitan dengan hukum kemasyarakatan, kita perlu bebas madzhab[2].

Pandangan Prof. Said Rramadan tentang hal serupa. Semua pendapat yang harus di
timbang dengan kriteria Al-Qur’an dan As- sunnah. Dan semua manusia sesudah Rasulullah
SAW dapat berbuat keliru. Dalam segala hal dimana tidak ada teks yang mengikat, maka
pertimbangan masalah sajalah yang mengikat. dan bahwa aturan demi maslahah dapat berubah
bersama perubahan keadaan di masa, terdahulu: “Di mana ada maslahah disanalah letak jalan
Allah”. Perbedaan antara syari’ah (Sebagaimana tercantum dalam Al-Qura’an dan As-sunnah)
yang mengikat abadi dengan dalil- dalil yang diterangkan oleh para fuqoha’ seharusnya
memeberikan pengaruh yang sangat sehat terhadap umat islam pada zaman ini.
Pernyataan diatas dapat kita ambil kesimpulan khususnya berkenaan dengan munculnya
isu fiqih kontemporer tersebut, yakni: bagaimanapu pemikiran ulama bisa di pertanyakan
kembali berdasarkan kriteria Al-Qur’an dan As-Sunnah di sisi lain pertimbangan maslahah dapat
di jadikan rujukan dalam upaya penyesuaian fiqh dengan zaman yang berkembang. Terakhir,
perbedaan antara syari’ah dengan fiqih menjadi peluang timbulnya pengkajian fiqih
kontemporer. Demikianlah sekelumit beberapa latar belakang munculnya isu fiqih kontemporer
yang dapat penulis kemukakan.

B. Berbagai pemikiran Islam tentang Fiqh Kontemporer


Prof. Dr. Haru Nasution membagi ciri pemikiran islam ke dalam tiga zaman, yakni zaman
klasik ( abad VII-XII ) zaman ini disebut juga oleh beliau sebagai zaman rasional, zaman
pertengahan ( tradisional ) abad XIII-XVIII dan zaman modern (kontemporer) abad XIX-? .
Berdasarkan kriteria di atas, fiqih klasik yang di maksud adalah pola pemahaman fiqih abad VII-
XII, sedangka fiqih kontemporer, adalah pola pemahaman fiqih abad XIX dan seterusnya. Yang
menjadi fokus kajian disini adalah; adakah relevansinya antara pola pemahaman fiqih
kontemporer dengan fiqih klasik, lalu di mana letak relevansi pemahaman antara kedua zaman
tersebut?
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, metode berpikir ulama klasik terkait langsung dengan
al-qur’an dan hadist, sehingga banyak melahirkan ijtihad yang kualitatif, hal ini banyak di
contohkan oleh para sahabat nabi terutama Umar bin Khattab. Metode berpikir itu pulalah yang
di tiru oleh imam-imam mazhab fiqih seperti imam Malik, Abu hanafiah, Syafi’i, dan ibnu
hambal. Juga oleh para mutakallimin seperti: Washil bin ‘Atha’, Abu al-huzail, Al-jubba’i, Al-
asy’ari, Al-maturidi, dan Al-ghozali.
Sedangkan pemikiran zaman pertengahan, berbeda dengan pemikiran zaman klasik,
menjadi terikat sekali dengan hasil pemikiran para ulama zaman klasik. Ruang geraknya sempit,
pemikiran rasional diganti dengan pola pemikiran tradisional. Dalam menghadapi maslah-
masalah baru mereka tidak lagi secara langsung menggali ke al-qur’an dan hadist tetapi lebih
banyak terikat denga produk pemikiran ulama abad klasik. Sehingga orisinalitas pemikiran
semakin berkurang dan cenderung dogmatis. Maka bekulah pemikiran serta kurang mampu
beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Corak pemikiran ini menampilkan sosok ulama islam abad pertengahan dengan pola
penalaran fiqih yang tradisional. Di zaman modern inipun masih banyak umat islam yang
terpaku dengan pola pemikiran islam abad pertengahan tersebut hanya sebagian kecil yang sudah
mulai memakai pola pemikiran rasional zaman klasik.
Sebenarnya bila umat islam ingin maju dan punya kemampuan untuk mengantisipasi
perkembangan zaman modern, pola permikiran rasional para sahabat dan ulama klasik sudah
selayaknya untuk dikembangkan lagi disinilah letak relevansinya antar fiqih kontemporer dengan
fiqih klasik nantinya, yakni relevan dalam pola penalaran fiqhiyahnya, walaupun akan
menghasilkan produk fiqih yang berbeda karena perbedaan situasi dan kondisi yang ada.

C. Ruang Lingkup Kajian fiqh Kontemporer


Yang dimaksud dengan ruang lingkup kajian fiqih kontemporer disini mencakup: pertama,
masalah-masalah fiqih yang berhubungan dengan situasi kontempoerer (modern). Kedua,
wilayah kajian dalam alqur-an dan hadist.
1. Kajian fiqih kontemporer tersebut dapat di kategorikan ke dalam beberapa aspek:
a. Aspek hukum keluarga, seperti: pembagian harta waris, akad via telepon, perwakafan, nikah
hamil, KB, dll.
b. Aspek ekonomi, seperti: Sistem bungan dalam bank, zakat mal dalam perpajakan, kredit dan
arisan, zakat profesi, asuransi, dll.
c. Aspek pidana, seperti: Hukum potong tangan, hukum pidana islam dalam sistem nasional,dll.
d. Aspek kewanitaan, seperti: busana muslimah (jilbab), wanita karir, kepemimpinan wanita, dll.
e. Aspek medis, seperti: pencakokan bagian organ tubuh, pembedaha mayat, kontasepsi mantap,
rekayasa genetika, pemilihan jenis kelamin, ramalan genetika, konseling genetika, perubahan
genetika, revolusi biologik, cloning, percobaan dengan tubuh manusia, penyeberang jenis
kelamin dari pria ke waniat atau sebaliknya, kornea mata, bayi tabung, bank susu, bank darah,
bank sperma, vasektomi dan tubektomi dalam aneka variasinya, transfusi darah, insemniasi
sperma manusia dengan hewan, dll.
f. Aspek teknologi, seperti: penyembelihan hewan secara mekanis, seruan azan atau basmalah
dengan kaset, makmum kepada radio atau televisi, memberi salam dengan bel, penggunaan hisab
dengan meninggalkan rakyat, dll.
g. Aspek politik (kenegaraan) yakni tentang perdebatan sekitar istilah ‘negara islam’ proses
pemilhan pemimpin, loyalitas kepada penguasa, dsb.
h. Aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, seperti,; tabungan haji, tayamum dengan
selain tanah (debu), ibadah qurban dengan uang, menahan haid karena demi ibadah haji, dan
lain-lain.

itulah hal-hal yang sering jadi bahan kajian di tengah-tengah masyarakat muslim di
tengah-tengah masyarakat muslim dewasa ini, tentu banyak hal lainnya yang penulis ketahui atau
belum menjadi isu fiqh kontemporer. [3]
Mengenai wilayah kajian yang berkenaan dengan al-qur’an dan hadits yang erat
hubungannya dengan fiqih kontemporer, antara lain adalah maslahah[4] metodelogi pemahaman
hukum islam, yang perlu dilakukan pengakajian mendalam lagi, persoalan histories dan
sosiologis ayat-ayat al-qur’an maupu hadist nabi, kajian tentang maqoosiduttasrii’ ( tujuan
hukum) dan hubungannya dengan formalitas hukum,keterbukaan kembali pintu ijtihad, soal
kemaslahatan umum, adat istiadat masyarakat yang berlaku, tentang teori nasakh dan teori I’llat
hukum, tentang ijma’, dll.
Menurut penulis ruang lingkup kajian fiqih kontemporer tidak terlepas dari aspek
material dan formalnya hukum islam, serta mana yang permanen dalam hukum islam dan mana
yang bersifat relatif (berubah) atau ghoiruttasyri’. Kajian tentang aspek moralitas dan formalitas
hukum inilah yang menjadi ajang kajian fiqih kontemporer ini.
Dapatlah kita kemukakan bahwa persoalan fiqih kontemporer di masa akan datang lebih
komplit lagi dibanding yang kita hadapi hari ini. Hal tersebut disebabkan arus perkembangan
zaman yang berdampak kepada semakin terungkapnya berbagai persoalan umat manusia, baik
hubungan antara sesama maupun dengan kehidupan alam sekitarnya.Kompleksitas masalah
tersebut tentunya akan membutuhkan pemecahan masalah berdasarkan nilai-nilai agama.
Disinilah letak betapa pentingnya rumusan ideal moral maupun formal dari fiqih kontemporer
tersebut, yang tidak lain bertujuan untuk menjaga keutuhan nilai ketuhanan, kemanusiaan dan
kealaman, terutama yang menyangkut dengan aspek lahiriyah kehidupan manusia di dunia ini.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Adanya fiqih kontemporer yaitu pemikiran ulama/ijtihad berdasarkan kriteria Al-Qur’an
dan As-Sunnah di sisi lain pertimbangan maslahah dapat di jadikan rujukan dalam upaya
penyesuaian fiqh dengan zaman yang berkembang. dan perbedaan antara syari’ah dengan fiqih
menjadi peluang timbulnya pengkajian fiqih kontemporer.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin , Bey. Terjemah Sunan An-Nasai, Semarang : CV Syi Syifa, 1992.
Qardhowi , Yusuf. Fatwa – fatwa Kontenporer, Jakarta : Gema Insani Press, 1996.
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemah , Depok : Al-Quran Tajwid , 2008.
Saleh, Hasan . Kajian Fiqh Nawawi & Fiqh Kontemporer ,Jakarta : Rajawali Press , 2008.
Anwar, Syahrul. ilmu fiqh dan usul fiqh, Bogor : Ghalia Indonesia, 2010.
Al Qardhawi, Yusuf. Ijtihad Kontemporer, Surabaya : Risalah Gusti, 1995
Mubarok, Jaih. Fiqh Kontemporer, Bandung : Pustaka Setia, 2003.
Pemikiran Pembaharuan Fikih Islam
di Indonesia
PEMIKIRAN PEMBAHARUAN FIKIH ISLAM

DI INDONESIA

Ismail Rumadan*

Pendahuluan

Pemikiran umat manusia semisal seorang bayi yang berawal dalam keadaan primitif dan
sederhana, kemudian ia tumbuh dan ikut bersamaan dengan timbulnya akal pikirannya
sampai pada tingkat yang lebih sempurna.1
Agama yang diturunkan dari langit adalah sesuai dengan masa evolusi bahwa Allah yang
menjadi sumber agama dengan berbagai ketentuan dan aturannya yang bersifat umum dan
khas, menunjukan bahwa Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk mengkaji dan
menganalisa segala apa yang Allah tetapkan.
Tuhan memberikan petunjuk dan tuntunan kepada manusia dalam menanggungnya
dan sesuai dengan pertumbuhannya, karena manusia pada awalnya hanya mengenal hal-hal
apa yang dirasakannya, sementar akalnya belum dapat memahami apa yang belum
disentuhnya. Namun pengalaman manusia mengalami, mempelajari, berdiskusi dan
bermasyarakat, maka muncullah pemikiran-pemikiran pembaharuan dalam kehidupan,
termasuk pembaharuan pemikiran fikih.
Di dunia Islam, masih banyak orang terjebak pada pemikiran yang membuat umat tidak
maju. Sementara di dunia non muslim pemikiran-pemikiran yang lebih maju yang melairkan
berbagai macam peradaban. Bahkan kemajuan mereka telah mencakup juga hal-hal yang
menyangkut masalah-masalah agama, khususnya pemikiran fikih. Hal ini akhirnya
menyadarkan umat Islam bahwa selama ini umat Islam telah tertinggal dari umat lainnya
dalam berbagai hal. Termasuk pemikiran fikih.
Raja-raja dan pemuka-pemuka umat Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan
mutu dan kekuatan umat Islam kembali.Dari perkembangan ini mulai menyebar ke seluruh
dunia Islam termasuk. Indonesia, walaupun pada tahun dan waktu yang tidak sama, akan
tetapi tetap memberikan semangat itu dari waktu ke waktu dan akhirnva telah tiba di
Indonesia dengan berbagai perubahan oleh murid-murid Imam Syafii.
Sebagai telah disebut pembaharuan dalam fikih Islam timbul di periode sejarah Islam
yang disebut modern dan mempunyai tujuan untuk membawa umat Islam kepada kemajuan. 2
Perkembangan Fikih Islam di Indonesia

Perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi atas dua periode, periode pertama: yaitu
dimana agama Islam dengan umatnya pada zaman agama Hindu dan Budha (pada abad 15,
16, 17, 18 dan 19). Periode kedua: reformasi agama Islam dengan kebangkitan semangat
kebangsaan Pan Islamisme (pada abad ke XX ini). 3
Sebagaimana dimaklumi dalam sejarah serta berdasarpada keterangan seminar tentang
sejarah masuknya Islam ke Indonesia, yang diadakan di Medan pada tanggal 17 sampai 20
Maret 1963 di Medan, ditetapkan bahwa Agama Islam masuk di Indonesia pada abad ke 14 di
Sumatera (Pasai-Aceh) dan di Jawa (Gresik).
Di antara hal yang menyebabkan agama Islam menarik hati orang Indonesia, adalah
karena penghargaan agama ini pribadi manusia. Agama Islam meratakan penghargaan itu,
dengan menganggap manusia sebagai makhluk yang dijadikan Allah, membawa manusia
kepada jalan memerdekakan dirinya sendiri dari pada paksaan kemasyarakatan.
Dengan memeluk agama Islam, tiap-tiap orang mencapai penghargaan yang tetap
terhadap dirinya sendiri, tanpa perlu mempedulikan kedudukannya dalam lingkungan
masyarakat. Sebab Islam tidak mengenal stratifikasi masyarakat dari aspek suku, budaya,
kasta dan sebagainya, kecuali perbedaan ketakwaan. Hal ini menyebabkan Islam dengan
mudahnya dapat berkembang dan diterima oleh masyarakat Indonesia yang sebelumnya telah
terlebih dahulu mengenal agama lain, yaitu Hindu dan Budha.
Keberhasilan Islam menghapuskan pengaruh Hindu dan Budha dari masyarakat
Indonesia, adalah karena pengakuan Islam tentang Allah Yang Maha Kuasa. 4 Ajaran yang
kurang mendapat tempat dalam agama sebelumnya.
Dalam kenyataannya, mazhab fikih yang banyak diikuti di Indonesia adalah pemikiran
imam Syafii. Imam Syafii lahir di Gaza (dekat Palestina) pada tahun meninggalnya Imam Abu
Hanifah, 150 H dan wafat tahun 204 H.5
Mazhab fikih Syafii tersebut dibawa oleh mubalig dan ulama yang datang ke Indonesia
menyebarkan Islam. Setelah terjadinya Islamisasi ini, maka ulama-ulama dari kalangan
pribumi pun muncul dan diketahui kemudian ternyata semuanya adalah pendukung mazhab
Syafii. Kita lihat misalnya di Aceh ada Syekh Abdurrahman Singkil, di Kalimantan ada Syekh
Arsad al-Banjar, di Sumatera ada Syekh Abdussalam al-Falinbani, di Jawa ada Syekh Nawawi
Banten, Syekh Saleh Darat As-Samarani dan seterusnya ….. Bahkan ulama generasi
berikutnya pun seluruhnya adalah pengikut mazhab Syafii.
Fikih Syafii adalah fikih sentesa atau perpaduan antara fikih Hanafi dan Fikih Maliki.
Hal ini boleh jadi karena Muhammad Idris Al-Syafii pernah berguru pada Imam Malik di
Madinah selama 9 tahun. Kemudian beliau sempat berkenalan dengan Fikih Hanafia melalui
seorang murid imam Abu Hanifah yaitu Muhammad bin al-Hasan Al-Syaibani, dengan beliau
pernah berkumpul di Bagdad selama tiga tahun.
Fikih Syafii yang disusun di Mekah sepulang dari perlawatan pertama al-Syafii ke Irak.
Konsep fikih Syafii menunjukan kemandirian Imam al-Syafii dalam berpendapat, karena ia
melahirkan pendapat-pendapat yang berbeda dengan guru-gurunya. Misalnya ia pada
dasarnya sependapat dengan Imam Malik, bahwa ijmak merupakan salah satu sumber hukum
Islam. Tapi keduanya berbeda dalam menerapkan konsep ijmak ini. Jika imam Malik
memaksudkan ijmak sebagai kesepakatan ulama pemuka Madinah, 6 maka menurut imam al-
Syafii untuk mempunyai kekuatan sebagai sumber hukum itu, harus ada kesepakatan umat
Islam dari seluruh dunia Islam. Selain perbedaan dalam masalah ijmak, Syafii juga enggan
menyetujui konsep al-maslahat al-mursalah dari Fikih Maliki.7
Sebaliknya Syafii sepakat dengan Imam Abu Hanifah bahwa qiyās atau analogi adalah
merupakan salah satu sumber hukum. Tetapi Syafii dapat menolak fikih Hanafi dari segi
konsepsi istihsān.
Dalam pemikiran hukumnya Al-Syafii hanya menerima lima sumber hukum Islam.
Alquran, Sunnah Nabi, Ijma atau konsensus, pendapat sebagian sahabat yang tidak adanya
perselisihan mereka di dalamnya, dan pendapat yang di dalamnya terdapat
perselisihan qiys atau analogi.8
Berlainan dengan Abu Hanifah, Al-Syafii banyak memakai sunnah sebagai sumber
hukum, bahkan membuat sunnah dekat dengan Alquran. Istihsān yang dibawa Abu Hanifah
dan al-Masālih al-Mursalah yang dikemukakan Imam Malik, ditolak oleh Al-Syafii sebagai
sumber hukum.
Bahwa fikih Syafii adalah fikih sintesa antara fikih Hanafi dan Fikih Maliki, juga dapat
dilihat antara lain dari ketentuan fikih Syafii tentang cara orang duduk dalam sholat.
Menurut Hanafi, cara duduk orang yang shalat Iftirāsy (duduk dengan tegak dengan
beralaskan dua betis yang membujur sejajar dengan arah kiblat), dengan tiada perbedaan
apakah itu duduk antara dua sujud, dua tahiyat pertama tayahat akhir.
Menurut Imam Syafii duduk antara dua sujud, duduk tahiyat pertama adalahiftirāsy,
dan untuk duduk tahiyat akhir adalah tawarruk. 9
Selain itu, al-Syafii adalah ahli fikih pertama yang menyusun Ilmu Ushul al-Fiqh. Fikih
Syafii juga diwarnai fikih Irak dan Fikih Misri, di mana fatwa-fatwa imam al-Syafii berbeda
ketika ia menetap di Baghdad dengan ketika berada di Mesir. Kedua pendapatnya ketika
berada di kedua kota itu dikenal dengan al-qaul al-qadim dan al-qaul al-jadīd.10
Ungkapan di atas menunjukan kepada kita bahwa sistem pemikiran imam al-Syafii yaitu
berijtihad dengan menggunakan metode deduktif dan ijtihad dengan metode komparatif,
dimana dapat berusaha mempertemukan dua pendapat yang memang berbeda, yang biasanya
disebut dengan taufīqīy atau menguatkan salah pendapat yang disebut dengan tarjīh.
Ketika Islam dibawa masuk ke Indonesia dan menhyebabkan berdirinya kerajaan-
kerajaan Islam di berbagai daerah, keberadaan Islam dan penganutnya tidak dipandang
sebagai musuh yang datang menjajah, melainkan dirasakan sebagai pembaharuan dan
inovasi. Sebab, umumnya antara raja-raja di kerajaan Islam masih ada pertalian darah
dengan raja yang digantikannya. Kerena itu, perubahan itu dipandang sebagai kelanjutan
yang tidak mengejutkan, hanya berganti keyakinan agama yang dianggap lebih sesuai dan
praktis. Oleh karena itu antara julukan Sri Baginda Maharaja dengan julukan Sultan Akbar
Khalifatullah Sayidin Patanah Ahama dan lain sebagainya itu dipandang hal yang biasa. 11
Kekuasaan raja dan sultan juga lebih banyak ditopang dan didukung oleh penasehat-
penasehat agama yang lazim disebut wali, yang tiada lain adalah pemimpin agama dan dai
yang agung sekaligus ulama.
Setelah kemerdekaan, sudah tentu untuk mengisi kemerdekaan ini, sikap ulama
terhadap umara tidak boleh terjadi sebagaimana terhadap penjajah, melainkan dibina
kemanunggalan ulama dengan umara’ sedemikian rupa sehingga pembangunan di Indonesia
di alam kemerdekaan ini dapat berjalan lancar, ibarat beban, berat sama dipikul dan ringan
sama dijinjit.
Dengan perspektif yang melihat bahwa dinamika pergerakan Islam tidak dapat
diisolasikan dari dinamika negara sebagai kekuatan yang mampu memproduksikan sistem
simbolik, dan juga dengan perspektif bahwa Islam mempunyai potensi untuk
melakukan“counter hegomonic-movement” sambil menawarkan alternatif-alternatif sistematik
untuk integrasi sistem sosial dan sistem budaya.
Gerakan-gerakan dari pembaharu telah menjadi warisan tersendiri dalam spektrum
intelektual Islam Indonesia yang sekaligus sebagai pemikiran baru perkembangan hukum
Islam.12
Pelopor pembaharuan fikih di Indonesia, pertama Hazairin, seorang guru besar Hukum
Islam dan Hukum Adat Universitas Indonesia. Dan kedua Hasbi Ash Shiddiqiy beliau adalah
mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Meskipun konsepsi yang diajukan oleh kedua guru besar ini tampak tampil secara
sendiri-sendiri, tapi masih tidak terlepas kepada bentuk pembaharuan yang selalu
didengunkan di Indonesia, walaupun pada saat itu belum terbentuk ide mereka dalam satu
ketetapan hukum, namun banyak praktek para cendikiawan sudah menuju ke arah
pembaharuan tersebut.
Dalam pidatonya tahun 1951, Hazairin telah mempersoalkan kemungkinan kita di
Indonesia mendirikan mazhab kita sendiri, Mazhab Nasional dalam lapangan yang langsung
mempunyai kepentingan kemasyarakatan. Ini menunjukan bahwa pola pemikiran pembaharu
di Indonesia ini selalu melihat kepentingan negara dan masyarakat, agar berjalan secara baik
dan benar.
Penegasan Huzairin ini mengandung beberapa hal yang fundamental bagi pembaharuan
hukum Islam di Indonesia.

1. Perlu memberi corak kenasionalan bagi perkembangan hukum Islam di Indonesia


dengan merangkumnya dalam satu Mazhab Indonesia guna menonjolkan hal-hal yang
sifatnya spesifik.
2. Dalam rangka memberikan identitas Nasional terhadap hukum Islam diadakan
pembedaan dalam dua bidang :
1. Hukum Islam yang berkenaan dengan masalah ibadah, yang sifatnya tidak langsung
bersangkut paut dengan kemasyarakatan. Ini boleh diadakan pembaharuan, karena
tidak memberikan pengaruh langsung kepada masyarakat yang selama ini dianggap
sesuatu yang sangat benar, yang bila diadakan perobahan dapat menimbulkan
kerawanan dan kekacauan bagi masyarakat.
2. Hukum Islam yang langsung berkenaan dengan soal kemasyarakatan. Dari bidang ini
boleh kita adakan pembaharuan yang sifatnya bertahap dari satu masalah ke masalah
lain, dan kalau ini diadakan perubahan tidak terlalu terasa oleh masyarakat, karena
dianggap bukan hal-hal yang prinsip dan tidak membatalkan ibadah mereka.
3. Mazhab Syafii masih hidup dan dipertahankan untuk bidang hukum yang berkenaan
dengan ibadah, sedangkan untuk bidang yang berkenaan dengan soal kemasyarakatan,
kita dirikan Mazhab Nasional dan melepaskan diri dari mazhab Syafii dalam artian
mengembangkan, mengubah dan memperbaiki mazhab itu, misalnya dalam soal
kesahihan macam-macam syirkah.
4. Untuk membentuk Mazhab Nasional diperlukan lahirnya Mazhab-Mazhab Mujtahid baru
yang bercorak nasional untuk melakukan ijtihad kelompok dan peranan hukum Islam
yang sesuai dengan kondisi dan situasi di Indonesia.13
Lebih sepuluh tahun gagasan itu tidak dapat tanggapi oleh pemerintah maupun dari
kalangan pakar hukum Islam dan ahli hukum Islam, pada umumnya. Gagasan-gagasan itu
nanti pada tahun 1961 Hasbi Ash Shiddeiqy dalam pidato pengukuhannya mengemukakan
ide yang sama, walaupun tanpa menyebut gagasan dari Hazairin. Beliau menyatakan bahwa
sangat diperlukan lahirnya ijtihad baru yang dilakukan dengan mempelajari syariat Islam.
Karena itu maksud mempelajari syariat Islam di Universitas Islam sekarang ini supaya fikih
Islam dapat menampung kemaslahatan masyarakat dan dapat menjadi pendiri utama bagi
perkembangan hukum di tanah air. Maksudnya, supaya kita dapat menyusun fiqih baru yang
di terapkan sesuai dengan tabiat dan watak Indonesia.
Ide yang sama juga dikemukakan oleh Munawir Sadzali pada saat ia menjadi Menteri
Agama RI. Munawir selalu memberikan konsep-konsep pemikirannya dalam rangka
pembaharuan hukum Islam di Indonesia, buktinya ia pernah menjelaskan tentang sistem
pembagian warisan di Solo antara laki-laki dan perempuan
Mengenai cara mewujudkannya, dikemukakan bahwa kita harus menggali hukum-
hukum syariat dari sumber asal (Alquran dan Hadis), dari kitab pokok yang ditulis dalam
masa ijtihad dari semua mazhab, sunni, syiah dhahiri dan sebagainya. Bahkan kita tidak
boleh hanya membandingkan antara satu fiqih dengan fiqih yang lain, tapi juga dengan
perundang-undangan buatan manusia.
Tampak dari pendapat-pendapat tersebut bahwa sesungguhnya mereka menggunakan
terminologi yang bersamaan dan tujuan yang sama. Sekalipu demikian, ada suatu perbedaan
pokok antara mereka. Hazairin berpendapat bahwa mazhab di Indonesia adalah mazhab Syafii
yang diperbaharui, sedangkan Hasbi ingin membentuk fikih Indonesia, dan pendapat ini
diperbuat oleh Bapak Munawir Syadzali.
Dari ide-ide pemikiran mereka itulah saat ada sejumlah produk perundang-undangan
yang bercirikan Indonesia, Seperti lahirnya Undang-Undang Hukun Acara Peradilan Agama,
dimana Pengadilan Agama mempunyai kewenangan yang lebih luas bila dibandingkan dengan
sebelum lahirnya Undang-Undang tersebut.
Dari kesekian itu dengan adanya komplikasi hukum Islam yang ada di Indonesia
sekarang ini telah terbukti bahwa walaupun belum sampai semua bidang hukum dapat di
kembangkan sesuai zaman, akan tetapi minimal sudah mempunyai langkah-langkah baru
dalam menuju fikih ala Indonesia.
Ide kompilasi hukum Islam timbul setelah beberapa tahun Mahkamah Agung membina
Teknis Yuridis Peradilan Agama, tugas pembinaan ini didasarkan pada UU No. 14 tahun 1970.
Tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman.14
Bardasarkan ketentuan di atas, secara formalnya baru muncul pada tahun 1985 dan
kemunculannya ini merupakan hasil kompromi antara Mahkama Agung dengan menteri
agama. Maka Bustanil Arifin sebagai penegas gagasan ini menyatakan bahwa, untuk
berlakunya hukum Islam di Indonesia harus ada antara lain, hukum yang jelas dan dapat
dilaksanakan baik oleh aparat maupun oleh rakyat.
Upaya penyusunan kompilasi hukum Islam ini disusun dengan mempertahankan
kondisi kebutuhan hukum dan kesadaran hukum umat Islam Indonesia, bukan upaya
mazhab baru, tetapi sebagai upaya mempersatukan berbagai fikih dalam menjawab satu
persoalan yang mengarah kepada unifikasi mazhab dalam Islam.
Bagaimanapun juga kompilasi ini sebagai sesuatu yang di hayati oleh masyarakat
bangsa kita. Hukum-hukum Islam datang untuk menjadi rahmat bagi masyarakat manusia
bahkan bagi alam semesta.
Kompilasi hukum Islam di Indonesia adalah suatu peluang bagi umat Islam.
Sehubungan itu seorang pengamat umat Islam. Mitsoo Nakamura menyataka bahwa,
kompilasi ini sangat strategis dan mempunyai arti penting bagi umat Islam. Akan tetapi
menurut Nakamura, soalnya tinggal bagaimana tokoh-tokoh Islam dan umat Islam melihat
serta memanfaatkan arti pentingnya proyek kompilasi hukum Islam itu.

Penutup

Perkembangan pemikiran hukum Islam di Indonesia lebih banyak didominasi oleh


pemikiran Imam Syafii, perkembangan pemikiran fikih di Indonesia dengan melalui para
pedagang dan mubaliq-mubaliq pada saat itu, hukum Islam banyak diterima di Indonesia
karena para pembawanya menunjukan sifat kenetralan, dimana masyarakat Indonesia pada
saat itu dalam dua kondisi, yakni pengaruh Hindu dan Budha yang mengklasifikasi status
sosial masyarakat, sedangkan Islam muncul dengan kesamaan derajat.
Pemikiran pembaharuan fikih di Indonesia dikemukakan oleh Hazairin dan Hasbi Ash-
Shiddeiqy, dan kemudian dikembangkan oleh Munawir Zadhali sewaktu menjadi Menteri
Agama. Fikih Syafii adalah fikih yang sintesa antara fikih Hanafi dan fikih Maliki, walaupun
dalam merumuskannya kadang menggunakan pendapat diantara salah satunya, akan tetapi
pada waktu menuangkan-nya dalam pendapatnya lebih banyak dipengaruhi Rasional,
sehingga kadang dikatakan fikih syafii adalah fikih Rasional.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, Abu Bakar. Sekitar Islam Masuk di Indonesia, Cet. I; Bandung: Bina Aksara, 1972

Ash Shiddieqi, Hasbi. Syari’at Islam Menjawab Tantangan Zaman, Cet. I; Surabaya: Bulan
Bintang, 1966

Hamid, Juhri. Peranan Ulama Indonesia Dewasa Ini, Cet. II; Yogyakarta: Bina Usaha, 1984), h.
27

Khalil, Munawir. Empat Serangkai Imam Mazhab, Jakarta: Bulan Bintang, 1972

Khallaf, Abdul Wahab. al-Tasyrī’ al-Islāmī Fī mā lā Na¡¡a Fī hi, Diterjemahkan oleh Bahrun Abu
Bakar dan Anwar Rasyidi, dengan judul Sumber-Sumber Hukum Islam, Cet. I; Bandung:
Risalah, 1972

Kuntowidjoyo, Paradigma Islam, Cet. II; Bandung: Mizan, 1991

Nasution, Amir Taat. Menuju Kesatuan Aqidah Ibadah, Cet. II; Jakarta: Bina Ilmu, 1974

Nasution, Harun. Islam Ditinjau Dari Beberapa Aspek, Jilid III, Cet. II; Jakarta: UI, 1978

Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam, Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1980

Panitia Seminar IAIN Imam Bonjol, Masa Depan Hukum Islam di Indonesia, Oleh: Prof. Ibrahim
Husain, Padang: 26-28 Desember 1985
Yahya, Mokhtar, dkk., Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqhi Islam, Cet. I; Bandung: al-Ma’arif,
1983), h. 105

* Dosen pada Jurusan Syariah STAIN Ambon; Memperoleh gelar Magister Hukum
(M.H.) dari Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar; Saat ini
menduduki jabatan sebagai Kepala Pusat Pengabdian Pada Masyarakat STAIN Ambon.

1Ahmad Sabali, Studi Komprehensip Tentang Agama Islam, (Cet. I; Surabaya: Bina
Islam, 1988), h. 9

2 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h.
12

3 Amir Taat Nasution, Menuju Kesatuan Aqidah Ibadah, (Cet. II; Jakarta: Bina Ilmu,
1974), h. 74

4 Juhri Hamid, Peranan Ulama Indonesia Dewasa Ini, (Cet. II; Yogyakarta: Bina Usaha,
1984), h. 27

5 Panitia Seminar IAIN Imam Bonjol, Masa Depan Hukum Islam di Indonesia, (Oleh:
Ibrahim Husain, Padang: 26-28 Desember 1985)

6 Mokhtar Yahya, dkk., Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqhi Islam, (Cet. I; Bandung:
al-Ma’arif, 1983), h. 105

7 Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Beberapa Aspek, Jilid III, (Cet. II; Jakarta: UI,
1978), h. 17

8 Abdul Wahab Khallaf, al-Tasyrī’ al-Islāmi Fī mā lā Na¡¡a fī hi. Diterjemahkan oleh


Bahrun Abu Bakar, dkk, dengan judul Sumber-Sumber Hukum Islam, (Cet. I; Bandung:
Risalah, 1972), h. 219

9 Mokhtar Jahya, op. cit., h. 105

10 Hasbi Ash Shiddieqi, Syari’at Islam Menjawab Tantangan Zaman, (Cet. I; Surabaya:
Bulan Bintang, 1966), h. 43

11 Abu Bakar Aceh, Sekitar Islam Masuk di Indonesia, (Cet. I; Bandung: Bina Aksara,
1972), h. 33

12 Kuntowidjoyo, Paradigma Islam, (Cet. II; Bandung: Mizan, 1991), h. 35

13 Fahmi Ali, Merambah Jalan Baru Islam di Indonesia, (Cet. I; Jakarta: Presindo,
1984), h. 88
14 Tim Dit Bapera, Berbagai Pandangan Terhadap Komplikasi Hukum Islam,(Jakarta:
Yayasan Al-Hikmah, 1993), h. 7
Iklan

makalah
PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA MODERN

Agama Islam merupakan agama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, untuk seluruh umat
manusia, tanpa membedakan suku, ras, bangsa, maupun golongan. Islam disebut addin al
akamil yang ajarannya berlaku sepanjang masa. Pada perkembangannya, Islam yang diajarkan
Nabi Muhammad SAW menyebar keseluruh pelosok dunia. Perkembangan Islam yang cukup
pesat antara abad ke-6 M hingga sekarang membuat agama Islam menjadi agama besar dunia
dengan jumlah penganut ratusan juta orang. Selama rentang waktu tersebut, di beberapa
tempat terjadi penafsiran agama yang beragam, hingga memunculkan gerakan modernisasi
pemikiran Islam atau yang lebih dikenal dengan gerakan tajdid. Hal itu antara lain bertujuan
membawa umat Islam kepada kemajuan, baik dalam ilmu pengetahuan maupun kebudayaan.

1. Perkembangan Islam Pada Masa Pra Modern


Peradaban dan ilmu pengetahuan Islam mulai tampak ada kemajuan sejak pemerintahan Bani
Umayyah, yakni pada masa Walid bin Abdul Malik dan diteruskan oleh Umar bin Abdul Aziz. Al
Walid (Walid bin Abdul Malik) merupakan khalifah Bani Umayyah pertama yang
memperhatikan seni dan budaya Islam. Beliaulah yang pertama mendirikan rumah sakit umum,
rumah sakit kusta, dan panti tuna netra. Bidang seni dan sastra mulai tumbuh di beberapa kota,
yaitu Hijaz, Mekah, dan Madinah. Di Mekah muncul Abi Rabiah, penyair masyhur. Muncul pula
perkumpulan para penyanyi dan ahli musik di antaranya Tumais, Ibnu Suraih, dan Al Garid.
Begitu pula seni ukur pada masa itu mulai dikembangkan.

Perdaban dan ilmu pengetahuan Islam mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan
Abbasiyah, yakni pada masa Harun Ar Rasyid dan diteruskan oleh khalifah Al Mansyur. Pada
masa Harun Ar Rasyid berdirilah Baitul Hikmah (Lembaga Ilmu pengetahuan). Pada masa itu
pula berkembang berbagai disiplin ilmu pengetahuan pesat, seperti filsafat, sejarah, fikih,
geografi, tasawuf, geometri, kedokteran, dan lain sebainya.

Dalam bidang ilmu tasawuf misalnya banyak muncul tokoh-tokoh tasawuf terkenal seperti
Imam Al Gazali, Ibnu Maskawaih, Rabiah al Adawiyah, Abdul Qadir Jaelani, dan Ar Rifai.

Sedangkan dalam bidang filsafat muncul tokoh-tokoh filsafat Islam, antara lain :

1. Al Kindi, yang telah menulis sebanyak 25 buah risalah yang masih tersimpan di Istambul,
Turki.
2. Ibnu Sina, karyanya antara lain Al Qanun Fit Tib (Ensiklopedi Kedokteran), Asy
Syifa’(Ensiklopedi Filsafat dan Ilmu pengetahuan).
3. Ibnu Rusyd, karyanya antara lain bidang logika, ilmu politik, etika, fisika, ilmu jiwa dan
metafisika, matematika, kimia, dan musik.
4. Al Gazali, karyanya yang terkenal yaitu Ihya’ ‘Ulumuddin dan Tahaful al Falasifah.
Pada bidang kedokteran, muncul beberapa tokoh seperti Ibnu Rasyd (Averos) dan Ibnu Sina
(Aficena), Humain Ibnu Ishak, dan Az Zahrani.

Sedangkan pada bidang ilmu hadis, melahirkan beberapa tokoh-tokoh ilmu hadis, seperti :

1. Imam Bukhari, karyanya yang diberi nama Sahih al Bukhari.


2. Imam Muslim, karyanya yang diberi nama Sahih Muslim.
3. Ibnu Majah, karyanya yang diberi nama Sunan Ibnu Majah
4. Abu Daud karyanya yang diberi nama Sunan Abu Daud
5. An Nasa’I karyanya yang diberi nama Sunan An Nasai.
Pada abada ke-18 M dan awal abad ke-9 M di dunia Islam muncul gerakan pembaharuan Islam.
Hal itu dipengaruhi beberapa hal diantaranya adalah keadaan dunia Islam pada saat itu berada
dalam situasi yang sangat kritis. Hampir seluruh wilayah atau negara Islam jatuh ke tangan
orang-orang Barat yang bukan orang Islam, sehingga menyadarkan bangsa-bangsa muslim
tentang kelemahan dan ketertinggalanya.

Bansa yang pertama kali merasakan tentang kelemahan dan ketertinggalan itu ialah kerajaan
Turki Usmani. Kerajaan Turki Usmani kemudian mengirim beberapa utusannya untuk
mempelajari kemajuan yang telah dicapai bangsa-bangsa Barat dalam bidang sains dan
teknologi. Di antara yang telah dikirim adalah Celeb Mehmed untuk belajar ke Paris pada tahun
1720 M.

Ia mengunjungi pabrik-pabrik, benteng-benteng pertahanan, dan lembaga-lembaga yang ada di


Prancis. Dari hasil penelitiannya itu, kemudian Sultan Ahmad III (1703-1730 M) memulai
melakukan pembaruan-pembaruan di Kerajaan Turki Usmani, antara lain di bidang sosial
politik dan militerr. Akhirnya dampak dari pembaruan yang berada di Turki memberi pengaruh
gerakan modern di negara-negara Islam lainnya, seperti Mesir.

Kelemahan-kelemahan Islam pada masa itu secara umum adalah :

1. Kelemahan akidah yang sudah dicemari oleh berbagai khurafat dan tahayul serta bid’ah
dalam agama.
2. Kelemahan dalam bidang sains dan teknologi. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk
segera mengadakan pembaruan dalam segala bidang, seperti bidang militer, bidang
pendidikan, bidang politik, bidang ekonomi, akida, dan syariah.

1. Perkembangan Islam pada Masa Modern


Perkembangan Islam pada masa modern diawali dengan munculnya beberapa tokoh
pembaruan Islam, di antaranya :

1. Muhammad bin Abdul Wahab


Beliau lahir di Nejed pada tahun 1703 M dari keluarga ulama terkenal. Gerakan pemikriannya
diawali dari keadaan yang ada pada masyarakat sekitarnya, yaitu pemurnian ajaran Islam yang
telah rusak disebabkan pengaruh ajaran dan praktik-praktik mistik. Jika menghadapi masalah
bukan berdoa kepada Allah, tetapi mengadukan permasalahan itu kepada para dukun,
menyembah kuburan-kuburan, dan mengkultskan para wali.
Perbuatan-perbuatan semacam itu menurut Muhammad bin Abdul Wahab termasuk perbuatan
syirik yang dosanya tidak terampuni. Maka perbuatan syirik, khurafat, dan bid’ah harus
diberantas, untuk memurnikan ajaran Islam.

Gerakan ini kemudian disebut gerakan Wahabiah atau Muwahid.

Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab tentang pembaruan Islam adalah :

1. Al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber asli ajaran Islam.


2. Takli kepada pawra ulama tidak dibenarkan
3. Pintu ijtihad terbuka
2. Muhammad Abduh
Beliau dilahirkan di Mesir pada tahun 1849 M. Pemikiran dan ide-idenya, antara lain :

1. Menghapuskan paham jumud yang berhubungan dengan dunia Islam saat itu, yaitu
kemandekan berpikir.
2. Membuka pintu ijtihad karena menjadi dasar yang penting dalam menginterpretasikan
ajaran Islam.
3. Menghargai akal, karena dengan akal ilmu pengetahuan akan maju. Abduh menyatakan
bahwa Islam adalah agama rasional yang sejalan dengan akal.
4. Kekuasaan negara harus dibatasi oleh konstitusi yang telah dibuat oleh negara yang
bersangkutan.
5. Memodernisasi sistem pendidikan Islam di Al Azhar, antara lain dengan memasukkan
filsafat ke dalam kurikulum di Al Azhar.
3. Muhammad Rashid Rida
Muhammad Rasyid Rida dilahrikan di Al Qalamun, pesisir Laut Tengah pada tahun 1865 M
bersama Muhammad Abduh mendirikan majalah Al Manar yang tujuannya seperti majalah Al
Urwatul Wusqa.

Di mengadakan pembaruan di bidang pendidikan, agama, ekonomi, sosial dan memberantas


bid’ah, tahayul, dan khurafat, serta menghilangkan paham fatalisme. Kemudian dia
mengusulkan kepada gurunya, Muhammad Abduh untuk menulis tafsir Al-Qur’an yang terkenal
dengan tafsir Al Manar, Ide-ide pembaruannya yaitu :

1. Menubuhkan sikap kreatif dan dinamis di kalangan umat Islam.


2. Umat Islam harus meninggalkan sifat fatalisme, seperti paham Jabariyah.
3. Umat Islam harus menguasai sains dan teknologi agar maju.
4. Mundurnya umat Islam karena banyaknya bid’ah dan khurafat yang masuk dalam ajaran
Islam.
5. Kebaikan di dunia dan akhirat diperoleh melalui hukum alam yang diciptakan Allah SWT.
4. Muhammad Iqbal
Muhammad iqbal berpendapat bahwa kemunduran umat Islam itu disebabkan dari
kejenuhan dalam berpikir. Umat Islam hanya memikirkan persoalan agama tanpa memikirkan
urusan dunia. Ide pemikirannya yaitu :
1. Kemunduran umat Islam disebabkan oleh kebekuan dalam berpikir.
2. Paham zuhud yang berlebihan menjadikan masyarakat kurang memerhatikan masalah-
masalah dunia dan kemasyarakatan.
3. Umat Islam harus menguasai sains dan teknologi, seperti yang dimiliki negara-negara Barat.
4. Ijtihad memiliki kedudukan penting dalam pembaruan.
5. Sayid Ahmad Khan
Dia mendirikan Universitas Aligarh sebagai pusat gerakan pembaruan dalam Islam. Ide-ide
pembaruannya :

1. Kemunduran umat Islam karena tidak mengikuti perkembangan zaman


2. Akal memiliki kemampuan dan kebebasan untuk melakukan sesuatu.
3. Sumber ajaran Islam hanya Al-Qur’an dan Hadis.
4. Menentang pintu taklid dan membuka pintu ijtihad.
6. Muhammad Ali Pasha
Di antara pembaruannya adalah mendirikan sekolah kemiliteran, kedokteran, apoteker. Bidang
ekonomi membangun bidang pertanian, seperti tentang kesuburan tanah dan irigasi.

7. Jamaludin al Afgani
Dia mendirikan organisasi dan majalan Al urwatul Wusqa yang bertujuan agar memperkuat
persaudaraan Islam. Ide-ide pembaruannya yaitu :

1. Mengembalikan kejayaan Islam


2. Pemerintahan yang otokrasi dan absolut harus diganti dengan pemerintah yang demokratis.
3. Kepala negara harus tunduk kepada undang-undang.
4. Tidak ada pemisahan antara negara dan politik.
5. Pan-Islamisme atau rasa persaudaraan/ solidaritas antar umat Islam harus ditinggkatkan
kembali.
1. Nilai yang Terkandung dalam Gerakan Pembaruan
Pembaruan dalam Islam yang dipelopori oleh tokoh-tokoh Islam bertujuan untuk :

A. Memurnikan ajaran Islam dari segala unsur tahahul, khurafat, dan bid’ah
B. Membebaskan umat Islam dari taklid, sehingga mereka tidak menjadi jumud atau beku.
C. Memperkuat ukhuwah islamiyah dengan ide Pan Islamisme.
D. Mendorong sifat kreatif dan dinamis serta meninggalkan sifat fatalisme.
E. Membangun kembali pemikiran-pemikiran Islam.