Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelainan dengan klinis lepuh akut yang terbatas pada kulit telapak tangan dan

telapak kaki pertama kali dikemukakan oleh Fox pada tahun 1873. Ia

menghubungkan lepuh tersebut dengan kelainan kelenjar keringat sehingga

disebut sebagai dishidrosis. Istilah ini tetap digunakan walaupun penelitian

selanjutnya tidak dapat membuktikan kelainan pada kelenjar keringat. Tidak lama

kemudian Hutchinson pada tahun 1876 menyebut akut eksplosif lepuh pada

tangan tersebut sebagai cheerio pomfoliks (dari Bahasa Greek yang berarti

gelembung).1

Dishidrosis juga dikenal sebagai eksema atau pomfoliks, adalah keadaan kulit

dimana terdapat gelembung sangat kecil yang berisi cairan pada telapak tangan

dan jari. Telapak kaki juga dapat terkena.Perjalanan penyakit dari eksema

dishidrotik dapat berkisar dari penyakit self-limited, kronis, parah, dan

melemahkan. 2,3

Prevalensi dari penyakit dermatitis pada tangan berkisar antara 2 hingga 8.9%

dari populasi umum. Eksema dishidrotik menempati 5 hingga 20% dari seluruh

kasus dermatitis pada tangan. Walaupun eksema dishidrosis dapat terjadi di

seluruh dunia, namun sangat jarang terjadi pada ras Asia. Kondisi ini sering terjadi

pada cuaca panas dan usia tersering onsetnya berkisar dari 20 hingga 30 tahun.

Onset sebelum usia 10 tahun sangat jarang terjadi. Insidensi antara jenis kelamin

kira kira sama.4

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Kulit

Kulit menutupi seluruh permukaan luar tubuh manusia dan merupakan

situs utama interaksi dengan dunia sekitarnya. Ini berfungsi sebagai

penghalang pelindung yang mencegah jaringan internal dari paparan trauma,

radiasi ultraviolet (UV), suhu ekstrem, racun, dan bakteri. Fungsi penting

lainnya termasuk persepsi sensorik, pengawasan imunologis, termoregulasi,

dan kontrol kehilangan cairan yang tidak peka.6

Fungsi fungsi tersebut lebih mudah dipahami dengan meninjai struktur

mikroskopik kulit yang terbagi menjadi: epidermis, dermis, dan subkutis.

I. Epidermis

Lapisan epidermis adalah lapisan kulit dinamis, senantia bergenerasi

berespons terhadap rangsangan diluar maupun dalam tubuh manusia.

Tebalnya bervariasa antara 0,4-1,5 mm. penyusun terbesar epidermis

adalam keratinosit. Terselip diantara keratinosit adalah sel

Langerhans dan melanosit dan kadang kadang juga sel merkel dan

limfosit. Keratinosit tersusun dalam beberapa lapisan. Lapisan paling

bawah stratum basalis, diatasnya berturut turut adalah stratum

spinosum dan stratum granulosum. Ketiga lapisan epidermis ini

dikenal dengan stratum malphigi. Lapisan paling atas adalah stratum

korneum yang tersusun oleh sel keratinosit yang telah mati

(komeosit).1

2
II. Dermis

Dermis merupakan jaringan di bawah epidermis yang juga memberi

ketahanan pada kulit, termoregulasi, perlindungan imunologik, dan

ekskresi. Fugsi fungsi tersebut mampu dilaksanakan dengan baik

karena berbagai elemen yang berada dalam elemen yang berada

pada dermis.1

Struktur struktur tersebut terdiri atas kelenjar sebasea, kelenjar

keringat, kelenjar apokrin, dan folikel rambut.6

III. Subkutis

Subkutis yang terdiri atas jaringan lemak mampu mempertahankan

suhu tubuh, dan merupakan cadangan energy, juga menyediakan

bantalan yang meredam trauma melalui permukaan kulit. Deposisi

lemak menyebabkan terbentuknya lekuk tubuh yang memberikan efek

kosmetis, sel sel lemak terbagi bagi dalam lobus, satu sama lain

dipsahkan oleh septa.1

Gambar 1 : Anatomi Kulit 6

3
2.2 Dishidrosis

Dishidrosis (eksema vesicular palmoplantar), juga dikenal sebagai eksim

dishidrotik atau pomfoliks, adalah dermatitis endogen akut atau kronis pada tangan

dan kaki dengan karakteristik klinis berupa vesikel kecil sampai besar dan

gambaran histologis vesikel spongiotik. Bentuk akut EVP sering disebut sebagai

pomfoliks.1,2

Gambar 2 : Dishidrosis pada telapak tangan 2

Gelembung yang muncul pada dihidrosis umumnya bertahan selama 3

minggu dan menyebabkan gatal hebat. Ketika gelembung dishidrosis telah

mengering, kulit dapat terlihat bersisik. Gelembung tersebut biasanya rekuren

sebelum kulit penderita sembuh dengan sempurna.2

4
Gambar 3 : Dishidrosis pada telapak kaki 2

A. Etiologi dan Patogenesis

Kecuali reaksi id, penyebab dermatitis vesikular palmoplantar pada tangan

jarang diketahui. Walaupun teori lama mengenai dishidrosis yang menyatakan

disfungsi kelenjar keringat telah ditolak, namun terminologi dishidrosis masih

digunakan.1

Hipotesis tentang disfungsi dari kelenjar keringat telah disangkal karena

vesikel tidak menunjukkan hubungan dengan duktus dari kelenjar keringat.

Eksema dishidrosis dapat berhubungan dengan riwayat atopi dan riwayat keluarga

atopik. Faktor faktor yang dipercayai berhubungan dengan eksema dishidrosis

adalah:2

1. Faktor Genetik

Gen pompholyx telah dipetakan ke pita 18q22.1-18q22.3 dalam bentuk

dominan autosomal familial pompholyx. Mutasi pada gen filaggrin

menyebabkan hilangnya filaggrin, protein struktural stratum korneum yang

terlibat dalam fungsi penghalang kulit, menyebabkan diskeratinization,

peningkatan kehilangan air transepidermal, dan peningkatan transfer

5
antigen transepidermal. Dikombinasikan, fitur-fitur ini telah dikaitkan

dengan perkembangan icthyosis dan dermatitis atopik, dan mereka

mungkin terlibat dalam pengembangan dermatitis kontak iritan dan alergi,

yang merupakan kondisi terkenal yang berhubungan dengan eksim

dishidrotik. Dermatitis tangan kronis, termasuk eksim dyshidrotis, juga telah

dikaitkan dengan cacat pada penghalang kulit, dan, dalam beberapa

kasus, juga dikaitkan dengan mutasi pada gen filaggrin.2

2. Atopi

Sebanyak 50% pasien dengan eksema dishidrosis dilaporkan memiliki

riwayat atopik baik personal maupun pada keluarga (eksema, asma, hay

fever, sinusitis alergi).2

3. Sensitifitas nikel

Merupakan faktor yang signifikan pada eksema dishidrosis. Peningkatan

ekskresi nikel pada urin telah dilaporkan terjadi pada eksaserbasi dari

pomfoliks. Logam yang tertelan dapat memprovokasi eksaserbasi dari

pomfoliks pada beberapa pasien.2

4. Sensitifitas kobalt

Konsumsi dari kobalt menunjukkan dermatitis alergi sistemis sebagai

eksema dishidrosis namun angka kejadiannya lebih rendah dari sensitifitas

terhadap nikel.2

5. Paparan terhadap bahan kimia atau besi

Wabah eksim dysdrotrotik kadang-kadang dikaitkan dengan paparan

bahan kimia atau logam peka (misalnya, kromium, kobalt, campuran karba,

campuran wangi, diaminodiphenylmethane, dikromat,

benzoisothiazolones, paraphenylenediamine, parfum, wewangian, balsam

6
di Peru, tanaman Primula).2

6. Reaksi Id

Kontroversi seputar kemungkinan adanya reaksi id, yang dianggap

sebagai infeksi dermatofita jauh (tinea pedis, kerion kulit kepala) memicu

reaksi pompholyx palmar (juga disebut dermatofit pompholyx).2

7. Infeksi jamur

Pompholyx sesekali sembuh ketika infeksi tinea pedis diobati, kemudian

kambuh ketika infeksi jamur kambuh, mendukung adanya pola reaksi ini.

Di antara pasien yang memiliki reaksi vesikular terhadap pengujian trikotilin

intradermal, kurang dari sepertiga telah mengalami resolusi pompholyx

setelah perawatan dengan agen antijamur.2

8. Stress emosional

Ini adalah faktor yang mungkin dalam eksim dishidrotik. Banyak pasien

melaporkan kekambuhan pompholyx selama periode stres. Peningkatan

eksim dishidrotik menggunakan teknik biofeedback untuk mengurangi

stres mendukung hipotesis ini.2

9. Faktor lainnya

Laporan yang terisolasi menggambarkan faktor-faktor penyebab lainnya

yang mungkin, seperti konsumsi aspirin, kontrasepsi oral, merokok, dan

logam yang ditanamkan lainnya.

Penyakit ini tetap merupakan penyakit kulit kronis tanpa penjelasan

patofisiologis yang meyakinkan. Penyakit ini dapat berkembang dan vesikelnya

dapat meluas dan menyatu. Pada fase kronik terdapat fissura yang dalam.9

7
B. Manifestasi Klinis

Dishidrosis menyebabkan kulit kering dan gatal. Orang-orang juga

mengembangkan lepuh kecil dan duduk dalam, biasanya di tangan

mereka. Mungkin juga terjadi lepuh di kaki. Baik di tangan, kaki, keduanya,

lepuh sering sangat gatal dan menyakitkan. Ketika lepuh bersih (biasanya

dalam 2 atau 3 minggu), kulit cenderung menjadi merah, kering, dan

pecah-pecah.5

Gambar 4. Eksema Dishidrotik4

Pada fase kronik, kulit bersisik, deskuamasi, fissura, dan

linkenifikasi dapat dijumpai.4

Dapat dibagi menjadi empat kateogori:

1) Pomfoliks

2) Dermatitis vesikobulosa kronik pada tangan

3) Dermatitis hiperkeratotik pada tangan

4) Reaksi Id

8
C. Pemeriksaan Penunjang

Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk EVP walaupun

kadar IgE dapat meningkat pada pasien pasien dengan riwayat atopik.1

D.
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk EVP

walaupun kadar IgE dapat meningkat pada pasien pasien

dengan riwayat atopik.1

E. Diagnosis

Gambar 5. Alur diagnosis EVP12

Nomenklatur dan varian manifestasi klinis hand dermatitis termasuk EVP

sering tumpah tindih, sehingga kateogori diagnostic menjadi tidak tepat. Diagnosis

hand dermatitis vesikobulosa biasanya berdasarkan manifestasi klinis dan kadang

kadang perlu ditunjang dengan pemeriksaan histopatologis. Tes temple dapat

9
membantu membedakan penyakit ini dari kelainan palmoplantar lainnya. Selain itu

dapat mendeteksi faktor eksaserbasi, missal pajanan iritan atau alergi kontak.1

Penyakit palmoplantar lain yang sulit dibedakan dengan EVP adalah atopic

hand dermatitis, infeksi terutama tinea, psoriasis, dan psoroasiform hand

dermatitis, pustular hand dermatitis, dan keratolysis exfoliativa.1

F. Diagnosis Banding

a. Dermatitis Kontak Alergi


a. Definisi
Dermatitik kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan

/ substansi yang menempel pada kulit.13

Gambar 6. Dermatitis Kontak Alergi11

b. Etiopatogenesis
Penyebab DKA ialah bahan kimia sederhana yang disebut

hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dan dapat menembus

stratum korneum. Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada DKA

mengikuti respons umin yang dipertantarai oleh sel atau reaksi

imunologik tipe lambat. 13

10
c. Temuan Klinis

Pasien umunya mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantung

pada tingkat keparahan dan lokasi dermatitisnya.13

Pada stadium akut dimulai dengan bercak eritematosa

berbatas tegas kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau

bula. Vesikel atau bula dapat pecah menyebabkan erosi dan

eksudasi (basah). Pada DKA kronis terlihat kulit kering, berskuama,

papul, linkenifikasi, dan mungkin juga fisur, berbatas tegas.13

b. Dermatitis Kontak Iritan


a. Definisi
Dermatitik kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh

bahan / substansi yang menempel pada kulit. Dermatitis kontak

iritan dapat dialami oleh semua orang dari berbagai golongan umur,

ras, dan jenis kelamin.13

Gambar 7. Dermatitis kontak iritan11

11
b. Etiopatogenesis

Penyebab dermatitis jenis ini ialah pajanan dengan bahan

yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak

pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu. Bahan iritan merusak

lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan

tanduk, dan mengubah daya ikat kulit terhadap air.13

c. Temuan Klinis

Kelainan kulit yang terjadi sangat beragam, bergantung pada

sifat iritan. Iritan kuat memberi gejala akut, sedang iritan lemah

memberi gejala kronis.13

 DKI akut

Penyebab DKI akut adalah iritan kuat, misalnya

larutan asam sulfat dan asam hidrokloroid atau basa kuat,

misalnya natrium dan kalium hidroksida. Intensitas reaksi

sebanding dengan konsentrasi dan lama kontak, serta

reaksi terbatas hanya pada tempat kontak. Kulit terasa

pedih, panas, rasa terbakar, kelainan kulit yang terlihat

berupa eritema edema, bula, mungkin juga nekrosis. Tepi

kelainan berbatas tegas, dan pada umumnya asimetris.

Luka bakar oleh bahan kimia juga termasuk dermatitis

kontak iritan akut.13

 DKI akut lambat

Gambaran klinis dan gejala sama dengan DKI akut

tetapi baru terjadi 8 sampai 24 jam setelah berkontak.

Keluhan dirasakan pedih keesokan harinya, sebagai gejala

12
awal terlihat eritema kemudian terjadi vesikel atau bahkan

nekrosis.13

 DKI kronik kumulatif

Merupakan jenis dermatitis kontak yang paling

sering terjadi. Kelainan baru terlihat nyata setelah kontak

berlangsung beberapa minggu atau bulan bahan bisa

bertahun tahun kemudian. Gejala klasik berupa kulit kering,

disertai eritema, skuama, yang lambat laun kulit menjadi

tebal (hyperkeratosis) dengan likenifikasi, yang difus. Bila

kontak terus berlangsung akhirnya kulit dapat retak seperti

luka iris (fisura).13

 Reaksi iritan

Reaksi iritan merupakan dermatitis kontak iritan

subklinis pada seseorang yang terpajan dengan pekerjaan

basah dalam beberapa bulan pertama, missal penata

rambut dan pekerja logam. Kelainan kulit bersifat monomorf

dapat berupa skuama, eritema, vesikel, pustul, dan erosi.

Umumnya dapat sembuh sendiri atau berlanjut

menimbulkan penebalan kulit (skin hardening), dan menjadi

DKI kumulatif.13

 DKI traumatic

Kelainan kulit berkembang lambat setelah trauma

panas atau laserasi. Gejala klinis menyerupai dermatitis

numularis, penyembuhan berlangsung lambat, paling cepat

6 minggu. Lokasi tersering di tangan.13

13
 DKI non-eritematosa

DKI non-eritematosa merupakan bentuk subklinis

DKI, yang ditandai dengan perubahan fungsi sawar (stratum

korneum) tanpa disertai kelainan klinis.13

 DKI subjektif

Juga disebut DKI sensori, karena kelainan kulit tidak

terlihat, namun pasien merasa seperti tersengat (pedih)

atau terbakar (panas) setelah berkontak dengan bahan

kimia tertentu, misalnya asam laktar.13

c. Palmoplantar Pustulosis

a. Definisi

PPP adalah penyakit dermatosis kronik pustular yang

berpredileksi di telapak tangan dan telapak kaki dengan

karakteristik resistensi terhadap penanganan dan tingginya angka

rekurens. Secara histologis ditandai dengan vesikel intraepidermal

yang berisi neutrophil.11

Gambar 8. Palmoplantar Pustulosis11

14
b. Etiopatogenesis

Penyebab dari PPP belum diketahui. Ketidakseimbangan

dari sistem protease/ anti protease pada kulit yang mencakup

penurunan aktivitas antileukoprotease pada psoriasis pustular telah

didiskusikan sebagai mekanisme formasi pustul yang

memungkinkan. Eksaserbasi dari PPP didapatkan terjadi setelah

tes temple dengan logam dan diikuti oleh peningkatan leukotrin B4

di plasma dan pustul.11

c. Temuan Klinis

Lesi primer pada penyakit ini adalah pustul yang berukuran

2-4 mm. Pustul mulai tumbuh beberapa jam saja dari telapak

tangan dan kaki yang sebelumnya terlihat normal. Lesi biasanya

simetris namun lokasi unilateral juga dapat dijumpai Lesi dikelilingi

oleh cicin eritematosa. Terkadang, pustul tersebut menyebar ke

bagian dorsum dari jari jari, kaki, atau pergelangan tangan. Episode

dari pustul yang baru terjadi dalam interval yang bervariasi dan

tetap berada pada tempat predileksinya.11

d. Akrodermatitis Kontinua

a. Definisi

Akrodermatitis kontinua adalah penyakit yang sangat jarang

terjadi. Terdapat erupsi pustular yang steril pada ujung jari kaki dan

tangan yang melebar secara proksimal. Pembentukan pustul yang

terus menerus menyebabkan kerusakan kuku dan atrofi dari phalanx

15
distal. Akrodermatitis kontinua sekarang diklasifikasikan sebagai

bentuk dari psoriasis akropustular.11

Gambar 9. Akrodermatitis Kontinua11

b. Etiopatogenesis

Etiologi dari akrodermatitis kontinua tetap membingungkan.

Bahkan faktor predisposisi dari penyakit ini belum ditemukan.

Formasi pustul mungkin melibatkan proses yang sama dengan

PPP, namun karena kasusnya yang jarang maka belum dilakukan

penelitian lebih lanjut.11

c. Temuan Klinis

Akrodermatitis kontinua biasanya terbentuk mulai dari ujung

pada satu atau dua jari tangan, pada kasus yang lebih jarang mulai

dari jari kaki. Tanda pertama yang terlihat yaitu pustul kecil, yang

jika pecah, membentuk area eritematosa yang mengkilat yang

menjadi tempat pustul baru nantinya akan berkembang. Lesi

tersebut cenderung menyatu membentuk nanah yang polisiklik.

16
Area yang terkena akan menunjukkan eritem mengkilat atau

berkrusta, keratotik, dan fissure dibawah pustul yang baru

terbentuk. Pada temuan histopatologis yang terlihat adalah kavitas

subkorneal yang terisi oleh neutrophil.

Karena lokalisasinya yang dimulai dari distal dan

kecenderungan pustul menjadi satu membentuk lesi eritematosa

yang berkrusta, akrodermatitis kontinua dapat dibedakan dari PPP

ataupun eksim dishidrotik pustular.11

e. Akrodermatitis Papular Infantil (Sindroma Gianotti-Crosti)

a. Definisi

Sindroma gianotti-crosti dikenal juga sebagai akrodermatitis

papular infantil dan akrodermatitis pada masa kanak, merupakan salah

satu penyakit dermatosis yang bersifat self-limited. Biasanya mengenai

bayi dan anak dari usia 6 bulan hingga 12 tahun, namun mencapai

puncaknya pada usia 1-6 tahun.14

Gambar 9. Sindroma gianotti-crosti14

17
b. Etiopatogenesis

GCS adalah reaksi kutaneus yang berhubungan dengan

virus, bakteri, dan vaksin. Pathogenesis yang tepat sampai saat ini

belum jelas. Namun terdapat teori yang mengatakan bahwa

imunisasi atau ketidakseimbangan imun dapat meningkatkan risiko

munculnya eksantem dari berbagai infeksi. Ada penelitian yang

menunjukkan bahwa terdapat peningkatan insidens atopik pada

anak dengan GCS.14

c. Temuan Klinis

Sebelum onset eksantem, gejala prodromal non-spesifik

pada traktus respiratorius seperti demam, faringitis, dan

limfadenopati dapat dijumpai. Tampakan klinis dari berbagai kausa

cenderung terlihat sama. Awalnya lesi berupa papul dan

papulovesikel dengan berbentuk kubah atau atas rata, monomorfik,

yang banyak dan bersatu.14

Lesi tersebut terasa gatal dan dapat berdarah namun jarang

terjadi. Ukuran papul bervariasi dari 1-10 mm dan terdistribusi

secara simetris pada pipi, area ekstensor ekstremitas, dan pada

bokong. Lesi juga didapatkan pada badan, telapak tangan, dan

telapak kaki namun tidak selalu tampak. Kadang, papul papul kecil

tersebut dapat menyatu membentuk plak yang besar. Lesi kutaneus

berkembang dalam beberapa hari dan bertahan hingga 2-8

minggu.14

18
G. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dari dermatitis vesikobulosa pada tangan sebaiknya

didasarkan dari sifat akut dari kondisinya, keparahan penyakit, ketinggian dari

lepuhan, dan riwayat yang dapat menjadi faktor risiko.11

a. Terapi topikal

Steroid topikal potensi tinggi digunakan sebagai pengobatan lini pertama.

Obat topikal lainnya seperti Domeboro, solusio Burow’s (aluminium

subasetat), atau potassium permanganas (1:8.000) dapat berguna untuk

mengobati bentuk akut dari vesikel.11

Obat topikal non steroid yang memodulasi imun seperti takrolimus dan

pimekrolimus telah digunakan dalam pengobatan individu dengan dermatitis

pada tangan yang kronik. Takrolimus topikal sama efektifnya dalam

mengobati pasien dengan pomfoliks seperti ointment momethasone furoate

0,1%. Eksim palmar yang hiperkeratotik lebih sulit untuk ditangani, namun

terapi dengan retinoid topikal dan kalsipotriene yang bertindak meregulasi

maturasi dari sel epidermal menunjukkan adanya perbaikan.11

b. Terapi sistemik

Pada pomfoliks dan dermatitis vesikuler kronik yang rekuren, pengobatan

dengan prednisone oral dibutuhkan dan biasanya efektif jika pengobatan

dilakukan lebih awal. Namun karena efek sampingnya yang signifikan,

glukokortikoid sistemik tidak dianjurkan untuk pemakaian jangka panjang.

Injeksi steroid intramuscular dan intralesi dapat dipertimbangkan untuk

pemakaian jangka pendek pada episode akut bila terapi topikal gagal.11

Siklosporin 3 mg/kb/hari dan 5 mg/kg/hari dapat digunakan dalam terapi

dermatitis vesicular kronik, namun sering terjadi relaps ketika pengobatan

19
dihentikan. Mycophenolate mofetil 2-3 g/hari juga dapat digunakan.

Metotreksat adalah obat yang digunakan dalam dosis rendah untuk mengobati

penyakit kulit inflamasi seperi eksim/dermatitis karena memiliki fungsi anti

inflamasi, efek modulasi imun, dan sebagai anti metabolit. Metotreksat 12,5-

22,5 mg/minggu telah terbukti menyembuhkan lesi, namun karena efek

sampingnya maka penggunaannya dibatasi.10, 11

Alitretinoin merupakan retinoid yang memiliki fungsi anti inflamasi

merupakan terapi terbaru untuk eksim vesikular palmoplantar dan digunakan

sebagai terapi dalam mengobati pasien yang tidak berespon terhadap terapi

steroid topikal. Terapi menggunakan UVB sistemik / topikal, cahaya UVA

dengan atau tanpa PUVA telah digunakan dalam pengobatan kasus kasus

kronik.11

c. Terapi lainnya

Penelitian yang mengatakan bahwa terapi dengan penggunaan

iontoforesis tidak menunjukkan perkembangan namun membuat waktu remisi

yang lebih lama. Penggunaan injeksi intradermal botulinum toxin A

memperlihatkan efek yang menguntungkan pada pasien dengan dermatitis

vesicular. Terapi ini juga dapat digunakan bersamaan dengan terapi

kortikosteroid topikal.11

H. Pencegahan

Pencegahan merupakan bagian yang penting dalam terapi berbagai kasus,

terutama jika faktor predisposisinya diketahui. Menghindari faktor penyebab alergi

seperti makanan dan tumbuhan, dan bahan iritan seperi sabun dan cairan kimia

dapat membantu.11

20
Penggunaan kaos tangan berbahan vinyl lebih direkomendasikan daripada

yang berbahan lateks. Tes temple dapat dipertimbangkan untuk mengidentifikasi

allergen yang relevan. Modifikasi dari paparan lingkungan seperti gesekan dan

udara dingin juga berguna. Penggunaan emolien yang sering, seperti krim atau

ointment dapat membantu mempertahankan fungsi barrier kulit normal. Diet

dengan mengurangi konsumsi kobalt menunjukkan penurunan serangan

dishidrotik.11

I. Prognosis

Walaupun penyakitnya bersifat jinak, namun penyakit ini cenderung

bersifat kronis dan sering relaps. Kondisi tersebut dapat berkurang keparahannya

dan keseringan rekurens seiring dengan bertambahnya usia.4

J. Komplikasi

Eksema dishidrosis memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap

kualitas hidup karena pruritus yang parah. infeksi bakteri sekunder, terutama

dengan staphylococcus aureus, tidak jarang. distrofi kuku dapat terjadi jika matriks

kuku terpengaruh.4

Faktor endogen seperti reaktivasi sistem imun yang diinduksi oleh stress

berhubungan erat dengan dishidrosis. Hal ini yang menyebabkan dishidrosis

merupakan salah satu faktor risiko dari herpes zoster.8

21
BAB III

PENUTUP

Dishidrosis juga dikenal sebagai eksema atau pomfoliks, adalah keadaan

kulit dimana terdapat gelembung sangat kecil yang berisi cairan pada telapak

tangan dan jari. Telapak kaki juga dapat terkena.Perjalanan penyakit dari eksema

dishidrotik dapat berkisar dari penyakit self-limited, kronis, parah, dan

melemahkan.

Dishidrosis menyebabkan kulit kering dan gatal. Orang-orang juga

mengembangkan lepuh kecil dan duduk dalam, biasanya di tangan mereka.

Mungkin juga terjadi lepuh di kaki. Baik di tangan, kaki, keduanya, lepuh sering

sangat gatal dan menyakitkan. Ketika lepuh bersih (biasanya dalam 2 atau 3

minggu), kulit cenderung menjadi merah, kering, dan pecah-pecah.

Pada eksim dishidrotik, lini pertama dalam pengobatan adalah

kortikosteroid topical potensi tinggi dan kompres. Lini kedua dalam pengobatannya

adalah steroid oral untuk mengobati serangan akut. Eksema dishidrosis memiliki

dampak negatif yang signifikan terhadap kualitas hidup karena pruritus yang

parah.

Walaupun penyakitnya bersifat jinak, namun penyakit ini cenderung

bersifat kronis dan sering relaps. Kondisi tersebut dapat berkurang keparahannya

dan keseringan rekurens seiring dengan bertambahnya usia.

22
DAFTAR PUSTAKA

1) Pusponegoro, EHD. 2016. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Badan

Penerbit FK UI. Hal. 151-152.

2) Mayo Clinic. 2018. Dyshidrosis. https://www.mayoclinic.org/diseases-

conditions/dyshidrosis.html. Diakses pada tanggal 12 Februari 2019.

3) Amini, Sadegh. 2018. Dyshidrotic Eczema. www.emedicine.medscape.com.

Medscape. Diakses pada tanggal 13 Februari 2019.

4) Leung, Alexander KC et all. 2014. Dyshidrotic Eczema.

www.entivenarchive.org. Diakses pada tanggal 13 Februari 2019.

5) American Academy of Dermatology. 2018. Dyshidrotic Eczema.

https://www.aad.org/public/diseases/eczema/dyshidrotic-eczema. Diakses 11

Februari 2019

6) Amirlak, Bardia et all. 2017. Skin Anatomy. www.emedicine.medscape.com.

Medscape. Diakses pada tanggal 13 Februari 2019.

7) Wollina, Uwe. 2010. Pompholyx: A Review of Clinical Features, Differential

Diagnosis, and Management.

8) Hsu, CY et all. 2015. Dyshidrosis is a Risk Factor for Herpes Zoster. Journal

of The European Academy of Dermatology and Venerology.

9) Soler, DC et all. 2015. The Key Role of Aquaporin 3 and Aquaporin 10 in the

Pathogenesis of Pompholyx. Elsevier. Diakses tanggal 13 Februari 2019.

10) Oakley, Amanda et all. 2015. Methotrexate. DermNet New Zealand.

11) Mrowietz, Ulrich. 2012. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 8th

Edition: Ch. 21 Pustular Eruptions of Palms and Soles. Halaman 253-259.

12) Doshi, Daven N. et all. 2012. Fitzpatrick’s Dermatologi in General Medicine 8th

Edition: Ch. 16 Vesicular Palmoplantar Eczema. Halaman 187-194.

23
13) Sularsito, Sri Adi. 2014. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: Dermatitis Kontak.

Jakarta: Badan Penerbit FK UI. Hal. 157-167

14) Belazarian, Leah T. 2012. Fitzpatrick’s Dermatologi in General Medicine 8th

Edition: Ch.192 Exanthematous Viral Disease. Halaman 2350-2352.

24