Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang telah lama
menjadi permasalahan kesehatan di dunia. Sejak tahun 1993, penyakit ini telah
dideklarasikan sebagai Global Health Emergency oleh World Health Organization
(WHO). Sekitar 6 juta orang setiap tahunnnya meninggal karena HIV/AIDS, TB dan
malaria, dan kira-kira 2 jutanya meninggal karena TB. TB bisa diobati, tetapi
membunuh 5000 orang setiap harinya. Jika dibiarkan saja tanpa pengobatan, dalam 20
tahun kedepan TB akan membunuh lebih kurang 35 juta orang.
Satu dari sepuluh orang yang terinfeksi TB basiler akan menjadi TB aktif. TB
penyakit menular yang menularkan melalui udara, dan setiap tahunnya akan menular
ke 10-15 orang .
Berdasarkan data WHO tahun 2017 Indonesia menduduki peringkat ke 3
tertinggi penderita TB. Dari data P2P 2016, Jawa barat merupakan provinsi tertinggi
dengan kasus TB paru, sedangkan provinsi Riau masuk 15 besar di Indonesia, dengan
jumlah temuan kasus 5.737 penderi TB paru. Dan menurut data RISKESDAS terbaru
2013 penyakit TB paru ditanyakan pada responden untuk kurun waktu ≤1 tahun
berdasarkan diagnosis yang ditegakkan oleh tenaga kesehatan melalui pemeriksaan
dahak, foto toraks atau keduanya. Prevalensi penduduk Indonesia yang didiagnosis
TB paru oleh tenaga kesehatan tahun 2013 adalah 0.4 persen. Lima provinsi dengan
TB paru tertinggi adalah Jawa Barat (0.7%), Papua (0.6%), DKI Jakarta (0.6%),
Gorontalo (0.5%), Banten (0.4%) dan Papua Barat (0.4%). Sedangkan Riau memiliki
prevalensi 0.1% penderita yang terdiagnosis TB paru.
Dari data Tersebut, Penulis ingin melakukan upaya peningkatan penjaringan
suspect TB paru di kelurahan Babussalam, Air Jamban, dan Duri timur yang
merupakan wilayah kerja UPT PKM Duri kota.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah adalah upaya peningkatan
penjaringan suspect TB paru di kelurahan Babussalam, Air Jamban, dan Duri timur
yang merupakan wilayah kerja UPT PKM Duri kota.
1.3 Tujuan Penelitian
a. Untuk meningkatkan penjaringan Susp TB di kelurahan Babussalam, Air
Jamban, dan Duri timur yang merupakan wilayah kerja UPT PKM Duri Kota.
b. Mencegah terjadinya penularan TB paru khususnya di kelurahan Babussalam,
Air Jamban, dan Duri timur yang merupakan wilayah kerja UPT PKM Duri
kota.
c. Meningkatkan penegetahuan masyarakat tentang penyakit TB
1.4 Manfaat Penelitian
 Meningkatkan pencapaian target penjaringan Susp TB di wilayah kerja UPT
Puskesmas Duri Kota
 Dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai TB paru.
 Dapat menemukan lebih dini kasus TB paru, sehingga pengobatan dapat
dimulai lebih cepat.
 Dapat meningkatkan angka kesembuhan.
 Dapat mencegah penularan TB paru dari penderita ke orang sehat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tuberkulosis Paru
2.1 DEFINISI
Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi dari
kuman Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebar melalui getah bening atau
pembuluh darah (Price, 2001) dan dapat ditularkan melalui inhalasi, kuman ini
berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 4 /um dan tebal 0,3 – 0,6 /um.

2.2 EPIDEMIOLOGI
Sekitar 6 juta orang setiap tahunnnya meninggal karena HIV/AIDS, TB dan
malaria, dan kira-kira 2 jutanya meninggal karena TB. TB bisa diobati, tetapi
membunuh 5000 orang setiap harinya. Jika dibiarkan saja tanpa pengobatan, dalam 20
tahun kedepan TB akan membunuh lebih kurang 35 juta orang.
Berdasarkan data WHO tahun 2017 Indonesia menduduki peringkat ke 3
tertinggi penderita TB. Dari data P2P 2016, Jawa barat merupakan provinsi tertinggi
dengan kasus TB paru, sedangkan provinsi Riau masuk 15 besar di Indonesia, dengan
jumlah temuan kasus 5.737 penderi TB paru. Dan menurut data RISKESDAS terbaru
2013 penyakit TB paru ditanyakan pada responden untuk kurun waktu ≤1 tahun
berdasarkan diagnosis yang ditegakkan oleh tenaga kesehatan melalui pemeriksaan
dahak, foto toraks atau keduanya. Prevalensi penduduk Indonesia yang didiagnosis
TB paru oleh tenaga kesehatan tahun 2013 adalah 0.4 persen. Lima provinsi dengan
TB paru tertinggi adalah Jawa Barat (0.7%), Papua (0.6%), DKI Jakarta (0.6%),
Gorontalo (0.5%), Banten (0.4%) dan Papua Barat (0.4%). Sedangkan Riau memiliki
prevalensi 0.1% penderita yang terdiagnosis TB paru.
2.3 ETIOLOGI
Mycobacterium tuberculosis termasuk bakteri gram positif dan berbentuk
batang. Kuman ini mempunyai sifat khusus, yakni tahan terhadap asam pada
pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi dahak secara mikroskopis sehingga
disebut sebagai basil tahan asam (BTA). Mycobacterium tuberculosis cepat mati
dengan matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup pada tempat yang gelap dan
lembab.Kuman dapat dormant atau tertidur sampai beberapa tahun dalam jaringan
tubuh.
Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis BTA positif pada waktu
batuk atau bersin. Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada
suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut
terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman tuberkulosis masuk ke dalam
tubuh manusia melalui pernafasan, kuman tuberkulosis tersebut dapat menyebar dari
paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, saluran nafas, atau
penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang
penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin
tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila
hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut
dianggap tidak menular. Seseorang terinfeksi tuberculosis di tentukan oleh konsentrasi
droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Ilmu Penyakit Dalam
Jilid III)
Secara klinis, tuberkulosis dapat terjadi melalui infeksi primer dan pasca
primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena kuman tuberkulosis untuk
pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi melalui saluran pernafasan, di dalam alveoli
(gelembung paru) terjadi peradangan. Hal ini disebabkan oleh kuman tuberkulosis
yang berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. Waktu terjadinya infeksi
hingga pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-6 minggu. Kelanjutan infeksi
primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan respon daya tahan tubuh
dapat menghentikan perkembangan kuman TB dengan cara menyelubungi kuman
dengan jaringan pengikat. Ada beberapa kuman yang menetap sebagai “persister”
atau “dormant”, sehingga daya tahan tubuh tidak dapat menghentikan
perkembangbiakan kuman, akibatnya yang bersangkutan akan menjadi penderita
tuberkulosis dalam beberapa bulan. Pada infeksi primer ini biasanya menjadi abses
(terselubung) dan berlangsung tanpa gejala, hanya batuk dan nafas berbunyi. Tetapi
pada orang-orang dengan sistem imun lemah dapat timbul radang paru hebat, ciri-
cirinya batuk kronik dan bersifat sangat menular. Infeksi pasca primer terjadi setelah
beberapa bulan atau tahun setelah infeksi primer. Ciri khas tuberkulosis pasca primer
adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya efusi pleura(Dongoran, 2012).
Risiko terinfeksi tuberkulosis sebagian besar adalah faktor risiko eksternal,
terutama adalah faktor lingkungan seperti rumah tak sehat, pemukiman padat dan
kumuh. Sedangkan risiko menjadi sakit tuberkulosis, sebagian besar adalah
faktorinternal dalam tubuh penderita sendiri yang disebabkan oleh terganggunya
sistem kekebalan dalam tubuh penderita seperti kurang gizi, infeksi HIV/AIDS, dan
pengobatan dengan immunosupresan(Dongoran, 2012).
Penderita tuberkulosis paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh
(BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan
dengan kasus kambuh.Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan obat antituberkulosis
(OAT) tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simtomatis.Resistensi
terhadap OAT terjadi umumnya karena penderita yang menggunakan obat tidak sesuai
atau patuh dengan jadwal atau dosisnya. Resistensi ini menyebabkan jenis obat yang
biasa dipakai sesuai pedoman pengobatan tidak lagi dapat membunuh kuman
(Dongoran, 2012).

2.4 KLASIFIKASI
Klasifikasi tuberculosis menurut Kementrian RI tahun 2014 :
1. Klasifikasi tuberkulosis berdasarkan organ tubuh yang terkena:
o Tuberkulosis paru
Tuberkulosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan
(parenkim) paru. Tidak termasuk pleura (selaput pleura) dan kelenjar
pada hilus.
o Tuberkulosis Ekstra Paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya
pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe,
tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, salurankencing, alat kelamin,
dan lain-lain.
2. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu :
o Tuberkulosis paru BTA positif
 Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya
BTA positif
 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks
dada menunjukkan gambaran tuberkulosis
 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman
TB positif
 1 atau lebih specimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA
negative dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika
non OAT.

o Tuberkulosis paru BTA negative


Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif.Kriteria
diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
 Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative
 Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberculosis
 Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT
 Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi
pengobatan
3. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit
o TB paru  BTA negative, foto toraks positif dibagi berdasarkan
tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk
berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan
paru yang luas (misalnya proses “far advanced”), dan atau keadaan
umum pasien buruk.
o TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu:
 TB ekstra-paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis
eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi,
dan kelenjar adrenal.
 TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, peritonitis,
pleuritis, eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB
saluran kemih, dan alat kelamin.

4. Tipe pasien
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.
Ada beberapa tipe pasien yaitu (Kemenkes RI, 2014) :
o Kasus baru
Pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4minggu)
o Kasus kambuh (Relaps)
Pasien tuberculosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
o Kasus setelah putus berobat (Default)
Pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan
BTA positif.
o Kasus setelah gagal (failure)
Pasien yang hasil pemeriksaan dahkanya tetap positif.

2.5 PATOGENESIS
Paru merupakan port d’entrée lebih dari 98% kasus infeksi TB.Karena
ukurannyayang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik (droplet nuclei) yang
terhirup, dapatmencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi oleh
mekanisme imunologis non spesifik. Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB
dan biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada
sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman
akanbereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam makrofag yang terus berkembang
biak, akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut. Lokasi pertama koloni
kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer GOHN.
Dari focus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar
limferegional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi focus
primer.Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe
(limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika focus primer
terletak di lobus parubawah atau tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat adalah
kelenjar limfe parahilus, sedangkan jika focus primer terletak di apeks paru, yang
akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan gabungan
antara focus primer, kelenjar limfe regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran
limfe yang meradang (limfangitis).
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya
kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda
dengan pengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang
diperlukan sejak masuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi
TB biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12
minggu.Dalam masa inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai jumlah
10,yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler.
Selama berminggu-minggu awal proses infeksi, terjadi pertumbuhan
logaritmik kuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum tersensitisasi
terhadap tuberculin, mengalami perkembangan sensitivitas. Pada saat terbentuknya
kompleks primer inilah, infeksi TB primer dinyatakan telah terjadi.Hal tersebut
ditandai oleh terbentuknya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, yaitu
timbulnya respons positif terhadap uji tuberculin.Selama masa inkubasi, uji tuberculin
masih negatif.Setelah kompleks primer terbentuk, imunitas seluluer tubuh terhadap
TB telah terbentuk.Pada sebagian besar individu dengan system imun yang berfungsi
baik, begitu system imun seluler berkembang, proliferasi kuman TB terhenti.Namun,
sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam granuloma. Bila imunitas seluler
telah terbentuk, kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan segera
dimusnahkan.
Setelah imunitas seluler terbentuk, focus primer di jaringan paru biasanya
mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah
mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe regional juga
akanmengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi penyembuhannya biasanya tidak
sesempurna focus primer di jaringan paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap
selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini.
Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. Komplikasi yang terjadi
dapat disebabkan oleh focus paru atau di kelenjar limfe regional. Fokus primer di paru
dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis fokal. Jika terjadi
nekrosis perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui
bronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas). Kelenjar limfe
hilus atau paratrakea yang mulanya berukuran normal saat awal infeksi,
akanmembesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut. Bronkus dapat
terganggu.Obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal dapat
menyebabkan ateletaksis.Kelenjar yang mengalami inflamasi dan nekrosis perkijuan
dapat merusak dan menimbulkan erosi dinding bronkus, sehingga menyebabkan TB
endobronkial atau membentuk fistula.Massa kiju dapat menimbulkan obstruksi
komplit pada bronkus sehingga menyebabkan gabungan pneumonitis dan ateletaksis,
yang sering disebut sebagai lesi segmental kolaps-konsolidasi.
Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler, dapat terjadi
penyebaran limfogen dan hematogen.Pada penyebaran limfogen, kuman menyebar ke
kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer.Sedangkan pada penyebaran
hematogen, kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh
tubuh.Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai
penyakit sistemik.
Penyebaran hamatogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk
penyebaran hematogenik tersamar (occult hamatogenic spread). Melalui cara ini,
kuman TB menyebar secara sporadic dan sedikit demi sedikit sehingga tidak
menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di
seluruh tubuh. Organ yang biasanya dituju adalah organ yang mempunyai
vaskularisasi baik, misalnya otak, tulang, ginjal, dan paru sendiri, terutama apeks paru
atau lobus atas paru. Di berbagai lokasi tersebut, kuman TB akan bereplikasi dan
membentuk kolonikuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan membatasi
pertumbuhannya. Di dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi
pertumbuhannya olehimunitas seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk
dormant.Fokus ini umumnya tidak langsung berlanjut menjadi penyakit, tetapi
berpotensi untuk menjadi focus reaktivasi.Fokus potensial di apkes paru disebut
sebagai Fokus SIMON. Bertahun tahun kemudian, bila daya tahan tubuh pejamu
menurun, focus TB ini dapat mengalami reaktivasi dan menjadi penyakit TB di organ
terkait, misalnya meningitis,TB tulang, dan lain-lain.
Bentuk penyebaran hamatogen yang lain adalah penyebaran hematogenik
generalisata akut (acute generalized hematogenic spread). Pada bentuk ini, sejumlah
besar kuman TB masuk dan beredar dalam darah menuju ke seluruh tubuh.Hal ini
dapat menyebabkan timbulnya manifestasi klinis penyakit TB secara akut, yang
disebut TB diseminata.TB diseminata ini timbul dalam waktu 2-6 bulan setelah terjadi
infeksi.Timbulnya penyakit bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TB yang
beredar serta frekuensi berulangnya penyebaran.Tuberkulosis diseminata terjadi
karena tidak adekuatnya system imun pejamu (host) dalam mengatasi infeksi TB,
misalnya pada balita.
Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generalized hematogenic
spreaddengan jumlah kuman yang besar. Semua tuberkel yang dihasilkan melalui cara
iniakan mempunyai ukuran yang lebih kurang sama. Istilih milier berasal dari
gambaranlesi diseminata yang menyerupai butur padi-padian/jewawut (millet
seed).Secara patologi anatomik, lesi ini berupa nodul kuning berukuran 1-3 mm, yang
secara histologi merupakan granuloma.Bentuk penyebaran hematogen yang jarang
terjadi adalah protracted hematogenicspread. Bentuk penyebaran ini terjadi bila suatu
focus perkijuan menyebar ke saluran vascular di dekatnya, sehingga sejumlah kuman
TB akan masuk dan beredar di dalam darah. Secara klinis, sakit TB akibat penyebaran
tipe ini tidak dapat dibedakan dengan acute generalized hematogenic spread. Hal ini
dapat terjadi secara berulang.

2.6 DIAGNOSIS
1. Anamnesa
 Gejala umum (Sistemik)
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya
dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang
serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul sehingga
pasien merasa tidak pernah terbebas dari serangan demam, penurunan
nafsu makan dan berat badan, perasaan tidak enak (malaise), dan
lemah.
 Gejala respiratori (Khas)
Gejala respiratori pada TB paru antara lain batuk-batuk selama
lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah). Sifat batuk dimulai
dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradangan
menjadi produktif (menghasilkan sputum). Gejala yang lain berupa
sesak napas, yang ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang
infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru. Nyeri dada
timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga
menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien
menarik/melepaskan napas sehingga timbul sensasi nyeri dada.
Pada TB ekstra paru, gejala yang timbul tergantung dari organ
tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus
akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan
menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
Kalau ada cairan dirongga pleura, dapat disertai dengan keluhan sakit
dada. Bila mengenai tulang, menyebabkan nyeri dan pembengkakan
bagian yang sakit dan bilamengenai tulang belakang dapat
menyebabkan paraplegia.Kerusakan pada tulang ini pada suatu saat
dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada
muara ini akan keluar cairan nanah. Jika bakteri M.tuberculosis masuk
ke saluran pencernaan, dapat menyebabkan nyeri perut dan sembelit,
bahkan sampai menyebabkan obstruksi usus besar. Pada anak-anak
dapat mengenai lapisan pembungkus otak dan disebut sebagai
meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi,
adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang. Pada penderita usia
anak-anak apabila tidak menimbulkan gejala, maka TB dapat terdeteksi
jika diketahui adanya kontak dengan penderita TB dewasa. Sekitar 30-
50% anak-anak yang terjadi kontak dengan penderita TB paru dewasa
memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5
tahun yang tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasa dengan
BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan
serologi/darah.

2. Pemeriksaan Fisik
 Tanda-tanda infiltrat (redup, bronkial, ronki basah)
 Tanda-tanda penarikan paru, diafragma, mediastinum
 Sekret di saluran napas dan ronki
 Suara napas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung
dengan bronkus
 Pembesaran kelenjar pada limfadenitis TB

3. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah rutin, didapatkan LED yang normal atau
meningkat dan limfositosis.
Pemeriksaan serologi :
 Tes PAP (peroksidase anti peroksida)
Prinsip dasar uji PAP adalah menemukan adanya antibodi IgG yang
spesifik terhadap antigen M.tuberculosae . hasil uji PAP dinyatakan
patologis bila pada titer 1:10.000 didapatkan hasil uji PAP positif.

 Uji Mycodot
Deteksi antibodi memakai antigen lipoarabinomannan yang direkatkan
pada alat yang berbentuk sisir kemudian dicelupkan dalam serum
pasien. Bila terdapat antibodi spesifik dalam jumlah memadai maka
warna sisir akan berubah.
 ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay)
Deteksi respon humoral, berupa proses antigen-antibodi yang terjadi.
 PCR (Polymerase Chain Reaction)
Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam
berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1
mikroorganisme dalam spesimen. Juga dapat mendeteksi adanya
resistensi.
 Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai
keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan.Pemeriksaan
sputum untuk penegakkan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3
spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang
berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). Interpretasi hasil
pemeriksaan sputum :
o Mikroskopik positif
- 3 x positif
- 2 x positif, 1 x negatif
-1 x positif, 2 x negatif ulang BTA 3 x, bila hasil 1 x positif, 2 x
negatif
o Mikroskopik negatif
- 3 x negatif
- 1 x positif, 2 x negatif ulang BTA 3 x, bila hasil 3 x negatif
Pemeriksaan biakan sputum BTA dengan cara BACTEC (Becton
Dickinson Diagnostic Instrument System) , dengan cara mendeteksi
growth index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam
lemak oleh M.tuberculosis. kuman sudah dapat terdeteksi dalam 7-10
hari.
 Tes tuberkulin
Tes Mantoux yakni dengan menyuntikkan 0,1 cc tuberculin P.P.D.
(Purified Protein Derivative) intrakutan dengan kekuatan 5 T.U. tes
tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang sedang atau pernah
mengalami infeksi M.tuberculosis, vaksinasi BCG atau Mycobacteria
lainnya. Dasar tes tuberkulin ini adalah reaksi alergi tipe lambat. Setelah
48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul reaksi berupa indurasi
kemerahan, interpretasi hasilnya :
- Indurasi 0-5 mm Mantoux negatif = golongan no sensitivity
- Indurasi 6-9 mm meragukan = golongan low sensitivity
- Indurasi 10-15 mm Mantoux positif = golongan normal sensitivity
- Indurasi >15 mm Mantoux positif kuat = golongan hypersensitivity

 Pemeriksaan radiologi
Standar pemeriksaan radiologi pada tuberkulosis adalah foto toraks PA
dan lateral. Gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis TB yaitu :
o Bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau segmen apikal
lobus bawah
o Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular)
o Adanya kavitas, tunggal atau ganda
o Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru
o Adanya kalsifikasi
o Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
o Bayangan milier

2.7 TATALAKSANA
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap OAT(PDPI, 2011).
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif selama 2 bulan dan
tahap lanjutan selama 4 bulan.Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara
tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu
2minggu.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan(PDPI, 2011).
Jenis, sifat, dan dosis OAT
Jenis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg)

Harian 3xseminggu

Isoniazid (H) Bakterisid 5 (4-6) 10

Rifampicin (R) Bakterisid 10 (8-12) 10

Pyrazinamide(Z) Bakterisid 25 (20-30) 35

Streptomycin (S) Bakterisid 15 (15-18) 15

Ethambutol (E) Bakteriostatik 15 (15-20) 30

Untuk mencegah terjadinya resistensi, terapi tuberkulosis dilakukan dengan


memakai panduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam obat yang bersifat bakterisid.
Yang termasuk obat lini pertama antara lain isoniazid, rifampisin, pirazinamid,
etambutol dan streptomisin. Sedangkan obat lini keduanya kanamisin, PAS (Para
Amino Salicylic Acid), tiasetazon, etionamid, sikloserin, amikasin, ofloksasin,
siprofloksasin(PDPI, 2011).
Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan
Obat (PMO).
Resimen pengobatan tuberkulosis
Kategori Kriteria pasien Resimen pengobatan
pengobatan
Kategori 1 o Pasien baru BTA positif o 2HRZE/ 4H3R3
o Pasien TB paru BTA o 2HRZE/ 4HR
o 2HRZE/ 6HE
negatif foto thorax positif
o Pasien TB ekstra paru
yang berat
Kategori 2 o Pasien kambuh o 2HRZES/HRZE/
o Pasien gagal
5H3R3E3
o Pasien default o 2HRZES/ HRZE/ 5HRE

Hasil pengobatan TB
 Sembuh

Bila hasil hasil pem ulang dahak (follow up) paling sedikit 2 kali berturut-turut
negatif, salah satu diantaranya haruslah pemeriksaan pada akhir pengobatan.
 Pengobatan Lengkap

Penderita telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap, tapi tidak ada


pemeriksaan ulang dahak, khususnya pada akhir pengobatan.
 Gagal

- Pasien yang pemeriksaandahaknya tetappositif atau kembali positif


pada akhir bulan ke-5 atau lebih selama pengobatan.

- Pasien yang pemeriksaan dahaknya negatifdan foto torakspositif


menjadi dahak positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan.

 Defaulted atau drop-out

Penderita yang tidak mengambil/meminum obat 2 bulan berturut-turut atau


lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
2.8 KOMPLIKASI
Penyakit tuberkulosis bila tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan
komplikasi. Komplikasi terbagi atas :
a. Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis
b. Komplikasi lanjut : obstruksi jalan napas SOFT (sindrom obstruksi pasca
tuberkulosis), kerusakan parenkim berat  SOPT/fibrosis paru, kor
pulmonal, karsinoma paru, ARDS.

2.9 PENCEGAHAN

 Terapi pencegahan Kemoprofilaksis pada Penderita HIV/AIDS  INH


dosis 5 mg/ kg BB ( tdk lebih 300 mg) sehari selama minimal 6 bulan

 Pengobatan TB paru BTA positif untuk mencegah penularan.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

3.2 Definisi Operasional

3.3 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu deskriptif yang bersifat cross-sectional yang


dilakukan untuk mengetahui angka kejadian kasus TB paru dengan upaya penjaringan
dengan menggunakan data primer.

3.4 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan di kelurahan Babussalam, Air Jamban, dan Duri timur
yang merupakan wilayah kerja UPT Puskesmas Duri kota. Pada bulan Januari-
Februaru 2018, dilanjutkan dengan pengolaan dan analisis data.

3.5 Populasi dan Sampel

Populasi
Populasi penelitian adalah masyarakat yang berdomisili di kelurahan Babussalam, Air
Jamban, dan Duri timur.

Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan pendekatan, dengan kriteria inklusi dan


kriteria ekslusi sebagai berikut :

Kriteria iklusi

Laki-laki dan perempuan usia remaja sampai lansia yang berdomisili di


kelurahan Babussalam, Air Jamban, dan Duri timur dan kooperatif terhadap
penelitian.

Kriteria eksklusi

o Tidak kooperatif.

o Menolak penelitian.
BAB IV

HASIL

4.1 Data Geografis

4.1.1 Lokasi Puskesmas

UPT Puskesmas Duri Kota Kecamatan Mandau merupakan Puskesmas rawat jalan
yang berada ditengah kota Kecamatan Mandau, berlokasi di jalan Jendral Sudirman
yang merupakan jalan utama kota Duri. Berjarak ± 150 km dari ibukota kabupaten
Bengkalis dan ± 125 km dari ibukota provinsi Riau. Transportasi antar wilayah
dihubungkan dengan jalan darat. Jalan utama desa dan kelurahan sebagian besar
sudah beraspal dan mudah dijangkau dengan sarana transportasi.

4.1.2 Luas Wilayah

Luas Wilayah kerja UPT Puskesmas Duri Kota Kecamatan Mandau ± 12.576 km²
²²yang terdiri dari dua desa dan 8 kelurahan.

4.1.3 Batas Wilayah

Wilayah kerja UPT Puskesmas Duri Kota Kecamatan Mandau merupakan daerah
dataran rendah ,dengan batas batas wilayah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Wilayah kerja Puskesmas Sebangar

 Sebelah Selatan : Wilayah Kecamatan Pinggir

 Sebelah Barat : Pustu Tegar Desa Petani

 Sebelah Timur :Puskesmas Balai Makam

4.2 Data Demografis

Jumlah penduduk di wilayah UPT Puskesmas Duri Kota Kecamatan Mandau Tahun
2015 sebanyak 136.074 dengan angka kepadatan penduduk rata-rata 10.73/km².
Jumlah penduduk jenis kelamin wanita sebanyak 65.225 ( 47.93% ) jiwa dan
penduduk laki-laki sebanyak 70.851 (50.06%) yang terbagi atas beberapa kelompok ,
yaitu :

DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014. Pedoman Nasional Pengendalian

Tuberkulosis. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011. Tuberkulosis. Jakarta : PDPI

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit

Dalam Jilid 3 Edisi V. Jakarta : IPD FKUI

Price, Sylvia Anderson, 2005. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jeremy, et al. 2011. At a Glance Sistem Respirasi Edisi 2. Jakarta EMS

Werdhani, 2011. Patofisiologi, Diagnosis dan Klasifikasi Tuberkulosis. Departemen


Ilmu Kedokteran Komunitas Universitas Indonesia. [online]. Diakses tanggal
3 Mei 2015.