Anda di halaman 1dari 26

AJI SAKA

Teater SIM C

TOKOH:

AJI SAKA
DEWATA CENGKAR
DORA
SEMBADA
PATIH JUGUL MUDA
KORBAN 1
KORBAN 2
RAKYAT 1
RAKYAT 2
RAKYAT 3
RAKYAT 4
RAKYAT 5
PERAMPOK 1
PERAMPOK 2
BAPAK TUA
SETAN PENUNGGU HUTAN
DAYANG ISTANA 1
DAYANG ISTANA 2
PENARI

SINOPSIS

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang dipimpin oleh raja bernama
Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang
manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan
mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

Di desa Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu
hari, bertemulah Aji Saka dengan rakyat-rakyat yang telah sampai di desa Medang Kawit. Aji Saka
pun mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat
Medang Kamulan.

Sebelum berangkat Aji Saka memberikan amanah kepada dua abdinya, yaitu Dora dan Sembada.
Dora diminta untuk pergi terlebih dahulu ke desa Medang Kamulang untuk mengamankan warga
desa Medang Kamulang yang masih belum mau mengungsi. Sedangkan Sembada diminta untuk
menjaga desa Medang Kawit dan menjaga keris pusaka Aji Saka serta memberikan pesan bahwa
Sembada harus tetap menjaga keris pusakanya sampai Aji Saka sendiri yang mengambilnya.

Akhirnya, Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan. Perjalanan
menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka bertemu dengan dua orang perampok yang
sedang memukuli seorang bapak tua dan Aji Saka pun segera menolongnya, ternyata bapak tua
itupun pengungsi dari desa Medang Kamulang. Setelah itu, Aji Saka pun sempat bertempur selama
tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh
setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu, tetapi berkat
kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari serangan si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa,
seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus
melenyapkannya.

Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena
Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu. Dengan berani, Aji Saka menghadap
Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah
seluas serban yang digunakannya.

Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga
luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji
Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kedzalimannya. Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang
marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji
Saka jauh dan lenyap.

Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian
mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata
Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka. Ia memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif
dan bijaksana, sehingga keadaan seluruh rakyatnya pun kembali hidup tenang, aman, makmur, dan
sentausa.

Setelah beberapa hari, Ajisaka menyuruh Dora pergi ke desa Medang Kawit untuk mengambil keris
pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Dora di desa Medang
Kawit. Ketika kedua sahabat tersebut bertemu, mereka saling rangkul untuk melepas rasa rindu.
Setelah itu, Dora pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sembada.

Sembada yang patuh pada pesan Ajisaka tidak memberikan keris pusaka itu ke Dora. Dora tetap
memaksa agar pusaka itu segera diserahkan. Akhirnya keduanya bertarung tanpa ada yang mau
mengalah. Mereka bersikeras mempertahankan tanggung jawab masing-masing dari Aji Saka.
Mereka bertekad lebih baik mati daripada mengkhianati perintah tuannya. Akhirnya, terjadilah
pertarungan sengit antara kedua orang bersahabat tersebut. Namun karena mereka memiliki ilmu
yang sama kuat dan tangguhnya, sehingga mereka pun mati bersama.

Sementara itu, Aji Saka Sudah mulai gelisah menunggu kedantangan Dora dari desa Medang Kawit.
sudah dua hari Aji Saka menunggu, namun Dora tak kunjung tiba. Akhirnya, ia memutuskan untuk
menyusul ke desa Medang Kawit. Betapa terkejutnya ia saat tiba di sana. Ia mendapati kedua abdi
setianya Dora dan Sembada telah tewas. Mereka tewas karena ingin membuktikan kesetiaannya
kepada tuan mereka. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdianya tersebut, Aji Saka menciptakan
aksara Jawa (dhentawyanjana) yang berbunyi:

ha na ca ra ka (Ada utusan)

da ta sa wa la (Sama-sama menjaga pendapat)

pa dha ja ya nya (Sama-sama sakti)

ma ga ba tha nga (Sama-sama mejadi mayat)

BABAK I

DISEBUAH KERAJAAN BERNAMA MEDANG KAMULAN, ADA TIGA PENARI SEDANG MENARI
DIHADAPAN SEORANG RAJA YANG SANGAT BUAS DAN SUKA MEMAKAN MANUSIA. SETIAP HARI
SANG RAJA MEMAKAN SEORANG MANUSIA YANG DIBAWA OLEH PATIH JUGUL MUDA. SETELAH
PENARI SELESAI MENARI, MEREKA PUN KELUAR.

Dewata Cengkar : “Hahaha…. Bagaimana menurutmu patih, penari-penariku itu?”


Patih Jugul Muda: “Sungguh menawan dan menghibur! Cantik-cantik, Prabu! Hahaha….”
Dewata cengkar: “Dengan harta dan kekuasaanku, aku bisa mengoleksi perempuan-perempuan
manapun yang ada di desa Medang Kamulan ini! Hahaha….”
Patih jugul muda:“Betul Prabu! Mana ada perempuan yang tak takluk padamu. Kau seorang raja,
hartamu melimpah, tentulah semua perempuan ingin dimiliki olehmu”
Dewata cengkar: (TERTAWA SINIS) “Oh, ya Patih! Apakah kau sudah menyiapkan makan malam
untukku?”
Patih jugul muda: “Sudah Prabu Dewata Cengkar! Aku sudah mendapatkan korban untukmu”
Dewata cengkar: “Hahaha…. Bagus, bagus! Tapi kau tidak menyiapkan korban yang seperti daging
kadaluarsa kan? Seperti kemarin kau membawakan daging alot untukku, daging apakah itu Patih?”
Patih jugul muda “Maaf Prabu, Sebenarnya itu daging nenek-nenek”
Dewata cengkar:“Hah! Nenek-nenek mana yang kau ambil?”
Patih jugul muda: “Dia kuambil di rumahnya, di sebelah timur kerajaan kita”
Dewata Cengkar: “Apa! Bukankah itu nenekmu Patih!” (KAGET)
Patih Jugu muda: “Betul Prabu! Tetapi dia hanya nenek angkatku, aku sudah tak sanggup dengan
tingkahnya. Dia terlalu cerewet dan sangat genit padaku karena aku tahu, sampai usia tuanya dia
juga belum pernah menikah. Dia perawan tua Prabu!”

Dewata Cengkar: “Kau gila Patih! Tapi tidak apalah, ternyata lezat juga dagingnya. Hahaha…”
Patih Jugul Muda: “Tapi sekarang Prabu, aku sudah mendapatkan korban yang lebih segar dan lezat
untukmu!”
Dewata Cengkar: “Benarkah itu Patih?”
Patih Jugul Muda: “Benar Prabu! Korbanmu nanti adalah seorang kembang desa di Medang
Kamulan. Sepertinya dia rasa jeruk!” (DENGAN NADA BERCANDA)
Dewata Cengkar: “Walah! Darimana kau tahu kalau dia rasa jeruk?” (BERCANDA)
Patih Jugul Muda: “Hahaha…. Aku telah mencicipinya Prabu!”
Dewata Cengkar: “Wah! Kau mendahuluiku Patih!”
Patih Jugul Muda: “Maaf Prabu! Habisnya aku tak tahan melihatnya”
Dewata Cengkar: “Ahhhh… ya sudah! Cepatlah kau bawa kehadapanku!”
Patih Jugul Muda: “Baiklah Prabu!”
KELUAR MENGAMBIL SEORANG KORBAN PEREMPUAN DAN MEMBAWANYA KE HADAPAN DEWATA
CENGKAR
Korban 1: “Tolong Patih Jugul Muda, jangan bawa aku pada Prabu Dewata Cengkar” (MENANGIS)
Patih Jugul Muda: “Diam kau! Kau akan menjadi santapan Prabu Dewata Cengkar malam ini.
Hahaha”
Korban 1: “Kau kejam patih! Lepaskan aku! “(BERTERIAK DAN MELAWAN)
Patih jugul muda:“Jangan banyak bicara!” (MENAMPAR KORBAN 1)
PATIH JUGUL MUDA PUN SUDAH BERHADAPAN DENGAN DEWATA CENGKAR DENGAN MEMBAWA
KORBAN.
Patih Jugul Muda: “Tuan Prabu, Inilah makan malammu!” MELEMPAR KORBAN 1 HINGGA TERJATUH
Dewata Cengkar: “Hahaha… bagus Patih! Cepat kau hidangkan untukku. Aku sudah tak sabar ingin
menyantapnya”
Patih Jugul Muda: “Baik Prabu!” KELUAR DAN MEMBAWA KORBAN UNTUK MENGHIDANGKANNYA

ADEGAN II

RAKYAT MEDANG KAMULAN DIRUNDUNG RASA TAKUT, DENGAN KEGEMARAN SANG PRABU
DEWATA CENGKAR MEMAKAN DAGING MANUSIA. SEHINGGA RAKYAT MEDANG KAMULAN
BERBONDONG-BONDONG MENGUNGSI KE DAERAH LAIN.

Rakyat 1: “Akhirnya kita sampai juga disini!” (NAFASNYA TERENGAH-ENGAH)


Rakyat 2: “Menurutku, untuk sementara tempat ini aman dari kejaran Patih Jugul Muda”
(MENGELUARKAN PENDAPATNYA)
Rakyat 3: “Tapi bagaimana kalau Patih Jugul Muda itu tahu keberadaan kita? Binasalah kita jika
tertangkap oleh Patih Jugul Muda itu” (KHAWATIR)
Rakyat 2: “Tenang! Desa ini sepertinya aman” (MEYAKINKAN)
Rakyat 3: “Darimana kau yakin bahwa tempat ini aman?” (TIDAK PERCAYA)
Rakyat 2: “Karena jarak dari medang Kamulan sampai ke desa ini sangat jauh, jadi mustahil Patih
Jugul Muda mencari kita sampai ke tempat ini” (MENJELASKAN)
Rakyat 3: “Kalau sampai kita tertangkap dengan Patih Jugul Muda itu, mau tidak mau ada salah satu
di antara kita yang menjadi korbannya. Siapa yang mau jadi korban?”
Rakyat 1: “Ya pasti si Gembullah, saat patih jugul muda menemukan kita, tatapannya tentulah akan
mengarah padamu” (MENOLEH KEARAH RAKYAT 2)
Rakyat 3: “Betul itu, badanmu kan bohai mbul!”
Rakyat 2: “O… tidak bisa! Wani piro? Biar bohai-bohai gini dagingku yang paling alot. Mungkin butuh
tujuh hari tujuh malam untuk merebusnya. Iya kan?”
Rakyat 1: “Tidak usah direbus tujuh hari tujuh malam juga bisa mbul, rendam saja pake borak!”
(TERTAWA MELEDEK)
Rakyat 2: “Waduh niat juga ya kalian mau memberikan aku pada Patih Jugul Muda itu! Sungguh
teganya…”
Rakyat 3:Jangan ngambek begitu dong mbul, ini kan masih seandainya! Toh kalaupun kamu duluan
yang tertangkap, sebagai teman aku hanya bisa bantu doa. Bukan begitu? Hehehe (TERTAWA
MELEDEK)
Rakyat 2:Yah itu mah sama saja! Sekalian saja kalian kuliti aku, lalu kalian sate dan kalian makan
berdua! Huh! (MURUNG)
Rakyat 1: Hustt… Sudah-sudah, saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda! sekarang kita
pikirkan saja nasib kita ke depan. Mau tinggal di mana kita? Sedangkan desa ini asing bagi kita dan
kita sendiri tak mengenal orang-orang di daerah ini.

RAKYAT 3

Emm…Benar ucapanmu!

RAKYAT 2

Sebentar, sebentar... (MENGINAT-INGAT) sepertinya dulu aku pernah mendengar bahwa di desa
Medang Kawit ada seorang kesatria yang sakti dan baik hati. Bagaimana kalau kita meminta
bantuannya?

RAKYAT 3

Bisa saja! Kau tau keberadaan kesatria itu? Oh, iya. Kira-kira dia tampan tidak ya? (TERSENYUM-
SENYUM MEMBAYANGKAN)

RAKYAT 1

Ah kamu ini kalau masalah kasatria tampan, baru semangat. (JUTEK)

RAKYAT 2

Iya, kamu tuh ya, genit-genit-geniiit banget! Giliran korban saja aku yang diajukan.

RAKYAT 3

Iya… iya aku salah! Tapi siapa tau kan kesatria itu tampan, lalu ketika bertemu dengan ku dia jatuh
cinta. Jadi, aku tidak jomblo lagi kan. Hehehe. (TERTAWA RIANG)

RAKYAT 2

Huh… ngayal jangan tinggi-tinggi, nanti jatuh sakit loh!

RAKYAT 3

Bilang saja kalian tidak suka kan melihat teman kalian bahagia. Payah! (MEMBUANG MUKA)

RAKYAT 2

Ya sudah sekarang kita cari saja kesatria itu! Nanti keburu malam, kan repot!

RAKYAT 3

Tunggu, apa tidak sebaiknya kita beristirahat dulu.

RAKYAT 1

Ya ampun, masa baru begitu saja kamu sudah cape. Malu dong sama gembul! (MEREKA
MENGHENTIKAN LANGKAHNYA SAMBIL MENOLEH KE KANAN-KIRI) Lihat! Di sana ada pendopo.
Kalau begitu kita beristirahat dulu saja di sana!
RAKYAT 2

Okelah kalau begitu! (MEREKA PUN BERGEGAS MENUJU PENDOPO)

KEMUDIAN DATANGLAH SEORANG KESATRIA BERNAMA AJI SAKA. DIA SEORANG PEMUDA YANG
TAMPAN, BAIK DAN MEMILIKI ILMU YANG SANGAT SAKTI. AJI SAKA MEMILIKI DUA ORANG ABDI
BERNAMA DORA DAN SEMBADA.

DORA

(MENGHENTIKAN LANGKAHNYA) Tuan, Lihat pendopo tempat kita latihan. Mengapa banyak orang?

SEMBADA

Benar tuan, apakah tuan mengenal mereka?

AJI SAKA

(MELIHAT KEARAH SAUNG) Entahlah, aku tak mengenal mereka.

DORA

Apa mungkin mereka dari desa seberang?

SEMBADA

Bukan, sepertinya mereka itu pengembara yang sedang beristirahat di pendopo kita karena
keletihan, lihat saja wajah mereka yang tampak lelah.

DORA

Tidak! Aku yakin mereka pasti dari desa seberang.

SEMBADA

Ahh, kau itu sok tahu! Kalau memang mereka dari desa seberang, buat apa mereka kemari?

DORA

Mana aku tahu!

AJI SAKA

Daripada kalian menduga-duga, lebih baik kita hampiri saja mereka! (AJI SAKA, DORA DAN SEMBADA
MENGHAMPIRI RAKYAT-RAKYAT)

AJI SAKA

Maaf , kalau boleh tahu kalian ini darimana? Ada maksud apa hendak ke sini?

RAKYAT 2

Kami ini dari kerajaan Medang Kamulan, ingin mencari tempat baru di desa ini.
AJI SAKA

Memangnya ada apa dengan kerajaan Medang Kamulan?

RAKYAT 3

Di sana pemimpin kami Prabu Dewata Cengkar gemar memakan manusia dan kami akan dijadikan
korban berikutnya. Maka dari itu kami pindah ke desa ini untuk menghindar dari Patih Jugul Muda
yang mencarikan korban untuk santapan Prabu Dewata Cengkar.

AJI SAKA

Jadi isu itu benar! Kejam sekali Prabu Dewata Cengkar itu, perilakunya sudah tak layak dibiarkan.

RAKYAT 1

Iya begitulah raja kami di desa Medang Kamulan. Oh ya, Anak muda! boleh kami bertanya?

AJI SAKA

Boleh, silakan!

RAKYAT 1

Begini, kami dengar di desa Medang Kawit ada seorang kesatria yang sakti dan baik hati bernama Aji
Saka, Apakah anak muda mengenalnya?

RAKYAT 3

Oh iya. Boleh juga kan aku bertanya. Apakah kesatria yang bernama Aji Saka itu tampan? (MENUTUP
MUKANYA KARENA MALU)

AJI SAKA

(DIAM DAN BERJALAN KE SAMPING KIRI)

DORA

Memangnya ada perlu apa kalian mencari Aji Saka?

RAKYAT 2

Kami ingin meminta batuannya untuk melawan Prabu Dewata Cengkar.

RAKYAT 3

Iya benar, kami ingin meminta bantuannya, sekaligus memintanya menjadi suamiku. (TERSENYUM-
SENYUM GENIT)

RAKYAT 2

Husst. Ngaco saja kamu! Maaf janganlah ditanggapi ucapan teman kami ini.
SEMBADA

Inilah adalah Aji Saka. Sudah berada di hadapan kalian. (MENUNJUK KE ARAH AJI SAKA)

SEMUA RAKYAT

(MEMBERI HORMAT) Jadi tuan ini Aji Saka. Maaf kami telah lancang.

AJI SAKA

Sudahlah kalian jangan seperti itu. Kita ini sama-sama manusia biasa. Aku memang Aji Saka.
Sekarang kalian beristirahatlah dulu di sini. Aku berjanji akan membantu kalian. Aku akan datang ke
desa Medang Kamulang dan membunuh Prabu Dewata Cengkar untuk mengakhiri kedzalimannya.

RAKYAT 1

Terima kasih tuan Aji Saka. Kami percaya bahwa tuan pasti bisa menepati janji.

RAKYAT 2

Benar, kami pun percaya bahwa tuan bisa membunuh Prabu Dewata Cengkar agar kami bisa hidup
kembali di Desa Medang Kamulan dengan aman dan sentausa.

AJI SAKA

Baiklah. Aku akan mengusahakannya. Kalian doakan saja.

Dora, Sembada ayo ikut aku!

DORA DAN SEMBADA

Baik tuan! (DORA DAN SEMBADA PUN PERGI MENGIKUTI AJI SAKA)

AJI SAKA

(MERANGKUL DORA DAN SEMBADA) Dora, Sembada, aku mempunyai amanah untuk kalian.

DORA

Amanah apa yang hendak tuan berikan kepada kami?

AJI SAKA

Dora, tolong kau datang ke desa Medang Kamulan sekarang. Pantau keadaan di sana dan bantu
masyarakat untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Setelah itu, temui aku di sana!

DORA

Baik tuan, akan aku laksanakan! (BERGEGAS PERGI)

AJI SAKA
Untukmu Sembada, tolong kau jaga desa Medang Kawit beserta masyarakatnya dan para pengungsi
yang datang. Aku titipkan juga keris pusaka milikiku padamu, jangan sampai ada yang mengambilnya
kecuali aku sendiri yang datang untuk mengambilnya. (MENGELUARKAN KERIS DAN MEMBERIKANYA
KEPADA SEMBADA)

SEMBADA

Baik tuan, aku akan menjaga amanah darimu walaupun nyawa taruhannya. (MENERIMA KERIS
PUSAKA DARI AJI SAKA)

AJI SAKA

Aku percaya padamu Sembada! (PERGI)

ADEGAN III

ADA SEORANG PEREMPUAN YANG SEDANG MENCARI KAYU DIPINGGIR HUTAN. PATIH JUGUL MUDA
YANG SEDANG MENCARI KORBAN UNTUK SANTAPAN PRABU DEWATA CENGKAR AKHIRNYA
MENCOBA MENANGKAP PEREMPUAN ITU.

KORBAN 2

Huh, lelah sekali! Kalau bukan karena kebutuhanku untuk memasak. Aku tak akan keluar rumah dan
mencari kayu dipinggir hutan seperti ini. Apalagi semenjak Prabu Dewata Cengkar menjadi buas dan
suka memakan manusia. Seluruh masyarakat dirundung ketakutan, banyak yang mengungsi dan tak
mau keluar rumah. Mudah-mudahan saja aku tak tertangkap Patih Jugul Muda, lalu dijadikannya
santapan untuk Dewata cengkar. Sepertinya aku harus buru-buru.

PATIH JUGUL MUDA

(MASUK, MELIHAT-LIHAT SEKITAR) Desa Medang Kamulang semakin hari semakin sepi saja.
Sepertinya masyarakat desa ini sudah banyak yang mengungsi karena ketakutan mereka akan
disantap oleh Prabu Dewata Cengkar. (MENENGOK KE PINGGIR HUTAN DAN MELIHAT SEORANG
PEREMPUAN YANG MENENTENG KAYU) Inilah hari keberuntunganku. Akhirnya kutemukan juga
korban untuk santapan Prabu Dewata Cengkar. Hahaha…. (MENDEKATI PEREMPUAN ITU DAN
MENANGKAPNYA)

KORBAN 2

Ahhhhh…. Apa-apaan ini? Lepaskan aku! (BERONTAK DAN MENATAP PATIH JUGUL MUDA) Patih
Jugul Muda!

PATIH JUGUL MUDA

Diam kau! Ikut aku! (MEMEGANG TANGAN PEREMPUAN ITU SEMAKIN KENCANG DAN MENARIKNYA)

KORBAN 2

Aku tak mau! Aku tak mau Patih! Lepaskan aku! (TERUS BERUSAHA MELEPASKAN DIRI)

PATIH JUGUL MUDA


Aku tak akan melepaskanmu. Akan kubawa kau kepada Prabu Dewata Cengkar untuk disantap
olehnya. Hahaha….

KORBAN 2

Tidak! (MENCOBA MEMUKUL PATIH, TETAPI PATIH JUGUL MUDA MENANGKAP TANGANNYA DAN
MEMUKULNYA BALIK HINGGA TERJATUH) Brengsek kau Patih!

PATIH JUGUL MUDA

Berani kau melawanku! Aku tak akan segan-segan memukulmu lagi. Ayo ikut aku sekarang!
(KEMBALI MENARIK TANGAN PEREMPUAN ITU)

KORBAN 2

Tidak Patih! Jangan! Tolong-tolong-tolong…. (MENANGIS DAN MERINTIH KESAKITAN)

PATIH JUGUL MUDA

Aku tak akan melepaskanmu bodoh!

(TERTAWA LEPAS DAN SEMAKIN KEJAM MENARIK KORBAN UNTUK MEMBAWANYA KE KERAJAAN)

ADEGAN IV

DENGAN MENGENAKAN SERBAN DI KEPALA, AJI SAKA BERANGKAT KE MEDANG KAMULAN.


AJI SAKA MASUK KE DALAM HUTAN UNTUK MENUJU DESA MEDANG KAMULANG. DI HUTAN AJI
SAKA BERTEMU DENGAN DUA PERAMPOK YANG SEDANG MERAMPOK SEORANG BAPAK TUA.

PERAMPOK 1

Gap! Hidup kita makin susah saja ya! Punya raja koplak seperti itu. Sukanya main perempuan.
Mentang-mentang punya kekuasaan, semua ingin dimilikinya. Mana ada dalam pikirannya
kesejahteraan rakyat. Yang ada cuma bikin rakyat sengsara saja!

PERAMPOK 2

(GAGAP) Betul! Rakyatlah yang jadi korban kalau punya raja seperti itu.

PERAMPOK 1

Kemarin saja aku melihatnya membawa perempuan muda yang sangat cantik, aku yakin, itu pasti
akan jadi simpanan barunya.

PERAMPOK 2

Ya begitulah si koplak itu! Si Paijo kemarin pun cerita padaku, kalau sapi-sapinya dirampas dan
dibawanya kekerajaan.

PERAMPOK 1
Wah, kurang ajar benarnya itu raja! Sudah selirnya di mana-mana, masih saja mengkorupsiin sapi-
sapi rakyat. Edan-edan! (MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA)

PERAMPOK 2

Kan kamu juga yang bodoh! Sudah tahu dia koplak begitu. Kenapa waktu itu kau dukung dia jadi raja.
Coba piker nasib rakyat seperti kita, habis sudah! Rakyat-rakyat yang lancar berbicara saja bisa jadi
gagap karena nahan lapar, apalagi yang sudah gagap seperti aku, modar kabeh!

PERAMPOK 1

Halah! (MENEPOK JIDADNYA SENDIRI) Nyesel aku! Tapi, memangnya dulu kau tidak mendukungnya
waktu dia mau naik jadi raja?

PERAMPOK 2

Tidaklah! Aku tidur di rumah. Mending golput daripada dosa memilih pemimpin yang dzalim kaya
begitu. Oh ya, kau lapar tidak sih?

PERAMPOK 1

Ya lapar Gap! Kan kita belum makan dari kemarin. Kalau-kalau ada orang lewat nanti, bagaiamana
kalau kita rampok hartanya?

PERAMPOK 2

Ah! Begini nih kalau orang lapar, pasti jadi brutal dan akhirnya berbuat kriminal.

PERAMPOK 1

Halah, sok baik kau! Nasib orang susah memang begitu Gap! Memangnya kau mau mati kelaparan
di sini?

PERAMPOK 2

Benar juga sih! Baiklah kalau begitu.

PERAMPOK 1

(MELIHAT-LIHAT) Hahaha. Walah-walah, ini dia yang dikata pepatah “pucuk dicinta ulam pun tiba.”
Lihatlah, ada korban tuh!

PERAMPOK 2

Hahaha, betul-betul-betul! Sikat! (MEREKA PUN MENGHAMPIRI BAPAK TUA)

PERAMPOK 1

Hey! (MEMBENTAK)

BAPAK TUA

Apa-apaan ini, mau apa kalian?


PERAMPOK 2

Serahkan barang-barang yang kau bawa. Cepat!

BAPAK TUA

Ampun… ampun! saya tidak punya apa-apa!

PERAMPOK 1

Heh, jangan banyak bicara kau orang tua!

BAPAK TUA

Tidak! Saya tidak bawa barang berharga, saya hanya orang miskin yang ingin merantau ke desa
seberang. (MENGGENGGAM BARANG BAWAANNYA)

PERAMPOK 1

Halah! (MERAMPAS BARANG BAWAAN BAPAK TUA DAN MELEMPARNYA KE PERAMPOK 2) Coba kau
lihat apa isi tasnya?

PERAMPOK 2

(MENGOBRAK-ABRIK ISI TAS) Hahaha… lihat apa yang kudapatkan? (MEMEGANG UANG BAPAK TUA
DARI TASNYA)

PERAMPOK 1

Hahaha…. Bagus-bagus!

BAPAK TUA

Jangan! Jangan kau ambil uangku! Itu untuk biaya hidupku selama merantau ke desa sebrang!

PERAMPOK 1

Banyak juga bicaramu orang tua! (MEMUKULI BAPAK TUA ITU BERSAMA PERAMPOK 2)

BAPAK TUA

Tolong... tolong...tolong...!

AJISAKA YANG SEDANG BERJALAN, LALU MENDENGAR TERIAKAN BAPAK TUA ITU. IA PUN SEGERA
MENDEKATINYA.

AJI SAKA

Hey, berhenti! Apa yang kalian lakukan kepada bapak tua itu?

PERAMPOK 1

Siapa kau beraninya membentak kami?


PERAMPOK 2

Kau mau mati?

AJI SAKA

Aku Aji Saka! Lepaskan bapak tua itu!

PERAMPOK 1

Alaaaah, sudah jangan banyak basa-basi. Kita habisi saja dia! (MENGELUARKAN PISAU)

PERAMPOK 2

Baik, ayo kita pertemukan dia pada maut! (MENGAMBIL SEBUAH BALOK DI BAWAH)

TERJADILAH PERTARUNGAN ANTARA AJI SAKA DENGAN PERAMPOK 1 DAN PERAMPOK 2. AKHIRNYA
AJI SAKA MENGELUARKAN AJIANNYA UNTUK MELAWAN KEDUA PERAMPOK TERSEBUT SAMPAI
MEREKA JATUH TERSUNGKUR.

PERAMPOK 1

Kurang ajar! Ternyata dia ini orang sakti. Ayo kita kabur sebelum kita yang dihabisi olehnya.

PERAMPOK 2

Benar! Ayo! (MEREKA PUN KABUR KELUAR)

BAPAK TUA

Terimakasih, anak muda!

AJI SAKA

Sama-sama, Pak! Bagaimana kondisi Bapak?

BAPAK TUA

Aku baik-baik saja Nak!

AJI SAKA

Baguslah kalau begitu! Aku tahu pasti bapak adalah warga medang kamulan yang ingin mengungsi
kan?

BAPAK TUA

Ya, benar. Dari mana kau tau Nak?

AJI SAKA

Aku sudah mendengar kabar bahwa di kerajaan Medang Kamulan, Prabu Dewata Cengkar sangat
buas dan gemar memakan manusia. Oleh karena itu, banyak sekali warga dari Medang Kamulan
yang mengungsi. Sekarang bapak, teruslah berjalan menyusuri hutan ini, di perbatasan hutan nanti,
bapak akan bertemu dengan abdiku yang bernama Sembada. Dia akan membantu bapak untuk
mengungsi.

BAPAK TUA

Baiklah Nak! Sekali lagi terima kasih, kau telah menolongku tadi.

AJI SAKA

Iya Pak! Oh ya, aku pamit ingin melanjutkan perjalanan menuju Medang Kamulan. Aku ingin segera
mengakhiri kedzaliman Prabu Dewata Cengkar, agar masyarakat Medang Kamulan bisa kembali lagi
ke desanya dan hidup dengan aman dan sentausa.

BAPAK TUA

Apa kau yakin bisa melakukannya?

AJI SAKA

Ya! Insya Allah aku bisa melakukannya.

BAPAK TUA

Baiklah kalau begitu, berhati-hatilah kau, Nak! Aku akan terus berdoa untuk keberhasilanmu.

AJI SAKA

Baik, Pak! Terimakasih. Saya pamit ingin melanjutkan perjalanan sekarang!

BAPAK TUA

Iya, Nak! (MEREKA PUN SAMA-SAMA BERJALAN KELUAR DENGAN DUA ARAH YANG BERBEDA)

ADEGAN V

DI DESA MEDANG KAWIT, SEMBADA SEDANG MENJAGA DI PERBATASAN DESA SEMBARI


MENUNGGU PENGUNGSI-PENGUNGSI LAIN DARI DESA MEDANG KAMULANG.

SEMBADA

(BERNYANYI DENGAN NADA-NADA KEKHAWATIRAN) Kira-kira, tuan Aji Saka sudah sampai atau
belum ya di desa Medang Kamulang? Semoga saja tuan Aji Saka mampu melawan Prabu Dewata
Cengkar dan kembali lagi ke sini dengan keadaaan baik dan membawa kabar baik pula. Sebelum tuan
Aji Saka kembali ke sini, aku akan menjaga desa Medang Kawit dan keris pusaka ini dengan baik,
sekalipun nyawa taruhannya. (BERJALAN DAN MASIH TERUS BERPIKIR TENTANG KEADAAN AJI SAKA)
Tapi bagaimana kalau tuan Aji Saka gagal. (GELISAH) Tidak-tidak mungkin. Aku tidak boleh berpikir
seperti itu. Hati dan pikiranku semakin tidak karuan saja saat ini. Sepertinya sangat berat sekali
menerima kenyataan tuan Aji Saka pergi jauh dariku. Entah, aku merasakan ada sesuatu yang
mengganjal. Apa mungkin aku mencintainya? Aku tak bisa berbohong pada diriku sendiri, aku sangat
mengkhawatirkannya dan aku sangat merindukan sosoknya dekat di hadapanku. Sudahlah, kurasa
saat ini bukan waktunya aku memikirkan hal seperti ini. (MELIHAT SEORANG BAPAK TUA YANG
SEDANG MENUJU DESA MEDANG KAWIT) Sepertinya orang itu pengungsi dari Medang Kamulang.

BAPAK TUA

Permisi Nak! Aku ingin mengungsi di desa ini. Apa boleh?

SEMBADA

Oh, baik Pak! Mari aku antarkan menuju desa Medang Kawit. Di sana juga sudah banyak pengungsi-
pengungsi lain dari desa Medang Kamulang.

BAPAK TUA

Terima kasih Nak! Mari! (MEREKA BERJALAN BERIRINGAN MENUJU DESA MEDANG KAWIT)

ADEGAN VI

DI DESA MEDANG KAMULAN, DORA BERUSAHA MENGAJAK MASYARAKAT UNTUK


MENGUNGSI KE TEMPAT LAIN YANG LEBIH AMAN.

DORA

Bapak-bapak, ibu-ibu, aku Dora dari Desa Medang Kawit. Aku sudah mengetahui kondisi di desa ini.
Jadi, aku ingin mengajak kalian untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

RAKYAT 4

Aku tak ingin pergi dari desa ini. Aku akan tetap berada di sini! Aku juga tidak mempercayaimu. Bisa
saja kan, kau ini adalah pesuruh Prabu Dewata Cengkar, nanti kalau kami ikut denganmu, kau
bukannya mengajak kami mengungsi ke tempat yang lebih aman, justru malah membawa kami ke
kerajaan untuk menjadi santapan Prabu Dewata Cengkar. (CURIGA DAN BERMUKA MASAM)

DORA

Percayalah, aku bukanlah pesuruh dari kerajaan Medang Kamulan. Aku benar-benar datang dari
Medang Kawit dan bermaksud membantu kalian di sini.

RAKYAT 4

Tetap saja aku tak mempercayaimu. (MEMBUANG MUKA)

DORA

Tidakkah kalian takut jika tetap berada di sini? Sedangkan Patih Jugul Muda sedang gencar-
gencarnya mencari korban dan sebagian warga medang kamulan sudah mengungsi.

RAKYAT 4

Kau pasti menakut-nakutiku kan? Aku akan tetap bertahan di sini, sampai aku mati pun, aku akan
tetap berada di sini.
DORA

Aku mengerti, kalian adalah masyarakat desa Medang Kamulang yang setia dan tak mau pergi dari
desa ini, tetapi demi kebaikan kalian! Kalian hanya mengungsi sampai kondisi di sini aman! Tuan Aji
Saka akan berusaha mengakhiri kedzaliman Prabu Dewata Cengkar. Dia adalah seorang kesatria yang
sakti dari desa Medang Kawit.

RAKYAT 5

Aji Saka! (MENGGERUTU DENGAN RAKYAT YANG LAIN)

RAKYAT 4

Oh, iya! Aku pernah mendengar nama itu. Dia memang disebut-sebut sebagai kesatria yang sakti
dari desa seberang. Tapi, apakah benar yang kau katakan itu?

DORA

Ya, aku bicara benar! Aku yakin tuan Aji Saka bisa mengatasi permasalahan ini! Marilah ikut aku
untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, sampai keadaan desa Medang Kamulang ini sudah
benar-benar aman.

RAKYAT 5

Kurasa tidak ada salahnya kita ikuti orang ini. Lagipula dari kemarin, kita pun dirundung ketakutan
yang luar biasa akan Prabu Dewata Cengkar di sini.

RAKYAT 4

(GELISAH DAN BIMBANG) Aku bingung harus berbuat apa lagi. Jujur, aku pun takut jika terus berada
di sini. Baiklah, seperti kau mempunyai niat yang tulus. Aku akan mengikutimu untuk mengungsi ke
tempat yang lebih aman, dan berharap tuan Aji Saka mampu membinasakan Prabu Dewata Cengkar.

DORA

Baik, mari kita semua keluar dari desa ini! Sebelum Patih Jugul Muda menemukan kita.

SEMUA RAKYAT

Baiklah, ayo segera kita bergegas pergi. (DORA PUN BERJALAN KELUAR BERSAMA-SAMA
MASYARAKAT UNTUK MENGUNGSI)

ADEGAN VII

KETIKA AJI SAKA MELANJUTKAN PERJALANANNYA, TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA GAIB DARI SISI-
SISI HUTAN.

SETAN HUTAN

Hahaha… kau sudah melewati wilayahku!

AJI SAKA
(TERKEJUT) Siapa kau? Tampakkan wujudmu!

SETAN HUTAN

Rupanya besar juga nyalimu (MANPAKKAN WUJUDNYA)

AJI SAKA

Mengapa kau halangi jalanku?

SETAN HUTAN

Hahaha… jika kau ingin melewati hutan ini dengan selamat, kau harus menjadi budakku selama
sepuluh tahun terlebih dahulu! Hahaha….

AJI SAKA

Aku tak sudi menjadi budak setan sepertimu! Menyingkir kau!

SETAN HUTAN

Hahaha…. Benar kau tak mau menuruti mauku?

AJI SAKA

Walaupun aku harus mati di sini, aku tak akan menuruti maumu! (GERAM)

SETAN HUTAN

Baiklah, sepertinya kau ini bukan orang sembarangan. Bagaimana kalau kita membuat suatu
kesepakatan?

AJI SAKA

Sudahlah, aku tak akan menyepakati satu pun permintaanmu?

SETAN HUTAN

Hahaha, benarkah itu? Apa kau tak mau menjadi pendampingku, dan menjadi penguasa di hutan ini?

AJI SAKA

Sudahlah, aku tak banyak waktu untuk meladeni setan sepertimu. Menyikirlah kau! (GERAM)

SETAN HUTAN

Kalau begitu, bersiaplah menuju ajalmu! (MENYERANG AJI SAKA DENGAN KEKUATANNYA)

AJI SAKA

(MENGHINDAR DARI SERANGAN SETAN HUTAN) Bismillahirrahmanirrahim…. (BERSILA


MEMANJATKAN DOA, TIBA-TIBA MUNCULAH CAHAYA DARI LANGIT MENGHANTAM SETAN HUTAN)

SETAN HUTAN
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. (MERINTIH KESAKITAN LALU LENYAP)

AJI SAKA

Alhamdulillahirobbil ‘alamin…. (MENGUSAP MUKA LALU MELANJUTKAN PERJALANAN)

ADEGAN VIII

DI KERAJAAN MEDANG KAMULAN PRABU DEWATA CENGKAR SEDANG MARAH KARENA PATIH
JUGUL MUDA LAMA MENYIAPKAN HIDANGANNYA. SEDANGKAN PATIH JUGUL MUDA SIBUK
MENCARI KORBAN SELANJUTNYA.

DEWATA CENGKAR

Patih! Lama sekali kau membawa makanan untukku. Ke mana saja kau?

PATIH JUGUL MUDA

Maaf Prabu! Saat ini sulit sekali mencari korban untukmu karena masyarakat Medang Kamulan
sudah banyak yang pergi dari desa ini.

DEWATA CENGKAR

Apa? Mengapa masyakarat pergi dari desa kekuasaanku?

PATIH JUGUL MUDA

Sepertinya, masyarakat mulai ketakutan akan menjadi santapanmu. Oleh karena itu, mereka pun
mengunsi untuk menghindar dari tangkapanku.

DEWATA CENGKAR

(MARAH) Kurang ajar! Kalau begitu, apabila kau ingin mencarikan korban untukku, kau harus lebih
jauh mencari. Aku tak mau tahu, setiap hari kau harus menyiapkan makanan untukku.

PATIH JUGUL MUDA

(BINGUNG) Baiklah Prabu! Aku mencurugai, sepertinya masyarakat mengungsi di desa seberang,
setelah perbatasan hutan.

DEWATA CENGKAR

Aku tak peduli, di mana pun jauhnya masyarakat pergi. Yang pasti kau harus menyiapkan makanan
untukku, mengerti kau Patih?

PATIH JUGUL MUDA

Baik Prabu, aku mengerti!

DEWATA CENGKAR

(MENGUSAP-USAP PERUTNYA) Sekarang perutku sudah mulai keroncongan. Sudahkah kau


mendapatakan korban untukku?
PATIH JUGUL MUDA

Sudah Prabu! Aku sudah mendapatkan korban untukmu. Walaupun aku belum mencicipinya, tapi
sepertinya korbanmu saat ini rasa duren. Dia mentong dan kau pasti akan puas memakannya.

DEWATA CENGKAR

Hahaha… benarkah itu patih! Cepatlah kau bawakan kehadapanku. Aku ingin melihat wajah dan
tubuhnya. Jangan sampai kau bohongi aku karena aku sudah mulai curiga denganmu. Jangan-jangan
apa yang kau bilang tadi bukan seperti nyatanya. (CURIGA)

PATIH JUGUL MUDA

Tidak Prabu! Aku berkata benar. Tunggulah, akan segera kubawakan ke hadapanmu. (KELUAR DAN
MEMBAWA KORBAN 2)

Hahaha…. Prabu, lihat inilah santapanmu malam ini! (MENYERET PEREMPUAN ITU KE DAPUR)

KORBAN 2

(BERTERIAK, MENAGIS, MERONTA-RONTA UNTUK DILEPASKAN) Tolong... tolong Patih! Lepaskan aku.
Aku masih ingin hidup. Tolong, jangan... jangan! (MENCOBA MELEPASKAN LENGANNYA DARI
GENGGAMAN PATIH JUGUL MUDA)

DEWATA CENGKAR

Hahaha… bagus Patih!

KORBAN 2

(MENANGIS DAN MEMOHON) Prabu Dewata Cengkar, tolong lepaskanlah aku. Aku tak mau mati dan
menjadi santapanmu. Aku mempunyai anak-anak yang masih kecil dan mereka masih
membutuhkanku. Tolonglah Prabu, biarkan aku pergi.

DEWATA CENGKAR

Hahaha…. Aku tak akan perduli dengan anak-anakmu itu, kalau perlu anak-anak pun akan santap
juga. Jadi, kalian akan kupertemukan lagi di dalam perutku. Mengerti kau Bodoh! Hahahaha….

Patih! Cepatlah kau hidangkan perempuan ini. Aku sudah lapar!

KORBAN 2

(MERINTIH DAN TERUS MENANGIS) Jangan, jangan bawa aku. Tolong-tolong….

AJI SAKA

(DENGAN SUARA LANTANG) Hentikan!

DEWATA CENGKAR

(TERKEJUT) Siapa kau? Berani-beraninya kau datang ke kerajaanku.


AJI SAKA

(DENGAN GAGAH) Perkenalkan. Aku Aji Saka. Aku datang dari desa Medang Kawit.

PRABU DEWATA

Lalu mau apa kau datang kemari?

AJI SAKA

Kau lepaskan perempuan itu, biarkan aku yang menjadi penggantinya untuk santapanmu hari ini.

PRABU DEWATA

Sungguh berani kau anak muda. Baiklah kalau begitu, sepertinya dagingmu lebih lezat dari pada
perempuan itu. Hahaha….

AJI SAKA

Tapi tunggu dulu Prabu! Sebelum aku menjadi santapanmu. Aku memiliki satu syarat yang harus kau
penuhi.

PRABU DEWATA CENGKAR

Syarat apa itu anak muda?

AJI SAKA

Aku hanya meminta sebidang tanah seluas sorban ini.

DEWATA CENGKAR

Hahaha…. Hanya itu yang kau minta? Kau bercanda anak muda. Jika hanya tanah seluas sorban itu,
sepuluh kali lipatpun akan kuberikan! Coba kau pikirkan dulu, apa kau tidak mau seperti fathonah,
raja di seberang kerjaanku ini, dia memiliki tanah di mana-mana? Gadis-gadis cantik pun akan
kuberikan untukmu, sebutkan saja gadis seperti apa yang kau minta? Apakah Maharani atau Ayu
Ashari dayang-dayangku di sini. (MENATAP AJI SAKA MENCOBA MEMPENGARUHI) Ingat, kau itu
tampan! Gunakan sisa waktumu dengan menikmati dunia ini, sebelum kau menjadi santapanku anak
muda. Hahaha.

AJI SAKA

Tidak! Mungkin menurut pandangan seorang penguasa sepertimu, kebahagiaan hanya diukur
dengan kesenangan dan kemewahan. Tapi aku bukanlah raja sepertimu atau raja-raja lain yang gila
harta, tahta dan wanita. Cukup dengan melihat masyarakat hidup aman dan sentausa, itu
merupakan kebahagiaan yang luar biasa untukku! Sekarang, cukup kau berikan sebidang tanah
seluas sorban ini saja. (MENYERAHKAN SORBANNYA)

DEWATA CENGKAR
Sungguh sayang, wajahmu saja yang tampan tapi kau terlalu bodoh anak muda. Masih sempat kau
memikirkan orang lain, padahal sebentar lagi kau akan mati. Tidakkah kau mau menikmati sisa
waktumu?

AJI SAKA

Tidak! Sudahlah tak perlu prabu berpanjang lebar. Cukuplah tanah seluas sorban ini sebagai
permintaan terakhirku!

DEWATA CENGKAR

Hahaha, kau benar-benar bodoh! Baiklah kuterima permintaanmu! (MENERIMA SORBAN ITU, SAAT
DIPEGANG SORBAN ITU SEMAKIN PANJANG HINGGA MENUTUPI SELURUH KERAJAAN) Apa-apaan
ini? Kau mempermainkanku anak muda! Patih! Cepatlah kau tangkap pemuda itu dan segera
hidangkan untukku. Aku semakin tidak sabar ingin menyantapnya. (GERAM DAN MARAH)

PATIH JUGUL MUDA

Baik prabu! (SEGERA MENDEKATI AJI SAKA DAN MENARIK TANGANNYA)

AJI SAKA

(MELEPASKAN PEGANGAN PATIH JUGUL MUDA) Kau telah ingkar janji Prabu! Sekarang seluruh tanah
di kerajaanmu telah menjadi milikku.

DEWATA CENGKAR

Ingkar janji? Hahaha. Untuk raja sepertiku tidaklah menjadi masalah bodoh!

Cepat patih kau bawa dia dan hidangkan untukku!

AJI SAKA

Kau tak layak menjadi raja! Kau telah dzalim prabu! (PATIH JUGUL MUDA MENARIK AJI SAKA DAN AJI
SAKA MELAWAN. SETELAH ITU TERJADILAH PERTARUNGAN ANTARA KEDUANYA, HINGGA PATIH
JUGUL MUDA PUN MATI)

DEWATA CENGKAR

Ternyata kau orang sakti! Baiklah aku sendiri yang akan menghabisimu. Dan kau akan menjadi
santapanku saat ini! Hahaha. (TERJADILAH PERTARUNGAN DEWATA CENGKAR DENGAN AJI SAKA)

AJI SAKA

Bismillahirrahmanirrahim…. (TIBA-TIBA SORBAN AJI SAKA MELILIT TUBUH DEWATA CENGKAR DAN
AJI SAKA PUN MELEMPAR TUBUHNYA KE LAUT HINGGA LEYAP DAN MATI) Alhamdulillahirobil
Alamin…. Akhirnya aku berhasil membinasakan Prabu Dewata Cengkar dan membuangnya ke laut
selatan. (TAK LAMA KEMUDIAN, DATANGLAH DORA MENEMUI AJI SAKA)

DORA

Tuan, bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah berhasil membinasakan Prabu Dewata Cengkar?
AJI SAKA

Keadaanku baik-baik saja Dora. Aku telah berhasil membinasakan Prabu Dewata Cengkar!

DORA

Alhamdulillahirobil Alamin…. Baguslah kalau begitu!

AJI SAKA

Dora, sekarang pergilah kau ke Medang Kawit! Ajaklah masyarakat desa Medang Kamulang yang
mengungsi untuk kembali ke sini serta ambillah kerisku! Katakan kepada Sembada bahwa aku yang
menyuruhmu.

DORA

Baik, tuan! (PERGI MENUJU MEDANG KAWIT)

ADEGAN IX

AKHIRNYA DORA PUN SAMPAI DI DESA MEDANG KAWIT DAN MENEMUI SAHABATNYA,
SEMBADA. MEREKA PUN MELEPASKAN RASA RINDU DENGAN SALING MERANGKUL.

DORA

Sembada, sahabatku! Bagaimana kabarmu?

SEMBADA

(MEMELUK DORA) Dora! Aku baik-baik saja! Bagaimana denganmu?

DORA

Aku baik-baik saja Sembada.

SEMBADA

Oh, ya. Lalu bagaimana dengan tuan Aji Saka? Kuharap tuan Aji Saka di sana baik-baik saja. Karena
setiap hari aku selalu memikirkan keadaannya di Medang Kamulan. Semenjak kepergiannya aku jadi
tak bisa tidur. Ayo Dora ceritakan padaku, bagaimana keadaan tuanku Aji Saka?

DORA

Tenanglah, tuan Aji Saka pun baik-baik saja. Dia sudah berhasil mengalahkan Prabu Dewata Cengkar
dan membinasakannya.

SEMBADA

Syukurlah. Lalu mengapa tuan Aji Saka tidak ke sini?


DORA

Tuan Aji Saka saat ini telah menjadi Raja di Medang Kamulan. Jadi, dia sedang sibuk mengatur
keadaan di sana.

SEMBADA

(KAGUM DAN BAHAGIA) benarkah itu Dora, aku begitu sedang mendengarnya. Biarlah tuan Aji Saka
tak berkunjung ke sini, tetapi mendengar keadaannya yang baik-baik saja hatiku sudah lega sekali.

DORA

Ya, aku bicara benar! Tapi mengapa nada-nadamu bicaramu seperti orang yang jatuh cinta? Apakah
kau menyimpan rasa dengan tuan Aji Saka, Sembada?

SEMBADA

(MALU DAN TAK BERANI MENOLEH KE HADAPAN DORA) Tidak sahabatku. Ini hanya bentuk
kekhawatiran seorang abdi kepada tuannya. (MENUTUP-NUTUPI PERASAANNYA)

DORA

(TIDAK YAKIN) Yang benar? Ya sudahlah kalau memang seperti itu.

SEMBADA

Mengapa kau seperti tak percaya padaku, aku benar-benar jujur padamu. Percayalah padaku Dora.
(MENCOBA MEYAKINKAN)

DORA

Aku percaya padamu, kau kan sahabat terbaikku karena aku percaya kau tidak gila kan, Sembada.
Tuan Aji Saka itu kan atasan kita, jadi tak mungkin abdi seperti kita ini jatuh cinta dengannya. Jika
memang benar kau mencintai tuan Aji Saka, kau tahu resikonya, bahwa kau pasti akan terluka, ingat
itu Sembada!

SEMBADA

Iya, aku mengerti akan hal itu, Dora. Oh ya, lalu mau apa kau kemari Dora, apakah kau tidak
membantu tuan Aji Saka di sana? (MENGALIHKAN PEMBICARAAN)

DORA

Iya. (MENGANGGUK-ANGGUKAN KEPALANYA) Aku datang ke sini karena diperintahkan oleh tuan Aji
Saka?

SEMBADA

Oh…. Memangnya apa yang diperintahkan tuan Aji Saka padamu?

DORA
Aku diperintahkan datang ke sini untuk mengambil keris pusaka milik tuan Aji Saka.

SEMBADA

Apa? Tidak, sabahatku! Tuan Aji saka berpesan kepadaku bahwa keris ini tidak boleh diberikan
kepada siapa pun, kecuali tuan Aji Saka sendiri yang datang mengambilnya.

DORA

Tapi ini perintah dari tuan Aji Saka sendiri.

SEMBADA

Tidak, aku tetap tidak akan menyerahkannya padamu.

DORA

Aku telah mempercayaimu tadi, tetapi mengapa sekarang kau yang tak percaya padaku. Aku datang
ke sini memang untuk mengambil keris pusaka milik tuan Aji Saka. Itulah perintah tuan Aji Saka
padaku.

SEMBADA

Sekali aku katakanan ‘tidak’, maka tidak.

DORA

Kau memang keras kepala Sembada.

SEMBADA

Maaf sahabatku, aku sudah berjanji akan menjaga keris ini meski nyawa taruhannya.

DORA

(KESAL) Jadi kau benar-benar tidak mau menyerahkan keris itu padaku?

SEMBADA

(BERSIKUKUH) Tidak! Aku tidak akan menyerahkannya padamu kecuali tuan Aji Saka sendiri yang
mengambilnya padaku.

DORA

Baiklah kalau begitu mau tidak mau kita harus adu kesaktian untuk menentukan siapa yang berhak
membawa keris itu!

SEMBADA

Baiklah kalau begitu. (DORA DAN SEMBADA PUN BERTARUNG. KARENA MEMILIKI KESAKTIAN YANG
SAMA DAN MEREKA PUN SAMA-SAMA MATI, TETAPI SEBELUM MATI MEREKA SALING BERTATAPAN
DAN SALING MEMANGGIL)
ADEGAN X

AJI SAKA PUN DIANGKAT MENJADI RAJA DI MEDANG KAMULANG SETELAH MENGALAHKAN PRABU
DEWATA CENGKAR. BEBERAPA HARI AJI SAKA MEMBERIKAN AMANAH KEPADA DORA UNTUK
MENGAMBIL KERIS PUSAKA KEPADA SEMBADA, TETAPI DORA BELUM JUGA KEMBALI KE MEDANG
KAMULANG.

AJI SAKA

(GELISAH) Lama sekali Dora kembali ke sini! Apakah ada sesuatu yang terjadi dengannya.

DAYANG ISTANA 1

Apa yang terjadi Prabu Aji Saka! Sepertinya kau begitu gelisah?

AJI SAKA

Ya, memang aku sedang gelisah karena Dora, abdiku belum juga kembali ke sini untuk membawa
keris pusaka yang kutitipkan pada abdiku yang lain, Sembada.

DAYANG ISTANA 2

Oh, kalau seperti itu mengapa tidak kau coba ke sana untuk memastikan apa yang terjadi, daripada
Prabu selalu gelisah di sini!

DAYANG ISTANA 1

Benar Prabu! Ada baiknya jika kau datang ke sana, biarlah kerajaan kami yang akan menjaganya
bersama prajurit-prajurit yang ada. Lagi pula masyarakat pun sudah banyak yang kembali ke rumah
meraka masing-masing. Jadi, kau tidaklah perlu lagi memikirnya nasib mereka. Mereka telah hidup
aman dan sentausa.

AJI SAKA

Benar juga katamu! Aku akan berangkat menuju Medang Kawit untuk mengetahui, apa yang
sebenarnya terjadi? Tolonglah kalian jaga kerajaan ini, aku tak akanpergi lama. Kalau memang sudah
kutemukan Dora dan Sembada serta membawa keris pusaka milikku, aku akan datang lagi ke sini,
untuk mengurus kerajaan ini.

DAYANG ISTANA 1

Baik Prabu, kami akan menjaga kerajaan ini dengan baik.

DAYANG ISTANA 2

Benar, tidak usah khawatir. Berhati-hatilah dalam perjalananmu Prabu Aji Saka.

AJI SAKA

Ya, aku percaya pada kalian. Aku pamit sekarang. (BERGEGAS PERGI MENUJU DESA MEDANG KAWIT)
SESAMPAINYA AJI SAKA DI DESA MEDANG KAWIT, BETAPA TERKEJUTNYA DIA KETIKA MELIHAT DUA
ABDINYA YANG TELAH MATI KARENA TERTUSUK PEDANG. AJI SAKA PUN BERSEDIH ATAS KEMATIAN
KEDUA ABDINYA TERSEBUT.

AJI SAKA

Dora, Sembada! Mengapa kau mati seperti ini? Maafkan aku yang telah lupa memberikan amanah
yang bertentangan terhadap kalian. Kalian sungguh abdiku yang setia. Kalian rela mengorbannya
nyawa untuk mempertahankan amanah dariku. Baiklah Dora, Sembada aku akan membuat sebuah
aksara Jawa untuk mengenang kalian. (MENGUKIR SEBUAH BATU BESAR DENGAN HURUF AKSARA
JAWA, LALU BERDIRI KEHAPADAN MAYAT DORA DAN SEMBADA)

ha na ca ra ka

da ta sa wa la

pa dha ja ya nya

ma ga ba tha nga

~ SELESAI ~