Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

#2019GantiPresiden vs Pancasila di 1945

Disusun oleh:

Nama : Ainur Roziqin


NIM : 16112303

PROGRAM STUDI TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA

STT STIKMA

2019
ABSTRAK

Dewasa ini sedang ramai #2019GantiPresiden yang menjadi trending topic di


media sosial. Media sosial yang awalnya untuk meng-explore dunia justru menjadi
bumerang karena banyaknya penyalahgunaan. Hal ini seakan-akan memecah kaum
netizen di Indonesia menjadi 2 kelompok: pro dan kontra. Dibandingkan dengan zaman
1945, Ir. Soekarno bersusah-payah menyatukan pemikiran bangsa Indonesia untuk
memperjuangkan kemerdekaan dan menentang penjajahan melalui pidatonya pada
sidang BPUPKI 1 Juni 1945. Jika sekarang ini bangsa kita dengan mudahnya dipecah
oleh suatu topik yang ramai di dunia maya, lantas apa arti “kemerdekaan Indonesia”
yang sudah melebihi 70 tahun? Apakah kemerdekaan hanya sekedar “bebas dari
penjajahan bangsa asing”?
#2019GantiPresiden vs Pancasila di 1945

Dewasa ini sedang viral aksi masyarakat internet (netizen) tentang


#2019GantiPresiden yang ingin mengganti Presiden RI di pemilu periode berikutnya
(2019 yang akan datang). Banyak netizen yang tidak ingin Presiden Jokowi terpilih lagi
di periode berikutnya.

Aksi ini di buzzer kan oleh para netizen dengan membuat hastag
#2019GantiPresiden pada media sosial seperti Twitter dan Instagram. Lebih dari 1 juta
postingan (per 4 Desember 2018) tentang 2019 ganti presiden ini sedang diramaikan
oleh netizen pengguna Instagram. Bahkan setiap harinya terdapat lebih dari 250 tweets
dari netizen pengguna media sosial Twitter yang menggunakan hastag ini dalam
postingannya. Akan tetapi, dari banyaknya postingan tersebut, tidak semua bersifat
mendukung aksi tersebut. Masih ada juga yang menyertakan hastag tersebut namun isi
dari caption nya tetap menolak aksi tersebut.

Gambar 1. Jumlah postingan yang menyertakan #2019GantiPresiden pada


kolom caption milik netizen
Selain hastag #2019GantiPresiden ini, masih ada juga tag lain yang
menyangkut hal yang sama, seperti #2019tetapjokowi yang terdapat lebih dari 350 ribu
postingan di media sosial Instagram (per 4 Desember 2018), dan
#2019prabowopresiden yang terdapat lebih dari 160 ribu postingan (per 4 Desember
2018).

Gambar 2. Jumlah postingan yang menyertakan #2019tetapjokowi pada kolom


caption milik netizen

Gambar 3. Jumlah postingan yang menyertakan #2019prabowopresiden pada kolom


caption milik netizen
Hal ini seakan-akan memecah masyarakat bangsa Indonesia menjadi 2
kelompok: pro dan kontra. Sejauh ini sudah banyak aksi demonstrasi baik dari
kelompok pro maupun dari kelompok kontra. Yang lebih disayangkan lagi, tidak sedikit
dari kelompok-kelompok tersebut yang masih berstatus sebagai pelajar dan masih ada
juga yang hanya “ikut-ikutan saja”.

Berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 Pasal 22E ayat 1, dikatakan


"Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil
setiap lima tahun sekali". Lalu dengan adanya demonstrasi yang secara terang-terangan
menyatakan setuju atau ketidaksetujuan dengan pemilu yang akan dilaksanakan pada
periode berikutnya, apakah ini dapat dikatakan tidak melanggar asas pemilu, khususnya
asas rahasia? Dengan adanya demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat ini secara
tidak langsung “membeberkan” siapa pilihannya saat pemilu 2019 nanti, walaupun
masih ada kemungkinan bagi masyarakat tersebut untuk berubah pikiran. Disini saya
sebagai mahasiswi (17) tidak memihak kelompok manapun.

Lebih dari 25 tahun Ir. Soekarno memikirkan: bagaimana “pondasi” dari


negara kita ini? Ir. Soekarno, Muh. Yamin, Soepomo; beliau-beliau bersusah payah
merangkum tulisan-tulisan para filosof dan menghubungkannya dengan karakteristik
bangsa Indonesia untuk menemukan jalan keluar dari penjajahan dan membangun titik
terang dari kegelapan. Memang benar bahwa saat ini Indonesia sedang tidak dijajah
oleh negara lain, tetapi apakah kita sadar bahwa setelah lebih dari 70 tahun Indonesia
Merdeka, justru kita sendiri masih dijajah oleh masyarakat dari negara kita sendiri?
Sebagai contoh, masih banyak kelompok-kelompok mayoritas yang seringkali menindas
kelompok minoritas baik secara verbal maupun non-verbal, fisik maupun psikis.
Seringkali merasa tidak aman berada di tanah air sendiri karena masih banyak yang
belum mendalami arti kemerdekaan.

Dengan adanya demonstrasi yang seakan “memecah” warga Indonesia menjadi


2 kelompok, mengingatkan saya pada zaman penjajahan dulu, dimana Ir. Soekarno
bersusah-payah menyatukan bangsa Indonesia, menyatukan pikiran, menyatukan
semangat, mengerahkan tenaga untuk memerangi penjajahan. Meninjau lagi bagaimana
teks pidato Ir. Soekarno membuat saya merinding, bagaimana satu orang dapat
menyatukan pikiran dari ribuan bahkan jutaan orang. Muncul pertanyaan di benak saya
“Apakah detik ini bangsa kita sudah benar-benar merdeka?”. Merdeka tidak hanya
terbebas dari penjajahan dari bangsa asing, tetapi juga tercapai kehidupan yang aman,
nyaman, dan damai sejahtera.

Istilah kasarnya begini, “jika setelah 73 tahun Indonesia Merdeka kita masih
dijajah bahkan oleh masyarakat kita sendiri, lantas untuk apa Ir. Soekarno berupaya
untuk meyakinkan masyarakat Indonesia dan menyatukan pikiran mereka?” Kita para
remaja sebagai generasi penerus, seharusnya mengupayakan kemajuan bangsa
Indonesia, menjadi negara maju bukan terus bertahan pada status negara berkembang.

Menurut saya, penyebab Indonesia saat ini masih dikatakan negara


berkembang adalah masih banyaknya generasi millennial yang masih suka cari gara-
gara dengan membuat suatu kontroversi demi “ke-viral-an” yang secara tidak langsung
dapat saya katakan “memecah bangsa Indonesia”. Dalam berita yang dimuat pada
aplikasi e-news, mantan Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri,
mengecam kaos yang bertuliskan #2019GantiPresiden. Beliau mengkritisi pembuat
jargon #2019GantiPresiden dalam kaos yang tidak memahami aturan. Karena dalam
proses demokrasi kaos tidak dapat menggantikan Presiden. “Masak to urusan presiden
saja pakai bikin kaos yang namanya ganti-ganti presiden. Kayak ngurusi apa gitu lo,
kayak ndak tau aturan” dalam pidato nya pada saat apel siaga bersama seluruh kader
PDI-P Jawa Tengah di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah.

Kepribadian negara kita ini adalah gotong-royong, saling membantu, saling


mentolerir, saling menghargai. Kita hidup dalam kebersamaan, bukan dalam
perlombaan atau kompetisi. Alasan mengapa Aristoteles mengatakan bahwa konstitusi
yang paling tidak ideal dari semua jenis konstitusi adalah konstitusi demokrasi, dimana
demokrasi itu sendiri berarti kekuasaan ada di tangan rakyat artinya dalam satu negara
semua rakyat memiliki kekuasaan untuk memerintah.
Pancasila dilahirkan demi terciptanya suatu kehidupan bermasyarakat yang
harmonis, tidak berat sebelah. Pancasila dilahirkan untuk dijadikan acuan, dijadikan
dasar atas segala perbuatan, dijadikan dasar atas segala keputusan dan peraturan. Jika
remaja-remaja yang tingkat kelabilannya masih tinggi dibanding rentang umur lain,
dimana remaja adalah cikal bakal suatu negara di masa depan, dapat dengan mudahnya
terpengaruh oleh hanya satu masalah ketidaksamaan dalam berpendapat, akan jadi apa
negara kita Indonesia ini? Pernahkah kita membayangkan bila kehidupan bermasyarat,
berbangsa, dan bernegara kita di Indonesia ini harmonis dan sejahtera, maka
kemungkinan besar bangsa Indonesia sudah dapat digolongkan ke dalam kelompok
negara-negara maju di dunia?

Jika Indonesia adalah negara hukum sebagaimana tercantum dalam Pasal 1


ayat 3 UUD 1945, lantas apakah pemilu yang dilaksanakan di Indonesia masih sesuai
dengan apa yang tertulis di Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011? Apakah pemilu
yang kita laksanakan ini masih berasaskan luber dan jurdil? Langsung, memang benar
pemilihan umum kita laksanakan secara langsung, bukan tersirat dalam suatu kata-kata
yang berbelit-belit. Umum, dilaksanakan oleh semua warga negara Indonesia dengan
persyaratan umur yang telah ditetapkan. Bebas, semua warga dapat dengan bebas
memilih tanpa adanya suatu paksaan dari orang lain. Rahasia? Dengan ikutserta dalam
mem-viral-kan #2019GantiPresiden ini, bukankah secara tidak langsung membeberkan
siapa yang akan dipilihnya nanti? Apakah ini masih bisa disebut rahasia? Memang
masih ada kemungkinan untuk berubah pikiran dan pilihan, tapi apakah sebesar
kemungkinan pemilih akan memilih sesuai dengan pilihan pro/kontra nya? Jujur?
Apakah benar dalam setiap pemilu yang diadakan, pemilih benar-benar memilih siapa
yang menurutnya lebih layak sebagai pemimpin? Kasus penyogokan pada saat
kampanye masih terjadi dimana-mana! Adil, setiap warga negara Indonesia yang
memenuhi syarat memiliki kedudukan yang sama, yaitu tidak ada warga negara yang
pilihannya dianggap lebih berpengaruh terhadap hasil pemilu.

Menurut Auguste Comte, masyarakat adalah suatu kesatuan organis yang tidak
mentolerir konflik dan perbedaan antarkelas atau antarindividu. Masyarakat dimengerti
sebagai suatu kesatuan yang organis, dimana organis berarti memiliki struktur dan
fungsinya sendiri-sendiri. Setiap orang memiliki ”fungsi” nya sendiri-sendiri. Masing-
masing bagian yang ada dalam masyarakat justru berfungsi untuk mendukung kinerja
keseluruhan dan mengabdi kepada keseluruhan dengan sukarela. Paradigma masyarakat
yang struktural dan fungsional, semestinya ada kesadaran dalam pribadi masing-masing
yang menyadari bahwa mereka mempunyai tujuan bersama: kesejahteraan bersama atau
kebahagiaan bersama. Bolehlah kita memiliki kepentingan masing-masing, kewajiban
masing-masing, dan kebutuhan masing-masing; tetapi tetap harus kita tanamkan sikap
toleransi terhadap banyaknya perbedaan ini dalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Masyarakat dalam sudut pandang Auguste Comte, masyarakat seharusnya
bersepakat untuk bekerjasama, saling membantu, tidak ada konflik terhadap perbedaan
kepentingan karena dimaksudkan untuk mencapai tujuan bersama. Masyarakat
semestinya diwarnai oleh keharmonisan dan keseimbangan. Jika masyarakat
menerapkan paradigma struktural dan fungsional ini, tentunya keharmonisan akan
tercipta.

Maksud saya, akan lebih baik jikalau kita memendam dalam hati masing-
masing siapa pilihannya pada saat pemilu 2019, tidak perlu sampai mencari “gara-gara”
dengan membuat hastag seperti itu yang menyebabkan timbul banyak demonstrasi.
Teknologi kita boleh maju, tapi adab kita jangan sampai mundur. Teknologi membantu
kita dalam pekerjaan, bukan memperbudak kita, bukan memecah-belah bangsa kita.
Teknologi bahkan sampai disalahgunakan hanya demi sebuah ketenaran. Mbok ya sudah
kalau ada perbedaan, tidak perlu diributkan, tidak perlu didemonstrasikan, maklumi saja
adanya perbedaan, terima saja keragaman kita ini, toh tujuannya juga sama, demi
kebahagiaan masyarakat kan?

Dan lagi, siapapun nantinya yang akan terpilih, ya sudah terima saja secara
sportif, pemilih yang pilihannya kalah juga jangan malah memusuhi pemilih yang
pilihannya menang. Tidak perlu sampai mencari sensasi dengan membuat berita-berita
hoax dengan tujuan menjatuhkan. Bangkai tetap akan tercium bau busuknya;
kebohongan apapun, sepintar apapun ditutupi toh juga akan ter-ekspos juga
kebenarannya, akan terbukti juga kebenarannya. Kalau terus-terusan begini, kalau pihak
pemilih yang pilihannya kalah akan tetap terus menghalalkan segala cara untuk
menjatuhkan pihak yang menang saat pemilihan, sampai kapan pemimpin negara kita
mendapatkan legitimasi negara dalam semua aspek seutuhnya?

Pertanyaan saya, “yakin Indonesia benar-benar Merdeka pada tanggal 17


Agustus 1945? Apakah saat ini kita benar-benar sudah merdeka dari segala macam
penjajahan?” Penjajahan tidak harus selalu dilakukan oleh bangsa asing terhadap negara
kita bukan? Apa benar Pancasila yang menjadai dasar negara kita, yang menjadi
pedoman hidup kita seharusnya, sudah terlaksana dengan baik sampai sekarang ini?

Kesimpulan yang dapat diambil dari argumen-argumen ini adalah: masih


sangat sulit menyatukan pikiran bangsa Indonesia untuk saling bekerjasama menuju
Negara Indonesia yang maju. Masyarakat kebanyakan lebih mementingkan kebahagiaan
diri sendiri dibandingkan kebahagiaan bersama, kesejahteraan bersama, kesejahteraan
umum seperti tujuan negara Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.
DAFTAR PUSTAKA

Dewantara, A. (2017). Diskursus Filsafat Pancasila Dewasa Ini.

Dewantara, A. (2017). Alangkah Hebatnya Negara Gotong Royong (Indonesia


dalam Kacamata Soekarno).

https://www.kompasiana.com/agungprakoso/57c3009bd57e61ee52526015/pem
ilu-masihkah-luber-dan-jurdil

http://babe.topbuzz.com/article/i6555287640038441474?user_id=6619465399
412998145&languange=id&region=id&app_id=112&impr_id=6619471502884522242
&gid=6555287640038441474&c=wa&language=id

http://instagram.com